Anda di halaman 1dari 9

Pada tahun 1920 diperkenalkan cat kuku di pasaran dengan sediaan jernih, kemudian tahun

1930 Charles Revson mempunyai gagasan menambahkan pigmen untuk member warna.

Secara estetis kriteria kuku sehat adalah:


1) Ukuran kuku (rasio panjang dan lebar lebih dari satu kecuali ibu jari)
2) Tekstur permukaan kuku (lempeng kuku ideal halus dan mengkilat tanpa permukaan
yang ireguler)
3) Warna kuku (lempeng kuku yang menarik adalah transparan, yang mencerminkan

warna struktur bawahnya; pink dari nail bed dan putih dari matriks pada lunula dan
dari udara dibawah kuku pada tepi bebas kuku)
4) Integritas perionikia (jaringan sekitar kuku yaitu kutikula, lipatan kuku proksimal, dan
hiponikia).
Kuku ideal berbentuk oval, panjang, dan nail plate melengkung tranversal

1. Matte: jenis nail polish ini adalah yang paling sering kita temui. Warnanya tidak
mengilap, cenderung warna original dan tak banyak pilihan. Warna ini cocok
dikenakan pada nuansa casual dan sehari-hari.
2. Glitter: jenis nail polish yang ini cocok untuk dikenakan saat pergi ke pesta.
Terutama bila Anda tak terlalu suka pada aksesoris yang menyolok, nail polish glitter
dapat menggantikan aksesoris tersebut. Nail polish jenis ini juga menyeimbangkan
antara simple dress Anda dengan suasana pesta.
3. Color Changing Nail Polish: cat kuku ini dapat berubah warna sesuai dengan
temperatur tubuh dan lingkungan. Sayangnya tak begitu populer di Indonesia, karena
harganya relatif cukup mahal.
4. Metallic: warna cat kuku jenis ini cukup digemari, karena memberikan kesan eksotik
dengan beberapa pilihan warna dasar silver, gold, dan tembaga.
5. Extra shine: bila ingin memberikan kesan basah yang cukup lama, extra shine nail
polish adalah pilihan yang paling tepat. Kuku terlihat berkilau sempurna dan manis.
6. Shimmer: memiliki kuku yang tampak berkilau seperti mutiara adalah dambaan
sebagian besar wanita. Warna natural seperti cream dan pearl cantik dipulaskan di
kuku lentik untuk memberikan kesan alami.
b) Efek samping yang terjadi pada pemakaian cat kuku ini bervariasi. Dermatitis
kontakalergi (DKA) terhadap cat kuku merupakan efek samping yang sering
dilaporkan pada 1–3% populasi. Dermatitis dapat terjadi di sekitar area pemakaian
(periungual) maupun di tempatjauh (dermatitis ektopik). DKA periungual ditandai
dengan eritem dan edema pada lipatan kuku proksimal dan ujung jari. Dermatitis
ektopik seringterjadi pada bagian bawah wajah, samping leher, dan dada atas.
Penyebab utama dermatitis kontak adalah toluene sulfonamide formaldehid resin
(TSFR) atau butiran nikel (khususnya pada dermatitis ektopik) yang ditambahkan
agar cat kuku tetap cair. DKA airborne dicurigai jika terjadi pada wajah, leher, telinga
secara simetris dan melibatkan kelopak mata bagian bawah. Suatu penelitian oleh
Guin dkk terhadap 215 individu yang menderita dermatitis kelopak mata dalam kurun
waktu 2001–2003, 18 orang (8%) diantaranya merupakan DKA terhadap kuku buatan
dan atau cat kuku. Efek samping lain adalah urtikaria rekuren pada phalang distal jari
tangan.
c) DKA pada perionikia dapa tmenyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri atau candida.
Selain itu, cat kuku yang lepas atau digunakan lebih dari 4 hari dapat meningkatkan
jumlah bakteri yang kembali pada ujung jari setelah cuci tangan. Diskolorisasi merah
atau kuning pada distal kuku yang dimulai dari dekat kutikula kemudian meluas
sampai ujung kuku merupakan efek samping yang terjadi setelah pemakaian cat kuku
terus-menerus selama 7 hari. Zat warna yang sering menyebabkan adalah D&C red
nomer 6,7 dan 34; dan FD&C yellow nomer 5 lake. Kerusakan kuku akibat
pemakaian cat kuku jarang terjadi, namun kadang terjadi granulasi keratin kuku pada
individu yang mengoleskan cat kuku baru diatas cat kuku lama selama beberapa
minggu. Ini ditandai dengan adanya bintik putih berskuamasuperfisial dan
pseudoleukonikia.Efek lain yang tidak biasa terjadi pada pemakaian cat kuku adalah
leukoderma pada lipatan kuku, keilitis, dermatitis generalisata dan dermatitis kontak
granulomatosa.
1. Kulit Normal Kulit normal cenderung mudah dirawat. Kelenjar minyak
(sebaceous gland) pada kulit normal biasanya ‘tidak bandel’, karena minyak
(sebum) yang dikeluarkan seimbang, tidak berlebihan ataupun kekurangan.
Meski demikian, kulit normal tetap harus dirawat agar senantiasa bersih,
kencang, lembut dan segar. Jika tidak segera dibersihkan, kotoran pada kulit
normal dapat menjadi jerawat. Selain itu kulit yang tidak terawat akan mudah
mengalami penuaan dini seperti keriput dan tampilannya pun tampak lelah. Ciri-
ciri kulit normal adalah kulit lembut, lembab berembun, segar dan bercahaya,
halus dan mulus, tanpa jerawat, elastis, serta tidak terlihat minyak yang
berlebihan juga tidak terlihat kering. Meskipun jika dilihat sepintas tidak
bermasalah, kulit normal tetap harus dijaga dan dirawat dengan baik, karena jika
tidak dirawat, kekenyalan dan kelembaban kulit normal akan terganggu, terjadi
penumpukan kulit mati dan kotoran dapat menyebabkan timbulnya jerawat.
2. Kulit Berminyak Kulit berminyak banyak dialami oleh wanita di daerah
tropis. Karena pengaruh hormonal, kulit berminyak biasa dijumpai pada remaja
puteri usia sekitar 20 tahunan, meski ada juga pada wanita usia 30-40 tahun yang
mengalaminya. Penyebab kulit berminyak adalah karena kelenjar minyak
(sebaceous gland) sangat produktif, hingga 10 tidak mampu mengontrol jumlah
minyak (sebum) yang harus dikeluarkan. Sebaceaous gland pada kulit berminyak
yang biasanya terletak di lapisan dermis, mudah terpicu untuk bekerja lebih
aktif. Pemicunya dapat berupa faktor internal atau faktor eksternal, yaitu : a.
Faktor internal meliputi : 1) Faktor genetis : anak dari orang tua yang memiliki
jenis kulit berminyak, cenderung akan memiliki kulit berminyak pula. 2) Faktor
hormonal : hormon manusia sangat mempengaruhi produksi keringat. Karena
itulah pada wanita yang sedang menstruasi atau hamil akan lebih sering
berkeringat. Selain itu stres dan banyak gerak juga dapat menjadi pemicu
keringat berlebihan. b. Faktor eksternal meliputi : o Udara yang terlalu panas
atau terlalu lembab o Penggunaaan sabun wajah atau pembersih wajah yang
terlalu keras dapat memicu produksi minyak berlebih o Mencuci muka terlau
sering sehingga menghilangkan sebum di kulit, sehingga merangsang kelenjar
sebasea memproduksi sebum lebih banyaka lagi o Penggunaan kosmetik yang
tidak cocok o Memekan terlalu banyak makanan berminyak Kulit berminyak
memerlukan perawatan khusus dibandingkan kulit normal. Pada jenis kulit ini,
minyak berlebihan yang dibiarkan akan menjadi media yang baik bagi
pertumbuhan bakteri yang pada saat selanjutnya akan menjadi jerawat, radang
atau infeksi. Merawat kulit berminyak bukan berarti membuat kulit benarbenar
bebas minyak, karena minyak pada kulit tetap diperlukan sebagai alat pelindung
alami dari sengatan sinar matahari, bahanbahan kimia yang terkandung dalam
kosmetika maupun terhadap polusi. Yang perlu dilakukan adalah menjaga agar
kadar sebum tetap seimbang dan kulit tetap dalam keadaan bersih agar bakteri
penyebab jerawat dapat terhambat. Memiliki jenis kulit berminyak, memiliki
kelebihan yaitu membantu menjaga kelembaban lapisan dermis hingga memper-
lambat timbulnya keriput. 11 Ciri-ciri kulit berminyak yaitu : minyak di daerah T
tampak berlebihan, tekstur kulit tebal dengan pori-pori besar hingga mudah
menyerap kotoran, mudah berjerawat, tampilan wajah berkilat, riasan wajah
seringkali tidak dapat melekat dengan baik dan cepat luntur serta tidak mudah
timbul kerutan.
3. Kulit Kering Kulit kering memiliki karakteristik yang cukup merepotkan bagi
pemiliknya, karena pada umumnya kulit kering menimbulkan efek yang tidak
segar pada kulit, dan kulitpun cenderung terlihat berkeriput. Kulit kering
memiliki kadar minyak atau sebum yang sangat rendah dan cenderung sensitif,
sehingga terlihat parched karena kulit tidak mampu mempertahankan
kelembabannya. Ciri dari kulit kering adalah kulit terasa kaku seperti tertarik
setelah mencuci muka dan akan mereda setelah dilapisi dengan krim pelembab.
Kondisi kulit dapat menjadi lebih buruk apabila terkena angin, perubahan cuaca
dari dingin ke panas atau sebaliknya. Garis atau kerutan sekitar pipi, mata dan
sekitar bibir dapat muncul dengan mudah pada wajah yang berkulit kering. Kulit
kering memiliki ciri-ciri : kulit halus tetapi mudah menjadi kasar, mudah
merekah dan terlihat kusam karena gangguan proses keratinisasi kulit ari, tidak
terlihat minyak berlebihan di daerah T yang disebabkan oleh berkurangnya
sekresi kelenjar keringat dan kelenjar palit atau kelenjar minyak. Ciri lainnya
yaitu mudah timbul kerutan yang disebabkan oleh menurunnya elastisitas kulit
dan berkurangnya daya kerut otot-otot, mudah timbul noda hitam, mudah
bersisik, riasan yang dikenakan tidak mudah luntur, reaktivitas dan kepekaan
dinding pembuluh darah terhadap rangsangan-rangsangan berkurang sehingga
peredaran darah tidak sempurna dan kulit akan tampak pucat, suram dan lelah.
4. Kulit Sensitif Diagnosis kulit sensitif didasarkan atas gejala-gejala
penambahan warna, dan reaksi cepat terhadap rangsangan. Kulit sensitif
biasanya lebih tipis dari jenis kulit lain sehingga sangat peka terhadap hal-hal
yang bisa menimbulkan alergi (allergen). Pembuluh darah kapiler dan ujung
saraf pada kulit sensitif terletak sangat dekat dengan permukaan kulit. Jika
terkena allergen, reaksinya pun sangat cepat. Bentuk-bentuk reaksi pada kulit
sensitif biasanya berupa bercak merah, gatal, iritasi hingga luka yang jika tidak
dirawat secara baik dan benar akan berdampak serius. Warna kemerahan pada
kulit sensitif 12 disebabkan allergen memacu pembuluh darah dan
memperbanyak aliran darah ke permukaan kulit. Berdasarkan sifatnya tadi,
perawatan kulit sensitif ditujukan untuk melindungi kulit serta mengurangi dan
menanggulangi iritasi. Kulit sensitif seringkali tidak dapat diamati secara
langsung, diperlukan bantuan dokter kulit atau dermatolog untuk memeriksanya
dalam tes alergi-imunologi. Dalam pemeriksaan alergi, biasanya pasien akan
diberi beberapa allergen untuk mengetahui kadar sensitivitas kulit. Kulit sensitif
memiliki ciri-ciri sebagai berikut : mudah alergi, cepat bereaksi terhadap
allergen, mudah iritasi dan terluka, tekstur kulit tipis, pembuluh darah kapiler
dan ujung saraf berada sangat dekat dengan permukaan kulit sehingga kulit
mudah terlihat kemerahan. Faktor-faktor yang dapat menjadi allergen bagi kulit
sensitif antara lain : makanan yang pedas dan berbumbu tajam, kafein, nikotin
dan minuman beralkohol, niasin atau vitamin B3, kandungan parfum dan
pewarna dalam kosmetika, sinar ultraviolet dan gangguan stres. Kulit sensitif
berbeda dengan kulit reaktif. Meski timbul bercak kemerahan atau gatal-gatal
akibat penggunaan kosmetika tertentu, belum tentu menjadi gejala atau tanda
kulit sensitif. Kemungkinan bercak kemerahan tadi hanya menandakan iritasi
ringan, yang akan hilang sendiri. Kulit reaktif seperti ini dapat menjadi sensitif
jika iritasi kemudian meluas dan sukar sembuh. Untuk membedakannya perlu
dilakukan tes alergi-imunologi oleh dokter kulit.
5. Kulit Kombinasi atau Kulit Campuran Faktor genetis menyebabkan kulit
kombinasi banyak ditemukan di Asia. Banyak wanita timur terutama di daerah
tropis yang memiliki kulit kombinasi : kering-berminyak atau normal-
berminyak. Pada kondisi tertentu kadang dijumpai kulit sensitif-berminyak. Kulit
kombinasi terjadi jika kadar minyak di wajah tidak merata. Pada bagian tertentu
kelenjar keringat sangat aktif sedangkan daerah lain tidak, karena itu perawatan
kulit kombinasi memerlukan perhatian khusus. Area kulit berminyak dirawat
dengan perawatan untuk kulit berminyak dan di area kulit kering atau normal
dirawat sesuai dengan jenis kulit tersebut. Kulit kombinasi atau kulit campuran
memiliki ciri-ciri sebagai berikut : kulit di daerah T berminyak sedangkan di
daerah lain tergolong normal atau justru kering atau juga sebaliknya. Di samping
itu tekstur kulit sesuai jenisnya yakni di area kulit berminyak akan terjadi
penebalan dan di area normal atau kering akan lebih tipis
Berdasarkan bahan dasar yang dikandung ada 4 macam kosmetika pembersih kulit:
1. Pembersih Dengan Bahan Dasar Air

Air adalah pelarut yang baik untuk sebagian besar zat / kotoran yang menempel pada
kulit. Air mudah didapat dan murah harganya sehingga penggunaan dalam kosmetika
cukup efektif dan efisien. Oleh karena itu setiap tindakan pembersihan kulit,
membersihkan dengan air biasanya dilakukan pada awal dan akhir tahap pembersihan.
Namun pembersihan kulit dengan air di rasa kurang estetis maka ditambahkan wangian
air mawar, penyegar dan alkohol. Pembersihan dengan bahan dasar air mempunyai
beberapa keuntungan dan kerugian. Keuntungannya
adalah air dapat melunakkan lapisan tanduk sehingga mudah dibersihkan, tidak toksik, tidak
menimbulkan efek samping, murah harganya dan mudah didapat. Kerugiannya tidak dapat
membersihkan seluruh kotoran yang melekat pada kulit, tidak dapat membersihkan jasad renik,
bukan pembersih kulit yang baik. Oleh karena itu pembersih dengan bahan dasa air sering di
tambah alkohol 20 - 40 %.
2. Pembersih Dengan Bahan Dasar Minyak

Pembersihan kulit dengan air saja, kurang bersih karena ada zat yang tidak larut dalam
air. Oleh karena itu dilakukan pembersihan dengan bahan dasar lain seperti minyak atau
campuran air minyak (krim). Minyak merupakan bahan pembersih yang mempunyai
beberapa kelebihan yaitu dapat membersihkan kotoran yang larut dalam minyak dan tidak
menyebabkan kulit kering dan kasar. Kekurangan minyak sebagai pembersih yaitu lebih
mahal, lebih lengket dan terasa panas karena menutupi pori-pori. Minyak yang tersisa
waktu pembersihan (petrolatum, mineral oil) tidak dapat menggantikan minyak
permukaan kulit karena rumus kimianya tidak sama. Minyak sebagai pembersih yaitu
campuran berbagai minyak seperti minyak zaitun, minyak mineral, malam, petrolatum.
3. Pembersih Dengan Bahan Dasar Campuran Minyak - Air (Krim)

Krim pembersih adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud menghilangkan
kotoran yang larut dalam air maupun yang larut dalam minyak. Ada 2 macam krim yaitu
A/M dan M/A. Pada umumnya kosmetika dibuat dalam bentuk sediaan emulsi M/A
karena alasan harga yang lebih murah, lebih mudah dibuat, lebih enak dipakai karena
tidak begitu lengket, lebih cepat menyebar ke permukaan kulit dan lebih dingin. Pada
krim A/M yang cepat menyebar dan cepat menghilang dari pandangan disebut sebagai
vanishing cream. Pada krim yang komponen air jauh lebih banyak dari minyak sehingga
bentuk krim menjadi lebih cair disebut susu pembersih (milk cleanser).
4. Pembersih Dengan Bahan Dasar Padat

Bahan dasar padat digunakan sebagai pembersih bila mampu untuk mengabsorbsi
kotoran yang ada di kulit. Oleh karena itu pemakaiannya dalam kosmetika sebagai
pelengkap dari kosmetika pembersih lainnya. Ada 2 macam pembersih padat yaitu:
1. Berbentuk bubuk padat yang langsung dapat mengabsorbsi kotoran cair.
2. Berbentuk krim /larutan berisi bahan padat dan cair yang mudah menguap sehingga
setelah dipakai bentuk padat tersisa pada kulit, merupakan salah satu bentuk masker
pembersih (cleansing mask/beauty mask).

Emolien
Merupakan suatu bahan yang jika dioleskan pada lapisan kulit yang kering akan melembutkan
lapisan tersebut dengan cara melumasinya sehingga mengurangi penguapan air yang terjadi pada
kulit. Contoh: Lanolin dan derivatnya, sterol, phospolipid, hidrokarbon, asam lemak dan lain-lain.
 Barrier agent

Berfungsi sebagai pelindung kulit dan juga ikut mengurangi dehidrasi. Contoh: asam stearat,
bentonit, seng oksida, titanium oksida, tragakan dan lain-lain.
 Healing agent

Berfungsi menyembuhkan kulit yang retak-retak atau pecah-pecah. Contoh: allantonin, urea,
asam urea.
 Humektan

Merupakan bahan yang mengatur pertukaran cairan antara milk cleanser dengan udara, pada milk
cleanser sendiri maupun setelah dipakai pada kulit. Contoh: gliserol, proplienglikol, sorbitol.
 Pengental dan pembentuk film

Contoh: gum, veegum, karbopol, polivinilpirolidon.


 Surfaktan

Berfungsi menurukan tegangan batas antara minyak dan air sehingga minyak dapat bersatu
dengan air. Emulsifier yang biasa digunakan dalam formulasi milk cleanser dibagi menjadi tiga
jenis, antara lain:
a) Anionik
15
Emulsifier golongan ini digunakan secara luas pada formulasi milk cleanser. Bahkan dikatakan
sekitar 75% dari lotion dan krim yang beredar dipasaran mengandung emulsifier dari golongan
ini. Contoh: trietanolamin stearat, natirum lauril sulfat.
b) Kationik

Emulsifier golongan ini belum digunakan secara luas pada formulasi krim maupun lotion.
Contoh: alkil dimetil benzil amonium klorida, piridinium klorida, setil piridinium klorida.
c) Nonionik

Emulsifier ini dapat dikombinasikan dengan emulsifier nonionik lainnya atau dengan emulsifier
ionik. Karena sifat yang yang tidak terionkan sehingga dapat tercampur dengan baik dan
menghasilkan emulsifier yang diinginkan.
Contoh: gliseril monostearat, sorbitan monostearat, polioksietilen stearat.
 Pengawet

Mengingat setiap sediaan yang disertai dengan kadar air dan kelembaban yang cukup dapat
menjadi media yang baik bagi pertumbuhan mikroba, maka kedalam kosmetik termasuk milk
cleanser umumnya diberi tambahan pengawet. Adapun fungsi pengawet pada sediaan adalah
untuk memastikan atau menghambat pertumbuhan mikroba terutama yang patogen. Tujuan
mengawetkan sediaan adalah untuk memperpanjang daya simpan sediaan terebut dengan jalan
memperlambat atau menghambat terjadinya penguraian akibat mikroba. Selain itu penggunaan
pengawet juga dimaksudkan untuk meningkatkan mutu higienitas sediaan. Contoh: Asam
benzoat, metil paraben, propil paraben dan lain-lain.
 Parfum

Merupakan hal penting karena dapat meningkatkan ketertarikan konsumen terhadap sediaan
lotion yang dihasilkan. Parfum yang digunakan harus bebas dari efek iritasi. Pewangi ini harus
mampu menutupi bau tidak enak yang berasal dari bahan atau bau tengik yang mungkin muncul
selama penyimpanan. Parfum harus stabil dan dapat bercampur dengan bahan lain dalam lotion.
16
 Zat warna

Pemakaian zat warna juga harus diperhatikan, karena merupakan salah satu faktor yang
dipertimbangkan konsumen saat memilih sediaan lotion. Zat warna yang dipakai seharusnya
relevan dengan wangi yang digunakan pada sediaan agar dapat meningkatkan estetika sediaan.
Contoh: FD&C Red No.1, FD&C Blue No.4, D&C Yellow No.5, D&C Green No.5, dan lain-lain.