Anda di halaman 1dari 18

PSIKOLOGI KOMUNITAS

Dosen Pengampuh : Ronald Pasaribu, M.Psi.

Disusun Oleh :
Kelompok 6
Agita Pane (18900060)
Engel Lumban Tobing (18900070)
Nadya Siahaan (18900079)
Merry Sitompul (18900083)
Philip Karokaro (18900089)
Daniel Nadapdap (18900091)
Rosa Uli Lumban Tobing (18900101)
Selvia Hutahaean (!8900102)

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN
MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami ucapkan atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah dan
berkatnya untuk dapat mengerjakan & menyelesaikan tugas makalah ini yang menyangkut
tentang PSIKOLOGI KOMUNITAS

Demikian juga kami mengucapakn Terima kasih kepada Dosen pengampuh Mata kuliah
kelas & kelompok kami yang telah menginstruksikan kami untuk mengerjakan tugas kelompok
persentasi ini.

Kelompok kami menyadari tugas kelompok kami ini belum sepenuhnya sempurna, Kami
mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak manapun untuk penyempurnaan tugas
kelompok persentasi dalam makalah ini. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih dan semoga
tugas makalah ini bermanfaaat bagi pihak manapun yang memerlukan.

Medan, 6 Desember 2019

Kelompok 6
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Psikologi komunitas didasarkan pada kepedulian terhadap hubungan antara sistem sosial
dan serta kesejahteraan individu dalam konteks komunitas. Para psikolog komunitas berkutat
dengan serangkaian masalah kesehatan mental dan sosial melalui riset dan intervensi pada
bidang publik dan pribadi pada lingkungan komunitas. Seorang psikolog komunitas mungkin
akan menemukan dirinya melakukan banyak peranan dalam rentang latar belakang yang luas dan
area yang substantif. Mereka mencoba mencegah masalah bahkan sebelum dimulai, berfokus
pada masalah secara simultan, peduli pada isu peraturan sosial dan kontrol, dengan
meningkatkan karakteristik positif dan kemampuan untuk mengatasi grup sosial minoritas, anak
– anak, dan kalangan lanjut usia.
Karena itulah perubahan sosial dalam psikologi komunitas sangat berhubungan dengan
erat.  Orang – orang terlibat dan berpartisipasi dalam perubahan sosial lebih dari sebelumnya
pada masa sekarang ini. Kedua kekuatan elite dan psikolog komunitas memiliki peran yang
melibatkan perubahan struktur sosial dalam komunitas dan grup. Psikolog komunitas bisa
beroperasi sebagai agen perubahan sosial yang efektif, namun mereka harus lebih waspada,
memiliki kemampuan dan mampu menanggung kemungkinan efek dari perancangan sosial yang
dibuat oleh pihak yang terancam oleh perubahan.
BAB 2
PEMBAHASAN

Mengenai Psikologi Komunitas

A. Latar Belakang

Pada decade 1970 an,pendapatan kebanyakan penduduk Indonesia masih berada dibawah
rata-rata Pendapatan Nasional Bruto (Gross National Product),sehingga Indonesia tergolong
sebagai Negara miskin.Isu kemiskinan banyak dibahas oleh pakar dari berbagai disiplin
ilmu.Mereka memperinci batasan kemiskinan menggunakan besaran penghasilan penduduk
maupun dari asupan kalori yang dikonsumsi pendudukMereka menyatakan ada hubungan antara
masalah social dengan kemiskinan disuatu wilayaah,sebagau contoh dibidang pendidikan dan
kesehatan penduduk.
Pemerintah giat membangun pusat pelayanan kesehatan masyarakat (puskesmas)di
berbagai wilayah.Disamping memberikan pelayanan kesehatan puskesmas juga menyediakan
pelayanann pendidikan berupa penyuluhan masyarakat misalnya peyelenggaraan pelayanan
Keluarga Berencana (KB),penyuluhan gizi keluarga,dan pelayanan kesehatan terpandu untuk ibu
dan anak.Pusat pelayanan tersebut membutuhkan banyak tenaga professional perlu
dikembangkan.
Universitas Indonesia( UI) pada masa itu mnyelenggarakan program pelayanan yang
bersifat multidisiplin mencakup berbagai kegiatan (pilot project) yang diarahkan kewilayah
pedesaan yaitu di Serpong.Selanjutnya,penyelenggaraan program dikelola oleh Lembaga
Pengabdian Masyarakat (LPM) UI.Puskesmas yang berlokasi di Serpong dijadikan sebagai pusat
kegiatan pelayanan bagi masyrakatperdesaan disana.Berbagai studi dilakukan dalam usaha
memahami kehidupan komunitas diperdesaan tersebut,guna memberi pelyanan khususnya
kepada penduudk dengan kondisi social ekonomi rendah.
Fakultas Psikologi terlibat aktif melakukan penelitian bersama dengan berbagai disiplin
ilmu lain yang ada di UI,seperti kedokteran,kesehatan masyrakat,teknik,matematika,ilmu
pengetahuan,politik dan sastra.Mahasiswa Psikologi diterjunkan langsung kelapangan,khusunya
mereka yang sedang mengikuti stage ( praktik profesi psikologi) dibagian psikologi social.Hasil
penelitian dan pengalaman praktik kerja dilapangan mengungkap berbagai factor psikologis
dalam kehidupan keseharian penduduk yang perlu diperhitungkan.Terutama dalam menentukan
langkah-langkah strategis guna mengatasin masalah keterbelakangan dan kemiskinan penduduk.

B. Batasan Psikologi Komunitas


Psikologi komunitas adalah suatu cabang psikologi yang mengaplikasikan prinsip-prinsip
psikologi ke dalam program-program pelayanan dan pengembangan masyrakat.Fokus utama
psikologi komunitas adalah pengetahuan yang berkaitan dengan masalah masalah yang terdapat
dimasyarakat dengan menggunakan dasar pengetahuan psikologi dan disiplin ilmu lain yang
terkait.Pengetahuan ini digunakan untuk merancang suatu upaya membangun kesejahteraan da
kebahagiaan manusia sebagai anggota masyarakat melalui intervensi social yang berencana dan
inovatif.
Pandangan Psikologi komunitas mengenai pemecahan masalah yang terdapat disuatu
masyrakat berbeda dengan pandangan psikologi pada umumnya.Mengikuti formula yang digagas
oleh Lwin(1951) bahwa B=f(P,E).Perilaku (B=behavior)ditentukan oelh pelaku(P=person)dan
lingkungannya (E=environment).Secara tradisional,selama ini ilmu psikologi lebih
banyakmembahas tentag factor P,seperti kepribadian pelaku.Kalaupun ada keterlibtaan factor
E,lingkungan yang dikaji adalah lingkungan psikologis yang dipersepsi oleh pelaku.

- Person, Context and Change

Bagaimana suatu masalah dapat muncul? Dan bagaimana perubahan dapat terjadi?
berikut akan dijelaskan beberapa asumsi untuk menjawab pertanyaan tersebut.

 Person and contexts

Shinn dan Tohey (2003) mengemukakan konsep Context minimization error untuk
menunjukkan pengabaian terhadap pentingnya context dalam hidup seseorang. Context
merupakan istilah yang merujuk kepada ruang lingkup dari lingkungan hidup seorang individu
seperti: keluarga, jaringan pertemanan, kelompok teman sebaya. Tetanggga, tempat kerja,
sekolah, organisasi komunitas, norma, peran sosial, dan status sosial ekonomi. Context
minimization error merujuk kepada teori psikologi yang hanya mempertimbangkan konteks yang
terbatas atau hanya beberapa context saja yang dipertimbangkan dalam merencanakan suatu
treatment atau program intervensi sosial.

Konsep kuncinya yaitu Fundamental attribution error yang merupakan suatu


kecenderungan untuk hanya memperhatikan faktor individu atau karakteristik personal dan
mengabaikan faktor situasional ketika berusaha menjelaskan suatu peristiwa atau masalah.

Psikologi komunitas berusaha untuk memahami individu berdasarkan context dalam


hidupnya dan ketika berusaha mengatasi suatu masalah dalam hidup individu atau bahkan
meningkatkan kualitas hidupnya, maka psikologi komunitas akan berfokus pada merubah
context dalam hidup individu tersebut.

Person and Context Influence Each Other

Psikologi komunitas mempelajari hubungan antara person dan context. keduanya


memiliki hubungan yang timbal balik dan saling mempengaruhi. Context memepngaruh hidup
seseorang (person) dan person juga dapat mempengaruhi dan merubah context. Riger (2001)
menyebutkan bahwa psikologi komunitas merujuk kepada bagaiman person merespon terhadap
context dan bagaimana pula person dapat merubah context

- First and Second Order Change (Perubahan Turunan Pertama dan


Kedua)

Levine (dalam Mann,1978)mengajukan beberapa asumsi dasar psikologi komunitas dalam


melibatkan permasalahan,focus perhatian dalam member pelayanan/bantuan dan menciptakan
lingkungan yang kondusif bagi pengembangan pribadi penghuninya,yaitu :
 Masalah-masalah social psikologi muncul dalam situasi atau lingkungan memicu dan
memperburuk sebuah masalah.
 Masalah masalah social psiologis muncul karena beberapa elemen dilingkungan
sosilamenghambat usaha-usaha penyelesaian yang efektif.
 Pelayanan/bantuan yang diberikan harus bersifat strategis.Pusat pelayanan masyarakat
sebaiknya berada ditempat dimana masalah tersebut muncul.
 Tujuan pelayanan/bantuan harus mengindahkan nilai-nilai yang dianut masyarakat
setempat.
 Bentuk pelayanan/bantuan digunakan sebaiknya diberikan dengan memanfaatkan sumber
daya yang berasal dari lingkungan setempat,misalnya support group.Hal ini dapat pula
diberikan dengan menggunakan sumber daya sumber daya dari luar lingkungan
(misalnya para professional dengan keahlian yang relevan seperti psikolog) yang kelak
dapat menjadi bagian dari lingkungan tersebut.

Sebagai contoh masalah “gepang” (gelandangan dan pengemis)yang banyak terdapat dikota
Jakarta.Mereka dianggap berasal dari desa,miskin,malas dan mengganggu ketertiban dengan
berkeliaran dijalan.Untuk itu pemerintah kota membuat kebijakn razia dengan menangkap dan
memulangkan mereka ke daerah asalnya untuk menhaga ketertiban lingkungan,
Meeskipun mereka sering dirazia,ditangkap dan dipulangkan kedesa asalnya,dalam waktu
tidak lama mereka tampak berkeliaran kembali.Perlakuan atau tindakan merazia
mereka,menangkap,memulangkan kedaerah asalnya,menghasilkan perubahan tetapi tidak
bertahan lama ataupun menyelesaikan masalah.Perubahan seperti ini disebut perubahan
turunan pertama (first order change).Gelandangan dan pengemis bukan semata-mata orang
melainkan kelompok orang yang terorganisir dan terkait dengan berbagai kepentingan seperti
ketersediaan lapangan kerja,pendidikan dan ketersediaan lahan dan pekerjaan disektor
pertanian(untuk mereka yang berasal dari desa tani)atau kebijakan public.
Untuk menyelesaikan masah seperti ini,pembuatan keputusan perlu meninjau masalah
dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan yang saling berkait,dan berbagai alternative
tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi suatu masalah.Penyelesaian masalah dengan
pendekatan system seperti itu lebih menjadi pilihan psikologi komunitas.Dengan pendekatan
seperti ini diharapkan penangan masalah mengarah keperubahan yang lebih mendasar ,yang
dikenal dengan istilah perubahan turunan kedua (second order change).
Psikologi komunitas menggunakan second order change untuk memahami perilaku manusia
dalam konteks struktur masyrakat dan masalah yang terjadi karena factor system.First order
change memandang perilaku manusia terjadi karena sifat manusia itu sendiri,sehingga perubahan
social berfokus pada individu yang hatus menyesuaikan diri dengan system.Sebaliknya pada
second order change perilaku manusia dipandang terjadi karena system yang meliputi individu
tersebut sehingga perubahan social yang dilakukan berfokus pada menata struktur dan tatakelola
social.Cara pandang terhadap masalah menentukan cara penyelesaian masalah tersebut.

Tujuan psikologi komunitas sebagai ilmu pengetahuan yaitu :


1. Mengembangkan sumber daya yang terdapat dalam suatu masyrakat.
2. Mendesain dan mengarahkan program pelayanan masyarakat sejalan dengan proses
perubahan social yang direncanakan agar mampu mengatur dan mengendalikan kekuatan
yang ada pada diri mereka untuk mencapai kesejahteraan bersama.
3. Merencanakan suatu perubahan social menuju kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.
4. Mengorganisasikan dan mengimplementasikan perubahan perubahan yang telah
direncanakan.

C. 7 Nilai Dasar Psikologi Komunitas

Nilai merupakan sesuatu ideal dan diyakini secara mendalam mengenai apa yang dianggap
bermora, benar, dan baik. Nilai- nilai mengandung intensitas emosi yang kuat, sesuatu yang
sangat dijunjung tinggi, serta dihormati oleh seseorang, bukan sesuatu yang dianggap remeh.
Didalam psikologi komunitas, pemaknaan tentang nilai yang penting perlu dibahas
mengingat 4 hal sebagai berikut:
1. Membantu untuk mengklarifikasikan pilihan penelitian aksi (action research),
perhatian terhadap ini perlu dilakukan ketika hendak memutuskan dan menentukan
perilaku organisasi atau komunitas tertentu yang akan diajak bekerjasama.
2. Membantu mengidentifikasi nilai- nilai yang tidak selaras dengan nilai yang dianut
oleh masyarakat, ketika merencanakan suatu program/ penelitian aksi.
3. Membantu memahami budaya dan komunitas tertentu, untyuk mengetahui nilai- nilai
yang dijunjung tinggi serta dihormati dalam suatu budaya dan masyarakat komunitas
tertentu.
4. Psikologi komunitas mempunyai semangat persamaan makna dan kesamaan tugas.
Hal tersebut merupakan dasar dari komitmen untuk mendorong kita melewati
rintangan yang menghalang.
5. Semangat/ spirit psikologi komunitas berdasarkan tujuh nilai dasar pembahasan akan
dimulai dari nilai yang dekat level individu.

Berikut ini merupakan tujuh nilai yang dimaksud:

1. Kesejahteraan Individual dan Kesejahteraan Keluarga (Individual and Family


Wellness)
Kesejahteraan (wellness) mengacu pada kesehatan fisik dan psikologis, termasuk
personal well- being dan pencapaian tujuan personal. Indikator kesejahteraan mencakup gejala
disstress psikologis dan kualitas resilensi, kemampuan sosio- emosional, dan kepuasan hidup
personal.
Kesejahteraan individu dan keluarga adalah dua hal yang juga menjadi focus dari
psikologi klinis (dan ranah lain yang terkait). Psikologi komunitas menghadirkan metode yang
dapat melengkapi pendekatan klinis, yaitu dengan menenmpatkan individu dalam konteks
ekologi. Terdapat pula konsep kesejahteraan lain, yaitu kesejahteraan kolektif. Kesejahteraan
kolektif adalah sebuah prinsip umum yang mengacu pada kesehatan komunitas dan
masyarakat.kesejahteraan ini saling berhubungan dengan kesejahteraan individu dan komunitas.

2. Perasaan Berkomunitas (Sense of Commuinity)


Sense of community mengacu pada persepsi terhadap rasa kebersamaan, interpendensi,
dan komitmen mutual yang mengaitkan individu- individu dalam kesatuan kolektif. Sense of
community merupakan sebuah dasar dari aksi komunitas dan sosial sekaligus menjadi sumber
daya untuk dukungan sosial dan pekerjaan klinis . hal ini juga nantinya dapat menyeimbangkan
nilai- nilai kesejahteraan individu atau keluarga.
Sense of community tidak selalu positif. Contohnya, sense of community dapat
mendorong terjadinya pemisahan antara insider dan outsider.

3. Menghargai Keberagaman ( Respect for Human Diversity)


Aspek ini menyadari dan menghargai keberagaman dalam komunitas dan identitas sosial
yang berbasis gender, etnis, ras, kewarganegaraan, orientasi seksual dan karakteristik lain.
Pemahaman akan keberagaman manusia penting untuk membantu memahami individu dalam
komunitas. Menghargai perbedaan perlu diimbangi dengan nilai keadilan sosial dan sense of
community. Langkah pertama untuk menghargai perbedaan adalah dengan mempelajari dan
memahami perbedaan tersebut. Langkah lainnya adalah dengan menghormati orang lain sebagai
sesama manusia.

4. Keadilan Sosial ( Social Justice )


Keadilan sosial dapat didefinisikan sebagai alokasi sumber daya, kesempatan, kewajiban,
dan kekuasan yang adil, dan setara juga dalam masyarakat secara umum.
Keadilan sosial memiliki 2 makna, pertama keadilan yang terdistribusi (Distributive
Justice) yang berfokus pada alokasi sumber daya diantara seluruh anggota populasi. Kedua
keadilan yang sesuai dengan prosedur (Procedural Justice) poin ini berfokus pada sejauh mana
sebuah proses pengambilan keputusan bersama melibatkan representasi yang adil dari
perwakilan masyarakat. Dengan kata lain, distributive justice berkaitan dengan hasil dan
program dari kebijakan sosial. Sementara Prosedural Justice berkaitan dengan bagaimana
pengerjaan atau kebijakan sosial yang direncanakan dan di implementasikan.
Perspektif keadilan sosial sering kali terkait dengan advokasi, yaitu advokasi untuk
kebijakan publik dan perubahan dalam sikap publik (terutama pada media massa).
5. Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat ( Empowerment and Citizen
Participation)
Pemberdayaan bertujuan untuk memperluas kesempatan bagi seseorang dalam
mengendalikan kehidupannya sendiri. pemberdayaan merupakan sebuah proses yang bekerja
dalam berbagai level dan konteks. Hal ini berkaitan dengan usaha peningkatan akses atas sumber
daya tertentu dan menjalankan kekuasaan dalam pengambilan keputusan kolektif.
Partisipasi merupakan salah satu strategi penggunaan dan dinamika power. Partisipasi
warga menekankan pada proses demokrasi dalam pembuatan keputusan sehingga seluruh
anggota dapat memiliki keterlibatan berarti. Akan tetapi keputusan yang dihasilkan tidak selalu
lebih baik. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya konflik partisipasi ini juga perlu turut
mempertimbangkan nilai – nilai dasar.
6. Kolaborasi dan Kekuatan Komunitas (Collaboration and Community Strength)
Psikologi dalam prakteknya sering kali menampilkan diri di komunitas sebagai ahli, baik
sebagai peneliti profesional, dibidang klinis maupun di bidang pendidikan ataupun konsultas
organisasi. Hal ini menimbulkan ketidaksetaraan hubungan dengan klien.
Psikolog komunitas perlu membangun suatu hubungan kolaboratif bersama warga
sehingga kekuatan komunitas dapat digunakan. Dalam hubungan tersebut, Psikolog dan warga
sama – sama betukar pengetahuan dan sumber daya. Kolaborasi ini akan lebih mudah dilakukan
jika kedua belah pihak mengenali dan memegang nilai – nilai yang sama. Olehkarena itu,
Psikolog komunitas, perlu berkelaborasi dengan disiplin ilmu yang lain.
7. Dasar Empiris (Empirical Grounding)
Psikologi komunitas akan mengalami kesulitan dengan teori atau aksi yang kurang bukti
atau dukungan empiris atau penelitian yang mengabaikan konteks. Psikolog komunitas
menggunakan penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Mereka percaya bahwa tidak ada
penelitian yang terbebas dari nilai, setiap penelitian selalu dipengaruhi oleh nilai atau
prekonsepsi maupun konteks. Oleh karena itu penarikan kesimpulan dari sebuah penelitian
sangat perlu mempertimbangkan nilai dan konteks dan bukan hanya semata - mata mengenai
data.
Prinsip Pelayanan Psikologi Komunitas
Program pelayanan/bantuan masyarakat yang direncanakan mengikuti prinsip – prinsip
sebagai berikut:

 Mengutamakan prinsip pencegahan. Jika kemampuan individu untuk menyelesaikan


masalah ditingkatkan di masa awal kehidupan, masalah di masa depan akan dapat
dihindari dengan lebih udah.
 Menghargai keberagaman. Menghargai keberagaman tercermi dalam perilaku psikolog
komunitasdalam masyarakat dan penelitinya.dalam penelitian, keberagaman ditunjukkan
dengan meninjau kembali tujuan, metode, dan hasil riset sesuai dengan kondisi
keberagaman yang dipelajari (hughes dan seidman, 2002), keberagaman termasuk
diantaranya suku,budaya,etnis,agama dan kepercayaan, orientasi seksual, kemampuan
dan ketidakmampuan fisik dan mental, status ekonomi dan sosial (SES), dan lain-lain.
 Mendesain program pelayanan dengan mengutamakan cocok atau tidaknya desain
tersebut dengan lingkungan kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Program juga
didesain sedemikian rupa sehingga masyarakat bisa menjalaninya dengan swadaya.
 Berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain untuk memberikan pandangan baru tentang suatu
gejala sehingga dapat memperkaya bahkan mengembangkan perspektif sebelumnya.
 Sense of community (SOC) Psikolog komunitas perlu memiliki SOC yaitu suatu
penghayatan perasaan seseorang menjadi bagian dari sebuah kelompok yang ditandai
berupa adanya komitmen antar anggotanya.

D. Penelitian Psikologi Komunitas

Penelitian psikologi komunitas tergolong sebagai penelitian terapan (action reseach),


penelitian terapan adalah penelitian yang membandingkan kondisi dan dampak dari berbagai
interaksi sosial, dan mengarah terselenggaranya interaksi sosial di dalam masyarakat. Jadi,
penelitian yang menghasilkan laporan tertulis saja tidaklah cukup, karena belum bisa memberi
manfaat nyata pada masyarakat.

Ada dua jenis penelitian dalam psikologi komunitas, yaitu:

1. Penelitian teknis
Penelitian dilakukan bermula dengan mengidentifikasi atau membuat batasan tentang
suatu isu/masalah, kemudian mencari faktor-faktor penyebabnya. Selanjutnya,
peneliti merancang dan melaksanakan suatu program intervensi sosial berdasarkan
faktor-faktor yang ditemukan di lapangan.
2. Penelitian dialektis
Ada tiga hal penting dalam penelitian dialektis, yaitu :
a. Penjabaran masalah rinci
b. Posisi peneliti adalah setara dengan masyarakat yang hendak diteliti. Peneliti juga
diharapkan mampu memahami penghayatan dan perasaan anggota masyarakat.
c. Peneliti mampu mengutamakan dan menggali potensi-potensi yang ada dalam
masyarakat, agar program mereka dapat memfasilitasi pengembangan diri guna
tercapainya kesejahteraan dan kebahagiaan yang diinginkan masyarakat dalam
penelitian ini. Peneliti berperan sebagai konsultan sekaligus partisipan.
Penelitian kualitatif dan kuantitatif dalam psikologi komunitas

Metode kualitatif digunakan untuk mengetahui makana pengalaman psikologis atau


komunitas, sedangkan metode kuatitatif digunakan untuk pengukuran perbandingan statistik.
Dan uji efektifitas inovasi atau program inovasi.

Dalam Dalton, elias dan waandersman (2007), stein dan mankowski (2004) menjelaskan
emapat langkah utama untuk melakukan studi kualitatif, yaitu bertanya (asking), bersaksi
(witnessing), interprestasi (interpretation) dan mengetahui (knowing). Contoh metode kualitatif
diantaranya, observasi partisipan (participant observation), wawancara kualitatif
(quqlitqtiveinterviewing), diskusi focus grup ( focus grup), dan studi kasus (case study).

Studi kualitatif dilakaukan untuk menjawab pertanyaan penelitian terkait perbandingan


kelompok (misalnya persepsi laki-laki dan perempuan terhadap tingkat kekerasan), mengetahui
hubungan antara variable atau kolerasi, mengukur karakter sebuah setting komunitas (misalnya
menghitung menguku frekuensi dukungan emosional dan pemberian nasehat dalam kelompok
mutual help), studi epidemiologi dan studi hubungan antara geo spasial dan lingkungan sosial
(misalnya jumlah took yang menjual minuman keras dan tingkat kekerasan dalam lingkungan).
Contoh studi kuantitatif deskriptif dianataranya adalah kolerasional, epidemiologi, survey
komunitas, pemetaan lingkungan fisikdan sosial. Studi kualitatif juga menggunakan randomized
field experiment, nonequivalent comparison group design, dan interrupled time series design.

Peenelitian di psikologi komunitas ini bersifat partisipatif dan kolaboratif, sehingga


penelitian dapat berbagi kontrol terhadap jalannya studi. Sharing control adalah cara pandang
yang berbeda dan dapat meningkatkan pengetahuan yang didapatkan melalui penelitian.

Penelitian yang biasa dilakukan psikologi komunikasi dapat berupa penelitian yang
menggunakan metode bersifat kolerasional, eksperimental, dan kuasi eksperimental.

1. Korelasional
Metode kolerasi termasuk kategori desain dan prosedur pengukur untung
mengamati hbungan antra dua atau lebih veriabel. Coontoh: hubungan anatara
berapa sering menonton tayang kekerasan pada televise dengan perilaku angresif
pada anak.
2. Eksperimental
Metode termasuk kategori desain dan prosedur pengukuran dimana penelitian
dapat memanipulasi IV (Independent Variabel) dan DV( Dependent Variable).
Contohnya penelitian tingkat kesiapan sekolah pada kelompok anak yang
mengikuti playgroup dan kelompok yang tidak mengikuti playgroup.
3. Kuasi eksperimental
Variable dalam psikologi komunitas ini tidak adapt dimanipulasi baik karena alas
an praktis maupun etis. Subjek tidak selalu dpat dipilih secara random.
Contohnya penelitian tentang harga diri( Self Esteem) pada remaja yang
permakai narkoba dengan yang tidak pemakai.

Beberapa penelitian yang sering juga dilakukan dalam psikologi komunitas adalah:

4. Etnografi
Adalah penelitaian yang didesain menggunakan interview, pengamatan, dan
teknik pengukuran skala sikapyang memungkinkan penelitian dapat berinteraksi
langsung dengan komunitas yang diteliti.
5. Epidomologi
Penelitian terntang kejadiankejadian dan penyebaran dari berbagai penyakit atau
kondisi kondisi yang buruk, yaitu jumlah orang dalam populasi yang bermasalah
danjumlah orang yang bermasalah dalam hitungan tahunan.
6. Need assessment
Metode pendekatan yang digunakan untak mendapatkan dan mempelajari hal
hala yang berkaitan dengan kebutuhan atau kepentingan, yang harus dipengaruhi,
dari masyarakat yang sedang diteliti.
7. Evaluasi program
Peneelitian yanag didesain untuk mengukur dan menilai program program sosial
dan kebijakan pemerintah untuk mengukur efektivitas dari program.
Memahami Komunitas

A. Pengertian Komunitas

Psikologi komunitas menitikbertkan perhatinnya pada isu- isu yang terdapat dalam
masyarakat. Khususnya komunitas dalam masyarakat itu sendiri. Sebelummembahas isu- isu
tersebut maka terlebih dahulu kita mebahas konsep masyaraktkomunitas.

Kebanyakan orang sering mengartikan “masyarakat” dan “komunitas” sebagai dua hal yang
sama, padaal sebenarnya tidak demikian. Pada tahun 1957, sosiolog Ferdinand Tonnies
menggolongkan masyarakat menjadi dua golongan, yaitu: (1) gemeinschaft dan (2)gesellschaft.
Gemeinscaft (“panguyuban”) adalah masyarakat yang didasarkan pada tradisi dan adat istiadat,
dimana tiap anggota merasa memiliki kewajiban dan partisipasi komunal dalam masyarakat di
pedesaan.

Disamping itu, gesellschaft (“patembayan”) adalah bentuk masyarakat berupa


sekumpulan orang yang saling berhubungan satu sama lain berdasarkan kontrak yang sudah
disepakati bersama, contohnya kehidupan masyarakat di Jakarta. Penduduk di suatu kelurahan
tidak saling berhubungan walaupun tinggal dalam satu RT/ RW dilingkungan kelurahan tersebut.

Menurut Dalton (2001), sense of community meliputi empat elemen, yaitu:

1. Keanggotaan (membership)

Individu merasa menjadi bagian dalam komunitasnya. Terdapat lima atribut keanggotaan:
(1) Batasan yang membedakan anggota dengan yang bukan anggota, baik secara fisik
maupun nonfisik, (2) sistem simbol yang umum digunakan, (3) keamanan emosional, (4)
menjadi bagian dan mengiidentifikasikan diri dengan komunitas, dan (5) investasi
personal, komitmen jangka panjang diberikan untuk komunitras.

2. Pengaruh (Influence)

Suatu komunitas mempunyai daya/ kekuatan saling mempengaruhi diantara anggota.


Suatu dinamika hubungan antar anggotanya untuk saling berbagi memenuhi kebutuhan
mereka
3. Integrasi (Intergration) dan pemenuhan kebutuhan (Fulfillment of needs)

Individu bergabung dalam komunitas meyakini bahwa kebutuhannya dapat dipenuhi oleh
sumber daya yang ada dalam komunitas tersebut.

4. Hubungan emosional (emotional connection)

Anggota komunitas mempunyai ikatan emosional tertentu, berkaitan dengan latar belakang
sejarah, waktu, tempat, dan pengalaman bersama.
BAB 3

PENUTUP

1. KESIMPULAN

Psikologi komunitas adalah sebuah pendekatan untuk mengatasi permasalahan kesehatan


mental dengan menciptakan tindakan yang bersifat memperbaiki, menciptakan tranformasi pola
interaksi interaksi individu dengan lingkungannya, serta melibatkan institusi/lembaga untuk lebih
efisien dalam menginternalisasi nilai-nilai dari kelompok sosial yang secara dominan
berpengaruh pada individu yang memiliki permasalahan.

Pada tahun 1965 dianggap sebagai kelahiran psikologi komunitas yang pada saat itu
diadakan konferensi di Massachusetts dimana para psikolog membahas masa depan dan peran
kesehatan mental, dan tak lama berselang, terbentuklah Community Psychology dalam American
Psychological Association (APA). Psikologi komunitas pada dasarnya terkait dengan hubungan
antar sistem sosial, kesejahteraan dan kesehatan individu dalam kaitan masyarakat. Psikologi
komunitas berfokus pada arah permasalahan kesehatan mental dan sosial yang dikembangkan
melalui intervensi juga riset dengan setting mencakup masyarakat dan komunitas pribadi.
Psikologi komunitas memiliki 10 sasaran seperti yang dijelaskan diatas, kemudian memiliki
sistem kerja, dan memiliki model dan proses psikologi komunitas itu sendiri.

2. SARAN

Komunitas yang positif akan berpengaruh baik pada lingkungan maupun anggota
komunitas itu sendiri. Komunitas terbentuk karena kebersamaan akan persamaan hobi maupun
keterampilan, maka dalam hal ini bagaimana cara agar dalam suatu komunitas dapat terus
menumbuhkan sesuatu yang bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain, pastinya
semua tidak lepas dari peran masing-masing komunitas dalam memanfaatkan setiap unsur
kebaikan dari kegiatan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA

Wibowo Istiqomah, dkk. 2017. Psikologi Komunitas. Jakarta: LPSP3 UI.

Dalton, J.H., Elias, M.J., & Wandersman, A. (2001). Community Psychology: Linking
Individuals and Communities. Stamford : Wadsworth

Anda mungkin juga menyukai