Anda di halaman 1dari 4

Septik Arthritis

A. Definisi

Septik arthritis adalah suatu penyakit radang sendi yang disebabkan oleh bakteri atau
jamur. Infeksi primer disebabkan oleh inokulasi langsung akibat trauma termasuk
pembedahan. Infeksi sekunder akibat penyebaran secara hematogen atau perluasan dari
osteomielitis. Septik arthritis memiliki karakteristik hanya melibatkan satu bagian sendi.
Septik arthritis merupakan hasil dari invasi bakteri di celah sendi, di mana penyebaran
terjadi secara hematogen, inokulasi langsung akibat trauma maupun pembedahan, atau
penyebaran dari osteomileitis atau selulitis yang berdekatan dengan celah sendi.
Septik arthritis dapat mengenai berbagai usia, tetapi anak-anak dan orang tua lebih
mudah terkena, terutama jika mereka sudah mempunyai kelainan pada sendi seperti
riwayat trauma atau kondisi seperti hemofilia, osteoarthritis, atau rheumatoid arthritis.
Pasien immunocompromise untuk beberapa alasan dan penyakit seperti diabetes mellitus,
alkoholisme, sirosis, kanker, dan uremia meningkatkan resiko infeksi.

B. Patogenesis

Infeksi melalui hematogen pada sendi dimulai dari bakteremia sistemik yang menyerang
synovial cartilaginous junction dari ruang intravaskuler dan menyebar ke sinovium dan
cairan synovial. Reseptor kolagen yang ditemukan pada Staphylococcus aureus ikut
berperan dalam infeksi sendi. Selain itu, kurangnya keterbatasan membran basal dalam
kapiler sinovium memungkinkan bakteri mencapai ruang ekstravaskuler dari jaringan
synovial melewati gap antar kapiler sel endotel. Fibroblas dari synovial juga menghambat
proses fagositosis dari bakteri.

Segera setelah terinfeksi, sinovium berubah menjadi hiperemi dan infiltrat mengandung
sel polimorfonuklear (PMN) yang akan meningkat secara cepat dalam beberapa hari
kemudian. Secara histologi, perubahan dari inflamasi akut menjadi kronik dengan
meningkatnya sel mononuklear (MN) dan limfosit, dan akan menjadi sel dominan
penyebab inflamasi dalam waktu 3 minggu.
Destruksi dari kartilago artikular akan menyebabkan terjadinya degradasi dari bahan
dasar, yang tampak dalam 4-6 hari setelah infeksi. Menurunnya bahan dasar, menurut
Perry, dimulai 2 hari setelah inokulasi karena adanya aktivasi enzim dari respon inflamasi
akut, produkasi toksin dan enzim dari bakteri, serta stimulasi dari limfosit T selama
“delayed immune response”. Antigen bakteri akan terdeposit di cairan sinovium dan
spesifik toksin, seperti enterotoksin dari staphylococcal, dimana produksinya dipengaruhi
oleh proliferasi bakteri akibat aktivasi limfosit T. Meningkatnya limfosit T dan penurunan
dari bahan dasar, kolagen diarahkan untuk kolagenesis, perubahan dari sifat mekanis
kartilago artikuler, meningkatkan kepekaan untuk memakai. Destruksi komplit dari
artikular kartilago terjadi sekitar 4 minggu. Dislokasi atau subluksasi dan
C. Diagnosa

Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa yang akan memunculkan berbagai gejala


klinis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
1. Ringkasan manifestasi klinis septik arthritis :

a. Nyeri sekitar sendi


b. Hambatan gerak
c. Tanda-tanda sistemik
• Demam
• Menggigil
• Malaise
d. Sendi
• Bengkak
• Hidrops
• Panas
• Nyeri tekan
e. Aspirasi
• Cairan keruh
• Nanah dengan bacteri
2. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan cairan sendi merupakan pemeriksaan yang rumit. Ketika gejala klinis telah
tampak, maka pada cairan sendi akan tampak keruh atau purulen. Hitung sel darah putih
sering lebih dari 50.000/μL, dengan lebih dari 90% merupakan sel PMN, glukosa
menurun sampai 50 mg/dl. (1,2) Pengecatan gram dan kultur juga merupakan
pemeriksaan yang penting. Pada pewarnaan gram biasanya dapat diberikan antibiotik
pertama sambil menunggu hasil sensitivitas kultur. Pyarthrosis tanpa adanya organisme
yang terlihat pada pewarnaan gram biasanya merupakan suatu gonokokus. Spesimen
kultur untuk organisme yang sulit harus diberikan segera kepada laboratorium
mikrobiologi untuk ditempatkan pada media yang sesuai dan diinkubasi dalam
karbondioksida 5%. Tingkat sedimentasi eritrosit biasanya selalu meningkat, demikian
pula dengan perhitungan sel darah putih. Kultur darah kadang-kadang positif bahkan
ketika organisme tidak diambil dari cairan sendi. Pada pemeriksaan darah akan
didapatkan laju endap darah yang meningkat.
3. Pemeriksaan Radiologi

Banyak teknik pemeriksaan radiologi yang tersedia untuk membantu mendeteksi adanya
infeksi sendi, dan walaupun dapat membantu dalam kecurigaan terhadap septik arthritis,
tetapi pemeriksaan ini bukanlah diagnosa pasti (gold standart). Tampakan signifikan pada
pemeriksaan X-ray tergantung dari durasi dan virulensi dari infeksi itu sendiri. Selama 2
minggu pertama, kapsul sendi akan tampak distended, penebalan soft tissue, dan jaringan
lemak tidak terlihat.
Pada neonatus, terjadi peningkatan tekanan intraartikuler dari efusi yang menyebabkan
pelebaran celah sendi pada gambaran radiologik. Dengan kemungkinan progresifitas
yang mengarah ke dislokasi patologik. Adanya hiperemia yang menetap dan tidak
digunakan lagi, terjadilah demineralisasi tulang subkondral dan meluas ke proksimal dan
distal sendi. Struktur trabekular secara progresif akan menghilang, dan kompaksitas dari
tulang subkondral tampak tertekan. Destruksi dari kartilago dicerminkan dari
penyempitan dari celah sendi sampai tulang subkondral tidak berada di tempatnya.

Radiografi dapat digunakan untuk memonitor respon terapi dan deteksi ketidakadekuatan
mengatasi stadium dari penyakit, seperti destruksi sendi general, osteomielitis,
osteoarthritis, joint fusion, atau hilangnya tulang.

Ultrasonografi (USG) dapat digunakan untuk mendeteksi cairan sendi yang terletak lebih
dalam. Gambaran khas dari septik arthritis pada pemeriksaan USG berupa non-echo-free
effusion yang berasal dari bekuan darah. USG dapat digunakan sebagai panduan dalam
melakukan aspirasi dan drainase serta untuk memonitor status kompartmen intrartikuler,
kapsul sendi, tidak mahal, dan mudah digunakan, tetapi pemeriksaan ini sangat
tergantung dari operator yang mengerjakannya.
CT Scan, MRI, dan bone scans juga dapat digubakan untuk diagnosa septik arthritis, akan
tetapi pemeriksaan ini tidak selalu diperlukan. CT lebih sensitif disbanding radiografi. CT
dapat menunjukkan penebalan soft-tissue, efusi sendi, dan formasi abses pada stadium
awal infeksi. Selain itu, CT dapat pula digunakan sebagai panduan salam melakukan
aspirasi, monitor terapi, dan membantu dalam pendekatan operatif. MRI dapat
mendeteksi infeksi dan perluasannya, dan sangat berguna untuk mendiagnosa infeksi
yang sulit dicapai. MRI mempunyai resolusi yang lebih besar daripada CT dan
menunjukkan gambaran anatomi yang lebih detail daripada bone scans. Dapat digunakan
untuk membedakan apakah itu suatu infeksi tulang atau infeksi dari soft tissue dan
menunjukkan efusi sendi.

D. Penatalaksanaan

Prinsip penatalaksanaan pada septik arthritis akut: drainase sendi harus adekuat,
antibiotik harus diberikan untuk mengurangi efek sistemik dari sepsis, sendi harus
diistirahatkan dalam posisi stabil.

Analgetik dan dan pembidaian dari sendi yang terkena pada posisi maksimal dan
senyaman mungkin untuk mengurangi nyeri. Adanya fokus infeksi dan kondisi medis
harus diindetifikasi dan diterapi sesuai penyakit yang ditemukan. Penggantian cairan dan
kecukupan nutrisi mungkin diperlukan.
E. Prognosa

Hasil yang memuaskan dicapai sekitar 70% atau bahkan lebih pada beberapa pasien
septik arthritis dengan diagnosis dan pengobatan dini. Destruksi sendi terutama sendi
panggul pada neonatus dan kekakuan sendi pada orang tua merupakan penyebab umum
dari kegagalan terapi. Jarang menyebabkan kematian.