Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

PNEMONIA

Disusun Oleh : Ahmad Barjah

NIM : 201907002

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKes IMC BINTARO
2019/2020
A. DEFINISI
Pneumonia adalah proses inflamasi parenkim paru yang terdapat
konsolidasi dan terjadi pengisian alveoli oleh eksudat yang disebabkan oleh
bakteri, virus, dan benda-benda asing (Muttaqin, 2008). Pneumonia adalah
infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru.
Menurut anatomis pneumonia pada anak dibedakan menjadi 3 yaitu
pneumonia lobaris, pneumonia lobularis (bronchopneumonia), Pneumonia
interstisialis (Mansjoer, 2000). Pneumonia merupakan penyakit dari paru-paru
dan sistem pernapasan dimana alveoli( mikroskopik udara mengisi kantong
dari paru yang bertanggung jawab untuk menyerap oksigen dari atmosfer)
menjadi radang dan dengan penimbunan cairan. Pneumonia disebabkan oleh
berbagai macam sebab,meliputi infeksi karena bakteri,virus,jamur atau parasit
(Reevers, 2000).

B. ETIOLOGI PNEMONIA
Etiologi pneumonia yaitu bakteri, virus, jamur dan benda asing.
Berdasarkan anatomis dari struktur paru yang terkena infeksi, pneumonia
dibagi menjadi pneumonia lobaris, pneumonia lobularis (bronkhopneumonia),
dan pneumonia intersitialis (bronkiolitis). Bronkhopneumonia merupakan
penyakit radang paru yang biasanya didahului dengan infeksi saluran
pernafasan akut (ISPA) bagian atas dan disertai dengan panas tinggi. Keadaan
yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh, yaitu aspirasi, penyakit
menahun, gizi kurang/malnutrisi energi protein (MEP), faktor patrogenik
seperti trauma pada paru, anestesia, pengobatan dengan antibiotika yang tidak
sempurna merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya
bronkhopneumonia. Menurut WHO diberbagai negara berkembang
Streptococus pneumonia dan Hemophylus influenza merupakan bakteri yang
selalu ditemukan pada dua pertiga dari hasil isolasi, yaitu 73,9% aspirat paru
dan 69,1% hasil isolasi dari spesimen darah (Depkes, 2009).
1. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram
posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus
pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella
pneumonia dan P. Aeruginosa.
2. Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.
Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia
virus.
3. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui
penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada
kotoran burung, tanah serta kompos. Contoh jamur yang dapat menjadi
penyebab antara lain Candida, Histoplasma, Aspergilus
4. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya
menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi.

C. PATOFISIOLOGI
Pneumonia yang dipicu oleh bakteri bisa menyerang siapa saja, dari
bayi sampai usia lanjut. Pecandu alcohol, pasien pasca operasi, orang-orang
dengan gangguan penyakit pernapasan, sedang terinfeksi virus atau menurun
kekebalan tubuhnya, adalah yang paling berisiko. Sebenarnya bakteri
pneumonia itu ada dan hidup normal pada tenggorokan yang sehat. Pada saat
pertahanan tubuh menurun, misalnya karena penyakit, usia lanjut, dan
malnutrisi, bakteri pneumonia akan dengan cepat berkembang biak dan
merusak organ paru.
Kerusakan jaringan paru banyak disebabkan oleh reaksi imun dan
peradangan yang dilakukan oleh pejamu. Selain itu, toksin-toksin yang
dikeluarkan oleh bakteri pada pneumonia bakterialis dapat secara langsung
merusak sel-sel sistem pernapasan bawah. Pneumonia bakterialis
menimbulkan respon imun dan peradangan yang paling mencolok. Jika terjadi
infeksi, sebagian jaringan dari lobus paru, ataupun seluruh lobus, bahkan
sebagian besar dari lima lobus paru (tiga di paru kanan, dan dua di paru kiri)
menjadi terisi cairan. Dari jaringan paru, infeksi dengan cepat menyebar ke
seluruh tubuh melalui peredaran darah. Pneumonia adalah bagian dari
penyakit infeksi pneumokokus invasif yang merupakan sekelompok penyakit
karena bakteri streptococcus pneumoniae. Kuman pneumokokus dapat
menyerang paru selaput otak, atau masuk ke pembuluh darah hingga mampu
menginfiltrasi organ lainnya. infeksi pneumokokus invasif bias berdampak
pada kecacatan permanen berupa ketulian, gangguan mental, kemunduran
intelegensi, kelumpuhan, dan gangguan saraf, hingga kematian.
D. FATHWAY

Etiologi (virus, bakteri, jamur)

MK: ketidakefektifan
MK: defisiensi pengetahuan
Droplet terhirup bersihan jalan nafas

Kurang Sesak, ronkhi


pengetahuan, Masuk pada alveoli
informasi

Reaksi peradangan Obstuksi saluran nafas


Merangsang IL-1

Merangsang IL-1 PMN (leukosit & Konsolidasi-


makrofag meningkat) penumpukkan
eksudat di alveoli
Zat endogen pyrogen
Mengaktifasi cytokine Gangguan difusi O2
prostaglandin
Ekstravasasi cairan ke alveoli BGA abnormal

Berdistribusi ke transportasi O2 terganggu Konfusi, iritabilitas,


hipotalamus sianosis, dispneu,
pernafasan cuping hidung
HR meningkat,
Menggeser
kelelahan, kelemahan
setpoint anterior MK: gangguan
pertukaran gas
Suhu tubuh MK: intoleransi
meningkat aktivitas Respon batuk

Demam, berkeringat

Peningkatan pemecahan Penggunaan otot


cadangan makanan bantu abdomen
Cairan tubuh <<

MK: resiko tinggi MK: ketidakseimbangan Refluk fagal


kekurangan volume cairan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh Mual, muntah
E. TANDA DAN GEJALA
1. Pneumonia bakteri
Gejala awal :
a) Rinitis ringan
b) Anoreksia
c) Gelisah
Berlanjut sampai :
a) Demam
b) Malaise
c) Nafas cepat dan dangkal ( 50 – 80 )
d) Ekspirasi bebunyi
e) Lebih dari 5 tahun, sakit kepala dan kedinginan
f) Kurang dari 2 tahun vomitus dan diare ringan
g) Leukositosis
h) Foto thorak pneumonia lobar
2. Pneumonia virus
Gejala awal :
a) Batuk
b) Rinitis
Berkembang sampai
a) Demam ringan, batuk ringan, dan malaise sampai demam tinggi, batuk
hebat dan les
b) Emfisema obstruktif
c) Ronkhi basah
d) Penurunan leukosit
3. Pneumonia mikoplasma
Gejala awal :
a) Demam
b) Mengigil
c) Sakit kepala
d) Anoreksia
e) Mialgia
Berkembang menjadi :
a) Rinitis
b) Sakit tenggorokan
c) Batuk kering berdarah
d) Area konsolidasi pada pemeriksaan thorak
F. MANIFESTASI KLINIS
Pada dasarnya gejala klinisnya dapat dikelompokkan atas : 
1. Gejala umum infeksi : demam, sakit kepala, lesu, dll.gejala umum penyakit
saluran pernapasan bawah : seperti takipneu, dispneu, retraksi atau napas
cuping hidung, sianosis.
2. Tanda pneumonia : perkusi pekak pada pneumonia lobaris, ronki basah
halus nyaring pada bronkopneumonia dan bronkofoni positif. Batuk
disertai dengan napas cepat (usia < 2 bulan > 60 x/menit, 2 bulan – 1 tahun
> 50 x/menit, 1-5 tahun > 40 x/menit)
3. Batuk yang mungkin kering atau berdahak mukopurulen, purulen, bahkan
mungkin berdarah.
4. Tanda di ekstrapulmonal
5. Leukositosis jelas pada pneumonia bakteri dan pada sputum dapat dibiak
kuman penyebabnya (Muttaqin, 2008).

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Sinar X
Mengidentifikasi distribusi structural (mis, lobar, bronkial); dapat juga
menyatakan abses luas/ infiltrate, ampiema (stapilococcus); infiltrasi
menyebar atau terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran/ perluasan
infiltrate nodul (lebih sering virus).
2. GDA/ nadi oksimentari
Tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan
penyakit paru yang ada.
3. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah
Diambil dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakeal, bronkoskopi
fiberoptik, atau biopsi pembukaan baru untuk mengatasi organisme
penyebab. Lebih dari 1 tipe organisme ada: bakteri yang umum meliputi
Diplococcus pneumonia, stpilococcus aereus, A- hemolitik strepcoccus,
Haemopilus influenza; CMV. Catatan: Kultur sputum dapat tak
mengidentifikasi semua organism yang ada. Kultur darah dapat
menunjukkan baktremia sementara.
4. JDL
Leukositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah terjadi
pada infeksi virus, kondisi tekanan imun seperti AIDS, memungkinkan
berkembangnya pneumonia bacterial
5. LED: meningkat
6. Pemeriksaan fungsi paru
Volume mungkin menurun (kogesti dan kolaps alveolar): tekanan jalan
nafas mungkin meningkat dan complain menurun. Mungkin terjadi
pembebasan (hipoksemia).
7. Aspirasi perkutan/ biopsy jaringan paru terbuka
Dapat menyatakan intranuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik
(CMV); karaktristik sel raksasa (rubeolla) (Misnadiarly, 2008).

H. PENATALAKSANAAN PENEMONIA
Penatalaksanaan pneumonia dilakukan berdasarkan penentuan klasifikasi pada
anak, yaitu :
1. Pnemonia berat
Tanda : tarikan dinidng dada ke dalam
Penderita pneumonia berat juga mungkin disertaii tanda lain, seperti :
a) Nafas cuping hidung
b) Suara rintihan
c) Sianosis
Tindakan : cepat dirujuk ke rumah sakit ( diberikan satu kali dosis
antibiotika dan kalau ada demam atau wheezing diobati lebih dahulu)
2. Pnemonia ringan
Tanda : tidak ada tarikan dinding dada ke dalam, disertai nafas cepat
Tindakan :
a) Nasehati ibunya untuk tindakan perawatan di rumah
b) Beri antibiotik selama 5 hari
c) Anjurkan ibu untuk kontrol 2 hari atau lebih cepat apabila keadaan
memburuk
d) Bila demam, obati
e) Bila ada wheezing , obati
f) WHO menganjurkan penggunaan antibiotika untuk pengobatan
pneumonia yakni dalam bentuk tablet atau sirup ( kortimoksazol,
amoksisilin, ampisilisn ) atau dalam bentuk suntikan intra muskuler
( prokain penisilin).
3. Bukan pneumonia
Tanda : tidak ada tarikan dinding dada ke dalam, tidak ada nafas cepat
Tindakan :
a) Bila batuk > 30 hari, rujuk
b) Obati penyakit lain bila ada
c) Nasehati ibunya untuk perawatan di rumah
d) Bila demam, obati
e) Bila ada wheezing , obati
Selain penatalaksanaan diatas ada beberapa penatalaksaan pada penderita
pneumonia, diantaranya:
a) Oksigen 1-2L/menit
Terapi O2 untuk mencapai PaO2 80-100mmhg atau saturasi 95-96%
berdasarkan pemeriksaan AGD
b) Humidifikasi dengan nebulizer untuk mengencerkan dahak
c) Fisioterapi dada untuk mengeluarkan dahak , khususnya dengan
clapping dan vibrasi
d) Pemberian kortikosteroid , diberikan pada fase sepsis
e) Ventilasi mekananis , indikasi intubasi dan pemasangan ventilator
dilakukan bila terjadi hipoksemia persisten, gagal nafas yang disertai
peningkatan respiratory distress dan respiratory arrest
f) IVFD Dextrose 10% : NaCl 0,9%=3:1,+KCl 10 mEq/500 ml cairan.
Jumlah cairan sesuai BB, kenaikan suhu, dan status hidrasi.
g)  Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat di mulai makanan enteral bertahap
melalui selang nasogastrik dengan feeding drip.
h)  Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin
normal dan beta agonis untuk memperbaiki transport mukosilier.
i) Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit.

I. KOMPLIKASI PNEMONIA
1. Bakteremia
Bakteremia adalah suatu kondisi di mana ada sejumlah besar bakteri
hadir dalam aliran darah. Indikasi bakteri dalam darah terdeteksi oleh
pemeriksaan darah rutin dan pemeriksaan fisik. Bakteremia biasanya
dicurigai jika pasien menunjukkan tanda-tanda dan gejala seperti demam
tinggi, batuk lendir hijau atau kuning, kelemahan ekstrim dan timbulnya
syok septik. Bakteremia harus ditangani dengan cepat atau infeksi dapat
menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh dan menyebabkan organ utama
mati.
2. Efusi pleura
Efusi pleura terjadi ketika penumpukan kelebihan cairan dan dahak
pada lapisan dinding dada, alveoulus dan ruang-ruang di antaranya. Ini
adalah komplikasi umum yang muncul dari pneumonia dan mungkin salah
satu tanda-tanda pertama pada X-Ray dada. Jika cairan luas di paru-paru,
thoracentesis mungkin harus dilakukan.
3. Endokarditis
Endokarditis adalah infeksi lapisan dalam jantung. Ini merupakan
komplikasi dari pneumonia diobati jangka panjang atau pneumonia
berulang. Karena gejala dapat mirip pneumonia itu sendiri, seperti sesak
napas, batuk atau nyeri, sering kali tidak terdeteksi. Endokarditis yang
tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan ireversibel katup atau gagal
jantung.
4. Kegagalan ventilasi
Kegagalan ventilasi adalah nama lain umum untuk hiperkapnia. Otot-
otot di paru-paru, atau otot ventilator, bekerja keras untuk memungkinkan
paru-paru naik dan turun dan bekerja pada menyelesaikan fungsi tubuh
yang tepat. Dalam beberapa kasus pneumonia, pasien mungkin tidak dapat
bernapas dengan adekuat. Sebuah ventilator harus ditempatkan pada pasien
sehingga mereka dapat bernapas dengan benar dan mengisi aliran darah
dan oksigen ke seluruh organ tubuh.
5. Kegagalan Pernafasan hipoksemia
Kondisi ini terjadi ketika ada peradangan parah di dinding paru-paru
menyebabkan aliran udara menutup atau menyempitkan darah dan aliran
udara. Pengobatan awal adalah untuk mengurangi peradangan. Hal ini
dilakukan dengan antibiotik untuk menghilangkan infeksi dan thoracentesis
untuk menghapus cairan untuk meringankan tekanan udara dan aliran
kembali (Price, 2003; Sectish, 2003).
DAFTAR PUSTAKA

Aji, Tulus, Y, 2008.Faktor-faktor lingkungan fisik rumah yang berhubungan dengan


kejadian pneumonia pada anak balita. tanggal 2 Maret 2013.
Effendy, Nur. 2001. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
EGC.
Johnson M, Maas M, Moorhead S., Swanson, E. 2008. IOWA Outcome Project:
Nursing Outcomes Classification (NOC). 4th ed. Missouri: Mosby, Inc.
Kartasasmita, CB. 2010. Pneumonia Pembunuh Balita dalam Buletin Jendela
Epidemiologi; 3; 22-26.
Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
Mc Closkey, JC., Butcher, HK.,  Bulechek GM. 2008. IOWA Outcome Project:
Nursing Interventions Classification (NIC). 5h ed.Missouri: Mosby, Inc.
Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Nafas Pneumonia pada Anak, Orang
Dewasa, Usia Lanjut, Pneumonia Atipik, & Pneumonia Atypik
Mycobacterium. Jakarta: Pustaka Obor Populer.
Muttaqin, dkk. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan System
Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika.
North American Nursing Diagnosis Association. 2010. Nursing Diagnoses:
Definition & Classification 2012-2014. Philadelphia.
Price, Sylvia. 2003 . Patofisiologi Volume 2. Jakarta: EGC
Reevers, Charlene J, et all. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba
Medica.
Riskianti, Annisa, 2009. Faktor-faktor yang menyebabkan pneumonia. literature.pdf.
Diakses tanggal 3 Maret 2013.
Sectish TC, Prober CG. 2003. Pnemonia. Dalam : Behrman RE, Kleigman RM,
Jenson HB, penyunting. NelsonTextbook of Pediatrics. Edisi ke-17.
Philadelphia : WB Saunders, 1432-5.