Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP ASKEP HIDROSEFALUS

Di susun untuk melengkapi tugas mata kuliah kep.anak

NAMA ANGGOTA KELOMPOK :

1. Berliana arima k (201701068)


2. Erika novi i (201701078)
3. Nurul hidayatul (201701079)

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA SEHAT PPNI

MOJOKERTO 2019/2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur saya panjatkan ke Hadirat Allah SWT, karena hanya dengan berkat-Nya dapat
menyelesaikan makalah ini. Tak lupa shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita
Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam gelap ke alam yang terang benderang,
dari alam jahiliyah ke alam yang penuh berkah ini.
Makalah ini dibuat sebagai salah satu tugas Keperawatan Anak 2. Makalah ini dibuat satu jilid yang berisi
tentang “Laporan Pendahuluan Serta Konsep Askep Pada Kasus hidrosefalus ”. Kami menyusun
makalah ini dengan sungguh-sungguh dan semampunya. Kami berharap dengan adanya makalah ini
dapat memberikan pengalaman maupun pelajaran yang berarti bagi siapa saja yang membacanya.
Akhir kata, manusia tidak ada yang sempurna, begitu pula dengan makalah ini. Jauh dari sempurna. Oleh
karena itu saran dan kritik yang membangun sangat kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Mojokerto, 04 September 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………...2
DAFTAR ISI……………………………………………..………,.……..3
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………..4
1.1 Latar Belakang Masalah............................................…………….4
1.2 Tujuan dan Manfaat........................................................................4
BAB II TINJAUAN TEORI......................................................................5
2.1 Definisi...........................................................................................5
2.2 Anatomi fisiologi............................................................................5
2.3 Klasifikasi.......................................................................................5
2.4 Etiologi...........................................................................................6
2.5 Patofisiologi dan pathway..............................................................8
2.6 Manifestasi klinis...........................................................................9
2.7 Therapi..........................................................................................11
2.8 Komplikasi...................................................................................12
2.9 Diagnosa Banding...………………………………………..……12
3.0 Prognosis……………….……………………………………12

BAB III KONSEP ASKEP …………………………………………….14


3.1 Pengkajian....................................................................................14
3.1.1 Epidimolog…………………………………………………..14
3.1.2 Identitas klien………………………………………………..14
3.1.3 Riwayat Kesehatan kesehatan……………………………….14
3.1.4 Pemeriksaan………………………………………………….15
3.1.5 Pemeriksaan penunjang……………………………………...19
3.2 Diagnosa dan Intervensi Keperawatan…………………………..20
BAB IV PENUTUP…………………………………………….………..26
4.1 Kesimpulan..............................................................................….26
4.2 Saran.............................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………....……27
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hidrosefalus merupakan masalah kesehatan yang berpengaruh terhadap system persarafan


(neurobehaviour) yang menuntut asuhan keperawatan yang serius. Penanganan hidrocefalus masuk
pada katagori ”live saving and live sustaining” yang berarti penyakit ini memerlukan diagnosis dini yang
dilanjutkan dengan tindakan bedah secepatnya. Keterlambatan akan menyebabkan kecacatan dan
kematian sehingga prinsip pengobatan hidrocefalus harus terpenuhi.

Hidrocefalus adalah keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinal dan
adanya tekanan intrakranial (TIK) yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat
mengeluarkan likuor (Depkes RI, 1989).

Agar dapat memberikan asuhan keperawatan sebaik-baiknya, perawat maupun dokter serta tenaga
medis lainnya perlu mengetahui gejala-gejala dini penyebab serta permasalahan dari hidrosefalus itu
sendiri.. Kita ketahui bahwa peran perawat yang paling utama adalah melakukan promosi dan
pencegahan terjadinya gangguan pada system pernafasan, sehingga dalam hal ini masyarakat perlu
diberikan pendidikan kesehatan yang efektif guna meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

1.1 Tujuan penulisan

1. Tujuan umum
Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada anak dengan hidrosefalus
2. Tujuan Khusus
a) Untuk mengetahui tanda dan gejala penyakit hidrosefalus
b) Untuk mengetahui cara penanganan penyakit hidrosefalus
c) Untuk mengetahui bagaimana pengkajian asuhan keperawatan pada anak dengan
hidrosefalus
d) Untuk mengetahui diagnosa keperawatan pada anak dengan hidrosefalus
e) Untuk mengetahui intervensi keperawatan pada anak dengan hidrosefalus

BAB II

PEMBAHASAN
A. Definisi

Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinal
dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikel
(Darsono, 2005:209).

Hidrocefalus adalah keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinal dan
adanya tekanan intrakranial (TIK) yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat
mengeluarkan likuor (Depkes RI, 1989).

Pelebaran ventrikuler ini akibat ketidakseimbangan antara produksi dan absorbsi cairan serebrospinal.
Hidrosefalus selalu bersifat sekunder, sebagai akibat penyakit atau kerusakan otak. Adanya kelainan-
kelainan tersebut menyebabkan kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-
ubun (DeVito EE et al, 2007:328).

B. Anatomi dan Fisiologi

Ruangan CSS mulai terbentuk pada minggu kelima masa embrio, terdiri dari system ventrikel, sisterna
magna pada dasar otak dan ruang subaraknoid yang meliputi seluruh susunan saraf pusat (SSP).
Hubungan antara system ventrikel dan ruang subaraknoid adalah melalui foramen Magendie di median
dan foramen Luschka di sebelah lateral ventrikel IV.

Aliran CSS yang normal ialah dari ventrikel lateralis melalui foramen Monroi ke ventrikel III, dari tempat
ini melalui saluran yang sempit akuaduktus Sylvii ke ventrikel IV dan melalui foramen Luschka dan
Magendie ke dalam ruang subaraknoid melalui sisterna magna. Penutupan sisterna basalis menyebabkan
gangguan kecepatan resorpsi CSS oleh sistem kapiler.

CSS yang berada di ruang subarakhnoid, merupakan cairan yang bersih dan tidak berwarna. Merupakan
salah satu proteksi untuk melindungi jaringan otak dan medula spinalis terhadap trauma atau gangguan
dari luar. Pada orang dewasa volume intrakranial kurang lebih 1700 ml, volume otak sekitar 1400 ml,
volume cairan serebrospinal 52-162 ml (rata-rata 104 ml) dan darah sekitar 150 ml.

C. Klasifikasi/ Macam-Macam Hidrosefalus

1. Kongenital

Merupakan Hidrosephalus yang sudah diderita sejak bayi dilahirkan, sehingga ; Pada saat lahir keadaan
otak bayi terbentuk kecil. Terdesak oleh banyaknya cairan didalam kepala dan tingginya tekanan
intrakranial sehingga pertumbuhan sel otak terganggu.

2. Di dapat
Bayi atau anak mengalaminya pada saat sudah besar, dengan penyebabnya adalah penyakit – penyakit
tertentu misalnya trauma, TBC yang menyerang otak dimana pengobatannya tidak tuntas. Pada
hidrosefalus di dapat pertumbuhan otak sudah sempurna, tetapi kemudian terganggu oleh sebab adanya
peninggian tekanan intrakranial.Sehingga perbedaan hidrosefalus kongenital denga di dapat terletak
pada pembentukan otak dan pembentukan otak dan kemungkinan prognosanya..

Berdasarkan letak obstruksi CSF hidrosefalus pada bayi dan anak ini juga terbagi dalam dua bagianyaitu :

1. Hidrosefalus Komunikans

Pada hidrocefalus komunikan terdapat hubungan yang baik diantara ventrikel dengan ruang
subarakhnoidal di daerah lumbal. Hidrocefalus komunikan dapat disebabkan oleh pleksus koroideus
neonatus yang berkembang berlebihan sehingga lebih banyak cairan yang terbentuk daripada yang
direabsorbsi oleh vili subarachnoidalis.

2. Hidrosefalus Nonkomunikans/ obstruktif.

Penyakit ini dinamai pula hidrocefalus obstruktif, yang jelas menunjukkan tidak adanya hubungan antara
ventrikel dengan ruang subarachnoidal di lumbal. Penyebab hidrocefalus nonkomunikan ini adalah
penyempitan pada akuaduktus Sylvii congenital; oleh karena cairan dibentuk oleh pleksus koroideus dari
kedua ventrikel dan ventrikel ketiga, maka volume ketiga ventrikel tersebut menjadi membesar. Hal ini
menyebabkan penekanan otak terhadap tengkorak sehingga otak menjadi tipis.

Suatu cara untuk membedakan hidrocefalus komunikan dengan nonkomunikan adalah dengan jalan
mengukur tekanan likuor dalam ventrikulus lateralis dan tekanan likuor di kantong lumbal secara
bersamaan

D. Etiologi

Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah satu tempat antara tempat
pembentukan CSS dalam system ventrikel dan tempat absorpsi dalam ruang subaraknoid. Akibat
penyumbatan terjadi dilatasi ruangan CSS di atasnya. Tempat yang sering tersumbat dan terdapat dalam
klinik ialah foramen Monroi, foramen Luschka dan Magendie, sisterna magna dan sisterna basalis.
Teoritis pembentukan CSS yang terlalu banyak dengan kecepatan absorpsi yang normal akan
meyebabkan terjadinya hidrosefalus, namun dalam klinik sangat jarang terjadi, misalnya terlihat
pelebaran ventrikel tanpa penyumbatan pada adenomata pleksus koroidalis.

Penyebab penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat pada bayi dan anak ialah:

1. Kelainan bawaan (Kongenital)

Disebabkan gangguan perkembangan janin dalam rahim (misalnya Malformasi aqrnold-Chiari atau infeksi
intrauterinea.

a. Stenosis akuaduktus Sylvii


Merupakan penyebab yang terbanyak pada hidrosefalus bayi dan anak (60% - 90%). Akuaduktus dapat
merupakan saluran buntu sama sekali atau abnormal lebih sempit dari biasa. Umumnya gejala
hidrosefalus terlihat sejak lahir atau progresif dengan cepat pada bulan-bulan pertama setelah lahir.

b. Spina bifida dan kranium bifida

Hidrosefalus pada kelainan ini biasanya berhubungan dengan sindrom Arnold-Chiari akibat tertariknya
medula spinalis dengan medula oblongata dan sereblum letaknya lebih rendah dan menutupi foramen
magnum sehingga terjadi penyumbatan sebagian atau total.

c. Sindrom Dandy-Walker

Merupakan atresia kongenital foramen Luschka dan Magendie dengan akibat hidrosefalus obstruktif
dengan pelebaran sistem ventrikel terutama ventrikel IV yang dapat sedemikian besarnya hingga
merupakan suatu kista yang besar di daerah fosa posterior.

d. Kista arakroid

Dapat terjadi kongenital tetapi dapat juga timbul akibat trauma sekunder suatu hematoma.

e. Anomali pembuluh darah

Dalam kepustakaan dilaporkan terjadinya hidosefalus akibat areurisma-arterio-vena yang mengenai


arteria serebralis posterior dengan vena Galeni atau sinus transversus akibat obstruksi akuaduktus.

2. Infeksi

Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen sehingga dapat terjadi obliterasi ruangan subaraknoid.
Lebih banyak hidrosefalus terdapat pasca meningitis. Pembesaran kepala dapat terjadi beberapa minggu
sampai beberapa bulan sesudah sembuh dari meningitisnya. Secara patologis terlihat penebalan jaringan
piamater dan araknoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. Pada meningitis serosa tuberkulosa,
perlekatan meningen terutama terdapat di daerah basal sekitar sisterna kiasmatika dan
interpendunkularis, sedangkan pada meningitis purulenta lokasinya lebih besar.

3. Neoplasma

Hidrosefalus oleh obstruksi mekanis yang dapat terjadi disetiap tempat aliran CSS. Pengobatan dalam hal
ini ditujukan kepada penyebabnya dan apabila tumor tidak mungkin dioperasi, maka dapat dilakukan
tindakan paliatif dengan mengalirkan CSS melalui saluran buatan atau pirau. Pada anak yang terbanyak
menyebabkan penyumbatan ventrikel IV atau akuaduktus Sylvii bagian terakhir biasanya suatu glioma
yang berasal dari sereblum, sedangkan penyumbatan bagian depan ventrikel III biasanya disebabkan
suatu kraniofaringioma.
4. Perdarahan

Telah banyak dibuktikan bahwa perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan
fibrosis leptomeningen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjadi akibat
orgisasi dari darah itu sendiri.

B. Patofisiologi Dan pathway

Hidrosefalus terjadi karena ada ganggungan absorbsi CFS dalam subarachnoid (comunicating
hidrosefalus) dan atau adanya obstruksi dalam ventrikel yang mencegah CSP masuk ke rongga
subarachnoid karena infeksi, neoplasma, pendarahan , atau kelainan bentuk perkembangan otak
janin. (noncomunicating hidrosefalus).
Cairan terakumulasi dalam ventrikel dan penekanan organ organ yang terdapat dalam otak.

C. Tanda dan gejala


Manifestasi klinis dari hidrosefalus pada anak dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu:

1. Awitan hidrosefalus terjadi pada masa neonatus

Meliputi pembesaran kepala abnormal, gambaran tetap hidrosefalus kongenital dan pada masa bayi.
Lingkaran kepala neonatus biasanya adalah 35-40 cm, dan pertumbuhan ukuran lingkar kepala terbesar
adalah selama tahun pertama kehidupan. Kranium terdistensi dalam semua arah, tetapi terutama pada
daerah frontal. Tampak dorsum nasi lebih besar dari biasa. Fontanella terbuka dan tegang, sutura masih
terbuka bebas. Tulang-tulang kepala menjadi sangat tipis. Vena-vena di sisi samping kepala tampak
melebar dan berkelok. (Peter Paul Rickham, 2003).

2. Awitan hidrosefalus terjadi pada akhir masa kanak-kanak

Pembesaran kepala tidak bermakna, tetapi nyeri kepala sebagai manifestasi hipertensi intrakranial.
Lokasi nyeri kepala tidak khas. Dapat disertai keluhan penglihatan ganda (diplopia) dan jarang diikuti
penurunan visus. Secara umum gejala yang paling umum terjadi pada pasien-pasien hidrosefalus di
bawah usia dua tahun adalah pembesaran abnormal yang progresif dari ukuran kepala.

1. Bayi

- Kepala menjadi makin besar dan akan terlihat pada umur 3 tahun.

- Keterlambatan penutupan fontanela anterior, sehingga fontanela menjadi tegang, keras, sedikit tinggi
dari permukaan tengkorak.

- Tanda – tanda peningkatan tekanan intracranial: muntah, gelisah, menangis dengan suara ringgi,
peningkatan sistole pada tekanan darah, penurunan nadi, peningkatan pernafasan dan tidak teratur,
perubahan pupil, lethargi – stupor.

- Peningkatan tonus otot ekstrimitas

- Tanda – tanda fisik lainnya ;

• Dahi menonjol bersinar atau mengkilat dan pembuluh – pembuluh darah terlihat jelas.

•Alis mata dan bulu mata ke atas, sehingga sclera telihat seolah – olah di atas iris.

• Bayi tidak dapat melihat ke atas, “sunset eyes”

• Strabismus, nystagmus, atropi optik.

• Bayi sulit mengangkat dan menahan kepalanya ke atas.

2. Anak yang telah menutup suturanya:


Tanda – tanda peningkatan tekanan intrakranial :

- Nyeri kepala

- Muntah

- Lethargi, lelah, apatis, perubahan personalitas

- Ketegangan dari sutura cranial dapat terlihat pada anak berumur 10 tahun.

- Penglihatan ganda, kontruksi penglihatan perifer

- Strabismus

- Perubahan pupil..

D. Therapi/Tindakan Penanganan

Penanganan hidrocefalus masuk pada katagori ”live saving and live sustaining” yang berarti penyakit ini
memerlukan diagnosis dini yang dilanjutkan dengan tindakan bedah secepatnya. Keterlambatan akan
menyebabkan kecacatan dan kematian sehingga prinsip pengobatan hidrocefalus harus dipenuhi yakni:

1. Mengurangi produksi cairan serebrospinal dengan merusak pleksus koroidalis dengan tindakan reseksi
atau pembedahan, atau dengan obat azetasolamid (diamox) yang menghambat pembentukan cairan
serebrospinal.

2. Memperbaiki hubungan antara tempat produksi cairan serebrospinal dengan tempat absorbsi, yaitu
menghubungkan ventrikel dengan subarachnoid

3. Pengeluaran cairan serebrospinal ke dalam organ ekstrakranial, yakni:

a. Drainase ventrikule-peritoneal (Holter, 1992; Scott, 1995;Anthony JR, 1972)

b. Drainase Lombo-Peritoneal c. Drainase ventrikulo-Pleural (Rasohoff, 1954)

d. Drainase ventrikule-Uretrostomi (Maston, 1951)


e. Drainase ke dalam anterium mastoid

4. Mengalirkan cairan serebrospinal ke dalam vena jugularis dan jantung melalui kateter yang berventil
(Holter Valve/katup Holter) yang memungkinkan pengaliran cairan serebrospinal ke satu arah. Cara ini
merupakan cara yang dianggap terbaik namun, kateter harus diganti sesuai dengan pertumbuhan anak
dan harus diwaspadai terjadinya infeksi sekunder dan sepsis.

5. Tindakan bedah pemasangan selang pintasan atau drainase dilakukan setelah diagnosis lengkap dan
pasien telah di bius total. Dibuat sayatan kecil di daerah kepala dan dilakukan pembukaan tulang
tengkorak dan selaput otak, lalu selang pintasan dipasang. Disusul kemudian dibuat sayatan kecil di
daerah perut, dibuka rongga perut lalu ditanam selang pintasan, antara ujung selang di kepala dan perut
dihubungakan dengan selang yang ditanam di bawah kulit hingga tidak terlihat dari luar.

6. Pengobatan modern atau canggih dilakukan dengan bahan shunt atau pintasan jenis silicon yang awet,
lentur, tidak mudah putus. VRIES (1978) mengembangkan fiberoptik yang dilengkapi perawatan bedah
mikro dengan sinar laser sehingga pembedahan dapat dipantau melalui televisi.

7. Penanganan Sementara

Terapi konservatif medikamentosa ditujukan untuk membatasi evolusi hidrosefalus melalui upaya
mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid atau upaya meningkatkan resorbsinya.

E. Komplikasi

Komplikasi Hidrocefalus menurut Prasetio (2004)

1. Peningkatan TIK

2. Pembesaran kepala

3. Kerusakan otak

4. Retardasi mental

5. Meningitis, ventrikularis, abses abdomen

6. Ekstremitas mengalami kelemahan, inkoordinasi, sensibilitas kulit menurun

7. Kerusakan jaringan saraf

8. Proses aliran darah terganggu

F. Diagnosa banding
1. Higroma subdural ; penimbunan cairan dalam ruang subdural akibat pencairan hematom
subdural.
2. Hematom subdural ; penimbunan darah didalam rongga subdural
3. Emfiema subdural ; adanya udara atau gas dalam jaringan subdural
4. Hidranensefali ; sama sekali atau hampir tidak memiliki hemisfer serebri, ruang yang
normalnya di isi hemisfer dipenuhi CSS
5. Tumor otak
6. Kepala besar
 Megaloensefali : jaringan otak betambah
 Makrosefali : gangguan tulang
G. prognosis
Keberhasilan tindakan operatif serta prognosid hidrosefalus ditentukan ada atau tidaknya
anomali yang menyertai, mempunyai prognosis lebih baik dari hidrosefalus yang bersama
dengan malformasi lain (hidrosefalus komplikata). Prognosis hidrosefalus infatil mengalami
perbaikan bermakna namun tidak dramatis dengan temuan operasi pisau. Jika tidak dioperasi 50-
60 % bayi akan meninggal karena hidrosefalus sendiri ataupun penyakit penyerta. Sekitar 40%
bayi yang bertahan memiliki kecerdasan hampir normal. Dengan bedah saraf dan
penatalaksanaan medis yang baik, sekitar 70% diharap dapat melampaui masa bayi, sekitar 40%
dengan intelek normal. Dan sekitar 60% dengan cacat intelek dan motorik bermakna. Pronosis
bayi hidrosefalus meningomikel lebih buruk.
Hidroseflus yang tidak diterapi akan menimbulkan gejala sisa. Gangguan neurologis serta
kecerdasan. Dari kelompok yang tidak diterapi, 50-70%nakan meninggal karena penyakitnya
sendiri atau akibat infeksi berulang, atau oleh karena aspirasi pneumonia. Namun bila prosesnya
berhenti (arrested hidrosefalus) sekitar 40% anak akan mencapai kecerdasan yang normal (Allan
H. Ropper,2005)

BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian

a. Epidemiologi :

Secara keseluruhan, insidensi hidrosefalus antara 0,2-4 setiap 1000 kelahiran. Insidensi
hidrosefalus kongenital adalah 0,5-1,8 pada tiap 1000 kelahiran dan 11-43 disebabkan oleh
stenosis aqueductus serebri. Tidak ada perbedaan bermakna insidensi untuk kedua jenia kelamin,
juga dalam hal perbedaan ras.

Hidrosefalus dapat terjadi pada semua umur. Pada remaja dan dewasa lebih sering
disebabkan oleh toksoplasmosis. Hidrosefalus infatil ; 46 % adalah akibat abnormalitas
perkembangan otak, 50% karena perdarahan subraknoid dan meningitis, dan kurang dari 4%
aibat tumor fossa posterior.
Kematian pada hidrosefalus yang tidak ditangani dapat terjadi oleh karen herniasi tonsil
sekunder yang dapat meningkatakan tekanan intrakarnial, kompresi batang otak dan sistem
pernafasan. Pemasangan shunt telah dilakukan pada 75% dari semua kasus hidrosefalus dan 50%
pada anak-anak dengan hidrsefalus komunikan.
Kurangnya perkembangan fungsi kognitif pada bayi dan anak-anak, atau hilangnya
fungsi kognitif pada orang dewasa, dapat menjadi komplikasi pada hidrosefalus yang tidak
diobati. Selan itu, kehilangan fungsi kognitif pada hidrosefalus yang tidak diobati dan dapat
menetap setelah pengobatan.
b. Anamnesis

Keluhan utama:

Hal yang sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan bergantung seberapa jauh
dampak dari hidrosefalus pada peningkatan tekanan intracranial, meliputi muntah, gelisah nyeri kepala,
letargi, lelah apatis, penglihatan ganda, perubahan pupil, dan kontriksi penglihatan perifer.

Riwayat penyakit sekarang:

Adanya riwayat infeksi (biasanya riwayat infeksi pada selaput otak dan meningens) sebelumnya.
Pengkajian yang didapat meliputi seorang anak mengalami pembesaran kepala, tingkat kesadaran
menurun (GCS <15), kejang, muntah, sakit kepala, wajahnya tanpak kecil cecara disproposional, anak
menjadi lemah, kelemahan fisik umum, akumulasi secret pada saluran nafas, dan adanya liquor dari
hidung. A danya penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran akibat adanya perubahan di dalam
intracranial. Keluhan perubahan prilaku juga umum terjadi.

Riwaya penyakit dahulu:

Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat hidrosefalus sebelumnya, riwayat adanyanya
neoplasma otak, kelainan bawaan pada otak dan riwayat infeksi.

Riwayat perkembangan

Kelahiran premature. lahir dengan pertolongan, pada waktu lahir menangis keras atau tidak. Riwayat
penyakit keluarga, mengkaji adanya anggota generasi terdahulu yang menderita stenosis akuaduktal
yang sangat berhubungan dengan penyakit keluarga/keturunan yang terpaut seks.

Pengkajian psikososiospritual

Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien dan keluarga (orang tua) untuk menilai respon
terhadap penyakit yang diderita dan perubahan peran dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau
pengruhnya dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam keluarga maupun masyarakata. Apakah ada
dampak yang timbul pada klien dan orang tua, yaitu timbul seperti ketakutan akan kecatatan, rasa
cemas, rasa ketidak mampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal.

Perawat juga memasukkan pengkajian terhadap fungsi neurologis dengan dampak gangguan neurologis
yang akan terjadi pada gaya hidup individu. Perspektif perawatan dalam mengkaji terdiri atas dua
masalah: keterbatasan yang diakibatkan oleh deficit neurologis dalam hubungan dengan peran sosial
klien dan rencana pelayanan yang akan mendukung adaptasi pada gangguan neurologis didalam system
dukungan individu.
c. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum:

Pada keadaan hidrosefalus umumnya mengalami penurunan kesadaran (GCS <15) dan terjadi perubahan
pada tanda-tanda vital.

B1(breathing)

Perubahan pada system pernafasan berhubungan dengan inaktivitas. Pada beberapa keadaan hasil dari
pemeriksaan fisik dari system ini akan didapatka hal-hal sebagai berikut:

 Ispeksi umum: apakah didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak nafas, penggunaan
otot batu nafas, dan peningkatan frekuensi pernafasan. Terdapat retraksi klavikula/dada,
mengembangan paru tidak simetris. Ekspansi dada: dinilai penuh/tidak penuh, dan kesimetrisannya.
Pada observasi ekspansi dada juga perlu dinilai retraksi dada dari otot-otot interkostal, substernal
pernafasan abdomen dan respirasi paraddoks(retraksi abdomen saat inspirasi). Pola nafas ini terjadi jika
otot-otot interkostal tidak mampu menggerakkan dinding dada.

 Palpasi: taktil primitus biasanya seimbang kanan an kiri

 Perkusi: resonan pada seluruh lapang paru.

 Auskultasi: bunyi nafas tambahan, seperti nafas berbunyi stridor, ronkhi pada klien dengan adanya
peningkatan produksi secret dan kemampuan batuk yang menurun yang sering didapatkan pada klien
hidrosefalus dengan penurunan tingkat kessadaran.

B2 (Blood)

Frekuensi nadi cepat dan lemah berhubungan dengan homeostasis tubuh dalam upaya
menyeimbangkan kebutuhan oksigen perifer. Nadi brakikardia merupakan tanda dari perubahan perfusi
jaringan otak. Kulit kelihatan pucat merupakan tanda penurunan hemoglobin dalam darah. Hipotensi
menunjukan adanya perubaha perfusi jaringan dan tanda-tanda awal dari suatu syok. Pada keadaan lain
akibat dari trauma kepala akan merangsang pelepasan antideuretik hormone yang berdampak pada
kompensasi tubuh untuk melakukan retensi atau pengeluaran garam dan air oleh tubulus. Mekanisme ini
akan meningkatkan konsentrasi elektroloit sehingga menimbulkan resiko gangguan keseimbangan cairan
dan elektrolit pada system kardiovaskuler.

B3 (Brain)

Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan focus dan lebih lengkap disbanding pengkajian pada
system yang lain. Hidrosefalus menyebabkan berbagai deficit neurologis terutama disebabkan pengaruh
peningkatan tekanan intracranial akibat adanya peningkatan CSF dalam sirkulasi ventrikel.

Kepela terlihat lebih besar jika dibandingkan dengan tubuh. Hal ini diidentifikasi dengan mengukur
lingkar kepala suboksipito bregmatikus disbanding dengan lingkar dada dan angka normal pada usia yang
sama. Selain itu pengukuuran berkala lingkar kepala, yaitu untuk melihat pembesaran kepala yang
progresif dan lebih cepat dari normal. Ubun-ubun besar melebar atau tidak menutup pada waktunya,
teraba tegang atau menonjol, dahi tampak melebar atau kulit kepala tampak menipis, tegang dan
mengkilat dengan pelebaran vena kulit kepala.

Satura tengkorak belum menutup dan teraba melebar. Didapatkan pula cracked pot sign yaitu bunyi
seperti pot kembang yang retak pada perkusi kepala. Bola mata terdorong kebawah oleh tekanan dan
penipisan tulang subraorbita. Sclera tanpak diatas iris sehingga iris seakan-akan matahari yang akan
terbenam atau sunset sign.

Pengkajian tingkat kesadaran

Tingkat keterrjagaan klien dan respon terhadap lingkungan adalah indicator paling sensitive untuk
disfungsi system persarafan. Gejala khas pada hidrosefalus tahap lanjut adalah adanya dimensia. Pada
keadaan lanjut tingkat kesadaran klien hidrosefalus biasanya berkisar pada tingkat latergi, stupor,
semikomatosa sampai koma.

Pengkajian fungi serebral, meliputi:

 Status mental. Obresvasi penampilan, tingkah laku, nilai gaya bicara, ekspresi wajah dan aktivitas
motorik klien. Pada klien hidrosefalus tahap lanjut biasanya status mental klien mengalami perubahan.
Pada bayi dan anak-anak pemeriksaan statuss mental tidak dilakukan.

 Fungsi intelektual. Pada beberapa kedaan klien hidrosefalus didapatkan penurunan dalam ingatan dan
memori, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Pada pengkajian anak, yaitu sering didapatkan
penurunan dalam perkembangan intelektual anak dibandingkan dengan perkembangan anak normal
sesuai tingkat usia.

 Lobus frontal. Kerusakkan fungsi kognitif dan efek psikologik didapatkan jika jumlah CSS yang tinggi
mengakibatkan adanya kerusakan pada lobus frontal kapasitas, memori atau kerusakan fungsi intelektual
kortikal yamg lebih tinggi. Disfungsi ini dapat ditunjukka pada lapang perhatian terbatas, kesulitan dalam
pemahaman, lupa, dan kurang motivasi yang menyebabka klien ini menghadapi masalah frustasi dalam
program rehabilitasi mereka.pada klien bayi dan anak-anak penilaian disesuaikan dengan tingkat
perkembangan anak.

Pengkajin saraf cranial, meliputi:

 Saraf I (Olfaktori). Pada beberapa keaaan hidrosefalus menekan anatomi dan fissiologis ssaraf ini klien
akan mengalami kelainan padda fungsi penciuman/ anosmia lateral atau bilateral.
 Saraf II (Optikus): pada nak yang agak besar mungkin terdapat edema pupil saraf otak II pada
pemeriksaan funduskopi.

 Saraf III, IV dan VI (Okulomotoris, Troklearis, Abducens): tanda dini herniasi tertonium addalah
midriasis yang tidak bereaksi pada penyinaran . paralisis otot-otot ocular akan menyusul pada tahap
berikutnya. Konvergensi sedangkan alis mata atau bulu mata keatas, tidak bisa melihat keatas,.
Strabismus, nistagmus, atrofi optic sering di dapatkan pada nanak dengan hidrosefalus.

 Saraf V (Trigeminius): karena terjadinya paralisis saraf trigeminus, didapatkan penurunan kemampuan
koordinasi gerakan mengunyah atau menetek.

 Saraf VII(facialis): persepsi pengecapan mengalami perubahan

 Saraf VIII (Akustikus): biasanya tidak didapatkan gangguan fungsi pendengaran.

 Saraf IX dan X( Glosofaringeus dan Vagus): kemampuan menelan kurang baik, kesulitan membuka
mulut

 Saraf XI (Aksesorius): mobilitas kurang baik karena besarnya kepala menghambat mobilitas leher klien

 Saraf XII (Hipoglosus): indra pengecapan mengalaami perubahan.

Pengkajian system motorik.

Pada infeksi umum, didapatkan kelemahan umum karena kerusakan pusat pengatur motorik.

 Tonus otot. Didapatkan menurun sampai hilang

 Kekuatan otot. Pada penilaian dengan menggunakan tingkat kekuatan otot didapatkan penurunan
kekuatan otot-otot ekstermitas.

 Keseimbangan dan koordinasi. Didapatkan mengalami gangguan karena kelemahan fisik umum dan
kesulitan dalam berjalan.

Pengkajian ferleks.

Pemeriksaan reflex profunda, pengetukan pada tendo, ligamentum atau periosteum derajat reflex pada
rrespon normal. Pada tahap lanjut, hidrosefalus yang mengganggu pusat refleks, maka akan didapatkan
perubahan dari derajat refleks. Pemeriksaan refleks patologis, pada fase akut refleks fisiologis sisi yang
lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahului dengan
refleks patologis.

Pengkajian system sensorik.


Kehilangan sensori karena hidrosefalus dapat berupa kerusakan sentuhan ringan atau mungkin lebih
berat, dengan kehilangan propriosepsi (kemampuan untuk merasakan posisi dan gerakan bagian tubuh)
serta kesulitan dalam menginterpretasikan stimuli visual, taktil, dan auditorius.

B4 (Bledder)

Kaji keadaan urine meliputi warna, jumlah dan karakteristik urine, termasuk berat jenis urine.
Peningkatan jumlah urine dan peningkatan retensi cairan dapat terjadi akibat menurunya perfungsi pada
ginjal. Pada hidrosefalus tahap lanjut klien mungkin mengalami inkontensia urin karena konfusi, ketidak
mampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidak mampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan
ketidakmampuan untuk menggunakan system perkemihan karena kerusakan control motorik dan
postural. Kadang-kadang control sfingter urinarius eksternal hilang atau steril. Inkontensia urine yang
berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas.

B5 (Bowel)

Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, serta mual dan muntah pada fase
akut. Mual sampai muntah akibat peningkatan produksi asam lambung sehingga menimbulkan masalah
pemenuhan nutrisi. Pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltic usus. Adanya
kontensia alvi yang berlanjut menunjukkan kerusakann neurologis luas.

Pemeriksaan rongga mulut dengan melakukan peniaian ada tidaknya lesi pada mulut atau perubahan
pada lidah dapat menunjukkan adanya dehidrasi. Pemeriksaan bising usus untuk untuk menilai
keberadaan dan kualitas bising usus harus dikaji sebelum melakukan palpasi abdomen. Bising usus
menurun atau hilang dapat terjadi pada paralitik ileus dan peritonitis. Lakukan observasi bising usus
selama ± 2 menit. Penurunan motilitas usus dapat terjadi akibat tertelanya udara yang berasal dari
sekitar selang endotrakeal dan nastrakeal.

B6 (Bone)

Disfungsi motorik paling umum adalah kelemahan fisik umum, pada bayi disebabkan pembesaran kepala
sehingga menggangu mobilitas fisik secara umum. Kaji warna kulit, suhu, kelembapan, dan turgon kulit.
Adanya perubahan warna kulit; warna kebiruaan menunjukkan adanya sianosis (ujung kuku,
ekstermitas,telingga, hidung, bibir dan membrane mukosa). Pucat pada wajah dan membrane mukosa
dapat berhubungan dengan rendahnya kadar hemoglobinatau syok. Warna kemerahan pada kulit dapat
menunjukan adanyadamam atau infeksi. Integritas kulit untuk menilai adanya lesi dan dekubitus. Adanya
kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralisis/hemiplegia, mudah
lelah menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan istiraha.

Pemeriksaan diagnostic

 CT scan (dengan atau tanpa kontras): mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan,
ventrikuler dan perubahan jaringan otak.
 MRI: digunakan sama denga CT scan dengan atau tanpa kontras radioaktif

 Rongen kepala: mendeteksi perubahan struktur garis sutura.

 Pemeriksaan CSS dan Lumbal pungsi: dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachoid. CSS
dengan atau tanpa kuman dengan kultur yaitu protein LCS normal atau menurun, leukosit meningkat/
tetap, dan glukosa menurun atau tetap

Pengkajian Penatalaksanaan medis

1. Tirah baring total, bertujuan untuk mencegah resiko/gejala peningkatan TIK, untuk mencegah resiko
cedera dan mencegah gangguan neurologis

2. Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesadaran)

3. Pemberian obat-obatan

 Deksametason sebagai pengobatan antiedema serebral, dosis sesuai berat ringannya truma.

 Pengobatan antii edema, larutan hipetonis, yaitu manitol 20% atau glukosa 40 % atau gliserol 10%.

 Antibiotika yang mengandung barier darah otak (penisilin) atau untuk infeksi anaerob diberikan
metronidazole.

 Makanan atau cairan, jika muntah dapat diberikan cairan infuse dekstrosa 5% 2-3 hari kemudian
diberikan makanan lunak.

 Beberapa teknik pengobatan yang telah dikembangkan meliputi penurunan produksi LCS dengan
merusak sebagian fleksus (koroidalis).

c. Diagnose keperawatan

1. Resiko tinggi peningktan tekana intracranial b.d peningkatan jumlah cairan serebrospinal.

2. Bersihan jalan nafar tidak efektif b.d penumpukan sputum, peningkatan sekresi secret dan penurunan
volume batuk sekunder akibat adanya nyeri dan keletiha, ketidak mampuan batuk/batuk produktif.

3. Nyeri yang berhubunngan dengan peningkatan tekanan intracranial.

4. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d perubahan kemampuan mencerna makanan,
peningkatan kebutuhan metabolism.

5. Resiko tinggi cidera berhubungan dengan kejang


6. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan misinterpretasi informasi, ttidak mengenal sumber-
sumber informasi, ketegangan akibat krisis situasional

7. Resiko gangguan integritas kulit b.d imobilisas, tiak adekuatnya sirkulasi perifer.

8. Resiko deficit cairan dan elektrolit b. dmuntah, asupan cairan kurang, peningkatan metabolise.

9. Ansietas keluarga b.d keadaan yang kritis pada klien.

10. Resiko tinggi infeksi b.d port’d’ entere organism sekunder akibat truma.

d. Intervensi Keperawatan

Dx 1. Resiko tinggi peningktan tekana intracranial b.d peningkatan jumlah cairan serebrospinal.

Tujuan: Setelah dilakukan atau diberikan asuhan keperawatan 2 x 24 jam klien tidak mengalami
peningkatan TIK.

Kriteria hasil: Klien tidak mengeluh nyeri kepala, mual-mual dan muntah, GCS 4,5,6 tidak terdapat
papiledema, TTV dalam batas normal.

Intervensi

1. Kaji factor penyebab dari keadaan individu/penyebab koma/penurunan perfusi jaringan dan
kemungkinan penyebab peningkatan TIK.

R/: deteksi dini untuk memperioritaskan intervensi , mengkaji status neurologi/tanda-tanda kegagalan
untuk menentukan perawatan kegawatan atau tindakan pembedahan.

2. Monitor tanda-tanda vital tiap 4jam

R/: Suatu keadaan normal bila sirkulasi serebral terpelihara dengan baik atau fluktuasi ditandai dengan
tekanan darah sistemik, penurunan dari autoregulator kebanyakan merupakan tanda penurunan difusi
local vaskularisasi darah serebral. Adanya peningkatan tekanan darah, bradhikardi, distritmia, dispnia
merupakan tanda terjadinya peningkatan TIK.

3. Evaluasi pupil

R/: Reaksi pupil dan pergerakan kembali dari bola mata merupakan tanda dari gangguan nervus/saraf
jika batang otak terkoyak.

4. Monitor temperature dan pengaturan suhu lingkungan


R/: Panas merupakan refleks dari hipotalamus. Peningkatan kebutuhan mertabolisme dan oksegen akan
menunjang peningkatan TIK.

5. Pertahankan kepala / leher pada posisi yang netral, usahakan dengan sedikit bantal. Hindari
penggunaan bantal yang tinggi pada kepala

R/: perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulkan penekanan pada vena jugularis dan
menghambat aliran darah otak (menghambat drainase pada vena serebral), untuk itu dapat
meningkatkan TIK

6. Berikan periode istirahat antara tindakan perawatan dan batasi lamanya prosedur.

R/: tindakan yang terus menerus dapat meningkatkan TIK oleh efek rangsangan komulatif.

7. Kurangi rangsangan ekstra dan berikan rasa nyaman seperti massase punggung, lingkungan yang
tenang, sentuhan yang ramah dan suasana atau pembicaraan yang tidak gaduh.

R/: memberikan suasana yang tenang (colming effect) dapat mengurangi respons psikologis dan
memberikan istirahat untuk mempertahan TIK yang rendah.

8. Cegah atau hindari terjadinya valsava maneuver.

R/: mengurangi tekanan intra torakal dan intraabdominal sehingga menghindari peningkatan TIK.

9. Bantu pasien jika batuk, muntah.

R/: aktivitas ini dapat meningkatkan intra thorak atau tekanan dalam thorak dan tekanan dalam
abdomen dimana aktivitas ini dapat meningkatkan tekanan TIK.

10. Kaji peningkatan istirahat dan tingkah laku oada opagi hari.

R/: tingkat non verbal ini meningkatkan indikasi peningkatan TIK atau memberikan refleks nyeri dimana
pasien tidak mampu mengungkapkan keluhan secara verbal, nyeri yang tidak menurun dapat
meningkatkan TIK

11. Palpasi pada pembesaran atau pelebaran blader, peertahgankanb drainase urine secara paten jika
digunakan dan juga monitor terdapatnya konstipasi.

R/: dapat meningkatkan respon automatic yang potensial menaikan TIK

12. Berikan penjelasan pada klien (jika sadar) dan orangtua tentang sebab akibat TIK meningkat.

R/: meningkatkan kerja sama dalam meningkatkan perawatan klien dan m engurangi kecemasan

13. Observasi tingkat kesadaran dengan GCS

R/: perubahan kesadaran menunjukkan peningkatan TIK dan berguna menentukan lokasi dan
perkembangan penyakit.
14. Kolaborasi :

 Pemberian oksigen sesuai indikasi

R/: Mengurangi hipoksemia, dimana dapat meningkatkan vasodilatasi serebral dan volume darah dan
menaikkan TIK

 Berikan cairan intravena sesuai dengan yang di indikasikan

R/: Pemberian cairan mungkin diinginkan untuk mengurangi edema serebral, meningkatkan minimum
pada pembuluh darah, tekanan darah, dan TIK.

 Berikan obat osmotic diuretic, conytohnya manitol, furosid.

R/: diuretik mungkin digunakan pada vase akut untuk mengalirkan air dari brain cells, dan mengurangi
edema serebral dan TIK.

 Berikan sterioid, contohnya deksametason, metal prednisolon

R/: untuk menurunkan inflamasi (radang) dan mengurangi edema jaringan

 Monitor hasil laboratorium sesuai dengan indikasi seperti prothombin, LED.

R/: membantu memberikan informasi tentang efektivitas pemberian obat.

Dx2: Gangguan rasa nyaman: Nyeri sehubungan dengan meningkatkanya tekanan intracranial, terpasang
shunt .

Data Indikasi : Adanya keluahan Nyeri Kepala, Meringis atau menangis, gelisah, kepala membesar

Tujuan :Setelah dilaksakan asuhan keperawatan 2x24 jam diharapkan nyeri kepala klien hilang.

Kriteria hasil: pasien mengatakan nyeri kepala berkurang atau hilang (skala nyeri 0), dan tampak rileks,
tidak meringis kesakitan, nadi normal dan RR normal.

Intervensi :

1. Kaji pengalaman nyeri pada anak, minta anak menunjukkan area yang sakit dan menentukan peringkat
nyeri dengan skala nyeri 0-5 (0 = tidak nyeri, 5 = nyeri sekali)

R/: Membantu dalam mengevaluasi rasa nyeri.


2. Bantu anak mengatasi nyeri seperti dengan memberikan pujian kepada anak untuk ketahanan dan
memperlihatkan bahwa nyeri telah ditangani dengan baik.

R/: Pujian yang diberikan akan meningkatkan kepercayaan diri anak untuk mengatasi nyeri dan
kontinuitas anak untuk terus berusaha menangani nyerinya dengan baik.

3. Pantau dan catat TTV.

R/: Perubahan TTV dapat menunjukkan trauma batang otak.

4. Jelaskan kepada orang tua bahwa anak dapat menangis lebih keras bila mereka ada, tetapi kehadiran
mereka itu penting untuk meningkatkan kepercayaan.

R/: Pemahaman orang tua mengenai pentingnya kehadiran, kapan anak harus didampingi atau tidak,
berperan penting dalam menngkatkan kepercayaan anak.

5. Gunakan teknik distraksi seperti dengan bercerita tentang dongeng menggunakan boneka, nafas
dalam, dll.

R/: Teknik ini akan membantu mengalihkan perhatian anak dari rasa nyeri yang dirasakan.

Dx.3: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan perubahan
mencerna makanan, peningkatan kebutuhan metabolism.

Tujuan: Setelah dilaksakan asuhan keperawatan 1x 24 jam diharapkan ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh teratasi dengan

Kriteria hasil: tidak terjadi penurunan berat badan sebesar 10% dari berat awal, tidak adanya mual-
muntah.

Intervensi :

1. Pertahankan kebersihan mulut dengan baik sebelum dan sesudah mengunyah makanan.

R/: Mulut yang tidak bersih dapat mempengaruhi rasa makanan dan meninbulkan mual.

2. Tawarkan makanan porsi kecil tetapi sering untuk mengurangi perasaan tegang pada lambung.

R/: Makan dalam porsi kecil tetapi sering dapat mengurangi beban saluran pencernaan. Saluran
pencernaan ini dapat mengalami gangguan akibat hidrocefalus.

3. Atur agar mendapatkan nutrien yang berprotein/ kalori yang disajikan pada saat individu ingin makan.

R/: Agar asupan nutrisi dan kalori klien adeakuat.

4. Timbang berat badan pasien saat ia bangun dari tidur dan setelah berkemih pertama.
R/: Menimbang berat badan saat baru bangun dan setelah berkemih untuk mengetahui berat badan
mula-mula sebelum mendapatkan nutrient

5. Konsultasikan dengan ahli gizi mengenai kebutuhan kalori harian yang realistis dan adekuat.

R/: Konsultasi ini dilakukan agar klien mendapatkan nutrisi sesuai indikasi dan kebutuhan kalorinya.

6. Makanan atau cairan, jika muntah dapat diberikan cairan infuse dekstrosa 5% 2-3 hari kemudian
diberikan makanan lunak.

e. Pelaksanaan /implementasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan anak dengan hydrosefhalus didasarkan pada rencana yang telah
ditentukan dengan prinsip :

 Mempertahankan perfusi jaringan serebral tetap adequat .

 Mencegah terjadinya injuri dan infeksi

 Meminimalkan terjadinya persepsi sensori

 Mengatasi perubahan proses keluarga dan antisipasi berduka

f. Evaluasi

Setelah tindakan keperawatan dilaksanakan evaluasi proses dan hasil mengacu pada kriteria evaluasi
yang telah ditentukan pada masing-masing diagnosa keperawatan sehingga :

• Masalah teratasi atau tujuan tercapai (intervensi di hentikan)

• Masalah teratasi atau tercapai sebagian (intervensi dilanjutkan)

• Masalah tidak teratasi / tujuan tidak tercapai (perlu dilakukan pengkajian ulang & intervensi dirubah).
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinal
dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikel
(Darsono, 2005:209).

Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah satu tempat antara tempat
pembentukan CSS dalam system ventrikel dan tempat absorpsi dalam ruang subaraknoid. Akibat
penyumbatan terjadi dilatasi ruangan CSS di atasnya.

Klasifikasi/ Macam-Macam Hidrosefalus


1. Kongenital

2. Di dapat

Berdasarkan letak obstruksi CSF hidrosefalus pada bayi dan anak ini juga terbagi dalam dua bagianyaitu :

1. Hidrosefalus obstruktif/non komunikans

2. Hidrosefalus Komunikans

B. SARAN

Semoga makalah yang kami susun dapat dimanfaatkan secara maksimal, sehingga dapat membantu
proses pembelajaran, dan dapat mengefektifkan kemandirian dan kreatifitas mahasiswa. Selain itu,
diperlukan lebih banyak referensi untuk menunjang proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2008. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan System Persarafan.
Jakarta: Salemba Medika.

Mansjoer. A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2. EGC: Jakarta.

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Universitas Indonesia. Buku kuliah 2 Ilmu kedokteran: EGC

Ngoerah, I Gusti Ngoerah. 2001. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Saraf. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC