Anda di halaman 1dari 708

http://facebook.

com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
中华人民共和国
Republik Rakyat China
Dari Mao Zedong sampai Xi Jinping
http://facebook.com/indonesiapustaka
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014
tentang Hak Cipta

(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak
ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf
i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana
penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta
atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi
Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c,
huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komer-
sial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/
atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus
juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta
atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi
Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf
a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara
Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat)
tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana
denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
http://facebook.com/indonesiapustaka
中华人民共和国
Republik Rakyat China
Dari Mao Zedong sampai Xi Jinping

Michael Wicaksono
http://facebook.com/indonesiapustaka

PT ELEX MEDIA KOMPUTINDO


Republik Rakyat China
Dari Mao Zedong sampai Xi Jinping
Oleh: Michael Wicaksono

©2017 Michael Wicaksono


Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang
Diterbitkan pertama kali oleh:
Penerbit PT Elex Media Komputindo
Kelompok Gramedia, Anggota IKAPI, Jakarta

717081680
ISBN: 978-602-04-4730-8
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak


sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta


Isi di luar tanggung jawab percetakan
Daftar Isi

Kata Pengantar vii


Pedoman Pengejaan Hanyu Pinyin ix

Mari Memerintah China (1949-1965) 1


Mabuk Kemenangan 3
Balas Budi yang Menyusahkan 23
Biarkan Bunga-bunga Mekar 55
Menyederhanakan Bahasa, Mencerdaskan Rakyat 77
Burung Tak Lagi Berkicau 91
Merengkuh Kaki Langit 113
Pecah Kongsi Sekutu Lama 133
Presiden Liu, Pemimpin Kami Tercinta 161
Sementara Itu di Luar Negeri... 175

Ketua Mao yang Agung (1965-1976) 189


Madame Mao 191
Mementaskan Opera Kuno 213
Hancurkan Markas Besar! 227
Kaisar Merah 249
Macan Kecil Sang Ketua 261
Senyum Hangat Musuh Lama 285
http://facebook.com/indonesiapustaka

Geng Empat 303


Perlawanan Terakhir Sang Perdana Menteri 317
Eulogi Mengalahkan Kematian 349
Belang si Macan Tua 361
vi Republik Rakyat China

Reformasi Deng Xiaoping (1977-1992) 371


Kudeta November 373
Hua atau Deng? 389
Pemimpin, Bukan Ketua 405
Wajah Baru China 417
Vietnam Berulah? 435
Kebangkitan Dewan Tetua 449
Gerbang Surga 457
Runtuhnya Komunisme Internasional 479
Kunjungan ke Selatan 495

Sekretaris Jenderal dari Shanghai (1989-2002) 509


Hubungan Antar Selat 511
Bos Partai dari Shanghai 525
Beroperasi di Bawah Bayang-bayang 545
Satu Negara, Dua Sistem 559
Roda Dharma yang Terlarang 577
Transisi yang Rumit 593

China Seperti Sekarang Ini (2002 – sekarang) 613


Sains dan Teknologi 615
Tembok Api Tirai Bambu 633
Selamat Datang di Beijing 641
Adidaya Baru 655
http://facebook.com/indonesiapustaka

Daftar Peristiwa Penting 675


Daftar Nama Tokoh Penting 685
Daftar Pustaka 689
Kata Pengantar

Bagi mereka yang hidup di dekade 60-an, nama China iden-


tik dengan kemiskinan, keterbelakangan, dan kemunduran.
Mereka pasti akan menggambarkan China sebagai negeri yang
dipenuhi orang-orang miskin, anak-anak muda revolusioner
yang naif, dan kediktatoran tangan besi yang tidak masuk akal
di bawah tiran yang kejam dan oportunis.
Tetapi melompat setengah abad kemudian, China iden-
tik dengan mimpi yang menjadi kenyataan. Kota-kota besar
bermunculan di seantero negeri, dan rakyatnya hidup mak-
mur bergelimang harta dan berbagai kemajuan teknologi.
Rakyatnya membanjiri berbagai negara asing tidak lagi sebagai
imigran yang melarikan diri dari kemiskinan, namun sebagai
turis yang “melarikan diri” dari hiruk-pikuk kesibukan sehari-
hari, dan membawa serta uang yang banyak untuk dihambur-
hamburkan dalam kesenangan di berbagai situs pariwisata
terkenal dunia.
“Mimpi China”, sebagaimana yang dicetuskan oleh Xi
Jinping di akhir dekade 2000an, merupakan mimpi setiap
negara berkembang yang ingin sukses. Kemajuan pereko-
nomian yang sangat pesat, perkembangan teknologi dan
industri, serta keteraturan hidup yang harmonis merupakan
http://facebook.com/indonesiapustaka

dambaan bagi negara-negara lain yang ingin bangkit dari ke-


terpurukan. Namun yang harus diketahui, semua itu tidak
didapatkan dengan mudah. China telah mengalami masa-
masa jatuh-bangun yang sangat panjang, dan melalui sejum-
lah cobaan politik dan bencana alam maupun kemanusiaan
yang telah memakan korban puluhan juta jiwa.
viii Republik Rakyat China

Buku ini mencoba memberikan gambaran kasar tentang apa


saja yang sudah dilalui China selama masa-masa terberatnya,
dan apa saja yang sudah mereka lakukan untuk bertahan dan
terus melangkah, sampai akhirnya menemukan keberhasilan.
Gaya berbeda dari berbagai pemimpin yang datang silih ber-
ganti, memberikan warna tersendiri dalam sejarah Republik
Rakyat China yang hampir berusia tujuh dasawarsa ini. Pada
akhirnya, sejarah yang akan menilai jalan cerita negeri ini dan
memberikan epilognya: apakah akan menemui kesuksesan
seperti Amerika Serikat, atau menjumpai kehancuran seperti
Jepang dan Jerman seusai Perang Dunia II dulu. Mana yang
akan dipilih oleh China?

Jakarta, Januari 2017


Michael Wicaksono
http://facebook.com/indonesiapustaka
Pedoman Pengejaan
Hanyu Pinyin
Semua istilah bahasa China yang di-Romanisasikan di dalam
buku ini menggunakan acuan standar Hanyu Pinyin, yang
diakui oleh pemerintah Republik Rakyat China dan PBB.
Vokal dan konsonan yang ada tidak semuanya dibaca sesuai
dengan standar EYD yang kita pergunakan.
Vokal
Vokal rangkap dalam bahasa Mandarin yang ditulis ber-
samaan dibaca sebagai sebuah diftong, bukan sebagai vokal-
vokal terpisah, semisal:
ai seperti pada pantai, bukan panta-i.
ia seperti pada ya, bukan i-a.
ao seperti pada takraw, bukan a-o.
ui dibaca sebagai wéy (hui  hwéy).
Beberapa vokal akan berbeda pembacaannya di belakang kon-
sonan atau vokal yang berbeda:
i di belakang konsonan c, ch, r, s, sh, z dan zh akan dibaca
sebagai ê seperti pada kêsal, namun diucapkan dengan gigi
terkatup dan lidah menyentuh langit-langit, untuk mem-
bedakan dengan vokal e pada ce, che, re, se, she, ze dan zhe.
http://facebook.com/indonesiapustaka

i di belakang konsonan lainnya akan diucapkan sebagai i.


u di belakang konsonan j, q, dan x akan dibaca sebagai ü,
atau bunyi di antara i dan u, dengan bibir membentuk
vokal u namun mengucapkan vokal i.
x Republik Rakyat China

u di belakang konsonan lain akan diucapkan sebagai u.


u yang diikuti oleh konsonan n akan diucapkan sebagai
wê (lun  lwên), kecuali apabila di depannya didahului
oleh konsonan j, q, x, atau y, maka akan dibaca sebagai
ü (jun  jün).
an di belakang konsonan y atau vokal i akan diucapkan se-
bagai èseperti pada pelet, bukan seperti e pada tempe
(yan  yèn). Pada varian logat utara, tidak ada per-
ubahan bunyi.
an di belakang vokal u yang mengikuti konsonan j, q,x
dan y akan dibaca juga sebagai è (juan, quan, xuan,
yuandjyüèn, chyüèn, hsyüèn, yüèn).
an di belakang konsonan lain, atau di belakang vokal u
yang didahului oleh konsonan selain j, q, x dan y, tetap
dibaca sebagai an.
e di belakang konsonan y atau vokal i akan diucapkan se-
bagai èseperti pada pelet (ye  yè).
e apabila berdiri sendiri, di belakang konsonan selainy,
tidak diikuti vokal lain, atau diikuti oleh konsonan apa-
pun maka dibaca sebagai ê seperti pada kêsal.
e apabila diikuti vokal i maka diucapkan sebagai é pada
tempe (ei éy).
o apabila berdiri sendiri, di belakang vokal u, atau di
http://facebook.com/indonesiapustaka

belakang konsonan b, p, m, f, atau w maka diucapkan se-


bagai o seperti pada kolong, bukan sebagai o pada soto.
o apabila tidak di belakang vokal uatau konsonan b, p,
m, f atau w, kemudian diikuti vokal atau konsonan apa-
pundiucapkan sebagai o pada soto.
Kata Pengantar xi

Konsonan Awal
Konsonan awal dalam bahasa Mandarin adalah: b-, c-, ch-, d-,
f-, g-, h-, j-, k-, l-, m-, n-, p-, q-, r-, s-, sh-, t-, w-, x-, y-, z- dan
zh-. Bahasa ini tidak mengenal konsonan v-, namun dalam
pengetikan, v digunakan untuk menggantikan ü.
Konsonan dalam bahasa Mandarin memiliki pasangan “bunyi
yang mirip”, di mana aturan pembacaan dari komponan
vokal-konsonan yang mengikutinya akan sama, yaitu:
b-, p-, m-, f- dan w- (yang menjadi sistem bopomofo)
c-, ch-, s-, sh-, z- dan zh-
j-, q-, x- dan y-
d- dan t-
g- dan k-
Aturan pembacaan konsonan awal adalah sbb:
b- dibaca sebagai b, namun lebih ringan
p- dibaca sebagai ph, namun tidak seperti f
c- dibaca sebagai c yang ringan yang diikuti dengan suara
mendesis
ch- dibaca sebagai ch
s- dibaca sebagi s yang berat yang hampir mirip dengan z
http://facebook.com/indonesiapustaka

sh- dibaca sebagai sh


z- dibaca sebagai c yang ditekan yang mirip dengan dz
zh- dibaca sebagai c yang berat yang mirip dengan j
d- dibaca sebagai d, namun lebih ringan
xii Republik Rakyat China

t- dibaca sebagai th
g- dibaca sebagai g, namun lebih ringan
k- dibaca sebagai kh
j- dibaca sebagai j, namun lebih ringan, dan seolah-olah
diikuti oleh konsonan y (jy-)
q- dibaca sebagai ch, dan seolah-olah diikuti oleh konsonan
y (chy-)
x- dibaca sebagai hs, dan seolah-olah diikuti oleh konsonan
y (hsy-)
r- dibaca sebagai r, namun ditekan sehingga seolah-olah
diawali oleh konsonan d
Selain dari yang disebutkan di atas, aturan pembacaan vokal
atau konsonan lainnya sama dengan dalam bahasa Indonesia.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka

(1949-1965)
Mari Memerintah China
http://facebook.com/indonesiapustaka
Mabuk Kemenangan

Tidak seperti biasanya, jalan raya Chang’an di kota Beijing


yang biasanya ramai dan penuh sesak di pagi hari, saat itu
lengang dan sepi. Jalan yang lebarnya dapat dimuati se-
puluh mobil berjajar bersama ini melintasi sisi selatan ger-
bang Museum Istana alias Kota Terlarang yang terkenal itu,
yang menghadap langsung ke lapangan Tian’anmen. Akibat
melonjaknya angka kepemilikan kendaraan di China dan
meningkatnya jumlah perusahaan swasta yang menjamur di
Negeri Tirai Bambu itu, setiap pagi jalan-jalan raya di Beijing
dan kota-kota besar lainnya di penjuru negeri akan dipadati
oleh kendaraan pribadi roda empat, yang entah dipakai
mengantar anak ke sekolah, atau dikendarai sampai ke tempat
kerja.
Namun tidak halnya di pagi hari di awal bulan September
itu. Pada hari itu akan digelar sebuah parade militer akbar,
yang secara resmi diberi nama “Parade Militer Memperingati
70 Tahun Kemenangan China dalam Perang Melawan Jepang
dan Perang Melawan Fasisme Dunia”. Parade ini pun diper-
siapkan dengan sangat serius dan cermat. Persiapan itu pun
memperhatikan sampai ke detil yang kecil; seperti misalnya
demi menjamin agar pesawat-pesawat tempur China dapat
terbang di langit yang biru, pemerintah China sejak akhir bu-
http://facebook.com/indonesiapustaka

lan Agustus bahkan sudah memerintahkan agar pabrik-pabrik


yang beroperasi di daerah sekitaran ibukota Beijing sampai
sejauh provinsi Mongolia Dalam dan Shandong untuk menu-
runkan kapasitas produksi mereka demi menekan angka emisi
yang bisa mempengaruhi kejernihan angkasa saat parade ber-
langsung. Begitu tingginya level perfeksionisme yang mereka
4 Republik Rakyat China

Parade Militer China


Sebagaimana negara-negara komunis, Republik Rakyat China juga
memiliki tradisi menggelar jajaran personel dan perlengkapan
militernya dalam parade untuk memperingati hari-hari besar
nasional, seperti peringatan berdirinya RRC atau 70 tahun
kemenangan atas Jepang pada tahun 2015.

kejar, sampai-sampai pemerintah kota menerjunkan “pasukan”


yang tidak biasa, yaitu kera-kera macaque dan burung-burung
nasar yang dilepaskan untuk menghancurkan sarang-sarang
burung liar di daerah Beijing, agar burung-burung liar itu
tidak mengganggu penerbangan pesawat tempur di hari H
peringatan nanti.
Pukul 10 waktu standar Beijing (GMT+8 atau selisih 1
http://facebook.com/indonesiapustaka

jam lebih cepat dari waktu Jakarta), parade akbar itu pun
resmi dimulai dengan Li Keqiang yang menjabat sebagai per-
dana menteri China, menjadi pimpinan upacaranya. Sebelas
menit sebelumnya, di bawah iringan musik dari korps musik
militer, para pimpinan pemerintahan China masuk ke dalam
gerbang Tian’anmen dari atas mobil sedan hitam mereka,
Mabuk Kemenangan 5

untuk kemudian bergabung dengan pejabat-pejabat teras lain-


nya yang sudah menunggu di balkon gerbang Tian’anmen,
yang menjadi tempat di mana pada tahun 1949 Mao Zedong
memproklamasikan berdirinya republik mereka itu.
Setelah pengumuman resmi dari Li Keqiang di pukul 10,
menyusul kemudian adalah pengibaran bendera negara China,
yaitu bendera merah dengan satu bintang besar dan empat
bintang kecil di sekelilingnya yang semuanya berwarna ku-
ning, yang menempati kanton kiri atas bendera itu. Bendera
yang didesain saat berdirinya Republik Rakyat China tahun
1949 silam itu menunjukkan dengan jelas kekuasaan kelas
“proletar” (kelas buruh dan petani miskin), sang bintang besar
yang dikelilingi empat bintang lainnya, yang menggambarkan
kelas-kelas lainnya yang “lebih kecil” di sekeliling kelas prole-
tar yang bersinar terang itu.
Pengibaran bendera diiringi dengan tembakan salvo se-
banyak 70 kali dari moncong-moncong meriam yang di-
sinkronisasi sehingga semuanya berdentum secara bersamaan,
yang diiringi oleh lagu kebangsaan Republik Rakyat China,
“Mars Tentara Sukarelawan” yang liriknya sangat membakar
semangat para pejuang yang darahnya mendidih dan ber-
gelora:
“Bangkitlah, wahai kalian yang tidak sudi diperbudak!
Jadikanlah darah dan daging kita pembangun Tembok
Besar yang baru! Rakyat China telah sampai pada
http://facebook.com/indonesiapustaka

masa-masa yang sulit, dan semua orang akan dipaksa


untuk menunjukkan penentangan yang garang! Bang-
kitlah, bangkitlah, bangkitlah! Hati rakyat kita semua
menyatu, menerjang dentuman tembakan musuh, maju!
Menerjang dentuman tembakan musuh, maju! Maju,
maju, maju!”
6 Republik Rakyat China

Seakan belum cukup untuk menunjukkan kemegahan dan ke-


besaran dari peringatan ini, menyusul berikutnya adalah parade
pasukan militer China yang berlatih dengan sangat keras untuk
menunjukkan performa maksimal dalam acara ini, yang mu-
lai maju berbaris dengan berjajar rapi setelah barisan mereka
diinspeksi oleh sang presiden, Xi Jinping. Tidak hanya China
yang menjajarkan pasukannya, namun juga pasukan-pasukan
utusan berbagai negara sahabat ikut memeriahkan parade ini,
di bawah pandangan mata, tepuk tangan, dan tawa bahagia
penuh kekaguman dari berbagai pimpinan negara sahabat
yang melihat kedisiplinan pasukan mereka itu. Tercatat ada 17
negara sahabat yang mengirimkan pasukannya dalam parade
ini, dari negara sekutu lama China yaitu Rusia, sampai negara
kepulauan Pasiik seperti Fiji dan Vanuatu.
Seakan belum cukup, parade ini juga mempertonton-
kan kekuatan senjata tempur Angkatan Bersenjata China
yang dikenal sebagai Tentara Pembebasan Rakyat (People’s
Liberation Army, PLA), seperti rudal balistik anti-kapal tem-
pur DF-210 yang diklaim sebagai yang pertama dari jenisnya
di dunia, diikuti dengan rudal balistik jarak sedang berhulu
ledak nuklir, DF-26. Mengikuti setelahnya adalah parade pe-
sawat tempur yang meraung-raung di angkasa Beijing yang
biru cerah, yang menebarkan asap empat warna: kuning, biru,
merah jambu, dan ungu dari ekornya, diikuti dengan formasi
20 helikopter tempur yang membentuk angka 70 di atas langit
Tian’anmen.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Para analis politik internasional terpukau dengan aksi pa-


rade militer yang meskipun tak sebesar parade militer saat
Republik Rakyat China memperingati 60 tahun berdirinya
di tahun 2009 silam, namun cukup menunjukkan apa mak-
sud dari pemerintah Beijing mengenai perannya di kancah
percaturan politik internasional. Hal ini ternyata juga dirasa-
Mabuk Kemenangan 7

kan sebagai ancaman, seperti yang ditulis oleh jurnalis CNN,


Tate Nurkin pada 30 Agustus 2015 dalam penutup analisis-
nya mengenai perbandingan kekuatan militer dan persen-
jataan AS dan China:
“Parade hari Kamis ini akan menjadi pengingat yang
jelas mengenai kemajuan ini [dalam hal perkembangan
kekuatan militer China] dan menjadi katalisator bagi
diskusi yang lebih lanjut di Washington [AS], Tokyo
[Jepang], dan Taipei [Nasionalis Taiwan] mengenai
pendekatan baru untuk menangani ancaman militer
dan geopolitik sepanjang kawasan ini di masa yang akan
datang.”
Seakan ingin menekankan peran penting China sebagai sa-
lah satu raksasa adidaya dunia dan sikap anti-imperialisme-
nya, Xi Jinping sengaja memilih untuk mengadakan parade
besar di tanggal 3 September 2015 itu, yang dipakai untuk
memperingati kemenangan Sekutu atas Jepang 70 tahun se-
belumnya. Meskipun parade ini tidak dihadiri oleh pemimpin
tertinggi AS dan sekutu NATO-nya (Jepang menolak hadir,
AS dan negara Eropa lainnya hanya mengirimkan pejabat se-
tingkat menteri saja), Xi ingin menekankan kepada mereka
bahwa China yang sekarang bukanlah China yang sama 70
tahun yang lalu, yang lemah, miskin, terpecah, dan hanya
menjadi bidak catur di panggung percaturan politik dunia.
Lemah, miskin dan terpecah; memang itulah kondisi
http://facebook.com/indonesiapustaka

China 70 tahun sebelumnya, ketika bersama-sama dengan


utusan dari pihak Sekutu ikut menandatangani deklarasi
penyerahan Jepang secara resmi di atas kapal USS Missouri
yang lepas jangkar di lepas pantai ibukota Jepang, Tokyo.
Tanggal 2 September 1945 menjadi titik akhir Perang Dunia
II yang sudah merenggut jutaan nyawa warga China, di mana
8 Republik Rakyat China

sebagian besar di antaranya adalah penduduk sipil yang tidak


berdosa. Fakta ini gagal diapresiasi secara layak oleh Amerika
Serikat dan sekutunya, seperti yang diceritakan oleh jurnalis
Russia Today yang pro-China, Pepe Escobar pada tulisannya
di tanggal 31 Agustus 2015:
“Apa yang disebut sebagai ‘elit-elit politik’ Barat tengah
berusaha keras untuk mempertontonkan keahlian mereka
pada ‘kebodohan diplomatik’. Maka parade Tian’anmen
hanya dibandingkan oleh media-media AS dengan parade
di Lapangan Merah (Rusia) yang baru saja diadakan,
untuk memperingati kemenangan Uni Soviet terhadap Nazi
Jerman, tanpa menyebutkan 20 juta lebih korban jiwa di
Uni Soviet, dan hampir 20 juta nyawa warga China yang
tewas selama masa perang yang – semua orang China tahu
dengan pasti - diawali di September 1931 ketika Jepang
menginvasi Manchuria.”
Namun bukan penguasa China sekarang – yaitu kaum komu-
nis – yang membubuhkan tanda tangannya di atas kertas per-
janjian yang mengunci nasib Jepang itu, melainkan Pemerin-
tahan Nasionalis yang saat itu dikendalikan oleh Chiang
Kai-shek. Berpuluh-puluh tahun silam, dengan mengklaim
dirinya sebagai penerus ideologis Sun Yat-sen yang menjadi
pendiri Republik China, Chiang naik ke tampuk pemerin-
tahan tertinggi setelah keberhasilannya mempersatukan negeri
yang terpecah akibat keruntuhan Dinasti Qing di tahun 1912,
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang menyisakan pertempuran tiada henti di seluruh negeri


yang kemudian dikenal sebagai Periode Raja-raja Perang. Ia
masih terus menghadapi serangkaian ujian berat terhadap
kekuasaannya, yaitu dengan pemberontakan mantan sekutu-
sekutunya, sampai invasi Jepang ke China sejak tahun 1931.
Akhirnya, dengan bersusah-payah, mengandalkan bantuan
Mabuk Kemenangan 9

negara asing seperti Uni Soviet dan Amerika Serikat, Chiang


bisa membawa China melalui serentetan pertumpahan darah
yang tak kenal lelah itu.
Meskipun begitu, Chiang tidak lantas menguasai seluruh
negeri karena masih ada kelompok komunis di bawah kendali
Mao Zedong yang bergerilya, yang selalu menjadi duri dalam
daging bagi Chiang, namun tak bisa ia singkirkan begitu saja
mengingat betapa tergantungnya ia pada Amerika Serikat,
yang sementara itu tidak menginginkan adanya lagi perang
berkecamuk di China pasca Perang Dunia II. Chiang sen-
diri mulai pesimis ketika pasukannya mulai dikalahkan satu-
persatu di awal tahun 1948, seperti yang ia katakan dalam
pidatonya:
“Jujur saja, tidak pernah ada di China atau pun di luar
China, partai revolusioner yang sangat mundur dan korup
seperti kami [KMT] hari ini; dan tidak pernah ada yang
sangat kurang semangat, kurang disiplin, dan lebih lagi,
kekurangan acuan tentang benar dan salah seperti kami
saat ini. Partai semacam ini sudah sepantasnya hancur
dan tersapu bersih sejak dari dulu!”
Pesimisme ini bukannya tanpa alasan. Kondisi perekonomi-
an China yang kacau-balau seusai Perang Dunia II, di mana
inlasi di Shanghai per bulannya bisa mencapai 45% di ku-
run waktu tahun 1946-1947. Harga-harga naik tajam dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kemiskinan semakin menjadi-jadi. Bahkan rakyat miskin di


Manchuria sampai tega menjual bayi dan anak mereka demi
mendapatkan makanan.
Ditambah lagi, semakin hari Partai Komunis semakin
bertambah kuat, dan disiplin yang mereka tunjukkan cukup
10 Republik Rakyat China

mengesankan dan mengejutkan bagi Chiang yang sedari dulu


beranggapan bahwa orang-orang komunis tidak lebih dari
sekelompok gerilyawan bandit pengacau yang bisa dibasmi
dengan mudah. Komunis China, adalah Mao Zedong, dan
ia adalah personiikasi dari Partai Komunis China di masa
itu. Ia dilahirkan di kalangan petani, dan mulai tertarik pada
komunisme setelah adanya Gerakan 4 Mei 1919, saat ia ber-
temu dengan pendiri Partai Komunis, yaitu Chen Duxiu,
ketika ia tengah berada dalam sebuah tugas ke Beijing. Ia
kemudian masuk Partai Komunis, dan ikut dalam Kongres
Pertama di Jiaxing, provinsi Zhejiang. Posisinya dalam par-
tai mulai menanjak ketika ia menyusup dalam Partai Nasio-
nalis (Kuomintang, KMT), dan kepemimpinannya sema-
kin menonjol saat KMT di bawah Chiang Kai-shek mulai
melakukan pembersihan besar-besaran terhadap orang-orang
Komunis. Perjalanan Panjang mengukuhkan otoritasnya se-
bagai orang nomor satu dalam Partai Komunis, dan ia terus
mempertahankan posisinya ini sampai akhirnya memprokla-
masikan berdirinya Republik Rakyat China di tahun 1949.
Pada awalnya, Mao Zedong sudah tersudut dan hampir di-
hancurkan ketika Perang Dunia II usai, namun ia membalik-
kan keadaan saat mereka “diizinkan” Uni Soviet menduduki
bekas wilayah negara boneka Manchukuo bentukan Jepang
di masa Perang Dunia II, yang wilayahnya meliputi tiga pro-
vinsi kaya di China timur laut. Uni Soviet menyuplai mereka
dengan persenjataan dan pelatihan militer yang diberikan
http://facebook.com/indonesiapustaka

oleh perwira-perwira Jepang yang menyerah, yang menanam-


kan disiplin tinggi mereka kepada PLA. Sayap militer Par-
tai Komunis ini pun segera bertransformasi menjadi pasukan
tanpa tanding yang bersemangat juang tinggi, tak kenal takut,
dan terdoktrin secara menyeluruh. Di samping itu, Amerika
Serikat salah memperhitungkan itikad Mao dan orang-orang-
Mabuk Kemenangan 11

Kemajuan Teknologi Militer


Dalam parade memperingati 70 tahun kemenangan atas Jepang,
Tiongkok memamerkan persenjataan lengkap hasil kemajuan
teknologi yang mereka kembangkan selama ini; beberapa di
antaranya adalah tank tempur utama ZTZ-99A (barisan depan)
dan kendaraan serbu amibi ZTD-05A (latar belakang).

nya dengan “memaksa” Chiang untuk berdamai dengan Mao


dan memerintahkan pemerintah Nasionalis membentuk se-
buah koalisi pemerintahan dengan orang komunis. Ini mem-
buka jalan bagi Mao dan Partai Komunis untuk naik ke tam-
puk kekuasaan.
Dalam analisis mengenai serangkaian kekalahannya ini,
http://facebook.com/indonesiapustaka

Chiang menyalahkan dirinya yang terlalu menuruti anjuran


untuk menyerbu basis komunis di Manchuria dan mem-
biarkan daerah kekuasaannya sendiri di balik Tembok Besar
menjadi terbuka dan sangat mudah diserang. Akibatnya,
hanya dalam waktu 4 tahun setelah Perang Dunia II ber-
akhir dan China bebas dari cengkeraman agresor Kekaisaran
12 Republik Rakyat China

Jepang, Chiang menemukan dirinya dan pasukannya tersudut


ke China Selatan, dan serangan PLA menyeberang sungai
sampai ke daerah kekuasaan Nasionalis seperti hanya tinggal
menghitung hari saja. Tidak perlu waktu lama sampai hal itu
benar-benar terjadi, dan ibukota Nasionalis di Nanking jatuh
di tanggal 23 April 1949, dan Chiang akhirnya harus mundur
ke Guangzhou, lalu ke Chongqing.
Bulan Agustus 1949, Chiang sudah sangat putus asa, dan
ia yakin bahwa hari-hari kekuasaannya di China dapat di-
hitung. Maka ketika PLA mengepung basis terakhirnya di
Chengdu, ibukota provinsi Sichuan di pedalaman China,
Chiang memutuskan untuk kabur ke Taiwan pada tanggal
10 Desember 1949, dan membawa pemerintahan Nasionalis
yang masih tersisa ke pulau di lepas pantai provinsi Fujian di
China selatan itu. Maka Perang Sipil di China pun usai, dan
Partai Komunis muncul sebagai pemenang.
Pada pagi hari di tanggal 1 Oktober 1949, Partai Komu-
nis yang menang perang mengumpulkan massa di lapangan
Tian’anmen. Mereka akan menjadi saksi sejarah dari peristiwa
besar abad itu di China, di mana sebuah era baru yang nantinya
akan penuh gejolak kemudian dimulai. Dengan logat Hunan
yang sangat kental yang ia ucapkan dari bibir yang bergetar,
Mao mengirimkan pengumuman resmi ke penjuru China,
juga ke penjuru dunia:“Republik Rakyat China, Pemerintahan
Rakyat Pusat, pada hari ini didirikan!”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Proklamasi ini menandai berdirinya republik komunis di


China yang masih berkuasa sampai saat ini. Dalam prokla-
masi resmi yang diterbitkan sehari setelahnya, pada tanggal
2 Oktober 1949 di Harian Rakyat (Renmin Ribao), Mao me-
nyatakan:
Mabuk Kemenangan 13

“Dewan Pemerintahan Rakyat Pusat dari Republik Rakyat


China diangkat ke dalam jabatannya pada hari ini di
ibukota negara, dan secara mutlak sepakat untuk mem-
buat keputusan untuk menyatakan berdirinya Pemerintah
Rakyat Pusat dari Republik Rakyat China... Di saat yang
sama, Dewan Pemerintahan Rakyat Pusat memutuskan
untuk mengumumkan kepada pemerintahan dari negara-
negara lain bahwa pemerintah ini adalah satu-satunya
pemerintahan yang sah yang mewakili seluruh rakyat dari
Republik Rakyat China.”
Ini berarti era Nasionalis sudah berlalu, dan China memasuki
era Komunis. Dengan mengaku sebagai satu-satunya pemerin-
tahan yang sah di atas wilayah China, maka secara otomatis
Mao dan para bawahannya memiliki tugas untuk menjalan-
kan roda pemerintahan dan memulihkan kehidupan rakyat
yang selama ini telah terusik oleh peperangan yang terus ber-
kecamuk selama hampir setengah abad semenjak pecahnya
revolusi yang menjatuhkan Dinasti Qing di bulan Oktober
1911. Namun masalah kemudian muncul, karena selama ini
Partai Komunis adalah partai yang revolusioner dan reaksio-
ner, sehingga mereka “hanya tahu berperang”. Ketika perang
telah usai dan mereka sudah menang, timbul pertanyaan besar
tentang bagaimana negeri sebesar dan seluas China, dengan
penduduknya yang ratusan juta orang itu, harus diatur dan
dikendalikan. Mereka pun seperti kebingungan, dan masih
mabuk dalam kemenangan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Namun pemerintahan tetap harus dijalankan. Partai


Komunis sebagai pihak pemenang, mulai mengorganisasi
pemerintahan China seusai perang. Untuk mewujudkan
“perwakilan rakyat” dalam pemerintahan, Partai Komunis
membentuk Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China,
14 Republik Rakyat China

seperti sebuah MPR di China yang menampung 662 delegasi


saat pertama kali didirikan di Beijing pada bulan September
1949. Majelis ini menampung semua entitas politik yang ada
di China – Partai Komunis bukanlah satu-satunya entitas yang
ada. Entitas politik seperti sayap kiri KMT di bawah Song
Qingling, atau Asosiasi Penyelamat Rakyat yang berasal dari
masa sebelum Perang Dunia II mendudukkan wakil-wakil
mereka yang hanya segelintir saja di dalam majelis, namun se-
mua kebijakan atau resolusi bersama yang dihasilkan selalu di-
diktekan oleh Partai Komunis, tentu saja dalam hal ini, Mao
sendiri, sehingga majelis ini hanyalah “tukang stempel” semua
keinginan Mao.
Partai Komunis China adalah penguasa yang sebenar-
nya. Karena menduduki berbagai jabatan di pemerintah,
kader partai secara otomatis menjadi bagian dari pemerinta-
han baik di daerah maupun pusat, sehingga posisi seseorang
bisa tumpang-tindih dalam partai dan pemerintahan karena
memegang jabatan kepartaian dan pemerintahan sekaligus.
Kongres Partai Nasional adalah penentu dari siapa-siapa
saja yang menduduki jajaran tertinggi dalam Partai Komunis,
yaitu Komite Pusat Partai Komunis, yang menjadi penentu
kebijakan partai dan juga China secara umum. Inti dari
Komite Pusat adalah Biro Politik, yang lebih dikenal dengan
singkatannya dalam bahasa Rusia, Politburo, yang berang-
gotakan 12-24 orang yang menjadi pucuk pimpinan China.
Seusai Perang Sipil, Mao selalu menduduki nomor satu dalam
http://facebook.com/indonesiapustaka

Politburo. Di dalam Politburo sendiri dikenal adanya Komite


Tetap Politburo, yaitu mereka-mereka yang berada di ling-
karan utama di sekitar kekuasaan Mao.
Bahkan sebelum menjadi sebuah negara, Partai Komunis
sudah memiliki sayap militernya sendiri, yaitu PLA. Dalam
Partai Komunis dibentuklah Komisi Militer Pusat, yang
Mabuk Kemenangan 15

bertanggung jawab kepada Kongres Nasional, dan menangani


urusan militer harian. Sejak tahun 50-an, komisi militer ini
dikepalai oleh Zhu De, salah satu sekutu dekat Mao. Namun
karena Mao yang menguasai Partai Komunis, ia secara tidak
langsung juga menguasai PLA. Dengan begitu, militer China
tidak pernah mengambil sikap netral, karena sering dipakai
sebagai senjata untuk “menodong” anggota partai yang lain
agar mendukung agenda politik Mao.
Sebagai negara komunis, tentu saja perekonomian Chi-
na harus dijalankan dengan model komunis. Maka, mereka
pun berkiblat pada negara komunis tersukses di dunia saat
itu, yaitu Uni Soviet. Di sana, negara mengendalikan semua
sendi kehidupan rakyat, baik di bidang hukum, ekonomi,
maupun kemasyarakatan. Menurut model ekonomi komunis,
ekonomi swasta dilarang keberadaannya, dan semua berada di
bawah kepemilikan pemerintah, atau dinasionalisasi. Namun
Mao khawatir kalau-kalau China yang baru saja pulih setelah
menghadapi rentetan pertempuran yang memakan waktu
hampir setengah abad itu, akan mandeg ekonominya dan tidak
bisa pulih sepenuhnya bila semua perusahaan dinasionalisasi
sepenuhnya oleh pemerintah tanpa kecuali. Maka ia mem-
berikan kelonggaran, di mana pabrik-pabrik milik swasta ma-
sih diizinkan beroperasi, toko-toko masih buka seperti biasa,
dan pertanian belum bersifat kolektif atau komunal sebagai-
mana di Soviet misalnya. Mao baru benar-benar menerapkan
sistem komunis pada pertengahan tahun 1950-an, setelah
http://facebook.com/indonesiapustaka

ia mengirimkan wakilnya, Liu Shaoqi, ke Uni Soviet untuk


mempelajari bagaimana cara Stalin mengelola negerinya.
Sebuah negara yang menganut asas demokrasi tentulah
harus memiliki sistem hukum yang jelas, yang mengatur kehi-
dupan masyarakat. Ketika berkuasa, Mao langsung menghapus
16 Republik Rakyat China

semua sistem hukum warisan pemerintah Nasionalis, dan


memberlakukan apa yang disebut “Program Bersama”, yaitu
konstitusi sementara hasil dari Konferensi Konsultatif Politik
Rakyat China, semacam badan penasehat politik pemerintah.
Konstitusi sementara ini berlaku sejak tahun 1949 sampai ta-
hun 1954, ketika konstitusi baru selesai disusun.
Program Bersama ini menetapkan hal-hal mendasar, se-
perti reformasi agraria yang selalu menjadi program politik
Partai Komunis sejak awal berdirinya dulu, ditambah dengan
cita-cita untuk menjadi negara industri sebagaimana halnya
Uni Soviet, sebagaimana dituliskan di Bab I Pasal 3:
“Republik Rakyat China harus menghapuskan semua
hak-hak prerogatif dari negara-negara imperialis di China.
Pemerintah harus menyita semua modal-modal birok-
ratis dan memasukkannya ke dalam kepemilikan negara.
Pemerintah harus secara sistematis mengubah sistem ke-
pemilikan tanah secara feodal dan semi-feodal menjadi
sistem kepemilikan tanah kerakyatan; pemerintah harus
melindungi properti publik milik negara dan koperasi,
dan harus melindungi kepentingan ekonomi dan milik
pribadi para buruh, petani, rakyat kecil, dan pengusaha
nasional. Pemerintah harus mengembangkan ekonomi
rakyat di masa demokrasi baru ini, dan dengan mantap
bertransformasi dari negara agraris menjadi negara
industri.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Namun pada dasarnya, tidak ada sistem hukum pasti yang


bisa dijadikan jaminan. Mao sendiri lebih suka bergerak bebas
di luar hukum, dan praktis tidak ada sistem hukum yang bisa
memberikan rasa aman pada rakyat. Mereka sewaktu-waktu
bisa menjadi korban inkuisisi pemerintah begitu mereka
Mabuk Kemenangan 17

dicap sebagai “kontra-revolusioner”, atau “agen nasionalis”,


“mata-mata”, “musuh kelas”, dan sebagainya. Dengan mudah
mereka bisa berakhir di moncong senapan eksekutor, yang
mempertontonkan eksekusi massal di depan khalayak ramai.
Atau lebih parah lagi, mereka akan jadi pesakitan di depan
“pengadilan rakyat” yang mencemooh mereka dan keluarga
mereka, dan membiarkan mereka tetap hidup di bawah siksa-
an sosial berupa cemoohan dan pengucilan. Ini memang di-
sengaja oleh Mao untuk memberikan teror tidak hanya ke-
pada rakyatnya, namun juga kepada semua bawahannya agar
mereka semua mau tunduk dan patuh pada perintahnya.
Mao kemudian menyasar orang-orang asing – selain Uni
Soviet, tentunya – yang masih tinggal di China, bersama
dengan bisnis yang mereka miliki. Sejak lama, orang-orang
asing menjadi bagian dari roda ekonomi China, dan mereka
mengeruk keuntungan yang besar dari bisnis mereka di negeri
itu. Maka Mao melancarkan pembersihan terhadap orang
asing ini, dengan pertama-tama mengusir semua orang asing
– kecuali Uni Soviet – dari China. Langkah ini sangat mudah,
karena orang asing memang kebanyakan sudah pergi ketika
pecah Perang Dunia II dan Perang Sipil yang berlangsung se-
telahnya. Partai Komunis bahkan menyebarkan propaganda
menyerukan agar rakyat China mencaci dan mengolok-olok
rekan asing mereka sebagai “anjing-anjing imperialis”, atau
“penghisap darah rakyat China”.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Langkah kedua adalah nasionalisasi perusahaan-perusaha-


an asing yang ada di China. Jika ada perusahaan yang meru-
pakan perusahaan patungan antara orang China dan orang
asing, pemerintah kemudian membebankan pajak yang sangat
besar terhadap perusahaan itu sehingga memaksa pihak asing
menarik modalnya.
18 Republik Rakyat China

Langkah ketiga, adalah dengan melarang peredaran


produk-produk intelektual dan seni dari luar China, seperti
buku-buku, ilm, musik, ataupun produk lainnya. Perpus-
takaan dan sekolah-sekolah digeledah untuk mencari buku-
buku asing, yang kemudian segera dimusnahkan jika ditemu-
kan.
Namun setelah ketiga usaha itu dilakukan, masih ada
saja orang asing yang berkeras untuk tinggal. Kebanyakan
dari mereka adalah kaum misionaris Kristen yang sudah ber-
puluh-puluh tahun tinggal dan mengabdi di China, dengan
mendirikan sekolah, biara, gereja, ataupun rumah sakit so-
sial. Mereka jugalah yang berperanan membantu rakyat
China selama perang melawan Jepang ataupun perang sipil,
karena mereka menyediakan pelayanan pendidikan dan kese-
hatan gratis kepada rakyat China, meskipun pada akhirnya
juga menyebarkan agama pada mereka. Mao kemudian men-
jalankan langkah keempat, yaitu menangkapi orang-orang
asing yang masih berkeras untuk tinggal, dan menjebloskan
mereka ke dalam tahanan pemerintah. Di dalam tahanan,
orang-orang ini disiksa, atau disuruh bekerja keras di kamp
kerja paksa bersama tahanan-tahanan politik lainnya. Me-
nurut Odd Anne Westad, penulis buku Restless Empire, ada
seorang pria Amerika yang sampai dieksekusi, karena pria itu
menolak penangkapan terhadap dirinya dan dengan lantang
membacakan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat dalam
bahasa Inggris; atau seorang perempuan yang dengan lancang
http://facebook.com/indonesiapustaka

bertanya kapankah China bisa mengadakan pemilihan umum


multipartai. Selain mereka berdua, kebanyakan warga asing
hanya ditahan dan dimasukkan ke kamp kerja paksa.
Mao bergerak lebih lanjut dengan mengobarkan apa yang
disebut sebagai “Kampanye Tiga Anti” pada akhir tahun
Mabuk Kemenangan 19

1951, yang ditargetkan pada tiga hal: korupsi, pemborosan,


dan birokratisme atau penyalahgunaan wewenang. Kampa-
nye ini menyasar para pejabat yang punya akses pada ke-
uangan negara, dan memberikan kesan kepada rakyat bahwa
pemerintah hendak serius menangani korupsi yang sudah
mengakar akibat kebobrokan pemerintah Nasionalis. Namun
Mao bertindak lebih jauh dengan menghukum mati para
koruptor, tidak peduli berapa pun yang mereka korupsi, dan
mentargetkan jumlah koruptor yang harus dihukum mati di
setiap provinsi. Mengenai mencegah pemborosan, pada akhir-
nya kampanye ini malah membuat ekonomi menjadi mandeg
karena demi menghindari tuduhan memboros-boroskan uang,
banyak pengusaha dan perorangan yang tidak berani membeli
barang-barang hasil produksi, sehingga pendapatan dari pajak
malah akhirnya menurun dan berisiko menyebabkan resesi.
Belum puas dengan kampanyenya ini, Mao melanjutkan
dengan “Kampanye Lima Anti” di bulan Januari 1952, yaitu
melawan penyuapan, pencurian barang milik negara, peng-
gelapan pajak, kecurangan dalam kontrak pemerintah, dan
pencurian informasi yang bernilai ekonomis seperti data ke-
uangan perusahaan, kecenderungan nilai tukar, dan sebagai-
nya. Interogasi dan penyiksaan dilakukan sepanjang kampanye
ini, hingga membuat tingginya angka bunuh diri di kalangan
para pengusaha, terutama di kota-kota pusat perekonomian
seperti Shanghai.
Sebenarnya, tujuan Mao melakukan ini bukanlah untuk
http://facebook.com/indonesiapustaka

menyelamatkan keuangan negara, namun ia ingin meme-


gang kendali penuh terhadap keuangan negara, dan ber-
usaha menjauhkan para pejabat dari campur tangan terhadap
kas nasional. Itulah sebabnya, meskipun kampanye mela-
wan pemborosan ini gencar digaungkan ke penjuru negeri,
namun tidak demikian halnya dengan kehidupan pribadi
20 Republik Rakyat China

sang pemimpin tertinggi. Jung Chang, penulis biograi Mao


Zedong, menyebutkan bahwa:
“Mao sendiri tidak menggelapkan uang negara dalam
pengertian konvensional, tidak seperti diktator yang
lebih rendah kelasnya yang punya rekening di bank
Swiss. Tetapi sebenarnya hal itu karena ia tidak harus
memiliki simpanan kalau-kalau kehilangan kekuasaan-
nya. Ia telah memastikan bahwa kejadian seperti itu (ke-
hilangan kekuasaan) takkan menimpa dirinya. Bukannya
menggelapkan uang, ia memperlakukan uang negara se-
bagai miliknya dan menggunakannya semaunya, Ia tidak
peduli pada kebutuhan masyarakat dan menghukum
siapa saja yang berani mengusulkan prioritas pemakaian
yang berbeda dari yang sudah ditentukannya. Mengenai
gaya hidup pribadi, Mao gemar hidup mewah dan itu
dipraktekkannya dengan menghabiskan uang negara da-
lam jumlah amat sangat besar. Perilaku korup itu muncul
segera setelah ia menaklukkan China.”
Jung Chang memaparkan beberapa bukti bagi argumentasi-
nya ini. Selama berkuasa, Mao memerintahkan pembangunan
sekitar 50-an vila di penjuru negeri, yang didirikan di lokasi-
lokasi istimewa dengan pemandangan yang indah, dan di-
lengkapi dengan pengamanan ekstra ketat. Mao juga menik-
mati kemewahan kelas atas seperti kolam renang pribadi yang
saat itu adalah barang yang sangat mewah bagi kebanyakan
http://facebook.com/indonesiapustaka

rakyat China. Mao yang berselera tinggi juga menuntut ma-


kanan kelas atas, seperti ikan yang didatangkan khusus dari
Wuhan di provinsi Hubei dalam keadaan hidup, atau teh ter-
baik dari perkebunan teh Longjing di daerah Hangzhou di
provinsi Zhejiang, atau beras yang ditumbuk dengan sangat
hati-hati supaya terjaga kulit arinya agar tidak mengelupas,
Mabuk Kemenangan 21

yang ditanam dengan diairi oleh air yang dulunya hanya


dipakai sebagai air minum bagi keluarga kekaisaran.
Namun Mao adalah orang dengan ambisi yang tak pernah
bisa dipuaskan. Meskipun ia sudah memantapkan keduduk-
annya di dalam negeri sebagai pemimpin tertinggi yang tak
tertandingi, ia masih merasa bahwa sudah sepantasnya juga
ia punya pengaruh dalam komunisme internasional. Tetapi
Mao masih tahu diri dan ia tidak berani menentang hegemoni
Uni Soviet dalam Komintern, gerakan komunisme interna-
sional yang diprakarsai Lenin dulu. Atau setidaknya, ia tidak
berani menentang Soviet selama Stalin masih hidup, karena
bagaimana pun juga Uni Soviet masih menjadi penyandang
dana dan kekuatan militer terbesar bagi dunia komunis, dan
Mao juga berhutang budi karenanya. Semua akan mulai
berubah perlahan-lahan, ketika China mulai terlibat dalam
serangkaian upaya komunisasi global.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Balas Budi yang
Menyusahkan

Hubungan antara Uni Soviet dan Republik Rakyat China


adalah sebuah hubungan persahabatan yang unik. Kemesraan
kedua negara di awal-awal berdirinya Republik Rakyat China
secara langsung ditunjukkan oleh kedekatan kedua pemim-
pinnya, yaitu Joseph Stalin dari Soviet, dan Mao Zedong
dari China. Stalin adalah diktator yang berhasil menguasai
Uni Soviet sepeninggal sang tokoh pendiri Uni Soviet, yaitu
Vladimir Lenin yang meninggal tahun 1924. Setelah me-
nyingkirkan Leon Trotsky, saingan utamanya dalam kancah
politik Soviet, Stalin segera melakukan pembersihan besar-
besaran terhadap apa yang ia sebut sebagai “kaum Trotskiis”
atau pengikut Trotsky, yang sebenarnya tidak hanya menyasar
pengikut rival politiknya itu, namun juga semua orang yang
berani menentangnya.
Nama Stalin semakin terkenal di dunia internasional
ketika Adolf Hitler mengingkari kesepakatan Pakta Molotov-
Ribbentrop di mana Jerman dan Soviet sepakat untuk ber-
sekutu dan membagi Polandia di antara mereka, serta men-
jamin janji Hitler untuk tidak menyerang Soviet. Untuk
http://facebook.com/indonesiapustaka

menjalankan politik Lebensraum atau “ruang hidup”, Hitler


menginvasi wilayah Soviet yang luas itu demi menjamin suplai
bahan baku dan wilayah yang lebih luas bagi kekuasaannya.
Hitler melancarkan serangan ke wilayah Soviet dalam sebuah
operasi yang ia beri kode “Operasi Barbarossa” di tanggal 22
Juni 1941, sehingga Uni Soviet masuk ke dalam persekutuan
24 Republik Rakyat China

dengan Inggris dan Amerika Serikat melawan kelompok Aksis


dari Jerman, Italia, dan Jepang.
Dalam perang yang dikenal di Uni Soviet sebagai “Perang
Mempertahankan Ibu Pertiwi” inilah Stalin menunjukkan ke-
pemimpinan yang ulung dan karismanya yang menakjubkan.
Ketika Nazi Jerman berhasil menyerbu jauh ke pedalaman
Rusia sampai mendekati pinggiran ibukota Moskow, Stalin
tetap bersikukuh untuk bertahan di dalam kota dan meng-
andalkan pasukan bantuan dari Siberia untuk menghadapi
musuh. Untungnya, musim dingin Rusia yang kejam ber-
pihak pada Stalin, dan pasukan Nazi yang terkenal dengan
Blitzkrieg atau serbuan kilat itu pun tersungkur di kaki wabah
disentri yang menyerang mereka. Stalin menjadi salah satu
pemimpin dunia yang diajak membicarakan nasib dunia se-
telah Perang Dunia II di Yalta, dan Uni Soviet berhasil me-
luaskan dominasinya di Eropa Timur, termasuk setengah dari
wilayah Jerman di sebelah timur.
Stalin mengubah Uni Soviet yang dulunya agraris dan
semi-industri menjadi negara industri yang besar dengan ke-
kuatan militer yang sangat kuat. Soviet seperti macan yang
tumbuh sayapnya ketika uji coba peledakan bom atom me-
reka yang pertama di tahun 1949, berhasil dilakukan dengan
sukses. Ini berkat usaha para ilmuwan isika Soviet dan juga
aksi spionase badan intelejen militer Soviet, GRU. Uni Soviet
menjadi penantang dominasi Amerika Serikat dalam kepe-
milikan senjata pemusnah masal. Begitu uji coba nuklir ini
http://facebook.com/indonesiapustaka

berhasil dilakukan, Amerika Serikat menjadi semakin berhati-


hati terhadap mantan sekutunya ini.
Senjata pemusnah masal yang dimiliki oleh AS pertama
kali ditunjukkan kepada dunia ketika salah satu bom berhulu
ledak nuklir dijatuhkan dan meledak di atas kota Hiroshima,
Balas Budi yang Menyusahkan 25

Menyelamatkan Liberalisme
Ketika Kim Il-sung mengepung Busan di tenggara Korea
dan mengancam untuk melenyapkan liberalisme di semenanjung
itu, AS mencoba mengulang kesuksesan “D-Day” di Normandy
yang menjatuhkan Nazi Jerman. Douglas McArthur, jenderal
kawakan AS memimpin pendaratan di Incheon dan pasukannya
kemudian memenangkan serangkaian pertempuran yang
mendesak mundur Kim ke utara, sekaligus membuka jalan bagi
Mao Zedong untuk turut campur dalam perang ini.
http://facebook.com/indonesiapustaka

pada tanggal 6 Agustus 1945, dan di atas kota Nagasaki pada


tiga hari setelahnya. Ledakan inilah yang mengakhiri Perang
Dunia II, sekaligus mengawali era nuklir dan perang dingin
antara blok kapitalis di barat dan sosialis di timur. Senjata ini
juga menjadi alat penyebar teror bagi negara lain yang ber-
usaha menentang keadidayaan AS dan sekutunya. Bahkan Mao
26 Republik Rakyat China

sendiri khawatir kalau-kalau AS akan menggunakan senjata


nuklir untuk membantu Chiang melawannya, meski pada
akhirnya kekhawatirannya ini tidak terbukti. Mao semakin
lega ketika Uni Soviet akhirnya mengembangkan senjata
nuklirnya sendiri.
Namun ini juga membuat ketergantungannya kepada
Soviet dan Stalin semakin besar. Mao harus terus berupaya
bermanis muka di hadapan Stalin agar sekutu terdekatnya itu
terus mendukungnya dan bahkan, jika ia berhasil, membagi-
kan pengetahuan tentang pembuatan senjata nuklir itu kepada
China. Ini juga menjadi salah satu agenda Mao yang nantinya
akan terwujud di kemudian hari. Stalin sendiri menggunakan
Mao sebagai salah satu pionnya untuk menyebarkan komu-
nisme di Asia, yang saat itu mulai menancapkan akar di seme-
nanjung Korea, dan Asia Tenggara.
Sebagaimana lazimnya seorang bawahan, Mao segera
berusaha mengunjungi Stalin setelah ia memproklamasikan
berdirinya Republik Rakyat China. Namun Stalin yang mulai
gerah dengan ambisi Mao Zedong, berulang kali menunda-
nunda untuk mengundang sekutunya itu, dan baru meng-
izinkan Mao untuk datang ke Moskow pada bulan Desember
1949. Ketika bertemu dengan Stalin, Mao tidak lantas segera
mendapatkan pengakuan resmi terhadap republiknya sebagai-
mana yang Inggris lakukan, namun masih mengulur waktu
dan meminta Mao meratiikasi perjanjian yang dulu pernah
http://facebook.com/indonesiapustaka

dibuat oleh Chiang dengan Soviet, yang membuat Soviet


mengangkangi beberapa wilayah di perbatasan dengan China.
Stalin juga sengaja menunda-nunda pembahasan menge-
nai kerjasama militer kedua negara, dan Stalin juga sengaja
menghindari untuk bertemu dengan Mao. Pada akhirnya,
Mao yang sudah jengkel sengaja bicara keras-keras di kamar-
Balas Budi yang Menyusahkan 27

nya (yang sudah disadap tentunya), bahwa ia akan memper-


timbangkan pembicaraan dengan Inggris, Amerika Serikat,
dan Jepang. Barulah Stalin kemudian melunak dan mem-
bicarakan perjanjian kerjasama dengan China, itu pun setelah
ia “memarahi” Mao secara tidak langsung dengan menegur
bawahan setianya, Zhou Enlai, di hadapan umum.
Perjanjian kerjasama pun ditandatangani di 14 Februari
1950, yang isinya menyetujui bahwa Uni Soviet akan mem-
berikan pinjaman dana sebesar 300 juta dolar AS, dan sebagai
imbalannya Uni Soviet diberikan akses yang cukup luas di
daerah Manchuria dan Xinjiang, sehingga aktivitas industri,
inansial, dan komersial kedua wilayah luas itu berada dalam
kendali Uni Soviet. Saat bertemu dengan Mikhail Gorbachev
di tahun 1989, Deng Xiaoping sendiri pernah berujar:
“Dari semua kekuatan asing yang pernah menyerang,
mengancam, dan memperbudak China sejak zaman
Perang Candu, Jepang-lah yang memberikan kerusakan
paling besar, namun pada akhirnya Rusia-lah yang meng-
ambil keuntungan paling banyak, sejak dari zaman Tsar
[kaisar Rusia di zaman pra-komunis], termasuk Uni
Soviet dalam kurun waktu tertentu.”
Stalin berlanjut lagi dengan memberikan tanggungjawab
“pengawasan” kepada gerakan komunis di Asia kepada China.
Artinya, China bertanggung jawab membina, membesarkan,
http://facebook.com/indonesiapustaka

menyuplai, dan membantu pertahanan gerakan komunis


yang saat itu tengah bersemi di Asia, terutama di Korea dan
Asia Tenggara.
Mao yang ambisius melihat hal ini sebagai peluang.
Dengan membantu para pemimpin gerakan komunis di
28 Republik Rakyat China

Asia, bukankah ia nantinya akan menjadi “Stalin” bagi me-


reka? Ia mencoba memanfaatkan peranannya sekarang ini se-
bagai usaha untuk mengimbangi, dan nantinya merebut, he-
gemoni Uni Soviet di komunisme internasional. Mao segera
membangun jalan-jalan di perbatasan selatan China dengan
Vietnam, dan menyuplai Ho Chi-minh, pemimpin Partai
Komunis Vietnam, dalam usahanya memerdekakan Vietnam
dari Perancis dan mendirikan sebuah negara komunis di sana.
Ho mendirikan dasar berdirinya Vietnam Utara dan kemu-
dian Republik Sosialis Vietnam, yang berhasil mengusir pen-
dudukan Amerika Serikat selama masa Perang Vietnam dan
mempersatukan seluruh wilayah Vietnam yang sekarang ini.
Ketika usaha “pembebasan” Vietnam tengah gencar dila-
kukan, Mao menarik diri sejenak ke fokus masalah baru yang
cukup penting, yaitu ke Semenanjung Korea. Daerah ini
sejak lama masuk dalam pengaruh kebudayaan China, dan
para penguasa dinasti-dinastinya secara tradisional mengakui
hegemoni China sebagai negara pelindung mereka. Konsep
“negara pelindung-negara upeti” ini sudah berjalan semen-
jak zaman kekuasaan Mongol di China, dan berakhir ketika
Korea diduduki oleh Jepang di awal abad ke-20.
Sebelum Jepang menganeksasi Korea, semenanjung ini di-
kuasai oleh keluarga Li yang mendirikan Dinasti Joseon pada
akhir abad ke-14 setelah menundukkan keluarga Wang dari
Dinasti Goryeo yang pernah menjadi negara upeti Mongol.
Dinasti Joseon kemudian menjadi bawahan dari Kekaisaran
http://facebook.com/indonesiapustaka

Ming di China, dan peran perlindungan ini pernah ditunjuk-


kan dalam Perang Imjin (1592-1598) ketika pemimpin kaum
samurai Jepang, Toyotomi Hideyoshi, menggunakan Korea
sebagai batu loncatannya untuk menyerang China. Meskipun
para samurai akhirnya hengkang setelah wafatnya Toyotomi
Balas Budi yang Menyusahkan 29

secara mendadak yang membuat Jepang kembali jatuh ke da-


lam perang saudara, namun besarnya biaya yang dihabiskan
oleh Kekaisaran Ming untuk menanggung pertahanan Korea
ini menjadi salah satu penyebab kejatuhannya di tangan pem-
berontak petani di tahun 1644, dan kemudian di tangan
bangsa Manchu yang mendirikan Dinasti Qing (1644-1912).
Ketika Huangtaiji, pemimpin suku Manchu menyerbu Korea
di awal berdirinya dinasti Qing dan memaksa negeri itu un-
tuk tunduk, status negara pelindung Korea kemudian beralih
pada bangsa Manchu, sampai penghujung masa kekuasaan
dinasti Qing di awal abad ke-20.
Kebangkitan Jepang akibat reformasi besar-besaran di
masa Kaisar Meiji (memerintah 1868-1912) membuat Jepang
berubah menjadi negara maju dan kuat di bidang militer dan
persenjataan. Sebagai negara imperialis baru di kancah politik
Asia dan dunia, Jepang segera kehabisan bahan baku dan pasar
untuk menampung hasil produksinya. Sejak lama, China
yang lemah diincar sebagai sasaran utama untuk mewujudkan
“Kekaisaran Asia Timur Raya”. Untuk itulah, setelah berhasil
memperoleh Taiwan setelah kekalahan Dinasti Qing di tahun
1895, Korea berada dalam daftar selanjutnya untuk dikuasai
oleh Jepang. Kekaisaran Jepang pun melakukan pembunuhan
politik terhadap kelompok pro-Qing dan anti-Jepang dalam
pemerintahan Korea, sampai kemudian raja Gojong dari
Joseon memproklamasikan berdirinya Kekaisaran Daehan
http://facebook.com/indonesiapustaka

(Korea) di tahun 1897 dan mengangkat diri sebagai Kaisar


Gwangmu dari Daehan, sekaligus secara otomatis mengakhiri
status Korea sebagai negara upeti China.
Jepang kemudian menganeksasi Korea secara sepenuhnya
di tahun 1910 setelah pembunuhan terhadap Residen Jenderal
30 Republik Rakyat China

Jepang untuk Korea, Ito Hirobumi. Korea menjadi jajahan


Jepang sampai pada akhir Perang Dunia II di tahun 1945.
Uni Soviet yang mendeklarasikan perang terhadap Jepang
segera mengerahkan pasukannya menduduki Manchuria dan
kemudian Korea Utara untuk dijadikan wilayah penyangga
bagi kedudukan pasukan komunis, sementara daerah selatan
diduduki oleh Amerika Serikat. Berdasarkan kesepakatan
antara kedua negara adidaya itu, daerah pendudukan kedua
http://facebook.com/indonesiapustaka

Mengungsi ke Selatan
Bagi rakyat Korea yang berada di utara, bayangan bahwa mereka
harus hidup di bawah rezim komunis cukup menyeramkan. Banyak
yang memilih berjalan berkilo-kilometer untuk mengungsi ke
daerah selatan yang sudah “dibebaskan” oleh AS, termasuk ibu
muda dan bayinya yang difoto di depan tank Sherman milik AS ini.
Balas Budi yang Menyusahkan 31

negara dibatasi oleh garis lintang utara 38°, sehingga Korea


Utara di bawah pengaruh Uni Soviet (dan kemudian China),
sedangkan Korea Selatan di bawah pengaruh Amerika
Serikat.
Atas prakarsa Uni Soviet dan China selama masa Perang
Dunia II, simpatisan komunis Korea menjadi salah satu
penentang pendudukan Jepang yang gigih. Mereka beroperasi
di daerah Korea Utara dekat perbatasan dengan Manchuria,
dan menjadikan wilayah Rusia sebagai jalur mundur ketika
gerakan mereka dipukul mundur oleh Jepang. Ketika Jepang
angkat kaki dari Korea, Partai Komunis Korea bersama de-
ngan Partai Rakyat Baru yang pro-China, ditambah dengan
orang-orang Korea yang lahir di wilayah Soviet dan kelompok
gerilyawan komunis di bawah pimpinan Kim Il-sung, sepakat
untuk menggabungkan diri di tahun 1946 dan membentuk
partai baru yang kemudian diberi nama Partai Pekerja Korea
Utara, sebelum akhirnya bergabung lagi dengan Partai Pe-
kerja Korea Selatan di tahun 1949 membentuk Partai Pekerja
Korea.
Sebelumnya, pada tahun 1948 Partai Pekerja Korea Utara
membentuk Dewan Rakyat Agung di tahun 1948, dan
memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat Demokra-
tik Korea, dengan Kim Il-sung sebagai perdana menterinya.
Kim adalah pentolan komunis Korea yang berulang kali me-
repotkan pasukan pendudukan Jepang dengan aksi gerilya-
http://facebook.com/indonesiapustaka

nya. Ia menjadi anggota Partai Komunis China sejak tahun


1931, dan memimpin sebuah divisi pasukan Korea menen-
tang pendudukan Jepang di Korea. Akibat kalah jumlah dan
persenjataan, tahun 1940 ia membawa sisa-sisa orangnya me-
nyeberang sungai Amur di perbatasan Korea dan lari ke wi-
layah Soviet. Di sana, ia mendapatkan pelatihan ulang oleh
32 Republik Rakyat China

Soviet, dan kembali ke Korea pada tanggal 19 September


1945 sebagai pemimpin binaan Soviet. Untuk memuluskan
jalan Kim menjadi pemimpin komunis di Korea, Uni Soviet
yang menduduki wilayah Korea di utara garis lintang utara
38° sudah terlebih dahulu melakukan serangkaian pembersih-
an terhadap orang-orang yang dicurigai hendak menentang
“pendudukan” Soviet di wilayah itu.
Sebagai perdana menteri, Kim memegang kendali atas pe-
merintahan Korea Utara. Namun cita-citanya adalah mem-
bawa seluruh semenanjung Korea di bawah kendali pemerin-
tahan komunisnya. Maka, pada bulan Maret 1949 Kim pergi
ke Moskow untuk membujuk Stalin agar mau memberikan
bantuan kepadanya untuk bisa menduduki Korea Selatan,
namun Stalin yang tidak ingin memancing keributan dengan
Amerika Serikat segera menolak permintaan itu. Kim kemu-
dian mengadu pada Mao, dan Mao yang melihat adanya pe-
luang bagus segera menyanggupi, namun ia meminta Kim
bersabar karena saat itu Mao tengah berada dalam perang
penyatuan China melawan kubu Nasionalis di selatan. Mao
berjanji bahwa begitu ia menguasai seluruh China, ia akan
berkomitmen membantu Kim mewujudkan cita-citanya. Mao
sendiri meyakinkan Kim bahwa ia akan mengirimkan pasukan
China untuk menyerbu Korea Selatan karena menurutnya,
struktur wajah dan isik orang China dan Korea yang sangat
mirip takkan dapat dibedakan oleh orang Amerika. Dengan
melakukan hal ini, Mao juga membalas budi Kim dan Korea
http://facebook.com/indonesiapustaka

Utara yang menyediakan wilayah penyangga bagi Partai


Komunis China dan PLA yang bercokol di Manchuria saat
Perang Sipil dengan kaum Nasionalis seusai Perang Dunia II.
Selain itu, perang terbuka dengan AS inilah yang memang
diinginkan oleh Mao. Mao beranggapan bahwa dengan me-
Balas Budi yang Menyusahkan 33

mancing perang dengan AS, Soviet sebagai sekutu China


pasti mau-tak-mau akan turun tangan membantu, meskipun
mungkin secara rahasia. Rahasia atau tidak, bagi Mao tidak
akan menjadi masalah karena toh pada akhirnya ia akan di-
untungkan dengan bantuan militer dan alih-teknologi besar-
besaran yang bisa ia dapatkan dari Stalin. Maka, Mao men-
dorong agar Kim menyeberang garis batas wilayah Utara dan
Selatan, dan menyerbu pasukan AS di Korea Selatan. Proxy
war pertama setelah berakhirnya Perang Dunia II pun dimulai
di Semenanjung Korea.
Kim mengambil posisi oportunis dan ia memancing agar
Stalin mau juga mendukung rencana invasinya. Ia mengatakan
bahwa saat ini China “sudah dibebaskan”, dan Korea Selatan
“berada di giliran selanjutnya”. Selain itu, pasukan pendudukan
Amerika Serikat sudah ditarik dari Korea Selatan, dan negara
baru ini hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk ber-
tahan. Kim kemudian minta untuk menghadap Stalin untuk
meminta restu dan persetujuannya, namun sambil “mengan-
cam” diam-diam bahwa jika ia “belum dapat bertemu dengan
Stalin”, maka ia akan mencoba bertemu dengan Mao, sam-
bil membahas kemungkinan pendirian “Biro Timur Komin-
form”, yang sebenarnya adalah kubu tandingan Komintern
di Asia Timur untuk menandingi pengaruh Stalin dalam du-
nia komunisme. Dengan begitu, Kim secara tidak langsung
mengancam Stalin, jika Stalin tidak mau mendukung pe-
nyerbuan ke Selatan, maka Kim akan segera menjadikan Mao
http://facebook.com/indonesiapustaka

sebagai “pimpinan”nya.
Kim juga mengiming-imingi Stalin dengan besarnya sum-
ber daya alam yang dimiliki oleh Korea, dan “kemungkinan
kerjasama” yang bisa dijalin oleh kedua belah pihak, atau
dengan kata lain, apa yang bisa Korea berikan bagi Uni Soviet
34 Republik Rakyat China

sebagai imbalan atas restu dan dukungan Uni Soviet dalam


Perang Penyatuan Korea. Dalam transkrip rekaman pembica-
raan antara Kim dan Stalin, sangat jelas terlihat bahwa Stalin
tertarik dengan bahan tambang yang dimiliki oleh Korea:
Kim: Mengenai rekayasa industri [Mashinostroye-
niye], di masa yang akan datang kami tidak mungkin
mengembangkan rekayasa industri. Maka kami bermaksud
mengembangkan sistem metalurgi besi dan non-besi yang
diperlukan untuk rekayasa industri. Kami ingin men-
dapatkan hasil produksi Uni Soviet untuk rekayasa
industri mobil, traktor, lokomotif, instrumen, dan sebagai-
nya. Seperti yang diketahui, tanah Korea mengandung
banyak mineral yang menjadi cadangan mata uang keras
[hard currency] bagi Korea.
Kamerad Stalin bertanya untuk mengklariikasi: mineral
apa?
Kim Il-sung menjelaskan bahwa tanah Korea mengandung
banyak emas, perak, tungsten, timbal, dan mineral lain-
nya.
Kamerad Stalin: Bagus.
Kim Il-sung menjelaskan lebih jauh bahwa mereka sepa-
kat dengan pemerintah Uni Soviet tentang apa yang bagus
untuk dikembangkan di Korea, dan apa yang diminati
http://facebook.com/indonesiapustaka

oleh Uni Soviet.


Menanggapi pertanyaan Kim Il-sung, Kamerad Stalin
menjelaskan bahwa Uni Soviet tertarik menerima timbal,
tungsten, timah, dan emas dari Korea. Ini akan kami beli
dalam jangka panjang.
Balas Budi yang Menyusahkan 35

Maka, Stalin mengubah pendiriannya. Bila awalnya ia me-


nolak untuk memicu ketegangan dengan Amerika, kini ia
melihat Perang Korea sebagai peluang untuk melemahkan
musuh barunya itu, sekaligus mendapatkan akses yang sangat
luas terhadap Korea dan sumber daya alam yang ia miliki.
Jika Korea berhasil dikuasai sepenuhnya, maka Komintern
memiliki batu loncatan yang kuat untuk menyeberang ke
Jepang dan “mengkomuniskan” mantan musuh mereka itu.
Jika Korea dan Jepang sudah berada di bawah genggaman-
nya, Stalin yakin bahwa bukan mustahil ia bisa menentang
hegemoni Amerika Serikat di Pasiik, atau bahkan bisa saja ia
menguasai Pasiik secara seluruhnya. Jika Pasiik sudah ber-
hasil ia kuasai, ia bisa lebih mudah menyebarkan komunisme
ke benua Amerika dan suatu saat nanti bahkan mungkin akan
“mengkomuniskan” Amerika Serikat juga.
Yang lebih penting lagi, Stalin tidak perlu bersusah-payah
mengerahkan pasukan miliknya sendiri, karena sudah ada
Mao yang akan menyediakan hal itu untuknya. Dengan
menggunakan pasukan dari China yang “tidak ada habisnya”
sebagai bidak catur utama untuk mengusir, atau setidaknya
melumpuhkan Amerika Serikat, maka keseimbangan ke-
kuatan dunia akan beralih kepadanya, karena Amerika akan
dipusingkan dengan masalah Korea. Itu akan membuat
gerbang menuju penguasaan Eropa Tengah dan Barat ter-
buka luas. Stalin bahkan tidak lagi gentar kalau-kalau Perang
Dunia III akan berkobar, karena ia sendiri sudah memiliki
http://facebook.com/indonesiapustaka

senjata nuklir yang bisa ia pakai menghadapi AS, sedangkan


AS sendiri akan berpikir dua kali sebelum memulai perang
nuklir yang bisa menjadi awal kehancuran umat manusia.
Pada bulan April 1950, Stalin memberitahu Kim bahwa ia
menyetujui rencana invasi Kim ke Korea Selatan.
36 Republik Rakyat China

Namun seperti Stalin, Mao pun juga tidak mau rugi. Ia


pun juga tidak mau bersusah-payah mengerahkan pasukannya
sendiri, yaitu PLA, namun ia memilih menggunakan bekas
tentara Nasionalis di bawah pimpinan Jenderal Wei Lihuang
yang menyerah padanya di Manchuria pada tahun 1948. Se-
banyak lebih dari 500 ribu orang mantan tentara Nasionalis
inilah yang diterjunkan ke Korea untuk kepentingan Mao.
Maka Uni Soviet dan Korea Utara kemudian melakukan
serangkaian pembicaraan, di mana Duta Besar Uni Soviet
untuk Korea Utara, Terentii Shtykov menjadi penghubung
antara Kim dengan Uni Soviet. Shtykov secara tidak langsung
juga menjadi “Pemimpin Besar” Korea Utara yang pertama,
dan ia juga berperan menaikkan Kim ke puncak kediktatoran-
nya di masa yang akan datang. Setelah melalui serangkaian
diskusi, maka pada bulan Mei 1950 Shtykov mengirimkan
telegram ke Moskow yang intinya berisi:
1. Bahwa persenjataan yang dikirimkan oleh Uni Soviet
untuk membantu Korea Utara menginvasi Korea Selatan
sudah sampai dan didistribusikan kepada pasukan Korea
Utara, dan diharapkan distribusi ini selesai dilakukan pada
tanggal 1 Juni 1950;
2. Serangan akan dimulai pada akhir Juni 1950 dengan per-
timbangan bahwa pihak Selatan masih tidak memiliki
info yang cukup mengenai militer Korea Utara, dan jika
serangan ditunda akan berisiko memberikan waktu bagi
http://facebook.com/indonesiapustaka

pihak selatan untuk memperkuat militer dan bersiap-siap


menghadapi agresi dari utara, selain itu di bulan Juli akan
turun hujan deras yang membuat serangan bahkan harus
ditunda lagi sampai September 1950;
3. Namun keputusan ini belum dibicarakan dengan anggota
dewan politik Partai Buruh lainnya, dan Kim baru akan
Balas Budi yang Menyusahkan 37

memaparkannya di hadapan rekan-rekannya yang lain da-


lam beberapa hari ke depan.
Sepertinya tidak butuh waktu lama bagi Kim untuk meyakin-
kan partainya untuk mengamini aksi invasi yang ia rencana-
kan. Maka sesuai dengan apa yang ia sampaikan pada Mos-
kow, Kim benar-benar mengerahkan pasukannya melakukan
penyerbuan besar-besaran ke Korea Selatan pada tanggal 25
Juni 1950 dan memulai peristiwa yang dalam sejarah dise-
but sebagai Perang Korea. Segera setelah serangan itu, De-
wan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang menyetu-
jui pengiriman pasukan ke Korea Selatan untuk menghadapi
invasi komunis. Meskipun Uni Soviet sebagai anggota tetap
Dewan Keamanan PBB bisa saja menjatuhkan veto menolak
resolusi itu, namun Stalin memerintahkan duta besarnya di
PBB untuk tidak melakukannya. Stalin ingin agar masalah ini
benar-benar berkembang, dan ia memanfaatkan kedua “anak-
buah”nya itu untuk menghabisi musuh besarnya, Amerika
Serikat.
Hal ini membuat Mao bertanggung jawab menanggung
dukungan pasukan bagi suksesnya invasi Kim Il-sung ke se-
latan. Namun pada masa-masa awal invasi, Kim dan Stalin
sengaja menempatkan Mao di luar rencana penyerbuan itu,
karena Stalin hanya menjadikan tentara China sebagai pasukan
cadangan yang hanya dikerahkan kalau Kim terpojok oleh se-
rangan balasan Amerika Serikat. Di sisi lain, Stalin berupaya
http://facebook.com/indonesiapustaka

menunjukkan kepada dunia bahwa ia mengambil posisi netral


dalam hal ini, sambil terus memegang kendali atas implemen-
tasi invasi ke Korea Selatan. Kim bahkan diberitahu bahwa
jika ia kalah, Stalin tidak akan mengakui keterlibatan Soviet,
dan Kim harus minta bantuan pada Mao.
38 Republik Rakyat China

Hanya dalam waktu dua hari sejak pecahnya perang,


nampak sekali bahwa Korea Selatan sangat tidak siap. Mereka
tidak punya persenjataan berat dan kekuatan militer yang
cukup untuk membendung invasi dari utara. Tanggal 27 Juni
1950, presiden Korea Selatan Syngman Rhee melarikan diri
dari Seoul setelah sebelumnya memerintahkan agar jembatan
sungai Han, jembatan yang menghubungkan kedua sisi sungai
yang menjadi benteng alami kota Seoul, diledakkan untuk
mencegah penyeberangan pasukan musuh masuk ke Seoul.
Namun secara tidak langsung, ia menyerahkan nasib pasukan
Korea Selatan di utara sungai Han pada para penyerbu dari
utara.
Sampai dengan bulan September 1950, pasukan Kim de-
ngan mudah melewati kota demi kota di selatan. Pasukan AS
yang sempat diterjunkan di Osan, di bagian barat laut Korea
Selatan, terbukti jadi macan ompong setelah dipecundangi
oleh pasukan Korea Utara. Kini, pasukan pertahanan Korea
Selatan tersudut di balik Sungai Nakdong di sekitaran kota
Busan, yang kemudian dikenal sebagai “Batas Busan” (Busan
Perimeter). Pasukan pendudukan AS di Jepang kemudian
dikerahkan untuk mempertahankan daerah ini mati-matian.
Pesawat-pesawat tempur dikerahkan untuk memotong suplai
perbekalan dan persenjataan Korea Utara dengan menjatuh-
kan bom di atas jalur rel kereta api atau jembatan yang di-
pakai oleh Korea Utara sebagai jalur suplai.
Situasi di ujung tanduk ini membuat pihak Amerika
http://facebook.com/indonesiapustaka

khawatir. Pada awalnya, Korea bukanlah bagian dari strategi


geopolitik mereka di Asia Timur untuk mengimbangi
kekuatan komunis dari persekutuan Uni Soviet-China, namun
meningkatnya eskalasi peperangan di semenanjung Korea dan
kemungkinan jatuhnya wilayah yang bisa menjadi batu lon-
catan invasi ke Jepang itu membuat Presiden Trumah cukup
Balas Budi yang Menyusahkan 39

khawatir. Pada bulan Juli 1950, Truman akhirnya menunjuk


jenderal kawakan Douglas MacArthur, yang juga menjadi ke-
pala pasukan pendudukan AS di Jepang sebagai komandan ter-
tinggi Pasukan PBB untuk masalah Perang Korea. MacArthur
kemudian berniat mengulangi peristiwa D-Day yang terkenal
di tahun 1944, di mana pasukan Sekutu membebaskan pantai
Normandia di Perancis sebagai jalan pembuka kemenangan
Sekutu atas Jerman di Perang Dunia II.

Malapetaka Changjin
http://facebook.com/indonesiapustaka

Tentara AS menghadapi musuh yang sama sekali tak terduga


ketika mereka sudah semakin merangsek ke utara. Tentara PVA dari
China seakan-akan tak terhitung jumlahnya, dan berhasil memukul
mundur AS dari Korea Utara, meskipun harus kehilangan lebih dari
60 ribu pasukannya. Di Changjin, sebuah kota reservoir air di timur
laut Korea, China memaksa pasukan AS yang kedinginan untuk
mundur kembali ke selatan.
40 Republik Rakyat China

MacArthur menyasar kota Incheon. Kota ini terletak


berbatasan dengan kota Seoul, dan berjarak sekitar 100 km
di belakang garis depan pasukan Korea Utara. MacArthur
hendak menjadikan kota ini sebagai batu pijakan pasukan
Amerika Serikat untuk membalas serangan Kim Il-sung, dan
ia berharap bisa memutus komunikasi antara pasukan Korea
Utara di garis depan dengan markas mereka di utara, sekali-
gus mendesak pasukan penyerbu kembali ke wilayah mereka,
bahkan jika memungkinkan menduduki Korea sepenuh-
nya. Untuk mengelabui musuh, MacArthur memerintahkan
pengeboman dan penyerangan ke daerah-daerah lain sehingga
musuh takkan curiga bahwa mereka hendak melakukan pen-
daratan di Incheon. Hal ini termasuk juga mengebom pantai
Incheon sejak tanggal 10 September 1950 untuk mengaman-
kan pendaratan di Incheon. Lima hari kemudian, pendaratan
di Incheon (yang diberi sandi “Operation Chromite”) pun ter-
jadi. MacArthur mendaratkan pasukannya sejumlah 40 ribu
orang di tiga pantai berbeda, dan dengan mudah merebut
titik-titik target mereka itu. Incheon kemudian diduduki, dan
dijadikan pintu masuk untuk menyuplai pasukan PBB yang
akan menyerbu ke utara.
Hanya dalam waktu dua hari setelah mendarat, MacArthur
memerintahkan untuk menyerbu dan menduduki Lapangan
Udara Gimpo di pinggiran kota Seoul. Lapangan udara ini
memiliki peran militer yang strategis, dan jaraknya yang tepat
http://facebook.com/indonesiapustaka

berada di dekat garis lintang 38° membuatnya menjadi batu


pijakan yang ideal untuk aksi udara ke utara. Hanya dalam
waktu sehari, pasukan komunis yang menjaga lapangan udara
itu mundur teratur, dan pagi hari tanggal 18 September 1950,
pasukan Marinir AS berhasil menguasai lapangan itu. Tak
mau berlama-lama, MacArthur memerintahkan penyerbuan
Balas Budi yang Menyusahkan 41

kota Seoul, dan pada tanggal 25 September kota itu berhasil


direbut kembali oleh pasukan PBB.
Di selatan, pasukan PBB yang mempertahankan Busan
berhasil menembus kepungan dan memaksa pasukan musuh
mundur ke utara. Sejumlah 41 ribu orang pasukan Korea
Utara tertangkap, sedangkan sekitar 30 ribu orang berhasil
menyeberang garis lintang 38° dan bergabung dengan rekan-
rekan mereka di utara. Dengan demikian, seluruh wilayah
Korea Selatan jatuh ke tangan pasukan PBB. Kini, mereka
mentargetkan untuk menyerbu Korea Utara.
Sebenarnya, pendaratan di Incheon sudah lama dien-
dus oleh China. Mao sendiri pernah memperingatkan Kim
Il-sung bahwa berdasarkan kalkulasi yang ia buat jika ia be-
rada di posisi MacArthur, kota Incheon pasti akan dijadikan
tempat pendaratan oleh musuh mengingat letaknya yang
sangat dekat dengan Korea Utara dan jauh dari garis depan
pasukan utama Kim yang saat itu tengah mengepung Batas
Busan. Mao mengirimkan telegram kepada Kim untuk mem-
peringatkannya akan hal ini, tepat di hari yang sama ketika
MacArthur pertama menembakkan meriamnya untuk me-
nembaki Incheon. Sayangnya, Kim Il-sung mengabaikan hal
ini dan terus memusatkan perhatiannya di Busan.
Melihat kesuksesan gerak maju pasukan PBB, Presiden
Truman mengirimkan surat kepada MacArthur pada tanggal
27 September 1950 tentang arahan bagi pasukan AS selanjut-
http://facebook.com/indonesiapustaka

nya:
“Tujuan pasukan Anda [Jend. MacArthur] adalah
untuk menghancurkan kekuatan bersenjata Korea Utara.
Dalam rangka mencapai tujuan ini, Anda diperkenankan
untuk mengadakan operasi militer, termasuk pendaratan
42 Republik Rakyat China

amibi atau udara atau aksi lapangan di utara garis batas


lintang utara 38° di Korea, berdasarkan fakta bahwa
sampai saat ini masih belum ada masuknya pasukan Uni
Soviet atau China Komunis, maupun pengumuman resmi
tentang niatan mereka untuk masuk [ke Korea], maupun
ancaman tindakan kontra-operatif terhadap operasi kita
di Korea Utara.”
Namun Truman mewanti-wanti bahwa meskipun MacArthur
mampu memimpin pasukannya menduduki Korea Utara, pa-
sukan Amerika tidak boleh sekalipun melakukan penyerangan
ke wilayah China ataupun Uni Soviet, karena hal ini dapat
memicu perang terbuka dengan negara-negara komunis itu,
dan bisa menjadi awal dari pecahnya Perang Dunia III yang
bisa melibatkan kekuatan nuklir dari kedua negara.
Setelah duduk kembali sebagai presiden Korea di Seoul
pada tanggal 29 September, Syngman Rhee memerintahkan
pasukannya menyeberang garis lintang 38° pada tanggal 1
Oktober. Enam hari kemudian, pasukan PBB ikut masuk ke
Korea Utara meski sebelumnya Zhou Enlai memperingatkan
Amerika Serikat pada tanggal 30 September bahwa jika AS te-
tap berkeras menyerbu Korea Utara, maka China akan turun
tangan untuk membantu sekutunya itu. Amerika mengabai-
kan peringatan itu, dan terus maju sampai berhasil merebut
Pyongyang pada tanggal 19 Oktober 1950.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Melihat gentingnya situasi di Korea Utara setelah pen-


daratan Incheon dan direbutnya kembali Seoul, Kim
mengirimkan telegram bernada putus asa pada Stalin di tang-
gal 30 September 1950. Dalam telegram yang ditujukan ke-
pada “Yang Sangat Terhormat Iosif (Joseph) Vissarionovich
Balas Budi yang Menyusahkan 43

Stalin, pembebas rakyat Korea dan pemimpin kelas pekerja di


seluruh dunia”, Kim dengan sangat iba memohon:
“Wahai Iosif Vissarionovich, kami sangat memohon pada
Anda untuk menyediakan kami dukungan yang istimewa.
Dengan kata lain, di saat pasukan musuh menyeberang
lewat garis lintang 38° kami akan amat sangat membutuh-
kan bantuan militer langsung dari Uni Soviet. Jika hal ini
tidak memungkinkan, mohon membantu kami dengan
memberitahu unit-unit relawan internasional di China
dan negara demokrasi rakyat lainnya untuk mengirimkan
bantuan militer demi perjuangan kami. ”
Telegram ini diperkuat oleh telegram dari Shtykov, wakil
langsung Stalin di Korea Utara yang memaparkan betapa
gentingnya situasi di sana sekarang. Stalin segera menang-
gapi dengan mengirimkan telegram kepada Mao dan Zhou
di tanggal 1 Oktober 1950. Stalin beralasan bahwa “saat itu
sedang jauh dari Moskow”, dan kepada Mao ia mengatakan:
“Saya rasa jika dalam situasi sekarang Anda memper-
timbangkan kemungkinan untuk mengirimkan pasukan
untuk membantu Korea, maka Anda bisa menggerakkan
setidaknya 5-6 divisi ke garis lintang 38° dengan segera
untuk memberikan kesempatan bagi rekan-rekan Korea
kita untuk mengorganisasi pasukan cadangan tempur di
utara garis lintang 38° di bawah perlindungan pasukan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Anda. Divisi pasukan China dapat dianggap sebagai


sukarelawan, dengan China sebagai komandannya, tentu
saja.”
Dengan kata lain, Stalin menyuruh Mao untuk segera mener-
junkan pasukan China untuk menyelamatkan Korea Utara
Republik Rakyat China

Juni 1950 September 1950 November 1950 Juli 1953


http://facebook.com/indonesiapustaka

Kemajuan Perang Korea


A. Sesaat sebelum Perang Korea: Garis batas antara Korea Utara dan Selatan ditetapkan di garis 38° lintang
utara. B. Kim Il-sung menyeberang garis batas 38° dan menyerang Korea Selatan, memukul mundur pasukan
Korea Selatan dan Sekutu sampai ke sekitar kota Busan. C. Douglas McArthur memimpin pendaratan di kota
Incheon dan memukul mundur Korea Utara sampai ke dekat perbatasan dengan China di Sungai Yalu. D. Mao
44

Zedong mengerahkan pasukan PVA memukul mundur pasukan gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan
sampai kembali ke sekitar lintang 38°, kurang lebih sampai batas Korea Utara dan Korea Selatan sekarang.
Balas Budi yang Menyusahkan 45

dari kehancuran. Hanya kali ini, Stalin menyerahkan ko-


mando pasukan sepenuhnya kepada Mao. Maka, Mao mulai
bertindak sesuai janji awalnya pada Kim Il-sung. Pada tanggal
5 Oktober 1950, Mao menunjuk Peng Dehuai sebagai koman-
dan pasukan PLA yang diturunkan ke Korea, setelah Lin Biao
menolak penunjukan dengan alasan sakit. Tanggal 8, Mao
mengirimkan utusan ke Moskow untuk meminta persetujuan
Stalin, dan dua hari kemudian delegasi itu ditemui oleh
pejabat-pejabat tinggi Stalin seperti Vyacheslav Molotov, sang
diplomat penandatangan Kesepakatan Molotov-Ribbentrop
yang terkenal itu; Lavrentiy Beria, sang kepala Badan Intelejen
Soviet; dan Georgi Malenkov. Lewat mereka, Stalin menye-
tujui aksi militer PLA di Korea Utara, namun hanya mau
memberikan bantuan persenjataan dasar bagi mereka.
Tujuan Mao adalah untuk merebut Korea sepenuhnya,
dan menjadikan Korea negara satelit China – bukan Rusia.
Untuk itu, ia perlu berlama-lama beroperasi di Korea, sambil
terus memakan korban jiwa pasukan Amerika, sementara di
sisi lain ia menjadikan Korea sebagai “kartu truf”nya untuk
memeras Stalin, memaksa diktator Uni Soviet itu menyerah-
kan lebih banyak senjata dan bantuan militer, dan apabila
perlu, mengizinkan alih-teknologi persenjataan canggih Uni
Soviet - termasuk pembuatan hulu ledak nuklir – kepada diri-
nya. Kim Il-sung sendiri takkan punya banyak pilihan meng-
ingat ia sudah terdesak sampai ke perbatasan dengan China
di dekat Sungai Yalu di Manchuria, dan pasukannya hanya
http://facebook.com/indonesiapustaka

tinggal tak seberapa jumlahnya.


Mao mewujudkan rencananya ini pada tanggal 19 Oktober
setelah memerintahkan PLA yang masuk ke Korea – pasukan
yang ia beri nama “Pasukan Sukarelawan Rakyat” (People’s
Volunteer Army, PVA) – menyeberang perbatasan dengan
46 Republik Rakyat China

Korea Utara di Sungai Yalu secara diam-diam. Peng Dehuai


memerintahkan pasukannya untuk menyerang pasukan PBB
di perbatasan China-Korea pada tanggal 25 Oktober, dan ke-
berhasilan penyerbuan ini membuat Stalin menyetujui untuk
memberikan lebih banyak dukungan pada PVA, terutama
berupa perlindungan dari udara. Tanggal 1 November, Peng
bahkan berhasil mengepung pasukan Resimen Kavaleri ke-8
milik AS di Unsan, dan mengalahkannya dengan serangan dari
3 penjuru. Di bawah serangan udara dingin pegunungan Korea
Utara dan tembakan musuh yang gencar, pasukan Amerika
terpaksa mundur sampai ke balik sungai Cheongcheon.
Udara dingin menjadi musuh yang sebenarnya, tidak ha-
nya bagi pasukan Amerika Serikat, namun juga bagi pasukan
PVA China. Sherman Pratt, seorang atlit AS yang saat itu ke-
betulan tengah bertugas dalam Perang Korea menceritakan
bagaimana besarnya pengaruh dingin bagi mereka:
“Udara dingin membuat kami menjadi lamban. Itu
[udara dingin] membuat kami berpikir lamban. Orang-
orang yang terluka, yang sebenarnya bisa saja diselamat-
kan, tewas karena tidak dapat menjaga kehangatan.
Kendaraan kami tak mau menyala. Batere pun tidak
berguna. Oli di senapan kami berubah selengket lem se-
hingga tak mau menembak. Ransum makanan kami pun
membeku. Orang-orang akan membawa jatah makan
http://facebook.com/indonesiapustaka

mereka di balik baju mereka, di bawah ketiak mereka,


mencoba untuk mencairkannya sedikit supaya bisa di-
makan.”
Hal yang kurang lebih sama dirasakan oleh anggota pasukan
PVA China:
Balas Budi yang Menyusahkan 47

“Ketika para prajurit terkungkung dalam medan ber-


salju di tengah pertempuran, kaki, kaus kaki, dan tangan
mereka membeku bersama seperti sebuah bola es; mereka
tidak bisa melepas sumbat granat tangan; sumbunya tidak
mau menyala; tangan pun menjadi kaki; tabung mortir
pun meringsek akibat dingin; 70% granat tidak mau
meledak; dan kulit jari tangan menempel di permukaan
granat dan mortir.”
Karena yakin bahwa serangan kilat mereka ini akan membuah-
kan hasil yang cepat sebagaimana D-Day di tahun 1944 silam,
MacArthur sebelumnya pernah menjanjikan kepada khalayak
Amerika Serikat bahwa pasukan mereka akan segera mencapai
kemenangan, dan kepada pasukannya ia menjanjikan bahwa
mereka bisa merayakan hari Natal tahun itu (25 Desember
1950) di bawah atap rumah mereka sendiri, bersama dengan
keluarga yang menanti di rumah. Itulah sebabnya, mental
pasukan AS agak merosot, karena mengharapkan hasil yang
cepat dan mereka bisa segera pulang. Di sisi lain, pasukan
PVA tidak punya pilihan lain selain bertempur habis-habisan,
meskipun kondisi sekitar tidak memungkinkan bagi mereka.
MacArthur tidak dapat menepati janjinya. Perang terus
berkecamuk dan tanggal 7 Desember pasukan PVA membe-
baskan Pyongyang dan mengembalikannya pada Kim Il-sung.
Kim sendiri sudah menyerahkan kendali Korea Utara sepe-
nuhnya pada China, dan kini ia tak lebih dari “bawahan” bagi
http://facebook.com/indonesiapustaka

Mao Zedong. Stalin sendiri sengaja membiarkan Kim tunduk


pada Mao, dan Stalin sendiri bahkan mengirimkan telegram
secara khusus pada tanggal 1 Desember 1950 untuk membe-
rikan selamat kepada Mao atas kemenangannya atas pasukan
Amerika Serikat. Ini sangat menaikkan gengsi Mao, tidak
48 Republik Rakyat China

hanya di dunia komunis saja, namun juga di kancah politik


internasional, karena untuk kali pertama dalam sejarahnya
China berhasil mengalahkan pasukan Amerika Serikat yang
“konon” mampu membuat Jerman dan Jepang bertekuk
lutut.
PVA memanfaatkan posisinya yang di atas angin dan
mengamuk ke selatan seperti longsoran gunung salju yang
tak terbendung. Stalin menolak anjuran Menteri Luar Negeri
Uni Soviet, Andrey Vyshinski untuk menawarkan gencatan
senjata pada AS, karena Stalin yakin bahwa AS sedang dalam
posisi terpuruk akibat serangkaian kekalahannya dari China.
Dan memang itulah kondisi yang sebenarnya. Di pertengah-
an Desember 1950, pasukan AS lagi-lagi terpukul mundur
sampai ke selatan garis lintang 38°. Tujuan komandan PVA,
Peng Dehuai, sebenarnya hanya sebatas pada merebut kem-
bali wilayah di utara garis lintang 38°, karena bila mereka ha-
rus melompat ke selatan, pasukan PVA terancam kekurangan
perbekalan mengingat jauhnya garis belakang mereka di sisi
utara sungai Yalu dan beratnya musim dingin di Korea yang
terus membayangi jalur komunikasi mereka. Namun Mao
berkeras memerintahkan Peng untuk menyeberang, seperti
yang akhirnya Peng lakukan pada tanggal 13 Desember.
Ketika PVA menyeberang garis batas itu, Amerika buru-
buru mempertimbangkan pengajuan gencatan senjata, yang
salah satu pasal perjanjiannya menyebutkan bahwa akan di-
http://facebook.com/indonesiapustaka

buat sebuah garis batas demarkasi pasukan kedua belah pihak


yang bertikai. Namun dalam suratnya kepada wakil China
di PBB, Wu Xiuquan dan Gao Qianhua pada tanggal 13
Desember, Zhou Enlai menekankan bahwa Amerika sudah
melanggar batas garis lintang 38° itu, dan China kini dalam
Balas Budi yang Menyusahkan 49

posisi mengabaikan keberadaan garis itu. Artinya, PVA akan


diperintahkan maju terus dan menggempur musuh tanpa
ampun.
Amerika Serikat merasa bahwa kondisi pasukannya ada di
ujung tanduk. Musim dingin Korea yang cukup kejam, moral
yang merosot, dan gelombang gempuran pasukan China yang
seolah tak ada habisnya, membuat Presiden Truman sangat
khawatir sampai-sampai pada tanggal 15 Desember ia meng-
umumkan “negara (AS) dalam keadaan bahaya”:
“Karena peristiwa-peristiwa terkini di Korea dan tempat
lain di dunia memberikan ancaman yang besar bagi ke-
damaian dunia dan menihilkan usaha negeri ini [AS] dan
PBB untuk mencegah agresi dan konlik bersenjata; karena
penaklukkan dunia oleh imperialisme komunis adalah
tujuan dari kekuatan agresif yang telah dilepaskan ke atas
dunia; dan karena jika tujuan dari imperialisme komunis
tercapai, maka rakyat negeri ini tidak bisa lagi menikmati
hidup yang berkelimpahan dan kaya yang didapatkan
dari bantuan Tuhan; dan karena keganasan kekuatan
agresi komunis sangat membutuhkan penguatan kem-
bali pertahanan nasional Amerika Serikat dengan segera,
maka saat ini, saya, Harry S. Truman, presiden Amerika
Serikat, memproklamasikan keadaan darurat nasional,
yang mewajibkan pertahanan militer, laut, udara, dan
sipil dari negeri ini untuk diperkuat dengan sesegera
http://facebook.com/indonesiapustaka

mungkin sampai titik penghabisan sehingga kita mampu


menangkal semua ancaman apapun terhadap keamanan
nasional kita, dan untuk memenuhi tanggungjawab kita
dalam usaha yang dilakukan melalui PBB, dan selain itu
untuk mempertahankan kedamaian yang abadi.”
50 Republik Rakyat China

Meskipun pasukan Amerika Serikat sempat melumpuhkan


dan merebut kota pelabuhan Hungnam di timur laut Korea,
namun kota itu tidak bisa dipertahankan lebih lama. Tanggal
24 Desember kota itu dievakuasi besar-besaran, dan sejum-
lah 12 ribu orang pasukan Amerika mundur ke selatan un-
tuk membantu rekan-rekan mereka yang kewalahan di sana.
Meskipun demikian, di awal tahun 1951 pasukan China me-
lancarkan kampanye ofensif ketiga di mana China mulai me-
lancarkan serangan malam, di mana mereka akan mengacau-
kan jalur komunikasi dan kesiagaan tempur musuh dengan
membunyikan gong dan tambur keras-keras, yang mengaget-
kan pasukan musuh yang masih belum terbiasa dengan taktik
yang tidak biasa ini, dan membuat mereka kacau-balau karena
tidak mampu mengira seberapa besar kekuatan musuh. Aki-
batnya, Seoul kembali direbut oleh pasukan komunis pada
tanggal 4 Januari 1951.
Sebenarnya, di pihak Mao sudah banyak sekali korban jiwa
yang berguguran. Ratusan ribu pasukan China tewas atau ter-
tangkap musuh, namun itu tidak menyurutkan Mao untuk
mengirim lebih banyak lagi pasukan China ke Korea. Selama
Perang Korea, setidaknya ada 3 juta pasukan China yang diki-
rimkan ke sana. Mao memang sengaja ingin berlama-lama di
Korea, karena ia bisa terus “memeras” Stalin untuk memberi-
kan bantuan yang sudah lama ia nantikan, yaitu persenjataan
berat, teknologi pesawat tempur, dan industri persenjataan
yang memungkinkan China membuat senjatanya sendiri.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Namun di sisi lain, kedua belah pihak sebenarnya sudah


kelelahan. Perang hanya berkisar di sekitaran garis lintang
38°, dan tidak ada perubahan besar yang terjadi seperti di
awal-awal perang. Kim Il-sung sendiri sudah lelah dengan
perang yang awalnya ia mulai ini, dan di bulan Juni 1951
Balas Budi yang Menyusahkan 51

ia diam-diam pergi ke China untuk meminta Mao mena-


warkan gencatan senjata pada Amerika Serikat. Mao akhir-
nya melunak dan menyetujui pembicaraan gencatan senjata,
namun dengan satu syarat: repatriasi semua tawanan perang
AS. Artinya, Mao meminta semua pasukan China yang
“ditawan” oleh AS harus dipulangkan ke China. Padahal,
“tawanan perang” sejumlah 20 ribu orang itu sebagian besar
adalah bekas tentara Nasionalis – yang dulu menyerah ber-
sama Wei Lihuang di Manchuria – yang sengaja diterjunkan
oleh Mao untuk mati di Korea. Tentu saja mereka menolak
untuk pulang ke China dan memilih untuk tinggal di AS.
Mao menggunakan alasan ini untuk menolak gencatan sen-
jata, dan perang pun berlanjut.
Kim Il-sung merasa serba salah. Negerinya sudah porak-
poranda akibat perang. Kalaupun ia menang perang, ia hanya
akan memerintah negeri yang hancur, yang nantinya akan
menggantungkan diri pada belas kasihan sekutunya yaitu Uni
Soviet dan China. Ia hanya akan jadi penguasa boneka yang
dimainkan oleh kedua dalang besar itu. Kim terus berusaha
merayu Mao untuk mau berdamai dan mengakhiri perang,
namun Mao terus menolak dan malah menasehati bahwa pe-
rang ini berguna untuk “melatih pasukan kita dengan penga-
laman menghadapi imperialis asing”.
Namun ironisnya, bantuan untuk Kim bukan datang dari
sekutunya, melainkan malah dari musuh besarnya, Amerika
Serikat. Berbeda dengan Perang Dunia II di mana Jepang de-
http://facebook.com/indonesiapustaka

ngan sengaja menyerang pangkalan milik Amerika di Hawaii,


saat ini Amerika berada dalam perang yang sebenarnya tidak
berkaitan dengan negeri itu sama sekali. Setidaknya itulah
persepsi yang terbentuk oleh publik Amerika yang sudah bo-
san dengan perang yang tidak ada hentinya. Itulah juga yang
52 Republik Rakyat China

menyebabkan jenderal veteran AS, Dwight D. Eisenhower,


memenangkan pemilu sebagai presiden AS yang baru di ta-
hun 1952. Dalam kampanyenya ia berjanji akan mengakhiri
Perang Korea yang semakin tidak populer itu, dan bersedia
untuk duduk di meja perundingan.
Mao masih berkukuh, karena ada satu hal lagi yang ia
ingin peras dari Stalin: teknologi pembuatan bom atom. Bila
Mao berhasil mendapatkan hal itu, ia takkan lagi perlu ber-
gantung pada Stalin, dan dengan pelan ia bisa mengambil
alih kepemimpinan Komintern dari Uni Soviet. Keinginan
Mao itu seperti mendapatkan angin segar ketika pada tanggal
2 Februari 1953, Presiden Eisenhower kembali menawarkan
damai sambil menyiratkan bahwa ia akan “menjatuhkan bom
atom di China” untuk mengakhiri Perang Korea. -Seperti
anak kecil yang rewel, Mao terus merengek kepada Stalin
agar China diberikan teknologi pembuatan bom atom untuk
“menghadapi ancaman” ini.
Inilah yang paling tidak diinginkan Stalin, karena tekno-
logi atom adalah kartu terakhirnya dalam menghadapi Mao.
Namun ancaman Eisenhower pun membuatnya berpikir ke-
ras. Ditambah lagi, kegagalannya mengendalikan Josip Broz
Tito, diktator komunis Yugoslavia yang memutuskan heng-
kang dari komintern, sangat membuatnya kesal dan marah.
Itulah mungkin yang menyebabkan Stalin akhirnya terserang
stroke pada malam hari tanggal 28 Februari 1953, dan kemu-
dian wafat tanggal 5 Maret.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Para pengganti Stalin, yang dipimpin oleh Georgi


Malenkov, menunjukkan gelagat akan memenuhi tuntutan
Mao akan pembangunan pabrik-pabrik senjata di China.
Namun Mao berkeras, ia menginginkan bom atom! Me-
lihat bahwa Mao mulai membuat tingkah, Kremlin agaknya
Balas Budi yang Menyusahkan 53

menjadi gerah. Dengan nada ancaman, mereka bersikukuh


agar Mao mau merundingkan gencatan senjata. Jika tidak,
semua yang dijanjikan Stalin mungkin saja akan dibatalkan,
dan Uni Soviet akan secara sepihak menarik diri dari keterli-
batannya di Korea. Itu artinya Mao akan dibiarkan sendirian
menghadapi Amerika Serikat dan ancaman bom atomnya.
Daripada pulang dari Korea dengan tangan hampa dan ma-
lah menyeret China kembali pada perang besar menghadapi
lawan yang jauh lebih kuat, akhirnya Mao melunak dan me-
ngalah pada tekanan Uni Soviet. Pada tanggal 27 Juli 1953,
perjanjian gencatan senjata antara Korea Utara dan Korea Se-
latan pun ditandatangani oleh Amerika Serikat, Korea Utara,
dan China. Perjanjian itu masih berlaku sampai sekarang, se-
hingga sebenarnya sampai saat ini Perang Korea masih belum
usai, karena belum ada perjanjian damai deinitif yang dise-
pakati antara kedua belah pihak. Perbatasan kedua negara ti-
dak lagi ditetapkan di garis lintang 38°, namun menyesuaikan
perubahan wilayah yang terjadi akibat perang ini. Sebenarnya,
Korea Utara kehilangan lebih banyak wilayah dibandingkan
wilayah yang mereka rebut dari Korea Selatan selama perang
ini.
Untuk memuaskan Mao, perjanjian gencatan senjata itu
kemudian diikuti dengan kesepakatan repatriasi tawanan pe-
rang, yang sama saja dengan menyerahkan nasib orang-orang
yang enggan kembali ke China ataupun Korea Utara, ke ajal
mereka yang mengerikan di bawah tangan-tangan kejam
http://facebook.com/indonesiapustaka

eksekutor komunis di kedua negeri itu. Banyak dari tawanan


perang asal Korea Utara yang direpatriasi ke tanah airnya pada
akhirnya ditawan dalam kamp-kamp konsentrasi yang ter-
kenal itu, di mana mereka dan seluruh keluarga, sampai anak-
cucu mereka sekalipun, harus menghabiskan hari-hari seumur
hidup mereka dalam kamp konsentrasi yang kejam itu.
54 Republik Rakyat China

Pada akhirnya, Perang Korea yang dimulai oleh Kim


Il-sung atas bujukan Stalin dan Mao, menelan korban jiwa
paling banyak di pihak komunis. Sebanyak 750 ribu orang
pasukan komunis – baik China ataupun Korea Utara – mene-
mui ajalnya di medan perang yang berat, sedangkan korban di
pihak lawan “hanya” 179 ribu orang.
Angka 750 ribu orang pasukan komunis itu juga termasuk
Mao Anying, putra kesayangan Mao, yang tewas dalam se-
buah serangan udara Amerika Serikat tanggal 25 November
1950. Ia baru menikah selama setahun, dan istrinya baru
mengetahui tewasnya suaminya itu setelah perang usai di
tahun 1953.
Mao – seperti yang disebutkan Jung Chang dalam biograi-
nya – sama sekali tak terpengaruh. Baginya, hanya satu hal
yang penting: kekuasaan mutlak.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Biarkan
Bunga-bunga Mekar

Bulan Juni adalah masa yang sangat indah di China. Bulan ini
adalah masa peralihan dari musim semi yang basah dan sejuk,
ke musim panas yang lebih kering dan panas. Dibandingkan
bulan Mei, suhu di bulan Juni mulai naik secara dramatis,
yaitu dari 20-an derajat di awal bulan, hingga mencapai 30
derajat menjelang Juli. Meskipun hujan bisa saja sesekali tu-
run di akhir bulan atau awal Juni – hujan yang dikenal sebagai
meiyu, “hujan bunga plum” – namun suhu akan terus naik
sampai mencapai puncaknya di akhir Juli dan selama bulan
Agustus.
Bulan ini juga menjadi awal dari berdatangannya pelancong
di berbagai tempat wisata di penjuru Beijing, karena bertepatan
dengan dimulainya salah satu musim liburan sekolah yang
cukup panjang, yang disebut sebagai shujia, “liburan panas
terik”. Sekolah dan perguruan tinggi di seluruh negeri mem-
berikan waktu libur selama delapan sampai sepuluh minggu
bagi para siswanya, yang memanfaatkannya untuk pulang
kampung, atau sekedar berjalan-jalan untuk bertamasya ke
daerah lain, atau cukup di kota Beijing saja. Tetapi biasanya
http://facebook.com/indonesiapustaka

banyak mahasiswa yang memanfaatkan masa liburan panjang


ini untuk tetap di kampus mereka. Biasanya para mahasiswa
kedokteran atau jurusan keprofesian lain akan menggunakan
libur mereka untuk magang di tempat praktek para dosen
mereka, dan baru pulang kampung ketika masa libur musim
dingin – yang juga bertepatan dengan Tahun Baru Imlek,
56 Republik Rakyat China

meskipun waktunya biasanya lebih pendek, sekitar enam sam-


pai delapan minggu saja.
Itulah sebabnya mengapa kampus-kampus besar tetap
tidak sepi dari hiruk-pikuk kehidupan mahasiswa meskipun
libur sudah tiba. Hal ini juga yang terjadi di musim panas
menghampiri Beijing di bulan Juni tahun 1957. Para maha-
siswa yang antusias berduyun-duyun menghampiri dinding
tembok di kampus mereka di Universitas Beijing di mana
puluhan atau mungkin ratusan kertas berisi poster, slogan-
slogan pendek, puisi, atau esai panjang memenuhi dinding
yang kemudian dikenal sebagai “Dinding Demokrasi” itu.
Pemandangan ini menjadi hal yang umum ketika Mao
Zedong mulai mengkampanyekan keterbukaan dan mem-
berikan kesempatan bagi masyarakat terdidik di China, yang
sebagian besar adalah mahasiswa dan akademisi, untuk me-
nyampaikan kritik mereka. Pada tanggal 27 Februari 1957,
Mao menyampaikan sebuah pidato panjang berisi 12 poin
di hadapan Kongres Nasional, yang intinya membuka kran
kebebasan berpendapat di China demi “menghilangkan kon-
tradiksi dalam masyarakat”, yaitu kontradiksi antara kaum
borjuis, atau kelas pemilik modal sebagai sisa-sisa dari zaman
“sebelum pembebasan”; dan kaum proletar, atau kelas buruh
dan petani, sebagai masyarakat kelas pekerja yang kini men-
jadi “penguasa”.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Mao berusaha menempuh cara-cara damai untuk “meng-


hilangkan kontradiksi” ini, yaitu melalui diskusi terbuka dan
penyampaian kritik. Ia mengatakan:
“Dalam menyokong kebebasan melalui kepemimpinan
dan demokrasi di bawah panduan yang terpusat, kita
Biarkan Bunga-bunga Mekar 57

tidak berharap untuk menyelesaikan perbedaan ideologis


atau menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai benar
dan salah di dalam masyarakat melalui cara-cara yang
keras. Semua usaha untuk menggunakan kekuasaan atau
cara-cara yang keras untuk menyelesaikan masalah itu tidak
hanya tidak efektif, namun juga merusak. Kita tidak bisa
membasmi agama melalui kekuatan, atau memaksa orang
untuk tidak percaya pada agama. Kita tidak bisa memaksa
orang untuk melepaskan idealisme mereka, sebagaimana
halnya kita tidak bisa memaksa mereka untuk meyakini
Marxisme. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah
ideologis semacam ini atau isu-isu kontroversial di dalam
masyarakat adalah melalui cara-cara demokratis, yaitu
diskusi, penyampaian kritik, persuasi, dan pendidikan, dan
tidak lewat cara-cara yang keras atau menekan.”
Hal ini menegaskan bahwa Mao juga menyampaikan bahwa ia
tidak setuju dengan cara-cara Soviet – atau lebih tepatnya, Stalin
– dalam menghadapi kritik dan ketidak-puasan masyarakat.
Mao menambahkan:
“Untuk mengubah China menjadi sebuah negara indus-
trialis, kita harus belajar dari pengalaman yang dimiliki
oleh Uni Soviet... Namun masalahnya, ada dua cara
tentang bagaimana harus belajar dari orang lain, yang
pertama adalah sikap dogmatis di mana kita meniru se-
galanya secara utuh, tidak peduli apakah hal itu sesuai
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan kondisi kita atau tidak. Hal ini tidak baik. Sikap
lain adalah menggunakan kepala kita dan mempelajari apa
yang sesuai dengan kondisi kita, yaitu untuk menyerap apa-
apa yang berguna bagi kita. Ini adalah sikap yang harus
kita ambil.”
58 Republik Rakyat China

Namun sebagai panduannya, ia menyampaikan bahwa enam


hal harus dipenuhi, yaitu kritik itu haruslah:
1. Mempersatukan dan tidak memecah-belah rakyat dari ber-
bagai suku di China;
2. Harus bermanfaat bagi transformasi dan konstruksi
sosialis;
3. Harus semakin menguatkan dan tidak malah memper-
lemah pemerintahan oleh rakyat;
4. Harus semakin menguatkan dan tidak malah memper-
lemah demokrasi terpusat;
5. Harus memperkuat kepemimpinan Partai Komunis;
6. Harus bermanfaat bagi kesatuan sosialisme internasional.
Mao juga mengutip sebuah ungkapan dari zaman kuno,
“biarkan ratusan bunga mekar, dan ratusan pikiran dari ber-
bagai aliran bertemu”. Kutipan inilah yang kemudian men-
jadi nama gerakan politik ini, yaitu “Gerakan Seratus Bunga”,
di mana seperti zaman kuno di mana “seratus aliran” atau
berbagai pandangan ilsafat bermunculan di China dan se-
muanya saling berdebat secara terbuka namun tetap damai
untuk memberikan masukan kepada para penguasa negara,
Mao berharap bahwa kaum intelektual di China baru yang
ia dirikan ini mampu memberikan kritik dan saran yang ber-
guna bagi pemerintahan yang ia jalankan dan Partai Komunis
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang menjadi penguasa di China. Ia kemudian menyebarkan


slogan “bersuara lantang, berpendapat bebas, berdiskusi se-
cara luas, dan menulis poster secara besar-besaran” (daming,
dafang, dabianlun, dazibao).
Pidato di bulan Februari yang kemudian isinya diedit dan
baru diterbitkan di Harian Rakyat tanggal 19 Juni 1957 ini
Biarkan Bunga-bunga Mekar 59

setidaknya menjadi tonggak dalam sejarah intelektual waktu


itu, di mana pemerintah mulai membuka diri bagi kritik-kritik
yang lebih serius, yang merupakan cerminan ketidak-puasan
masyarakat terhadap praktek pemerintahan yang ada. Sebe-
narnya Mao mulai membuka kran ini pada akhir tahun 1956,
namun karena rakyat masih terlalu takut untuk membuka
suara, maka kemajuan gerakan ini sempat terhambat. Ketika
Zhou Enlai, sang perdana menteri menyampaikan kepada
Mao akan lambatnya kemajuan yang mereka capai, barulah
Mao akhirnya menyampaikan pidato di bulan Februari 1957
itu.
Mao menambahkan bahwa kebebasan berpendapat itu
akan dilindungi, dan dalam seruan lewat Kantor Berita Xinhua
di tanggal 30 April 1957, Mao menyatakan:
“Para pemimpin komunis berpedoman pada semangat
baru dari ‘Kebijakan Seratus Bunga’ untuk mengajak
semua organisasi dan individu untuk bergabung dengan
Partai Komunis dalam kritik terbuka dan jujur terhadap
semua kelemahan dalam Partai Komunis, terutama
dalam hal ‘kejahatan birokratisme, sektarianisme, dan
subjektivisme’. Kami memberikan jaminan bahwa tidak
akan ada hukuman yang diberikan sebagai tanggapan
terhadap kritik, dan bahwa gerakan ini akan dilaksanakan
‘sehalus hembusan angin semilir atau hujan gerimis’.”
Maka, efeknya yang luar biasa pun segera terasa. Beijing yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

menjadi ibukota negara dan barometer kehidupan politik di


China, segera mengalami periode musim semi intelektual
yang hebat di tengah hembusan angin semilir dan di bawah
guyuran hujan gerimis itu, seperti yang terjadi di Universitas
Beijing, yang sudah sejak lama menjadi penghasil cendekiawan
dan kaum intelektual China modern kontemporer.
60 Republik Rakyat China

Seperti biasa, di siang hari di tangal 19 Mei 1957, para


mahasiswa Universitas Beijing tengah mengantre jatah makan
siang mereka di gedung kantin sekolah. Namun seusai makan
mereka tidak lantas kembali ke kelas atau ke kamar mereka
masing-masing, karena sebuah pemandangan baru cepat me-
narik perhatian mereka: sebuah kertas merah dengan ukuran
besar ditempelkan di dinding timur dari gedung kantin itu.
Bila kertas merah dan huruf-huruf besar berwarna hitam yang
dituliskan di atasnya saja sudah sangat mencolok, isi tulisan
itu pun tidak kalah mencoloknya, yaitu sebuah pertanyaan
apakah pihak universitas sudah memilih wakil-wakilnya un-
tuk diutus menghadiri konferensi nasional Liga Muda yang
ketiga. Liga Muda (qingniantuan) adalah salah satu organi-
sasi sayap Partai Komunis yang anggotanya adalah siswa dan
mahasiswa yang dipersiapkan menjadi kader-kader partai di
kelak kemudian hari. Pertanyaan ini sengaja diajukan karena
para mahasiswa belum tahu siapa saja yang akan menjadi wakil
mereka, padahal sesuai ketentuan yang ada, anggota-anggota
Liga Muda berhak memilih siapa yang akan mewakili mereka
dalam konferensi nasional.
Ketika pertanyaan ini saja belum terjawab, muncullah
“pertanyaan” kedua yang lebih menarik lagi. Sebuah poster
besar yang juga sangat menarik perhatian ditempelkan di
dinding itu, menanyakan kemungkinan untuk mendirikan
apa yang kemudian disebut sebagai “Dinding Demokrasi”,
yaitu dinding yang sengaja dipakai untuk menempelkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

semua poster atau tulisan-tulisan kritik dan pertanyaan yang


bisa didiskusikan bersama secara terbuka. Inilah yang kemu-
dian menjadi asal-mula Dinding Demokrasi di Universitas
Beijing, yang akan dihidupkan kembali dua dekade kemudian
di tahun 1978 ketika era Mao sudah berakhir.
Biarkan Bunga-bunga Mekar 61

Bila kritik dan suara ketidak-puasan ini bisa diumpama-


kan seperti air, maka dampaknya pun juga serupa. Air yang
dibendung terlalu lama dan kemudian kran-nya dibuka lebar-
lebar, pada akhirnya akan segera menghancurkan bendungan
itu dan menciptakan air bah yang berdampak luas bagi semua
yang ada di sekitarnya. Di hari kedua setelah poster merah
besar dengan tulisan hitam itu ditempelkan, setidaknya ada
162 lembar poster yang menyusul ditempelkan di dinding itu.
Bahkan di tanggal 22 Mei, jumlah poster bisa melonjak dari
hanya 264 di jam 11 siang, menjadi 317 di jam 7 malam.
Tidak hanya poster atau esai saja yang ditempelkan, namun
juga prosa, puisi, kartun, atau bahkan cerita bersambung.
Para penulisnya ada yang terang-terangan membubuhkan
namanya di karya mereka, ada juga yang mengambil “nama
pena”, atau nama samaran penulisnya. Ketika sebuah poster
yang ditempelkan memuat sebuah isu yang kontroversial,
mereka yang tidak setuju dengan isi poster itu akan segera
menempelkan poster atau esai lain di sekelilingnya untuk me-
nyanggah. Debat terbuka pun pada akhirnya tidak dibatasi
pada forum-forum pertemuan, namun bisa mengambil ben-
tuk dalam “perang poster” semacam ini. Saking menggairah-
kannya antusiasme mahasiswa dalam kegiatan ini, sampai-
sampai seorang mahasiswa menempelkan puisinya di tanggal
20 Mei berbunyi:
“Puisiku adalah sebuah obor, yang membakar segala
batasan di atas dunia. Gilang-gemilangnya takkan dapat
http://facebook.com/indonesiapustaka

ditutup-tutupi, karena api yang menyala berasal dari 4


Mei.”
Yang ia maksud dengan 4 Mei adalah Gerakan Empat Mei
yang lahir di tahun 1919. Gerakan yang mahasiswa sangat
terkenal ini bahkan secara de-facto diakui sebagai hari lahirnya
62 Republik Rakyat China

gerakan komunis di China, dan dengan menyamakan gerakan


ini dengan gerakan mahasiswa yang terjadi hampir setengah
abad yang lalu itu, si penulis mengisyaratkan lahirnya se-
buah era baru di mana hal yang lama akan digantikan de-
ngan hal baru, dalam hal ini adalah kebebasan bersuara dan
berpendapat.
Namun jika pada awalnya kritik yang disampaikan masih
ringan dan menggunakan bahasa yang halus, lama-kelamaan
berkembang menjadi kata-kata yang pedas dan tajam, yang
tidak hanya menyangkut pemerintahan atau Partai Komunis
saja, namun secara tidak langsung juga menyerang pribadi
sang ketua partai, atau tidak lain adalah Mao Zedong sen-
diri.
Seorang profesor sempat menyampaikan kritik tentang ke-
hidupan ekstravaganza yang dijalani oleh para petinggi partai,
dan berbagai keistimewaan yang mereka dapatkan:
“Oleh karena posisi kepemimpinan dan situasi meng-
untungkan yang mereka miliki, para anggota partai
nampaknya menikmati berbagai keistimewaan di ber-
bagai hal. Sebagai contoh, ketika berada di teater, seorang
anggota partai pernah berkata bahwa ia takkan merasa
puas jika tidak diberikan tempat duduk di salah satu
dari sepuluh deretan kursi terdepan... Mengapa pelurusan
dan koreksi bagi anggota partai harus dilakukan di balik
http://facebook.com/indonesiapustaka

pintu yang tertutup, dan mengapa masyarakat tidak di-


izinkan untuk mengkoreksi ketika seorang anggota partai
melakukan kesalahan? Jangan memperlakukan seseorang
lebih buruk dari kotoran anjing di satu waktu, lalu meng-
anggap orang itu berharga lebih dari ribuan ons emas di
waktu lain. Kaum intelektual tidak dapat ‘mencerna es
Biarkan Bunga-bunga Mekar 63

batu yang dingin’, ataupun langsung ‘menelan makanan


yang sangat panas’. ”
Hampir senada dengan kritik ini, seorang editor kepala dari
Harian Guangming menyampaikan ketidak-setujuannya ter-
hadap monopoli anggota partai terhadap semua kedudukan
penting di berbagai institusi, yang terkadang tidak dapat di-
penuhi akibat kurangnya kompetensi para anggota partai yang
bersangkutan. Ia menuliskan:
“Saya rasa kepemimpinan partai dalam suatu negara tidak
bisa diartikan bahwa partai itu memiliki negara secara
keseluruhan. Masyarakat umum mendukung Partai,
namun masyarakat juga tidak melupakan bahwa mereka
adalah pemilik sesungguhnya dari negara. Apakah tidak
terlalu berlebihan jika dalam kerangka bernegara, harus
ada anggota Partai yang ditempatkan sebagai pimpinan
di setiap unit, baik kecil ataupun besar, baik di seksi atau-
pun sub-seksi? Selama bertahun-tahun, bakat ataupun
kecakapan dari para anggota Partai ini tidak dapat men-
cukupi kebutuhan unit-unit yang mereka pimpin. Mereka
sering mengacaukan pekerjaan mereka, sehingga pada
akhirnya merugikan negara secara keseluruhan, dan tidak
berhasil mendapatkan rasa hormat dari rakyat umum,
sehingga kemudian membuat hubungan antara Partai
dengan rakyat kebanyakan menjadi tegang. ”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Seorang pemimpin gerakan mahasiswa bahkan bertindak


lebih jauh lagi, dengan menyamakan Partai Komunis dengan
masyarakat feodal zaman kekaisaran dan republik nasionalis
dari beberapa dekade sebelumnya, dan bahkan menolak
untuk percaya begitu saja terhadap Gerakan Seratus Bunga
ini. Ia menuliskan:
64 Republik Rakyat China

“Pengalaman selama tujuh tahun terakhir telah mem-


buktikan bahwa segalanya tidaklah seindah yang di-
bayangkan; sebuah ‘penindasan terhadap kelas sosial’ yang
baru telah dimulai... Seturut dengan dihancurkannya
kelas-kelas sosial yang lama (kaum borjuis feodal), sebuah
kelas sosial baru (anggota Partai) telah muncul, yang ber-
beda dari kelas yang lama, namun ciri-cirinya tidak jauh
berbeda.”
Pada akhirnya, klimaks yang ditunggu-tunggu pun muncul
ketika seorang mahasiswa bernama Tan Tianrong menempel-
kan serangkaian esai yang sengaja ia beri judul “Gulma Bera-
cun”. Esai pertamanya berbunyi:
“Di samping dari ‘Tiga Jenis Murid yang Baik’ (atau ma-
hasiswa idola yang aneh, ‘paku-paku kecil’, atau ‘anak
laki-laki dan perempuan Mao Zedong’ atau apapun se-
butan yang kau pakai, itu sama saja) yang sudah meng-
hapus pola pikir mereka, masih ada ribuan orang-orang
berbakat yang ada di antara ribuan muda-mudi China.”
Yang dimaksud dengan “Tiga Jenis Murid yang Baik” adalah
kriteria yang diberikan Mao Zedong bagi “mahasiswa idola”,
yaitu keunggulan dalam hal moralitas, intelektual, dan postur
isik. Tan mencibir standar yang ia sebut “idola yang aneh”
ini karena mereka yang dianggap sebagai mahasiswa yang
baik hanya melulu mengamini indoktrinasi Partai Komunis
saja, sementara mereka yang benar-benar berbakat yang ada
http://facebook.com/indonesiapustaka

di luar indoktrinasi semacam ini lantas tidak dianggap sebagai


“mahasiswa yang baik”.
Tidak cukup dengan esai ini, Tan menuliskan esai kedua
yang lebih “beracun” lagi:
Biarkan Bunga-bunga Mekar 65

“Masyarakat umum percaya bahwa apapun yang dikerja-


kan oleh Partai adalah hal yang benar, dan Partai selalu
benar dalam situasi apapun. Jika mereka yang bukan
anggota Partai kemudian mengajukan pendapat yang ber-
beda, mereka pasti salah, dan hal ini dianggap tidak boleh
ada, dan mereka harus dihukum dan ditekan, sampai
mereka (yang berbeda pendapat ini) membuat ‘kritik diri’
yang memuaskan. ”
Tan mengkritik arogansi Partai Komunis dalam menilai se-
gala hal dalam masyarakat dan membungkan suara-suara opo-
sisi yang tidak sependapat dengan Partai, lalu memberikan
label dengan jargon seperti “anti-Partai”, “anti-sosialisme”,
atau bahkan “kontra-revolusioner” kepada mereka yang
menentang, dan memaksa mereka melakukan ‘kritik diri’,
yaitu sebuah praktek politik yang umum ditemukan di masa
itu, yang cukup kejam secara psikologis dan dianggap me-
malukan, di mana seseorang yang dianggap bersalah akibat
langkah-langkah politik yang dianggap keliru (oleh otoritas
partai tentunya), dipaksa untuk menulis daftar panjang yang
berisi “dosa-dosa” yang telah ia lakukan, dan menyampaikan-
nya di hadapan pertemuan rekan-rekannya yang lain, atau
masyarakat umum yang mencibir dan mencemoohnya dengan
kata-kata hinaan dan hujatan. Merasa masih belum cukup,
Tan bahkan melangkah lebih jauh lagi dengan mengemuka-
http://facebook.com/indonesiapustaka

kan hal yang saat itu bisa dianggap sebagai tabu yang sangat
besar, yaitu mempersoalkan “kadar” Marxisme yang saat itu
dipraktekkan di China:
“Marxisme adalah sebuah kebenaran yang obyektif, dan
bukan sebuah agama. Mereka [anggota Partai] mengaku
66 Republik Rakyat China

sebagai pengikut Marxisme dan melarang orang lain


berbicara hal-hal yang menentang Marxisme. ”
Namun kaum intelektual China sedang menjalin tali gantung-
an yang nanti akan menjerat leher mereka sendiri, karena esai
tajam semacam inilah yang sebenarnya ditunggu oleh Mao,
atau setidaknya demikian yang dipikirkan oleh Jung Chang
dalam buku biograinya tentang Mao Zedong. Jung Chang
menuduh bahwa dari awal, Mao memang berencana meman-
cing orang-orang yang tidak puas atau menentang praktek
pemerintahan yang ia jalankan atau bahkan kekuasaannya
di China, untuk muncul ke permukaan dan bersuara dengan
lantang, sehingga ketika saatnya tepat ia bisa memakai kata-
kata mereka sebagai bukti untuk menjerat mereka, atau se-
perti kata Jung Chang:
“Hanya sedikit orang yang curiga bahwa Mao sedang me-
nyiapkan jebakan dan bahwa ia mempersilakan orang-
orang untuk bicara dengan lantang, agar kelak ia bisa
menggunakan apa yang mereka katakan sebagai alasan
untuk menjadikan mereka korban. ”
Perangkap yang dipasang oleh Mao ini secara tidak langsung
merupakan tanggapannya terhadap perubahan besar yang ter-
jadi di panggung politik komunis internasional, yang terjadi
ketika pada tanggal 25 Februari 1956 atau setahun sebelum-
nya, pemimpin Partai Komunis Uni Soviet yang baru yaitu
Nikita Krushchev menyampaikan pidatonya yang terkenal di
http://facebook.com/indonesiapustaka

hadapan Kongres ke-20 Partai Komunis Uni Soviet. Dalam


pidato yang ia beri judul “Mengenai Kultus Individu dan
Akibat-akibatnya” (O Kulte Litsnosti i Ego Posledstviyakh), ia
membuka semua keburukan pendahulunya, mendiang Joseph
Stalin, yang menurutnya memanfaatkan kedudukannya
Biarkan Bunga-bunga Mekar 67

sebagai pemimpin Partai Komunis dan Uni Soviet seluruh-


nya, untuk menciptakan kultus individu dan menumpuk
kekuasaan tertinggi bagi dirinya sendiri. Krushchev mencela
Stalin yang ia nilai sangat arogan dan terlalu membesar-besar-
kan peranannya sehingga menciptakan “igur sempurna” yang
tidak mungkin salah.
Hal ini berdampak sangat luas, dan pada akhirnya men-
jadi salah satu penyebab keretakan hubungan Moskow
dengan Beijing. Di Hungaria contohnya, pada akhir 1956
meletuslah sebuah pemberontakan bersenjata yang diotaki
oleh mahasiswa dan kaum intelektual yang tidak puas atas
kebijakan pemerintah komunis di negeri itu, yang mereka
anggap hanya sebagai tukang stempel kebijakan Uni Soviet atas
negara-negara blok komunis di Eropa Timur. Pemberontakan
yang berlangsung selama hampir 20 hari itu sampai-sampai
membuat Krushchev harus mengerahkan 30 ribu tentara Uni
Soviet untuk memadamkannya.
Mao menganggap bahwa gerakan serupa bisa saja terjadi
di China, dan ia menyalahkan meletusnya pemberontakan
Hungaria akibat sikap revisionis Krushchev yang memberi
angin segar bagi “kaum kanan” atau orang-orang yang me-
nentang komunis, untuk berbuat makar dan mengancam ke-
kuasaan Partai Komunis. Hal itulah yang membuat sejarawan
anti-Mao menuduh Mao sengaja merancang Kampanye
Bunga Mekar ini untuk memancing mereka yang dicurigai,
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang selama ini lepas dari pandangan mata badan intelejen-


nya, untuk keluar ke permukaan dan menyuarakan pendapat
mereka.
Akhirnya di pertengahan Juni 1957, Mao merasa ba-
hwa waktu yang tepat sudah tiba. Pada tanggal 7 Juni, se-
68 Republik Rakyat China

telah membaca pamlet yang mengatakan bahwa sikap para


pemimpin Partai Komunis sudah terpecah, Mao menulis
dalam editorial Harian Rakyat yang isinya melarang segala
bentuk kritik terhadap Partai Komunis. Editorial itu me-
nyampaikan bahwa saat ini, “kaum kanan” memanfaatkan
kebebasan berpendapat yang tengah digalakkan, untuk me-
nyerang pemerintahan dan Partai Komunis, sehingga sudah
saatnya Partai Komunis membalasnya dengan gerakan pem-
bersihan terhadap kaum kanan (Mao menyebutnya sebagai
“membersihkan ‘gulma beracun’ di sekitar bunga yang me-
kar”, sebuah referensi langsung pada esai provokatif dari Tan
Tianrong). Jung Chang menulis bahwa begitu editorial itu di-
siarkan, maka tombol dimulainya gerakan pembersihan pun
ditekan.
Deng Xiaoping, yang nantinya menjadi pemimpin China
setelah wafatnya Mao, sempat menulis laporan hasil pertemuan
di bulan Oktober 1957 yang kemudian dipublikasikan oleh
Harian Rakyat, yang merangkum motif yang menjadi dalih
pembenaran dari gerakan pembersihan ini:
“Kebanyakan kaum intelektual berasal dari kaum borjuis
atau borjuis kecil yang mendapatkan pendidikan ala
borjuis; dengan begitu mereka termasuk dalam kelas
borjuis. Elemen-elemen sayap kanan telah ditemukan ter-
utama di kalangan intelektual, di sekolah-sekolah tinggi,
dalam kantor-kantor pemerintahan, di penerbit surat
http://facebook.com/indonesiapustaka

kabar dan buku-buku, dalam literatur dan karya seni,


di antara pekerja-pekerja hukum dan politik, di antara
ilmuwan, ahli teknik, dokter, dan ahli farmasi. Di antara
kaum kanan, mereka yang berasal dari partai demokratis
[partai lain yang bukan Partai Komunis] memiliki posisi
yang istimewa yang bisa dimanfaatkan untuk merekrut
Biarkan Bunga-bunga Mekar 69

pengikut... Beberapa dari mereka pada akhirnya ber-


gabung dengan sayap kiri [komunis] di masa-masa awal,
namun sebagian besar tetap tidak meninggalkan status
kelas borjuis mereka. Kaum sayap kanan mengatakan
bahwa, ‘kaum amatir sebaiknya tidak memimpin kaum
terpelajar.’ Mereka menginginkan independensi dan
kebebasan, kebebasan pers, kebebasan publikasi, dan ke-
bebasan literatur dan karya seni.”
Menurut Deng, hal semacam ini akan berbahaya karena
membuat kaum kanan bisa berbuat seenaknya, lepas dari
pengawasan dan kendali Partai Komunis, sehingga berpotensi
mengganggu ketertiban umum dan menggoyang kekuasaan
Partai. Itulah sebabnya, mereka harus “diluruskan” dan di-
paksa bergabung ke sayap kiri. Namun Michael Dillon, pe-
nulis biograi tentang Deng Xiaoping, meragukan bahwa
kata-kata ini adalah murni hasil buah pikiran Deng pribadi,
melainkan hanya copy-paste dari kata-kata Mao mengenai ma-
salah sayap kanan ini, sehingga menurut Dillon, kesalahan
harus ditimpakan seluruhnya kepada Mao seorang, yang me-
restui gerakan pembersihan ini.
Akibat dari “restu” Mao ini segera meluas. Mereka yang
tadinya bersuara lantang dan menempelkan poster-poster ber-
huruf kapital yang bernada kritik dan kecaman, segera ditang-
kap untuk kemudian diadili oleh massa. Poster yang mereka
tulis itu kemudian dijadikan bukti untuk menjerat mereka.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Seperti yang diduga, kaum intelektual menjadi sasaran utama


gerakan pembersihan ini. Mao hanya menyisakan para sarjana
di bidang ilmu pengetahuan yang berguna, terutama isika
nuklir dan teknik pembuatan senjata modern, dan sepanjang
masa pemerintahannya ia terus memberikan berbagai keisti-
mewaan terhadap mereka.
70 Republik Rakyat China

Sepanjang tahun 1957 kemudian dihabiskan oleh pemerin-


tah untuk memburu dan membasmi sekitar setengah juta
kaum intelektual yang dicap sebagai sayap kanan. Para korban
gerakan pembersihan ini diperlakukan dengan berbagai cara,
dari dikecam dan dikucilkan, sampai disiksa dan dibunuh,
atau dipaksa bunuh diri. Mereka yang ditangkap dan ditahan
kemudian dibuang ke tempat-tempat terpencil, dan salah satu
korban pertama tentunya adalah Tan Tianrong, sang penye-
bar “gulma beracun”. Ia ditangkap dan dimasukkan ke kamp
kerja paksa dari tahun 1958 sampai 1969. Meskipun diancam
akan disiksa, Tan tetap berkeras bahwa dirinya tidak bersalah.
Dalam sebuah wawancara di tahun 2004, Tan menceritakan
derita yang ia alami selama masa 11 tahun kerja paksa itu:
“Penderitaan yang paling berat adalah di ladang per-
tanian danau Xingkai [di provinsi Heilongjiang] di
mana kami harus mengusir burung gagak dan mencabuti
rumput di tengah musim dingin. Kami dipaksa berdiri
dalam air setinggi pinggang, sedangkan permukaan air
mulai membeku. Anda takkan bisa lama-lama di situ,
terlalu lama sedikit saja, bisa mati beku. Saat kelaparan
dan kelelahan setelah seharian penuh bekerja, kami masih
harus mengangkut sekarung jagung dan berjalan kaki se-
lama beberapa belas li [1 li = 0,5 km]. Saking laparnya,
kami tidak kuat lagi berjalan. Akhirnya secara sembunyi-
sembunyi kami mengunyah jagung mentah itu sambil
terus berjalan.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Korban yang bisa dibilang cukup beruntung adalah Ai Qing


(1910-1996), ayah kandung seniman modern terkemuka
China, Ai Weiwei. Dalam artikel di internet, Gilbert King
dari Smithsonian. com menyampaikan cerita tentang Ai Qing
dan keluarganya:
Biarkan Bunga-bunga Mekar 71

“Ai Qing adalah salah satu penyair China modern mula-


mula. Ia telah bergabung dengan Partai Komunis sejak
tahun 1941, dan setelah Partai mengambil alih kekuasaan
di tahun 1949, Ai Qing sering berkonsultasi dengan Mao
tentang kebijakan kesusastraan di China dan sering ber-
keliling dunia sebagai duta China. Namun di tahun
1957, setelah ia membela Ding Ling, penulis yang di-
tuduh sebagai ‘kaum kanan’, Ai Qing kemudian dikecam,
dan keanggotaannya dalam asosiasi penulis beserta dengan
harta miliknya dilucuti. Ia dan keluarganya kemudian
dibuang ke kota Shihezi yang baru didirikan di daerah
terpencil di Xinjiang di bagian timur laut China, di mana
mereka hidup di tengah kemiskinan dan kelaparan. ”
Di sana, Ai Qing dan keluarganya dipaksa untuk melaku-
kan kerja paksa, mengerjakan pekerjaan yang dianggap kotor
dan rendahan, seperti membersihkan toilet umum – toilet di
China terkenal sangat kotor dan jorok – setiap hari dalam se-
minggu. Ia dan keluarganya kemudian dipindahkan lagi ke
sebuah daerah peternakan di tepian Gurun Gobi, di mana
mereka tinggal di rumah kandang, yaitu sebuah struktur mirip
gua yang sengaja dibuat untuk ternak yang akan beranak.
Nasib serupa pun dialami oleh kaum intelektual lainnya yang
dicap “kaum kanan” karena menyuarakan kritik mereka.
Namun hal ini kemudian dianggap oleh Ai Weiwei, putra
Ai Qing, sebagai sebuah keuntungan baginya, karena dengan
diasingkan bersama dengan keluarga dan kaum intelektual
http://facebook.com/indonesiapustaka

lainnya, itu berarti masa kecilnya dikelilingi oleh orang-orang


terpelajar yang idealis, yang menjadi guru-guru dengan bakat
dan kemampuan langka yang tidak lagi bisa ditemukan di
sekolah-sekolah China pada umumnya akibat diasingkannya
orang-orang cerdas itu ke daerah-daerah terpencil.
72 Republik Rakyat China

Atau kisah Harry Wu, seorang peneliti Amerika Serikat ke-


lahiran China, yang lahir dan besar di China dan mengalami
sendiri kekejaman rezim Mao selama masa-masa Kampanye
Anti-Kanan itu. Pada awalnya ia dikecam karena ketidak-
setujuannya terhadap invasi Uni Soviet ke Hungaria untuk
mengatasi pemberontakan mahasiswa di tahun 1956. Ia ke-
mudian ditangkap, dan dijatuhi hukuman penjara seumur
hidup. Setiap hari ia diinterogasi dan diancam akan disiksa
jika tidak mengakui “kejahatan-kejahatan” yang ia lakukan,
kemudian dimasukkan ke dalam kamp kerja paksa. Ia baru
dilepaskan di tahun 1976, atau setahun setelah wafatnya Mao.
Berbekal undangan untuk mengajar di Univeristy of Berkeley,
Wu segera hengkang ke Amerika Serikat. Ia sempat kembali
ke China secara incognito di tahun 1995, namun segera di-
tahan selama 66 hari di negeri yang seharusnya menjadi tanah
airnya itu. Berkat kampanye internasional menuntut pembe-
basannya, Wu berhasil lolos dari ancaman hukuman 15 tahun
penjara, dan “hanya” dideportasi ke Amerika Serikat.
Banyak juga korban yang tidak seberuntung Tan, Ai,
atau Wu dalam masa-masa kelam ini. Jung Chang bahkan
menyebutkan bahwa di masa inkuisisi kaum kanan itu,
mayat-mayat bergantungan di pohon atau kaki yang muncul
ke permukaan Danau Kunming yang terkenal di kompleks
bekas Istana Musim Panas dinasti Qing di Beijing itu, men-
jadi pemandangan lumrah yang bisa dijumpai warga ibukota
yang sedang berolahraga di pagi hari di sekitaran kompleks
http://facebook.com/indonesiapustaka

bangunan bekas istana yang megah itu.


Pada akhirnya, gerakan ini tidak hanya menyasar kaum
intelektual saja, namun juga menyasar kelompok oposisi yang
mungkin timbul, di dalam lingkaran kekuasaannya sendiri.
Sudah sejak lama Mao mencurigai Liu Shaoqi dan Zhou
Biarkan Bunga-bunga Mekar 73

Enlai, orang kedua dan ketiga dalam jajaran kekuasaannya,


bermaksud menggusurnya dari kekuasaan. Apalagi, tahun se-
belumnya kedua orang itu sempat menentang rencana Mao
untuk meningkatkan anggaran untuk pembuatan senjata dan
penelitian bom nuklir, dan menentang keinginan Mao untuk
mempercepat industrialisasi di China untuk mengejar keter-
tinggalan dari Uni Soviet dan negara-negara barat.
Zhou adalah sasaran utamanya dalam gerakan pembersi-
han di lingkungan internal Partai Komunis kali ini. Tidak cu-
kup hanya dengan mencopot kedudukan Zhou sebagai Men-
teri Luar Negeri, dalam sebuah pertemuan petinggi partai di
bulan Mei 1958, Mao mengecam Zhou sebagai “orang yang
terlalu kanan” dan membahayakan pemerintahan. Mao masih
mempermalukan Zhou dengan memaksanya menulis “kritik
diri”. Zhou sempat jatuh dalam depresi, dan demi memper-
siapkan pidato “kritik diri” ini ia sampai menghabiskan waktu
sepuluh hari mendiktekan dan mengkoreksi ulang naskah
yang ia susun, menggunakan bahasa yang sehalus dan setepat
mungkin, agar Mao melunak dan mau mengasihaninya.
Liu Shaoqi juga dipaksa melakukan hal serupa, namun
ia masih diizinkan mempertahankan kedudukannya sebagai
orang nomor dua dalam Partai Komunis. Namun Mao ma-
sih membutuhkan kepiawaian Zhou Enlai dalam diplomasi
internasional, sehingga Zhou masih dipertahankan sebagai
Perdana Menteri dan dibiarkan menangani urusan-urusan
http://facebook.com/indonesiapustaka

luar negeri, meski ia tidak lagi menjabat sebagai Menteri


Luar Negeri. Agaknya, selain karena Mao masih membutuh-
kan keahlian Zhou dalam jajaran pemerintahannya, ia masih
membutuhkan Zhou untuk dijadikan kambing hitam untuk
kesalahan-kesalahan yang ia buat di masa depan.
74 Republik Rakyat China

Tunduknya ancaman-ancaman potensial terhadap ke-


kuasaan Mao ini membuat kultus individu terhadap Mao
mulai berkembang, dan menyanjung-nyanjung Mao menjadi
salah satu prasyarat mutlak jika ingin mendapatkan keduduk-
an yang lebih tinggi, atau mengamankan posisi yang tengah
dimiliki. Mao masih mendudukkan salah seorang sekutunya
yang setia, yaitu Lin Biao, ke dalam jajaran puncak pemerin-
tahan sebagai Wakil Ketua Partai, tidak lain untuk semakin
mengkokohkan kekuasaannya. Di kemudian hari, Mao secara
terbuka mempersiapkan Lin sebagai calon penggantinya.
Para pengkritik Mao di masa sekarang ini sepakat dengan
motif tersembunyi Mao di balik Gerakan Seratus Bunga dan
kemudian Gerakan Anti-Kanan yang menyusul setelahnya.
Para sejarawan dari kelompok ini – terutama Jung Chang
– meyakini bahwa Mao sudah merencanakan hal ini jauh-
jauh hari sejak Krushchev menyampaikan pidatonya yang
menggemparkan dunia komunis itu, atau sejak pemberon-
takan mahasiswa di Hungaria yang sampai memaksa Uni
Soviet turun tangan. Seperti yang dikemukakan oleh seja-
rawan César Landín dalam disertasinya di tahun 2013, saat
itu Mao telah “menyempurnakan teknik-teknik pembersihan-
nya terhadap kaum oposisi, namun sekarang ia menggunakan
‘kekuatan rakyat’ untuk melakukannya”. Para pengkritik Mao
juga beranggapan bahwa selain untuk membersihkan China
dari kaum intelektual kritis yang mungkin akan membahaya-
kan kedudukannya dan kekuasaan Partai Komunis, Mao juga
http://facebook.com/indonesiapustaka

tengah membersihkan jalan bagi dilaksanakannya “ide gila”


hasil buah pikirannya yang berikutnya, yaitu Lompatan Besar
ke Depan. Maka ungkapan “Biarkan ratusan bunga mekar”
pun menjadi idiom satir yang terkenal, yang menyindir se-
buah rezim yang berkuasa, yang dengan sengaja memasang
jebakan untuk memancing kelompok oposisi potensial yang
Biarkan Bunga-bunga Mekar 75

selama ini tersembunyi untuk muncul dan dikenali, untuk


kemudian dibasmi dan dihabisi.
Sepeninggal Mao, pemerintah China mencoba merevisi
pandangan mereka terhadap gerakan pembersihan ini. Pada
tahun 1980, Deng Xiaoping yang berkuasa menggantikan
Mao mengemukakan pandangannya:
“Masalah yang muncul dengan berkembangnya gerakan
ini adalah bahwa serangan [yang dilakukan pemerintah]
terlalu luas. Banyak orang diperlakukan dengan tidak se-
pantasnya. Mereka diperlakukan secara tidak adil selama
bertahun-tahun, dan dengan demikian mereka tidak
dapat menunjukkan bakat dan kebijaksanaan mereka
demi kepentingan rakyat... Meskipun begitu, kita tidak
bisa langsung melompat ke kesimpulan bahwa di tahun
1957 sama sekali tidak ada kecenderungan ideologis ke
arah anti-sosialisme, atau bahwa kecenderungan semacam
ini tidak boleh diserang. Secara keseluruhan, Kampanye
Anti-Kanan di tahun 1957 tidaklah salah, namun yang
menjadi masalah adalah cara-cara penerapannya.”
Dengan begitu, Deng tetap bersikukuh bahwa pemerin-
tah tidak bersalah dalam gerakan ini, dan ia menolak untuk
meminta maaf kepada korban pembersihan. Berbeda dengan
Khruschev yang menggantikan Stalin, Deng tidak per-
nah mau membebankan semua kesalahan pada Mao, atau
menjelek-jelekkan pendahulunya itu. Hal ini pun juga bisa
http://facebook.com/indonesiapustaka

didasarkan pada fakta bahwa Deng juga bertanggung jawab


sebagai salah satu orang yang berperanan dalam Gerakan
Anti-Kanan itu. Maka sampai saat ini, isu ini pun – bersama
dengan isu Revolusi Kebudayaan – tetap menjadi salah satu isu
kontroversial yang pembahasannya masih jauh dari usai, se-
akan-akan menekankan kekuasaan Partai dalam menentukan
76 Republik Rakyat China

mood dari sebuah gerakan dan menekan kritik apapun yang


bisa muncul ke permukaan.
Dan itulah yang ditunjukkan Mao dalam gerakan ini.
Dengan menekan kritik yang ada, Mao berharap bahwa se-
mua rencana yang akan ia buat akan bebas dari gangguan, se-
hingga sambil menciptakan kultus individu terhadap dirinya,
ia bisa melenggang dengan bebas dan tak terkendali – seperti
biasa.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Menyederhanakan Bahasa,
Mencerdaskan Rakyat

China adalah salah satu negeri dengan sejarah kebudayaan


yang sangat tua. Bersama dengan Mesopotamia, Yunani,
India, dan suku-suku asli Amerika, China menjadi pusat ke-
budayaan besar di Asia Timur, yang mempengaruhi negeri-
negeri lain di sekitarnya. Kebudayaan ini mulai berkembang
pesat ketika sistem tulisan ditemukan, yang memungkinkan
dokumentasi terhadap hasil-hasil kebudayaan yang sudah di-
ciptakan, untuk diteruskan ke generasi berikutnya.
Sebagai salah satu pilar penting bagi kebudayaan China,
tulisan China – yang disebut Hanzi, “huruf (suku) Han” –
adalah karakteristik tak terpisahkan dari kebudayaan negeri
ini. Sebagaimana nenek moyang sistem penulisan di belahan
dunia lain, pada awalnya Hanzi berkembang dari usaha
menggambarkan bentuk-bentuk alamiah atau ide-ide dasar
dari pemikiran sederhana akan kehidupan sehari-hari. Ketika
kebudayaan mulai berkembang kompleksitasnya, maka huruf
yang dipakai untuk menceritakannya pun ikut berkembang
dan jumlahnya bertambah banyak. Berbeda dengan sistem pe-
nulisan lain yang menemukan cara untuk menyederhanakan
huruf menjadi abjad (seperti bahasa Arab, Yahudi), alfabet
http://facebook.com/indonesiapustaka

(huruf Latin, Cyrilic Rusia), ataupun abugida (Hindi, Tamil,


hai), sampai saat ini huruf Hanzi masih mempertahankan
karakternya yang khas, yaitu sistem logogram di mana satu
huruf menggambarkan satu benda atau ide berbeda, yang
membuat huruf Hanzi tidak hanya banyak sekali jumlahnya,
namun juga sangat rumit cara penulisannya.
78 Republik Rakyat China

Akibat luasnya wilayah China yang kemudian terpecah-


pecah menjadi berbagai negara bagian selama periode Dinasti
Zhou, huruf Hanzi yang berkembang saat itu pun menjadi
berbeda-beda antara satu negara bagian dengan yang lainnya,
sehingga satu kata saja bisa memiliki ratusan huruf untuk me-
nuliskannya. Surat dari satu daerah belum tentu bisa dipa-
hami oleh orang dari daerah lain. Akibatnya hanya orang yang
benar-benar terpelajar, yang menguasai sistem penulisan dari
berbagai daerah-lah yang melek huruf, sehingga kebudayaan
akhirnya hanya menjadi hak istimewa kaum elit intelektual
dan aristokrat.
Kurang lebih 2 ribu tahun sebelum Mao berkuasa, di
China muncullah seorang tokoh pemimpin yang namanya
melegenda sampai sekarang. Namanya yang termahsyur itu
tidak hanya ia dapatkan dari keberhasilannya menyatukan
China, membangun Tembok Besar, atau membuat makam
raksasa yang berisi ribuan sosok patung tentara China dari
tembikar, namun karena kekejaman dan paranoianya kurang
lebih mirip dengan Mao Zedong. Tokoh itu dikenal dalam
sejarah sebagai Kaisar Pertama Qin, Qinshihuang. Salah satu
gebrakan pertama yang ia lakukan setelah berhasil mempersa-
tukan China, adalah menyatukan semua huruf yang berbeda
itu – atau lebih tepatnya, membuang huruf yang lain – yang
kemudian melahirkan sistem penulisan xiaozhuan, atau yang
dikenal sejarawan Barat sebagai “Huruf Stempel”.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Huruf ini masih menyerupai gambar benda atau ide yang


diwakilinya, sehingga untuk menuliskannya dibutuhkan ke-
ahlian menggambar, secara hariah. Lengkungan dan kurva
yang rapi menjadi keharusan untuk mendapatkan huruf yang
sempurna. Akibatnya, dibutuhkan waktu yang lama hanya
untuk menulis sebuah surat pendek atau catatan singkat
Menyederhanakan Bahasa, Mencerdaskan Rakyat 79

mengenai suatu hal. Lama-kelamaan cara ini menjadi tidak


praktis, dan pada akhirnya lengkungan dan kurva yang bulat
dan meliuk-liuk seperti seekor ular itu pun diganti dengan
goresan lurus yang lebih tegas dan sederhana, yang melahir-
kan bentuk huruf turunan yang baru, yang disebut sebagai
lishu, atau yang dikenal oleh sejarawan Barat sebagai “Huruf
Pegawai”.
Tetapi pada akhirnya huruf ini tidak mampu mengimbangi
cepatnya perkembangan kebudayaan China yang semakin
maju. Catatan menjadi semakin luas. Ketika kertas mulai di-
pakai menggantikan gulungan bambu yang mahal dan tidak
praktis, dan ketika lembaran-lembaran kertas dijahit pinggir-
nya untuk menjadi sejilid buku, maka para penulis menjadi
semakin tertantang untuk memenuhi buku yang lebih prak-
tis itu dengan catatan yang lebih panjang. Maka, dibutuhkan
huruf yang lebih mudah dan cepat untuk ditulis, dan lahirlah
huruf kaishu atau “Huruf Standar” yang masih dipakai saat
ini. Masih dirasa kurang praktis, huruf ini kemudian masih
diturunkan lagi menjadi huruf xingshu atau “Huruf Berlari”
yang menyingkat waktu penulisan, dan huruf caoshu atau
“Huruf Rumput” yang lebih mirip dengan coretan kacau,
namun bernilai artistik tinggi.
Masa puncak bagi kebudayaan China tiba ketika dinasti
Tang berkuasa di China. Dinasti yang didirikan oleh marga Li
ini melanjutkan kesuksesan dinasti Sui mempersatukan China
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang sempat terpecah selama 3 abad. China yang mengimpor


agama Buddha dari India, kemudian mengekspornya ke ber-
bagai negara tetangga di Asia Timur dan Tenggara, seperti
Jepang, Korea, dan juga Vietnam. Para pendeta Buddha dari
negeri-negeri itu berduyun-duyun datang ke China dan mem-
banjiri ibukota Chang’an (sekarang kota Xi’an di provinsi
80 Republik Rakyat China

Shaanxi), yang sudah terlebih dulu ramai dengan pelancong


dan pedagang yang menyemarakkan kota di ujung awal Ja-
lur Sutera yang terkenal itu. Setelah menamatkan pendidikan
agama mereka di China, para pendeta Buddha ini kembali
ke negara masing-masing sambil membawa pula teh, por-
selen, kerajinan tangan, dan tentu saja, kitab-kitab suci agama
Buddha yang tentu saja ditulis dalam Hanzi.
Hanzi pun menyebar ke mana-mana dan digunakan oleh
bangsa-bangsa yang sebenarnya bahasanya sama sekali berbeda.
Hanzi bersama dengan agama Buddha dan ilsafat Konghucu
menjadi patokan ideal bagi standar kebudayaan Asia Timur.
Para kaum elit aristokrat atau keluarga kaya akan dididik de-
ngan Hanzi dan ilsafat Konghucu, dan untuk mencapai pang-
kat atau kedudukan tertentu mereka tidak hanya harus fasih
berbahasa China, namun mampu menyusun puisi gaya Tang
– puisi empat atau delapan baris dengan meter sajak 5-5 atau
7-7, bisa menulis esai panjang dengan tata bahasa China klasik
yang singkat namun sulit dimengerti, dan akhirnya seni kali-
grai China pun juga menjadi salah satu bagian tak terpisahkan
dari kehidupan artistik harian para kaum elit terpelajar ini.
Namun karena pada dasarnya bukan berasal dari bahasa
asli mereka, lama-kelamaan bangsa-bangsa Asia Timur seperti
Jepang dan Korea mencoba mengadaptasikan Hanzi untuk
lebih mengakomodasi bahasa mereka yang lebih mirip rum-
pun bahasa Altaik yang aglutinatif, daripada bahasa China
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang lebih kaku dan tidak mengalir. Para biksu Jepang pun
mengembangkan huruf kana “bunyi pinjaman”, yang meru-
pakan penyederhanaan dari Hanzi, yang pada awalnya ha-
nya dipakai untuk mempermudah penulisan dan pembacaan
sutera-sutera agama Buddha. Lama-kelamaan sistem huruf
yang lebih mengakomodasi suku kata bahasa Jepang yang lebih
Menyederhanakan Bahasa, Mencerdaskan Rakyat 81

terbuka dan jumlahnya terbatas itu, dipakai untuk menulis-


kan bahasa Jepang secara keseluruhan sampai saat ini. Hanzi
– yang mereka sebut huruf Kanji “huruf Han/China” – masih
dipakai secara berdampingan dengan huruf kana, namun cara
bacanya sudah jauh berbeda dengan huruf aslinya.
Di Korea, perubahan ini terjadi lebih dramatis lagi. Agak
terlambat dari bangsa Jepang yang memulainya di abad ke-9
sampai ke-10 Masehi, Korea baru mengadaptasikan Hanzi
– atau lebih tepatnya menggunakan huruf baru – ke dalam
bahasa Korea pada tahun 1446, semasa pemerintahan raja Se-
jong dari dinasti Joseon. Raja yang prihatin dengan tingginya
angka buta huruf di kerajaannya, merasa bahwa Hanzi yang
eksklusif tidak memenuhi kebutuhan bahasa Korea yang
lebih aglutinatif, dan tidak memberikan kesempatan bagi
orang-orang awam yang tidak terlalu beruntung menganyam
pendidikan, untuk menyampaikan pendapat mereka atau
memperoleh pengetahuan lebih melalui tulisan. Ia kemudian
menyusun sistem hangul, di mana ia menemukan 28 kompo-
nen baru yang penggunaanya jauh lebih sederhana untuk me-
nuliskan bahasa Korea. Pada awalnya seperti halnya di Jepang,
Hanzi juga dituliskan berdampingan dengan hangul, namun
lama-lama bahasa Korea sepenuhnya menggunakan hangul
saja, dan Hanzi amat-sangat jarang dipergunakan di masa se-
karang ini, baik di Korea Utara ataupun Selatan.
Setelah dinasti Tang runtuh, di China sempat berkuasa
http://facebook.com/indonesiapustaka

dinasti Song Utara, yang harus berbagi wilayah dengan


bangsa-bangsa “ barbar” seperti bangsa Khitan yang mendiri-
kan Dinasti Liao di wilayah Manchuria, bangsa Tangut yang
mendirikan Dinasti Xia Barat di daerah Ningxia dan Gansu,
dan bangsa Yunnan di China selatan yang mendirikan Dinasti
Dali. Dinasti Song masih mengekspor kebudayaan ke Jepang
82 Republik Rakyat China

dan Korea, meskipun pamornya tak secemerlang Dinasti Tang


beberapa abad sebelumnya. Ketika Mongol menguasai China,
maka negeri-negeri Asia Timur – terutama Jepang – merasa
bahwa “Kekaisaran Pusat” tidak lagi bisa dijadikan kiblat ke-
budayaan mereka, dan mereka pun mulai mengembangkan
kebudayaan mereka yang unik.
Jepang bisa dibilang adalah negeri isolasionis yang maju,
karena selama beratus-ratus tahun negeri ini mengembangkan
kebudayaan mereka yang unik, yang pada awalnya mencon-
toh China saja, namun kemudian mencampurkan berbagai
penemuan unik mereka yang disesuaikan dengan kondisi
setempat ke dalam kebudayaan yang sudah ada. Maka me-
skipun pada awalnya mirip, Jepang dan China pada akhir-
nya mengembangkan kebudayaan yang sangat distingtif pada
masa-masa setelah kejatuhan Dinasti Yuan Mongol. Hal ini
tidak terkecuali pada huruf Kanji yang masih mereka per-
tahankan. Berbagai variasi penyederhanaan mulai muncul di
Jepang, sehingga bentuk beberapa huruf Kanji tidak lagi sama
persis dengan nenek-moyangnya yang masih ada di China.
Sementara itu di negeri asalnya, Hanzi masih tetap tidak
berubah – atau berubah sangat sedikit sekali – selama ratusan
tahun. Ketika semua huruf ini diidentiikasi dan didata oleh
kaisar Kangxi dari dinasti Qing dan diterbitkan pada tahun
1716, jumlahnya mencapai angka yang fantastis: 47.035 hu-
http://facebook.com/indonesiapustaka

ruf! Dan yang lebih fantastis lagi, ada sejumlah huruf yang
cara menulisnya pun sangat rumit, membutuhkan lebih dari
20 goresan hanya untuk satu huruf saja. Huruf yu, yang
artinya adalah “lebat”, membutuhkan 29 coretan; huruf nang,
yang artinya adalah “bunyi sengau di hidung yang tersum-
bat”, membutuhkan 36 coretan; dan yang paling sulit dari
Menyederhanakan Bahasa, Mencerdaskan Rakyat 83

semuanya adalah zhe, huruf kuno yang artinya adalah “agung


luar biasa”, membutuhkan total 64 coretan.
Hal ini – ditambah dengan eksklusivisme pendidikan di
zaman itu – membuat kemampuan baca-tulis menjadi hal
yang langka. Hanya sebagian rakyat yang masuk ke dalam
kaum terpelajar yang mempunyai akses terhadap ilmu penge-
tahuan. Apalagi kebijakan pemerintahan kekaisaran me-
mang membatasi peranan rakyat jelata dalam pemerintahan,
sehingga rakyat awam lebih banyak menjadi objek kekuasaan,
dan tidak punya andil apa-apa pada pemerintahan selain seba-
gai pekerja dan penghasil uang pajak bagi pemasukan negara.
Ketika sistem edukasi model Barat mulai diperkenalkan
ke China, lahirlah kelas intelektual baru, yaitu kaum pemikir
revolusioner yang prihatin terhadap lemahnya China dan se-
ringnya negeri mereka itu jadi bulan-bulanan agresor asing
yang secara perlahan namun pasti mencaploki wilayah China
sedikit demi sedikit dan merendahkan martabat mereka se-
bagai bangsa dengan kebudayaan yang luhur, serta meng-
injak-injak kedaulatan tanah air mereka yang terkenal sebagai
negara yang besar. Mereka yang mempelajari bahasa asing me-
nemukan bahwa kemampuan bangsa asing – termasuk Jepang
– dalam mencerna dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan
baru, secara langsung ataupun tidak langsung berkaitan de-
ngan kemampuan sebuah bahasa untuk diterjemahkan ke
http://facebook.com/indonesiapustaka

dalam tulisan. Orang-orang Eropa dan Amerika Serikat yang


menggunakan huruf Latin (atau huruf Cyrilic di Rusia) le-
bih mudah menterjemahkan ide-ide mereka atau mewariskan
penemuan-penemuan baru melalui huruf yang mereka pakai,
karena sistem pengejaan dan pembacaannya lebih sederhana
sehingga mudah dipelajari.
84 Republik Rakyat China

Meskipun Hanzi lebih ringkas dan padat sehingga buku


yang dihasilkan bisa lebih tipis dan memuat banyak ide,
namun tidaklah mudah bagi orang asing atau rakyat jelata
yang buta huruf untuk belajar bahasa Mandarin. Itulah yang
dirasakan oleh para cendekiawan China modern di awal-awal
kebangkitan demokrasi di China. Gerakan 4 Mei yang meletus
di tahun 1919 pada awalnya hanya ditujukan untuk melawan
pendudukan Jepang atas Semenanjung Shandong di China
timur setelah usainya Perang Dunia I, namun kemudian men-
jadi tonggak revolusi intelektual di China karena melahirkan
banyak penulis-penulis baru yang mengubah kebudayaan
China feodal yang kolot menjadi sebuah lingkungan baru
yang penuh semangat dan gairah keterbukaan, yang dihiasi
dengan tumbuh dan berkembangnya ide-ide baru yang revo-
lusioner dan modern.
Fu Sinian (1896-1950), cendekiawan China dan ahli
bahasa yang menjadi salah satu motor penggerak Gerakan
4 Mei, mengatakan bahwa Hanzi adalah, “tulisan siluman
kerbau dan dewa kepala ular”. Zhou Shuren (1881-1936),
seorang penulis sayap kiri yang lebih terkenal dengan nama
penanya Lu Xun, mengemukakan pendapat yang lebih berani
lagi mengenai Hanzi. Ia bahkan pernah berkata bahwa, “jika
Hanzi tidak dihancurkan, maka China akan musnah”. Mereka
merasa bahwa Hanzi yang terlalu rumit adalah hambatan bagi
perkembangan kebudayaan China, atau bahkan bagi kema-
juan China secara keseluruhan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Pilihan awal adalah dengan menerjemahkan bunyi-bunyi


Hanzi ke dalam alfabet Latin, atau yang dikenal dengan
Romanisasi. Hal ini biasanya dikerjakan oleh kaum misionaris,
dan dimaksudkan untuk mempermudah pembelajaran bahasa
Mandarin bagi orang asing. Romanisasi paling awal dilakukan
Menyederhanakan Bahasa, Mencerdaskan Rakyat 85

oleh Matteo Ricci di penghujung zaman dinasti Ming, sekitar


abad ke-16 sampai ke-17 Masehi, namun catatan ini hilang.
Romanisasi mula-mula yang sampai sekarang masih digunakan
sebagian adalah hasil ciptaan homas Francis Wade (1818-
1895), seorang diplomat Inggris yang bekerja di China, yang
kemudian disempurnakan oleh Herbert Allen Giles (1845-
1935), yang juga menjadi diplomat Inggris di China sekali-
gus profesor linguistik bahasa Mandarin. Sistem yang mereka
kembangkan adalah sistem Wade-Giles, yang diterbitkan da-
lam bentuk Kamus Mandarin-Inggris di tahun 1892. Sistem
ini menjadi acuan bagi orang asing yang hendak mempelajari
bahasa Mandarin, karena menggunakan alfabet Latin umum
sebagai pedoman. Namun Romanisasi ini mencampur aduk-
kan logat selatan sehingga berbeda dengan bahasa Mandarin
Standar (putonghua) yang saat ini dipakai di China.
Pihak China sendiri juga melakukan “Romanisasi” mereka
sendiri, dengan meluncurkan sistem Bopomofo atau Zhuyin
Fuhao “simbol bunyi penting” pada masa Republik China
di tahun 1913, dan disahkan penggunaannya secara luas di
China pada tahun 1928. Sistem Romanisasi ini tidak meng-
gunakan alfabet Latin, namun menciptakan simbol-simbol
fonetik baru yang mewakili bunyi vokal atau konsonan yang
ada dalam bahasa Mandarin, ditambah dengan kode nada
dari huruf yang di-Romanisasi itu. Sistem ini digunakan ber-
dampingan dengan sistem Wade-Giles sampai akhirnya di-
hapuskan oleh pemerintah komunis pada tahun 1958.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Sistem Romanisasi yang diciptakan oleh Republik Rakyat


China dan sampai saat ini tidak hanya dipergunakan secara luas
di China namun juga diakui penggunaannya oleh Organisasi
Standarisasi Internasional – ISO, adalah Hanyu Pinyin atau
Lading Pinyin, dan sering disingkat sebagai pinyin. Sistem ini
86 Republik Rakyat China

adalah pengembangan dari sistem Wade-Giles dan Bopomofo,


namun murni menggunakan 26 huruf (kecuali huruf v yang
digantikan oleh huruf ü). Sistem ini dicetuskan salah satunya
oleh Zhou Youguang (lahir tahun 1906), yang ironisnya juga
sempat menjadi korban inkuisisi terhadap kaum intelektual di
masa Revolusi Kebudayaan. Bersama dengan rekan-rekannya
yang lain, Zhou menghabiskan tiga tahun berkutat dengan
26 set huruf alfabet Latin yang kemudian menjadi dasar
Romanisasi sistem pinyin. Zhou pernah mengingat hal ini da-
lam wawancara di tahun 2012:
“Kami menghabiskan waktu tiga tahun untuk mengem-
bangkan Pinyin. Orang-orang mentertawakan kami, ber-
canda bahwa betapa lamanya waktu yang kami butuhkan
untuk berkutat hanya dengan 26 huruf saja.”
Tetapi Zhou bangga dengan karyanya ini, karena menurut
artikel yang ditulis oleh BBC Inggris itu, angka buta huruf
di China yang mencapai 85% sebelum diperkenalkannya sis-
tem pinyin itu, turun menjadi hanya beberapa persen di masa
modern ini.
Namun ketiga sistem itu – yang hanya merupakan se-
bagian dari model Romanisasi lain yang amat-banyaknya –
tidak bisa menterjemahkan Hanzi dengan tepat, karena hanya
menyederhanakan bunyi, namun tidak menggambarkan arti
http://facebook.com/indonesiapustaka

huruf tersebut. Padahal, berbagai huruf berbeda bisa memiliki


bunyi yang sama, sehingga ketika dipadukan tanpa disertai
huruf aslinya, dapat menimbulkan kebingungan. Misalnya,
huruf-huruf seperti 十 实 食 石 semuanya dituliskan dengan
bunyi shí, padahal masing-masing berarti angka sepuluh,
penuh, makanan, dan batu.
Menyederhanakan Bahasa, Mencerdaskan Rakyat 87

Maka jika Hanzi masih tetap ingin dipertahankan, penye-


derhanaan dipandang menjadi sebuah kebutuhan yang pasti
dan keharusan yang mutlak. Setidaknya itu yang dilihat oleh
pemerintah Republik Rakyat China yang menginginkan
agar angka buta huruf di China dapat ditekan, dan bahasa
Mandarin menjadi bahasa yang lebih mudah dipelajari tidak
hanya dari sisi bunyi saja, namun juga dari sisi tulisan. Pada
tahun 1952, ide ini mulai digulirkan oleh Komite Penelitian
Reformasi Bahasa dan ditanggapi dengan positif oleh pe-
merintah. Selama tiga tahun kemudian, komite ini kemudian
melakukan penelitian terhadap sejumlah Hanzi yang paling
sering dipergunakan namun dinilai terlalu rumit penulisan-
nya sehingga menjadi prioritas untuk disederhanakan.
Akhirnya sebuah tabel berisi huruf-huruf hasil penyeder-
hanaan – yang kemudian secara luas disebut sebagai jianhuazi
atau jiantizi, “huruf yang disederhanakan” – diumumkan ke
publik secara resmi di Harian Rakyat pada tanggal 31 Januari
1956 setelah disetujui penggunaannya oleh pemerintah tiga
hari sebelumnya. Tabel ini berisi 2.238 huruf yang dibagi
menjadi tiga bagian: bagian pertama adalah huruf yang tidak
menjadi komponen huruf lain sejumlah 352 huruf; bagian
kedua adalah huruf yang menjadi komponen huruf lain;
dan bagian ketiga adalah huruf kompleks yang disusun dari
kelompok huruf bagian kedua sejumlah 1.754 huruf. Penye-
derhanaan tahun 1956 ini memotong banyak sekali goresan
http://facebook.com/indonesiapustaka

dari sebuah huruf bahkan hingga dua-pertiga dari jumlah go-


resan, sehingga huruf yu (lebat) yang pada awalnya dituliskan
sebagai 欎 atau membutuhkan 29 goresan, kini cukup ditulis
dengan 郁 yang hanya membutuhkan 9 goresan saja, atau
menghilangkan sampai 20 goresan; atau bian (tepi/pinggir)
yang pada awalnya dituliskan sebagai 邉 yang membutuhkan
88 Republik Rakyat China

18 goresan, kini cukup ditulis sebagai 边 yang hanya mem-


butuhkan 5 goresan saja.
Pada awalnya, pengenalan huruf ini mendapat tentangan
yang cukup hebat dari kalangan intelektual China yang ber-
pegang teguh pada tradisi kuno. Salah satunya adalah Chen
Mengjia (1911-1966), seorang profesor linguistik dan peneliti
Hanzi kuno yang dipergunakan selama zaman dinasti Shang
(1600-1046 SM). Karena sikapnya ini, ia kemudian menjadi
salah satu korban gerakan pembersihan dari Gerakan Anti-
Kanan di tahun 1957 dan dikirimkan ke kamp kerja paksa.
Ketika Revolusi Kebudayaan pecah di tahun 1966, Chen
lagi-lagi dituduh sebagai kaum kanan dan menjadi sasaran
olok-olok dan inkuisisi kelompok pro-Mao. Karena tidak ta-
han menanggung beban psikologis yang berat, Chen akhirnya
mengakhiri hidupnya di Beijing.
Ketika Revolusi Kebudayaan bergulir di dekade 60-an,
pemerintah China sempat memperkenalkan penyederhanaan
untuk kali kedua, yang tidak hanya menyasar yang belum
sempat disederhanakan saja, namun juga huruf-huruf hasil
penyederhanaan di tahun 1956. Akibatnya, penggunaan huruf
menjadi tumpang tindih dan menimbulkan kebingungan di
tengah masyarakat. Misalnya, huruf 彩 yang berarti “warna”
disederhanakan menjadi 采 yang sebelumnya hanya berarti
“memetik” saja. Atau huruf 帮 yang berarti “membantu” di-
sederhanakan menjadi 邦 yang sebenarnya berarti “negara
http://facebook.com/indonesiapustaka

tetangga”. Maka, begitu Mao meninggal dunia dan “Geng


Empat” pendukung Mao dan Revolusi Kebudayaan disingkir-
kan dari panggung politik China, penyederhanaan kedua ini
menjadi tidak populer, dan akhirnya resmi dibatalkan peng-
gunaannya pada tahun 1986.
Menyederhanakan Bahasa, Mencerdaskan Rakyat 89

Sampai sekarang, pro-kontra penggunaan huruf sederhana


versus huruf tradisional masih terus berkembang. Karena di-
anggap sebagai produk komunis, pemerintah Nasionalis di
Taiwan menolak penggunaan huruf sederhana ini dan terus
bertahan menggunakan huruf tradisional. Mereka yang di
Hongkong dan Macau juga tetap mempertahankan peng-
gunaan huruf tradisional yang lebih rumit meskipun sudah
resmi bergabung dengan Republik Rakyat China di dekade
90-an. Salah satu argumen mereka adalah bahwa huruf yang
disederhanakan sudah “kehilangan makna ilosoisnya”, seperti
huruf ai “cinta” tanpa hati (爱 vs 愛), mai “membeli” berupa
“pisau di atas kepala” (买 vs 買), atau sheng “orang suci” yang
tak lagi punya telinga untuk mendengar keluhan rakyat dan
mulut untuk menyampaikan protes (圣 vs 聖).
Di luar China, selain digunakan dalam buku-buku teks
pelajaran bahasa Mandarin modern, huruf sederhana di-
pakai secara resmi di Malaysia dan Singapura, dua negara Asia
Tenggara yang menjadikan bahasa Mandarin sebagai salah
satu bahasa resmi negara. Surat kabar ataupun majalah ber-
bahasa Mandarin di kedua negara itu sudah menggunakan
huruf sederhana secara resmi sejak lama.
Penulis sendiri pernah merasakan manfaat dari mempela-
jari huruf sederhana ini. Dengan goresan yang lebih sedikit,
lebih mudah untuk mempelajari sekian ribu huruf berbeda
yang dibutuhkan untuk mencapai tingkatan yang cukup
untuk mengikuti perkuliahan dalam bahasa Mandarin, atau
http://facebook.com/indonesiapustaka

mengerjakan tugas akhir yang cukup rumit dan menyita


waktu. Tidak terbayangkan jika semuanya itu harus dijalani
dalam huruf tradisional yang lebih rumit, yang menulisnya
saja sudah memakan waktu, apalagi untuk menghafalkan
sekian ribu huruf berbeda dengan berbagai varian yang ada.
90 Republik Rakyat China

Pada akhirnya, pemerintah Republik Rakyat China menge-


sahkan penggunaan 8.300 huruf sederhana yang kemudian
dikompilasikan ke dalam kumpulan huruf-Hanzi yang diakui
penggunaannya, Zhonghua Zihai “Lautan Huruf China” yang
memuat lebih dari 85 ribu huruf. Namun memang tidak se-
muanya harus diketahui secara seluruhnya. Untuk membaca
surat kabar setidaknya “hanya” dibutuhkan pengetahuan ter-
hadap 1.200-an huruf, sedang untuk menulis karya sastra atau
penerbitan ilmiah setidaknya dibutuhkan 3.000-an huruf.
Ini akan menjadi tantangan yang cukup berarti bagi mereka
yang hendak mempelajari bahasa Mandarin dari nol. Namun
dengan adanya huruf sederhana ini, setidaknya upaya ini akan
menjadi lebih mudah. Terbukti dari turunnya angka buta hu-
ruf di Republik Rakyat China selama waktu 50 tahun setelah
diperkenalkannya huruf sederhana ini, dari sekitar 80% di
seluruh negeri menjadi hanya tinggal rata-rata 5-6% saja, dan
penurunan yang signiikan terutama terjadi di kalangan petani
di daerah pedesaan yang dulu menjadi daerah dengan angka
buta huruf tertinggi di China. Meskipun para penentang
penyederhanaan huruf mengatakan bahwa angka buta huruf
di Taiwan yang tetap mempertahankan huruf tradisional ma-
sih jauh lebih rendah dibandingkan China, namun harus di-
pahami bahwa Republik Rakyat China memiliki wilayah yang
jauh lebih luas dan penduduk yang lebih banyak, sehingga
tidak mungkin untuk memberantas buta huruf dalam waktu
singkat.
Pada akhirnya, ssejarah penciptaan Hanzi selama ribuan
http://facebook.com/indonesiapustaka

tahun pun sampailah pada penggunaan tiga jenis huruf iden-


tik yang terpisah, satu di China daratan, satu di Hongkong-
Macau-Taiwan, dan satunya lagi di Jepang. Meskipun mirip
dalam berbagai aspek, namun tetap saja ada sedikit perbedaan
di sana-sini, yang semakin memperkaya pengetahuan terhadap
sejarah kebudayaan China yang berumur ribuan tahun itu.
Burung Tak Lagi
Berkicau

Seorang nenek tua duduk di depan kamera sambil men-


ceritakan sebuah kisah yang umum didengar dari hampir se-
tengah abad yang lalu. Keriput yang sudah memenuhi wajah
Li Yaqin, nenek tua berumur 73 tahun itu, mengabadikan
berbagai kepahitan yang sudah Li alami sejak ia masih anak-
anak, sampai pada puncaknya ketika ia harus kehilangan ayah
kandungnya akibat bencana kelaparan hebat yang melanda
China pada tahun 1959-1961:
“Ia [ayah Li] tertidur di atas ranjang dan tidak dapat
bergerak karena ia terlalu lapar. Ia menyuruhku untuk
mengangkatnya, namun ketika aku berusaha untuk meng-
angkat badannya, ia hanya berguling saja di atas ranjang
dan tidak dapat bangun sendiri. Pada akhirnya, ia sama
sekali berhenti bergerak.”
Li bukanlah satu-satunya orang yang mengalami kejadian
mengenaskan itu. Bersama dengan rakyat China kebanyakan,
ia harus makan apa yang bisa mereka makan seperti daun-
daunan, tongkol jagung yang sudah habis jagungnya, dan
akar-akaran yang mereka giling lalu dibuat adonan kue. Ke-
http://facebook.com/indonesiapustaka

tika semua sudah tidak ada, mereka makan kulit kayu dan
tanah liat. Bahkan ada keluarga yang saling bertukar bayi
mereka untuk dimakan, untuk sekedar menyambung hidup
selama beberapa hari di masa kelam yang bagi orang-orang
zaman sekarang akan dianggap sebagai sebuah mimpi buruk
yang traumatis, seperti yang dilaporkan oleh he Guardian
92 Republik Rakyat China

di tahun 2013 setelah mewawancarai seorang korban selamat


bernama Yang Jisheng:
“Satu dekade setelah Partai Komunis mengambil alih
kekuasaan di tahun 1949 dengan janji untuk melayani
rakyat, terjadilah bencana buatan manusia yang terbesar
dalam sejarah di atas tanah yang sudah hancur. Di se-
buah kota tak terkenal di tengah provinsi Henan, lebih
dari sejuta orang atau satu dari delapan orang, musnah
akibat kelaparan dan kekejaman dalam kurun waktu tiga
tahun saja. Di sebuah daerah, para pejabatnya meminta
bahan makanan lebih banyak dari yang bisa dihasilkan
oleh para petani. Dalam waktu 9 bulan saja, lebih dari
12 ribu orang – sepertiga dari penduduknya – mati da-
lam satu komune saja; sepersepuluh dari rumah tangga
yang ada musnah. Tiga belas anak-anak meminta-minta
makanan pada pejabat setempat, dan mereka langsung
diseret ke tengah-tengah pegunungan, di mana mereka te-
was akibat udara dingin dan kelaparan. Seorang remaja
yatim piatu membunuh dan memakan adik laki-lakinya
yang baru berumur 4 tahun. Empat puluh empat dari 45
penduduk desa mati; orang terakhir yang selamat adalah
seorang nenek berumur 60 tahun, langsung menjadi gila
karenanya. Yang lainnya disiksa, dipukuli, atau dikubur
hidup-hidup akibat memaparkan hasil panenan yang se-
benarnya, menolak memberikan sedikit makanan yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

tersisa yang mereka punya, mencuri sedikit makanan,


atau bahkan hanya gara-gara membuat marah pejabat
setempat.”
Dalam kegilaan yang berlangsung selama 3 tahun saja itu, 16,5
sampai 30 juta jiwa melayang sia-sia! Sebagai perbandingan,
Burung Tak Lagi Berkicau 93
http://facebook.com/indonesiapustaka

Tanur Rumahan
Demi meningkatkan produksi baja dalam negeri,
Mao mengkampanyekan agar rakyat menghasilkan besi baja lewat
tanur-tanur rumahan yang mendaur ulang besi-besi tua menjadi
baja. Namun pada akhirnya rakyat mempereteli perkakas besi
yang masih dipakai, dan karena pengetahuan mereka di bidang
metalurgi sangat rendah, baja yang dihasilkan pun berkualitas jelek.
94 Republik Rakyat China

bencana kelaparan di Irlandia tahun 1845-1851 “hanya” me-


nelan korban 1,1 juta jiwa dan memicu migrasi besar-besaran
rakyat Irlandia ke Amerika dan Kanada; bencana di Bangladesh
tahun 1943 menelan korban 3 juta jiwa; dan bencana ke-
laparan yang cukup terkenal dari beberapa dekade yang lalu,
yang terjadi di Etiopia tahun 1984-1985 menelan korban 600
ribu sampai 1 juta jiwa. Maka, bencana kelaparan di China ini
adalah catatan bencana kelaparan terburuk dalam sejarah, dan
celakanya semuanya gara-gara ulah satu orang ambisius yang
tak masuk akal: Mao Zedong.
Pada awalnya, Mao menerapkan Rencana Lima Tahun
dari tahun 1953-1957 yang tujuan utamanya adalah mening-
katkan derajat kesejahteraan rakyat China yang sudah rusak
akibat perang berkepanjangan. Mao menggunakan model
Soviet sebagai acuannya, dengan cakupan utama dari ren-
cana ini adalah tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Sayangnya, perhatian Mao lebih tercurah pada perkembangan
industri – yang difokuskan pada industri alat berat. Pertanian
hanya dianggap sebagai sumber bahan pangan untuk disimpan
dan didistribusikan secara terkendali dari pusat, dan Jung
Chang bahkan lebih jauh lagi menambahkan bahwa Mao
menggunakan kendalinya atas bahan pangan untuk mengen-
dalikan rakyat.
Tujuan utama modiikasi sistem pertanian yang dilaku-
kan oleh pemerintah adalah Kolektivisasi – sebuat “gebrakan”
http://facebook.com/indonesiapustaka

kebijakan pertanian dari zaman Stalin, berupa perubahan


dari sistem pertanian individual menjadi sistem pertanian
berkelompok yang diatur oleh pemerintah lokal yang diken-
dalikan oleh birokrat partai setempat. Petani dikelompokkan
dalam sistem sepuluh-sepuluh, di mana 10 rumah tangga
membentuk sebuah kelompok, dan kemudian 3-5 kelompok
Burung Tak Lagi Berkicau 95

keluarga membentuk sebuah koperasi yang tidak hanya di-


pergunakan tenaganya saja, namun juga tanah, hewan ternak,
dan peralatan pertanian mereka. Pemerintah memberikan
“gaji” dalam jumlah tertentu kepada petani berdasarkan
hasil kerja dan nilai tanah yang mereka alihkan dalam sistem
koperasi ini.
Program kolektivisasi pertanian ini dijalankan dengan
cepat. Hanya dalam waktu beberapa bulan semenjak dilun-
curkan di musim semi tahun 1958, sekitar 30% dari seluruh
populasi petani di China sudah ikut dalam kolektivisasi ini.
Pada awalnya sistem ini berhasil meningkatkan angka pen-
dapatan kasar (GDP) China dari sejumlah 82,4 milyar Yuan
di tahun 1953, menjadi 106,8 milyar di tahun 1957. Aki-
batnya, Mao seperti yakin bahwa China – dengan jumlah te-
naga kerja yang melimpah dan luas wilayah yang sangat besar
– akan mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia,
dan menjadi model pengembangan bagi negara-negara sosialis
lainnya di dunia. Padahal menurut Jung Chang yang menulis
buku biograi tentang Mao, angka ini Mao dapatkan setelah
memeras para petani – yang hanya diberi jatah 110-140 kg
beras setahun atau hanya kurang dari 300 gram per hari per
kapita – melalui sistem kolektif yang ia ciptakan itu, yang me-
minimalkan kemungkinan petani mendapatkan sisa panenan
untuk mereka bawa pulang.
Semua bahan makanan yang ia kumpulkan, ia pakai untuk
membeli sistem persenjataan yang dikembangkan oleh Uni
http://facebook.com/indonesiapustaka

Soviet, dan sebagian lagi ia jadikan bahan bakar alkohol murni


untuk meluncurkan senjata roketnya ke angkasa. Sebelumnya,
Mao merencanakan untuk mengubah China menjadi negara
adidaya dalam waktu 10-15 tahun, namun setelahnya ia di-
beri informasi bahwa persenjataan yang ia peroleh dari Uni
Soviet bisa memperpendek masa itu menjadi hanya 3 tahun
96 Republik Rakyat China

saja. Mao menjadi sangat bersemangat sehingga pada awal ta-


hun 1958, dalam konferensi partai di Hangzhou dan Nan-
ning, Mao memaparkan “Enam Puluh Pasal Metode Kerja”
yang di dalamnya ia memperkenalkan istilah baru yang akan
menjadi momok selama tiga tahun ke depan: Lompatan Besar
ke Depan.
Mao menetapkan target yang tidak rasional, yaitu pa-
nenan harus melonjak 10 kali lipat. Mesin propagandanya
bekerja dengan eisien namun irasional, yaitu dengan secara
iktif memberitakan hasil panenan yang berlimpah di provinsi
Henan, yang kemudian dijadikan model bagi provinsi lain-
nya. Para pejabat partai di daerah pun berlomba-lomba me-
naikkan angka laporan hasil panenan dari provinsi mereka,
demi mendapatkan promosi jabatan yang cepat. Padahal Mao
sendiri menyadari bahwa jumlah bahan pangan di China ti-
dak akan cukup untuk menunjang kehidupan rakyat, namun
ia terus memaksa para petani untuk berhemat, sampai tidak
ada lagi makanan yang bisa dimakan.
Seperti biasa, Partai Komunis bertindak represif. Polisi
lokal dikerahkan ke daerah-daerah pertanian untuk meng-
geledah rumah-rumah petani dan memaksa mereka membe-
rikan semua bahan makanan yang mereka punya, dan tidak
jarang mereka menggunakan kekerasan untuk melakukannya.
Semua provinsi mengalami hal yang sama, semuanya demi
meningkatkan angka setoran pangan ke pemerintah pusat.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Mao menumpuk bahan makanan itu dan mengekspornya ke


luar negeri.
Suatu ketika, terlintas di benak Mao tentang bagaimana
cara meningkatkan produktivitas pangan, yaitu dengan mem-
bunuh “empat hama”. Hama-hama itu adalah lalat, nyamuk,
Burung Tak Lagi Berkicau 97

tikus, dan – anehnya – burung pipit. Semua orang tahu bahwa


ketiga hama pertama adalah benar-benar hama yang harus di-
basmi, karena selain menjijikkan, hewan-hewan itu juga bisa
menimbulkan penyakit. Namun mengapa burung pipit? Mao
beranggapan bahwa burung-burung pipit yang berkeliaran
di ladang pertanian memakan biji padi yang menguning, se-
hingga mengurangi hasil panenan, maka dari itu layak untuk
dimusnahkan. Ini sejalan dengan konsep Marxisme yang
jauh dari pengetahuan tentang lingkungan, karena menurut
Marx, “alam harus dieksploitasi oleh manusia demi kepentingan
produksi”.
Segeralah propaganda gerakan “Pembasmian Empat Hama”
ini dilancarkan ke seluruh penjuru negeri. Poster-poster
beraneka warna disebarkan ke seluruh penjuru negeri dengan
slogan-slogan seperti “Mari semuanya membasmi burung
pipit”, atau “Menyambut Hari Nasional, mari basmi Empat
Hama”. Rakyat yang antusias berbondong-bondong mem-
bawa penangkap lalat, nyamuk, tikus, atau tongkat-tongkat
panjang untuk mengusir burung pipit. Burung-burung ma-
lang itu dipaksa terbang berputar-putar, lalu setelah kelelahan
karena tidak bisa hinggap, langsung dipukul sampai mati. Ada
juga yang menggunakan ketapel atau senapan untuk menem-
baki burung-burung malang itu. Sarang-sarang burung yang
ada di pohon-pohon dirusak dan telur-telur burung yang ada
di dalamnya dipecahkan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Sebuah artikel yang diterbitkan oleh koran di Shanghai


pada masa itu merekam antusiasme masyarakat dalam kam-
panye pembasmian burung pipit itu:
“Pada suatu pagi hari di tanggal 13 Desember, seisi
kota memulai peperangan untuk membasmi burung
98 Republik Rakyat China

pipit. Di jalan-jalan besar dan kecil, mereka mengibar-


kan bendera-bendera merah. Di atas bangunan dan di
halaman-halaman, tempat terbuka, jalan-jalan, dan
tanah pertanian di pedesaan, terdapat banyak sekali orang-
orangan sawah, atau rakyat jelata, murid-murid sekolah
dasar dan menengah, pegawai kantor pemerintah, pekerja
pabrik, petani, dan tentara PLA yang meneriakkan yel-yel
perang mereka. Di distrik Xincheng [di pinggiran Shang-
hai], mereka membuat lebih dari 80 ribu orang-orangan
sawah dan lebih dari 100 ribu bendera warna-warni dalam
waktu semalam. Penduduk jalan Xietu di distrik Xuhui,
dan jalan Yangpu di distrik Yulin juga menghasilkan se-
jumlah besar orang-orangan sawah yang bisa digerakkan.
Di kota dan daerah pinggiran, hampir separuh jumlah
tenaga kerja dikerahkan sebagai ‘pasukan melawan bu-
rung pipit’. Biasanya, anak-anak muda diserahi tugas
untuk menangkap, meracun, dan menyerang burung-
burung pipit, sementara orang-orang tua dan anak-anak
berjaga di sekelilingnya. Pabrik-pabrik di dalam kota
berkomitmen dalam usaha ‘perang’ ini sambil menjamin
bahwa mereka tetap bisa menjaga tingkat produksi me-
reka. Di taman-taman, pekuburan, dan ‘rumah-rumah
panas’ [rumah kaca yang memiliki pemanas] di mana
hanya ada sedikit orang saja, didirikan ‘zona-zona bebas
menembak’ untuk menembaki burung-burung pipit. Tim
penembak dari Sekolah Menengah Khusus Perempuan di
http://facebook.com/indonesiapustaka

Nanyang juga menerima pelatihan dalam teknik untuk


menembak burung. Bisa dilihat bahwa warga berkomit-
men mengobarkan perang melawan burung pipit. Sampai
jam 8 malam hari ini, diperkirakan bahwa warga sudah
berhasil membunuh 194.432 ekor burung pipit. ”
Burung Tak Lagi Berkicau 99

Gerakan ini ditiru oleh rakyat di seluruh penjuru negeri


tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap ekosistem
secara keseluruhan,menyebabkan populasi burung pipit yang
biasa berkeliaran di ladang-ladang menjadi berkurang, dan
bahkan terancam punah. Akibat ekologis yang ditimbulkan-
nya sungguh luar biasa merusak: burung pipit ternyata tidak
hanya memakan biji-bijian, namun juga hama lain yang
menggerogoti tanaman pertanian seperti kutu, belalang, dan
ulat. Akibatnya, terjadi serangan hama pertanian yang lebih
dahsyat yang semakin memperburuk hasil panenan. Kam-
panye ngawur ini akhirnya dihentikan pada tahun 1960,
namun dampaknya sudah terlanjur meluas.
Ketika masalah pertanian masih belum dibereskan, Mao
muncul dengan “gebrakan” lainnya. Karena menginginkan
sebuah negara adidaya yang bisa menyaingi Uni Soviet, Eropa,
dan Amerika, Mao bercita-cita membangun industri berat
di China. Karena baja menjadi bahan mentah utama untuk
mendukung gagasan ini, maka Mao membangun industri
bajadi penjuru negeri. Mao pernah berujar di Moskow pada
tahun 1957 bahwa dalam waktu 15 tahun China akan me-
nyusul Inggris, dan Amerika dalam waktu 10 tahun. Seperti
yang sudah disebutkan sebelumnya, angka ini bahkan ia
perpendek lagi menjadi 3 tahun setelah mendapat informasi
bahwa teknologi yang ia impor dari Rusia memungkinkan hal
ini. Akibatnya, target yang tidak masuk akal ini menuntutkan
pengembangan industri yang tidak main-main agar dapat di-
http://facebook.com/indonesiapustaka

raih.
Dalam Konferensi Beidahe di Hebei yang berlangsung pa-
da tanggal 17-30 Agustus 1958, Mao mengemukakan angka
yang harus dicapai oleh industri baja China: 10,7 juta ton
baja, atau dua kali lipat dari yang bisa dihasilkan di tahun
100 Republik Rakyat China

Kelaparan Besar
Kebijakan Mao yang ngawur dan tidak didukung oleh perencanaan
yang matang akhirnya membuat rakyat China kelaparan. Dalam
bencana yang berlangsung selama 3 tahun ini, diperkirakan sekitar
30 juta jiwa melayang sia-sia. Proyek gagal ini baru dihentikan di
tahun 1962 ketika Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping perlahan-lahan
menyingkirkan Mao dari panggung kekuasaan.

1957. Artinya, jumlah baja yang biasanya dihasilkan dalam


waktu delapan bulan kini harus bisa dipenuhi dalam waktu
empat bulan saja! Akibatnya, pabrik-pabrik baja dipaksa
bekerja dua kali lebih keras dari biasanya, dan eksploitasi
tambang batubara ditingkatkan secara besar-besaran. Namun
meskipun sudah dipaksa sampai ambang batas kemampuan
http://facebook.com/indonesiapustaka

mereka, pabrik-pabrik itu tetap tidak bisa memenuhi target


yang ditetapkan oleh Mao. Maka Mao memerintahkan di-
dirikannya “Tanur Halaman Rumah”, di mana tanur-tanur
besar didirikan di pemukiman rakyat secara dadakan untuk
melebur besi menjadi baja.
Burung Tak Lagi Berkicau 101

Masalahnya adalah, sumber daya yang dimiliki China ter-


batas jika harus dipaksakan untuk memenuhi target setoran
baja itu. Yang terjadi kemudian, pemerintah lantas berpikir
pendek dengan mengkampanyekan penyetoran besi-besi tua
untuk menyuplai bahan baku bagi tanur-tanur yang didirikan
itu. Masalah baru akhirnya muncul karena untuk memenuhi
target setoran, rakyat yang terlanjur termakan propaganda
atau sekedar ikut-ikutan saja, kemudian mempereteli segala
benda logam yang mereka miliki di rumah: tangki pemanas
udara, peralatan masak, cangkul dan sabit, bahkan sampai
jarum jahit dan jepitan rambut. Untuk bahan bakar tanur
yang harus terus-menerus berproduksi itu, rakyat meroboh-
kan rumah-rumah kayu yang atapnya bisa dijadikan kayu
bakar. Hutan digunduli sampai akhirnya menimbulkan ben-
cana banjir yang masih terus berlangsung sampai puluhan
tahun kemudian.
Hasilnya cukup mencengangkan: 11,07 juta ton baja di-
hasilkan di akhir tahun 1958. Namun hanya 8 juta ton saja
yang bisa dipakai, karena sisanya – yang dihasilkan oleh tanur
rakyat – hanya jadi besi tua yang tidak bisa dipergunakan un-
tuk apapun. Selain itu, kampanye bombastis ini memboroskan
material, tenaga kerja, dan energi sia-sia saja. Untuk memper-
tahankan produksi tanur rakyat yang ternyata tidak berguna
itu, dibutuhkan tenaga kerja yang kemudian diambil dari para
petani penggarap lahan. Selain itu, industri kecil juga men-
jadi korban akibat tidak adanya tenaga kerja yang memadai
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan dialihkannya pabrik-pabrik industri kecil menjadi pabrik


penghasil baja. Karena tidak menghasilkan apa-apa, Zhou
Enlai kemudian merevisi target produksi baja di tahun 1958
dan menimpakan kesalahan pada Konferensi Beidahe yang ia
sebut “terlalu antusias dan tidak realistis”.
102 Republik Rakyat China

Proyek ngawur lainnya yang digagas Mao adalah konser-


vasi air. Mao berniat membangun berbagai waduk yang
tujuan utamanya adalah mengumpulkan air untuk irigasi, di
samping mengendalikan banjir yang sering melanda China.
Di tahun 1957, Mao memerintahkan pembangunan saluran
air sepanjang 800 km melintasi Dataran Tinggi Loess yang
kering di sepanjang aliran Sungai Kuning. Namun alat be-
rat yang ia miliki terbatas, sehingga para pekerja – yang jum-
lahnya 25 juta jiwa – harus menggunakan peralatan seder-
hana seperti cangkul dan sekop untuk menjalankan pekerjaan
ini. Mao bahkan lebih gila lagi dengan menyebutkan bahwa
“tanah cukup digali dengan tangan saja”. Mao menambahkan
jumlah tenaga kerja ini menjadi 100 juta orang di awal tahun
1958, yang lagi-lagi berasal dari kalangan petani penggarap
tanah. Mereka bekerja di bawah lingkungan yang keras dan
sulit, dan kekurangan makanan atau tempat tinggal yang layak
menjadi hal lumrah yang harus mereka hadapi setiap harinya.
Namun akibat kurangnya perencanaan dan survei geologis
yang memadai sebelum pengerjaan saluran air ini, banyak dari
terowongan dan selokan yang baru setengah jalan kemudian
ditinggalkan begitu saja tanpa sempat terselesaikan, sehingga
lagi-lagi tenaga kerja dan waktu yang berharga terbuang sia-
sia. Waduk yang selesai dibangun, terbukti tidak didukung
dengan konstruksi yang kuat, malah jebol dan menyebabkan
banjir bandang. Yang terparah adalah tahun 1975 di Henan
ketika hampir seperempat juta jiwa tewas tenggelam akibat
jebolnya bendungan akibat hujan badai.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Serangkaian proyek konyol yang gagal di tengah jalan itu


pada akhirnya memunculkan dampak yang nyata di tahun
1959. Di bulan April, seluruh negeri dilanda kekurangan biji-
bijian pangan (gandum, sorgum, beras) dan di akhir tahun
terjadi kekurangan bahan pangan lain serta produk-produk
Burung Tak Lagi Berkicau 103

pangan seperti minyak dan gula. Sebagai gambaran, angka


hasil panenan biji-bijian turun 24,3%, kapas turun 51,2%,
minyak goreng turun 57,1%, dan daging turun 28,62%. Hal
ini segera memicu kelaparan yang hebat, yang masih diper-
parah dengan permintaan bahan pangan yang tinggi dari pe-
merintah terhadap rakyat petani.
Pemerintah menanggapi situasi ini lagi-lagi dengan ke-
bijakan ekonomi yang ngawur, yaitu mencetak uang kertas
sebanyak-banyaknya sehingga jumlahnya meningkat dua kali
lipat di tahun 1961 dibandingkan empat tahun sebelumnya.
Akibatnya, jumlah uang tak seimbang dengan ketersediaan
barang, sehingga inlasi pun meroket. Bisa ditebak, rakyat
lagi-lagi menjadi korban dari hal ini, karena pendapatan me-
reka tak lagi sebanding dengan peningkatan harga barang
yang gila-gilaan, sampai-sampai China terancam bangkrut di
tahun 1961.
Mao masih belum mau menyerah dengan ide gilanya ini.
Ia bahkan bertindak semakin represif dengan menyiksa kaum
petani yang sudah kelelahan dan kelaparan. Ia menolak untuk
memberi mereka makan, dan terus melakukan kebijakan
konyol seperti membangun komune-komune di perkotaan
sehingga rakyat akan lebih mudah diawasi. Ia bahkan per-
nah melontarkan ide untuk menghapus nama, dan meng-
gantikannya dengan nomor – sebagaimana di penjara. Untuk
mewujudkan ide komune perkotaan ini, bangunan-bangunan
kuno yang megah dan indah, yang menggambarkan tingginya
kebudayaan arsitektur China kuno, diratakan dengan tanah.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Bangunan baru bergaya Eropa – atau tepatnya bergaya Uni


Soviet yang seragam, monoton, dan hanya mementingkan
jumlah saja – dibangun di penjuru negeri.
Di situlah Mao melaksanakan pengawasannya atas rak-
yat China. Sebagaimana masyarakat komunis, rakyat hanya
104 Republik Rakyat China

diberikan jatah makanan terbatas, yang jumlahnya semakin


berkurang hari demi hari. Sebagai gambaran, rata-rata rakyat
China di komune perkotaan hanya mendapat asupan kalori
1.200 kalori per hari, atau bahkan lebih rendah dari yang dida-
pat oleh penghuni kamp kerja paksa Auschwitz yang terkenal
dari zaman Nazi Jerman yang dipakai Hitler untuk menam-
pung kaum Yahudi buangan itu, di mana mereka saat itu bah-
kan masih mendapat sampai 1.700 kalori per hari(normalnya,
orang membutuhkan asupan minimal 2.100 kalori per hari).
Di pedesaan, angkanya jauh lebih mengerikan lagi. Saking ti-
dak adanya makanan, orang sampai melakukan kanibalisme.
Jika pada awalnya mereka memakan mayat yang tewas karena
kelaparan, lama-kelamaan mereka yang putus asa sampai tega
membunuh – bahkan membunuh anggota keluarga mereka
sendiri – untuk dimakan dagingnya. Itulah sebabnya dari
mereka yang selamat dari masa-masa kelam ini, tidak sedikit
yang hilang kewarasannya dan menjadi orang gila.
Anehnya, Mao menutup mata terhadap semua kekejian
itu. Ia terus meningkatkan ekspor bahan makanan keluar
China, yang mencapai 7 juta ton atau cukup memberi ma-
kan 30 juta orang, pada tahun 1958-1959. Mao mendapat
935 juta dolar AS dari hasil ekspor bahan makanan ini, yang
kemudian ia pakai untuk membiayai proyek persenjataannya.
Bahan makanan yang disimpan di gudang-gudang penyim-
panan makanan, dijaga dengan ketat oleh pasukan bersen-
jata, dan tidak boleh dibuka dalam kondisi apapun, sehingga
http://facebook.com/indonesiapustaka

akhirnya banyak juga yang membusuk sia-sia.


Pada akhirnya, kritik pun mulai muncul, namun segera di-
tekan oleh Mao. Pada tanggal 2 Juli sampai 1 Agustus 1959,
Komite Pusat Partai Komunis China mengadakan pertemuan
yang diperluas di Lushan, dan dilanjutkan dengan Sesi Pleno
Burung Tak Lagi Berkicau 105

ke-8 di tanggal 2-16 Agustus, masih di kota yang sama. Sa-


lah seorang peserta penting yang mengikuti acara itu adalah
Marsekal Peng Dehuai, yang juga menjabat sebagai Menteri
Pertahanan China.
Siapakah Peng Dehuai? Ia adalah rekan sekampung Mao,
dan menjadi salah satu anggota senior Partai Komunis dan
jenderal kawakan di PLA. Peng adalah seorang komunis ulung
yang sudah berjuang dalam Tentara Merah sejak masa-masa
gerilya melawan kaum Nasionalis di tahun 30-an. Dilahirkan
dalam keluarga petani sederhana, Peng membenci gaya hidup
mewah dan selalu berusaha menghindarkan diri dari praktek
korupsi. Ia bahkan lebih memilih mati kelaparan daripada
harus melakukan hal yang memalukan itu. Sejak dahulu,
Peng selalu menjadi oposisi Mao yang gencar. Ia mengkritik
gaya hidup Mao yang bermewah-mewah di atas penderitaan
rakyat, tanpa mempedulikan kondisi China yang sudah
begitu terpuruknya. Peng menjadi penentang kultus individu
terhadap Mao, terutama setelah Pidato Rahasia Khruschev di
tahun 1956. Mao sejak lama memendam ketidaksukaan ter-
hadap Peng, namun terpaksa mengangkatnya menjadi Men-
teri Pertahanan setelah Peng menunjukkan kepiawaiannya
memimpin pasukan China selama Perang Korea.
Tidak seperti Mao yang menutup mata terhadap kondisi
rakyatnya, Peng memutuskan untuk berkeliling negeri pada
akhir 1958 sampai awal 1959. Ia melihat secara langsung
http://facebook.com/indonesiapustaka

dampak yang ditimbulkan dari kebijakan Lompatan Besar


ke Depan yang ngawur itu. Pada September 1958, misal-
nya, Peng melihat sendiri kegagalan proyek tanur rakyat yang
menurutnya “membakar semua yang kita miliki”, di mana
orang-orang berlomba-lomba menyetorkan apapun yang
mereka punya demi memuaskan ambisi Ketua Mao. Di bulan
106 Republik Rakyat China

Desember, ia mencibir laporan Mao yang mengatakan bahwa


panenan tahun itu dua kali lebih banyak dibanding tahun
1957. Sampai akhirnya, Peng kembali ke kampung halaman-
nya – yang ironisnya sama dengan kampung kelahiran Mao –
dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, penderitaan
yang harus dialami oleh rakyat China akibat gagalnya Lom-
patan Besar ke Depan itu. Ia melihat bagaimana orang disiksa
agar mau bekerja, seperti yang ia tulis dalam hariannya:
“Di beberapa wilayah, memukuli orang sudah men-
jadi kebiasaan. Mereka akan dipukul jika tidak bisa
memenuhi kuota kerja, jika terlambat pergi bekerja, dan
jika mengatakan hal-hal yang tidak disukai orang lain.
Banyak kaum perempuan yang mengalami turun ra-
him atau menopause dini akibat dipaksa bekerja terlalu
berat.”
Peng menyaksikan rekan-rekan sekampungnya, yang usia-
nya kurang lebih sama dengannya, hidup dalam kondisi yang
memprihatinkan. Mereka hanya punya beberapa butir be-
ras, dan tak punya minyak goreng. Anak-anak pun bernasib
serupa, karena tempat penitipan anak yang ditinggal bekerja
oleh orang tuanya tak lebih dari bangunan reot dengan per-
alatan ala kadarnya. Peng sampai menyumbangkan 400 Yuan
dari milik pribadinya untuk memperbaiki kondisi di tempat
itu.
Akhirnya Peng sudah tidak tahan lagi. Ia berniat untuk
http://facebook.com/indonesiapustaka

memperbaiki keadaan dan ia berencana memperingatkan Mao


akan hal itu. Sayagnya, meskipun menjabat sebagai Menteri
Pertahanan, Peng secara nyata tidak punya kekuasaan apa-
apa karena militer berada sepenuhnya di bawah kendali Lin
Biao, orang yang dikenal sebagai salah seorang kepercayaan
Mao. Untuk melakukan hal ini, Peng butuh tekanan yang
Burung Tak Lagi Berkicau 107

jauh lebih kuat dari Mao, yaitu tekanan dunia komunis inter-
nasional. Peng kemudian melakukan serangkaian perjalanan
ke luar negeri, yang tujuannya adalah untuk menemui tokoh-
tokoh komunis dari berbagai negara sosialis.
Sayangnya, dunia komunis internasional yang sudah ke-
nyang disogok bahan makanan oleh Mao, enggan menunjuk-
kan simpati mereka terhadap penderitaan China. Jerman
Timur bahkan lebih kurangajar lagi dengan menanyakan
apakah China bisa meningkatkan ekspor daging ke negara
pecahan Jerman itu sehingga rakyat Jerman Timur bisa ma-
kan daging 80 kg per tahun per kapita, atau melampaui kon-
sumsi daging tetangga mereka di Jerman Barat. Mendengar
tanggapan ini, Peng tahu bahwa ia tidak bisa mengandalkan
dukungan asing, dan harus berjuang sendirian menghadapi
Mao. Ia merencanakan sebuah kudeta militer.
Yang tidak Peng ketahui, Mao mengikuti setiap gerak-
geriknya dengan waspada. Jung Chang menyebutkan bahwa
Mao menaruh seorang mata-mata yang berpura-pura mejadi
salah satu anggota delegasi Peng ke luar negeri. Ketika tahu
bahwa usaha Peng tidak membuahkan hasil, Mao segera me-
nyiapkan serangan balasan, melalui Konferensi Lushan.
Konferensi ini digelar di sebuah resor pegunungan yang di-
bangun oleh orang-orang Eropa di abad ke-19 di Lushan atau
“Gunung Lu”, yang terletak di utara provinsi Jiangxi di China
bagian tengah, sehingga kemudian dikenal sebagai Konferensi
http://facebook.com/indonesiapustaka

Lushan. Selain digunakan sebagai tempat peristirahatan para


misionaris Kristen di masa-masa dinasti Qing, resor di Lus-
han ini juga dijadikan “ibukota musim panas” oleh Chiang
Kai-shek, dan sempat menjadi saksi bisu pembicaraan kerja-
sama militer antara Nasionalis dan Komunis di tahun 1937
antara Chiang dan Zhou Enlai untuk menghadapi agresi
108 Republik Rakyat China

Jepang. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, misi diploma-


tik Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal George C.
Marshall juga sempat mengunjungi Chiang di Lushan pada
tahun 1946 untuk membicarakan peranan China dalam du-
nia pasca perang.
Mao berniat menggunakan konferensi ini untuk membasmi
Peng dan pengikutnya. Seperti yang ia lakukan semasa Gerakan
Seratus Bunga, Mao bermaksud memancing Peng untuk
menunjukkan sikap aslinya yang menentang Mao, kemudian
menggunakan penentangan itu sebagai alasan untuk meng-
habisi karir politik Peng. Dan memang benar sesuai dugaan
Mao, karena selama masa pertemuan itu, Peng mengumpulkan
orang-orang yang mendukungnya dan memaparkan semua ke-
gagalan Mao dalam Lompatan Besar-nya kali ini.
Pada akhirnya, Peng menulis surat kepada Mao pada
tanggal 17 Juli yang isinya adalah mengkritik kebijakan
pembangunan “tanur rakyat”, yang menurut Peng hanya me-
nyia-nyiakan tenaga kerja dan bahan baku. Ia menyarankan
agar Mao mengkaji ulang hal-hal ini, kali ini didasarkan pada
tujuan yang lebih realistis, menggunakan fakta yang lebih
nyata dan pragmatis. Dalam suratnya, Peng berulang kali me-
nyebut bahwa kesalahan ini terjadi karena Partai – maksudnya
adalah Mao – tidak berpengalaman menerapkan sosialisme,
di samping adanya antusiasme yang terlalu berlebihan yang
ditunjukkan oleh kader-kader partai di seluruh negeri, yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

mempraktekkan komunisme secara membabi-buta tanpa


perhitungan yang matang. Meskipun Peng sudah menyusun
memorandumnya ini dengan bahasa yang hati-hati dan men-
coba menghindari untuk menimpakan kesalahan pada Mao,
namun pada akhirnya memonya ini “menantang” otoritas
Mao dalam Partai, karena secara tidak langsung menuding
Burung Tak Lagi Berkicau 109

bahwa kebijakan-kebijakan Mao-lah yang menyebabkan pen-


deritaan bagi petani.
Pada awalnya, dukungan bagi Peng datang dari anggota
Politburo yang lain. Dengan keyakinan inilah maka Peng be-
rani untuk meminta Luo Fu, mantan orang nomor 1 Partai
Komunis di zaman Soviet Jiangxi di masa Pengepungan (di
dekade 1930-an), untuk membacakan suratnya itu di hadapan
Mao. Namun Luo Fu yang sudah paham akan konsekuensi
yang bakal ia dapatkan jika ia melakukan hal itu, menolaknya
mentah-mentah. Mao sendiri sudah mendengar tentang surat
itu dan kini ia menegaskan sikapnya di hadapan orang-orang
Partai: pilih Mao atau Peng. Jika mereka memutuskan untuk
memilih Peng dan menentangnya, Mao akan “mundur ke
pedalaman dan mengobarkan revolusi rakyat”, atau dengan
kata lain menggunakan kekerasan untuk memaksakan ke-
hendaknya. Hal itu ditunjukkan Mao dengan mengundang
Lin Biao yang memegang kendali atas militer ke Lushan,
yang segera mencaci Peng habis-habisan di hadapan semua
peserta konferensi. Akibatnya, Mao meneruskan konferensi
itu menjadi Sesi Pleno Partai Komunis di mana ia menge-
cam Peng, Luo dan pendukung mereka sebagai “orang-orang
anti-Partai”, dan memerintahkan semua anggota Partai untuk
mengecam Peng. Mao menuduh bahwa ada orang-orang
Partai (maksudnya Peng dan pengikut-pengikutnya), yang
sedari awal tidak pernah menjadi seorang pengikut Marxisme
sejati, namun mereka sebenarnya adalah “kelompok borjuis”
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang “menyusup masuk ke dalam Partai kita”.


Pada tanggal 2 Agustus 1959, Mao menyudutkan Peng
pada Konferensi Lushan itu dengan mengatakan:
“Pendapat yang diajukan oleh Peng Dehuai mengandung
garis haluan anti-partai yang menunjukkan oportunisme
110 Republik Rakyat China

sayap kanan... Ini jelas-jelas bukanlah kesalahan indivi-


dual atau kekeliruan yang tak disengaja, namun [hal ini]
sudah direncanakan, diorganisasi, disiapkan, dan me-
miliki tujuan. ”
Dengan mengatakan hal ini, maka secara langsung Mao me-
nuding bahwa Peng telah menyerangnya secara pribadi, me-
skipun dalam suratnya Peng tidak pernah menyebut nama
Mao secara terang-terangan. Ketika anggota Komite diminta
untuk mendukung atau menolak pendapat Peng, hanya satu
saja yang terang-terangan mendukung, yaitu Marsekal Zhu
De, kawan lama Peng Dehuai dari PLA. Empat orang dari
7 anggota menolak, dan dua orang – yaitu Chen Yun dan
Deng Xiaoping – tidak hadir di sana. Maka, konferensi pun
mengesahkan resolusi di mana Peng dan para pendukungnya,
yaitu Zhang Wentian, Huang Kecheng dan Zhou Xiaozhou
diberhentikan dari jabatan eksekutif mereka karena dianggap
sebagai “kelompok anti-Partai”, namun mereka tetap bo-
leh mempertahankan keanggotaan mereka di Politburo dan
Komite Pusat Partai Komunis. Maka, Peng Dehuai kemudian
dicopot dari jabatannya sebagai Menteri Pertahanan dan di-
kenai tahanan rumah.
Peng terus menjalani hidupnya dalam bayang-bayang itu
sampai kemudian direhabilitasi oleh Liu Shaoqi dan Deng
Xiaoping di tahun 1965. Namun hanya setahun kemudian,
Peng lagi-lagi menjadi sasaran inkuisisi oleh Mao dan pen-
http://facebook.com/indonesiapustaka

dukung fanatiknya – yang disebut “Geng Empat” – dan


marsekal tua itu diarak di jalan sambil terus dihujani dengan
hujatan-hujatan. Peng dipaksa untuk “mengakui kejahatan-
nya” terhadap Partai dan Ketua Mao, dan kemudian diadili
secara resmi di tahun 1970, untuk kemudian dijebloskan ke
dalam penjara. Marsekal malang ini kemudian meninggal
Burung Tak Lagi Berkicau 111

dalam tahanan di tahun 1974, atau 2 tahun sebelum wafatnya


Mao. Ketika Geng Empat disingkirkan dan Deng Xiaoping
mengambil alih kekuasaan, nama baik Peng dipulihkan di
tahun 1978 sebagai salah seorang pahlawan China yang ber-
peran besar dalam berdirinya Republik Rakyat China.
Setelah menyingkirkan Peng dan pendukungnya, Mao se-
makin menjadi-jadi. Ia menempatkan Lin Biao sebagai peng-
ganti Peng untuk menduduki jabatan Menteri Pertahanan.
Lin, yang sudah memegang kendali yang erat pada PLA,
menanggapi “anugerah” ini dengan memperparah kultus
individu terhadap Mao, yang nantinya menjadi benih-benih
munculnya Revolusi Kebudayaan.
Dalam pandangan resmi pemerintah terhadap bencana
kelaparan ini, musim yang buruk dituding menjadi faktor
utama penyebab gagal panen dan bencana kelaparan yang ter-
jadi kemudian. Namun akademisi berpendapat lain. Li Wei
dan Dennis Tao dari University of Virginia memaparkan hasil
penelitian mereka di tahun 2005:
“Hasil temuan kami menunjukkan bahwa penyebab
utama [dari gagal panen dan bencana kelaparan] adalah
pengalihan sumber daya dari bidang pertanian [ke bidang
lain] yang bertanggung jawab terhadap 33% dari ke-
gagalan panen selama tahun 1958-1961... Cuaca buruk
memang memainkan peranan, namun hanya 12,9% dari
http://facebook.com/indonesiapustaka

kegagalan panen. ”
Lompatan Besar yang intinya mencakup empat hal: pemben-
tukan komune rakyat, pengorganisasian tenaga kerja besar-
besaran, penerapan teknik pertanian yang tidak lazim, dan
percepatan produksi baja rumahan yang tidak masuk akal,
menjadi kegagalan terbesar kebijakan ekonomi Republik
112 Republik Rakyat China

Rakyat China setelah berhasil menguasai China di tahun


1949. Dalam waktu beberapa tahun setelah Lompatan ke
Depan itu dihentikan, China dihantam oleh badai depresi
ekonomi yang parah yang bisa disamakan dengan Depresi Be-
sar yang melanda Amerika Serikat di tahun 1930-an. Pada
kurun waktu 1960-1962, produksi nasional turun sampai
20-30%, pendapatan per kapita turun 32%, dan produksi
industri turun sampai 40-45%.
Sampai saat ini, Lompatan Besar ke Depan yang men-
jadi buah pikiran Mao yang ngawur dan tak terencana ini,
masih menjadi isu kontroversial. Mereka yang selamat dari
kelaparan, banyak yang tidak berani menuduh Mao sebagai
penyebab penderitaan mereka. Namun pada akhirnya, Mao
akan mempertanggung jawabkan kesalahannya ini, meski-
pun pada akhirnya ia berhasil dengan cerdik menghindari ke-
salahan dan balik menyerang dengan lebih kejam – seperti
biasa.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Merengkuh Kaki
Langit

Ketika kerak bumi Samudera Hindia melebar dan dataran


India melesak ke utara, muncullah sebuah deretan pegunungan
di sebelah utaranya. Begitu tingginya deretan gunung-gunung
pencakar langit ini sampai puncak-puncaknya disebut sebagai
kaki-kaki langit. Pegunungan yang tiap tahunnya bertambah
tinggi 5 mm ini selalu memukau orang-orang di sekitarnya,
terutama masyarakat Hindu dan Buddha yang menganggap
puncak-puncaknya sebagai tempat bersemayamnya para
dewa. Himalaya, nama yang berarti “negeri salju” ini diberi-
kan orang Hindu untuk pegunungan ini, dan mereka percaya
bahwa Dewa Shiwa, salah satu dewa tertinggi dalam agama
Hindu, tinggal di salah satu puncaknya. Orang Buddha pun
percaya bahwa negeri nirwana yang disebut Shangrila tersem-
bunyi di lembah-lembah di sekitaran dinding curam pem-
batas langit ini.
Pegunungan ini juga menjadi batas antara dua alam yang
kontras. Kumpulan awan yang dilahirkan oleh Samudera
Hindia dipaksa mendaki ke leregnya dari sisi selatan, sehingga
sebelum mampu mencapai puncaknya yang megah itu, kum-
pulan awan ini dipaksa menurunkan muatannya yang diperah
http://facebook.com/indonesiapustaka

seperti seekor induk sapi yang menghidupi anak-anaknya, yaitu


negeri India dan Nepal di sisi selatan Himalaya. Ketika angin
yang menggiring kawanan awan ini selesai mendaki puncak
Himalaya, hanya angin kering dan awan tanpa hujan yang ter-
sisa, sehingga sisi yang lain yang terletak di balik puncaknya itu
hanya menikmati sisa-sisa kelembapan yang ada.
114 Republik Rakyat China

Di sisi lain itulah terletak Tibet, negeri para Lama. Wi-


layah seluas 1,2 juta kilometer persegi ini seakan menjadi pen-
jaga abadi bagi puncak tertinggi di dunia, Gunung Everest,
yang menjulang sampai 8 km ke angkasa dari permukaan laut.
Salju abadi yang mendandani lereng dan lembahnya mencair
mengisi ceruk-ceruk panjang sampai ke Samudera Pasiik,
Samudera Hindia, dan Laut China Selatan, melahirkan sung-
ai-sungai perkasa yang menjadi ibu peradaban dunia, seperti
Sungai Brahmaputra, Indus, dan Gangga yang melahirkan
peradaban India; Sungai Yangtze dan Sungai Kuning yang
menjadi ibu peradaban China; ataupun Sungai Mekong dan
Salween yang menjadi urat nadi kebudayaan Indo-China di
Asia Tenggara.
Ketika agama Buddha muncul di India Utara, Tibet per-
lahan-lahan menyerap agama ini dan mengembangkan sekte
yang unik, yang berbeda dengan agama Buddha yang ber-
kembang di China atau negara lain. Agama Buddha mulai
menjadi agama dominan di Tibet ketika Raja Trisong Detsen
(755-797) menjadikan agama ini sebagai agama negara. Se-
jak saat itu, agama Buddha menjadi bagian tak terpisahkan
dari hidup keseharian rakyat Tibet, yang menjadikan ajaran-
ajarannya sebagai panduan utama dalam menjalani kehidupan
duniawi maupun spiritual.
Di abad ke-12, ketika bangsa Mongol mulai bangkit dari
padang rumput utara dan menguasai seluruh daratan Asia
http://facebook.com/indonesiapustaka

Timur, Tibet juga masuk dalam kekuasaan mereka. Namun


uniknya, dinasti Yuan Mongol yang berkuasa di China malah
menjadikan agama Buddha Tibet sebagai agama negara, dan
para Lama – sebutan bagi biksu Buddha Tibet – mendapat-
kan peran penting dalam pemerintahan. Bahkan dari dinasti
Yuan-lah gelar Dalai Lama – yang diklaim sebagai inkarnasi
Merengkuh Kaki Langit 115

Avalokitesvara, salah satu Bodhisattva – diberikan kepada salah


satu pemimpin spiritual tertinggi agama Buddha Tibet. Orang
Tibet percaya bahwa begitu seorang Dalai Lama wafat, arwah-
nya akan turun kembali ke dunia (“reinkarnasi”) ke dalam
seorang bocah yang baru dilahirkan (tulku), dan Dalai Lama
yang ada saat ini dipercaya sebagai tulku dari Tsongkhapa,
pendiri sekte Gelugpa, yang adalah inkarnasi dari Avalokites-
vara. Adalah menjadi tugas bagi para murid sang mendiang
Dalai Lama untuk menemukan kembali titisan guru mereka
itu dan menobatkannya kembali sebagai Dalai Lama selanjut-
nya. Praktek ini sudah berlangsung selama berabad-abad sam-
pai pada Dalai Lama ke-14 saat ini.
Karena kedudukannya sebagai pemimpin spiritual tertinggi
di Tibet, Dalai Lama pun praktis menjadi pemimpin tertinggi
pemerintahan di daerah itu. Oleh karena itu, penobatan Dalai
Lama pun selalu dibumbui dengan isu geopolitik lokal karena
masing-masing kubu pendukung memiliki kepentingan me-
reka sendiri dalam usahanya menobatkan kandidat mereka ke
atas tahta. Itulah juga sebabnya China mulai campur tangan
dalam urusan Tibet sejak masa pemerintahan kaisar Kangxi
dari Dinasti Qing (memerintah 1661-1722). Kangxi meman-
dang Tibet sebagai bagian dari kekaisaran Qing, sehingga
penobatan Dalai Lama pun harus seturut dengan persetu-
juannya. Hal itu pula yang menyebabkan intervensi pasukan
Qing ke Tibet tahun 1720 untuk mendudukkan seorang bo-
cah berusia 12 tahun bernama Kelzang Gyatso menjadi Dalai
http://facebook.com/indonesiapustaka

Lama ke-7.
Namun pemerintah Qing hanya menganggap Tibet sebagai
negara upeti yang kedudukannya serupa dengan Korea atau
Vietnam, dengan menempatkan seorang ambhan atau wakil
mahkota yang bertindak sebagai semacam gubernur jenderal
116 Republik Rakyat China

Avatar Muda
Kanak-kanak dalam foto ini nantinya akan menjadi salah satu
pemimpin spiritual dunia yang dikagumi oleh orang banyak
sekaligus dibenci habis-habisan oleh RRC. Tenzin Gyatso,
Dalai Lama ke-14, harus melarikan diri dari Tibet ke India ketika
http://facebook.com/indonesiapustaka

RRC menganeksasi kembali wilayah itu di tahun 1959.

atas nama China. Kaisar Qing terus menghormati Dalai Lama


sebagai pemimpin spiritual tertinggi di Tibet dan atas agama
Buddha Tibet yang kembali dijadikan agama resmi negara
Qing, namun secara politik kaisar Qing selalu menekan Tibet
Merengkuh Kaki Langit 117

agar selalu tunduk pada kemauan China. Model pemerintah-


an inilah yang di kemudian hari menjadi awal kontroversi
tentang status Tibet di dunia internasional.
Ketika China mengalami kemunduran di abad ke-19, ke-
kaisaran Inggris tengah melebarkan sayap kekuasaannya ke
Timur Jauh. Karena letak geograisnya yang dekat dengan
wilayah jajahan Inggris di India, Tibet dipandang sangat meng-
giurkan bagi Inggris yang menyadari peran penting wilayah
ini sebagai salah satu pintu masuk alternatif untuk masuk ke
China. Akibat persaingan politik imperialisme internasional
yang kemudian dikenal sebagai “Permainan Besar” antara
Inggris dan Rusia yang saling berlomba untuk menanamkan
pengaruh mereka di Asia Tengah, Inggris menganggap Tibet
adalah daerah yang harus dikuasai untuk mencegah menye-
barnya pengaruh Rusia yang mulai mendekati Afghanistan
dan Persia. Apalagi wilayah Xinjiang di China Barat sudah
mulai masuk dalam pengaruh negeri beruang merah itu.
Maka pada tahun 1903 sampai 1904, Inggris mengirim-
kan ekspedisi dagang ke Tibet untuk menjalin kerjasama
perdagangan, di samping untuk mencegah masuknya penga-
ruh Rusia ke wilayah pegunungan itu. Namun tindakan ini
memicu reaksi keras dari China, yang berkeras bahwa Tibet
adalah bagian integral dari Kekaisaran Qing sehingga tidak
bisa dimasuki sembarangan saja oleh orang-orang asing. Ini
adalah klaim pertama China atas Tibet yang kemudian men-
http://facebook.com/indonesiapustaka

jadi dasar ketegangan di wilayah ini selama hampir seratus


tahun berikutnya. Hanya saja – seperti yang dikatakan oleh
Rajamuda Inggris untuk India, Lord Curzon di tahun 1903 –
klaim ini hanyalah “iksi konstitusional” saja, mengingat dua
orang ambhan Qing yang ditempatkan di Tibet tidak lebih
dari sekedar duta besar saja, dan hanya sejumlah 500 orang
118 Republik Rakyat China

pasukan Qing yang “tidak terlatih dan tidak bersenjata leng-


kap” yang ditempatkan di wilayah itu. Barulah ketika pecah
pemberontakan di tahun 1905, Beijing mengirimkan pasukan
untuk memadamkannya dan secara resmi menjadikan Tibet
salah satu provinsi kekaisaran Qing.
Namun klaim itu berakhir singkat ketika kekaisaran Qing
runtuh di tahun 1912 setelah kaisar terakhirnya, Puyi, tu-
run tahta dan menyerahkan kekuasaan pada pemerintahan
demokratis yang mendirikan Republik China. Karena ke-
kacauan yang muncul akibat pergantian kekuasaan yang terus
terjadi selama Masa Raja-raja Perang (1916-1928), ataupun
Perang Sipil antara Nasionalis dan gerilyawan Partai Komu-
nis, yang berlanjut dengan Perang Melawan Jepang, Tibet
sempat mengalami masa-masa kemerdekaan yang singkat, se-
bagian karena China pun seolah-olah tidak lagi menganggap
Tibet sebagai bagian integralnya sebagaimana Mongolia Luar
yang merdeka dan menjadi negara satelit Uni Soviet di de-
kade 1910-an. Dalai Lama ke-13 yang sempat mengungsi
ke India setelah dihancurkannya pemberontakan Tibet di
tahun 1905, kembali lagi ke Lhasa, ibukota Tibet, dan men-
jadi pemimpin de-facto dari wilayah itu. Ini diperkuat lagi
dengan diberikannya otonomi yang lebih luas kepada Tibet
oleh presiden pertama Republik China, Yuan Shikai, demi
memperoleh dukungan internasional bagi usahanya mengen-
dalikan pemerintahan China sekaligus memuluskan jalannya
menjadi kaisar. Sementara itu Inggris pun mulai kehilangan
ketertarikannya terhadap Tibet setelah Rusia digoncang
http://facebook.com/indonesiapustaka

oleh Revolusi Oktober di tahun 1917 yang meruntuhkan


kekuasaan Tsar dan menggantinya dengan pemerintahan
komunis yang melahirkan Uni Soviet. Terlebih lagi Perang
Dunia I cukup menguras tenaga dan energi Inggris, dan sejak
saat itu pandangan Inggris lebih diarahkan pada musuh yang
lebih dekat di dataran Eropa, yaitu Jerman.
Merengkuh Kaki Langit 119

Semuanya berubah ketika Mao mengambil alih pemerin-


tahan China dan mendirikan Republik Rakyat China di ta-
hun 1949. Sejak awal, Mao berniat untuk mengintegrasikan
semua wilayah yang secara historis diklaim sebagai bagian dari
China, termasuk di dalamnya adalah Xinjiang di Barat Laut
dan Tibet di perbatasan dengan India. Untuk menegaskan
klaim itu, pemerintah China segera mencari dalil penguat
yang berisi fakta-fakta historis yang tak terbantahkan tentang
hubungan antara Tibet dan China di masa lalu.
Salah satunya memaparkan adanya perubahan hubungan
diplomatik antara China dan Tibet di masa pemerintahan
kaisar Qianlong dari dinasti Qing:
“Pada tahun pemerintahan kaisar Qianlong ke-57 dan
ke-58 [1792 dan 1793], terjadilah perubahan radikal
terhadap hubungan antara Tibet dan China. Kedaulatan
China atas Tibet pun dikukuhkan dengan pasti, dan
segera dijalankan dalam hal-hal praktis. Sejak saat itu,
Tibet benar-benar menjadi negara upeti dari China.
China tidak hanya memiliki hak perlindungan atas Tibet,
namun juga hak kedaulatan atasnya.”
Klaim ini didasarkan pada pengerahan pasukan Qing di
Sichuan oleh kaisar Qianlong di tahun 1788 untuk meng-
hadapi serangan suku Gurkha dari Nepal yang menyerbu se-
belah selatan Tibet. Tiga tahun kemudian, pasukan Gurkha
http://facebook.com/indonesiapustaka

kembali menyerang, dan Qianlong dengan segera mengi-


rimkan 10 ribu orang pasukan, terdiri atas 6 ribu orang ga-
bungan pasukan Manchu dan Mongol, dan sisanya terdiri
atas suku-suku lokal. Mereka berhasil memukul mundur
pasukan Gurkha sampai ke Himalaya dan kembali ke ibukota
mereka di Kathmandu. Tidak cukup sampai di sini, pasukan
120 Republik Rakyat China

Qing mengejar musuh dan pada tahun 1793, pasukan Qing


di bawah pimpinan jenderal Fu Kang’an berhasil memaksa
Gurkha menandatangani penyerahan kepada Qing. Keber-
hasilan ini diakui Qianlong sebagai salah satu dari “Sepuluh
Keberhasilan Besar” di masa pemerintahannya yang panjang.
Mao sendiri sudah sejak lama berniat menguasai kembali
Tibet. Dalam bukunya tentang biograi Mao, Jung Chang
menyebutkan bahwa Mao bahkan sudah bertanya pada Stalin
apakah sebuah invasi ke Tibet yang dikelilingi pegunungan
tinggi dan medan yang sulit itu bisa dimungkinkan dengan
dukungan dari pesawat-pesawat buatan Rusia yang dipakai
untuk menyuplai bahan logistik. Stalin memberikan restu-
nya pada awal tahun 1950, dan bahkan menyarankan agar
Mao, “membanjiri daerah Tibet dengan orang-orang suku
Han [suku mayoritas China]”, suatu hal yang sampai saat ini
menjadi kebijakan etnis pemerintah China dalam mengatur
daerah-daerah perbatasan jauh, seperti di Xinjiang, Tibet, dan
Manchuria.
Angin segar berhembus bagi ambisi Mao ketika pada bulan
Juni 1950 pemerintah Inggris menghormati kedaulatan China
atas Tibet selama China bersedia memberikan otonomi yang
luas bagi wilayah itu. Tanpa menunggu lama, Mao mengirim-
kan PLA (People’s Liberation Army, pasukan bersenjata China)
ke Tibet dan pada bulan Oktober di tahun yang sama berhasil
menduduki Tibet setelah memaksa 5 ribu pasukan Tibet me-
nyerah. Tahun berikutnya, Dalai Lama mengirimkan utusan
http://facebook.com/indonesiapustaka

ke Beijing untuk menyepakati perjanjian damai sebanyak 17


pasal yang intinya meneguhkan kedaulatan China atas Tibet.
Tenzin Gyatso, Dalai Lama ke-14, adalah seorang remaja
yang baru berumur 15 tahun ketika peristiwa penting itu
terjadi. Ia dilahirkan di daerah suku Tibet di Taktser, yang
Merengkuh Kaki Langit 121

sekarang masuk ke dalam wilayah provinsi Qinghai di China.


Ketika berumur 2 tahun, ia diangkat sebagai tulku (reinkar-
nasi) dari mendiang Dalai Lama ke-13 yang wafat di tahun
1933 atau dua tahun sebelum tahun kelahirannya. Ia diang-
kat sebagai Dalai Lamayang baru di tahun 1939, namun baru
memegang kekuasaan secara resmi di tanggal 17 November
1950, tepat ketika China menginvasi Tibet. Dalai Lama yang
masih remaja ini segera didekati oleh Mao yang menurut Jung
Chang, membanjirinya dengan berbagai hadiah dan kata-kata
manis, serta memperlakukan remaja itu sebagai seorang saha-
bat baiknya.
Di sisi lain, Mao tengah membangun dua jalan masuk ke
Tibet untuk semakin memperkuat posisinya di sana. Begitu
jalan masuk ini selesai dibangun di tahun 1956, barulah Mao
menunjukkan taringnya. Dua tahun kemudian, Mao men-
canangkan gerakan Lompatan Besar ke Depan yang tidak
masuk akal itu, dan Tibet pun ikut terkena imbasnya. Mao
menetapkan kuota bahan makanan yang harus disetor oleh
Tibet dan memaksa rakyat Tibet hidup kelaparan.
Akibatnya rakyat Tibet berontak, pertama-tama dari pro-
vinsi Qinghai yang memiliki populasi suku Tibet yang cukup
besar di sana. Mao memperkirakan pemberontakan ini akan
meluas sampai ke Tibet, dan pada tanggal 24 Juni 1958 ia
memerintahkan agar pasukannya bersiap untuk diterjunkan
sewaktu-waktu ke Tibet, bilamana provinsi baru itu mem-
berontak. Namun pemberontakan bersenjata baru benar-
http://facebook.com/indonesiapustaka

benar terjadi di Lhasa, ibukota provinsi Tibet, pada tanggal


10 Maret 1959 ketika terdengar desas-desus yang mengatakan
bahwa China akan menangkap dan membawa paksa Dalai
Lama dari Tibet untuk ditahan. Akibatnya, ribuan orang
Tibet berkumpul di depan kediaman resmi Dalai Lama di
Istana Potala untuk melindungi junjungan mereka itu, sambil
122 Republik Rakyat China

memprotes kebijakan China yang represif. Eskalasi pembe-


rontakan ini meningkat menjadi tuntutan untuk mengusir
orang-orang China (etnis Han) dari Tibet, dan memulihkan
kembali kemerdekaan Tibet.
China menuduh kaum aristokrat Tibet sebagai dalang di
balik pemberontakan di tahun 1959 ini, dan mereka menda-
pat dukungan dari “kekuatan imperialis” (yang tidak disebut-
kan dari mana asalnya):
“Dalam menghadapi kebutuhan rakyat yang terus
meningkat akan reformasi yang demokratis, sebagian
orang dari kelas penguasa di Tibet, untuk mempertahan-
kan feodalisme dan didukung oleh kekuatan imperialis,
melancarkan pemberontakan bersenjata di semua lini
pada tanggal 10 Maret 1959 dalam sebuah usaha untuk
memisahkan Tibet dari China.”
Untuk menghindari penangkapan, Dalai Lama akhirnya
memutuskan untuk mengungsi ke India – sebuah pengungsi-
an yang masih dijalani sampai saat ini dalam bentuk Pemerin-
tahan Tibet dalam Pengasingan di Dharamsala, India. Dan
Mao memang sengaja membiarkannya pergi, untuk meng-
hindari kecaman internasional kalau-kalau Dalai Lama sampai
terbunuh. Setelah musuhnya itu pergi, Mao segera menyerbu
masuk dan mewujudkan klaim kekuasaan China atas Tibet.
Setelah itu, ia melancarkan perang propaganda pejoratif ter-
http://facebook.com/indonesiapustaka

hadap Tibet dan praktek agama Buddha di Tibet, dengan


menyebarkan desas-desus bahwa Tibet adalah sebuah wilayah
liar tak berbudaya, di mana praktek-praktek penyiksaan masih
dilakukan. Hal ini masih digaungkan sampai saat ini seperti
yang diberitakan oleh kantor berita resmi China, Xinhua, di
bulan Maret 2008 seperti yang dikutip oleh BBC:
Merengkuh Kaki Langit 123

“Bahkan selama masa paruh pertama abad ke-20, Tibet


masih merupakan sebuah wilayah feodal di bawah
pemerintahan teokrasi [pemerintahan berbasis ketaatan
agama], yang bahkan lebih gelap dan terbelakang dari
Eropa di zaman pertengahan. Para pemilik tanah, baik
kaum biarawan ataupun orang awam, mengendali-
kan kebebasan individual dari orang-orang di wilayah
kekuasaan mereka dan budak-budak yang menyusun
lebih dari 95% populasi rakyat Tibet. Mereka men-
jalankan praktek eksploitasi ekonomi yang kejam, dengan
cara-cara hukuman badan yang berat seperti mencungkil
keluar bola mata, memotong telinga, lidah, tangan, dan
kaki, mencabut urat-urat otot, atau melemparkan orang
ke dalam sungai atau dari atas tebing.”
Setelah memulihkan ketertiban dan menanamkan ketakut-
an di Tibet, Mao mulai melanjutkan aksi “penjarahan”nya
terhadap rakyat Tibet. Pada tahun 1959 dan 1960, ketika
Lompatan Maju ke Depan tengah hangat-hangatnya, Mao
memerintahkan penyitaan terhadap bahan makanan milik
penduduk, bahkan bahan makanan yang dikhususkan untuk
persembahan dalam ritual agama Buddha pun tak luput
dari penyitaan yang dilakukan di bawah todongan moncong
senapan itu. Mao memerintahkan rakyat Tibet hidup secara
sosialis, di mana mereka hanya diberi makan di tempat-tempat
makan umum yang didirikan oleh pemerintah. Makanan yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

diberikan pun jauh dari layak, karena menurut Jung Chang,


rakyat Tibet, “hanya diberi makan rumput liar, kulit kayu,
akar rumput, dan biji buah-buahan.” Jung Chang menam-
bahkan bahwa rakyat Tibet sampai makan makanan yang se-
belumnya hanya diberikan kepada hewan ternak, hanya untuk
menyelamatkan diri dari kelaparan. Rakyat Tibet sampai
124 Republik Rakyat China

mengeluh bahwa hidup lebih enak meskipun berada di ba-


wah penindasan Chiang Kai-shek atau rajaperang Muslim Ma
Bufang yang menjadi gubernur Qinghai di zaman Republik
China.
Tidak cukup dengan hanya menyita bahan makanan, Mao
juga melakukan serangkaian penistaan terhadap agama Buddha
di Tibet. Dengan alasan bahwa pemerintah membutuhkan
banyak tenaga kerja, Mao memerintahkan agar para biksu dan
biksuni melanggar sumpah selibat dan keluar dari kehidupan
biara untuk menikah, untuk kemudian dipekerjakan dalam
komune-komune kerja paksa yang ia dirikan. Untuk lebih
menghancurkan agama Buddha di Tibet, Mao memerintah-
kan agar kitab-kitab suci agama Buddha dihancurkan untuk
dijadikan pupuk, dan lukisan-lukisan suci para Buddha dan
kitab sutera yang ditulis di atas kulit hewan atau kain sutera
dipotong-potong untuk dijadikan bahan pembuat sepatu.
Keadaan ini diperparah lagi ketika Revolusi Kebudayaan
yang meletus di tahun 1960-an, menyasar setiap sendi-sendi
kehidupan beragama tidak hanya di Tibet saja, namun di
seluruh China.
Merujuk pada hubungan antara kaisar dinasti Qing yang
hanya dianggap “pelindung agama Buddha”, perwakilan
Tibet mengajukan sebuah surat bernada putus asa ke Dewan
Keamanan PBB di tahun 1959,untuk menolak klaim China
terhadap Tibet:
http://facebook.com/indonesiapustaka

“China salah memahami hubungan Tibet dan China di


tengah-tengah kebutuhan mereka yang mendesak untuk
perluasan wilayah. Bagi kami [Tibet] China adalah pe-
lindung, dan Tibet adalah negara upeti. Hubungan ini-
lah yang menjadi awal permasalahan antara Tibet dengan
China.”
Merengkuh Kaki Langit 125

Dalai Lama juga menambahkan bahwa setelah Dalai Lama


ke-13 memproklamasikan kemerdekaan Tibet di tahun 1912,
tidak ada pasukan China yang dikirimkan ke Tibet untuk
mematahkan klaim kemerdekaan itu. Artinya, Republik
China sendiri menunjukkan sikap menghormati Tibet se-
bagai sebuah negara independen di luar jangkauan China,
dan masuknya pasukan China di tahun 1950 dan 1959 di-
anggap oleh Dalai Lama sebagai sebuah invasi dan pelanggar-
an terhadap kedaulatan Tibet. Hal ini diamini oleh Chiang
Kai-shek. Saat masih berkuasa di China daratan, ia tak per-
nah membahas isu kemerdekaan Tibet. Kini, Chiang yang
hanya berkuasa di Taiwan mengeluarkan penyataan bahwa
pemerintah “Republik China”, atau sisa-sisa kaum Nasionalis
yang masih bercokol di pulau Taiwan, bersedia menawarkan
referendum untuk menentukan kemerdekaan Tibet – sebuah
tawaran yang hanya jadi angin lalu mengingat tidak ada ke-
kuatan isik yang dimiliki pemerintahan Chiang di Taipei
untuk mewujudkan hal itu di China daratan yang sudah se-
penuhnya lepas ke tangan orang Komunis.
Komisi Juri Internasional (International Jurist Commi-
sion, ICJ), sebuah organisasi non-pemerintah yang berbasis
di Jenewa, Swiss, menerbitkan laporan di tahun 1960 sete-
lah melakukan penyelidikan menyeluruh di Tibet mengenai
pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah komunis
China di sana. Hasilnya, mereka menuduh China melakukan
http://facebook.com/indonesiapustaka

pelanggaran HAM yang berat. Setahun kemudian, Sidang


Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 1723 (XVI)
tahun 1961 yang meneguhkan resolusi tahun 1959 yang isinya
meminta agar hak-hak asasi manusia dan kebebasan beragama
di Tibet dihormati oleh semua pihak (termasuk pemerintah
China).
126 Republik Rakyat China

Dukungan internasional terhadap masalah Tibet terus da-


tang dari berbagai pihak, termasuk Kongres dan Presiden AS,
Parlemen Uni Eropa, sampai kepada Komite Hadiah Nobel
yang memberikan Hadiah Nobel Perdamaian di tanggal 5
Oktober 1989 kepada Dalai Lama ke-14:
“Komite [Nobel] ingin menekankan fakta bahwa dalam
perjuangannya untuk memerdekakan Tibet, Dalai Lama
selalu konsisten dalam menentang penggunaan kekerasan.
Alih-alih, beliau menyarankan solusi-solusi damai yang
didasarkan pada tolerasi dan saling menghormati dalam
rangka untuk menjaga nilai-nilai warisan sejarah dan
budaya dari rakyatnya.”
Namun pemerintah China amat tidak senang dengan hadiah
ini, dan menuduh Dalai Lama sebagai pimpinan “clique
Dalai”, sebuah “faksi pemberontak Tibet yang berusaha me-
misahkan Tibet dari China dengan menghalalkan segala cara,
namun terus bersembunyi di balik slogan damai dalam men-
jalankan aksinya”. Menyusul aksi kerusuhan di Tibet men-
jelang Olimpiade Beijing 2008, pemerintah China menuduh
Dalai Lama sebagai dalang di balik peristiwa ini. Kantor Berita
Xinhua menyampaikan tuduhan ini:
“Dalai Lama terus-menerus berbicara tentang cara-cara
damai. Namun, bukti-bukti yang meyakinkan menunjuk-
kan bahwa kebijakan ‘jalan-tengah’ dan ‘demonstrasi
damai’ adalah kebohongan-kebohongan yang nyata yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

dibuat oleh Dalai Lama sendiri dan ‘clique Dalai’.”


Penyebabnya adalah pecahnya kerusuhan di Lhasa pada
tanggal 14 Maret 2008 yang bermula ketika parade mem-
peringati pecahnya pemberontakan di tanggal 10 Maret 1959
berkembang menjadi kerusuhan yang sasarannya adalah
Merengkuh Kaki Langit 127

warga etnis Han dan Muslim Hui yang tinggal di provinsi


Tibet. Ketika kerusuhan ini berhasil dipadamkan, pemerintah
setempat mencatat 18 warga sipil dan seorang polisi tewas da-
lam kejadian ini. Kementerian Keamanan Publik China me-
nuduh Dalai Lama ada di balik kerusuhan ini:
“Saat ini kami memiliki bukti yang cukup untuk mem-
buktikan bahwa insiden Lhasa adalah bagian dari
‘Gerakan Kebangkitan Rakyat Tibet’ yang diorganisasi
oleh ‘clique Dalai’. Tujuannya adalah menciptakan krisis
di China dengan melakukan aktivitas-aktivitas sabotase
terkoordinasi di Tibet. Kekuatan separatis ‘Kemerdekaan
Tibet’ yang dipimpin oleh Dalai Lama menjadikan
Olimpiade Beijing 2008 sebagai jalan terakhir mereka
untuk mewujudkan ‘Kemerdekaan Tibet’.”
Sempat beredar video viral di YouTube tentang aksi brutal
polisi China dalam memadamkan aksi kerusuhan ini, dan
ketika pihak YouTube menolak untuk menghapus video
ini dari website mereka, pemerintah China menanggapinya
dengan menerapkan blokade terhadap situs ini di seluruh
China. Sampai saat ini YouTube masih tidak dapat diakses di
seluruh China tanpa bantuan proxy atau aplikasi sejenis.
China mengklaim bahwa sepanjang masa pendudukan me-
reka di Tibet, mereka telah memberikan banyak perubahan
positif bagi rakyat di sana. Angka harapan hidup yang se-
belumnya hanya 35 tahun di tahun 1950, meningkat menjadi
http://facebook.com/indonesiapustaka

67 tahun di tahun 2000. Beijing juga membangun sebuah


proyek rel kereta api ambisius, yaitu rel kereta api tertinggi
di dunia yang melintas sepanjang hampir 2.000 km pada
ketinggian di atas 4.000 meter dari permukaan laut, dari kota
Xining di provinsi Qinghai sampai Lhasa di Tibet. Meski-
pun berdampak pada peningkatan ekonomi Tibet dan daerah
128 Republik Rakyat China

sekitarnya, rel kereta api ini juga membawa aliran masuk suku
Han dan suku-suku lainnya dalam jumlah semakin banyak ke
Tibet. Sampai saat ini, sekitar 65% penduduk Tibet adalah
suku Han, dan mereka memegang posisi penting dalam pe-
merintahan dan perekonomian setempat.
Mengenai masuknya suku Han ini, Peter Hassler, seorang
bekas pengajar bahasa Inggris di China, mengemukakan pan-
dangannya:
“Berbicara dengan orang-orang muda [yang pergi ke
Tibet] ini, sama halnya dengan berbicara dengan para
sukarelawan idealis di berbagai penjuru dunia. Ter-
pisah dari insentif keuangan [yang mereka terima jika
bekerja di Tibet], banyak motivasi yang sama – sesasi
petualangan, keinginan melihat hal baru, dan komitmen
untuk melayani orang lain.”
Namun indoktrinasi yang melekat tetap susah dipisahkan.
Hassler lagi-lagi mencatat bahwa saat ia membuat analogi
antara rakyat Tibet dengan suku asli Amerika, salah seorang
muridnya berkata:
“Pertama-tama, aku akan menggunakan hubungan per-
sahabatan kami [dengan orang Tibet] untuk membantu
mereka. Namun jika mereka menolak hubungan per-
sahabatanku, maka aku akan menggunakan perang untuk
membuat hubungan persahabatan itu, sebagaimana hal-
http://facebook.com/indonesiapustaka

nya yang orang Amerika lakukan pada suku-suku Indian


[suku asli Amerika].”
Meskipun demikian, Hassler mengajukan pembelaan ter-
hadap upaya China untuk memajukan Tibet, terutama di
bidang investasi:
Merengkuh Kaki Langit 129

“Investasi modal sumber daya manusia dan dana cukup


membuat rumit masalah Tibet dalam hal yang hanya
disadari oleh sedikit saja dari orang-orang luar [dunia
internasional]. Laporan asing sering menunjukkan
eksploitasi sumber daya alam Tibet sebagai situasi kolo-
nial yang klasik, yang sebenarnya salah-kaprah. Meskipun
Beijing tengah melakukan apapun yang bisa mereka laku-
kan pada hasil kayu dan cadangan mineral Tibet, China
menghabiskan sejumlah besar uang di wilayah itu, dan
jika swadaya bisa terwujud, agaknya tidak dalam waktu
dekat. Tibet memang memiliki nilai milter yang strategis:
China tidak menginginkannya berada di bawah pengaruh
kekuatan asing seperti India, namun bahkan hal ini tidak
cukup kuat untuk dijadikan alasan dari investasi yang
besar ini. Di tahun 1996, China mengeluarkan sejumlah
600 juta dolar di Tibet. ”
Pemerintah China sempat mengajukan pembelaan mereka
sendiri terhadap tuduhan dunia internasional pada kekejaman
yang mereka lakukan setelah Pemberontakan Tibet tahun
1959 dengan mengeluarkan sebuah maklumat berjudul
“Mengenai Masalah Tibet”, yang isinya hanya menegaskan
kaitan historis tak terputus sejak zaman Mongol sampai masa
sekarang:
“Selama lebih dari 700 tahun, pemerintah pusat di China
telah menjalankan kedaulatannya secara terus-menerus
http://facebook.com/indonesiapustaka

terhadap Tibet, dan Tibet tidak pernah menjadi sebuah


negara independen. Tidak ada pemerintahan atau negara
di dunia yang pernah mengakui Tibet sebagai sebuah
negara independen. ”
Dengan berdasarkan pada hal ini, setelah dinasti Mongol
menguasai Tibet, China menjadi satu-satunya pemegang
130 Republik Rakyat China

kedaulatan atas Tibet selama 700 tahun meskipun sempat


terjadi empat kali pergantian kekuasaan di China, yaitu dari
dinasti Mongol ke dinasti Ming di tahun 1368, dari dinasti
Ming ke dinasti Qing Manchu di tahun 1644, dari dinasti
Qing ke pemerintah Republik China di tahun 1912, dan
terakhir setelah diproklamasikannya Republik Rakyat China
di tahun 1949. China menganggap pergantian kekuasaan
di China tetap tidak berpengaruh terhadap hak kedaulatan
China atas seluruh wilayahnya, termasuk Tibet.
Sekali lagi, China menuduh Dalai Lama sebagai penyebar
citra buruk terhadap China, dan ketidak-mampuan media
internasional untuk melihat kenyataan yang sesungguhnya
terjadi di Tibet. Zhang Yun, Konsul Jenderal China untuk
Amerika Serikat di Los Angeles mengemukakan hal ini di
bulan April 2008:
“Sungguh sangat disayangkan bahwa beberapa saluran
media Barat, termasuk beberapa dari Amerika Serikat,
mengacuhkan kebenaran yang nyata, dan mendasarkan
laporan mereka pada fakta-fakta yang terdistorsi dan
klaim-klaim tak berdasar [dari Dalai Lama]. ”
Seberapa besar tuduhan mereka terhadap Dalai Lama dan
para pengikutnya, dunia internasional tetap mengagumi sosok
tokoh spiritual Buddha yang berteman baik dengan mendiang
Paus Yohanes Paulus II itu. Mereka yang mengagumi Dalai
http://facebook.com/indonesiapustaka

Lama terinspirasi oleh kata-kata bijaknya dan ilsafat damai


yang selama ini ia dengungkan, dan simpati terhadap
perjuangannya yang tak kenal lelah untuk memerdekakan
tanah airnya dari China. Di sisi lain, rakyat Tibet yang ter-
tekan di China dan mulai terindoktrinasi, ditambah dengan
rakyat China secara keseluruhan pun menyalahkan Dalai
Merengkuh Kaki Langit 131

Lama sebagai penyebab penderitaan Tibet. Isu kontroversial


ini agaknya masih jauh dari usai selama kedua belah pihak
yang bertikai masih belum menemukan jalan tengah untuk
menyelesaikan konlik ini.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Pecah Kongsi
Sekutu Lama

Sebuah anekdot sempat beredar dan populer di kalangan


rakyat Soviet sekitar dekade 70-an:
“Brezhnev [ketua Partai Komunis Uni Soviet waktu
itu] bermimpi buruk. Dalam mimpinya, ia melihat se-
orang Ceko duduk-duduk di Lapangan Merah [alun-alun
Kremlin di Moskow] sambil menyantap matzos [makanan
khas Yahudi Ceko] dengan sumpit. ”
Bagi kita sekarang, mungkin tidak ada yang aneh atau lucu
dengan anekdot ini. Namun bagi mereka yang hidup di Rusia
dan negara-negara komunis Eropa Timur di saat itu, lelucon
ini sungguh sangat lucu. Lelucon ini dengan jelas menggam-
barkan ketakutan dan kekhawatiran Uni Soviet – yang di sini
dilambangkan dengan sosok Brezhnev yang menjabat sebagai
Sekjen Partai Komunis Uni Soviet di dekade 70-an, kalau-
kalau Cekoslowakia – yang dilambangkan dengan orang Ceko
yang tengah makan matzos – tiba-tiba bersekutu dengan Re-
publik Rakyat China dan menyerang Uni Soviet.
Setidaknya seperti itulah situasi dunia komunis internasio-
nal waktu itu. Blok komunis terpecah dua, dengan Uni Soviet
http://facebook.com/indonesiapustaka

di satu sisi dan China di sisi lain. Masing-masing mengklaim


sebagai pemimpin komunisme internasional dan saling men-
cemooh pihak lain sebagai komunis palsu; China menuding
Uni Soviet sebagai “kaum revisionis” karena mereka tidak
lagi mengikuti paham Marxisme-Leninisme, sementara Uni
Soviet mencemooh China sebagai negara otoriter dan tak
134 Republik Rakyat China

demokratis, yang tidak paham menjalankan perekonomian


negara. Begitu parahnya hubungan kedua negara yang dulu
pernah sangat harmonis ini, sampai-sampai perang antara
China-Soviet menjadi hal yang sempat dikhawatirkan bisa
saja terjadi, dan bahkan bisa merembet sampai pada perang
nuklir.
Memang sepanjang sejarahnya hubungan kedua negara
bertetangga ini selalu diwarnai pasang-surut. Sebagai negara
Eropa, Rusia baru berhubungan langsung dengan China se-
telah Pangeran Ivan Vasilevich dari Moskow menundukkan
penguasa di dataran Eurasia satu-persatu dari arah barat ke
timur, menaklukkan berbagai khanat seperti Kazan, Astrak-
han, dan terakhir para Khan daerah Sibir di alam liar Asia
Utara. Selama masa pemerintahannya dari tahun 1533-1584,
Ivan menaklukkan wilayah seluas 4 juta kilometer persegi
dari tepi Laut Baltik dan Laut Hitam di barat, sampai alam
liar Siberia di timur. Dengan wilayah yang sangat luas ini,
ia kemudian mengangkat diri sebagai Tsar – kaisar Rusia –
yang pertama. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai Tsar Ivan IV
Grozny, “Ivan yang Ganas”. Usaha penaklukkan ini diterus-
kan oleh para penerusnya, sehingga pada tahun 1640 orang-
orang Rusia mulai mendiami wilayah Rusia Timur Jauh di
Siberia, bahkan sampai di sisi sungai Amur yang berbatasan
dengan Manchuria.
Sementara itu, di waktu yang sama dengan koloni-
http://facebook.com/indonesiapustaka

sasi daerah Siberia – daerah yang dulunya dikuasai oleh


Khan suku Sibir, di China terjadilah perubahan kekuasaan.
Memanfaatkan kemunduran Dinasti Ming di China, suku
Manchu di timur laut bangkit di bawah kepemimpinan
pemimpin mereka, Nurhaci dan menaklukkan suku-suku
nomaden lain di daerah timur laut China. Penerus Nurhaci
Pecah Kongsi Sekutu Lama 135

Sekutu yang Mesra


Presiden Xi Jinping (tengah) berbincang akrab dengan Presiden
Rusia Vladimir Putin (dua dari kanan), menunjukkan betapa eratnya
hubungan Rusia dan China sebagai sepasang teman akrab yang
sepertinya bermaksud membangun ulang kejayaan Blok Timur
di masa lalu. Ini sangat berbeda dengan kondisi di pertengahan
dekade 60-an sampai akhir 80-an, di mana China menantang
dominasi Rusia (Uni Soviet) di dunia komunisme internasional.

yang bernama Huangtaiji kemudian mendirikan kekaisar-


an Qing dan mengklaim “mandat surga”, sehingga secara
terang-terangan menentang legitimasi kekuasaan China. Pada
tahun 1644, Pejabat Waliraja Dorgon bertindak atas nama
http://facebook.com/indonesiapustaka

kaisar Shunzhi yang masih kanak-kanak, merebut ibukota


Beijing dari tangan pemberontak petani di bawah pimpinan
Li Zicheng yang sebelumnya memaksa kaisar Ming yang ter-
akhir gantung diri, dan kemudian mendirikan Dinasti Shun
sebagai ganti dinasti Ming yang runtuh itu. Setelah bertahan
selama tidak lebih dari sebulan, Li mundur dari Beijing setelah
136 Republik Rakyat China

membakar kompleks istana Kota Terlarang yang legendaris


itu. Di reruntuhan gerbang istana yang walau sudah hancur
namun masih megah itulah Shunzhi yang masih berumur 5
tahun dinobatkan sebagai kaisar atas seluruh China, dan me-
mulai sejarah Dinasti Qing selama lebih dari lebih dari dua
abad.
Maka hubungan panjang antara dua negara kekaisaran yang
besar, yaitu Rusia di barat dan China di timur pun dimulai.
Pada awalnya, meskipun kedua negara yang sama-sama agresif
dan haus akan perluasan wilayah ini sering terlibat dalam per-
tentangan kecil di wilayah perbatasan, namun keduanya juga
mengembangkan perdagangan yang cukup menguntungkan,
yaitu teh dari China yang diperdagangkan dengan bulu he-
wan dari Rusia. Hubungan diplomatik kedua negara secara
setara baru ditetapkan melalui Perjanjian Nerchinsk di tahun
1689, di mana Rusia setuju untuk melepaskan wilayah yang
mereka duduki di utara sungai Amur di Manchuria sampai
kaki Pegunungan Stavonoy, untuk ditukar dengan wilayah di
antara Sungai Argun sampai Danau Baikal di Mongolia Luar.
Perjanjian ini semakin dikuatkan dengan ditanda tanganinya
Perjanjiian Kiakhta di tahun 1727, yang lebih lanjut mengatur
perdagangan bilateral lewat rombongan kailah dagang antara
kedua negara.
Namun Kekaisaran Rusia adalah sebuah kekuatan impe-
rialis yang tidak pernah puas. Ketika Dinasti Qing tengah
http://facebook.com/indonesiapustaka

mengalami kemunduran akibat Pemberontakan Taiping di


abad ke-19, Rusia mengambil kesempatan dalam kesempitan
dengan menduduki wilayah utara sungai Amur. Saat pasukan
gabungan Inggris dan Perancis menyerbu China dan men-
duduki ibukota Beijing selama Perang Candu II, Rusia ikut
bersekutu dengan para penyerbu dan mengambil keuntungan
Pecah Kongsi Sekutu Lama 137

dari kekalahan China. Lewat Perjanjian Aigun di tahun 1858,


Rusia menganeksasi wilayah di utara Sungai Amur, dan saat
China dipaksa mengakui kekalahan dari pasukan asing di
tahun 1860, Rusia tak mau kehilangan bagian dan memaksa
China menandatangani Perjanjian Beijing yang memberi-
kan wilayah Manchuria Luar – yang ironisnya adalah tanah
leluhur bangsa Manchu – beserta kota pelabuhan Haishenwai
yang strategis di tepi Laut Jepang. Rusia kemudian meng-
ganti nama Manchuria Luar menjadi Primorye Krai, dan
Haishenwai disulap menjadi basis angkatan laut Rusia di
Timur Jauh, yaitu Vladivostok.
Rusia terus melebarkan pengaruhnya di Asia Timur, dan
di tahun 1870-an kekaisaran ini terlibat sebuah persaingan
rahasia dengan “kekaisaran” lain yang tengah naik daun dan
menjadi salah satu kekuatan militer global waktu itu, yaitu
Britania Raya (Inggris). Kedua negara ini memperebutkan
pengaruh di Asia Tengah lewat sebuah “perang dingin” yang
disebut sebagai “Permainan Besar”. Pada akhirnya, Inggris
berhasil menanamkan pengaruhnya di Afghanistan, Persia,
dan negara-negara Himalaya; sementara Rusia melebarkan
sayap kekuasaannya sampai ke Mongolia Luar (sekarang
negara Mongolia) dan Turkestan China (sekarang provinsi
Xinjiang, RRC).
Keduanya kemudian “rujuk” kembali ketika kepentingan
yang sama menyatukan mereka, yatu mencaploki wilayah
http://facebook.com/indonesiapustaka

China satu-persatu. Bersama dengan Jepang, Perancis,


Jerman, Austria-Hungaria, Amerika Serikat, dan Italia, kedua
negara besar itu membentuk Aliansi Delapan Negara untuk
menghadapi Pemberontakan Boxer di ujung pergantian abad
ke-19, yang secara terbuka disponsori oleh pemerintah Qing
138 Republik Rakyat China

di bawah kekuasaan Ibu Suri Cixi. Aliansi pasukan asing ini


berhasil menduduki ibukota Beijing dan memaksa keluarga
kekaisaran mengungsi ke barat, sampai ke bekas ibukota kuno
Xi’an di provinsi Shaanxi. Ketika kekuasaan kaisar Guangxi
dipulihkan, China dipaksa membayar ganti rugi perang yang
sangat besar. Rusia mendapatkan bagian terbesar dari total
ganti rugi itu, yaitu sebesar 29 persen atau 130 juta tael perak.
Tael adalah satuan timbangan sebesar 37-39 gram, sehingga 1
tael perak saat ini (per 2016) berharga sekitar 240 ribu rupiah.
Jika dikalikan dengan angka itu, berarti pampasan perang
yang dibayarkan kepada Rusia mencapai 31,2 trilyun rupiah.
Meskipun Kekaisaran Rusia menguasai wilayah yang sa-
ngat luas, angkatan perang yang kuat, dan perbendaharaan
yang cukup banyak, namun bukan berarti rakyatnya hidup
makmur dan berkecukupan. Sebagian besar rakyat Rusia yang
hidup sebagai petani dan pekerja pabrik tidak hanya hidup
dalam kemiskinan, namun juga ketakutan. Tsar Nikolas II
(berkuasa 1894-1907) menjalankan pemerintahan tangan
besi pada rakyatnya, dan ia mengirimkan agen-agen inte-
lejen untuk mengawasi dan melaporkan setiap sentimen
anti-pemerintah. Sementara monarki lainnya di Eropa Barat
memberikan demokrasi yang lebih luas, Nikolas mendomi-
nasi pemerintahan secara otoriter, berulang kali membubar-
kan parlemen, dan selalu menaruh kecurigaan pada anggota-
anggotanya. Skandal keluarga istana yang melibatkan seorang
tabib bernama Grigori Rasputin juga semakin menurunkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kewibawaan keluarga kekaisaran di mata rakyat mereka.


Tahun 1914, Nikolas memutuskan untuk ikut ambil bagian
dalam perseteruan antara Austro-Hungaria dan Jerman mela-
wan Serbia dan Inggris, yang dipicu oleh pembunuhan putra
mahkota Austria oleh sekelompok militan Serbia. Peristiwa
Pecah Kongsi Sekutu Lama 139

ini kemudian dikenal sebagai Perang Besar, atau di masa seka-


rang lebih terkenal dengan nama Perang Dunia I. Kekaisaran
Jerman memilih berpihak pada Austro-Hungaria, sedangkan
Rusia memihak Inggris. Akibatnya, Jerman berhadapan de-
ngan Rusia. Meskipun unggul dalam jumlah pasukan, namun
industri dan infrastruktur yang dimiliki Rusia belum siap
menghadapi perang dengan skala sebesar ini. Ditambah lagi,
Rusia baru saja mengalami kekalahan besar-besaran di tangan
Jepang pada tahun 1905, yang mengakibatkan hancurnya
seluruh Armada Baltik yang dimiliki Rusia.
Kemiskinan rakyat yang diperparah oleh arogansi penguasa
yang ditunjukkan oleh Nikolas II menjadi pemicu pecahnya
revolusi rakyat. Pada akhir Februari 1917 (atau awal Maret
1917 menurut kalender Gregorian yang kini dipakai secara
internasional), akibat kenaikan harga barang dan langkanya
bahan makanan, ditambah dengan ketidak-pedulian Tsar
trerhadap penderitaan rakyatnya, pecah kerusuhan di ibukota
Petrograd (sekarang St. Petersburg, Rusia) yang pada akhir-
nya diikuti oleh pembelotan besar-besaran di kalangan mili-
ter. Sebuah pemerintahan sementara yang berbentuk republik
dibentuk oleh para pemberontak yang menang, dan Tsar di-
asingkan ke pegunungan Ural bersama dengan keluarganya.
Namun pemerintahan baru ini kembali digulingkan, kali ini
oleh sekelompok komunis garis keras yang kemudian dikenal
sebagai kaum Bolshevik. Pimpinan mereka adalah Vladimir
Ilyich Ulyanov, yang lebih dikenal dengan nama samarannya,
http://facebook.com/indonesiapustaka

Lenin. Lenin sengaja “dikirimkan” oleh Kekaisaran Jerman ke


Rusia untuk ikut menjatuhkan kekuasaan Tsar, sehingga secara
tidak langsung akan memaksa Rusia mundur dari Perang Du-
nia I. Hasilnya, di bulan Oktober 1917 (atau November 1917
menurut kalender Gregorian), kaum Bolshevik mendirikan
140 Republik Rakyat China

Republik Federasi Sosialis Rusia di tahun 1918. Republik ini


adalah prekursor berdirinya Uni Soviet di kemudian hari.
Sementara itu, angin revolusi sudah terlebih dahulu me-
landa negara tetangganya. Pemerintahan kekaisaran Qing di-
gulingkan lewat Revolusi Xinhai di bulan Oktober 1911, dan
kemudian kaisar terakhir China, Puyi, turun tahta di bulan
Februari 1912 dan mengakhiri kekuasaan kekaisaran yang
sudah berlangsung selama lebih dari dua ribu tahun. Sebuah
republik kemudian didirikan, namun kemudian didominasi
oleh kaum militer – Tentara Beiyang – di bawah pimpinan
jenderal Yuan Shikai yang menjadi presiden pertama Republik
China. Ketika Perang Dunia I pecah di Eropa, Jepang yang
sementara itu sudah menjelma menjadi negara imperialis
baru, memihak Inggris dan mengambil alih wilayah-wilayah
kekuasaan Jerman di China, termasuk kota perbentengan
Qingdao di semenanjung Shandong di China timur. Ketika
Jerman kalah perang dan dipaksa menandatangani Perjanjian
Versailes, China juga mengirimkan delegasinya untuk ambil
bagian dalam perjanjian itu. China berharap bisa memulih-
kan kembali kedaulatannya atas wilayah-wilayahnya yang
direbut Jepang dari tangan Jerman selama Perang Dunia I.
Namun negara-negara Eropa – yang kemudian membentuk
Liga Bangsa-bangsa – takut jika Jepang berulah dan memulai
perang baru, sehingga mereka membiarkan Jepang tetap men-
duduki wilayah yang mereka rebut dari Jerman.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Sentimen anti Jepang segera muncul di China, dan gerakan


ini semakin meluas. Gerakan yang diberi nama “Gerakan
Empat Mei” sesuai dengan tanggal munculnya gerakan, di-
anggap oleh para ahli sejarah sebagai salah satu titik awal
gerakan komunis di China, karena salah satu pentolan komunis
Pecah Kongsi Sekutu Lama 141

China, seorang profesor bernama Chen Duxiu, menggunakan


gerakan ini sebagai sarana untuk menyebarkan komunisme
di kalangan mahasiswa dan kaum intelektual. Pada akhirnya,
Lenin mengirimkan seorang komunis asal Belanda bernama
Henk Sneevliet alias Maring, yang sebelumnya mendirikan
Perkumpulan Sosialis Demokrat Hindia atau ISDV, cikal-
bakal Partai Komunis Indonesia (PKI). Sneevliet ditugas-
kan membentuk sebuah partai komunis di China, dan pada
tahun 1921 bersama dengan Chen Duxiu dan Li Dazhao, ia
mengorganisasi Kongres Partai Komunis Pertama di Jiaxing –
di atas sebuah perahu pesiar di danau Nanhu di Jiaxing, yang
ironisnya tidak dapat dihadiri oleh Chen ataupun Li. Sejak
saat itu, Partai Komunis China menjadi gerakan komunis di
bawah panduan dan pembiayaan Uni Soviet.
Sementara itu, Lenin meninggal dunia setelah menderita
sakit cukup lama di tanggal 21 Januari 1924. Jenasahnya
tidak dimakamkan, namun diawetkan dengan harapan “akan
dihidupkan kembali suatu saat nanti”. Jenasahnya masih
ada sampai sekarang, dan dipamerkan di Mausoleum Lenin
di Moskow. Sepeninggal Lenin, Sekretaris Jenderal Par-
tai Komunis saat itu, Joseph Vissarionovich Jugashvili atau
yang lebih dikenal dengan nama Stalin, mulai menyingkirkan
lawan politiknya satu-persatu, terutama adalah Leon Trotsky.
Semua pengikut Trotsky ditangkap dan dibunuh, dan se-
lama berpuluh-puluh tahun label “Trotskiis” atau pengikut
Trotsky menjadi momok yang mengerikan bagi orang-orang
http://facebook.com/indonesiapustaka

Soviet dan China. Mereka yang dicap sebagai Trotskiis akan


disingkirkan dari Partai, dan bahkan bisa saja dibunuh.
Stalin yang haus kekuasaan segera mengkonsolidasikan
pemerintahannya, dan sebagai kepala Komintern – gerakan
komunisme internasional – ia menginstruksikan agar Par-
142 Republik Rakyat China

tai Komunis China bekerja sama dengan kaum Nasionalis


yang saat itu sudah dipimpin oleh Chiang Kai-shek. Partai
Komunis juga mengirimkan orang-orangnya untuk meng-
ikuti pendidikan militer di Akademi Militer Huangpu yang
didirikan oleh mendiang Sun Yat-sen, dan nantinya alumni-
alumni akademi ini akan menjadi tulang punggung sayap mi-
liter Partai Komunis, yang kemudian dikenal sebagai Tentara
Merah, atau sekarang dikenal sebagai Pasukan Pembebasan
Rakyat (People’s Liberation Army, PLA). Namun Chiang yang
selalu menaruh kecurigaan terhadap orang-orang komunis –
meski pernah menuntut ilmu di Rusia – segera melakukan
gerakan pembersihan internal di dalam partainya, dan Pem-
bantaian Shanghai di tahun 1927 menjadi awal pertentangan
panjang antara kaum Komunis dan Nasionalis. Stalin kemu-
dian memerintahkan agar Partai Komunis memisahkan diri
dari Partai Nasionalis dan mulai mengobarkan revolusi ber-
senjata secara terbuka. Namun karena miskin pelatihan dan
kurang persenjataan, Tentara Merah harus berperang secara
gerilya dan bahkan hampir dimusnahkan ketika Chiang –
yang sementara itu sudah berhasil menghancurkan semua
oposisi – menyerbu basis-basis komunis di berbagai wilayah
pedalaman China, terutama di perbatasan provinsi-provinsi
China tengah dan selatan. Partai Komunis kemudian harus
melakukan gerakan mundur terpanjang dalam sejarah umat
manusia – sepanjang 9 ribu kilometer – ke pedalaman provinsi
Shaanxi di utara yang lebih dekat dengan daerah pengaruh
Uni Soviet di Xinjiang maupun Mongolia. Di Perjalanan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Panjang inilah Mao Zedong kemudian menanjak karirnya


dan bahkan mengambil alih kepemimpinan Partai Komunis
dari rival-rival politiknya.
Setelah “membersihkan” orang-orang komunis, Chiang
segera memutuskan hubungan diplomatik dengan Uni Soviet
Pecah Kongsi Sekutu Lama 143

dan memulangkan semua penasehat berkebangsaan Rusia


kembali ke negara asal mereka. Sejak saat itu, ia terus disibuk-
kan dengan bagaimana cara menghancurkan Partai Komunis.
Tetapi semuanya berubah ketika Jepang menyerang China,
mula-mula dari Manchuria, kemudian terus ke balik Tem-
bok Besar. Mantan rajaperang penguasa Manchuria, jenderal
Zhang Xueliang menculik Chiang di kota Xi’an dan memak-
sanya membuka komunikasi dengan orang-orang komunis
untuk kemudian bekerja sama menghadapi agresi militer
Jepang. Chiang menerima hal ini dan kemudian dibentuk-
lah Front Persatuan antara Nasionalis dan Komunis, untuk
bersama-sama menghadapi Jepang. Sejak saat itu Uni Soviet
secara tidak langsung membiayai perang melawan Jepang,
meskipun pada dasarnya Partai Komunis China sebenarnya
didanai dan dipersiapkan untuk melawan pemerintah Nasio-
nalis begitu Jepang nanti berhasil dikalahkan.
Ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki
yang diikuti dengan menyerahnya Jepang tanpa syarat pada
bulan Agustus 1945, Perang Dunia II yang sudah berlangsung
sejak tahun 1939 (atau 1931 di China dan 1941 di Pasiik)
pun dinyatakan berakhir. Di saat yang sama ketika bom atom
jatuh di Nagasaki, Uni Soviet menyatakan perang terhadap
Jepang dan menggerakkan pasukannya untuk menyerbu
Manchukuo, negara boneka bentukan Jepang di Manchuria.
Negara itu kemudian diduduki, dan kaisarnya, Puyi, ditawan
sebagai tahanan perang. Mengingkari janjinya pada Chiang,
http://facebook.com/indonesiapustaka

Stalin tetap menduduki Manchuria dan mempersiapkan


wilayah yang kaya dan strategis itu sebagai basis kekuatan bagi
Mao untuk melancarkan serangan balik.
Chiang dan Mao sempat membicarakan perdamaian
dan upaya mendirikan pemerintahan koalisi, namun segera
144 Republik Rakyat China

berakhir hanya beberapa bulan kemudian ketika Chiang me-


nyerbu basis komunis di Shaanxi dan Manchuria. Chiang ba-
hkan merebut Yan’an di Shaanxi, basis utama Partai Komunis
di mana Mao selama ini mengkonsolidasikan kekuatan setelah
melalui Perjalanan Panjang. Namun dengan cepat, PLA ber-
transformasi menjadi pasukan yang tangguh dengan disiplin
tinggi, akibat dari didikan bekas perwira militer Jepang yang
dipekerjakan kembali oleh Soviet, dan bantuan senjata hasil
rampasan dari Jepang. Pemerintahan Chiang sendiri diwar-
nai dengan intrik politik dan serangkaian pembelotan, yang
paling terkenal adalah membelotnya 550 ribu orang pasu-
kan Nasionalis di bawah pimpinan jenderal Wei Lihuang ke
Komunis di Manchuria pada tahun 1948. Ini menjadi titik
balik Perang Sipil, dan setelah itu pasukan komunis tidak
mengalami hambatan berarti dalam penyerbuan mereka ke
selatan. Tanggal 23 April 1949, PLA bahkan merebut ibukota
Chiang di Nanking (kota Nanjing di provinsi Jiangsu), dan
memaksa Chiang kabur ke Taiwan di tanggal 10 Desember
1949. Mao memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat
China di tanggal 1 Oktober 1949, dan menjadikan Beijing
ibukotanya.
Sekitar 9 minggu setelah proklamasi di atas Gerbang
Tian’anmen ini, Mao pergi ke Moskow untuk menghadap
“bos” besarnya, Stalin. Ini adalah kali pertama Mao meng-
injakkan kakinya di luar China. Agenda utamanya adalah
melaporkan keberhasilan Partai Komunis mendirikan negara
http://facebook.com/indonesiapustaka

komunis di China, sambil lebih lanjut meminta bantuan Uni


Soviet untuk mendukung perekonomian dan militer China
yang baru saja pulih dari perang berkepanjangan. Namun
menurut Odd Arne Westad dalam bukunya Restless Empire,
Mao dan delegasinya terkejut karena Stalin ternyata meno-
lak untuk membuat perjanjian baru dan tetap berpegang pada
Pecah Kongsi Sekutu Lama 145

pasal-pasal perjanjian yang dulu ia buat dengan pemerintahan


Chiang di penghujung Perang Dunia II. Mao menghabiskan
2 bulan di Moskow dan hampir frustrasi, bahkan menurut
Jung Chang dalam bukunya Mao: he Unknown Stories, se-
cara diam-diam Mao mengancam untuk mengadakan kerja-
sama dengan AS jika Stalin tak kunjung memberikan sikap
positif.
Barulah Stalin kemudian melunak dan berjanji memper-
barui perjanjian bilateral dengan China, termasuk di da-
lamnya “melindungi China dari Jepang dan sekutu-sekutu-
nya”. Yang dimaksud dengan “sekutu-sekutu Jepang” di sini
tentunya adalah Amerika Serikat dan Blok Barat. Stalin juga
setuju untuk mengalihkan semua hasil rampasan Uni Soviet
dari Jepang di Manchuria yang diperoleh saat Uni Soviet me-
nyerbu wilayah itu di tahun 1945. Sebagai imbalannya, China
harus “merelakan” wilayah Mongolia Luar yang tadinya men-
jadi wilayah bekas kekaisaran Qing, untuk lepas dari China
dan menjadi negara merdeka di bawah pengaruh Uni Soviet
– meskipun selamanya Mongolia tidak pernah menjadi bagi-
an dari negara-negara Uni Soviet. Mao juga menyetujui pen-
dirian perusahaan-perusahaan patungan dua negara dengan
masing-masing negara memegang setengah bagian saham
dalam perusahaan itu. China juga menaruh dua provinsi per-
batasannya, Xinjiang dan Manchuria yang sudah lama berada
di bawah pengaruh Soviet, bebas dari campur tangan negara
lain selain Uni Soviet.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Akibatnya, Uni Soviet benar-benar mendominasi pereko-


nomian China. Bahkan bisa dibilang bahwa pada awalnya
China komunis tidak mungkin bertahan tanpa dukungan
Uni Soviet. Sampai tahun 1955, hampir 60% total per-
dagangan luar negeri China adalah dengan negeri beruang
146 Republik Rakyat China

merah itu. Jumlah bantuan ekonomi, termasuk pinjaman luar


negeri, yang diterima China dari Uni Soviet selama tahun
1949-1960 adalah sebesar 3,4 milyar dolar Amerika, atau jika
diperhitungkan terhadap nilai inlasi, maka per tahun 2016
jumlahnya setara dengan 350 trilyun rupiah. Angka ini ma-
sih belum termasuk nilai transfer teknologi, gaji bagi ahli-
ahli Soviet di China yang sepenuhnya ditanggung oleh Uni
Soviet, atau beasiswa bagi mahasiswa China yang belajar ke
Uni Soviet. Namun mengingat besarnya wilayah Uni Soviet
dan ekonomi negeri itu, jumlah sebesar itu tidak berpengaruh
banyak karena hanya mencakup tidak sampai 1% dari GDP
Uni Soviet per tahunnya.
Bagi Mao, bantuan yang terpenting yang bisa ia dapatkan
dari Uni Soviet adalah persenjataan dan pelatihan militer.
Sejak lama, Uni Soviet menjadi model impian bagi negara-
negara komunis di seluruh dunia karena kekuatan militer
dan pasukan yang mereka miliki. Mao berniat memiliki hal
yang sama, menjadikan PLA sebagai pasukan tempur terbaik
di dunia. Bagi Mao dan Partai Komunis, PLA tidak hanya
berfungsi sebagai pasukan pertahanan negara atau pen-
jaga keamanan saja, namun juga berfungsi sebagai sekolah
indoktrinasi ideologi komunis yang sangat efektif. Sekitar
800 ribu orang pasukan yang dimiliki PLA waktu itu dilatih
selama bertahun-tahun, dan setiap tahunnya mereka dibawa
berkeliling negeri untuk mempelajari kondisi negeri mereka
dan penerapan sosialisme di China.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Sisi lain yang dimanfaatkan China dari kerjasamanya


dengan negara tetangganya itu adalah pendidikan. Bila di masa-
masa sebelumnya Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara
Eropa – di samping Uni Soviet – menjadi destinasi favorit
bagi para mahasiswa yang hendak belajar ke luar negeri, kali
Pecah Kongsi Sekutu Lama 147

ini Uni Soviet menjadi satu-satunya destinasi yang mungkin.


Meski sempat mengalami inkuisisi intelektual di awal dekade
1950-an, China terus berusaha memperbaiki sistem pendi-
dikan dengan mengirim siswa-siswa ke Uni Soviet. Untuk
mempersiapkan mereka yang hendak berangkat, didirikan-
lah sebuah universitas baru di ibukota Beijing yang diberi
nama Universitas Rakyat (Zhongguo Renmin Daxue), hasil
pengembangan dari “Sekolah Shanbei” yang didirikan Partai
Komunis di tahun 1937 sebagai sekolah bagi kader-kadernya.
Di universitas baru inilah, mereka yang akan berangkat di-
bekali dengan pengetahuan yang cukup, di samping juga
mengajarkan politik dan ilmu-ilmu sosial kepada mahasiswa-
nya. Namun meskipun telah melalui berbagai tahapan untuk
memajukan pendidikan, selama kurun waktu dekade 1950-an
kemajuan yang diperoleh masih jauh dari harapan, bahkan
sempat terhenti akibat Kampanye Seratus Bunga dan Gerakan
Anti Kanan di tahun 1957. Para pengajar dari Uni Soviet pun
tidak terkesan sama sekali dengan kemajuan yang diperoleh,
dan bahkan hampir setengah putus asa terhadap dunia pen-
didikan di China waktu itu.
Dari berbagai paparan di atas bisa dilihat bahwa China
hampir sepenuhnya bergantung pada Uni Soviet untuk bisa
bertahan. Namun Jung Chang menambahkan hal lain: Mao
sengaja memeras Stalin agar mau memberikan apa yang ia
mau, yaitu persenjataan modern dan juga bom atom. Perang
Korea menjadi salah satu contoh di mana Mao memaksakan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kehendaknya kepada Moskow tanpa mempedulikan dampak


perang di Korea yang bahkan Kim Il-sung pun sudah ber-
niat mengakhirinya. Mao terpaksa mengalah ketika Stalin
mengancam akan menarik keterlibatan Uni Soviet dalam pe-
rang itu, dan membiarkan Mao berhadapan langsung dengan
Korea Selatan dan sekutunya, yaitu Amerika Serikat.
148 Republik Rakyat China

Kondisi berubah ketika Stalin tiba-tiba meninggal dunia


setelah sempat tidak sadarkan diri selama empat hari akibat
serangan stroke di kala fajar tanggal 1 Maret 1953. Dalam
buku hariannya, Vyacheslav Molotov, menteri luar negeri Sta-
lin menuduh Lavrentiy Beria, kepala polisi rahasia Uni Soviet,
sengaja meracuni Stalin dengan obat pengencer darah dalam
dosis tinggi sehingga pembuluh darah di kepala dan perut
Stalin pecah dan membuatnya jatuh dalam keadaan koma,
sebelum akhirnya meninggal. Beria merasa bahwa Stalin ber-
niat untuk menyingkirkan dirinya yang dinilai semakin lama
semakin kuat, dan berpeluang mengancam kedudukan Sta-
lin. Akibatnya, kekuasaan yang ditinggalkan oleh Stalin jatuh
kepada delapan orang anggota senior Politburo, di antaranya
adalah Beria dan Nikita Krushchev.
Beria segera mengambil langkah-langkah yang perlu
untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya, termasuk dengan
bersekutu dengan Georgy Malenkov, salah satu anggota
Politburo yang ditunjuk menjadi Perdana Menteri. Namun
beredar rumor bahwa Beria berniat untuk melepaskan Jerman
Timur, yang saat itu berada di bawah pengaruh Uni Soviet,
untuk bergabung dengan Jerman Barat dengan imbalan ban-
tuan ekonomi yang besar dari Amerika Serikat. Akibatnya,
Krushchev dan anggota Politburo lainnya merasa bahwa Beria
adalah sebuah ancaman, dan mereka berniat menyingkirkan-
nya lewat sebuah kudeta. Malenkov perlahan-lahan mem-
batasi hubungannya dengan Beria, dan pada tanggal 26 Juni
http://facebook.com/indonesiapustaka

1953 para konspirator bergerak dengan menangkap Beria di


sebuah sudut jalan kota Moskow. Ia kemudian diseret ke si-
dang Politburo. Dalam sidang itu, Krushchev menuduh Be-
ria sebagai mata-mata dan pengkhianat, lalu memerintahkan
Marsekal Georgy Zhukov dan sekelompok tentara yang ber-
jaga di sebelah ruangan sidang mereka untuk memasukkan
Pecah Kongsi Sekutu Lama 149

Beria ke dalam tahanan. Beria kemudian dieksekusi dengan


cara tembak mati pada tanggal 23 Desember di tahun yang
sama. Krushchev kemudian mengambil alih kekuasaan se-
bagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis yang baru, dan
secara de facto menjadi pemimpin tertinggi Uni Soviet sepe-
ninggal Stalin.
Sebagai pemimpin yang baru, Krushchev membuat gebrak-
an yang mengejutkan, baik di dalam ataupun luar negeri. Ke-
tika Partai Komunis Uni Soviet mengadakan Kongres Partai
ke-20 di Februari 1956, Krushchev menyampaikan “Pidato
Rahasia” yang terkenal itu. Dalam pidato panjang yang
disampaikannya secara tertutup di hadapan peserta kongres,
satu-persatu Krushchev melucuti kejahatan-kejahatan Stalin
dan mengutuk “kultus individu”, praktek pemujaan berlebih-
an terhadap seseorang, yang selama ini dikampanyekan oleh
Stalin melalui mesin propagandanya. Krushchev mengatakan
bahwa kultus individu semacam ini hanya akan melahirkan
penjilat-penjilat yang menjadi tanggungan negara, dan tidak
menghasilkan apa-apa selain memperberat beban rakyat. Se-
bagai penutup pidato panjangnya, Krushchev menyampai-
kan:
“Saudara-saudara seperjuangan! Kita harus menghapuskan
kultus individu ini secara mendasar, sekali dan untuk
selamanya; kita harus menarik kesimpulan yang wajar
mengenai pekerjaan ideologi-teoretis maupun pekerjaan
http://facebook.com/indonesiapustaka

praktis. Perlu bagi kita untuk pertama-tama mengecam


dan memberantas kultus individu ini secara ‘Bolshevik’
dan menganggapnya sebagai bukan bagian dari ideologi
Marxisme-Leninisme, dan tidak sejalan dengan prinsip
kepemimpinan dan norma-norma kehidupan Partai, dan
150 Republik Rakyat China

kita harus melawan semua cara-cara untuk mengembali-


kan praktek semacam ini dalam bentuk apapun....”
Pidato yang tajam ini segera menggemparkan ruang sidang.
Saksi mata bahkan menyebutkan bahwa sampai ada peserta
sidang yang terkena serangan jantung dan harus dilarikan ke
rumah sakit. Meskipun disampaikan secara tertutup, naskah
pidato ini sampai juga ke tangan media yang segera mem-
publikasikannya secara besar-besaran. Sempat terjadi kerusuhan
di negara bagian Georgia, tanah kelahiran Stalin yang mem-
protes pidato oleh Krushchev itu, namun segera ditekan oleh
polisi dan pasukan militer Uni Soviet. Sebagai kelanjutan dari
pidatonya, Krushchev kemudian mulai melonggarkan ceng-
keraman partai terhadap rakyat Uni Soviet dan memberikan
sedikit tambahan kebebasan bagi mereka. Untuk menghapus
kultus individu terhadap Stalin yang sudah terlanjur menga-
kar, Krushchev mengkampanyekan revisi terhadap buku-buku
sejarah Uni Soviet yang menyebutkan peranan besar Stalin se-
masa Revolusi Oktober 1917, pemerintahan Lenin, maupun
selama Perang Dunia II. Krushchev bahkan memerintahkan
agar jenasah Stalin yang diawetkan dan dipajang bersama-
sama jenasah Lenin di Mausoleum Lenin untuk dipindahkan
dan dikuburkan secara wajar di luar tembok Kremlin.
Gelombang perubahan besar menyapu dunia komunis
internasional segera setelah pidato Krushchev ini. Salah satu
gelombang penolakan adalah – tentu saja – dari Mao Zedong
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang selama ini bergantung pada kultus individu terhadap


dirinya untuk mempertahankan kekuasaannya di China.
Mao sendiri selalui mencurigai bahwa ia juga dikelilingi oleh
“banyak Krushchev”, atau dengan kata lain, ia khawatir kalau-
kalau ia akan digulingkan dan kemudian dikecam seperti
layaknya Krushchev mengecam Stalin.
Pecah Kongsi Sekutu Lama 151

Namun jauh sebelum pidato rahasia itu, Mao merasa bahwa


ia harus mulai bertindak ketika sebuah protes dalam bentuk
demonstrasi rakyat di Hungaria dan Polandia berubah men-
jadi kerusuhan dan pemberontakan melawan pemerintahan
komunis di negara itu pada tahun 1956. Ia kemudian me-
lancarkan Kampanye Seratus Bunga – yang dianggap oleh
Westad dan Jung Chang – sebagai cara untuk mengidentii-
kasi oposisi terhadap pemerintahannya, dan segera melancar-
kan Gerakan Anti Kanan untuk memberantas semua oposisi
yang bermunculan itu. Untuk sementara, posisi Mao aman
dan ia kemudian bebas menterjemahkan ideologi komunis se-
suai dengan caranya – yang ia sebut sebagai Maoisme – dan
mengutuk Krushchev dan Uni Soviet sebagai “kaum revisio-
nis” yang sudah melenceng dari paham Marxisme-Leninisme
yang diajarkan oleh Lenin dan Stalin.
Namun selama Mao belum mendapatkan bom atom dari
Krushchev, ia tidak berani menentang pemimpin Uni Soviet
itu secara terang-terangan. Usaha pertama Mao untuk menda-
patkan teknologi nuklir, yaitu Perang Korea, mengalami ke-
gagalan ketika Stalin waktu itu memerintahkannya berhenti.
Kini Mao berusaha melakukan hal yang sama untuk mene-
kan Krushchev, yaitu dengan kembali memancing Amerika
Serikat untuk mengancam menggunakan bom atom untuk
menyerang China. Mao melihat peluang di selat Taiwan.
Pulau Taiwan sejak tahun 1949 menjadi pengasingan pe-
merintahan Nasionalis di bawah pimpinan Chiang Kai-shek
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang terusir dari China daratan setelah kalah perang. Pada bu-
lan September 1954 Mao memerintahkan agar Pulau Kinmen
alias Pulau Quemoy yang berada di Selat Taiwan di lepas pan-
tai provinsi Fujian dihujani dengan bombardir meriam. Pulau
Kinmen memang masih berada di bawah kekuasaan Nasiona-
lis, dan letaknya yang sangat dekat dengan garis pantai China
152 Republik Rakyat China

membuatnya sewaktu-waktu dapat dijadikan sebagai batu


loncatan bagi Chiang untuk menyerang provinsi itu.
Washington segera menanggapinya dengan ancaman se-
rangan nuklir ke China, dan Mao segera melaporkannya pada
Krushchev. Dengan enggan, Krushchev berjanji untuk mem-
pertimbangkan kemungkinan pengembangan nuklir di China
untuk menghadapi serangan Amerika Serikat. Di saat yang
sama, para ilmuwan melaporkan penemuan cadangan uranium
– unsur radioaktif utama bom atom – dalam jumlah besar di
provinsi Guangxi. Mao yang menghadiri acara demonstrasi
geologi penemuan uranium di tangggal 14 Januari 1955 nam-
pak sangat antusias, dan di bulan April di tahun yang sama,
mimpinya menjadi kenyataan: Krushchev setuju membangun
dua unsur kunci pembuatan bom atom untuk China. Namun
sampai saat itu, Uni Soviet masih belum mengirimkan sam-
pel bom berhulu ledak nuklir untuk dijadikan contoh untuk
pengembangan bom atom lebih lanjut, sehingga Mao harus
bersabar.
Setahun kemudian terjadilah Pidato Rahasia yang men-
cengangkan itu. Mao mulai merasa terancam, terlebih karena
lima bulan setelahnya terdengar kabar bahwa Partai Pekerja
Korea Utara sedang melancarkan gerakan untuk melucuti ke-
kuasaan Kim Il-sung. Mao merasa bahwa dirinya pun bisa saja
dalam posisi serupa, mengingat banyak orang yang mengincar
kekuasaannya. Itu akan sangat mengganggu agendanya un-
http://facebook.com/indonesiapustaka

tuk memperkuat kekuasaannya di China, dan lebih jauh lagi,


menggantikan posisi Stalin sebagai pemimpin blok komunis
dunia.
Sementara itu, blok komunis sendiri sudah mulai terpecah.
Bahkan saat Stalin masih hidup, Yugoslavia di bawah pimpinan
Pecah Kongsi Sekutu Lama 153

Marsekal Josip Broz Tito sudah memisahkan diri dari Blok


Timur pimpinan Uni Soviet sejak tahun 1950-1953, dan Sta-
lin berulang kali mengecam pemimpin Yugoslavia itu, bahkan
berusaha untuk menyingkirkannya. Tito kemudian mendiri-
kan “Gerakan Non-Blok” bersama dengan Indonesia, India,
Mesir, dan Ghana. Sementara itu, akibat dari pemberontakan
di tahun 1956, Polandia memilih Wladisylaw Gomulka, se-
orang bekas tahanan politik yang dipenjarakan atas perintah
Stalin, sebagai pemimpin yang baru. Segeralah berkembang
sentimen anti-Soviet di kedua negara itu, dan Mao berusaha
mendekati keduanya untuk dijadikan sekutu untuk meng-
gulingkan Krushchev dari tahta komunis internasional. Usaha
ini tidak berhasil.
Namun Mao menemukan angin segar ketika di bulan Juni
1957 terjadi konspirasi besar di Moskow antara Molotov dan
Malenkov, dua orang anggota senior Politburo, untuk meng-
gulingkan Krushchev lewat sidang pleno Partai. Krushchev
kemudian mendekati Mao untuk meminta dukungan, dan
Mao bersedia, asalkan Uni Soviet segera mempercepat transfer
teknologi nuklir kepada China. Akhirnya, tanggal 15 Oktober
1957, Uni Soviet menandatangani kesepakatan percepatan
transfer teknologi nuklir, dan Uni Soviet mengirimkan ahli-
ahli nuklirnya ke China untuk mewujudkan hal itu. Namun
Mao membayar harga yang cukup mahal, yaitu sekitar 4
trilyun dolar AS – termasuk dalam bentuk bahan makanan
yang ia bayarkan ke Uni Soviet – untuk membiayai bom
http://facebook.com/indonesiapustaka

atomnya ini. Sementara itu Molotov dan kawan-kawannya


gagal mendapatkan dukungan dari rekan-rekan partainya,
dan Krushchev kemudian “membuangnya” sebagai duta be-
sar untuk Mongolia. Molotov kemudian dikecam sebagai
seorang “anti-Partai”, dan Krushchev secara resmi memecat-
nya dari Partai Komunis di tahun 1962. Molotov kemudian
154 Republik Rakyat China

hidup dalam bayang-bayang selama bertahun-tahun sampai


namanya direhabilitasi di dekade 80-an. Ia meninggal dalam
usia sangat lanjut di tahun 1986, yaitu 96 tahun.
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, barulah Mao mem-
buka kedoknya. Dalam konferensi tingkat tinggi komunis
internasional di bulan November, Mao secara terang-terangan
mempermalukan Krushchev sebagai seorang otoritarian, dan
bahkan sempat menyanjung Molotov – si perancang kudeta
terhadap Krushchev – sebagai “pejuang tua dengan sejarah
perjuangan yang panjang”. Namun saat ini Krushchev enggan
menanggapinya dan menahan diri, karena ia merasa tidak ada
gunanya memicu perpecahan dalam blok komunis. Namun
Mao tidak hanya berhenti sampai di sana. Ia lagi-lagi meng-
gunakan Taiwan sebagai alat untuk memeras Krushchev, kali
ini untuk kapal selam nuklir dan peralatan militer lainnya.
Mao membombardir Pulau Kinmen untuk kali kedua di ta-
hun 1958, dan memang sengaja memancing respon Amerika
Serikat terhadap serangan itu. Seperti yang Mao harapkan,
Amerika menanggapi dengan ancaman serangan nuklir ke
China, dan Mao menenangkan Krushchev dengan sesum-
bar bahwa China akan menghadapi ancaman itu sendirian,
dan takkan melibatkan Uni Soviet. Krushchev menanggapi-
nya dengan memberikan China berbagai kapal dan senjata
modern untuk menghadapi Amerika Serikat. Mao lagi-lagi
mendapatkan apa yang ia mau.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Tanpa disangka-sangka, secara di luar dugaan tiba-


tiba Krushchev mengadakan pertemuan dengan Presiden
Eisenhower untuk membicarakan masalah Berlin Barat, yang
menjadi semacam “pulau kapitalis di tengah lautan komunis”
mengingat lokasinya yang ada di Jerman Timur. Kedua pe-
mimpin sepakat bahwa masalah ini akan dibicarakan lebih
Pecah Kongsi Sekutu Lama 155

lanjut dengan Inggris dan Perancis, dua negara lain yang


menjadi pemenang Perang Dunia II di Eropa. Mao segera
mengkritik hal ini, dan menuduh Uni Soviet dan Amerika
Serikat sedang “membicarakan tentang penguasaan dunia”.
Mao menggunakan insiden ditembak jatuhnya pesawat mata-
mata U2 milik CIA, badan intelejen Amerika Serikat, pada
tahun 1960 untuk menjebak Krushchev. Mao menuntut agar
Krushchev memberikan respon yang keras terhadap peristiwa
itu, dan Krushchev menanggapinya dengan batal menghadiri
konferensi di Paris antara empat Uni Soviet dengan Amerika,
Inggris, dan Perancis.
Mao kemudian bergerak mengumpulkan sekutu sebanyak-
banyaknya. Lagi-lagi ia “merayu” negara-negara komunis
lain untuk berpihak padanya, dari Kuba di bawah pimpinan
Castro dan Guevara, sampai Aljazair yang tengah melawan
pendudukan Perancis, atau Albania yang tengah bersitegang
dengan Uni Soviet setelah gagalnya upaya kudeta yang dispon-
sori oleh Uni Soviet di tahun 1960. Namun dari semuanya,
hanya Enver Hoxha dari Albania yang menanggapi rayuan
Mao, itupun karena China menggelontorkan bantuan besar
kepada negeri itu, meskipun saat itu China tengah berada da-
lam bencana kelaparan akibat gagalnya Gerakan Lompatan
Besar ke Depan.
Pada akhirnya, pertentangan itu memuncak di 5 Juni
1960, ketika Mao mengadakan pertemuan Federasi Serikat
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dagang Internasional di Beijing. Dalam pertemuan yang di-


hadiri oleh delegasi partai-partai komunis sedunia, Mao secara
diam-diam melobi para delegasi untuk memihak dirinya dan
mengecam Krushchev, dengan mendengungkan slogan bahwa
tidak mungkin menyebarkan komunisme tanpa menempuh
jalur kekerasan. Krushchev menentang pendapat ini dalam
156 Republik Rakyat China

Konferensi Komunis dan Partai Pekerja Sedunia di Bukarest,


Romania pada tanggal 21 Juni. Di pertemuan yang juga di-
hadiri oleh delegasi dari China ini, Krushchev mencaci Mao
sebagai “nasionalis, deviasionis (penyimpang), dan advonturis
(petualang)” yang hanya bisa menggunakan kekerasan untuk
mencapai tujuannya. Bahkan Krushchev menyamakan Mao
dengan Stalin dalam hal kekejaman dan kultus individu yang
ia ciptakan. Saat itu, transfer teknologi dari Uni Soviet ke
China belum rampung sepenuhnya, sehingga Mao terpaksa
harus mengalah selangkah dan membiarkan delegasinya di-
permalukan sedemikian rupa.
Pada akhirnya, perseteruan antara China dan Rusia me-
muncak di tahun 1962, ketika China menyeberang Garis
McMahon yang dulu ditetapkan sebagai batas antara India
dan China di daerah pegunungan Himalaya, dan menyerang
India. China berdalih bahwa India membantu Tibet selama
pemberontakan Tibet di tahun 1959, termasuk dengan
memberikan perlindungan terhadap Dalai Lama ke-14 yang
tersingkir dari Lhasa. China berhasil menyerbu masuk sam-
pai lebih dari 150 kilometer ke dalam wilayah India, namun
kemudian mundur kembali ke wilayah yang semula mereka
klaim saja. Di saat yang sama, terjadilah Krisis Kuba yang ter-
kenal itu, di mana Krushchev menanggapi tindakan presiden
baru Amerika Serikat, John F. Kennedy yang menempatkan
senjata nuklirnya di Turki dengan moncong mengarah ke
wilayah Uni Soviet, dengan melakukan hal serupa di Kuba
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang terletak sangat dekat dengan negara bagian Florida di


wilayah tenggara Amerika Serikat. Krushchev cukup geram
dengan gerakan China menyerbu India, karena sejak lama
Uni Soviet berusaha membina hubungan baik dengan India.
Akibatnya, Krushchev mengadakan perjanjian damai dengan
Kennedy untuk mencegah meletusnya Perang Dunia III, dan
Pecah Kongsi Sekutu Lama 157

kedua negara sepakat untuk menarik senjata nuklir mereka


dari Kuba dan Turki. Mao mengkritik kesepakatan damai ke-
dua negara itu, dan sempat terjadi protes pro-Kuba dan anti-
Soviet di Beijing. Mao sempat mendapatkan keuntungan dari
kekesalan Kuba terhadap Soviet ketika Castro mengirimkan
roket Amerika yang jatuh di Kuba kepada China.
Sebenarnya Krushchev mencoba memperbaiki hubungan
dengan mengutus duta besar Chervonenko untuk berulang
kali menemui Mao, pertama pada tanggal 1 Maret, dan ke-
mudian pada 5 April 1962. Namun berulang kali Mao me-
nolak untuk menemuinya dengan alasan “tengah berada
dalam tur rutin ke selatan”, dan menyuruh Deng Xiaoping
yang saat itu menjadi Sekretaris Jenderal Sekretariat Pusat
Partai (berbeda dengan jabatan Sekretaris Jenderal Partai
yang dikenal sekarang), untuk mewakilinya menemui sang
duta besar. Dalam catatan harian yang ia tulis mengenai per-
temuan itu, Chervonenko mengakui bahwa hubungan antara
kedua negara “sangat tidak normal”. Deng kemudian me-
nanggapinya dengan menggaris-bawahi adanya “perbedaan
interpretasi” teori Marxisme-Leninisme di kedua belah pihak
yang menjadi penyebab abnormalitas hubungan itu. Deng
juga menyinggung masalah Albania dan juga kemungkinan
reuniikasi Jerman. Dalam transkrip catatan harian pertemuan
kedua di tanggal 9 April 1962, keduanya juga membicarakan
kemungkinan adanya konferensi tingkat tinggi dunia komu-
nis yang salah satu agendanya “merujukkan” kembali kedua
http://facebook.com/indonesiapustaka

pihak yang mulai berseberangan itu. Namun konferensi itu


tidak pernah terwujud.
Pecah kongsi antara dua sekutu lama ini akhirnya “difor-
malisasi” pada Juli 1963 ketika Krushchev menandatangani
Perjanjian Pelarangan Tes Nuklir dengan Amerika dan
158 Republik Rakyat China

Inggris, sehingga Uni Soviet secara resmi menghentikan trans-


fer teknologi nuklir kepada negara lain, termasuk China. Seta-
hun kemudian Krushchev digulingkan dalam sebuah kudeta,
dan posisinya digantikan oleh Leonid Brezhnev. Brezhnev
merubah berbagai kebijakan Krushchev seperti kecondongan
berlebihan terhadap Amerika dan dunia barat. Namun Mao
sudah memiliki senjata nuklir, dan ia terus memerintahkan
para ilmuwan untuk semakin menyempurnakan senjata nuklir
yang dimiliki China, termasuk dengan membangun fasilitas uji
coba peledakan nuklir di daerah terpencil di Lop Nur, di teng-
gara provinsi Xinjiang. Peledakkan bom atom China yang per-
tama kali berjalan sukses di tahun 1964, dan segera disambut
dengan sukacita oleh seluruh China yang menganggap negeri
mereka sekarang sudah sejajar dengan negara-negara maju pe-
milik nuklir, seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Sementara itu hubungan antara Uni Soviet dan China te-
rus memburuk, apalagi setelah terjadinya insiden Malinovsky
di tahun 1964 (akan dibahas dalam bab selanjutnya). Kete-
gangan akhirnya memuncak pada perang perbatasan antara
kedua negara di tahun 1969. Sejumlah polisi perbatasan Uni
Soviet ditembak oleh penjaga perbatasan China di tanggal 2
Maret, dan Uni Soviet membalasnya di tanggal 15 dengan
menembaki wilayah China sampai-sampai jurnalis Amerika
bernama Harrison Salisbury menyebut wilayah China yang
ditembaki itu “berlubang-lubang seperti permukaan bulan”.
Namun konfrontasi ini tidak berkembang menjadi perang
http://facebook.com/indonesiapustaka

terbuka antara kedua negara, ketika Menlu Alexei Kosygin


diam-diam mengunjungi Zhou Enlai dan membicarakan pe-
narikan mundur pasukan dari daerah sengketa itu.
Masih di tahun 1964, sejumlah besar penduduk Xinjiang
– yang didominasi etnis Turki muslim – menyeberang ke
Pecah Kongsi Sekutu Lama 159

perbatasan dan kabur ke wilayah Uni Soviet, akibat tidak lagi


mampu menanggung beban hidup akibat bencana kelaparan
akibat gagal panen dan gagalnya Lompatan Besar ke Depan.
Semua hal ini membuat Mao bahkan sampai mengatakan di
tahun 1964:
“Kita tidak hanya perlu berhati-hati terhadap Timur
[maksudnya Amerika Serikat] dan tidak ke Utara
[maksudnya Uni Soviet]; tidak hanya perlu berhati-hati
terhadap imperialisme [Amerika Serikat dan sekutu-
sekutunya] namun tidak pada revisionisme [Uni Soviet
dan sekutu-sekutunya]; kita harus bersiap menghadapi
keduanya sekaligus.”
Dengan pernyataan ini, Mao sepertinya sudah mempersiap-
kan kemungkinan terburuk, yaitu perang terbuka dengan Uni
Soviet. Kedekatan orang-orang Komite Pusat Partai Komunis
dengan Uni Soviet, entah mereka pernah belajar di sana, entah
mereka pernah mengenal atau dekat dengan orang-orang
Rusia, nantinya akan menjadi dalih untuk menangkapi dan
mempermalukan orang-orang Komite Pusat tersebut selama
masa-masa kelam Revolusi Kebudayaan.
Selama dekade selanjutnya sampai kunjungan resmi
Gorbachev ke Beijing di tahun 1989, Uni Soviet dan China
terus bermusuhan. Bahkan lambat laun China menganggap
Uni Soviet – yang lebih dekat dengan wilayahnya dibanding
Amerika Serikat – sebagai ancaman yang lebih besar dibanding
http://facebook.com/indonesiapustaka

negara adidaya lain yang ada di seberang lautan itu. Itulah


sebabnya, nantinya Mao akan memainkan perannya di pang-
gung sandiwara politik dunia dengan mendekati calon sekutu
yang hampir mustahil, yaitu Amerika Serikat.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Presiden Liu,
Pemimpin Kami Tercinta

Sebagai sebuah negara satu partai, China Komunis adalah se-


buah negara dengan sistem pemerintahan yang unik. Pemi-
lihan umum praktis tidak pernah ada. Perwakilan rakyat di-
wadahi hanya lewat Partai Komunis, meski sebenarnya ada 9
entitas partai lain seperti “Komite Revolusioner Kuomintang”
sayap komunis Kuomintang/Partai Nasionalis (KMT) yang
memisahkan diri dari KMT pimpinan Chiang Kai-shek ketika
Beijing jatuh ke tangan komunis di tahun 1948. Namun se-
mua partai lainnya mengakui “kepemimpinan” Partai Komu-
nis dalam memerintah China, sehingga secara de-facto, China
dipimpin hanya oleh Partai Komunis saja.

Presiden Liu Shaoqi


Berbeda dengan Mao
yang kharismatik namun
kejam, Liu Shaoqi adalah
seorang yang simpatik
dan penuh rasa empati.
Ia menghentikan kekeja-
man Mao, dan bersama
dengan Deng Xiaoping
http://facebook.com/indonesiapustaka

berusaha memulihkan
kembali kesejahteraan
rakyat China. Sayangnya,
Liu dan Deng didepak
dari pemerintahan lewat
Revolusi Kebudayaan
yang kejam.
162 Republik Rakyat China

Itu membuat pemimpin Partai Komunis secara langsung


menjadi pemimpin China. Saat ini (per 2016), Partai Komu-
nis dipimpin oleh seorang Sekretaris Jenderal (zongshuji),
yang jabatannya sekaligus merangkap sebagai “Ketua” Negara
(guojia zhuxi), alias Presiden. Namun jabatan ini lebih ke arah
tituler dan seremonial, karena pemerintahan eksekutif sehari-
hari dijalankan oleh Perdana Menteri (guowuyuan zongli).
Naiknya seorang igur anggota partai yang menonjol sebagai
Sekretaris Jenderal secara otomatis menjadikannya Presiden
atas Republik Rakyat China, sekaligus sebagai Ketua Komisi
Militer Pusat (zhongyang junshi weiyuanhui zhuxi), sehingga
seorang Presiden China bertindak sebagai ketua partai sekali-
gus panglima tertinggi angkatan bersenjata. Tiga jabatan se-
kaligus ini mulai berlaku semenjak Jiang Zemin (menjabat
1993-2003) menjadi Sekretaris Jenderal pertama yang menjadi
Presiden China.
Namun rangkap jabatan ini adalah sebuah hal yang relatif
baru dalam pemerintahan China. Pada masa-masa awal ber-
dirinya, pemimpin tertinggi partai adalah ketua partai, atau
secara resmi disebut sebagai Ketua Komite Pusat (zhongyang
weiyuanhui zhuxi), yang saat itu dijabat oleh Mao Zedong
– namun ketua partai bukanlah presiden. Mao menduduki
jabatan ketua partai setelah serangkaian manuver politik –
yang menurut Jung Chang juga disertai teror politik – selama
Perjalanan Panjang dan Perang Melawan Jepang membuat-
nya terpilih secara aklamasi dalam Kongres Partai Komunis
http://facebook.com/indonesiapustaka

ke-7 di tanggal 23 April 1945 sebagai Ketua Komite Pusat


Partai. Sejak saat itu, Mao identik dengan Partai, dan Partai
adalah Mao. Setiap keinginan Mao adalah keinginan Partai,
dan mereka yang menentang Mao sama saja menentang Par-
tai, menentang negara, dan pada akhirnya – menurut Mao
– menentang rakyat China secara keseluruhan. Generalisasi
Presiden Liu, Pemimpin Kami Tercinta 163

inilah yang menjadi dasar teror politik yang dilakukan oleh


Mao selama masa kekuasaannya.
Seperti kekuasaan para kaisar yang absolut dari zaman ke-
kaisaran, kekuasaan besar yang dimiliki Mao sangat rentan
untuk disalah-gunakan, dan adanya kesalahan langkah yang
diambil memiliki dampak yang sangat besar bagi negara. Ba-
nyak contoh dari sejarah masa lampau China di mana seorang
kaisar yang amburadul pada akhirnya membawa negara dan
pemerintahannya ke dalam kehancuran. Ying Huhai yang
menjadi Kaisar Qin ke-2 hanya bertahta selama 3 tahun,
namun ia menghancurkan negeri yang susah payah dibangun
oleh para leluhurnya dan akhirnya dipersatukan oleh men-
diang ayahnya, yang pada akhirnya diperebutkan oleh para
pemberontak. Kaisar Hui dari Jin menyia-nyiakan persatuan
China yang digagas oleh mendiang kakek dan ayahnya sete-
lah melalui masa perpecahan yang panjang pada masa Sam-
kok (Tiga Negara), dan menyebabkan berkuasanya suku-
suku utara di daerah China utara yang kemudian dikenal
sebagai Periode Utara-Selatan. Contoh terakhir pada zaman
itu adalah Yuan Shikai, yang dengan sembrono menyalah-
gunakan kekuasaannya sebagai presiden dan “menjual” China
pada bangsa-bangsa imperialis, yang kemudian menyebabkan
perpecahan China dan perang berkepanjangan antara bekas
bawahannya yang memperebutkan China sepeninggalnya.
Begitu juga di zaman awal Republik Rakyat China. Mao
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang terlalu percaya diri dan ambisius, meluncurkan Lompat-


an Besar ke Depan di tahun 1958 yang pada akhirnya menye-
babkan bencana kelaparan besar di tahun 1959-1961. Namun
baginya, kematian rakyat dalam jumlah sedemikian besar –
mencapai lebih dari 30 juta jiwa – hanyalah angka statistik di
atas kertas laporan yang diketik dan dibumbui sedemikian rupa
164 Republik Rakyat China

sehingga menyenangkan pandangan matanya. Pada akhirnya


yang harus menanggung semua penderitaan yang ia sebabkan
adalah rakyatnya sendiri, yang dipaksa sampai ke ujung batas
kemampuan mereka tanpa berani bersuara, karena Mao men-
jalankan mesin teror yang amat ganas.
Saat itu yang menjadi orang nomor dua di jajaran pe-
merintahan China adalah Presiden, yang dijabat oleh Liu
Shaoqi. Liu menduduki jabatan itu sejak tahun 1959 sete-
lah Kongres Partai ke-8 di Beijing mengangkatnya bersama
dengan Deng Xiaoping ke kedudukan mereka sekarang. Mao
sendiri sebenarnya berencana menjadikan Liu sebagai calon
penggantinya kelak. Berbeda dengan Mao yang dingin dan
tak berperasaan, Liu adalah seorang humanis yang mudah ter-
sentuh oleh penderitaan di sekelilingnya. Ketika menduduki
jabatan presiden, China tengah dilanda bencana kelaparan
yang hebat akibat melesetnya rencana Mao dalam Lompatan
Besar ke Depan. Ia mendukung Lompatan Besar itu, dan pada
bulan Oktober 1959 ia bahkan menekankan bahwa pertanian
kolektif adalah “model bagi seluruh dunia komunis”. Liu juga
berada di pihak Mao ketika Peng Dehuai mengkritik habis-
habisan kebijakan Mao dalam Konferensi Lushan di tahun
yang sama itu.
Namun semuanya berubah ketika Liu mengunjungi kam-
pung halamannya di Hunan, sebuah desa miskin yang terkena
imbas cukup besar akibat bencana kelaparan tahun 1959.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana


saudara-saudaranya jatuh sakit karena kelaparan. Kakak ipar-
nya meninggal gara-gara malnutrisi, dan kakak kandungnya
tergolek lemah di atas ranjang akibat kelaparan. Orang-orang
sekampungnya bahkan mencacinya dan ada anak yang sam-
pai berani menempelkan slogan “Turunkan Liu Shaoqi!” di
Presiden Liu, Pemimpin Kami Tercinta 165

dinding rumahnya. Liu melarang polisi menangkap anak itu,


karena Liu merasa bertanggung jawab atas apa yang menimpa
orang-orang itu. Jung Chang bahkan menyatakan bahwa Liu
sampai membungkuk dan menangis di hadapan orang-orang
sekampungnya, sambil meminta maaf atas kesalahan pemerin-
tah yang membuat mereka sampai begitu menderita. Sejak saat
itu Liu bertekad menghentikan kegilaan ini. Namun ia tidak
pernah berniat untuk melawan Mao secara terbuka, karena ia
selalu menganggap dirinya sebagai pengikut Mao yang loyal.
Tidak hanya di Changsha dan Ningxiang di provinsi Hu-
nan di mana ia berasal, Liu Shaoqi juga melakukan investigasi
sampai ke daerah hutan di timur laut dan ke Mongolia Dalam.
Dari wawancara yang ia lakukan pada kader-kader lokal, ia
menemukan banyak masalah dan kesalahan. Ia mendapati
bahwa beberapa departemen berusaha untuk menutup-nutupi
laporan negatif, seperti adanya deisit 5 milyar Yuan di tahun
itu.
Liu mulai menunjukkan penentangannya secara terbuka
terhadap Lompatan Besar, ketika pada tahun 1961 Mao me-
ngumpulkan semua pejabatnya di Lushan. Liu meminta Mao
agar menurunkan kuota bahan pangan yang harus disetorkan
oleh setiap provinsi, sampai 34% dari tahun sebelumnya.
Langkah Liu ini didukung juga oleh orang nomor 3 dalam pe-
merintahan, yaitu Perdana Menteri Zhou Enlai. Zhou mem-
beritahu Mao bahwa orang-orang di Henan – provinsi favorit
http://facebook.com/indonesiapustaka

Mao – sudah tak punya apa-apa lagi untuk dimakan selain


daun-daunan dan sayuran yang diasinkan. Di bawah tekanan
itu, ditambah juga dengan ketidak-mampuan industri berat
untuk meneruskan aktivitas produksi mereka akibat kurang-
nya bahan baku dan batubara, Mao dengan berat hati me-
nyetujui pemotongan kuota.
166 Republik Rakyat China

Memanfaatkan melonggarnya cengkeraman Mao, Deng


Xiaoping – yang sementara itu sudah menanjak karir politiknya
– bertindak lebih jauh. Bersama dengan Li Fuchun dan Bo
Yibo, Deng Xiaoping menyusun naskah peraturan sebanyak 70
pasal yang ia beri judul “Peraturan Tentang Pekerjaan Badan
Industri Milik Negara”. Peraturan ini mencakup serangkaian
petunjuk tentang bagaimana memperbaiki manajemen badan
usaha milik negara, memperbaiki standar teknis, dan juga me-
netapkan standar gaji bagi para pekerja. Pemerintah juga me-
ngurangi jam kerja pabrik di daerah perkotaan, sehingga para
pekerja terhindar dari beban kerja yang terlalu berat.
Deng melangkah lebih jauh dengan menjadikan kota-
kota besar seperti Beijing, Shanghai, Tianjin, dan kota-kota
lainnya sebagai tempat penyelidikan implementasi kebijakan
ini. Ketika menemukan beberapa hambatan, Deng mengajak
rekan-rekannya duduk semeja dan membahas berbagai masa-
lah yang ditemukan, kemudian mendiskusikannya bersama-
sama untuk mencapai sebuah konsensus. Akhirnya naskah
revisi dari peraturan yang dikonsepkan oleh Deng ini berhasil
diselesaikan pada September 1961, dan dengan enggan Mao
menyetujui implementasinya. Tetapi langkah Deng ini nanti
akan membuatnya – bersama dengan Liu – dicap sebagai
“kapitalis nomor 1 dan nomor 2”, dan membuat mereka
menjadi target utama inkuisisi selama masa Revolusi Ke-
budayaan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Di sisi lain, wibawa dan popularitas Mao mulai menurun


akibat kegagalannya ini, terutama di sekitar basis utama ke-
kuatannya, yaitu Partai Komunis. Sesuai dengan peraturan
partai, setiap 5 tahun sekali harus diadakan kongres partai
yang salah satu agendanya adalah memilih ketua partai yang
baru. Namun sudah 11 tahun sejak kongres terakhir diadakan
Presiden Liu, Pemimpin Kami Tercinta 167

di tahun 1945, Partai Komunis belum mengadakan kongres


lanjutan. Jika ia mengadakan kongres, Mao sadar bahwa usaha
untuk mempertahankan dukungan terhadap posisinya tidak
akan mudah, mengingat banyak kader partai yang diam-diam
menyalahkannya sebagai biang keladi bencana kelaparan ter-
hebat sepanjang masa ini. Pada akhirnya disepakati bahwa
tidak diadakan kongres, namun akan diadakan sebuah “kon-
ferensi partai yang diperluas” pada bulan Januari 1962.
Konferensi itu dilaksanakan di Beijing dan dihadiri oleh
7.018 orang kader partai dari seluruh China. Di masa-masa awal
konferensi, Mao memerintahkan pendukung-pendukungnya
yang paling setia untuk mengawasi semua peserta konferensi,
dan membungkam setiap suara sumbang yang muncul untuk
mengkritik kebijakan-kebijakannya. Namun Liu menolak un-
tuk mengikuti rencana Mao. Pada tanggal 27 Januari 1962,
Liu – yang menyampaikan laporan atas nama Komite Pusat
Partai – dengan lantang menyampaikan pidatonya di hadapan
para peserta konferensi, yang secara terang-terangan memen-
tahkan semua tudingan mengenai penyebab kegagalan Lom-
patan Besar yang ditimpakan terhadap kader-kader partai
daerah dan cuaca buruk yang menimpa China. Ia berkata:
“Dalam beberapa tahun belakangan, banyak terjadi ham-
batan dan kesalahan pada kinerja kita. Para kader dan
anggota Partai, dan bahkan kebanyakan dari rakyat telah
mengalami pengalaman pribadi yang menyakitkan. Me-
http://facebook.com/indonesiapustaka

reka sudah kelaparan selama 2 tahun... Kita telah melaku-


kan banyak kekurangan dan kesalahan dalam menerapkan
garis-garis besar kebijakan kita, mengorganisasi komune
rakyat, dan menjalankan Lompatan Besar ke Depan.
Bahkan kesalahan ini adalah kesalahan yang besar... Saya
168 Republik Rakyat China

rasa ini adalah waktu yang tepat untuk memeriksa kembali


dan mengambil pelajaran penting. Kita tidak lagi bisa
terus-terusan seperti ini.”
Liu bahkan berani menyebutkan bahwa:
“Di masa lalu, kesuksesan dan kegagalan ditimbang
dengan ‘satu jari banding sembilan jari lainnya’, namun
di masa sekarang ini, hubungan itu lebih antara ‘tiga jari
banding tujuh jari lainnya’ [maksudnya: 30% masalah
cuaca dan 70% kesalahan manusia].”
Namun secara tidak langsung, Mao menganggap bahwa Liu
menimpakan kesalahan ini kepada Mao. Liu ingin menjelas-
kan kepada seluruh kader partai – dan rakyat China, tentunya
– bahwa bencana kelaparan yang diakibatkan oleh kegagalan
Lompatan Besar ke Depan adalah tanggung jawab penggagas-
nya, yaitu Partai Komunis. Namun bukankah Partai Komunis
adalah Mao, dan Mao adalah Partai Komunis? Maka sejak saat
itu sampai 18 hari ke depan, para peserta konferensi mulai be-
rani menyuarakan kritik mereka secara terbuka seperti gunung
salju yang runtuh, sampai-sampai Mao yang kewalahan dan
khawatir pada akhirnya terpaksa menyetujui perpanjangan
waktu konferensi. Pada awalnya, Mao menyebut kegagalan
Lompatan Besar sebagai “angin hitam”:
“Dalam perjuangan sosial, kekuatan yang mewakili kelas
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang lebih maju seringkali mengalami kekalahan, bukan


karena ide-ide mereka tidak benar, namun karena, dalam
keseimbangan kekuatan yang terlibat dalam perjuangan
ini, di masa itu mereka tidak sekuat kekuatan reaksioner;
maka mereka hanya kalah untuk sementara, namun akan
mengalami kemenangan cepat atau lambat.”
Presiden Liu, Pemimpin Kami Tercinta 169

Tetapi pembelaannya tak mempan. Maka untuk menyelamat-


kan posisinya, Mao terpaksa melakukan hal yang tidak pernah
ia lakukan sebelumnya: kritik diri. Peristiwa langka itu terjadi
tanggal 30 Januari. Dalam pidato “kritik diri” ia berkata:
“Kesalahan apapun yang terjadi yang dilakukan secara
langsung oleh Komite Pusat adalah kesalahanku, sedang-
kan yang dilakukan secara tidak langsung sebagian adalah
tanggung jawabku, karena aku adalah ketua dari Komite
Pusat. ”
Seperti biasa, Mao mencoba membuat publik bersimpati ke-
padanya seolah-olah ia yang menanggung semua kesalahan
hanya karena ia adalah sang ketua. Namun pada akhirnya,
Mao terpaksa menyetujui pembagian kekuasaan, yang di-
istilahkan oleh Gao Wenqian, penyusun biograi Zhou Enlai,
sebagai “dua front”: front pertama adalah Liu, dan front ke-
dua adalah Mao. Front pertama akan mengurusi masalah pe-
merintahan sehari-hari, atau bisa dibilang sebagai front ekse-
kutif, membatasi kekuasaan front kedua yang pada akhirnya
hanya akan bersifat simbolis saja. Liu mengumpulkan du-
kungan dari pejabat-pejabat beraliran reformis, seperti Zhou
Enlai, Chen Yun, dan termasuk Deng Xiaoping. Namun se-
perti yang disampaikan oleh Gao Wenqian, Zhou berusaha
tidak memihak dalam hal ini dan menjadi mediator antara
kedua kubu yang mulai berseberangan itu.
Liu kemudian menyerukan adanya reformasi kebijakan pe-
merintah dalam bentuk 4 hal:
http://facebook.com/indonesiapustaka

1. Dengan segera menghentikan protek-proyek yang tidak


memiliki hasil ekonomis yang nyata;
2. Menutup perusahaan-perusahaan yang tidak menghasilkan
keuntungan apapun atau malah menyebabkan kerugian
yang besar;
170 Republik Rakyat China

3. Memperkenalkan kembali pasar bebas dan menetapkan


harga pasar yang lebih tinggi untuk produk-produk per-
tanian;
4. Menggunakan “tim produksi” sebagai dasar dari unit peng-
hitungan kerja ekonomis kerakyatan.
Dengan begitu, Liu mengalihkan kebijakan pemerintah dari
model “Maois”, yaitu ekonomi yang dikendalikan secara mut-
lak oleh negara, dan mengarahkannya pada apa yang akan di-
tuduh Mao dan pengikutnya sebagai “ekonomi kapitalis”.
Sementara itu, untuk “memberi muka” kepada Mao,
Deng Xiaoping menyampaikan pidatonya di depan peserta
konferensi di tanggal 6 Februari, yang isinya menimpakan
semua “kegagalan partai dalam memimpin negara” pada
kurangnya demokrasi di dalam lingkungan internal partai.
Ia juga mengecam praktek penggunaan slogan-slogan dalam
“Buah Pikiran Mao Zedong” oleh para pejabat dan kaum
akademisi secara membabi buta tanpa mengetahui arti sebe-
narnya. Namun Deng juga menekankan bahwa sebagai partai
penguasa, Partai Komunis tidak lagi berperan sebagai sebuah
“partai revolusioner”, karena masa-masa revolusi sudah selesai
ketika Partai Komunis mengambil alih kekuasaan dari Chiang
Kai-shek di tahun 1949. Sebagai partai penguasa, tugas utama
Partai Komunis adalah menjalankan pemerintahan dengan
baik demi memajukan kesejahteraan rakyat. Secara tidak
langsung, Deng mengisyaratkan bahwa tidak masalah untuk
mengadopsi sistem ekonomi kapitalis selama itu bisa mem-
http://facebook.com/indonesiapustaka

berikan kesejahteraan bagi rakyat, seperti slogannya yang


membuatnya terkenal:
“Aku tidak peduli apakah kucingnya hitam atau putih;
selama kucing itu bisa menangkap tikus, itu adalah kucing
yang baik. ”
Presiden Liu, Pemimpin Kami Tercinta 171

Jung Chang menulis bahwa selama tahun 1962, China


mengalami aura reformasi terutama di bidang pertanian dan
perekonomian. Liu menghentikan setiap bentuk bantuan
China ke luar negeri, sehingga bahan makanan cukup disimpan
untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hasilnya, bencana
kelaparan berhasil dihentikan dan angka kematian menurun
drastis. Liu dan Deng menggunakan kendali mereka atas me-
sin birokrasi pemerintahan China dengan sangat efektif.
Sementara itu di negeri tetangga, pada tanggal 12 Oktober
1964, lagi-lagi terjadi perubahan kekuasaan. Memanfaatkan
absennya Krushchev yang tengah pergi mengunjungi Abkhazia,
salah satu negara bagian Uni Soviet, Ketua Presidium Tinggi
Soviet yang juga menjadi kepala negara, Leonid Brezhnev
menggalang dukungan dari Komite Pusat Partai Komunis
Uni Soviet untuk menggulingkan Krushchev. Brezhnev dan
rekan-rekannya menilai kedekatan Krushchev dengan negara
barat cukup berbahaya, dan kebijakan-kebijakan Krushchev
juga dinilai terlalu kontroversial. Krushchev segera dipang-
gil pulang dari Abkhazia ke Moskow, dan di depan anggota
Presidium lainnya, Brezhnev mengkritik Krushchev secara
habis-habisan. Krushchev tidak memberikan pembelaan diri
yang pantas, dan dua hari kemudian ia mengajukan peng-
unduran diri. Brezhnev kemudian dipilih menjadi Sekreta-
ris Jenderal Partai yang baru. Krushchev kemudian hidup di
balik bayang-bayang depresi, dan ia meninggal dunia 7 tahun
kemudian akibat serangan jantung. Rezim Brezhnev terus
http://facebook.com/indonesiapustaka

mencoba menghapus nilai penting Krushchev dalam sejarah


Rusia, sebagaimana yang Krushchev lakukan pada Stalin be-
berapa tahun sebelumnya.
Mao melihat hal ini sebagai peluang untuk memperta-
hankan kekuasaannya. Ia mencoba mendekati Moskow dan
172 Republik Rakyat China

memulihkan hubungan diplomatik. Ia mengirimkan Zhou


Enlai ke Moskow untuk menghadiri resepsi negara mem-
peringati ulangtahun Revolusi Bolshevik 1917 di tanggal 7
November 1964. Tetapi celakanya, terjadi sebuah insiden
yang akan menentukan hubungan diplomatik kedua negara
selama dekade berikutnya.
Dalam jamuan makan malam itu, saat tengah bercakap-
cakap ramah dengan hadirin lainnya, Menteri Pertahanan
Soviet Marsekal Rodion Malinovsky, dengan tanpa basa-
basi meminta Zhou “menyingkirkan Mao sebagaimana kami
menyingkirkan Krushchev”. Malinovsky juga mendekati
Marsekal He Long, dan mengatakan hal yang sama. Zhou ke-
mudian segera mengajak rekan-rekannya meninggalkan ruang
itu. Esok harinya, Brezhnev dan pejabat-pejabat seniornya
(kecuali Malinovsky) datang ke penginapan delegasi China
dan meminta maaf atas ucapan Malinovsky, dan berdalih
bahwa saat mengatakan hal-hal itu Malinovsky sedang mabuk
karena terlalu banyak menenggak vodka. Namun Brezhnev
maupun pejabat senior Uni Soviet lainnya tidak mengeluar-
kan pernyataan resmi untuk menegur Malinovsky, sehingga
bisa jadi memang itulah yang tengah direncanakan oleh Uni
Soviet terhadap Mao.
Mao mengetahui setiap detil dari insiden itu. Ini membuat-
nya khawatir jangan-jangan Uni Soviet tengah menyiapkan
persekongkolan untuk menggulingkannya dari pemerintahan
http://facebook.com/indonesiapustaka

China dengan memanfaatkan orang-orang di lingkaran dalam


kekuasaannya. Mao tahu benar bahwa Kremlin-lah yang dulu
menaikannya ke panggung kekuasaan, sehingga mudah bagi
mereka untuk menjungkalkannya jika mereka mau. Untuk
berjaga-jaga terhadap serangan, Mao membangun “Tembok
Besar” berupa gunung-gunung buatan di sepanjang garis
Presiden Liu, Pemimpin Kami Tercinta 173

perbatasan dengan Uni Soviet dan Mongolia, untuk mengha-


langi langkah maju tank-tank Uni Soviet jika terjadi penyer-
buan dari Soviet ke China. Namun hal ini memakan biaya
yang sangat besar sehingga akhirnya proyek ini dibatalkan dan
ditinggalkan terbengkalai begitu saja.
Sementara itu, pamor Liu Shaoqi terus menanjak. Karena
masa jabatan Liu akan habis di tahun 1963, maka Dewan
Nasional harus bersidang untuk memilih presiden yang baru.
Mao bisa memperkirakan bahwa jika sidang itu dijalankan
tanpa intervensi, Liu hampir pasti akan memperpanjang masa
jabatannya. Dan memang benar hal itu yang terjadi; Liu kem-
bali dipilih menjadi presiden di tanggal 3 Januari 1965. Ra-
kyat mengenalnya sebagai orang yang menyelamatkan mereka
dari jurang kehancuran, dan mereka mencintainya sebagai
seorang pemimpin sejati. Pengangkatannya sebagai presiden
kali ini benar-benar dirayakan oleh rakyat China, bahkan da-
lam pawai untuk merayakan hal ini, foto Liu diarak berdam-
pingan dengan foto Mao. Berbagai surat kabar memuji-muji
Liu bersama dengan Mao, “Ketua Mao dan Ketua Liu, pemim-
pin kami tercinta.”
Ini semakin membuat Mao merasa terpinggirkan dan
terancam. Sewaktu-waktu Liu bisa bertindak seperti Brezhnev,
menggulingkan Mao dan mengambil alih kekuasaan. Mao
terus mendengung-dengungkan “perjuangan kelas”, slogan
terkenal dari Karl Marx tentang usaha kaum proletar untuk
menghapuskan perbudakan oleh kaum kapitalis. Namun Liu
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan Deng sama sekali tidak tertarik dengan perjuangan ke-


las untuk melanjutkan revolusi menuju komunisme, karena
mereka kini tengah terfokus pada bagaimana usaha untuk
membangun kembali China. Bagi mereka, cara yang mungkin
adalah menyerahkan roda perekonomian pada mekanisme pa-
sar dan modal, dengan kendali penuh tetap berada di tangan
174 Republik Rakyat China

pemerintah. Ini sama saja menentang prinsip yang selama ini


diusung oleh Mao, dan menyerang otoritasnya sebagai pe-
mimpin tertinggi China. Sampai-sampai di akhir 1964 sebuah
surat kabar di Beijing menulis bahwa, “sekarang muncul dua
kerajaan independen di Beijing.” Kerajaan pertama adalah ke-
rajaan Liu dan Deng yang tengah membangun jalan menuju
kapitalisme – yang diistilahkan Mao sebagai “kaum revisionis
China”, sedangkan kerajaan kedua adalah kerajaan Mao dan
antek-antek setianya yang serba kolot dan konservatif.
Mao setuju untuk “turun sementara”, namun ia mengisya-
ratkan bahwa “aku akan kembali”, dan jika ia kembali, maka
semuanya harus bersiap-siap menghadapi kemurkaannya.
Mao sempat menyatakan hal ini dalam “pidato pensiun” yang
ia tulis bahkan saat Lompatan Besar ke Depan masih bergulir,
di tahun 1958:
“Mundurnya saya dari kedudukan sebagai Ketua [Presiden]
Republik ini dan konsentrasi tugas tanggung jawab se-
bagai Ketua Komite Pusat Partai akan memungkinkan
saya untuk meluangkan waktu yang sangat besar untuk
memenuhi kebutuhan Partai. Ini adalah juga cara yang
paling tepat untuk keadaan diri saya.... Namun kapan
pun negara membutuhkan, dan jika Partai memutuskan
[untuk memanggil kembali], maka saya akan mengemban
tugas kepemimpinan ini sekali lagi.”
Itu semua hanya untuk membiarkan rival-rival politiknya
http://facebook.com/indonesiapustaka

merasa berjaya untuk sementara, sementara ia sendiri men-


cari cara di tengah kelengahan mereka untuk menjatuhkan
mereka. Seperti yang sudah-sudah, Mao diam-diam tengah
mempersiapkan serangan balasan. Hanya saja kali ini, pem-
balasannya akan jauh lebih kejam dan lebih pahit.
Sementara Itu
di Luar Negeri...

Ambisi Mao seakan tidak memiliki batasan. Tidak ada garis yang
jelas yang membatasi keinginan Mao untuk mencapai kekuasa-
an tertinggi, tidak hanya dalam hal pemerintahan saja, namun
dalam setiap sendi kehidupan rakyat China. Mao ingin agar
pandangannya tentang komunisme, yaitu Marxisme-Leninisme
yang dicapai lewat perjuangan senjata oleh kelas proletar mela-
wan kaum borjuis dan kapitalis, menjadi satu-satunya penafsiran
yang tepat terhadap komunisme. Pandangan ini kemudian oleh
kaum sosialis dikenal sebagai “Maoisme”. Dan sekali lagi, am-
bisi Mao tidak terbatas pada China saja. Mao ingin menjadikan
negara-negara komunis menjadi penganut pahamnya, dan ti-
dak lagi mengikuti paham Marxisme-Leninisme yang dianut
oleh Uni Soviet semenjak berkuasanya Nikita Krushchev. Mao
mengecam paham yang dianut Uni Soviet ini sebagai “revisio-
nis”, yang menurutnya lebih berbahaya dari Trotskyisme yang
dulu dikecam oleh Joseph Stalin. Mao menuntut agar kaum
komunis dunia mengikuti pahamnya, yang dianggapnya se-
bagai jalan lurus menuju sosialisme sejati.
Setelah putusnya hubungan China dengan Soviet, Mao
mulai menjajaki kemungkinan mendapatkan dukungan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

memperluaskan pengaruh ke negara-negara “Dunia Ketiga”,


yaitu negara-negara miskin di benua Afrika dan Amerika La-
tin. Negara-negara itu pun memandang China sebagai sekutu
yang potensial, mengingat China dipandang sebagai salah
satu kekuatan Asia yang bukan imperialis, sebagaimana hal-
nya Jepang di masa lampau. Selain itu, Mao terkenal murah
176 Republik Rakyat China

hati; ia sudah terkenal di seantero dunia komunisme sebagai


“Sinterklas dari Asia” yang membagi-bagikan bahan makanan
dan bantuan dalam bentuk lainnya ke berbagai negara.
Contohnya adalah Afrika, yang sempat dikunjungi Zhou
Enlai di akhir 1963. Pada awal 1964, ketika ia mengunjungi
Somalia, Zhou memaparkan “Delapan Prinsip” kerjasama
dan bantuan China pada negara-negara Afrika:
“China selalu mengutamakan prinsip kesetaraan dan sa-
ling menguntungkan dalam menyediakan bantuan pada
negara lain. China tidak pernah mengajukan persyaratan
untuk meminta perlakuan istimewa. China berusaha
sebisa mungkin untuk membantu meringankan beban
yang ditanggung oleh negara-negara penerima bantuan.
China bertujuan membantu negara penerima bantuan
untuk perlahan-lahan mencapai kemandirian dan per-
kembangan yang independen. China menekankan pada
proyek-proyek bantuan yang membutuhkan investasi
yang seminimal mungkin, namun memberikan hasil se-
banyak dan secepat mungkin. China akan menyediakan
peralatan dan material dengan kualitas terbaik hasil dari
industri kami sendiri. Dalam menyediakan bantuan tek-
nis, China akan mengusahakan agar teknisi dari negara
penerima bantuan dapat menguasai teknik-teknik yang
diajarkan itu. Para tenaga ahli China tidak diizinkan
untuk mengajukan permintaan khusus atau menikmati
http://facebook.com/indonesiapustaka

perlakuan istimewa.”
China juga memberikan komitmennya untuk mendukung
kemandirian politik negara penerima bantuan, seperti yang
diutarakan dalam “Lima Prinsip”:
Sementara Itu di Luar Negeri... 177

“China mendukung negara-negara Afrika dan Arab dalam


usahanya memerangi imperialisme dan kolonialisme da-
lam bentuk lama atau modern [neo-kolonialisme], untuk
merebut dan mempertahankan kemerdekaannya. China
mendukung kebijakan damai, netralitas, dan non-Blok
yang diambil oleh negara-negara Afrika dan Arab. China
mendukung keinginan negara-negara tersebut untuk
mencapai kesatuan dan solidaritas melalui cara-cara yang
mereka pilih sendiri. China mendukung negara-negara
tersebut dalam upaya mereka menyelesaikan perselisihan
melalui pembicaraan damai. China memegang teguh
keyakinan bahwa kedaulatan negara-negara Afrika dan
Arab harus dihormati oleh semua negara, dan bahwa pe-
langgaran dan campur tangan dari blok manapun harus
ditentang.”
Janji-janji manis ini dirasa cukup menggiurkan bagi negara-
negara Dunia Ketiga, dan banyak dari mereka yang mengam-
bil kesempatan ini untuk mengajukan permintaan bantuan.
Salah satunya adalah Tanzania dan Zambia, yang pada tahun
1970-1976 menyaksikan pembangunan rel kereta api sepan-
jang lebih dari 1.700 km dari Kapri Mposhi di Zambia ke
Dar-es-salaam di Tanzania. Jalur ini diselesaikan dengan biaya
500 juta dolar AS yang dipinjam dari China tanpa bunga.
Pembangunan jalur kereta api ini memungkinkan Zambia
untuk memiliki akses yang lebih besar ke pantai timur Afrika,
http://facebook.com/indonesiapustaka

sehingga memudahkan ekspor mineral dan batubara ke luar


negeri. Namun Jung Chang menulis bahwa Mao mengguna-
kan proyek-proyek semacam ini untuk membeli dukungan
negara-negara Afrika dan Liga Arab (yang diketuai oleh
Mesir) untuk mendukung China dalam konferensi Aljazair.
Konferensi ini pada akhirnya gagal dilakukan setelah adanya
178 Republik Rakyat China

kudeta bersenjata di Aljazair menggulingkan Presiden Ben


Bella yang didukung oleh Mao.
Bantuan lain – yang dirasa terlampau murah hati – adalah
bahan makanan. Bahkan selama masa kelaparan besar akibat
Lompatan Besar ke Depan pun, China tidak henti-hentinya
mengekspor bahan makanan ke luar negeri. Albania, Jerman
Timur, dan bahkan Uni Soviet pun adalah negara-negara
yang menikmati hasil keringat rakyat China yang sudah di-
peras kering itu. Baru setelah Liu Shaoqi mengambil alih ken-
dali pemerintahan dan membenahi berbagai kesalahan yang
ada, pemerintah China menghentikan ekspor bahan maka-
nan dan menurunkan kuota bahan pangan yang harus disetor
oleh petani. Bencana kelaparan pun berakhir dan petani ter-
selamatkan.
Namun yang paling diinginkan oleh China – oleh Mao,
lebih tepatnya – adalah dukungan komunis internasional dan
pengakuan negara-negara sosialis akan kepemimpinannya.
Setelah pecahnya hubungan dengan Uni Soviet, China yang
menganggap dirinya nomor 2 dalam hirarki kepemimpinan
dunia komunis, mencoba “menjegal” posisi yang selama ini
dipegang oleh Uni Soviet itu. Dukungan terdekat datang dari
Korea Utara yang telah merasakan manisnya darah yang di-
tumpahkan serdadu-serdadu PLA yang mempertahankan
wilayah mereka dari ancaman kehancuran di tangan Amerika
Serikat. Namun susah bagi Mao untuk mempertahankan du-
http://facebook.com/indonesiapustaka

kungan ini meski ia sudah membayar harga yang sangat mahal,


karena pada akhirnya Kim Il-sung perlahan-lahan mendekat
lagi ke Uni Soviet yang menurutnya “lebih bisa diandalkan”.
Jerman Timur pun juga lebih memilih Moskow dibanding-
kan Beijing, meski Mao sudah menyuapi mulut-mulut lapar
di Jerman Timur dengan daging sapi terbaik yang ia kirimkan,
Sementara Itu di Luar Negeri... 179

saat rakyat China menyuapi mulut mereka sendiri dengan da-


ging anak dan bayi mereka sendiri. Satu-satunya negara komu-
nis yang tetap setia mendukung China adalah Albania, yang
harus dibayar mahal oleh Mao dengan suplai bahan makanan
dan bantuan inansial yang luar biasa besar.
Mao tidak lantas merasa putus asa. Ia menolehkan pan-
dangan ke “musuh dari musuhnya”. Pada bulan Agustus
1965, Pakistan menyerang daerah perbatasan Jammu dan
Kashmir yang selama ini disengketakan dengan negara
tetangganya, India. Sebenarnya, India dan Pakistan adalah
satu negara yang sama-sama dijajah oleh Inggris di bawah
bendera koloni British India. Ketika Inggris meninggal-
kan India pada -Agustus 1947, mereka menyisakan masalah
akibat pertentangan abadi antara kaum Muslim dan Hindu
di India. Sebagai jalan tengah, Gubernur Jenderal India, Lord
Mountbatten – paman dari suami ratu Elizabeth II, Pangeran
Phillip Mountbatten – mengajukan ide pemisahan antara ke-
dua penganut agama berbeda itu, dan setelah dilakukan sur-
vei mendalam terhadap kondisi India, disepakati bahwa kaum
Muslim akan diberikan wilayah di daerah barat (Pakistan) dan
timur (Bangladesh), sementara bagian tengah akan didominasi
oleh kaum Hindu. Daerah Hindu ini kemudian berkembang
menjadi negara India, sedang bagian barat dan timur menjadi
negara terpisah dengan nama Pakistan. Pakistan Timur nanti-
nya akan memerdekakan diri di bawah bantuan India untuk
http://facebook.com/indonesiapustaka

menjadi negara Bangladesh.


Di tahun 1965, Mao memutuskan untuk membantu
Pakistan. Ia bersiap untuk mengobarkan perang dengan
India jika dibutuhkan. Mao tahu bahwa dengan mendukung
Pakistan, negara-negara Islam lain yang menaruh simpati
180 Republik Rakyat China

terhadap negara itu perlahan-lahan bisa dibujuk untuk men-


dukung China. Namun rencananya berantakan ketika pada
tanggal 23 September 1965, India dan Pakistan sepakat untuk
mengadakan gencatan senjata dan mengakhiri konlik.
Lagi-lagi, Mao memikirkan cara lain. Rencana cadangan-
nya ialah dengan memanfaatkan berbagai partai komunis di
negara-negara non-komunis. Rencananya, ia akan memperkuat
sayap militer partai-partai itu untuk kemudian melancarkan
revolusi berdarah untuk merebut kekuasaan di negara mereka.
Ia menyasar Partai Komunis Jepang yang saat itu dipimpin
oleh Miyamoto Kenji. Mao meyakinkan Miyamoto untuk
melakukan kudeta bersenjata, namun Miyamoto tidak mau
bertindak gegabah mengingat bahwa Jepang saat ini menjadi
sekutu dekat Amerika Serikat, dan setiap gerakan komunis
di sana pasti akan berada di bawah pengawasan ketat. Mao
kemudian mendekati Partai Komunis hailand dan meng-
hasut mereka untuk melancarkan pemberontakan bersenjata,
yang benar-benar terjadi di tanggal 7 Agustus 1965. Namun
upaya ini segera digagalkan oleh tentara yang setia pada raja.
Pandangan Mao akhirnya tertuju pada negara yang sangat
menggiurkan, karena tidak hanya kaya akan bahan mentah,
namun juga punya banyak penduduk miskin yang bisa di-
manfaatkan sebagai pengikut gerakan komunis. Negara itu
adalah Indonesia.
Komunisme di Indonesia bukanlah hal yang baru. Mena-
http://facebook.com/indonesiapustaka

riknya, baik Partai Komunis China maupun Partai Komu-


nis Indonesia (PKI) didirikan oleh yang sama, yaitu Henk
Sneevliet alias Maring, seorang komunis asal Belanda. Ke-
tika Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia dari
Jepang di tahun 1945, berbagai ideologi membentuk sayap
militer mereka sendiri, tak terkecuali PKI. Saat itu, gerakan
Sementara Itu di Luar Negeri... 181

Soekarno dan Mao


Ketika Soekarno berkunjung ke China di tahun 1956,
Mao memberikan sambutan yang sangat hangat.
Bahkan ketika Soekarno dikabarkan jatuh sakit pada tahun 1965,
Mao mengirimkan dokter-dokter terbaiknya untuk mengobati
presiden Indonesia itu. Namun, Mao mensponsori kegiatan PKI
dan setelah kudeta PKI digagalkan pada tahun 1965, Indonesia
memutuskan hubungan diplomatik dengan RRC sampai
akhirnya hubungan ini dipulihkan kembali tahun 1990.

mereka masih berada di bawah pengaruh Uni Soviet. Akibat


http://facebook.com/indonesiapustaka

ketidak-puasan terhadap pemerintahan Soekarno, Musso dan


Amir Sjarifoeddin, bekas Perdana Menteri di tahun 1947-
1948, memimpin pemberontakan PKI di Madiun, Jawa
Timur pada tahun 1948. Pemberontakan ini segera ditumpas
oleh pasukan pemerintah, dan kedua pemimpinnya ditang-
kap, lalu dieksekusi.
182 Republik Rakyat China

Namun tidak berarti PKI segera menjadi partai terlarang.


Memanfaatkan kebebasan berpolitik yang didengungkan pe-
merintahan Soekarno dengan mengadakan Pemilihan Umum
kali pertama di tahun 1955, PKI bangkit menjadi salah satu
entitas politik terkuat di samping Partai Nasional Indonesia
(partai asal Soekarno), Nahdlatul Ulama (NU) dan Muham-
madiyah yang menjadi wakil kaum Islam di dalam pemerin-
tahan. PKI menduduki peringkat ke-4 dalam perolehan suara
di tahun 1955, dengan kekuatan sekitar 3,5 juta pengikut.
Itu mendudukkan PKI sebagai partai komunis terbesar yang
berasal dari negara non-komunis.
Perlahan-lahan, Indonesia mulai menolak campur tangan
Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Setelah berhasil me-
nekan Belanda untuk menyerahkan koloninya di Papua lewat
Operasi Trikora, Soekarno berniat “mengembalikan” wilayah
Nusantara yang diduduki oleh negara imperialis lain, yaitu
Inggris. Koloni Malaya yang membentang dari perbatasan
hailand sampai ke Singapura, ditambah dengan Sabah dan
Serawak adalah sisa kekuatan kolonialisme global Inggris.
Pada tahun 1963, Inggris menganugerahkan kemerdekaan
pada bekas koloninya itu, yang kemudian membentuk federasi
negara-negara bekas koloni Inggris yang sebagian besar ma-
sih berbentuk kerajaan itu, dengan nama Federasi Malaysia.
Bersama dengan Filipina, Indonesia adalah penentang utama
dari berdirinya negara baru itu. Soekarno memandang ke-
beradaan Malaysia sebagai negara boneka kaum imperialisme
http://facebook.com/indonesiapustaka

baru, yang ia sebut “neo-kolonialisme” (Nekolim). Soekarno


yang baru saja memenangkan Papua Barat dari cengkeraman
Belanda, merasa lebih percaya diri kali ini. Namun yang tidak
ia sadari adalah bahwa kini seluruh blok Barat akan datang
memusuhinya jika ia nekat meneruskan niatnya itu. Ini yang
menjadi angin segar bagi Mao, yang melihat Indonesia sebagai
Sementara Itu di Luar Negeri... 183

negara yang potensial untuk ia giring masuk ke kubunya, dan


diubah menjadi negara komunis jika perlu.
Sebelumnya, Mao sudah mendekati Indonesia lewat Kon-
ferensi Asia-Afrika yang dilangsungkan di Bandung pada
tahun 1955. Mao mengutus Zhou Enlai untuk menghadiri
konferensi yang juga dihadiri oleh 29 negara dari Asia dan
Afrika itu. Dalam pidatonya yang ia sampaikan dalam kon-
ferensi itu, Zhou mendukung Soekarno dalam usahanya
menyatukan negara-negara miskin di Asia dan Afrika untuk
menentang imperialisme. Mao lebih lanjut menunjukkan
dukungan ini dengan memuji Soekarno secara langsung di
hadapan delegasi Indonesia yang berkunjung ke Beijing tahun
1961, sebagai “pemimpin dunia non-Blok, yang sedang hendak
dijegal oleh Nehru”. Nehru adalah Perdana Menteri India. Liu
Shaoqi juga mengamini kata-kata ini, dengan menyebutkan
bahwa Indonesia telah “menggantikan India sebagai poros
dari Dunia Ketiga dalam memerangi imperialisme dan kolo-
nialisme”.
Soekarno sendiri memang sejak lama diketahui memi-
liki kecondongan ke Blok Timur mengingat kedekatannya
dengan tokoh-tokoh komunis Indonesia. Kedekatannya ini
membuat Amerika mencurigai Soekarno hendak bergabung
dengan Blok Timur, mengingat segala tindak-tanduk
Soekarno yang semakin condong ke negara-negara komu-
nis dan anti-Barat. Dalam gerakan inkuisisi seni yang mirip
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan model Mao, Soekarno menentang segala bentuk


ekspresi seni yang ia nilai “kebarat-baratan”. Namun beda-
nya, Soekarno mendukung segala bentuk kebudayaan asli
Indonesia dan para seniman yang berusaha memajukan ke-
budayaan itu, tanpa membentuk kultus individu yang ber-
lebihan terhadap dirinya sendiri.
184 Republik Rakyat China

Amerika pernah berusaha menggulingkan Soekarno dengan


menghasut beberapa perwira tinggi militer untuk memberontak,
dengan nama Pemberontakan Rakyat Semesta (Permesta).
Namun Soekarno berhasil “menampar” wajah Gedung
Putih ketika seorang pilot AS, Allen Pope, ditembak jatuh di
Ambon tahun 1958 dan berhasil ditawan hidup-hidup. Pihak
Indonesia juga berhasil menyita sejumlah dokumen penting
yang membuktikan keterlibatan Amerika dalam penerbangan
Pope. Akhirnya Presiden Kennedy (yang menggantikan Pre-
siden Eisenhower) berusaha menyelamatkan wajah Amerika
dengan mengundang Soekarno secara pribadi ke AS. Meskipun
Soekarno memenuhi undangan ini, usaha AS untuk mendekat-
kan kembali Indonesia dengan negeri itu tetap tidak berhasil
karena pada tahun 1964 Soekarno dengan terbuka menentang
Amerika Serikat dengan keluar dari keanggotaan PBB. Soekarno
juga menunjukkan kecondongannya lebih lanjut dengan mem-
bentuk poros Jakarta-Beijing di tahun itu.
Namun orang yang benar-benar dipegang oleh Mao
bukanlah Soekarno, melainkanketua PKI, Dipa Nusantara
Aidit. Bersama dengan Njoto, Aidit pernah berkunjung ke
Moskow di tahun 1953 atas undangan Stalin, dan ia juga sem-
pat bertemu dengan Liu Shaoqi. Mao berhasil meyakinkan
Aidit bahwa China mendukung upaya PKI mendirikan negara
komunis di Indonesia. Aidit memanfaatkan kedekatannya
dengan Soekarno dan berhasil menyusupkan orang-orang
komunis ke dalam tubuh angkatan bersenjata Indonesia.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Namun ketika Aidit menyarankan agar pemerintah Indonesia


mempersenjatai kaum buruh dan petani, muncul tentangan
keras dari para perwira tinggi Angkatan Darat. Mao kemu-
dian berkata, “kapan pun ada kesempatan untuk merebut ke-
kuasaan, bangkitlah dan angkat senjata.” Mao merestui kudeta
bersenjata oleh PKI.
Sementara Itu di Luar Negeri... 185

Secara diam-diam, Aidit melatih sekelompok simpatisan


komunis yang menyusup dalam militer di sebuah lokasi ter-
pencil dekat pangkalan angkatan udara di Halim Perdanaku-
suma. Pada awalnya, Aidit merencanakan untuk melancarkan
aksi kudetanya paling cepat di tahun 1969, namun karena
Mao sudah menyatakan dukungannya, Aidit memajukan
tanggalnya menjadi awal bulan Oktober 1965, sebelum
Hari Angkatan Bersenjata Indonesia yang jatuh di tanggal 5
Oktober. Ini juga disebabkan karena Soekarno saat itu tengah
sakit, dan Mao berencana untuk mengambil aksi secepatnya,
karena menurut dokter-dokter China yang ia kirimkan di
bulan Agustus 1965, Soekarno tengah mengalami penyakit
ginjal parah dan mereka memperkirakan usianya tidak akan
panjang. Rencananya, Aidit akan melakukan kudeta dan men-
jadikan Soekarno presiden boneka, sementara dirinya sendiri
akan menjadi kepala pemerintahan. Setelahnya, Soekarno
akan dipindahkan ke China untuk memulihkan kesehatan,
dan Aidit akan mengambil alih kekuasaan sepenuhnya.
Pada malam hari di tanggal 30 September, sekelompok
pasukan yang berasal dari garda elit pengamanan presiden
yang dikenal dengan nama Resimen Tjakrabirawa berkumpul
di markas mereka di Lubang Buaya. Menurut versi sejarah
resmi pemerintah Indonesia semasa rezim Soeharto, Aidit ada
di sana memberikan pengarahan. Pasukan itu diberi sebuah
daftar berisi nama-nama perwira tinggi militer Indonesia
yang dipandang PKI sebagai hambatan, termasuk di dalam-
http://facebook.com/indonesiapustaka

nya adalah Menteri Pertahanan dan Keamanan sekaligus


Panglima Angkatan Bersenjata, Jenderal A. H. Nasution, dan
Kepala Staf AD Jenderal Ahmad Yani. Keduanya dipandang
PKI sebagai ancaman, terlebih setelah bocornya “Dokumen
Gilchrist” yang diduga dibuat oleh CIA yang isinya me-
maparkan rencana AS mensponsori kudeta militer untuk
186 Republik Rakyat China

menggulingkan Soekarno dan mendirikan junta militer


di Indonesia. Aidit menuduh kedua jenderal itu – bersama
dengan 5 jenderal lainnya – merupakan anggota dari “Dewan
Jenderal” yang hendak melancarkan kudeta dan merebut ke-
kuasaan.
Namun Nasution berhasil lolos ketika para penculiknya
salah mengenali ajudan Nasution, Pierre Tendean, sebagai
Nasution. Enam jenderal yang lain – termasuk Ahmad Yani
– diculik dari rumah mereka dan dibunuh di Lubang Buaya,
tempat pelatihan militer rahasia PKI di dekat pangkalan udara
Halim Perdanakusuma. Setelah membunuh para jenderal itu,
pasukan dari gerakan yang kemudian dikenal dengan nama
Gerakan 30 September (G30S) itu segera mengambil alih
objek vital di ibukota Jakarta, seperti stasiun radio. Mereka
kemudian mengumumkan gerakan itu lewat radio, dan Aidit
menyatakan dukungannya pada tanggal 2 September.
Aidit telah salah menghitung kekuatannya. Ia melewatkan
satu nama penting, yaitu Soeharto, seorang jenderal yang tidak
terlalu terkenal pada masa itu, namun langsung melejit nama-
nya mengingat para perwira tinggi di atasnya sudah tewas ter-
bunuh (kecuali Nasution). Soeharto langsung mengambil alih
kendali keamanan, memberantas gerakan kudeta itu, dan me-
nemukan jenasah para jenderal yang sudah mulai membusuk
itu untuk dipakai sebagai bukti pemberontakan gagal itu.
Pasukan Angkatan Darat langsung memburu para simpatisan
komunis, dan Aidit – yang sempat lari ke kota Surakarta –
http://facebook.com/indonesiapustaka

berhasil ditangkap hidup-hidup. Ia kemudian dieksekusi di


markas militer di Boyolali, dan jenasahnya dibuang ke sebuah
sumur di tanggal 22 November 1965.
Soeharto langsung mengumumkan bahwa PKI adalah da-
lang di balik upaya kudeta 30 September (sehingga muncul
Sementara Itu di Luar Negeri... 187

sebutan G30S/PKI), dan menyatakan bahwa PKI dan komu-


nisme adalah gerakan terlarang. Ia kemudian melancarkan
kampanye pembersihan terhadap anggota PKI, di mana
hampir 2 juta simpatisan dan kader PKI diburu dan ditang-
kap, kemudian dieksekusi oleh militer ataupun massa yang
marah. Sejak saat itu, komunisme dinyatakan sebagai paham
terlarang di Indonesia, dan barangsiapa yang menganut atau
menyebarkan ideologi ini akan segera menghadapi hukuman
penjara. Soekarno digantikan oleh Soeharto lewat sidang
parlemen di tahun 1967, dan Soeharto menjadi presiden
Indonesia yang menerapkan kebijakan pro-Barat. Indonesia
kemudian menjadi salah satu sekutu terdekat Amerika Serikat
di kawasan Asia Tenggara. Soeharto mengakhiri konfrontasi
dengan Malaysia dan membuka hubungan diplomatik dengan
negara tetangganya itu, termasuk pada akhirnya membentuk
asosiasi negara Asia Tenggara, ASEAN. Mengingat peran
China dalam kudeta G30S, Indonesia kemudian memu-
tuskan hubungan diplomatik dengan China, dan orang-orang
China di Indonesia ditempatkandi bawah pengawasan ketat
pemerintah, sampai-sampai rezim Soeharto melarang segala
bentuk kebudayaan China untuk dipertunjukkan secara ter-
buka. Semua buku atau karya seni berbau China harus mele-
wati serangkaian sensor yang amat ketat.
Kegagalan ini merupakan sebuah pukulan berat bagi upaya
Mao mengkomuniskan Asia. Mao menyalahkan kegagalan ini
http://facebook.com/indonesiapustaka

pada PKI yang “terlalu melebih-lebihkan kekuatan mereka


dan kedekatan dengan Soekarno”, dan karena PKI “menyerah
sebelum berjuang”. Kebanyakan kader dan simpatisan PKI
adalah kaum buruh dan petani yang memang tidak punya
akses terhadap persenjataan dan pelatihan militer, sehingga
mudah untuk ditangkap tanpa perlawanan dan dihabisi.
188 Republik Rakyat China

Namun bukan berarti Mao gagal total di panggung du-


nia. Khmer Merah yang dipimpin oleh Pol Pot, menerapkan
model-model Maoisme di Kamboja, termasuk dengan mem-
bantai penduduk sipil yang dicurigai sebagai “kaum Kanan”
ketika mereka berkuasa di negeri itu. Partai-partai komunis di
berbagai negara juga mengusung Maoisme, dan salah satu dari
mereka, yaitu Partai Komunis Nepal, bahkan memegang pe-
merintahan lewat pemilihan umum setelah mayoritas rakyat
Nepal memilih untuk mengakhiri monarki absolut di bawah
pimpinan Raja Gyanendra di tahun 2008.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka

(1965-1976)
Ketua Mao yang Agung
http://facebook.com/indonesiapustaka
Madame Mao

China di masa dekade 60-an sampai 70-an adalah sebuah du-


nia yang gelap, yang penuh dengan intimidasi dan ketidak-
pastian. Semua suara sumbang akan dibungkam, dan mereka
yang menyuarakannya akan segera ditangkap oleh massa yang
isinya adalah gerombolan remaja dan anak-anak muda, yang
dipenuhi dengan euforia pemujaan akan igur Mao Zedong.
Itulah yang kemudian dikenal sebagai “Revolusi Kebudaya-
an Agung Kaum Proletar”. Siapakah dalang utama di balik
gerakan ini? Tentu saja adalah Mao sendiri. Namun untuk
membuat citra bersih bagi dirinya – yang terus bertahan
sampai saat ini – Mao “meminjam” tangan orang lain un-
tuk melakukan pekerjaan kotornya, orang-orang yang akan
dikenal sebagai “Geng Empat”. Salah satunya adalah istrinya
sendiri, “Madame Mao” alias Jiang Qing.
Sepanjang sejarahnya, China adalah sebuah negara dengan
konsep patrilineal yang sangat kuat. Laki-laki mendominasi
segala sendi kehidupan di China, dari keluarga hingga
pemerintahan, dari urusan pintu depan sampai kamar tidur.
Perempuan selalu ditempatkan di dapur atau di balik kamar-
kamar para suami yang dominan, untuk sekedar jadi barang
pajangan atau mesin penghasil keturunan, penerus nama
keluarga. Perempuan tidak pernah punya hak untuk me-
http://facebook.com/indonesiapustaka

nyampaikan suara, bahkan ada sebuah pameo yang mengata-


kan, “saat gadis, patuh pada orang tua; setelah menikah, patuh
pada suami; setelah menjanda, patuh pada anak laki-laki”.
Tidak banyak igur perempuan yang mewarnai sejarah
China secara signiikan. Kalau pun ada, hampir sebagian
192 Republik Rakyat China

besar selalu dijadikan kambing hitam bagi kebobrokan sebuah


pemerintahan atau sumber bencana bagi negara. Daji, selir
kesayangan raja Zhou dari Shang, dijadikan kambing hitam
bagi kebrutalan sang raja dan ambruknya dinasti itu. Yang
Yuhuan, selir kesayangan kaisar Xuanzong dari dinasti Tang,
dipersalahkan sebagai penyebab pemberontakan An-Shi yang
hampir merubuhkan kekuasaan kekaisaran. Dan tentu saja
yang paling dekat dengan masa sekarang, Ibusuri Cixi, adalah
igur perempuan penguasa yang terus-menerus dicaci oleh
pembenci kekaisaran dan pembenci bangsa Manchu itu sen-
diri. Ia dituding sebagai penyebab kemunduran pemerintahan
dinasti Qing, serangkaian kekalahan memalukan dari bangsa
asing, sampai tamatnya sistem kekaisaran yang sudah berusia
ribuan tahun itu.
Konsep kekuasaan di China selalu memasang garis batas
tabu yang tidak boleh dilewati oleh para perempuan. Namun
ada juga mereka yang berani melangkah melewati garis batas
itu, dan berhasil dengan cara mereka sendiri. Seperti Wu Ze-
tian dari dinasti Tang, selir kaisar Taizong dari Tang dan per-
maisuri kaisar Gaozong dari Tang, memainkan peranannya
dengan sangat cantik dan elegan, menggunakan kecerdasan
otaknya dan kecantikan wajahnya, dan menjadi satu-satunya
perempuan yang duduk di atas tahta naga atas namanya sen-
diri, sebagai kaisar bagi seluruh China. Atau Ibusuri Agung
Xiaozhuangren dari dinasti Qing, permaisuri, ibu, sekaligus
nenek bagi para kaisar di masa awal berdirinya dinasti Qing,
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang menjadi pembimbing dan penasehat bagi kaisar Kangxi


yang Agung, yang meletakkan dasar bagi persatuan wilayah
China saat ini.
Para penguasa China modern juga punya sosok perempuan
di balik keberhasilan mereka. Jika Sun Yat-sen, sang pendiri
Madame Mao 193

China punya Song Qingling; Chiang Kai-shek sang generalis-


simo Nasionalis punya Song Meiling, maka Mao Zedong juga
punya “permaisuri” di balik tirai kursi kekuasaannya. Orang
itu adalah Jiang Qing, yang dikenal dunia sebagai “Nyonya
Mao”.
Sebenarnya sebutan Nyonya Mao ini tidak hanya disan-
dang oleh Jiang Qing seorang. Sebagaimana pria China di
zaman itu, Mao berkali-kali menikah selama masa hidupnya,
selain juga gemar main perempuan. Istri pertamanya adalah
Luo Yigu, gadis desa yang dijodohkan oleh orang tuanya ke-
tika ia masih belia. Mao tidak pernah menganggapnya sebagai
istri, dan saat baru menikah selama 4 tahun, nyonya muda itu
meninggal dunia. Mao kemudian menikah kali kedua dengan
Yang Kaihui saat menjadi guru, dan pasangan ini memiliki 3
orang anak. Namun ketika pemerintah melakukan gerakan
penangkapan terhadap orang-orang komunis di tahun 1930,
Artis Kenamaan
Shanghai
Semasa mudanya, Jiang
Qing adalah artis kenamaan
yang menghiasi berbagai
sinema layar perak di China.
Memasuki Partai Komunis di
tahun 1933 membuat karirnya
melejit, sekaligus dicurigai
oleh pemerintah Nasionalis
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang menangkapnya
setahun kemudian. Karena
kepandaiannya bernyanyi
opera, Jiang Qing mendapat-
kan perlakuan istimewa dan
bahkan dilepaskan 8 bulan
kemudian.
194 Republik Rakyat China

nyonya Mao ini ditangkap dan ditembak mati di depan anak


tertuanya, Mao Anying. Namun Mao sendiri – yang tidak
peduli dengan keadaan Yang Kaihui – sudah menikah lagi
bahkan sebelum Yang ditangkap dan dibunuh, kali ini dengan
He Zhizhen, seorang gadis revolusioner yang sangat mena-
rik bagi Mao. He juga yang mendampingi Mao menempuh
Perjalanan Panjang yang terkenal itu. Namun ketika He di-
kirimkan ke Moskow untuk belajar sambil memulihkan luka-
lukanya akibat Perjalanan Panjang, Mao tiba-tiba menikah
lagi. Kali ini, ia memilih seorang bintang panggung berparas
cantik yang baru saja meninggalkan hingar-bingar Shanghai
yang gemerlap ke markas komunis yang lusuh dan terbela-
kang di pedalaman China. Gadis itu adalah Jiang Qing.
Sesungguhnya, Jiang Qing bukanlah nama asli perempuan
itu. Ia dilahirkan sebagai Li Shumeng. Shumeng, nama yang
berarti “Murni dan Sederhana” ini diberikan sebagai sebuah
harapan besar, karenaibunya hanyalah istri muda ayahnya,
yang sudah punya beberapa anak sebelum gadis kecil itu
lahir. Ayahnya adalah seorang yang kasar dan sering main
tangan. Ketika ayah dan ibunya bertengkar setelah sebuah
insiden di saat Festival Lentera (Yuanxiaojie) – hari raya yang
mengakhiri 15 hari perayaan tahun baru Imlek, ibunya me-
milih untuk hengkang dari rumah keluarga itu dan berkelana
bersama dengan anak perempuannya itu. Janda muda yang
masih cantik itu segera menemukan dirinya berpindah dari
satu tempat ke tempat lain, sebagai pembantu rumah tangga
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang dirumorkan – oleh berbagai sejarawan – tidak hanya


membersihkan rumah atau memasak, namun juga melayani
“urusan kamar”. Akibatnya, Shumeng kecil tumbuh dalam
suasana sekitar yang penuh kekerasan dan rasa malu. Sebagai
anak tanpa ayah dengan ibu yang tidak pernah sepi dari gosip,
Shumeng selalu menjadi objek intimidasi dan penghinaan dari
Madame Mao 195

anak-anak sebayanya. Ia tak punya igur seorang ayah untuk


membelanya dan menjadi pelindung baginya. Mungkin ini-
lah sebabnya mengapa sepanjang hidupnya ia seperti selalu
haus akan kasih sayang seorang pria.
Ketika keadaan menjadi sulit, ibu Shumeng memutuskan
untuk menjual semua yang mereka punya dan membeli tiket
pulang ke kampung halaman mereka di Jinan, ibukota provinsi
Shandong. Ibu Shumeng membawa anaknya itu kembali ke
rumah orang tuanya di sana. Sekitar 1 atau 2 tahun kemudian,
ibunya membawa anaknya ke Tianjin, sebuah kota pelabuhan
penting di dekat ibukota Beijing. Di sanalah Shumeng – yang
sudah diganti namanya menjadi Yunhe, “Burung Bangau di
Tengah Awan” – merasakan pekerjaan pertamanya sebagai
buruh anak-anak pelinting rokok. Perlahan-lahan ibunya
mulai menghilang dari kehidupannya, ada yang mengatakan
kalau janda malang itu sudah meninggal, ada pula yang me-
ngatakan ibunya menikah lagi dengan orang lain.
Yunhe yang mulai beranjak remaja menemukan dirinya
tanpa pegangan. Kakeknya yang seorang guru tidak mampu
mengekang sifat Yunhe belia yang keras, liar, dan haus akan
petualangan. Inilah yang kemudian membawanya ke dunia
seni pertunjukan. Ia masuk ke sebuah rombongan teater tidak
resmi yang bermarkas di distrik Licheng di pinggiran kota
Jinan. Mereka membawa Yunhe berkeliling mengadakan per-
tunjukan drama atau opera di Jinan dan daerah sekitarnya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Di sinilah minatnya terhadap seni panggung mulai muncul,


dan mewarnai kehidupannya sampai akhir hayatnya nanti.
Di sinilah juga Yunhe mulai menggunakan pesona wajah-
nya dan kemolekan tubuhnya sebagai senjata untuk merebut
simpati kaum pria berpengaruh. Namun lambat laun bosnya
yang ringan tangan mulai memperlakukannya dengan buruk,
196 Republik Rakyat China

sehingga Yunhe memutuskan untuk keluar – itu pun setelah


kakeknya membayar “harga yang pantas” untuk membawa
cucunya itu pulang.
Pada akhirnya, Yunhe tidak betah berlama-lama diam
di rumah tanpa melakukan apa-apa. Ia tidak menyia-nyia-
kan kesempatan untuk pergi, yaitu saat pemerintah setem-
pat mensponsori berdirinya Akademi Seni Eksperimental
di kota Jinan. Ia segera mendaftar dan diterima. Tempat itu
seakan menjadi surga bagi bakat seninya yang berkembang,
dan rekan-rekan sekelasnya mengenalnya sebagai seorang
murid yang tekun dan rajin, namun tetap keras kepala dan
tak mau dibantah. Kesempatan muncul baginya ketika Aka-
demi mengadakan pertunjukan rutin untuk memamerkan
bakat teatrikal murid-muridnya, dan di sebuah pertunjukan
di hari Senin – yang penontonnya tidak seramai di akhir pe-
kan – Yunhe membuktikan bahwa ia bukanlah calon bintang
yang bisa dipandang sebelah mata. Dengan akting yang sangat
meyakinkan dan menjiwai, Yunhe yang mengambil peran uta-
ma sebagai seorang pahlawan wanita yang tragis dalam drama
berjudul “Tragedi di Sebuah Danau”, karya seorang dramawan
terkemuka saat itu, Tian Han. Ia seakan terhanyut dalam pe-
rannya itu, dan menjiwai setiap seluk-beluk tokoh tragis yang
ia perankanitu, sehingga ia mampu menguras air mata penon-
tonnya yang langsung menyanjung-nyanjung penampilannya
bahkan sampai berhari-hari setelah pertunjukan itu usai.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Sayangnya, Akademi ditutup pada akhir 1930 akibat per-


tikaian politik di Shandong. Yunhe sempat mencoba perun-
tungannya di Beijing, namun karena kesulitan ekonomi ia
memutuskan kembali ke Jinan. Di sanalah ia akhirnya menikah
dengan tuan muda Fei, seorang pemuda baik-baik yang ber-
asal dari keluarga berada. Nyonya muda ini menemukan diri-
Madame Mao 197

nya hidup berkecukupan sebagai seorang istri, namun Yunhe


bukanlah istri yang umum sebagaimana istri-istri muda lainnya
yang segera dikekang dalam sistem keluarga China yang ketat,
yang membatasi peranan perempuan di balik tirai dapur dan
kelambu ranjang. Yunhe tidak suka mengerjakan rumah, ku-
rang bisa menghormati anggota keluarga lain yang lebih tua,
dan ia tidak mau disuruh-suruh. Akibatnya,pelan-pelan suami-
nya merasa tidak cocok dengan kelakuan istrinya ini, sehingga
keluarga baru ini segera diwarnai cekcok dan ketidak-cocokan.
Fei tidak punya pilihan lain selain menceraikan istrinya yang
cantik ini. Yunhe kemudian pergi dari keluarga itu.
Gairah petualangan kembali membara dalam hatinya,
apalagi kini ia tak punya tempat untuk bernaung. Ia memu-
tuskan untuk hengkang dari kota itu dan meninggalkan masa
lalunya di belakang, dan pola ini akan terus terulang mana-
kala ia menemukan kekecewaan dalam kehidupan cinta. Saat
itu, ada sebuah kota lain yang cukup menjanjikan, di ujung
semenanjung Shandong yang menjorok ke laut Bohai. Kota
itu adalah Qingdao, sebuah kota pelabuhan yang awalnya di-
kuasai oleh Jerman. Jerman membangun Qingdao menjadi
sebuah kota perbentengan maritim yang kuat, yang dipenuhi
dengan bangunan modern bergaya Eropa layaknya di Jerman
sana. Namun ketika pecah Perang Dunia I, Jepang menyata-
kan perang terhadap Jerman dan dengan cepat menduduki
wilayah-wilayah konsesi Jerman di China dan Pasiik, ter-
masuk di antaranya adalah Qingdao. Kota ini juga menjadi
http://facebook.com/indonesiapustaka

penyebab demonstrasi besar-besaran di bulan Mei 1919, se-


buah peristiwa yang dianggap sebagai tonggak kebangkitan
generasi muda dan gelombang kebudayaan baru di China,
termasuk awal lahirnya komunisme di China.
Yunhe menghubungi dekannya semasa di Jinan dulu, yaitu
Zhou Taimou. Yunhe mendengar bahwa mantan dekannya
198 Republik Rakyat China

ini kini mendirikan universitas baru di kota pelabuhan itu.


Berharap untuk mendapatkan rekomendasi, Yunhe berkemas
dan pergi ke Qingdao untuk memulai awal baru. Sayangnya
sang dekan tidak menerimanya dengan baik, namun itu tidak
lantas membuat Yunhe putus asa. Ia mencoba “jalan belakang”,
yaitu lewat nyonya Zhou. Nyonya ini sendiri adalah seorang
aktris opera Beijing yang terkenal, dan seperti suaminya, ia
mengajarkan seni drama kepada murid-murid di universitas
itu. Nyonya itu mau menerima Yunhe, dan memberikannya
pekerjaan sebagai penjaga perpustakaan di kampus.
Sebagai seorang gadis muda yang tengah mekar, Yunhe
segera menemukan penggemar baru. Kali ini, adik laki-laki
nyonya Zhou, Yu Qiwei, seorang pria tampan yang terpelajar.
Mereka segera terlibat hubungan asmara, dan dari Yu-lah
– yang adalah seorang pentolan komunis bawah tanah di
Qingdao – Yunhe mengawali perkenalannya dengan gerakan
komunis China. Yunhe kemudian secara resmi bergabung
dengan kelompok artis dan penulis sayap kiri yang mulai ber-
pengaruh di Qingdao, dan kemudian dengan Partai Komunis
China itu sendiri, di tahun 1933. Sayangnya, ketika Chiang
Kai-shek memenangkan perang berkepanjangan melawan
raja-raja perang di utara, ia melakukan pembersihan terhadap
orang-orang komunis di Qingdao. Yu Qiwei termasuk dari
orang-orang yang ditangkap dan ditahan. Meskipun akhirnya
Yu dilepaskan berkat pengaruh pamannya yang menjadi se-
orang pejabat senior di Nanking, pasangan itu akhirnya ber-
http://facebook.com/indonesiapustaka

pisah karena Yu mendapat tugas baru dari Partai Komunis


untuk pergi ke Beijing, yang saat itu namanya sudah diubah
menjadi Beiping.
Lagi-lagi ia ditinggalkan seorang diri, tanpa siapapun yang
bisa dijadikan pegangan. Sebagai seorang janda kembang
Madame Mao 199

yang masih cantik, penuh cita-cita dan mimpi yang tinggi,


namun keras dan tahk mau ditentang oleh siapa pun, Yunhe
akhirnya memutuskan untuk lagi-lagi hengkang dari Qingdao
dan meninggalkan masa lalunya di sana. Sebuah kota dengan
daya tarik yang amat kuat seakan menjadi magnet yang me-
narik bagi Yunhe untuk terjun ke dalam hingar-bingarnya,
kota yang dikenal dengan berbagai julukan, dari “Mutiara
Oriental” sampai “Paris dari Timur”, sekaligus markas ter-
kemuka dari Partai Komunis China.
Shanghai. Kota di muara sungai Huangpu ini adalah se-
buah pelabuhan besar dan penting di China bagian tengah.
Kota yang pada awalnya hanyalah delta hasil endapan lumpur
dari sungai Yangtze, kini sudah berkembang menjadi sebuah
kota internasional yang dijadikan rumah oleh orang-orang
ekspatriat dari berbagai negara, dari Inggris, Amerika, sam-
pai Jepang. Shanghai menjadi pusat urbanisasi yang menarik
orang-orang untuk berduyun-duyun mendatanginya, seperti
serangga malam yang berkerumun di sekitar terangnya
gemerlap cahaya yang menyilaukan. Yunhe pun salah satu
dari serangga malam itu, yang mencoba mencari hidup baru
di tengah kilauan Shanghai yang dipantulkan sungai Pujiang
yang riak-riaknya merajuk di muka deretan gedung-gedung
tinggi dengan ornamen mewah di kawasan yang terkenal seba-
gai “he Bund”. Yunhe tiba di sini setelah menumpang kapal
uap dari Qingdao dalam sebuah perjalanan yang melelahkan;
ia sampai muntah berulang-ulang di atas kapal karena gon-
http://facebook.com/indonesiapustaka

cangan ombak yang cukup keras. Namun ia tak punya waktu


untuk berlama-lama dalam mabuk lautnya, karena ia harus
segera mengejar karir dan mimpinya di tengah gemerlap kota
yang penuh dengan persaingan dan nafsu seksual itu.
Enam tahun sebelum kedatangannya, atau di tahun 1927,
Chiang Kai-shek pernah memerintahkan pembantaian besar-
200 Republik Rakyat China

besaran terhadap orang komunis di Shanghai. Mereka yang


masih bertahan, terpaksa menempuh perjuangan bawah tanah
sambil mengendalikan birokrasi partai komunis yang sayap
militernya tengah mengadakan pemberontakan petani di
berbagai kantong-kantong wilayah pedalaman China tengah
dan selatan. Saat Yunhe, gadis berumur 19 tahun itu datang
di tahun 1933, Partai Komunis yang tengah berada di ujung
tanduk menuju jurang kehancuran sudah berhasil menemu-
kan tempat bergantung yang aman, akibat gencarnya penyu-
supan yang dilakukan oleh kader-kader partai. Salah satunya
adalah dunia teater, yang penuh sisi gelap di tengah gemerlap,
dunia labirin yang akan segera dimasuki oleh Yunhe.
Kali ini ia memutuskan untuk mendekati dramawan
berpengaruh, yang karyanya pernah ia pentaskan semasa di
Akademi dulu. Tian Han, orang itu, adalah seorang drama-
wan lulusan akademi seni terkemuka di Jepang, sekaligus
pria romantis yang tampan dan mempesona, yang terbiasa
dengan kehidupan glamor ala gentleman yang biasa dikeli-
lingi gadis cantik. Namun Tian Han yang terlalu sibuk tidak
mampu meluangkan waktu untuk berurusan dengan Yunhe,
sehingga gadis muda ini kemudian dipercayakan kepada adik
Tian Han yang bernama Tian Hong, seorang pria yang dise-
but “pengekor kakaknya”, “bukan seorang artis, tapi seorang
idiot”. Tian Han sendiri adalah seorang komunis, dan pada
akhirnya keanggotaan Yunhe dalam Partai Komunis mem-
http://facebook.com/indonesiapustaka

bantunya merangkak ke dalam lapangan pandang Tian Han.


Yunhe segera menemukan dirinya disibukkan dengan berbagai
latihan pertunjukkan, menyebarkan lealet berbau komunis
yang disamarkan di balik sentimen anti-Jepang, sampai pada
kegiatan paruh waktu sebagai pengajar di sekolah malam un-
tuk kaum buruh dan pekerja toko di Shanghai.
Madame Mao 201

Tetapi gaya hidupnya cukup glamor untuk gadis seusianya,


untuk perempuan muda yang tak punya penghasilan tetap se-
perti dirinya. Untuk membiayai gaya hidupnya ini, ia sampai
kehabisan uang dan bahkan tak punya uang receh untuk mem-
bayar tiket trem (kereta tengah kota). Ia juga tak punya uang
untuk makan, sampai-sampai seorang rekan sekamarnya per-
nah menyembunyikan nasi dan telur rebus dari meja makan
majikannya untuk diberikan pada Yunhe. Di tengah-tengah
kekacauan hidup ini, Yunhe juga pergi dari tempat tinggal
keluarga Tian, dan sempat menumpang di sebuah keluarga
bernama Liao. Ia akhirnya pergi tak lama kemudian setelah
nyonya Liao yang pencemburu bertengkar dengan suaminya
gara-gara Yunhe.
Sementara itu, Yunhe masih setia dengan peranannya se-
bagai kader komunis. Ia terlibat dalam berbagai pertunjukan
yang dimainkan oleh artis-artis sayap kiri, atau bergabung
dengan para demonstran yang berbaris rapi dengan slogan-
slogan mereka di sepanjang jalanan kota Shanghai, mempro-
tes pemerintah atau orang Jepang. Tak jarang pula ia harus
kucing-kucingan dengan polisi lokal ataupun polisi kawasan
pemukiman internasional, yang membawa misi pemerintah
Nanking membasmi sisa-sisa simpatisan dan kader komunis
yang masih bercokol di Shanghai.
Namun semua rutinitas itu lama-lama membuatnya bo-
san, dan entah kenapa, ia meninggalkan gemerlap Shanghai
di musim dingin tahun 1933 dan mencoba peruntungannya
http://facebook.com/indonesiapustaka

di Beiping – atau mungkin juga untuk bergabung kembali


dengan cinta lamanya yang hilang, Yu Qiwei. Kali ini ia ber-
harap, Yu bisa membantunya masuk ke dalam lingkungan
papan atas partai di Shanghai, sebagaimana yang Yu lakukan
semasa di Qingdao dulu. Mereka lagi-lagi tinggal serumah,
dan bahkan biograi Jiang Qing sempat menyebutkan bahwa
202 Republik Rakyat China

gadis muda itu sempat hamil, meskipun ia kemudian memu-


tuskan untuk menggugurkan kandungannya. Tetapi Beiping
tidak menjanjikan apa-apa, dan tidak juga memberikan apa-
apa selain rasa kecewa dan pertengkaran dengan pria yang
menjadi cinta lamanya itu. Begitu musim berganti, Yunhe
akhirnya memutuskan kembali ke Shanghai.
Setidaknya Yu menepati janjinya dengan memberikan
rekomendasi bagi gadis itu untuk masuk ke jajaran ling-
kungan tertinggi partai di Shanghai. Namun seperti dua sisi
mata uang, rekomendasi ini harus dibayar dengan risiko yang
tinggi pula. Di sanalah ia menemukan seorang pria tampan
yang kebetulan pernah ia kenal di Qingao, yang saat itu be-
kerja sebagai seorang kasir sekaligus kader komunis. Mereka
berkali-kali bertemu dan Yunhe yang merasa putus asa da-
lam cinta berharap menemukan cinta yang baru dalam diri
pria itu. Namun hal ini membawa celaka, karena dua orang
polisi pemerintah berpakaian preman yang sedari tadi meng-
ikuti pria itu, segera menangkap Yunhe dan membawanya

Istri Sang Ketua


Ketika Mao melarikan diri
ke kota Yan’an, Jiang Qing
dan beberapa orang kader
komunis dari Shanghai
segera bergabung di kota
pedalaman itu. Dengan
pesonanya sebagai gadis
http://facebook.com/indonesiapustaka

muda yang cantik, Jiang


Qing berhasil memikat
Mao yang menjadikannya
istri barunya. Jiang men-
jadi istri Mao sampai akhir
hidup sang Ketua.
Madame Mao 203

ke kantor polisi untuk diinterogasi setelah Yunhe bertemu


dengan pria itu. Mereka menggeledah gadis itu dan mene-
mukan sebuah edisi majalah “Pengetahuan Dunia” dari balik
bajunya – majalah itu dikenal sebagai majalah radikal sayap
kiri. Dengan bukti yang kuat, polisi menjebloskan Yunhe ke
dalam ruang tahanan khusus perempuan di lantai dua kantor
polisi itu. Karena tidak dianggap berbahaya, Yunhe kemudian
dilepaskan, namun tanpa sepengetahuannya agen rahasia pe-
merintah terus menguntitnya, berharap untuk menggunakan
sifat Yunhe yang sering ceroboh dan terlalu berani untuk me-
mancing orang-orang komunis untuk keluar dari persembu-
nyian mereka.
Hanya beberapa bulan setelah dilepaskan, Yunhe lagi-lagi
ditangkap oleh agen pemerintah, kali ini tanpa alasan yang
jelas di bulan Oktober 1934. Ia segera dijebloskan ke penjara
dan menghabiskan 8 bulan di sana. Memoirnya menyebutkan
bahwa ia diperlakukan dengan kasar, sering dilecehkan, dan
ia mengalami penderitaan akibat kekecewaan yang berujung
pada sakit demam dan menggigil silih berganti di siang hari.
Namun sumber lain menyebutkan bahwa Yunhe mendapat-
kan perlakuan yang sangat istimewa di dalam penjara, karena
ia “bernyanyi” di depan para sipir penjara, baik “menyanyi-
kan” lagu-lagu terkenal dari opera Beijing yang sangat dige-
mari oleh mereka, ataupun “menyanyikan” nama-nama orang
komunis yang ia serahkan begitu saja dalam interogasi yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

lebih mirip obrolan gosip. Dengan mudahnya pun Yunhe me-


nyebut komunisme sebagai “paham yang tidak masuk akal”,
dan dengan fasihnya ia mengulang “Tiga Prinsip Rakyat” –
ideologi utama pemerintahan Nasonalisme. Ia pun kemudian
dilepaskan, dalam keadaan kurus dan lemah akibat “pen-
deritaan” selama di dalam penjara.
204 Republik Rakyat China

Setelah berhasil keluar dari penjara, Yunhe memilih untuk


lebih berhati-hati. Ia mengganti namanya menjadi Lan Ping,
“Apel Biru”. Berbekal sebuah rekomendasi, Lan Ping ikut
masuk dalam sebuah pertunjukan terkenal berjudul A Doll’s
House (Rumah Boneka), dan ia menjadi bintang utamanya,
memerankan seorang gadis muda dengan jiwa pemberontak
bernama Nora. Pertunjukan yang dimainkan selama 2 bulan
ini membuatnya terkenal, dan berbagai sutradara mulai meng-
gunakannya dalam ilm mereka. Maka Lan Ping kini men-
jadi seorang aktris terkenal di Shanghai, dan pujian kritikus
ilm terhadap penampilannya di layar perak sering menghiasi
surat-surat kabar di kota itu. Sebagai seorang aktris muda,
menawan, dan sedang naik daun, Lan Ping pun tetap men-
jadi semacam “tropi bergilir”. Ia sempat berkencan dengan
seorang pemain sepakbola bernama Li, namun hubungan me-
reka berakhir singkat. Setelah itu ia selalu dirumorkan berhu-
bungan gelap dengan sutradara ini atau sutradara itu, bahkan
nama panggungnya “Lan Ping” sering diplesetkan menjadi
“Lan Pingguo” atau “apel busuk”.
Ia kemudian tetap bergonta-ganti pacar, sampai akhirnya
jatuh ke pelukan seorang editor surat kabar bernama Tang
Na. Sebagai seorang pria muda dan tampan, Tang tidak ber-
keberatan dengan masa lalu Lan Ping ataupun status rahasia
gadis muda itu sebagai agen Partai Komunis. Mereka kemu-
dian tinggal bersama. Mereka sempat cekcok dan memu-
tuskan untuk berpisah. Namun setelah Tang Na jatuh dalam
http://facebook.com/indonesiapustaka

depresi dan mencoba bunuh diri, Lan Ping memilih untuk


menerima pria itu kembali. Tak lama kemudian, kesehatan
Lan Ping memburuk dan ia kemudian pindah dari Shanghai
ke Suzhou, ke rumah keluarga Tang. Peristiwa inilah yang
mungkin membuat Lan Ping merasa bahwa ia menemukan
kembali sosok pria yang ia cintai, dan pasangan ini kemudian
Madame Mao 205

memutuskan untuk menikah di Hangzhou di tahun 1935.


Bagi Lan Ping, ini adalah pernikahannya yang ketiga.
Tetapi Lan Ping sebenarnya diam-diam menjalin hubungan
dengan Zhang Min, sutradara A Doll’s House yang sempat
membawanya terkenal itu. Ketika Tang mengetahui hal itu, ia
dan Lan Ping segera terlibat dalam pertengkaran, dan Lan Ping
memutuskan untuk pergi, kali ini ke Jinan, kampung halaman
ibunya. Tang yang frustrasi memutuskan untuk mengejar
istrinya itu dan membawanya pulang. Kali ini Lan Ping me-
nurut dan mereka pulang bersama ke Shanghai. Tetapi hu-
bungan mereka sudah tak bisa diselamatkan. Lan Ping sendiri
masih terus menjadi seorang aktris terkenal. Ia membintangi
dua judul pertunjukan laris, yaitu Blood on Wolf Mountain
(Darah di Gunung Serigala) dan Old Bachelor Wang (Wang
si Perjaka Tua). Ia tetap menjalin hubungan gelap dengan
Zhang Min, bahkan sempat pindah ke kediaman Zhang.
Mengetahui bahwa sudah tidak mungkin untuk bertahan,
pasangan Lan Ping dan Tang Na pun berpisah secara resmi
di tahun 1937. Tang sempat beberapa kali mencoba bunuh
diri, namun usahanya selalu digagalkan oleh teman-temannya
yang sudah mengetahui kebiasaan buruk pria malang ini se-
tiap kali jatuh ke dalam frustrasi ataupun depresi.
Keadaan segera berubah drastis ketika Jepang me-
nyerbu China. Tanggal 25 Oktober 1937, Shanghai jatuh
ke tangan Jepang setelah bertahan menghadapi gempuran
agresor itu selama dua bulan lebih. Jatuhnya kota pelabuhan
http://facebook.com/indonesiapustaka

internasional ini sangat mengkhawatirkan Chiang Kai-shek,


karena Shanghai adalah jalan masuk menuju ibukota pe-
merintahan Kuomintang (KMT) di Nanking. Chiang ke-
mudian memerintahkan sisa-sisa pasukannya untuk “merela-
kan” Shanghai dan mundur ke Nanking untuk bersiap-siap
menghadapi serbuan Jepang. Akibatnya, terjadi eksodus
206 Republik Rakyat China

besar-besaran penduduk kota Shanghai, baik kaum ekspatriat


ataupun rakyat China di kota itu. Tak terkecuali adalah Lan
Ping. Sesuai perintah induk Partai Komunis, semua seniman
di Shanghai yang menjadi kader partai diperintahkan untuk
mengungsi dari kota itu dan menggabungkan diri ke dalam
“Rombongan Teater Eksperimental Amatir” di bawah pim-
pinan kekasih gelap Lan Ping, Zhang Min. Zhang membawa
Lan Ping bersama artis-artis sayap kirinya pertama-tama ke
Nanking, kemudian setelah mengetahui bahwa kota itu ada
dalam target serangan Jepang berikutnya, mereka kemudian
melanjutkan perjalanan ke provinsi Shaanxi, yang menjadi
basis Partai Komunis.
Provinsi ini seolah-olah menjadi batas antara dua dunia
berbeda. Kota Xi’an yang kuno, yang sudah terkenal sebagai
ibukota para kaisar sejak zaman dinasti Han, ada di bawah
kekuasaan Chiang Kai-shek. Sementara daerah pedalaman di
sebelah utara dan barat, yang masih terbelakang, kumal, dan
berdebu, adalah markas gerilyawan komunis. Saat itu Mao
Zedong tengah memimpin gerakan mundur terpanjang se-
panjang sejarah manusia, yang kemudian dikenal sebagai Per-
jalanan Panjang. Setelah Lan Ping dan rombongannya sam-
pai di Xi’an, mereka meneruskan perjalanannya ke sebuah
kota kecil bernama Luochuan, dan kebetulan rombongan
Mao Zedong juga tengah sampai di sana. Itulah kali per-
tama perjumpaan Lan Ping dengan pria yang akan menjadi
suami terakhirnya, sekaligus orang yang akan mengantarkan-
http://facebook.com/indonesiapustaka

nya menjadi wanita paling berkuasa di masa-masa terkelam


sejarah Republik Rakyat China. Kesan pertama Lan Ping ter-
hadap pria yang usianya hampir dua kali lebih tua darinya
ini pada awalnya biasa saja. Bahkan tak pernah terbesit dalam
benaknya kalau nantinya ia akan menghabiskan sisa hidup-
nya mendampingi pria yang akan menjadi sosok terpenting
Madame Mao 207

dalam China itu. Rombongan gerilyawan komunis itu akhir-


nya sampai di tujuan akhir mereka, yaitu sebuah daerah pe-
desaan yang rumah-rumahnya dipahat di dinding-dinding
perbukitan menyerupai gua-gua batu, yaitu kota Yan’an.
Lan Ping segera memulai hidup barunya di daerah yang
berbeda 180 derajat dari gemerlap kota Shanghai yang per-
nah mengantarkannya menjadi seorang artis terkenal. Kini, ia
hanya satu dari sekian banyak perempuan yang menyambung
hidup sebagai bagian dari “keluarga besar” gerilyawan komu-
nis. Ia belajar mengerjakan pekerjaan kasar yang biasanya di-
kerjakan oleh perempuan seusianya, seperti mencuci baju di
sungai, misalnya. Ia tak lagi dimanjakan dengan kemewahan
roti panggang ala Perancis, atau brandy dan wiski merek
terkenal di kelab-kelab malam Shanghai di mana ia sering
menghabiskan waktu dengan berbagai pria yang datang silih-
berganti. Kini sarapan paginya, makan siang, dan makan ma-
lamnya hanya ada satu menu, yaitu bubur jawawut yang keras
dan sulit dicerna. Namun tak butuh waktu lama baginya un-
tuk membiasakan diri, bahkan dengan lantang ia menyatakan
di tengah kantin tempatnya menerima jatah makan, bahwa
“bubur jawawut itu enak rasanya”.
Tetapi Lan Ping tetap membutuhkan igur seorang pria.
Pria yang dianggapnya memenuhi kriteria jelaslah bukan pria
biasa. Pria itu harus berkelas, punya kekuasaan dan keduduk-
an tinggi, sehingga bisa menjadi jalan baginya untuk meraih
http://facebook.com/indonesiapustaka

kekuasaan. Awalnya ia mendekati seorang pejabat propaganda


partai yang bernama Zhu Guang, dan mereka menjalin
hubungan. Namun karena tidak puas dengan posisi Zhu yang
rendah, Lan Ping berubah pandangan. Ia mencoba mendekati
Zhang Guotao, seorang panglima komunis dari Sichuan
yang sebenarnya sudah dikalahkan Mao dalam intrik politik
208 Republik Rakyat China

memperebutkan kedudukan tertinggi partai. Rencananya


berantakan ketika nyonya Zhang tiba-tiba bergabung dengan
suaminya di penghujung 1937.
Jika ingin meraih kekuasaan tertinggi, maka ia harus men-
dekati orang yang punya kekuasaan tertinggi itu. Dengan
kata lain, ia harus mendekati Mao Zedong. Maka, untuk me-
narik perhatian bos partai yang baru itu, Lan Ping berusaha
dengan keras – bahkan cenderung berlebihan – hanya supaya
nampak menonjol dan menarik perhatian. Ia bahkan sering
mondar-mandir ke kediaman Mao dan memaksa masuk
untuk berbincang-bincang. Tetapi Mao seakan menanggapi
artis muda itu dengan dingin. Lan Ping mencoba mengguna-
kan senjata andalannya sebagai seniman panggung. Namun
ketika partai mengorganisasi sebuah pertunjukan di tanggal
28 Januari 1938, ia gagal menarik perhatian penonton, yang
malah mengapresiasi penampilan seorang artis yang usianya
jauh lebih muda dari Lan Ping, seorang gadis cantik bernama
Sun Weishi – putri angkat Zhou Enlai.
Agaknya jalan Lan Ping tertutup. Namun keberuntungan
berpihak kepadanya ketika seorang rekan sekampung yang ke-
betulan baru saja pulang setelah menuntut ilmu ke Moskow,
Kang Sheng, kembali ke China dan bergabung dengan Mao
di Yan’an. Karena berasal dari kampung yang sama, mereka
segera akrab. Akibatnya, Kang Sheng memberikan rekomen-
dasi agar Lan Ping dapat ditempatkan pada posisi pengajar
http://facebook.com/indonesiapustaka

di “Kampus Lu Xun”, sebuah universitas binaan komunis


di Yan’an untuk mendidik simpatisan dan kader partai. Lan
Ping tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga itu, dan ia
mengejar kesempatan yang lain. Akhirnya kesempatan yang ia
tunggu benar-benar datang ketika suatu hari di tahun 1938,
Mao mengunjungi kampus itu untuk berpidato. Kali ini Lan
Madame Mao 209

tidak mau kehilangan kesempatan, dan ia berusaha menarik


perhatian Mao dengan berlagak antusias, termasuk dengan
menanyakan beberapa pertanyaan. Kali ini Lan Ping berhasil
mencuri perhatian sang ketua, dan tak lama kemudian me-
reka pun mulai menjalin hubungan.
Namun Mao masih punya seorang istri, He Zizhen, yang
melahirkan 5 orang anak baginya, dan setia menemaninya
selama Perjalanan Panjang. Karena menjadi beban, beberapa
anak mereka terpaksa harus ditinggalkan di perjalanan dan
dititipkan pada warga setempat untuk dirawat, dan hal ini
agaknya cukup berdampak bagi kondisi psikologis He Zizhen.
Ia kemudian diterbangkan ke Moskow pada musim panas
tahun 1937, tepat sebelum Lan Ping dan Mao bertemu. Saat
pergi ke Uni Soviet, He tengah mengandung anak Mao. Bayi
laki-laki itu lahir di Moskow, namun tidak mampu bertahan
hidup dan meninggal. Pukulan psikologis yang bertubi-tubi
ini berdampak parah pada He, dan ia hampir gila. Namun
Mao tak peduli. Seperti biasa, yang ia pentingkan hanyalah di-
rinya sendiri. Bahkan saat Perjalanan Panjang pun, ketika He
Zizhen masih ada di sisinya, Mao sudah menjalin hubungan
gelap dengan seorang aktris cantik bernama Lily Wu. He
pernah memergoki mereka berdua, dan segera naik pitam,
bahkan sampai menyerang gadis yang lebih cantik darinya itu,
mencakar, menarik rambut, sampai memaki-maki suaminya,
dan juga gadis itu.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Sekarang saat ia lagi-lagi “membujang”, ada seorang ga-


dis muda yang ambisius, yang menarik baik secara seksual
maupun ideologis, yang dengan sukarela menyerahkan diri
kepadanya. Seperti yang sudah diduga, keduanya segera men-
jalin hubungan gelap yang langsung menjadi rahasia umum.
Banyak rekan-rekan komunis yang mengkritik Mao, sebagian
210 Republik Rakyat China

juga karena merasa simpati dengan penderitaan yang dialami


oleh He Zizhen. Namun Mao tak mau ambil pusing, dan
bahkan ia sampai membuang Tu Zhennong, seorang rekan
komunis yang mengkritik tindakannya itu. Kondisi ini se-
gera dimanfaatkan oleh Kang Sheng, yang tak lain adalah
rekan sekampung Lan Ping. Ia mempengaruhi Mao untuk
segera menceraikan istrinya yang malang itu, dan menikahi
Lan Ping. Dengan begitu, bukankah Kang akan mendapat
penyokong yang kuat tidak hanya dari rekan sekampungnya,
namun juga dari sang ketua sendiri? Itulah yang dilakukan
Kang pada musim panas 1938, termasuk juga dengan mem-
pengaruhi putra Mao yang mulai beranjak besar, Mao Anying.
Mao yang termakan bujukan itu bahkan sampai mengancam
Zhou Enlai, Zhu De, dan Liu Shaoqi, yang tidak menyetu-
jui pernikahan Mao dengan Lan Ping. Mao mengancam me-
reka bahwa ia “akan meninggalkan Yan’an dan menjadi pe-
tani bersama dengan Lan Ping”, kalau mereka bertiga tidak
menyetujui pernikahannya. Akhirnya mereka mengalah, dan
membiarkan Mao mendapatkan kemauannya. Lan Ping pun
menjadi istri baru Mao.
Inilah kemenangan puncak bagi Lan Ping, yang kini men-
jadi “permaisuri” di kekaisaran komunis Mao. Untuk meraya-
kan “kemenangan” itu, Lan Ping pun memilih meninggal-
kan dunia seni yang menjadi obsesinya selama ini, termasuk
meninggalkan nama panggung yang membawanya tenar di
gemerlapnya kota Shanghai. Ia memilih nama baru, nama
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang membuatnya dikenal seluruh dunia sejak saat itu. Jiang


Qing, “Hijau Murni seperti Sungai yang Dalam”. Ia kemu-
dian melahirkan seorang anak perempuan bagi Mao, yang
kemudian diberi nama Li Na. Meskipun Mao sudah menikah
lagi, kebiasaannya bermain perempuan tidak pernah berhenti.
Jiang Qing sendiri tidak mempermasalahkan hal ini, dan itu
Madame Mao 211

yang membuat Mao mempertahankan perempuan itu sebagai


istrinya, meskipun ia sering menyebut Jiang Qing sebagai
“seekor kalajengking beracun”, mengingat cara pikir dan
sepak-terjang Jiang Qing yang sangat kejam dan mengerikan.
Jiang Qing akan terus mendampingi Mao, dan bersama
dengan Kang Sheng, ia akan menjadi salah satu penggagas
kampanye terkelam dalam sejarah modern China, yaitu Re-
volusi Kebudayaan.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Mementaskan
Opera Kuno

Spekulasi Mao dalam kebijakan yang ia canangkan untuk


mengatur China berbuah bencana bagi rakyat China. Lompat-
an Besar ke Depan yang ia harapkan mampu membuat China
“melampaui Amerika dan Inggris” pada akhirnya hanya
membawa China terperosok ke jurang kesengsaraan ketika 30
juta jiwa mati sia-sia akibat kelaparan, akibat spekulasi yang
tak berdasar. Namun bagi Mao, bencana yang terbesar adalah
rusaknya citranya di depan rekan-rekannya sesama anggota
Partai Komunis, dan tergusurnya dirinya dari panggung ke-
kuasaan oleh dua rival utamanya, “Krushchev China”, yaitu
duet Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping.
Bagi negara sosialis totaliter seperti China – dan Uni Soviet
– rusaknya citra pemimpin di depan rakyatnya adalah sebuah
hal yang berbahaya. Berbagai cara akan digunakan untuk me-
mulihkan citra sang pemimpin, karena bagi pemerintahan
yang berkuasa, citra pemimpin yang agung dan kultus individu
yang diciptakan untuk menyokong citra itu, adalah senjata am-
puh untuk menjamin kepatuhan rakyat terhadap pemerintah,
sekaligus alat mobilisasi massa yang sangat efektif. Salah satu
yang dilakukan oleh Mao – lewat tangan kanannya, Lin Biao
http://facebook.com/indonesiapustaka

– adalah dengan menciptakan sebuah sosok ideal yang bisa di-


jadikan contoh, atau dengan kata lain, memberikan contoh
bagi rakyat China tentang “bagaimana memuja Mao”.
Pencitraan terhadap Mao ini juga didukung oleh perdana
menterinya, Zhou Enlai. Di tahun 1964, Zhou ikut terlibat
214 Republik Rakyat China

dalam persiapan perayaan peringatan 15 tahun berdirinya


Republik Rakyat China, termasuk dengan merancang pen-
tas musikal “Timur Itu Merah” – nama yang diambil dari
lagu komunis yang pernah menjadi de facto lagu kebangsaan
China. Zhou mengecek semua hal mulai dari lirik musikal,
kostum, sampai gladi kotor yang tak ada habisnya. Drama
musikal yang mengusung cerita sejarah tentang kebangkit-
an komunis mulai dari Pemberontakan Nanchang di tahun
1927 ini ditata sedemikian rapi, dan untuk menonjolkan
peran Mao di dalamnya, Zhou bahkan mengganti sejarah
dengan menyebutkan bahwa Mao-lah – dan bukan dirinya –
yang memimpin pemberontakan terkenal itu. Zhou juga me-
masukkan penggalan cerita tentang penggabungan Pasukan
Jalur Pertama dan Keempat semasa Perjalanan Panjang yang
terkenal itu ke dalam drama musikalnya, karena sejak saar
penggabungan itulah peran Mao sebagai tokoh sentral Partai
Komunis mulai mengemuka.
Namun agaknya pencitraan terhadap Mao ini seakan
tenggelam dalam gelombang pasang naiknya citra rival-rival
politiknya. Mereka yang dianggap Mao sebagai rivalnya, se-
benarnya tidak pernah melakukan pencitraan apapun secara
berlebihan untuk meningkatkan citra mereka. Hasil kerja me-
reka-lah, bersama dengan kekecewaan rakyat terhadap rezim
Mao yang otoriter dan merusak, yang membuat citra mereka
naik dengan sendirinya di mata rakyat. Salah satu yang me-
nanjak citranya, walaupun sudah tidak lagi ada di dalam ling-
http://facebook.com/indonesiapustaka

kungan kekuasaan, adalah Peng Dehuai.


Sudah sejak lama Peng menjadi rival politik Mao. Sifat-
nya yang tegas dan kepeduliannya yang tinggi terhadap nasib
rakyat membuatnya meraih simpati rakyat banyak. Namun
ia salah membuat perhitungan ketika ia mencoba “menggu-
lingkan” Mao di Lushan pada tahun 1959. Mao mengancam
Mementaskan Opera Kuno 215

Komite Pusat bahwa jika mereka memilih untuk mendukung


Peng dan melawan dirinya, ia akan “kembali ke gunung dan
menyiapkan pemberontakan bersenjata”. Akhirnya mereka
mengalah dan membiarkan Mao menyingkirkan Peng dari
lingkaran kekuasaan.
Tetapi kharisma dan kecintaan rakyat terhadap Peng sulit
untuk dibendung. Salah satu dukungan bagi Peng datang dari
seorang sejarawan yang juga menjabat wakil walikota Beijing,
Wu Han. Wu adalah seorang ahli sejarah dengan kekhusus-
an sejarah dinasti Ming (1368-1644). Ia adalah anggota Liga
Demokrasi China, salah satu entitas politik kepartaian di luar
Partai Komunis yang pada masa Perang Sipil 1945-1949 me-
mihak Partai Komunis, sehingga keberadaannya tetap diper-
tahankan oleh Partai Komunis setelah berdirinya Republik
Rakyat China. Dengan keahlian dan kedudukannya, ia me-
lancarkan kritik terbuka yang dibungkus dalam sebuah drama
sejarah, yang dipentaskan dalam bentuk opera klasik gaya
Beijing.
Judulnya adalah “Hai Rui Diberhentikan sebagai Pejabat”
(Hai Rui Ba Guan). Opera ini menceritakan tentang tokoh
Hai Rui (1514-1587), seorang pejabat jujur dan setia dari za-
man dinasti Ming. Dikisahkan bahwa Hai Rui berasal dari
keluarga miskin, dan ia menjadi anak yatim di usia 3 tahun.
Ia kemudian dibesarkan oleh ibunya, yang mendidiknya men-
jadi seorang pria bermartabat dan jujur. Setelah lulus ujian
kekaisaran, Hai Rui diangkat menjadi pejabat di Beijing, se-
http://facebook.com/indonesiapustaka

bagai sekretaris di Kementerian Keuangan Kekaisaran Ming.


Namun ia sedih melihat tingkah laku kaisar Jiajing (me-
merintah 1521-1567) yang menghambur-hamburkan harta
negara dan mengabaikan tugas pemerintahan. Ia kemudian
melakukan hal yang sangat tabu untuk ukuran zaman itu,
yaitu mengajukan protes langsung kepada kaisar. Akibatnya
216 Republik Rakyat China

kaisar Jiajing murka dan mencopotnya dari kedudukannya,


bahkan menjebloskannya ke dalam penjara dan menjatuhkan
hukuman mati kepadanya. Hai Rui terhindar dari hukuman
mati ketika kaisar Jiajing wafat dan digantikan oleh putra-
nya, kaisar Longqing (memerintah 1567-1572). Kaisar yang
baru mengampuni Hai Rui dan mengembalikan Hai ke ke-
dudukannya yang semula. Namun karena terlalu ketat dalam
mengawasi keuangan negara dan penerimaan pemerintah dari
pajak sehingga mempersempit celah terjadinya korupsi, Hai
diitnah oleh pejabat-pejabat lain yang tidak senang kepada-
nya sehingga Hai terpaksa mengundurkan diri. Ia hidup da-
lam bayang-bayang selama 15 tahun, sampai akhirnya kaisar
yang baru, kaisar Wanli (memerintah 1572-1620) memang-
gilnya kembali. Namun Hai hanya menduduki jabatannya
selama 5 tahun, dan kemudian wafat karena usia tua.
Bagi Wu Han, Hai menjadi perlambang pejabat setia
yang mengabdi kepada negara dan rakyat, yang diperlakukan
dengan tidak adil oleh junjungannya, yaitu sang kaisar sen-
diri. Wu sebenarnya menggunakan peristiwa semasa itu yang
baru saja terjadi, yaitu disingkirkannya “Hai Rui” yaitu Peng
Dehuai, oleh “sang kaisar” yang tak lain tak bukan adalah
Mao sendiri. Ketika dipentaskan, opera ini meraih kesuksesan
dan tanggapan yang antusias dari masyarakat. Bahkan Mao
sendiri pada awalnya memuji opera ini, yang ia lakukan de-
ngan mengirimkan salah satu kaligrai tulisan tangannya
sendiri kepada Wu Han sebagai bentuk penghargaannya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Namun ketika Peng Dehuai menulis surat kepada Mao di


tahun 1962 tentang keinginannya kembali ke pemerintahan
dengan menyebutkan, “aku ingin menjadi Hai Rui!”, Mao
menjadi yakin bahwa Wu Han menujukan drama yang ia tu-
lis ini kepada dirinya, yang dianggap sebagai “kaisar lalim”
yang dengan sewenang-wenang dan tidak adil memberhenti-
Mementaskan Opera Kuno 217

kan seorang pejabat setia. Di sisi lain, Mao menganggap bah-


wa saatnya sudah tiba untuk memulai aksi balas-dendamnya
kepada semua rival politik yang hendak menggusurnya dari
“tahta”, seperti Liu Shaoqi ataupun Deng Xiaoping.
Sebelum bertindak, Mao memperingatkan sekelompok
anggota partai bahwa ia sedang “bersiap menabuh genderang
perang”, perang yang akan ia lancarkan terhadap “kaum revi-
sionis” – rival-rival politik Mao. Mao berkata:
“Kita harus bersiap akan terjadinya perang. Jangan
takut terhadap pembelotan ataupun pemberontakan. Apa
jadinya jika revisionisme muncul di Komite Pusat? Jika
hal itu terjadi, maka kalian harus memberontak. Sekarang
kalian harus ingat, bahwa siapapun yang mengatakannya,
entah itu Komite Pusat, biro-bironya, atau komite partai
di tingkat propinsi, harus kalian tentang jika kalian me-
rasa perintah mereka tidak benar.”
Mao tidak bertindak langsung. Ia menggunakan Yao We-
nyuan sebagai perpanjangan tangannya untuk memulai aksi-
nya. Yao memulai karirnya sebagai kritikus sastra di Shanghai,
dan ia dikenal dengan kritiknya yang tajam terhadap lawan-
lawannya. Yao kemudian menulis sebuah artikel berjudul
“Mengenai Drama ‘Hai Rui Diberhentikan sebagai Pejabat’
yang Baru Dipentaskan” dan dimuat di tanggal 10 Novem-
ber 1965. Dalam artikelnya, Yao menuduh bahwa Wu Han
http://facebook.com/indonesiapustaka

sengaja mengarang-ngarang tokoh Hai Rui dan melebih-


lebihkan karakternya dalam opera itu, sehingga mengaburkan
fakta sejarah dan membohongi rakyat. Yao juga menuduh Wu
Han menggunakan ideologi borjuis dan feodal dari zaman ke-
kaisaran untuk mempengaruhi rakyat, dan mengesampingkan
Marxisme-Leninisme yang dijunjung tinggi oleh pemerintah.
218 Republik Rakyat China

Jika dibiarkan, maka drama ini akan menjadi pemicu kegon-


cangan dan kekacauan dalam masyarakat proletar sehingga
membahayakan negara secara keseluruhan. Dalam penutup
artikelnya, Yao menulis:
“Kami menganggap bahwa ‘Hai Rui Diberhentikan
Sebagai Pejabat’ bukanlah sebuah ‘bunga mekar yang
harum’, namun ‘sebatang gulma beracun’. Meskipun
drama ini sudah dipentaskan berulang-ulang selama be-
berapa tahun, namun artikel-artikel yang sudah diterbit-
kan yang isinya menyanjung-nyanjung drama ini sudah
sangat banyak, karya-karya yang mirip atau artikel serupa
juga sudah tersebar ke mana-mana sehingga pengaruhnya
sangat besar, dan ‘efek beracun’nya sudah menyebar luas
dan tidak segera dibersihkan, sehingga akan membahaya-
kan rakyat kebanyakan... ”
Namun artikel ini hanya diterbitkan sekali saja, dan tidak
diikuti oleh surat-surat kabar lain di penjuru China. Ini dika-
renakan karena pelindung Wu Han sejak lama, yaitu walikota
Beijing Peng Zhen, menghalangi penerbitan ulang artikel Yao
Wenyuan. Peng sendiri – yang tidak ada hubungan keluarga
sama sekali dengan Peng Dehuai – diangkat oleh Mao men-
jadi pengawas kebudayaan di tahun 1964, dan ia menentang
setiap usaha Mao untuk membinasakan kebudayaan China
yang luhur itu dan menciptakan sebuah kebudayaan tanpa
http://facebook.com/indonesiapustaka

kelas yang hanya diarahkan untuk mendukung propaganda


kultus individu terhadap Mao belaka. Peng juga adalah se-
orang pengkritik Mao di saat “Rapat 7 Ribu Kader” di tahun
1962, di mana Liu Shaoqi mengkritik Mao habis-habisan
di depan peserta rapat. Saat itu Peng mempersalahkan Mao
menyebabkan kekacauan dalam distribusi pangan di China
Mementaskan Opera Kuno 219

dengan idenya mendirikan “kantin-kantin pedesaan” di mana


para petani bisa makan sesuka mereka – walaupun pada akhir-
nya para petani tidak makan apapun.
Artikel yang ditulis oleh Yao ini tetap disimpan sampai se-
minggu kemudian, dan setelah Zhou Enlai turun tangan dan
memaksa agar artikel itu dimuat, barulah artikel itu sampai
ke surat kabar terkemuka, Harian Rakyat – itu pun di bagian
“Diskusi Akademis” di halaman 5, bukan di tajuk utama.
Meskipun Wu Han sendiri akhirnya melakukan “kritik diri”
di bawah tekanan politik yang kuat pada tanggal 30 Desember
1965, ini tidak lantas menyelesaikan masalah. Akhirnya, untuk
menghindari ketegangan yang dapat muncul akibat drama
Hai Rui ini, Peng Zhen membentuk “Kelompok Lima”, yang
selain dirinya, beranggotakan Lu Dingyi, ketua Departemen
Propaganda; Wu Lengxi, editor Harian Rakyat; Zhou Yang,
seorang penulis kenamaan; dan Kang Sheng, loyalis Mao. Se-
bagai ketuanya, Peng mengeluarkan “Laporan Februari” di
tahun 1966 yang isinya menyimpulkan bahwa “Drama Hai
Rui” bukanlah isu politik, namun hanya semata-mata isu ke-
budayaan saja, sekaligus membantah serangan Yao Wenyuan
lewat artikelnya.
Ini menyebabkan Mao berhati-hati dalam bertindak. Rival
politiknya di dalam pemerintahan masih terlalu banyak, dan
di dalamnya termasuk kelompok militer yang masih setia pada
Peng Dehuai. Selain itu meskipun Lin Biao, tangan kanan
http://facebook.com/indonesiapustaka

sekaligus orang kepercayaan yang nantinya akan ia jadikan


calon penerusnya, memegang kekuasaan yang ditinggalkan
Peng sebagai Menteri Pertahanan, masih ada Luo Ruiqing
yang meskipun juga setia pada Mao, namun menjadi rival
Lin Biao dalam militer. Ada lagi He Long, yang terlibat Insi-
den Malinovsky di Moskow, yang dicurigai oleh Mao hendak
220 Republik Rakyat China

meminjam kekuatan Uni Soviet untuk menggulingkannya.


Kecurigaan Mao ditambah lagi dengan kunjungan Peng Zhen
pada Peng Dehuai – yang sedang dikenai tahanan rumah.
Tiba-tiba, Uni Soviet mengirimkan undangan resmi ke-
pada Partai Komunis China untuk mengirimkan delegasi
untuk menghadiri Kongres Partai Komunis Uni Soviet ke-23
di bulan April 1966. Setelah terjadinya Insiden Malinovsky,
Mao melarang siapapun pergi ke Rusia karena takut kalau-
kalau mereka akan berkonspirasi untuk menggulingkan di-
rinya. Tetapi Liu Shaoqi tiba-tiba memberikan restu kepada
Peng Zhen untuk menyarankan kepada Mao untuk mene-
rima undangan itu. Ditambah lagi, secara tiba-tiba Brezhnev
mengunjungi Mongolia dan bertemu dengan presidennya,
Yumjaagiyn Tsedenbal, dan setelah kunjungan itu Brezhnev
menempatkan unit-unit militernya di Mongolia yang dileng-
kapi dengan peluru kendali berhulu ledak nuklir, yang di-
tempatkan di lokasi yang jaraknya tidak sampai 500 km dari
ibukota Beijing. Ini membuat Mao curiga bahwa Moskow se-
dang menyiapkan upaya penggulingan terhadap dirinya, dan
tengah memberikan dukungan rahasia kepada orang-orang
terdekatnya untuk menyingkirkannya.
Mao merasa bahwa ia harus segera bertindak. Ia mencurigai
bahwa Liu Shaoqi dan komplotannya tengah bersiap untuk
melengserkan dirinya. Di samping itu, ia merasa bahwa sudah
saatnya ia mengambil alih kendali penuh atas Partai dan atas
China tanpa oposisi. Maka, ia harus mempereteli pendukung
http://facebook.com/indonesiapustaka

Liu Shaoqi satu-persatu sebelum menghantamnya dengan ke-


ras dan telak.
Penulis biograi Zhou Enlai, Gao Wenqian, menyebutkan
bahwa Mao sudah mengkonsepsikan Revolusi Kebudayaan ini
sejak musim semi tahun 1966. Setelah Liu Shaoqi menghadap
Mementaskan Opera Kuno 221

Mao di Hangzhou, sang presiden kemudian menjalani se-


rangkaian tur ke negara-negara Asia Tenggara. Ketiadaannya
di dalam negeri segera dimanfaatkan oleh Kang Sheng, yang
selama ini menjadi kroni terdekat Jiang Qing, nyonya Mao,
untuk mencela Liu secara terbuka. Sejak saat itu, Jiang Qing
mulai mendapat porsi yang lebih besar dalam panggung po-
litik. Sebagai balasan atas “Laporan Februari” yang disusun
oleh Peng dan koleganya, pada tanggal 20 Februari, bersama
dengan Lin Biao, Jiang Qing mengadakan “Forum Kerja Lite-
ratur dan Kebudayaan untuk Angkatan Bersenjata”, di mana
pada forum itu ia menolak temuan Laporan Februari dan pada
hari itulah untuk pertama kali didengungkan panggilan un-
tuk mengobarkan “Revolusi Kebudayaan Sosialis Agung”. Ia
beralasan bahwa China tengah berada “di bawah kediktatoran
sekelompok berhaluan anti-Partai dan anti-sosialis yang ber-
diri berlawanan dengan buah pikir Ketua Mao”. Dua bulan
kemudian, atau pada April 1966, mereka menuding Peng dan
anggota Kelompok Lima sebagai “penempuh jalur kapitalis”.
Kemudian, Jiang Qing diperintahkan untuk merancang
“Manifesto Penghancuran Kebudayaan”, yang intinya diarah-
kan kepada rival-rival politik Mao. Zhou Enlai yang takut
kalau-kalau ia terseret ke dalam pembersihan, akhirnya me-
nyerah pada kehendak Mao. Jadilah Mao memiliki pendu-
kung yang lengkap: Lin Biao dengan pasukan bersenjatanya,
Jiang Qing dengan rencana pembersihannya, dan Zhou Enlai
sebagai tukang stempelnya. Fase awal Revolusi Kebudayaan
http://facebook.com/indonesiapustaka

pun dimulai.
Kang mengajukan catatan tentang Peng Zhen (walikota
Beijing) dan kritik terhadap Wu Han yang ditulis oleh Yao
Wenyuan, dan memberitahu Mao bahwa Peng Zhen te-
lah meminta Departemen Propaganda untuk menghubungi
organisasi-organisasi bawahannya di dalam pemerintah kota
222 Republik Rakyat China

Shanghai dan menyelidiki alasan di balik pencetakan kritik


Yao Wenyuan. Kang menuduh Peng berlaku sepihak tanpa
meminta persetujuan pemerintah pusat, dan menganggap
sang walikota telah melanggar disiplin partai.
Mao menanggapi dengan keras, dan menuduh bahwa ia
sedang berada di bawah ancaman sebuah “tindakan revolu-
sioner” yang hendak menentangnya. “Jika kita tidak men-
jalankan Revolusi Kebudayaan ini, maka kader-kader tua,
menengah, dan muda akan menjadi sasaran serangan. ”kata
Mao. Sejak tanggal 28-30 Maret 1966, Mao mengadakan
serangkaian pembicaraan dengan Kang Sheng, Jiang Qing,
dan Zhang Chunqiao, ketua partai cabang Shanghai, di mana
Mao mengemukakan ketidak-setujuannya terhadap Laporan
Februari yang ia anggap “membingungkan garis kelas prole-
tar, dan gagal membedakan yang benar dan yang salah”.
Mao mulai mempertimbangkan kekuatan yang ia miliki.
Di dalam kubunya, pendukung terkuatnya adalah Lin Biao,
panglima PLA, namun Lin jelas tidak akan mau bergerak
jika tidak ada imbalan yang layak untuk usahanya. Maka,
demi mendapatkan dukungan penuh dari Lin, Mao mem-
berikan restu kepada Lin untuk menyingkirkan rivalnya, Luo
Ruiqing, dengan mendakwanya melakukan persekongkolan
dan pengkhianatan terhadap Partai. Selain Luo, ada juga
Yang Shangkun, seorang anggota partai senior yang pernah
men__jadi komisar militer semasa Perang Sipil (1945-1949),
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kantor Umum Partai.


Ia juga tak luput disingkirkan dari posisinya karena selama
ini menjadi penterjemah bahasa Rusia untuk Mao, sehingga
cukup dekat dengan pihak Uni Soviet. Mao menaruh Wang
Dongxing, salah seorang kepercayaannya yang sebelumnya
menjabat sebagia kepala keamanan pribadi badi Mao, untuk
Mementaskan Opera Kuno 223

menggantikan posisi Yang Shangkun. Mao juga menentang


kebijakan Departemen Propaganda Partai Komunis, dengan
menyebutnya sebagai “Kerajaan Neraka”. Mao kemudian
secara terbuka menyatakan bahwa jika ada organisasi pusat
dengan otoritas tertinggi di China melakukan “pekerjaan ja-
hat”, maka ia akan secara pribadi mendukung tindakan ter-
buka berupa pemberontakan yang dilakukan oleh otoritas-
otoritas daerah.
Mao kemudian menyampaikan pesan itu kepada Zhou
Enlai via Kang Sheng, karena Zhou memegang kendali pe-
merintahan selama absennya Liu Shaoqi. Dengan melaku-
kan hal ini, Mao secara tidak langsung menanyakan ke mana
Zhou akan berpihak, pada Mao atau Liu? Zhou pada awalnya
mencoba bersikap netral dan ambigu, namun lama-lama ia
sadar bahwa ia tidak bisa terus bersikap netral. Ia kemudian
menentukan sikap, dan menulis:
“Dengan mengikuti perintah yang diberikan oleh Ketua
yang menyuruh kita untuk menenteng bendera Revolusi
Kebudayaan Proletar Agung, kita harus melakukan kritik
menyeluruh terhadap segala aktivitas kontra-revolusioner
di lingkungan akademisi sejarah dan ilsafat – karena itu
tidak lebih dari sebuah usaha untuk merebut kekuasaan
kepemimpinan lewat medan perang kebudayaan. ”
Zhou melanjutkan lagi:
“Tugas kita adalah untuk mengangkat kaum proletar dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

membasmi elemen kapitalis dalam masyarakat China,


untuk mengatur pasukan kita sendiri dan menghancur-
kan otoritas akademik yang kontra-revolusioner. Setelah
kebijakan ini, suatu draf pengumuman pemerintah pusat
akan segera diterbitkan dan disampaikan kepada Ketua
untuk mendapatkan persetujuannya. ”
224 Republik Rakyat China

Zhou juga menekankan bahwa laporan yang telah disam-


paikan kepada Ketua oleh kelompok Peng Zhen dinyatakan
invalid. Dengan begitu, Zhou melemparkan bola panas ke
arah Peng Zhen, karena tudingan itu bukan hanya berasal dari
Mao, namun langsung dari Komite Politburo, yang merupa-
kan otoritas penentu kebijakan tertinggi dalam pemerintahan
China. Hanya satu kemungkinan yang tersisa bagi Peng un-
tuk “menyelamatkan diri”, yaitu meminta maaf secara pri-
badi kepada Mao dan melakukan “kritik diri”, mengakui ke-
salahannya dalam membuat laporan.
Sementra itu, pada tanggal 14 April 1966, Jiang Qing
mengumumkan manifestonya secara resmi, yang kemudian
disahkan sebulan kemudian dalam sebuah rapat Politbiro.
Dalam manifesto itu Jiang dan kelompoknya menuduh
Kelompok Lima (selain Kang Sheng) sebagai “orang nasio-
nalis”, “revisionis”, dan “kaki-tangan musuh”. Luo Ruiqing
dan Yang Shangkun pun tidak terkecuali. Dan lagi, menurut
Jung Chang dalam biograinya tentang Mao, Lu Dingyi dari
Kelompok Lima diikut-sertakan dalam daftar ini karena istri-
nya, nyonya Lu, pernah menuduh istri Lin Biao berselingkuh
dan bahwa anak-anak yang dilahirkan nyonya Lin bukanlah
anak kandung Lin Biao.
Sebagai sekretaris jenderal Partai Komunis saat itu, Deng
Xiaoping segera diminta untuk mengadakan pertemuan daru-
rat di Hangzhou yang akan menentukan perintah apa saja
yang akan diberikan untuk menjalankan instruksi Mao. Deng
http://facebook.com/indonesiapustaka

menurut dan ia ikut mendukung pengecaman terhadap Peng


Zhen. Sementara itu, Liu Shaoqi yang baru saja kembali dari
turnya ke Asia Tenggara masih belum sadar sepenuhnya ten-
tang apa yang sedang terjadi.
Dalam rapat Politbiro itu, Liu Shaoqi dengan enggan mem-
berikan persetujuannya, mengingat Peng Zhen adalah salah
Mementaskan Opera Kuno 225

satu sekutu dekatnya. Liu sendiri sadar bahwa gilirannya nanti


pun akan tiba. Akibatnya, keempat orang dalam daftar itu pun
diseret ke penjara. Ketika Politbiro kembali bertemu di bulan
Mei, Lin Biao mengambil alih kendali dengan mengatakan
bahwa, “semua yang menentang ketua Mao harus dihukum
mati”. Lin juga menggerakkan pasukannya ke ibukota Beijing
sebagai peringatan bagi para rival politik Mao bahwa saat ini
militer tunduk dan setia sepenuhnya kepada Mao Zedong,
dan “kaum revisionis” itu hanya tinggal menunggu waktu ke-
jatuhan mereka.
Wu Han menjadi korban pertama. Diawali dengan diter-
bitkannya artikel “Materi Kontra-revolusioner dari ’Hai Rui
Mengkritik Kaisar’ dan ‘Hai Rui Diberhentikan sebagai Pe-
jabat’” – dua drama yang ditulis oleh Wu Han – di Harian
Rakyat dan majalah “Bendera Merah” di bulan April 1966,
Wu Han dituduh sebagai penyebar “gulma beracun yang
melawan partai dan melawan sosialisme”. Pada musim panas
tahun 1966, Wu akhirnya dijebloskan ke dalam penjara dan
disiksa terus-terusan di sana. Ia akhirnya meninggal dunia
tahun 1969; ada yang mengatakan bahwa Wu bunuh diri ka-
rena tak tahan dengan perlakuan kejam, ada juga yang bilang
bahwa ia tewas akibat tak tahan dipukuli terus-menerus setiap
hari. Sampai sekarang tidak ada yang tahu di mana jenasah
Wu dimakamkan.
Pada tanggal 16 Mei 1966, pertemuan para anggota
Politburo menghasilkan sebuah edaran – yang dikenal seba-
http://facebook.com/indonesiapustaka

gai “Pemberitahuan 16 Mei” – yang menjadi vonis bagi Peng


Zhen dan kelompoknya. Peng dituduh “melambaikan ben-
dera merah untuk melawan bendera merah”, atau dengan kata
lain, musuh dalam selimut, yang hanya bisa diidentiikasi se-
bagai demikian melalui “teleskop dan mikroskop Pikiran Mao
Zedong”. Sebagai gantinya, dibentuklah Kelompok Kecil
226 Republik Rakyat China

Revolusi Kebudayaan, dengan beranggotakan Jiang Qing,


Chen Boda, Zhang Chunqiao, dan Kang Sheng. Meskipun
anggota Politburo yang lain tidak terlalu antusias mengenai
masalah ini, pada akhirnya mereka sadar bahwa Mao sedang
merencanakan sesuatu.
Sepuluh hari kemudian, di tanggal 25 Mei, muncullah
ajakan resmi pertama Mao untuk mengobarkan revolusi ini.
Nie Yuanzi, seorang pengajar ilsafat di Universitas Beijing,
memasang sebuah poster dengan huruf besar yang menuding
Lu Ping, sang rektor universitas, bertindak menyerupai Peng
Zhen dengan menolak untuk merevisi kurikulum dan teknik
mengajar, dan dengan demikian berusaha melawan Partai.
Mao secara pribadi membubuhkan persetujuannya, dan bah-
kan memuji poster yang dipasang Nie sebagai “poster besar
berhaluan Marxisme pertama di China”. Dari sini gerakan
revolusioner pun mulai berkembang, di mana para mahasiswa
mulai berani menentang otoritas kampus dan perwakilan Par-
tai di kampus mereka. sampai akhirnya semua kegiatan per-
kuliahan dihentikan pada tanggal 13 Juni 1966. Inilah awal
dari terbentuknya “Penjaga Merah” (Red Guards) yang terke-
nal dengan kebrutalan dan anarkisme-nya itu.
Mao sendiri tengah bersiap untuk kembali ke pentas
sandiwara politik, untuk melancarkan balas dendamnya yang
kejam dan brutal. Namun ia memutuskan untuk pertama-
tama menunjukkan kepada dunia bahwa ia sudah siap untuk
maju berperang. Ia, memutuskan untuk berenang.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Hancurkan Markas
Besar!

“Air sungai nampak tersenyum hari itu.” tulis seorang warta-


wan Harian Rakyat. Apa yang ia tulis merupakan gambaran
sikap politik era baru yang tidak kalah kelamnya dibandingkan
Lompatan Besar ke Depan hampir satu dekade sebelumnya.
Hari itu, tanggal 16 Juli 1966, adalah salah satu hari di
musim panas. Orang masih ingat bahwa sekitar 9 tahun se-
belumnya, Mao pernah mencetuskan “Seratus Bunga Me-
kar”, sebuah gerakan intelektual yang pada akhirnya berakhir
dengan pemberangusan kaum terpelajar. Kali ini, Mao me-
milih untuk berenang di sungai Yangtze, sungai terpanjang di
China, dari bantaran sungai di kota Wuhan, ibukota provinsi
Hubei yang sejak lama menjadi salah satu basis utama komu-
nisme di China. Mao, hanya mengenakan celana pendek saja,
berenang di sungai yang dingin itu dengan dikawal oleh enam
orang pengawal pribadinya dan juga beberapa posternya da-
lam ukuran besar yang sengaja diapungkan di atas permukaan
sungai, setelah sebelumnya ia melambaikan tangan ke arah ke-
rumunan awak media yang sengaja diundang untuk meliputi
peristiwa ikonik itu. Dengan melepaskan kimono mandi yang
ia kenakan, ia kemudian terjun ke sungai dan mulai berenang.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Meskipun usianya sudah tidak lagi muda – 72 tahun saat itu


– Mao diklaim menghabiskan waktu setidaknya 1 jam un-
tuk berenang sejauh 15 km di sungai itu “tanpa menunjuk-
kan tanda-tanda kelelahan”, mengisyaratkan bahwa ia masih
dalam kondisi prima dan mampu untuk mengambil alih
kembali pemerintahan, serta mengajak rakyat untuk – sesuai
228 Republik Rakyat China

dengan slogannya – “Mengikuti Ketua Mao menerjang badai


dan gelombang”.
Sebelumnya, Mao meninggalkan Beijing di akhir tahun
1965 dan menyepi di Hangzhou, ibukota provinsi Zhejiang
yang terkenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit di
China. Ia mengundurkan diri ke kota peristirahatan itu se-
telah dipusingkan oleh lawan-lawan politiknya di dalam
Partai Komunis, namun sambil terus mengamati situasi dan

Berenang ke Tepian Kekuasaan


http://facebook.com/indonesiapustaka

Setelah disingkirkan Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping,


Mao tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kekuasaan.
Untuk mendemonstrasikan langkah kembalinya ke tampuk
pemerintahan, Mao memutuskan untuk berenang di Sungai
Yangtze, sekaligus menunjukkan stamina dan kesiapannya di usia
yang tak lagi muda. Seusai berenang, Mao kembali ke Beijing
dan melancarkan Revolusi Kebudayaan.
Hancurkan Markas Besar! 229

merencanakan serangan balik yang telak. Ia terus berkeli-


ling di daerah selatan sampai akhirnya berhenti di kampung
halamannya di Shaoshan. Setelah menikmati alam di sana, ia
kemudian mampir ke Wuhan dan melakukan “acara renang”
yang spektakuler itu, sementara di Beijing sendiri tengah
terjadi perdebatan sengit mengenai arah kebudayaan China
yang dipicu oleh kontroversi mengenai drama Hai Rui, yang
diinterpretasikan sebagai kritik terhadap kebijakan Mao ter-
hadap loyalis Partai yang menentangnya.
Sebulan sebelum acara renang itu, percikan api Revolusi
Kebudayaan mulai menyala, saat seorang mahasiswa Uni-
versitas Beijing mengkritik rektornya sebagai “anti-Partai”.
Sementara itu, di tanggal 2 Juni 1966, sekelompok pelajar
sekolah menengah di Beijing memasang poster yang mereka
tandatangani dengan nama “Penjaga Merah”, nama yang
kemudian diadopsi oleh gerakan mahasiswa dan pelajar di
seluruh penjuru negeri. Poster-poster lainnya bermunculan,
dan semuanya bernada brutal. Untuk mempersiapkan revo-
lusi, Mao memerintahkan agar kelas-kelas harus dibatalkan
pada tanggal 13 Juni 1966. Tidak perlu waktu lama sam-
pai kerusuhan benar-benar terjadi. Hanya 5 hari kemudian,
puluhan dosen dan staf Universitas Beijing diseret ke depan
kerumunan orang kemudian dilecehkan secara isik maupun
psikis – dengan wajah mereka dihitamkan dan kemudian di-
paksa mengenakan topi kerucut putih.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Melihat hal ini, Liu Shaoqi menolak untuk diam saja.


Sebagai kepala negara, ia harus melakukan pencegahan agar
gerakan revolusi ini tidak semakin merusak. Setelah meng-
hadap Mao di Hangzhou bersama dengan Deng Xiaoping,
Liu mulai mengorganisasi kelompok-kelompok kerja yang
beranggotan kader eselon menengah ke kampus-kampus
230 Republik Rakyat China

untuk “membantu mengarahkan revolusi”. Namun, ini di-


pandang oleh kader kelas bawah dan juga para mahasiswa se-
bagai penentangan terhadap edaran 16 Mei.
Setelah menyelesaikan acara renangnya, Mao segera
bergegas kembali ke Beijing untuk mengambil peran da-
lam Revolusi ini. Mao kemudian mengutuk pembentukan
kelompok kerja yang dilakukan oleh Liu dan Deng, karena
ia menganggap kelompok-kelompok kerja ini “meremehkan
kemampuan mahasiswa dan mengabaikan kader-kader kecil”,
sehingga ia memerintahkan agar kelompok ini ditarik kembali
pada tanggal 24 Juli. Setelahnya, Mao memerintahkan agar
Liu dan Deng untuk melakukan “kritik diri”.
Tanggal 28 Juli, Penjaga Merah mengirimkan surat kepada
idola mereka, Ketua Mao, memintanya untuk “mengobar-
kan pemberontakan dan mengawal revolusi”. Sekitar 10 ribu
orang aktivis revolusioner berkumpul di Balai Agung Rakyat
di Beijing, dan di depan mereka Liu dan Deng mengajukan
“kritik diri” mereka. Liu menyampaikan dengan berat hati:
“Kalian tidak jelas tentang bagaimana kita harus mem-
promosikan Revolusi Kebudayaan Agung ini. Kalian ber-
tanya padaku, dan aku pun sama sekali tak tahu harus
bagaimana. Kenyataannya, aku pun tidak yakin bahwa
rekan-rekan di dalam partai atau Komite Pusat tahu
harus berbuat apa. ”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Meskipun tidak tampil dalam pertemuan itu, Mao tengah


mengintip dari balik tirai besar di auditorium besar itu, dan
ketika mendengar kritik diri yang disampaikan Liu itu, ia
menjadi berang. Dokter pribadinya, Li Zhisui, menyaksikan
peristiwa itu dan ia menulis:
Hancurkan Markas Besar! 231

“[ketika mendengar kemarahan Mao] Hatiku seperti


tenggelam! Aku terus membayangkan bagaimana Revolusi
Kebudayaan ini akan jadi nantinya, dan sekarang [aku
tahu] tujuannya sudah jelas. Target utamanya adalah Liu
Shaoqi dan Deng Xiaoping. Mereka-lah ‘kontra-revolu-
sioner’ yang menurut Mao tengah bersembunyi di dalam
Partai, alias ‘pemegang otoritas Partai yang menempuh
jalur kapitalis’. Revolusi Kebudayaan adalah kampanye
untuk menghancurkan mereka [Liu dan Deng].”
Karena menganggap bahwa situasi di Beijing “terlalu sunyi”,
Mao menanggapi kritik diri Liu itu dengan caranya sen-
diri, melalui sidang pleno Kongres Partai Komunis di bulan
berikutnya. Dalam sidang pleno yang berlangsung tanggal 1-8
Agustus itu, Mao selalu menyela hampir setiap kalimat yang
diucapkan oleh Liu Shaoqi dalam laporan hariannya, dan ia
menekankan bahwa Partai kini tengah menganut haluan yang
menyimpang dari jalan awal yang ia tetapkan dulu. Melihat
bahwa tanggapan peserta sidang hanya suam-suam kuku saja,
Mao memutuskan untuk bertindak ofensif.
Mao mengambil langkah ekstrim dengan mengadakan per-
temuan Komite Partai yang diperluas di tengah-tengah sidang
pleno, dan ia secara pribadi menyerang Liu yang ia tuduh
“menekan gerakan mahasiswa”. Ia menuding bahwa Liu telah
terlibat dalam aktivitas yang tidak berbeda dengan yang di-
lakukan oleh Chiang Kai-shek semasa pembersihan terhadap
http://facebook.com/indonesiapustaka

komunis di tahun 30-an. Liu dianggap telah “mengikuti jalur


politik yang salah”, dan dengan demikian menjadi seorang
“anti-Marxis”.
Di tanggal 5 Agustus, bahkan sebelum pertemuan itu
berakhir, Mao kemudian menuliskan lima huruf berukuran
232 Republik Rakyat China

besar di sebuah poster: “pao da si ling bu”, atau “Hancur-


kan Markas Besar”. Poster ini ia tulis sebagai jawaban bagi
permintaan Penjaga Merah, sekaligus restu bagi massa pe-
lajar itu untuk mulai bertindak anarkis. Mao beranggapan
bahwa “kaum borjuis” masih tetap hidup dan bersembunyi
di dalam Partai dan menikmati posisi penting, dan menjadi
ancaman bagi arah revolusi kelas. Meskipun tidak menyebut
nama secara terang-terangan, semua orang tahu bahwa yang
dimaksud sebagai “ancaman” ini adalah Liu Shaoqi dan Deng
Xiaoping. Sidang pleno kemudian menghasilkan “Keputusan
Komite Pusat Partai Komunis Mengenai Revolusi Kebudaya-
an Proletar Agung” yang memaparkan alasan-alasan di balik
perlunya revolusi ini. Keputusan ini – yang kemudian dikenal
dengan “Enambelas Poin” – dinilai penting karena menjadi
acuan revolusi, menggaris-bawahi keberadaan “kaum borjuis”
yang menjadi musuh dalam selimut:
“Meskipun kaum borjuis sudah digulingkan, mereka masih
mencoba menggunakan ide-ide, kebudayaan, adat dan ke-
biasaan lama untuk mengeksploitasi kelas dan menghasut
massa, mempermainkan pikiran mereka dan menyiapkan
cara-cara untuk kembali berkuasa. ”
Kata-kata ini dengan jelas menjadi acuan bagi arah revolusi
nantinya, yaitu menghancurkan hal-hal yang dinilai “lama”,
atau yang kemudian dikenal sebagai “Empat Lama”: adat
http://facebook.com/indonesiapustaka

lama, kebudayaan lama, kebiasaan lama, dan ide-ide lama.


Selain itu, keputusan ini juga mengajak masyarakat un-
tuk:
“... berjuang melawan orang-orang yang memegang otori-
tas dan menghancurkan mereka yang mengambil haluan
Hancurkan Markas Besar! 233

kapitalis, untuk mencela dan menolak otoritas akade-


mis yang borjuis-reaksiponer dan berbagai kelas-kelas
eksploitator, dan untuk mentransformasi pendiidkan,
sastra, dan kebudayaan, dan semua hal dari struktur-
struktur besar yang tidak berdasar pada sistem ekonomi
sosialis, demi memfasilitasi konsolidasi dan pengembangan
sistem sosialis. ”
Artinya, otoritas Partai yang menentang garis besar haluan
Partai – menentang Mao, maksudnya – adalah musuh ber-
sama yang harus digulingkan, dicemooh, dan disingkirkan.
Liu Shaoqi sudah pasti menjadi target penyingkiran ini. Mes-
kipun ia tidak diberhentikan dari Partai, namun posisinya
bergeser jauh ke bawah, dari posisi ke-2 menjadi posisi ke-8.
Posisinya kemudian digantikan oleh Lin Biao, yang meng-
isyaratkan bahwa Lin dipersiapkan menjadi pengganti Mao di
kemudian hari. Selain itu, dibentuklah “Kelompok Revolusi
Kebudayaan Pusat” yang dipimpin oleh Chen Boda dan Jiang
Qing. Maka, perpecahan antara Liu dan Mao pun resmi su-
dah.
Lin Biao segera memanfaatkan keadaan yang menguntung-
kan ini. Lin segera melakukan serangannya sendiri terhadap
Deng Xiaoping, dan menuduh Deng bertindak seperti Wu
Han dengan memainkan “permainan kartu politik”. Menge-
tahui bahwa posisi Lin tengah berada di atas angin, Deng me-
milih untuk menyerah saja, sementara Zhou terus mengawasi
http://facebook.com/indonesiapustaka

dari kejauhan dengan diam seribu bahasa.


Meskipun “Enambelas Poin” yang dikeluarkan oleh Si-
dang Pleno di bulan Agustus itu dengan jelas merinci arah
gerakan revolusi, termasuk untuk berhati-hati agar tidak me-
nyasar kelompok intelektual yang memiliki peranan penting
234 Republik Rakyat China

terhadap pembangunan negara, namun Revolusi Kebudayaan


berkembang menjadi api yang liar. Semakin hari, Penjaga
Merah semakin brutal dalam menjalankan aksinya. Bahkan,
terjadi kematian pertama di tanggal 5 Agustus tatkala seorang
kepala sekolah perempuan di Beijing dipukuli sampai mati se-
telah sebelumnya disiksa oleh murid-muridnya sendiri. Mao
tidak mencela tindakan itu, namun malah memuji pelakunya.
Pada tanggal 18 Agustus 1966, dengan mengenakan seragam
tentara untuk pertama kalinya semenjak berakhirnya Perang
Sipil di tahun 1949, Mao memberikan kehormatan kepada
si pelaku kebiadaban di tanggal 5 Agustus itu untuk mema-
sangkan ikat lengan merah, simbol Penjaga Merah, ke lengan
Mao.
Di hari yang sama, Lin yang mendampingi Mao di sisi-
nya, mendorong massa yang brutal itu untuk “menghancur-
kan kebudayaan lama”. Maka massa yang bergerak di penjuru
ibukota itu pun memakai cara-cara anarkis, menghancurkan
sendi-sendi kebudayaan China yang adiluhung itu. Pertama-
tama, mereka menyerbu perkumpulan kelompok penulis di
ibukota Beijing dan memaksa puluhan penulis, seniman ter-
kemuka dan pemain opera untuk duduk berlutut di bawah
sinar matahari yang terik sambil dikalungi papan kayu ber-
tuliskan kalimat-kalimat cemoohan yang sangat tidak pantas.
Mereka kemudian diangkut ke gedung perpustakaan kota
dan disuruh berlutut melingkari api unggun yang membakar
http://facebook.com/indonesiapustaka

habis kostum dan peralatan opera yang biasa mereka pakai.


Puluhan seniman dan penulis itu masih harus menanggung
derita dipukuli dengan tongkat berpaku dan ikat pinggang
tentara yang bergesper kuningan. Mulai saat itu, banyak dari
para korban yang tidak lagi kuat menanggung siksaan isik
maupun mental, memilih untuk bunuh diri saja.
Hancurkan Markas Besar! 235

Perusakan Situs Budaya


Pengawal Merah, anak-anak muda yang menjadi garda pengawal
Revolusi Kebudayaan, menyasar setiap bentuk kebudayaan kuno
China yang mereka anggap tak sesuai dengan nafas revolusi
komunisme, termasuk agama. Patung Buddha di Dunhuang,
provinsi Gansu ini pun tidak luput dari perusakan.

Tidak berhenti sampai di sini, para Penjaga Merah ber-


gerak lebih jauh dengan menggeledah setiap rumah dan me-
nyita barang-barang yang dianggap sebagai bagian dari “ke-
budayaan lama”. Barang-barang kuno yang bernilai tinggi,
ataupun benda-benda seni dengan nilai artistik, disita dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

dikumpulkan. Sebagian dihancurkan, sebagian lagi “digelap-


kan” oleh Mao dengan dijual ke luar negeri untuk mendapat-
kan mata uang asing. Jiang Qing sendiri “membeli dengan
harga mahal” – hanya 7 Yuan saja sebenarnya – sebuah jam
saku Perancis yang terbuat dari emas dan berhiaskan mutiara
dan berlian yang disita oleh Penjaga Merah.
236 Republik Rakyat China

Bangunan-bangunan bersejarah dari masa lalu pun tak


luput dari kekejaman mereka. Tanpa berpikir panjang, Pen-
jaga Merah menyerbu Makam Ming di distrik Changping
di pinggiran Beijing, dan menghancurkan kompleks makam
Dingling milik mendiang kaisar Wanli (bertahta 1572-1620).
Mereka bahkan mengeluarkan jenasah sang kaisar dan per-
maisurinya, lalu menyeretnya ke depan bangunan makam
untuk kemudian melucuti, melecehkan, dan kemudian mem-
bakar kerangka itu. Makam Konfusius di Qufu pun tak luput
dari aksi mereka, dan jenasah dari bangsawan Yansheng ke-76
(gelar untuk keturunan Konfusius) menjadi korban kebiadab-
an mereka. Jenasah itu digantung di pohon, saat bangunan
makam tengah diporak-porandakan oleh kebrutalan Penjaga
Merah. Kompleks bekas istana kekaisaran di ibukota Beijing
pun hampir saja menjadi korban, jika bukan karena campur
tangan Zhou Enlai yang menerjunkan tentara untuk men-
jaga kompleks peninggalan sejarah itu. Seluruh gerbang bekas
Kota Terlarang itu disegel dan dijaga ketat oleh tentara, se-
hingga Penjaga Merah tidak dapat menjamahnya.
Ketika kekacauan yang disengaja ini tengah berkobar, Mao
menunjukkan niat aslinya, yaitu menyingkirkan semua orang
Partai yang tidak sejalan dengannya. Ia membentuk kelompok
baru di luar Penjaga Merah yang ia dandani serupa dengan
Penjaga Merah, namun tidak berasal dari kelompok pelajar
dan mahasiswa, melainkan dari kelompok orang dewasa, yang
oleh Jung Chang disebut sebagai “Pemberontak”. Mereka
http://facebook.com/indonesiapustaka

sengaja diperintahkan untuk menyasar elit Partai secara pukul


rata, artinya tidak hanya mereka yang tidak sehaluan dengan
Mao saja yang menjadi korban, bahkan mereka yang selama
ini tetap setia pada Mao dan terus mendukungnya termasuk
di saat-saat puncak krisis kelaparan di penghujung 50-an juga
menjadi korban. Mao kemudian mengisi posisi lowong yang
Hancurkan Markas Besar! 237

ditinggalkan dengan menempatkan hampir 3 juta tentara


angkatan darat untuk menduduki posisi pengawas, dengan
50 ribu di antaranya menduduki posisi elit Partai. Bahkan
tentara yang ditugaskan di provinsi Fujian tepat di sisi Selat
Taiwan pun dipindahkan untuk memenuhi angka ini.
Bila awalnya gerakan Revolusi Kebudayaan ini ditujukan
pada kaum intelektual dan otoritas Partai, lama-kelamaan
api yang berkobar liar ini menjadi semakin tak terkendali.
Bahkan kaum pelajar yang “dicurigai berasal dari kelompok
borjuis” juga menjadi sasaran kebrutalan ini. Dalam biograi-
nya tentang Mao, Jung Chang memaparkan bahwa murid-
murid dikelompokkan berdasarkan latar belakang keluarga
mereka, dan jika ada yang dianggap sebagai “kaum borjuis”,
maka mereka akan segera dipermalukan dan disiksa, sampai
dipaksa untuk mengaku sebagai “anak perempuan jalang dan
pantas mati”.
Tidak hanya di ibukota saja, kekerasan terhadap “kaum
borjuis” ini juga meluas ke segala penjuru. Dalam peringatan
50 tahun Revolusi Kebudayaan di tahun 2016, he Economist
menuliskan sekelumit ingatan tentang masa kelam itu:
“Di Wuhan, China tengah, di mana 54 kelompok Pen-
jaga Merah yang saling bertentangan terlibat dalam
persaingan, murid-murid sekolah menengah dibayar 50
Yuan (kurang lebih sama dengan gaji sebulan saat itu)
http://facebook.com/indonesiapustaka

oleh pemimpin geng mereka untuk membunuh anak-anak


dari kelompok lawan. ‘Aku membunuh lima anak dengan
pisau-bintang milikku. ’tulis seorang remaja. Di Daxing,
di pinggiran selatan Beijing, 325 orang dari ‘keluarga
tuan tanah dan petani kaya’ dibunuh dalam semalam,
dengan kebanyakan dari mayat mereka dibuang ke dalam
238 Republik Rakyat China

sungai. Seorang jurnalis China yang berkunjung pada


tahun 2000 mendapat cerita tentang seorang nenek tua
dan cucunya yang dikubur hidup-hidup. ‘Nenek, ada
pasir masuk ke mataku. ’tangis anak kecil itu. ‘Sebentar
lagi kau takkan merasakannya,’jawab sang nenek.”
Tidak cukup sampai di situ saja, Penjaga Merah bahkan ber-
tindak di luar batas. Mereka menyasar otoritas yang ada di
rumah mereka, atau orangtua mereka sendiri. Dalam artikel
yang sama, he Economist menyampaikan kisah pilu tentang
Zhang Hongbing, seorang mantan Penjaga Merah yang saat
kisah ini terjadi tengah berusia 16 tahun:
“Pada bulan Februari 1970, seorang anak berumur 16
tahun bernama Zhang Hongbing, mengadukan ibu-
nya pada perwira militer di desanya di provinsi Anhui
di China Timur. Ia menyelipkan sepucuk nota di bawah
pintu perwira itu, yang isinya menuduh ibunya telah
mengkritik Revolusi Kebudayaan dan pemimpinnya, Mao
Zedong. Perempuan itu kemudian diikat, dipukuli di
depan umum, dan dihukum mati. Puluhan tahun kemu-
dian, Zhang mulai menulis blog tentang tragedi itu, men-
coba untuk membersihkan nama ibunya dan menjelaskan
bagaimana kematian itu sampai terjadi. ‘Aku ingin
membuat rakyat China berpikir,’tulisnya di bulan April,
‘bagaimana mungkin sampai terjadi tragedi mengerikan
di mana... seorang anak menggiring ibunya sendiri ke
http://facebook.com/indonesiapustaka

hukuman mati? Dan bagaimana kita bisa mencegah hal


ini agar tidak lagi terjadi?’”
Revolusi Kebudayaan ini bukannya tidak mendapatkan
perlawanan. Shanghai, yang terkenal sebagai pusat bisnis
terkemuka di China, menolak untuk mendukung revolusi
Hancurkan Markas Besar! 239

yang brutal ini. Pada bulan Januari 1967, ketika gelombang


revolusi mulai merambah pabrik-pabrik di Shanghai, kader
partai yang menentang Revolusi Kebudayaan merancang tak-
tik untuk menjauhkan para buruh dari gerakan anarkis ini
sambil mencoba membongkar keburukan revolusi secara ke-
seluruhan. Mereka membayar bonus tambahan pada pekerja
yang kemudian dipakai untuk membeli barang-barang di
toko, sehingga Shanghai sampai mengalami kekurangan stok
barang. Mereka juga membujuk pekerja untuk mogok dan
memblok jembatan-jembatan di Shanghai.
Ini menyebabkan terjadinya “Badai Januari”, di mana
pekerja revolusioner di Shanghai kemudian membentuk
organisasi massa yang diberi nama “Markas Besar Pekerja
Revolusioner”. Mereka kemudian mengambil alih kota dan
mengeluarkan sebuah pesan kepada rakyat Shanghai:
“Rekan-rekan pekerja revolusioner! Dengan ajaran Ketua
Mao dalam pikiran kita, kalian telah berdiri tegak meng-
hadapi gelombang ini, memberi bukti tentang tanggung
jawab revolusioner kita, dan di bawah kondisi yang su-
lit, telah menanggung semua tugas produksi dari pabrik-
pabrik kita, menghadapi ancaman dari segelintir otoritas
Partai, yang mengambil jalur kapitalis dan menjalankan
rencana besar mereka untuk ‘mementahkan revolusi mela-
lui sabotase’. ”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Mereka mengajak para pekerja yang mogok untuk kembali


bekerja lewat pertanyaan retorika, “Dengan meninggalkan
pos kalian di bidang produksi, kepentingan siapakah yang
kalian bela?” Di tanggal 9 Januari, bersama dengan 41 orga-
nisasi massa lainnya, Markas Besar kembali mengajak kaum
pekerja yang telah meninggalkan Shanghai untuk kembali ke
240 Republik Rakyat China

kota, dan mengajak mereka untuk tetap patuh pada panduan


Ketua Mao dan ikut berperan serta dalam Revolusi Kebudaya-
an, sambil di sisi lain tetap menjalankan tugas produksi dan
konstruksi. Dengan seruan ini, maka Markas Besar – yang
dinamakan “Komune Shanghai” – secara tidak langsung telah
menjadi pengganti pemerintah kota, dan berdasarkan model
inilah komune-komune serupa didirikan di penjuru negeri,
bahkan sampai Heilongjiang di utara sana.
Perlawanan terang-terangan ditunjukkan di bulan Feb-
ruari, pada apa yang disebut sebagai “Melawan Arus di
Februari” yang dikemukakan oleh sejumlah jenderal veteran
Partai Komunis, seperti Tan Zhenlin, Chen Yi, Xu Xiangqian,
dan Nie Rongzhen. Karena geram dengan tindakan brutal se-
lama masa-masa awal Revolusi Kebudayaan yang disponsori
oleh Lin Biao dan Jiang Qing, para jenderal veteran ini me-
nuding bahwa Revolusi Kebudayaan telah membuat China
jatuh ke dalam kekacauan. Lin segera menentang aksi ini, dan
pada bulan September 1967 ia mencela kelompok Melawan
Arus ini secara terbuka pada Sidang Pleno Kongres Partai,
dan membuat Tan Zhenlin dan Nie Rongzhen disingkirkan
dari kedudukannya. Chen Yi tidak disingkirkan, dan bahkan
dikembalikan ke kedudukannya pada 1971 setelah kematian
Lin Biao. Xu Xiangqian adalah yang paling beruntung, karena
ia ikut masuk dalam Kelompok Revolusi Kebudayaan Pusat
setahun kemudian.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Namun sasaran utama sejak semula tak lain adalah sang


presiden, Liu Shaoqi. Padahal, menurut biograinya yang
ditulis oleh Lowell Dittmer, Liu selalu menganggap diri-
nya sebagai pengikut Mao yang setia dan penurut. Namun
entah mengapa, Mao tak pernah bisa tenang sebelum Liu
dan komplotannya – terutama Deng Xiaoping – disingkirkan
Hancurkan Markas Besar! 241

dari panggung kekuasaan. Mao mulai menggunakan orang-


orangnya, salah satunya adalah Kuai Dafu, seorang mahasiswa
muda dari Universitas Qinghua di Beijing, yang ditahan oleh
kelompok kerja karena memimpin aksi kerusuhan “untuk me-
rebut kekuasaan dari kelompok kerja” yang dibentuk oleh Liu
Shaoqi. Atas perintah Mao, Zhou Enlai mendatangi Kuai dan
menjadikannya senjata untuk menteror Liu dan keluarganya.
Beragam teror pun dilakukan oleh Kuai dan komplotan-
nya, mulai dari berkeliling dalam truk-truk untuk berdemo
menuntut mundurnya Liu Shaoqi, sampai yang paling keter-
laluan adalah menculik nona Liu Pingping, putri Liu Shaoqi
dan menahan Wang Guangmei, istri Liu. Namun atas inter-
vensi Zhou Enlai dan Jiang Qing, Kuai melepaskan Wang
Guangmei. Itu karena Kuai bertindak atas inisiatifnya sendiri
tanpa meminta persetujuan Zhou ketika ia menangkap Wang
Guangmei dan menginterogasinya.
Jiang Qing pun juga menjalankan perannya, dengan mem-
bujuk Liu Tao, putri Liu Shaoqi dari pernikahan sebelumnya
dengan Wang Qian, untuk melakukan “pemeriksaan diri”
dan menulis “kritik” terhadap ayahnya. Liu berhasil dibujuk,
dan bersama dengan kakaknya, Liu Yongzhen, ia menulis
bahwa, “selama lebih dari 20 tahun, ia [Liu Shaoqi] selalu
saja melawan dan menentang Ketua Mao dan Buah Pikiran
Ketua Mao, dan menjalankan, bukan sosialisme, namun kapi-
talisme. ”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Sebelum melancarkan pukulan telaknya, Mao masih “ber-


baik hati” dengan mengundang Liu melalui sekretarisnya un-
tuk berbicara empat mata di Balai Agung Rakyat pada tanggal
13 Januari 1967. Di sana, secara halus Mao meminta Liu un-
tuk mau menurut dan patuh padanya. Namun Liu bergeming
242 Republik Rakyat China

danmeminta agar Mao menghentikan semua kegilaan revolusi


ini, dan hanya menghukum dirinya saja, jangan yang lain-
nya. Liu juga meminta agar Mao membiarkannya turun dari
jabatannya dan pulang ke Yan’an untuk menjadi petani. Mao
hanya tersenyum, lalu sambil meminta agar Liu menjaga ke-
sehatannya, ia mengantar Liu ke pintu depan untuk terakhir
kalinya. Setelah itu, tindakan kejam terhadap Liu pun di-
mulai.
Sejak saat itu, Liu dikenakan tahanan rumah. Ia tidak di-
perbolehkan pergi ke mana-mana, dan sambungan telpon di
rumahnya diputus. Kuai mengorganisasi massa untuk menge-
cam dan menghina keluarga Liu, termasuk nyonya Wang
Guangmei. Namun wanita perkasa itu menolak tunduk, dan
dalam setiap kesempatan pengecaman massa, Wang selalu
menunjukkan ketegaran hatinya dengan menolak untuk ber-
lutut sekalipun dipaksa oleh massa yang beringas. Raut wajah-
nya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan, yang bahkan
sampai membuat Kuai sendiri kagum.
Untuk semakin memperlemah mental Liu, Mao memerin-
tahkan agar pasangan itu dipisahkan. Mereka dikurung di
ruangan berbeda, dan baru dipertemukan kembali di tanggal
5 Agustus 1967, saat mereka diajukan ke “pengadilan rakyat”
di lapangan Tian’anmen. Namun acara ini urung dilanjutkan
ketika Mao memerintahkan agar massa dibubarkan, karena
ia takut kalau-kalau suami-istri yang tak kenal takut itu buka
suara dan sampai terekam oleh jurnalis asing. Akhirnya, pa-
http://facebook.com/indonesiapustaka

sangan malang itu dibawa kembali ke kediaman mereka di


dalam kompleks Zhongnanhai untuk kembali menjalani se-
rangkaian siksaan oleh orang-orang Mao di sana.
Di dalam kompleks Zhongnanhai yang tertutup itu,
pengadilan rakyat tetap dilakukan terhadap Liu. Menghadapi
Hancurkan Markas Besar! 243

serangkaian tuduhan tak berdasar yang dibuat-buat itu, de-


ngan tegar Liu terus berusaha untuk menyanggahnya, namun
tidak sampai dua patah kata keluar dari mulutnya, ia langsung
“dipukuli” oleh orang-orang dengan menggunakan Buku
Merah Kecil – buku yang berisi kumpulan buah pikiran Mao
Zedong. Wang Guangming juga mendapatkan perlakuan
yang sama, namun dengan tegar suami-istri ini tetap menolak
untuk menyerah.
Jiang Qing tak mau ketinggalan. Jiang yang selalu iri pada
Wang pernah memerintahkan agar Wang diseret dari kamar
tidurnya di malam hari tanggal 9 April, dan digiring untuk
menghadapi cercaan massa selama tiga sesi berturut-turut,
di mana sekitar 300 organisasi Pemberontak telah diundang.
Di sana, Wang yang mengenakan baju qipao – baju tradi-
sional China – bersama dengan kalung emas yang dulu ia
pakai saat mengunjungi Indonesia, difoto untuk kemudian
diolok-olok sebagai “pelacur yang merendahkan diri di de-
pan Soekarno”.
Mao tidak puas hanya dengan menghukum Liu dan istri-
nya. Ia memaksa anak-anak mereka untuk menyaksikan
penyiksaan pada kedua orangtua mereka itu, dan kemudian
mengusir mereka dari rumah mereka. Mereka juga jadi kor-
ban penyiksaan, dan ditahan di penjara. Bahkan anak Liu dari
pernikahan sebelumnya memilih untuk bunuh diri. Saudara-
saudara Wang Guangmei juga tak luput; mereka dijebloskan
http://facebook.com/indonesiapustaka

ke dalam penjara, termasuk juga ibu Wang Guangmei yang


sudah berumur 70 tahun. Nyonya tua malang itu meninggal
di dalam penjara beberapa tahun kemudian.
Liu terus menjalani serangkaian siksaan dalam penjara yang
membuatnya hampir gila. Sipir penjara tempatnya ditahan
bahkan menyebutkan kalau Liu mulai bertindak seperti orang
244 Republik Rakyat China

pikun, yaitu “menyikat gigi dengan sisir dan sabun, mengena-


kan kaos kaki di luar sepatu, dan memakai celana dalam di
luar celana panjangnya”. Namun saat pikirannya terang, Liu
tetap menolak untuk tunduk pada kehendak Mao. Ia bahkan
sempat menulis pembelaan dirinya yang terakhir di tanggal
11 Februari 1968, yang isinya menghujat Mao sebagai dikta-
tor kejam, bahkan sejak awal tahun 1920-an. Mao menolak
untuk mengampuni Liu, dan bahkan mengirimkan juru foto
untuk merekam setiap momen penderitaan yang dialami oleh
Liu. Namun Mao masih enggan membunuh Liu, setidaknya
sampai Kongres Partai ke-9 di April 1969.
Namun kondisi Liu terus memburuk, dan bulan Oktober
1968 ia hanya bisa makan lewat selang yang dipasang lewat
hidungnya. Mao sendiri belum bisa mengumpulkan delegasi
Partai untuk mengadakan kongres mengingat luasnya pem-
bersihan yang ia lakukan lewat Revolusi Kebudayaan ini. Tim
Penyelidik yang dibentuk oleh Zhou Enlai pun belum bisa
memberikan dalih yang kuat untuk menjerat Liu dan me-
yakinkan kongres untuk mencela Liu dan menurunkannya
dari jabatan presiden, tidak peduli sengawur apapun mereka
melakukan interogasi, atau seberapa susah payahnya mereka
menggali setiap data dan dokumen untuk mencari bukti peng-
khianatan Liu terhadap Partai Komunis. Bahkan orang-orang
yang dulu pernah menjadi pemimpin Partai, seperti Li Lisan
dan Luo Fu, sampai dipaksa untuk mendukung tuduhan palsu
terhadap Liu – yang dituduh sebagai mata-mata Rusia – dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Wang Guangmei – yang dituduh sebagai mata-mata yang di-


susupkan Amerika. Li dan Luo dijebloskan ke dalam penjara
dan dibunuh secara diam-diam.
Dengan memaksakan diri, akhirnya Tim Penyelidik
menghasilkan laporan yang diberi nama “Laporan Penyeli-
dikan Mengenai Tindakan Kriminal yang Dilakukan oleh
Hancurkan Markas Besar! 245

Pengkhianat dan Penggerogot Berandal dan Tersembunyi


Liu Shaoqi”, yang akan diserahkan pada Pleno ke-12 yang
diadakan pada tanggal 13-31 Oktober. Pleno ini sampai
harus diperluas karena hanya 59 orang delegasi yang dapat
hadir karena pembersihan Partai. Akhirnya anggota Kelom-
pok Revolusi Kebudayaan Pusat pun dimasukkan serta dalam
keanggotaan pleno, dan mereka sepakat untuk memecat Liu
dari keanggotaan Partai untuk selamanya.
Pada akhirnya, setelah berjuang selama 3 tahun menahan
cemoohan dan siksaan, Liu akhirnya menyerah, namun bukan
kepada Mao, melainkan kepada ajal yang menjemput. Tang-
gal 17 Oktober 1969, karena takut kalau-kalau Uni Soviet
melancarkan serangan tiba-tiba dan kemudian “menyelamat-
kan” Liu Shaoqi dan mantan petinggi Partai yang menentang-
nya, Mao memerintahkan Lin Biao untuk memindahkan Liu
dari Beijing ke Kaifeng, ibukota provinsi Henan. Namun Mao
menolak permintaan para dokter yang memeriksa kondisi Liu
yang sudah mengenaskan itu dan merawatnya. Akhirnya, Liu
meninggal pada tanggal 12 November 1969 dan dikremasi
secara rahasia dengan nama samaran. Kematiannya tetap dira-
hasiakan ke publik sampai tahun 1972. Namanya baru dire-
habilitasi oleh Deng Xiaoping di tahun 1980, atau 11 tahun
kemudian ketika Deng berhasil menduduki jabatan tertinggi
Partai Komunis. Liu baru mendapatkan upacara pelepasan
kenegaraan yang pantas pada tanggal 17 Mei 1980, dan abu-
nya ditebarkan di laut lepas pantai Qingdao sesuai dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

wasiat terakhirnya. Wang Guangmei, istri setianya, juga ikut


direhabilitasi dan menjadi salah satu saksi dalam sidang untuk
menjerat Jiang Qing dan komplotannya. Nyonya Wang ke-
mudian diangkat sebagai salah satu anggota tetap Konferensi
Konsultatif Politik Rakyat Nasional, dan baru meninggal du-
nia di tahun 2006 dalam usia lanjut, 85 tahun.
246 Republik Rakyat China

Nasib yang kurang lebih sama dengan yang dialami oleh


Liu Shaoqi juga menghampiri rekan seperjuangannya yang
juga setia terhadap Partai dan rakyat, yaitu Peng Dehuai.
Sebelumnya, setelah dipermalukan dan disingkirkan lewat
Konferensi Lushan di tahun 1959, Peng sempat dipulih-
kan kembali oleh Mao dan ditempatkan sebagai pengawas
pembangunan di daerah Barat Daya, dengan cakupan wilayah
meliputi Sichuan, Guizhou, Yunnan, dan Tibet. Saat Revo-
lusi Kebudayaan meletus di tahun 1965, pengawal-pengawal
pribadi Peng pernah mengingatkannya untuk tidak melaku-
kan kontak apapun dengan Penjaga Merah, namun saran ini
ditolak oleh Peng.
Meskipun sempat dilindungi oleh Sekretariat Partai, Peng
tetap saja menjadi salah satu target utama Revolusi Kebudaya-
an. Mao – lewat Jiang Qing – memberi perintah kepada Pen-
jaga Merah di Sichuan untuk mencari dan menangkap Peng
yang saat itu berada di Chengdu, ibukota provinsi Sichuan.
Penjaga Merah membawa Peng secara paksa dengan ikatan
rantai ke Beijing pada bulan Desember 1966. Namun seperti
apa yang diungkapkan oleh Jung Chang, bahkan Penjaga
Merah yang dikirimkan untuk menangkap Peng sampai meng-
ubah haluannya dan balik membela Peng, setelah veteran tua
itu memberikan pembelaan dengan kata-kata yang sangat me-
nyentuh dan meyakinkan. Akibatnya, orang itu dijebloskan
ke dalam penjara gara-gara balik membela Peng.
Begitu takutnya kalau Peng benar-benar punya koneksi
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan Krushchev di masa lalu, Mao sampai memerintahkan


agar dilakukan interogasi berulang-ulang kepada Peng. Setelah
gagalnya Pemberontakan Wuhan yang dimotori oleh Chen
Zaidao, seorang jenderal dalam PLA, cercaan terhadap Peng
semakin menjadi-jadi. Ia dijadikan “model cemoohan nasio-
nal”, dan dihujani serangkaian tuduhan seperti “kapitalis”,
Hancurkan Markas Besar! 247

“penentang Mao yang gigih”, “komplotan Liu Shaoqi”.


Namun seperti Liu, Peng menolak untuk tunduk pada Mao.
Ia bahkan menulis kisah hidupnya dengan jelas dan menolak
segala tuduhan yang dilancarkan oleh Mao.
Peng kemudian dijebloskan ke dalam tahanan seumur
hidup. Ia sempat keluar sebentar saat masuk ke rumah sakit
di tahun 1973, namun karena perintah Mao yang melarang
pengobatan apapun untuk Peng – yang mulai digerogoti oleh
tuberkulosis, Peng kembali dimasukkan ke penjara. Ia me-
ninggal tanggal 29 November 1974 karena penyakitnya, dan
– seperti Liu – dikremasi secara rahasia dengan nama sama-
ran. Abunya dikembalikan ke Chengdu, dan kabar kemati-
annya baru diumumkan secara resmi di tahun 1978. Ketika
Deng Xiaoping kembali ke tampuk pimpinan, ia merehabili-
tasi Peng lewat pidatonya:
“Ia [Peng Dehuai] adalah seorang pemberani di medan
perang, orang yang terbuka dan lurus, tidak dapat di-
belokkan ataupun bercacat, dan keras terhadap diri sen-
diri. Ia sangat peduli kepada rakyat, dan tidak pernah
mengutamakan kepentingan pribadinya. Ia tidak pernah
takut menghadapi kesulitan ataupun menanggung beban
berat. Dalam pekerjaan revolusionernya, ia selalu rajin,
jujur, dan selalu penuh dengan rasa tanggung jawab. ”
Dengan begitu, setelah menyingkirkan Liu Shaoqi, Peng
Dehuai, dan Deng Xiaoping, artinya Mao tidak lagi punya
http://facebook.com/indonesiapustaka

penentang berarti di lingkaran kekuasaannya. Ini sama se-


perti Stalin yang mencopoti dan menghabisi lawan-lawannya,
juga menyingkirkan orang-orang yang pernah dekat dengan-
nya, sekaligus memberikan teror terus-menerus pada mereka
yang masih bertahan. Hanya bedanya, Stalin mengguna-
kan polisi-polisi rahasianya, sementara Mao bertindak lebih
248 Republik Rakyat China

“populis”, yaitu menggunakan kekuatan massa yang setia


padanya – atau setidaknya ia pengaruhi dan paksa supaya se-
tia padanya. Meskipun Revolusi Kebudayaan secara “resmi”
hanya berlangsung di tahun 1966-1969 di mana kegilaan
pembersihan mencapai puncaknya – di tahun 1969 Mao
memutuskan untuk membubarkan massa pelajar dan maha-
siswa lalu mengirim mereka ke daerah pegunungan dan pe-
desaan untuk mengerjakan pekerjaan kasar melalui “Gerakan
Naik ke Gunung dan Turun ke Pedesaan” – namun teror dan
bayang-bayang kebrutalan revolusi masih akan terus bertahan
selama satu dekade, setidaknya sampai setelah meninggalnya
Mao dan ditangkapnya Geng Empat (Jiang Qing dkk.) saat
Deng mengambil alih kekuasaan.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Kaisar Merah

Sebagaimana lazimnya negara-negara di Asia Timur, China


adalah sebuah negara dengan budaya patriarki yang kuat.
Dalam masyarakat semacam ini, selalu dibutuhkan seorang
igur pemimpin yang “tanpa cacat”, yang bijaksana dan sem-
purna dalam segala hal, yang menjadi tuntunan dan teladan
tak bercela bagi seluruh rakyat yang dipimpinnya. Petunjuknya
adalah contoh ideal yang tidak boleh dibantah, dan setiap
perintahnya adalah sabda yang tidak boleh diabaikan.
Begitu juga dengan China di masa kekuasaan Mao. Bagi
rakyat China, Mao adalah “Tuhan” mereka. Mao-lah yang
menentukan nasib dan hidup mati setiap orang di China saat
itu. Semua perintahnya dan ide-idenya – segila apapun itu
– adalah sabda kaisar yang harus dipatuhi dan dijadikan pe-
gangan bagi rakyat di segala aspek kehidupannya, dari hal-hal
politik dan kepartaian, sampai kata-kata yang diucapkan dan
metode-metode “ilmiah” yang diteliti.
Bagaimanakah cara Mao membuat hal itu menjadi mung-
kin? Jawabannya adalah dengan indoktrinasi massa. Sasaran
utamanya adalah kelompok yang dikenal sebagai “pemberon-
tak” dan mereka yang anti kemapanan, yaitu generasi muda.
Di saat anak-anak remaja atau dewasa muda seusia mereka di
http://facebook.com/indonesiapustaka

belahan dunia lainnya sedang keranjingan musik he Beat-


lesatau menjadi generasi hippies, anak-anak muda di China
sedang keranjingan untuk mengikuti idola mereka, yaitu Ke-
tua Mao yang Agung. Bagi mereka, Mao adalah igur panutan
ideal sepenuhnya yang sempurna dalam berbagai sisi kehidup-
annya.
250 Republik Rakyat China

Partai Komunis sendiri menjadi mesin indoktrinasi yang


efektif untuk mencuci otak-otak segar kaum idealis muda
yang masih rentan terhadap perubahan. Namun ketika pada
akhirnya Partai malah menyingkirkannya dari kekuasaan,
Mao bertindak sendiri di luar garis Partai dan menekankan
“garis” nya sendiri, yaitu membuat mesin indoktrinasi-nya
sendiri, yang ia lahirkan dalam bentuk manual kecil yang pa-
dat namun praktis, sebuah buku yang kemudian terkenal se-
bagai “Buku Merah Kecil”.
Buku ini adalah buku yang kecil dan muat dalam saku
baju, sehingga bisa dibawa ke mana-mana. Bagi kaum revolu-
sioner anarkis muda yang menamakan diri mereka “Penjaga
Merah”, buku ini adalah kitab suci yang wajib mereka miliki
dan bawa serta ke manapun mereka pergi. Buku yang asli-
nya berjudul “Kutipan-kutipan dari Ketua Mao Zedong” ini
memuat kutipan dari berbagai karya tulis Mao yang menjadi
buah pikirannya. Pada tahun 1964 ketika tengah digodok
pembuatannya, buku ini hanya memuat 200 kutipan saja,
namun ketika diselesaikan tahun 1965, buku ini memuat total
427 paragraf kutipan kata-kata Mao Zedong. Buku ini kemu-
dian didistribusikan secara luas baik di kalangan sipil ataupun
militer, anggota partai ataupun orang awam, bahkan menjadi
salah satu hadiah “wajib” antar anggota keluarga atau kolega.
Isinya dikategorikan ke dalam 33 topik yang mencakup
masalah politik seperti peran Partai Komunis, sosialisme dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

komunisme, sampai hal-hal berbau revolusioner seperti per-


juangan rakyat dan hubungan antara militer dengan sipil.
Beberapa bab terakhir memaparkan tentang sosok ideal se-
orang “komunis sejati”, baik itu pemuda, kaum perempuan,
kader partai, lengkap dengan bagaimana saja cara untuk men-
capai sosok ideal itu:
Kaisar Merah 251

“Seorang komunis haruslah memiliki pikiran yang luas,


dan ia harus terhormat dan aktif, mementingkan kepen-
tingan revolusi sebagai tujuan hidupnya, dan menomor-
duakan kepentingan pribadinya di bawah kepentingan
revolusi; selalu dan di mana pun jua ia harus mengikuti
prinsip-prinsip [revolusi] dan mengobarkan perjuangan
tanpa kenal lelah melawan semua ide dan aksi yang salah,
demi untuk mengkonsolidasikan kehidupan Partai yang
koletif dan memperkuat ikatan antara Partai dengan
massa; ia harus lebih peduli terhadap Partai dan massa
dibandingkan individual lainnya [maksudnya: keluarga,
teman, dll.], dan lebih peduli terhadap yang lain di-
bandingkan dirinya sendiri. Barulah ia bisa dianggap se-
bagai seorang Komunis. (dari Esai ‘Melawan Liberalisme’,
1937)”
“Seorang Komunis”, menurut Mao, haruslah selalu siap-sedia
manakala ia dibutuhkan untuk “memerangi hal-hal yang salah”.
Jika mereka berbuat salah, mereka juga harus siap untuk “dilurus-
kan”. Kata-kata inilah yang menjadi semacam “ajakan resmi”
untuk mengikuti kebenaran – yang tentu saja adalah setiap kata-
kata yang diucapkan oleh Mao, seperti yang dituliskan:
“Para Komunis haruslah siap sedia setiap saat untuk berdiri
demi kebenaran, karena kebenaran adalah kehendak rakyat;
para Komunis haruslah siap sedia setiap saat untuk mem-
perbaiki kesalahan mereka, karena kesalahan adalah me-
http://facebook.com/indonesiapustaka

lawan kehendak rakyat. (dari Esai ‘Mengenai Pemerintahan


Koalisi’, 1945)”
Kebenaran, menurut Mao, tentulah berarti apa saja yang
Partai – yaitu dirinya – katakan. Di luar itu hanyalah “paham
borjuis”. Mao menulis:
252 Republik Rakyat China

“Dalam bidang ideologis, pertanyaan tentang siapa yang


akan memenangkan pertarungan antara proletar dengan
borjuis masih belum dapat terjawab. Kita masih harus
mengobarkan perjuangan yang berkepanjangan melawan
paham borjuis dan borjuis-kecil. Adalah hal yang salah
untuk tidak memahami hal ini dan menyerah dalam per-
juangan ideologis ini. Semua ide-ide yang salah, semua
‘gulma beracun’, semua hantu dan siluman, harus men-
jadi sasaran kritik; mereka tidak boleh dibiarkan tanpa
diperiksa. Namun, kritik haruslah masuk akal, dapat
dianalisa dan meyakinkan, dan tidak kasar, birokratis,
bersifat takhayul, atau dogmatis. (dari naskah pidato pada
Konferensi Nasional tentang Propaganda, 1957)”
“Kritik”, menjadi senjata dan ancaman yang ampuh ter-
hadap mereka yang salah, atau dianggap salah, yaitu mereka
yang bersikeras menentang Partai – atau menentang Mao –
dan “mempertahankan paham borjuisnya”. Mao selalu me-
nuduh mereka yang menentangnya sebagai pengikut paham
borjuis yang merupakan “warisan” zaman yang lampau, yang
harus disingkirkan:
“Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menangani
masalah perjuangan ideologis antara sosialisme dan
kapitalisme di negara kita. Penyebabnya adalah karena
pengaruh kelompok borjuis dan intelektual yang berasal
http://facebook.com/indonesiapustaka

dari masyarakat lama akan tetap tinggal di negara kita


untuk waktu yang lama, dan begitu juga ideologi kelas
mereka. Jika hal ini tidak dipahami dengan baik, atau
tidak dipahami sama sekali, kita akan membuat kesa-
lahan yang besar, dan perlunya mengobarkan perang
di bidang ideologis akan diabaikan sama sekali. (dari
Kaisar Merah 253

Esai ‘Mengenai Cara Penanganan Kontradiksi dalam


Masyarakat, 1957)”
Penyerangan terhadap “musuh” merupakan hal yang harus
dilakukan, bahkan penting untuk tidak hanya memastikan
kehancuran musuh, namun menjamin keselamatan diri sen-
diri:
“Penyerangan adalah cara utama untuk menghancur-
kan musuh, namun bertahan juga tidak boleh diabai-
kan. Dalam penyerangan, tujuan utama adalah untuk
menghancurkan musuh, namun di waktu yang sama, ini
juga berarti pertahanan diri, karena jika musuh tidak
dihancurkan, kau yang akan dihancurkan. (dari Esai
‘Mengenai Perang Berkepanjangan’, 1938)”
Lalu siapakah yang dianggap sebagai musuh? Menurut Buku
Merah:
“Musuh kita adalah mereka yang sekawan dengan
imperialisme – para raja perang, birokrat, kelas pega-
wai asing, kelas tuan tanah besar, dan golongan intelek-
tual reaksioner yang bergabung dengan mereka. (dari
Esai ‘Analisis Mengenai Kelas dalam Masyarakat China’,
1926)”
Kekerasan, menjadi metode utama untuk menghancurkan
musuh, seperti slogan terkenal dari Mao, “politik lahir dari
http://facebook.com/indonesiapustaka

moncong senjata”. Ditambah lagi:


“Perebutan kekuasaan oleh kekuatan bersenjata, penye-
lesaian masalah lewat perang, adalah tugas utama dan
bentuk tertinggi dari revolusi. Prinsip Marxisme-Leni-
nisme mengenai revolusi ini baik untuk diterapkan secara
254 Republik Rakyat China

universal, baik itu untuk China maupun untuk negara-


negara lainnya. (dari Esai ‘Masalah Perang dan Strategi’,
1936)
Kaum muda menjadi sasaran utama bagi indoktrinasi ini.
Mereka yang bersedia mengikuti Partai dan berjuang untuk
Partai, adalah kaum revolusioner, sementara yang sebaliknya,
adalah kaum kontra-revolusioner. Ancaman ini ditunjukkan
jelas oleh Mao:
“Bagaimana kita menentukan bahwa apakah pemuda ini
seorang revolusioner? Bagaimana kita bisa tahu? Hanya
ada satu kriteria, yaitu apakah ia bersedia atau tidak
untuk menggabungkan diri dengan massa pekerja dan
petani dan melakukannya secara nyata. Jika ia bersedia
dan benar-benar melakukannya, maka ia adalah seorang
revolusioner; jika tidak maka ia adalah non-revolusioner
atau seorang kontra-revolusioner. Jika hari ini ia bergabung
dengan massa pekerja dan petani, maka hari ini ia adalah
seorang revolusioner; jika besok ia tidak lagi berbuat demi-
kian atau berbalik menekan masyarakat awam, maka ia
menjadi non-revolusioner atau kontra-revolusioner. (dari
Esai ‘Orientasi Gerakan Muda’, 1939)”
Namun salah satu hal yang dianggap kritikus sebagai salah
satu hal baik dalam buku ini adalah topik khusus yang me-
ngusung kesetaraan gender:
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Untuk membangun sebuah masyarakat sosialis yang


agung, sangatlah penting untuk mengajak kaum wanita
untuk bergabung dalam aktivitas produksi. Pria dan
wanita harus menerima bayaran yang sama untuk pe-
kerjaan produksi yang sama. Kesetaraan sejati antara
jenis kelamin ini hanya bisa diwujudkan dalam proses
Kaisar Merah 255

transformasi masyarakat sosialis secara seutuhnya. (dari


catatan pengantar untuk esai ‘Kaum Wanita Telah Maju
ke Garis Depan Kaum Pekerja’, 1955)
Meskipun semua yang dituangkan dalam Buku Merah Kecil
adalah hasil buah pemikiran Mao, namun kompilasi tulisan-
tulisan itu adalah hasil kerja salah satu orang kesayangan Mao,
yaitu Lin Biao. Lin mengambil alih tugas publikasi buku ini
yang pada awalnya hanya ditujukan untuk kalangan internal
kader partai dan militer, dan mengalihkannya menjadi mesin
indoktrinasi massa. Hasilnya, buku ini dijual bebas di jaring-
an toko buku Xinhua pada tahun 1965. Namun Kementerian
Kebudayaan mentargetkan agar 80-90% rakyat China mem-
baca buku ini, sehingga dilakukanlah usaha pencetakan besar-
besaran dan buku ini mendapat prioritas utama dibanding-
kan buku lainnya. Jika target itu benar-benar tercapai, artinya
lebih dari 660 juta orang telah memiliki buku itu. Perkiraan
di tahun 1994 bahkan menyebutkan angka 6,5 milyar buku
yang terjual di seluruh dunia. Buku ini sendiri diperkirakan
telah terjual di lebih dari 100 negara, dan diterjemahkan ke
dalam lebih dari 20 bahasa.
Dalam waktu sekejap, sebagian besar rakyat China sudah
memegang buku ini. Bahkan gambar di mana kelas pekerja,
petani, atau Penjaga Merah melambai-lambaikan buku ini di
genggaman tangan mereka menjadi salah satu ikon terkenal
dari zaman Revolusi Kebudayaan ini. Diskusi umum untuk
http://facebook.com/indonesiapustaka

membahas dan mempelajari isi buku ini menjadi hal yang


wajib, dan publikasi ilmiah atau artikel-artikel dalam surat ka-
bar atau media serupa harus memuat kutipan dari buku ini.
Berbekal dengan semua “pengetahuan” dan “teladan” yang
diberikan oleh buku itu, para Penjaga Merah tidak segan-segan
256 Republik Rakyat China

untuk bertindak brutal untuk menjunjung tinggi “kebenaran”


yang digariskan oleh Mao. Mereka menghancurkan situs-
situs kebudayaan kuno yang mereka anggap “warisan kaum
borjuis”, menyita dan membakar barang-barang produksi
asing atau kebudayaan asing – seperti alat-alat musik, lukisan,
maupun buku-buku asing. Semua tingkah laku mereka yang
anarkis dan vandalis ini ditujukan untuk meniru setiap kata
dan perbuatan teladan dan pujaan mereka, Mao Zedong.
Sebagaimana layaknya yang akan dilakukan oleh gadis-
gadis muda terhadap idola mereka, hubungan seksual

Buku Merah
http://facebook.com/indonesiapustaka

Semasa Revolusi Kebudayaan, buku merah kecil yang berisi buah-


buah pemikiran Mao Zedong adalah kitab suci yang wajib dimiliki
oleh setiap orang. Dalam poster terkenal dari periode ini, nampak
anggota PLA melambaikan buku merah di tangan mereka, dengan
hiasan slogan yang berbunyi, “Tentara PLA adalah Sekolah Besar
bagi Buah Pikiran Mao Zedong”.
Kaisar Merah 257

menjadi salah satu hal yang gadis-gadis itu tawarkan kepada


Mao. Hubungan seksual dengan sang Ketua akan menjadi
salah satu kebanggaan bagi gadis-gadis muda itu, meskipun
di bawah rezim Mao, aktivitas seksual yang “tidak normal” –
seks di luar nikah, perselingkuhan, masturbasi, atau bahkan
kemesraan di depan umum – adalah hal yang dilarang dan
dapat dijerat dengan hukuman penjara.
Peristiwa ini dibenarkan oleh Li Zhisui, yang menjadi dok-
ter pribadi Mao selama 22 tahun. Dalam bukunya “Kehidup-
an Pribadi Ketua Mao”, Li yang dalam tugas kesehariannya
menghabiskan waktu di sisi Mao dan tidur di ruang yang ber-
sebelahan langsung dengan kamar sang Ketua, menceritakan
tentang kehidupan seksual Mao selama masa-masa Revolusi
Kebudayaan. Meskipun ia masih beristrikan Jiang Qing, Mao
selalu ditemani oleh gadis-gadis muda yang berganti-ganti se-
tiap harinya di Zhongnanhai, kediaman resmi Ketua Partai
Komunis. Mao seringkali memerintahkan agar gadis-gadis
muda yang bergabung dalam kelompok penari militer untuk
menemaninya tidur, atau dalam beberapa kesempatan ia me-
milih langsung dari masyarakat awam.
Kepada Li itu, Mao selalu membangga-banggakan ke-
mampuan seksualnya, meski menjelang akhir hayatnya
ia tak dapat menghindari serangan impotensi. Li sendiri
mengakui bahwa ia sering mengobati penyakit kelamin yang
diderita Mao, yang ia dapatkan dari seringnya berganti-ganti
http://facebook.com/indonesiapustaka

pasangan.
Dengan bertambahnya umur, aktivitas seksual Mao bu-
kannya semakin menurun, namun malah semakin mening-
kat, seperti yang ditulis oleh Li:
258 Republik Rakyat China

“Dengan bertambahnya usia, Mao menjadi percaya pada


praktek-praktek seksual takhayul yang memberinya alasan
untuk mengejar seks tidak hanya untuk kesenangan,
namun juga untuk memperpanjang umur. Ia berdalih
bahwa ia membutuhkan ‘air Yin’ atau cairan vagina
untuk memperbaiki ‘esens Yang’ atau maskulinitasnya
yang semakin menurun, yang menjadi sumber kekuatan,
tenaga, dan umur panjang. Banyak dari wanita yang Mao
tiduri adalah anak perempuan dari petani-petani miskin
yang percaya bahwa tidur dengan Ketua adalah penga-
laman terhebat dalam hidup mereka. Mao sangat senang
dan puas jika ada beberapa orang gadis muda secara ber-
gantian berbagi ranjang dengannya, dan ia mendorong
pasangan-pasangan seksualnya ini untuk mengenalkan
dirinya pada teman-teman mereka. ”
Banyak dari gadis-gadis ini yang dicampakkan begitu
saja setelah Mao bosan, atau disingkirkan karena dianggap
mengancam reputasi Mao. Ada juga yang dibuang oleh Jiang
Qing yang cemburu, meskipun Jiang Qing sendiri pun juga
pernah berselingkuh dengan orang lain, yaitu seorang aktor
muda dan tampan bernama Jin Shan. Salah seorang “gadis”
Mao, yang juga anak angkat Zhou Enlai bernama nona Sun
Weishi, akhirnya “disingkirkan” dengan dinikahkan dengan
Jin Shan, aktor playboy itu. Mengenai hal ini Mao berko-
mentar, “Pada akhirnya aku dan Jing Shan tidak berhutang
http://facebook.com/indonesiapustaka

satu sama lain. ” Mao meniduri calon istrinya, dan Jin berse-
lingkuh dengan istri Mao. Meskipun begitu, Jiang Qing ma-
sih enggan melepaskan Sun, dan saat Revolusi Kebudayaan
berkobar ganas, bersama dengan Ye Qun (nyonya Lin Biao –
yang cemburu karena suaminya pernah menaksir Sun Weishi),
Jiang berkonspirasi untuk menangkap dan menjebloskan Sun
Kaisar Merah 259

ke penjara lalumenaruhnya di bawah siksaan yang kejam,


termasuk diperkosa bergantian oleh sipir penjara dan narapi-
dana lainnya. Jiang kemudian menyuruh agar Sun dieksekusi
dengan menggunakan pasak besi besar yang dipakukan tem-
bus ke kepala wanita malang itu. Jenasahnya lalu dikremasi
tanpa sempat diotopsi – mendahului perintah Zhou Enlai
agar jenasah itu diotopsi – dan kematiannya baru dipublikasi-
kan di tahun 1975.
Beberapa lainnya “hanya” dibuang ke perbatasan, seperti
seorang gadis tanpa nama yang berasal dari kelompok penari
militer asal Qingdao. Setelah diperkosa oleh Mao (nona itu
masih perawan), ia kemudian dibuang ke gunung Xin’anling
di Heilongjiang untuk menjadi penebang kayu di sana. Di
sana pun ia berkali-kali diperkosa oleh rekan kerjanya. Gadis
lain – juga tanpa nama – yang berasal dari kelompok penari
yang sama, juga dibuang ke Wuzhishan di pulau Hainan
setelah dicampakkan oleh Mao.
Ada juga insiden yang hampir memalukan yang terjadi
di tahun 1973 ketika Mao tengah bersiap menjamu seorang
pemimpin negara Afrika. Seorang fotografer sengaja datang ke
tempat pertemuan itu lebih awal dari waktu yang dijadwalkan,
untuk mengatur posisi kamera dan pencahayaan agar ia bisa
mendapatkan gambar yang bagus. Betapa terkejutnya dirinya
ketika menemukan Mao tengah memeluk seorang gadis te-
http://facebook.com/indonesiapustaka

lanjang di ruangan itu. Gadis yang terkejut itu pun berlari


dan bersembunyi di balik tirai ruangan itu, sampai acara
pertemuan itu usai. Jadi, gadis itu pun terus telanjang tanpa
selembar kain pun, menahan dinginnya cuaca musim dingin
tanpa adanya penghangat yang mencukupi. Tak terbayang-
kan insiden apa yang akan terjadi seandainya tirai itu tiba-tiba
260 Republik Rakyat China

jatuh atau tersibak dan memunculkan sosok gadis telanjang di


tengah-tengah pertemuan resmi tingkat tinggi semacam itu.
Seperti istri-istrinya sebelumnya, Mao sebenarnya tidak
pernah menghargai wanita secara benar-benar. Begitu ia
bosan, ia akan segera mencampakkan mereka. Hanya Jiang
Qing yang bisa bertahan di sisinya – atau setidaknya begitu
– karena ambisinya mengalahkan akal sehatnya. Mao sendiri
pernah berkata bahwa Jiang Qing, “seperti ular berbisa. ”
Maka lengkaplah sudah karakter seorang kaisar dalam diri
Mao. Ia punya kekuasaan yang mutlak, dipuja oleh rakyatnya
secara membabi-buta, dan doyan main perempuan. Namun
sebagaimana layaknya seorang kaisar, Mao sadar bahwa ia
harus mempersiapkan seorang penerus untuk meneruskan
“kekaisaran” yang sudah ia bangun, mengingat usianya sen-
diri sudah lebih dari 70 tahun waktu itu.
Pada awalnya, Mao memilih Liu Shaoqi dan memper-
siapkannya menjadi penggantinya kelak. Namun ketika ia
menganggap Liu terlalu liberal dan bahkan berani berkom-
plot dengan Deng Xiaoping untuk melawannya, maka ia me-
nyingkirkan Liu dan membinasakannya. Pilihannya kemu-
dian jatuh pada seorang jenderal muda yang cerdas, licik, dan
oportunis, yang menjadi pendukungnya yang utama. Orang
itu adalah Lin Biao.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Macan Kecil
Sang Ketua

Dalam sejarah China komunis, sosok yang hampir sama kon-


troversial-nya dengan Mao, ditakuti dan juga dibenci, tentu
saja adalah Lin Biao. Marsekal ini adalah salah satu pentolan
PLA, dan sudah mengikuti Mao dan gerilyawan komunisnya
bahkan sejak masa kediktatoran Chiang Kai-shek. Reputasi-
nya yang tak pernah terkalahkan di medan perang bahkan
sudah ia raih saat masih berumur 28 tahun. Namun dalam
catatan sejarah, seperti yang ditulis oleh CNN, kehebatan mi-
liternya ini sepertinya tenggelam di balik kisah akhir hidup-
nya yang misterius.
“Biao” – yang artinya adalah “anak macan” – bukanlah-
nama aslinya. Ia dilahirkan di tahun 1907 dengan nama Lin
Yurong, dalam sebuah keluarga pedagang kaya di Huanggang,
Hubei. Ayahnya sempat mendirikan sebuah pabrik kerajinan
tangan di tahun 1910, namun usaha itu akhirnya ditutup
akibat pajak dan pungutan liar yang dibebankan raja perang
lokal kepada bisnis keluarga mereka itu. Sang ayah akhirnya
mengadu nasib di atas kapal uap sungai sebagai kondektur
kepala.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Lin Biao yang lebih tertarik pada aktivitas politik di-


bandingkan pelajaran formal di ruang kelas, kemudian meng-
gabungkan diri ke dalam Liga Sosialis Muda yang menjadi
sayap Partai Komunis bahkan sebelum ia lulus dari sekolahnya
di Shanghai. Ia kemudian direkrut di tahun 1925 untuk masuk
ke dalam Akademi Militer Huangpu yang didirikan oleh Sun
262 Republik Rakyat China

Yat-sen, saat Partai Nasionalis (KMT) masih menjalin kerja-


sama dengan Uni Soviet dan Partai Komunis. Di sana, ia men-
jadi anak asuh Zhou Enlai dan Vasily Blyukher, pelatih militer
yang didatangkan dari Uni Soviet. Namun di sana Lin dan
Zhou tidak berhubungan secara langsung sampai saat mereka
bertemu kembali di Yan’an seusai Perjalanan Panjang.
Belum sampai setahun di Akademi, Lin ditugaskan di ba-
wah komando Ye Ting, yang bersama dengan tentara nasio-
nalis lainnya dikerahkan oleh Chiang Kai-shek ke China utara
untuk membasmi kekuatan para raja perang, dalam sebuah
kampanye militer yang dikenal sebagai Ekspedisi ke Utara.
Hanya dalam waktu setahun, pangkatnya sudah naik menjadi
kolonel.
Namun di tahun 1927, Chiang memutuskan hubungan
dengan Partai Komunis, mengusir para penasehatnya yang be-
rasal dari Uni Soviet, dan pada bulan April ia memerintahkan
pembasmian orang-orang komunis di kota Shanghai. Setahun
kemudian, atasannya, Ye Ting, bergabung dengan jenderal
He Long dan mengobarkan pemberontakan di Nanchang
pada bulan Agustus 1927. Saat itu Lin ditugaskan di bawah
pimpinan Chen Yi, dan setelah pemberontakan itu gagal, Lin
bersama dengan sisa-sisa pasukan komunis menggabungkan
diri dengan Mao dan Zhu De di Jiangxi. Sejak saat itulah Lin
mulai menjalin kedekatan dengan Mao.
Sedari itulah Lin menjadi salah satu pendukung Mao yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

paling setia. Mao sendiri melihat bahwa ia bisa “membentuk”


anak muda ini dan memanfaatkannya sesuai keinginannya.
Otto Braun, penasehat Partai Komunis di masa-masa Penge-
pungan menyebutkan bahwa, “...sepertinya Mao meng-
anggap Lin Biao tak ubahnya seperti kertas putih yang bisa
ia isi semaunya... ” Dan hal itu memang benar, karena Lin
Macan Kecil Sang Ketua 263

Macan Binaan Ketua Mao


Semenjak berkobarnya Revolusi Kebudayaan, Mao sudah
mempersiapkan calon penggantinya. Pewaris tahta yang dielus-elus
oleh Mao ini adalah Lin Biao, seorang jenderal yang berpengalaman
alumni Akademi Huangpu yang terkenal itu. Di sini, ia berfoto
bersama anggota keluarganya dari kanan ke kiri: Ye Qun, nyonya
Lin yang cemburuan dan paranoid; Lin Liguo, si macan kecil yang
ambisius; Lin Biao sendiri; dan paling kiri adalah nona Lin Liheng
yang nantinya mengkhianati keluarganya sendiri.

Biao memang seperti anak lugu yang diindoktrinasi Mao


sampai jadi kerbau yang dicocok hidungnya dan menurut saja
http://facebook.com/indonesiapustaka

digiring ke sana kemari, termasuk menjadi pendukung Mao


yang paling setia terutama saat Mao sempat digulingkan dari
jajaran kepemimpinan Partai di awal dekade 1930-an.
Sementara itu, Chiang mulai menyerang basis-basis ko-
munis di pedalaman China, dalam serangkaian kampanye
264 Republik Rakyat China

“Pengepungan” sejak tahun 1930 sampai 1933. Lin yang me-


mimpin Grup Pasukan Pertama, menjadi komandan militer
yang paling sukses dibandingkan kelompok pasukan lainnya.
Selama kampanye defensif itu, pasukan Lin berhasil menawan
pasukan musuh dan menyita persenjataan dan perbekalan
mereka jauh lebih banyak dibandingkan kelompok pasukan
komunis lainnya. Akibatnya, pasukan Lin menjadi pasukan
yang paling maju dan kuat dibandingkan kelompok yang
lain.
Namun kondisi memburuk di pertengahan akhir tahun
1934. Pasukan Merah – nama yang diberikan untuk pasukan
komunis – semakin terdesak dan terancam dihabisi oleh
pasukan Chiang. Lin Biao adalah orang pertama yang men-
dukung gagasan Mao untuk meninggalkan markas mereka
di Jiangxi dan mundur ke basis komunis yang lebih strategis
di pedalaman. Gagasan ini ditentang oleh Otto Braun dan
Peng Dehuai yang melihat bahwa gerak mundur ini nantinya
hanya akan dimanfaatkan oleh Mao untuk kembali ke puncak
kekuasaan. Setelah Otto Braun disingkirkan oleh mekanisme
partai yang diatur oleh Mao, akhirnya semua sepakat bahwa
Pasukan Merah akan bergerak mundur ke selatan terlebih da-
hulu, kemudian berputar ke utara untuk semakin mendekat
ke daerah yang berada di bawah pengaruh Soviet.
Kepemimpinan Mao kemudian dikukuhkan dalam kon-
ferensi partai di Zunyi, di awal tahun 1935. Sejak saat itu,
http://facebook.com/indonesiapustaka

setiap kehendak Mao sepertinya tak bisa dibantah lagi. Akhir-


nya ketika Pasukan Merah berhasil mencapai tujuan akhir
mereka yaitu Yan’an di provinsi Shaanxi, kedudukan Mao
sebagai ketua partai sudah tak tergoyahkan lagi. Di Yan’an,
Mao kemudian menunjuk Lin sebagai ketua dari Universitas
Militer dan Politik Rakyat China Melawan Jepang yang baru
Macan Kecil Sang Ketua 265

saja didirikan. Lin memegang jabatan ini sampai tahun 1943


sebelum digantikan oleh Xu Xiangqian. Setelah berdirinya
Republik Rakyat China, universitas ini kemudian dijadikan
satu dengan berbagai universitas sejenis untuk membentuk
Universitas Pertahanan Nasional milik PLA. Di Yan’an itu
pulalah Lin menikah untuk kali kedua (pernikahan pertama-
nya dengan seorang gadis yang disebut bermarga “Ong”)
dengan Li Xiumin, seorang gadis cantik yang menjadi prima-
dona kampus.
Setelah kerjasama Nasionalis-Komunis dipulihkan dalam
rangka menghadapi agresi Jepang, Lin kembali menunjukkan
kharismanya di medan tempur. Ia memimpin serangkaian se-
rangan terhadap posisi Jepang di China, dan beroperasi ter-
utama di provinsi Shanxi. Namun sebuah insiden yang ham-
pir merenggut nyawanya terjadi di tahun 1938.
Di bawah komando Lin Biao, Pasukan Jalur ke-8 berhasil
melancarkan serangan yang sukses terhadap Jepang, dan ber-
hasil menawan pasukan musuh beserta perlengkapan mereka.
Suatu ketika, beberapa serdadu Jepang yang menyerah kemu-
dian menghadiahkan seragam komandan Jepang dan sebilah
pedang katana yang menjadi simbol kepemimpinan dalam
pasukan Jepang. Karena senangnya mendapat hadiah itu, Lin
segera mengenakan seragam Jepang dan menenteng pedang
itu, lalu menaiki seekor kuda dan berkendara sendirian di
luar markas. Celakanya, seorang anak buahnya yang bertugas
sebagai pengintai salah mengenalinya sebagai tentara Jepang
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan menembaknya tepat di kepala sampai tembus ke tulang


tengkoraknya. Sejak saat itu, Lin selalu didera masalah kese-
hatan, termasuk terjangkit penyakit tuberkulosis yang terus-
menerus menggerogoti kesehatannya. Lin terpaksa harus pergi
ke Moskow untuk menjalani perawatan medis dan baru kem-
bali ke China di tahun 1942.
266 Republik Rakyat China

Di Moskow, hubungan Lin dan istrinya memburuk, dan


mereka pun berpisah. Sebelum kembali ke China, Lin sem-
pat berkenalan dengan putri angkat Zhou Enlai, nona Sun
Weishi, dan melamarnya. Meskipun Sun tidak menolaknya,
ia hanya menjanjikan untuk mempertimbangkan untuk me-
nikah dengan Lin setelah mereka kembali ke China. Namun
setelah kembali, Lin malah menikah dengan wanita lain ber-
nama Ye Qun di tahun 1943. Dari pernikahannya yang ke-
tiga itu, Lin dikarunia dua orang anak, seorang bernama Lin
Liguo (lahir tahun 1945, ikut terbunuh bersama orang tuanya
di tahun 1971), dan kakak perempuannya, Lin Liheng (lahir
tahun 1944) yang masih hidup sampai sekarang.
Sekembalinya ke China, Lin tidak banyak terlibat dalam
perang melawan Jepang, namun seusai Perang Dunia II, Mao
menjadikan Lin sebagai anggota Komite Pusat di tahun 1945.
Akibat kepandaiannya menyusun strategi perang, terutama
dengan menghindari konfrontasi dengan tentara nasionalis,
Lin berhasil mengkonsolidasikan kekuatan pasukannya yang
berjumlah 100 ribu orang, dan membantu memantapkan
kedudukan PLA di daerah Manchuria yang sebelumnya di-
rebut oleh Uni Soviet dari tangan Jepang. Lin juga berhasil
menyelamatkan PLA dari kekalahan ketika Du Yuming, salah
seorang jenderal nasionalis, mampu mendesak PLA sampai
ke perbatasan Korea Utara di tahun 1947. Lin bahkan mem-
balikkan keadaan dengan melancarkan serangan gerilya sete-
http://facebook.com/indonesiapustaka

lah menyeberang sungai Songhua, dan menghancurkan setiap


pasukan bantuan yang dikirimkan untuk membantu pasukan
nasionalis. Lin juga memerintahkan pasukannya untuk meng-
hancurkan semua fasilitas seperti jembatan, rel kereta api,
jalur listrik, dan kapal-kapal milik musuh, sambil menyita
perbekalan yang mereka jumpai.
Macan Kecil Sang Ketua 267

Akibatnya, Du terpaksa mundur kembali ke selatan dan


Lin segera mengerahkan pasukannya untuk memotong garis
mundur mereka dan menghancurkan pasukan nasionalis di
bulan Mei 1947. Di penghujung tahun itu, Lin berhasil me-
mulihkan kontak dengan pasukan PLA yang terkepung di
provinsi Liaoning, dan memaksa pasukan musuh untuk mun-
dur ke kota besar. Lin terus melancarkan penyerangan, ter-
masuk di musim dingin tahun 1948 dan awal tahun 1949.
Di bawah komando dan strateginya, pasukan Lin bahkan
berhasil merebut kota Changchun – bekas ibukota negara
boneka Manchukuo bentukan Jepang selama perang – yang
menjadi kota paling strategis nomor 2 setelah Shenyang di
Liaoning. Kota itu sangat strategis karena dilengkapi de-
ngan pangkalan udara yang menjadi andalan pasukan nasio-
nalis untuk menurunkan bahan makanan untuk menyuplai
pasukan mereka di garis depan. Dari kota itulah Lin mampu
meneruskan serangan ke kota Jinzhou dan memulai kampanye
Liaoshen – kampanye pertama dari serangkaian kampanye
menentukan yang memastikan kemenangan komunis atas
nasionalis. Kampanye Liaoshen ini berakhir di penghujung
1948 dengan kemenangan di pihak komunis, termasuk de-
ngan menyerahnya hampir 500 ribu pasukan nasionalis di ba-
wah pimpinan Wei Lihuang ke pihak komunis. Pasukan ini
nantinya akan dimanfaatkan oleh Mao dalam Perang Korea di
awal dekade 1950-an.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Berakhirnya kampanye Liaoshen membuat seluruh daerah


Manchuria di balik tembok besar menjadi wilayah komunis
seutuhnya. Mao kemudian memerintahkan Lin bersama
dengan Nie Rongzhen dan Luo Ronghuan untuk memim-
pin PLA menyerbu kota-kota penting Beijing – saat itu ma-
sih bernama Beiping – dan Tianjin, dalam kampanye yang
268 Republik Rakyat China

kemudian dinamakan sesuai dengan nama kedua kota itu,


yaitu Kampanye Pingjin. Hanya dalam waktu 64 hari, PLA
berhasil merebut kedua itu dan memaksa jenderal Fu Zuoyi
yang diperintahkan oleh Chiang Kai-shek untuk memper-
tahankan kota Beiping mati-matian, menyerahkan kota itu
bersama dengan 400 ribu orang pasukan nasionalis ke tangan
Mao di tanggal 22 Januari 1949. Kota itu kemudian dikem-
balikan namanya menjadi Beijing, dan Mao memproklamasi-
kan berdirinya Republik Rakyat China (RRC) dari balkon di
atas Gerbang Tian’anmen pada tanggal 1 Oktober.
Lin kini menjadi salah satu komandan pasukan PLA yang
paling sukses, sejajar dengan Zhu De dan Peng Dehuai. Di
awal berdirinya RRC, Lin sudah mengepalai 1,5 juta pasukan
PLA. Ia kemudian meneruskan serangan terhadap sisa-sisa ke-
kuatan nasionalis di selatan, dan pasukannya berhasil merebut
pulau Hainan di selatan provinsi Guangdong yang menjadi
salah satu basis terakhir KMT di akhir tahun 1949. Chiang
kemudian mengungsikan pemerintahannya dari Chongqing
ke Chengdu, dan akhirnya ke pulau Taiwan, meneruskan ke-
kuasaan Republik China di bawah kepemimpinannya sampai
saat ini.
Seusai perang, Lin yang terus-menerus dihantui oleh kon-
disi kesehatan yang buruk berusaha untuk menghindari po-
sisi penting dalam pemerintahan. Ia sendiri tidak sepercaya
diri Peng Dehuai, jenderal kawakan yang menjadi salah satu
ujung tombak PLA. Harrison Salisbury, penulis buku he
http://facebook.com/indonesiapustaka

Long March bahkan sudah menyadari ke-tidak-pede-an Lin


Biao ini jauh sejak masa Perjalanan Panjang:
“Lin Biao tidak memiliki karakter wajah yang garang dan
bersemangat seperti yang dimiliki oleh Peng Dehuai. Ia
[Lin] berumur 10 tahun lebih muda dari Peng, berbadan
Macan Kecil Sang Ketua 269

lebih ramping, berwajah bulat telur, berkulit lebih gelap,


namun tampan. Ketika Peng berbicara dengan orang-
orangnya, Lin berusaha menjaga jarak. Bagi kebanyakan,
ia [Lin] nampak malu-malu dan menahan diri. Tidak ada
cerita dari bawahan-bawahannya mengenai kehangatan
dan perhatian yang ia berikan. Rekan-rekannya sesama
komandan Tentara Merah menghormatinya, namun se-
muanya hanya tentang bisnis semata. ”
Namun Salisbury mengakui kehenatan Lin, dan menyebut-
kan bahwa Lin “ahli dalam pengelabuan, strategi terselubung,
serangan kejutan, penyergapan, serangan ke sayap musuh, ser-
gapan dari sisi pasukan, dan formasi tempur”; berbeda dengan
Peng yang lebih menyukai serangan langsung dari muka-ke-
muka dan menawan musuh hidup-hidup untuk direkrut
kembali, serta menyita persenjataan musuh.
Sejalan dengan Salisbury, Edgar Snow, yang menulis buku
Red Star Over China juga mengemukakan hal yang kurang
lebih serupa mengenai talenta Lin Biao:
“Bersama dengan Mao Zedong, Lin Biao memiliki ke-
samaan sebagai satu dari sekian komandan Tentara
Merah yang tidak pernah terluka [dalam pertempuran].
[Meskipun] ia terlibat di garis depan dalam lebih dari
seratus pertempuran, memegang komando lapangan se-
lama lebih dari 10 tahun, terpapar berbagai cobaan yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

dihadapi orang-orangnya, dengan imbalan 100 ribu dolar


atas kepalanya, ia [Lin] secara ajaib tetap tak pernah ter-
luka dan berada dalam kondisi yang sehat. ”
Snow juga menggarisbawahi kedekatan khusus yang di-
miliki oleh Lin Biao dengan pemimpinnya, Mao Zedong.
270 Republik Rakyat China

Kedekatan inilah yang membuatnya menjadi salah satu orang


kepercayaan Mao. Itulah sebabnya, Lin kemudian dijadi-
kan Wakil Perdana Menteri di tahun 1954 (di bawah Zhou
Enlai), dan kemudian ditambah dengan menjadi salah satu
dari Wakil Ketua Partai empat tahun kemudian (di bawah
Mao sendiri).
Namun bukan berarti Lin selalu sepenuhnya menurut
pada kehendak Mao. Contohnya pada saat Perang Korea, Lin
tidak sependapat dengan keinginan Mao untuk berperang di
negeri semenanjung itu. Ketika Mao memintanya memimpin
pasukan, ia menolak dengan alasan kesehatan – memang saat
itu ia masih belum pulih sepenuhnya dari sakitnya. Bersama
Zhou, Lin terbang ke Moskow, di samping untuk menjalani
serangkaian pengobatan, juga untuk melobi Stalin untuk
membantu usaha Mao memenangkan perang di Korea.
Selama menduduki posisi penting di pemerintahan, posisi
Lin selalu berubah-ubah. Inkonsistensi ini nampaknya sang-
at dipengaruhi oleh kondisi kesehatannya yang labil. Da-
lam bukunya, dokter Li Zhisui, mantan dokter pribadi Mao
Zedong, menyebut Lin sebagai “labil secara mental, dan bu-
kannya menderita [gangguan pikiran] akibat penyakit kronis
apapun”. Tahun 1953, dokter-dokter Soviet mendiagnosis-
nya mengalami gangguan bipoler – suatu kondisi kejiwaan
di mana penderitanya dapat berubah mood-nya dalam waktu
yang berbeda, terkadang bahagia sampai berlebihan (manic),
dan di saat lain sedih yang berlebihan pula (depresi). Ye Qun,
http://facebook.com/indonesiapustaka

istri Lin Biao, sempat menyangsikan dan menyanggah hal ini,


namun keterangan dari dokter China semakin memperkuat
diagnosis tersebut.
Namun, sebagaimana ditulis oleh Jung Chang, Lin me-
nyimpan ambisi pribadi untuk meraih kekuasaan tertinggi.
Macan Kecil Sang Ketua 271

Ia selalu mengesampingkan pendapat pribadinya demi


mengiyakan apa kemauan Mao. Contohnya adalah saat Kon-
ferensi Lushan yang terkenal di tahun 1959 di mana Peng
Dehuai secara terang-terangan menyerang kegagalan Lom-
patan Besar yang diikuti dengan penangkapan dan pena-
hanannya di bawah perintah Mao, pada awalnya Lin men-
dukung pemikiran Peng, namun karena ambisi pribadinya
dan takut kalau-kalau ia ikut tersingkir, akhirnya ia buka
suara dan pasang badan untuk membela Mao dan mencela
Peng Dehuai sebagai “konspirator munaik”. Mao kemudian
mengganjarnya dengan posisi yang ditinggalkan Peng, yaitu
Menteri Pertahanan. Sejak saat itulah Mao mempersiapkan
Lin sebagai calon penggantinya kelak.
Lin terus berdiri di pihak Mao, terutama saat Mao mu-
lai tersingkir perlahan-lahan oleh duet Liu Shaoqi dan Deng
Xiaoping. Menggunakan kekuasaannya sebagai Menteri Per-
tahanan, Lin menanamkan indoktrinasi pada kalangan mili-
ter demi mengkokohkan igur sempurna Ketua Mao sebagai
pemimpin tertinggi revolusi komunis di China. Lin mulai
memupuk kultus individu terhadap Mao dengan mengede-
pankan pembelajaran Buah Pikiran Mao Zedong dibanding
pelajaran ideologi lainnya di bangku sekolah kemiliteran dan
di barak tentara. Salah satu “karya” besarnya adalah sosok Lei
Feng, seorang serdadu tak terkenal yang tiba-tiba menjadi
pusat perhatian nasional.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Setiap tahunnya di tanggal 5 Maret, mahasiswa ataupun


murid dari berbagai universitas ataupun sekolah di China
akan disibukkan dengan perayaan “Hari Lei Feng” melalui
kegiatan-kegiatan sosial, seperti memunguti sampah di ta-
man, membersihkan sampah-sampah yang menyumbat selo-
kan, menyapu jalanan, at