Anda di halaman 1dari 23

Proposal/ Laporan Akhir Pengabdian Masyarakat

KOMUNIKASI INFORMASI EDUKASI (KIE) DENGAN


MEDIA TERPADU DALAM MANAJEMEN TERPADU BALITA
SAKIT (MTBS) DI POSYANDU KOTA BARU WILAYAH
KERJA PUSKESMAS KENALI BESAR KOTA JAMBI

Pelaksana
Ns. Dini Suryani, S.Kep, M.kep

Fakultas Kesehatan dan Farmasi


Universitas Adiwangsa Jambi
2019

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat, hidayah serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami
berhasil menyelesaikan proposal pengabdian masyarakat dengan pokok bahasan
“komunikasi informasi edukasi (KIE) dengan media terpadu dalam manajemen
terpadu balita sakit (MTBS) di posyandu kota baru wilayah kerja Puskesmas
kenali besar kota jambi”.
Kami menyadari bahwa proposal yang kami selesaikan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Seperti kata pepatah "tak ada gading yang tak retak", oleh karena
itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua kalangan yang bersifat
membangun guna kesempurnaan makalah kami selanjutnya.
Ucapkan terima kasih kami kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Serta kami berharap agar
proposal ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan.

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI .................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
BAB II LANDASAN TEORI… .................................................................. 4
BAB III RENCANA KEGIATAN/ KEGIATAN......................................... 8
BAB IV PENDANAAN................................................................................ 9
BAB V PENUTUP……............................................................................... 10

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) yaitu suatu pendekatan
keterpaduan dalam tatalaksana balita sakit di fasilitas kesehatan tingkat dasar
yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan bayi dan
balita (WHO, 2017). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Gera et

al (2016) strategi MTBS untuk anak-anak di bawah lima tahun di Bangladesh

memperkirakan   bahwa   angka   kematian   anak   13%   lebih   rendah   dengan


dilakukannya MTBS. Penyakit utama yang menjadi penyebab kematian bayi
dan balita salah satunya adalah diare (Kemenkes RI, 2015).
Peningkatan pengetahuan dan sikap orang tua maupun pengasuh
dalam perawatan balita sakit dan bayi muda dapat dilaksanakan melalui
penyampaian informasi, melaksanakan komunikasi dan edukasi secara terus
menerus dan bertahap, baik perorangan maupun kelompok (Hirsh, Blais,
Burkes, Verma, & Croitoru, 2014). Komunikasi, informasi, edukasi (KIE)
dapat mendorong terjadinya proses perubahan perilaku ke arah yang positif,
peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik masyarakat/ klien (Indonesia,
2013). Oleh karena itu pendidikan kesehatan dengan metode KIE dapat
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam tatalaksana diare
balita.
Kegiatan KIE dilaksanakan pada setiap kunjungan balita sakit dan
kunjungan bayi muda (termasuk kunjungan neonatal). Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan Chaudhuri, Dutt, Goswami, Benerjee, & Lahiri
(2017) bahwa informasi yang tepat untuk orang tua mengenai pencegahan
morbiditas umum seperti pneumonia, diare dan malnutrisi harus diberikan di
setiap pelayanan kesehatan. Kegiatan KIE bagi balita dan bayi muda secara
individu atau berkelompok bisa dilakukan di dalam gedung Puskesmas
maupun di luar gedung terintegrasi seperti posyandu dan pos paud
(Kementerian Kesehatan, 2015).
Dalam pelaksanaannya KIE secara umum dengan memberikan contoh
langsung atau dengan menggunakan berbagai macam media seperti video,
alat peraga, buku KIA, lembar balik, leaflet dan kartu nasehat ibu (card
advise) (Levitskaya et al., 2018). Tujuan penggunakan media komunikasi
informasi edukasi (KIE) adalah untuk mempermudah pemahaman orang tua
atau pengasuh balita dan bayi muda dalam perawatan sehari - hari di rumah
(Kementerian Kesehatan, 2015).
Berdasarkan survey awal yang dilakukan di Puskesmas Kenali Besar
Kota Jambi bahwa program MTBS sudah berjalan tetapi pelaksanaannya
belum optimal karena beberapa faktor diantaranya faktor petugas kesehatan
seperti kurangnya jumlah tenaga kesehatan yang terlatih hanya mempunyai
dua orang penanggung jawab pelaksanaan MTBS sehingga balita yang datang
tidak dilayani dengan prosedur MTBS secara keseluruhan karena
membutuhkan waktu yang terlalu lama dan jumlahnya tidak sebanding
dengan jumlah tenaga kesehatan yang tersedia, ditambah lagi karena tingkat
pendidikan ibu yang berbeda sehingga perlu penanganan khusus.
Pada umumnya di Puskesmas Kenali Besar menggunakan satu atau
dua media seperti penggunaan lefleat atau lembar balik saja dan jarang
menggunakan alat peraga. Petugas MTBS tidak ada yang menggunakan alat
audiovisual seperti video sehingga capaian tujuan KIE terhadap pengetahuan,
sikap dan tindakan kurang maksimal. Jadi kami dari civitas akademika atau
dosen Universitas Adiwangsa akan berusaha melakukan Tri Dharma
Perguruan Tinggi yaitu pengabdian masyarakat dengan melakukan kegiatan
berupa penggunaan media terpadu yang dirancang sesederhana mungkin
supaya bisa dipahami oleh semua kalangan dengan tingkat pendidikan yang
berbeda dan juga diharapkan dapat membuat lebih efisien, dengan jumlah
pasien banyak bisa sekali diberi pengetahuan dengan KIE.

1.2 Tujuan
Tujuan diadakannya kegiatan komunikasi informasi edukasi (KIE) dengan
media terpadu dalam manajemen terpadu balita sakit (MTBS) yaitu :
meningkatkan pengetahuan ibu dalam merawat balita diare.
1.3 Manfaat
a. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan contoh-contoh bagi ibu dalam
merawat balita diare. Selain itu komunikasi informasi edukasi (KIE)
dengan media terpadu dalam manajemen terpadu balita sakit (MTBS)
dapat memperkaya wawasan, ilmu pengetahuan dan sebagai referensi
tambahan untuk melakukan komunikasi informasi edukasi (KIE)
khususnya pada balita.
b. Kegiatan ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan masukan dan
pertimbangan dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu dalam merawat
balita diare.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)


2.1.1. Definisi MTBS
Manajemen Terpadu Balita Sakit merupakan suatu pendekatan
keterpaduan dalam tatalaksana balita sakit untuk meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan di unit rawat jalan fasilitas kesehatan dasar serta
menurunkan angka kematian dan kesakitan bayi dan balita (WHO, 2017).

Bentuk manajemen ini dilaksanakan secara terpadu tidak terpisah,


dikatakan terpadu karena bentuk pengelolaannya dilaksanakan secara
bersama dan penanganan kasus tidak terpisah-pisah yang meliputi
manajemen anak sakit, pemberian nutrisi, pemberian imunisasi,
pencegahan penyakit serta promosi untuk tumbuh kembang (Kementerian
Kesehatan, 2015)
2.1.2. Tindakan ibu tentang diare
Tindakan ibu yang terkait dengan diare bagaimana dalam melakukan
perawatan diare dirumah
Perawatan dirumah
Menurut (Kemenkes RI, 2015) Rencana terapi A : penanganan diare di
rumah adalah :
a. Pemberian cairan tambahan (sebanyak anak mau)
1. Jelaskan pada ibu :
a) Beri ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali
pemberian
b) Jika anak memperoleh ASI Eksklusif, berikan oralit atau air
matang sebagai tambahan
c) Jika anak tidak memperoleh ASI Eksklusif, berikan 1 atau
lebih cairan berikut : oralit, cairan makanan (kuah sayur, air
tajin) atau air matang
2. Ajari ibu cara mencampur oralit untuk diberikan di rumah
Alat
a) Gelas/cangkir
b) Sendok
c) Oralit
d) Air matang
Langkah langkah membuat oralit
a. Cuci tangan dengan sabun
b. Ukur 200 ml air matang (gunakan gelas ukur bila ada)
c. Gunakan air yang sudah direbus kemudian dinginkan.
d. Bila tidak mungkin gunakan air minum yang paling bersih
yang tersedia
e. Tuangkan seluruh bubuk oralit (200ml) kedalam berisi air
matang tersebut
f. Aduk sampai seluruh bubuk oralit larut
3. Tunjukan kepada ibu berapa banyak harus memberikan
oralit/cairan lain yang harus diberikan setiap kali anak buang
air besar
a) Sampai umur 1 tahun : 50 - 100 ml setiap kali buang air
besar
b) Umur 1 sampai 5 tahun : 100 - 200 ml setiap kali buang air
besar
Katakan kepada Ibu :
1) Agar meminumkan sedikit-sedikit tapi sering dari
mangkuk/cangkir/gelas
2) Jika anak muntah, tunggu 10 menit. Kemudian berikan
lebih lambat
3) Lanjutkan pemberian cairan tambahan sampai diare
berhenti
b. Melanjutkan pemberian makan
Kebiasaan penderita diare dipuasakan dapat memperburuk keadaan
penderita. Oleh karena itu, pemberian makanan pada penderita
diare harus tetap dilakukan. Jika anak masih menyusu maka selama
anak menderita diare menunjukkan bahwa 80% makanan masih
dapat diserap oleh dinding usus. Karena itu, pemberian makanan
harus tetap dilakukan walaupun ini berarti memperbanyak feses
anak. Selain dapat mempertahankan tingkat gizi anak, juga anak
dapat sembuh lebih cepat (Kemenkes RI, 2015)

Sebaiknya berikan makanan lunak ke anak agar sistem pencernaan


anak tidak terlalu bekerja keras untuk dapat mencerna makanan.
Berikan anak makanan seperti pisang, nasi tim atau bubur nasi, roti,
daging, ayam, ikan yang direbus atau dipanggang, telur matang,
sayuran matang yang tidak mengandung banyak serat, seperti
wortel, kentang rebus atau panggang dan yogurt. Sebaiknya anak
tidak diberikan makanan yang digoreng, berminyak, produk
olahan, dan fast food saat anak diare. Makanan tersebut
membutuhkan kerja yang lebih bagi sistem pencernaan untuk
mencernanya. Selain itu, sebaiknya hindari makanan yang
menyebabkan perut anak bergas, seperti brokoli, kol, asparagus,
kacang-kacangan, buncis, dan lainnya. Hindari juga minuman dan
makanan yang mengandung kafein, seperti kopi, teh, dan cokelat,
serta minuman yang mengandung soda (Sinharoy et al., 2016).
c. Kapan harus kembali ke petugas kesehatan
Menurut (Kemenkes RI, 2015) menasihati ibu kapan harus kembali ke
petugas kesehatan ada dua :
1. Kunjungan Ulang
Kunjungan ulang pasti pada anak dengan diare yaitu 3 hari
2. Kapan harus kembali segera jika anak diare dengan tinja campur
darah dan malas minum
2.2. Komunikasi Edukasi Informasi (KIE)
2.2.1. Definisi KIE
Komunikasi adalah penyampaian pesan secara langsung/tidak langsung melalui
saluran komunikasi kepada penerima pesan untuk mendapatkan efek. Komunikasi
kesehatan adalah usaha sistematis untuk mempengaruhi perilaku positif
dimasyarakat, dengan menggunakan prinsip dan metode komunikasi baik
menggunakan komunikasi pribadi maupun komunikasi massa (Daryanto, 2014).

Informasi adalah keterangan, gagasan maupun kenyataan yang perlu diketahui


masyarakat (pesan yang disampaikan) (Wills, 2014).

Edukasi adalah proses perubahan perilaku ke arah yang positif. Pendidikan


kesehatan merupakan kompetensi yang dituntut dari tenaga kesehatan karena
merupakan salah satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap memberikan
pelayanan kesehatan (John Potter & Julian McDougall, 2017) .
2.2.2. Tujuan KIE
Menurut (Indonesia, 2013) Tujuan dilaksanakannya Program KIE, yaitu :
1. Meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktek
2. Menciptakan lingkungan yang mendukung dan penguatan aksi-aksi komunitas
serta berperan penting dalam perubahan perilaku
3. Meningkatkan kepedulian dan mengubah sikap untuk menghasilkan suatuh
perubahan perilaku yang spesifik
4. Mendorong terjadinya proses perubahan perilaku ke arah yang positif,
peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik masyarakat (klien) secara wajar
sehingga masyarakat melaksanakannya secara mantap sebagai perilaku yang
sehat dan bertanggung jawab.

Hasil penelitian Kamil, Ibnu, & Rachman(2013) menunjukkan bahwa media


cetak KIE menarik dari segi huruf dan warna memberi dampak positif
terhadap pasien, yaitu motivasi untuk lebih giat berobat. Namun, informasi
pada media cetak belum sepenuhnya dipahami. Selain itu, masih ada pasien
yang tidak menerima media cetak karena tidak sesuai dengan kebudayaan
pasien. Hal ini diperlukan melakukan pretesting untuk menganalisis kebutuhan
pasien terhadap informasi dalam pengobatan

2.2.3. Jenis-Jenis Kegiatan Dalam KIE

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA


Menurut Cragg (2015) Jenis-jenis kegiatan dalam KIE adalah :
1. KIE Individu : Suatu proses KIE timbul secara langsung antara petugas KIE
dengan individu sasaran.
2. KIE Kelompok : Suatu proses KIE timbul secara langsung antara petugas KIE
dengan kelompok (2-15 orang)
3. KIE Massa : Suatu proses KIE yang dapat dilakukan secara langsung maupun
tidak langsung kepada masyarakat dalam jumlah besar.

BAB III
RENCANA KEGIATAN/ KEGIATAN

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA


1.1 Waktu dan Tempat Kegiatan
1. Tanggal : 09 Desember 2019
2. Waktu : Jam 08.00 s.d 10.00 WIB
3. Tempat : Posyandu Kota Baru Wilayah kerja Puskesmas
Kenali Besar Kota Jambi
1.2 Peserta Kegiatan
20 Ibu balita diare di wilayah kerja Puskesmas Kenali Besar Kota Jambi

1.3 Metode Kegiatan


Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah presentasi
mengenai komunikasi informasi edukasi (KIE) dengan media terpadu dalam
manajemen terpadu balita sakit (MTBS). Setelah selesai presentasi, dilanjutkan dengan
tanya jawab dan pemberian leafleat dan door prize bagi peserta yang dapat menjawab
pertanyaan yang diberikan oleh presenter/pemateri.

1.4 Peselaksana Pengabdian Masyarakat


Ns. Dini Suryani, S.kep, M.Kep

1.5 Jadwal Kegiatan


Tgl Waktu Kegiatan Pelaksana
No
1 9 Desember 08.00-08.10 Membuka Kegiatan Ns. Dini Suryani,
2019 S.Kep,M.Kep

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA


08.10-08.15 Pengarahan Dan Sambutan Petugas Puskesmas

Pendahuluan
a. Penyampaian salam
b. Perkenalan
c. Menjelaskan topik
2 08.15-08.30
9 Desember d. Menjelaskan tujuan
2019 e. Menjelaskan waktu
pelaksanaan

9 Desember a. Penyampaian materi


2019 b. Memberikan Ns. Dini Suryani, S.Kep,
kesempatan untuk M.Kep
bertanya
08.30-09.45 c. Menjawab pertanyaan
peserta
d. Memberikan leafleat
dan door prize

9 Desember Penutup
2019 a. Menyimpulkan hasil
09.45-10.00
b. Mengakhiri dengan
salam

BAB IV
PENDANAAN
No Kegiatan/Uraian Jumlah Harga Total
1. Pembuatan Proposal 3 bendel Rp.19.000 Rp.57.000
Pengabmas, menjilid dan

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA


memperbanyak proposal
2. Koordinasi dengan pihak 2 kali Rp.5.000 Rp.10.000
puskesmas
3. Penelusuran literature 1 paket Rp.10.000 Rp.10.000
4. Pengadaan leaflet atau alat 50 lembar Rp.2.000 Rp.100.000
bantu penyuluhan
5. Penyediaan hard copy 5 bendel Rp.6.000 Rp.30.000
materi penyuluhan
6. Penyediaan konsumsi 60 orang Rp.7.000 Rp.420.000
7. Pembuatan laporan 3 bendel Rp.25.000 Rp.75.000
penyuluhan dan penjilidan
8. Pemberian alat bantu MTBS 50 orang Rp.3.000 Rp.150.000
kepada peserta penyuluhan
9. Honor Transport petugas 4 orang Rp.20.000 Rp.80.000
puskesmas yang terlibat
10. Dokumentasi kegiatan 1 paket Rp.8.000 Rp.8.000
11 Transportasi penyuluh 1 orang Rp.60.000 Rp.60.000
Total Rp.1.000.000

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Hasil komunikasi informasi edukasi (KIE) dengan media terpadu dalam
manajemen terpadu balita sakit (MTBS) merawat balita diare sangat bermanfaat bagi
ibu balita diare yaitu memperoleh informasi kesehatan tentang cara-cara mencapai
hidup sehat, cara pemeliharaan kesehatan, cara menghindari penyakit, dan sebagainya
akan meningkatkan pengetahuan ibu balita diare tentang hal tersebut. Selanjutnya
dengan pengetahuan itu akan menimbulkan kesadaran yang akhirnya akan
menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA


5.2 Saran
a. Ibu Balita Diare di Wilayah kerja Puskesmas Kenali besar
Ibu diharapkan ibu dapat melihat kondisi real dari tanda-tanda bahaya yang
muncul pada saat balita mengalami diare dan ibu balita agar dapat merawat anak
dengan baik dalam kondisi sehat maupun sakit sehingga komplikasi yang akan
terjadi dapat dicegah.
b. Puskesmas Kenali besar
Puskesmas Kenali besar khususnya seksi Promosi Kesehatan selaku penyuluh
sebaiknya dapat membantu ibu dalam memberikan pengetahuan dalam perawatan
balita sakit dengan diare dengan memberikan komunikasi informasi edukasi (KIE)
dengan media terpadu untuk mencegah komplikasi lain dan bisa menindaklanjuti
setelah sesampainya di rumah.
.

DAFTAR PUSTAKA

Chaudhuri, S., Dutt, R., Goswami, S., Benerjee, P., & Lahiri, M. (2017). Morbidity profile
of 2 months-5years children according to IMNCI classification in paediatrics
outpatient department of tertiary care. 5(5), 2202–2206.
Cragg, W. N. and L. (2015). Health Promotion Practice.
Daryanto. (2014). Teori komunikasi. Jakarta: Gunung Samudera.
Gera, T., Shah, D., Garner, P., Richardson, M., Hs, S., Gera, T., … Sachdev, H. S. (2016).
Integrated management of childhood illness ( IMCI ) strategy for children under five
( Review ) Integrated management of childhood illness ( IMCI ) strategy for children
under five. (6). https://doi.org/10.1002/14651858.CD010123.pub2.Copyright

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA


Hirsh, V., Blais, N., Burkes, R., Verma, S., & Croitoru, K. (2014). Management of
diarrhea induced by epidermal growth factor receptor tyrosine kinase inhibitors.
Current Oncology (Toronto, Ont.), 21(6), 329–336.
https://doi.org/10.3747/co.21.2241
Indonesia. (2013). KIE KKB Lini Lapangan Konsep, Rancangan Strategi, Media KIE
Kreatif dan Evaluasi. Jakarta: BKKBN.
John Potter • Julian McDougall. (2017). Digital Media, Culture and Education.
Kamil, S., Ibnu, I. F., & Rachman, W. A. (2013). Media Cetak Komunikasi , Informasi
Dan Edukasi ( Kie ) Dalam Pengobatan Pasien Tuberculosis Type Multy Drug
Resistant ( Tb- Mdr ) Di Kota Makassar Print Media Communication , Information
and Education ( Cie ) in the Treatment of Patients Type Multy Drug R. 1–15.
Kemenkes RI. (2015). Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Jakarta.
Kementerian Kesehatan, R. (2015). Pedoman Peningkatan Penerapan MTBS. Jakarta:
Direktorat Bina Kesehatan Anak.
Levitskaya, A., Management, T., Instit, E., Vinogradova, S., Melnik, G., & Foundation, R.
S. (2018). Media Education. 2018. № 1. Journal of History, Theory and Practice of
Media Education, (March).
Sinharoy, S. S., Schmidt, W. P., Cox, K., Clemence, Z., Mfura, L., Wendt, R., … Clasen,
T. (2016). Child diarrhoea and nutritional status in rural Rwanda: a cross-sectional
study to explore contributing environmental and demographic factors. Tropical
Medicine and International Health, 21(8), 956–964.
https://doi.org/10.1111/tmi.12725
WHO. (2017). Assessing and managing children at primary health-care facilities to
prevent overweight and obesity in the context of the double burden of malnutrition
UPDATES FOR THE INTEGRATED MANAGEMENT OF CHILDHOOD ILLNESS
(IMCI).
WILLS, J. (2014). Fundamentals of Health Promotion for Nurses (second; J. Wills, ed.).

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA


Lampiran Dokumentasi Kegiatan

Penyampaian Materi

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA


Peserta Penyuluh

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA


Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA
SURAT KETERANGAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Abdul Fahri Siregar, SE

Jabatan : Kepala TU UPTD Puskesmas Kenali Besar

Alamat : Jl. Lkr. Barat 3, Kenali Besar, Kec. Kota Baru, Kota Jambi, Jambi 36361

Menyatakan bahwa nama pelaksana pengabdian masyarakat di bawah ini telah


melaksanakan pengabdian masyarakat tentang komunikasi informasi edukasi (KIE)
dengan media terpadu dalam manajemen terpadu balita sakit (MTBS) di posyandu kota
baru wilayah kerja Puskesmas kenali besar kota jambi pada tanggal 9 Desember 2019
yang bertempat di Posyandu Kota Baru Puskesmas Kenali Besar Kota Jambi.

No Nama Pelaksana NIDN

1 Ns. Dini Suryani, S.Kep, M.Kep 1020048702

Mengetahui
Kepala TU UPTD Puskesmas Kenali Besar
Kota Jambi

Abdul Fahri Siregar, SE


NIP. 19640810 198803 1 004

DAFTAR HADIR PELAKSANA

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA


KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS ADIWANGSA 2019

Hari/Tanggal : Senin, 9 Desember 2019

Kegiatan :“Komunikasi informasi edukasi (KIE) dengan media terpadu dalam


manajemen terpadu balita sakit (MTBS) di posyandu kota baru wilayah
kerja Puskesmas kenali besar kota jambi”

Tempat: Posyandu kota baru wilayah kerja Puskesmas kenali besar kota jambi

No Nama Tanda Tangan


1. Ns. Dini Suryani, S.Kep, M.Kep

DAFTAR HADIR PESERTA

KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT


Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA
UNIVERSITAS ADIWANGSA 2019

Hari/Tanggal : Senin, 9 Desember 2019

Kegiatan :“Komunikasi informasi edukasi (KIE) dengan media terpadu dalam


manajemen terpadu balita sakit (MTBS) di posyandu kota baru wilayah
kerja Puskesmas kenali besar kota jambi”

Tempat: Posyandu kota baru wilayah kerja Puskesmas kenali besar kota jambi

No Nama Tanda Tangan


1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

10.

11.

12.

13.

14.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA


15.

17.

18.

19

20

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA


Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UNAJA