Anda di halaman 1dari 46

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Upaya untuk mengurangi kesalahan medis telah dilakukan

pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No.

11 Tahun 2017 yang mengharuskan pelayanan kesehatan menerapkan enam

sasaran keselamatan pasien yaitu ketepatan identifikasi pasien, peningkatan

komunikasi yang efektif, peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai,

kepastian tepat-lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi, pengurangi risiko

infeksi terkait pelayanan kesehatan dan pengurangan risiko pasien jatuh.

Dalam mencapai sasaran keselamatan pasien tersebut salah satu langkah

pertama yang dilakukan adalah dengan cara membangun budaya keselamatan

pasien (patient safety culture).

Menurut Duarte, Euzébia, & Santos (2017) budaya (culture)

mengandung dua komponen yaitu nilai dan keyakinan berkaitan dengan

keselamatan pasien yang ditanamkan pada setiap anggota organisasi, maka

setiap anggota akan mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dalam

penerapan keselamatan pasien. Dengan demikian, perilaku tersebut pada

akhirnya menjadi suatu budaya yang tertanam dalam setiap anggota

organisasi berupa perilaku patient safety culture.

Patient safety culture merupakan nilai-nilai individu dan kelompok,

sikap, persepsi, kompetensi dan pola prilaku berkomitmen untuk mendukung

manajemen dan program patient safety (WHO, 2017). Hal ini juga di
2

ungkapkan oleh Najjar Shahenaz, et al. (2015) yang menyatakan budaya

keselamatan dalam organisasi merupakan produk individual dan nilai

kelompok yang mencakup didalamnya sikap, persepsi, kompetensi dan

adanya komitmen dari lingkungan terhadap budaya keselamatan tersebut.

Menurut Cahyono S (2015) organisasi kesehatan akan memiliki

budaya keselamatan pasien yang positif, jika memiliki dimensi budaya

keterbukaan, budaya keadilan, budaya pelaporan, budaya belajar dan budaya

informasi. Organisasi dengan budaya keselamatan yang positif menunjukkan

adanya persepsi yang sejalan diantara anggota organisasi terhadap patient

safety.

Survei terhadap 2.287 perawat di 22 rumah sakit di Amerika

menunjukkan buruknya budaya keselamatan berdampak pada peningkatan

luka jarum suntik dan kejadian nyaris cidera (near miss) antara perawat

rumah sakit (Foundation, 2011). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap

penurunan 10 % dalam budaya keselamatan unit perawatan intensif (ICU)

maka lama perawatan pasien (LOS) meningkat 15 % (Pham. JC et al, 2016).

Penelitian terhadap 179 rumah sakit di Amerika Serikat menyatakan bahwa

rumah sakit dengan skor budaya keselamatan pasien lebih positif memiliki

tingkat lebih rendah dalam komplikasi atau adverse (Duarte et al, 2017).

Data KTD di rumah sakit Indonesia tahun 2015 mencapai 289

laporan. KTD terbanyak jenisnya berupa 69 kejadian (43,67%) . Kejadian

Nyaris Cedera (KNC) pada pasien rawat inap, yaitu salah pemberian obat

(29,2%), pasien jatuh (23,4%), batal operasi (14,3%), dan kesalahan


3

identifikasi pasien (11%) (KKPRS, 2015).

Menurut Idri (2017), pentingnya mengembangkan budaya

keselamatan pasien ditekankan dalam salah satu laporan Institude of

Medicine (IOM) “To Err is Human” yang menyebutkan bahwa pelayanan

kesehatan harus mengembangkan budaya keselamatan, sehingga organisasi

tersebut berfokus pada peningkatan reliabilitas dan keselamatan pelayanan

pasien. Hal ini ditekankan lagi oleh Nieva dan Sorra dalam penelitiannya

yang menyebutkan bahwa budaya keselamatan yang buruk merupakan faktor

risiko penting yang bisa mengancam keselamatan pasien (Nieva & Sorra,

2013).

Menurut Tetuan et al. (2017) bahwa budaya keselamatan bisa

ditingkatkan melalui program intervensi unit berbasis target, keterlibatan

organisasi Kepemimpinan dalam menetapkan keamanan sebagai prioritas,

promosi yang transparan, pendidikan di seluruh rumah sakit, dan ditingkatkan

kolaborasi interdisipliner. Agency of Healthcare Research and Quality (2004)

mengungkapkan bahwa terdapat 12 dimensi yang perlu diperhatikan dalam

menilai patient safety culture di rumah sakit yaitu : harapan dan tindakan

supervisor/manajer dalam mempromosikan keselamatan pasien, peningkatan

pembelajaran yang berkelanjutan, keterbukaan komunikasi, umpan balik

terhadap error, respon tidak menyalahkan, pengaturan staf yang adekuat,

persepsi secara keseluruhan terhadap keselamatan pasien, dukungan

manajemen rumah sakit, kerjasama tim dalam unit, kerjasama tim antar unit,

penyerahan dan pemindahan pasien dan frekuensi pelaporan kejadian.


4

Upaya rumah sakit untuk menjamin keselamatan bagi pasien tidak

terlepas dari peran seluruh sumber daya manusia di rumah sakit dalam

menyelenggarakan pelayanan kesehatan untuk pasien. Menurut Komite

Keselamatan Pasien Rumah Sakit ( KKPRS) (2015), komponen

Kepemimpinan efektif dengan Job Description yang memberikan kontribusi

dalam patient safety culture. KKPRS juga mengatakan bahwa Membangun

kesadaran akan nilai Keselamatan Pasien dengan .menciptakan

kepemimpinan dan manajemen dengan budaya yang terbuka dan adil

merupakan langkah pertama dalam menerapkan keselamatan pasien rumah

sakit. Selanjutnya adalah memimpin dan mendukung staff membangun

komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang keselamatan pasien.

Hal ini sejalan yang dikemukan oleh Anderson & Kodate (2015) yang

menyatakan bahwa komitmen pemimpin akan keselamatan merupakan hal

pertama yang harus diperhatikan dalam menerapkan patient safety culture.

Pemimpin yang efektif dalam menanamkan budaya yang jelas, mendukung

usaha staf, dan tidak bersifat menghukum sangat dibutuhkan dalam

menciptakan patient safety culture yang kuat dan menurunkan angka

Kejadian Tidak Diharapkan. Hal ini dikarenakan keselamatan pasien

dipengaruhi oleh kebiasaan staf atau error yang terjadi (WHO, 2017)

Di Rumah Sakit, Kepala ruangan merupakan lower manager yang

memegang peran penting terhadap proses implementasi keselamatan pasien di

rumah sakit (Wagner et al, 2013). Hal tersebut karena kepala ruangan adalah

orang yang bertanggung jawab terhadap perawat sebagai komponen tenaga


5

terbanyak dan yang paling sering berinteraksi dengan pasien daripada tenaga

lainnya yang ada di rumah sakit karena pelayanan kesehatan yang diberikan

kepada pasien atau yang biasa disebut dengan asuhan keperawatan

berlangsung selama 24 jam.

Kepala Ruangan diharapkan menjalankan seluruh fungsi manajemen

sehingga lingkungan dan kondisi kerja akan mendukung pelayanan

keperawatan dalam mencapai keselamatan bagi pasien (Gillies (1996).

Menurut (Marquis, B. L., & Huston, 2015) fungsi manajemen meliputi fungsi

perencanaan, pengorganisasian, pengaturan staf, pengarahan dan

pengendalian. Manajemen keperawatan merupakan rangkaian fungsi dan

aktivitas yang secara simultan saling berhubungan dalam menyelesaikan

pekerjaan melalui anggota staf keperawatan untuk meningkatkan efektifitas

dan efisiensi pelayanan keperawatan yang berkualitas (Gillies, 1996; Marquis

& Huston, 2015 ). Dari hasil penelitian Anwar & Yuswardi, (2016) diketahui

bahwa ada hubungan bermakna antara fungsi manajemen kepala ruangan

pada perencanaan, pengorganisasian, pengaturan staf, dan pengendalian

dengan penerapan patient safety culture.

Rumah Sakit Umum Daerah Pasaman Barat merupakan rumah sakit

Tipe C yang berfungsi sebagai rumah sakit rujukan dari Puskesmas-

puskesmas yang ada di Kabupaten Pasaman Barat. Pada tahun 2017 telah

dibentuk Komite Mutu dan Keselamatan Pasien (KMKP) RSUD Pasaman

Barat sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah
6

Sumatra Barat Nomor 446084/SK-DIR/VII-2017 Tertanggal 15 Agustus

2017. Namun penerapan sasaran keselamatan pasien belum berjalan optimal.

Pengambilan data awal yang diperoleh dari RSUD Pasaman Barat

mengindikasikan adanya KTD sebagaimana dalam laporan menunjukkan

adanya peningkatan kasus yaitu pada rata-rata kejadian Plebitis, dari 3.6 %

pada tahun 2017 menjadi 3.7 % tahun 2018 yang melebihi standar pelayanan

minimal No. 129/Menkes/SK/II/2008 yang seharusnya ≤ 1,5% dengan faktor

resiko lama pemasangan alat dan terapi cairan bermolekul besar. Dari

pengkajian awal juga di dapat data lebih kurang sebanyak 12 insiden

keselamatan pasien yang ditemukan sejak Januari – Agustus 2019 dengan

rincian sebanyak 6 laporan terjadi kesalahan pada cara pemberian obat yaitu

dosis obat, jenis dan waktu pemberian, 1 laporan infeksi nasokomial pasien

post operasi, 2 laporan kesalahan dalam mengidentifikasi pasien dalam

pemberian tindakan medis, 1 laporan pasien jatuh dan 2 laporan terjadi karena

kesalahan komunikasi saat hand over antar unit.

Berdasarkan wawancara dengan staf sekretariat Komite Mutu dan

Keselamatan Pasien (KMKP) RSUD Pasaman Barat pada tanggal 22 Agustus

2019 diperoleh data bahwa hambatan dalam pelaksanaan patient safety

culture yaitu masih banyak dijumpai tindakan menyalahkan terhadap perawat

yang melakukan kesalahan dan dukungan manajemen terhadap keselamatan

pasien yang dinilai belum optimal.

Wawancara yang peneliti lakukan terhadap dua orang perawat

pelaksana didapatkan hasil serupa bahwa perawat belum melakukan


7

pelaporan insiden keselamatan pasien sebagaimana mestinya, hal ini

disebabkan oleh rasa malu jika melakukan kesalahan dan takut disalahkan

oleh perawat lain dan profesi lain dan diberikan sanksi oleh atasan.

Berdasarkan pertimbangan masalah diatas, maka peneliti tertarik

melakukan penelitian tentang “Analisis hubungan fungsi manajemen kepala

ruangan dengan penerapan patient safety culture oleh perawat pelaksana di

RSUD Pasaman Barat’’.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka

rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

a. Bagaimana gambaran fungsi perencanaan kepala ruangan dalam

penerapan patient safety culture

b. Bagaimana gambaran fungsi pengorganisasian kepala ruangan dalam

penerapan patient safety culture

c. Bagaimana gambaran fungsi pengaturan kepala ruangan dalam penerapan

patient safety culture

d. Bagaimana gambaran fungsi pengawasan kepala ruangan dalam

penerapan patient safety culture

e. Bagaimana gambaran fungsi pengendalian kepala ruangan dalam

penerapan patient safety culture

f. Bagaimana gambaran penerapan patient safety culture


8

g. Apakah ada hubungan perencanaan dengan penerapan patient safety

culture

h. Apakah ada hubungan pengorganisasian dengan penerapan patient safety

culture

i. Apakah ada hubungan pengaturan staf dengan penerapan patient safety

culture

j. Apakah ada hubungan pengarahan dengan penerapan patient safety

culture

k. Apakah ada hubungan pengendalian dengan penerapan patient safety

culture

l. Apakah ada fungsi manajemen yang paling dominan berhubungan

dengan penerapan Patient Safety Culture.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Menganalisis hubungan fungsi manajemen kepala ruangan dengan

penerapan patient safety culture di RSUD Pasaman Barat

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran fungsi perencanaan kepala ruangan dalam

penerapan patient safety culture

b. Mengetahui gambaran fungsi pengorganisasian kepala ruangan

dalam penerapan patient safety culture

c. Mengetahui gambaran fungsi pengaturan kepala ruangan dalam

penerapan patient safety culture


9

d. Mengetahui gambaran fungsi pengawasan kepala ruangan dalam

penerapan patient safety culture

e. Mengetahui gambaran fungsi pengendalian kepala ruangan dalam

penerapan patient safety culture

f. Mengetahui gambaran penerapan patient safety culture

g. Mengetahui hubungan fungsi manajemen kepala ruang dengan

penerapan patient safety culture

h. Mengetahui hubungan perencanaan dengan enerapan patient safety

culture

i. Mengetahui hubungan pengorganisasian dengan penerapan patient

safety culture

j. Mengetahui hubungan pengaturan staf dengan penerapan patient

safety culture

k. Mengetahui hubungan pengarahan dengan penerapan patient safety

culture

l. Mengetahui hubungan pengendalian dengan penerapan patient safety

culture

m. Mengetahui fungsi manajemen yang paling dominan berhubungan

dengan penerapan Patient Safety Culture.


10

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Perawat

Melalui penelitian ini diharapkan terjadinya peningkatan penerapan

patient safety culture dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada

pasien di rumah sakit.

2. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan, ilmu

pengetahuan dan sebagai referensi tambahan mengenai fungsi manajerial

kepala ruangan dalam meningkatkan penerapan patient safety culture.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini di harapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan,

pertimbangan dan sumbangan pemikiran sehingga penelitiaan

selanjutnya dapat melakukan penelitin yang lebih baik dari sebelumnya.


11

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Patient Safety

1. Defenisi Patient Safety

Menurut Duarte, Euzébia, & Santos (2017) bahwa

keselamatan pasien merupakan tindakan untuk mengurangi risiko

kerusakan yang tidak diinginkan terkait dengan perawatan kesehatan,

sehingga tingkat kejadian karena kesalahan perawatan medis. Sedang

menurut Susam Ozsayin & Turkan Ozbayir (2016) mendefinisikan

keselamatan pasien sebagai pencegahan bahaya yang bisa datang ke

pasien. Dengan demikian, keselamatan pasien meminimalkan

kemungkinan kesalahan dan memaksimalkan kemungkinan

pencegahan berdasarkan batasan yang telah di tentukan.

Keselamatan pasien adalah bebas dari cidera fisik dan

psikologis yang menjamin keselamatan pasien, melalui penetapan

sistem operasional, meminimalisasi terjadinya kesalahan, mengurangi

rasa tidak aman pasien dalam system perawatan kesehatan dan

meningkatkan pelayanan optimal (Canadian Nursing Association,

2009; KKPRS, 2015; WHO, 2017).

Batasan tentang keselamatan pasien di rumah sakit

dikeluarkan oleh Permenkes RI (2017) & KKP-RS (2012) yaitu

sebagai suatu sistem agar asuhan yang diberikan pada pasien lebih
12

aman. Hal ini mencakup assesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan

hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis.

sistem tersebut meliputi: assesmen risiko, identifikasi dan pengobatan

hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis

insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta

implementasi solusi untuk meminimilkan timbulnya risiko dan

mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh kesalahan akibat

melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang

seharusnya diambil.

2. Tujuan Patient Safety

Masalah keselamatan pasien di rumah sakit merupakan

masalah yang perlu ditangani dengan segera. Kegiatan program

keselamatan pasien di rumah sakit terdiri dari: standar keselamatan

pasien, tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit,

sembilan solusi keselamatan pasien di rumah sakit, dan sasaran

keselamatan rumah sakit (Kementerian Kesehatan RI, 2017).

Berdasarkan dari tujuan dan upaya dalam menjamin keselamatan

pasien dapat ditarik benang merah yaitu keselamatan pasien bertujuan

untuk meningkatkan akuntabilitas dan muatu pelayanan rumah sakit

dengan menjamin asuhan yang diberikan kepada masyarakat terbebas

dari kesalahan dan medical error.

Tujuan keselamatan pasien menurut The Joint Commission

(2015) yaitu:
13

1. Meningkatkan keakuratan identifikasi pasien dengan menggunakan

dua identitas pasien untuk mengidentifikasi serta mengeliminasi

kesalahan transfusi.

2. Meningkatkan komunikasi di antara pemberi pelayanan kesehatan

dengan menggunakan prosedur komunikasi, secara teratur

melaporkan informasi yang bersifat kritis, memperbaiki pola serah

terima pasien.

3. Meningkatkan keselamatan penggunaan pengobatan dengan cara

pemberian label pada obat, mengurangi bahaya dari penggunaan

antikoagulan.

4. Mengurangi risiko yang berhubungan dengan infeksi dengan

mencuci tangan yang benar, mencegah resistensi penggunaan obat

infeksi, menjaga central line penyebaran infeksi melalui darah.

5. Menggunakan pengobatan selama perawatan secara akurat dan

lengkap, mengkomunikasikan pengobatan kepada petugas

selanjutnya, membuat daftar pengobatan pasien, mengupayakan

pasien mendapatkan pengobatan seminimal mungkin.

6. Mengurangi risiko bahaya akibat jatuh.

7. Mencegah terjadinya luka tekan.

8. Organisasi mengidentifiksi risiko keselamatan di seluruh populasi

pasien.

9. Protokol umum untuk mencegah kesalahan tempat, salah prosedur

dan orang pada saat tindakan operasi.


14

Segala upaya dilakukan untuk menjamin asuhan yang

diberikan terbebas dari kesalahan dan cedera yang dapat merugikan

pasien dan keluarganya. Rekomendasi dari Institute Of Medicine

berupa empat rangkaian pendekatan dalam mencapai keselamatan

pasien:

1. Meningkatkan kemampuan leadership, penelitian, protocol untuk

meningkatkan pengetahuan dasar tentang safety.

2. Identifikasi dan belajar dari kesalahan yang terjadi dengan

mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan pada setiap

kejadian yang ada.

3. Meningkatkan standar kerja dan standar harapan untuk

meningkatkan keselamatan melalui pembelajaran dari kesalahan.

4. Mengimplementasikan sistem keselamatan pada organisasi untuk

menjamin praktik yang aman pada setiap tingkatan pelayanan

(Kementerian Kesehatan RI, 2017).

3. Sasaran Patient Safety

Sasaran keselamatan pasien merupakan syarat untuk

diterapkan di semua rumah sakit yang diakreditasi oleh Komisi

Akreditasi Rumah Sakit. Maksud dari sasaran keselamatan pasien

adalah mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien.

Sasaran menyoroti bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan

kesehatan dan menjelaskan bukti serta solusi dari konsensus berbasis

bukti dan keahlian atas permasalahan ini.


15

Enam sasaran keselamatan pasien adalah tercapainya hal-hal

sebagai berikut: ketepatan identifikasi pasien, peningkatan komunikasi

yang efektif, peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai,

kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi,

pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan dan

pengurangan risiko pasien jatuh (Kementerian Kesehatan RI, 2017;

KARS, 2015).

4. Langkah Menuju Patient Safety Rumah Sakit

Mengacu pada sasaran keselamatan pasien, maka rumah sakit

harus merancang proses baru atau memperbaiki proses yang ada,

memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data,

menganalisis secara intensif KTD, dan melakukan perubahan untuk

meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien. Adapun tujuh langkah

keselamatan pasien rumah sakit antara lain : membangun budaya

keselamatan pasien, pimpinan dan dukungan terhadap staf, integrasi

aktivitas manajemen risiko, pembangun sistem pelaporan, melibatkan

dan berkomunikasi dengan pasien dan public, belajar dan berbagi

pengalaman tentang keselamatan pasien, dan implementasi solusi

untuk mencegah kerugian (Cahyono S, 2015).

B. Budaya Patient Safety

1. Defenisi Budaya Patient Safety

Budaya keselamatan pasien adalah produk dari nilai, sikap,

persepsi, kompetensi, dan pola prilaku dari individu dalam sebuah


16

organisasi (pelayanan kesehatan) yang menentukan komitmen, gaya,

kemahiran dalam manajemen keselamatan pasien. Organisasi

(pelayanan kesehatan) yang memiliki budaya keselamatan pasien yang

cendrung positif dapat dilihat dari komunikasi saling percaya (mutual

trust) antar komponen, dengan persepsi yang sama tentang pentingnya

keselamatan, dan dengan keyakinan akan besarnya manfaat tindakan

pencegahan (Rockville, 2018).

Budaya keselamatan pasien adalah kepercayaan, sikap, nilai

sebuah organisasi kesehatan dalam menyelenggarakan pelayanan

kesehatan berdasarkan struktur, praktek, peraturan dan kontrol

keselamatan pasien. Budaya ini mencakup tiga komponen yaitu

budaya kerja, budaya pelaporan (insiden) dan budaya belajar (Croll,

Coburn, & Person, 2012).

2. Dimensi Budaya Keselamatan Pasien

Menurut Cahyono S (2015) organinisasi kesehatan akan

memiliki budaya keselamatan pasien yang positif, jika memiliki

dimensi budaya sebagai berikut :

a. Budaya keterbukaan (open culture)

Budaya ini mengambarkan semua staf rumah sakit merasa

nyaman berdiskusi tentang insiden yang terjadi ataupun topic

tentang keselamatan pasien dengan teman satu tim ataupun dengan

manajernya. Staf merasa yakin bahwa focus utama adalah

keterbukaan sebagai media pembelajaran dan bukan untuk mencari


17

kesalahan ataupun menghukum. Komunikasi terbuka dapat juga

diwujudkan pada saat serah terima pasien, briefing staff maupun

morning report.

b. Budaya keadilan (just culture)

Hal tersebut membawa atmosfer “trust” sehingga anggota

bersedia dan memiliki motivasi untuk memberikan data dan

informasi serta melibatkan pasien dan keluarganya secara adil

dalam setiap pengambilan keputusan tindakan yang akan diberikan.

Staf dan pasien diperlakukan secara adil saat terjadi insiden dan

tidak berfokus untuk mencari kesalahan individu tetapi lebih

mepelajari secara system yang mengakibatkan terjadinya

kesalahan. Lingkungan terbuka dan adil akan membantu staf

membuat pelaporan mengenai kejadian yang terjadi dan

menjadikan insiden sebagai pelajaran dalam upaya meningkatkan

keselamatan pasien.

c. Budaya pelaporan (reporting culture)

Budaya dimana staff siap untuk melaporkan insiden atau

near miss, sehingga dapat dinilai jenis error dan dapat diketahui

kesalahan yang biasa dilakukan oleh staf serta dapat diambil

tindakan sebagai bahan pembelajaran organisasi. Organisasi belajar

dari pengalaman sebelumnya dan mempunyai kemampuan untuk

mengidentifikasi factor risiko terjadinya insiden sehingga dapat

mengurangi atau mencegah insiden yang akan terjadi.


18

d. Budaya belajar (learning culture)

Setiap lini dari organisasi baik sharp end (yang bersentuhan

langsung dengan pelayanan) maupun blunt end (manajemen)

menggunakan insiden yang terjadi sebagai proses belajar.

Organisasi berkomitmen untuk mempelajari insiden yang terjadi

sebagai proses belajar dan mengkomunikasikan kepada staff serta

senantiasa mengingatkan staff.

e. Budaya informasi (informed culture)

Organisasi mampu belajar dari pengalaman masa lalu

sehingga memmiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dan

menghindari insiden yang akan terjadi karena telah belajar dan

terinformasi dengan jelas dari insiden yang sudah pernah terjadi,

misalnya pelaporan kejadian dan investigasi.

3. Faktor-Faktor yang dapat mempengaruhi Budaya Keselamatan Pasien

Menurut Geller (1994) dalam Vierendeels (2018) tentang

Integrative Conceptual Framework for Safety Culture, menyebutkan

bahwa ada tiga kelompok Faktor yang dapat mempengaruhi budaya

keselamatan pasien, yaitu sebagai berikut:

a. Faktor Personal yaitu cendrung dari orang/manusia yang bekerja

dalam suatu organisasi rumah sakit. Faktor ini terdiri dari:

pengetahuan, sikap, motivasi, kompetensi, dan kepribadian.

b. Faktor perilaku organisasi yaitu kondisi kerja yang diukur dari

segi organisasi pelayanan kesehatan secara umum. Faktor


19

perilaku organisasi yaitu: kepemimpinan, kewaspadaan situasi,

komunikasi, kerja tim, stress, kelelahan, kepemimpinan tim, dan

pengambilan keputusan.

c. Faktor lingkungan merupakan pendukung proses pelayanan dalam

organisasi kesehatan, yang terdiri dari: perlengkapan, peralatan,

mesin, kebersihan, tehnik, standar prosedur operasional.

4. Elemen Budaya Keselamatan Pasien

Konsep tentang pelaksanaan budaya keselamatan di sebuah

rumah sakit membutuhkan sebuah kerangka pikir yang komprehensif

terhadap elemen – elemen yang terlibat di dalamnya. Sammer ( 2010 )

melalui reviewnya menjelaskan bahwa terdapat tujuh subkultur yang

terlibat dalam ruang lingkup budaya keselamatan pasien. Kerangka

tersebut yaitu :

a. Kepemimpinan

Pemimpin mengakui lingkungan kesehatan adalah lingkungan

berisiko tinggi dan berusaha untuk menyelaraskan visi / misi,

kompetensi staf, dan sumber daya fiskal dan manusia

b. Kerja sama tim

Yaitu semangat kolegialitas, kolaborasi dan kerjasama ada di

antara eksekutif, staf dan praktisi independen dengan hubungan

yang berdasar keterbukaan , rasa aman , hormat dan fleksibel


20

c. Evidence based 

Memberikan kepastian bahwa pemberian layanan pada pasien

berdasar pada bukti ilmiah. Standarisasi yang dilakukan akan

mengurangi variasi sehingga reliabilitas tinggi dapat dicapai

d. Komunikasi

Merupakan penjaminan bahwa seluruh staf mempunyai hak dan

kewajiban untuk berbicara tentang segala sesuatu tentang

kepentingan pasien

e. Pembelajaran terhadap kesalahan yang dilakukan dengan

dilanjutkan dengan mencari peluang perbaikan.

Hal ini berlaku bagi seluruh staf termasuk diantaranya adalah staf

medik

f. Keadilan

Setiap kesalahan diartikan sebagai kesalahan sistem dan bukan

pada kesalahan indivisu

g. Berfokus pada Pasien

Pelayanan berpusat pada pasien memberikan kesempatan pada

pasien bukan hanya aktif dalam pengobatan dirinya namun juga

berperan sebagai penghubung antara rumah sakit dan masyarakat.


21

Gambar 2.1
Elemen Budaya Keselamatan Pasien
(Sumber : Sammer, 2010 )

5. Alat Ukur Budaya Keselamatan Pasien

Survey patient safety culture dapat dilakukan berdasarkan

elemen yang mendasari. Ada beberapa alat ukur yang dapat digunakan.

Secara umum ada dua jenis alat ukur yaitu Dimentional Tool dan

Typological Tool. Dimentional Tool contohnya Hospital Survey on

Patient Safety Culture (HSPOPSC) dan Safety Attitude Questionnare

(SAQ). Typological Tool contohnya adalah Manchester Patient Safety


22

Framework (MaPSaF). Hospital Survey On Patient Safety Culture,

Safety Attitude Questionaire, dan Manchester Patient Safety

Framework merupakan alat ukur yang sering digunakan dan

direkomendasikan untuk mengukur budaya keselamatan pasien

(Foundation, 2011). Kekuatan dan kelemahan masing-masing

instrument dapat dilihat pada table 2.1 dibawah ini.

Tabel 2.1
Kekuatan dan Kelemahan Instrumen
Instrumen Sifat Kekuatan Kelemahan
dan Psikometrik
Pengembanga
nnya
AHRQ- Sifat Sudah Hanya
HSOPSC psikometrik divalidasi berfokus
(Hospital telah diuji. dengan baik, pada rumah
Survey On Bisa digunakan sakit.
Patient Safety ditingkat
Culture) individu, unit,
organisasi. Bisa
dibandingkan
dengan
beberapa negara
lain
SAQ (Safety Sifat Sudah di Membutuh
Attiitude psikometrik validasi dengan kan waktu
Questionaire) diuji secara baik. Bisa relative
ekstensif dibandingkan lama dalam
dan di dengan mengisi
validasi beberapa negara kuesioner
dengan baik dan beberapa survey
industry
MaPSaf Tidak ada Instrumen yang Sedikit
(Manchester sifat dapat publikasi
Patient Safety psikometrik menentukan tentang
Framework) yang tingkat penggunaan
dilaporkan maturitas nya
dalam budaya
literature keselamatan
empiris pasien
(Sumber : Foundation, 2011)
23

6. Dimensi patient safety culture

Dimensi-dimensi yang digunakan untuk mengukur patient safety

culture (AHRQ, 2004):

a. Kerjasama Tim Dalam Unit

Tim kerja dapat diartikan sebagai teamwork (Ilyas, 2003).

Tim kerja merupakan sekumpulan individu dengan keahlian yang

spesifik yang bekerja sama dan saling berinteraksi untuk mencapai

tujuan yang sama yang membutuhkan komitmen bersama, saling

percaya dan saling menghormati.

Tim kerja yang baik juga sangat didukung oleh pola

komunikasi yang efektif, kesamaan persepsi terhadap tujuan tim,

serta kesamaan norma dan nilai-nilai yang di anut organisasi.

Dalam dunia kesehatan, tim kerja dan kerja sama tim bergantung

pada seberapa banyak perbedaan profesi dalam pengaturan kerja.

Menurut Flin et al, (2006), terdapat 3 faktor utama yang

mempengaruhi tim kerja yaitu; 1) pemimpin/ketua tim

(pengetahuan, keterampilan, sikap, gaya kepemimpinan dan

personality), 2) anggota tim (pengetahuan, keterampilan, sikap

personality), 3) struktur tim (jumlah/ukuran tim, norma-norma

yang berlaku, status, dan keterpaduan). Ketiga faktor tersebut akan

menciptakan dinamika kerja yang kondusif atau tidak kondusif

yang merupakan hasil keterbangunan dari komunikasi, koordinasi,


24

kerja sama, managemen konflik dan pengambilan keputusan dalam

tim.

b. Kepemimpinan

Konvensi Nasional Mutu rumah sakit dalam membangun

patient safety culture di rumah sakit ada dua model kepemimpinan

sekaligus yang dibutuhkan yakni kepemimpinan transaksional dan

transformasional. Kepemimpinan transaksional dapat digunakan

untuk mendorong staf melakukan pelaporan kejadian insiden dan

kepemimpinan transformasional dipakai untuk proses belajar dari

kejadian dan merancang kembali program untuk keselamatan

pasien.

c. Pembelajaran organisasi

Organizational Learning atau perbaikan yang berkelanjutan

dilakukan tim inti untuk menentukan strategi pembudayaan nilai-

nilai keselamatan pasien. Tim tersebut secara berkala bertemu

untuk menganalisis RCA (Root Cause Analysis) serta mencari akar

masalah dari setiap insiden keselamatan pasien. Tim tersebut juga

menentukan pola sosialisasi serta mengevaluasi program yang

telah dilaksanakan melalui riset- riset aplikatif. Melalui upaya

perbaikan yang berkelanjutan akan diperoleh pengetahuan yang

tersirat maupun tersurat untuk menangani persoalan kejadian

insiden keselamatan pasien


25

d. Dukungan manajemen terhadap upaya keselamatan pasien

Diartikan sejauh mana manajemen RS menyediakan budaya

kerja yang mempromosikan keselamatan pasien dan berpedoman

bahwa keselamatan pasien adalah prioritas utama.

e. Persepsi keseluruhan tentang keselamatan pasien

Diartikan persepsi dari seluruh staf berkaitan dengan

keselamatan pasien, termasuk pemahaman tentang prosedur dan

sistem yang baik untuk mencegah kesalahan.

f. Umpan balik dan komunikasi tentang kesalahan

Diartikan sebagai sejauh mana staf diberitahu tentang

kesalahan yang dilakukan, menerima umpan balik masukan dari

staf dan mendiskusikan upaya untuk mencegah kesalahan tidak

terulang kembali.

g. Komunikasi Terbuka

Perawat berperan dalam siklus komunikasi dalam

keselamatan pasien. Agency for Healthcare Research and Quality

(AHRQ) melakukan survey rumah sakit di Amerika tentang

pelaksanaan patient safety culture pada komunikasi terbuka sebesar

62%.

h. Pelaporan Kejadian

Pelaporan kejadian merupakan suatu sistem yang penting

dalam membantu mengidentifikasi masalah keselamatan pasien dan

dalam menyediakan data pada organisasi dan sistem pembelajaran


26

(Walshe & Boaden, 2006). Perawat berperan dalam melaporkan

kejadian kesalahan (ICN, 2002).

i. Kerjasama antar unit

Diartikan sejauh mana setiap unit dalam RS saling

bekerjasama dan berkoordinasi antar unit dengan tujuan yang sama

yaitu memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien.

j. Staffing

Menurut Douglas dkk (1976) dalam Beginta (2012), staffing

didefinisikan sebagai proses menegaskan pekerja yang ahli untuk

mengisi struktur organisasi melalui seleksi dan pengembangan

personil. Dengan adanya staffing diharapkan terpenuhinya jumlah

dan keterampilan yang dimiliki perawat sesuai dengan kebutuhan

yang ada di tiap unit yang dibutuhkan. Jumlah perawat di rumah

sakit mempengaruhi kualitas pelayanan yang diterima pasien di

rumah sakit. Karena staf yang memadai merupakan suatu hal

mendasar untuk perawatan yang berkualitas.

Terbukti dengan banyaknya perawat setara dengan

keselamatan pasien yang lebih baik. Aiken dkk (2012)

menyebutkan bahwa terdapat hubungan langsung antara staffing

perawat dan dampaknya terhadap keselamatan pasien, hasil, dan

kepuasan perawat profesional di rumah sakit.


27

k. Handsoff dan transisi

Perpindahan pasien dari satu lingkungan ke lingkungan

yang lain dapat berupa perpindahan pasien dari IGD ke unit dalam

rangka mendapatkan pengobatan. Dalam perpindahan tersebut

dapat terjadi suatu kesalahan sehingga membahayakan pasien

seperti jatuhnya pasien dan kesalahan informasi ketika terjadi

pertukaran informasi mengenai pasien. Kesalahan informasi

mengenai pasien tersebut juga dapat terjadi ketika berlangsungnya

pergantian shift antar perawat.

l. Respon Tidak Menghukum Ketika Terjadi Kesalahan

Kesalahan medis sangat jarang disebabkan oleh faktor

kesalahan manusia secara tunggal, namun lebih banyak disebabkan

karena kesalahan sistem di rumah sakit yang mengakibatkan rantai-

rantai dalam sistem terputus.

C. Fungsi Manajemen Kepala Ruangan

Menurut Robbins & P. Stephen (2015) menyebutkan bahwa fungsi

manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan

pengawasan. Senada dengan yang dikemukakan oleh Marquis, B. L., &

Huston (2015) menyatakan fungsi kepala ruang sebagai first line manager

meliputi fungsi manajerial yaitu fungsi perencanaan, pengorganisasian,

pengaturan staf, pengarahan, dan pengendalian. Fungsi manajemen ini

cocok untuk digunakan dalam dunia keperawatan baik dalam penelitian

maupun dalam praktik.


28

Firth-Cozens, (2002) dalam Wagner et al (2013) menyatakan

bahwa kepala ruang memiliki peran yang kritis dalam mendukung safety

culture dan kepemimpinan efektif telah menunjukkan arti penting dalam

menciptakan lingkungan yang positif bagi patient safety. Fungsi

manajerial kepala ruang meliputi lima fungsi yaitu:

1. Perencanaan

Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan

penentuan secara matang hal- hal yang akan dikerjakan di masa

mendatang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Perencanaan dapat juga diartikan sebagai suatu rencana kegiatan

tentang apa yang harus dilakukan, bagaimana kegiatan itu

dilaksanakan, dimana kegiatan itu dilakukan. Perencanaan yang

matang akan memberi petunjuk dan mempermudah dalam

melaksanakan suatu kegiatan dan merupakan pola pikir yang dapat

menentukan keberhasilan suatu kegiatan dan titik tolak dari kegiatan

pelaksanaan kegiatan selanjutnya. Hierarki dalam perencanaan terdiri

dari perumusan visi, misi, filosofi, peraturan, kebijakan, dan prosedur

(Marquis, B. L., & Huston, 2015). Leos (2015) mengatakan bahwa

untuk meningkatkan keselamatan pasien pada perawat onkologi

dengan menciptakan perencanaan lingkungan perawatan yang aman

yaitu dengan meningkatkan penyediaan cuci tangan untuk mencegah

infeksi jamur.
29

Pendapat lain Leos (2015) mengatakan bahwa kesenjangan

yang dapat menyebabkan kesalahan tanpa disadari sebagai akibat dari

keputusan yang dibuat dalam perencanaan yang kurang optimal.

Perencanaan pemimpin keperawatan dalam patient safety (Wibowo,

2016) adalah menyusun ‘Deklarasi/Pernyataan’ awal gerakan

keselamatan pasien atau ‘pencanangan’ tentang tekad untuk memulai

aktivitas keselamatan pasien. Isi pernyataan mengandung elemen:

pernyataan bahwa patient safety sangat penting dan menjadi prioritas;

komitmen tentang tanggung jawab eksekutif dalam patient safety;

aplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang mutakhir; berlakukan

pelaporan yang jujur (blameless reporting).

Perencanaan dalam safety culture oleh seorang pemimpin

keperawatan meliputi pengembangan visi ke depan untuk memberikan

pedoman kegiatan saat ini dan juga strategi untuk mencapai visi

tersebut (Nurmalia & Nivalinda, 2016). Perencanaan dalam patient

safety diantaranya dengan pelatihan dan pendidikan tentang patient

safety dan perencanaan sumber daya yang ada (SDM dan fasilitas)

(Nurmalia & Nivalinda, 2016).

2. Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah pengelompokan aktivitas untuk

mencapai tujuan, penugasan suatu kelompok tenaga keperawatan,

menentukan cara dari pengkoordinasian aktivitas yang tepat, baik


30

vertikal maupun horizontal, yang bertanggungjawab untuk mencapai

tujuan organisasi oleh Marquis, B. L., & Huston (2015).

Struktur organisasi adalah susunan komponen- komponen

dalam suatu organisasi. Pengertian struktur organisasi menunjukkan

adanya pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi- fungsi

atau kegiatan yang berbeda- beda diintegrasikan atau dikoordinasikan.

Struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi pekerjaan. Fungsi

pengorganisasian pemimpin keperawatan adalah dengan menunjuk

penanggung jawab operasional patient safety, pada umumnya ditunjuk

manajer risiko atau manajer patient safety oleh (Marquis, B. L., &

Huston, 2015).

Struktur organisasi selalu menjadi faktor penting yang

mempengaruhi perilaku individu dan kelompok yang ada di organisasi

(Robbins & P. Stephen, 2015). Fungsi manajemen pada

pengorganisasian adalah pengetahuan tentang struktur organisasi,

termasuk uraian tugas staf dan departemen. Menyediakan staf alur unit

organisasi, jika memungkinkan mempertahankan kesatuan perintah,

klarifikasi kesatuan perintah ketika terdapat ketidakjelasan.

Pengetahuan tentang struktur organisasi, menggunakan organisasi

informal untuk mencapai tujuan, menggunakan struktur komite untuk

meningkatkan kualitas dan kuantitas dari kinerja (Marquis, B. L., &

Huston, 2015).
31

3. Pengaturan Staf

Pengaturan staf (staffing) merupakan fase ketiga dari proses

manajemen. Menurut Marquis, B. L., & Huston (2015) manajer

merekrut, memilih, memberikan orientasi dan meningkatkan

perkembangan individu untuk mencapai tujuan organisasi. Kepala

ruang menjalankan fungsi ini antara lain dengan merencanakan

kebutuhan staf perawat, menyusun jadwal dinas, memberikan

orientasi bagi staf baru mengenai kebijakan, aturan maupun standar

keselamatan yang harus ditaati dalam bekerja.

4. Pengarahan

Pengarahan yaitu penerapan perencanaan dalam bentuk

tindakan dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang telah

ditetapkan sebelumnya. Istilah lain yang digunakan sebagai padanan

pengarahan adalah pengkoordinasian, pengaktifan, dan pada akhirnya

akan bermuara pada melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan

sebelumnya. Fase pengarahan meliputi memotivasi staf dan

menciptakan suasana yang memotivasi, membina komunikasi

organisasi, menangani konflik, memfasilitasi kerjasama dan negosiasi

(Marquis, B. L., & Huston, 2015).

Pengarahan menguraikan pekerjaan dalam tugas- tugas yang

mampu dikelola, jika perlu dilakukan pendelegasian. Seorang manajer

harus memaksimalkan pelaksanaan pekerjaan oleh staf melalui upaya-

upaya menciptakan iklim motivasi, mengelola waktu secara efisien:


32

mendemonstrasikan keterampilan komunikasi yang terbaik; mengelola

konflik dan memfasilitasi kolaborasi; melaksanakan sistem

pendelegasian dan supervisi; serta negosiasi (Marquis, B. L., &

Huston, 2015)

Pengarahan dalam patient safety culture meliputi komunikasi,

pemberian inspirasi, melakukan supervisi. Komunikasi merupakan

bagian penting dalam keberhasilan penerapan patient safety culture

Nurmalia & Nivalinda (2016). Fungsi pengarahan manajer dalam

pelaksanaan patient safety adalah dengan ronde keselamatan pasien

yang terdiri dari perawat senior dan 1-2 perawat ruangan, dilakukan

supervisi setiap minggu pada area yang berbeda di rumah sakit dan

berfokus hanya pada masalah keselamatan (Nurmalia & Nivalinda,

2016).

Manfaat dari ronde keselamatan pasien adalah: meningkatkan

kepedulian akan masalah- masalah keselamatan pasien:

memperlihatkan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama bagi

manajer senior; membantu membangun budaya adil dan terbuka

dengan mendorong staf membicarakan insiden dengan terbuka. Ronde

keselamatan pasien merupakan suatu cara untuk mengumpulkan

informasi dan pendapat dari staf agar pelayanan pasien lebih aman,

selain itu juga sebagai cara berbagi informasi yang diperoleh dari

berbagai unit di rumah sakit (Nurmalia & Nivalinda, 2016)

5. Pengendalian
33

Pengendalian manajemen adalah proses untuk memastikan

bahwa aktivitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan

dan berfungsi untuk menjamin kualitas serta pengevaluasian

penampilan kinerja (Wibowo, 2016). Langkah- langkah yang harus

dilakukan dalam pengendalian/pengontrolan meliputi menetapkan

standar dan menetapkan metode mengukur prestasi kerja; melakukan

pengukuran prestasi kerja ; menetapkan apakah prestasi kerja sesuai

dengan standar; mengambil tindakan korektif.

Pengendalian dalam patient safety culture adalah dengan

memberikan umpan balik kepada staf, audit pelaporan terhadap

kejadian kesalahan, pengambilan tindakan korektif/perbaikan baik

sebelum atau sesudah terjadi kesalahan (Nurmalia & Nivalinda, 2016)


34

D. Kerangka Teori

Penerapan Patient Safety Culture :


Faktor-Faktor yang mempengaruhi
Patient Safety Culture : 1. Kerja Sama Tim Dalam Unit
1. Faktor Personal 2. Harapan dan tindakan
2. Faktor perilaku organisasi supervisor/manajer dalam
promosi keselamatan
- Kepemimpinan 3. Pembelajaran Organisasi dan
-
Kewaspadaan situasi perbaikan berkelanjutan
-
Komunikas 4. Dukungan Manajemen untuk
-
Kerja tim Keselamatan Pasien
-
Stress 5. Persepsi tentang Keselamatan
Pasien
-
Kelelahan
6. Umpan Balik Terhadap
-
Kepemimpinan tim Kesalahan
-
Pengambilan keputusan 7. Keterbukaan Komunikasi
3. Faktor lingkungan 8. Frekuensi Kejadian Dilaporkan
9. Kerja Sama Tim Antar Unit
Geller (1994) dalam Vierendeels 10. Staffing
11. Handoff & Transisi
(2018)
12. Respon Nonpunitif terhadap
Kesalahan

Fungsi Manajemen
Keperawatan :
1. Perencanaan
2. Pengorganisasian
3. Pengaturan staf
4. Pengarahan
5. Pengendalian
(Marquis, B. L., & Huston,
2015)

Gambar 2.3: Kerangka teori


35

BAB III

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS PENELITIAN

DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep
B.

Variabel Independen Variabel Dependen


Fungsi Manajemen Keperawatan

Perencanaan

Pengorganisasian

Penerapan Budaya
Pengaturan Staf Keselamatan Pasien

Pengarahan

Pengendalian

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

B. Hipotesis Penelitian

Adapun Hipotesis Null (Ho) dalam penelitian ini adalah:

1. Terdapat hubungan perencanaan kepala ruangan dengan penerapan patient

safety culture di RSUD Pasaman Barat 2019

2. Terdapat hubungan pengorganisasian kepala ruangan dengan penerapan

patient safety culture di RSUD Pasaman Barat 2019


36

3. Terdapat hubungan pengaturan kepala ruangan dengan penerapan patient

safety culture di RSUD Pasaman Barat 2019

4. Terdapat hubungan pengarahan kepala ruangan dengan penerapan patient

safety culture di RSUD Pasaman Barat 2019

5. Terdapat hubungan pengendalian kepala ruangan dengan penerapan

patient safety culture di RSUD Pasaman Barat 2019

6. Terdapat fungsi manjerial kepala ruangan yang paling dominan

berhubungan dengan penerapan patient safety culture di RSUD Pasaman

Barat tahun 2019

C. Defenisi Operasional

Adapun definisi operasional pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel

dibawah ini :

Tabel 3.1
Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Variabel Independen

1. Perencanaan Adalah Persepsi perawat Angket Kuesioner a. Baik: jika jumlah Ordinal
pelaksana yang bekerja di yang skor ≥ 75%
ruangan rawat inap RSUD dikembangka b. Kurang baikk: jika
Pasaman Barat tentang n dari Depkes jumlah skor <
kemampuan kepala ruangan (2001) 75%
melaksanakan fungsi
perencanaan keperawatan
dalam penerapan patient safety
culture.

2. Pengorganisasian Adalah Persepsi perawat Angket Kuesioner a. Baik: jika jumlah Ordinal
pelaksana yang bekerja di yang skor ≥ 75%
ruangan rawat inap RSUD dikembangka b. Kurang baik: jika
Pasaman Barat tentang n dari Depkes jumlah skor < 75%
kemampuan kepala ruangan (2001)
melaksanakan fungsi
37

pengorganisasian keperawatan
dalam penerapan patient safety
culture.

D. Pengaturan Adalah Persepsi perawat Angket Kuesioner c. Baik: jika jumlah Ordinal
pelaksana yang bekerja di yang skor ≥ 75%
ruangan rawat inap RSUD dikembangka d. Buruk: jika jumlah
Pasaman Barat tentang n dari Depkes skor < 75%
kemampuan kepala ruangan (2001)
melaksanakan fungsi
pengaturan keperawatan dalam
penerapan patient safety
culture.

E. Pengarahan Adalah Persepsi perawat Angket Kuesioner e. Baik: jika jumlah Ordinal
pelaksana yang bekerja di yang skor ≥ 75%
ruangan rawat inap RSUD dikembangka f. Kurang Baik: jika
Pasaman Barat tentang n dari Depkes jumlah skor < 75%
kemampuan kepala ruangan (2001)
melaksanakan fungsi
pengarahan keperawatan dalam
penerapan patient safety
culture.

F. Pengenda Adalah Persepsi perawat Angket Kuesioner g. Baik: jika jumlah Ordinal
lian pelaksana yang bekerja di yang skor ≥ 75%
ruangan rawat inap RSUD dikembangka h. Kurang baik: jika
Pasaman Barat tentang n dari Depkes jumlah skor < 75%
kemampuan kepala ruangan (2001)
melaksanakan fungsi
pengendalian keperawatan
dalam penerapan patient safety
culture.

Variabel Dependen

Penerapan Budaya Adalah Perilaku perawat Angket Kuesioner a. Baik : jika skor Ordinal
Keselamatan Pasien pelaksana (ketua tim dan yang >75%
perawat pelaksana) yang dikembangka b. Sedang : jika skor
>50% dan <75%
bekerja di ruang rawat inap n dari AHRQ
c. Kurang : jika skor
RSUD Pasaman Barat yang (2004) <50 %
berlandaskan keterbukaan, ( AHRQ, 2004)
keadilan, pelaporan belajar
dan informasi belajar
38

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan

crosssectional yaitu pengukuran variabel independen dan dependen dalam waktu

bersanaan yang bertujuan untuk menganalisis fungsi manajerial kepala ruangan

terhadap penerapan patient safety culture di ruang rawat RSUD Pasaman Barat.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana yang bekerja

di ruang rawat RSUD Pasaman Barat sejumlah 113 perawat pelaksana.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian perawat yang bertugas di

Ruang Rawat RSUD Pasaman Barat. Teknik sampling yang digunakan dalam

penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik Probability Sampling

dengan teknik yang digunakan adalah Proportional Random Sampling.

Jumlah sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus

proporsi seperti dibawah ini:

Keterangan:
Z21-α/2 = skor z kepercayaan 95% (1,96)

p = proporsi sampel (0,5)


39

N = jumlah populasi

d2 = derajat ketepatan yang digunakan 95% (0,05)

(1,96)2 (0,5) (1-0,5) (113)

Jumlah Sampel (n) =


(0,05)2 (113-1) + (1,96)2 (0,5) (1-0,5)

(3,84) (0,5) (0,5) (113)

Jumlah Sampel (n) =


(0,0025) (112) + (3,84) (0,5) (0,5)

(3,84) (0,25) (113)

Jumlah Sampel (n) =


(0,0025) (112) + (3,84) (0,25)

108.48
Jumlah Sampel (n) =
0,28 + 0,96
108.48
Jumlah Sampel (n) =
1,24

Jumlah Sampel (n) = 87.48 = 87

Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 87 orang perawat yang

bertugas di RSUD Pasaman Barat. Untuk menentukan jumlah sampel

pada masing-masing ruangan dihitung sebagai berikut:

Tabel 4.1
Jumlah Sampel Pada Masing-Masing Area
40

Jumlah Jumlah
No Ruangan Rumus
Perawat Sampel

1 Ruang Interne 12 =12/113 x 87 9

2 Ruang Anak 7 = 7/113 x 87 5

3 Ruang Bedah 11 =11/113 x 87 9

4 Ruang Paru/Neuro 12 =12/113 x 87 9

5 Ruang VIP 9 = 9/113 x 87 7

6 Ruang ICU 12 =12/113 x 87 9

7 Ruang Kelas 8 = 8/113x 87 6

8 Ruang IGD 13 =13/113 x 87 10

9 Ruang Poliklinik 21 =21/113 x 87 15

10 OK 8 =8/ 113 x 87 6

Jumlah 113 87

Untuk menjamin tersedianya sampel penelitian digunakanlah kriteria

sampel yaitu:

a. Kriteria inklusi :

Perawat yang bersedia menjadi responden dengan menandatangani

inform concent
41

b. Kriteri eksklusi :

Perawat yang sedang cuti, sakit dan tugas belajar

3. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Ruang Rawat Rumah Sakit Umum Daerah

Pasaman Barat.

4. Waktu Penelitian

Waktu penelitian direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Desember

2019 sampai dengan Januari 2020

5. Pertimbangan Etik

Penelitian ini dilakukan setelah mendapatkan izin atau persetujuan dari

Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas

Andalas, izin menggunakan lahan penelitian dari rumah sakit dan persetujuan

mengisi kuesioner dari responden. Dengan memperhatikan aspek-aspek etika

penelitian yang meliputi :

a. Informed consent

Sebelum dilakukan pengambilan data, responden diminta untuk

menandatangani lembaran persetujuan bersedia menjadi responden setelah

responden mendapat penjelasan tentang tujuan dan prosedur pelaksanaan

penelitian sebagai bentuk bahwa penelitian ini tidak berdampak bahaya

dan mengancam kenyamanan responden.


42

d. Anonymity

Pada lembaran kuesioner tidak dicantumkan nama responden dan data

pribadi lain agar kerahasian responden terjaga. Hal itu merupakan upaya

dalam memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan responden yang

terlibat dalam penelitian ini. Nama dan data pribadi lain diganti dengan

kode nomor pada lembaran kuesioner.

e. Confidentiality

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti memberikan jaminan terhadap

kerahasiaan hasil penelitian dan masalah-masalah lain. Menyimpan data

dengan baik semata-mata untuk kepentingan penelitian ini.

6. Alat Pengumpulan Data

a. Data Primer.

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan teknik

penyebaran kuesioner menggunakan pertanyaan tertulis. di rumah sakit.

Instrumen yang di gunakan adalah :

1) Instrumen A

Instrumen A berisi identitas perawat ruangan terdiri dari usia, jenis

kelamin, masa kerja, tingkat pendidikan, dan pelatihan patient safety

yang pernah diikuti.


43

2) Instrumen B

Instrumen B berisi fungsi manajemen kepala ruang yang meliputi

perencanaan, pengorganisasian, pengaturan staf, pengarahan dan

pengendalian. Instrumen tersebut terdiri dari 30 pernyataan.

3) Instrumen C

Peneliti menggunakan Instrumen C tentang penerapan budaya

keselamatan pasien (patient safety culture) yang dikeluarkan oleh

AHRQ pada Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSPSC).

Instrumen tersebut telah digunakan oleh rumah sakit - rumah sakit di

Amerika untuk mengukur budaya keselamatan pasien di rumah sakit.

Dalam kuesioner tersebut terdapat 42 pernyataan yang mencakup 12

dimensi budaya keselamatan pasien.

b. Data Sekunder.

Pengumpulan data sekunder diperoleh dari buku arsip atau profil rumah

sakit, jadwal dinas perawat, jurnal online, media baca dan studi

kepustakaan. Data tersebut mencakup jumlah perawat, gambaran umum

rumah sakit, fungsi manajemen kepala ruang serta peran dan fungsi

perawat pelaksana

2. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Uji Validitas dan relibialitas dalam penelitian ini rencananya akan

dilakukan di RSUD Lubuk Sikaping, Uji coba ini dilakukan dengan cara :

a. Uji Validitas
44

Uji Validitas dilakukan untuk menngetahui sejauh mana ketepatan suatu

alat ukur dalam pengukuran suatu data ( dalam hal ini adalah kuisioner ).

Untuk melakukan uji validitas ini menggunakan program SPSS.  Teknik

pengujian yang digunakan peneliti untuk uji validitas adalah

menggunakan korelasi Bivariate Pearson (Produk Momen Pearson).

Analisis ini dengan cara mengkorelasikan masing-masing skor item

dengan skor total. Skor total adalah penjumlahan dari keseluruhan item.

Item-item pertanyaan yang berkorelasi signifikan dengan skor total

menunjukkan item-item tersebut mampu memberikan dukungan dalam

mengungkap apa yang ingin diungkap à Valid. Jika r hitung ≥ r tabel (uji

2 sisi dengan sig. 0,05) maka instrumen atau item-item pertanyaan

berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan valid).

b. Uji Reliabilitas

Untuk mengetahui reliabilitas instrument ini dilakukan perhitungan

dengan menggunakan rumus uji Cronbach Alpha. Kriteria pengujian :

Jika r > r tabel, berarti item pernyataan valid, Jika r ≤ r tabel, berarti item

pernyataan adalah tidak valid (Dahlan, 2011).

3. Pengolahan dan Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji :

a. Analisis Univariat

Variabel independen dan dependen dianalisis secara deskriptif untuk

mendapatkan gambaran tentang distribusi frekuensi dari variabel fungsi

manajerial kepala ruang dan penerapan patient safety culture serta


45

karakteristik perawat pelaksana yang meliputi usia, jenis kelamin,

tingkat pendidikan, masa kerja dan pelatihan patient safety yang pernah

diikuti.

b. Analisis Bivariat

Untuk mencari hubungan antara variabel fungsi manajemen kepala

ruang dengan penerapan patient safety culture digunakan uji Chi

Square. Uji ini digunakan untuk mengetahui hubungan fungsi

manajemen kepala ruang yang terdiri dari perencanaan,

pengorganisasian, pengaturan staf, pengarahan, dan pengendalian

dengan penerapan patient safety culture. Proses entry data

(memasukkan data) kedalam tabel secara keseluruhan dan analisa data

menggunakan sistem komputerisasi untuk mendapatkan hasil yaitu ada

atau tidak hubungan dua variabel secara signifikan.

c. Analisis Multivariat

Untuk melihat pengaruh bersama-sama factor yang paling

dominan berhubungan antara variable independen dengan variable

dependen secara bersama-sama, maka dilakukan uji statistik

dengan analisis multivariat28,29. Apabila data berdistribusi

normal, maka uji statistik yang dilakukan dengan

menggunakan analisis regresi linear, sedangkan apabila data

berdistribusi tidak normal maka uji statistik yang digunakan

adalah analisis regresi logistik.


46