Anda di halaman 1dari 5

Adapun usaha yang dapat dilakukan oleh negara dalam meningkatkan sikap patuh terhadap

perundang-undangan nasional yaitu

Mengadakan penyuluhan hukum terhadap warga negara atau warga masyarakat.

Memberikan dorongan kepada warga negara atau warga masyarakat untuk lebihmemahami
perundang-undangan.

Memberi sanksi yang tegas kepada pelanggar hukum sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Menciptakan berbagai produk hukum atau peraturan yang sesuai dengan perkembangan jaman
dan kebutuhan masyarakat.

Menciptakan sistem peradilan yang adil, bebas, dan proporsional

b. Usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh warga negara atau warga masyarakat dalam
mengembangkan sikap patuh terhadap peraturan:

Berusaha memahami peraturan yang berlaku.

Selalu berhati-hati dalam bertindak untuk diselaraskan dengan yang berlaku.

Para tokoh-tokoh masyarakat harus dapat menjadikan dirinya sebagai teladan dalam mematuhi
peraturan perundang-undangan yang berlaku

Setiap warga negara atau warga masyarakat wajib memahami hak dan kewajibannya masing-
masing.

Melaporkan kepada yang berwajib apabila ada pihak-pihak yang melanggar peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Menyelesaikan permasalahan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Larangan Mengenakan Jilbab (Inkonstitusional)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Iqbal

(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia angkatan 2009)

Polemik aturan pelarangan jilbab di ranah kepolisian republik Indonesia semakin mencuat.
Berbagai protes dan kritik meluncur terhadap pelarangan kepada penggunaan jilbab. Khusus,
melalui surat keputusan Kapolri nomor Pol: Skep/702/IX/2005 yang disebutkan bahwa
penggunaan pakaian dinas seragam Polri dan PNS Polri tidak membolehkan penggunaan jilbab.

Pelarangan ini dinilai telah melanggar nilai-nilai konstitusi, Undang-undang dasar 1945 pasal 29.
Disebutkan bahwa kebebasan beribadah merupakan jaminan Negara sehingga seharusnya tidak
ada lagi pengekangan terhadap praktik peribadatan, salah satunya adalah pemakaian jilbab.

Alasan yang pernah diungkapkan sebagai salah satu sebab penolakan penggunaan jilbab di
kalangan Polri dan PNS Polri adalah kekhawatiran adanya gangguan terhadap kinerja Polri.
Kekhawatiran ini sungguh sangat tidak beralasan. Hal ini pernah disampaikan oleh beberapa
tokoh nasional. Salah satunya, ketua umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang
menganggap bahwa alasan pelarangan jilbab merupakan tindakan yang tidak bijak, serta
menunjukkan sikap Polri yang ketinggalan zaman.

Isu pelarangan jilbab ini sebenarnya telah pernah digaungkan sejak beberapa tahun silam.
Hampir satu dekade penggunaan jilbab di ranah publik Indonesia, praktik penggunaan jilbab
mengalami proses yang cukup panjang. Ada dua sektor yang bisa diamati sebagai contoh,
pertama, praktik penggunaan jilbab di wilayah pemerintahan (meliputi lingkup jajaran eksekutif,
legislatif maupun yudikatif).

Sektor yang kedua, adalah praktik penggunaan jilbab di wilayah kampus. Dahulu, penggunaan
jilbab baik di kantor-kantor pemerintahan maupun kampus-kampus merupakan sesuatu yang
dilarang (baik berupa aturan maupun persepsi). Tidak heran, banyak kasus-kasus yang menimpa
beberapa wanita yang berjilbab saat itu yang mendapat perlakukan diskriminasi. Ada yang
dikucilkan, dan tidak jarang beberapa diantaranya kemudian diancam dikeluarkan dari kampus.

Penyikapan yang dilakukan publik saat itu merupakan refleksi perkembangan persepsi
masyarakat. Saat ini, tentunya keadaan sudah banyak berubah. Proses reformasi yang
mengalami titik puncak tahun 1998 menjadi pembuka pintu jalan perubahan dan perbaikan,
khususnya dalam konteks ini, penghargaan terhadap kebebasan beragama. Pemakaian jilbab
patut dilihat secara cermat, bahwa jilbab adalah bentuk penataan terhadap ketentuan agama,
dalam hal ini syariat Islam.

Jadi, bukanlah sebagai corak budaya semata ataupun simbolisasi agama belaka. Pun,
penggunaan jilbab tidak dapat dikualifikasikan sebagai simbol politik. Dan, ketentuan agama ini
telah secara eksplisit dicantumkan sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila sila ke-1,
Ketuhanan Yang Maha Esa dan Undang-undang Dasar 1945, khususnya pasal 29.
Praktik penggunaan jilbab juga seharusnya menjadi perhatian sektor militer, terutama TNI. TNI
sebagai pilar pertahanan dan keamanan nasional seringkali dianggap sektor yang harus bebas
dari nilai-nilai, selain nilai militer itu sendiri. Pada hakikatnya, militer harus tetap berjalan sesuai
dengan aturan dasar konstitusi.

Pasal 29 merupakan pilar utama yang menjadi dasar hukum paling mendasar sehingga tidak
dapat dikesampingkan begitu saja. Jaminan yang diberikan oleh Negara sepatutnya harus
direalisasikan sepenuhnya sehingga kalau tidak dijalankan maka Negara dianggap telah
melakukan wanprestasi terhadap apa yang telah diamanatkan oleh konstitusi.

Namun, sejauh ini TNI belum memberikan perubahan kebijakan ataupun sekadar respons
mengenai penggunaan jilbab. Setidaknya, TNI wajib memberikan ruang kepada aparat wanita
yang memang ingin berjilbab.

Pelarangan penggunaan jilbab untuk wanita, baik di institusi Polri maupun TNI, perlu direvisi.
Bentuk pelarangan penggunaan jilbab ini merupakan sebuah pelanggaran terhadap nilai-nilai
konstitusi sehingga mau tidak mau wajib ditindaklanjuti secara serius, baik secara internal
maupun dari luar institusi.

Secara khusus tentunya, para petinggi kelembagaan tersebut menjadi orang yang paling
bertanggung jawab untuk melakukan perbaikan ini. Di lain sisi, respon dan dukungan dari
masyarakat luas juga sangat berperan penting untuk menggalang perbaikan ini sebagai salah
satu bukti ketaatan terhadap nilai-nilai konstitusi.
4.Untuk mencegah adanya sikap Inkonstitusional ialah pertama kali dengan mengetahui dan
memahami aturan-aturan penyelenggaraan negara yang tecantum dalam UUD 1945. Oleh
karena itu, sosialisasi UUD 1945 kepada seluruh warga negara dan harus dilaksanakan secara
efektif melalui kegiatan pembelajaran di sekolah. Selain itu upaya lainnya ialah :

Mengakui dan menghargai hak-hak asasi orang lain.

Mematuhi dan menaati peraturan yang berlaku, baik peraturan lalu lintas, sekolah, dan lain
sebagainya.

Tidak main hakim sendiri.

Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Adanya keterbukaan dan etika dalam menghadapi suatu permasalahan.

Mengembangkan sikap sadar dan rasional.

Menjalin persatuan dan kesatuan melalui berbagai kegiatan.

pemilihan umum secara transparan, jujur, adil, dan bebas, serta sesuai dengan peraturan yang
berlaku.

Pengambilan keputusan dengan musyawarah atau pemungutan suara, tidak dengan money
politic, suap, kolusi, dan intimidasi.

Pelaksanaan demonstrasi atau aksi-aksi secara damai bukan dengan kekerasan, infiltrasi, atau
revolusi.

Membayar pajak tepat waktu

Ikut melaksanakan pembelaan negara sesuai dengan kemampuan, hak dan kewajiban.

Memberikan kritik atau saran kepada pemerintah melalui wakil rakyat.