Anda di halaman 1dari 5

LAMPIRAN

KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT DEDY JAYA
NOMOR
089/SK/DIR/IX/20167
TENTANG PANDUAN
PELAYANAN VOLUNTARY
COUNSELLING AND
TESTING (VCT)
RUMAH SAKIT DEDY JAYA

PANDUAN PELAYANAN VOLUNTARY COUNSELLING AND TESTING (VCT)


RUMAH SAKIT DEDY JAYA

BAB I
DEFINISI

A. LATAR BELAKANG
Kajian eksternal pengendalian HIV-AIDS sektor kesehatan yang dilaksanakan pada
tahun 2011 menunjukkan kemajuan program dengan bertambahnya jumlah layanan tes
HIV dan layanan perawatan, dukungan dan pengobatan HIV-AIDS, yang telah terdapat
di lebih dari 300 kabupaten/ kota di seluruh provinsi dan secara aktif melaporkan
kegiatannya. Namun dari hasil kajian ini juga menunjukkan bahwa tes HIV masih
terlambat dilakukan, sehingga kebanyakan ODHA yang diketahui statusnya dan masuk
dalam perawatan sudah dalam stadium AIDS.
Tes HIV sebagai satu-satunya “pintu masuk” untuk akses layanan pencegahan,
pengobatan, perawatan dan dukungan harus terus ditingkatkan baik jumlah maupun
kualitasnya. Perluasan jangkauan layanan TKHIV akan menimbulkan normalisasi HIV di
masyarakat. Tes HIV akan menjadi seperti tes untuk penyakit lainnya. Peningkatan
cakupan tes HIV dilakukan dengan menawarkan tes HIV kepada ibu hamil, pasien IMS,
pasien TB dan Hepatitis B atau C dan pasangan ODHA, serta melakukan tes ulang HIV
6 bulan sekali pada populasi kunci (pengguna napza suntik, pekerja seks, laki-laki yang
berhubungan seks dengan laki-laki serta pasangan seksualnya dan waria).
Konseling dan Tes HIV telah mulai dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 2004, yaitu
dengan pendekatan konseling dan tes HIV atas inisiatif klien atau yang dikenal dengan
Konseling dan Tes HIV Sukarela (KTS). Hingga saat ini pendekatan tersebut masih
dilakukan bagi klien yang ingin mengetahui status HIV nya. Sejak tahun 2010 mulai
dikembangankan Konseling dan Tes HIV dengan pendekatan Konseling dan Tes HIV
atas Inisiatif Pemberi Layanan Kesehatan (TIPK). Kedua pendekatan konseling dan tes
HIV ini bertujuan untuk mencapai universal akses, dengan menghilangkan stigma dan
diskriminasi, serta mengurangi missed opportunities pencegahan penularan infeksi HIV.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Panduan ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pelayanan Konseling dan Tes
HIV dalam rangka penegakkan diagnosis HIV-AIDS untuk mencegah sedini mungkin
terjadinya penularan atau peningkatan kejadian infeksi HIV dan pengobatan lebih
dini.
2. Tujuan Khusus
a. Sebagai panduan penatalaksanaan pelayanan VCT
b. Menjaga mutu layanan melalui penyediaan sumber daya dan manajemen yang
sesuai.
c. Memberi perlindungan dan konfidensialitas dalam pelayanan konseling dan

PANDUAN PELAYANAN VCT RS DEDY JAYA 1


testing HIV-AIDS

BAB II
RUANG LINGKUP

Ruang lingkup pelayanan Voluntary Counselling and Testing (VCT) adalah di unit pelayanan
yaitu Instalasi Gawat Darurat (IGD), Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Inap, Instalasi
Tindakan Persalinan dan Instalasi Laboratorium.

Jenis pelayanan yang diberikan meliputi:


1. Konseling Pretes HIV/AIDS
2. Pelayanan Tes HIV/AIDS
3. Penatalaksanaan Hasil Tes HIV/AIDS
4. Pelaporan hasil Tes

PANDUAN PELAYANAN VCT RS DEDY JAYA 2


BAB III
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. KONSELING PRETEST HIV/AIDS


1. Penerimaan Klien
a. Pasien datang dari rawat jalan (poliklinik obsgyn dan paru) dan rawat inap
(kebijakan direktur tentang semua pasien yang akan dilakukan tindakan operasi
wajib di lakukan pemeriksaan R1 dan semua pasien yang dicurigai).
b. Formulir konseling dan testing dengan ditulis oleh petugas unit terkait.
c. Tulis nomor register masing-masing pasien dengan kode yang sudah ditetapkan.
2. Konseling Pretest
a. Periksa ulang nomor kode dalam formulir
b. Perkenalan dan tujuan pemeriksaan
c. Penilaian resiko agar klien mengetahui factor resiko dan menyiapkan diri untuk
pretest
d. Klien memberikan persetujuan tertulis sebelum tes HIV dilakukan.
3. Informed Consent
a. Semua Pasien sebelum menjalani tes HIV harus Memberikan Persetujuan
Tertulis
Aspek penting dalam persetujuan tertulis adalah:
a. Pasien diberi penjelasan tentang resiko dan dampak sebagai akibat
tindakan dan pasien menyetujuinya
b. Pasien mempunyai kemampuan mengerti/memahami dan menyatakan
persetujuannya
c. Pasien tidak dalam terpaksa memberikan persetujuannya
b. Informed Consent pada Anak
Dalam melakukan testing HIV pada anak dibutuhkan persetujuan orang tua/ wali.
c. Batasan Umur untuk Persetujuan
Jika anak dibawah umur 17 tahun memerlukan testing HIV maka orangtua atau
wali harus mendampingi secara penuh.

B. PELAYANAN TEST HIV/AIDS


Prinsip testing HIV adalah terjaga kerahasiaannya. Testing dimaksudkan untuk skrinning
awal. Penggunaan testing cepat (rapid testing) memungkinkan pasien mendapatkan
hasil testing pada hari yang sama. Tujuan testing adalah:
1. Skrinning awal
2. Surveilans
3. Penelitian (oleh dinas kesehatan)

Petugas laboratorium harus menjaga mutu dan konfidensialitas, menghindari terjadinya


kesalahan baik teknis (technical error), manusia (human error) dan egative ative
(administrative error).
Bagi pengambil sampel darah harus memperhatikan hal-hal berikut:
1. Identifikasi Pasien
2. Penggunaan APD yang sesuai
3. Sebelum testing dilakukan harus didahului dengan konseling dan informed consent
4. Hasil diberikan dalam amplop tertutup
5. Dalam laporan pemeriksaan ditulis kode register
6. Jangan memberi tanda menyolok terhadap hasil positif atau egative
7. Pasien dengan hasil pemeriksaan yang positif akan dirujuk ke RS yang telah
ditunjuk oleh dinas kesehatan Brebes.

PANDUAN PELAYANAN VCT RS DEDY JAYA 3


C. PENATALAKSANAAN HASIL TEST HIV/AIDS
1. Hasil pemeriksaan yang positif
a. Jelaskan maksud dari hasil positif pemeriksaan awal tes HIV/AIDS pada pasien
b. Pasien di rujuk ke RSUD Brebes untuk dilakukan tes lanjutan.
c. Konfirmasikan hasil tes dengan dokter peminta
2. Penanganan pasien dengan hasil R1 positif intra partum
a. Petugas menggunakan APD lengkap saat akan menolong persalinan
b. Tunda pemberian ASI
c. Rujuk pasien post partum setelah stabil beserta bayinya untuk dilakukan
pemeriksaan lanjutan di RSUD Brebes sesuai dengan panduan rujukan.

D. PELAPORAN HASIL TES


1. Formulir konseling dan tes HIV setelah terisi lengkap dari unit diserahkan ke Tim
VCT untuk dimasukkan ke dalam buku register.
2. Input pelaporan ke SIHA offline setiap minggu oleh Tim VCT
3. Pelaporan SIHA offline dikirim ke SIHA online sebulan sekali setiap akhir bulan, dan
dikonfirmasikan ke petugas Dinas Kesehatan terkait.

PANDUAN PELAYANAN VCT RS DEDY JAYA 4


BAB IV
DOKUMENTASI

Dokumentasi pada Panduan Pelayanan Voluntary Counselling and Testing (VCT) Rumah
Sakit Dedy Jaya adalah sebagai berikut:

 Standar Prosedur Operasional (SPO) :


1. SPO Pelayanan VCT
2. SPO pemeriksaan HIV
3. SPO Konseling dan tes HIV
4. SPO Pelaporan

PANDUAN PELAYANAN VCT RS DEDY JAYA 5