Anda di halaman 1dari 13

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran IPA

IPA memiliki cakupan meliput alam semesta keseluruhan, benda-benda

yang ada di permukaan bumi, di dalam perut bumi dan di luar angkasa, baik yang

dapat diamati indera maupun yang tidak dappat diamati dengan indera. Oleh

karena itu, secara umum IPA dipahami sebagai ilmu kealaman, yaitu ilmu tentang

dunia zat, baik makhluk hidup maupun benda mati yang diamati. Carin dalam

Amien (1987: 4) menyatakan IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan yang

tersusun secara sistematik, yang dalam penggunaannya secara umum terbatas

pada gejala-gejala alam. Trianto (2010: 136) menyatakan IPA adalah suatu

kumpulan teori yang sistematis, penerapannya secara umum terbatas pada gejala-

gejala alam, lahir dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan

eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka jujur, dan

sebagainya. Berdasarkan uraian pendapat tersebut, IPA adalah suatu kumpulan

pengetahuan yang tersusun secara sistematis, yang berisi tentang gejala-gejala

alam dan berkembang melalui metode ilmiah berupa observasi dan eksperimen

serta menuntut sikap ilmiah.

IPA dibangun berdasarkan produk ilmiah, proses ilmiah dan sikap ilmiah.

IPA dipandang sebagai proses diartikan semua kegiatan ilmiah untuk

menyempurnakan pengetahuan tentang alam maupun untuk menemukan

pengetahuan baru. IPA sebagai produk diartikan sebagai hasil proses berupa

1
pengetahuan yang diajarkan di sekolah, dan IPA sebagai prosedur diartikan

sebagai metodologi atau cara yang digunakan untuk mengetahui sesuatu.

Laksmi Prihantoro, dkk dalam Trianto (2010: 137) menyatakan bahwa

IPA merupakan suatu produk, proses dan aplikasi. Sebagai Produk, IPA

merupakan sekumpulan pengetahuan dan konsep dan bagan konsep. IPA sebagai

proses digunakan untuk mempelajari objek studi, menemukan dan

mengembangkan produk sains dan seagai aplikasinya IPA melahirkan teknologi

yang dapat memudahkan bagi kehidupan. Hakikat IPA berdasarkan uraian

tersebut dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan suatu proses, produk dan

aplikasi yang dapat mempelajari, menemukan dan mengembangkan sains melalui

metode ilmiah. Trianto (2010: 141) menyatakan bahwa dengan merujuk pada

hakikat IPA, maka nilai-nilai IPA yang dapat ditanamkan dalam pembelajaran

IPA adalah sebagai berikut.

1. Kecakapan bekerja dan berpikir secara teratur dan sistematis menurut

langkah-langkah metode ilmiah.

2. Keterampilan dan kecakapan dalam mengadakan pengamatan,

mempergunakan alat-alat eksperimen untuk memecahkan masalah.

3. Memiliki sikap ilmiah yang diperlukan dalam memecahkan masalah baik

dalam kaitannya dengan sains maupun dalam kehidupan.

2
IPA dapat dikatakan sebagai alat pendidikan yang berguna untuk mencapai

tujuan pendidikan. Pendidikan IPA di sekolah mempunyai tujuan- tujuan tertentu,

yaitu (Trianto, 2010: 142).

1. Memberikan pengetahuan kepada siswa tentang dunia tempat hidup dan

bagaimana bersikap;

2. Menanamkan sikap hidup ilmiah;

3. Memberikan keterampilan untuk melakukan pengamatan;

4. Mendidik siswa untuk mengenal, mengetahui cara kerja serta menghargai

para ilmuwan penemunya;

5. Menggunakan dan menerapkan metode ilmiah dalam memecahkan

permasalahan.

IPA mesti tercermin dalam tujuan pendidikan dan metode mengajar yang

digunakan. Pembelajaran IPA secara khusus sebagaimana tujuan pendidikan

secara umum sebagaimana termaksud dalam taksonomi Bloom menurut Prihantri

Laksmi dalam Trianto (2010: 142) bahwa:

“Diharapkan dapat memberikan pengetahuan (kognitif), yang merupakan


tujuan utama dari pembelajaran. Jenis pengetahuan yang dimaksud adalah
pengetahuan dasar dari prinsip dan konsep yang bermanfaat untuk
kehidupan sehari-hari. Pengetahuan secara garis besar tentang fakta yang
ada di alam untuk dapat memahami dan memperdalam lebih lanjut, dan
melihat adanya keterangan serta keteraturannya. Di samping hal itu,
pembelajaran sains diharapkan pula memberikan keterampilan
(psikomotor), kemampuan sikap ilmiah (afektif). Pemahaman, kebiasaan,
dan apresiasi. Di dalam mencari jawaban terdapat suatu permasalahan.
Karena ciri-ciri tersebut yang membedakan dengan pembelajaran lainnya”

3
Pembelajaran IPA memiliki tujuan yang diharapkan dapat memberikan

antara lain sebagai berikut (Trianto, 2010: 143):

1. Kesadaran akan keindahan dan keteraturan alam untuk meningkatkan

keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

2. Pengetahuan, yaitu pengetahuan tentang dasar dari prinsip dan konsep, fakta

yang ada di alam, hubungan saling ketergantungan, dan hubungan antara

sains dan teknologi.

3. Keterampilan dan kemampuan untuk menangani peralatan, memecahkan

masalah dan melakukan observasi

4. Sikap ilmiah antara lain skeptis, kritis, sensitive, objektif, jujur, terbuka,

benar, dan dapat bekerja sama

5. Kebiasaan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analisis, induktif dan

deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip sains untuk

memperjelaskan berbagai peristiwa alam.

6. Apresiatif terhadap sains dengan menikmati dan menyadari keindahan

keteraturan perilaku alam serta penerapannya dalam teknologi.

B. Model Pembelajaran

Model pembelajaran merupakan salah satu pendekatan dalam rangka

mensiasati perubahan perilaku siswa secara adaptif maupun generatif (Hanafiah

dan Cucu, 2009: 41). Model pembelajaran sangat erat kaitannya dengan gaya

belajar siswa dan gaya mengajar guru. Suprijono (2016: 64) menyatakan model

pembelajaran dapat diartikan pula sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan

4
kurikulum, mengatur materi, dan petunjuk kepada guru kelas. Model

pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori

psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis

terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di

kelas.

Arends dalam Suprijono (2016: 65) menyatakan bahwa model

pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk

didalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan

pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Model

pembelajaran berfungsi pula sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran

dan para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. Melaksanakan

suatu proses belajar mengajar, guru harus memahami dan menerapkan model

pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran pada siswa agar pembelajaran

terlihat berkesan pada siswa.

Komaruddin dalam Sagala (2014: 175) menyatakan model dapat dipahami

sebagai: (1) suatu tipe atau desain; (2) suatu deskripsi atau analogi yang

dipergunakan untuk membantu proses visualisasi sesuatu yang tidak dapat dengan

langsung diamati; (3) suatu sistem asumsi-asumsi, data-data, dan inferensi-

inferensi yang dipakai untuk menggambarkan secara matematis suatu objek atau

peristiwa; (4) suatu desain yang disederhanakan dari suatu sistem kerja, suatu

terjemahan realitas yang disederhanakan; (5) suatu deskripsi dari suatu sistem

yang mungkin atau imajiner dan (6) penyajian yang diperkecil agar dapat

menjelaskan dan menunjukan sifat bentuk aslinya.

5
6
C. Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Konsep IPA dapat dipahami dengan melibatkan siswa dalam suatu

kegiatan yang dapat membuat siswa menemukan konsep-konsep itu sendiri

sehingga siswa dapat mengalami pengalaman sains untuk mendapatkan konsep-

konsep tersebut. Pembelajaran IPA mengarahkan siswa untuk membangun

pengetahuan melalui proses penyelidikan. Amadi dalam Ismawati ( 2007 : 35 )

mengatakan “bahwa inkuiri berasal dari kata inquire yang berarti menanyakan,

meminta keterangan, atau penyelidikan, dan inkuiri berarti penyelidikan.

1. Landasan Teoritis Inkuiri Terbimbing

Indrawati dalam Trianto (2014 ; 77) Menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih

efektif bila diselenggarakan melalui model model pembelajaran yang termasuk

rumpun pemrosesan informasi. Model pemrosesasn informasi menekankan pada

cara seseorang berikir dan bagaimana dampak yang timbul terhadap cara cara

mengolah informasi. Downey 1967 dalam Trianto (2014: 77) mengemukakan

bahwa

“inti dari berpikir yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah. Dasar

dari pemecahan masalah yaitu kemampuan untuk memcahkan masalah.

Dasar dari pemecahan masalah yaitu kemampuan untuk belajar dalam

situasi proses berpikir. Dengan demikian hal ini dapat diimplementasikan

bahwa kepada siswa hendaknya diajarkan bagaimana belajar yang meliputi

7
apa yang diajarkan, bagaimana hal itu diajarkan, jenis kondisi belajar daan

memperoleh pandangan baru”

Salah satu model pemrosesan informasi yaitu model pembelajaran inkuiri. Model

inkuiri berfokus kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan

menemukan jawaban dari permasalah yang diberikan. Model pembelajaran inkuiri

dalam pelaksanaannya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk kepada siswa.

sebagian perencanaan di buat oleh guru, siswa tidak merumuskan problem atau

masalah.Gulo dalam Trianto (2014: 78) menyatakan bahwa startegi inkuiri berarti

suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh

emampuan siswa untuk mecari dan meyelidiki secara sistematis, kritis, logis,

analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh

percaya diri.

Pembelajaran inkuiri didalam proses mengharapkan siswa secara maksimal

terlibat langsung dalam proses kegiatan belajar, sehingga dapat meningkatkan

kemampuan tersebut. Khoirul Anam (2016 :16) berpendapat bahwa

pembelajaran model inkuiri berdasarkan tingkat keterlibatan mencakup inkuiri

terkontrol, inkuiri terbimbing, inkuiri terencana dan inkuiri bebas. Inkuiri

terbimbing adalah sebagai proses pembelajaran siswa menemukan jawaban

terhadap masalah yang dikemukan oleh guru dibawah bimbingan yang intensif

dari guru (Khoirul Anam, 2016: 17). Guru didalam pembelajaran model inkuiri

terbimbing memiliki tugas untuk memberikan sebuah masalah untuk dipecahkan

oleh siswa dan membimbing untuk menemukan cara memecahkan permasalahan

tersebut. Teori belajar konstruktivis mengutamakan peran siswa dalam

8
berinisiatif sendiri keterlibatan aktif dalam pembelajaran. Teori ini memiliki

beberapa tujuan yakni sebagai berikut (Riyanto (2012: 147).

a) Memotivasi siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.

b) Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan

mencari sendiri jawabannya.

c) Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian atau pemahaman

konsep secara lengkap.

d) Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikiran yang mandiri

Berdasarkan pendapat tersebut bahwa teori konstruktivis menuntun guru

untuk mendorong siswa agar mempunyai pengalaman dan melakukan

eksperimen dengan memungkinkan mereka menemukan prinip atau konsep untuk

mereka sendiri. Siswa didorong untuk menemukan sendiri dan

mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan yang

sudah ada dalam ingatannya, dan melakukan pengembangan menjadi informasi

atau kemampuan yang sesuai dengan lingkungan dan zaman, tempat dan waktu ia

hidup.

2. Karakteristik Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

. Efektivitas dari model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat diamati melalui

karakteristik pembelajarannya. Pembelajaran inkuiri terbimbinf memiliki

karakteristik yang berbeda dengan model pembelajaran lain. Karakteristik

pembelajaran inkuiri menurut Khoirul Anam (2015:13) adalah sebagai berikut ;

9
a) Siswa mengembangkan kemampuan berpikir melalui observasi spesifik

hingga membuat generalisasi

b) Sasaran pembelajaran adalah mempelajari proses mengamati kejadian atau

objek kemudian menyusun generalisasi yang sesuai

c) Guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran seperti kejadian, data,

materi dan berperan sebagai pemimpin kelas

d) Tiap tiap siswa berusaha membangun pola yang bermakna berdsarkan

hasil observasi di dalam kelas

e) Kelas diharapkan sebagai laboratorium pembelajaran

f) Sejumlah Generalisasi akan diperoleh dari siswa

g) Guru memotivasi siswa untuk mengomunikasikan hasil generalisasi

sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh siswa dalam kelas

3. Langkah-langkah Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Model pembelajaran memiliki langkah-langkah tertentu yang digunakan dalam

pelaksanaannya. Langkah-langkah tersebut harus dilakukan agar model

pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Langkah-langkah pembelajaran

inkuiri terbimbing menurut Sanjaya dalam Fitria Wulandari (2016: 269) adalah:

Tabel 1. Tahap Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

No Fase Perilaku Guru


Guru mengkondisikan agar siswa siap
a) Orientasi
melaksanakan proses pembelajaran
b) Merumuskan Guru mengarahkan siswa masuk ke dalam

10
persoalan yang mengandung teka-teki, sehingga

Masalah siswa didorong untuk mencari jawaban yang

tepat dari teka-teki dalam perumusan masalah.


Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk

hipotesis memberikan pendapat mengenai


Merumuskan
c) analisa sementara suatu masalah. Guru
Hipotesis
membimbing siswa membuat kesimpulan

sementara.
Guru membimbing siswa untuk mendapatkan
Mengumpulkan
d) data informasi yang dibutuhkan untuk menguji
Data
hipotesis yang diajukan.
Guru memberi kesempatan pada siswa untuk

menyampaikan informasi yang telah diperoleh

Menguji untuk dibandingkan dengan hipotesis yang telah


d)
Hipotesis dibuat. Guru melakukan pembenaran terhadap

hipotesis yang tidak sesuai dengan informasi

yang didapat.
Merumuskan Guru membimbing siswa dalam membuat
e)
Kesimpulan kesimpulan yang akurat.

4. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Pembelajaran inkuiri menekankan kepada proses mencari dan menemukan.

Materi pelajaran ini tidak diberikan secara langsung. Peran siswa dalam

pembelajaran ini yaitu mecari dan menemukan sendiri materi pelajaran sedangkan

guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar.

11
Pembelajaran inkuiri memiliki syarat agar dapat timbul menurut Joyce dalam

trianto (2014 : 82) ;

a) Aspek sosial didalam kelas dan suasana bebas terbuka dan permisif yang

mengundang siswa berdiskusi

b) Berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya

c) Penggunaan fakta sebagai evidensi dan didalam proses pembelajaran

dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta sebagaiman dalam

pengujian hipotesis

d) Pembelajaran inkuiri merupakan pembelajaran yang memiliki beberapa

keunggulan diantaranya

e) Menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif dan

psikomotor secara seimbang sehingga makna pembelajara melalui

pebelajaran ini dianggap jauh lebih bermakna

f) Dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya

belajar mereka

g) strategi pembelajaran yang dianggap sesuai dengan perkembangan

psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses

perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman

h) Dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata

rata. Artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan

terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.

Pembelajaran model inkuiri menurut Trianto (2014: 83) juga memiliki

kelemahan yaitu sebagai berikut

12
a) sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa

b) sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan

kebiasaan siswa dalam belajar

c) Kadang kadang dalam mengimplementasikannya memerlukan waktu

yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan

waktu yang telah ditentukan

d) Selama masa kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan

siswa menguasai materi pelajaran maka strategi ini tampaknya akan

sulit diimplemetasikan.

E. Hasil Belajar

F. Materi Getaran, Gelombang dan Bunyi

13