Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA

I. RANAH KESALAHAN BERBAHASA

1. Analisis Kesalahan Fonologi

Kesalahan fonologi mencakup kesalahan pengucapan fonem dan


penulisan huruf. Karena kaidah pengucapan belum dibakukan di dalam
bahasa Indonesia, maka analisis kesalahan fonologi yang akan dibicarakan
di sini hanya terbatas pada kesalahan penulisan atau pemakaian huruf.
Berikut ini akan ditampilkan beberapa contoh kesalahan pemakaian atau
penulisan huruf dalam bahasa Indonesia.

(1)Adik bertanya, “kapan kita pulang ?”


(2)Yang mahakuasa.
(3)Dialah pemimpin idaman masarakat.
(4)Siapakah Gubernur yang baru dilantik itu ?
(5)IR. Anwar, DRS. Agus Basri, Abdul Saleh, SH.
(6)Perbuatan itu bertentangan dengan UUD negara kita.

1. Analisis Kesalahan Morfologi

Kesalahan morfologi meliputi kesalahan menggunakan afiks, kata


ulang, menyusun kata majemuk, dan memilih kata. Perhatikanlah contoh-
contoh di bawah ini.

(1)Anak yang hilang itu diketemukan kemarin sore.


(2)Puteri ulama terkenal itu disunting seorang pangeran Arab Saudi.
(3) Data-data menunjukkan keterlibatannya.
(4)Sejak kemarin, dia tidak mengacuhkan saya.
(5)Dia berada di ruangan depan.

Pelatihan

a. Temukanlah sekurang-kurangnya lima kesalahan penulisan huruf


yang sering dilakukan pemakai bahasa Indonesia!
b. Temukanlah sekurang-kurangnya lima kesalahan penggunakan afiks
(prefiks, sufiks, dan konfiks) yang lazim dilakukan pemakai bahasa
Indonesia!
c. Temukanlah tiga kesalahan pemilihan kata dalam bahasa Indonesia!
2. Analisis Kesalahan Kalimat

Kesalahan kalimat meliputi kesalahan urutan kata dan penghilangan


fungtor kalimat. Perhatikanlah contoh-contoh kesalahan urutan kata dan
kesalahan karena penghilangan fungtor kalimat di bawah ini.

Kesalahan Urutan Kata

(1)Di sekolah-sekolah sering kita mendengar lagu “Indonesia Raya”.


(2)Diajarkan kepada mereka hal-hal baru mengenai dunia botani.
(3)Bisa juga guru membiarkan murid-muridnya berkembang sendiri.

Kesalahan karena Penghilangan Fungtor Kalimat


a. Penghilangan Subjek
(1)Memberikan rangsangan agar siswa dapat mengembangkan
kreativitasnya.
(2)Bila miskin, otomatis tidak dapat membangun secara serius.
(3)Dalam hal yang demikian, memang sering menemui kesulitan
yang susah diatasi.

b. Penghilangan Predikat
(1)Mereka sebagai pusat informasi bagi siswanya.

c. Penghilangan Objek
(1)Seorang guru harus mampu mengajar, mendidik, dan melatih.
(2)Guru bukan hanya mengajari siswa, melainkan mendidik agar
menjadi manusia siap pakai.

d. Penghilangan Subjek dan Predikat


(1)Baik dalam pembangunan bidang keilmuan, niulai-nilai, dan
keterampilan.
(2)Mulai dari tingkat yang paling dasar sampai yang paling tinggi.

Pelatihan: Kemukakan bentuk kesalahan yang terdapat pada kalimat-


kalimat berikut:
(1)Di kota kami sangat memerlukan prasarana transportasi kota yang
memadai.
(2)Gubernur yang terpilih bulan Juni lalu.
(3)Anda jangan mengajari satu hal saja, melainkan beberapa hal.

3. Kesalahan Semantis

Kesalahan semantis adalah kesalahan yang tidak terkait dengan


struktur kalimat, melainkan dengan makna atau logika kalimat. Karena
itu, kalimat yang salah secara semantis boleh jadi benar secara struktural.
Perhatikanlah kalimat-kalimat di bawah ini.
(1)Dia batal menjalani sidang meja hijau karena orang tuanya gagal
panen.
(2)Tanpa Soekarno Indonesia hancur.
(3)Tidak usah datang-datang ke tempat saya lagi.

II PENYEBAB KESALAHAN BERBAHASA

1. Interferensi (interlanguage)

Interferensi adalah kesalahan berbahasa karena pengaruh satu


bahasa terhadap bahasa yang lain. Interferensi terjadi pada seorang
dwibahasawan, atau seseorang yang mengenal lebih dari satu bahasa di
dalam kehidupan sehari-harinya. Adakalanya interferensi menjadi gejala
umum dalam masyarakat satu bahasa sehingga tidak dipandang sebagai
kesalahan lagi. Gejala sepertio ini sering disebut integrasi.
Di Indonesia, tidak sedikit ditemukan pemakaian bahasa yang berciri
interferensi ini, baik karena pengaruh bahasa daerah maupun bahasa
asing, seperti:

fikir diketemukan
ditamparin Dia malas cari bukti itu.
Bapaknya Ali sakit. Orang si Tagor sudah
datang?

2. Kesulitan di Dalam Sistem Bahasa

Kesalahan berbahasa sering juga disebabkan oleh kesulitan yang


terdapat di dalam sistem bahasa itu sendiri. Tidak semua pemakai bahasa
dapat dengan mudah mengingat atau menguasai sistem bahasanya
sendiri. Akibatnya, terbuka kemungkinan bagi pemakai bahasa tertentu
untuk melakukan kesalahan berbahasa.
Anak-anak pemakai bahasa ibu bahasa Inggeris tidak dengan
sendirinya menguasai sistem bahasa Inggeris dengan baik. Karena itu,
mereka kadang-kadang melakukan kesalahan juga dalam menggunakan
bentuk-bentuk, seperti go, went, gone, dsb.

III. EFEK KOMUNIKATIF KESALAHAN BERBAHASA

Kesalahan berbahasa membawa efek komunikatif tertentu. Efek


tersebut dapat bersifat local, yakni kesalahan hanya memengaruhi bagian
tertentu saja dalam satu kalimat, tidak bagian yang lainnya. Karena itu,
makna keseluruhan kalimat masih tetap dapat dipahami. Kesalahan
berbahasa dapat pula bersifat global, yakni apabila kesalahan berbahasa
sudah memengaruhi makna keseluruhan kalimat sehingga kalimat tidak
lagi mudah dipahami maknanya.

Contoh kesalahan kalimat yang berpengaruh lokal.


(a) Edo sudah ketemu dengan adiknya.
(b) Hadiah yang dijanjikan itu beneran, bukan main-main.
(c) Sepeda yang rusak itu sudah diperbaiki sama ayah.

Kata ketemu, beneran, sama pada kalimat (a), (b), dan (c) di atas salah,
tetapi kesalahan itu tidak memengaruhi makna keseluruhan kalimat.
Dengan kata lain, makna ketiga kalimat tersebut masih dapat dipahami.

Contoh kesalahan kalimat yang berpengaruh global:


(a) Kepalanya tertimpa tangga ketika mengecat dinding kemarin.
(b)Dia membantah bahwa dirinya tidak terlibat dalam peristiwa itu.

Kalimat (a) dan (b) mengandung kesalahan yang memengaruhi makna


keseluruhan kalimat itu. Pada penggal kedua kalimat (a), ada kesulitan
memahami siapa sesungguhnya yang melakukan kegiatan “mengecat
dinding”. Apabila kalimat itu dilihat secara harfiah, maka tidak bisa
disangkal bahwa yang melakukan kegiatan itu adalah “kepalanya”.
Bagaimana kesimpulan demikian bisa muncul ?
Kalimat (a) adalah kalimat majemuk dengan pelesapan subjek pada klausa
kedua. Karena subjek kalimat adalah “kepalanya”, yang terdapat pada
klausa pertama, maka yang dilesapkan pada klausa kedua itu pastilah
“kepalanya” juga.
Pada kialimat (b), ada keinginan dari seseorang untuk menyatakan dirinya
tidak bersalah, tetapi penggunaan kata “membantah” dan kata “tidak”
secara serentak pada kalimat tersebut menimbulkan makna yang berbeda
dari keinginan penuturnya. Kata “membantah” dan “tidak” masing-masing
bermakna negatif. Jika dihadirkan bersamaan dalam satu kalimat, maka
maknanya akan posiif.