Anda di halaman 1dari 24

LECTURE NOTES

ECON 6032
Managerial Economics

Week 1
Market Force Analysis in
Managerial Economics

ECON6032 – Managerial Economics|1


LEARNING OUTCOMES

Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan konsep permintaan dan penawaran dalam


penentuan harga di pasar yang kompetitif.

OUTLINE MATERI :

1. Introduction

2. 5 Force Model

3. Concept of Demand

4. Concept of Supply

5. Market Equilibrium

6. Price Restrictions

ECON6032 – Managerial Economics|2


ISI MATERI

1. Pendahuluan

Ekonomi manajerial adalah aplikasi teori dan metode ekonomi dalam proses pengambilan
keputusan manajerial dan administratif ( Hirschey,M.,2003). Dengan demikian ekonomi
manajerial mengkaji dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan yang dapat digunakan
sebagai rujukan untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas pengambilan keputusan
manajerial. Ekonomi manajerial akan sangat membantu para manajer untuk memahami
bagaimana determinan ekonomi mempengaruhi kinerja organisasi dan perilaku manajerial.
Dalam konteks pembelajaran yang ekstensif, ekonomi manajerial memanfaatkan sejumlah
alat analisis seperti metode kuantitatif, statistik atau ekonometrika dan konsep-konsep
manajemen strategik serta analisis keuangan.

Masalah pengambilan keputusan timbul pada tiap organisasi, baik bermotif laba atau
nirlaba, ketika organisasi itu berusaha mencapai tujuannya dalam menghadapi kendala.
Contoh, bagaimana sebuah rumah sakit berusaha mengobati pasiennya sebanyak mungkin
dengan standar kesehatan yang cukup dengan keterbatasan sumberdaya (dokter, fasilitas,
perawat, dll).

Ekonomi manajerial memiliki keterkaitan dengan teori Ekonomi. Keputusan manajemen


dapat menerapkan teori ekonomi dan perangkat ilmu terapan. Ekonomi Mikro mempelajari
tingkah laku ekonomi secara individual sebagai unit pengambil keputusan dalam sistem
perdagangan bebas. Ekonomi Makro melihatnya secara agregat, seperti output, pendapatan,
pekerjaan, investasi, harga total, dan lain-lain. Teori ekonomi berusaha memprediksi dan
menerangkan tingkah laku ekonomi. Teori ekonomi biasanya dimulai dengan suatu model.
Model merupakan abstaksi dari banyak hal yang melingkupi suatu kejadian dan berusaha
untuk mengidentifikasi beberapa dari banyak faktor penentu penting dari suatu kejadian.

Ekonomi manajerial juga berhubungan erat dengan ilmu keputusan (decesion


science). Ilmu ini mempergunakan perangkat matematika ekonomi dan ekonometri untuk
membentuk dan mengestimasi model keputusan yang ditujukan untuk menentukan perilaku
optimum yang ditujukan untuk menentukan perilaku optimum perusahaan (yaitu bagaimana
suatu perusahaan untuk mencapai tujuannya dengan cara yang paling efisien).

ECON6032 – Managerial Economics|3


Matematika ekonomi dipergunakan untuk memformalkan (yaitu menggambarkan dalam
bentuk persamaan) model ekonomi yang dipostulatkan oleh teori ekonomi. Ekonometri
kemudian menerapkan peralatan statistik (terutama analisis regresi) pada dunia nyata untuk
mengestimasi model yang dipostulatkan oleh teori ekonomi dan untuk peramalan
(forecasting).

2. Model 5 Kekuatan Porter

Dalam sebuah persaingan bisnis, suatu perusahaan seharusnya tidak hanya terpaku pada
kompetitor saja. Seringkali sebuah perusahaan hanya memantau dan menganalisa
kompetitornya saja, sehingga mereka terjebak dalam “competitor oriented”. Padahal selain
kompetitor, kita juga memiliki pesaing yang potensial. Menurut Porter dalam five forces
model, dikembangkan model yang digunakan untuk mengantisipasi 5 kekuatan eksternal
yang dapat menjadi ancaman.

Pemodelan 5 kekuatan (5 Forces model) dikembangkan pertama kali oleh Michael Porter.
Five Forces Model Porter merupakan tool untuk menganalisis suatu lingkungan yang
kompetitif yang akan berpengaruh terhadap pemasaran suatu produk. Menurutnya ada lima
kekuatan yang menentukan intensitas persaingan dalam suatu industri, seperti ditunjukkan
dalam Gambar 1, yaitu (1) ancaman pendatang baru, (2) daya tawar konsumen, (3)
ancaman produk pengganti, (4) daya tawar pemasok, serta (5) ancaman pesaing. Analisis ini
biasanya dilakukan dengan kombinasi analisis SWOT.

Model Porter's Five Forces ini berlaku di semua industry, karena di setiap industri selalu
ada hubungan yang mendasar di antara Lima Kekuatan tersebut, dan menentukan
profitabilitas. Profitabilitas yang terukur dihitung melalui persamaan dasar yang sederhana :

Keuntungan = Harga - Biaya


Lima Kekuatan (Porter's Five Forces) memiliki hubungan yang jelas, langsung dan dapat
diprediksi terhadap profitabilitas industry. Hubungan 5 kekuatan dengan persamaan
profitabilitas dapat dijelaskan melalui Tabel 1.

ECON6032 – Managerial Economics|4


Gambar 1. Porter’s Five Forces Model

Tabel 1. Hubungan 5 kekuatan dengan persamaan profitabilitas adalah :

No. KEKUATAN AKIBAT PROFITABILITAS


1. Masuknya pendatang baru  Harga  , biaya 
potensial
2. Daya pembeli  Harga  , biaya 
3. Produk pengganti  Harga  , biaya 
4. Daya pemasok  Biaya 
5. Persaingan  Harga  , biaya 

Struktur industri ini walaupun cenderung stabil namun tetap dinamis. Struktur industri
akan berubah bila terjadi perubahan yang struktural pada kelima kekuatan pembentuknya -
dan biasanya membutuhkan waktu yang lama untuk berubah.Selama ini analisis 5 Kekuatan
digunakan untuk menilai "daya tarik" sebuah industri padahal alatanalisis ini memiliki fungsi
yang lebih luas.

ECON6032 – Managerial Economics|5


Beberapa fungsi dari analisis Porter's Five Forces :

1. Untuk mengetahui bagaimana industri menciptakan dan berbagi nilai.


2. Menjelaskan sumber profitabilitas industri dan faktor-faktor yang menopang
profitabilitas tersebut.
3. Untuk mengetahui pergeseran faktor-faktor penopang profitabilitas industri.
4. Menjelaskan harga dan biaya rata-rata industri.
5. Memberikan dasar mengukur kinerja unggul.
6. Merupakan dasar untuk melakukan analisis persaingan dalam suatu industry
3. Konsep Permintaan Pasar

Permintaan diartikan sebuah kebutuhan yang didukung dengan daya beli (purchasing
power). Jadi tanpa didukung dengan daya beli hanyalah suatu keinginan belaka. Dalam
ekonomi manajerial analisis yang dikembangkan adalah memahami karakteristik permintaan
pasar suatu perusahaan.

Hukum permintaan menyebutkan bahwa "apabila harga naik maka jumlah barang yang
diminta akan mengalami penurunan, dan apabila harga turun maka jumlah barang yang
diminta akan mengalami kenaikan ". Dalam hukum permintaan jumlah barang yang diminta
akan berbanding terbalik dengan tingkat harga barang. Kenaikan harga barang akan
menyebabkan berkurangnya jumlah barang yang diminta. Hal ini dikarenakan: naiknya harga
menyebabkan turunnya daya beli konsumen dan akan berakibat berkurangnya jumlah
permintaan. Naiknya harga barang akan menyebabkan konsumen mencari barang pengganti
yang harganya lebih murah.

Fungsi permintaan pasar akan suatu produk : Menunjukkan hubungan antara jumlah
produk yang diminta (Qx) dengan semua faktor yang mempengaruhi permintaan tersebut.

3.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan suatu barang, antara lain :


• Selera.
Dengan berubahnya selera konsumen atas suatu barang atau jasa tertentu, maka tentu
saja jumlah permintaan atas barang atau jasa itu pun berubah. Apabila barang atau jasa
itu sedang banyak disukai, maka permintaan barang atau jasa itu pun akan meningkat.
Keadaan yang sebaliknya akan terjadi apabila barang atau jasa itu tidak disukai oleh
konsumen. Contohnya: permintaan terhadap telepon genggam.

ECON6032 – Managerial Economics|6


• Perubahan Pendapatan.
Apabila pendapatan masyarakat bertambah, maka tentu akan terjadi perubahan pola
permintaan di pasar, yang diikuti oleh daya beli masysrakat yang semakin tinggi.
Contoh : kenaikan gaji pegawai misalnya, berarti terjadi peningkatan pendapatan
pegawai yang bersangkutan. Kenaikan ini dapat mengakibatkan terjadinya perubahan
permintaan terhadap beberapa komoditi pada tingkat harga tertentu atas barang-barang
kebutuhan pokok, pendidikan, rekreasi, dan masih banyak lagi.
• Perubahan Jumlah Penduduk.
Pertambahan penduduk merupakan faktor yang sangat dominan terhadap perubahan
permintaan dan penawaran. Semakin banyaknya jumlah penduduk akan mengakibatkan
meningkatkannya permintaan atas barang atau jasa.
• Harapan atau Ekspektasi.
Harapan atau ekspektasi konsumen merupakan perkiraan yang ia tetapkan di kemudian
hari atas pendapatan yang ia terima. Apabila dia memperkirakan bahwa tingkat
pendapatannya akan meningkat, sehingga jumlah permintaan pun akan cenderung
meningkat. Sebaliknya, apabila ia memperkirakan bahwa tingkat pendapatannya akan
menurun, maka jumlah permintaan pun akan cenderung menurun
• Harga barang/jasa pengganti (substitusi).
Dengan meningkatnya harga barang subtitusi, permintaan suatu barang tertentu akan
meningkat, dan sebaliknya jika barang subtitusi menurun, maka permintaan akan barang
itu menurun. Konsumen akan cenderung mencari barang atau jasa yang harganya relatif
lebih murah untuk dijadikan alternatif penggunaan. Contoh : bila harga tiket pesawat
Semarang-Jakarta sama harganya dengan tiket kereta api, maka konsumen cenderung
akan memilih pesawat sebagai alat transportasi.
• Harga barang/jasa pelengkap (komplementer). Keduanya merupakan kombinasi barang
yang sifatnya saling melengkapi. Contoh:kompor dengan minyak tanah, karena harga
minyak tanah mengalami kenaikanmaka orang beralih menggunakan bahan bakar
minyak tanah dan beralih kebahan bakar gas.
• Perkiraan harga di masa datang. Apabila konsumen menduga harga barang akan terus
mengalami kenaikan di masa datang, maka konsumen cenderung untuk menambah
jumlah barang yangdibelinya. Contoh: Pada saat krisis ekonomi, ketika konsumen

ECON6032 – Managerial Economics|7


memperkirakan harga-harga sembako esok hari akan melambung tinggi, maka mereka
akan memborong sembako tersebut hari ini.
• Intensitas kebutuhan konsumen
Bila suatu barang atau jasa sangat dibutuhkan secara mendesak dan dirasakan pokok oleh
konsumen, maka jumlah permintaan akan mengalami peningkatan. Contoh: kebutuhan
akan bahan pokok beras, konsumen bersedia membeli dalam jumlah harga tinggi,
walaupun pemerintah sudah menetapkan harga pokok.

Secara singkat hubungan antara jumlah permintaan barang atau jasa dengan faktor-faktor
yang mempengaruhinya dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Hubungan antara jumlah permintaan barang dengan beberapa variabel penentu
pada periode tertentu

No Variabel Penentu Notasi Sifat hubungan


1 Harga produk PX Negatif
2 Harga produk substitusi PS Positif
3 Harga prod komplementer PC Negatif
4 Promosi A Positif
5 Kualitas produk K Positif
6 Desain produk S Positif
7 Saluran distriusi C Positif
8 Pendapatan konsumen Y Positif (br. nornal)
Negatif (br. inferior)
9 Rasa/selera T Positif
10 Pendidikan E Positif
11 Ekspektasi konsumen pada harga yang
akan datang PE Positif
12 Ekspektasi konsumen pada tersedianya QE Negatif
produk y.a.d
13 Ekspektasi pendapatan konsumen y.a.d YE Positif
14 Saluran distribusi produk pesaing CK Negatif
15 Desain produk pesaing SK Negatif
16 Kualitas produk pesaing KK Negatif
17 Promosi produk pesaing AK Negatif
Sumber : Dari berbagai sumber

ECON6032 – Managerial Economics|8


3.2. Kurva Permintaan

Kurva permintaan (demand curve) merupakan grafik yang menggambarkan hubungan


antara harga dengan jumlah komoditas yang ingin dan dapat dibeli konsumen. Sesuai
dengan hukum permintaan, maka bentuk kurva permintaan melereng dari kiri atas ke kanan
bawah atau dari kanan bawah ke kiri atas.

3.3. Pergerakan dan pergeseran kurva permintaan

Pergerakan kurva permintaan merupakan pergerakan yang terjadi di sepanjang kurva


permintaan yang diakibatkan oleh berubahnya jumlah produk yang diminta konsumen
sebagai akibat dari perubahan harga produk tersebut. Pergerakan ini sejalan dengan Hukum
Permintaan, yaitu ketika harga barang naik, maka jumlah permintaan akan turun, sehingga
titik pada kurva permintaan akan bergerak ke kiri.

Untuk lebih jelasnya, kami tampilkan dalam contoh kurva berikut ini:

Gambar 2. Pergerakan sepanjang kurva permintaan

Dalam kurva permintaan di atas, diketahui bahwa harga es krim naik dari $1.00 menjadi
$2.00 sebagai akibat dari adanya pajak (tax). Peningkatan harga es krim ini mengakibatkan
jumlah permintaan es krim turun dari 8 menjadi 4, dan terjadi pergerakan di sepanjang kurva
permintaan yaitu dari titik A ke B.

Selain pergerakan, kurva permintaan juga bisa mengalami pergeseran, baik ke kanan
maupun ke kiri. Pergeseran ini terjadi karena berubahnya jumlah produk yang diminta

ECON6032 – Managerial Economics|9


konsumen sebagai akibat dari berbagai faktor kecuali faktor harga produk tersebut. Berbagai
faktor yang dimaksud diantaranya adalah pendapatan konsumen, harga produk lain, selera,
harapan, dan jumlah pembeli.

Contoh: Pendapatan Konsumen

Untuk barang normal, apabila pendapatan konsumen meningkat, maka jumlah barang yang
diminta akan meningkat pula dan kurva permintaan akan bergeser ke kanan. Sedangkan
untuk barang inferior, apabila pendapatan konsumen meningkat, maka jumlah barang yang
diminta akan turun dan kurva permintaan akan bergeser ke kiri.

Apabila digambarkan dalam sebuah kurva, berturut-turut adalah seperti terlihat pada Gambar
3 dan Gambar 4.

Gambar 3. Pergeseran Kurva Permintaan ke Kanan (Barang Normal)

ECON6032 – Managerial Economics|10


Gambar 4. Pergeseran Kurva Permintaan ke Kiri (Barang Inferior)

Jadi dapat disimpulkan bahwa :

• Pergerakan di sepanjang kurva permintaan disebabkan oleh harga produk yang


bersangkutan.
• Pergeseran kurva permintaan disebabkan oleh berbagai faktor selain harga produk
tersebut.
3.4. Surplus konsumen

Surplus konsumen adalah perbedaan antara jumlah maksimum yang bersedia dibayar
konsumen untuk sebuah barang dengan jumlah sebenarnya yang dibayar konsumen.

Misalnya, seorang mahasiswa bersedia membayar $13 untuk karcis konser rock, walaupun
dia seharusnya hanya membayar $12. Sisa $1 adalah surplus konsumennya. Bila kita
menjumlahkan surplus konsumen dari semua konsumen yang membeli suatu barang, kita
akan memperoleh ukuran surplus konsumen agregat.

Surplus konsumen merupakan aplikasi penting dalam ilmu ekonomi. Apabila


dijumlahkan dari antara banyak individu, surplus konsumen mengukur agregat manfaat yang
diperoleh konsumen dengan membeli barang di pasar. Apabila kita mengkombinasikan
surplus konsumen dengan agregat laba yang diperoleh produsen, kita dapat mengevaluasi
baik biaya maupun keuntungan tidak hanya untuk struktur pasar alternatif, tetapi juga untuk
kebjakan publik yang mengubah perilaku konsumen dan perusahaan dalam pasar tersebut.

Untuk pasar secara keseluruhan, surplus konsumen dapat diukur dengan area di bawah
kurva permintaan dan diatas garis yang menunjukkan harga pembelian barang. Surplus

ECON6032 – Managerial Economics|11


konsumen dengan mudah dapat dihitung jika kita mengetahui kurva permintaannya. Gambar
kurva permintaan yang terlihat seperti tangga bukannya garis lurus menunjukkan kita
bagaimana mengukur nilai yang diperoleh konsumen dengan membeli karcis dalam jumlah
berbeda. Tetapi karena dalam pasar biasanya jumlah yang diukur adalah ribuan jadi kurva
permintaan pasar bentuknya jadi garis lurus.

Besarnya surplus konsumen dapat diketahui dengan mencari luas segitiga yang
terbentuk.

Gambar 5. Surplus konsumen untuk kasus bilangan diskrit.

Gambar 6. Surplus konsumen untuk kasus bilangan kontinyu

4. Konsep Penawaran

Penawaran adalah sejumlah barang yang ditawarkan pada tingkat harga tertentu dan
waktu tertentu. Sedangkan Hukum penawaran berbunyi: bila tingkat harga mengalami

ECON6032 – Managerial Economics|12


kenaikan maka jumlah barang yang ditawarkan akan naik, dan bila tingkat harga turun maka
jumlah barang yang ditawarkan turun. Dalam hukum penawaran jumlah barang yang
ditawarkan akan berbanding lurus dengan tingkat harga. Pada hukum penawaran hanya
menunjukkan hubungan searah antara jumlah barang yang ditawarkan dengan tingkat harga.

4.1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penawaran


• Teknologi Produksi.
Tingkat kemajuan teknologi perusahaan menentukan kemampuan berproduksi
perusahaan itu. Adanya kemajuan teknologi akan menyebabkan pengurangan terhadap
biaya produksi dan produsen dapat menawarkan barang dalam jumlah yang lebih besar
lagi. Pada umumnya, semakin tinggi teknologi yang diterapkan semakin efisien
perusahaan itu.
• Harga Sumber-Sumber Produksi.
Naik turunnya harga sumber-sumber produksi akan mengakibatkan naik dan turunnya
biaya produksi. Hal ini akan mempengaruhi penawaran suatu jenis barang.
• Harga barang pelengkap dan pengganti
Apabila harga barang pengganti mengalami kenaikan maka produsen akan memproduksi
lebih banyak lagi karena berasumsi konsumen akan beralih ke barang pengganti yang
harganya lebih murah.
• Harapan atau ekspektasi produsen.
Apabia produsen memperkirakan adanya peningkatan harga barang atau jasa, penurunan
harga sumber-sumber produksi, juga mengalami peningkatan pendapatan konsumen,
maka dari produsen itu akan semakin meningkatkan besarnya penawaran kepada
konsumen.
• Munculnya Produsen Baru.
Munculnya produsen baru di pasaran akan menambah jumlah barang yang dijual dan
ditawarkan.
• Pajak
Semakin tinggi tarif pajak yang dikenakan akan berakibat naiknya harga barang dan jasa
yang akan membawa dampak pada rendahnya permintaan konsumen dan berkurangnya
jumlah barang yang ditawarkan.

ECON6032 – Managerial Economics|13


• Perkiraan harga barang di masa datang
Apabila kondisi pendapatan masyarakat meningkat, biaya produksi berkurang dan
tingkat harga barang dan jasa naik, maka produsen akan menambah jumlah barang dan
jasa yang ditawarkan. Tetapi bila pendapatan masyarakat tetap, biaya produksi
mengalami peningkatan, harga barang dan jasa naik, maka produsen cenderung
mengurangi jumlah barang dan jasa yang ditawarkan atau beralih pada usaha lain.
• Tujuan perusahaan
Bila perusahaan berorientasi untuk dapat menguasai pasar, maka dia harus mampu
menekan harga terhadap barang dan jasa yang ditawarkan sehingga keuntungan yang
diperoleh kecil. Bila orientasinya pada keuntungan maksimal, maka perusahaan
menetapkan harga yang tinggi terhadap barang dan jasa yang ditawarkannya.
4.2. Kurva penawaran

Kurva penawaran atau supply curve adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara
harga dengan jumlah barang yang dijual atau ditawarkan pada masing-masing tingkat harga.
Sudah menjadi sifat produsen atau penjual bahwa bila harga naik, mereka akan menambah
jumlah barang yang dijual dan sebaliknya. Sehingga bentuk kurva penawaran adalah miring
membentuk lereng dari kiri bawah ke kanan atas atau dari kanan atas ke kiri bawah.

4.3. Pergeseran dan pergerakan kurva penawaran

Pergerakan kurva penawaran merupakan pergerakan yang terjadi di sepanjang kurva


penawaran yang diakibatkan oleh berubahnya jumlah produk yang ditawarkan produsen
sebagai akibat dari perubahan harga produk tersebut. Jadi, yang menyebabkan adanya
pergerakan di sepanjang kurva penawaran adalah karena perubahan harga produk yang
bersangkutan. Pergerakan ini sejalan dengan Hukum Penawaran, yaitu ketika harga barang
naik, maka jumlah barang yang ditawarkan akan bertambah, sehingga titik pada kurva
penawaran akan bergerak ke kanan.

Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat contoh kurva pada Gambar 7

ECON6032 – Managerial Economics|14


Gambar 7. Pergerakan di Sepanjang Kurva Penawaran

Dalam kurva penawaran di atas, misalnya diketahui bahwa harga es krim naik dari $1.00
menjadi $3.00. Peningkatan harga es krim ini mengakibatkan jumlah penawaran es krim
bertambah dari 1 menjadi 5, dan terjadi pergerakan di sepanjang kurva penawaran yaitu dari
titik A ke C.

Selain pergerakan, kurva penawaran juga bisa mengalami pergeseran, baik ke kanan
maupun ke kiri. Pergeseran ini terjadi karena berubahnya jumlah produk yang ditawarkan
produsen sebagai akibat dari berbagai faktor kecuali faktor harga produk tersebut. Berbagai
faktor yang dimaksud diantaranya adalah harga input, teknologi, harapan (ekspektasi), dan
jumlah penjual.

Contoh:

Adanya teknologi dapat meningkatkan produktivitas produsen, sehingga dengan jumlah


faktor produksi tetap, produsen dapat memproduksi lebih banyak barang dibanding sebelum
menggunakan teknologi.

Akibatnya, jumlah barang yang ditawarkan meningkat dan menyebabkan kurva penawaran
bergeser ke kanan.

ECON6032 – Managerial Economics|15


Gambar 8. Pergeseran Kurva Penawaran ke Kanan dan ke Kiri

Jadi dapat disimpulkan bahwa :

• Pergerakan di sepanjang kurva penawaran disebabkan oleh harga produk yang


bersangkutan.
• Pergeseran kurva penawaran disebabkan oleh berbagai faktor selain harga produk
tersebut.

4.4. Surplus Produsen

Surplus Produsen adalah harga barang yang dijual oleh produsen, dikurangi dengan biaya
produksi barang tersebut. Lebih mudahnya, dapat dikatakan bahwa surplus produsen
merupakan ukuran keuntungan yang diperoleh oleh produsen dalam menjual produknya.

Surplus produsen dalam kurva penawaran ditunjukkan pada area dibawah harga barang,
dan di atas kurva penawaran. Lebih jelasnya lihat dalam gambar 9.

ECON6032 – Managerial Economics|16


Surplus produsen

Gambar 9. Surplus produsen

Apabila terjadi kenaikan harga barang, seorang produsen akan mendapatkan tambahan
keuntungan (surplus produsen). Selain itu, akan ada pula produsen baru yang mendapatkan
keuntungan (surplus) dari kenaikan harga tersebut.

5. Keseimbangan pasar

Keseimbangan pasar (market equilibrium) akan tercapai jika jumlah produk yang diminta
sama dengan jumlah produk yang ditawarkan, atau harga produk yang ditawarkan sama
dengan harga produk yang diminta pembeli. Pada saat itu akan terjadi transaksi antara penjual
dan pembeli, karena telah terjadi kesepakatan mengenai harga dan atau jumlah produk.

Berikut ini gambar 10 mengenai keseimbangan pasar antara kurva penawaran yang
berpotongan dengan kurva permintaan:

Gambar 10. Keseimbangan pasar

ECON6032 – Managerial Economics|17


Mekanisme pasar (market mechanism) adalah kecenderungan pasar bebas untuk
perubahan harga sampai pasar menjadi seimbang, yaitu sampai jumlah penawaran dan
permintaan sama. Pada titik ini karena tidak ada kelebihan permintaan atau kelebihan
penawaran, tidak ada tekanan terhadap harga untuk berubah lagi. Penawaran dan permintaan
tidak selalu berada dalam equilibrium dan beberapa pasar mungkin tidak akan mencapai
equilibrium dengan cepat apabila kondisi tiba-tiba berubah, namun kecenderungan tetap,
bahwa pasar biasanya mengarah ke keseimbangan.

Untuk memahami mengapa pasar cenderung mengarah ke keseimbangan misalnya pada


awal harga berada di atas tingkat keseimbangan pasar (P1 = 9) dalam gambar 11 maka
produsen akan berusaha memproduksi dan menjual barang lebih daripada kesediaan
konsumen untuk membeli. Akibatnya akan terjadi surplus dimana jumlah penawaran
melebihi jumlah permintaan. Untuk menjual surplus ini atau paling sedikit mencegah surplus
yang bertambah, produsen akan mulai menurunkan harga. Akhirnya harga turun, jumlah
permintaan akan naik dan jumlah penawaran akan turun sampai harga equilibrium Pe = 7
tercapai.

Hal sebaliknya akan terjadi jika harga mula-mula ada di bawah Pe, yaitu P2 = 5.
Kekurangan (Shortage), yaitu situasi dimana jumlah permintaan melampaui jumlah
penawaran. Hal ini mengakibatkan harga tertekan ke atas karena konsumen akan bersaing
satu sama lain untuk mendapatkan penawaran yang ada dan produsen merespon dengan
kenaikan harga dan menambah output dan harga akhirnya akan mencapai Pe = 7.

ECON6032 – Managerial Economics|18


Ketika menggambarkan dan menggunakan kurva penawaran dan permintaan
diasumsikan bahwa pada setiap harga, barang akan diproduksi dan dijual dalam jumlah
tertentu. Asumsi ini hanya bisa terjadi jika suatu pasar sedikitnya bersifat bersaing, yaitu baik
penjual maupun pembeli hanya mempunyai sedikit kekuatan di pasar. Maksudnya adalah
secara individu memiliki sifat kemampuan untuk mempengaruhi harga pasar.

Jadi dapat disimpulkan bahwa :

• Suatu kondisi di mana penawaran lebih besar daripada permintaan atau dinotasikan
dengan Qs > Qd, maka disebut dengan surplus (kelebihan penawaran).
• Suatu kondisi di mana permintaan lebih besar daripada penawaran atau dinotasikan
dengan Qd > Qs, maka disebut dengan shortage (kelebihan permintaan).
6. Penetapan Harga/Intervensi Harga

Bentuk intervensi pemerintah dalam ekonomi mikro adalah kontrol harga. Tujuan kontrol
harga adalah untuk melindungi konsumen atau produsen. Bentuk kontrol harga yang paling
umum digunakan adalah penetapan harga dasar (floor price) dan harga maksimum (ceiling
price).

6.1. Penetapan Harga Minimum (floor price)

Harga minimum atau harga dasar merupakan batas seberapa rendah harga dapat
dikenakan pada suatu produk melalui kesepakatan bersama atau ketentuan pemerintah.
Penetapan harga minimum atau harga dasar yang dilakukan oleh pemerintah bertujuan untuk
melindungi produsen, terutama untuk produk dasar pertanian.

Kebijakan harga dasar dapat biasa digunakan pada saat ditemukan kapasitas produksi di
pasar terlalu sedikit sehingga kuantitas barang beredar di pasar lebih rendah dari permintaan
pasar, hal ini dikarenakan terlalu rendah nya harga jual yang ada di pasar, sehingga selisih
harga produksi dengan harga jual pasar terlalu kecil. Hal ini menyebabkan produsen takut
untuk memperbanyak kapasitas produksi dikarenakan harga jual yang rendah dan supplier
cenderung menyimpan barang mereka menunggu harga pasar pulih kembali. Oleh karena itu
dalam situasi seperti ini pemerintah biasanya menetapkan harga dasar. Harga dasar yang
ditetapkan akan berada di atas harga equilibrium pasar. Konsumen akan diberatkan pada
naiknya harga suatu produk yang dikenakan harga dasar tersebut sehingga mereka harus

ECON6032 – Managerial Economics|19


membayar lebih mahal. Sebaliknya, dari sisi produsen atau pun supplier, mereka akan
mendapatkan jaminan atas harga yang lebih tinggi dari sebelumnya, sehingga ada keamanan
untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Misalnya harga gabah kering terhadap harga pasar yang terlalu rendah. Hal ini dilakukan
supaya tidak ada tengkulak (orang/pihak yang membeli dengan harga murah dan dijual
kembali dengan harga yang mahal) yang membeli produk tersebut diluar harga yang telah
ditetapkan pemerintah. Jika pada harga tersebut tidak ada yang membeli, pemerintah akan
membelinya melalui BULOG (Badan Usaha Logistik) kemudian didistribusikan ke pasar.

6.2. Penetapan Harga Maksimum (ceiling price)

Harga maksimum merupakan perubahan tertinggi yang diperbolehkan terhadap suatu


harga barang yang telah ditetapkan dalam suatu kontrak dalam suatu masa perdagangan
sesuai dengan aturan perdagangan yang ada. Harga pasar yang terkena harga maksimum
tidak diperbolehkan untuk menaikkan harga di atas harga maksimum yang telah ditetapkan.

Kebijakan harga maksimum biasanya diberlakukan pada saat harga pasar yang ada tidak
mengalami kenaikan yang cenderung berarti dalam kurun waktu yang singkat sedangkan
suatu permintaan pasar terhadap produk meningkat. hal ini akan memicu produsen atau
supplier untuk menaikkan harga. Dalam situasi seperti ini kebijakan harga maksimum perlu
diberlakukan untuk menjaga stabilitas harga pasar supaya kenaikan harga yang ditetapkan
oleh produsen tidak terlalu tinggi dan tidak membani produsen.

Penetapan harga maksimum atau Harga Eceran Tertinggi (HET) yang dilakukan
pemerintah bertujuan untuk melindungi konsumen. Kebijakan HET dilakukan oleh
pemerintah jika harga pasar dianggap terlalu tinggi diluar batas daya beli masyarakat

ECON6032 – Managerial Economics|20


(konsumen). Penjual tidak diperbolehkan menetapkan harga di atas harga maksimum
tersebut. Contoh penetapan harga maksimum di Indonesia antara lain harga obat-obatan di
apotek, harga BBM, dan tarif angkutan atau transportasi seperti tiket bus kota, tarif kereta api
dan tarif taksi per kilometer. Seperti halnya penetapan harga minimum, penetapan harga
maksimum juga mendorong terjadinya pasar gelap.

HET

Jika HET ditetapkan sama dengan atau lebih tinggi daripada harga keseimbangan
sebagaimana ditetentukan oleh supply dan demand di pasaran, maka penetapan harga ini
tidak banyak pengaruhnya, dan hanya sekadar untuk mencegah para penjual menaikkan harga
lebih daripada batas yang ditetapkan itu. Tetapi bila HET itu lebih rendah daripada harga
keseimbangan, akan timbul berbagai persoalan.

Sebagai ilustrasi misalnya Harga keseimbangan antara permintaan dan penawaran adalah
Rp 3000. Harga ini dianggap terlalu tinggi. Agar barang dapat dibeli oleh masyarakat, maka
pemerintah menetapkan HET misalnya sebesar Rp 2.000. Pada harga Rp 2.000 ini Qd >Qs.
Jumlah yang akan dibeli 30, sedangkan jumlah yang akan dijual pada harga tersebut hanya
15, sehingga ada kekurangan. Kekurangan ini dapat menimbulkan pasar gelap sebab untuk
memperoleh jumlah sebanyak 15 tersebut para pembeli bersedia membayar sampai Rp 3.500.

Seandainya jumlah 15 ini dijual di pasar bebas, maka akan bisa mencapai harga Rp
3.500. Tetapi HET yang ditetapkan oleh pemerintah hanya Rp 2.000. Inilah yang
menimbulkan pasar gelap, barang dijual secara gelap dengan harga di atas HET yang
ditetapkan oleh pemerintah. Cara ini hanya menguntungkan pedagang, sedang masyarakat
yang membutuhkan barang tidak kebagian.

ECON6032 – Managerial Economics|21


Persoalan yang timbul bila HET ditetapkan lebih rendah daripada harga keseimbangan
pasar adalah bahwa pada harga HET itu jumlah yang mau dibeli lebih besar daripada jumlah
yang mau dijual (Qd > Qs) sehingga timbul kekurangan suplai.

ECON6032 – Managerial Economics|22


SIMPULAN
Ekonomi manajerail adalah aplikasi teori ekonomi dan perangkat ilmu pengambil
keputusan untuk menentukan solusi optimal pada masalah keputusan manajerial.

Porter's Five Forces merupakan alat analisis industri untuk bersaing demi keuntungan
perusahaan dalam industri bersaing langsung, tidak hanya dengan pesaing mereka tetapi juga
dengan semua pihak yang dapat menangkap nilai yang diciptakan industri, yaitu : konsumen,
pemasok, pendatang baru potensial dan produk pengganti.

Kekuatan kolektif Lima Kekuatan ( Porter's Five Forces) menentukan profitabilitas rata-
rata industri melalui pengaruhnya pada harga, biaya dan investasi yang dibutuhkan
untuk berkompetisi. Profitabilitas yang terukur dihitung dengan persamaan:

Keuntungan = Harga – Biaya

Analisis Porter's Five Forces memiliki manfaat yang luas sebagai alat analisis industri
daripada sekedar untuk menunjukkan "daya tarik" industri. Selain itu, analisis
Porter's Five Forces dapat membantu mengantisipasi dan mengeksploitasi perubahan
struktural dalam suatu industri. Analisis Porter's Five Forces digunakan untuk menganalisis
industri tidak untuk menganalisis perusahaan sebagai individu

Analisis permintaan-penawaran merupakan alat dasar analisis mikroekonomi.


Perekonomian diatur oleh hukum pemintaan-penawaran dan hukum pemerintah. Bergeraknya
mekanisme pasar menunjukkan kecenderungan permintaan-penawaran menuju keseimbangan
(equilibrium), sehingga tidak terjadi kelebihan permintaan atau kelebihan penawaran. Namun
pemerintah dapat ikut mengatur mekanisme pasar guna menciptakan kestabilan ekonomi.
Pengendalian harga dan pajak merupakan hal yang umum di berbagai pasar dalam
perekonomian.

ECON6032 – Managerial Economics|23


DAFTAR PUSTAKA

1. Michael R. Baye,. Jeffrey T. Prince, (2013). Managerial economics and business


strategy. 8th Edition. McGraw Hill. New York. ISBN: 9780077154509., Chapter 1
&2
2. http://www.academia.edu/9126259/Michael_Porter_-
_Chapter_2_Lima_Kekuatan_Porters_Five_Forces_-_Bersaing_demi_Keuntungan
3. http://www.pendidikanekonomi.com/2013/10/pergerakan-dan-pergeseran-kurva.html
4. http://www.pendidikanekonomi.com/2013/11/pergerakan-dan-pergeseran-kurva.html
5. http://www.pendidikanekonomi.com/2014/03/konsumen-produsen-dan-efisiensi-
pasar_17.html

ECON6032 – Managerial Economics|24