Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan menurut UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat (1) adalah

sebuah usaha mewujudkan proses pembelajaran untuk siswa aktif

mengembangkan potensi diri agar memiliki kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia, serta keterampilan yang diperlukan masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan sebagai sebuah usaha mengembangkan potensi pada diri siswa yang

diperlukan masyarakat memerlukan sebuah perubahan agar sesuai dengan

tuntutan dan perkembangan zaman yang akan datang. Perubahan dalam arti

perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus-menerus dilakukan sebagai

antisipasi kepentingan masa depan (Trianto, 2010: 1). Perubahan dalam

pendidikan salah satunya yaitu perubahan proses pembelajaran.

Proses pembelajaran adalah proses yang di dalamnya terdapat kegiatan

interaksi antara guru-siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam

situasi edukatif untuk mencapai tujuan belajar (Rustaman, 2001:461). Perubahan

pada proses pembelajaran yang terdapat dalam penerapan Kurikulum 2013.

Kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran melalui pendekatan saintifik dengan

siswa sebagai pusat pembelajaran. Proses pembelajaran melalui pendekatan

saintifik menekankan siswa untuk berperan aktif dalam upaya menemukan

pengetahuan, konsep, teori dan kesimpulan. Peran guru dalam hal ini yaitu

1
membuat siswa berperan aktif dalam membangun pengetahuannya sendiri

sehingga guru dan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran.

Kutipan Buku

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran pada

tingkat satuan pendidikan SMP sederajat yang dapat menimbulkan peran aktif

siswa dalam proses pembelajaran. IPA menurut Powler dalam (Usman Samatowa,

2006: 2) merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan

kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang

berupa kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen. Trianto (2010: 141)

menyatakan bahwa IPA adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala

melalui serangkaian proses yang dikenal dengan proses ilmiah, yang dibangun

atas dasar sikap ilmiah dan hasilnya terwujud sebagai produk ilmiah yang

tersusun atas tiga komponen terpenting berupa konsep, prinsip, dan teori yang

berlaku secara umum. Siswa pada pembelajaran IPA pada saat ini cenderung

hanya mengumpulkan informasi dan menghapalkan konsep, prinsip dan teori yang

ada sehingga tidak membekas dalam benak siswa karena tidak melalui rangkaian

proses ilmiah dalam proses pembelajaran IPA.

SMP Santa Maria Palangka Raya merupakan salah satu lembaga

pendidikan formal tingkat menengah pertama yang terdiri antara kelas VII sampai

dengan kelas IX yang berlokasi di Jalan Nila Putih Km 5,5 Tjilik Riwut Palangka

Raya. Sekolah ini menggunakan kurikulum 2013. Sarana dan prasarana yang

tersedia di sekolah berupa ruangan kelas, perpustakaan, dan laboratorium yang

cukup memadai. Berdasarkan hasil observasi pada bulan September 2018 dengan

2
guru IPA kelas VIII SMP Santa Maria Palangka Raya yang terdiri dari satu kelas

saja pada tahun 2017/2018 dan diperoleh informasi nilai KKM IPA adalah 70.

Nilai rata-rata ulangan harian IPA pada materi tekanan kelas VIII Semester II

yang hanya terdapat satu kelas pada tahun Ajaran 2017/2018 yakni 69,5. Nilai

rata-rata hasil belajar siswa kelas VIII pada materi tekanan semester II tahun

ajaran 2017/2018 belum mencapai KKM yang ditetapkan.

Hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 15 Januari 2019 pada kelas

VIII-C di SMP Santa Maria Palangka Raya, diperoleh bahwa dalam kegiatan

praktikum guru tidak pernah melatih siswa bagaimana merumuskan hipotesis,

melakukan percobaan, menganalisis data, dan menyusun kesimpulan.

Keterampilan proses sains dalam melakukan percobaan atau eksperimen jarang

dilakukan oleh siswa. Pentingnya keterampilan proses sains bagi siswa agar

memperoleh pengalaman belajar secara langsung dan juga pengembangan sikap

ilmiah siswa serta dengan dilatihnya keterampilan proses sains siswa dalam

melakukan percobaan, siswa dituntut untuk berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah

sehingga menemukan konsep sendiri.

Pembelajaran IPA yang dilaksanakan masih menggunakan metode

ceramah dan model konvensional. Model pembelajaran yang digunakan membuat

siswa menjadi tidak aktif karena guru sebagai satu satunya sumber informasi

dalam proses belajar mengajar. Konsep yang diberikan oleh guru kepada siswa

hanya sebatas teori. Siswa tidak melakukan percobaan untuk menemukan konsep

tersebut sehingga siswa tidak memiliki keterampilan proses sains. Hal in

menyebabkan pembelajaran menjadi membosankan dan siswa merasa jenuh.

3
Pembelajaran yang menyenangkan dengan memberikan tantangan kepada siswa

untuk berpikir, mencoba dan belajar.

Peneliti berpendapat bahwa siswa yang dapat menemukan sendiri, fakta,

konsep, teori, dan hukum, maka siswa dapat mengingatnya dalam jangka waktu

yang panjang dibandingkan hanya mendapatkan teori dari guru saja. Hal ini dapat

dibuktikan dengan kerucut pengalaman Edgar Dale. Arsyad (2010: 10)

menyatakan bahwa pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan

paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam

pengalaman ini karena melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasaan,

penciuman dan peraba.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, peneliti memilih model

discovery learning. Model discovery learning adalah model pembelajaran yang

cocok melatih digunakan untuk melibatkan siswa dalam mendapatkan

pengalaman pembelajaran secara langsung dan diterapkan dalam melatih

keterampilan proses sains siswa salah yaitu model discovery learning (Ratnasari,

2017: 325). Model discovery learning mengarahkan siswa untuk memahami

konsep, arti, dan hubungan melalui proses intuitif untuk akhir pada suatu

kesimpulan (Wahjudi, 2015: 2). Pengaplikasian model discovery learning di

dalam kelas ada beberapa prosedur yang dilaksanakan dalam kegiatan

pembelajaran menurut Syah dalam Setiani dkk (2015: 216) yaitu,

stimulasi/pemberian rangsangan (stimulation), pernyataan masalah (problem

statement), pengumpulan data (data collection), pemrosesan data (data

processing), verifikasi (verification) dan generalisasi/menarik kesimpulan

4
(generalization). Model discovery learning akan memberi alternatif bagi

pembelajaran IPA untuk melatih keterampilan proses sains siswa sehingga

pembelajaran berpusat pada siswa.

Hasil penelitian Predhana yang berjudul penerapan metode discovery

learning untuk melatih keterampilan proses sains pada materi kalor siswa di kelas

VII SMPN 9 Palangka Raya tahun ajaran 2014/2015 menyatakan keterampilan

proses sains siswa terdapat 20,7% berkategori cukup baik, 51,72% berkategori

baik, dan 27,58%% berkategori sangat baik. Hasil belajar ketuntasan individu

terdapat 24 siswa tuntas, secara klasikal tidak tuntas dengan diperoleh 82,75%

siswa yang tuntas, dan ketuntasan TPK diperoleh 18 TPK tuntas (81,82%) dari 22

TPK. Hasil penelitian Yustantin dengan judul penerapan model discovery

learning untuk meningkatkan pemahaman konsep pada materi pokok usaha dan

energi siswa kelas XI IPA semester I di SMAN-4 Palangka Raya tahun ajaran

2014/2015 adalah menyatakan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa diperoleh 27

siswa tuntas dari 36 siswa, secara klasikal 75% siswa tuntas serta TPK yang tuntas

sebanyak 16 TPK (69,57%).

Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian di kelas VIII SMP Santa Maria Palangka Raya dengan judul

“Penerapan Model Discovery Learning untuk Melatih Keterampilan Proses

Sains pada Materi Tekanan di Kelas VIII Semester II SMP Santa Maria

Palangka Raya Tahun Ajaran 2018/2019”.

5
B. Identifikasi Masalah

C. Pembatasan Masalah

D. Rumusan Masalah

E. Tujuan Penulisan

F. Manfaat PPenulisan