Anda di halaman 1dari 6

PEMBAHASAN

Pendahuluan
Hamil dan melahirkan bayi merupakan kejadian yang diharapkan oleh banyak
calon ibu. Namun dapat juga merupakan kejadian yang sulit dan menegangkan,
terutama bagi calon ibu baru. Kesulitan fisik dan emosional yang berhubungan
dengan hamil dan melahirkan bayi, menyebabkan perasaan sedih, cemas, khawatir
serta membingungkan setelah melahirkan. Hal ini sering terjadi dan dianggap lumrah,
namun pada beberapa ibu dapat terjadi suatu kondisi kejiwaan yang membutuhkan
pengobatan medis.
Perubahan fisik, emosional serta tingkah laku yang dialami wanita setelah
melahirkan dapat menyebabkan suatu kondisi gangguan kejiwaan postpartum.
Gangguan kejiwaan postpartum dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu postpartum
blues, depresi postpartum (Postpartum Depresion/PPD), serta psikosis postpartum.

POSTPARTUM BLUES
Postpartum blues terjadi pada hampir 50-85% dalam 3-6 hari setelah
melahirkan. Beberapa ahli menyatakan bahwa kondisi ini berhubungan dengan
progesterone withdrawl.
Beberapa ahli berpendapat bahwa hal ini merupakan kondisi normal yang
dialami wanita pasca melahirkan. Penderita akan merasa mempunyai mood yang labil,
insomnia, sedih, cema, sensitif dan sulit berkonsentrasi. Penderita dapat menangis
selama beberapa jam kemudian pulih seperti biasanya, namun keesokan harinya
pasien dapat menangis kembali.
Keadaan ini biasanya bersifat ringan, berlangsung singkat (menetap selama
beberapa jam hingga beberapa hari) dan hilang secara spontan sehingga tidak
mengganggu penderita untuk menjalankan fungsinya sebagai ibu serta tidak
membutuhkan terapi yang khusus. Sebaiknya pasien diyakinkan bahwa keadaan ini
hanya berlangsung untuk sementara waktu saja. Pasien tetap harus dimonitor untuk
mengantisipasi berkembangnya menjadi kondisi ini menjadi lebih berat (postpartum
depresi atau postpartum psikosis).Bila kondisi ini berlangsung lebih dari 2 minggu

1
maka perlu evaluasi lebih lanjut mengenai kemungkinan terjadinya gangguan mood
yang lebih serius

POSTPARTUM DEPRESI
Depresi postpartum menggambarkan keadaan dimana terdapat perubahan baik
fisik, emosi, maupun tingkah laku yang dialami oleh seorang ibu setelah melahirkan.
Depresi postpartum biasanya terjadi pada 3-6 bulan pertama setelah
melahirkan. Pada 8- 15% depresi postpartum dapat terjadi dalam waktu 2-3 bulan.
Wanita yang sebelum hamil pernah mengalami depresi memiliki resiko 30%
untuk mengalami depresi postpartum. Sekitar 70% pasien yang pernah mengalami
depresi postpartum akan mengalami kondisi serupa pada kehamilan berikutnya.
Premenstrual sindrom yang berat serta suami yang tidak suportif dan stress yang
berhubungan dengan keluarga, pernikahan, pekerjaan. Kejadian tertentu selama
kehamilan dan setelah melahirkan dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi
postpartum
Gejala depresi postpartum antara lain perasaan tertekan, sedih, hilang minat
terhadap aktifitas, perasaan bersalah, perasaan tidak berguna, lemah badan, gangguan
tidur, perubahan nafsu makan, sulit berkonsentrasi serta pikiran untuk bunuh diri.
Selain itu dapat juga penderita merasa cemas
Kriteria diagnosa dari depresi postpartum sama dengan kriteria diagnosa
depresi pada umumnya.
Keadaan ini biasanya berlangsung hingga 6 bulan setelah melahirkan.
Kemungkinan untuk sembuh secara sempurna cukup baik. Pada beberapa wanita,
keadaan ini dapat berlangsung selama beberapa bulan hingga tahun, maka hal ini akan
mempengaruhi kualitas hubungan antar ibu dan anak.
Terapi suportif saja tidak cukup untuk mengatasi keadaan ini. Terapi
farmakologi diperlukan pada kebanyakan kasus, yaitu antidepresan, ansiolitik, bahkan
electroconvusive therapy. Sebaiknya ibu tidak menyusui anaknya pada saat
mengkonsumsi obat-obatan ini karena obat-obat tersebut dapat dikeluarkan melalui
ASI. Psikoterapi difokuskan pada ketakutan dan perhatian pasien terhadap peran dan
tanggung jawab barunya sebagai ibu. Namun bila kondisi ibu cukup parah maka
sebaiknya dirawat di rumah sakit. Perlu juga dilakukan monitoring untuk
mengantisipasi postpartum psikosis ataupun pembunuhan bayi oleh ibu.

2
POSTPARTUM PSIKOSIS
Definisi
Psikosis postpartum merupakan keadaan yang berat. Jarang terjadi, namun
bersifat dramatik, biasanya ditandai dengan munculnya waham dan halusinasi.
Postpartum psikosis (dikenal juga dengan psikosis puerperal) merupakan suatu
penyakit psikosis yang terjadi pada wanita yang baru saja melahirkan bayi. Hal ini
ditandai dengan depresi, delusi serta pikiran untuk menyakiti bayinya atau dirinya
sendiri. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara postpartum
psikosis dengan gangguan mood khususnya penyakit bipolar dan penyakit depresi
umum.

Epidemiologi
Di Amerika, angka kejadian psikosis postpartum terjadi antara 1-2 per 1000
kelahiran bayi. Sekitar 50-60% terjadi pada wanita yang melahirkan anak pertama.
Riwayat gangguan mood di keluarga terjadi pada 50% wanita yang mengalami
psikosis postpartum. Walaupun psikosis postpartum merupakan kelainan pada wanita,
pada kasus yang sangat jarang pria atau sang ayah dapat juga mengalaminya. Pria
merasa posisinya terancam oleh kehadiran si bayi dan merasa harus berkompetisi
untuk mendapat kasih sayang dari istrinya.

Etiologi
Beberapa faktor berkontribusi dalam timbulnya psikosis postpartum, mulai
dari perubahan hormonal, kondisi medis umum yang berhubungan antara lain infeksi,
intoksikasi obat (co: scopolamine, meperidine), toksemia dan kehilangan darah.
Selain itu dapat pula disebabkan oleh kondisi psikososial seperti misalnya
kekhawatiran wanita yang baru melahirkan anak untuk pertama kali, pernikahan yang
tidak bahagia, kehamilan yang tidak dikehendaki, kehidupan yang stress, serta
kepribadian dasar si ibu.
Perubahan hormonal yang terjadi pada masa postpartum diduga mempunyai
peranan yang penting. Konsentrasi hormon estrogen dan progesteron turun drastis
dalam 48 jam pertama postpartum. Hormon ini mempunyai efek untuk memodulasi
sistem neurotransmitter yang melibatkan regulasi mood. Namun demikian tidak
ditemukan hubungan yang konsisten antara kadar hormon seperti estrogen,
progesteron, kortisol dan tiroid dengan kejadian psikosis postpartum. Selain itu

3
pengobatan dengan menggunakan hormon esterogen dan progesteron juga tidak
memberikan hasil yang efektif.. Beberapa hipotesa mengatakan adanya suatu
kelompok wanita yang sensitif terhadap perubahan hormonal setelah melahirkan.

Faktor Resiko
Wanita dengan riwayat psikosis, gangguan afek bipolar ataupun schizophrenia
memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terjadinya postpartum psikosis. Wanita
dengan riwayat keluarga psikosis, gangguan afek bipolar ataupun schizophrenia juga
beresiko tinggi untuk menderita keadaan ini. Selain itu, apabila seorang wanita pernah
mengalami postpartum psikosis sebelumnya maka kemungkinan 20-50% dapat terjadi
lagi pada kehamilan berikutnya. Faktor- faktor lain yang berhubungan dengan resiko
terjadinya postpartum psikosis adalah usia muda dan primipara,

Gejala Klinik
Onset psikotik biasanya diawali dengan gejala prodormal seperti susah tidur,
gelisah, agitasi, mood yang labil, dan defisiensi kognitif ringan. Sekali psikosis itu
muncul, pasien dapat membahayakan dirinya sendiri ataupun bayinya tergantung
delusi yang didapatnya dan derajat agitasinya.
Onset penyakit terjadi beberapa hari setelah melahirkan, dengan rata-rata 2-3
minggu postpartum dan hampir seluruh kejadian terjadi dalam 8 minggu setelah
melahirkan. Gejala yang khas antara lain penderita mengeluhkan lemah badan,
insomnia, merasa sulit beristirahat serta emosional yang labil. Kemudian timbul rasa
curiga, bingung, inkoheren, serta pikiran obsesif mengenai kesehatan dan
kesejahteraan bayinya, Waham terjadi pada 50% penderita serta timbul halusinasi
pada 25% penderita. Keluhan tidak dapat bergerak, berdiri dan berjalan juga sering
terjadi.
Penderita merasa tidak mempunyai keinginan untuk mengasuh bayinya, tidak
sayang dengan bayinya dan pada beberapa kasus, ibu ingin menyakiti bayinya dan
dirinya. Dapat timbul waham bahwa bayinya sudah meninggal dan hancur. Penderita
menyangkal bahwa dia melahirkan dan merasa belum menikah, masih perawan.
Pasien juga mendengar halusinasi suara yang menyuruh membunuh bayinya.

Kriteria Diagnosa

4
Tidak ada kriteria diagnosa yang spesifik dalam DSM IV. Diagnosis dapat
ditegakkan bila gejala psikosis timbul dalam jarak waktu yang dekat setelah
melahirkan. Ditemukan gejala delusi, defisit kognitif, gangguan motilitas, gangguan
mood, serta halusinasi. Isi pikiran psikosis tersebut biasanya berhubungan dengan
hubungan ibu-bayi dan kehamilan.

Diagnosis Banding
Diagnosis banding kondisi ini adalah gangguan psikiatrik yang disebabkan oleh
kondisi medikal umum seperti misalnya hipotiroid, sindroma Cushing, atau kondisi
medis lain seperti infeksi, toksemia dann neoplasma. Serta penyakit psikotik yang
disebabkan oleh obat-obatan seperti misalnya pentazocine atau obat hipertensi yang
dikonsumsi selama kehamilan.

Prognosis
Berdasarkan suatu penelitian, 5% pasien melakukan bunuh diri dan 4%
melakukan infantisid.
Prognosis akan baik bila pasien memiliki premorbid yang baik serta dukungan
keluarga yang baik pula. Pasien dengan postpartum psikosis seringkali mengalami
episode serupa dalam setahun atau dua tahun setelah melahirkan. Pasien memiliki
resiko terjadinya postpartum psikosis pada kehamilan berikutnya sebanyak 50%

Penatalaksanaan
Postpartum psikosis merupakan emergency pregnancy. Antidepresan dan
litium serta dikombinasikan dengan antipsikosis merupakan terapi yang terpilih. Pada
wanita yang menyusui tidak diperbolehkan mengkonsumsi obat. Pasien yang pernah
berusaha untuk bunuh diri sebaiknya dirujuk ke unit psikiatri untuk mencegah usaha
bunuh diri.
Ibu dapat dipertemukan dengan bayinya apabila ibu menginginkannya, namun
harus dengan pengawasan ketat terutama bila ibu pernah berusaha untuk membunuh
bayinya.
Psikoterapi diindikasikan setelah periode psikosis akut terlewati. Terapi yang
dilakukan termasuk membantu pasien untuk menerima perannya sebagai seorang ibu
serta membantunya menghadapi masalah dari lingkungan sekitar yang mengganggu.
Dukungan dari suami dan lingkungannya dapat mengurangi stress pasien.

5
Pada pasien ini didiagnosa postpartum psikosis karena:
- gejala psikosis timbul dalam jarak waktu yang dekat setelah melahirkan
- Ditemukan gejala delusi, gangguan mood, serta halusinasi.
- Isi pikiran psikosis tersebut berhubungan dengan hubungan ibu-bayi  pasien
mendengar suara hatinya untuk memakan anaknya sendiri
- Onset penyakit terjadi beberapa hari setelah melahirkan
Penderita merasa tidak mempunyai keinginan untuk mengasuh bayinya, tidak sayang
dengan bayinya