Anda di halaman 1dari 39

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu administrasi publik atau administrasi negara merupakan salah satu

cabang ilmu sosial yang berkaitan dengan permasalahan publik seperti kebijakan

publik, tujuan negara dan etika yang mengatur penyelenggaraan negara, sehingga

administrasi disini mengarah kepada kebijakan, pemerintahan dan negara bukan

seperti pada pengertian administrasi dalam arti sempit yakni catat mencatat seperti

dalam kantor.

Indonesia sebagai suatu negara kesatuan yang mengakui azas

Desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan memberikan kesempatan dan

kekuasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. Pasal l8

Undang-Undang Dasar 1945, antara lain mengatakan bahwa pembagian daerah

Indonesia atau daerah besar dan daerah kecil dengan bentuk dan susunan

pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-Undang memandang dan mengingat

dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara dan hak-hak asal-usul

dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa. Daerah Indonesia ini akan dibagi

dalam daerah propinsi dan daerah propinsi akan dibagi pula kedalam daerah yang

lebih kecil. Di daerah-daerah yang bersifat otonom, semuanya menurut aturan

yang akan ditetapkan dengan Undang-Undang.

Terbentuknya Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah melalui

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 merupakan langkah yang penting bagi

pengembangan otonomi daerah. Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah


2

sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana dirubah

dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah

disebutkan bahwa pemerintah daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan

pemerintahan yang sesuai dengan azas otonomi dan tugas pembantuan serta

mengarahkannya untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat

melalui pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat dalam peningkatan

daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan,

keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara

Kesatuan Republik Indonesia.

Pemerintah Daerah diharapkan lebih mampu menggali sumber-sumber

keuangan khususnya untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pemerintahan dan

pembangunan di daerahnya melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam

rangka meningkatkan kemampuan keuangan daerah agar dapat melaksanakan

otonomi, Pajak daerah merupakan sumber pendapatan yang penting guna

membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah untuk

mendukung pelaksanaan otonomi daerah yang nyata, luas, dinamis dan

bertanggung jawab sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Republik

Indonesia.

Pemerintah melakukan berbagai kebijakan perpajakan daerah, diantaranya

dengan menetapkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2009

Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, berikut jenis-jenis Pajak Daerah:

I. Pajak Provinsi terdiri dari:


a. Pajak Kendaraan Bermotor;
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
3

d. Pajak Air Permukaan; dan


e. Pajak Rokok.
II. Jenis Pajak Kabupaten/Kota terdiri atas:
a. Pajak Hotel;
b. Pajak Restoran;
c. Pajak Hiburan;
d. Pajak Reklame;
e. Pajak Penerangan Jalan;
f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;
g. Pajak Parkir;
h. Pajak Air Tanah;
i. Pajak Sarang Burung Walet;
j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan
k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

Salah satu jenis pajak Kabupaten/Kota adalah pajak reklame. Pajak

reklame merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota

Pekanbaru yang penting guna membiayai pelaksanaan pemerintahan daerah dalam

melaksanakan pelayanan kepada masyarakat serta mewujudkan kemandirian

daerah.

Untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pajak reklame ini

tentunya harus dibarengi dengan pelaksanaan perizinan pemasangan reklame yang

juga baik, tidak berbelit-belit, mudah dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Sehingga pengusaha/penyelenggara reklame yang ingin memasang reklame

mendapatkan kemudahan dan mau mengurus izin reklamenya terlebih dahulu

sehingga harapannya tidak ada reklame yang terpasang yang menyalahi aturan,

terutama tidak mendapatkan izin pemasangan dari instansi terkait.

Kalau berbicara masalah perizinan, inilah yang kerap menjadi persoalan

dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari masyarakat biasa sampai pejabat,

berkutat dengan perizinan karena perizinan berkaitan dengan kepentingan yang

diinginkan oleh masyarakat dengan mendapat persetujuan atau legalitas dari


4

pejabat negara sebagai alat administrasi didalam pemerintahan suatu negara tak

terkecuali masalah perizinan pemasangan reklame di Kota Pekanbaru.

Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah, prosedur dan mekanisme perizinan disetiap daerah

Kabupaten dan Kota berbeda dengan daerah yang lain karena setiap daerah sudah

mempunyai kewenangan sendiri untuk mengaturnya melalui otonomi daerah

masing-masing tak terkecuali di Kota Pekanbaru sendiri.

Kota Pekanbaru dalam beberapa tahun terkahir ini mengalami

perkembangan yang sangat pesat, hal ini disebabkan Kota Pekanbaru merupakan

tempat jalur perdagangan yang strategis di provinsi Riau, menyebabkan banyak

investor/pengusaha baik dari dalam maupun dari luar yang masuk dan membuka

usaha di Kota Pekanbaru. Mengingat dewasa ini reklame merupakan senjata yang

paling ampuh dalam mempengaruhi konsumen dalam pola konsumtif mereka,

oleh karena itu perusahaan-perusahaan berusaha untuk menarik perhatian

konsumen dengan cara melakukan promosi-promosi baik untuk memperkenalkan

maupun memasarkan produknya, menggunakan media reklame.

Dalam rangka penataan ruang kota yang terarah dan terkendali serta

meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam penyelenggaraan reklame di

Kota Pekanbaru maka perlu diterbitkan regulasi. Dengan semakin pesatnya

perkembangan kota dan sesuai dengan tingginya laju pertumbuhan reklame yang

beraneka ragam maka diperlukan penataan penyelenggaraan reklame secara

terpadu, menyeluruh, efektif dan efisien.

Untuk itu Walikota Pekanbaru telah menerbitkan Peraturan Walikota

(Perwako) Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Reklame di


5

Pekanbaru. Peraturan Walikota (Perwako) Pekanbaru tersebut diundangkan

tanggal 28 Februari 2013. Didalam Peraturan Walikota (Perwako) tersebut diatur

secara detail tentang pemasangan reklame, baik bentuk, letak, ukuran maupun

tinggi reklame.

Didalam Peraturan Walikota (Perwako) Pekanbaru Nomor 24 Tahun 2013

Tentang Penyelenggaraan Reklame di Pekanbaru Pasal 1 dijelaskan bahwa yang

dimaksud izin penyelenggaraan reklame adalah izin penyelenggaraan reklame

yang diberikan oleh Walikota. Sedangkan yang dimaksud dengan reklame adalah

benda, alat, perbuatan atau media yang bentuk dan corak ragamnya dirancang

untuk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, atau

untuk menarik perhatian umum terhadap barang, jasa, orang, atau badan, yang

dapat dilihat, dibaca, didengar, dirasakan, dan atau dinikmati oleh umum, kecuali

yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah.

Dalam Pasal 2 dijelaskan jenis-jenis bangunan Reklame yang diatur dalam

Peraturan Walikota (Perwako) Pekanbaru Nomor 24 Tahun 2013 Tentang

Penyelenggaraan Reklame di Pekanbaru sebagai berikut:

a. Reklame Megatron
b. Reklame Papan atau Billboard
c. Reklame Baliho
d. Reklame Berjalan
e. Reklame Udara
f. Reklame Apung
g. Reklame Suara
h. Reklame Film atau Slide
i. Reklame Pengenal Usaha/Merek Usaha
j. Reklame Mural
k. Jembatan Penyeberangan Orang (JPO).

Pasal 5 Peraturan Walikota (Perwako) Pekanbaru Nomor 24 Tahun 2013

Tentang Penyelenggaraan Reklame di Pekanbaru dijelaskan:


6

(1) Reklame pada jaringan jalan di dalam kawasan perkotaan dapat


ditempatkan di dalam ruang manfaat jalan dengan ketentuan:
a. ditempatkan di luar bahu jalan atau trotoar dengan jarak paling
dekat 1 (satu) meter dari tepi paling luar bahu jalan atau trotoar;
b. dalam hal tidak terdapat ruang di luar bahu jalan, trotoar, atau jalur
lalu lintas, reklame sebagaimana dimaksud pada huruf a dapat
ditempatkan di atas bangunan.
c. bangunan reklame sebagaimana dimaksud huruf b, wajib mendapat
rekomendasi dari perencana bangunan yang memiliki sertifikat
keahlian.
(2) Reklame pada jaringan jalan di luar kawasan perkotaan dapat
ditempatkan di dalam ruang milik jalan pada sisi terluar.
(3) Reklame dapat dipasang pada struktur Jembatan Penyeberangan
Orang (JPO) tanpa membahayakan konstruksi jembatan dan
keselamatan pengguna jalan.
(4) Reklame di atas ruang manfaat jalan harus diletakkan pada ketinggian
paling rendah 5 (lima) meter dari permukaan jalan tertinggi.
(5) Reklame pengenal usaha harus dibuat seragam dengan ukuran dan
model yang sama sesuai dengan kawasan yang ditetapkan.
(6) Reklame pengenal usaha harus menempel sejajar pada bangunan dan
tidak dibenarkan posisi tegak lurus terhadap fasade bangunan.
(7) Reklame berupa mural ditetapkan maksimal 75 (tujuh puluh lima)
persen dari luas dinding dan terpusat.
(8) Bangunan reklame yang berada di atas bangunan, tidak dibenarkan
melebihi fasade dan/atau dinding terluar bangunan.
(9) Lokasi bangunan reklame di setiap koridor ruas jalan, ditentukan
berdasarkan titik koordinat sebagaimana tercantum pada Lampiran
Peraturan ini.
(10) Terhadap lokasi bangunan reklame yang belum ditentukan
koordinatnya, maka ditentukan berdasarkan survey oleh Tim yang
ditetapkan oleh Walikota.
(11) Bangunan reklame tidak dibenarkan berada di atas median, trotoar,
dan bahu jalan.

Tata cara mengajukan permohanan reklame, yakni:

1. Setiap orang pribadi atau badan yang akan menyelenggarakan reklame


di wilayah Kota Pekanbaru wajib memikliki Izin Mendirikan
Bangunan Reklame dan Izin Penyelenggaraan Reklame
2. Izin penyelenggaraan diajukan secara tertulis oleh pemohon dan
disampaikan kepada Walikota Pekanbaru melalui Instansi dan/atau
pejabat yang ditunjuk.
3. Permohonan izin harus dilengkapi dengan persyaratan administrasi
dan persyaratan teknis (rekomendasi) dari Tim Reklame
4. Permohonan izin ditolak apabila tidak memenuhi persyaratan
administrasi dan persyaratan teknis yang telah ditentukan
7

Adapun persyaratan administrasi Izin Mendirikan Bangunan Reklame

adalah:

1. Izin tertulis penggunaan Jalan (Khusus untuk reklame yang


diselenggarakan didaerah/ruang milik jalan dari Dinas Perhubungan
dan Infokom, Dinas Pekerjaan Umum dan atau Instansi yang
membidanginya)
2. Izin tertulis pemakaian ruang terbuka hijau (Khusus untuk reklame
yang diselenggarakan diruang terbuka hijau dari Dinas Kebersihan
dan Pertamanan dan atau Instansi yang membidanginya).
3. Bagi reklame diatas atau menempel pada bangunan harus
melampirkan surat sewa, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tempat
reklame diselenggarakan.
4. Harus mencatumkan atau menggantungkan identitas usaha
5. Surat permohonan yang berisi data/identitas pemohon
6. Rencana teknis bangunan
7. Izin usaha, dalam hal pemohon adalah badan usaha
8. Rekomendasi dari tim teknis sesuai dengan kewenangannya
9. Surat pernyataan bertanggung jawab atas kewajiban memelihara dan
menjaga bangunan reklame untuk keselamatan umum, dan
menanggung segala resiko atas segala akibat yang mungkin
ditimbulkan dari kerusakan yang terjadi atas sarana dan prasarana
yang dibangun/dipasang pada bagian-bagian jalan atau persil yang
dimohon
10. Surat pernyataan dari pemohon tentang kesediaan bangunan reklame
untuk dibongkar apabila jangka waktu izin reklame berakhir

Persyaratan administrasi Izin Penyelenggaraan Reklame, mencakup:

1. Surat permohonan yang berisi data/identitas pemohon


2. Melampirkan fotocopy KTP dan atau foto copy Nomor Pendaftaran
Wajib Pajak Daerah (NPWPD)
3. Fotocopy surat Izin Mendirikan Bangunan Reklame yang dilegalisir
oleh Pejabat yang berwenang.

Dalam penelitian ini penulis melihat perizinan pemasangan reklame

menempel yakni reklame pengenal usaha yang diselenggarakan di Badan

Pendapatan Daerah Kota Pekanbaru.

Reklame pengenal usaha sangat penting bagi pelaku usaha atau pemilik

usaha, dimana dengan adanya reklame pengenal usaha akan memudahkan bagi

mereka untuk mengenalkan akan produk usaha yang mereka jual. Namun reklame
8

pengenal usaha ini tidak serta merta boleh dipasang secara asal-asalan saja, tetap

ada aturan yang mengaturnya. Pasal 5 Peraturan Walikota (Perwako) Pekanbaru

Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Reklame di Pekanbaru

dijelaskan Reklame pengenal usaha harus dibuat seragam dengan ukuran dan

model yang sama sesuai dengan kawasan yang ditetapkan. Reklame pengenal

usaha harus menempel sejajar pada bangunan dan tidak dibenarkan posisi tegak

lurus terhadap fasade bangunan.

Peraturan Walikota Pekanbaru Nomor 119 tahun 2016 tentang Kedudukan,

Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Pendapatan Daerah

Kota Pekanbaru, Pasal 3 tentang Susunan Organisasi Badan Pendapatan Daerah

terdiri dari:

a. Kepala Badan
b. Sekretaris, membawahi
1. Sub Bagian Umum
2. Sub Bagian Kepegawaian
3. Sub Bagian Program
c. Bidang PBB dan BPHTB, membawahi:
1. Sub Bidang Pendaftaran, Pendataan PBB dan BPHTB
2. Sub Bidang Penilaian, Penetapan PBB, dan Verifikasi BPHTB
3. Sub Bidang Pembetulan, Pengurangan PBB, dan BPHTB
d. Bidang Pajak Daerah Lainnya, membawahi:
1. Sub Bidang Pajak Hotel, Hiburan, Restoran, Parkir dan Sarang
Burung Walet
2. Sub Bidang Pajak Reklame, Air Tanah, Penerangan Jalan dan
Mineral Bukan Logam Batuan
3. Sub Bidang Pelayanan Pajak Daerah
e. Bidang Penagian Pajak Daerah, membawahi:
1. Sub Bidang Pembukuan, Validasi, Evaluasi dan Pelaporan
2. Sub Bidang Pemeriksaan Pajak Daerah
3. Sub Bidang Penagihan Pajak Daerah
f. Bidang Retribusi, Teknologi Informatika dan Perundang-Undangan,
membawahi:
1. Sub Bidang Retribusi, Legalisasi dan Pendapatan Lain-Lain
2. Sub Bidang Data dan Teknologi Informatika
3. Sub Bidang Perundang-Undangan
g. Unit Pelaksana Teknis (UPT)
9

h. Kelompok Jabatan Fungsional

Persyaratan administrasi izin penyelenggaraan reklame menempel pada

Badan Pendapatan Daerah Kota Pekanbaru yakni: Surat Kuasa Apabila

Pengurusan diwakilkan

a. Permohonan tertulis
b. Melampirkan foto copy KTP
c. Foto copy SKPD terakhir
d. Fotocopy Tanda Bukti Bayar Terakhir
e. Foto/Gambar Reklame
f. Akta Pendirian Usaha
g. Surat Kuasa apabila pengurusan diwakilkan
(sumber: Badan Pendapatan Daerah Kota Pekanbaru, Tahun 2017)

Berikut ini data terkait dengan reklame yang terdapat di Kota Pekanbaru,

dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel I.1 : Data Target dan Realisasi Pajak Reklame di Kota Pekanbaru
No Tahun Target Realisasi
1. 2014 50 miliar 14 miliar
2. 2015 22 miliar 4 miliar
2. 2016 92 miliar 20 miliar
Sumber: Badan Pendapatan Daerah Kota Pekanbaru

Dari data diatas dapat dilihat bahwa dalam tiga tahun terakhir, target pajak

reklame di Kota Pekanbaru tidak pernah tercapai, bahkan realisasinya tidak

mencapai setengah dari target awalnya.

Berikut ini dapat pula dilihat data Izin Reklame Pengenal Usaha di Kota

Pekanbaru, lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel I.2 : Data Izin Reklame Pengenal Usaha di Kota Pekanbaru


No Kriteria Jumlah
1. Reklame Terbit 126.856
Sumber: Badan Pendapatan Daerah Kota Pekanbaru

Dari data diatas dapat dilihat banyaknya jumlah reklame yang ada di Kota

Pekanbaru yakni 126.856 reklame. Namun masih banyak juga reklame-reklame


10

pengenal usaha yang ada di Kota Pekanbaru yang belum memiliki izin namun

tetap terpasang pada bangunan usahanya. Selain itu ada reklame pengenal usaha

yang ukurannya tidak sesuai namun tetap terpampang.

Masih banyaknya reklame pengenal papan usaha yang berdiri namun tidak

sesuai dengan ukuran dan modelnya harus ditindaklanjuti segera. Untuk itu Badan

Pendapatan Dearah Kota Pekanbaru harus berkoordinasi dengan Instansi terkait

lainnya seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Pekanbaru untuk

melakukan penertiban, penertiban ini dilakukan terhadap reklame yang tidak

memiliki izin pemasangan atau menyalahi dari ketentuan yang seharusnya. Untuk

itu perizinan pemasangan reklame di Kota Pekanbaru perlu dievaluasi, hal ini

terindikasi dari fenomena-fenomena sebagai berikut:

1. Adanya reklame pengenal usaha pada bangunan usaha yang tidak sesuai

ukurannya dan modelnya namun tetap terpasang. Pasal 5 Peraturan Walikota

(Perwako) Pekanbaru Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan

Reklame di Pekanbaru dijelaskan Reklame pengenal usaha harus dibuat

seragam dengan ukuran dan model yang sama sesuai dengan kawasan yang

ditetapkan. Reklame pengenal usaha harus menempel sejajar pada bangunan

dan tidak dibenarkan posisi tegak lurus terhadap fasade bangunan.

2. Minimnya sanksi yang diberikan kepada pemilik usaha yang mana reklame

pengenal usaha pada bangunan usahanya tidak sesuai ukuran dan modelnya.

Berdasarkan uraian fenomena-fenomena diatas terlihat belum

terlaksananya dengan tepat sasaran dan masih banyak pelanggaran-pelanggaran.

Sehubungan dengan kondisi tersebut maka penulis merasa tertarik untuk


11

membuktikan dan melakukan penelitian lebih lanjut dengan menetapkan judul

“Evaluasi Pelaksanaan Perizinan Pemasangan Reklame di Kota Pekanbaru”.

B. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

“Bagaimana Hasil Evaluasi Pelaksanaan Perizinan Pemasangan Reklame di Kota

Pekanbaru”

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

a. Mengetahui dan menjelaskan bagaimana Hasil Evaluasi Pelaksanaan

Perizinan Pemasangan Reklame di Kota Pekanbaru

b. Untuk mengetahui apa saja hambatan-hambatan yang menyebabkan

Pelaksanaan Perizinan Pemasangan Reklame di Kota Pekanbaru belum

terlaksana dengan baik.

2. Kegunaan Penelitian

Diharapkan penelitian ini berguna untuk:

a. Secara teoritis, penelitian ini merupakan salah satu bahan pengembangan

khasanah ilmu pengetahuan dibidang ilmu administrasi publik

b. Sebagai bahan masukan khususnya bagi Kepala Badan Pendapatan Daerah

Kota Pekanbaru dalam pelaksanaan perizinan pemasangan reklame di Kota

Pekanbaru sehingga tidak ada lagi reklame yang tidak memiliki izin.

c. Secara akademis, dapat menjadi salah satu bahan referensi bagi

mahasiswa lain yang akan melakukan penelitian dengan permasalahan

yang sama.
12

BAB II
STUDI KEPUSTAKAAN DAN KERANGKA PIKIR

A. Studi Kepustakaan

a. Konsep Administrasi Publik

Administrasi publik dimaksudkan untuk lebih memahami hubungan

pemerintah dengan publik serta meningkatkan responsibilitas kebijakan terhadap

berbagai kebutuhan publik, dan juga melembagakan praktik-praktik manajerial

agar terbiasa melaksanakan suatu kegiatan dengan efektif, efisien dan rasional.

Oleh karena itu, untuk menyamakan persepsi dan interpretasi tentang administrasi

publik, maka perlu diberi pembatasan atau definisi tentang administrasi tersebut

(Pasolong. 2010;1).

Secara etimologi administrasi berasal dari bahasa Latin (Yunani) yang

terdiri atas dua kata, yaitu “ad” dan “ministrate” yang berarti “to serve” yang

dalam bahasa Indonesia berarti melayani dan atau memenuhi. Dari penjelasan ini

dapat dipahami bahwa yang menjadi bahan baku administrasi ialah “manusia”

karena manusia merupakan sumber adanya administrasi. Oleh karena itu, tujuan

administrasi ialah semata-mata untuk kepentingan manusia, khususnya

keberadaannya sebagai makhluk sosial yang bermasyarakat. Konsekuensinya

ialah administrasi bertanggung jawab terhadap kelangsungan organisasi dengan

segala kegiatan mulai merencanakan sampai pada evaluasi demi tujuan yang telah

ditentukan sebelumnya secara efisien dan efektif (Pasolong. 2010;1).

Permasalahan pokoknya adalah “siapa” yang harus “melayani” dan

“dilayani”? dan “siapa” yang harus “mengatur dan diatur”? jawaban yang pasti,

tidak lain dan tidak bukan ialah “manusia” itu sendiri. Dalam hal ini, ialah
13

manusia sebagai subjek untuk melayani dan manusia pulalah yang menjadi objek

untuk dilayani (Pasolong. 2010;2).

Selanjutnya untuk menyamakan persepsi dan interpretasi tentang apa yang

sesungguhnya yang dimaksud dengan administrasi, penulis mengutip pendapat

dari pakar administrasi, baik pakar luar negeri maupun pakar dalam negeri sendiri.

Simon mendefinisikan administrasi sebagai kegian-kegiatan kelompok

kerjasama untuk mencapai tujuan-tujuan bersama (dalam Pasolong. 2010;2).

Sondang P. Siagian mendefinisikan administrasi sebagai keseluruhan proses

kerjasama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas

tertentu mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (dalam Pasolong.

2010;3).

Sedangkan menurut Pasolong (2010;3) merumuskan definisi administrasi

sebagai pekerjaan terencana yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam

bekerjasama untuk mencapai tujuan atas dasar efektif, efisien dan rasional”.

Ridwan (2006; 26) Merujuk pada pengertian yang ketiga, yakni kegiatan

yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintah.

Adminsitrasi menurut Sondang P. Siagian adalah keseluruhan proses

pelaksanaan dari keputusan-keputusan yang telah diambil dan pelaksanaan itu

pada umumnya dilakukan oleh dua orang manusia atau lebih untuk mencapai

tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (dalam Syafiie. 2003;5).

Sementara itu menurut The Liang Gie adminsitrasi adalah segenap

rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilakukan oleh

sekelompok orang dalam kerjasama mencapai tujuan tertentu (dalam Syafiie.

2003;4).
14

Administrasi merupakan segala kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah


ditentukan, Kegiatan yang dilakukan dalam suatu pemerintahan dapat
dimulai dari tingkat tinggi sampai dengan tingkat terendah. Oleh karena itu
administrasi meliputi seluruh bidang pekerjaan, bukan hanya tata usaha
saja (Sukarna. 1990;1).

Dari definisi diatas dapat dipahami bahwa administrasi mempunyai dua

dimensi. Sebagaimana dijelaskan oleh Pasolong (2010;3) kedua dimensi tersebut

adalah :

1. Dimensi Karakteristik, terdiri atas:


a. Efisien berarti bahwa tujuan dari pada administrasi adalah untuk
mencapai hasil secara efektif (berhasil guna) dan efisien (berdaya
guna).
b. Efektifitas, berarti bahwa tujuan yang telah direncanakan
sebelumnya dapat tercapai atau dengan kata sasaran tercapai karena
adanya proses kegiatan.
c. Rasional berarti bahwa tujuan yang telah dicapai bermanfaat untuk
maksud yang berguna, tetapi tentu saja yang dilalakukan dengan
sadar atau disengaja.
2. Dimensi unsur-unsur yang melekat pada administrasi, yakni:
a. Adanya tujuan atau sasaran yang ditentukan sebelum melaksanakan
suatu pekerjaan
b. Adanya kerjasama baik sekelompok orang atau lembaga
pemerintahan maupun lembaga swasta
c. Adanya sarana yang digunakan oleh sekelompok atau lembaga
dalam melaksanakan tujuan yang hendak dicapai.

Publik pada dasarnya berasal dari bahasa Inggris “public” yang berarti

umum, rakyat umum, orang banyak dan rakyat. Inu Kencana Syafiie mengatakan

publik adalah sejumlah manusia yang memiliki kebersamaan berfikir, perasaan,

harapan, sikap dan tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma

yang mereka miliki (dalam Pasolong. 2010;6). Administrasi publik menurut

Dwight Waldo mendefinisikan administrasi publik adalah manajemen dan

organisasi dari manusia-manusia dan peralatannya guna mencapai tujuan

pemerintah (dalam Pasolong. 2010;8).


15

Menurut Siagian (2006;7) administasi negara adalah sebagai keseluruhan

kegiatan yang di lakukan oleh aparatur pemerintah dari suatu negara dalam rangka

mencapai tujuan negara. Sementara itu menurut Pasolong (2010;8) administrasi

publik adalah kerjasana yang dilakukan oleh sekelompok orang atau lembaga

dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dalam memenuhi kebutuhan

publik secara efisien dan efektif.

2. Konsep Manajemen

Setelah meninjau arti administrasi, penulis mengupas tentang arti

manajemen. Menurut Sukarna (1990;3) Manajemen berasal dari kata “manage”.

Kata manage dalam buku “webster’s New Colegiate Dictionary” berasal dari

bahasa Italia “maneggio” dari kata “maneggiare” dimana kata ini berasal dari

bahasa Latin, kata “manus” yang berarti “hand” (tangan). Dalam kamus tersebut

manajemen adalah tindakan atau seni pengurusan/pelaksanaan, pembimbingan

dan pengawasan.

Sukarna (1990;4) mendefinisikan manajemen adalah kegiatan untuk

mengurus, membimbing, dan mengarahkan agar supaya tujuan dapat tercapai.

Sedangkan menurut G.R. Terry manajamen adalah pencapaian tujuan yang telah

ditetapkan melalui/bersama-sama usaha orang lain (dalam Sukarna. 1990;5).

Dwight Waldo memberikan pengertian manajemen sebagai tindakan yang

ditujukan untuk memperoleh kerjasama yang rationil dalam suatu sistem

administrasi (dalam Sukarna. 2011;2). Menurut Tead manajemen adalah proses

dan perangkat yang mengarahkan serta membimbing kegiatan suatu organisasi

dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan (dalam Syafiie. 2011;2).

Definisi manajemen yang lain menurut John. D. Millet yakni proses

kepemimpinan dan pemberian arah terhadap pekerjaan yang terorganisisasi dalam


16

kelompok formal untuk mencapai tujuan yang dikehendaki (dalam Syafiie.

2011;2).

Stoner dan Wankel (dalam Pasolong, 2010;82) mengatakan bahwa

manajemen secara harfiah adalah proses perencanaan, pengorganisasian,

kepemimpinan dan pengendalian upaya anggota organisasi dan penggunaan

seluruh sumber daya organisasi lainnya demi tercapainya tujuan organisasi yang

telah ditetapkan.

Sementara itu menurut Henry Simamora mengatakan bahwa manajemen

adalah proses pendayagunaan bahan baku dan sumber daya manusia untuk

mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan (dalam Pasolong. 2010;83).

Siagian (2006;5) mendefenisikan manajemen sebagai proses

penyelenggaraan berbagai kegiatan dalam rangka penerapan tujuan dan sebagai

kemampuan atau keterampilan orang yang menduduki jabatan manajerial untuk

memperoleh hasil dalam rangka pencapain tujuan melalui kegiatan orang lain.

Dalam manajemen suatu usaha atau jawatan memerlukan tools (alat-

alat/sarana), mengingat tanpa tools tujuan yang telah ditetapkan tidak akan

tercapai. Menurut Sukarna (1990;42) adapun tools of management sebagai

berikut:

a. Men (orang/manusia), dalam manajemen faktor manusia adalah yang


paling menentukan, mengingat manajemen itu sendiri tidak aka nada
kalau manusia itu sendiri tidak ada. Manusia itulah yang membuat
tujuan, dan manusia itu pula yang melakukan proses kegiatan untuk
mencapai tujuannya.
b. Money (uang), suatu usaha atau perusahaan yang besar diukur pula dari
jumlah nilai uang yang berputar pada perusahaan itu. Jadi uang
diperlukan pada setiap kegiatan manusia untuk mencapai tujuannya.
c. Materials (materi), tanpa materi atau bahan-bahan baik bahan-bahan
yang tersedia oleh alam maupun bahan-bahan setengah jadi ataupun
barang-barang jadi tidak akan dapat mencapai tujuan yang
17

dikehendakinya. Oleh karena itu faktor materi dalam manajemen tidak


bisa diabaikan.
d. Machines (mesin-mesin), dalam perusahaan maupun pemerintahan,
mesin-mesin sangat diperlukan.
e. Methods (methode-methode), ialah salah satu cara untuk melaksanakan
pekerjaan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jadi tercapai
atau tidaknya tujuan itu tergantung terhadap cara kerja.
f. Markets (pasar), pemasaran daripada barang-barang produksi sudah
barang tentu sangat penting kelangsungan proses produksi itu sendiri.
Tentu saja dalam penerapannya market sebagai tools of management
tidak dapat dipisahkan daripada tools (sarana) yang lainnya yaitu Men,
Money, Materials, Machines, dan Methods. Market akan tergantung
sama sekali kepada tools yang lainnya.

3. Konsep Organisasi

Pengertian organisasi menurut Mooney adalah sebuah bentuk setiap

perserikatan orang-orang untuk pencapaian suatu tujuan tertentu bersama (dalam

Syafiie. 2011;11).

Siagian (dalam Zulkifli, 2005; 25) merumuskan defenisi organisasi sebagai

setiap bentuk persekutuan dua orang atau lebih yang bekerjasama dan secara

formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam

ikatan yang mana terdapat seorang atau beberapa orang yang disebut atasan dan

bawahan.

Hamin (2005; 117) mengatakan organisasi adalah sebuah kesatuan sosial

yang koordinasi secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat

diidentifikasikan, yang berfungsi atas dasar yang relative berkesinambungan

untuk mencapai suatu atau sejumlah tujuan bersama.

Menurut Millet organisasi adalah sebagai kerangka struktur dimana

pekerjaan dari beberapa orang diselenggarakan untuk mewujudkan suatu tujuan

bersama (dalam Syafiie. 2011;11).


18

Definisi organisasi adalah sebagai suatu alat saling hubungan satuan-


satuan kerja yang memberikan mereka kepada orang-orang yang
ditempatkan dalam struktur kewenangan jadi dengan demikian pekerjaan
dapat dikoordinasikan oleh pemerintah dari atasan kepada para bawahan
yang menjangkau dari puncak sampai kedasar dari seluruh badan usaha
(Syafiie. 2011;12).

Dari definisi-definisi tersebut diatas penulis berkesimpulan bahwa

organisasi merupakan (Syafiie, 2011;12):

1. Wadah atau tempat terselenggaranya administrasi


2. Didalam terjadinya berbagai hubungan atas individu maupun kelompok
baik dari organisasi itu sendiri maupun keluar organisasi
3. Terjadinya proses dan pembagian tugas
4. Berlangsungnya proses aktifitas berdasarkan kinerja masing-masing.

Menurut Dunsire (dalam kusdi 2011;5) organisasi adalah suatu sistem


berkelanjutan dari aktivitas-aktivitas manusia yang terdiferensiasi dan
terkoordinasi, yang mempergunakan, mentransformasi, dan
menyatupadukan seperangkat khusus manusia, material, modal, gagasan,
dan sumberdaya alam menjadi suatu kesatuan pemecah masalah yang unik
dalam rangka memuaskan kebutuhan dan sumberdaya dalam
lingkungannya.

Menurut Simin organisasi adalah sebagai pola komunikasi yang lengkap

dan hubungan-hubungan lain didalam suatu kelompok orang-orang (dalam

Siagian. 2006;51).

Menurut Siagian (2003;96) organisasi dapat ditinjau dari dua sudut


pandang. Pertama, organisas dapat dipandang sebagai "wadah" dimana
kegiatan-kegiatan administrasi dan manajemen dijalankan. Kedua,
organisasi dapat dipandang sebagai proses dimana analisis interaction
antara orang-orang yang menjadi anggota organisasi itu. Sukses tidaknya
administrasi dan manajemen dalam melaksanakan fungsi
pengorganisasiannya dapat dinilai dari kemampuannya untuk menciptakan
suatu organisasi yang baik.

Dari defenisi di atas maka dapat di simpulkan bahwa organisasi

merupakan suatu tempat di mana adminisrasi di jalankan sesuai dengan fungsi dan

tugas nya. Administrasi merupakan suatu proses yang melaksanakan setiap bentuk
19

kegiatan atau aktifitas organisasi. Tanpa adanya administrasi di dalam sebuah

organisasi yang mampu melaksanakan tugas dan fungsi nya secara baik, maka

tujuan organisasi akan semakin sulit untuk tercapai secara efektif dan efisien.

4. Evaluasi

Kata evaluasi  berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian


atau penaksiran.  Evaluasi adalah suatu kegiatan sistematis dan terencana
untuk mengukur, menilai dan klasifikasi pelaksanaan dan keberhasilan
program. Dalam suatu organisasi penggunaan evaluasi sangatlah penting
guna untuk menilai akuntabilitas organisasi. Evaluasi adalah proses
penilaian. Penilaian ini bisa menjadi netral, positif atau negatif atau
merupakan gabungan dari keduanya. Saat sesuatu dievaluasi biasanya
orang yang mengevaluasi mengambil keputusan tentang nilai atau
manfaatnya (sumber: kutipan internet www.indopubadmi.com/
Fungsi Evaluasi Dalam Manajemen/2 desember 2014). 

Pemahaman mengenai defenisi evaluasi dapat berbeda-beda sesuai dengan

pemikiran para ahli yang bervariatif. Menurut Stufflebeam dalam Lababa (2008)

mengemukakan evaluasi adalah proses menggambarkan, memperoleh dan

menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan alternative keputusan.

Tague Sutclife mengartikan evaluasi sebagai bukan sekedar menilai suatu

aktifitas secara spontan dan incidental, melainkan merupakan kegiatan untuk

menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah berdasarkan turunan yang

jelas (dalam Afifuddin. 2015;251).

Pendapat lain mengenai evaluasi disampaikan Suharsimi Arikunto dan

Cepi bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan informasi tentang

bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk

menentukan alternative yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan (dalam

Afifuddin. 2015;251).
20

Menurut Arifin (2010:5) mengatakan, “evaluasi adalah suatu proses bukan

suatu hasil (produk). Hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi adalah kualitas

sesuatu, baik yang menyangkut tentang nilai atau arti, sedangkan kegiatan untuk

sampai pada pemberian nilai dan arti itu adalah evaluasi”.

Evaluasi biasanya ditujukan untuk menilai sejauh mana keefektivan

kebijakan publik guna dipertanggungjawabkan kepada konstituennya. Sejauh mana

tujuan dicapai serta untuk melihat sejauhmana kesenjangan antara harapan dengan

kenyataan.

Menurut Lester dan Stewart evaluasi ditujukan untuk melihat sebagian-

sebagian kegagalan suatu kebijakan dan untuk mengetahui apakah kebijakan yang

telah diinginkan (dalam Agustino. 2008;185).

Istilah evaluasi menurut Dunn (2000;608) mempunyai arti yaitu: “Secara


umum istilah evaluasi dapat disamakan dengan penaksiran (appraisal),
pemberian angka (rating) dan penilaian (assessment), kata-kata yang
menyatakan usaha untuk menganalisis hasil kebijakan dalam arti satuan
nilainya. Dalam arti yang lebih spesifik, evaluasi berkenaan dengan
produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan”.

Evaluasi kebijakan secara sederhana, menurut William Dunn berkenaan

denga produksi informasi mengenai nilai-nilai atau manfaat-manfaat hasil

kebijakan (dalam Agustino. 2008;185).

Evaluasi menurut Dunn (2000:610) dilihat dari:

1. Efektivitas, apakah hasil yang diinginkan telah dicapai


Efektifitas berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil
(akibat) yang diharapkan, atau mencapai tujuan dari diadakannya
tindakan. Efektifitas yang secara dekat berhubungan dengan rasionalitas
teknis, selalu dikukur dari unit produk atau layanan atau nilai
moneternya (Dunn, 2000;429).
2. Efisiensi, seberapa banyak usaha diperlukan untuk mencapai hasil yang
diinginkan.
Efisiensi berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk
menghasilkan tingkat efektiftas tertentu. Efisiensi, yang merupakan
21

sinonim dari rasionalitas ekonomi, adalah merupakan hubungan antara


efektifitas dan usaha, yang terakhir umumnya diukur dari ongkos
moneter. Efisiensi biasanya ditentukan melalui perhitungan biaya per
unit produk atau layanan. Kebijakan yang mencapai efektifitas tertinggi
dengan biaya terkecil dinamakan efisien (Dunn, 2000;430).
3. Kecukupan, seberapa jauh pencapaian hasil yang diinginkan
memecahkan masalah.
Kecukupan berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektifitas
memuaskan kebutuhan, nilai atau kesempatan yang menumbuhkan
adanya masalah. Kriteria kecukupan menekankan pada kuatnya
hubungan antara alternatif kebijakan dan hasil yang diharapkan. (Dunn,
2000;430).
Kriteria kecukupan berkenaan dengan empat tipe masalah:
a. Masalah tipe I, masalah dalam tipe ini meliputi ongkos tetap dan
efektifitas yang berubah.
b. Masalah tipe II, masalah pada tipe ini menyangkut efektifitas yang
sama dan biaya yang berubah.
c. Masalah tipe III, masalah pada tipe ini menyangkut biaya yang
berubah dan efektifitas yang berubah.
d. Masalah tipe IV, masalah pada tipe ini mengandung biya sama dan
juga efektifitas tetap.
Defenisi kecukupan yang berbeda yang terdapat pada empat tipe
masalah tersebut menegaskan kompleksitas hubungan antara biaya dan
efektiftas (Dunn, 2000;430).
4. Pemerataan, apakah biaya dan manfaat didistribusikan dengan merata
kepada kelompok yang berbeda.
Kriteria kesamaan erat hubungannya dengan rasionalitas legal dan
sosial dan menunjuk pada distribusi akibat dan usaha antara kelompok-
kelompok yang berbeda dalam masyarakat. Kebijakan yang berorientasi
pada perataan adalah kebijakan yang akibatnya (misalnya, unit
pelayanan atau manfaat moneter) atau usaha (misalnya biaya moneter)
secara adil didistribusikan (Dunn, 2000;434).
Kriteria pemerataan atau kesamaan erat hubungannya dengan konsepsi
yang saling bersaing, yaitu keadilan atau kewajaran dan terhadap
konflik etis sekitar dasar yang memadai untuk mendistribusikan risorsis
dalam masyarakat. Dalam mendefenisikan tujuan secara eksplisit tujuan
dari masyarakat secera keseluruhan analis dapat secara nyata mencari
cara untuk mengukur kesejahteraan sosial.
5. Responsivitas, apakah hasil kebijakan memuaskan kebutuhan, atau nilai
kelompok tertentu
Responsivitas berkenaan dengan seberapa jauh suatu kebijakan dapat
memenuhi kebutuhan, preferensi, atau nilai kelompok-kelompok
masyarakat tertentu. Kriteria responsivitas adalah penting karena analis
yang dapat memuaskan semua kriteria lainnya – efektifitas, efisiensi,
kecukupan, kesamaan – masih gagal jika belum menanggapi kebutuhan
22

aktual dari kelompok yang semestinya diuntungkan dari adanya suatu


kebijakan (Dunn, 2000;437).
6. Ketepatan, apakah hasil (tujuan) yang diinginkan benar – benar berguna
atau bernilai.
Kriteria ketepatan secara dekat berhubungan dengan rasionalitas
substantif. Ketepatan merujuk pada nilai atau harga dari tujuan program
dan kepada kuatnya asumsi yang melandasi tujuan-tujuan tersebut.
Misalnya, tidak mempertanyakan nilai efisiensi dan kesamaan – kriteria
ketepatan mempertanyakan apakah tujuan tersebut tepat untuk suatu
masyarakat (Dunn, 2000;438).

5. Implementasi Kebijakan Publik

Hal-hal atau peristiwa khususnya yang berkait dengan otonomi daerah

sudah sangat pasti akan berkaitan dengan kebijakan public. Kebijakan publik yang

diformulasikan oleh daerah secara luas memberikan warna-warna tertentu pada

setiap daerah (Agustino, 2008;4)

Menurut Sumaryadi (2013;85) secara etimologis implementasi berasal dari


kata bahasa inggris yaitu to implement berarti menyediakan sarana bagi
pelaksanaan sesuatu. Dan to give untuk menimbulkan efek/dampak.
Impelementasi berarti melaksanakan sesuatu yang mempunyai dampak
atau hasil bagi publik.

Kebijakan publik menurut Laswell dan Kaplan kebijakan publik adalah

tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang dilaksanakan oleh instansi-instansi

pemerintah beserta jajarannya dan masyarakat untuk memecahkan suatu masalah

tertentu (dalam Adisasmita. 2011;213). Sementara itu menurut Richard Rose

kebijakan publik yakni sebuah rangkaian panjang dari banyak atau sedikit

kegiatan yang saling berhubungan dan memiliki konsekuensi bagi yang

berkepentingan sebagai keputusan yang berlainan (dalam Agustino. 2008;7).

Pengertian kebijakan publik menurut para ahli adalah Dye dimana dikatakan

kebijaksanaan publik adalah apapun juga yang dipilih pemerintah apakah

mengerjakan sesuatu itu atau tidak mengerjakan (mendiamkan) sesuatu itu (dalam

Syafiie. 2006;105).
23

Pengertian kebijaksanaan menurut Carl Friedrich (dalam Wahab, 2005;3)


dimana dikatakan suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang
diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam lingkungan
tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu seraya
mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran
yang diinginkan.

Menurut Chandler dan Plano kebijaksanaan publik adalah pemanfaatan

yang strategis terhadap sumber daya-daya yang ada untuk memecahkan masalah

publik (dalam Pasolong. 2010;38).

Kebijakan yang dilakukan pemerintah berkaitan erat dengan kebijakan

publik. Kebijakan sesungguhnya bukanlah sekedar bersangkut paut dengan

mekanisme penjabaran keputusan politik kedalam prosedur rutin lewat saluran

birokrasi pemerintahan melainkan lebih dari itu, lebih menyangkut masalah

konflik, keputusan dan siapa memperoleh apa dari suatu kebijakan. Karena itu

terlalu salah bila dikatakan kebijakan merupakan aspek yang penting dari

keseluruhan proses mengambil dan menentukan keputusan pemerintah

(Sumaryadi, 2013;83).

Kebijakan publik sangat erat dengan putusan pemerintahan dalam proses

pembangunan. Kebijakan publik menjadi penting apabila kebijakan tersebut

dijalankan atau diimplementasikan. Salah satu aspek terpenting dalam kebijakan

pemerintah selain aspek formulasi dan evaluasi, aspek implementasi kebijakan

sangat menentukan karena implementasi berkaitan dengan bagaimana kebijakan

yang diambil dapat dilaksanakan.

Implementasi kebijakan menurut Agustino (2008;139) adalah merupakan

suatu proses yang dinamis, dimana pelaksana kebijakan melakukan suatu aktifitas

atau kegiatan, sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang sesuai

dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri.


24

Implementasi kebijakan menurut Sumaryadi (2013;87) adalah suatu


aktifitas atau kegiatan dalam rangka mewujudkan atau merealisasikan
kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya, yang dilakukan oleh
organisasi badan pelaksana dengan memanfaatkan segala sumber daya
yang tersedia untuk mencapai tujuan tertentu.

Sedangkan Van Meter dan Van Horn mendefiniskan implementasi

kebijakan sebagai “Tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau

pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan

pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan

kebijaksanaan” (dalam Agustino. 2008;139).

Menurut Van Meter dan Van Horn (dalam Agustino, 2008;142)

implementasi kebijakan publik dipengaruhi oleh:

1. Ukuran dan tujuan kebijakan


Implementasi kebijakan dapat diukur tingkat keberhasilannya jika dan
hanya jika ukuran dan tujuan dari kebijakan memang realistis dengan
sosio-kultur yang mengada dilevel pelaksana kebijakan.
2. Sumber daya
Keberhasilan implementasi kebijakan sangat tergantung dari
kemampuan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. Manusia
merupakan sumberdaya yang terpenting dalam menentukan suatu
keberhasilan proses implementasi. Tahap-tahap tertentu dari
keseluruhan proses implementasi menuntut adanya sumberdaya
manusia yang berkualitas sesuai dengan pekerjaan yang diisyaratkan
oleh kebijakan yang telah ditetapkan secara apolitik. Tetapi ketika
kompetensi dan kapabilitas dari sumberdaya itu nihil, maka kinerja
kebijakan publik sangat sulit untuk diharapkan. Tetapi diluar
sumberdaya manusia, sumberdaya-sumberdaya lain yang perlu
diperhitungkan juga ialah sumberdaya finansia dan sumberdaya waktu.
3. Komunikasi antar organisasi dan aktifitas pelaksana
Koordinasi merupakan mekanisme yang ampuh dalam implementasi
kebijakan publik. Semakin baik koordinasi komunikasi diantara pihak-
pihak yang terlibat dalam suatu proses implementasi, maka asumsinya
kesalahan-kesalahan akan sangat kecil untuk terjadi. Dan begitu pula
sebaliknya.
4. Sikap/kecendrungan (Disposition) para pelaksana
25

Sikap penerimaan atau penolakan dari (agen) pelaksana akan sangat


banyak mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya kinerja implementasi
kebijakan publik. Hal ini sangat mungkin terjadi oleh karena kebijakan
yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat yang
mengenal betul persoalan dan permasalahan yang mereka rasakan.
Tetapi kebijakan yang akan implementor pelaksanaan adalah kebijakan
“dari atas” (top down) yang sangat mungkin para pengambil
keputusannya tidak pernah mengetahui (bahkan tidak mampu
menyentuhnya) kebutuhan, keinginan atau permasalahan yang warga
ingin selesaikan.

Menurut Agustino (2008;157) ada beberapa faktor yang mempengaruhi

pelaksanaan atau tidaknya suatu kebijakan publik, yaitu:

a. Faktor penentu pemenuhan kebijakan


1. Respeknya anggota masyarakat pada otoritas dan keputusan
Pemerintah.
2. Adanya kesadaran untuk menerima kebijakan
3. Adanya sanksi hukum
b. Faktor penentu penolakan atau penunda kebijakan
1. Adanya kebijakan yang bertentangan dengan sistem nilai yang
mengada
2. Tidak adanya kepastian hukum
3. Adanya konsep ketidakpatuhan selektif terhadap hukum.

B. Kerangka Pikir

Berpedoman pada variabel penelitian Evaluasi Pelaksanaan Perizinan

Pemasangan Reklame di Kota Pekanbaru. Kemudian mengacu pada studi

kepustakaan yang di jadikan indikator yaitu : efektifitas, efisiensi, kecukupan,

pemerataan, responsifitas dan ketepatan, serta fenomena yang telah di paparkan

sebelumnya maka penulis menggambarkan hubungan antara variabel penelitian

ini dalam sebuah kerangka pemikiran agar tidak terjadi kesalahan dan penafsiran

makna seperti berikut ini.


26

Gambar II.1: Model Kerangka Pikir Tentang Evaluasi Pelaksanaan Perizinan Pemasangan
Reklame di Kota Pekanbaru

Administrasi

Organisasi

Manajemen

Evaluasi

Evaluasi Pelaksanaan Perizinan 1. Efektivitas


2. Efisiensi
Pemasangan Reklame di Kota
3. Kecukupan
Pekanbaru
4. Pemerataan
5. Responsifitas
6. Ketepatan.

Terlaksana Kurang Terlaksana Tidak Terlaksana

Sumber: Modifikasi Dari Sejumlah Dasar Teoritis

C. Hipotesis

Maka berdasarkan rumusan yang penulis kemukan sebelumnya, studi

kepustakaan dan kerangka fikir, hipotesis penelitan ini dirumuskan dalam bentuk

kesimpulan sementara “Diduga Evaluasi Pelaksanaan Perizinan Pemasangan

Reklame di Kota Pekanbaru belum terlaksana dengan baik”.

D. Konsep Operasional

Konsep menurut Mardalis (2010;45) dimaksudkan untuk menjelaskan

makna dan maksud dari teori yang dipakai, atau menjelaskan makna dan maksud

dari teori serta menjelaskan kata-kata yang mungkin masih abstrak pengertiannya.

1. Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan informasi tentang bekerjanya

sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan

alternative yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan.


27

2. Reklame adalah benda, alat, perbuatan atau media yang bentuk dan corak

ragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan,

mempromosikan, atau untuk menarik perhatian umum Aterhadap barang,

jasa, orang, atau badan, yang dapat dilihat, dibaca, didengar, dirasakan, dan

atau dinikmati oleh umum, kecuali yang dilakukan oleh pemerintah pusat

dan/atau pemerintah daerah.

3. Izin Penyelenggaraan Reklame adalah izin penyelenggaraan reklame yang

diberikan oleh Walikota Pekanbaru melalui Badan Pendapatan Daerah Kota

Pekanbaru.

4. Penyelenggara Reklame adalah orang pribadi atau badan yang

menyelenggarakan reklame baik untuk dan atas namanya sendiri atau untuk

dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya.

5. Efektifitas yang dimaksud disini adalah apakah hasil yang diinginkan telah

dicapai.

6. Efisiensi yang dimaksud disini adalah seberapa banyak usaha diperlukan

untuk mencapai hasil yang diinginkan.

7. Kecukupan yang dimaksud disini adalah seberapa jauh pencapaian hasil yang

diinginkan memecahkan masalah.

8. Pemerataan yang dimaksud disini adalah biaya dan manfaat didistribusikan

dengan merata kepada kelompok yang berbeda.

9. Responsivitas yang dimaksud disini adalah apakah hasil kebijakan

memuaskan kebutuhan atau nilai kelompok tertentu.

10. Ketepatan yang dimaksud disini adalah apakah hasil yang diinginkan benar-

benar berguna atau bernilai.


28

E. Operasionalisasi Variabel

Tabel II.1: Operasionalisasi Variabel Penelitian Tentang Evaluasi Pelaksanaan Perizinan


Pemasangan Reklame di Kota Pekanbaru
Dimensi
Konsep Variabel Indikator Skala Ukuran
(sub indikator)
1 2 3 4 5
Istilah evaluasi Evaluasi Efektifitas 1. Reklame yang terpasang Terlaksana
mempunyai arti Pelaksanaan memiliki izin Kurang
yaitu: “Secara Perizinan 2. Sanksi yang diberikan Terlaksana
umum istilah Pemasangan kepada pengusaha Tidak
evaluasi dapat Reklame reklame yang tidak terlaksana
disamakan memiliki izin
dengan Efisiensi 1. Sosialisasi/pemberian Terlaksana
penaksiran (app informasi perizinan Kurang
raisal), reklame Terlaksana
pemberian 2. Koordinasi/komunikasi Tidak
angka (rating) d dengan pihak lain terlaksana
an Kecukupan 1. Reklame yang memiliki Terlaksana
penilaian (asses izin membantu Kurang
sment), kata- peningkatan PAD Terlaksana
kata yang 2. Sanksi yang diberikan Tidak
menyatakan memberikan efek jera terlaksana
usaha untuk Pemerataan 1. Sanksi diberikan sama Terlaksana
menganalisis terhadap pengusaha Kurang
hasil kebijakan reklame yang tidak Terlaksana
dalam arti berizin Tidak
satuan nilainya. 2. Proses perizinan tidak terlaksana
Dalam arti yang ada deskriminasi
lebih spesifik, Responsifi 1. Pengusaha mentaati Terlaksana
evaluasi peraturan. Kurang
berkenaan 2. Pengusaha mentaati Terlaksana
dengan sanksi yang diberikan Tidak
produksi terlaksana
informasi Ketepatan 1. Pelaksanaan perizinan Terlaksana
mengenai nilai reklame sudah tepat Kurang
atau manfaat 2. Sanksi sudah tepat Terlaksana
hasil kebijakan” Tidak
menurut Dunn terlaksana
(2003;608).

Sumber : Olahan Data Penelitian, 2017

F. Teknik Pengukuran

Pengukuran terhadap pelaksanaan variabel dan indikator dalam penelitian

ini diklafikasikan dalam 3 (tiga) kategori yaitu, Terlaksana, Kurang Terlaksana

dan Tidak Terlaksana. Adapun teknik yang digunakan dalam variabel dan

indikator variabel adalah sebagai berikut :


29

Evaluasi Pelaksanaan Perizinan Pemasangan Reklame di Kota Pekanbaru

dikatakan :

Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 67%-100%

Kurang Terlaksana: Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 34%-66%

Tidak Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 1%-33%

Adapun pengukuran indikator sebagai berikut :

1. Efektifitas, dikatakan :

Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentangpersentase 67%-100%

Kurang Terlaksana: Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 34%-66%

Tidak Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 1%-33%

2. Efisiensi, dikatakan :

Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentangpersentase 67%-100%

Kurang Terlaksana: Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 34%-66%

Tidak Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 1%-33%


30

3. Kecukupan, dikatakan :

Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 67%-100%

Kurang Terlaksana: Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 34%-66%

Tidak Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 1%-33%

4. Pemerataan, dikatakan :

Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 67%-100%

Kurang Terlaksana: Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 34%-66%

Tidak Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 1%-33%

5. Responsifitas, dikatakan :

Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 67%-100%

Kurang Terlaksana: Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 34%-66%

Tidak Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 1%-33%

6. Ketepatan, dikatakan :

Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 67%-100%


31

Kurang Terlaksana: Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 34%-66%

Tidak Terlaksana : Apabila semua indikator pada katagori terlaksana berada

pada rentang persentase 1%-33%


32

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian

Berdasarkan rumusan penelitian yang ada, tergambar bahwa data dan

informasi yang akan dikumpulkan melalui kusioner, wawancara pada saat

melakukan pra survey dijadikan dasar mendeskripsikan indikator variabel, karena

itu tipe penelitian ini dapat dimasukkan kedalam tipe survey deskriptif yaitu

menerangkan atau menguraikan keadaan riil dilapangan yang berhubungan

dengan Evaluasi Pelaksanaan Perizinan Pemasangan Reklame di Kota Pekanbaru

dengan tipe kuantitatif.

B. Lokasi Penelitian

Adapun penelitian ini dilakukan di Kantor Badan Pendapatan Daerah yang

berlokasi di jalan Teratai Nomor 81 Kelurahan Pulau Karam Kecamatan Sukajadi

Kota Pekanbaru. Lokasi ini diambil sebagai lokasi penelitian, karena untuk

pelaksanaan perizinan pemasangan reklame di Kota Pekanbaru dilaksanakan oleh

Badan Pendapatan Daerah Kota Pekanbaru. Selain itu masih banyaknya reklame

yang tidak sesuai aturannya namun tetap terpasang, oleh karena itu pelaksanaan

perizinan pemasangan reklame oleh Badan Pendapatan Daerah Kota Pekanbaru

perlu dievaluasi.

C. Populasi dan Sampel

Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah Kepala Bidang

Pajak Daerah, Kepala Sub Bidang Pajak Reklame, Hiburan Air Tanah,

Penerangan Jalan dan Mineral Bukan Logam Batuan serta Staff serta
33

Penyelenggara Reklame di Kota Pekanbaru. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat

pada tabel berikut ini:

Tabel III.1: Keadaan Populasi dan Sampel Penelitian Tentang Evaluasi


Pelaksanaan Perizinan Pemasangan Reklame di Kota Pekanbaru
No Sub Populasi Populasi Sampel Persentase
1. Kepala Bidang Pajak Daerah 1 1 100%
2. Kepala Sub Bidang Pajak 1 1 100%
Reklame, Hiburan Air Tanah,
Penerangan Jalan dan Mineral
Bukan Logam Batuan
3. Staff Sub Bidang Pajak 4 4 100%
Reklame, Hiburan Air Tanah,
Penerangan Jalan dan Mineral
Bukan Logam Batuan
Jumlah 6 6 100%
Sumber : Badan Pendapatan Daerah Kota Pekanbaru, 2017

Menurut Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 4 Tahun 2011 Bab II

pasal 2, maka ketentuan populasi dan sampel atas pengusaha reklame akan dibagi

berdasarkan jenis reklame sebagai berikut:

Tabel III.2: Keadaan Populasi dan Sampel Penelitian Pemilik Usaha Reklame
Tentang Evaluasi Pelaksanaan Perizinan Pemasangan Reklame di
Kota Pekanbaru
Sub Populasi
Usaha Usaha Usaha Usaha
No Populasi Sampel
Advertising Toko Fitnes Bahan
Komputer Kue
1 Reklame
papan/billboard √ √ √ √ 4
dan sejenisnya
2 Reklame kain √ - √ √ 3
3 Reklame melekat
√ √ - √ 3
(stiker)
4 Reklame
√ - - √ 2
selebaran
5 Reklame
berjalan
√ √ - - 2
termasuk pada
kendaraan
34

6 Reklame udara √ - √ - 2
7 Reklame suara √ - - - 1
8 Reklame
- - - √ 1
film/slide
9 Reklame
√ - - √ 2
peragaan
10 Reklame apung - - - - -
Jumlah 20
Sumber : Olahan Data Penelitian, 2017

D. Teknik Penarikan Sampel

Berdasarkan pertimbangan penelitian dan pengelompokan populasi, maka

untuk menentukan populasi dan sampel, pada Badan Pendapatan Daerah Kota

Pekanbaru dalam hal ini Kepala Bidang Pajak Daerah, Kepala Sub Bidang Pajak

Reklame, Hiburan Air Tanah, Penerangan Jalan dan Mineral Bukan Logam

Batuan serta Staff teknik penarikan sampel yang digunakan adalah dengan teknik

penarikan sensus karena jumlah populasi tidak terlalu besar. Teknik penarikan

sensus adalah suatu teknik penarikan dimana keseluruhan jumlah populasi

dijadikan sebagai responden. Sedangkan terhadap pemilik reklame dengan

menggunakan teknik Purposive Sampling yaitu suatu teknik penarikan sampel

yang merupakan responden penelitian dengan penentuan sampel dengan

pertimbangan tertentu. Dengan menetapkan sampel sebanyak 20 orang yang

penulis anggap cukup untuk mewakili responden lainnya.

E. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan Sumber Data dalam penelitian ini terbagi dua, yakni:

1. Data primer

Yaitu data yang penulis peroleh secara langsung dari para responden yakni

terdiri dari identitas responden berisi jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan
35

serta hasil tanggapan responden tentang Evaluasi Pelaksanaan Perizinan

Pemasangan Reklame di Kota Pekanbaru.

2. Data skunder

Yaitu data yang penulis peroleh dari kantor yang terdiri dari gambaran umum

Badan Pendapatan Daerah Kota Pekanbaru, Tugas dan Fungsi, Struktur

organisasi dan sebagainya.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui:

1. Wawancara, yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan mengajukan

pertanyaan-pertanyaan secara langsung kepada para responden yakni Kepala

Bidang Pajak Daerah, Kepala Sub Bidang Pajak Reklame, Hiburan Air

Tanah, Penerangan Jalan dan Mineral Bukan Logam serta pengusaha

reklame.

2. Kuissioner, merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara

memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden

yakni Kepala Bidang Pajak Daerah, Kepala Sub Bidang Pajak Reklame,

Hiburan Air Tanah, Penerangan Jalan dan Mineral Bukan Logam san Staff

serta pengusaha reklame untuk kemudian dijawab.

3. Pengamatan (observasi) yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara

terjun langsung ke lokasi penelitian.

G. Teknik Analisa Data

Setelah data yang di perlukan dalam penelitian ini terkumpul, maka data

tersebut nanti nya akan di kelompokan ke masing-masing variabel. Kemudian di

analisa secara kuantitatif yang hasilnya akan di sajikan dalam bentuk tabel, angka,
36

persentase, dan di lengkapi dengan uraian serta keterangan yang mendukung,

sehingga dapat di ambil kesimpulan nya.

H. Jadwal Waktu Kegiatan Penelitian

Penelitian ini dimulai dari bulan November 2017 direncanakan memakan

waktu kurang lebih lima bulan dan akan selesai pada bulan Maret 2018.

Tabel III.2 Jadwal Waktu Kegiatan Penelitian Tentang Evaluasi Pelaksanaan


Perizinan Pemasangan Reklame di Kota Pekanbaru
Bulan dan Minggu ke Tahun 2017 – 2018
N
Jenis Kegiatan November Desember Januari Februari Maret
o
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penyusunan
UP
2 Seminar UP
3 Revisi UP
4 Revisi
Kuissioner
5 Rekomendasi
Survay
6 Survay
Lapangan
7 Analisis Data
8 Penyusunan
Laporan Hasil
Penelitian
(Skripsi)
9 Konsultasi
Revisi Skripsi
10 Ujian
. Konfrehensif
Skripsi
11 Revisi Skripsi
.
12 Penggandaan
. Skripsi

I. Rencana Sistematika Laporan Penelitian

BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini dimulai dengan latar belakang masalah. Dalam
uraian berikutnya dibahas mengenai rumusan masalah, tujuan dan
kegunaan penelitian.
37

BAB II : STUDI KEPUSTAKAAN DAN KERANGKA PIKIR


Bab ini merupakan landasan teori untuk dapat melakukan
pembahasan skripsi lebih lanjut yang mana berbagai teori yang
berhubungan dengan penelitian ini. Selain itu juga akan diuraikan
mengenai kerangka pikir, konsep operasional, operasionalisasi
variabel, hipotesis dan teknik pengukuran.
BAB III : METODE PENELITIAN
Pada bab ini penuli menguraikan tipe penelitian, lokasi penelitian,
populasi dan sampel, teknik penarikan sampel, teknik
pengumpulan data, jenis dan sumber data, teknik analisa data dan
jadwal waktu kegiatan penelitian serta sistematika penulisan
laporan penelitian.
BAB IV : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Pada bab empat ini memuat tentang sejarah atau gambaran umum
kantor penelitian, struktur kantor, uraian tugas dan fungsi
pegawai.
BAB V : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini membahas tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh
penulis yakni Evaluasi Pelaksanaan Perizinan Pemasangan
Reklame di Kota Pekanbaru.
BAB VI : PENUTUP
Bab ini merupakan bab penutup, penulis membaginya dalam dua
sub yaitu kesimpulan dan saran.
38

DAFTAR KEPUSTAKAAN

A. Buku-Buku

Adisasmita, Rahardjo, 2011. Manajemen Pemerintahan Daerah. Yogyakarta.

Afifuddin, M.M, 2015. Dasar-Dasar Manajemen, Bandung, Alfabeta

Agustino,  Leo, 2008. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung, Alfabeta.

Arifin, Zainal, 2010. Evaluasi Pembelajaran Prinsip,Teknik, Prosedur, Bandung,


Remaja Rosdakary.

Dunn, W, 2000. Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Yogyakarta, Gajah Mada


Universitas Press.

Hamim, Sufian, 2005. Administrasi, Organisasi Dan Manajemen, Uir Press,


Pekanbaru.
Kusdi, 2011. Teori Organisasi dan Administrasi. Jakarta, Salemba Humanika.

Mardalis. 2010, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta, Bumi


Aksara

Pasolong, Harbani, 2007. Teori Administrasi Publik. Bandung, Penerbit Alfabeta.

Pasolong, Harbani, 2010. Teori Administrasi Publik. Bandung, Penerbit Alfabeta.

Ridwan, Hr, 2006. Hukum Administrasi Negara, Jakarta, Pt Raja Grafindo


Persada
Siagian, Sondang. P, 2006. Teori Pengembangan Organisasi. Jakarta, Bumi
Askara.

Sukarna, 1990. Pengantar Ilmu Administrasi. Bandung, Mandar Maju

Sukarna, 2011. Dasar-Dasar Manajemen. Bandung, Mandar Maju

Sumaryadi, Nyoman, 2013. Sosiologi Pemerintahan. Bogot, Ghalia Indonesia.

Syafiie, Inu Kencana, 2003. Sistem Administrasi Negara Indonesia. Jakarta, Bumi
Askara.

Syafiie, Inu Kencana, 2006. Ilmu Administrasi Publik. Jakarta, Rineka Cipta.

Syafiie, Inu Kencana, 2011. Manajemen Pemerintahan, Jakarta, PT. Perca.


39

Syafiie, Inu Kencana, 2011. Pengantar Ilmu Pemerintahan, Bandung, PT. Refika
Aditama.

Wahab, Abdul Solichin, 2005. Analisis Kebijaksanaan Edisi Kedua Dari


Formulasi Ke Implementasi Kebijaksanaan Negara. Jakarta, Bumi Aksara.

Zulkifli, 2005. Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen. Pekanbaru,


UIR Press.

B. Dokumentasi

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak


Daerah dan Retribusi Daerah

Peraturan Walikota Pekanbaru Nomor 119 tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan
Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Pendapatan Daerah Kota
Pekanbaru

Peraturan Walikota (Perwako) Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan


Reklame di Pekanbaru