Anda di halaman 1dari 38

PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tumor mammae merupakan kelainan mammae yang sering terjadi pada

wanita.Tumor terbagi memjadi dua, tumor jinak dan tumor ganas.Tumor jinak memiliki

ciri-ciri tumbuh secara terbatas, memiliki selubung, tidak menyebar dan bila dioperasi

dapat dikeluarkan secara utuh sehingga dapat sembuh sempurna, sedangkan tumor

ganas memiliki ciri-ciri yaitu dapat menyusup ke jaringan sekitarnya, dan sel kanker

dapat ditemukan pada pertumbuhan tumor tersebut. Fibroadenoma merupakan tumor

jinakyang sering ditemukan, pada kelainan ini terjadi pertumbuhan jaringan ikat

maupun kelenjar, yang banyak ditemukan pada wanita usia muda 10-30

tahun(www.depkes.go.id).Di seluruh dunia 8,2 juta orang meninggal dunia setiap tahun

akibat kanker. Diperkirakan pada tahun 2025 jumlah orang meninggal dunia akibat

kanker meningkat menjadi 11,5 juta bila tidak dilakukan upaya pencegahan dan

pengendalian yang efektif. Berdasarkan estimasi Globocan, International Agency for

Research on Cancer (IARC) tahun 2012, kanker mammaeadalah kanker dengan

persentase kasus baru tertinggi (43,3%) dan persentase kematian tertinggi (12,9%) pada

perempuan di dunia. Di Indonesia berdasarkan data sensus tahun 2014- 2015 jumlah

penduduk Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa. Selain itu BPS menunjukkan dari total

tersebut penduduk laki-laki mencapai 128,1 jutajiwa dan perempuan sebanyak 126, 8

juta jiwa. Ketua Yayasan Kanker MammaeIndonesia (YLKPI), Linda Gumelar

mengatakan kanker mammaemerupakan jenis kanker tertinggi pada klien rawat inap

maupun rawat jalan di seluruh RS di Indonesia. Pada tahun 2010 jumlah klien kanker

mammae28,7 persen dari total penderita kanker. Secara umum prevalensi penyakit

kanker di Indonesia cukup tinggi.

Page 1 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

Menurut data riset Kesehatan Dasar 2013 prevalensi kanker di Indonesia

adalah 1,4% dari 1000 penduduk atau sekitar 347.000 orang. Di Indonesia kasus baru

kanker mammaemenjadi kasus kematian tertinggi dengan angka 21,5% pada setiap

100.000 penduduk, sekitar 70% kasus klien kanker mammae baru datang ke fasilitas

kesehatan pada stadiumlanjut.

Di RSUD Arosuka pada tahun 2020sepanjang bulan Januari sampai Februari

dari jumlah operasi sebanyak 109 kasus, 10 diantaranya adalah operasi tumor

mammae.Ini termasuk dalam 10 besar kasus terbanyak di RSUD Arosuka.

Dengan semakin banyaknya kasus tumor mammae maka penting bagi kita

sebagai perawat untuk dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif.

Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan di atas penulis ingin menyusun seminar kasus

yang berjudul Asuhan Keperawatan Pada Klien Nn. Y dengan Post Op Tumor

Mammae Bilateral Di Ruang Bedah RSUD Arosuka.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Melakukan asuhan keperawatan pada klien Nn. Y dengan Tumor Mammae di Ruang

Bedah RSUD Arosuka.

2. Tujuan Khusus

Melakukan pengkajiankepada klien Nn. Y dengan Tumor Mammae Bilateral

a. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien Nn. Y dengan Tumor Mammae

Bilateral

b. Menyusun rencana asuhan keperawatan pada klien Nn. Y dengan Tumor

Mammae Bilateral

c. Melakukan tindakan keperawatan, evaluasi tindakan dan evaluasi hasil pada klien

Nn. Y dengan Tumor Mammae Bilateral

Page 2 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar TumorMammae

1. Defenisi

Tumor mammae adalah adalah karsinoma yang berasal dari parenkim, stroma,

areola dan papilla mammae (Lab. UPF Bedah RSDS, 2010).Tumor mammae

adalah gangguan dalam pertumbuhan sel normal mammae di mana sel abnormal

timbul dari sel-sel normal, berkembangbiak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan

pembuluh darah. (Kusuma,2015).

2. Etiologi

Menurut Iskandar (2010) sampai saat ini,penyebabpastitumor mammae belum

diketahui. Namun, ada beberapa faktor resiko yang telah teridentifikasi, yaitu:

a. Jenis kelamin

Wanita lebih beresiko menderita tumor mammae dibandingkan dengan

pria.Prevalensi tumor mammae pada pria hanya 1% dari seluruh tumor

mammae.

b. Riwayatkeluarga

Wanita yang memiliki keluarga tingkat satu penderita tumor mammae beresiko

tiga kali lebih besar untuk menderita tumor mammae.

c. Faktor genetik

Mutasi gen BRCA1 pada kromosom 17 dan BRCA2pada kromosom 13 dapat

meningkatkan resiko tumor mammae sampai 85%. Selainitu, gen p53,

BARD1, BRCA3, dan noey2 juga diduga meningkatkan resiko terjadinya

kanker mammae.

Page 3 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

d. Faktorusia

Resiko tumor mammae meningkat seiring dengan pertambahan usia.

e. Faktorhormonal

Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif, terutama jika tidak

diselingi oleh perubahan hormon akibat kehamilan, dapat meningkatkan resiko

terjadinya tumor mammae.

f. Usia saat kehamilanpertama

Hamil pertama pada usia 30 tahun beresiko dua kali lipat dibandingkan dengan

hamil pada usia kurang dari 20 tahun.

g. Terpaparradiasi

h. Intakealkohol

i. Pemakaian kontrasepsioral

Pemakaian kontrasepsi oral dapat meningkatkan resiko tumor mammae.

Penggunaan pada usia kurang dari 20 tahun beresiko lebih tinggi dibandingkan

dengan penggunaan pada usia lebih tua.

3. Patofisiologi

Tumor merupakan kelompok sel yang berubah dengan ciri-ciri: proliferasi sel

yang berlebihan dan tidak berguna yang tidak mengikuti pengaruh struktur jaringan

sekitarnya.Neoplasma yang maligna terdiri dari sel-sel kanker yang menunjukkan

proliferasi yang tidak terkendali yang mengganggu fungsi jaringan normal dengan

menginfiltrasi dan memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ

yang jauh. Di dalam sel tersebut terjadi perubahan secara biokimia terutama dalam

intinya.Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel di mana telah terjadi

transformasi maligna dan berubah menjadi sekelompok sel-sel ganas di antar sel-sel

normal.

Page 4 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase:

a. Fase induksi: 15-30tahun

Sampai saat ini belum dipastikan sebab terjadinya kanker, tapi faktor lingkungan

mungkin memegang peranan besar dalam terjadinya kanker pada manusia.Kontak

dengan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun samapi bisa merubah

jaringan displasi menjadi tumor ganas.Hal ini tergantung dari sifat, jumlah, dan

konsentrasi zat karsinogen tersebut, tempat yang dikenai karsinogen, lamanya

terkena, adanya zat-zat karsinogen atau ko- karsinogen lain, kerentanan jaringan

dan individu.

b. Fase in situ: 1-5tahun

Pada fase ini perubahan jaringan muncul menjadi suatu lesi pre- cancerous yang

bisa ditemukan di serviks uteri, rongga mulut, paru- paru, saluran cerna, kandung

kemih, kulit dan akhirnya ditemukan di mammae.

c. Faseinvasi

Sel-sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi melalui membrane sel

ke jaringan sekitarnya ke pembuluh darah serta limfe. Waktu antara fase ke 3 dan

ke 4 berlangsung antara beberapa minggu sampai beberapa tahun.

d. Fase diseminasi: 1-5tahun

Bila tumor makin membesar maka kemungkinan penyebaran ke tempat-tempat

lain bertambah.

4. Tanda danGejala

Penemuan tanda-tanda dan gejala sebagai indikasi tumor mammae masih sulit

ditemukan secara dini.Kebanyakan dari kanker ditemukan jika sudah teraba, biasanya

oleh wanita itu sendiri.

a. Terdapat massa utuh (kenyal) biasanya pada kuadran atas dan bagian dalam, di

bawah lengan, bentuknya tidak beraturan dan terfiksasi (tidak dapatdigerakkan).

b. Nyeri pada daerah massa

Page 5 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

c. Adanya lekukan ke dalam/dimping, tarikan dan retraksi pada area

mammae.Dimpling terjadi karena fiksasi tumor pada kulit atau akibat distorsi

ligamentum cooper. Cara pemeriksaan: kulit areamammae dipegang antara ibu jari

dan jari telunjuk tangan pemeriksa lalu didekatkan untuk menimbulkan dimpling.

d. Edema dengan Peaut d’orange skin (kulit di atas tumor berkeriput seperti

kulitjeruk)

e. Pengelupasan papillamammae

f.Adanya kerusakan dan retraksi pada area putting susu serta keluarnya cairan secara

spontan kadang disertaidarah.

g. Ditemukan lesi atau massa pada pemeriksaanmamografi.

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratoriummeliputi:

1) Morfologi seldarah

2) Laju endapdarah

3) Tes faalhati

4) Tes tumor marker (carsino Embrionyk Antigen/CEA) dalam serum atauplasma

b. Pemeriksaansitologik

Pemeriksaan ini memegang peranan penting pada penilaian cairan yang

keluarspontan dari putting mammae, cairan kista atau cairan yang keluar

dariekskoriasi.

c. Mammagrafi

Pengujian mammae dengan menggunakan sinar untuk mendeteksi secara

dini.Memperlihatkan struktur internal mammae untuk mendeteksi kanker yang

tidak teraba atau tumor yang terjadi pada tahap awal.Mammografi pada masa

menopause kurang bermanfaat karena gambaran kanker di antara jaringan kelenjar

kurang tampak.

Page 6 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

d. Ultrasonografi

Biasanya digunakan untuk mendeteksi luka-luka pada daerah padat pada mammae

ultrasonography berguna untuk membedakan tumor sulit dengan kista. Kadang-

kadang tampak kista sebesar sampai 2 cm.

e. Thermography

Mengukur dan mencatat emisi panas yang berasal dari mammae atau

mengidentifikasi pertumbuhan cepat tumor sebagai titik panas karena peningkatan

suplai darah dan penyesuaian suhu kulit yang lebih tinggi.

f.Xerodiography

Memberikan dan memasukkan kontras yang lebih tajam antara pembuluh-

pembuluh darah dan jaringan yang padat. Menyatakan peningkatan sirkulasi sekitar

sisi tumor.

g. Biopsi

Untuk menentukan secara menyakinkan apakah tumor jinak atauganas, dengan cara

pengambilan massa. Memberikan diagnosa definitif terhadap massa dan berguna

sebagai klasifikasi histologi, pentahapan dan seleksi terapi.

h. CT-Scan

Dipergunakan untuk diagnosis metastasis carsinoma mammae pada organ lain.

i. Pemeriksaanhematologi

Yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada peredaran darah

dengan sendimental dan sentrifugis darah.

6. Penatalaksanaan

Ada beberapa penanganan tumor mammae, antara lain:

a. Mastektomi

Mastektomi adalah operasi pengangkatan mammae. Ada 3 jenis mastektomi,yaitu:

Page 7 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

1) Modified radical mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh mammae,

jaringan mammae di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga serta benjolan

di sekitarketiak.

2) Total (simple) mastectomy, yaitu pengangkatan di seluruh mammae saja, tetapi

bukan kelenjarketiak.

3) Radical mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian darimammae.

Biasanya disebut lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya pada bagian yang

mengandung sel kanker, bukan seluruh mammae.

b. Radiasi

c. Kemoterapi

7. Pencegahan

Perlu untuk diketahui, bahwa 9 di antara 10 wanita menemukan adanya benjolan

di mammaenya.Untuk pencegahan awal, dapat dilakukan sendiri.Sebaiknya

pemeriksaan dilakukan sehabis selesai masa menstruasi.Sebelum menstruasi, mammae

agak membengkak sehingga menyulitkan pemeriksaan. Cara pemeriksaan adalah

sebagaiberikut:

a. Berdirilah di depan cermin dan perhatikan apakah ada kelainan pada mammae.

Biasanya kedua mammae tidak sama, putingnya juga tidak terletak pada

ketinggian yang sama. Perhatikan apakah terdapat keriput, lekukan, atau puting

susu tertarik ke dalam. Bila terdapat kelainan itu atau keluar cairan atau darah

dari puting susu, segeralah pergi kedokter.

b. Letakkan kedua lengan di atas kepala dan perhatikan kembali kedua mammae.

c. Bungkukkan badan hingga mammae tergantung ke bawah, dan periksa lagi.

d. Berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri dibelakang kepala, dan

sebuah bantal di bawah bahu kiri. Rabalah mammae kiri dengan telapak jari-jari

kanan. Periksalah apakah ada benjolan pada mammae. Kemudian periksa juga

apakah ada benjolan atau pembengkakan pada ketiakkiri.Periksa dan rabalah

Page 8 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

puting susu dan sekitarnya. Pada umumnya kelenjar susu bila diraba dengan

telapak jari-jari tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada tumor,

maka akan terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat dipindahkan dari

tempatnya). Bila terasa ada sebuah benjolan sebesar 1 cm atau lebih, segeralah

pergi ke dokter. Makin dini penanganan, semakin besar kemungkinan untuk

sembuh secara sempurna. Lakukan hal yang sama untuk mammae dan ketiak

kanan.

Page 9 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

Faktor predisposisi dan


resiko tinggi hiperplasi
pada sel maame Mendesak sel syaraf Interupsi sel syaraf
Gangguan pola tidur (D.0055)
Nyeri (D.0077)

Mendesak jaringan sekitar Mensuplai nutrisi ke Mendesak pembuluh darah


jaringan Ca
Menekan jaringan pada Aliran darah terhambat
maame Hipermetabolisme ke
Hipoksia
jaringan Nekrosis jaringan
Peningkatan konsistensi
maame P
enuruna
n Bakteri patogen
Penurunan berathiperme
badan
tabolis Resiko infeksi
me
Defisit nutrisi (D.0019) (D.0142)
jaringan

Peningkatan konsistensi Kesulitan dalam bergerak


Ukuran maame abnormal
maame
Massa tumor
Mamae ansimetris
mendesak kejaringan Defisitpengetahuan
Gangguancitra
(D.0111)
tubuh(D.0083) Ansietas(D.0080)

Perfusi jaringan terganggu Infiltrasi pleura peritalr


ulkus
Ekspansi paru menurun
Kerusakan Hambatan mobilitas fisik
integritas Pola nafas tidak efektif (D.0054)
kulit /jaringan (D.0005)
(D.0129)

8. WOC

Page 10 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

B. Konsep DasarKeperawatan

1. Pengkajian

a. Riwayat KesehatanSekarang

Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya benjolan

yang menekan mammae, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan

mengeras, bengkak dan nyeri.

b. Riwayat KesehatanDahulu

Adanya riwayat tumor mammae sebelumnya atau ada kelainan pada

mammae, kebiasaan makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada

bagian dada sehingga pernah mendapatkan penyinaran pada bagian dada.

c. Riwayat KesehatanKeluarga

Ibu klien juga mengalami tumor mammae berpengaruh pada kemungkinan

klien mengalami tumor mammae.

d. PemeriksaanFisik

1) Kepala : Normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya


bulat dengan tonjolan frontal di bagian anterior dan
oksipital dibagianposterior.
2) Rambut : Biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak
terlaluberminyak.
3) Mata : Biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi
mata. Mata anemis, tidak ikterik, tidak ada
nyeritekan.
4) Telinga : Normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada
tanda-tanda infeksi dan tidak ada gangguan
fungsipendengaran.
5) Hidung : Bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan
nyeritekan.
6) Mulut : Mukosa bibir kering, tidak ada gangguanperasa.
7) Leher : Biasanya terjadi pembesaranKGB.

8) Dada : Adanya kelainan kulit berupa peau d’orange,


dumpling, ulserasi atau tanda-tandaradang.
9) Hepar : Biasanya tidak ada pembesaranhepar.
Page 11 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

10) Ekstremitas : Biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.

2. Pengkajian 11 Pola FungsionalGordon

a. Persepsi danManajemen

Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang terasa pada

mammaenya kerumah sakit karena menganggap itu hanya benjolan biasa.

1. Nutrisi –Metabolik

Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia,

muntah dan terjadi penurunan berat badan, klien juga ada riwayat

mengkonsumsi makanan mengandung MSG.

2. Eliminasi

Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami

melena, nyeri saat defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.

3. Aktivitas danLatihan

Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan latihan klien

terganggu karena terjadi kelemahan dan nyeri.

4. Kognitif danPersepsi

Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga

kemungkinan ada komplikasi pada kognitif, sensorik maupun motorik.

5. Istirahat danTidur

Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.

6. Persepsi dan KonsepDiri

Mammae merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau kehilangan

akibat operasi akan membuat klien tidak percaya diri, malu, dan

kehilangan haknya sebagai wanita normal.

Page 12 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

7. Peran danHubungan

Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan dalam

melakukan perannya dalam berinteraksi sosial.

8. Reproduksi danSeksual

Biasanya akan ada gangguan seksualitas klien dan perubahan pada

tingkatkepuasan.

9. Koping dan ToleransiStress

Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial dan

keputusasaan.

10. Nilai danKeyakinan

Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima kondisinya

dengan lapang dada.

b. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri fisiologis

2. Kerusakan Integritas Jaringan berhubungan dengan prosedur bedah

3. Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan prosedur bedah

4. Gangguan Pola Tidur

5. Hambatan Mobilitas Fisik

6. Resiko Infeksi

c. RencanaKeperawatan

Page 13 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

Diagnosa
NOC Intervensi
Keperawatan
Nyeri Akut Kontrol Nyeri Manajemen Nyeri
berhubungan 1. Lakukan pengkajian nyeri
Setelah dilakukan asuhan
dengan agen keperawatan 2 x 12 jam masalah secara komprehensif termasuk
injuri fisiologis keperawatan dapat teratasi dengan lokasi , karakteristik, durasi,
kriteria hasil : frekuensi, kualitas, intensitas
a. Mengenali kapan nyeri terjadi dan faktor pencetusnyeri
ditingkatkan dari kadang- 2. Berikan informasi mengenai
kadang menunjukkan (3)ke nyeri seperti penyebab, berapa
sering menunjukkan (4). lama nyeri dan antisipasi
b. Menggambarkan faktor ketidaknyamanan akibat
penyebab nyeri ditingkatkan prosedur
dari kadang-kadang 3. Kontrol lingkungan yang dapat
menujukkan (3)ke sering
mempengaruhi nyeri (misal :
menunjukkan (4)
suhu ruangan, pencahayaan ,
c. Melaporkan nyeri yang
dankebisingan)
terkontrol ditingkatkan dari
kadang – kadang menunjukkan 4. Ajarkan prinsp-prinsip
(3)ke sering menunjukkan (4) manajemen nyeri
5. Ajarkan teknik
d. Mengenali apa yang terkait
dengan nyeri ditingkatkan dari nonfarmakologis (misal :
kadang-kadang menunjukkan hipnosis, relaksasi, akupresur,
(3)ke sering menunjukkan (4) pijatan, sensasi dingin/panas,
distraksi, terapi bermain, terapi
aktivitas, terapi musik) baik
sebelum, setelah, bahkan
selama terjadi nyeri bila
memungkinkan
6. Dukung istirahat/tidur yang
adekuat untuk membantu
pengurangan nyeri
7. Dorong klien untuk
mengungkapkan pengalaman
nyerinya

Pemberian Analgesik
1. Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, keparahan nyeri
sebelum mengobati pasien
2. Cek perintah pengobatan
meliputi, obat, dosis, dan
frekuensi obat analgetik yang
diresepkan.
3. Cek adanya alergi obat.
4. Berikan analgesik sesuai waktu
paruhnya terutama pada nyeri
yang berat

Page 14 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

5. Dokumentasikan respon
terhadap analgetik dan adanya
efek samping

Kerusakan Penyembuhan Luka Primer Perawatan Luka


Integritas Setelah dilakukan asuhan 1. Angkat balutan dan plester
Jaringan b.d keperawatan 2x 12 jam masalah perekat
prosedur bedah keperawatan dapat teratasi, 2. Monitor karakteristik luka,
dengan kriteria hasil: termasuk drainase, aroma dan
bau.
a. Memperkirakan kondisi kulit
3. Ukur luas luka yang sesuai
dari sedang (3) ditingkatkan ke
4. Bersihkan dengan normal salin
sangat besar (5).
atau pembersih yang tidak
b. Memperkirakan kondisi tepi
beracun dengan tepat
luka dari sedang (3)
5. Berikan rawatan insisi pada
ditingkatkan ke sangat besar
luka, yang diperlukan
(5).
6. Berikan balutan yagn sesuai,
c. Pembentukan bekas luka dari
dengan jenis luka
sedang (3) ditingkatkan ke
7. Perkuat balutan luka sesuai
sangat besar (5).
kebutuhan
8. Pertahankan teknik balutan
steril ketika melakukan
perawatan luka dengan tepat
9. Periksa luka setiap kali
perubahan balutan
10. Bandingkan dan catat setiap
perubahan luka
11. Anjurkan pasien dan keluarga
untuk mengenal tanda dan
gejala infeksi

Perlindungan Infeksi
1. Monitor adanya tanda dan
gejala infeksi sistemik dan local
2. Monitor kerentanan terhadap
infeksi
3. Batasi jumlah pengunjung yang
sesuai
4. Periksa kondisi sayatan bedah
atau luka
5. Tingkatkan asupan nutrisi
6. Jaga penggunaan antibiotic
dengan bijaksana
7. Ajarkan pasien dan keluarga
bagaimana cara menghindari
infeksi

Page 15 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

Gangguan Citra Citra Diri Peningkatan Citra Tubuh


Tubuh b.d Setelah dilakukan 2 x 12 jam 1. Tentukan harapan citra diri
Prosedur Bedah masalah keperawatan dapat pasien didasarkan pada tahap
teratasi dengan kriteria hasil : perkembangan
1. Gambaran internal diri 2. Gunakan bimbingan antisipatif
ditingkatkan pada kadang-kadang menyiapkan pasien terkait
positif (3) ke konsisten positif (5) dengan perubahan-perubahan
citra tubuh yang (telah)
2. Penyesuaian terhadap diprediksikan
perubahan status kesehatan
ditingkatkan dari kadang-kadang 3. Monitor frekuensi dari
positif (3) ke konsisten posistif pernyataan mengkritisi diri
(5) 4. Bantu pasien untuk
3. Penyesuaian terhadap mendiskusikan stressor yang
perubahan tubuh akibat mempengaruhi citra diri terkait
pembedahan ditingkatkan dari dengan pembedahan
kadang-kadang positif (3) ke 5. Bantu pasien untuk
konsisten positif (5) mengidentifikasi bagian dari
tubuhnya yang memiliki
persepsi positif terkait dengan
tubuhnya

Page 16 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

BAB III

KASUS DAN PEMBAHASAN

KASUS

Hari/Tanggal : Jum’at, 07 Februari 2020


Jam : 09.00WIB
Tempat : Ruang Bedah RSUD Arosuka
Oleh : Kelompok 15 D Profesi Ners STIKES Syedza
Sumberdata : Klien dan status Rekam Medis
Metode : Wawancara dan PemeriksaanFisik

A. PENGKAJIAN

1. Identitas

a. Klien
1) Nama Klien : Nn. Y
2) Umur : 18 tahun
3) JenisKelamin : Perempuan
4) Agama : Islam
5) Pendidikan : SMA
6) Pekerjaan : Pelajar
7) StatusPerkawinan : Belum Kawin
8) Suku/Bangsa : Minang
9) Alamat : Simpang Tanjung Nan Ampek
10) Diagnosa Medis : Tumor Mammae Bilateral
11) No. MR : 731220
12) TanggalMasuk RS : 04 Februari 2020

b. Penanggung Jawab/Keluarga

1) Nama : Tn. E
2) Pekerjaan : Petani
3) Alamat : Simpang Tanjung Nan Ampek

Page 17 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

2. RiwayatKesehatan

a. Riwayat KesehatanKlien

1) Riwayat Kesehatan Sekarang

Saat dilakukan pengkajian pasien post op hari ketiga atas indikasi tumor

mamme bilateral. Dengan kondisi luka tidak terdapat pus, tidak ada tanda

kemerahan di area luka.Panjang luka kiri dan kanan ± 3 cm.

Pasien juga mengeluhkan nyeri di area operasi.Nyeri yang dirasakan

seperti tertusuk-tusuk diarea payudara kiri dan kanan.Skala nyeri 5 dan

pasien sudah diberikan terapi analgesik.

Pasien juga mengatakan dia malu dengan kondisinya saat ini.

2) Riwayat KesehatanDahulu

Selama ini klien belum pernah operasi dan dirawat di RS.Klien juga tidak

mempunyai riwayat penyakit keturunan seperti Diabetes Melitus,

Hipertensi, ataupun Jantung Koroner.

b. Riwayat KesehatanKeluarga

Klien mengatakan ibu dan neneknya juga memiliki riwayat penyakit yang sama.

1) Genogram

Keterangan Gambar :

: Laki-laki

Page 18 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

: Perempuan

: Klien

: Meninggal

: Garis pernikahan

: Garis keturunan
: Tinggal saturumah

3. KesehatanFungsional

a. AspekPsikososial

1) Psikologis

Klien lebih cenderung diam

2) Konsepdiri

Klien merasa ada yang kurang dengan dirinya setelah menjalani operasi di

kedua mammae.

b. Aspek Sosial

Klien lebih dekat dengan ibunya.

c. Aspek Spiritual

Klien percaya dengan Allah swt, namun selama sakit klien tidak dapat

menjalankan ibadah dengan sempurna kadang shalat sambil berbaring.

d. Pola Kesehatan Fungsional

1) Nutrisi

a) Sehat

Klien mengatakan biasanya makan 3 kali sehari pagi, siang dan sore

(nasi, sayur dan lauk),.Minum 8 – 10 gelas sehari dan keluarga tidak

minum minuman yang mengandung bahan pengawet atau pemanis

buatan.

b) Sakit

Klien mengatakan makan 3 kali habisnya hanya setengah porsi dan

minum 6 - 8 gelas air putih


Page 19 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

2) PolaEliminasi

a) Sehat

Klien mengatakan BAB 1 kali sehari dengan konsistensi lembek dan

warna kuning.

Klien mengatakan BAK 4 – 5 kali sehari dengan warna urin jernih.

b) Sakit

Klien mengatakan setelah operasi belum ada BAB.

BAK sudah 4-5 kali sehari

3) PolaAktivitas

a) Sehat

Pola aktivitas sehari-hari : klien menjalani aktivitas sehari-hari

sebagai seorang pelajar.

b) Sakit

Klien selama dirawat lebih banyak tirah baring dan beraktivitas

disekitar kamar.

4) Pola Istirahat

a) Sehat

Klien mengatakan tidak ada keluhan untuk kebiasaan

tidurnya.Biasanya tidur 6 – 7 jam sehari.

b) Sakit

Klien mengatakan istirahat/tidur 7 – 8 jam sehari.

5) Personal Hygiene

a) Sehat :

 Mandi 2 x sehari

 Menggosok gigi 2 x sehari

 Mencuci rambut 3 x seminggu

Page 20 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

 Potong kuku 1 x seminggu

b) Sakit :

Klien mengatakan hanya di lap badannya.

4. PemeriksaanFisik

a. KeadaanUmum

1) Kesadaran : ComposMentis

TB = 150cm
BB = 40 Kg

2) Tanda Vital:

TD = 101/60 mmHg

Nadi = 61 x/mnt

Suhu = 36,6 °C

RR = 19 x/mnt

Nyeri :

P : Nyeri pada luka post operasi

Q : terasa tertusuk-tusuk

R : nyeri dirasakan pada kedua mammae

S : Skala nyeri 5 dan klien sudah diberikan terapi analgesic

T : nyeri hilang timbul

3) Kulit

Kulit bersih warna kuning langsa, tidak ada jaringan parut, ada luka operasi

di area mammae dengan panjang ± 3 cm.

4) Kuku

Kuku klien tampak normal

5) Kepala

Tidak ada benjolan, rambut panjang, hitam dan bersih.

6) Wajah
Page 21 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

Bentuk oval, simetris

7) Mata

Normal

8) Hidung dan sinus

Normal

9) Leher

Tak ada benjolan, tak ada pembesaran kelenjar tyroid

10) Thoraks/Dada dan Paru-Paru

a) Inspeksi : Bentuk dada simetris,

b) Palpasi : Normal

c) Perkusi : Resonan

d) Auskultasi : bunyi nafas vesikuler

11) Mammae

a) Inspeksi

Kedua mammae simetris dan puting menonjol, diatas aerola mammae

tertutup kassa.

b) Palpasi

Nyeri tekan pada area luka setelah operasi

12) Kardiovaskuler

a) Palpasi : irama jantung teratur

b) Perkusi : redup

c) Auskultasi : tidak ada murmur

13) Abdomen

a) Inspeksi

Warna kulit sawo matang, tidak ada kemerahan dan kekuningan.

b) Auskultasi

Bising usus 16x / menit.


Page 22 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

c) Perkusi

Terdengar redup, tidak ada hepatomegali

d) Palpasi

Tidak ada benjolan, tidak nyeri tekan

14) Genetalia

Tidak dilakukan pemeriksaan

15) Persarafan/neurologi

GCS : 15

Atensi baik

Berbicara normal

Penciuman baik

Pengecap baik

Mengunyah mampu

Menelan mampu

Berjalan mampu

5. PemeriksaanPenunjang

Tabel 3.4 Pemeriksaanlaboratorium Nn. Y di Ruang Bedah RSUD Arosuka

Tanggal 04 Februari 2020

Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Normal

Pemeriksaan (satuan)

Page 23 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

04 – 02- 2020 Leukosit 9.100 4,4-11,3

Haemoglobin 12,1 12,3-15,3

Trombosit 113.000 150-450

Masa perdarahan 2’3” <6 menit

Masa Penjendaan GDR 8’30” <12 menit

SGOT 113 70-140

SGPT 21 <31

Ureum 10 <32

Creatinin 23 10-50

HbsAg 0,9 <1,1


(Sumber Data Sekunder : RM Klien )

6. Terapi

Tabel 3.6 Pemberian Terapi Klien Nn. Y di Ruang Bedah RSUD Arosuka

Hari/ Obat Dosis dan Satuan Rute


Tanggal
07-02 Injeksi Cefotaxime 2 x 1gram IV jam 06.00

08-02 Injeksi Ketorolac 1A/12 jam 2 x 1 ampul IV

Injeksi Asam Tranexamat 500 mg IV


(Sumber Data Sekunder : RM Klien)

Page 24 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

ANALISA DATA

Nama Pasien : Nn. Y Dx medis : Tumor Mamae Bilateral

No. MR : 731220 Ruangan : Bedah

Data Fokus
No Masalah Keperawatan Pathway
(Data Subjektif dan Objektif)
1 Data Subjektif : Nyeri Akut Faktor predisposisi
Klien mengatakan nyeri dan faktor fungsi
P: nyeri post op hiperplasia pada sel
Q: terasa menusuk-nusuk mamae
R: pada payudara kiri dan kanan
S : Skala Nyeri 5, pasien
mendapatkan terapi analgesik Mendesak sel saraf
T : Saat disentuh/ditekan, saat
menggerakkan tangan
Interupsi sel saraf
Data Objektif:
TD : 101/60 mmhg
N : 61 x/menit Nyeri
P : 19 x/menit
S : 36.6 ℃
 Pasien tampak meringis
2 Data Subjektif : Kerusakan Integritas Faktor predisposisi
 Pasien mengatakan dia post Jaringan dan resiko tinggi
operasi hari ketiga hiperplasia pada sel
 Pasien mngatakan dia operasi di mamae
kiri dan kanan
 Pasien mengatakan ini operasi Merusak jaringan
kedua sekitar
 sekarang tidak ada terasa apa pun,
tapi bila menggerakkan tangan Menekan jaringan
dengan cepat terasa agak sakit ke pada mamae
payudara
Peningkatan
Data Objektif : konsisten mamae
 Terdapat luka operasi tumor
mamae bilateral dengan Luka post Mamae
op tertutup kassa, kering, dan membengkak
tidak ada rembesan
 Panjang 3 cm2 Masa tumor
mendesak ke
jaringan luar

Perfusi jaringan
terganggu

Ulkus

Gangguan integritas
jaringan
Page 25 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

3 Data Subjektif : Gangguan Citra Faktor predisposisi


Pasien mengatakan malu dengan Tubuh dan resiko tinggi
kondisinya saat ini. hiperplasia pada sel
mamae

Data Objektif : Mendesak jaringan


 Pasien tampak sering menutup- sekitar
nutup area post operasi
Menekan jaringan
pada mammae

Peningkatan
konsisten mamae

Ukuran mammae
abnormal

Mammae asimetris

Gangguan Citra
Tubuh

Page 26 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TANDA
NO DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
TANGAN
1 Nyeri Akut b.d Agen Cidera Fisiologis
2 Kerusakan Intergritas Jaringan b.d prosedur bedah
3 Gangguan Citra Tubuh b.d prosedur bedah

Page 27 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Pasien : Nn. Y Dx medis : Tumor Mamae Bilateral


No. MR : 731220 Ruangan : Bedah

Page 28 of 38
DIAGNOSA
NO TGL NOC NIC AKTIFITAS
KEPERAWATAN
1 07/0 Nyeri Akut b.d agen Kontrol Nyeri Manajemen Nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
2 cedera fisiologis Setelah dilakukan asuhan keperawatan termasuk lokasi , karakteristik, durasi, frekuensi,
PROGRAM
2 x 12 jam klien dapat menurunkan PROFESI NERS STIKES SYEDZA
kualitas, SAINTIKA]
intensitas 2019/2020
dan faktor pencetusnyeri
nyeri dengan kriteria hasil : 2. Berikan informasi mengenai nyeri seperti
1. Mengenali kapan nyeri terjadi penyebab, brapa lama nyeri dan antisipasi
ditingkatkan dari kadang-kadang ketidaknyamanan akibat prosedur
menunjukkan (3) ke sering 3. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi
menunjukkan (4). nyeri (misal : suhu ruangan, pencahayaan ,
2. Menggambarkan faktor penyebab dankebisingan)
nyeri ditingkatkan dari kadang- 4. Observasi reaksi nonverbal dari nyeri
kadang menujukkan (3) ke sering 5. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri
menunjukkan (4) 6. Ajarkan teknik nonfarmakologis (misal :
3. Melaporkan nyeri yang terkontrol hipnosis, relaksasi, akupresur, pijatan, sensasi
ditingkatkan dari kadang-kadang dingin/panas, distraksi, terapi bermain, terapi
menunjukkan (3) ke sering aktivitas, terapi musik, ) baik sebelum, setelah,
menunjukkan (4) bahkan selama terjadi nyeri bila memungkinkan
4. Mengenali apa yang terkait dengan 7. Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk
nyeri ditingkatkan dari kadang- membantu pengurangan nyeri
kadang menunjukkan (3) ke sering 8. Dorong klien untuk mengungkapkan pengalaman
menunjukkan (4) nyerinya
5. Melaporkan nyeri yang terkontrol 9. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas,
ditingkatkan dari kadang-kadang Penggunaan keparaham nyeri sebelum mengobati pasien
menunjukkan (3) ke sering Analgesik 10. Cek perintah pengobatan meliputi obat, dosis, dan
menunjukkan (4) frekuensi obat analgetik yang diresepkan
11. Cek adanya alergi obat
Tingkat Nyeri 12. Berikan analgesic sesuai waktu paruhnya
Setelah dilakukan asuhan terutama pada nyeri yang berat
keperawatan selama 2 x 12 jam 13. Dokumentasikan respon terhadap analgetik dan
masalah keperawatan dapat teratasi adanya efek samping
dengan kriteria hasil:
1. Nyeri yang Page 29 of 38
dilaporkan
ditingkatkan dari sedang (3) ke
ringan (4)
2. Panjang episode nyeri ditingkatkan
dari sedang (3) ke ringan (4)
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

CATATAN PERKEMBANGAN PASIEN

Nama Pasien : Nn. Y Dx medis : Tumor Mamae Bilateral


No. MR : 731220 Ruangan : Bedah

DIAGNOSA
TGL JAM IMPLEMENTASI EVALUASI PARAF
KEPERAWATAN
07/02 09.00 1 1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif 17.00
2. Mengobservasi adanya petunjuk non verbal S: Klien mengatakan nyeri masih terasa di daerah
mengenai ketidaknyamanan payudara, sebelah kiri dan kanan apabila beraktivitas.
3. Menggunakan strategi komunikasi terapeutik Skala nyeri 4
untuk mengetahui pengalaman nyeri O:
4. Menggali pengetahuan dan kepercayaan klien
 Klien sesekali tampak meringis
mengenai nyeri  TD : 100/70 mmHg
5. Menggali bersama pasien faktor-faktor yang
 N : 60 x /menit
dapat menurunkan/memperberat nyeri  P : 20 x/menit
6. Mengendalikan faktor lingkungan (kebisingan)
 S : 36 ℃
7. Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam
8. Mengevaluasi keefektifan dari tindakan A : masalah keperawatan tidak teratasi
pengontrolan nyeri yang dipakai selama P : Intervensi dilanjutkan (1,5,6,7,8)
pengkajian nyeri
11.00 2 1. Mengangkat balutan dan plester perekat 17.00
2. Memonitor karakteristik, termasuk drainase, S : Klien mengatakan keluhan yang dirasakan tidak ada
aroma, ukuran dan bau O:

Page 30 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

3. Mengukur luas luka yang sesuai  Klien post op hari ketiga


4. Membersihkan dengan normal salin atau  Panjang luka ± 3 cm
pembersih yang tidak beracun dengan tepat 
5. Memberikan rawatan insisi pada luka yang  Luka sudah dibersihkan
diperlukan  Luka kering tidak ada rembesan
6. Memberikan balutan sesuai jenis luka A : masalah keperawatan tidak teratasi
P : intervensi dilanjutkan ( 3,4,5,6)
3 1. Mendengarkan keluhan negative dari diri klien 17.00
2. Meminta keluarga klien untuk selalu memotivasi S : Klien mengatakan takut dengan keadaanya sekarang
klien O : Klien terlihat lebih banyak diam
A : Masalah Gangguan Citra Tubuh tidak teratasi
P : Lanjutkan intervensi (1,2)
08/02 09.00 1 1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif 16.00
2. Menggali bersama pasien faktor-faktor yang S : - Klien mengatakan nyeri terasa saat tangannnya di
dapat menurunkan/memperberat nyeri angkat keatas
3. Mengendalikan faktor lingkungan (kebisingan) O : - P: nyeri akibat post op
4. Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam
- Q : nyeri sepertitertusuk-tusuk
5. Mengevaluasi keefektifan dari tindakan
- R : nyeri terasa di area dada sampai ke ketiak
pengontrolan nyeri yang dipakai selama
- S: skala nyeri 3
pengkajian nyeri
- T : nyeri hilang timbul
- Klien terlihat tenang dan sering tersenyum
A : Masalah Nyeri Kronis teratasi
P : Intervensi dihentikan. Pasien pulang
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
nyeri
2 1. Mengukur luas luka yang sesuai 16.00
Page 31 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

2. Membersihkan dengan normal salin atau S : - Klien mengatakan tidak ada keluhan apa pun
pembersih yang tidak beracun dengan tepat - Klien mengatakan menjadi tau cara merawat luka
3. Memberikan rawatan insisi pada luka yang yang benar
diperlukan O : - Klien post op hari ketiga
4. Memberikan balutan sesuai jenis luka - Terlihat perban luka post op panjang ± 5 cm
- Luka tidak ada rembesan
- Tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka dan area
sekitar luka; tidak ada kemerahan, panas, gatal,
pus.
A : Masalah keperawatan teratasi
P : Intervensi dihentikan. Pasien pulang.
- Anjurkan klien untuk kontrol ke fasilitas
kesehatan
3 1. Melihat dan mendengarkan apakah masih ada 16.00
keluhan mengkritik diri sendiri S : - Klien mengatakan cukup menerima keadaannya
2. Mendiskusikan kemampuan klien sekarang
- Klien mengatakan bersyukur masih bias beraktivitas
secara mandiri
- Keluarga mengatakan selalu mendukung klien
O : Klien terlihat mampu mengungkapkan hal positif
yang dimiliki
A : Masalah Gangguan Citra Tubuh teratasi
P : Intervensi dihentikan. Pasien pulang.

Page 32 of 38
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

BAB IV

PEMBAHASAN

Dari hasil asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada klien Nn. Y dengan tumor

mammae di Ruang Bedah RSUD Arosuka, mulai tanggal 07 Februari 2020 sampai dengan 08

Februari 2020 di dapatkan pengalaman nyata melakukan asuhan keperawatan dan terdapat

kesesuaian dengan SPO dari tinjauan teori.

A. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan, oleh karena itu di

perlukan ketepatan dan ketelitian dalam mengenali masalah-masalah yang muncul

pada klien sehingga dapat menentukan tindakan keperawatan dengan tepat

(Muttaqin.2008).

Dari hasil pengkajian ditemukan data pasca operasi, terdapat balutan pasca

operasi pada mammae dextra dan sinistra, balutan kering, klien merasa nyeri pada

luka pasca operasi dengan skala nyeri 5. P = Nyeri luka pasca operasi, Q = terasa

tertusuk-tusuk, R = mammae dextra dan sinistra, S = 5, T = terasa hilang timbul

setelah operasi. Klien juga mengatakan malu dengan kondisinya sekarang.

Menurut teori Iskandar (2010) terdapat tanda nyeri tekan pada masa retraksi

pada area maymmae, adanya keluhan kedalam mammae.Tetapi, saat pengkajian

kasus pada klien Nn. Y tidak ditemukan.Hal ini besar kemungkinan karena masih

stadium awal, sehingga tidak semua gejala yang ada pada teori ditemukan pada

kasus Nn. Y.

B. Diagnosa

Dalam kasus ini diagnosa keperawatan yang muncul pada Nn. Y ada 3, tetapi

menurut tinjauan teori ada 6 diagnosa. Diagnosa yang tidak muncul adalah

Gangguan Pola Tidur, Hambatan Mobilitas Fisik dan Resiko Infeksi. Hal ini di
33
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

karenakan masa tumor yang masih relatif kecil.

Diagnosa keperawatan yang muncul setelah dilakuka tindakan operasi pada Nn.

Y yaitu: Nyeri akut, Kerusakan Integritas Jaringan, dan Gangguan Citra Tubuh

(NANDA NIC NOC, 2015)

1. Nyeri akut, merupakan pengalaman sensasi dan emosi yang tidak

menyenangkansecarasubyektifmaupunindividualmengatakan nyeri itu adalah

nyata. Reseptor nyeri terletak pada semua syaraf, kulit tulang, persendian dinding

arteri, membran yang mengelilingi otak, dan usus (Solehati dan Kosasih,2015).

Pada kasus Nn. Y, nyeri akut terjadi akibat tindakan operasi yang berupa sayatan

di kulit sampai jaringan di bawah kulit yang ada masa (tumor) sehingga

menimbulkan nyeri.

2. Kerusakan Integritas Jaringan berhubungan dengan prosedur bedah(NANDA

NIC NOC, 2015). Kerusakan Integritas Jaringan bisa terjadi pada klien Nn. Y

dikarenakan ada luka bekas sayatan operasi.

3. Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengankondisi psikologis klien terkait

kondisinya setelah operasi. Mengingat usia klien yang baru 20 tahun, masalah ini

cukup mengganggu kondisi psikologisnya. Klien mengatakan malu dengan

kondisinya saat ini dan ia merasa tidak percaya diri. Diagnosa tersebut penulis

angkat karena sesuai dengan teori kasus klien Nn. Y. Peranan perawat, keluarga

sangat penting dalam memberikan dukungan dan meningkatkan kepercayaan diri

klien.

C. Perencanaan

Perencanaan keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan yang

muncul.Penyelesaian masalah disesuaikan dengan prioritas masalah. Rencana

tindakan yang disusun mencakup 4 aspek; nursing treatment, observasi, education,

kolaborasi.

Adapun pembahasan perencanaan keperawatan untuk pasca operasi adalah


34
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

sebagaiberikut.

Perencanaan intervensi pasca operasi diselesaikan dengan menggunakan

prioritas masalah, sebagai berikut:

1) Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisiologis, menjadi prioritas pertama

karena perlu dilakukan tindakan keperawatan segera pada klien.

Padadiagnosakeperawataninipenulismenggunakankriteriawaktu 2x12 jam,

dengan maksud nyeri dapat terkontrol dan teratasi dengan pemberian terapi non

farmakologi maupun dengan terapi farmakologi. Data yang mendukung pada

diagnosa nyeri pasca operasi yaitu dari klien mengeluh nyeri seperti tertusuk-

tusuk pada mammae dextra dan sinistra. Nyeri ini sifatnya lokal sehingga

intervensi keperawatan keparahan nyeri disesuaikan dengan teori yang ada pada

Nanda Nic-Noc.

2) Kerusakan Integritas Jaringan. Faktor resiko terjadinya kemungkinan infeksi

pada klien pasca operasi adalah kondisi klien, prosedur operasi, jenis operasi dan

perawatan pasca operasi.

3) Gangguan Citra Tubuh. Diagnosa ini diangkat karena adanya pernyataan klien

yang mengatakan ia malu dengan kondisinya saat ini.Dan klien juga merasa tidak

percaya diri.

D. Implementasi

Tahap ini merupakan pelaksanaan dini rencana tindakan yang telah ditetapkan

dengan maksud kebutuhan klien dapat terpenuhi dengan optimal.Dalam tahap

implementasi keperawatan ini mengacu pada rencana tindakan yang telah disusun

sesuai dengan kondisi dan kebutuhan klien sehingga implementasi juga sesuai

dengan kebutuhan klien.Pada kasus Nn. Y tidak semua rencana tindakan bisa

dilaksanakan karena perawat tidak bisa setiap saat berada di tempat klien. Dalam

melaksanakan tindakan keperawatan kelompok selalu melibatkan peran keluarga dan

tim kesehatan lain.

35
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

Faktor yang mendukung terlaksananya tindakan keperawatan adalah adanya

kerjasama yang baik antara perawat bangsal dan tenaga kesehatan lain serta klien,

keluarga klien dan sarana prasarana yang ada di rumahsakit.

E. Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap pengukuran keberhasilan rencana keperawatan

dalam melakukan tindakan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan klien. Ada 2

macam evaluasi yaitu evaluasi proses yang dibuat untuk mengetahui keberhasilan

dari tindakan yang telah dilakukan, sedangkan evaluasi hasil merupakan keadaan

klien sebagai respon terhadap tindakan yang telah dilakukan dalam kasus ini.

Adapun evaluasi untuk masing-masing diagnosa keperawatan adalah sebagai

berikut:

1) Nyeri Akut berhubungan dengan agen cidera fisiologis/prosedur bedah. Kriteria

dan tujuan diagnosa ini tercapai karena pada evaluasi hasil didapatkan data

bahwa klien mengatakan nyeri yang dirasakan setelah operasi secara berangsur

mulai berkurang.

2) Kerusakan Integritas Jaringan berhubungan dengan prosedur bedah. Kriteria dan

tujuan diagnosa ini tercapai karena pada evaluasi hasil didapatkan data: tidak

terjadi tanda-tandainfeksi pada klien dan pada luka operasi tidak terjadi tanda-

tanda infeksi. Luka operasi bersih, tidak ada kemerahan di sekitar luka operasi

juga tidak ada rembesan.

3) Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan prosedur bedah. Kriteria dan tujuan

diagnosa ini tercapai karena klien mulai tampak ceria, dan paham dengan

kondisinya saat ini, serta keluarga juga tampak selalu menyemangati klien.

36
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

BAB V

PENUTUP

1. Kesimpulan

a. Telah dilakukan asuhan keperawatan pada klien Nn. Y dengan tumor

mammae dekstra dan sinistra selama 2 hari, yang meliputi pengkajian,

analisa data, menetapkan diagnosa keperawatan, membuat rencana asuhan,

melaksanaan implementasi dan melakukanevaluasi.

b. Proses pelaksanaan asuhan keperawatan melibatkan peran antar perawat,

keluarga klien dan tim kesehatan yanglain.

c. Dokumentasi asuhan keperawatan dilakukan sesuai denganformat.

2. Saran

a. Untuk Rumah Sakit

Menyediakan sarana dan prasarana yang lebih lengkap kerjasama dengan tim,

pasien dan keluarga lebih ditingkatkan.

b. UntukPerawat

Agar mampu melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan standar asuhan

keperawatan (SAK) dan melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan SPO.

c. Untuk IlmuKeperawatan

Sebagai sumber referensi bagaimana melaksanakan asuhan keperawatan pada

klien tumormammae.

37
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo Sulistyo. 2013. Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri.Yogyakarta: Ar-Ruzz

Media

Balitbang kemenkes RI. 2014. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Balitbang Kemenkes RI

Eva Agustina, Fariani Syahrul. 2017. Pengaruh Prosedur Operasi Terhadap Infeksi pada

Klien Operasi Bersih Terkontaminasi.Fakultas kesehatan masyarakat

Fitria Nita. 2011. Terapi Psikospiritual. Http: //arsipnitafitria.wordpress.

Grece Frida Rasubala, Lucky Tommy Kumaat, Mulyadi. 2017. Pengaruh Teknik Relaksasi

Benson Terhadap Skala Nyeri Pada Klien Post Operasi di RSUP Prof. Dr. D.

Kandau dan RS TK III R. W. Mongisidi Teling Manado. Jurnal Keperawatan

Volume 5 no. 1 Februari 2017

Kementrian Kesehatan RI. 2014. Pusat Data dan Informasi.Jakarta Selatan

Kusuma Amin. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis Medis dan

NANDA NIC NOC. Penerbit Mediaction

Mawei, Nikita Mayumi. 2012. Pengaruh Teknik Relaksasi Terhadap Perubahan Intensitas

Nyeri pada Klien Post Operasi Apendiktomi.Skripsi Manado: Program Studi

Ilmu Keperawatan Universitas Sam Ratulangi

Moh. Alimansur, Agung Setiawan. 2013. Perbedaan Tingkat Kecemasan Pada Klien Pre

dan Post Operasi di Ruang Seruni RSUD Pare.Jurnal ilmu kesehatan, Vol. 1 no.

2. Mei 2013

Solehati Tetti & Kokasih Cecep Eli. 2015. Konsep dan Aplikasi Relaksasi Dalam

Keperawatan Maternitas. Bandung: PT Refika Aditama

38