Anda di halaman 1dari 16

TUGAS KELOMPOK

KESATUAN DAN KERAGAMAN AKIDAH DALAM ISLAM

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK II
NAMA : 1. ST. MUNAWARAH (19.62202.039)

2. RUSLIA (19.62202.040)

3. MUSFIRA (19.62202.041)

PRODI AKUNTANSI SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PARE PARE

DOSEN PENGAMPU :

Dr. Hj. MARHANI, LC.,M.Ag

TAHUN AKADEMIK 2019/2020


KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi robbil ‘aalamin, segala puji bagi Allah SWT tuhan semesta

alam atas segala karunia dan nikmat-Nya sehingga penulisan makalah ini dapat

selesai dengan sebaik-baiknya. Makalah yang berjudul “Kesatuan dan keragaman

akidah dalam islam “ disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu

Akidah yang dibawakan oleh ibu Dr. Hj. Marhani, Lc.,M.Ag.

Makalah ini berisi tentang ketauhitan islam dimasa lalu. Dalam

penyusunannya penulis mendapatkan berbagai informasi dari berbagai sumber, oleh

karena itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada beberapa sumber yang

diberikan untuk menyelesaikan makalah ini.

Meskipun telah disusun secara maksimal oleh penulis, akan tetapi penulis

sebagai manusia biasa sangat menyadari bahwa makalah ini sangat banyak

kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna. Karenanya penulis sangat

mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

Demikian yang dapat penulis sekaligus penyusun sampaikan, semoga para

pembaca dapat mengambil manfaat dan pelajaran dari makalah ini.

Pare pare, 16 September 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................1

A.     Latar Belakang............................................................................................................1

B.     Rumusan Masalah.......................................................................................................1

C.     Tujuan.........................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................................3

A.    Kesatuan Akidah semenjak Nabi adam a.s hingga nabi Muhammad SAW..................3

B.    Jalan yang Ditempuh Para rasul dalam Menanamkan Akidah......................................6

C. Keragaman Akidah dalam Islam dan permasalahannya...................................................7

BAB III PENUTUP.................................................................................................................9

A. Kesimpulan..................................................................................................................9

B. Saran..........................................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................11

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang

Akidah adalah unsur-unsur yang harus dibenarkan dengan hati dan

diterima dengan rasa puas serta terhujam kuat dalam lubuk jiwa yang tidak

dapat digoncangkan oleh keragu-raguan. Keberagaman adalah kegiatan yang

berkaitan dengan agaman dan juga suatu unsur kesatuan yang komprehensif,

yang menjadikan seseorang disebut sebagai orang beragama dan bukan

sekedar mengaku mempunyai agama. Hal penting dalam beragama adalah

memiliki keimanan. Keimnanan sendiri memiliki banyak unsur, unsur yang

paling penting adalah komitmen untuk menjaga hati agar selalu berada dalam

kebenaran. Secara praktis hal ini diwujudkan dengan cara melaksanakan

segala perintahnya dan menjauhi segala larangan Allah dan Rasul-nya.    

   Sepanjang sejarah, Tauhid digunakan untuk menetapkan dan

menerangkan segala apa yang diwahyukan Allah kepada RasulNya.

Perkembangan Tauhid mengalami beberapa tahapan sesuai dengan  dengan

perkembangan manusia, yang dimulai pada masa nabi Adam, Rasulullah

SAW, masa Khullafaurrasyidun, sampai sekarang, walaupun demikian dari

nabi Adam hingga sekarang akidah dalam islam tetap satu yaitu mengesakan

Tuhan.

B.     Rumusan Masalah

1. Bagaimana kesatuan akidah islam semenjak nabi Adam hingga nabi

Muhammad SAW.?

2. Jalan apa yang ditempuh para Rasul dalam menanamkan akidah islam?

3. Bagaimana keberagaman akidah dalam islam dan permasalahannya?

C.     Tujuan

1. Mengetahui bagaimana kesatuan akidah islam semenjak nabi Adam hingga

nabi Muhammad SAW.

1
2. Mengetahui jalan yang ditempuh para Rasul dalam menanamkan akidah

islam.

3. Mengetahui keberagaman akidah dalam islam dan permasalahannya.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A.    Kesatuan Akidah semenjak Nabi adam a.s hingga nabi Muhammad SAW.

Tauhid adalah konsep dalam aqidah islam yang menyatakan keesaahan

Allah SWT. Manusia, sejak masa azali, telah dimintai kesaksiannya tentang

siapa Tuhan mereka. Ketika nabi adam a.s diturunkan kedunia, beliau

membawa serta aqidah ketauhidan itu. Aqidah tauhid ini beliau ajarkan

kepada anak cucunya sampai turun temurun. Ketika nabi adam wafat, diantara

cucu-cucu beliau terdapat beberapa orang yang menyimpang dari akidah ini

karena godaan syaitan. Dari penyimpanan akidah inilah kelak lahir

kepercayaan-kepercayaan yang sesat dan menyimpang dari agama yang benar.

Jumlah mereka yang tersesat itu dari hari kehari semakin bertambah,

sedangkan akidahnya pun semakin jauh dari sumbernya yang asli. Untuk

mengembalikan akidah yang sesat itu, Allah mengutus seorang rasul yang

dipilihnya dari kalangan anak cucu adam dengan membawa akidah tauhid

pula. Rasul ini lalu menyampaikan ajaran untuk masuk kembali kedalam

agama(islam) yang dulu dibawa oleh nabi Adam. Umat manusia pun, yang

waktu itu jumlahnya belum begitu banyak, sebagian kembali kepada aqidah

tauhidnya. Namun adapula yang tetap berpegang pada aqidahnya yang telah

sesat itu. Ibarat domba-domba, saat mereka diawasi dan diasuh oleh

pengalamnnya, mereka tenang dan tertib. Namun, begitu penggembalanya

pergi,serta merta, domba-domba itu  pun berpencaran, dan tidak jarang

menjadi tersesat dan hilang. Begitulah, pada saat rasul sesudah nabi Adam itu

dipanggil menghadap Allah untuk selamanya, sebagian dari ummatnya ada

yang menyimpang dari aqidah yang diajarkannya. Sementara itu, jumlah

manusia pun terus bertambah dari waktu kewaktu. Allah pun mengutus pula

seorang rasul dengan membawa ajaran yang sama, aqidah ketauhidan.

Begitulah seterusnya, nabi dan rasul silih berganti datang dan pergi, nabi

Adam wafat, tampil nabi Idris, nabi Idris wafat, datang nabi Nuh, dan

3
seterusnya bersambung panjang membentuk garis vertikal dari nabi Adam,

Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW.

Dengan demikian, hakikatnya akidah tauhid merupakan akidah yang

satu yang merentang panjang dari Adam hingga nabi Muhammad, itulah yang

dimaksud dengan kesatuan akidah dalam sejarah ummat manusia ini. Adapun

ajaran-ajaran agama yang tidak mencerminkan ketauhidan, hanyalah

merupakan penyimpangan dari akidah ketauhidan yang satu itu. Adanya

kepercayaan terhadap zat yang maha tinggi dikalangan berbagai bangsa

primitif seperti yang selama ini dibuktikan oleh para ahli,selain menjadi bukti

bahwa beragama itu merupakan naluri manusia sekaligus bisa dinyatakan

sebagai sisa-sisa akidah tauhid yang dibawa oleh para nabi terdahulu serta

membantah kebenaran teori evolusi dalam kepercayaan ummat manusia.

Kalaupun ada yang bisa disebut evolusi hal itu terdapat pada peningkatan dan

penyempurnaan syariat yang ditetepakan Allah utnuk mengatur kehidupan

mansuia. Syariat itu dimaksudkan untuk mengatur kehidupan manusia,

sedangkan kehidupan it uterus berkembang dari waktu kewaktu maka syariat

yang ditetapkan oleh Allah terlihat mengalami peningkatan dan

penyempurnaan, pada masa nabi Adam, ketika jumlah manusia masih bisa

dihitung dengan jari, syariat Allah membenarkan pernikahan antara saudara

kandung  sendiri. Akan tetapi, pada saat manusia sudah berkembang menjadi

ummat yang besar syariat Allah yang berkaitan hal ini kemudia

disempurnakan. Demikian pula syariat yang berkenaan dengan aspek

kehidupan lain yang mencapai puncak kesempurnaannya pada saat kerasulan

nabi Muhammad SAW. Itulah makna firman Allah SWT dalam surah Al-

Baqarah Ayat 213 yang artinya “ manusia itu adalah ummat yang satu (setelah

timbul perselisihan) maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar

gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka

kitab dengan benar untuk member keputusan diantara manusia tentang perkara

yang mereka perselisihkan.

4
Tidaklah berselisih tentang kitab itu, melainkan orang yang telah

didatangkan kepada mereka kitab,yaitu setelahg datang kepada mereka

keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki anatra mereka sendiri. Maka

Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang

hal-hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendaknya. Alllah selalu

memberi petunjuk orang yang dikehendakinya kepada jalan yang lurus”

Allah juga berfirman dalam surah Al-Mu’minun ayat 52-53

ُ ُ
ِ ُ‫َوإِنَّ َه ِذ ِه أ َّم ُت ُك ْم أم ًَّة َوا ِح َد ًة َوأَ َنا َر ُّب ُك ْم َفا َّتق‬
‫ون‬

artinya “ sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama

yang satu dan aku adalah Tuhanmu maka bertakwalah.

ٍ ۭ ‫فَتَقَطَّ ُع ۡۤوا اَمۡ َرہُمۡ بَ ۡینَہُمۡ ُزبُ ًرا ؕ ُک ُّل ِح ۡز‬


َ‫ب بِ َما لَد َۡی ِہمۡ فَ ِر ُح ۡون‬

Artinya:”Kemudian, mereka pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama

mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan tiap-tiap golongan merasa

bangsa dengan apa yang ada pada sisi mereka (maisng-masing)”.

Begitu juga firman Allah SWT dalam surah An-Nisa ayat 163-164 yang

artinya “ sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana

kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya,

dan kami telah memberikan wahyu pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub,

dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman, dan kami berikan

Zabur kepada daud, dan kami telah mengutus rasul-rasul yang sungguh telah

kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak

kami kisahkan kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan

langsung”

5
B.    Jalan yang Ditempuh Para rasul dalam Menanamkan Aqidah

Telah disebutkan di muka bahwa para rasul diutus oleh Allah untuk

memurnikan akidah umat manusia. Ajaran akidah yang mereka bawa bisa

dibilang ringan dan mudah. Di samping itu, ajaran-ajaran yang mereka bawa

itu mudah dimengerti, dipahami, dan diterima dengan akal sehat, Para rasul

tersebut menyuruh umatnya mengarahkan pandangannya untuk memikirkan

tanda-tanda kekuasaan Tuhan.

Seperti rasul-rasul terdahulu, Nabi Muhammad SAW. Pun menanamkan

akidah itu dalam hati dan jiwa umatnya. Beliau menyuruh umatnya agar

pandangan dan pemikiran mereka diarahkan dan ditujukan kejurusan ini. Akal

mereka digerakkan dan fitrah mereka dibangunkan sambil mengusahakan

penanaman akidah itu dengan memberikan didikan, lalu disuburkan dan

dikokohkan, sehingga dapat mencapai puncak kebahagiaan yang dicita-

citakan.

Rasulullah SAW. Dapat mengubah umatnya yang semula menyembah

berhala dan patung, melakukan syirik dan kufur, menjadi umat yang berakidah

tauhid, mengesakan Tuhan  seru sekalian alam. Hati mereka dipompa dengan

keimanan dan keyakinan. Beliau dapat pula membentuk sahabat-sahabatnya

menjadi pemimpin yang harus diikuti dalam hal perbaikan akhlak dan budi

bahkan menjadi pembimbing  kebaikan dan keutamaan. Beliau juga telah

membentuk generasi dari umatnya sebagai suatu bangsa yang menjadi mulia

dengan sebab adanya keimanan dalam dada mereka , berpegang teguh pada

hak dan kebenaran. Pada saat itu umat yang berada dibawah pimpinannya,

bagaikan matahari dunia, dan mengajak kesejahteraan dan keselamatan pada

seluruh umat manusia.

Allah SWT. Membuat kesaksian pada generasi itu bahwa mereka benar-

benar memperoleh ketinggian dan keistimewaan yang khusus, sebagaimana

firman-Nya yang artinya:

6
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh

kepa da yang ma’aruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman

kepada Allah “  (Q.S Ali –Imran [3]: 110).

C. Keragaman Akidah dalam Islam dan permasalahannya

Semenjak kadaulatan Tauhid berdiri di bawah pimpinan Rasul Allah

yang terakhir yakni, Nabi Muhammad SAW, keadaan akidah tetap dalam

kesuciaannya yang berasal dari wahyu  ilahi dan ajaran-ajaran yang diberikan

dari langit. Dasar utamanya  yang digunakan sebagai pedoman adalah Al-

Qur’an dan Al-Hadis. Pada tingkat permulaan, yang dituju ialah memberikan

didikan dalam watak dan tabiat, meluhurkan sifat-sifat yang bersangkutan

dengan gharizah qalbu dan cara didikan yang harus dilalui dan ditempuh.

Maksudnya ialah setiap manusia dari kalangan masyarakat itu dapat

memperoleh keluhuran yang yang sesuai dengan kehormatan dan kemuliaan

dirinya sehingga tumbuhlah suatu kekuatan secara otomatis yang amat kokoh

dalam kehidupan.

Selanjutnya, setelah datang masa pertikaian yang banyak berdasarkan

siasat dan politik, apalagi setelah adanya hubungan dengan pemikiran-

pemikiran filsafat dan ajaran-ajaran agama lain, kemudian memaksa otak

manusia untuk menyelami sesuatu yang tidak kuasa dicapainya, itulah yang

menjadi sebab pokok terjadinya pergantian atau penyelewengan dari jalan

yang ditempuh oleh para nabi dan rasul. Ini pula yang merupakan sebab utama

keimanan yang asalnya cukup luas dan mudah diterima, serta amat tinggi

nilainya lalu menjadi berbagai macam pemikiran yang berisikan atau menjadi

bahan kiasan yang banyak diperselisihkan menurut ketentuan mantik atau

ilmu bahasanya, juga menjadi pokok perdebatan dan perselisihan pendapat

yang tidak berujung dan berpangkal sama sekali.

Ajaran keimanan yang sudah berubah itu, akhirnya tidak lagi

mencerminkan keimanan yang dapat menjadikan jiwa kembali suci, amal

7
perbuatan menjadi mulia dan baik, atau memberi semangat gerak pada

perseorangan dapat memberi daya hidup pada umat dan bangsa.

Sebagai akibat dari perselisihan dalam berbagai persoalan siasat dan

politik, terjadi penyelewengan ajaran-ajaran tauhid yang dibawa oleh para

rasul, dan paham pemikiran madzhab-madzhab itu berpecah-belah menjadi

beberapa golongan. Para tokohnya, kemudian memberikan pengajaran yang

berlainan, berbeda antara satu dan lainnya.

Setiap ajaran mencerminkan corak tersendiri dari cara pemikiran

tertentu. Masing-masing pihak menganggap bahwa apa yang mereka miliki

dan mereka pegang sajalah yang benar, sedangkan yang lain, yang tidak

sepaham dengannya, adalah salah. Demikianlah, anggapan setiap golongan.

Bahkan, ada anggapan yang lebih ekstrem lagi, yakni siapa saja yang tidak

masuk ke dalam golongan kelompoknya dianggap ke luar dari Islam (kafir).

Oleh karena itu, muncullah paham-paham seperti: paham ahli hadis,

paham Asy’ariyah, paham Maturidiah, paham Mu’tazilah, paham Syi’ah,

paham Jahamiah, dan masih banyak lagi paham lainnya. Bahkan, di antara

mereka terjadi perselisihan antara kaum ‘Asy’ariyah dengan kaum Mu’tazilah.

Akidah yang semula teguh dan mantap telah menjadi goyah dan

goncang dalam hati. Keimanan pun tidak meresap dalam jiwa sehingga akidah

itu tidak lagi dapat menguasai jalan kehidupan yang harus ditempuh oleh

setiap umat muslim dan kehidupan yang harus ditempuh oleh setiap umat

muslim dan bahkan keimanan itu sendiri tidak dapat lagi menjadi pusat

pemerintahan yang menjiwai segala tindak dan langkahnya orang yang

mengaku sebagai pemeluknya.

8
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Pada hakikatnya akidah tauhid merupakan akidah yang satu yang

merentang panjang dari Adam hingga nabi Muhammad, itulah yang

dimaksud dengan kesatuan akidah dalam sejarah ummat manusia ini.

Adapun ajaran-ajaran agama yang tidak mencerminkan ketauhidan,

hanyalah merupakan penyimpangan dari akidah ketauhidan yang satu itu.

Adanya kepercayaan terhadap zat yang maha tinggi dikalangan berbagai

bangsa primitif seperti yang selama ini dibuktikan oleh para ahli,selain

menjadi bukti bahwa beragama itu merupakan naluri manusia sekaligus

bisa dinyatakan sebagai sisa-sisa akidah tauhid yang dibawa oleh para nabi

terdahulu serta membantah kebenaran teori evolusi dalam kepercayaan

ummat manusia. Kalaupun ada yang bisa disebut evolusi hal itu terdapat

pada peningkatan dan penyempurnaan syariat yang ditetepakan Allah utnuk

mengatur kehidupan mansuia. Syariat itu dimaksudkan untuk mengatur

kehidupan manusia, sedangkan kehidupan it uterus berkembang dari waktu

kewaktu maka syariat yang ditetapkan oleh Allah terlihat mengalami

peningkatan dan penyempurnaan, pada masa nabi Adam, ketika jumlah

manusia masih bisa dihitung dengan jari, syariat Allah membenarkan

pernikahan antara saudara kandung  sendiri. Akan tetapi, pada saat manusia

sudah berkembang menjadi ummat yang besar syariat Allah yang berkaitan

hal ini kemudia disempurnakan. Demikian pula syariat yang berkenaan

dengan aspek kehidupan lain yang mencapai puncak kesempurnaannya

pada saat kerasulan nabi Muhammad SAW.

Pada zaman nabi Muhammad adalah masa penyusunan peraturan-

peraturan, penetapan pokok-pokok akidah dan penyatuan umat Islam serta

masa untuk mebangun kedaulatan Islam. Pada masa ini orang-orang Islam

9
langsung tertuju kepada Rosulullah SAW untuk mengetahui dasar-dasar

agama dan hukum-hukum syariah. Disamping itu mereka juga disinari oleh

nur wahyu dan petunjuk-petunjuk Al-qur’an.Setelah Rosulullah SAW wafat,

kepemimpinan diambil oleh Khulafaurrosyidin. Di masa Usman dan Ali

timbullah beberapa golongan dan partai yang diakibatkan akan terjadinya

kekacauan politik yang kemudian masing-masing dari mereka berusaha

mempertahankan pendiriannya dan terbukalah pintu takwil bagi nash-nash

Alqur’an dan hadist, juga terjadi pembuatan periwayatan-periwayatan palsu.

Oleh sebab itu pembahasan mengenai akidah mulai subur dan berkembang

selangkah demi selangkah dan kian hari kian membesar dan meluas.

B. Saran

Demikian tugas pembuatan makalah ini meskipun jauh dari

kesempurnaan, harapan kami dengan adanya makalah ini kita dapat

mengetahui tentang Kesatuan dan keragaman Akidah dalam Islam. Dan

semoga dengan adanya pembuatan makalah ini kita dapat mengambil

manfaatnya khususnya bagi  para pembaca sekalian.

10
     DAFTAR PUSTAKA

Syam, Mutmainnah. 2013. Kesatuan dan keragaman aqidah dalam islam.


Makalah. Dalam: Presentasi Mahasiswa Fakultas Syariah dan hukum jurusan
peradilan agama, Oktober 2013.

http://ambarafifah.blogspot.com/2017/11/akidah-islam-1_24.html?m=1

https://tafsirweb.com/5944-surat-al-muminun-ayat-52.html

https://tafsirweb.com/5945-surat-al-muminun-ayat-53.html

Universitas Muhammadiyah Magelang. hlm. 49. ISBN 978-602-18110-0-9.

11