Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Otitis Media Akut (OMA) merupakan infeksi pada telinga tengah yang
terjadi karena faktor pertahanan tubuh terganggu. Sumbatan tuba Eustachius
merupakan faktor penyebab utama dari otitis media.
Karena fungsi tuba Eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke dalam
telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman ke dalam telinga tengah dan
terjadi peradangan. Dikatakan juga, bahwa pencetus terjadinya OMA ialah infeksi
saluran nafas atas.1,2
Jenis otitis media akut dapat dibagi atas 5 stadium, yaitu stadium oklusi
tuba Eustachius, stadium hiperemis (pre-supurasi), stadium supurasi, stadium
perforasi dan stadium resolusi. Penyakit ini sering mengenai anak usia pra
sekolah, puncaknya pada usia 2 tahun. Insiden ini akan menurun secara tajam
setelah usia lebih dari 7 tahun. Insiden dipengaruhi oleh faktor rasial, nutrisi dan
status ekonomi.Penyakit ini memiliki prevalensi yang tinggi dan merupakan
masalah penting karena berhubungan dengan gangguan pendengaran yang kini
menimpa negara berkembang.1,2

BAB II

1
STATUS PASIEN

2.1 IDENTITAS PASIEN

 Nama : An. N
 Umur : 8 tahun
 Jenis kelamin : Laki-Laki
 Alamat : Perumahan Aur Duri
 Agama : Islam
 Pekerjaan : Pelajar
 Pendidikan Pasien : SD

2.2 ANAMNESIS

 Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan nyeri telinga kiri sejak 2 minggu yang lalu

 Riwayat Perjalanan Penyakit


Pasien datang dengan keluhan nyeri telinga kiri sejak 2 minggu yang lalu,
terdapat cairan yang keluar berwarna putih kekuningan, tidak berbau,
dengan konsistensi kental. Pasien juga mengeluhkan sebelum keluhan
muncul, pasien demam selama 3 hari dan pasien sering mengorek telinga.
Riwayat batuk pilek pada pasien disangkal. Keluhan berupa telinga
berdengung, berdenging ataupun rasa penuh di telinga disangkal.

 Riwayat Pengobatan
Pasien pernah berobat di Puskesmas untuk mengobati demam pasien .
Pasien mengingat diberikan obat antibiotik dan obat paracetamol. Setelah
berobat pasien merasa ada perbaikan terhadap penyakitnya.
 Riwayat Penyakit Dahulu

2
Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Riwayat
asma (-), riwayat alergi (-),

 Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit yang sama
dengan pasien. Riwayat asma (-) , alergi (-) dalam keluarga di sangkal.

TELINGA HIHIDUNG (Ka/Ki) TENGGOROK LARING


(Ka/Ki)
Gatal :-/+ Rinore : - / - Sukar Menelan : - Suara parau : -
Dikorek : - / + Buntu : - / - Sakit Menelan : - Afonia : -
Nyeri :-/+ Bersin : - Trismus :- Sesak napas : -
Bengkak : - / - Dingin/Lembab : - Ptyalismus : - Rasa sakit : -
Otore :-/+ Debu Rumah :- Rasa Ngganjal : - Rasa ngganjal : -
Tuli :-/- Berbau : - Rasa Berlendir : -
Tinitus :-/- Mimisan : - / - Rasa Kering : -
Vertigo : - Nyeri Hidung : - / -
Mual :- Suara sengau : -
Muntah : -

2.3 PEMERIKSAAN FISIK

 Kesadaran : Composmentis
 Pernapasan : 18 x/menit
 Suhu : 36,5 °C
 Nadi : 84 x/menit
 TD : 110/80 mmHg
 Anemia :-/-
 Sianosis :-/-
 Stridor inspirasi :-/-

3
 Retraksi suprasternal : -
 Retraksi interkostal :-/-
 Retraksi epigastrial :-/-

a. Telinga
Daun Telinga Kanan Kiri
Anotia/mikrotia/makrotia - -
Keloid - -
Perikondritis - -
Kista - -
Fistel - -
Ott hematoma - -
Nyeri tekan tragus - +
Nyeri tarik daun telinga - -
Liang Telinga Kanan Kiri
Atresia - -
Serumen - -
Epidermis prop - -
Korpus alineum - -
Jaringan granulasi - -
Exositosis - -
Osteoma - -
Furunkel - -
Membrana Timpani Kanan Kiri
Hiperemis - +
Retraksi - -
Bulging - -
Atropi - -

4
Perforasi - +, perforasi sentral
Bula - -
Sekret + +
Refleks Cahaya Arah jam 5 Tidak dapat dinilai
Retro-aurikular Kanan Kiri
Fistel - -
Kista - -
Abses - -
Pre-aurikular Kanan Kiri
Fistel - -
Kista - -
Abses - -

b. Hidung
Rinoskopi
Kanan Kiri
Anterior
Hiperemis (-), Furunkel (-), Hiperemis (-), Furunkel
Vestibulum nasi
Krusta (-) (-), Krusta (-)
Sekret (-), hiperemis (-), Sekret (-), hiperemis (-),
Kavum nasi
Edema mukosa (-) Edema mukosa (-)
Selaput lendir DBN DBN
Septum nasi Deviasi (-) Deviasi (-)
Lantai + dasar
DBN DBN
hidung
Hipertrofi (+), hiperemis (-), Hipertrofi(-),hiperemis(-
Konka inferior
livide (-) ), livide (-)
Meatus nasi
DBN DBN
inferior

5
Polip - -
Korpus alineum - -
Massa tumor - -

Rinoskopi Kanan Kiri

Posterior
Sekret (-), hiperemis (-), Sekret (-), hiperemis (-),
Kavum nasi
Edema mukosa (-) Edema mukosa (-)
Selaput lendir DBN DBN
Koana DBN DBN
Septum nasi Deviasi (-) Deviasi (-)
Hiperemis (-), livide (-), Hiperemis (-), livide (-),
Konka superior
hipertrofi (-) hipertrofi (-)
Adenoid DBN DBN
Massa tumor - -
Fossa rossenmuller - -
Transiluminasi
Kanan Kiri
Sinus
Tidak dilakukan

c. Mulut
Hasil
Selaput lendir mulut DBN
Bibir Sianosis (-) raghade (-)
Lidah Atropi papil (-), tumor (-)
Gigi Caries (-)
Kelenjar ludah DBN

6
d. Faring

Hasil
Uvula Bentuk normal, terletak ditengah
Palatum mole hiperemis (-), benjolan (-)
Palatum durum Hiperemis (-), benjolan (-)
Plika anterior Hiperemis (-)
Dekstra : tonsil T1, hiperemis (-),
permukaan rata, kripta tidak melebar
detritus (-)
Tonsil
Sinistra : tonsil T1, hiperemis (-),
permukaan rata, kripta tidak melebar
detritus (-)
Plika posterior Hiperemis (-)
Mukosa orofaring Hiperemis (-), granula (-)

e. Laringoskopi Indirect
Hasil
Pangkal lidah
Epiglotis
Sinus piriformis
Aritenoid Sulit dinilai
Sulcus aritenoid
Corda vocalis
Massa

f. Kelenjar Getah Bening Leher

7
Kanan Kiri
Regio I DBN DBN
Regio II DBN DBN
Regio III DBN DBN
Regio IV DBN DBN
Regio V DBN DBN
Regio VI DBN DBN
area Parotis DBN DBN
Area postauricula DBN DBN
Area occipital DBN DBN
Area supraclavicula DBN DBN

g. Pemeriksaan Nervi Craniales


Kanan Kiri
Nervus III, IV, VI DBN DBN
Nervus VII DBN DBN
Nervus IX DBN
Regio XII DBN

2.4 PEMERIKSAAN AUDIOLOGI

Tes Pendengaran Kanan Kiri


Tes Rinne - -
Tes weber ada lateralisasi ke telinga yang sakit (kiri)
Tes schwabach Sama dengan pemeriksa Memanjang

8
Kesimpulan : Tuli konduktif pada telinga kiri

2.5 DIAGNOSIS

Otitis Media Akut Stadium Perforasi Aurikula Sinisitra

2.6 DIAGNOSIS BANDING

Otitis Media Akut


Otitis Media Supuratif Kronis
Otitis Eksterna Difus

2.7 PENATALAKSANAAN

Diagnostik

Lakukan pemeriksaan penunjang kultur dan uji resistensi kuman dari sekret
telinga.

Terapi

Prinsip terapi OMA stadium perforasi adalah konservatif atau


medikamentosa.

- Pembersihan liang telinga dengan suction


- Obat cuci telinga H2O2 3% selama 5 hari
- Antibiotik sistemik : Amoksilin 80 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis
- Analgetik : Ibuprofen 4 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis

Monitoring

- Minta pasien untuk kontrol ulang setelah obat yang diberikan habis. Lihat
apakah ada perbaikan dari keluhan yang dialami pasien, yaitu keluarnya
sekret dari telinga.
- Setelah di observasi selama 2 bulan, lihat apakah ada perbaikan dari
perforasi pada membran timpani. Jika dalam waktu tersebut masih ada

9
perforasi, maka idealnya diindikasikan untuk melakukan tindakan bedah
(miringoplasti/timpanoplasti). Operasi ini bertujuan untuk mengehentikan
infeksi secara permanen, memperbaiki membran timpani yang perforasi,
mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih
berat, serta memperbaiki pendengaran.
- Foto rontgen mastoid
- Kultur dan uji resistensi kuman

KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)

1. Menjelaskan mengenai penyakit pasien, termasuk faktor yang


memperberat penyakit tersebut.
2. Menjelaskan kepada pasien mengenai tujuan dan manfaat dari
pengobatan yang diberikan kepada pasien.
3. Memberitahu kan kepada pasien akan pentingnya follow up dan terapi
yang adekuat untuk penyakitnya.
4. Memberitahukan kepada pasien untuk menutup telinga ketika mandi dan
tidak boleh berenang untuk mencegah telinga menjadi lembab dan tidak
lagi mengorek telinga.
5. Menyarankan pasien untuk tetap menjaga higienitas dan memakan
makanan yang bergizi.

2.8 PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam

Quo ad fungsionam : dubia ad bonam

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Telinga


Secara anatomi telinga terbagi atas telinga luar, telinga tengah, dan telinga
dalam.

10
a. Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga sampai membran timpani. Daun telinga
terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S,
dengan rangka tulang rawan pada sepertiga luar dan terdiri atas tulang pada dua
pertiga dalam. Panjangnya kira-kira 2,5 – 3 cm.2

Pada sepertiga luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen
(modifikasi kelenjar keringat = kelenjar serumen) dan rambut. Kelenjar keringat
terdapat pada seluruh liang telinga. Sedangkan pada dua pertiga dalam hanya
dijumpai sedikit kelenjar serumen.1,2,5

b. Telinga Tengah
Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas-batas sebagai berikut :
 Batas Luar : membran timpani
 Batas depan : tuba eustachius
 Batas bawah : vena jugularis
 Batas belakang : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis
 Batas atas : tegmen timpani (meningen/otak)

11
 Batas dalam : berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semi sirkularis
horizontal, kanalis fasialis, oval window, round window.

Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang
telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Membran timpani ini juga
terbagi atas dua pars, yaitu2 :

- Pars flaksida (membran sharpnell), terletak di bagian atas. Terdiri atas dua
lapisan, yaitu bagian luar yang merupakan lanjutan epitel kulit liang
telinga dan bagian dalam yang dilapisi sel kubus bersilia. Pada pars ini
terdapat daerah yang disebut atik. Di tempat ini terdapat aditus ad antrum,
yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum
mastoid.
- Pars Tensa (Membran propria), terletak di bagian bawah. Terdiri dari tiga
lapisan, pada bagian tengahnya terdapat lapisan yang terdiri dari serat
kolagen dan serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar dan
sirkuler pada bagian dalam.2

Pada membran timpani inilah akan tampak refleks cahaya (cone of light),
yaitu pada pukul 7 untuk telinga kiri dan pada pukul 5 untuk telinga kanan. Pada
telinga tengah juga terdapat tulang-tulang pendengaran yang saling berhubungan,
yaitu maleus, inkus, stapes. Prosesus longus maleus melekat pada membran

12
timpani, maleus melekat pada inkus, dan inkus melekat pada stapes. Stapes
terletak pada tingkap longjong yang berhubungan dengan koklea.2

c. Telinga Dalam

Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) berupa dua setengah
lingkaran dan 3 buah kanalis semi sirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut
helikotrema, menghubungkan perilimfe skala timpani dengan skala vestibuli.2
Kanalis semi sirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan
membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Skala vestibuli dan skala timpani berisi
perlimfe, sedangkan skal media berisi endolimfe. Dasar skala vestibuli disebut
membran vestibuli (reissner membrane), sedangkan dasar skala media adalah
membran basalis. Pada membran ini terletak organ corti.2

3.2 Fisiologi Pendengaran

13
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun
telinga dalam bentuk gelombang atau getaran. Getaran kemudian dialirkan ke
liang telinga dan mengenai membran timpani, sehingga akan menggetarkan
membran timpani melalui rangkaian tulang pendengaran (maleus, inkus, stapes)
yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan
perkalian perbandingan luas membran timpani dan oval window. Energi getar
yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang akan menggetarkan
oval window, sehingga perilimfe pada skala vestibuli akan bergerak.2
Getaran diteruskan melalui membran reissner yang mendorong endolimfe,
sehingga akan menimbulkan gerakan relatif antara membran basilaris dan
membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan
terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan
terjadilah pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini
menimbulkan depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke
dalam sinaps yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu
dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di
lobus temporalis.2

3.3 Definisi
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel – sel mastoid. 2 Otitis media akut
didefinisikan bila proses peradangan pada telinga tengah yang terjadi secara cepat
dan singkat (dalam waktu kurang dari 3 minggu) yang disertai dengan gejala lokal
dan sistemik.3
3.4 Epidemiologi
Otitis media akut masih merupakan masalah kesehatan khususnya pada anak-
anak. Diperkirakan 70% anak mengalami satu atau lebih episode otitis media
menjelang usia 3 tahun. Penyakit ini terjadi terutama pada anak dari baru lahir
sampai umur sekitar 7 tahun, dan setelah itu insidennya mulai berkurang. Anak
umur 6-11 bulan lebih rentan menderita OMA. Insiden sedikit lebih tinggi pada
anak laki-laki dibanding perempuan. Sebagian kecil anak menderita penyakit ini

14
pada umur yang sudah lebih besar, pada umur empat dan awal lima tahun.
Beberapa bersifat individual dapat berlanjut menderita episode akut pada masa
dewasa. Kadang-kadang, orang dewasa dengan infeksi saluran pernafasan akut
tapi tanpa riwayat sakit pada telinga dapat menderita OMA. 3

3.5 Etiologi
Kuman penyebab utama adalah bakteri piogenik, seperti streptokokus
hemolitikus, stafilokokus aureus, pneumokokus. Selain itu juga, kadang
ditemukan Hemofilus influenza, Escherichia colli, Streptokokus anhemolitikus,
Proteus vulgaris dan Pseudomonas aurugenosa. Hemofillus influenza sering
ditemukan pada anak dibawah 5 tahun. 2

3.6 Patofisiologi
Otitis media akut terjadi karena terganggunya faktor pertahanan tubuh.
Sumbatan pada tuba Eustachius merupakan faktor utama penyebab terjadinya
penyakit ini. Dengan terganggunya fungsi tuba Eustachius, terganggu pula
pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah sehingga kuman masuk dan
terjadi peradangan. Gangguan fungsi tuba Eustachius ini menyebabkan terjadinya
tekanan negatif di telingah tengah, yang menyebabkan transudasi cairan hingga
supurasi. Pencetus terjadinya OMA adalah infeksi saluran pernafasan atas
(ISPA).3
Makin sering anak-anak terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya
OMA. Pada bayi dan anak terjadinya OMA dipermudah karena4:
1. morfologi tuba eustachius yang pendek, lebar, dan letaknya agak horizontal;
2. sistem kekebalan tubuh masih dalam perkembangan;
3. adenoid pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa dan sering
terinfeksi sehingga infeksi dapat menyebar ke telinga tengah.
Beberapa faktor lain mungkin juga berhubungan dengan terjadinya penyakit
telinga tengah, seperti alergi, disfungsi siliar, penyakit hidung dan/atau sinus, dan
kelainan sistem imun.4

15
3.7 Klasifikasi Stadium
Keadaan ini berdasarkan pada gambaran membran timpani yang diamati
melalui liang telinga.

 Stadium Oklusi Tuba Eustachius


Gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan negatif di
dalam telinga tengah, akibat absorpsi udara. kadang membran timpani
tampak normal atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi
tetapi tidak dapat dideteksi.
 Stadium Hiperemis (Pre-Supurasi)
Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh
membran timpani tampak hiperemis serta edem.Terbentuk sekret yang
bersifat eksudat yang serosa tapi masih sulit dilihat.
 Stadium Supurasi
Edem hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel
superficial. Terbentuk eksudat yang purulen di kavum timpani sehingga
menyebabkan membrane timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga
luar. Pada stadium ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu
meningkat, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat.
 Stadium Perforasi
Ruptur membran timpani , nanah mengalir keluar dari telinga tengah ke
liang telinga luar. Keluhan nyeri berkurang, demam mulai turun.
 Stadium Resolusi
Daya tahan tubuh yang baik, menyebabkan resolusi yang terjadi spontan.
Bila membran timpani utuh, keadaan membran timpani akan menjadi
normal kembali. Bila terjadi perforasi, sekret akan berkurang dan akhirnya
kering. Bila perforasi menetap dan sekret keluar terus menerus atau hilang
timbul maka bisa berlanjut ke OMSK.Otitis Media Supuratif Akut dapat
menimbulkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di
kavum timpani tanpa terjadinya perforasi.2

16
3.8 Diagnosis
Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut5,6:
1. Penyakitnya muncul mendadak (akut);
2. Ditemukannya tanda efusi di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya
salah satu di antara tanda berikut: menggembungnya gendang telinga, terbatas /
tidak adanya gerakan gendang telinga, adanya bayangan cairan di belakang
gendang telinga, cairan yang keluar dari telinga;
3. Adanya tanda / gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan
adanya salah satu di antara tanda berikut: kemerahan pada gendang telinga, nyeri
telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.
Diagnosis OMA dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik
yang cermat. Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia
pasien. Pada anak – anak umumnya keluhan berupa rasa nyeri di telinga dan
demam. Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya. Pada
remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran
dan telinga terasa penuh. Pada bayi gejala khas adalah panas yang tinggi, anak
gelisah dan sukar tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga yang
sakit.3
Beberapa teknik pemeriksaan dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis
OMA, seperti otoskop, otoskop pneumatik, timpanometri, dan timpanosintesis.
Dengan otoskop dapat dilihat adanya gendang telinga yang menggembung,
perubahan warna gendang telinga menjadi kemerahan atau agak kuning dan
suram, serta cairan di liang telinga. Jika konfirmasi diperlukan, umumnya
dilakukan dengan otoskopi pneumatik. Gerakan gendang telinga yang berkurang
atau tidak ada sama sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan ini. Pemeriksaan ini
meningkatkan sensitivitas diagnosis OMA. Namun umumnya diagnosis OMA
dapat ditegakkan dengan otoskop biasa.7
Untuk mengkonfirmasi penemuan otoskopi pneumatik dilakukan
timpanometri. Timpanometri dapat memeriksa secara objektif mobilitas membran
timpani dan rantai tulang pendengaran. Timpanometri merupakan konfirmasi
penting terdapatnya cairan di telinga tengah. Timpanometri juga dapat mengukur

17
tekanan telinga tengah dan dengan mudah menilai patensi tabung miringotomi
dengan mengukur peningkatan volume liang telinga luar. Timpanometri punya
sensitivitas dan spesifisitas 70-90% untuk deteksi cairan telinga tengah, tetapi
tergantung kerjasama pasien.Timpanosintesis, diikuti aspirasi dan kultur cairan
dari telinga tengah bermanfaat untuk anak yang gagal di terapi dengan antibiotik
atau imunodefisiensi. Timpanosintesis merupakan standar emas untuk
menunjukkan adanya cairan di telinga tengah dan untuk mengidentifikasi patogen
yang spesifik.7
Menurut beratnya gejala, OMA dapat diklasifikasi menjadi OMA berat dan
tidak berat. OMA berat apabila terdapat otalgia sedang sampai berat, atau demam
dengan suhu lebih atau sama dengan 39oC oral atau 39,5 oC rektal, atau keduanya.
Sedangkan OMA tidak berat apabila terdapat otalgia ringan dan demam dengan
suhu kurang dari 39oC oral atau 39,5oC rektal, atau tidak demam.8

3.9 Tatalaksana
Tergantung pada stadium penyakit OMA : 2
 Stadium Oklusi Tuba
Anak <12 tahun : obat tetes hidung HCl Efedrin 0,5% dalam larutan NaCl
fisiologik
Anak >12 tahun dan dewasa : obat tetes hidung HCl efedrin 1% dalam
larutan NaCl fisiologik.
Obati sumber infeksi. Beri antibiotik bila penyebabnya infeksi bakteri.

 Stadium presupurasi
Obat tetes hidung, analgetik dan antibiotik golongan penisilin atau
ampisilin diberi minimal 7 hari bila alergi berikan eritromisin. Pada anak,
dosis 50 – 100 mg/kgbb/ hari dibagi dalam 4 dosis, atau amoksisilin 40
mg/kgbb/hari dibagi dalam 3 dosis atau eritromisin 40 mg/kgbb/hari
 Stadium supurasi
Antibiotik

18
Miringotomi bila membran timpani masih utuh. Miringotomi adalah insisi
pada pada pars tensa membran timpani agar terjadi drainase sekret dari
telinga tengah ke liang telinga luar.
 Stadium perforasi
Obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari
Antibiotik yang adekuat. Diharapkan sekret akan hilang dan perforasi
dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.
 Stadium resolusi
Bila tidak terjadi resolusi, sekret terlihat mengalir di liang telinga melalui
perforasi membran timpani. Pada keadaan ini antibiotik dapat dilanjutkan
hingga 3 minggu. Bila setelah 3 minggu sekret tetap banyak, kemungkinan
telah terjadi mastoiditis.

3.10 Komplikasi
Sebelum ada antobotika, OMA dapat menimbulkan kompikasi yaitu abses
sub-periosteal sampai komplikasi yang berat (meningitis dan abses otak).Sekarang
setelah ada antibiotika, semua jenis komplikasi itu biasanya didapatkan sebagai
komplikasi dari OMSK.2

BAB IV

ANALISA KASUS

Berdasarkan anamnesis yang telah dilakukan pada An. N, laki-laki,


8 tahun, diketahui bahwa An.N datang ke poliklinik THT RSUD Raden
Mattaher Jambi dengan keluhan Pasien datang dengan keluhan nyeri
telinga kiri sejak 2 minggu yang lalu, terdapat cairan yang keluar berwarna
putih kekuningan , tidak berbau, dengan konsistensi kental. Pasien juga

19
mengeluhkan sebelum keluhan muncul, pasien demam selama 3 hari
dan pasien sering mengorek telinga. Riwayat batuk pilek pada pasien
disangkal. Keluhan berupa telinga berdengung, berdenging ataupun rasa
penuh di telinga disangkal. Pasien pernah berobat di Puskesmas untuk
mengobati demam pasien . Pasien mengingat diberikan obat antibiotik dan
obat paracetamol. Setelah berobat pasien merasa ada perbaikan terhadap
penyakitnya.
Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
Riwayat asma, riwayat trauma kepala, riwayat alergi disangkal,tidak ada
anggota keluarga lain yang menderita penyakit yang sama dengan pasien.
Riwayat asma dan alergi dalam keluarga di sangkal.
Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik terhadap An. N dan didapat hasil
keadaan umum dalam batas normal, pemeriksaan fisik telinga didapatkan
liang telinga kiri banyak terdapat sekret, kavum timpani terlihat
hiperemis, terdapat perforasi di pars tensa di arah jam 6 serta refleks
cahaya telinga kiri tidak dapat dinilai. Pada pemeriksaan rinoskopi
anterior dalam batas normal. Hal tersebut diatas sesuai dengan keluhan
OMA stadium perforasi yang merupakan proses peradangan telinga
tengah dengan perforasi membran timpani dan disertai adanya sekret
setelah adanya infeksi pada pasien. Prinsip terapi OMA stadium perforasi
ialah diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 5 hari. Kemudian
diberikan juga antibiotik sistemik yaitu Amoksilin 80 mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2 dosis dan untuk menghilangkan nyeri diberikan obat
analgetik yaitu Ibuprofen 4 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis
Diharapkan sekret dapat akan hilang dan perforasi dapat menutup
kembali dalam waktu 7-10 hari. Prognosis pada pasien ini adalah dubia ad
bonam. Prognosis sangat tergantung kepada tindakan pengobatan yang
dilakukan dan komplikasi penyakitnya.

20
BAB V

KESIMPULAN

1. Otitis Media Akut (OMA) merupakan infeksi pada telinga tengah yang terjadi
karena faktor pertahanan tubuh terganggu. Sumbatan tuba Eustachius
merupakan faktor penyebab utama dari otitis media. Karena fungsi tuba
Eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah juga
terganggu, sehingga kuman ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan.

21
2. Menilai membran timpani penting untuk menentukan stadium pada
OMA.terdapat 5 stadium pada OMA yaitu stadium oklusi tuba, stadium
hiperemis (presupurasi) , stadium supurasi, stadium perforasi dan stadium
resolusi.
3. Diagnosis OMA dibuat berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan THT
terutama pemeriksaan otoskopi. Pemeriksaan penala pada OMA merupakan
pemeriksaan sederhana untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran.
4. Prinsip terapi OMA berdasarkan stadium. Setiap stadium memiliki tatalaksana
yang berbeda,.

DAFTAR PUSTAKA

1. Van den Broek, Feenstra. Buku saku Ilmu Kesehatan Tenggorok, Hidung,
dan Telinga. Edisi ke-12. Jakarta : EGC, 2010
2. Soepardi E A, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti R. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan. Edisi Ketujuh. Jakarta: Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012.

22
3. Munilson J, Edward Y, Yolanzenia. Penatalaksanaan Otitis Media Akut.
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
4. Ghanie A. Penatalaksanaan otitis media akut pada anak. Tinjauan pustaka.
Palembang: Departemen THT-KL FK Unsri/RSUP M.Hoesin;2010
5. American Academy of Pediatrics and American Academy of Family
Physicians. Diagnosis and management of acute otitis media. Clinical
practice guideline. Pediatrics 2004;113(5):1451-1465.
6. Neff MJ. AAP, AAFP release guideline on diagnosis and management of
acute otitis media. Am Fam Physician. 2004;69(11):2713-2715
7. Linsk R, Blackwood A, Cooke J, Harrison V, Lesperance M, Hildebrandt
M. Otitis media. Guidelines for clinical care. UMHS otitis media
guidelin May, 2002: 1-12.
8. Bluestone CD. Definition, terminology, and classification. In: Rosenfeld
RM, Bluestone CD,eds. Evidence-based otitis media. 2nd edition.
Ontario:BC Decker Inc;2003.p.120-135.

23