Anda di halaman 1dari 11

JURNAL HABITAT

ISSN: 0853-5167 (p); 2338-2007 (e), Volume 27, No. 3, Desember 2016, Hal. 139-149
DOI: 10.21776/ub.habitat.2016.027.3.16

Pola Kemitraan Antara Perum Perhutani Dengan Masyarakat Desa Hutan


(Studi Kasus Program PKPH di Desa Kucur Dau, Kabupaten Malang)

Partnership Pattern between Perum Perhutani and Forest Countryside


Society
(Case Study of PKPH Program in Kucur Village, Dau District, Malang
Regency)
Eko Edi Prastyo1*, Kliwon Hidayat2
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang Jln. Veteran,
Malang, 65145 Indonesia
Diterima: 29 Agustus 2016; Direvisi: 20 Oktober 2016; Disetujui: 25 November 2016
ABSTRAK
Penyesuaian program PHBM menjadi (Pola Kemitraan Pengelolaan Hutan) PKPH yang dilaksanakan di
Desa Kucur dengan 2 jenis kegiatan yaitu kemitraan penggarap lahan “Tetelan” dengan kemitraan
penyadap getah pinus. Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan dan menganalisis pola kemitraan
dan aksesibilitas petani desa hutan dalam kemitraan bagi hasil pada program PKPH di Desa Kucur
Kecamatan Dau Kabupaten Malang, 2) menganalisis tingkat kesesuaian penerapan program PKPH
berdasarkan kelestarian hutan oleh petani masyarakat desa hutan di Desa Kucur, 3) menganalisis
perbedaan tingkat pendapatan dari sistem kemitraan Penggarap lahan ‘Tetelan” dengan sistem kemitraan
Penyadap Getah Pinus dalam program PKPH di Desa Kucur. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 30
petani dan beberapa Informan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis
pendapatan usahatani. Hasil penelitian ini menunjukan program PKPH dijalankan oleh Perum Perhutani
dan masyarakat desa hutan Desa Kucur dengan berlandaskan kesepakatan perjanjian yang isinya
menjelaskan pengelolaan hutan yang lestari dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sedangakan
aksesibilitas untuk masyarakat desa hutan yang ingin ikut PKPH dijalankan secara adil dan terbuka.
Tingkat kesesuaian implementasi program PKPH di Desa Kucur berdasarkan kelestarian hutan pada
kemitraan penggarap lahan “Tetelan” adalah berada pada kategori sedang, sedangkan pada kegiatan
penyadapan pinus berada pada kategori baik. Tingkat pendapatan kegiatan penggarap lahan “Tetelan” per
bulan adalah sebesar Rp442.540, pendapatan ini lebih besar daripada tingkat pendapatan kegiatan
penyadap getah pinus per bulan sebesar Rp245.500.
Kata kunci: pola kemitraan; aksesibilatas; PKPH; tingkat pendapatan petani
ABSTRACT
Adjustment PHBM program to PKPH (Partnership Pattern of Forest Management Program) conducted
in Kucur Village with two types of main activities which were partnership tenant of “Tetelan” land and
partnerships of tappers pine sap. The purposes of this research are 1) describe and analyse partnership
pattern and accessibility farmers of forest village in partnership for outcomes PKPH program in Kucur
Village, Dau District, Malang Regency, 2) analyse suitability level of PKPH application based on forest
sustainability by farmers of village community forest of PKPH in Kucur Village 3 ) analyse the difference
between income share of partnership pattern of “Tetelan” land and tappers pine sap of PKPH in Kucur
Village. Sample of this research are 30 farmers and several informants. Data analysis technique used are
descriptive analysis and income farming analysis. The result of this research showed that PKPH run by
Perum Perhutani with forest countryside society in Kucur Village based on an agreement, which explain
forest management sustainable and increase public welfare. Accessibility for the forest countryside
society that want to join the PKPH undertaken in a fair and open. The category of suitability level of
PKPH implementation in Kucur Village based on forest sustainability in partnership tenant of
“Tetelan“land is medium, while the category of tapping pine activity is good. Level of income share
activities in “Tetelan“land per month is IDR442,540, the income is larger than the level of income
activities of tappers pine sap per month of Rp245.500.
Keywords: partnership pattern; accessibility; PKPH; income level of farmer
http://www.habitat.ub.ac.id, ISSN: 0853-5167 (p); 2338-2007 (e)
Jurnal Habitat, Volume 27, No. 3 Desember 2016 140

1. Pendahuluan Perhutani pada tahun 2001. Pada program PHBM


ini Perum Perhutani memasukan Indek
Hutan adalah salah satu sumber daya alam
Pembangunan Manusia (IPM) sebagai bagian
yang memiliki peran penting bagi kehidupan
dari sasaran aktivitasnya. Sasaran ini dilakukan
manusia baik dari aspek ekonomi, ekologi
dengan ikut menyertakan Masyarakat Desa Hutan
maupun sosial. Menurut Achirrudin (2011)
(MDH) dalam pengelolaan hutan. Tujuanya agar
Indonesia memiliki 120,35 juta hektar sumber
terjadi perubahan mindset masyarakat desa hutan
daya hutan yang kaya akan ragam spesies dan
untuk lebih memahami perlunya menjaga
ragam tipe ekosistem (mega biodeversity). Dari
kelestarian sumber daya hutan. Selain itu
aspek sosial, hutan di Indonesia juga merupakan
diharapkan PHBM juga bisa memberikan efek
rumah serta tempat untuk bersosialisasi antar
yang positif lain bagi Perum Perhutani dan
masyarakat. Menurut data Departemen
masyarakat desa hutan seperti adanya penyerapan
Kehutanan 2006 dalam Ansori 2009, 48.8 juta
tenaga kerja untuk penanaman dan pemeliharaan
jiwa atau 12% dari total penduduk Indonesia
pohon hutan kembali, meningkatnya pengetahuan
tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan.
dan ketrampilan sumber daya manusia serta
Meski demikian berdasarkan data Center for
terjalinya hubungan yang sinergis antara Perum
Economic and Social Studies (CESS) 2005 dalam
Perhutani dan masyarakat desa hutan.
Aji dkk, 2011 mengungkapkan bahwa sekitar
Ada Kebijakan PHBM yang telah
50% dari total 32 juta jiwa penduduk miskin
ditetapkan oleh Perum Perhutani umumnya
Indonesia tinggal di kawasan hutan. Menurut
berlangsung sejak tahun 2001 yaitu setelah
Riyanto (2004) kemiskinan ini terjadi salah
keluarnya surat keputusan direksi Perum
satunya karena masyarakat sekitar hutan hanya
Perhutani. Namun program ini tidak dapat
mendapatkan manfaat minimal dalam kegiatan
dilaksanakan di Kabupaten Malang secara
pengelolaan eksploitasi sumberdaya hayati hutan
langsung. Menurut Kusdamayanti (2008) terjadi
yang kaya oleh pihak swasta maupun badan
konflik kebijakan antara Pemerintah Daerah
negara di daerahnya.
(Pemda) dengan Perum Perhutani. Pemda
Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1967 salah
meminta Perum Perhutani agar program PHBM
satu jenis hutan yang ada adalah hutan produksi,
lebih disesuaikan dan dilakukanya beberapa
yang diperuntukan untuk memproduksi hasil
perubahan. Setelah beberapa tahun, konflik
hutan. Perum Perhutani adalah perusahaan Badan
tersebut pun dapat diselesaikan melalui adanya
Usaha Milik Negara (BUMN) yang diberikan
perundingan. Pada tahun 2004 setelah terjadi
kewenangan oleh negara untuk melakukan
perdebatan panjang disepaktilah pelaksanaan
pengelolaan hutan produksi di Indonesia sejak
Pola Kemitraan Pengelolaan Hutan (PKPH)
tahun 1972. Penguasaan lahan Perum Perhutani
sebagai bentuk baru dari program PHBM di
adalah sebesar 2.446.907,27 ha tersebar di Pulau
Kabupaten Malang.
Jawa dan Madura. Sebagai koreksi, pengelolaan
Desa Kucur adalah salah satu desa hutan
Perum Perhutani masa lalu cenderung timber
yang berada di Kecamatan Dau Kabupaten
oriented, yang mana kurang memperhitungkan
Malang. Desa yang berbatasan dengan lahan
variabel sosial ekonomi dan budaya. Ini
hutan pinus milik Perum Perhutani ini tercatat
kemudian memunculkan disparsitas atau
ikut dalam program PKPH di Kabupaten Malang.
ketidakseimbangan dalam pemanfaatan sumber
Pelaksanaan program ini dilakukan dengan
daya hutan dan meningkatnya konflik
sistem kemitraan bagi hasil antara Perum
pengelolaan dengan masyarakat sekitar hutan.
Perhutani dengan petani hutan. Terdapat dua
Hingga lahirlah paradigma baru pengelolaan
jenis kegiatan kemitraan yaitu kemitraan
sumberdaya hutan yang berbasis pada
penggarap lahan “Tetelan” atau lahan hutan dan
pemberdayaan masyarakat melalui kesadaran
kemitraan penyadap getah pinus milik Perum
berbagi hasil, berbagi peran dan berbagi
Perhutani. Jumlah masyarakat desa hutan yang
tanggung jawab.
menjadi peserta program PKPH cukup banyak
Wujud dari hasil paradigma baru diatas
yaitu sekitar 170 orang. Masing-masing kegiatan
ialah diluncurkanya Program Pengelolaan Hutan
kemitraan ini memiliki aturan yang berbeda dan
Bersama Masyarakat (PHBM) oleh Perum
perlu dilakukan dilihat pelaksanaan apakah telah
------------------------------------------------------------------
mengacu pada tujuan program atau tidak.
*)
Penulis Korespondensi.
E-mail: ekoedip@gmail.com

http://www.habitat.ub.ac.id, ISSN: 0853-5167 (p); 2338-2007 (e)


Jurnal Habitat, Volume 27, No. 3 Desember 2016 141

2. Metode Penelitian a. Biaya usahatani didapatkan menggunakan


persamaan berikut ini :
2.1. Lokasi Penelitian
TC = TFC + TVC ....................................... (1)
Penelitian dilaksanakan di Desa Kucur,
Keterangan :
Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa
TC = Total Biaya Usahatani Lahan “Tetelan”
Timur. Pemilihan lokasi ini didasarkan atas
per Hektar (Rp)
pertimbangan bahwa Desa Kucur merupakan
TFC = Total Biaya Tetap per Hektar Lahan
daerah Desa Hutan yang berkarakter pertanian
“Tetelan” (meliputi iuran wajib,
dan sebagian dari masyarakat mengikuti
penyusutan ajir) (Rp)
kemitraan bagi dengan Perum Perhutani dalam
TVC = Total Biaya Variabel per Hektar Lahan
program PKPH.
“Tetelan” (meliputi biaya penggunaan
2.2. Penentuan Sampel benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja,
Sampel ditentukan dengan Purposive mulsa, dan polybag) (Rp)
Sampling. Metode penentuan sumber data secara b. Penerimaan usahatani didapatkan dengan
sengaja dilakukan untuk menentukan informan menggunakan persamaan berikut ini :
dan sampel. Informan dalam penelitian ini adalah
TR = Q x P ................................................. (2)
pihak-pihak utama dalam kemitraan antara lain
Keterangan :
pihak Perum Perhutani (Mandor, Mantri, Asper,
TR = Total Penerimaan Usahatani Lahan
KPH Malang) dan Ketua LKDPH Wonolestari.
“Tetelan” per Hektar (Rp)
Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah
P = Harga Satuan Produksi (Rp/ Kg)
petani anggota program PKPH yang diambil
Q = Jumlah Produksi per Hektar (Kg)
sebanyak 30 anggota secara purposive.
c. Pendapatan usahatani diperoleh dengan
2.3. Teknik Pengumpulan Data
menggunakan persamaan berikut ini :
Pengumpulan data dilakukan dengan
π = TR – TC ............................................... (3)
wawancara mendalam (In Depth Interview)
Keterangan :
terhadap informan dan wawancara semi
π = Pendapatan Usahatani Lahan “Tetelan”
terstruktur kepada petani sampel. Teknik
per Hektar (Rp)
observasi dan dokumentasi juga dilakukan untuk
TR = Total Penerimaan Usahatani Lahan
melengkapi data.
“Tetelan” per Hektar (Rp)
2.4. Teknik Analisis Data TC = Total Biaya Usahatani Lahan
Analisis data yang dilakukan dalam “Tetelan”per Hektar (Rp)
penelitian ini ada dua jenis yang disesuaikan d. Pendapatan petani penyadap getah pinus
berdasarkan pendekatan penelitian. Pada dihitung melalui perkalian jumlah getah
pendekatan kualitatif menggunakan model pinus (kg) yang mampu dipanen petani
interaktif Miles dan Huberman sedangkan untuk dikalikan dengan harga beli getah pinus
pendekatan kuantitatif menggunakan analisis per kg oleh Perum Perhutani yaitu sebesar
usahatani. Analisis Model Interaktif Miles dan Rp3.000,-.
Humbermman, merupakan metode analisis data
melalui tiga aktivitas analisis yang dilakukan 3. Hasil dan Pembahasan
secara interaktif dan berlangsung secara terus
3.1. Pola Kemitraan
menerus sampai data jenuh atau tidak
didapatkanya lagi data baru dalam penelitian. Kemitraan dalam program Pola Kemitraan
Ketiga aktivitas tersebut adalah reduksi data, Pengelolaan Hutan (PKPH) menurut pengelola
penyajian data dan penarikan kesimpulan dan Perum Perhutani di Kesatuan Pemangkuan Hutan
verifikasi. Sedangkan analisis pendapatan (KPH) Malang secara sah dimulai sejak tahun
usahatani di lahan “Tetelan”, menurut Soekartawi 2004. Namun pelaksanaanya secara real sudah
(1986) merupakan selisih antara penerimaan dimulai sejak tahun 2001 dimana ketika itu sudah
usahatani dengan total biaya usahatani. Adapun dimulainya program Pengelolaan Hutan Bersama
rumusnya sebagai berikut: Masyarakat (PHBM) di seluruh Hutan Jawa dan
Madura. Di Kabupaten Malang terjadi
penyesuaian nama program PHBM menjadi
PKPH serta terdapat penyesuaian penyebutan

http://www.habitat.ub.ac.id, ISSN: 0853-5167 (p); 2338-2007 (e)


Jurnal Habitat, Volume 27, No. 3 Desember 2016 142

Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) penyadap yang nominalnya disesuaikan


menjadi Lembaga Kemitraan Desa Pengelola kemampuan petani dan jumlah luasan lahan
Hutan (LKDPH). “Tetelan”, namun umumnya biaya tersebut
Pihak utama dalam program PKPH adalah sekitar Rp 50.000,-/ 0,25 ha/ tahun.
Perum Perhutani dengan masyarakat desa hutan. Kelestarian hutan adalah fokus tujuan
Pihak Perum Perhutani yang mengurus PKPH di utama dari kemitraan program PKPH selain
Desa Kucur adalah satuan unit kerja di Resort tujuan keuntungan ekonomi dan keadilan sosial.
Pemangkuan Hutan (RPH) Selorejo, Bagian Inilah yang membedakan kemitaan dalam
Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kepanjen program PKPH dengan pola kemitraan yang lain.
di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang. Umumnya kemitraan yang ada hanya
Pada bagian satuan kerja ujung bawah yang memfokuskan pada keuntungan ekonomi saja.
sering berkumunikasi dan bertanggung jawab di Namun apabila dibandingkan dengan kemitraan
lapangan dari pihak Perum Perhutani adalah yang telah di atur di UU No.20 tahun 2008,
Mandor dan Mantri Hutan yang berkantor di kemitraan PKPH sistem penyadap getah pinus
RPH Selorejo Kec. Dau. Sedangkan sebagai hampir memiliki kesamaan dengan pola
wakil dari masyarakat desa hutan di Desa Kucur kemitraan subkontrak yang ditandai dengan
adalah Lembaga Kemitraan Desa Pengelola pembuatan kontrak perjanjian sebelum program
Hutan (LKDPH) Wonolestari. Keberadaan dimulai dan adanya kesamaan ciri adanyaa
lembaga ini merupakan salah satu syarat utama dukungan yang diberikan oleh usaha besar yaitu
suatu desa bisa menjalankan sebuah program kesempatan usaha kecil mengerjakan sebagian
PKPH. Berdasarkan Pedoman PHBM yang produksi maupun komponnenya; kesempatan
dimaksud oleh LKDPH atau LMDH adalah usaha kecil memperoleh bahan baku yang
lembaga masyarakat desa yang berkepentingan diproduksi secara berkesinambungan; memberi
dalam kerjasama pengelolaan sumberdaya hutan bimbingan dan kemampuan teknis usaha;
bersama masyarakat, yang anggotanya berasal perolehan. Sedangkan pada sistem penggarap
dari unsur lembaga desa dan atau unsur lahan “Tetelan” sulit bila disamakan dengan pola
masyarakat yang ada di desa tersebut yang kemitraan yang telah ada karena tidak memiliki
mempunyai kepedulian terhadap sumberdaya kesamaan ciri.
hutan. Masing-masing pihak saling Selain LKDPH Wonolestari, PKPH di
membutuhkan satu sama lain ini sesuai dengan Desa Kucur terdapat kelembagaan non formal
Menurut Puspawati (2004) konsep kemitraan yang berkaitan dengan pengelolaan hutan berupa
idealnya kedua belah pihak yang bermitra harus kelompok tani hutan. Ada tiga kelompok tani
saling membutuhkan dan saling menguntungkan. hutan yaitu Kelompok Tani Hutan Sumberbendo
Kedua pihak utama ini memiliki 1, Kelompok Tani Hutan Sumberbendo 2 dan
wewenang yang sama untuk saling Kelompok Tani Penyadap. Masing-masing
menyampaikan ide-idenya hingga nanti diakhiri lembaga ini memiliki fungsi untuk memudahkan
dengan perjanjian kemitraan. Isi perjanjian komunikasi antar petani dan komunikasi dengan
adalah semua yang menyangkut keseluruhan Perum Perhutani. Meski terdapat kelembagaan
pelaksanaan program PKPH. Pelaksanaan yang jelas namun kegiatan dari masing-masing
program PKPH di Desa Kucur dilakukan dengan lembaga tidak berjalan dengan baik. Tidak
2 kegiatan yaitu penyadapan getah pinus dan adanya kegiatan pertemuan yang jelas, kemudian
penggarapan lahan “Tetelan” (dibawah tegakan). pendataan anggota yang kurang maksimal
Sistem bagi hasil penyadapan getah pinus adalah menjadi indikator ketidak berjalanya lembaga
petani anggota kemitraan melakukan pemanenan tersebut. Lembaga LKDPH Wonolestari dan
getah pinus milik Perum Perhutani kemudian kelompok tani hutan terkesan hanya sebagai
hasil panen akan dibagi hasil kepada petani tempat pengumpulan sumbangan untuk kegiatan
tersebut dan bisa mengikuti kemitraan penggarap operasional penyadap. Hanya kelompok
“Tetelan”. Sedangkan sistem penggarapan lahan kemitraan hutan penyadap yang sering
“Tetelan” adalah petani anggota kemitraan melakukan pertemuan serta memiliki cukup
penggarap lahan “Tetelan” bukan penyadap yang banyak kegiatan yang pasti. Kegiatan tersebut
melakukan penanaman tanaman pertanian di utamanya untuk peningkatan hasil perolehan
bawah pohon utama dengan kewajiban sadapan yang didapat oleh petani penyadap.
membantu menjaga kelestarian pohon utama Kemitraan penyadap lebih diutamakan
serta ikut membantu kegiatan penyadapan getah oleh pihak Perum Perhutani karena dalam
pinus dengan membantu biaya operasional kemitraan tersebut berkaitan dengan bisnis Perum

http://www.habitat.ub.ac.id, ISSN: 0853-5167 (p); 2338-2007 (e)


Jurnal Habitat, Volume 27, No. 3 Desember 2016 143

Perhutani sebagai perusahaan pengolah produk membutuhkan pengkajian yang cukup lama serta
getah pinus. Petani yang ikut kegiatan sadapan tidak bisa dipastikan waktunya, sehingga ketika
berhak atas peralatan sadapan yang berupa banci lahan “Tetelan” awal sudah tidak memungkinkan
(cangkul koakan), talang, sprayer, sarung tangan, ditanami karena kondisi pohon yang rimbun
sepatu boot atau lapang, seragam dan peralatan maka petani tersebut membuka di lahan lain yang
lainya secara gratis. Pada kemitraan penyadap sesuai untuk pertanian meski lahan tersebut tidak
getah, petani juga berhak untuk mendapat luasan dibuka secara resmi oleh Perum Perhutani dan
lahan “Tetelan” yang lebih luas dengan bebas LKDPH. Kondisi inilah yang terjadi di program
dari kewajiban membayar iuran. PKPH Desa Kucur yaitu tidak semua lahan yang
dikelola kemitraan PKPH merupakan lahan
3.2. Aksesibilitas MDH
resmi. Sebelumnya hal ini mendapat larangan
Aksesibilas petani desa hutan merupakan oleh Perum Perhutani karena menyalahi aturan.
peluang bagi petani masyarakat desa hutan untuk Agar dapat memperoleh pendapatan petani
memperoleh kesempatan ikut mengelola hutan masyarakat desa hutan didorong oleh Perum
melalui kemitraan penggarap lahan “Tetelan” dan Perhutani untuk ikut ke kemitraan penyadap
kemitraan penyadap getah pinus. Berdasarkan getah, namun tetap saja sebagian besar
hasil penelitian diketahui jika petani memiliki masyarakat kurang tertarik.
aksesibilitas yang besar artinya tidak sulit untuk Dalam kegiatan usahatani lahan “Tetelan”
bisa ikut dalam kemitraan program PKPH. di lahan yang tidak resmi ini dimaklumi oleh
Program PKPH dijalankan dengan jiwa pihak Perum Perhutani dengan alasan
keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi, kemanusiaan dan agar masyarakat desa hutan
ekologi. Salah satu nilai dalam aspek sosial yang memiliki pandangan yang baik terhadap Perum
dibangun di dalam program ini adalah keadilan. Perhutani sehingga nantinya saling menjaga
Nilai ini dibangun dengan tidak membatasi kepercayaan dan silahturahmi untuk bersama-
siapapun untuk ikut terlibat di dalam pengelolaan sama mengelola hutan. Petani penggarap lahan
hutan. Sejak awal pembukaan pelaksanaan “Tetalan” tersebut akhirnya diizinkan menanam
program PKPH dilakukan secara adil dan hanya dilokasi yang disadap oleh penyadap dan
terbuka, seluruh masyarakat desa hutan tanpa bertanggung jawab menjaga kelestarian pohon
terkecuali bisa ikut serta dalam program pinus tersebut. Petani penggarap “Tetelan” juga
pengelolaan hutan ini. wajib izin terlebih dahulu kepada petani
Program PKPH dulu diawali dengan babat penyadap di lahan yang ditanaminya.
hutan atau pembukaan hutan yang gundul dan Mangacu pada pemilikan aset petani
rusak, kemudian ditanami pepohonan kembali anggota PKPH mitra untuk menegetahui
oleh petani masyarakat desa hutan peserta bagaimana sebaran pemilikan asetnya merata
kemitraan. Pada kegiatan babat hutan inilah yang atau tidak sebagai bentuk indikator keadilan
kemudian menentukan letak serta luasan lahan dalam aksesibilitas bisa dilihat dari Tabel 1. dan
yang dimiliki karena pada saat itu semua peserta 2 berikut ini:
secara bebas berebut lokasi yang paling sesuai.
Tabel 1. Jumlah Petani Mitra Berdasarkan
Menurut Pengelolala Perum Perhutani tidak ada
Pemilikan Luas Rumah di Desa
pembagian secara teratur karena hal tersebut akan
Kucur, 2016
menimbulkan kecemburuan sehingga pada saat
itu bagi petani yang datang lebih awal serta No. Golongan Luas Jumlah Persentase
memiliki kekuatan membabat lebih luas maka Rumah (𝒎𝟐 ) (Orang) (%)
petani tersebut akan mendapat luasan yang 1 < 51 8 27,0
diinginkanya. 2 51-75 13 43,0
Dengan petani ikut mengelola hutan 3 76-100 6 20,0
dengan menanam pepohonan petani tersebut juga 4 101-125 0 0,0
diizinkan menanam tanaman pertanian sebagai di 5 >125 3 10,0
sela-sela pohon tersebut. Setelah pohon itu besar Total 30 100,0
dan rimbun yaitu sekitar umur 6 tahun, maka
petani tidak bisa mengusahakan tanaman Menurut penyajian Tabel 1. dapat
pertanian lagi. Sehingga untuk mendapatkan diketahui bahwa pemilikan rumah petani mitra
lahan “Tetelan” petani harus pindah ke tempat cukup merata yaitu terdapat ukuran rumah yang
yang lebih memungkinkan dengan cara membuka kurang dari 51 𝑚2 , dengan persentase 27%
lahan hutan kembali. Namun untuk pindah lokasi kemudian pada ukuran 51-75 𝑚2 sebesar 43%.

http://www.habitat.ub.ac.id, ISSN: 0853-5167 (p); 2338-2007 (e)


Jurnal Habitat, Volume 27, No. 3 Desember 2016 144

Pada kelompok selanjutnya ukuran rumah 76- kekayaan seorang petani, menunjukkan kekayaan
100 𝑚2 sebesar 20%, pada kelompok 101-125 petani anggota kemitraan cukup kecil yaitu
𝑚2 tidak ada dan kelompok terakhir, yang dengan pemilikan rumah yang sederhana dan luas
memiliki rumah berukuran lebih dari 125 𝑚2 lahan yang dimiliki semua dibawah 0,75 ha.
sebesar 10%. Meskipun dalam aksesibilitas tidak ada
Berdasarkan kondisi bangunan rumah, dari pembatasan terhadap siapapun, petani kaya atau
30 petani mitra yang diambil 6 petani memiliki petani miskin tetap saja sebagian besar anggota
kondisi bangunan yang semi permanen. Kondisi petani yang ikut kemitraan PKPH adalah petani
semi permanen tersebut dilihat dari kondisi yang termasuk kategori miskin yang memiliki
tembok yang belum terbuat dari batu bata atau lahan milik kurang dari 1 ha.
masih menggunakan anyaman bambu. Selain itu Peneliti juga memperoleh data dari
kondisi alas rumah masih belum dipondasi atau beberapa petani non kemitraan baik penyadap
masih tanah saja. Kemudian 24 diantaranya maupun penggaraap lahan “Tetelan”. Informasi
sudah memiliki kondisi yang baik: tersebut menegaskan jika semua anggota
masyarakat boleh ikut dalam kemitraan PKPH
Tabel 2. Jumlah Petani Mitra Berdasarkan atau terlibat dalam pengelolaan hutan. Alasan
Pemilikan Luas Lahan Milik di mengapa mereka tidak ikut serta adalah sudah
Desa Kucur, 2016 memiliki lahan yang cukup sehingga tidak
No. Luas Lahan Jumlah Persentase memiliki waktu dan tenaga untuk bisa
Milik (ha) (Orang) (%) amengelola lahan di hutan. Selain itu ada juga
1. 0 3 10 yang berhenti mengerjakan lahan hutan karena
2. 0,1-0,25 16 53 usia sudah tua, dan tidak sanggup untuk bekerja
3. 0,26-0,5 7 23 di lahan yang jauh. Karena umumnya jarak antara
4. 0,51-0,75 4 14 pemukiman petani dengan lokasi hutan sekitar
5. > 0,75 0 0 1,5 km dengan jalan yang cukup curam.
Total 30 100,0 3.3. Kesesuaian Implementasi Program
Berdasarkan Tabel 2. dapat diketahui PHBM Berdasarkan Kelestarian Hutan
bahwa sebagian besar petani mitra memiliki luas a. Sistem Penggarap Lahan “Tetelan”
lahan milik pribadi sebesar 0,1-0,25 ha yaitu
53%. Golongan selanjutnya terdapat 23% yang Setidaknya dalam kemitraan penggarap
memiliki lahan milik sebesar 0,26-0,5 ha. Bahkan “Tetelan” terdapat 8 indikator yang digunakan
ada juga yang tidak memiliki lahan milik sama oleh peneliti untuk mengukur bagaimana tingkat
sekali, ini terjadi di 3 responden. Petani mitra kesesuaian program PKPH dalam mencapai
lainya yang memiliki lahan milik antara 0,51- tujuan kelestarian hutan. Adapun dibawah ini
0,75 ha ada 23% dan yang memiliki lahan diatas Tabel 3. akan menunjukkan hasil pengolahan
0,75 ha tidak ada. data tentang kesesuaian implementasi program
Selain pemilikan rumah dan lahan milik PKPH berdasarkan kelestarian hutan di Desa
sendiri untuk aset lain seperti ternak tidak Kucur:
dimiliki oleh semua petani mitra. Aset jenis 1) Indikator Jumlah Pohon Pinus yang Hidup
ternak ini lebih digunakan sebagai sebuah Dari Tabel 3. diketahui berdasarkan dari
tabungan atau bentuk infestasi oleh responden indikator jumlah pohon yang hidup dalam
untuk berjaga-jaga diwaktu paceklik atau kemitraan PKPH adalah kategori tinggi dimana
antisipasi kebutuhan mendesak diwaktu memiliki persentase terhadap skor maksimal
mendatang. Aset penting lain seprti motor hampir adalah 90%. Skor tinggi ini tidak bisa sempurna
dimiliki oleh seluruh reesponden yang ada, hanya 100% bukan karena ada pencurian atau
2 responden yang tidak memiliki motor. penjarahan oleh masyarakat desa hutan
Umumnya motor ini diguakan sebagai alat melainkan beberapa pohon mati karena
transportasi responden untuk ke lahan dan kebakaran dan terkena bencana angin.
bepergian sehari-hari. Berdasarkan pencocokan keterangan dari pihak
Bisa disimpulkan bahwa berdasarkan Perum Perhutani dengan masyarakat memang
pemilikan aset yang ada, responden dalam saat ini sudah tidak ada praktek pencurian hutan
penelitian ini memiliki karakter yang cukup mengingat sanksinya cukup berat.
sama. Berdasarkan pemilikan rumah dan lahan
milik yang dapat menjadi sebuah ukuran

http://www.habitat.ub.ac.id, ISSN: 0853-5167 (p); 2338-2007 (e)


Jurnal Habitat, Volume 27, No. 3 Desember 2016 145

Tabel 3. Indikator Kesesuaian Pelaksanaan Program PKPH di Lahan “Tetelan” di Desa Kucur Tahun
2015/2016
No. Indikator Perolehan Rata-Rata Skor Persentase Ketegori
Total Skor (%)
1. Jumlah Pohon 82 2,7 90 Tinggi
2. Kondisi Kanopi 79 2,6 87 Tinggi
3. Jarak Tanam 87 2,9 97 Tinggi
4. Tanaman Petani 38 1,3 43 Rendah
5. Intesitas Penyiangan 47 1,6 53 Sedang
6. Intensitas Pemupukan 41 1,4 47 Rendah
7. Pengolahan Lahan 42 1,4 47 Rendah
8. Kesediaan Tanam Kopi 60 2,0 67 Sedang
Total 476 15,9 - Sedang

2) Indikator Kondisi Kanopi Pohon Pinus persentase terhadap skor maksimal sebesar 43%
karena di Rempes/Tidak saja. Masyarakat desa hutan yang ada di Desa
Dari penyajian Tabel 3. diketahui Kucur memiliki pengalaman menanam
berdasarkan kondisi kanopi pohon pinus karena komoditas hortikultur secara terus menerus. Hal
kegiatan perempesan masih menunjukkan bahwa yang kurang sesuai ini beberapa kali dicoba
dalam kondisi kategori tinggi yakni memiliki diubah oleh Perum Perhutani dengan mengajak
persentase terhadap skor maksimal sebesar 87%. menanam komoditas yang lebih ramah
Dengan demikian meskipun terdapat kegiatan lingkungan yaitu jenis tanaman obat-obatan atau
perempesan pohon pinus, kondisi pohon masih empon-empon dan kopi.
tergolong baik karena kondisi kanopi pinus lebih
5) Indikator Intensitas Penyiangan di Lahan
dari 60%.
“Tetelan”
3) Indikator Jarak Tanam Tanaman Pertanian Menurut mantri hutan sewajarnya kegiatan
dengan Pohon Pinus penyiangan yang pas adalah sekali dalam sebulan
Jarak tanam yang sudah diatur oleh Perum dengan tanpa pemberian obat kimia herbisida.
Perhutani untuk dipakai dalam penanaman Diketahui bahwa berdasarkan indikator kelima
tanaman pertanian dari pohon pinus adalah kesesuaian kelestarian masuk dalam kategori
minimal 1 m. Meski demikian tidak semua petani sedang dengan nilai persentase terhadap skor
mitra mentaatinya. Ini disebabkan oleh keinginan maksimal sebesar 53%. Nilai tersebut diketahui
petani untuk mendapatkan hasil yang lebih besar melalui rata-rata skor yang dicapai dlapang hanya
dengan pengoptimalkan lahan hingga 1,6. Dengan demikian praktek penyiangan yang
menyampingkan risiko rusaknya akar karena dilakukan oleh petani anggota kemitraan
terkena cangkul petani yang menanam tanamaan “Tetelan” perlu dikurangi. Umumnya intensitas
terlalu dekat pohon pinus. Berdasarkan tabel 3. penyiangan yang dilakukan oleh petani mitra
menunjukkan bahwa berdasarkan indikator adalah 2x dalam sebulan.
pemakaian jarak tanam antara tanaman pertanian
6) Indikator Intensitas Pemupukan
dengan pohon pinus dalam katogori tinggi atau
Mengacu pada Tabel 3. dapat diketahui
sesuai dengan persentase yang mendekati
bahwa berdasarkan intensitas pemberian pupuk
sempurna yaitu 97%. Dengan hasil diatas
menunjukkan hasil kesesuaian kelestarian hutan
menunjukkan bahwa meskipun ada beberapa
kurang sesuai karena berada dalam kategori
petani melanggar namun persentasenya kecil.
rendah. Dengan nilai persentase terhadap skor
4) Indikator Jenis Tanaman yang Saat ini maksimal hanya 47% yang memiliki rata-rata
Dibudidayakan skor dilapang sebesar 1,4. Dalam praktek lapang
Berdasarkan Tabel 3. maka dapat diketahui biasanya pemupukan yang dilakukan oleh petani
bahwa hasil dari pengukuran indikator keempat adalah 2 kali dalam sebulan bahkan pada
yaitu dari jenis tanaman yang dibudidayakan di komoditas cabai keriting bisa satu bulan 4x.
lahan “Tetelan” termasuk dalam kategori rendah Kebiasaan kurang baik masyarakat Desa
atau kurang sesuai. Dari skor yang dapat Kucur yang mengerjakan lahan “Tetelan” adalah
diperoleh sebesaar 3, rata-rata skor yang dapat memberi pupuk organik berupa kotoran ayam
dicapai oleh petani mitra hanya 1,3 atau memiliki disetiap awal musim tanam. Setelah pemberian

http://www.habitat.ub.ac.id, ISSN: 0853-5167 (p); 2338-2007 (e)


Jurnal Habitat, Volume 27, No. 3 Desember 2016 146

pupuk organik tersebut setelah terdapat tanaman sebesar 15.86 berada pada daerah sedang yang
pun juga masih diberi pupuk kimia. Pemberian dimulai oleh nilai 13,34 hingga 18,66.
pupuk ini juga menjadi koreksi dari Perum Meskipun dari hasil skoring menunjukkan
Perhutani, karena dengan pemberian pupuk kesesuaian implementasi berdasarkan kelestarian
tersebut membuat daun pohon pinus menguning. hutan berada di kategori sedang namun secara
keseluruhan semua petani memiliki persepsi yang
7) Indikator Intensitas Pengolahan Lahan
baik terhadap seluruh kebijakan Perum Perhutani.
Menurut mantri hutan dalam sekali musim
Semua petani mitra menyadari bahwa kelestarian
pengolahan yang memperhatiakan kelestarian
hutan sangat penting bagi kelangsungan hidup
yang hanya dilakukan 1 pengolahan saja.
mereka dan mereka merasa perlu untuk terus
Berdasarkan Tabel 3. dapat diketahui
menjaga kelestarian hutan. Selain itu semua
berdasarkan indikator intensitas pengolahan
responden juga mengakui beberapa praktik-
lahan, program PKPH belum sesuai karena hasil
praktik kurang baik yang menjadi penghambat
yang diperoleh berada dalam kategori rendah.
kelestarian hutan masih dilakukan oleh petani
Dengan persentase terhadap skor maksimal hanya
responden itu sendiri. Alasan yang digunakan
47% yang mana nilai rata-rata skor yang dicapai
oleh hampir semua responden untuk tetap
sebesar 1,4 saja.
menganggap wajar praktik kurang baik tersebut
Pengolahan yang dilakukan dalam 1 tahun
adalah tuntutan kondisi serta melihat praktik
oleh masyarakat Desa Kucur umumnya sebanyak
yang sama oleh teman/tetangganya.
3x. Pengolahan pertama biasanya diawal tanam
ditanami oleh tanaman bunga kol, dan bawang b. Kemitraan Penyadap Getah Pinus
merah. Setelah tanaman pertama mulai tumbuh
Pelaksanaan kemitraan penyadap getah
kemudian lahan tersebut ditanami oleh tanaman
pinus termasuk dalam kategori yang baik.
cabai, terong, kacang dan jenis tanaman lain.
Kegiatan dalam penyadapan tidak terlalu
Setelah tanaman pertama panen kemudian sisa
mengandung resiko kerusakan hutan selain itu
panen dibersihkan dengan tujuan tidak
setiap penyadap juga telah memahami bagaimana
mengganggu tanaman yang lainya yang masih
menyadap yang baik agar pohon pinus bisa tetap
hidup. Lalu setelah tanaman cabai, terong dan
lestari. Pelaksanaan penyadapan oleh petani
tanaman lainya mulai panen, petani akan
penyadap sudah sesuai aturan dasar utamanya
menanami tanaman jagung dibawahnya.
dalam tetap menjaga kesehatan pohon pinus
8) Kesediaan Mengganti Komoditas Horti meskipun ada beberapa cara tidak mengikuti
menjadi Kopi ketentuan dari mantri hutan. Masing-masing
Tanaman kopi menurut mantri hutan alasan tersebut tidak terlalu berpengaruh pada
dianggap lebih sesuai ditanam di lahan “Tetelan” keletarian hutan utamaanyaa pohon pinus karena
karena tanaman kopi bisa mengurangi intensitas masing-masing pihak telah menganggap
pengolahan tanah, pemupukan dan intesitas kelestariaan pohon begitu penting.
penyiangan. Dengan melihat Tabel 3. dapat
3.4. Analisis Pendapatan Petani dalam
diketahui indikator kesedian berganti komoditas
Kemitraan PKPH
kopi menunjukkan hasil yang termasuk dalam
kategori sedang. Dengan nilai presentase a. Analisis Pendapatan Usahatani dalam
terhadap skor maksimal sebesar 63% atau Kemitraan Penggarap Lahan “Tetelan”
memiliki rata-rata skor yang dicapai dilapang Pada kemitraan penggarap lahan “Tetelan”
sebesar 1,9. Saat ini yang telah berganti umumnya petani anggota menanam tanaman
komoditas kopi cukup banyak, dan sepertinya hortikultura yang memakai sistem tumpang sari.
akan terus bertambah karena salah satu anggota Kombinasi dalam memilih tanaman yang
telah berhasil menanam kopi dengan hasil yang dibudidayakan setiap petani sangat beragam dan
cukup memuaskan. sulit dikategorikan. Meskipun kombinasinya sulit
Secara keseluruhan untuk menilai dikelompokan namun dari 30 petani responden
pelaksanaan program PKPH secara penuh yang peniliti ambil terdapat 11 tanaman yang
berdasrkan seluruh indikator secara bersama- dibudidayakan di lahan “Tetelan” selama satu
sama hasilnya adalah tergolong sedang. Dimana musim tanam. Adapun komoditas yang
dari hasil skor yang diperoleh dari semua dibudidayakan oleh petani adalah: Jagung, Cabai
indikator memiliki jumlah 472 dengan Keriting, Jahe, Kopi, Buncis, Kacang Tanah,
keseluruhan responden adalah 30. Dengan
demikian rata-rata skor tiap responden adalah

http://www.habitat.ub.ac.id, ISSN: 0853-5167 (p); 2338-2007 (e)


Jurnal Habitat, Volume 27, No. 3 Desember 2016 147

Terong, Bunga Kol, Bawang Merah, dan Cabai hektar lahan “Tetelan”yang diusahakan pada
Besar. musim tanam 2015/ 2016.
Umumnya petani dalam satu kali musim
2) Penerimaan usahatani lahan “Tetelan”
tanam di lahan “Tetelan” dimulai pada Bulan
Berikut hasil penerimaan tersebut akan
Desember hingga Bulan Agustus (8 bulan) dan
ditunjukan oleh Tabel 20. tentang rata-rata
memiliki kombinasi dua hingga tujuh tanaman.
penerimaan setiap komoditas/ha setiap petani
Dalam aplikasinya ada yang ditanam secara
mitra:
langsung juga ada yang diatur secara petak-petak
kecil monokultur. Setiap petani memiliki alasan Tabel 6. Penerimaan Usahatani Setiap
pribadi dalam memilih kombinasi tersebut namun Komoditas per Ha per Petani Mitra
sebagian besar alasanya adalah kebiasaan Penggarap Lahan “Tetelan” di
tahunan dan ikut-ikut tetangga atau petani lain. Desa Kucur, 2015/2016
Setiap tahun umumnya petani memilih tanaman
No. Komoditas Jumlah/ha (Rp)
yang sama untuk dibudidayakan. Selain itu
1. Cabai Besar 2.017.586
beberapa petani mitra juga menyampaikan bahwa
2. Cabai Keriting 9.047.133
jika tanaman yang ditanam oleh semua petani
3. Cabai Rawit 4.122.633
sama maka menunjukkan kerukunan warga desa.
4. Jagung 1.730.222
1) Biaya Usahatani lahan “Tetelan” 5. Terong 926.075
Biaya usahatani lahan “Tetelan” terdiri 6. Jahe 5.698.700
dari biaya tetap dan biaya variabel. Adapun 7. Bunga Kol 78.333
dibawah ini, akan ditunjukan oleh Tabel 5. 8. Kacang Tanah 1.073.100
tentang rata-rata total biaya usahati di lahan 9. Bawang Merah 858.966
“Tetelan” : 10. Buncis 626.600
11. Kopi 286.400
Tabel 5. Biaya Usahatani di lahan “Tetelan” Per
Hektar di Desa Kucur Tahun 2015/ Total 26.369.864
2016 Besar kecilnya penerimaan yang diperoleh
Uraian Rata-Rata Persentase masing-masing petani mitra tergantung dari
Biaya (Rp) (%) kombinasi yang telah mereka pilih. Berdasarkan
tabel 20. dapat diketahui bahwa rata-rata setiap
Biaya Tetap :
petani memperoleh penerimaan dari kombinasi
- Penyusutan 1.713.333 14,0 komoditas yang mereka usahakan dalam 1 musim
Ajir tanam adalah sebesar Rp26.396.864,00. Dari
- Pajak Lahan 103.056 0,8 hasil analisis data yang dapat dilihat di bagian
Sub Total 1.816.389 14,8 lampiran, ditunjukan bahwa dari 30 petani mitra
- Benih 2.477.511 20,5 memiliki penerimaan yang cukup rata. Terdapat
- Pupuk 3.760.917 30,9 nilai penerimaan minimal sebesar Rp0,- yang
- Pestisida 1.517.600 12,6 dialami oleh 1 petani mitra karena komoditas
- Tenaga Kerja 2.465.917 20,3 kopi yang petani tersebut budidayakan belum
- Polybag 100.423 0,9 panen. Namun 29 petani mitra yang lain memiliki
Sub Total 10.322.368 85,2 nilai penerimaan antara Rp12.686.000,00 hingga
Total 12.208.757 100 Rp40.814.000,00.
Khusus pada komoditas kopi yang
Pada Tabel 5. menunjukkan bahwa biaya merupakan tanaman baru bagi petani mitra,
yang paling besar untuk usahatani di lahan ternyata dianggap cukup memiliki hasil yang
“Tetelan” adalah biaya pupuk yang mencapai cukup tinggi oleh petani mitra. Dari seluruh
30,9% dari jumlah total biaya usahatani. Biaya petani penggarap lahan “Tetelan” yang sudah
yang juga besar dikeluarkan oleh petani menanam komoditas kopi hanya ada satu petani
penggarap lahan “Tetelan” adalah biaya untuk saja yang sudah panen dan merupakan panen
beih dan tenaga kerja. Biaya benih mencapai pertama kali. Dari hasil produksi panen dan harga
20,5% dan biaya tenaga kerja mencapai 20,3%. pertama tersebut, dianggap menguntungkan oleh
Pupuk yang digunakan oleh petani lahan petani mitra yang lain. Setelah melihat hasil
“Tetelan” adalah pupuk anorganik dan organik. produksi kopi dan harganya cukup tinggi banyak
Rata-rata petani mitra mengeluarkan biaya anggota lain yang sebelumnya tidak berniat
usahatani sebanyak Rp12.208.757,- untuk satu

http://www.habitat.ub.ac.id, ISSN: 0853-5167 (p); 2338-2007 (e)


Jurnal Habitat, Volume 27, No. 3 Desember 2016 148

menanam kopi akhirnya ikut tertarik menanam Namun peneliti menemukan fakta bahwa
kopi. sebenarnya apabila petani penyadap getah pinus
bisa bekerja rutin bisa mendapat pendapatan yang
3) Pendapatan Usahatani di Lahan “Tetelan”
besar. Seperti yang dilakukan oleh penyadap di
Adapun di bawah ini pada Tabel 7. akan
Desa Selorejo yang mampu memperoleh
ditunjukan bagaimana rata-rata pendapatan dari
pendapatan sebesar Rp3.000.000,- setiap bulan.
11 komoditas yang di masing-masing telah
Fakta tersebut sebenarnya juga sudah diketahui
dikombinasikan oleh petani mitra yang ada di
oleh penyadap Desa Kucur tetapi mereka tetap
lahan “Tetelan”:
tidak tertarik dengan kegiatan penyadapan.
Tabel 7. Pendapatan Usahatani per Ha per Petani Alasan utama yang mendasari hal tersebut adalah
mitra di Lahan “Tetelan” di Desa kepuasan hati dari masing-masing petani mitra.
Kucur, 2016 Semua petani mitra merasa lebih puas jika
memiliki tanaman atau bila bercocok tanam
No. Uraian Jumlah/ha
meski mereka juga memahami bahwa dalam
(Rp)
kegiatan usahatani di lahan “Tetelan” lebih
1. Total Biaya 12.208.757
memiliki risiko kerugian yang lebih besar
2. Biaya Tetap 1.816.389
dibanding dengan mengikuti kegiatan
3. Biaya Variabel 10.322.368
penyadapan. Petani mitra menganggap bahwa
4. Penerimaan 26.369.864
pekerjaan utama mereka adalah petani yang
5. Pendapatan 14.161.137
becocok tanam, sedangkan kegiatan penyadapan
Berdasarkan Tabel 7. dapat diketahui adalah kegiatan tambahan untuk menambah
bahwa total pendapatan petani mitra per hektar pemasukan terutama pada saat lahan pertanian
sebesar Rp14.161.137,00. Hasil pendapatan mereka tidak memungkinkan untuk bercocok
sebesar ini didapat oleh petani mitra dalam sekali tanam.
musin tanam selama 8 bulan yaitu dimulai pada
4. Kesimpulan
Bulan Desember hingga Bulan Juli. Maka jika
dihitung rata-rata pendapatan petani mitra per ha Kemitraan dalam program Pola Kemitraan
dalam satu bulan adalah adalah sebesar Pengelola Hutan (PKPH) dijalankan oleh Perum
Rp1.770.158,00. Dengan rata-rata petani hutan Perhutani dan masyarakat desa hutan Desa Kucur
memiliki lahan ¼ ha, maka dapat diketahui juga dengan berlandaskan kesepakatan perjanjian
setiap petani mitra penggarap lahan tetalan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Isi
tersebut memperoleh pendapatan sebesar perjanjian tersebut adalah wujud dari pengelolaan
Rp442.539,00. Pendapatan tersebut oleh petani hutan yang berprinsip pada kelestarian hutan dan
mitra dianggap kecil, karena pada musim-musim peningkatan kesejahteraan masyarakat desa
sebelumnya mereka mampu memperoleh hutan. Dalam pelaksanaan di lapang, berdasarkan
pendapatan yang lebih besar. aksesibilitas masyarakat desa hutan untuk ikut
dalam pengelolaan hutan dilaksanakan secara adil
b. Analisis Pendapatan Penyadap Getah Pinus
dan terbuka.
Hasil sadapan rata-rata tiap petani Tingkat kesesuaian implementasi program
penyadap 660 kg ini didapatkan penyadap selama PKPH di Desa Kucur berdasarkan kelestarian
8 bulan atau 16 kali periode penimbangan. Jika hutan pada kemitraan penggarap lahan “Tetelan”
rata-rata tersebut dibagi menjadi 16 kali periode adalah berada pada kategori sedang yaitu dengan
dapat diketahui jika setiap periode penyadap skor 15,86. Dengan masing-masing nilai
hanya mampu menghasilkan 41,25 kg dengan indikator kesesuaian sebagai berikut: indikator
nilai Rp123.750,00 jika diungkan setiap 15 hari jumlah pinus yang hidup sebesar kategori tinggi,
sekali atau pendapatan dalam sebulan sebesar indikator kondisi kanopi yang disebabkan
Rp247.500,00. Pendapatan per bulan dari perempesan kategori tinggi, indikator jenis
kemitraan ini lebih kecil jika dibandingkan tanman pertanian kategori rendah, indikator jarak
dengan pendapatan kemitraan penggarap tanam kategori tinggi, indikator penyiangan
“Tetelan” yang mencapai Rp442.540,00 tiap kategori sedang, indikator pengolahan lahan
bulan. Pendapatan dari kedua kemitraan tersebut lahan kategori rendah, indikator pemupukan
cukup jauh. Dimana nilai pendapatan penggarap kategori rendah dan indikator menanam kopi
lahan “Tetelan” hampir 2x lipat dari nilai katagori sedang. Sedangkan pada kemitraan
pendapatan penyadap lahan “Tetelan”. penyadap pelaksanaanya cukup baik, semua
anggota penyadap telah memahami dan

http://www.habitat.ub.ac.id, ISSN: 0853-5167 (p); 2338-2007 (e)


Jurnal Habitat, Volume 27, No. 3 Desember 2016 149

menerapkan bagaimana cara menyadap yang baik Perum Perhutani, 2009. Pedoman Pengelolaan
agar pohon pinus tetap lestari. Hutan Bersama Masyarakat (PHBM);
Terdapat perbedaan hasil pendapatan dari Jakarta.
kedua jenis kemitraan yang diikuti oleh petani
Puspawati. 2004. Analisis Kemitraan antara PT.
dalam program PKPH di Desa Kucur. Hasil
Petani (Persero) dengan Petani Penangkar
analisis pendapatan usahatani dalam kemitraan
Benih Padi di Kabupaten Karawang. Tesis
lahan “Tetelan” per petani per ha adalah sebesar
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rp14.161.137,00 selama 8 bulan atau dengan
pendapatan per bulan per ¼ ha sebesar Soekartawi. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian
Rp442.540,00. Sedangkan pada analisis untuk Pengembangan Petani Kecil. UI-
pendapatan kemitraan penyadap getah pinus Press: Jakarta.
selama 8 bulan adalah sebesar Rp1.980.000,00 Undang-Undang No. 5 Tahun 1967 Ketentuan
atau setiap bulan per penyadap mendapat Pokok Kehutanan.
pendapatan sebesar Rp245.500,00. Perbedaan
pendapatan antara kedua kemitraan ini cukup Undang-Undang No. 20 Tahun 2008. Tentang
jauh yaitu memiliki jarak 2x lipat. Hal ini Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.
disebabkan oleh petani penyadap memang lebih
fokus pada kegiatan kemitraan usahatani di lahan
“Tetelan”.

Daftar Pustaka
Achirrudin, D. R. 2011. Implementasi Kebijakan
Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat
(PHBM) Perum Perhutani Bagian
Kestauan Pemangkuan Hutan Temanggung
dalam Rangka Pelestarian Hutan Lindung
di Gunung Sumbing-Sindoro [Tesis].
Fakultas Hukum. Universitas Sebelas
Maret.
Aji, G. B., Suryanto, J., Yulianti, R., Wirati, A.,
Abdurrahim, A. Y., Miranda, T. I. 2011.
Strategi Penguraangan Kemiskinan di
Desa-Desa Sekitar Hutan. Pusat Penelitian
Kependudukan Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
Ansori, M., Soetarto, E.,Darusman, D.,
Sundawati, L.,2009. Pengelolaan Hutan
Kemitraan untuk Menyejahterakan
Rakyat(Kasus PHBM di Perhutani BKPH
Parung Panjang, KPH Bogor). Fakultas
Ekologi Pertanian dan Fakultas Kehutanan.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Kusdamayanti. 2008. Peran Masyarakat dalam
Penyusunan Kebijakan Pola Kemitraan
Pengelolaan Hutan di Kabupaten Malang.
Jurnal Peenelitian Sosisal Ekonomi
Kehutanan Vol. 5 No. 2 Juni 2008, Hal.
111-124.
Miles, B. Mathew dan A Michael Huberman.
1992. Analisis Data Kualitatif. Universitas
Indonesia Press: Jakarta.

http://www.habitat.ub.ac.id, ISSN: 0853-5167 (p); 2338-2007 (e)