Anda di halaman 1dari 39

F1

1. PENYULUHAN HIPERTENSI PADA PROLANIS (F1)


16/02/2019
Latar Belakang
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang memberikan gejala berlanjut pada
salah satu organ target di tubuh. Hal ini dapat menyebabkan penyakit yang lebib berat, misal
nya stroke (terjadi pada otak yang menyebabkan kematian yang cukup tinggi), penyakit
jantung koroner. Hipertensi juga dapat menyebabkan penyakit gagal ginjal, penyakit
pembuluh lain dan penyakit lainnya.
Di dunia diperkirakan 7,5 juta kematian di sebabkan oleh hipertensi, pada tahun 1980
di temukan sekitar 600 juta penderita hipertensi dan mengalami peningkatan sebanyak 2
miliar pada tahun 2008. Hasil riset WHO pada tahun 2007 hipertensi menjadi peringkat 3
sebagai penyebab kematian diseluruh dunia.
Hipertensi pada umum nya terjadi pada usia lebih dari 40 tahun dan hipertensi pada
umum nya tidak mempunyai gejala serius sehingga sering tidak di sadari oleh penderitanya

Masalah
Kurang nya kesadaran penderita hipertensi terhadap penyakit nya sehingga kurang nya
keinginan untuk memeriksakan diri secara berkala ke puskesmas atau ke tempat pelayanan
kesehatan terdekat untuk berobat

Intervensi
Melakukan penyuluhan terutama pada usia lanjut (lansia) merupakan salah satu metode yang
di gagas oleh kementerian kesehatan untuk memberantas penyakit tidak menular yang salah
satu nya hipertensi. Pemberian obat obatan teratur untuk penderita hipertensi juga salah satu
intervensi yang dilakukan mencegah penyakit ini ke tahap yang lebih serius.

Pelaksanaan
Penyuluhan mengenai penyakit Hipertensi ini dilakukan di ruang pertemuan Puskesmas Koto
Katik dalam program Prolanis yang dilaksanakan pada tanggal 16 Februari 2019 dimulai
pukul 10.00 WIB – selesai.

Monev
 kegiatan berjalan dengan lancer, tepat waktu, dihadiri oleh masyarakat, petugas
puskesmas, dan PIDI.
 Perhatian masyarakat terhadap kegiatan penyuluhan cukup baik dan masyarakat
cukup antusias dalam partisipasi kegiatan.
 Diharapkan dengan adanya penyuluhan ini masyarakat khususnya para lansia lebih
memahami dan berpartisipasi dalam pencegahan penyakit dan pengobatan penyakit.

2. UKS (F1)
18/02/2019
Latar belakang
UKS merupakan saluran utama pendidikan kesehatan yang ada di sekolah untuk
meningkatkan kemampuan hidup sehat dan selanjutnya membentuk perilaku hidup sehat,
yang nantinya akan menghasilkan kesehatan peserta didik secara optimal. Program UKS
adalah program pemerintah yang wajib ada dan dilaksanakan di sekolah dalam pelayan dan
pendidikan 2 kesehatan atau kebiasaan hidup sehat di sekolah dan diterapkan di lingkungan
sekitar. UKS wajib dilaksanakan pada semua tingkatan pendidikan, baik sekolah negeri
maupun swasta mulai dari tingkat SD hingga SMA.
Penyelenggaraan program kesehatan yang baik dapat menghasilkan anak didik yang
berkualitas. Peningkatan kualitas manusia Indonesia memerlukan berbagai upaya yang
diantaranya melalui upaya pendidikan dan kesehatan yang baik di sekolah maupun luar
sekolah. UKS adalah saluran utama untuk pendidikan kesehatan, diharapkan bukan hanya
masyarakat sekolah saja yang menjalankan hidup sehat, tetapi masyarakat sekitar juga akan
menjalankan hidup sehat. Tujuan dari pelayanan kesehatan di sekolah adalah mengikuti
pertumbuhan dan perkembangan anak didik, mengetahui gangguan/kelainan kesehatan sedini
mungkin, pencegahan penyakit menular, pengobatan secepat-cepatnya dan rehabilitasi.
Diharapkan sarana dan prasarana yang lengkap serta penanganan dalam UKS yang optimal
dapat membantu anak dalam membentuk kebiasaan hidup yang sehat baik untuk dirinya
sendiri atau untuk lingkungan sekitar. Berdasarkan pemaparan di atas sudah dapat diketahui
bahwa pendidikan kesehatan melalui UKS adalah sangat penting dan harus digalakkan.

Masalah
Secara epidemiologis penyebaran penyakit berbasis lingkungan di kalangan anak usia sekolah
di Indonesia masih tinggi. Populasi kelompok anak usia sekolah (7-18 tahun) merupakan
komponen yang cukup penting dalam masyarakat, sepertiga dari total populasi Indonesia,
diantaranya + 46 juta jiwa merupakan anak usia sekolah. Oleh sebab itu, upaya pemeliharaan
dan peningkatan kesehatan yang ditujukan kepada anak usia sekolah merupakan salah satu
mata rantai yang penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Intervensi
- Melakukan penyuluhan kesehatan pada anak-anak usia sekolah (7-18 tahun)
- Melakukan skrining kesehatan pada anak-anak usia sekolah (7-18 tahun)
Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan di SMAN 2 Padang Panjang pada kelas XI IPA 1,2,3,4 dan kelas IPS
1,2,3, dimana masing-masing kelas terdiri dari 35 siswa/i. Kegiatan dimulai pukul 09.00 –
selesai. Pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh petugas puskesmas dan peserta PIDI.
- penyuluhan kesehatan untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat, kebersihan perorangan
dan lingkungan
- pemeriksaan kesehatan telinga
- pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut
- pemeriksaan kesehatan mata
- memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat, kesehatan jasmani, serta tingginya risiko
anemia pada remaja putri
Monev
- Pelaksanaan kegiatan UKS berjalan lancar
- proses perizinan kegiatan di sekolah mudah dan pihak sekolah mendukung kegiatan
ini
- partisipasi siswa/i sangat baik selama kegiatan berlangsung
- siswa/i cukup kooperatif selama pemeriksaan kesehatan
- Kegiatan UKS ini sudah dilaksanakan secara berkala

3. PENYULUHAN ARTRITIS GOUT PADA PROLANIS (F1)


16/03/2019
Latar Belakang
Artritis gout merupakan salah satu penyakit metabolisme yang sebagian
besar biasanya terjadi pada laki-laki usia paruh baya sampai lanjut dan perempuan
dalam masa post-menopause. Penyakit metabolik ini disebabkan oleh penumpukan
monosodium urate monohydrate crystals pada sendi dan jaringan ikat tophi.
Berdasarkan onsetnya, artritis gout dibagi menjadi dua, yaitu episode akut dan
kronik. Secara epidemiologi, variasi prevalensi dipengaruhi oleh lingkungan, pola
makan, dan pengaruh genetik.

Secara epidemiologi artritis gout lebih banyak dijumpai pada laki-laki


dibandingkan perempuan. Estimasi prevalensi menyatakan bahwa sebesar 5,9%
artritis gout terjadi pada laki-laki dan 2% terjadi pada perempuan. Pada laki-laki
kadar asam urat meningkat pada masa pubertas, dan puncak onset artritis gout
pada decade keempat hingga keenam masa kehidupan. Namun artritis gout pada
laki-laki juga dapat terjadi lebih awal jika mereka memiliki predisposisi genetic
dan memiliki faktor resiko. Sedangkan pada wanita, kadar asam urat meningkat
pada saat menopause, dan puncak onsetnya pada dekade keenam hingga kedelapan
masa kehidupan. Penelitian mengatakan bahwa orang yang berumur diantara 70-
79 tahun memiliki resiko 5 kali besar dibandingkan dengan yang berusia dibawah
5 tahun. Prevalensi gout tertinggi pada kalangan lanjut usia dikaitkan dengan
insufisiensi renal atau gangguan metabolisme purin.

Masalah
 Kurangnya pengetahuan masyarakat khusus nya para lansia tentang penyakit arthritis
gout atau asam urat
 Masih banyaknya masyarakat khusus nya para lansia yang belum bisa membedakan
dan mengenali tanda tanda penyakit arthritis gout dengan penyakit reumatik lainnya
 Kurangnya kesadaran masyarakat khusus nya para lansia penderita penyakit arthritis
gout untuk melakukan screening berkala serta kurangnya kesadara penderita untuk
menjaga pola makan dan gaya hidup guna mengurangi perburukan penyakit.

Intervensi
Melakukan penyuluhan pada para masyarakat khusus lansia mengenai
penyakit arthritis gout ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan
pengetahuan masyarakat serta merupakan upaya memberdayakan masyarakat untuk
andil dalam pencegahan munculnya angka penyakit baru dan pencegahan perburukan
penyakit bagi penderita.

Pelaksanaan
Penyuluhan mengenai penyakit artritis gout ini dilakukan di ruang pertemuan
Puskesmas Koto Katik dalam program Prolanis yang dilaksanakan pada tanggal 16 Maret
2019 dimulai pukul 10.00 WIB – selesai.

Monev
 Kegiatan berjalan dengan lancer, tepat waktu, dihadiri oleh masyarakat, petugas
puskesmas, dan PIDI.
 Perhatian masyarakat terhadap kegiatan penyuluhan cukup baik dan masyarakat
cukup antusias dalam partisipasi kegiatan.
 Diharapkan dengan adanya penyuluhan ini masyarakat khususnya para lansia lebih
memahami dan berpartisipasi dalam pencegahan penyakit dan pengobatan penyakit.

4. MENCUCI TANGAN SEBELUM DAN SETALAH MAKAN (F1)


18/03/2019
Latar Belakang
PHBS di Sekolah merupakan langkah untuk memberdayakan siswa,guru dan
masyarakat lingkungan sekolah agar bisa dan mau melakukan perilaku hidup bersih dan sehat
dalam menciptakan sekolah yang sehat. Salah satu indikator PHBS di sekolah adalah
mencuci tangan sebelum dan setelah makan.
Perilaku hygiene seperti mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air bersih
yang tepat sebagai cara yang efektif untuk mencegah penyebaran berbagai penyakit menular
seperti penyakit diare dan ispa.

Masalah
Pada siswa sekolah dasar (SD), masalah kesehatan yang dihadapi terkait dengan
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang belum diterapkan dengan baik, sehingga
menimbulkan permasalahan kesehatan, seperti masalah cacingan, diare dan saluran
pernafasan akut (ISPA). Menurut data dari Departemen Kesehatan menyebutkan bahwa
diantara 1000 penduduk terdapat 300 orang yang terjangkit penyakit diare sepanjang tahun
dan berdasarkan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) setiap tahunnya
ada 100.000 anak di Indonesia meninggal akibat diare.

Intervensi
- Penyuluhan tentang pentingnya mencuci tangan sebelum dan setelah makan
- Memberikan contoh mencuci tangan yang benar, dan langsusng dipraktekan oleh
siswa-siswi

Pelaksanaan
Penyuluhan tentang manfaat dan cara mencuci tangan yang benar di SDN 14 Koto Katik
dimulai pukul 10.00 - selesai. Jumlah anak yang diberikan penyuluhan sekitar 30 orang.

Monev
- Pemberian informasi tentang manfaat dan cara mencuci tangan yang benar berjalan
dengan baik.
- Partisipasi siswa-siswi cukup baik

5. PENYULUHAN DIABETES MELITUS (F1)


20/04/2019
Latar Belakang
Hiperglikemia adalah suatu kondisi medik berupa peningkatan kadar glukosa dalam darah
melebihi batas normal. Hiperglikemia merupakan salah satu tanda khas penyakit diabetes
mellitus (DM), meskipun juga mungkin didapatkan pada beberapa keadaan yang lain. Saat ini
penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insidensi
dan prevalensi DM tipe-2 di berbagai penjuru dunia.

Masalah
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang DM
yang menjadi salah satu ancaman kesehatan global. WHO memprediksi kenaikan jumlah
penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada
tahun 2030. Laporan ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyandang DM sebanyak
2-3 kali lipat pada tahun 2035. Sedangkan International Diabetes Federation (IDF)
memprediksi adanya kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 9,1 juta pada tahun
2014 menjadi 14,1 juta pada tahun 2035.
Data-data diatas menunjukkan bahwa jumlah penyandang DM di Indonesia sangat besar.
Dengan kemungkinan terjadi peningkatan jumlah penyandang DM di masa mendatang akan
menjadi beban yang sangat berat untuk dapat ditangani sendiri oleh dokter
spesialis/subspesialis atau bahkan oleh semua tenaga kesehatan yang ada. Penyakit DM
sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia dan berdampak pada peningkatan
biaya kesehatan yang cukup besar.

Intervensi
Baik masyarakat maupun pemerintah, seharusnya ikut serta secara aktif dalam usaha
penanggulangan DM, khususnya dalam upaya pencegahan. Salah satu upaya pencegahan
adalah berupa penyuluhan tentang penyakit diabetes mellitus.

Pelaksanaan
Penyuluhan Diabetes mellitus ini dilakukan di ruang pertemuan Puskesmas Koto Katik dalam
program prolanis pada tanggal 20 April 2019. Kegiatan dimulai pukul 09.00 – selesai.

Monev
 kegiatan berjalan dengan lancer, tepat waktu, dihadiri oleh masyarakat, petugas
puskesmas, dan PIDI.
 Perhatian masyarakat terhadap kegiatan penyuluhan cukup baik dan masyarakat
cukup antusias dalam partisipasi kegiatan.
 Diharapkan dengan adanya penyuluhan ini masyarakat khususnya para lansia lebih
memahami dan berpartisipasi dalam pencegahan penyakit dan pengobatan penyakit.

6. TOSS TB (F1)
F2

1. PEMERIKSAAN KASUS SKABIES PADA ASRAMA (F2)


07/03/2019
Latar Belakang
Skabies adalah penyakit kulit akibat infestasi dan sensitisasi oleh tungau Sarcoptes
scabiei varietas hominis. Bagian tubuh yang terserang adalah bagian kulit yang tipis dan
lembab, contohnya lipatan kulit. Skabies ini tidak membahayakan manusia namun adanya
rasa gatal pada malam hari ini merupakan gejala utama yang mengganggu aktivitas dan
produktivitas. Skabies cenderung tinggi pada anak- anak usia sekolah, remaja bahkan orang
dewasa. Penyakit kulit skabies merupakan penyakit yang mudah menular. Penyakit ini dapat
ditularkan secara langsung (kontak kulit dengan kulit) misalnya berjabat tangan, tidur
bersama, dan melalui hubungan seksual. Penularan secara tidak langsung (melalui benda),
misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dan selimut.

Diperkirakan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia terkena skabies. Prevalensi
cenderung lebih tinggi di daerah perkotaan terutama di daerah yang padat penduduk. Skabies
mengenai semua kelas sosial ekonomi, perempuan dan anak-anak mengalami prevalensi lebih
tinggi. Prevalensi meningkat di daerah perkotaan dan padat penduduk.

Masalah
Di Indonesia pada tahun 2011 jumlah penderita skabies sebesar 6.915.135 (2,9%) dari
jumlah penduduk 238.452.952 jiwa. Jumlah ini meningkat pada tahun 2012 yang jumlah
penderita skabies sebesar 3,6 %dari jumlah penduduk. Pada tawal tahun 2019 didapatkan
laoran kasus skabies pada sekelompok pelajar asrama di salah satu pesantren yang masuk
kedalam wilayah kerja Puskesmas Koto Katik.

Intervensi
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan tersebut perlu dilakukan pengecekan
pada asrama – asrama pesantren di wilayah kerja Puskesmas Koto Katik untuk melakukan
upaya kuratif dan rehabilitatif terhadap kejadian skabies tersebut dan promotif untuk
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat.
Pelaksanaan
Kegiatan ini berupa kunjungan ke Asrama SMA Muhammadiah Padang Panjang di wilayah
kerja Puskesmas Koto Katik pada tanggal 9 Maret 2019.
Kegiatan dimulai dengan melakukan pengecekan terhadap kamar – kamar asrama para santri,
wawancara terhadap beberapa santri yang terkena penyakit rabies, lalu diakhiri dengan
penyuluhan mengenai penyakit skabies dan prilaku apa yang harus dilakukan pernderita
untuk membantu penyembuhan dan memutus penularan penyakit skabies.
Monev
- Perizinan pengecekan dengan pihak sekolah cukup baik dan mendukung pelaksanaan
kegiatan
- Masih kurangnya kesadaran berprilaku hidup bersih dan sehat para santri terlihat dari
konsisi kamar, kamar mandi, dan pengelolaan pakaian pakaian kotor santri.
- Banyak santri yang menderita penyakit skabies dan tidak berobat
- Para santri kooperatif dalam mendengarkan penyuluhan dan mau melakukan
pengobatan dan pemutusan penularan penyakit skabies.

2. SURVEY KANTIN SEKOLAH (F2)


13/03/2019
Latar Belakang
Anak-anak dan jajanan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Anak-anak pada
umumnya akan membeli aneka jajan terutama saat mereka sedang istirahat di sekolah. Hal
tersebut terjadi karena jarangnya orang tua memberi bekal jajanan atau makanan dari rumah
dan lebih memilih memberikan uang saku pada anak dengan menyerahkan sepenuhnya pada
anak untuk memilih dan membeli makanan yang mereka sukai. Mereka tidak mempedulikan
bahaya makanan jajanan bagi kesehatan karena tidak jarang ditemukan adanya bahan
pengawet makanan seperti formalin dan boraks yang dapat mengancam jiwa. Jajanan
memegang peranan yang cukup penting dalam memberikan asupan energi dan gizi bagi anak
khususnya usia sekolah. Akan tetapi, tingkat keamanan jajanan sekarang ini cukup
memprihatinkan. Oleh karena itu jajanan yang dikonsumsi anak perlu menjadi perhatian
khusus bagi orang tua.
Penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan di Jakarta menemukan kenyataan
bahwa dari 800 pedagang yang berjualan di 12 sekolah, 340 menjual jajanan yang
mengandung zat kimia berbahaya. Pada tahun 2007, POM melakukan survey kembali dengan
melibatkan 4.500 sekolah di indonesia dan membuktikan bahwa 45% jajanan anak
berbahaya. Banyaknya makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya di pasaran,
kantin-kantin sekolah dan penjaja makanan di sekitar sekolah merupakan agen penting yang
bisa membuat siswa mengkonsumsi makanan tidak sehat. Data Kejadian Luar Biasa (KLB)
keracunan pangan yang dihimpun oleh Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan
Pangan - BPOM RI dari Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia pada tahun 2008-2010
menunjukkan bahwa 17,26-25,15% kasus terjadi di lingkungan sekolah dengan kelompok
tertinggi siswa sekolah dasar. Beberapa hasil penelitian menemukan bahwa banyak jajanan
anak sekolah ternyata tercemar bakteri dan cemaran kimiawi. Sebuah penelitian di Bogor
menunjukkan bahwa 25% – 50% sampel minuman yang dijual di kaki lima tercemar oleh
bakteri Salmonella paratyphi A. Sedangkan cemaran kimiawi yang umum ditemukan pada
makanan jajanan anak sekolah adalah penggunaan bahan yang tidak boleh ditambahkan pada
pangan seperti boraks, formalin, rhodamin B dan methanil yellow.

Masalah

- Berdasarkan data yang diperoleh Badan POM, sekolah dasar merupakan tempat kedua
setelah rumah tangga yang menjadi tempat kejadian keracunan. Keracunan yang
terjadi pada sekolah dasar, sebagian besar disebabkan oleh jajanan (BPOM, 2011).

- Penyakit yang dapat ditularkan melalui makanan atau yang biasa disebut dengan
foodborne diseases, dapat digolongkan menjadi dua yaitu food infection dan food
poisoning.

- Kondisi sanitasi dan higiene yang masih rendah, penggunaan bahan kimia berbahaya
secara ilegal, adanya kandungan cemaran mikroba dan kimia, serta penambahan
bahan tambahan pangan yang melebihi ambang batas pada makanan jajanan anak
sekolah akan sangat membahayakan kesehatan jutaan anak-anak sekolah.

Intervensi

- Pemeriksaan kebersihan penjamah makanan

- Pemeriksaan peralatan masak dan pencucian alat masak

- Pemeriksaan higiene dan sanitasi kantin dan lingkungan kantin (air bersih, sampah,
limbah, tikus, ventilasi, dan pencahayaan kantin)
Pelaksanaan
Kegiatan inspeksi kantin sekolah dilaksanakan di beberapa sekolah dasar di wilayah
kerja Puskesmas Koto Katik, yaitu SDN 14 KTP, SDN 18 KTP, SDN 02 TPL, SDIT Ma’arif
menggunakan form penilaian dan metode interview kepada pemilik kantin

Monev

- Dari beberapa kantin yang diperiksa didapatkan penjamah kantin yang memiliki kuku
panjang sehingga mempengaruhi higienitas.
- Ada beberapa kantin yang lokasi tempat sampahnya berada didekat makanan.

- Masih ada kantin yang membiarkan makanan tidak tertutup sehingga debu atau lalat
bisa menempel pada makanan.

- Diharapkan kepada pihak sekolah agar lebih mengawasi keamanan dan kesehatan
makanan di kantin.

3. PEMERIKSAAN DEPOT AIR MINUM (F2)


14/03/2019
Latar Belakang
Salah satu risiko terbesar dalam kesehatan masyarakat adalah air minum yang telah
terkontaminasi oleh tinja manusia. Penyebab infeksi penyakit paling umum yang
disebarluaskan oleh air minum yakni bakteri patogen, virus dan parasit. Beban kesehatan
masyarakat ditentukan oleh tingkat keparahan dan kejadian dari penyakit yang terkait dengan
patogen, infeksitivitas dan keterpaparan penduduk dimana populasi yang rentan dapat
menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Masalah
Air minum yang terkontaminasi merupakan penyumbang utama untuk masalah penyakit diare
pada anak di seluruh dunia. Diare tercatat mengakibatkan 1,7 juta kematian, dari kematian
tersebut hampir semua terjadi pada anak-anak dan di negara berkembang (Ashbolt 2004).
Pada tahun 2012, diare tercatat mengakibatkan 2,5 juta kematian per tahun di seluruh dunia,
untuk itu dilakukan pengujian kualitas air menggunakan indikator mikroba yakni Escherichia
Coli, Enterococci dan Somatic Coliphage untuk mendeteksi sekaligus mengendalikan
penyakit infeksi akibat air minum dan hasilnya menunjukkan bahwa hanya bakteri
Escherichia Coli yang cocok dijadikan indikator kualitas air minum

Intervensi
- Pemeriksaan berkala depot air minum 6 bulan sekali

Pelaksanaan
- Pemeriksaan dilakukan di Depot Air Minum Rezka, Depot Air Minum Rizky Fresh,
Depot Air Minum Berkah Water, pemeriksaan meliputi mengenai pengecekan higiene
dan sanitasi lingkungan meliputi ruangan kerja, fasilitas yang dipakai, badan dan
pakaian pekerja, serta lingkungan sekitar depot.

Monev
- Dari ketiga depot air yang diperiksa didapatkan 1 depot yang kurang memenuhi
standard higiene dan sanitasi
- Pemilik depot cukup kooperatif selama proses pemeriksaan.

4. Rumah sehat (F2)


14/03/2019
Latar belakang

Kesehatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan


masyarakat. Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 faktor utama, yaitu faktor
lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Faktor yang terbesar dan sangat
mempengaruhi kesehatan adalah faktor lingkungan. Upaya kesehatan lingkungan sebagai bentuk
kegiatan preventif ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik fisik, kimia,
biologi, maupun sosial yang memungkinkan setiap individu atau masyarakat dapat mencapai
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan).
Perbaikan sanitasi lingkungan dapat dilakukan dengan cara menerapkan sanitasi pada
lingkungan sekitar tempat tinggal. Rumah merupakan tempat dimana sebagian besar waktu
manusia dihabiskan di sana. Di dalam rumah dimungkinkan dapat terjadi masalah-masalah
kesehatan, antara lain pencemaran lingkungan, penularan penyakit, dan gangguan kesehatan
lainnya. Maka dari itu, sanitasi rumah perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan penghuni rumah,
serta orang yang datang atau berkunjung ke rumah tersebut.
Kondisi sanitasi rumah dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor sosial, faktor
ekonomi, faktor pendidikan, faktor pengetahuan, serta faktor sikap dan perilaku anggota keluarga.
Faktor-faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap kondisi rumah dan menentukan apakah rumah
tersebut memenuhi syarat kesehatan atau tidak memenuhi syarat kesehatan.
Masalah
Masih banyak rumah yang belum memenuhi kriteria sehat sehingga dapat menimbulkan
berbagai macam gangguan kesehatan dan penyakit seperti Diare, TBC, ISPA, penyakit kulit, dan lain-
lain.
Intervensi
Masih banyak rumah-rumah yang belum memenuhi kriteria rumah sehat sehingga dibutuhkan
informasi berupa pengertian dan kriteria rumah sehat kepada masyarakat. Selain itu, diperlukan juga
kunjungan rumah untuk memantau apakah rumah yang dikunjungi sudah/belum termasuk dalam
kriteria rumah sehat
Pelaksanaan
Pemantauan keadaan rumah dilakukan pada tanggal 14 maret 2019, di rumah Ny. Nurcaya
yang beralamat , Koto Katik.

Hasil dari pemantauan rumah Ny. Nurcaya sebagai berikut:

Ny. Nurcaya berumur 78 tahun, status perkawinan janda, dan sudah tidak bekerja. Ny.
Nurcaya tinggal berdua bersama anak perempuannya yang bekerja sebagai koki catering di
salah satu sekolah asrama Padang Panjang.
Ny. Nurcaya dan keluarga tinggal di rumah milik sendiri, yaitu rumah semi permanen
satu lantai, luas 10x5 meter2, terdiri dari 2 kamar, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi.
Lantai rumah semen, dinding rumah sebagian semen dan sebagian lagi triplek, dicat.
Penerangan di dalam rumah ada, jendela rumah ada namun minimal, ventilasi ada, listrik ada,
sumber air dari mata air, air minum dimasak. Kamar mandi di dalam rumah, jamban di
dalam kamar mandi, limbah dibuang ke septic tank. Rumah tidak memiliki halaman, jarak
antar rumah berdekatan, dan pencahayaan matahari yang masuk ke rumah minimal.

Monev

Setelah dilakukan pemantauan pada rumah Ny. Nurcaya didapatkan: sirkulasi udara
yang lancar, penerangan sinar matahari ke rumah kurang memadai, air yang bersih,
pembuangan limbah yang terkontrol.
F3

1. PENANGGULANGAN KEKURANGAN VITAMIN A (F3)


14/02/2019
Latar Belakang
vitamin A adalah zat gizi yang paling essensial, hal itu dikarenakan konsumsi
makanan kita belum mencukupi dan masih rendah sehingga harus dipenuhi dari luar.
kekurangan vitamin A akan meningkatkan kesakitan dan kematian, mudah terserang penyakit
infeksi seperti diare, radang paru-paru seperti pneumonia dan akhirnya kematian. Akibat lain
yang paling serius dari kekurangan vitamin A adalah rabun senja yaitu bentuk lain dari
xeroftalmia termasuk kerusakan kornea mata dan kebutaan. Vitamin A bermanfaat untuk
menurunkan angka kesakitan dan kematian, karena vitamin A dapat meningkatkan daya tahan
tubuh terhadap penyakit infeksi seperti campak, diare, dan ISPA. Kelompok umur yang
terutama mudah mengalami kekurangan vitamin A adalah kelompok bayi usia 6-11 bulan dan
kelompok anak balita usia 12-59 bulan (1-5 tahun).
Strategi penanggulangan kekurangan vitamin A masih bertumpu dengan cara
pemberian kapsul vitamin A 1000.000 SI diberikan sebanyak satu kali pada bulan februari
atau agustus, balita kapsul merah yang mengandung vitamin A 200.000 SI diberikan setiap
bulan Februari dan Agustus (Depkes, 2009).
Pada balita vitamin A sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang dan gigi yang
kuat, untuk penglihatan normal, membantu memelihara kulit yang sehat dan mencegah
lapisan mulut, hidung, paru-paru dan saluran kencing dari kuman penyakit. Vitamin A juga
diberikan pada balita berfungsi untuk mengatur sistem kekebalan badan tubuh.
Menurut UNICEF (2013), bahwa kekurangan vitamin A dalam makanan sehari hari
menyebabkan setiap tahunnya sekitar 1juta anak balita diseluruh dunia menderita penyakit
mata tingkat berat seperempat diantaranya m,enjadi buta dan 60% dari yang buta akan
meninggal dalam bebrapa bulan.
Bukti menunjukkan peranan vitamin A dalam menurunkan angka kematian yaitu 30-
54%, maka selain untuk mencegah kebutaan pentingnya vitamin A saat ini lebih dikaitkan
dengan kelangsungan hidup, kesehatan, dan pertumbuhan anak
strategi penanggulangan kekurangan vitamin A bertumpu dengan cara pemberian
kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi (6-11 bulan) kapsul biru yang mengandung vitamin A
100.000 SI diberikan sebanyak satu kali pada bulan februari atau Agustus, balita kapsul
merah yang mengandung vitamin A 200.000 SI diberikan setiap bulan Februari dan Agustus.

2. POSYANDU BALITA (F3)


15/03/2019
Latar Belakang
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam
penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan
memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar
untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Upaya pengembangan kualitas
sumberdaya manusia yang mengoptimalkan potensi tumbuh kembang anak dapat
dilaksanakan secara merata apabila sistem pelayanan kesehatan yang berbasis masyarakat
seperti posyandu dapat dilakukan secara efektif dan efisien, dan dapat menjangkau semua
sasaran yang membutuhkan pelayanan, salah satunya adalah layanan tumbuh kembang anak.

Masalah
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk terciptanya kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk, agar dapat mewujudkan derajat kesehatan
yang optimal sebagaimana tercantum pada pasal 3 Undang Undang No. 23 tahun 1992
tentang kesehatan dan Dalam permenkes RI No. 741/menkes/per/VII/2008 tentang standar
pelayanan minimal bidang kesehatan di kabupaten/kota pada bab 2 pasal 2 ayat 2a dijelaskan
bahwa cakupan kunjungan ibu hamil k4 95 % pada tahun 2015, cakupan komplikasi
kebidanan yang ditangani 80 % pada tahun 2015, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan 90 % pada tahun 2015, cakupan pelayanan
nifas 90 % pada tahun 201, cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani 80 % pada
tahun 2010, cakupan kunjungan bayi pada tahun 2010, cakupan desa/kelurahan universal
child immunization 100 % pada tahun 2010, cakupan pelayan anak balita 90 % pada tahun
2010, cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 – 24 bulan 100 % pada
tahun 2010, cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan 100 % pada tahun 2010, cakupan
peserta KB aktif 70 % pada tahun 2010.
Dengan melihat indikator di atas tentu hal ini akan membutuhkan suatu upaya-upaya
yang strategis yang harus segera dilakukan secepatnya. Dan salah satunya adalah
pemberdayaan masyarakat melalui Upaya Kesehatan bersumber Daya Masyarakat (UKBM)
yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam
penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan
memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar
untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi yakni pos pelayanan terpadu
(Posyandu).

Intervensi

- Memberikan penyuluhan tentang pentingnya mengikuti posyandu

- Kader lebih aktif lagi dalam mengajak masyarakat untuk mengikuti Posyandu

- Dilakukan kegiatan jemput bola bagi balita yang tidak datang Posyandu
Pelaksanaan
Kegiatan posyandu balita dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Koto Katik dimulai pukul
11.00 - selesai. Jumlah balita yang datang dalam kegiatan ini adalah sekitar 20 orang.
Kegiatan posyandu balita ini terdiri dari
- Penimbangan tinggi dan berat badan Anak serta pemantauan tumbuh kembang anak
- Memantau dan melakukan pelayanan imunisasi.
- Pengobatan Umum anak
- Pelayanan tambahan seperti memberi edukasi ibu mengenai pemantauan tumbuh
kembang anak

Monev
- Posyandu balita berjalan cukup lancar
- Partisipasi kunjungan peserta cukup baik.

3. KELAS IBU HAMIL (F3)


19/03/2019
Latar Belakang
Program pembangunan kesehatan di Indonesia dewasa ini masih diprioritaskan pada upaya
peningkatan derajat kesehatan Ibu dan Anak, terutama pada kelompok yang paling rentan
kesehatan yaitu ibu hamil, berslain, dan bayi pada masa perinatal. Hal ini ditandai dengan
tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Kelas Ibu Hamil ini
merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk
tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, nifas, KB pasca bersalin, pencegahan
komplikasi perawatan bayi baru lahir, dan aktivitas fisik/senam ibu hamil. Kelas Ibu hamil
adalah kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan umur kehamilan antara 4-36 minggu dengan
jumlah peserta maksimal 10 orang.
Dewasa ini penyuluhan kesehatan ibu dan anak pada umumnya masih banyak dilakukan
konsultasi perorangan atau per kasus, sehingga pengetahuan yang diperoleh hanya terbatas
pada masalah tertentu saja, penyuluhan ayng diberikan tidak terkoordinir, tidak ada
pemantauan dan pembinaan secaralintas sektor serta pelasksanaan penyuluhan tidak
terjadwal. Oleh sebab itu untuk mengatasi kelemahan-kelemahan diatas dibentuklah suatu
pembahasan materi buku KIA dalam bentuk tatap muka kelompok yang diikuti diskusi dan
tukar pengalaman antara ibu-ibu hamil/suami/keluarga dan petugas kesehatan yang disebut
dengan Kelas Ibu Hamil.

Masalah
- Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI), Angk Kematian Neonatus (AKN) dan Angka
Kematian Bayi (AKB) di Indonesia selama kehamilan dan persalinan
- Kurangnya kesadaran masyarakat dalam pemeriksaan kehamilan secara rutin ke pusat
pelayanan kesehatan
- Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai asuhan perawatan pasca bersalin,
nifas, bayi baru lahir dan kesehatan bayi/balita

Intervensi
- Memberikan penyuluhan mengenai kehamilan, persalinan, nifas, KB pasca bersalin,
pencegahan komplikasi perawatan bayi baru lahir, dan aktivitas fisik/senam ibu hamil
- Memberikan motivasi dan dukungan kepada peserta kelas ibu hamil selama
kehamilan dan menghadapi persalinan
- Memberikan edukasi mengenai pentingnya pemeriksaan deteksi dini HIV, hepatitis B,
dan rubela pada awal kehamilan
- Memberikan edukasi kesehatan gigi pada ibu hamil
- Memberikan edukasi kepada anggota keluarga ibu hamil untuk turut serta membantu,
bekerja sama dan memberi dukungan kepada ibu hamil selama kehamilan dan
persalinan

Pelaksanaan
Kegiatan kelas Ibu Hamil dilaksanakan di Poskeskel Koto Katik. Kelas Ibu Hamil ini dihadiri
oleh 7 orang ibu hamil, 1 orang kader, 1 orang bidan kelurahan, 1 orang dokter, 1 orang
bidan, dan 1 orang perawat gigi. Kegiatan dimulai pukul 08.30 – 11.00 WIB.
Agenda kegiatan :
- Pertemuan I : materi kehamilan dan perawatan/kesehatan kehamilan
- Pertemuan II : materi persalinan dan perawatan nifas
- Pertemuan III : Perawatan bayi baru lahir, penyakit menular (pemeriksaan labor)
- Pertemuan IV : Senam Ibu Hamil

Monev
- Kelas Ibu Hamil di Poskeskel Koto Katik sudah terlaksana dengan baik, namun
sasaran ibu hamil disini masih kurang
- Sebaiknya pada pelaksanaan kelas ibu hamil ini dihadiri oleh suami/anggota keluarga
yang lain
- Antusiasme ibu-ibu hamil dalam mengikuti kelas ibu hamil sudah cukup baik, namun
saat diskusi masih banyak ibu-ibu hamil yang tidak aktif
- Diharapkan dengan adanya kelas ibu hamil ini, ibu hamil dan keluarga lebih paham
mengenai kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi

4. SENAM HAMIL (F3)


21/03/19
Latar Belakang
Senam hamil merupakan terapi latihan gerak yang diberikan pada ibu hamil untuk
mempersiapkan dirinya baik fisik maupun mental dalam menghadapi persalinan. Ibu hamil
sangat membutuhkan tubuh yang sehat dan bugar. Oleh karena itu, selain makan secara
teratur, ibu hamil harus cukup istirahat dan berolahraga sesuai dengan kebutuhannya, salah
satu olahraga yang baik untuk ibu hamil adalah senam hamil. Senam hamil sangat diperlukan
oleh setiap ibu hamil, karena senam hamil dapat membuat tubuh yang bugar dan sehat, dan
dapat membuat ibu hamil tetap mampu menjalankan aktivitas sehari–hari, sehingga stres
akibat rasa cemas menjelang persalinan akan dapat diminimalkan.
Padahal senam hamil sangat penting dalam masa kehamilan, karena memperlancar
proses persalinan. Pada sebuah serial penelitian atas 876 pasien hamil di New York yang
melakukan olahraga, Persalinan lebih mudah dikalangan yang melakukan latihan secara
teratur dibandingkan dengan yang hanya latihan sedikit atau yang tidak melakukan latihan
sama sekali. Latihan senam hamil yang dilakukan secara teratur baik ditempat latihan
maupun di rumah dalam waktu senggang dapat menuntun ibu hamil ke arah persalinan yang
fisiologis selama tidak ada keadaan patologis yang menyertai kehamilan. Ibu hamil yang
melakukan senam hamil secara teratur selama masa kehamilannya dilaporkan dapat
memberikan keuntungan pada saat persalinan yaitu pada masa kala aktif (kala II) menjadi
lebih pendek, mencegah terjadinya letak sungsang dan mengurangi terjadinya kejadian sectio
caesaria.

Masalah
Banyak ibu hamil yang tidak melakukan senam hamil dikarenakan ragu-ragu dan takut akan
kehamilannya jika melakukan senam hamil.

Intervensi

- Memberikan informasi tentang senam hamil

- Mengajarkan cara melakukan senam hamil

Pelaksanaan
Kegiatan senam hamil dilaksanakan di Poskeskel Gumala. Kelas Ibu Hamil ini dihadiri oleh
11 orang ibu hamil, 1 orang kader, 1 orang bidan kelurahan, 1 orang dokter, 1 orang bidan.
Kegiatan dimulai pukul 08.30 – 11.00 WIB.

Monev
- Kegiatan senam hamil di Poskeskel Gumala sudah terlaksana dengan baik
- Antusiasme ibu-ibu hamil dalam mengikuti senam hamil sudah cukup baik
- Diharapkan dengan adanya senam ibu hamil ini, ibu hamil rutin melakukannya secara
mandiri di rumah

5. PEMBERIAN IMUNISASI (F3)


28/03/2019
Latar Belakang
Imunisasi merupakan salah satu upaya pencegahan kematian pada bayi dengan
memberikan vaksin. Dengan imunisasi, seseorang menjadi kebal terhadap penyakit
khususnya penyakit infeksi. Dengan demikian, angka kejadian penyakit infeksi akan
menurun, kecacatan serta kematian yang ditimbulkannya akan berkurang.
Imunisasi dalam sistem kesehatan nasional adalah salah satu bentuk intervensi
kesehatan yang sangat efektif dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita.
Dasar utama pelayanan kesehatan, bidang preventif merupakan prioritas utama, dengan
melakukan imunisasi terhadap seorang anak atau balita, tidak hanya memberikan
perlindungan pada anak lainnya, karena terjadi tingkat imunitas umum yang meningkat dan
mengurangi penyebaran infeksi. Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal pada bayi
untuk mencapai kadar kekebalan di atas ambang perlindungan. Jenis- jenis imunisasi dasar,
yaitu: BCG, yaitu imunisasi dasar yang diberikan untuk mencegah penyakit TBC. Kemudian
imunisasi dasar Hepatitis B, yang diberikan untuk mencegah penyakit hepatitis B.
Selanjutnya DPT, yaitu imunisasi dasar yang diberikan untuk mencegah penyakit difteri,
pertusis, dan tetanus. Kemudian imunisasi dasar Campak, yang diberikan untuk mencegah
penyakit campak dan yang terakhir imunisasi dasar Polio, yang diberikan untuk mencegah
penyakit polio.

Masalah
Cakupan imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Koto Katik belum maksimal. Hal ini
disebabkan pemahaman yang kurang tentang pentingnya imunisasi.

Intervensi

- Pemberian penyuluhan akan pentingnya imunisasi.

- Melakukan pemberian imunisasi.


Pelaksanaan
Pemberian imunisasi pada anak dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Koto Katik
dimulai pukul 09.00 - selesai. Jumlah anak yang diimunisasi dalam kegiatan ini adalah
sekitar 10 orang.

Monev
- Partisipasi kunjungan anak untuk pemberian imunisasi masih kurang
- Penting untuk memberikan informasi tentang imunisasi kepada ibu anak
F4

1. PEMBERIAN OBAT CACING (F4)


12/03/2019
Latar Belakang
Indonesia masih memiliki banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan, salah
satu diantaranya ialah Cacingan yang ditularkan melalui tanah, yaitu Ascaris lumbricoides
(cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk), dan Ancylostoma duodenale, Necator
americanus, (cacing tambang). Cacingan ini dapat mengakibatkan menurunnya kondisi
kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktifitas penderitanya sehingga secara ekonomi banyak
menyebabkan kerugian. Cacingan menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein serta
kehilangan darah, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. Prevalensi Cacingan
di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang
kurang mampu, dengan sanitasi yang buruk. Prevalensi Cacinganbervariasi antara 2,5% -
62%. Akibat masalah penyakit cacing ini ,dapat terjadi gangguan pertumbuhan dan
perkembangan anak-anak. Untuk mengatasi masalah kecacingan , WHO menganjurkan agar
anak-anak ini rutin diberi obat -obat cacing, khususnya pada negara-negara berkembang yang
memiliki status kebersihan yang kurang.

Masalah
Cacingan mempengaruhi asupan (intake), pencernaan (digestive), penyerapan
(absorbsi), dan metabolisme makanan. Secara kumulatif, infeksi cacing atau Cacingan dapat
menimbulkan kerugian terhadap kebutuhan zat gizi karena kurangnya kalori dan protein,
serta kehilangan darah. Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan
produktifitas kerja, dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit
lainnya.
indikator pencapaian target program Penanggulangan Cacingan berupa penurunan
prevalensi Cacingan sampai dengan di bawah 10% (sepuluh persen) di setiap kabupaten/kota.

Intervensi
Penanggulangan Cacingan adalah tindakan yang ditujukan untuk menurunkan
prevalensi serendah mungkin dan menurunkan risiko penularan Cacingan di suatu wilayah.
Dasar utama untuk Penanggulangan Cacingan adalah memutuskan mata rantai penularan
Cacingan. Oleh karena itu, upaya Penanggulangan Cacingan diarahkan pada pemutusan
rantai penularan Cacingan, yaitu kelompok usia balita dan anak usia sekolah, dengan 1)
pemberian obat massal pencegahan Cacingan kelompok rentan untuk menghentikan
penyebaran telur cacing dari Penderita ke lingkungan sekitarnya, 2) peningkatan higiene
sanitasi, dan 3) pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat melalui promosi kesehatan.
Cacingan merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan maka selain pemberian
obat perhatian terhadap sanitasi lingkungan perlu ditingkatkan.

Pelaksanaan
Kegiatan pemberian obat cacing kepada anak dan balita dilaksanakan di Posyandu
Balita Koto Panjang. Kegiatan diikuti oleh masyarakat sekitar kelurahan Koto Panajng
sebanyak 20 anak dan balita. KEgiatan dimulai pukul 10.00 - selesai. Selain pemberian
obatcacing juga dilakukan pemberian edukasi terhadap orangtua anak dan balita mengenai
perilaku bersih dan sehat (PHBS) di rumah maupun lingkungan sekitar.

Monev
- Kegiatan beerjalan lancar, tepat waktu, dihadiri oleh perwakilan Puskesmas, kader, peserta
PIDI, dan masyarakat
- Partisipasi masyarakat dalam kegiatan ini cukup baik
- Pemberian pbat cacing lebih efektif karena obat cacing yang diberikan dikemas dengan rasa
dan bentuk yang menarik bagi anak-anak, sehingga obat diminumkan langsung oleh anak dan
balita, serta diawasi langsung oleh petugas.

2. PEMBERIAN PMT IBU HAMIL (F4)


21/03/2019
Latar Belakang
Salah satu program ayng dicanangkan pemerintah dalam dunia kesehatan di bidang gizi
adalah “Gizi 1000 Hari”. Program ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan
pentingnya penerapan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan anak dalam mencapai
pertumbuhan dan perkembangan yang optimal (Kemenkes, 2012). Program ini dimulai
dengan memoerhatikan status gizi pada ibu hamil, karena kehidupan anak dimulai sejak
dalam kandungan seorang ibu. Asupan gizi yang tidak kuat pada ibu hamil sleain
membahayakan kesehatan ibu, juga akan berdampak pada terhambatnya pertumbuhan dan
perkembangan janin. Kekurangan gizi dalam waktu lama pada ibu hamil akan menyebabkan
ibu hamil mengalami kondisi yang dinamkan Kekurangan Energi Kronis (KEK). KEK
berdampak terhadap kesehatan ibu dan dan aka dalam masa kandungan, antara lain
meningkatkan risiko bayi berat lahir rendah (BBLR), keguguran, kelahiran prematur, dan
kematian pada ibu dan bayi baru lahir.
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah upaya memberikan tambahan makanan untuk
menambah asupan gizi untuk mencukupi kebutuhan gizi agar tercapainya status gizi yang
baik. Makanan Tambahan ibu hamil adalah makanan bergizi yang diperuntukkan bagi ibu
hamil sebagai makanan tambahan guna mencukupi kebutuhan gizi. PMT Ibu Hamil
merupakan salah satu upaya Puskesmas terutama bidang gizi dalam mempertahanan dan
meningkatkan status gizi ibu hamil, sehingga angka morbiditas dan mortalitas menurun.
Masalah
- Keadaan kesehatan dan gizi ibu hamil masih mengkhawatirkan. Menurut WHO
(Prambudi, 2003) diperkirakan 585.000 ibu hamil meninggal/tahun akibat masalah-
masalah terkait dengan kehamilan. Masalah kesehatan dan gizi pada ibu hamil yang
umum di negara berkembang adalah anemia gizi besi.
- Ibu hamil menderita KEK dan anemia cenderung melahirkan bayi dengan berat badan
lahir rendah (BBLR). Risiko kesakitan lebih besar terutama pada trimester III. Risiko
meninggal 5x lebih besar dan 6x lebih besar bila menderita infeksi.

Intervensi
- Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil untuk mencukupi kebutuhan zat gizi
ibu hamil

Pelaksanaan
Kegiatan PMT Ibu Hamil ini dilaksanakan di Pustu Koto Katik. Sasaran ibu hamil yang
mendapatkan PMT pada bulan ini adalah 10 orang. Kegiatan ini dihadiri oleh 8 orang ibu
hamil. Selain pemberian PMT, juga diberikan edukasi dan konseling mengenai gizi ibu hamil.

Monev
- Kegiatan pemberian makan tambahan bagi ibu hamil sudah baik dan berjalan lancar
- Sasaran ibu hamil yang datang belum mencapai target
- Antusiasme ibu hamil dalam mendapatkan edukasi dan makanan tambahan cukup
baik

3. PEMBERIAN PMT BALITA (F4)


12/03/2019
Latar Belakang
Salah satu program ayng dicanangkan pemerintah dalam dunia kesehatan di bidang
gizi adalah “Gizi 1000 Hari”. Program ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan
pentingnya penerapan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan anak dalam mencapai
pertumbuhan dan perkembangan yang optimal (Kemenkes, 2012).
Peningkatan derajat kesehatan masyarakat sangat diperlukan dalam mengisi
pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia. Salah satu upaya peningkatan
derajat kesehatan adalah perbaikan gizi masyarakat. Gizi yang seimbang dapat meningkatkan
ketahanan tubuh, dapat meningkatkan kecerdasan dan menjadikan pertumbuhan yang normal
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah upaya memberikan tambahan makanan
untuk menambah asupan gizi untuk mencukupi kebutuhan gizi agar tercapainya status gizi
yang baik.

Masalah
Menurut data Riskesdas 2018, proporsi status gizi buruk dan gizi kurang pada balita
di Indonesia mencapai angka 17,7% dengan angka prevalensi provinsi Sumatera Barat
sebesar 19%. Untuk pervelensi status gizi Kota Padang Panjang tahun 2016 ke 2017 menurut
Pemantauan Status Gizi (PSG) 2018, Status gizi balita kurus di Kota Padang Panjang yaitu
dari 4,7% menjadi 4%. Sedangkan prevalensi balita dengan gizi kurang yaitu 11,8% menjadi
11,7%. Prevalensi balita kurus danbalita kurang gizi berdasarkan kecamatan tahun 2017,
kecamatan Padang panjang Barat memiliki prevalensi balita kurus 4,7% dan balita gizi
kurang 12,8% sedangkan Kecamatan Padang Panjang Timur memiliki prevalensi balita kurus
2,8% dan balita kurang gizi 9,6%.
Intervensi
Usia balita merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat.
Oleh karena itu, kelompok usia balita perlu mendapat perhatian, karena merupakan kelompok
yang rawan terhadap kekurangan gizi. Untuk mengatasi kekurangan gizi yang terjadi pada
kelompok usia balita, perlu diselenggarakan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). PMT
bagi balita usia 6 - 59 bulan dimaksudkan sebagai tambahan, bukan sebagai pengganti
makanan utama sehari-hari.

Pelaksanaan
Kegiatan PMT Balita ini dilaksanakan di Pustu Koto Panjang. Sasaran Balita yang
mendapatkan PMT pada bulan ini adalah 20 anak. Kegiatan ini dihadiri oleh petugas
puskesmas, kader, dan PIDI. Selain pemberian PMT, juga diberikan edukasi dan konseling
mengenai gizi pada ibu-ibu balita.

Monev
- Kegiatan pemberian makan tambahan balita sudah baik dan berjalan lancar
- Sasaran balita yang datang belum mencapai target
- Antusiasme para ibu dalam mendapatkan edukasi dan makanan tambahan cukup baik

4. Deteksi Tumbuh Kembang Balita (F4)


13/03/2019
Latar Belakang
Istilah tumbuh kembang terdiri dari dua peristiwa penting, yaitu pertumbuhan dan
perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan suatu proses yang berubah-ubah,
misalnya pembentukan jaringan, pembesaran kepala, tubuh serta anggota badan lain seperti
tangan dan kaki, peningkatan dalam kekuatan dan kemampuan untuk mengendalikan otot-otot
yang besar maupun kecil, perkembangan hubungan sosial, pemikiran dan bahasa, serta mulai
terbentuknya kepribadian. Proses-proses tersebut terjadi tergantung pada kondisi biologis dan
psikis serta lingkungan perkembangan anak.

Masalah
Masih kurangnya partisipasi orang tua dalam kegiatan deteksi tumbuh kembang balita yang
biasanya dilakukan di posyandu setiap bulan.

Intervensi
- Memberikan penyuluhan tentang pentingnya deteksi tumbuh kembang

- Kader lebih aktif lagi dalam mengajak masyarakat untuk mengikuti kegiatan Posyandu

- Dilakukan kegiatan jemput bola bagi balita yang tidak datang Posyandu

Pelaksanaan
Deteksi tumbuh kembang balita ini dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan posyandu balita
di Pustu Koto Panjang dimulai pukul 10.00 - selesai. Jumlah balita yang datang dalam kegiatan ini
adalah sekitar 20 orang. Agenda kegiatan deteksi tumbuh kembang balita ini terdiri dari penimbangan
berat dan tinggi badan anak, screening tumbuh kembang anak, dan edukasi orangtua mengenai
tumbuh kembang anak.

Monev
- Kegiatan deteksi tumbuh kembang anak ini berjalan sesuai perencanaan
- Namun sasaran balita yang datang belum mencapai target
- Sehingga tumbuh kembang balita di wilayah kerja Puskesmas Koto Katik khususnya
wilayah Koto Panjang belum dapat disimpulkan karena masih kurangnya partisipasi
masyarakat untuk mengantarkan balitanya deteksi tumbuh kembang.

5. Sosialisasi dan Pemberian Tablet Tambah Darah (Fe) pada Remaja

Latar belakang

Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di dunia. Diperkirakan lebih
dari 30% penduduk dunia menderita anemia dan sebagian besar di daerah tropis. World
Health Organization (2011) menyatakan prevalensi kejadian anemia remaja putri di Asia
mencapai 191 juta orang dan Indonesia menempati urutan ke-8 dari 11 negara di Asia setelah
Sri Lanka dengan prevalensi anemia sebanyak 7,5 juta orang pada usia 10-19 tahun. Remaja
putri terkena anemia karena keadaan stres, haid, dan terlambat makan.

Anemia pada remaja putri juga dapat berdampak pada prestasi belajar siswi karena anemia
pada remaja putri dapat menurunkan konsentrasi siswi dalam belajar. Remaja putri yang
mengalami anemia berisiko 1,875 kali lipat memperoleh prestasi belajar lebih rendah
dibandingkan remaja putri yang tidak mengalami anemia.

Masalah

Menurut Kemenkes RI (2017) persentase remaja putri yang mendapatkan Tablet Tambah
Darah di Indonesia masih sangat rendah yakni sebesar 10,3%. Cakupan pemberian Tablet
Tambah Darah pada remaja putri belum memenuhi target nasional yaitu sebesar 30%.

Intervensi

- Melakukan penyuluhan tentang pentingnya asupan Fe bagi remaja putri.

- Pemberian tablet tambah darah untuk 1 bulan, serta memberitahu cara mengkonsumsinya.

Pelaksanaan

Kegiatan dilaksanakan di SMPN 5 Padang Panjang. Kegiatan dimulai pukul 09.00 – selesai.
Pemberian tablet tambah darah dilakukan oleh petugas puskesmas dan peserta PIDI.

Monev

- Pelaksanaan kegiatan pemberian tablet tambah darah berjalan lancar

- Proses perizinan kegiatan di sekolah mudah dan pihak sekolah mendukung kegiatan ini

- Partisipasi siswi sangat baik selama kegiatan berlangsung

Kegiatan pemberian tablet Fe ini sudah dilaksanakan secara berkala


F5

1. SENAM JANTUNG

09/03/2019

2. DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA (F5)

10/03/2019

Latar belakang

Kanker payudara merupakan salah satu prevalensi kanker tertinggi di Indonesia, yaitu
50 per 100.000 penduduk dengan angka kejadian tertinggi di D.I Yogyakarta sebesar 24 per
10.000 penduduk sesuai informasi dari Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh
Kementerian Kesehatan RI tahun 2013. Sementara itu, kanker payudara termasuk dalam 10
penyebab kematian terbanyak pada perempuan di Indonesia dengan angka kematian 21,5 per
100.000 penduduk.

Faktor yang dapat memicu kanker payudara antara lain perokok aktif dan pasif; pola
makan buruk; usia haid pertama di bawah 12 tahun; perempuan tidak menikah; perempuan
menikah tidak memiliki anak; melahirkan anak pertama pada usia 30 tahun; tidak menyusui;
menggunakan kontrasepsi hormonal dan atau mendapat terapi hormonal dalam waktu lama;
usia menopause lebih dari 55 tahun; pernah operasi tumor jinak payudara; riwayat
radiasi dan riwayat kanker dalam keluarga.

Kanker payudara sangat berbahaya dan harus diwaspadai sejak dini. Meskipun
demikian, kanker payudara dapat dicegah dengan perilaku hidup sehat, rutin melakukan
Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) yang dilakukan oleh setiap perempuan dan
Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) oleh tenaga kesehatan terlatih.

Masalah

Riset Penyakit Tidak Menular (PTM) 2016 menyatakan perilaku masyarakat dalam
deteksi dini kanker payudara masih rendah. Tercatat 53,7% masyarakat tidak pernah
melakukan SADARI, sementara 46,3% pernah melakukan SADARI; dan 95,6% masyarakat
tidak pernah melakukan SADANIS, sementara 4,4% pernah melakukan SADANIS.

Intervensi

 Melakukan penyuluhan tentang kanker payudara serta cara deteksi dini.

 Mengajarkan cara SADARI

 Melakukan SADANIS

Pelaksanaan

Kegiatan dilaksanakan di Poskeskel Koto Panjang. Kegiatan dimulai pukul 08.00 –


selesai. Pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh petugas puskesmas dan peserta PIDI. Jumlah
yang mengikuti pemeriksaan payudara 26 orang.

Monev

 Pelaksanaan kegiatan pemeriksaan payudara berjalan lancar

 Partisipasi masyarakat (perempuan usia subur) cukup baik

3. DETEKSI DINI KANKER SERVIKS (F5)

11/03/2019

Latar belakang

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa penyakit kanker merupakan


masalah kesehatan yang mengkhawatirkan karena menyebabkan kematian tinggi diberbagai
negara di dunia termasuk Indonesia. Salah satu jenis kanker tersebut adalah kanker leher
rahim yang disebabkan oleh virus Human Papiloma Virus (HPV). Jumlah kasus baru
kejadian kanker serviks (WHO) pada tahun 2012 sebesar 530.000. Kasus kanker serviks ini
juga semakin meningkat di seluruh dunia, dimana diperkirakan 10 juta kasus baru per tahun
dan akan meningkat menjadi 15 juta kasus pada tahun 2020.
Kanker serviks dapat dicegah dengan melakukan deteksi dini. Salah satu metode
deteksi dini yang sesuai untuk negara berkembang salah satunya Indonesia adalah dengan
menggunakan metode IVA. Di Indonesia sudah ada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 34
Tahun 2015 tentang Penanggulangan Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim yang
mengatur mengenai metode IVA.

Masalah

Globocon (2012) mencatat insiden kanker serviks di dunia sebesar 19,3% dengan kematian
sebesar 17% dan insiden kanker serviks di Indonesia mencapai 13 % dengan kematian
sebesar 10,3%. Berdasarkan Riskesdas (2013), penyakit kanker serviks merupakan penyakit
kanker dengan prevalensi tertinggi di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0,8 per mil.
Provinsi Sumatera Barat menempati urutan ketujuh di Indonesia dengan prevalensi sebesar
0,9 per mil.

Intervensi

 Melakukan penyuluhan tentang kanker serviks serta cara deteksi dini.

 Melakukan deteksi dini kanker serviks

Pelaksanaan

Kegiatan dilaksanakan di Poskeskel Guguak Malintang. Kegiatan dimulai pukul 08.00 –


selesai. Pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh petugas puskesmas dan peserta PIDI. Jumlah
yang mengikuti pemeriksaan IVA 26 orang.

Monev

 Pelaksanaan kegiatan IVA berjalan lancar

 Partisipasi masyarakat (perempuan usia subur) cukup baik


4. PERKESMAS (F5)
01/04/2019
Latar belakang

Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan


kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajad kesehatan yang optimal.
Puskesmas merupakan ujung tombak penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat
(UKM) maupun Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) di strata pertama pelayanan
kesehatan, dan merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota
yang bertanggung jawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan di
Kabupaten/ Kota.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 diketahui penyebab
kematian di Indonesia untuk semua umur, telah terjadi pergeseran dari penyakit menular ke
penyakit tidak menular.

Masalah
Saat ini permasalahan kesehatan yang dihadapi cukup kompleks, upaya kesehatan belum
dapat menjangkau seluruh masyarakat meskipun puskesmas telah ada di setiap kecamatan. Prioritas
sasaran adalah yang mempunyai masalah kesehatan terkait dengan masalah kesehatan
prioritas daerah yaitu belum kontak dengan sarana pelayanan kesehatan atau sudah
memanfaatkan tetapi memerlukan tindak lanjut. Fokus utama pada keluarga rawan kesehatan
yaitu keluarga miskin yang rentan dan keluarga yang termasuk resiko tinggi.4 Keluarga yang
tidak mendapat pelayanan perkesmas merupakan beban sosial dan ekonomi serta dapat
berdampak buruk terhadap masyarakat lainnya. Pemerintah memiliki tanggung jawab
melindungi kesehatan masyarakat dan memberikan akses ke pelayanan kesehatan terutama
bagi keluarga yang memiliki hambatan untuk mencapai pusat-pusat pelayanan kesehatan.
Penduduk rawan ini telah menjadi salah satu bagian sasaran program Perkesmas di
Puskesmas

Intervensi

Upaya perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) merupakan upaya kesehatan


penunjang yang terintegrasi dalam semua upaya kesehatan Puskesmas termasuk
dalam upaya kesehatan wajib (Promosi kesehatan, Kesehatan Lingkungan, KIA/ KB, P2,
Gizi dan Pengobatan) tetapi dapat juga sebagai upaya kesehatan pengembangan yang
wajib dilakukan pada daerah tertentu. Dengan terintegrasinya upaya perkesmas
kedalam upaya kesehatan wajib maupun upaya pengembangan, diharapkan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat dapat lebih bermutu karena diberikan secara holistik,
komprehensif pada semua tingkat pencegahan.

Pelaksanaan
Kegiatan perkesmas dilakukan pada tanggal 01 april 2019, pukul 08.00-selesai. Dilakukan kunjungan
rumah sebanyak 9 rumah, yang terdiri dari pasien-pasien diabetes mellitus, stroke, kejiwaan,
hipertensi, lansia, dan lain-lain.
Monev
Kegiatan perkesmas berjalan lancar

5. Diabetes Melitus (F5)


Latar Belakang
Penyakit tidak menular merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Riset
kesehatan dasar ( Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan bahwa dari 10 besar penyebab
kematian tertinggi di Indonesia dan 6 diantaranya adalah PTM. Stroke merupakan penyebab
kematian tertinggi disusul dengan hipertensi, DM, Tumor, dan penyakit jantung ischemic.
Hiperglikemia adalah suatu kondisi medik berupa peningkatan kadar glukosa dalam
darah melebihi batas normal. Hiperglikemia merupakan salah satu tanda khas penyakit
diabetes mellitus (DM), meskipun juga mungkin didapatkan pada beberapa keadaan yang
lain. Saat ini penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka
insidensi dan prevalensi DM tipe-2 di berbagai penjuru dunia.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi adanya peningkatan jumlah
penyandang DM yang menjadi salah satu ancaman kesehatan global. WHO memprediksi
kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar
21,3 juta pada tahun 2030. Laporan ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyandang
DM sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2035. Sedangkan International Diabetes Federation
(IDF) memprediksi adanya kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 9,1 juta pada
tahun 2014 menjadi 14,1 juta pada tahun 2035.

Masalah
Data-data diatas menunjukkan bahwa jumlah penyandang DM di Indonesia sangat besar.
Dengan kemungkinan terjadi peningkatan jumlah penyandang DM di masa mendatang akan
menjadi beban yang sangat berat untuk dapat ditangani sendiri oleh dokter
spesialis/subspesialis atau bahkan oleh semua tenaga kesehatan yang ada. Penyakit DM
sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia dan berdampak pada peningkatan
biaya kesehatan yang cukup besar.

Intervensi
Berdasarkan latar belakang dan masalah yang di paparkan sebelumnya, maka
diadakan sebuah program rutin screening kesehatan dan penyuluhan mengena penyakit
menular dan tidak menular di Puskesmas Koto Katik. Screening dan Penyuluhan DM ini
merupakan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular.

Pelaksanaan
Kegiatan berupa screening gula darah dan penyuluhan DM yang dilakukan di ruang
pertemuan Puskesmas Koto Katik dalam program prolanis pada tanggal 20 April 2019.
Kegiatan dihadiri oleh masyarakat dengan jumlah 17 orang. Kegiatan dimulai pukul 09.00 –
selesai.

Monev
 Kegiatan berjalan lancar, tepat waktu, dihadiri oleh masyarakat, dan PIDI
 Partisipasi masyarakat dalam kegiatan ini cukup baik
F6

1. POSBINDU LANSIA (F6)


19/02/2019
Latar Belakang
Usia Harapan Hidup (UHH) menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan
terutama di bidang kesehatan. Namun dibalik keberhasilan peningkatan UHH terselip
tantangan yang harus diwaspadai kedepannya yakni menghadapi triple burden yaitu
disamping meningkatnya angka kelahiran dan dan beban penyakit, juga akan terjadi
peningkatan angka beban tanggungan penduduk kelompok usia produktif terhadap kelompok
usia tidak produktif. Proses penuaan akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan, baik
sosial, ekonomi, maupun kesehatan. Ditinjau dari aspek kesehatan, dengan semakin
bertambahnya usia maka lansia akan mengalami penurunan kesehatan serta lebih rentan
terhadap berbagai keluhan fisik, baik karena faktor alamiah maupun karena penyakit. Oleh
karena itu, sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk lansia maka mulai kini
kita sudah harus mempersiapkan dan merencanakan berbagai program kesehatan yang
ditujukan bagi kelompok lansia, termasuk didalamnya adalah pelayanan kesehatan bagi
lansia.
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) lansia adalah suatu wadah pelayanan kesehatan utuk
melayani penduduk lansia. Disamping pelayanan kesehatan, posyandu lansia juga
memberikan pelayanan sosial, agama, pendidikan, keterampilan, olahraga, seni budaya, dan
pelayanan lain yang dibutuhkan dengan tujuan peningkatan kualitas hidup lansia.

Masalah
Angka kesakitan (morbiditas) merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk
mengukur derajat kesehatan penduduk. Semakin tinggi angka kesakitan, menunjukkan derajat
kesehatan penduduk semakin buruk.

Intervensi
- melakukan pelayanan pengobatan kesehatan terhadap para lansia

Pelaksanaan
Kegiatan posyandu lansia dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Koto Katik dimulai
pukul 11.00 - selesai. Jumlah lansia yang datang dalam kegiatan ini adalah sekitar 20 orang.
Kegiatan posyandu lansia ini terdiri dari anamnesis dan pengobatan dasar yang dilakukan
oleh dokter.
Monev
- Posyandu lansia berjalan cukup lancar
- Partisipasi kunjungan peserta lansia masih kurang
- Edukasi kurang efektif dikarenakan kendala komunikasi dengan para lansia akibat
usia yang terlalu tua dan tidak ada pendamping yang ikut menemani saat pelayanan

2. Race Road Festival (F6)


24/03/2019
Latar Belakang
Puskesmas merupakan pelayanan kesehatan yang berinteraksi langsung kepada
masyarakat yang bersifat komprehensif dengan kegiatannya terdiri dari upaya promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif (Depkes RI, 1997/1998). Puskesmas merupakan unit teknis
yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pembangunan kesehatan disatu atau
sebagaian wilayah kecamatan yang mempunyai fungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan
masyarakat, pusat pemberdayaan masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama
dalam rangka pencapaian keberhasilan fungsi puskesmas sebagai ujung tombak
pembangunan bidang kesehatan.
Race Road Festival Padang Panjang merupakan program kegiatan dari ormas Ikatan
Motor Indonesia (IMI) Padang Panjang yang bekerja sama dengan pemerintah kota. Dewasa
ini kegiatan balap motor otornotif banyak sekali di gemari oleh kalangan anak muda, dapat
dilihat dari banyaknya event atau kejuaraan balap motor otomotif yang diselenggarakan baik
di tingkat daerah maupun tingkat nasional. kegiatan otomotif selalu penuh hampir tiap bulan
sepanjang tahun. Contohnya olah raga Road Race yang termasuk dalam olahraga yang cukup
diminati. Olahraga ini membutuhkan ketahanan fisik, mental, dan kemampuan yang prima.

Masalah
Keterampilan dan bakat pembalappembalap di Indonesia sangat memerlukan
pembinaan sebagai olah raga otomotif di Indonesia dalam satu wadah pendidikan agar bakat
dan keterampilan membalap dapat terarah dengan baik. Kegiatan road race yang sering
diadakan didaerah yang merupakan potensi awal dari karier seorang pembalap untuk
melangkah ketingkat nasional maupun internasional. Namun mengingat jenis olahraga ini
cukup berbahaya, maka dibutuhkan partisipasi Puskesmas untuk pelayanan kesehatan dan
upaya pengobatan.

Intervensi
Berdasarkan latar belakang dan masalah diatas, maka puskesmas turut serta sebagai
Tim Medis guna pelayanan kesehatan dan pengobatan pada acara Race Road Festival Padang
Panjang 2019.
Pelaksanaan
Acara Road Race Festival Padang Panjang 2019 ini dilaksanakan pada tanggal 24
Maret 2019. Acara ini di ikuti oleh 30 club motor padang panjang. Kejurda ini hadiri oleh
Wakil Walikota Padang Panjang, Ketua DPRD Padang Panjang, Ketua KONI Sumbar, Ketua
IMI Sumbar, Kadihub Padang Panjang, Ketua KONI Padang Panjang, Kasat Lantas Padang
Panjang, Tim Medis dari beberapa Puskesmas Padang panjang, dan masyarakat.

Monev
 Kegiatan berjalan sesuai perencanaan
 Pada pelaksanaannya tidak ada cidera serius pada peserta kejuaraan, namun ada
penonton yang mengalami cidera berat.
 Pengamanan peserta kejuaraan dan penonton sebaiknya lebih diperketat untuk
kegiatan selanjutnya.

3. Jambore Kader PKK (F6)


26-29/03/2019
Latar belakang

Puskesmas merupakan pelayanan kesehatan yang berinteraksi langsung kepada


masyarakat yang bersifat komprehensif dengan kegiatannya terdiri dari upaya promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif (Depkes RI, 1997/1998). Puskesmas merupakan unit teknis
yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pembangunan kesehatan disatu atau
sebagaian wilayah kecamatan yang mempunyai fungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan
masyarakat, pusat pemberdayaan masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama
dalam rangka pencapaian keberhasilan fungsi puskesmas sebagai ujung tombak
pembangunan bidang kesehatan.
Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah organisasi kemasyarakatan yang
memberdayakan wanita untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia. Sebagai
mitra kerja pemerintah, Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) berfungsi sebagai
fasilitator, perencanaan, pelaksanaan, pengendali dan penggerak pada masing-masing
tingkatan untuk terlaksananya program kerja Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga
(PKK), maka di harapkan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-
PKK) Pusat, Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dapat menyesuaikan dan mengembangkan
lebih lanjut dengan muatan lokasi situasi, kondisi dan kebutuhan yang nyata di daerah
masing-masing dengan mendayagunakan serta mengembangkan potensi Sumber Daya
Daerah secara optimal.

Masalah
Kader PKK berperan penting sebagai mitra kerja pemerintah sekaligus tombak
penggerak pemberdayaan kesejahteraan keluarga. Maka dari itu diperlukan sebuah kegiatan
pemersatu kader sebagai wadah edukasi dan informasi guna pemberdayaan kesejahteraan
keluarga yang optimal.
Kegiatan yang diperuntkkan kepada kader PKK ini diharapkan dapat memperluas
wawasan kader sekaligus menjadi wadah silaturahmi bagi para kader. Sehingga diperlukan
turut serta puskesmas sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat dalam acara
tersebut.

Intervensi
Berdasarkan latar belakang dan masalah tersebut maka pemerintah bersama masyarakat
membuat program kegiatan Jambore Kader PKK yang dihadiri oleh tim medis sebagai penyelenggara
kesehatan masyarakat dalam kegiatan tersebut.

Pelaksanaan

Acara Jambore ini dilaksanakan di komplek Mifan Water Park & Resort
Padangpanjang pada tanggal 26 – 29 Maret 2019, dan diisi dengan berbagai macam lomba.
Acara ini dihadiri oleh Walikota dan Wakil Walikota, kader PKK Padangpanjang, Tim Medis,
masyarakat, dan lain-lain.

Monev

 Acara Jambore kader PKK berjalan lancar karena dukungan dari berbagai pihak.
 Partisipasi kader PKK terhadap acara ini sangat tinggi
 Peran Tim Medis sebagai pelayanan kesehatan masyarakat dalam kegiatan tersebut
berjalan lancer.

4. Poli KIA (F6)


Februari – Mei 2019
Latar belakang

Upaya kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang kesehatan yang menyangkut
pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta
anak prasekolah.
Tujuan Pelayanan Kesehatan Ibu dan anak (KIA) adalah tercapainya kemampuan
hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal, bagi ibu dan keluarganya
untuk menuju Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) serta meningkatnya
derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan
landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya.
Sedangkan tujuan khusus pelayanan KIA adalah :
1. Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan , sikap dan perilaku), dalam mengatasi
kesehatan diri dan keluarganya dengan menggunakan teknologi tepat guna dalam upaya
pembinaan kesehatan keluarga, paguyuban 10 keluarga, Posyandu dan sebagainya.
2. Meningkatnya upaya pembinaan kesehatan balita dan anak prasekolah secara mandiri
di dalam lingkungan keluarga, paguyuban 10 keluarga, Posyandu, dan Karang Balita serta
di sekolah Taman Kanak-Kanak atau TK.
3. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan bayi, anak balita, ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas, dan ibu meneteki.
4. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, nifas, ibu meneteki,
bayi dan anak balita.
5. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat , keluarga dan seluruh
anggotanya untuk mengatasi masalah kesehatan ibu, balita, anak prasekolah, terutama
melalui peningkatan peran ibu dan keluarganya.

Masalah
Masih adanya angka kesakitan pada ibu dan anak, masih adanya kematian bayi saat
persalinan, hal ini bisa disebabkan karena kurang lengkapnya ANC saat kehamilan sehingga
tidak diketahui apakah kehamilan berjalan dengan baik atau mengalami keadaan risiko tinggi
dan komplikasi obstetrik yang dapat membahayakan kehidupan ibu atau janinnya.

Intervensi
Upaya kesehatan ibu dan anak meliputi kegiatan peningkatan, pencegahan, pengobatan dan
pemulihan kesehatan ibu dan anak.
Pelaksanaan
Upaya kesehatan ibu dan anak salah satunya dilakukan pada poli ibu dan anak di Puskesmas
Koto Katik. Pada poli ibu dan anak dapat dilakukan pengobatan dasar ibu dan anak, ANC,
perawatan nifas, pelaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan sistem
rujukan, kontrasepsi, dan lain-lain

Monev
Pelayanan poli KIA Puskesmas Koto Katik berjalan dengan baik dengan jumlah pasien sekitar 10-20
pasien per hari.

5. Balai Pengobatan Umum (F6)

Latar belakang

Poli umum merupakan tempat pelayanan yang bertugas melakukan pemeriksaan pasien
secara umum dengan melihat indikasi atau gejala – gejala yang di derita oleh pasien.
Pengunjung dilayani oleh Dokter Umum dan Perawat yang bertugas melakukan anamnesa
dan diagnosa awal terhadap pasien. Petugas d poli umum bertanggung jawab atas setiap
pasien yang diperiksa agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai setandar dan dapat di
pertanggung jawabkan dalam mendiagnosa setiap keluahan setiap pasien yang berkunjung di
poliklinik tersebut.

Masalah
Banyak masalah kesehatan yang perlu ditatalaksana oleh tenaga medis. Penatalaksanaan
secara medis bisa didapatkan pada poli umum.

Intervensi
 Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif,
berkesinambungan dan bermutu
 Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan
preventif
 Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada individu, kelompok
dan masyarakat
 Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan keamanan dan
keselamatan pasien, petugas dan pengunjung
 Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip koordinatif dan kerjasama
inter dan antar profesi
 Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan sistem rujukan

Pelaksanaan
Pelayanan poli umum di puskesmas Koto Katik setiap hari kecuali hari libur.

Monev
Pelayanan poli umum di puskesmas Koto Katik berjalan dengan baik dengan jumlah pasien
sekitar 30-50 pasien per hari.

6. LIGA PELAJAR INDONESIA


latar belakang
Pembangunan Olahraga merupakan bagian integral dan pembangunan manusia
Indonesiaseutuhnya yang diarahkan pada peningkatan kesegaran jasmani, mental dan rohani
untuk pembentukkan watak, kepribadian, disiplin dan sportifitas yang tinggi serta
peningkatan prestasi olahraga yang menyehatkan dan dapat dibanggakan.Kejuaraan Liga
Pendidikan Indonesia diselenggarakan sebagai bagian dari sistem pembinaan olahraga pelajar
secara berjenjang dan berkelanjutan.Menurut pasal 25 ayat (6) Undang-undang nomor 3
Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, bahwa untuk menumbuhkembangkan
prestasi olahraga di Lembaga Pendidikan,maka pada jalur pendidikan dapat dibentuk unit
kegiatan olahraga, kelas olahraga, pusatpembinaan dan pelatihan, sekolah olahraga, serta
diselenggarakan kompetisi olahraga secaraberjenjang dan berkelanjutan. Dan pada pasal 27
ayat (1) menyebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi dilaksanakan
dan diarahkan untuk mencapai prestasiolahraga pada tingkat daerah, nasional dan
internasional.
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Kota Padang Panjang mempunyai tugas yang
bertanggung jawab secara teknis sesuai dengan tugas dan fungsinya untuk menangani
kegiatan pembinaan dan pendidikan olahraga pelajar dari tingkat TK sampai dengan
perguruan tinggi, yang bekerjasama dengan Dispora, KONI Kota Padang Panjang dan
Pengcab. Untuk itu,digelarlah Kejuaraan Liga Pendidikan Indonesia sebagai ajang seleksi
pengiriman sekolah mewakili Kota Padang Panjang ditingkat Provinsi dan Nasional.

Permasalahan
- Meningkatnya pergaulan bebas dan kegiatan yang tidak bermanfaat bagi pelajar di
indonesia terutama di kota padang panjang
- meningkatnya penderita obesitas dikalangan pelajar
- meningkatnya kebiasaan bermain menggunakan handphone seluler dalam waktu yang lama
di kalangan pelajar

Intervensi
Pemerintah Kota Padang Panjang Menyelenggarakan sesuatu kegiatan yang bermanfaat dan
menyehatkan kebugaran jasmani bagi pelajar maka di buat lah suatu kejuaraan yang
dinamakan Liga Pelajar Indonesia Se Kota Padang Panjang

Pelaksanaan
Kegiatan Liga Pelajar Indonesia ini dilaksanakan di Lapangan Anar Karim Kota Padang
Panjang dimulai pada tanggal 25 Februari-12 April 2019. Jumlah SMP dan SMA sederajat
yang ikut kompetisi ini sekitar 23 SMP dan SMA sederajat dan berjumlah 92 pertandingan.

Monev
- Liga Pelajar Indonesia ini berjalan lancar, aman dan tertib karena di dukung juga oleh
pihak keamanan dan pihak kesehatan
- Partisipasi kunjungan peserta liga dan suporter masing-masing sekolah sangat tinggi
- ketidaktepatan waktu dari peserta masih menjadi kendala dalam beberapa
pertandingan