Anda di halaman 1dari 17

Seorang anak laki-laki berusia 1 tahun dibawa ibunya ke puskesmas dengan keluhan belum bisa

duduk sendiri. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: status gizi kurang, lingkar kepala: mikrosefali,
wajah dismorfik (-). Tonus keempat ektremitas hipertoni, ada head lag (+). Dari riwayat kelahiran
didapatkan informasi bahwa anak tersebut dilahirkan dari seorang ibu P6A3 yang berusia 38 tahun
dengan riwayat mendapatkan transfusi sebelum melahirkan. Bayi pada usia kehamilan 37 minggu,
BBL 2500 gram, lahir spontan, bayi tidak langsung menangis, dan dirawat di Bangsal perawatan risiko
tinggi. Selama perawatan, bayi mengalami kejang berulang 3x. Dari analisa deteksi dini
perkembangan secara sederhana, dokter yang memeriksa mencurigai kemungkinan anak tersebut
mengalami developmental delayed dengan keterlambatan milestones pada keempat domain. Dokter
menyarankan untuk pengelolaan lebih lanjut antara lain dengan merujuk ke poliklinik Tumbuh
Kembang, Rehabilitasi Medik dan pemeriksaan penunjang lain untuk mengetahui sejauh mana
kelainan organ-organ yang terkait (SSP, fungsi pendengaran, penglihatan).

Step 1

 Milestone  indikator tahap kembang anak sesuai tahap usia diaman yg diukur adalah
motorik kasar, motorik halus, bahasa, sosial, dan emosi.
 Head lag  px fisik untuk mengetahui perkembangan anak, anak terlentang kita tarik
tangannya dan apabila kepala tertinggal hasil +, seharusnya hasil – (kepala ikut tertarik)
mulai usia 4 bulan
 Dismorfik  bentuk wajah yg tidak proposional karena kalainan anatomi contoh pada
sindrom tertentu
 Developmental delay  perkembangan terlambat pada fisik, kognitif, dan perilaku
dibandingkan dg usia normal

Step 2

1. Mengapa ditemukan bayi belum bisa duduk sendiri pada usia 1 tahun?
2. Apa hubungan bayi usia kehamilan 37 mgg dan BB 2500 mg pada kasus di skenario?
3. Apa hubungan riwayat bayi kejang 3x dengan skenario?
4. Apa yang seharusnya dapat dicapai oleh bayi pada usia 1 tahun?
5. Apa perbedaan pertumbuhan dan perkembangan pada anak?
6. Apa saja faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang pada anak?
7. Apa hubungan riwayat obstetri dengan skenario?
8. Apa hubungan riwayat ibu mendapatkan transfusi sebelum melahirkan dengan kasus yang
ada di skenario?
9. Bagaimana tanda dari developmental delay?
10. Apa hubungan status gizi kurang dengan mikrosefal pada kasus di skenario?
11. Apa saja yg dinilai dari milestone?
12. Apa pemeriksaan penunjang dari skenario?
13. Mengapa didapatkan Tonus keempat ektremitas hipertoni dan ada head lag (+)?
14. Apa diagnosis dan diagnosis banding?
Step 3

1. Mengapa ditemukan bayi belum bisa duduk sendiri pada usia 1 tahun?

Curiga developmental delay  motorik kasar = dapat duduk sendiri seharusnya pada usia 8 bulan

Penyebab DD: perhatian dari orang tua kurang, terlalu serign digendong/taruh di babywalker

 1 bulan = gerakan kepala bayi, MH: bayi dapat menggenggam


 2 bulan = bayi dapat menahan kepala dan leher saat tengkurap, MH: buka tutup tangan
 3 bulan = sentuh dan menangkap benda, MH: genggam benda dg tangan
 5 bulan = guling2, MH: pindah benda dari tangan satu ke yang lain
 6 bulan = semakin aktif guling, MH: pake tangan untuj menggaruk benda kecik
 7 bulan = mulai merangkak, MH: bealajr menggunakan jari2
 8 bulan = duduk tanpa dukungan, MH: tepuktangan
 9 bulan = merangkak, MH: jepit dan cengkram
 10 bulan = dapat berdiri, MH: susun dan atur mainan
 11 bulan = jalan dg bantuan benda sekitar, MH: balik balik halaman buku
 1 tahun = berdiri tanpa bantuan oranng lain, MH: bantuk pakai baju

Motorik kasar  aspek kemampuan anak dalam pergerakan anak yg melibatkan otot otot besar,
duduk berdiri

Motorik halus  berhhubungan dengan bagian tubuh terrtentu dan dilakukan otot kecil tapi
dibutuhkan koordinasi, jempit mengamati menggenggam menulis

Developmental delay 

Global  lebih dari 1 domain (motorik kasar,motorik halus, sosisal, bahasa) yg terkena

Penyebab 

2. Mengapa didapatkan tonus keempat ektremitas hipertoni dan ada head lag (+)?

Tonus berhubungan dengan cerebral palsy, head lag positif karena hipotoni yg mencirikan motorik
kasar tidak normal/ada keadaan patologis di SSP

3. Mengapa bayi tidak langsung menangis pada kasus di skenario?

Ada hubungan dengan ibu anemi

4. Apa hubungan status gizi kurang dengan mikrosefal pada kasus di skenario?

Kejang  mikrosefal  status gizi <<

5. Apa hubungan riwayat obstetri dengan skenario?

ibu P6A3 yang berusia 38 tahun  termasuk ibu resiko tinggi untuk kehamilan (lahir cacat dan BBLR)
dan ibu

6. Apa hubungan riwayat ibu mendapatkan transfusi sebelum melahirkan dengan kasus yang
ada di skenario?

Anemi pada ibu (folat, zat besi)  transfusi darah

7. Apa hubungan riwayat bayi kejang 3x dengan skenario?


Hipoksik  kejang

8. Apa perbedaan pertumbuhan dan perkembangan pada anak?

Perbedaan Tumbuh Kembang


Pengukuran Dapat diukur Tidak pasti
Kuantitas Kualitas
Macam BB, TB, LK 4 domain

9. Apa saja faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang pada bayi?


Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang balita
1). Faktor Herediter
 Faktor herediter merupakan factor yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapai
tumbuh kembang anak, factor herditer meliputi factor bawaan, jenis kelamin, ras, dan suku bangsa.
Pertumbuhan dan perkembangan anak dengan jenis kelamin laki-laki setelah lahir akan cenderung
cepat dibandingkan dengan anak perempuan serta akan bertahan sampai usia tertentu. Baik anak laki-
laki atau anak perempuan akan mengalami pertumbuhan yang lebih cpat ketika mereka mencapai
masa pubertas. (Alimul, 2008 : 11)

2). Faktor Lingkungan


 Faktor lingkungan merupakan factor yang memegang peranan penting dalam menentukan
tercapai atau tidaknya potensi yang sudah dimiliki. Faktor lingkungan ini dapat meliputi lingkungan
prenatal (yaitu lingkungan dalam kandungan) dan lingkungan postnatal (yaitu lingkungan setelah bayi
lahir)

Faktor lingkungan secara garis besar dibagi menjadi :


1). Faktor lingkungan prenatal
 Gizi pada waktu ibu hamil
 Zat kimia atau toksin
 Hormonal

2)Faktor lingkungan postnatal


a). Budaya lingkungan
 Dalam hal ini adalah budaya dalam masyrakat yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak, budaya lingkungan dapat menentukan bagaimana seseorang mempersepsikan
pola hidup sehat
b). Status sosial ekonomi
 Anak dengan keluaraga yang memiliki sosial ekonoi tinggi umumnya pemenuhan kebutuhan
gizinya cukup baik dibandingkan dengan anak dengan sosial ekonomi rendah
c). Nutrisi
 Nutrisi menjadi kebutuhan untuk tunbuh dan berkembang selama masa pertumbuhan, dalam
nutrisi terdapat kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan seperti
protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air
d). Iklim dan cuaca
 Pada saat musim tertentu kebutuhan gizi dapat dengan mudah diperoleh namun pada saat musim yang
lain justru sebaliknya, sebagai contoh pada saat musim kemarau penyediaan air bersih atau sumber
makanan sangatlah sulit
e). Olahraga atau latihan fisik
 Dapat memacu perkembanagn anak karena dapat meningkatkan sirkulasi darah sehingga suplai oksigen
ke seluruh tubu dapat tertur serta dapatmeningkatkan stimulasi perkembangan tulang, otot, dan
pertumbuhan sel lainnya
f). Posisi anak dalam keluarga
 Secara umum anak pertama memiliki kemampuan intelektual lebih menonjol dan cepat berkembang
karena sering berinteraksi dengan orang dewasa namun dalam perkembangan motoriknya kadang-
kadang terlambat karena tidak ada stimulasi yang biasanya dilakukan saudara kandungnya,
sedangkan pada anak kedua atau tengah kecenderungan orang tua yang sudah biasa dalam merawat
anak lebih percaya diri sehingga kemamapuan anak untuk berdaptasi lebih cepat dan mudah meski
dalm perkembangan intelektual biasanya kurang dibandingkan dengan ank pertamanya
g). Status kesehatan
 Apabila anak berada dalam kondisi sehat dan sejahtera maka percepatan untuk tumbuh kembang
menjadi sangat mudah dan sebaliknya.contoh apabila anak mempunyai penyakit kronis yang ada pada
diri anak maka pencapaian kemampuan untuk maksimal dalam tumbuh kembang akan terhambat
karena anak memiliki masa kritis

3). Factor hormonal


 Factor hormonal yang berperan dalam tumbuh kembang anakantara lain hormone somatotropin, tiroid
dan glukokortikoid. Hormone somatotropin (growth hormone) berperan dalam mempengaruhi
pertumbuhan tinggi badan dengan menstimulasi terjadinya proliferasi sel kartilgo dan system skeletal,
hormone tiroid berperan menstimulasi metabolism tubuh. Hormone glukokortiroid mempunyai fungsi
menstimulasi pertumbuhan sel intertisial dari testis (untuk memproduksi testosteron) dan ovarium
(untuk memproduksi estrogen), selnjutnya hormone tesebut menstimulasi perkembangan seks, baik
pada anak laki-laki maupun perempua yang sesuai dengan peran hormonnya (wong 2000) (Alimul,
2008 : 13)

1. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan milestone ?

 Motorik kasar
 Motorik halus
 Perilaku sosial
 Bahasa
Acuan perkembangan dari usia 4 minggu sampai 5 tahun
4-6 minggu : tersenyum spontan,mengeluarkan suara
12- 16 minggu :dapat mengeluarkan suara,menoleh kea rah suara,memegang benda yg ditaruh d
tangannya.
20 minggu : menraih benda yg dekat padanya
26 minggu : memindahkan benda dari tangan satu ke tangan yg lain
9-10 bulan : menunjuk dg jari telunjuk
13 bln : bias berjalan tanpa bantuan
18 bln : menyusun 2-3 kotak
24 bln : bias naik turun tangga
3 th : bias meloncat dan memanjat
3-4 th : bias berpakaian sendiri(missal memakai kaos)
4-5 th : bias melompat,menari dan menggambar orang lengkap,bs mengenali 4 warna.
Penilaian Domain ( DDST : denvere developmental screaning test) -  Motorik kasar : pergerakan atau
siakp tubuh (ex: berjalan, berlari, kemantapan kepala saatduduk)
-  Motorik halus : aspek yang berhubungn dengan kemapuan mengamati sesuatu , dilakukan
otot2 kecil -  Berbahasa : respon terhadap suara , mengikuti perintah , berbicara spontan - 
Perilaku sosial : aspek yang berhubungan dengan kemampuan diri dan sosialiasai dengan
lingkungan
a.  personal social (kepribadian/tingkah laku sosial) aspek yang berhubungan dengan kemampuan
mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
b.  fine motor adaptive (gerakan motorik halus) aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak
untuk mengamati sesuatu, melakukan
gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tetentu saja dan dilakukan otot-otot kecil,tetapi
memerlukan koordinasi yang cermat. Misalnya kemampuan untuk menggambar, memegang suatu
benda dll.
c.  Language (bahasa) Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan
berbicara
spontan.
d.  gross motor (perkembangan motorikkasar) aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap
tubuh.
(buku tumbuh kembang anak, dr. Soetjiningsih, DSAK) 
Milestone
a.  Motorik kasar -  Kemantapan kepala saat duduk : 2 bulan
-  Menarik untuk duduk, kepala tidak tertinggal : 3 bulan -  Tangan bersamaan dalam gariss tengah : 3
bulan -  Refleks tonus leher berjalan asimetris : 4 bulan -  Duduk tanpa bantuan : 6 bulan - 
Menggulingkan punggung ke perut (tengkurap) : 6,5 bulan -  Berjalan sendiri : 12 bulan -  Lari : 16
bulan
b.  Motorik halus -  Memegang mainan : 3,5 bulan -  Mencapai objek : 4 bulan -  Berjalan
menggenggam tangan : 4 bulan -  Pemindahan objek dari tangan ke tangan : 5,5 bulan -  Memegang ibu
jari : 8 bulan -  Membuka lembaran buku : 12 bulan -  Mencoret-coret : 13 bulan -  Membangun menara
dua kubus : 15 bulan -  Menyusun menara enam kubus : 22 bulan c.  Komunikasi dan bahasa - 
Tersenyum dalam respons terhadap muka, suara 1,5 bulan -  Mengoceh satu suku kata : 6 bulan - 
Mencegah pada “tidak” : 7 bulan  -  Mengikuti perintah satu, tindakan dengan gerakan : 7 bulan
-  Mengikuti satu tindakan tanpa gerakan (misal, berikan itu padaku) : 10 bulan
-  Berbicara kata yang sesungguhnya pertama kali : 12 bulan -  Bicara 4-6 kata : 15 bulan -  Berbicara
10-15 kata : 18 bulan -  Berbicara kalimat dua kata (contoh, sepatu mama) : 19 bulan d.  Kognitif - 
Menatap sebentar pada titik kemana objek menghilang : 2 bulan -  Menatap pada tangannya sendiri : 4
bulan -  Membanting dua kubus : 8 bulan -  Menemukan mainan : 8 bulan -  Berpura-pura bermain
egosentris (minum dengan cangkir) : 12 bulan -  Menggunakan batang untuk meraih mainan : 17 bulan
-  Berpura-pura bermain dengan boneka : 17 bulan
Sumber : Ilmu Kesehatan Anak. Nelson. Vol.1. ed.15. EGC
 Gangguan perkembangan motorik
Perkembangan motorik yang lambat dapat disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu
penyebab gangguan perkembangan motorik adalah kelainan tonus otot atau penyakit
neuromuskular. Anak dengan serebral palsi dapat mengalami keterbatasan
perkembangan motorik sebagai akibat spastisitas, athetosis, ataksia, atau hipotonia.
Kelainan sumsum tulang belakang seperti spina bifida juga dapat menyebabkan
keterlambatan perkembangan motorik. Penyakit neuromuscular sepeti muscular distrofi
memperlihatkan keterlambatan dalam kemampuan berjalan. Namun, tidak selamanya
gangguan perkembangan motorik selalu didasari adanya penyakit tersebut. Faktor
lingkungan serta kepribadian anak juga dapat mempengaruhi keterlambatan dalam
perkembangan motorik. Anak yang tidak mempunyai kesempatan untuk belajar seperti
sering digendong atau diletakkan di baby walker dapat mengalami keterlambatan dalam
mencapai kemampuan motorik.
10. Apa yang seharusnya dapat dicapai oleh bayi pada usia 1 tahun?
2.

Umur Perkembangan yg harus dicapai

4- 6 mgg Tersenyum spontan, dpt


mengeluarkan suara 1-2 mgg
kemudian

12-16 mgg - menegakkan kepala, tengkurap


sendiri
- menoleh ke arah suara
- memegang benda yg ditaruh
ditangannya

20 mgg Meraih benda yg didekatkan kpd nya

26 mgg - dpt memindahkan benda dari satu


tgn ke tangan lainnya
- duduk, dg bantuan kedua tangannya
ke dpan
- makan biskuit sendiri

9-10 bulan - menunjuk dg jari telunjuk


- memegang benda dg ibu jari dan
telunjuk
- marangkak
- suara da,,,da

13 bulan - berjalan tanPa bantuan


- mengucapkan kata- kata tunggal

Umur Postur dan pergerakan Penglihatan

3 bln Telungkup: bertumpu pada Penglihatan waspada, melihat


lengan depan utk mengankat pergerakan yg dilakukan org
kepala dan dada dewasa
Ditarik ke posisi duduk: Mengikuti gerakan mainan yg
kepala menunduk sesaat ke digantung 15 cm dari wajah
depan, lalu terangkat tegak Tangan: lemas terbuka
Dipegang pada posisi berdiri
lutut menggantung lemas

6 bln Duduk tegas dgn sokongan Tangan meraih mainan &


Telungkup: mengangkat mengambilnya dgn genggaman
badan ke atas dgn tangan telapak, lalu memasukkannya ke
lurus mulut
Dipegang berdiri : kaki Memindahkan objek dari tangan
menumpu berat badan yg satu ke tangan yg lain
Memperhatikan bola yg
menggelinding pd jarak 2 m

9 bln Duduk tanpa sokongan slm Genggaman menggunting


10 menit Melihat mainan yang dijatuhkan
Telungkup: merangkak /
merayap
Dipegang berdiri: kaki
menjejak /menginjak

12 Berjalan mengelilingi Jari telunjuk mendekati objek kecil


bln perabotan dgn melangkah di lalu mengambilnya dgn genggaman
sisi perabotan menjepit
Merangkan dgn ke-4 tungkai, Menjatuhkan mainan dgn sengaja
berjalan dgn tangan dituntun kemudian mengamatinya

18 Berjalan sendiri & Membangun menara dgn 3 buah


bln mengambil mainan dari kubus
lantai yg terjatuh Menulis tak beraturan

2 Berlari Membnagun menara dengan 6


tahun Naik turun tangga dgn 2 kaki buah kubus
tiap anak tangga

3 Naik tangga dgn 1 kaki tiap Membangun menara dgn 9 kubus


tahun anak tangga Meniru gambar O
Berdiri dgn 1 kaki selama
beberapa saat

4 Naik turun tangga dgn 1 kaki Membuat tangga 3 susun dgn


tahun tiap anak tangga memakai 6 kubus (setelah diberi
Berdiri dgn 1 kaki selama 5 contoh)
detik Meniru gambar O dan X

5 Meloncat dan melompat Menggambar orang


tahun Berdiri dgn 1 kaki dgn Meniru gambar O, X dan kotak
tangan dilipat selama 5 detik

a. Motorik kasar
- Kemantapan kepala saat duduk : 2 bulan
- Menarik untuk duduk, kepala tidak tertinggal : 3 bulan
- Tangan bersamaan dalam gariss tengah : 3 bulan
- Refleks tonus leher berjalan asimetris : 4 bulan
- Duduk tanpa bantuan : 6 bulan
- Menggulingkan punggung ke perut (tengkurap) : 6,5 bulan
- Berjalan sendiri : 12 bulan
- Lari : 16 bulan
b. Motorik halus
- Memegang mainan : 3,5 bulan
- Mencapai objek : 4 bulan
- Berjalan menggenggam tangan : 4 bulan
- Pemindahan objek dari tangan ke tangan : 5,5 bulan
- Memegang ibu jari : 8 bulan
- Membuka lembaran buku : 12 bulan
- Mencoret-coret : 13 bulan
- Membangun menara dua kubus : 15 bulan
- Menyusun menara enam kubus : 22 bulan
c. Komunikasi dan bahasa
- Tersenyum dalam respons terhadap muka, suara 1,5 bulan
- Mengoceh satu suku kata : 6 bulan
- Mencegah pada “tidak” : 7 bulan
- Mengikuti perintah satu, tindakan dengan gerakan : 7 bulan
- Mengikuti satu tindakan tanpa gerakan (misal, berikan itu padaku) : 10 bulan
- Berbicara kata yang sesungguhnya pertama kali : 12 bulan
- Bicara 4-6 kata : 15 bulan
- Berbicara 10-15 kata : 18 bulan
- Berbicara kalimat dua kata (contoh, sepatu mama) : 19 bulan
d. Kognitif
- Menatap sebentar pada titik kemana objek menghilang : 2 bulN
- Menatap pada tangannya sendiri : 4 bulan
- Membanting dua kubus : 8 bulan
- Menemukan mainan : 8 bulan
- Berpura-pura bermain egosentris (minum dengan cangkir) : 12 bulan
- Menggunakan batang untuk meraih mainan : 17 bulan
- Berpura-pura bermain dengan boneka : 17 bulan
Sumber :Ilmu Kesehatan Anak. Nelson. Vol.1. ed.15. EGC

11. Bagaimana tanda dari developmental delay?

4 domain

12. Penyebab ddevelopmental delay?


13. Apa saja yg dinilai dari milestone?
14. Apa pemeriksaan penunjang dari skenario?
 EEG
 Skrining gangguan perkembangan anak
 Analisis kromosom
 CT scan
 LCS
 Serum antibodi TORCH

15. Apa diagnosis dan diagnosis banding?

Developmental delay

16. Bagaimana tatalaksana dari skenario?

Terapi tergantung dg keluhan

Rujuk ke Sp tHT, saraf, mata

Dasar ilmu tumbuh kembang


TEORI TUMBUH KEMBANG ANAK

1. 1.      Sigmeun Freud (Perkembangan Psychosexual)


A. Fase oral (0 – 1 tahun)
Pusat aktivitas yang menyenagka di dalam mulutnya, anak mendapat kepuasaan saat mendapat ASI, kepuasan
bertambah dengan aktifitas mengisap jari dan tangannya atau benda – benda sekitarnya.
1. Fase anal (2 – 3 tahun)
Meliputi retensi dan pengeluaran feces. Pusat kenikmatanya pada anus saat BAB, waktu yang tepat untuk
mengajarkan disiplin dan bertanggung jawab.

1. Fase Urogenital atau faliks (usia 3 – 4 tahun)


Tertarik pada perbedaan antomis laki dan perempuan, ibu menjadi tokoh sentral bila menghadapi persoalan.
Kedekatan ank laki – laki pada ibunya menimbulkan gairah sexual dan perasaan cinta yang disebut oedipus
compleks.

1. Fase latent (4 – 5 tahun sampai masa pubertas )


Masa tenang tetapi anak mengalami perkembangan pesat aspek motorik dan kognitifnya. Disebut juga fase
homosexual alamiah karena anak – nak mencari teman sesuai jenis kelaminnya, serta mencari figur (role model)
sesuai jenis kelaminnya dari orang dewasa.

1. Fase Genitalia
Alat reproduksi sudah muali matang, heteroseksual dan mulai menjalin hubungan rasa cinta dengan berbeda
jenis kelamin.

1. 2.      Piaget (Perkembangan Kognitif)


Meliputi kemampuan intelegensi, kemampuan berpersepsi dan kemampuan mengakses informasi, berfikir
logika, memecahkan masalah kompleks menjadi simple dan memahami ide yang abstrak menjadi konkrit,
bagaimana menimbulkan prestasi dengan kemampuan yang dimiliki anak.

1. Tahap sensori – motor (0 – 2 tahun)


Prilaku anak banyak melibatkan motorik, belum terjadi kegiatan mental yang bersifat simbolis (berfikir). Sekitar
usia 18 – 24 bulan anak mulai bisa melakukan operations, awal kemampuan berfikir.

1. Tahap pra operasional (2 – 7 tahun)


Tahap pra konseptual (2 – 4 tahun) anak melihat dunia hanya dalam hubungan dengan dirinya, pola pikir
egosentris. Pola berfikir ada dua yaitu : transduktif ; anak mendasarkan kesimpulannya pada suatu peristiwa
tertentu (ayam bertelur jadi semua binatang bertelur) atau karena ciri – ciri objek tertentu (truk dan mobil sama
karena punya roda empat). Pola penalaran sinkretik terjadi bila anak mulai selalu mengubah – ubah kriteria
klasifikasinya. Misal mula – mula ia mengelompokan truk, sedan dan bus sendiri – sendiri, tapi kemudia
mengelompokan mereka berdasarkan warnanya, lalu berdasarkan besar – kecilnya dst. Tahap intuitif ( 4 – 7
tahun) Pola fikir berdasar intuitif, penalaran masih kaku, terpusat pada bagian bagian terentu dari objek dan
semata –mata didasarkan atas penampakan objek.

1. Tahap operasional konkrit (7 – 12 tahun)


Konversi menunjukan anak mampu menawar satu objek yang diubah bagaimanapun bentuknya, bila tidak
ditambah atau dikurangi maka volumenya tetap. Seriasi menunjukan anak mampu mengklasifikasikan objek
menurut berbagai macam cirinya seperti : tinggi, besar, kecil, warna, bentuk dst.

1. Tahap operasional – formal (mulai usia 12 tahun)


Anak dapat melakukan representasi simbolis tanpa menghadapi objek – objek yang ia fikirkan. Pola fikir
menjadi lebih fleksibel melihat persoalan dari berbagai sudut yang berbeda.

1. 3.      Erikson (Perkembangan Psikososial)


Proses perkembangan psikososial tergantung pada bagaimana individu menyelesaikan tugas perkembangannya
pada tahap itu, yang paling penting adalah bagaimana memfokuskan diri individu pada penyelesaian konflik
yang baik itu berlawanan atau tidak dengan tugas perkembangannya.

1. Trust vs. missstrust ( 0 – 1 tahun)


Kebutuhan rasa aman dan ketidakberdayaannya menyebabkan konflik basic trust dan mistrust, bila anak
mendapatkan rasa amannya maka anak akan mengembangkan kepercayaan diri terhadap lingkungannya, ibu
sangat berperan penting.

1. Autonomy vs shame and doubt ( 2 – 3 tahun)


Organ tubuh lebih matang dan terkoordinasi dengan baik sehingga terjadi peningkatan keterampilan motorik,
anak perlu dukungan, pujian, pengakuan, perhatian serta dorongan sehingga menimbulkan kepercayaan terhadap
dirinya, sebaliknya celaan hanya akan membuat anak bertindak dan berfikir ragu – ragu. Kedua orang tua objek
sosial terdekat dengan anak.

1. Initiatif vs Guilty (3 – 6 tahun)


Bila tahap sebelumnya anak mengembangkan rasa percaya diri dan mandiri, anak akan mengembnagkan
kemampuan berinisiatif yaitu perasaan bebas untuk melalukan sesuatu atas kehendak sendiri. Bila tahap
sebelumnya yang dikembangkan adalah sikap ragu-ragu, maka ia kan selalu merasa bersalah dan tidak berani
mengambil tindakan atas kehendak sendiri.

1. Industry vs inferiority (6 – 11 tahun)


Logika anak sudah mulai tumbuh dan anak sudah mulai sekolah, tuntutan peran dirinya dan bagi orang lain
semakin luas sehingga konflik anak masa ini adalah rasa mampu dan rendah diri. Bila lingkungan ekstern lebih
banyak menghargainya maka akan muncul rasa percaya diri tetapi bila sebaliknya, anak akan rendah diri.

1. Identity vs Role confusion ( mulai 12 tahun)


Anak mulai dihadapkan pada harapan – harapan kelompoknya dan dorongan yang makin kuat untuk mengenal
dirinya sendiri. Ia mulai berfikir bagaimana masa depannya, anak mulai mencari identitas dirinya serta
perannya, jiak ia berhasil melewati tahap ini maka ia tidak akan bingung menghadapi perannya

1. Intimacy vs Isolation (dewasa awal)


Individu sudah mulai mencari pasangan hidup. Kesiapan membina hubungan dengan orang lain, perasaan kasih
sayang dan keintiman, sedang yang tidak mampu melakukannya akan mempunyai perasaan terkucil atau
tersaing.

1. Generativy vs self absorbtion (dewasa tengah)


Adanya tuntutan untuk membantu orang lain di luar keluarganya, pengabdian masyarakat dan manusia pada
umumnya. Pengalaman di masa lalu menyebabkan individu mampu berbuat banyak untuk kemanusiaan,
khususnya generasi mendatang tetapi bila tahap – tahap silam, ia memperoleh banyak pengalaman negatif maka
mungkin ia terkurung dalam kebutuhan dan persoalannya sendiri.

1. Ego integrity vs Despair (dewasa lanjut)


Memasuki masa ini, individu akan menengok masa lalu. Kepuasan akan prestasi, dan tindakan-tindakan dimasa
lalu akan menimbbulkan perasaan puas. Bila ia merasa semuanya belum siap atau gagal akan timbul
kekecewaan yang mendalam.

1. 4.      Kohlberg (Perkembangan Moral)


A. Pra-konvensional
Mulanya ditandai dengan besarnya pengaruh wawasan kepatuhan dan hukuman terhadap prilaku anak. Penilaian
terhadap prilaku didasarkan atas akibat sikap yang ditimbulkan oleh prilaku. Dalam tahap selanjutnya anak
mulai menyesuaikan diri dengan harapan – harapan lingkungan untuk memperoleh hadiah, yaitu senyum, pujian
atau benda.

1. Konvensional
Anak terpaksa menyesuaikan diri dengan harapan lingkungan atau ketertiban sosial agar disebut anak baik atau
anak manis
1. Purna konvensional
Anak mulai mengambil keputusan baik dan buruk secara mandiri. Prinsip pribadi mempunyai peranan penting.
Penyesuaian diri terhadap segala aturan di sekitarnya lebih didasarkan atas penghargaannya serta rasa
hormatnya terhadap orang lain.

1. 5.      Hurolck (Perkembangan Emosi)


Menurut Hurlock, masa bayi mempunyai emosi yang berupa kegairahan umum, sebelum bayi bicara ia sudah
mengembangkan emosi heran, malu, gembira, marah dan takut. Perkembangan emosi sangat dipengaruhi oleh
faktor kematangan dan belajar. Pengalaman emosional sangat tergantung dari seberapa jauh individu dapat
mengerti rangsangan yang diterimanya. Otak yang matang dan pengalaman belajar memberikan sumbangan
yang besar terhadap perkembangan emosi, selanjutnya perkembngan emosi dipengaruhi oleh harapan orang tua
dan lingkungan.

1. 6.      Perkembangan Psikososial
Teori perkembangan ini dikemukakan oleh Sigmund Freud. Beliau mengemukakan bahwa : Di dalam jiwa
individu terdapat tiga komponen yaitu :

 Id : nangis, minta minum,makan, dll.


 Ego : lebih rasional, tetapi masa bodoh terhadap lingkungan.
 Super Ego : lebih memikirkan lingkungan.
Perkembangan berhubungan dengan bagian-bagian fungsi tubuh dan dipandang sebagai aktifitas yang
menyenangkan. Insting seksual memainkan peranan penting dalam perkembangan kepribadian. Menurut Freud
perkembangan manusia terjadi dalam beberapa fase dimana setiap fasenya mempunyai waktu dan ciri-ciri
tertentu dan fase ini berjalan secara kontinyu

Tujuan ilmu tumbuh kembang


1. Sebagai upaya untuk menjaga dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak baik fisik, mental
dan sosial
2. Menegakkan diagnosis dini setiap kelainan tumbuh kembang
3. Kemungkinan penanganan yang efektif
4. Mencari penyebab dan mencegahnya

, Sektor pekrembangan

, 4 domain

Tanda bahaya perkembangan motor kasar

1. Gerakan yang asimetris atau tidak seimbang misalnya antara anggota tubuh bagian kiri dan
kanan.

2. Menetapnya refleks primitif (refleks yang muncul saat bayi) hingga lebih dari usia 6 bulan

3. Hiper / hipotonia atau gangguan tonus otot

4. Hiper / hiporefleksia atau gangguan refleks tubuh

5. Adanya gerakan yang tidak terkontrol

Tanda bahaya gangguan motor halus

1. Bayi masih menggenggam setelah usia 4 bulan

2. Adanya dominasi satu tangan (handedness) sebelum usia 1 tahun


3. Eksplorasi oral (seperti memasukkan mainan ke dalam mulut) masih sangat dominan setelah
usia 14 bulan

4. Perhatian penglihatan yang inkonsisten

Tanda bahaya bicara dan bahasa (ekspresif)

1. Kurangnya kemampuan menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikan terhadap suatu


benda pada usia 20 bulan

2. Ketidakmampuan membuat frase yang bermakna setelah 24 bulan

3. Orang tua masih tidak mengerti perkataan anak pada usia 30 bulan

Tanda bahaya bicara dan bahasa (reseptif)

1. Perhatian atau respons yang tidak konsisten terhadap suara atau bunyi, misalnya saat
dipanggil tidak selalu member respons

2. Kurangnya join attention atau kemampuan berbagi perhatian atau ketertarikan dengan
orang lain pada usia 20 bulan

3. Sering mengulang ucapan orang lain (membeo) setelah usia 30 bulan

Tanda bahaya gangguan sosio-emosional

1. 6 bulan: jarang senyum atau ekspresi kesenangan lain

2. 9 bulan: kurang bersuara dan menunjukkan ekspresi wajah

3. 12 bulan: tidak merespon panggilan namanya

4. 15 bulan: belum ada kata

5. 18 bulan: tidak bisa bermain pura-pura

6. 24 bulan: belum ada gabungan 2 kata yang berarti

7. Segala usia: tidak adanya babbling, bicara dan kemampuan bersosialisasi / interaksi

Tanda bahaya gangguan kognitif

1. 2 bulan: kurangnya fixation

2. 4 bulan: kurangnya kemampuan mata mengikuti gerak benda

3. 6 bulan: belum berespons atau mencari sumber suara

4. 9 bulan: belum babbling seperti ‘mama’, ‘baba’

5. 24 bulan: belum ada kata berarti

6. 36 bulan: belum dapat merangkai 3 kata

, milestone perkembangan, developmental delay,

cara penilaian dan assesment developmental delay termasuk jenis alat (milestorne)

Sebagian besar anak dengan masalah perkembangan tidak menunjukan gejala yang jelas sehingga
tidak terdiagnosis kalau hanya menggunakan milestone perkembangan saja. Pemantauan
perkembangan anak dapat dilakukan dengan survailance perkembangan (menggunakan milestone
perkembangan tetapi dilakukan secara berkelanjutan) maupun skrening perkembangan dengan
mengunakan intrumen yang telah tervalidasi.

Skrining perkembangan adalah suatu proses pemeriksaan anak untuk mengindentifikasi apakah
mereka memerlukan penilaian lebih lanjut. Hal ini untuk mencari atau mengkatagorikan adanya
kecurigaan gangguan perkembangan. Skrining perkembangan harus menggunakan alat/instrumen
yang dapat dipercaya serta penilaiannya meliputi seluruh domain perkembangan yaitu motorik halus
dan kasar, bahasa, personal sosial, dan kognitif. Instrumen skrening perkembangan ada yang diisi
oleh orang tua-pengasuh, misalkan PEDS’ maupun yang harus dilakukan oleh tenaga profesional
yang telah terlatih, misalkan Denver II.

PEDS’ merupakan salah satu alat skrining yang telah tervalidasi, dan telah dilakukan
ditercemahkan dan diadaptasi dalam bahasa Indonesia, yang dapat digunakan untuk mendeteksi
adanya masalah perkembangan dan perilaku, dengan hasil apakah anak tanpa resiko, resiko
rendah dan resiko tinggi mengalami gangguan perkembangan dan perilaku. Test ini berisi 10 item
pertanyaaan tentang cara belajar-perkembangan; bahasa reseptif; bahasa ekpresif; motorik halus;
motorik kasar; perilaku; sosial; kemandirian; belajar dan masalah kesehtan umum. Test ini dapat
digunakan pada anak sejak lahir usia sampai 8 tahun.

Denver II merupakan salah satu test skrening perkembangan umum yang meliputi 4 domain:
motorik kasar, motorik halus-adaptif; bahasa dan personal-sosial, yang telah tervalidasi dan harus
dilakukan tenaga profesional terlatih. Test ini dapat digunakan untuk anak usia 0-6 tahun, dengan
hasil normal, curiga adanya gangguan perkembangan atau tidak dapat ditest, sehingga dapat
ditentukan apakah anak hanya perlu pemantauan, pemeriksaan ulangan atau dirujuk untuk
pemeriksaan selanjutnya.

dan deteksi dini (KPSP),

PP untuk deteksi dini dD

Berbagai metode skrining yang lebih mutakhir dan global untuk deteksi dini gangguan
bicara juga dikembangkan dengan menggunakan alat bantu atau panduan skala khusus,
misalnya: menggunakan DDST (Denver Developmental Screening Test – II), Child
Development Inventory untuk menilai kemampuan motorik kasar dan motorik halus, Ages
and Stages Questionnaire, Parent’s Evaluations of Developmental Status.Serta dapat
menggunakan alat-alat skrining yang lebih Spesifik dan khusus yaitu ELMS (Early
Language Milestone Scale) dan CLAMS (Clinical Linguistic and Milestone Scale) yang
dipakai untuk menilai kemampuan bahasa ekspresif, reseptif, dan visual untuk anak di bawah
3 tahun.10,11

, DD dari DD

retardasi mental, palsi serebral, Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan
Autism Spectrum Disorder (ASD).12
2.8.1 Retardasi Mental
Suatu keadaan yang dimulai saat masa anak-anak yang ditandai dengan keterbatasan
dalam intelegensi dan kemampuan adaptasi. Menurut kriteria DSM-IV, retardasi mental
adalah fungsi intelektual yang di bawah rata-rata, terdapat gangguan fungsi adaptasi, onset
sebelum umur 18 tahun. Untuk mengetahui adanya gangguan fungsi intelegensi, digunakan
tes IQ (akurat diatas umur 5 tahun), dengan klasifikasi hasil:
a. Ringan , yaitu IQ 50-70
b. Sedang, yaitu IQ 40-50
c. Berat, yaitu IQ 20-40
d. Sangat berat, yaitu IQ <20
2.8.2 Palsi Serebral atau Cerebral palsy (CP)
Membedakan antara CP dengan KPG, pada CP, ada tiga faktor resiko awal yaitu bayi
lahir prematur (semakin kecil usia, semakin tinggi faktor risiko), bayi lahir dengan
ensefalopati sedang hingga berat (semakin berat keluhan semakin berat risiko), dan bayi yang
lahir dengan faktor risiko paling ringan. Dua faktor risiko awal tersebut harus ditunjang
dengan MRI untuk melihat gambaran otak. Bila terdapat gangguan bahasa, penglihatan,
pendengaran dan epilepsi, dapat dicurigai hal tersebut adalah suatu gambaran CP. Selain itu,
diagnosis palsi serebral dapat dilakukan berdasarkan kriteria Levine (dikutip dari
Soetjiningsih, 19957), yaitu pola gerak dan postur; pola gerak oral; strabismus; tonus otot;
evolusi reaksi postural dan kelainannya yang mudah dikenal; refleks tendon, primitif dan
plantar.

2.8.3 Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)


ADHD merupakan suatu gangguan yang terjadi sangat awal dari kelahiran bayi, yang
dinamis, serta tergantung dengan perkembangan korteks. Tanda ADHD yaitu development
delay, nilai akademik yang rendah, serta permasalahan sosial. Penggunaan milestones pada
tahun ke-3 mudah mengarahkan diagnosis ADHD.
2.8.4 Autism Spectrum Disorder (ASD)
Tanda awal untuk membedakan antara ASD dengan KPG. Beberapa kata kunci adalah
gangguan bersosial. Pada tahun pertama akan sulit membedakan antara ASD dengan KPG,
yaitu ciri tidak berespon ketika nama dipanggil, afek kurang, berkurangnya interaksi sosial,
dan sulit untuk tersenyum. Pada tahun kedua dan ketiga, bahasa tubuh yamg tidak lazim dan
sangat ekspresif. Perilaku lain yakni motorik, sensorik dan beberapa domain lain.
, intervensi dini/tatalaksana kasus penyimpangan

Penatalaksanaan
Pengobatan bagi anak-anak dengan KPG hingga saat ini masih belum ditemukan. Hal itu
disebabkan oleh karakter anak-anak yang unik, dimana anak-anak belajar dan berkembang
dengan cara mereka sendiri berdasarkan kemampuan dan kelemahan masing-masing.
Sehingga penanganan KPG dilakukan sebagai suatu intervensi awal disertai penanganan pada
faktor-faktor yang beresiko menyebabkannya. Intervensi yang dilakukan, antara lain6,9,12:
1. Speech and Language Therapy
Speech and Language Therapy dilakukan pada anak-anak dengan kondisi CP, autism,
kehilangan pendengaran, dan KPG. Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
berbicara, berbahasa dan oral motoric abilities. Metode yang dilakukan bervariasi
tergantung dengan kondisi dari anak tersebut. Salah satunya, metode menggunakan jari,
siulan, sedotan atau barang yang dapat membantu anak-anak untuk belajar
mengendalikan otot pada mulut, lidah dan tenggorokan. Metode tersebut digunakan pada
anak-anak dengan gangguan pengucapan. Dalam terapi ini, terapis menggunakan alat-alat
yang membuat anak-anak tertarik untuk terus belajar dan mengikuti terapi tersebut.
2. Occupational Therapy
Terapi ini bertujuan untuk membantu anak-anak untuk menjadi lebih mandiri dalam
menghadapi permasalahan tugasnya. Pada anak-anak, tugas mereka antara bermain,
belajar dan melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi, memakai pakaian, makan, dan
lain-lain. Sehingga anak-anak yang mengalami kemunduran pada kemampuan kognitif,
terapi ini dapat membantu mereka meningkatkan kemampuannya untuk menghadapi
permasalahannya.
3. Physical Therapy
Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar dan halus,
keseimbangan dan koordinasinya, kekuatan dan daya tahannya. Kemampuan motorik
kasar yakni kemampuan untuk menggunakan otot yang besar seperti berguling,
merangkak, berjalan, berlari, atau melompat. Kemampuan motorik halus yakni
menggunakan otot yang lebih kecil seperti kemampuan mengambil barang. Dalam terapi,
terapis akan memantau perkembangan dari anak dilihat dari fungsi, kekuatan, daya tahan
otot dan sendi, dan kemampuan motorik oralnya. Pada pelaksanaannya, terapi ini
dilakukan oleh terapi dan orang-orang yang berada dekat dengan anak tersebut. Sehingga
terapi ini dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
4. Behavioral Therapies
Anak-anak dengan delay development akan mengalami stress pada dirinya dan memiliki
efek kepada keluarganya. Anak-anak akan bersikap agresif atau buruk seperti melempar
barang-barang, menggigit, menarik rambut, dan lain-lain. Behavioral therapy merupakan
psikoterapi yang berfokus untuk mengurangi masalah sikap dan meningkatkan
kemampuan untuk beradaptasi. Terapi ini dapat dikombinasikan dengan terapi yang lain
dalam pelaksanaanya. Namun, terapi ini bertolak belakang dengan terapi kognitif. Hal itu
terlihat pada terapi kognitif yang lebih fokus terhadap pikiran dan emosional yang
mempengaruhi sikap tertentu, sedangkan behavioural therapy dilakukan dengan
mengubah dan mengurangi sikap-sikap yang tidak diinginkan. Beberapa terapis
mengkombinasikan kedua terapi tersebut, yang disebut cognitive-behavioural therapy.