Anda di halaman 1dari 18

HUBUNGAN RESIKO JATUH DENGAN FAKTOR ERGONOMIK

PADA LANSIA DIABETES MELITUS

DISUSUN OLEH

CINDHY DWI SASTIKA KURNIAWAN.

616080716005

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRA BUNDA PERSADA BATAM

TAHUN 2019/2020
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Menurut World Health Organisation (WHO) lansia adalah seseorang yang

telah memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok umur pada

manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kelompok

yang dikategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut Aging

Process atau proses penuaan.

Lanjut usia adalah seseorang yang usianya sudah tua yang merupakan tahap

lanjut dari suatu proses kehidupan (Yusuf.dkk, 2015). Salah satu indikator

keberhasilan pembangunan kesehatan suatu negara adalah peningkatan Usia

Harapan Hidup (UHH) (Herlinah, Rekawati, & Wiarsih, 2013). Indonesia sebagai

salah satu negara berkembang, setiap tahun mengalami peningkatan UHH yang

cukup baik. Peningkatan UHH akan menyebabkan meningkatnya jumlah populasi

lanjut usia (lansia).

Pada perkembangan penduduk di dunia diperkirakan tahun 2017 terdapat

23,66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia (9,03%), diprediksi jumlah

penduduk lansia tahun 2020 (27,08 juta), tahun 2025(33,69 juta), tahun 2030

(40,95 juta) dan tahun 2035 (48,19 juta) (kementeterian kesehatan RI pusat data

dan informasi).
Sementara menurut WHO, kelompok lansia meliputi mereka yang berusia

60- 74,lansia tua 75-90 tahun serta lansia sangat tua di atas 90 tahun.WHO

memperkirakan tahun 2025 jumlah lansia di seluruh dunia akan mencapai 1,2

miliar orang yang akan terus bertambah . Indonesia merupakan Negara ke-4

dengan jumlah penduduknya paling banyak di dunia dan sepuluh besar memiliki

penduduk paling tua di dunia.

Kepulauan Riau terdiri dari 5 kabupaten dan 2 kota dengan jumlah

penduduk 1.988.792 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 51,41%, perempuan 48,59%,

dari jumlah penduduk kepri tersebut didapatkan 3,9% lansia yaitu 77.563 jiwa

terdiri dari laki-laki 41.576 jiwa dan perempuan 35,987 jiwa ( Profil Dinas

Kesehatan Provinsi Kepri, 2015).

Kota Batam merupakan bagian dari wilayah Provinsi Kepulauan Riau,

dan merupakan kota dengan jumlah penduduk lebih banyak dari kabupaten kota

lain di Kepulauan Riau, begitu pula untuk jumlah penduduk lansia ( usia>60

tahun). Jumlah penduduk lansia kota Batam 2017 adalah sebanyak 46.686 jiwa

yang terdiri dari laki-laki 21.514 jiwa dan perempuan 25.172 jiwa ( Profil Dinas

Kesehatan Kota Batam,2017).

Pada orang lanjut usia (lansia), diabetes tipe 2 adalah masalah yang

menjadi momok. Menangani dan mendiagnosa diabetes pada lansia

membutuhkan pendekatan yang fleksibel dan tak biasa. Banyak factor fisik

berubah seiring bertambahnya usia kita. Pada orang lanjut usia yang memiliki

resiko diabetes atau sudah memiliki diabetes, mungkin memiliki gejala yang
tidak umum. Salah satu masalah fisik yang dihadapi lansia saat ini adalah mudah

jatuh (Soejono, 2010).

Menurut World Health Organization (WHO), diabetes melitus

merupakan penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi

yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan

metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat dari insulfisiensi

fungsi insulin, yang dapat disebabkan oleh gangguan produksi insulin oleh sel-

sel beta langerhans kelenjar pankreas atau disebabkan oleh kurang responsifnya

sel-sel tubuh terhadap insulin.

Diabetes Melitus merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian

tertinggi di dunia. Pada tahun 2015 sebanyak 415 juta orang dewasa dengan

diabetes, terjadi kenaikan 4 kali lipat dari 108 juta di tahun 1980an. Pada tahun

2040 diperkirakan jumlahnya akan menjadi 642 juta. Hampir 80% orang

diabetes terdapat di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Salah satu nya

adalah negara Indonesia. Di Indonesia penderita diabetes melitus menempati

peringkat ke tujuh di dunia bersama dengan Cina, India, Amerika Serikat, Brazil,

Rusia, dan Meksiko dengan jumlah estimasi orang dengan diabetes melitus 10

juta.

International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan pada tahun 2045

terdapat 629 juta orang berusia 20-79 tahun hidup dengan diabetes melitus,

dimana diabetes melitus tipe 2 merupakan tipe yang paling banyak ditemukan

yaitu sekitar 90% dari semua kasus diabetes melitus (IDF, 2017).
Prevalensi Diabetes Melitus terkait usia menurut Fan, Wenjun (2017)

sekitar 9,1 persen di Asia Tenggara, sekitar 7,3 persen di Eropa, sekitar 3,8

persen di Afrika, sekitar 10,7 persen di Timur Tengah dan Afrika Utara, sekitar

9,6 persen di Amerika Selatan dan Tengah, sekitar 11,5 persen di Amerika

Utara dan Karibia, dan sekitar 8,8 persen di Pasifik Barat.

  International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2017 melaporkan bahwa

epidemi Diabetes di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan meningkat.

Indonesia adalah negara peringkat keenam di dunia setelah Tiongkok, India,

Amerika Serikat, Brazil dan Meksiko dengan jumlah penyandang Diabetes usia

20-79 tahun sekitar 10,3 juta orang. Menurut Riset Kesehatan Dasar

(Riskesdas) 2018 prevalensi masyarakat yang mengalami diabetes mellitus

diperkirakan sebesar 10,9 persen

Penderita diabetes mellitus di Provinsi Kepulauan Riau berjumlah 2206

penderita, Kota Tanjung Pinang dengan jumlah penderita diabetes mellitus

mencapai 500 penderita, sedangkan di Kabupaten Karimun, Kabupaten

Anambas, Kabupaten Natuna, Kabupaten Meranti, Kabupaten Bintan, dan

Kabupaten Lingga kasus penderita diabetes mellitus termasuk dalam daftar 10

besar (Riskesdas, 2013)

Dinas Kesehatan Kota Batam mencatat penderita diabetes mencapai 6.500

orang. Penyakit yang sedikit atau urutan ke 10 dari penyakit terbanyak yang

dilaporkan Puskesmas se Kota Batam adalah Penyakit Diabetes non insulin

sebesar 2.742 jiwa.( Profil Kesehatan Kota Batam,2017).


Data Puskesmas Sei. Panas Kota Batam jumlah kunjungan diabetes mellitus tipe

II pada lansia berusia ≥ 60 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Sei. Panas dengan

jumlah kunjungan 858 jiwa. Pada penderita diabetes mellitus tipe II di Kelurahan

Sadai 104 jiwa dan jumlah penderita Diabetes Mellitus tipe II di Kelurahan

Bengkong Indah 316 jiwa semua penderita Diabetes Mellitus tipe II di Sei Panas

Kota Batam berjumlah 420 Jiwa (Puskesmas Sei. Panas Kota Batam tahun

2017).

Maningkatnya resiko terjatuh pada orang tua dengan diabetes mellitus

merupakan suatu hal yang multifactorial. Adanya neuropati perifer atau perifer,

menurunnya fungsi renal, kelemahan otot, disabilitas fungsional, berkurangnya

ketajaman penglihatan, polifarmasi, komorbid seperti osteoarthtritis,

hipoglikemia ringan mungkin berkontribusi terhadap resiko jatuh pada orang

tua yang lemah. Saat control kadar glikemia baik akan mencegah progresi dari

komplikasi diabetes yang kemudian akan menurunkan resiko terjatuh,

hipoglikemia yang terjadi sebagai akibat dari control glikemia yang intensif

akan meningkatkan resiko terjatuh pada lansia.

Teori keperawatan Miller (2012) menjelaskan bahwa konsekuensi

fungsional lansia bisa menjadi positif ataupun negatif tergantung dari

perubahan yang terjadi dikarenakan usia dan adanya faktor risiko tambahan.

Perubahan karena usia antara lain perubahan sensoris, neurologi,

muskuluskeletal dan endokrin (Stanley & Beare 2006). Kejadian jatuh sebagai

konsekuensi negatif perlu mendapatkan perhatian dari keperawatan sebab jatuh

bukan merupakan bagian normal dari proses penuaan (Nugroho 2008). Hasil
penelitian Ashar (2016) menjabarkan penyebab jatuh pada lansia antara lain

gangguan anggota gerak, gangguan syaraf, gangguan penglihatan, gangguan

pendengaran, penggunaan alat bantu jalan dan memiliki riwayat jatuh

sebelumnya.

Masalah-masalah kesehatan tersebut pada akhirnya akan

mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari pada lansia. Salah satu masalah

yang sering mengakibatkan morbiditas dan mortalitas pada usia lanjut adalah

jatuh (Deniro, dkk. 2017)

Beberapa studi menemukan bahwa resiko jatuh adalah bahaya bagi

lansia yang paling mungkin terjadi dan cedera akibat jatuh sebagai kondisi

utama yang memberi dampak terburuk pada lansia (Sabatini, Kusuma &

Tambunan, 2015).

Kejadian jatuh bukan merupakan bagian normal dari proses penuaan,

disetiap tahunnya sekitar 30% lansia mengalami jatuh dan setiap tahunnya

presentasi lansia jatuh meningkat 25% menurut Probosuseno (2006, dalam

Hutomo, 2015).

Berdasarkan survei masyarakat di Amerika Serikat didapatkan sekitar

30% lansia yang setiap tahunnya mengalami jatuh. Kejadian jatuh pada lansia

baik di institusi dan di rumah angka kejadiannya mencapai 50% kejadian jatuh

terjadi setiap tahun, dan 40% diantaranya mengalami jatuh berulang

prevalensi jatuh tampaknya meningkat sebanding dengan peningkatan umur

lansia menurut Nugroho (2012, dalam Fauziah, 2015 ).


Insiden jatuh terkait cedera meningkat seiring bertambahnya usia. Cedera

seperti patah tulang dan cedera otak traumatis terjadi pada sekitar 10% dari

jatuh (Yip JL et al., 2014). PHAC (2014) melaporkan bahwa 95 persen dari

seluruh patah tulang pinggul adalah langsung disebabkan jatuh, dan bahwa 20

persen ini akhirnya terbukti fatal (Registered Nurses’s Association Ontario,

2017)

Data World Population Prospects 2015 Revision ada 901.000.000 orang

berusia 60 tahun atau lebih, yang terdiri atas 12% dari jumlah populasi global.

Pada tahun 2050 populasi lansia di proyeksikan lebih dari 2 kali lipat dari

tahun 2015, yaitu mencapai 2,1 milyar (United Nation, 2015). Berdasarkan

survei di jepang, didapatkan sekitar 30% usia lanjut yang berumur > 75 tahun,

setiap tahunnya mengalami jatuh, Separuh dari angka tersebut mengalami

jatuh berulang menurut Yasumura (2008, dalam Widajanti, 2017).

Prevalensi angka jatuh pada lansia mencapai 30-50% dan 40% untuk

angka kejadian jatuh berulang, dan pada tahun 2050 akan meningkat menjadi

20%. Hal ini menurut WHO Global report akan terjadi jika permasalahan yang

mengakibatkan kejatuhan tidak ditangani secara serius. Insiden jatuh sendiri

tampaknya bervariasi antara negara-negara lainnya, misalnya studi di wilayah

Asia Tenggara ditemukan bahwa di China, 6-31%, kemudian di Jepang 20%

orang lansia jatuh setiap tahun menurut Kuntjoro (2012, dalam Fauziah, 2015)

Prevalensi cidera di Indonesia pada penduduk usia lebih dari 60 tahun

mencapai 22%, dimana 65% diantaranya karena jatuh (Riskesdas, 2013).


Insiden jatuh di Indonesia tercatat dari 115 penghuni panti sebanyak 30 lansia

atau sekitar 43,47% mengalami jatuh. Terdapat sekitar 30% para lansia

mengalami jatuh karena faktor lingkungan, diketahui 70% kejadian jatuh pada

lansia terjadi di rumah. Sekitar 10% terjadi di tangga, dengan kejadian jatuh saat

turun tangga lebih banyak dibanding saat naik tangga, dan yang lainnya terjadi

karena tersandung atau menabrak benda perlengkapan rumah tangga, tempat

berpegangan yang tidak kuat atau tidak mudah dipegang, lantai yang licin atau

tidak rata dan penerangan yang kurang menurut Darmojo & Martono (2004,

dalam Hutomo, 2015).

Nursing practice innovation falls prevention (2011) menyatakan bahwa

lingkungan fisik dapat memberikan perbedaan dalam penerapan prosedur

pengurangan resiko jatuh pada lanjut usia (lansia). Pengurangan resiko jatuh

pada lansia bisa dimulai dengan pendampingan keluarga.

Jatuh pada lansia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Ada yang

mengelompokkannya menjadi mobilitas (mobility), perilaku pengambilan resiko

(risk taking behavior), serta kondisi lingkungan (physical environment).

Terdapat pula yang mengelompokkan menjadi faktor internal, dari diri lansia,

dan eksternal, dari luar lansia. Faktor eksternal ini erat kaitannya dengan

kondisi bahaya pada rumah (home hazard) (Sabatini, Kusuma & Tambunan,

2015).

Menurut Probosuseno (2007, dalam Hutomo, 2015) faktor yang paling

sering dihubungkan dengan kejadian jatuh pada lansia adalah lingkungan,

seperti alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua, tidak stabil,
atau tergeletak di bawah, tempat tidur yang tinggi atau WC jongkok yang tinggi,

tempat berpegangan yang tidak kuat atau tidak mudah dijangkau.

Terdapat sekitar 30% para lansia mengalami jatuh karena faktor

lingkungan. Diketahui 70% jatuh pada lansia terjadi di rumah. Sebesar 10%

terjadi di tangga, dengan kejadian jatuh saat turun tangga lebih banyak

dibanding saat naik tangga, yang lainnya terjadi karena tersandung atau

menabrak benda perlengkapan rumah tangga, tempat berpegangan yang tidak

kuat atau tidak mudah dipegang, lantai yang licin atau tidak rata dan penerangan

yang kurang menurut Darmojo & Martono (2004, dalam Hutomo, 2015).

Perawat dapat mencegah kejadian jatuh pada lansia dengan diabetes

melitus dengan mengetahui faktor determinan yang dapat menyebabkan jatuh.

Bila faktor determinan tersebut teridentifikasi, perawat dapat merancang

program untuk menurunkan kejadian jatuh pada lansia dengan diabetes mellitus

di suatu komunitas sehingga akan terjadi peningkatan angka kesehatan terhadap

lansia menurut Miller (2012 dalam Kartika, dkk 2017).

Ergonomika adalah ilmu yang mempelajari interaksi

antara manusia dengan elemen-elemen lain dalam suatu sistem,

serta profesi yang mempraktikkan teori, prinsip, data, dan metode dalam

perancangan untuk mengoptimalkan sistem agar sesuai dengan kebutuhan,

kelemahan, dan keterampilan manusia.

Faktor Ergonomik: jarak antara kursi/bed dengan kamar mandi,

menggunakan kursi roda, penggunaan alat bantu gerak, sepatu tidak pas, sepatu
dengan sol yang licin, gangguan barjalan dan gangguan keseimbangan, dan

berkurangnya sensasi di ektremitas bawah.

Penurunan sensitivitas sentuhan terjadi pada lansia seperti berkurangnya

kemampuan neuron sensori yang secara efisien memberikan sinyal deteksi,

lokasi, dan identifikasi sentuhan atau tekanan pada kulit. Lansia terjadi

kehilangan sensasi dan propiosepsi serta resepsi informasi yang mengatur

pergerakan tubuh dan posisi. Hilangnya fiber sensori, reseptor vibrasi dan

sentuhan dari ekstremitas bawah menyebabkan berkurangnya kemampuan

memperbaiki gerakan pada lansia yang dapat mengakibatkan

ketidakseimbangan dan jatuh menurut Achmanagara (2012 dalam Kartika dkk

2017).

Neuropati umumnya berupa polineuropati diabetika, kompikasi yang

sering terjadi pada penderita diabetes melitus, lebih 50 % diderita oleh

penderita diabetes mellitus. Manifestasi klinis dapat berupa gangguan

sensoris, motorik dan otonom. Proses kejadian neuropati biasanya progresif di

mana terjadi degenerasi serabut-serabut saraf dengan gejala-gejala nyeri atau

bahkan baal. Bagian yang terserang biasanya adalah serabut saraf tungkai atau

lengan menurut Permana (2000 dalam Kartika, dkk 2017).

Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Kartika Nuraini *), Joni

Haryanto, Rista Fauzingtyas (2017) dengan judul “Hubungan Faktor

Determinan dengan Resiko jatuh pada Lansia Diabetes Melitus” Hasil


menunjukan ergonomik yang memiliki persentase lebih besar terdapat pada

lansia dengan diabetes yaitu penggunaan alat bantu berjalan yang kurang

tepat, sol sepatu yang licin, gangguan gaya berjalan dan keseimbangan.

Sedangkan faktor ergonomik yang paling banyak terdapat pada lansia dengan

diabetes mellitus yaitu adanya penurunan sensasi pada ekstremitas bawah.

Faktor ergonomik yang paling besar terdapat pada lansia dengan

diabetes mellitus yaitu penurunan sensasi ekstremitas bawah (50%). Selain

itu, persentase alat bantu berjalan (30,8%), sol licin (11,5%), gangguan gaya

berjalan dan keseimbangan (46,2%) lebih besar terdapat pada lansia dengan

diabetes mellitus dibandingkan pada lansia tidak dengan diabetes mellitus.

Berdasarkan hasil penelitian Kartika Nuraini*), Joni Haryanto, Rista

Fauzingtyas (2017) menunjukan hasil yang signifikan atau ada hasil yang

bermakna antara penyebab jatuh dan factor ergonomic pada lansia dengan

diabetes mellitus dengan (p = 0,018)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah “Adakah hubungan factor ergonomic dengan resiko

jatuh pada lanjut usia (lansia) Diabetes mellitus di Puskemas Sekupang Kota

Batam?”

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui adakah hubungan factor ergonomic dengan

resiko jatuh pada lanjut usia (lansia) Diabetes Mellitus

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Untuk mengetahui gambaran factor ergonomic pada lanjut

usia (lansia) dengan Diabetes Mellitus

1.3.2.2 Untuk mengetahui gambaran resiko jatuh pada lanjut usia

(lansia) dengan Diabetes Mellitus

1.3.2.3 Untuk mengetahui Hubungan factor ergonomic dengan resiko

jatuh pada lanjut usia (lansia) dengan Diabetes Mellitus

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya

konsep teori dan menjadi konstribusi dalam pengembangan

penelitian dalam keperawatan khususnya pengembangan ilmu

keperawatan gerontik.

1.4.2 Manfaat Praktis

1.4.2.1 Untuk Institusi Pendidikan


Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai

tambahan bahan ajar untuk proses pembelajaran dan

dapat menambah pengetahuan tentang factor

ergonomic dengan resiko jatuh pada lanjut usia

(lansia).

1.4.2.2 Untuk Pelayanan Kesehatan

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan

informasi bagi tenaga kesehatan dan petugas kesehatan

khususnya perawat, dalam memberikan asuhan

keperawatan dan mencegah resiko jatuh pada lanjut

usia (lansia)

1.4.2.3 Bagi Peneliti

Penelitian ini sebagai kesempatan bagi peneliti

untuk mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah,

menganalisis dan memberi informasi, dan sebagai

sarana pengaplikasian ilmu pengetahuan peneliti yang

didapat di pendidikan.

1.4.2.4 Untuk Penelitian Selanjutnya


Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai

sumber data dasar untuk penelitian di ruang lingkup

yang sama.

1.5 Keaslian Penelitian

Tabel 1.1

Keaslian Penelitian

Variabel Metode Hasil Penelitian


No Judul Penelitian penelitian Penelitian

1. “Faktor Determinan Variabel bebas: Penelitian ini Hasil Penelitian


penyebab jatuh pada merupakan
factor tersebut menunjukkan
lansia dengan diabetes
mellitus di wilayah epidemiologi, penelitian persentase faktor
kerja puskesmas bantul kuantitatif
factor ergonomic, ergonomik yang
Yogyakarta” Kartika dengan metode
*) factor lingkungan, paling besar terdapat
Nuraini , Joni
cross sectional
Haryanto, Rista Variabel terikat: pada lansia dengan
Fauzingtyas, 2017 dengan teknik
resiko jatuh diabetes mellitus yaitu
purposive
sampling,
penurunan sensasi
ekstremitas bawah
(50%). Selain itu,
persentase alat bantu
berjalan (30,8%), sol
licin (11,5%),
gangguan gaya
berjalan dan
keseimbangan
(46,2%) lebih besar
terdapat pada lansia
dengan diabetes
mellitus dibandingkan
pada lansia tidak
dengan diabetes
mellitus. ada hasil
yang bermakna antara
penyebab jatuh dan
factor ergonomic pada
lansia dengan diabetes
mellitus dengan (p =
0,018)

2. “Hubungan lamanya Variable bebas: Penelitian ini Hasil pengujian dengan


menderita diabetes lamanya berjenis menggunakan chi
mellitus dengan resiko menderita Dm observasional square menunjukkan
jatuh pada diabetes Variabel terikat: analitik dan Hubungan antara lama
mellitus type 2” Dwi Resiko jatuh menggunakan menderita penyakit
rosella kumalasari, metode DM dengan resiko
2018 pendekatan jatuh menunjukkan
cross p=0,0011 dan nilai
sectional, uji OR=0,32.
statistik yang
digunakan
adalah chi
square.

1.6 Sistematika Penulisan


Skripsi ini terdiri dari lima BAB yaitu BAB I (satu), BAB II (dua), BAB

III (tiga), BAB IV (empat) ,dan BAB V (lima).

1.6.1 BAB I Pendahuluan

Bab ini diuraikan latar belakang penelitian, rumusan penelitian,

tujuan penelitian yang terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus, manfaat

penelitian keaslian penelitian dan sistematika penulisan.

1.6.2 BAB II Tujuan pustaka

Pada bab II diuraikan tinjauan teoritis yang mendukung penelitian

meliputi konsep dasar tentang lanjut usia, resiko jatuh, factor ergonomic

dan hipotesis penelitian.

1.6.3 BAB III Metode penelitian

Pada bab III diuraikan jenis dan rancangan penelitian, kerangka

konsep, populasi, lokasi dan waktu penelitian, kerangka konsep penelitian,

pengumpulan data, pengolahan dan analisa data, definisi operasional, etika

penelitian, keterbatasan penelitian, dan rancangan uji hipotesis.

1.6.4 BAB IV Hasil penelitian dan pembahasan

Pada bab IV berisi gambaran lokasi penelitian dan hasil penelitian

beserta hasil distribusi frekuensi tiap variabel, analisa univariat dan analisa

bivariat.

1.6.5 BAB V Kesimpulan dan saran


Pada bab V berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan

oleh peneliti dan saran yang di berikan peneliti kepada institusi penelitian,

pelayanan kesehatan, lansia dan peneliti selanjutnya.