Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang


Saat ini banyak masyarakat atau para pendidik yang menganggap bahwa penggunaan
media dalam pembelajaran hanya dapat digunakan pada pelajaran atau bidang studi tertentu
saja. Fakta itu dapat dilihat pada proses pembelajaran yang dilakukan para pendidik tertentu
seperti guru biologi yang menggunakan alat peraga atau torso, guru geografi yang
menggunakan peta untuk menunjukkan daerah tertentu. Tetapi penggunaan media dapat
dilakukan oleh para pendidik diseluruh bidang studi yang ada, salah satunya guru BK yang
ada disetiap sekolah.
Banyak sekali pendapat bahwa guru BK tidak perlu menggunakan media baik cetak
maupun elektronik sebagai alat untuk pembelajaran. Perlu diketahui setiap para pendidik
atau guru sebaiknya dapat menggunakan media yang ada agar dapat mempermudah dalam
pemberian informasi kepada para peserta didik yang bertujuan agar peserta didik dapat
memahami informasi atau pengetahuan secara baik.
Penggunaan media dalam pembelajaran itu terutama Bimbingan Dan konseling dapat
menggunakan media cetak seperti pamplet, postes, baner, dan elektronik seperti pemanfaatan
teknologi interrnet (blog, facebook, dan jejaring sosial lainnya). Media adalah sesuatu berupa
peralatan yang dapat di pakai dan dimanfaatkan untuk merangsang perkembangan dari
berbagai aspek baik itu fisik, motorik, social, emosi kognitif, kreatifitas dan bahasa sehingga
mampu mendorong dan memudahkan terjadinya proses belajar mengajar pada guru dan
peserta didik.
Tugas guru bimbingan dan konseling (konselor)  diantaranya menyusun dan
melaksanakan program Bimbingan dan Konseling. Adapun  Program BK tersebut  terdiri
dari program tahunan, program semesteran, program bulanan, program mingguan, dan
program harian. Program BK yang utama adalah pemberian layanan kegiatan pendukung dan
program penunjang.
Jadi, media bimbingan dan konseling dalam penggunaannya harus relevan dengan tujuan
layanan dan isi layanan. Hal ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam
layanan bimbingan dan konseling harus melihat kepada tujuan  penggunaannya dan memiliki
nilai  dalam mengoptimalkan layanan yang diberikan kepada siswa. Oleh karena itu  dengan
penggunaan media dalam layanan bimbingan dan konseling berfungsi untuk meningkatkan
kualitas proses layanan bimbingan dan konseling.

B. rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan media konseling?
2.      Bagaimana peran media dalam Bimbingan dan Konseling di SMPN 3 PALOPO?
3.      Bagaimana bimbingan dan konseling di SMPN 3 PALOPO sebagai proses komunikasi ?

C. tujuan masalah
1.      Tujuan umum adalah
 Untuk mengetahui pengertian media Bimbingan dan Konseling
 Memahami manfaat media Bimbingan dan Konseling di SMPN 3 PALOPO
2.      Tujuan khusus adalah untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Media Bimbingan Konseling
BAB II
PEMBAHASAN

A. Bimbingan dan Konseling sebagai proses komunikasi.


Bimbingan dan konseling merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seorang guru
bimbingan dan konseling (guru BK)/konselor dalam upaya memandirikan peserta didik atau
klien. Bimbingan dan Konseling yang memandirian mengamanatkan kepada guru
BK/konselor untuk memahami tiap klien ataukonseli secara utuh. (Hogan-Garcia, 2003).
Bimbingan merupakan pemberian pertolongan atau bantuan kepada klien. Bantuan
atau pertolongan merupakan hal yang pokok dalam bimbingan, namun tidak semua
pertolongan dapat disebut sebagai bimbingan. Orang dapat memberi bantuan kepada anak
yang kelaparan dengan memberinya makanan, tetapi ini bukan merupakan bimbingan.
Bimbingan itu pertolongan yang bersifat menuntun dari yang buruk menuju yang baik.
Konseling menurut Wren “Dalam proses konseling terlihat adanya suatu masalah yang
dialami klien, yaitu orang yang mempunyai masalah dalam proses konseling”. Pada dasarnya
proses konseling itu dilakukan secara individu (between two person), yaitu antara klien dan
konselor, tetapi ada juga konseling kelompok (group counseling).

Pemecahan masalah dalam proses konseling itu dijalankan dengan wawancara atau diskusi
antara konselor dengan klien dan wawancara itu dilakukan secara face to face (tatap muka).
Dengan uraian diatas,dapat disimpulkan bahwa bimbingan itu proses bantuan terhadap klien
untuk memecahkan masalah yang dapat dilakukan oleh guru studi, orang tua, atau pun yang
lainnya (bersifat umum). Sedangkan konseling itu proses bantuan terhadap klien yang
dilakukan oleh konselor secara face to face untuk memecahkan masalah klien tersebut
(khusus).

Manusia selalu melakukan komunikasi satu dengan yang lainnya, karena manusia tidak akan
lari dari kodratnya, yaitu sebagai makhluk sosial. Makhluk sosial membutuhkan interaksi
antara satu dengan yang lainnya, dan individu menghabiskan 70 persen waktunya untuk
berkomunikasi, baik melalui tulisan ataupun melalui lisan (percakapan). Proses bimbingan
dan konseling merupakan proses komunikasi, artinya didalamnya terjadi proses
penyampaiaan pesan dari seseorang kepada seseorang atau kelompok orang. Kemp (1994:15)
menggambarkan proses komunikasi sebagai berikut:
Source of message-Message encode- chanel- Message received and decoded Destination of
messagfe
Dari bagan diatas terlihat informasi atau keterangan dari pengirim pesan (sumber pesan).
Pesan tersebut diubah dalam bentuk sandi-sandi atau lambang-lambang seperti kata-kata,
bunyi-bunyi, gambar, dan sebagainya. Melalui saluran (chanel) seperti powerpoint, film,
pesan diterima melalui alat indra untuk diolah, sehingga pesan yang disampaikan oleh
penyampai pesan dapat diterima dan dipahami oleh si penerima pesan. Dapat disimpulkan,
bahwa kedekatan seseorang dengan orang lain ataupun sekelompok orang itu tergantung pada
komunikasi yang terjadi diantara keduanya, Bimbingan dan konseling sebagai proses
komunikasi ialah diamana dalam bimbingan terdapat komunikasi antara konselor dengan
klien, sehingga disebut sebagai proses komunikasi.

B. Kedudukan Media dalam Sistem Bimbingan dan Konseling.


Kedudukan media dalam sistem bimbingan dan konseling bisa di bilang cukup
penting, karena dengan media lebih memudahkan pemahaman dan maksud bimbingan dan
konseling. Sebelum membahas tentang sistem bimbingan konseling, terlebih dahulu kita
pahami apa itu sistem. Sistem yaitu suatu totalitas yang terdiri dari sejumlah komponen atau
bagian yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Bimbingan
konseling dikatakan sistem karena didalamnya terdapat komponen-komponen, yaitu
masalah , tujuan, teknik, media, dan evaluasi. Masing-masing komponen saling berkaitan erat
merupakan satu kesatuan. Dapat disimpulkan, bahwa kedudukan media ini sangat penting
dalam sistem bimbingan dan konseling, dan sistem bimbingan konseling ialah rangkaian yang
terdiri dari komponen-komponen bimbingan dan konseling.

C. Pengertian Media.
Menurut AECT (1977) media adalah sebagai segala bentuk dan saluran yang di
pergunakan untuk proses penyaluran pesan. Miarso (1986) menyatakan media itu segala
sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian, dan kemauan siswa untuk belajar. Gagne (dalam sadiman, dkk., 2002)
menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang
dapat merangsangnya untuk belajar. Kata media berasal dari kata latin, merupakan bentuk
jamak dari kata “medium” yang berarti perantara atau pengantar. Secara harfiah yaitu
perantara sumber pesan dengan penerima pesan. Jadi, media bimbingan dan konseling adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan bimbingan dan konseling
yang dapat merangsangkan pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa/konseli untuk
memahami diri, mengarahkan diri, mengambil keputusan serta memecahkan masalah yang
dihadapi.

D. Manfaat Media.
Secara umum media mempunyai kegunaan, diantaranya: 1. Memperjelaskan pesan
agar tidak terlaluverbalistis. 2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga, dan daya indra.
3. Menimbulkan gairah siswa, interaksi lebih langsung antara siswa dengan guru bimbingan
dan konseling (guru BK). 4. Member rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman &
menimbulkan persepsi yang sama. 5. Proses layanan bimbingan dan konseling dapat lebih
menarik. 6. Proses bibmbingan dan konseling menjadi lebih interaktif. 7. Kualitas layanan
bimbingan dan konseling dapat ditingkatkan. 8. Meningkatkan sikap positif peserta didik
terhadap materi layanan bimbingan dan konseling. Jadi, sangat jelas bahwa media sangat
membantu dalam berlangsungnya pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, media
memudahkan pemahaman bagi peserta didik dan dengan media konselor atau guru
pembimbing menjadi sangat terbantu. Salah satunya lebih efektif. Media bimbingan dan
konseling dalam penggunaannya harus relevan dengan tujuan/kompetensi yang ingin dicapai
dan isi layanan bimbingan dan konseling itu sendiri. Media juga untuk meningkatkan kualitas
layanan bimbingan dan konseling, pada umumnya bimbingan dan konseling yang
disampaikan dengan menggunakan media akan tahan lama dalam ingatan para peserta
didik/mengendap.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Bimbingan dan konseling merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seorang guru
bimbingan dan konseling (guru BK)/konselor dalam upaya memandirikan peserta didik atau
klien. Bimbingan dan Konseling yang memandirian mengamanatkan kepada guru
BK/konselor untuk memahami tiap klien ataukonseli secara utuh
Proses bimbingan dan konseling merupakan proses komunikasi, artinya di dalamnya
terjadi proses penyampaian pesan dari seseorang (sumber pesan) kepada seseorang atau
sekelompok orang (penerima pesan). Pesan yang dikirimkan biasanya berupa informasi atau
keterangan dari pengirim (sumber pesan). Pesan tersebut diubah dalam bentuk sandi-sandi
atau lambang-lambang seperti kata-kata, bunyi-bunyi, gambar dan sebagainya. Melalui
saluran (channel) seperti powerpoint, OHP, film, pesan diterima oleh si penerima pesan
melalui indra (mata dan telinga) untuk diolah, sehingga pesan yang disampaikan
olehpenyampai pesan dapat diterima dan dipahami oleh si penerima pesan

B. SARAN-SARAN

Media bimbingan dan konseling bukan berfungsi sebagai alat hiburan, dengan demikian tidak
diperkenankan menggunakannya sekedar untuk permainan atau memancing perhatian
siswa/klien.
Kepada Kepala Sekolah dan Stafnya diharapkan mau memberi kesempatan kepadaGuru
Bimbingan dan Konseling untuk memilih metode-metode dan strategi dalam Layanan
Bimbingan dan Konseling demi efektifitas dan efisien serta optimalisasi Layanan Bimbingan
dan konseling. Pihak sekolah hendaknya dapat memfasilitasi kegiatan ini dengan cara selalu
memberikan dukungan baik moral maupun material. Semua guru yang ada disekolah
hendaknya dapat menyambut positif kegiatan ini dengan tetap memberikan bimbingan
kepada sebaya agar dapat melaksanakan tugas dengan sebaik - baiknya. Kepada siswa - siswi
yang diberikan tugas sebagai pembimbing sebaya hendaknya mampu menjalankan amanah
yang diberikan dengan penuh tanggung jawab. Dan mudah – mudahan Model konseling yang
ada di SMPN 3 palopo ini dapat dijadikan refere nsi atau acuan bagi sekolah –sekolah lainnya
untuk dapat diterapkan di masing - masing sekolah.