Anda di halaman 1dari 6

NAMA : ARDIANSYAH

NIM : 2018.B.19.0485
PRODI : DIPLOMA III KEPERAWATAN

Sop Bladder Training

Prosedur Tetap
1 Pengertian Salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi kandung kemih
yang mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi
optimal neurogenik.
2 Tujuan 1. Melatih kandung kemih dan mengembalikan pola normal
perkemihan dengan menghambat atau menstimulasi
pengeluaran air kemih.
2. Mengembangkan tonus otot kandung kemih
3. Memperpanjang interval waktu berkemih
4. Meningkatkan kapasitas kandung kemih
5. Mengurangi atau menghilangkan inkontinensia
6. Meningkatkan kemandirian dalam manajemen kandung
kemih
3 Indikasi 1. Pasien yang mengalami retensi urin
2. Pasien yang terpasang kateter dalam waktu yang lama
sehingga fungsi spingter kandung kemih terganggu
3. Pasien yang mengalami inkontinensia urin
4 Kontraindikasi 1. Pasien dengan penyakit tromboemboli vena / deep vein
thrombosis (DVT)
2. Infeksi kandung kemih
3. Pasien dengan gagal ginjal
4. Gangguan sensasi sarf perifer (penyakit serebrovaskular)
5 Persiapan Pasien 1. Berikan salam, perkenalkan diri, dan identitas klien
dengan memeriksa identitas klien secara cermat.
2. Kaji kondisi pasien
3. Ajarkan kepada pasien dan keluarga mengenai tindakan yang
akan dilakukan dengan prosedur yang benar
6 Persiapan Alat 1. Handscone
2. Masker
3. Penampung urin ( Pispot)
4. Klem(khusus klien yang memakai kateter)
5. Jam Tangan
6. Obat Diuretik jika diperlukan
7. Air minum dalam tempatnya
7 Cara Kerja 3. Berikan pasien sejumlah cairan untuk diminum pada waktu
yang dijadwalkan secara teratur (2500 ml/hari)
4. Anjurkan pasien untuk menunggu selama 30 menit
kemudian coba pasien untuk berkemih
a. Posisikan pasien dengan paha fleksi, kaki dan
punggung disupport
b. Perintahkan untuk menekan atay memasge diatas area
bladder atau meningkatkan tekanan abdominal dengan
cara bersandar ke depan. Ini dapat membantu dalam
memulai pengosongan bladder
c. Anjurkan klien untuk berkonsentrasi terhadap BAK
d. Anjurkan klien untuk mencoba berkemih setiap 2 jam.
Interval dapat diperpanjang
(Atur bunyi alarm jam dengan interval setiap 2-3 jam
pada siang hari dan pada malam hari cukup 2 kali),
batasi cairan setelah jam 17.00
5. Anjurkan pasien untuk berkemih sesuai jadwal, catat
jumlah cairan yang diminum serta urine yang keluar
dalam waktu berkemih
6. Anjurkan klien untuk menahan urinnya sampai waktu
BAK yang telah dijadwalkan
7. Kaji adanya tanda-tanda retensi urin. Jika diperlukan tes
residu iurine secara langsung dengan katerisasi
8. Anjurkan pasien untuk melakukan program latihan secara
kontinue

Pasien dengan terpasang kateter :

1. Tentukan pola waktu biasanya klien berkemih


2. Rencanakan waktu toilet terjadwal berdasarkan pola dari
klien, bantu seperlunya
3. Berikan pasien sejumlah cairan untuk diminum pada waktu
yang dijadwalkan secara teratur (2500 ml/hari) sekitar 30
menit sebelum waktu jadwal untuk berkemih
4. Beritahu klien untuk menahan berkemih (pada pasien yang
terpasang kateter, klem selang kateter 1-2 jam, disarankan
bisa mencapai waktu 2 jam kecuali pasien merasa
kesakitan)
5. Kosongkan urine bag
6. Cek dan evaluasi kondisi pasien, jika pasien merasa kesakitan
dan tidak toleran terhadap waktu 2 jam yang ditentukan, maka
kurangi waktunya dan tingkatkan secara bertahap
7. Lepaskan klem setelah 2 jam dan biarkan urine mengalir dari
kandung kemih menuju urine bag hingga kandung kemih
kosong
8. Biarkan klem tidak terpasang 15 menit, setelah itu klem lagi
1-2 jam
9. Lanjutkan prosedur ini hingga 24 jam pertam
10. Lakukan bladder training ini hingga pasien mampu
mengontrol keinginan untuk berkemih
11. Jika klien memakai kateter, lepas kateter jika klien sudah
merasakan keingin untuk berkemih

8 Tahap Orientasi 1. Berikan salam, dan memperkenalkan diri :


“Selamat pagi ibu/bapak….apakah benar dengan ibu…?
Perkenalkan ibu/bapak saya perawat yang bertugas hari
ini untuk merawat ibu/bapak”
2. Jelaskan prosedur dan tindakan pada klien dan keluarga.
“Ibu/bapak… tujuan saya kesini yaitu akan melakukan
bladder training, yaitu ibu/bapak… sedang terpasang
selang pipis jadi agar ibu/bapak… tidak terlalu
bergantung dengan selang pipis maka akan saya latih
pelan-pelan agar mampu nantinya pipis dengan lancer
dan normal apabila selang pipis telah dilepaskan.
Mengingat kondisi ibu yang sudah semakin membaik”
Ibu/bapak… kegiatan ini nantinya akan saya lakukan
selama 24 jam pertama dan dilakukan observasi selama
3 hari, nanti hanya dilakukan pengkleman/pengikatan
pada selang pipis ibu/bapak saja selama lebih kurang 1-
2 jam, bagaimana ibu/bapak apakah mengerti?
“ Baiklah ibu/bapak sebelum kita memulai kegiatan ini
apakah ada yang ingin ibu tanyakan? Oiya baiklah kalau
memang tidak ada yag ingin ditanyakan dan ibu dan
keluarga sudah menyetujui”
3. Menjaga Privasi klien

9 Tahap Kerja 1. Pada hari pertama, klem selang kateter 1-2 jam (disarankan
bisa mencapai waktu 2 jam kecuali pasien merasa
kesakitan
2. Kosongkan urin bag
3. Cek dan evaluasi kondisi pasien, jika pasien merasa sakit
atau tidak toleran terhadap waktu 2 jam yang ditentukan,
maka kurangi waktunya dan tingkatkan secara bertahap
4. Lepaskan klem setelah 2 jam dan biarkan urine mengalir
dari kandung kemih menuju urine bag hingga kandung
kemih kosong
5. Biarkan klem tidak terpasang sekitar 15 menit, setelah itu
klem lagi 1-2 jam
6. Lanjutkan prosedur ini hingga 24 jam pertama
7. Pada hari kedua, tingkatkan lama klem hingga menjadi 2-3
jam , lepaskan klem 15 menit dan klem ulang.
8. Lakukan posedur ini hingga 24 jam
9. Pada hari ketiga, tingkatkan lagi lama klem menjadi 3-4
jam , lepaskan klem 15 menit dan klem ulang. Lakukan
prosedur ini hingga 24 jam
10. Pada hari ke empat, lepaskan kateter amati seksama respon
pasien setelah kateter dilepas
11. Anjurkan pasien untuk ke toilet setiap 2 jam
12. Setelah kateter dilepas, maka lakukan proses selanjutnya
yaitu dengan melakukan : kegel exercise, penundaan
berkemih, penjadwalan berkemih
Ko
8 Hasil 1. Evaluasi respon pasien
2. Berikan reinforcement positif
3. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
Mengakhiri kegiatan dengan baik

9 Dokumentasi 1. Catat kegiatan yang telah dilakukan dalam catatan


keperawatan
2. Catat respon klien
3. Dokumentasikan evaluasi tindakan: SOAP
Tanda tangan dan nama perawat

Sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24523/4/Chapter
%20II.pdf
http://www.womensbladderhealth.com/pdf/bladdertraining.pdf. Bladder Training
to Help Correct Urinary Incontinence (Leakage of Urine)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27637/3/Chapter%20II.pdf
https://www.academia.edu/9908054/Nursing_Intervention_Pada_Sistem_Perkemi
han_Bladder_Training_dalam_Penanganan_Inkontinensia_Urine_pada_Pasien_Po
st_Kateterisasi_. 2014. Nursing Intervention Pada Sistem Perkemihan (Bladder
Training dalam Penanganan Inkontinensia Urine pada Pasien Post Katerisasi.

Beri Nilai