Anda di halaman 1dari 20

Tugas bedah mulut 1

Nervus Trigeminus dan Nervus Facialis

Dosen pembimbing : drg. Adiprabowo, Sp.B.M

Disusun oleh kelompok D

1. Eko Setiawan (041010040010)


2. Muthiara Praziandite (0401004046)
3. Tety Verianti (04101004048)
4. Rhezza Dwi Febrian (04101004049)
5. Jingga Titania (04101004050)
6. Indira Tri Amirah (04101004051)
7. Neno Kharisma (04101004056)
8. Tiara Wardana (04101004057)
9. Akmal Satibi (04101004058)
10. Sri Rahmawati (04101004059)
11. Teguh Budiarto (04101004074)
12. Chelly Mutiah (04101004077)
13. Riki Agung Santoso (04101004088)

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2012
Histologi, Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Saliva
Sekresi kelenjar saliva merupakan bagian terpenting dalam pembentukan cairan
rongga mulut yang mengandung sekret dari kelenjar mayor dan minor, bakteri oral, cairan
sulkus gingival dan kotoran makanan (Roth and Calmes, 1981; Berkovitz, et al, 2002).
Kelenjar saliva mensekresi 1 1,5 L saliva setiap 24 jam yang jumlah dan susunannya sangat
menentukan bagi kesehatan rongga mulut, terutama bila ditinjau dari segi patologi sangat
berkaitan dengan proses patologis sangat berkaitan dengan proses biologis yang terjadi dalam
rongga mulut (Brobeck, 1981; Amerongen, 1991).

Histologi Kelenjar Saliva

Histologi Kelenjar Saliva

Struktur kelenjar saliva mirip dengan kelenjar eksokrin (Lavelle, 1988). Tiap kelenjar
saliva dibangun dari lobus yang terdiri atas kompartemen berikut: asinus, duktus interkalata
dan duktus striata. Asinus glandula submandibular dan sublingual manusia di sekitar sel
asinar mukus masih memiliki sel sekresi serus yang disebut sel bulan sabit. Asinus dan sel
duktus pada bagian basal dapat dikelilingi oleh sel mioepitel (Amerongen, 1991). Sel asinus
pada kelenjar parotis berupa serosa, pada kelenjar sublingual berupa mukosa dan pada
kelenjar submandibular berupa seromukosa (Ganong, 1999).
Dari berbagai lobus kelenjar, saluran saluran pembuangan berkumpul di dalam muara
pembuangan interlobular dan berakhir pada muara pembuangan besar. Muara pembuangan
besar pada kelenjar parotis disebut duktus Stensen dan masuk pada mukosa bukal setinggi
gigi molar kedua rahang atas. Pada kelenjar submandibular disebut duktus Wharton yang
berjalan sepanjang dasar mulut hingga ke frenulum lingualis. Duktus utama pada kelenjar
sublingual berhubungan dengan duktus Wharton dan sekresinya tidak dapat dipisahkan
(Amerongen, 1991).

Anatomi Kelenjar Saliva


Berdasarkan ukurannya kelenjar saliva terdiri dari dua jenis, yaitu kelenjar saliva
mayor dan kelenar saliva minor. Kelenjar saliva mayor terdiri dari kelenjar submandibularis,
Parotis, dan kelenjar sublingualis.

Anatomi Kelenjar Saliva

1. Kelenjar Parotis
Kelenjar saliva terbesar, terletak secara bilateral di depan telinga, antar ramus
mandibularis dan prosesu mastoideus dengan bagian meluas ke muka di bawah
lengkung zigomatik. Saluran parotis melintas horizontal ke tepi anterior kelenjar.
Pada tepi anterior terdapat otott masseter, saluran parotis brbelok kea rah medial,
menembus otot buccinators, dan memasuki rongga mulut di seberang gigi molar
ke-2 permanen rahang atas.

Anatomi Kelenjar Parotis


2. Kelenjar Submandibularis
Kelenjar saliva terbesar kedua, terletaj di dasar mulut di bawah korpus mandibula.
Saluran submandibularis bermuara melalui satu sampai tiga lubang yang terdapat
pada satu papil kecil di samping frenulum lingualis.
Anatomi Kelenjar Submandibularis

3. Kelenjar Sublingualis
Kelenjar saliva mayor terkecil dan terletak paling dalam, masing-masing
berbentuk almond, terletak di dasar mulut antara mandibula dan oto genioglossus.
Masing-masing jelenjar sublingualis sebelah kir dan kana bersatu membentuk
kelenjar yang berbentuk ladam kuda di sekitar frenulum lingualis.

Anatomi Kelenjar Sublingualis

Kelenjar saliva minor terdiri dari kelenjar lingualis, bukalis, labialis, palatine,dan
glossopalatina. Kelenjar lingualis terdapat bilateral dan terbagi menjadi beberapa kelompok.
Kelenjar lingualis anterior berada di permukaan inferior dari lidah, dekat dengan ujungnya,
dan terbagi menjadi kelenjar mucus anterior dan kelenjar campuran posterior. Kelenjar
lingualis posterior berhubungan dengan tonsil lidah dan margin lateral lidah. Kelenjar ini
bersifat murni mucus.
Kelenjar bukalis dan labialis terletak di pipi dan bibir. Kelenjar ini bersifat mucus dan
serus. Kelenjar palatine bersifat murni mucus, terletak pada palatum luunak dan uvula serta
region posterolateral dari palatum keras. Kelenjar glossopatlatina memiliki sifat sekresi yang
sama dengan kelenjar palatine, yaitu murni mucus dan terletak di lipatan glossopalatina.

Fisiologi Kelenjar Saliva


Kelenjar saliva mayor yang terdiri dari kelenjar parotis, kelenjar sublingual dan kelenjar
submandibular menghasilkan 95% total volume saliva, sedangkan sebagian kecil dihasilkan oleh
kelenjar saliva minor yang terdiri dari kelenjar von Ebner, dan kelenjar yang terletak di bawah
mukosa bibir bawah, lidah, palatum, bukal dan faring (Lavelle, 1988; Amerongen, 1991;
Ferguson, 1999). Sumbangan berbagai kelenjar saliva kepada produksi total saliva sangat
tergantung pada sifat dan tingkat rangsang (Roth and Calmes, 1981; Houwink dkk., 1993). Sifat
rangsang dapat merupakan rangsang mekanis misalnya mengunyah\ makanan; kimiawi yaitu
asam, manis, pahit, asin dan pedas; neuronal yaitu system saraf otonom baik simpatis maupun
parasimpatis; psikis atau stress; protesa; rangsangan karena sakit (Amerongen,1991; Houwink
dkk., 1993). Tingkat sekresi saliva dipengaruhi oleh posisi tubuh, sekresi terbanyak ditemuka
pada posisi berdiri sekitar 100%, pada posisi duduk sekitar 69%, dan pada posisi berbaring 25%.
Pada perokok ditemukan sekresi saliva yang lebih banyak daripada yang tidak merokok,
sedangkan di ruangan gelap sekresi kelenjar parotis menurun dibandingkan dengan ruang yang
terang (Roth and Calmes, 1981). Tipe kelenjar, makanan, usia, dan jenis kelamin juga termasuk
faktor yang mempengaruhi sekresi saliva (Roth and Calmes, 1981). Beberapa obat-obatan seperti
antikolinergik, analgesik, antipsikotik, antihistamin, antidepresan, antihipertensi, amfetamin,
antiparkinson, dan atropin memiliki efek samping yang dapat menyebabkan berkurangnya
kecepatan aliran saliva (Edgar, 1996).
Jumlah total saliva setiap 24 jam bekisar 500-600 ml atau sekresinya 0,35-0,42 ml. Pada
malam hari sekresi saliva hampir terhenti (+10 ml/8 jam). Kelenjar parotis pada malam hari sama
sekali tidak menghasilkan saliva. Sumbangan relative kelenjar submandibular pada malam hari
adalah 70%, sedangkan kelenjar sublingual dan kelenjar saliva tambahan sekitar 30%
(Amerongen, 1991).
Berbagai faktor dapat menyebabkan berkurangnya sekresi saliva yaitu efek radiasi,
perubahan hormonal pada wanita menopause dan faktor psikologis seperti rasa takut, cemas dan
stres, atau penyakit pada kelenjar saliva seperti Sindroma Sjorgen (Roth and Calmes, 1981).
Pengaturan Kelenjar Saliva
Sekresi saliva sebagian besar berada di bawah kontrol sistem saraf, sebagian kecil lain
berada di dalam kontrol humoral. Kecepatan aliran sekresi saliva diatur oleh sistem saraf
otonom (Bradley, 1995). Kelenjar saliva dipersarafi oleh sistem saraf simpatis dan
parasimpatis. Pengaturan sekresi saliva lebih banyak dilakukan oleh saraf parasimpatis,
namun sebagian dilakukan oleh saraf simpatis (Rensburg, 1995).
Kelenjar sublingual dan submandibular menerima impuls saraf parasimpatis yang
berasal dari nukleus salivarius superior yang berada pada medulla sedangkan
Kelenjar parotis menerima impuls saraf yang berasal dari nukleus salivarius inferior yang
berada pada medulla. Kelenjar saliva minor dipersarafi oleh serabut saraf parasimpatis yang
berasal dari saraf fasial yang mencapai kelenjar melalui cabang saraf lingual dan palatinal
(Roth dan Calmes, 1981).
Rangsang saraf parasimpatis yang disertai vasodilatasi pada kelenjar menyebabkan
sekresi saliva yang banyak dan encer dengan zat zat organik yang relatif sedikit. Rangsang
saraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi sehingga sekresi saliva yang sedikit tetapi kaya
akan zat organik (Ganong, 1995).
Sekresi saliva terjadi akibat respon refleks, baik refleks tidak bersyarat maupun
refleks bersyarat. Aliran saliva sebagian besar dikontrol oleh refleks tidak bersyarat dapat
meningkatkan dan menurunkan. Yang dapat meningkatkan sekresi saliva misalnya rasa
makanan, bau, stimulasi mekanik dari mukosa oral, iritasi mekanik pada gingival,
pengunyahan makanan, iritasi pada esofagus, gastritis dan kehamilan. Refleks bersyarat yaitu
emosi dan faktor psikis dapat meningkatkan dan menurunkan sekresi saliva pula (Rensburg,
1995).

Mekanisme Sekresi Saliva


Sekresi saliva sebagian besar merupakan proses aktif yang menunjukan bahwa proses
tersebut memerlukan energi. Proses ini dibedakan menjadi dua fase (Lavelle, 1988;
Amerongen, 1991):

1. Sintesis dan sekresi cairan asinar oleh sel sekretori.


Sifat rangsang yang menstimulasi kelenjar saliva dapat berupa rangsang adrenergik ( dan )
maupun kolinergik, karena sel diinervasi baik simpatis maupun parasimpatis. Rangsang
adrenergik menghasilkan saliva yang pekat, kaya protein, kaya kandungan musin dan
berbuih. Pada rangsang kolinergik, neurotransmitter asetilkolin menghasilkan sekresi cairan
yang kuat dengan kadar protein yang rendah. Akibat rangsangan, melalui eksositosis sel
menghasilkan cairan sekresinya kepada lumen.
Rangsang tersebut menyebabkan aliran darah ke asinus meningkat sehingga
mempermudah pembentukan cairan asinar. Cairan asinar ini disebut juga saliva primer.

2. Perubahan yang terjadi pada duktus striata.


Saliva diangkut dari lumen melalui duktus yang melibatkan kontraksi sel mioepitel.
Selama pengankutan ke rongga mulut, susunan saliva diubah dari cairan isotonik dengan
konsentrasi ion yang hampir sama dengan plasma menjadi hipotonik dengan konsentrasi ion
natrium dan klorida yang rendah. Perubahan initerjadi karena di dalam duktus, air dan
elektrolit disekresi dan atau diabsorbsi oleh sel epitel, terutama pada duktus striata.
Sifat rangsang menentukan kepekatan produk akhir yang bervariasi dari encer sampai
pekat. Kepekatan saliva ditentukan oleh sekresi air dan sekresi musin yang diatur oleh saraf
kolinergik dan adrenergik. Neurotransmitter asetilkolin dan parasimpatetikomimetika
merangsang sekresi air, sedangkan obat seperti atropine sulfat menghambat sekresi air dan
menyebabkan keringnya mulu

Saliva
Secara umum, saliva berarti cairan yang berada diantara semua jaringan keras dan lunak
mulut. Cairan saliva adalah gabungan dari berbagai cairan dan komponen yang dihasilkan
oleh beberapa sumber ke dalam rongga mulut. Saliva terdiri dari sekret yang diproduksi oleh
kelenjar saliva baik kelenjar mayor maupun kelenjar minor. Kelenjar saliva mayor terdiri atas
kelenjar parotis, kelenjar submandibular dan kelenjar sublingual yang masing masing
berjumlah sepasang, sedangkan kelenjar saliva minor terdiri dari kelenjar von Ebner yang
duktusnya bermuara di sulkus papila valata lidah, kelenjar yang terdapat di bawah mukosa
bukal, labial dan palatal rongga mulut. Tiap kelenjar saliva dibangun dari lobus yang terdiri
atas kompartemen berikut: asinus,duktus interkalata dan duktus striata.
Komponen-komponen saliva, yang dalam keadaan larut disekresi oleh kelenjar saliva,
dapat dibedakan atas komponen organik dan anorganik. Namun demikian, kadar tersebut
masih terhitung rendah dibandingkan dengan serum karena pada saliva bahan utamanya
adalah air yaitu sekitar 99.5%. Komponen anorganik saliva antara lain : Sodium, Kalsium,
Kalium, Magnesium, Bikarbonat, Khlorida, Rodanida dan Thiocynate (CNS), Fosfat,
Potassium dan Nitrat. Sedangkan komponen organik pada saliva meliputi protein yang berupa
enzim amilase, maltase, serum albumin, asam urat, kretinin, musin, vitamin C, beberapa asam
amino, lisosim, laktat, dan beberapa hormon seperti testosteron dan kortisol.

Saliva (mM) Plasma (mM)

Inorganik

Ca2+ 1-2 2,5

Mg2+ 0,2-0,5 1,0

Na+ 6-26 140

K+ 14-32 4

NH4+ 1-7 0,03

H2PO4- + HPO42- 2-23 2

CI- 17-29 103


HCO3- 2-30 27

F- 0,001-0,005 0,01

SN- 0,1-2,0 -

Organic

Urea (dewasa) 1-2 5

Urea (anak-anak) 2-6 -

Asam Urat 0,2 3

Asam Amino (bebas) 1-2 2

Glukosa (bebas) 0,05 5

Laktat 0,1 1

Asam Lemak 10 3000

Makromolekul (mg 1-1)

Protein 1400-6400 70000

Glikoprotein Sugars 110-300 1400

Amilase 380 -

Lisozyme - -

Peroksidase 3 -

Ig A 194 1300

Ig G 14 13000

Ig M 2 1000

Lipid 20-30 5500

Saliva merupakan cairan dengan susunan yang sangat berubah-ubah, dilihat dari segi
derajat keasaman (pH), elektrolit dan protein yang ditentukan oleh: irama siang dan malam,
sifat dan kekuatan rangsangan, keadaan psikis, stres, kadar hormon, diet, obat-obatan, dan
lain-lain.
Fungsi saliva penting bagi kesehatan gigi dan mulut karena melindungi rongga mulut
dengan cara lubrikasi jaringan pada rongga mulut, mempertahankan konsentrasi fosfat dan
kalsium yang tinggi yang terkandung dalam cairan dan kekuatan buffer asam, dapat
membantu proses awal pencernaan, self cleansing rongga mulut, aglutinasi, pembentukan
pellicle, serta menyeimbangkan cairan dalam tubuh. Selain itu, saliva mengandung
komponen antimikroba.
Jumlah volume total saliva setiap 24 jam 500-600 ml dan kecepatan aliran saliva 0,35-
0,42 ml/menit. Sekitar sebagian dihasilkan pada keadaan istirahat atau tanpa stimulasi,
sebagian lainnya disekresi di bawah pengaruh rangsangan.Sekresi saliva dapat diamati
melalui kecepatan aliran, volume, pH, serta viskositas saliva.Pada malam hari sekresi saliva
hampir berhenti atau kurang lebih 10 ml/8 jam.Pada keadaan normal, kecepatan aliran saliva
tanpa stimulasi yaitu 0,25 ml/menit, sedangkan pada stimulasi maksimal sebesar 3-4
ml/menit. Sekresi saliva yang menurun akan menyebabkan kesulitan berbicara, mengunyah,
dan menelan.
Volume saliva dipengaruhi oleh banyak hal dan dalam waktu 24 jam volume saliva
sekitar 1000–1500 mL dengan derajat keasaman saliva sekitar 7. Pada waktu tidur dihasilkan
volume saliva 0.1 mL per menit. Pada waktu terjaga dan tidak ada rangsangan volumenya
sekitar 0.3 mL per menit. Tetapi pada waktu mengunyah makanan volume akan meningkat
menjadi 1-2 mL per menit. Pada keadaan xerostomia penurunan produksi saliva bisa
mencapai 0.7-0.1 mL/mnt, bahkan pada keadaan yang sangat parah bisa mencapai kurang
dari 0.1mL/mnt.

Kelainan Kelenjar Saliva


Kelainan kelenjar saliva ialah suatu keadaan abnormal dalam kelenjar saliva yang
dapat merujuk pada kondisi yang menyebabkan pembengkakan atau nyeri.
Beberapa jenis kelainan dan penyakit dari kelenjar saliva :
1. Kelainan Perkembangan
a. Aplasia/ Agenesis
Tidak adanya satu atau lebih kelenjar saliva mayor secara kongenital diistilahkan
sebagai aplasia atau agenesis. Hal ini sangat jarang terjadi, akan tetapi bila terjadi, maka
biasanya yang akan terkena adalah kelenjar parotis. Abnormalitas lain, seperti misalnya
penyumbatan atau tidak adanya duktus salivarius, juga jarang terjadi, meskipun bisa
mengenai kelenjar sublingualis dan submandibularis. Hipoplasia dari jaringan saliva
dapat terjadi, akan tetapi jarang menimbulkan gejala-gejala klinis yang berarti.
Diagnosis
Sialografi merupakan cara untuk memperlihatkan adanya cacat struktural yag besar
baik pada duktus saliva maupun pada kelenjarnya sendiri. Anehnya, xerostomia tidak
mejadi masalah utama pada penderita-penderita ini, meskipun berkurang aliran saliva
sejak lahir akan merupakan faktor predisposisi dalam timbulnya sejumlah keluhan oral
dikemudian hari.
Pengobatan
Pengobatan xerostomia didasarkan pada pemberian saliva tiruan, megurangi
kerusakan gigi geligi dengan melakukan tindakan pencegahan dan mengobati infeksi
oportunistik. Seperti kandidosis oral dan sialadenitis bakterial.

b. Peyimpangan
Heterotopia/ ectopia
Penambahan atau penyimpangan kelenjar saliva jarang terjadi, akan tetapi dapat
dijumpai pada sejumlah tempat abnormal, termasuk mandibula, dasar leher, tulang
mastoideus, serta jaringan limfe. Jaringan abnormal yang terjadi pada sudut mandibula
diasosiasikan dengan daerah radiolusen yang dapat dilihat pada daerah ini (kista tulang
stafne). Hal ini terjadi karena salah letak dari kelenjar saliva pada saat migrasi jalur
embrologic selama pertumbuhan.
Diagnosis
Sialografi dapat membantu dalam memastikan adanya jaringan saliva pada situasi
ini.
Pengobatan
Jaringan saliva yang menyimpang di daerah-daerah yang jauh dan kepala dan leher
tidak selalu menimbulkan masalah klinis, tetapi tidak boleh diabaikan sebagai suatu
tempat yang berpotensi untuk membentuk tumor.

2. Kelainan-kelainan Lain
a. Kalkulus Kelenjar Saliva (Sialolit)
Pembentukan satu atau beberapa deposit berkapur, yang dikenal sebagai kalkulus
atau sialolit, jarang terjadi didalam duktus kelenjar saliva. 2/3 dari komposisinya terdiri
atas bahan-bahan anorganik, terutama kalsium dan posfat, dan sisanya terdiri atas bahan
organik yaitu lemak bebas. Walaupun sebagian besar kalkulus terjadi pada kelenjar saliva
mayor terutama submandibularis, kalkulus dapat juga terjadi di dalam saluran-saluran
kelenjar-kelenjar minor. Penyebab terbentuknya kalkulus belum sepenuhnya diketahui,
tetapi diperkirakan bahwa jamur, bakteri, atau sel-sel epitel deskuamatif bertindak
sebagai nukleus awal klasifikasi progresif.
Kalkulus kelenjar saliva biasanya tidak menimbulkan gejala kecuali bila
menimbulkan sumbatan pada saluran kelenjar yang akan menimbulkan rasa sakit dan
pembengkakan kelenjar bersangkutan. Penderita sering melaporkan terjadinya
pembengkakan kelenjar selama 1-2 jam dan rasa tidak nyaman terutama pada waktu
makan, bila pada tingkatan ini tidak diobati sumbatan progresif pada saluran ini dapat
menimbulkan sialadenitis bakteria akut dengan gejala-gejalan seperti rasa sakita yang
terus menerus, pembengkakan, serta mungkin demam.

Diagnosis
Secara klinis, mungkin terdapat keabnormalan pada saat pemeriksaan walaupun
stimulasi aliran saliva dapat menimbulkan pembengkakan ekstraoral dari kelenjar
bersangkutan. Secara intraoral dapat dijumpai deposit berkapur pada orifis saluran atau
teraba di dalam saluran. Radiografi dapat membantu dalam penetapan diagnosis dan
dapat menentukan adanya lesi multipel. Namun, tidak semua kalkulus radiopak dan oleh
karena itu sialografi yang dapat juga mendeteksi adanya mucous plugs, perlu dilakukan.
Pengobatan
Hingga kini, pengobatan yang dilakukan untuk menanggulanginya adalah dengan
mengangkat kalkulus. Bila deposit terdapat di sebelah anterior dari saluran atau pada
orifis maka jahitan sementara harus dilakukan di sebelah distal dari kalkulus untuk
mencegah perpindahan ke arah posterior selama pengangkatan. Skalpel atau gunting
pemotong digunakan untuk memotong atap saluran dalam usaha untuk mendapatkan
akses ke kalkulus. Kadang-kadang lebih baik membiarkan luka tetap terbuka karena
usaha untuk menutup rapat kadang dapat mengakibatkan tersumbatnya lumen saluran.
Pengangkatan kelenjar harus dipertimbangkan bila kalkulus terletak disebalah distal
saluran atau di dalam kelenjar itu sendiri. Kalkulus intraglandular terutama yang terjadi
di dalam kelenjar submandibularis, dapat menjadi besar sekali tanpa menimbulkan
gejala-gejala klinis dan baru terdeteksi secara kebetulan bila dilakukan radiografi.
Sialografi harus dilakukan 2-3 minggu setelah pengangkatan setiap kalkulus untuk
menentukan ada kerusakan pada struktur kelenjar. Dari studi CT-scan ditemukan bahwa
kalkulus yang pernah ada di dalam saluran kelenjar mandibularis tidak akan mengurangi
fungsi kelenjar secara permanen. Tetapi tidak demikian halnya dengan kelenjar parotis,
yang berbeda dari kelenjar submandibularis karena sebagian besar terdiri atas sel-sel
asinar yang mudah mengalami atrofi bila terkena tekanan.

b. Penyempitan Papila atau Saluran


Edema sebagai akibat inflamasi atau fibrosis karena trauma akut atau kronis pada
saluran papila akan membahayakan lumen saluran dan karena itu akan membatasi aliran
saliva. Penyempitan anatomis dapat terjadi pada tempat lain di sepanjang saluran utama,
walaupun penyebab kelainan itu belum diketahui hingga kini.
Anomali jendela bucinator merupakan contoh sebuah penyempitan fisiologis
khusus untuk daerah dimana saluran parotis menembus otot bucinator. Kondisi ini jarang
terjadi dan dipercaya bahwa kekejangan otot bucinator secara efektif menutup lumen
saluran, yang kemudian akan menghasilkan pada kelenjarnya sendiri. Penderita yang
mengalami penyempitan anatomis maupun fisiologis memberi keluhan karakteristik
yaitu adanya pembengkakan yang cepat dan pembengkakan kelenjar saliva selama
makan yang kemudian secara perlahan-lahan akan semakin mengecil dalam waktu 1-2
jam. Namun, hilangnya pembengkakan ini tidak tipikal menunjukkan adanya sumbatan
kelenjar saliva.
Diagnosis
Sialografi diperlukan untuk menentukan lokasi serta luasnya penyempitan.
Sialografi tekanan terpantau merupakan satu-satunya cara mendiagnosis penyempitan
fisiologis dan saluran kelenjar karena walaupun sialogram menunjukkan keadaan normal,
tekanan pengisisan akan meningkat selama awal dimasukkannya media kontras.
Pengobatan
Sialografi pada sebuah kelenjar yang mengalami penyempitan biasanya cukup
untuk menimbulkan dilatasi dan meredakan gejala. Bila gejala tidak berkurang dan
kelainan terdapat pada bagian anterior dari saluran maka dilatasi lanjutan harus
dilakukan dengan menggunakan sonde lakrimal. Hingga kini cara perawatan untuk
anomali jendela bucinator yang memuaskan.

c. Mucocele
Penatalaksanaan : Pembedahan eksisi, laser, injeksi kortikosteroid.
Etiologi : Bibir yang sering tergigit, adanya penyumbatan pada duktus kelenjar
liur minor, obat-obatan yang berefek mengentalkan saliva.
Gambaran Klinis : Batas tegas, konsistensi lunak, warna translucent, ukuran biasanya
kecil, tidak ada keluhan sakit, terkadang pecah lalu hilang dan timbul
kembali
Diagnosis : Anamnesa, bimanual palpasi intra dan ekstra oral, aspirasi,
pemeriksaan lab, pemeriksaan radiology, biopsy.
Diagnosis Banding: Kista nasolabial, kista implantasi, adenoma pleoformik.

Mucocele

d. Ranula
Penatalaksanaan : Marsupialisasi ranula atau pembuatan jendela pada lesi.
Etiologi : Duktus eksekrotarius major yang membesar atau terputus atau
terjadinya rupture yang terhalang aliran liur sublingual atau
submandibula.
Gambaran Klinis : Bentuk seperti perut kodok yang menggelembung keluar
(Rana=kodok), dinding sangat tipis dan mengkilap, warna
translusen, kebiru-biruan, palpasi ada fluktuasi, tumbuh lambat dan
ekspansif.
Diagnosis : Anamnesa, bimanual palpasi intra dan ekstra oral, aspirasi,
pemeriksaan lab, pemeriksaan radiology, pemeriksaan mikroskopis,
pemeriksaan biopsy.
Diagnosis Banding: Kista dermoid, batu kelenjar liur (sialolit).

Ranula

3. Infeksi
a. Sialadenitis Bakterial
Sialadenitis yang akut dan supuratif, terutama setelah pembedahan abdomen.
Penggunaan atibiotik profilaktik dan pengertian yang baik akan keseimbangan cairan
akan menurunkan insiden infeksi ini sebagai komplikasi pasca bedah. Tetapi sialadenitis
yang disebabkan oleh bakteri tetap bisa terjadi dalam kaitan dengan berkurangnya saliva
secara lokal atau sistemik. Penyebabnya belum diketahui secara jelas, tetapi diperkirakan
ada hubungannya dengan peningkatan infeksi bakteri dari mikroflora mulut, biasanya
berupa campuran antara streptococcus fakultatif dan bakteri anaerob.
Diagnosis
Sialadenitis supuratif akut terlihat sebagai pembengkakan kelenjar bersangkutan
yang menimbulkan rasa sakit akut diikuti oleh keluarnya nanah ada orifis saluran utama.
Sampel nanah harus diambil dengan jalan disedot menggunakan kateter politen yang
dimasukkan ke dalam saluran; hapusan mikrobiologi dari cairan itu mungkin
terkontaminasi oleh campuran saliva. Sensitifitas antibiotik secara rutin harus diperiksa
sejalan dengan identifikasi mikroorganisme. Namun, karena hasil biakan dan tes
sensitifitas belum akan diperoleh dalam 2-3 hari maka pilihan utama untuk terapi harus
didasarkan pada informasi yang diperoleh dan pewarnaan gran sampel nanah.
Bakteri yang jarang menimbulkan sialadenitis supuratif adalah actinomicosis,
gonore, sifilis, dan tuberkulosis.
Pengobatan
Pemberian antibiotik dengan amoksisilin sebagai pilihan yang pertama. Untuk
pasien yang sensitif terhadap kelompok penicilin, dapat diberi eritromisin. Bila infeksi
jelas disebabkan oleh kalkulus, maka kalkulus harus terlebih dahulu dibuang secara
untuk memungkinkan drainase nanah.

b. Sialadenitis Viral
Virus gondongan (mumps) yaitu paramixovirus, adalah virus yang paling sering
menimbulkan infeksi pada kelenjar-kelenjar saliva. Biasanya, kelenjar parotis akan
terkena walaupun pada 10% kasus mengenai kelenjar submandibularis baik tunggal atau
sebagai tambahan dari kelenjar parotis. Masa inkubasi 2-3 minggu pada saat virus dapat
dideteksi di dalam saliva. Pada tingkat ini sifat sangat infektif dari saliva mungkin dapat
menimbulkan wabah pada masyarakat. Selain pembengkakan kelenjar, penderita
mungkin mengalami demam, lesu, serta sakit kepala.

Diagnosis
Diagnosis mumps mudah ditegakan melalui simptom-simptom dan tanda klinis.
Walaupun demikian, diagnosis itu harus diteguhkan oleh adanya antibodi terhadap inti
nukleoprotein atau selubung protein dan partikel virus. Bukti adanya infeksi yang baru
saja terjadi didukung oleh kadar antibodi igM yang tinggi.
Pengobatan
Tidak diperlukan tindakan khusus; simptom biasanya akan mereda dengan
sendirinya dalam waktu 1 minggu.

4. Berkurangnya Salivasi

a. Sindrom Sjorgen
Sejak Sjorgen pertama kali menerangkan hubungan antara kekeringan mulut,
kekeringan mata, dan artritis reumatoid, timbul bermacam-ragam kriteria diagnostik
untuk sindrom Sjörgen. Pada umumnya dikatakan ada dua bentuk, yaitu primer dan
sekunder. Sindrom Sjorgen primer yang dahulu dikenal sebagai sindrom Sicca. terdiri
atas kekeringan mata dan kekeringan mulut. Dalam bentuk sekunder, penderita
mengalamikelainan Jaringan ikat di samping kedua simtom pada sindrom primer.
Sindrom Sjargen merupakan kondisi yang relatif sering terjadi dan diperkirakan timbul
pada 15% penderita artritis reumatoid.

Walaupun artritis reumatoid merupakan komponen penyakit jaringan ikat yang


paling sering terjadi, kondisi-kondisi lain seperti lupus eritematosis, skierosis sistemis
yang progresif, atau sirosis biliaris primer bisa terlibat. Limfoma ganas merupakan
komplikasi sindrom Sjorgen yang terkenal, terutama varian primer dan mereka yang
menderita pembengkakan parotis persisten.

Diagnosis

Diagnosis didasarkan atas hasil beberapa tes, termasuk kecepatan aliran saliva
parotis yang distimulasi, kecepatan aliran lakrimal (tes Schirmer), biopsi kelenjar labial,
sialografi serta tes imunologi. Biopsi kelenjar labial, satu-satunya kriteria diagnostik
yang paling spesifik harus melibatkan lima lobus atau lebih karena tidak semua lobus
memperlihatkan kondisi-kondisi tersebut. Sebagai tambahan, kelenjar minor harus
diambil dari bagian bibir yang dilapisi mukosa normal karena perubahan-perubahan
inflamasi dapat terlihat pada kelenjar-kelenjar minor di bawah mukosa yang abnormal.
Sialografi pada umumnya akanmemperlihatkan sialektasis, walaupun basil positif palsu
dapat terjadi bila teknik injeksi manual digunakan untuk media kontras daripada metode
fisiologis.

Pengobatan

Pengobatan terhadap komponen oral dan sindrom Sjorgen terutama terdiri atas
usaha meredakan simtom xerostomia, menghilangkan infeksi Candida, serta mencegah
timbulnya karies gigi dan penyakit periodontal.

Biopsi yang dilakukan pada kelenjar parotis penderita sindrom Sjorgen, yang
dahulu dilaporkan sebagai lesi limfoepitelial jinak dan yang sekarang oleh sebagian ahli
disebut sebagai sialadenitis mioepitelial, dapat berkembang menjadi limfoma sel-B.
Perubahan status menjadi limfomatosa diikuti penurunan titer sirkulasi auto-antibodi dan
oleh karenaitu titer serial sangat membantu.

b. Xerostomia

Banyak pasien mengeluh mulutnya kering, walaupun kelenjar saliva mereka


berfungsi dengan normal. Xerostomia sejati dapat disebabkan oleh penyakit kelenjar
saliva primer atau manifestasi sekunder dari suatu kelainan sistemik atau terapi obat.
Penyakit kelenjar saliva primer meliputi sindrom Sjorgen, kerusakan pascaradiasi atau
anomali pertumbuhan. Penyebab sistemik sekunder dari xerostomia meliputi kegelisahan
kronis, dehiderasi atau terapi obat

Diagnosis

Konfirmasi adanya penurunan dalam produksi saliva didasarkan atas pemeriksaan


klinis dan pengukuran kecepatan aliran saliva.

Pengobatan

Penderita xerostomia akan mengeluhkan beberapa simtom, khususnya kesulitan


dalam berbicara atau menelan, retensi geligi tiruan yang buruk serta keadaan mulut yang
tidak menyenangkan. Beberapa pengganti saliva, baik metil sellulosa atau mucin, dapat
memperbaiki efek berkurangnya saliva. Sialogues, seperti gliserin dan preparat lemon,
hanya boleh diberikan pada pasien yang tak bergigi karena penggunaan yang terlalu
sering dapat menimbulkan karies gigi pada pasien yang masih bergigi. Pembersihan gigi
yang teliti dan pemberian zat-zat preventif seperti terapi fluoride secara topikal harus
diberikan karena berkurangnya saliva merupakan faktor predisposisi pada penambahan
insidenskaries, penyakit periodontal, dan infeksi oral, terutama kandidosis. Nasihat
mengenai giziharus diberikan, terutama mengenai pembatasan konsumsi gula.

5. Bertambahnya Salivasi

a. Sialorhoea

Peningkatan salivasi (sialorhoea, prialisme) merupakan keluhan yang tidak umum


dibandingkan dengan kekeringan mulut. Periode Sementara dan berlebihnya saliva dapat
terjadi sehubungan dengan kondisi ulserasi oral yang menyakitkan, seperti
gingivostomatitis herpetik atau ulserasi oral yang sering kambuh. ini mungkin
merupakan keluhan pasien yang menggunakan gigi palsu atau alat-alat ortodonsi untuk
pertama kalinya. Menetesnya air liur (drooling) merupakan masalah yang sudah umum
diketahui pada penderita kelainan saraf, terutama keterbelakangan mental, penyakit
Parkinson, schizoprenia, dan epilepsi. Penyebab kenaikan salivasi yang lebih jarang
meliputi keracunan merkuri, akarodinia, rabies, serta terapi obat.

Diagnosis

Pada penderita-penderita sehat tanpa faktor predisposisi yang jelas, keluhan


'mengalirnya air liur dan mulut' atau 'membasahi bantal pada malam hari' mungkin
merupakan indikasi adanya faktor psikologis. Dalam situasi demikian, dibutuhkan
pengobatan psikologis.

Pengobatan

Tidak ada pengobatan khusus bagi sialorhoea. Meskipun demikian, penanganan


penyakit psikologis yang melatarbelakanginya biasanya mengarah kepada kesembuhan
simtomatis.

b. Sialosis

Sialosis didefinisikan sebagai pembengkakan non-inflamasi dan non-neoplastik


dari kelenjar saliva. Paling sering mengenai kelenjar parotis biasanya bilateral, tapi
kadang-kadang juga mengenai kelenjar submandibularis dan sublingualis. Penyebab
pembengkakan belum diketahui dengan jelas, walaupun dihubungkan dengan sejumlah
penyakit sistemik, terutama diabetes melitus, akromegali, alkoholisme, malnutrisi,
bulimianervosa dan anoreksia nervosa. Sialosis Juga digambarkan sebagai efek samping
sejumlah obat-obatan.

Diagnosa

Pemeriksaan pada penderita sialosis harus melibatkan penentuan kadar gula darah
plasma vena, hormon pertumbuhan, serta tes fungsi hati. Latar belakang terapi obat harus
diperiksa. Erosi palatal pada gigi-gigi anterior atas merupakan indikasi anoreksia nervosa
atau bulimia nervosa.
Pengobatan

Bila faktor etiologi potensial terdeteksi maka tindakan korektif biasanya


mengurangi pembengkakan kelenja. Tetapi, pada beberapa pasien penyebab
pembengkakan kelenjar saliva yang persisten tidak ditemukan. Dalam kasus-kasus
demikian kemungkinan adanya kondisi-kondisi yang tidak umum, seperti sarkoidosis,
infiltrat leukemia dan adenolimfotria tidak boleh diabaikan.

6. Neoplasma

Neoplasma jarang sekali tumbuh di kelenjar ludah, yaitu kira-kira 3% dari semua
neoplasma. Meskipun demikian, neoplasma yang terjadi di dalam rongga mulut terletak
pada urutan kedua setelah karsinoma sel skuamosa yang timbul pada mukosa. Dikenal
banyak sekali tipe tumor atau neoplasma, baik yang jinak maupun yang ganas. Kelenjar
parotis sepuluh kali lebih sering diserang adenoma pleomorfik daripada kelenjar-keleniar
lain, kira-kira 75% dan semua neoplasma yang menyerang daerah ini.

Walaupun jarang, neoplasma yang terjadi pada kelenjar minor lebih


mengkhawatirkan karena kira-kira 50% dan semua lesi pada daerah ini tengolong ganas.

Diagnosis

Neoplasma pada kelenjar ludah minor biasanya timbul sebagai benjolan yang tidak
sakit atau sebagai daerah ulserasi yang terdapat di daerah langit-langit atau bibir.
Untunglah, lesi-lesi pada daerah ini biasanya relatif kecil dan dapat dibiopsi untuk
mengkonfirmasi diagnosa. Neoplasma yang timbul di kelenjar parotis, submandibularis
atau sublingualis terlihat sebagai benjolan progresif yang cepat membesar. Adanya palsi
saraf selain benjolan pada kelenjar parotis menunjukkan adanya keganasan. Sebagai
tambahan, rasa sakit yang persisten pada kelenjar ludah, sebuah keluhan klinis yang tidak
sering harus dicurigai karena neoplasma sekecil apapun dapat menimbulkan ketidak-
nyamanan. Neoplasma kelenjar ludah mayor dapat diperiksa secara lebih mendetail
sebelum operasi dilakukan dengan menggunakan sialografi. CT-sialografi atau gambar
resonansi magnetik. Teknik semacam ini tidak hanya menentukan adanya lesi yang
memakan tempat tetapi juga menunjukkan sumber/asal serta luasnya. Oleh karena it,
pendekatan pra-operatif jenis ini menjadi rutin dilakukan di pusat-pusat yang terlibat
dalam penatalaksanaan penyakit kelenjar saliva.

Kondisi sialometaplasia nekrotisasi dapat menimbulkan masalah diagnostik pada


waktu mempertimbangkan adanya tumor kelenjar ludah minor, terutama di palatum,
karenatumor ini dapat sangat mirip dengan karsinoma sel skuamosa baik secara klinis
maupun histologis. Sialometaplasia nekrotisasi tidak diketahui penyebabnya walaupun
trauma yang mendahuluinya, termasuk pengobatan gigi, mfeksi dan iskemia, dipercaya
sebagai faktor-faktor penting. Walaupun pada awalnya cukup mengkhawatirkan, lesi ini
akan membatasi diri dan akan sembuh dalam 7-10 hari.

Pengobatan

Pembedahan merupakan tindakan pilihan untuk neoplasma kelenjar saliva pada


daerah mana saja karena lesi radioresisten. Radioterapi harus dipertimbangkan sebagai
tindakan paliatif dalam pengobatan ketimbang sebagai tindakan kuratif. Sekalipun
neoplasma itu jinak, eksisi secara menyeluruh tetap dianjurkan karena setiap sisa lesi
dapat membesar sehingga menimbulkan risiko untuk berubah menjadi suatu keganasan
(karsinoma mantan adenoma pleomorfik pada kelenjar saliva).Sebagaimana halnya
dengan neoplasma, pasien dengan lesi kelenjar saliva membutuhkan tindak lanjut yang
lama untuk mcncegah agar tidak kambuh.