Anda di halaman 1dari 7

TINDAKAN KEPERAWATAN KELUARGA

BAB I
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pendidikan Kesehatan pada Keluarga

Pendidikan kesehatan merupakan salah satu kompetensi yang dituntut dari tenaga
keperawatan karena merupakan salah satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap
memberikan asuhan keperawatan di mana saja ia bertugas, apakah itu terhadap individu,
keluarga, kelompok, dan masyarakat (Effendy, 1998). Pendidikan kesehatan adalah suatu
usaha atau kegiatan untuk membantu individu, keluarga, dan masyarakat dalam
meningkatkan kemampuannya untuk mencapai kesehatan secara optimal (Notoatmodjo, 1993
[seperti] dikutip oleh Digilib USU, 2010). Pendidikan kesehatan erat kaitannya dengan
penyuluhan kesehatan dan berorientasi pada perubahan perilaku seseorang. Pendidikan
kesehatan tidak hanya bertujuan untuk membangun atau mengembangkan kesadaran diri
dengan berdasarkan pengetahuan kesehatan. Lebih dari itu, pendidikan kesehatan bertujuan
untuk membangun perilaku kesehatan individu dan masyarakat (Asmadi, 2008).
Pendidikan kesehatan mempunyai peranan penting dalam mengubah dan menguatkan
faktor perilaku (predisposisi, pendukung, dan pendorong) sehingga menimbulkan perilaku
positif dari masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku, pendidikan kesehatan, dan
status kesehatan memiliki pola hubungan yang saling berpengaruh satu sama lain (Green,
1980 [seperti] dikutip oleh Heri, 2007).
Suatu pendidikan kesehatan dalam keluarga secara umum memiliki tujuan untuk
mengubah perilaku individu dan masyarakat di bidang kesehatan. Menurut WHO (1954),
tujuan pendidikan kesehatan adalah untuk merubah perilaku orang atau masyarakat dari
perilaku tidak sehat menjadi perilaku sehat. Tercapainya perubahan perilaku individu,
keluarga, dan masyarakat dalam memelihara perilaku sehat dan mengupayakan derajat
kesehatan yang optimal merupakan tujuan pokok penkes. Secara lebih rinci tujuan pendidikan
kesehatan disebutkan oleh azwar (1983) dalam suryani (2009) menjadi tiga macam, yaitu:
a. Perilaku yang menjadikan kesehatan sebagai suatu yang bernilai di masyarakat.
Dengan demikian kader kesehatan mempunyai tanggung jawab di dalam penyuluhannya
mengarahkan kepada keadaan bahwa cara-cara hidup sehat menjadi kebiasaan hidup
masyarakat sehari-hari.
b. Secara mandiri mampu menciptakan perilaku sehat bagi dirinya sendiri maupun
menciptakan perilaku sehat di dalam kelompok. Itulah sebabnya dalam hal ini pelayanan
kesehatan dasar (phc) diarahkan agar dikelola sendiri oleh masyarakat, dalam hal bentuk
yang nyata adalah pkmd, satu contoh pkmd adalah posyandu. Seterusnya dalam kegiatan ini
diharapkan adanya langkah-langkah mencegah timbulnya penyakit.
c. Mendorong berkembangnya dan penggunaan sarana pelayanan kesehatan yang ada
secara tepat. Ada kalanya masyarakat memanfaatkan sarana kesehatan yang ada secara
berlebihan. Sebaliknya sudah sakit belum pula menggunakan sarana kesehatan yang ada
sebagaimana mestinya.
Pendidikan kesehatan juga memiliki aspek penting yang salah satu diantaranya adalah
komunikasi. Cara berkomunikasi yang digunakan dalam pendidikan kesehatan akan
mempengaruhi hasil dalam memberikan pendidikan kesehatan pada seseorang. Komunikasi
kesehatan masyarakat telah bergeser dari strategi yang sebagian demi sebagian (piecemeal
strategies) ke proses yang menyeluruh berdasarkan atas penelitian dan perencanaan yang
berfokuskan pada konsumen (Rasmuson, 1988 [seperti] dikutip oleh Machfoedz & Suryani,
2008). Tujuan komunikasi kesehatan masyarakat adalah menumbuhkan perubahan perilaku
yang berkaitan dengan kesehatan dan berpacu pada peningkatan derajat kesehatan. Hal ini
sejalan dengan tujuan pendidikan kesehatan menurut WHO.
Pendidikan kesehatan tidak dilakukan secara serta merta tanpa persiapan atau
perencanaan khusus. Perencanaan menjadi langkah awal penentu dalam sukses atau tidaknya
sebuah program. Bagian dari perencanaan kesehatan adalah mengidentifikasi aspek perilaku
yang menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan kemudian dilanjutkan dnegan
pengambilan langkah-langkah lain yang harus ditempuh sebagai bentuk pelaksanaan tindak
lanjut dari perencanaan. Setelah melakukan perencanaan dan pelaksanaan dalam pendidikan
kesehatan, pemberi pendiidkan kesehatan perlu mengadakan penilaian. Dengan adanya
penilaian, maka kita akan dapat mengetahui hasil pekerjaan kita, yang akan dapat melihat
kekurangannya sejauh mana hasil kemajuan dari sistem pendidikan kesehatan yang telah
diterapkan untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut (Machfoedz & Suryani, 2008).
Secara umum pendidikan kesehatan memiliki tiga sasaran kelompok, yaitu pendidikan
kesehatan individual dengan sasaran individu, pendidikan kesehatan kelompok dengan
sasaran kelompok dan pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat.
Meskipun berbeda, tujuan yang ingin dicapai dari ketiga sasaran itu serupa, berupa
perubahan sikap dan perilaku individu kelompok, atau pun masyarakat agar menjadi lebih
baik.
Pendidikan kesehatan yang baik harus dilakukan secara terstruktur agar tujuan dapat
dicapai dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan langkah yang sistematis. Langkah yang dapat
ditempuh dalam suatu pedidikan kesehatan antara lain:
a. Tahap sensitisasi
Tahap pertama berisi pemberian informasi mengenai masalah kesehatan, pengetahuan
kesehatan, serta fasilitas kesehatan yang ada. Namun demikian pada tahap ini belum
merujuk pada perubahan perilaku.
b. Tahap publisistas
Melanjutkan tahap yang pertama dengan fokus pada publikasi layanan kesehatan.
c. Tahap edukasi
Tahap ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap menjadi apa
yang diinginkan, metode yang sesuai dengan proses belajar dan mengajar.
d. Tahap motivasi
Diharapkan pada tahap ini masyarakat dapat merubah perilaku dan melanjutkan hal
tersebut.

Pendidikan Kesehatan keluarga berfokus pada fungsi keluarga yang sehat dalam
perspektif sistem keluarga dan memberikan pendekatan terutama pencegahan . Keterampilan
dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk berfungsi secara sehat secara luas dikenal:
keterampilan komunikasi yang kuat, pengetahuan tentang perkembangan khas manusia,
keterampilan membuat keputusan yang baik, positif harga diri ,dan hubungan interpersonal
yang sehat. Tujuan pendidikan kehidupan keluarga adalah untuk mengajar dan
mengembangkan pengetahuan dan keterampilan ini untuk memungkinkan individu dan
keluarga untuk berfungsi optimal .

Pendidikan kesehatan keluarga mempertimbangkan isu-isu sosial termasuk ekonomi,


pendidikan, masalah kerja keluarga, orangtua, seksualitas, gender dan lainnya dalam konteks
keluarga. Mereka percaya bahwa masalah sosial seperti penyalahgunaan zat, kekerasan dalam
rumah tangga, pengangguran, hutang, dan kekerasan terhadap anak dapat lebih efektif
ditangani dari perspektif yang menganggap individu dan keluarga sebagai bagian dari sistem
yang lebih besar. Pengetahuan tentang fungsi keluarga yang sehat dapat diterapkan untuk
mencegah atau meminimalkan banyak masalah ini.
Tingkat pencegahan dalam keluarga
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer merupakan aktivitas yang dilakukan untuk mencegah
penyakit, ketidakmampuan dan cedera. Pencegahan primer melibatkan peningkatan
kesehatan melalui penyuluhan kesehatan dengan penekanan pada pembentukan gaya
hidup sehat guna meningkatkan tingkat fungsional optimal (seperti nutrisi, latihan,
tiur, rekreasi, relaksasi, tidak menggunakan alkohol, tembakau, dan obat-obatan),
pembentukan kepribadian yang sehat, konseling, dan pembentukan lingkungan sosial
yang sehat (Hitchcook, Stubert & Thomas, 1999). Pencegahan primer meningkatkan
dan mempertahankan kesehatan keluarga.
Pencegahan primer berdampak dalam peningkatan promosi kesehatan di
keluarga, peningkatan kesehatan keluarga menyeluruh untuk setiap anggota keluarga.
Promosi kesehatan di desain agar dapat berkontribusi dalam pertumbuhan, perluasan
atau menghasilkan yang terbaik bagi kesehatan. promosi kesehatan hal yang positif,
proses dinamis berfokus pada peningkatan kualitas hidup dan perbaikan, bukan
semata-mata menghindar dari penyakit (Pender, Carolyn & Mary, 2002).
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder adalah aktivitas yang berhubungan dengan deteksi dini
dan treatmen. Fokus pencegahan ini adalah dengan melakukan skrining untuk
mendeteksi penyakit pada fase awal.
3. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier merupakan aktivitas yang dilakukan untuk mencegah
penyakit tidak bertambah parah (kronis) dan tidak menimbulkan ketidakmampuan
pada individu. Pencegahan tersier dapat dilakukan dengan melakukan rehabilitasi
kepada individu yang meliputi rehabilitasi fisik, psikis, dan spiritual (Hitchcook,
Stubert & Thomas, 1999).
Tujuan keperawatan keluarga
Tujuan umum keperawatan keluarga adalah meningkatkan kesadaran,
keinginan, dan kemampuan keluarga dalam meningkatkan, mencegah, memelihara
kesehatan mereka sampai pada tahap yang optimal dan mampu melaksanakan tugas-
tugas mereka secara produktif.
Tujuan khususnya adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan
kemampuan keluarga dalam hal
1. Mengidentifikasi masalah yang mereka hadapi
2. Mengambil keputusan tentang siapa/kemana dan bagaiman pemecahan masalah
3. Meningkatkan mutu kesehatan keluarga
4. Mencegah terjadinya penyakit
5. Melaksanakan usaha penyembuhan
6. Melaksanakan usaha rehabilitasi penderita melalui asuhan keperawatan
7. Membantu tenaga profesional dalam menanggulangi masalah.
Peran adalah pola tingkah laku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki suatu
jabatan atau pelaksana satu pekerjaan yang pantas dilakukan oleh orang tersebut. Dalam
meningkatkan kemampuannya menyelesaikan masalah kesehatan, perawat dapat berperan
dalam keperawatan keluarga sebagai:
1. Pemantau kesehatan (health monitor).
Perawat membantu keluarga mengenali penyimpangan kesehatan dengan
menganalisis data secara objektif serta membuat keluarga sadar tentang masalah di
keluarga.
2. Pemberi asuhan keperawatan pada anggota keluarga yang sakit.
3. Koordinator perawatan kesehatan keluarga.
4. Fasilitator
Perawat dapat meningkirkan rintangan yang menghambat perawatan kesehatan
keluarga.
5. Pendidilk
Perawat harus mampu memberi pendidikan pada klien agar mampu mengatasi
masalahnya sendiri.
6. Penasehat
Dengan komunikasi yang baik, keluarga akan berani meminta nasehat perawat dan
perawat akan memberi nasehat yang benar.
e. Merawat anggota Keluarga Yang Sakit
peran dan fungsi keluarga dalam teori sistem salah satunya adalah sebagai pemberi
perawatan (Care giver) pada anggota keluarga yang sakit. ( Smith, Greenberg, Seltzer,
2007) Lim dan Zebrack (2004) menyatakan bahwa konsep normalisasi pada keluarga yang
memiliki anggota keluarga dengan penyakit kronis dilakukan dengan merubah gaya hidup
yaang mendukung proses pengobatan. Kegiatan – kegiatan tersebut antara lain melakukan
pemeriksaan rutin, manajemen perawatan diri, perawatan perubahan pola makan, aktivitas
fisik dan memaksimalkan dukungan emosional dilakukan untuk memberi kenyamanan.
Keperawatan keluarga merupakan tingkat pelayanan kesehatan masyarakat yang dipusatkan
pada keluarga sebagai unit kesatuan dengan tujuan pelayanan dan perawatann sebagai upaya
pencegahan penyakit. Keluarga mendapatkan dukungan dari lingkungan sosialnya yang
mengalami tingkat stres yang lebih rendah dari pada yang tidak mendapatkan dukungan
sosial.hal ini menggambarkan bahwa pentingnya peran perawat sebagai konselor untuk
mengarahkan keluarga dalam menggunakan strategi koping yang positif.
f. Pemberdayaan keluarga
Pemberdayaan adalah sebuah proses dengan mana orang menjadi cukup kuat untuk
berpartisipasi dalam, berbagi pengontrolan atas, dan mempengaruhi terhadap, kejadian-
skejadian serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan
menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang
cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi
perhatiannya (Parsons, et al., 1994:106).

Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan


lemah, untuk (a) memiliki akses terhadap sumber-sumber produktif yang memungkinkan
mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-baran dan jasa-jasa yang
mereka perlukan; dan (b) berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan
yang mempengaruhi mereka.

g. Evaluasi asuhan keperawatan keluarga

Evaluasi adalah aktivitas yang direncanakan, berkelanjutan, dan terarah ketika klien
dan professional kesehatan menentukan kemajuan klien menuju pencapaian tujuan atau
hasil keefektifan rencana asuhan keperawatan dengan tindakan intelektual dalam
melengkapi proses keperawatan yang menandakan keberhasilan untuk diagnosa
keperawatan, rencana intervensi dan implementasinya. Tahap evalausi memungkinkan
perawat dalam memonitor apa yang terjadi selama pengkajian, analisis, perencanaan dan
implementasi intervensi (Nursalam, 2008).