Anda di halaman 1dari 8

Noveni arliani

1. Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500 cc yang terjadi setelah bayi lahir
pervaginam atau lebih dari 1000 cc setelah persalinan abdominal dalam 24 jam dan
sebeleum 6 minggu setelah persalinan. Berdasarkan waktu terjadinya perdarahan
postpartum dapat dibagi menjadi perdarahan primer dan perdarahan sekunder. Perdarahan
primer adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama dan biasanya disebabkan
oleh atonia uteri, robekan jalan lahir, sisa sebagian plasenta dan gangguan pembekuan
darah. Perdarahan sekunder adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam persalinan.
Penyebab utama perdarahan post partum sekunder biasanya disebabkan sisa
plasenta.Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian perdarahan postpartum
adalah partus lama, paritas, peregangan uterus yang berlebihan, oksitosin drip, anemia,
dan persalinan dengan tindakan. Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih
dari 24 jam pada primi dan lebih dari 18 jam pada multi. Partus lama dapat menyebabkan
terjadinya inersia uteri karena kelelahan pada otot - otot uterus sehingga rahim
berkontraksi lemah setelah bayi lahir.
Journal of Health Studies, Vol. 1, No.1, Maret 2017: 49-64
2. paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut perdarahan postpartum.
Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kejadian perdarahan
postpartum lebih tinggi. Pada paritas yang rendah (paritas satu), ketidaksiapan ibu dalam
menghadapi persalinan yang pertama merupakan faktor penyebab ketidakmampuan ibu
hamil dalam menangani komplikasi yang terjadi selama kehamilan, persalinan dan nifas.
Sedangkan pada paritas tinggi (lebih dari 3), fungsi reproduksi mengalami penurunan
sehingga kemungkinan terjadi perdarahan pascapersalinan menjadi lebih besar.
Journal of Health Studies, Vol. 1, No.1, Maret 2017: 49-64
3. partus lama merupakan faktor resiko perdarahan postpartum, dimana besar resikonya
adalah 3,5 yang artinya ibu yang mengalami partus lama mempunyai resiko 3,5 kali lebih
besar untuk mengalami perdarahan post partum dibandingkan ibu yang tidak mengalami
partus lama. Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi
dan lebih dari 18 jam pada multi. Partus lama baik fase aktif memanjang maupun kala II
memanjang menimbulkan efek terhadap ibu maupun janin. Terdapat kenaikan terhadap
insidensi atonia uteri, laserasi, perdarahan, infeksi, kelelahan ibu dan syok. Partus lama
dapat menyebabkan terjadinya inersia uteri karena kelelahan pada otot - otot uterus
sehingga rahim berkontraksi lemah setelah bayi lahir dan dapat menyebabkan terjadinya
perdarahan postpartum
Journal of Health Studies, Vol. 1, No.1, Maret 2017: 49-64
4. Penatalaksanaan:
 Langkah langkah penatalaksanaan
 Lakukan masase pada fundus uteri segera setelah plancenta lahir
 Mengeluarkan semua darah beku atau selaput yang menyumbat jalan lahir
(uterus)
 Lakukan kompresi bimanual 1-2 menit, jika tidak berkontraksi lanjutnya sampai 5
menit
 Jika uterus sudah berkontraksi tarik tangan keluar. Observasi tiap 5 menit
 Jika uterus tidak berkontraksi setelah 5 menit suruh anggota keluarga untuk
melakukan kompresi bimanual eksternal.
5. Resusitasi dan manajemen yang baik terhadap perdarahan Pasien dengan hemorraghe
postpartum memerlukan penggantian cairan dan pemeliharaan volume sirkulasi darah ke
organ – organ penting. Pantau terus perdarahan, kesadaran dan tanda-tanda vital pasien.
Pastikan dua kateler intravena ukuran besar (16) untuk memudahkan pemberian cairan
dan darah secara bersamaan apabila diperlukan resusitasi cairan cepat.
Pemberian cairan : berikan normal saline atau ringer lactate
Transfusi darah : bisa berupa whole blood ataupun packed red cell
Evaluasi pemberian cairan dengan memantau produksi urine (dikatakan perfusi cairan ke
ginjal adekuat bila produksi urin dalam 1jam 30 cc atau lebih)
6. Askep
1. Pengkajian
1. Identitas

a. Identitas Klien
Nama : Ny. X
Umur : 40 Tahun
DX. Medis : Perdarahan Post Partum ( P6A0 )
b. Identitas Penanggung Jawab
1. Keluhan Utama
Klien mengatakan mulai kenceng-kenceng dan keluar lender darah sampai bayi lahir
selama 2 jam
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Klien mengatakan mulai kenceng-kenceng dan keluar lender darah sampai bayi
lahir selama 2 jam
b. Riwayat kesahatan masalalu
Klien mengatakan sebelumnya belum pernah dirawat di rumah sakit.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit
keturunan seperti diabetes dan hipertensi
3. Riwayat Obstetri Dan Ginekologi
a. Riwayat persalinan : normal, SC, dengan bantuan
b. Riwayat Kehamilan : P6 A0 H
c. Riwayat persalinan sekarang
a) Jenis kelamin : laki-laki
b) BBL : 3850 gr

4. Riwayat menstruasi :
a. Menarche umur :-
b. Siklus menstruasi :-
c. Lama menstruasi :-
5. Riwayat KB:
a. Jenis KB :-
b. Lama KB :-
c. Rencana KB : -

6. Pemeriksaan fisik
KU : lemah tampak pucat
Kesadaran : composmentis
Tanda- tanda Vital:
TD : 90/60 mmHg
Nadi : 120 x/mnt
Suhu : 37,2oc
Respirasi : 24 x/mnt
a. Kepala
Tidak ada kelainan
b. Mata
Konjungtiva anemis (+/+)
c. Perut
Inspeksi : simetris , tdk terdapat striac
Palpasi : uterus terasa lembek
d. Genetalia
terdapat luka jahitan di jalan lahir, fluxus (+++)
7. Pengkajian persistem
1). Sirkulasi
Adanya kehilangan darah cukup banyak 400 -500 ml pada kelahiran
pervagina 600-800 ml kelahiran sesar. Tekanan darah normal atau menurun,
nadi normal atau naik. Tangan kaki atau ekstremitas dingin, dan lembab,
lemah, kulit pucat, oligouria. Penurunan kesdaran,letargi.
2). Integritas ego
Adanya kecemasan,ketakutan,khawatir
3). Eliminasi
Normal sampai oligouria, Nyeri atau ketidaknyamanan, Keluhan nyeri karena
adanya laserasi, bekas jahitan
4). Aktivitas dan istirahat
Melaporkan adanya kelelahan berlebihan
5). Keamanan
Adanya rabas,bau busuk, infeksi, laserasi jalan lahir, hematoma
8. Pemeriksaan diagnostik
1) Golongan darah :
Rh, golongan ABO, pencocokkan silang
2) Darah lengkap :
Hb/Ht menurun, sel darah putih meningkat laju sedimentasi meningkat
3) Kultur uterus dan vagina :
Infeksi pasca partum
4) Koagulasi :
FDP/FSP meningkat, fibrinogen menurun, masa protombin memanjang pada
adanya KID, masa tromboplastin parsial diaktivasi, masa tromboplastin
parsial (APTT/PTT)
5) Sonografi :
Menentukan adanya jaringan plasenta yang tertahan

no Data fokus diangnosa


1 Ds: Seorang wanita berumur 40th datang ke Defisit volume cairan b.d
perawat maternitas dengan keluhan pendarahan post kehilangan volume cairan
partum secara aktif
 
Do: Pasien terkaji keadaan umum lemah tampak
pucat, konjungtiva anemis, dan terlihat keluar lendir
darah.
TTV  TD= 90/60mmHg
Nadi = 120 x/menit
Pernafasan = 24x/menit
2 Ds: - Ketidakefektifan perfusi
  jaringan
Do: pasien terkaji dengan TD = 90/60mmHg, Nadi
= 120x/menit, RR= 24x/menit
Pada pemeriksaan fisik terkaji keadaan umum
lemah tampak pucat disertai konjungtiva anemis

3 Ds: seorang pasien berumur 40 th datang ke Ansietas


perawat maternitas untuk berkonsultasi dengan
keluhan pendarahan post partum
 
Do: pada pasien terkaji pemeriksaan fisik dengan
TD 90/60 mmHg, Nadi 120x/menit, RR 24x/menit
dengan keadaan umum terlihat lemah tampak pucat.

dx Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi


1. NOC: NIC:
• Keseimbangan cairan • Pertahankan cairan intake dan
• Hidrasi output dalam batas normal
• Status nutrisi • Monitor batas dehidrasi
Setelah dilakukan tindakan (kelembaban membran mukosa,
keperawatan defisit volume nadi adekuat, tekanan darah
cairan teratasi dengan kriteria normal)
hasil: • Monitoring hasil laboratorium
• Mempertahankan urine • Monitoring tanda tanda vital
output • Kolaborasi pemberian IV
• Tekanan darah, nadi, dan • Monitoring status nutrisi
suhu dalam batas normal • Kolaborasi dengan dokter jika
• Tidak ada tanda tanda ada tanda cairan memburuk
dehidrasi, elastisitas turgor • Monitoring intake dan output
kulit baik, membran mukosa selama 8 jam.
lembab, tidak ada rasa haus
yang berlebihan
• Jumlah dan irama pernafasan
normal
• Elektrolit, Hb dan Ht dalam
normal
2. NOC : • NIC:
- Status sirkulasi • - Kaji secara komprehensif
Setelah dilakukan tindakan sirkulasi
keperawatan defisit volume • - Evaluasi nadi dan edema
cairan teratasi dengan kriteria • - Ubah posisi pasien selama 2 jam
hasil: • - Monitoring laboratorium
- TTV dalam batas normal (Hb,Ht)
- Warna kulit normal • - Kaji TTV
- Suhu normal
• - Nilai laboratorium dalam
batas normal

3. NOC: NIC:
- Kontrol kecemasan - Gunakan pendekatan yang
- Koping adekuat menenangkan
Setelah dilakukan tindakan - Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
keperawatan defisit volume pelaku pasien
cairan teratasi dengan kriteria - Jelaskan prosedur dan apa yang
hasil: dirasakan selama prosedur
- Klien mampu - Temani pasien untuk mengurangi rasa
mengidentifikasi dan takut
mengunggkapkan gejala - Berikan informasi faktual mengenai
cemas diagnosis, tindakan prognosis
- Mengidentifikasi, - Dengarkan dengan penuh perhatian
mengungkapkan, dan - Dorongan pasien untuk mengungkapkan
menunjukan teknik untuk - Perasaan
mengontrol cemas - Kelola pemberian anti cemas
- Tanda tanda vital dalam
batas normal
- Postur tubuh, ekspresi
wajah, bahasa tubuh, dan
tingkat aktivitas menunjukan
berkurangnya kecemasan.

dx evaluasi ttd
1 S (subjektif): pasien mengatakan sudah tidak mengalami pendarahan
O (objektif): pasien sudah terlihat tidak lemah tampak pucat, TD
normal, nadi normal, pernafasan normal, tidak terjadi konjungtiva
anemis, cairan output dan input pasien dalam batas normal.
A (Assesment):
P (Planning): jika semua intervensi kepasien sudah tercapai selanjutnya
melanjutkan merencanakan intervensi sesuai dengan perawatan pasien
dan kolaborasi dengan dokter

2 S: pasien mengatakan sudah tidak mengalami keluhan


O: pasien sudah terlihat tidak lemah tampak pucat, TD normal, nadi
normal, pernafasan normal, tidak terjadi konjungtiva anemis, nilai
laboratorium dalam batas normal
A:
P: jika semua intervensi kepasien sudah tercapai selanjutnya
melanjutkan merencanakan intervensi sesuai dengan perawatan pasien
dan kolaborasi dengan dokter

3 S: pasien mengatakan tidak mengalami kecemasan, gelisah, dapat


melakukan teknik relaksasi yang dianjurkan oleh perawat
O: pasien sudah terlihat tidak lemah tampak pucat, TD normal, nadi
normal, pernafasan normal, tidak terjadi konjungtiva anemis, postur
tubuh dan wajah tidak menunjukan adanya kecemasan.
A:
P: jika semua intervensi kepasien sudah tercapai selanjutnya
melanjutkan merencanakan intervensi sesuai dengan perawatan pasien
dan kolaborasi dengan dokter