Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN MASALAH OMFALOKEL

Dosen Pembimbing : Dr. Tri Ratnaningsih, S. Kep., Ns., M. Kes.

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak II

Oleh Kelompok 12 / kelas 3B

1. Azmil Mufidah (201701044)

2. Lailatul Adita (201701062)

3. Rani Setyawati (201701071)

STIKES BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO

TAHUN 2019-2020
kata pengantar

Puji syukur kehadirat tuhan yang maha Esa, atas berkat rahmat dan

hidayahnya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik dengan

judul “Laporan Pendahuluan dan Konsep Asuhan Keperawatan pada Anak

dengan Masalah Omfalokel”. Tugas ini kami ajukan untuk memenuhi tugas

mata kuliah Keperawatan Anak-2, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,

maka dari itu kami mohon untuk kritik dan saran yang bersifat membangun, agar

penulis dapat menutupi kekurangan-kekurangan yang terdapat pada makalah ini.

Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang terlibat

dalam penyusunan tugas ini sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat

waktu. Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penyusunan askep

ini, semoga askep ini dapat di jadikan bahan perbandingan dalam penulisan

karya-karya lainnya.

Mojokerto, 07 September 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

bab I Pendahuluan........................................................................................5

1.1 Latar Belakang...............................................................................5

1.2 Rumusan Masalah..........................................................................6

1.3 Tujuan.............................................................................................6

Bab Ii Laporan Pendahuluan........................................................................7

2.1 Pengertian Omfalokel.....................................................................7

2.2 Prognosis........................................................................................8

2.3 Etiologi Omfalokel.........................................................................9

2.4 Manifestasi Klinis Omfalokel......................................................11

2.5 Patofisiologi Dan Pathway Omfalokel.........................................12

2.6 Komplikasi Omfalokel.................................................................14

2.7 Klasifikasi Omfalokel...................................................................14

2.8 Pemeriksaan Diagnostik...............................................................15

2.9 Penatalaksanaan............................................................................15

2.10 Diagnosa Diferensial................................................................19

Bab Iii Konsep Asuhan Keperawatan........................................................20

3.1 Pengkajian....................................................................................20

3.2 Diagnosa Keperawatan.................................................................23

iii
3.3 Intervensi......................................................................................24

3.4 Implementasi................................................................................27

3.5 Evaluasi........................................................................................27

iv
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Cacat kongenital dinding abdomen pada seluruh tebalnya memberi ancaman

yang mematikan bagi neonatus sebagai akibat terpaparnya visera dan

kemungkinan kontaminasi bakteri. Omfalokel merupakan defek pada dinding

abdomen yang sering ditemui. Omfalokel terjadi bila terdapat kegagalan intestine

kembali ke rongga abdomen dalam minggu ke-10 kehidupan janin dalam

kandungan. Kegagalan ini mengakibatkan tingginya insiden malrotasi pada

omfalokel.

Sekitar 30% bayi dengan omfalokel juga memiliki kelainan kromosom

utama. Dalam kasus ini, kelainan kromosom menyebabkan omfalokel dan

juga menyebabkan kelainan pada banyak system tubuh dan organ. Bayi-bayi

dengan kelainan tersebut jarang bertahan dan jika mereka bertahan hidup,

mereka menderita cacat parah. Sekitar 50% dari semua bayi yang lahir dengan

omfalokel memiliki cacat lahir lainnya di jantung, ginjal, atau organ lain,

bahkan jika tes kromosom normal. Sekitar 35% bayi dengan omfalokel akan

memiliki cacat jantung.

Hampir 70% bayi dengan omfalokel juga memiliki cacat lahir lainnya,

paling sering meliputi hati, tulang, usus, dan sistem kemih. Tiga puluh persen

memiliki kelainan kromosom seperti trisomi 18. Omfalokel juga dapat

merupakan bagian dari sindrom seperti Beckwith-Wiedemann (omfalokel,

5
ukuran besar tubuh, lidah besar, organ usus membesar, dan hipoglikemia

berat bayi baru lahir) atau Pentalogy of Cantrell (omfalokel, cacat pada tulang

dada dan diafragma, dan lesi pada jantung).

I.2 Rumusan Masalah

Bagaimana konsep dasar dan konsep asuhan keperawatan omfalokel?

I.3 Tujuan

Untuk mengetahui dan memahami tentang konsep dasar dan konsep askep

tentang Omfalokel yang meliputi pengertian, etiologi, patofisiologi dan pathways,

manifestasi klinis, komplikasi, penatalaksanaan.

6
BAB II

LAPORAN PENDAHULUAN

II.1 Pengertian Omfalokel

Omfalokel berasal dari bahasa Yunani omphalos yang berarti umbilicus (tali

pusat) dan cele yang berarti bentuk hernia. Omfalokel diartikan sebagai defek

sentral dinding abdomen pada daerah cincin umbilicus (umbilical ring) atau cincin

tali pusat sehingga terjadi hernia organ abdomen dari kavum abdomen, namun

masih dilapisi oleh selaput atau kantong. Selaput terdiri atas lapisan amonion dan

peritoneum. Diantara lapisan tersebut kadang-kadang terdapat lapisan Wharton

Jelly.[ CITATION Nao16 \l 1033 ]

Omfalokel adalah defek abdomen di garis tengah (midline) pada umbilikus di

mana saat lahir usus bayi dan organ abdomen lainnya berada dalam suatu kantong

tipis di luar tubuh. [ CITATION Jam17 \l 1033 ]

Omfalokel adalah penonjolan pada usus atau isi perut lainnya melalui akar

pusar yang hanya dilapisi oleh peritoneum (selaput perut), tidak dilapisi oleh kulit,

dan usus terlihat transparan (tembus pandang), dimana angka kejadian omfalokel

adalah 1: 5.000 per kelahiran hidup. [ CITATION Nao16 \l 1033 ]

7
II.2 Prognosis

Prognosis bayi dengan omfalokel lebih sulit untuk digeneralisasikan, tetapi

kebanyakan mortalitas dan morbiditas berhubungan dengan anomali daripada

defek dinding abdomen itu sendiri. Survival rate pada bayi omfalokel

dipengaruhi oleh beberapa hal dibawah ini :

1. Prematuritas

Neonatus yang lahir pada usia gestasi <36 minggu memiliki survival rate

yang rendah, 57%. Survival rate akan meningkat dengan peningkatan usia

gestasi >36 minggu mencapai 87%

2. Ukuran omfalokel

Pada omfalokel yang mengandung organ hati, umumnya merupakan

suatu giant omphalocele. Kebanyakan akan mengalami gangguan pada

perkembangan paru, bayi ini akan mengalami kesulitan bernapas. Bayi ini

memiliki survival rate 50%.

3. Adanya anomali pada organ lain

Neonatus dengan defek tambahan memiliki survival rate yang rendah.

Dapat dilihat pada tabel berikut: [ CITATION Pau14 \l 1033 ]

Defek Insiden Survial rate


Jantung 34 % 63 %
Malformasi Anus 15 % 69%
Anomali Kromosom 30% 1%

II.3 Etiologi Omfalokel

1. Penyebab pasti terjadinya omfalokel belum jelas sampai sekarang

8
2. Beberapa factor risiko infeksi, penggunaan obat dan rokok pada ibu

hamil, defisiensi asam folat, hipoksia, penggunaan salisilat, kelainan

genetic, dan polihidramnion menjadi penyebab omfalokel

3. Walaupun omfalokel pernah dilaporkan terjadi secara herediter, sekitar

50-70 % penderita berhubungan dengan sindrom kelainan kongenital

yang lain. [ CITATION Nao16 \l 1033 ]

4. Dapat berhubungan dengan abnormalitas kromosom. [ CITATION

Jam17 \l 1033 ]

Menurut Glasser (2003), ada beberapa penyebab omfalokel, yaitu sebagai

berikut :

1. Faktor kehamilan dengan risiko tinggi, seperti ibu hamil yang sakit dan

terinfeksi, pengunaan obat-obatan, merokok, dan kelainan genetic. Factor

tersebut berperan pada timbulnya insufiensi plasenta dan kelahiran

dengan usia kehamilan yang kurang bulan atau bayi premature. Bayi

dengan gastroskisis dan omfalokel paling sering dijumpai.

2. Defisiensi asam folat, hipoksia, dan penggunaan salisilat menimbulkan

efek pada dinding abdomen dalam percobaan dengan tikus, tetapi

maknanya secara klinis masih sebatas perkiraan, peningkatan Maternal

Serum Alpha-fetoprotein (MSAFP) pada pelacakan dengan ultrasonografi

memberikan kepastian bahwa telah terjadi kelainan structural pada fetus.

Jika kelainan ditemukan bersamaan dengan adanya omfalokel,

amniosentesis layak digunakan guna melacak genetic.

9
3. Polihidramnion dan dapat diduga adanya atresia intestinal fetus dan

kemungkinan tersebut harus dilacak dengan USG.

4. Pada 25-40% bayi yang mengalami omfalokel, kelainan ini disertai

kelainan bawaan lainnya, yaitu sebagai berikut :

a. Masalah genetik atau abnormalitas kromosom

b. Faktor kehamilan, seperti penyakit maternal dan infeksi, penggunaan

obat (antibiotik oksiterrasiklin), dan merokok. Faktor-faktor tersebut

dikaitkan dengan insufiensi plasenta dan kelahiran dengan usia

kehamilan yang kurang bulan atau bayi prematur

c. Hernia diafragmatika kongenital

d. Kelainan jantung atau defek jantung

e. Defisiensi asam folat

f. Defisiensi salisilat

g. Hipoksia

h. Kandungan lemah

5. Kegagalan organ dalam untuk kembali ke rongga abdomen pada saat

janin berusia 10 minggu. [ CITATION Nao16 \l 1033 ]

II.4 Manifestasi Klinis Omfalokel

1. Omfalokel dapat dilihat dengan jelas karena isi abdomen menonjok atau

keluar melewati area perut yang tertekan. Perbedaan ukuran omfalokel

yaitu sebagai berikut :

a. Omfalokel kecil, yaitu hanya usus yang keluar atau menonjol

10
b. Omfalokel besar, yaitu usus, hati, atau limpa dapat keluar dari tubuh

yang sehat

2. Gangguan pencernaan karena polisitemia dan hiperinsulinemia

3. Banyak usus dan organ lain yang menonjol

4. Berat badan > 2.500 gram

Omfalokel memperlihatkan sedikit pembesaran pada dasar tali

pusar atau kantong membran yang menonjol pada umbilikus. Kantong

tersebut berukuran kecil sampai berukuran raksasa dan mengenai hati,

limfe, dan tonjolan besar pada usus (isi perut). Tali pusat biasanya

diinsersi ke dalam kantong. Jika kantong ruptur dalam uterus, usus terlihat

gelap dan edema. Kira- kira 1 dari 3 bayi dengan omfalokel dikaitkan

dengan anomali kongenital atau abnormal. [ CITATION Nao16 \l 1033 ]

11
II.5 Patofisiologi dan Pathway Omfalokel

Patofisiologi :

1. Selama perkembangan embrio, ada kelemahan yang terjadi pada dinding

abdomen semasa embrio yang menyebabkan herniasi pada isi usus

disalah satu samping umbilicus. Hal ini menyebabkan organ visera

abdomen keluar dari kapasitas abdomen dan terbungkus kantong

2. Terjadinya penurunan kapasitas abdomen

3. Omfalokel terbentuk akibat kegagalan fungsi dalam pembentukan

dinding abdomen, dan terbentuk defek

4. Usus sebagian besar berkembang di luar rongga abdomen janin,

akibatnya usus menjadi tebal dan kaku karena pengendapan dan iritasi

dari cairan asam amino, usus juga terlihat pendek dan rongga abdomen

sempit

5. Usus, visera dan seluruh permukaan rongga abdomen yang berhubungan

dengan dunia luar menyebabkan penguapan dan pancaran panas dari

tubuh cepat berlangsung, sehingga terjadi dehidrasi dan hipotermia,

kontaminasi usus dengan kuman dapat terjadi, dan distensi usus sehingga

mempersulit koreksi pemasukan kerongga abdomen pada saat

pembedahan

6. Embriogenesis pada saat janin berumur 5-6 minggu isi abdomen terletak

diluar embrio, dan pada usia 10 minggu terjadi pengembangan lumen

abdomen sehingga usus dari ekstra peritoneum akan masuk ke rongga

perut, bila proses ini terhambat maka akan terbentuk kantong di pangkal

12
umbilikus yang terisi usus, lambung dan kadang hati, dindingnya tipis

karena terdiri dari lapisan peritoneum dan lapisan amino yang keduanya

bening sehingga isi kantong tampak keluar.

Pathway :

Kelainan

Alat dalam gagal kembali

Isi abdomen masuk kedalam

Korda terobek
Agen cidera

Omfalokel

Nyeri
Ileus Obstruksi Usus keluar

Keterbatasan kognititf
Kekurangan
Pertahanan tubuh
cairan dari
primer tidak
kebutuhan
adekuat
tubuh Defisiensi
pengetahuan
orang tua
Kenaikan suhu Resiko Infeksi

tubuh
Ansietas

13
II.6 Komplikasi Omfalokel

Komplikasi dari penyakit ini adalah :

a. Infeksi usus

b. Kematian jaringan usus yang bisa berhubungan dengan kekeringan atau

trauma oleh karena usus yang tidak dilindungi

c. Komplikasi dini adalah infeksi pada kantong yang mudah terjadi pada

permukaan yang telanjang

d. Kekurangan nutrisi dapat terjadi sehingga perlu balance cairan dan nutrisi

yang adekuat misalnya dengan nutrisi parenteral. Dapat terjadi sepsis

terutama jika nutrisi kurang dan pemasangan ventilator yang lama

e. Nekrosis

f. Kelainan kongenital dinding perut ini mungkin disertai kelainan bawaan

lain yang memperburuk prognosis. [ CITATION Jam17 \l 1033 ]

II.7 Klasifikasi Omfalokel

Klasifikasi menurut Moore ada tiga, yaitu sebagai berikut :

1. Tipe 1 : diameter defek <2,5 cm

2. Tipe 2 : diameter defek 2,5-5 cm

3. Tipe 3 : diameter defek > 5 cm

[ CITATION Nao16 \l 1033 ]

II.8 Pemeriksaan diagnostik


1. USG prenatal

2. Amniosentesis

3. Pemeriksaan fisik pasca kelahiran

14
4. Penurunan bidang usus

5. Masalah dalam pemberian makanan

6. Muntah bercampur empedu. [ CITATION Jam17 \l 1033 ]

II.9 Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan pranatal

Apabila terdiagnosis omfalokel pada masa pranatal, sebaiknya lakukan

Informed Consent pada orang tua tentang keadaan janin, resiko terhadap ibu dan

prognosis. Informed consent sebaiknya melibatkan ahli kansungan, ahli anak, dan

ahli bedah anak. Keputusan akhir dibutuhkan untuk perencanaan dan

penatalaksanaan berikutnya dengan melanjutkan kehamilan atau mengakhiri

kehamilan. Jika kehamilan dilanjutkan, sebaiknya lakukan observasi melalui

pemeriksaan USG secara berkala dan tentukan tempat dan cara melahirkan.

Selama kehamilan, omfalokel mungkin berkurang ukurannya atau bahkan ruptur

sehingga memengaruhi prognosis. [ CITATION Nao16 \l 1033 ]

2. Penatalaksanaan pascanatal (setelah kelahiran)

Penatalaksanaan pascanatal meliputi penatalaksanaan segera setelah lahir,

kelanjutan penatalaksanaan awal berupa operasi atau non operasi, dan

penatalaksanaan pascaoperasi. Secara umum penatalaksanaan bayi dengan

omfalokel dan gastroskisis hampir sama. Bayi sebaiknya segera dirujuk ke pusat

yang memiliki fasilitas perawatan intensif neonatus dan bedah anak. Bayi dengan

omfalokel biasanya mengalami lebih sedikit kehilangan panas tubuh sehingga

lebih membutuhkan resusitasi awal dibandingkan bayi dengan gastroskisis.

15
Sedangkan untuk penatalaksanaan segera pada bayi dengan omfalokel

adalah sebagai berikut :

1. Tempatkan bayi pada ruangan yang aseptik dan hangat untuk mencegah

kehilangan cairan, hipotermia dan infeksi

2. Atur posisi bayi senyaman mungkin dan dengan lembut agar bayi tidak

menangis dan menelan udara. Posisi kepala sebaiknya lebih tinggi

untuk memperlancar drainase

3. Lakukan penilaian ada/tidaknya gawat napas yang mungkin

membutuhkan alat bantu ventilasi, seperti intubas endotrakea. Beberapa

macam alat bantu ventilasi seperti mask tidak dianjurkan karena dapat

menyebabkan masuknya udara kedalam saluran gastrointertinal

4. Pasang pipa nasogastrik atau pipa orogastrik untuk mengeluarkan udara

dan cairan dari sistem usus sehingga dapat mencegah muntah,

mencegah asprasi, mengurangi distensi dan tekanan dalam sistem usus

sekaligus mengurangi tekanan intra abdomen. Pasang pula rectal tube

untuk irigasi dan dekompresi sistem usus

5. Pasang kateter uretra untuk mengurangi distensi kandung kemih dan

mengurangi tekanan intra abdomen

6. Pasang selang intravena untuk pemberian cairan dan nutrisi parenteral

sehingga dapat menjaga tekanan intravaskular dan mencegah

kehilangan protein yang mungkin terjadi karena gangguan sistem usus,

dan untuk pemberian antibiotik spektrum luas

16
7. Lakukan pemantauan dan stabilisasi suhu, status asam basa, cairan, dan

elektrolit

8. Lakukan pemeriksaan darah lain, seperti fungsi ginjal, glukosa, dan

hematokrit untuk persiapan operasi jika diperlukan

9. Evaluasi adanya kelainan kongenitas lain yang ditunjang oleh

pemeriksaan rontgen toraks dan ekokardiogram

10. Jika bayi dirujuk, sebaiknya tempatkan bayi dalam inkubator hangat

dan beri oksigen

Penatalaksanaan non operasi (konvervatif) pada bayi dengan omfalokel,

adalah sebagai berikut :

1. Penatalaksanaan omfalokel secara konservatif dilakukan pada kasus :

a. Omfalokel besar

b. Terdapat perbedaan yang besar antara volume organ intra abdomen

yang mengalami herniasi atau eviserasi dan rongga abdomen, seperti

pada omfalokel raksasa

c. Terdapat status klinis bayi uang buruk sehingga ada kontraindikasi

operasi atau pembiusan, seperti pada bayi prematur dengan penyakit

membran hialin atau

d. Bayi yang mengalami kelainan kongenital berat yang lain, seperti

gagal jantung

2. Pada omfalokel raksasa, dapat terjadi herniasi seluruh organ intra abdomen

dan dinding abdomen berkembang sangat buruk sehingga sulit dilakukan

penutuan secara primer dan dapat membahayakan bayi

17
3. Tindakan non operasi secara sederhana dilakukan dengan merangsang

epitelisasi kantong atau selaput. Setelah granulasi terbentuk, dapat

dilakukan skin graft yang nantinya membentuk hernia ventralis yang

diperbaiki pada waktu selanjutnya dan setelah status jantung paru

membaik

4. Beberapa obat yang biasa digunakan untuk merangsang epitelisasi adalah

0,25% membromin (merkurokrom), 0,25% perak nitrat, perak sulfadiazin,

dan povidon iodin. Obat tersebut merupakan agens anti septik yang pada

awalnya memicu pembentukan eskar bakteriostatistik dan perlahan-lahan

akan merangsang epitelisasi. Obat tersebut berupa krim dan dioleskan

pada permukaan selaput atau kantong dengan balutan elastis yang secara

perlahan dapat menekan dan mengurangi isi kantong

5. Jika kantong belum pecah, beri merkurokrom untuk penebalan selaput

yang menutupi kantong [ CITATION Nao16 \l 1033 ]

II.10 Diagnosa Diferensial


Omfalokel Hernia Umbilikalis Gastroskisis
Kongenital
Lokasi Defek Pada cincin Pada cincin Terpisah
umbilicus Umbilicus (biasanya
(umbilical ring) lateral dari)
cincin
umbilikus
Diameter/ 4-12 cm < 4 cm < 4 cm
ukuran defek
(cm)
Kavum Kecil Normal normal
Abdomen terutama

18
pada giant
omfalokel
Kantong Ada Ada Tidak ada
Kandungan Seluruh Beberapa loop Biasanya gaster
Kantong organ usus atau usus
abdomen
Letak tali pusat Pada puncak Pada puncak Terpisah dengan
Kantong kantong kantong,
biasanya di
lateral

19
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

III.1 PENGKAJIAN

A. Epidemiologi

Di Amerika Serikat, omfalokel yang terkecil terjadi dengan rasio 1

kasus dalam 5.000 kelahiran. Omfalokel yang besar terjadi dengan rasio

1 kasus dalam 10.000 kelahiran. Perbandingan laki-laki dengan

perempuan adalah 1:1. Menurut catatan dikasus Kesehatan Bangka

Belitung pernah mencatat setidaknya ada enam kasus kelahiran dengan

usus terbuai. Padahal selama ini catatan medis memperlihatkan, angka

kejadian kelahiran dinding perut adalah sekali dalam tiap 200.000

kelahiran. Perempuan umur 40 tahun cenderung melahirkan bayi dengan

omfalokel. Angka kematian kelainan ini tinggi bila omfalokel besar

karena dapat pecah dan terjadi infeksi.

B. Biodata

a. Identitas : lengkap, termasuk orang tua bayi. Meliputi : nama,


tanggal lahir, umur jenis kelamin, , nama orang tua, pekerjaan orang
tua.
C. Riwayat Kesehatan

a) Keluhan Utama : bayi lahir dengan organ tubuh diluar

b) Riwayat Penyakit Sekarang

Bayi baru lahir dengan organ perut berada diluar tubuh terbungkus

dengan kantong, BB bayi > 2500

20
c) Riwayat Penyakit Dahulu

Tanyakan pada ibu, apakah pada saat hamil pernah terinfeksi virus,

apakah ibu pernah merokok, minum minuman beralkohol, dan

pernahkah mengkonsumsi obat- obatan

d) Riwayat Penyakit Keluarga

Apakah diantara anggota keluarga pernah mengalami hal yang

sama

D. Pemeriksaan Fisik

B1 (Breathing)

Inspeksi : kesimetrisannya, apakah ada sumbatan jalan nafas,

Frekuensinya cepat (takipneu), normal atau lambat, kedalaman

normal, dangkal atau terlalu dalam, adakah pernafasan cuping

hidung, apakah terlihat otot-otot bantu pernafasan, RR

Palpasi : adakah nyeri tekan

Perkusi : bunyi paru normalnya adalah sonor

Auskultasi : normalnya suara nafas vesikuler

B2 (Blood)

Terdiri dari TD, nadi

Inspeksi : kesimetrisan dada, dan bentuk dada

Palpasi : apakah terlihat ictus cordi

Perkusi :

21
B3 (Brain)

Terdiri dari kesadaran, nilai GCS dan fungsi 12 nervus / saraf kranial

B4 (Bladder)

Frekuensi BAK, BAB, karakteristik urine dan feses, apakah ada distensi

abdomen, apakah terdapat gangguan pada perkemihan

B5 (Bowel)

Periksa mulut bayi : kebersihannya, apakah ada lesi, apakah ada secret di

rongga mulut

Periksa abdomen bayi:

Perut rata, teraba lemas. Tampak kantong yang muncul dari tengah perut

(area umbilikal) dengan defek abdomen antara 4-12 cm, isi kantong

berupa keseluruhan usus (omfalokel kecil) atau bisa juga organ lain seperti

usus, hati, atau limpa (Omfalokel besar) Umbilikal tampak terletak pada

puncak kantong. Terkadang terjadi gangguan pencernaan karena

polisitemia dan hiperinsulinemia

B6 (Bone)

Warna kulit tubuh dan ekstremitas, kelembapan kulit, suhu terkadang

terjadi peningkatan karena kekurangan cairan tubuh, terdapat kulit terbuka

dan terlihat ada organ dalam yang menonjol keluar, adakah perubahan

warna kulit.

E. Pemeriksaan Penunjang

a) USG prenatal

b) Amniosentesis

22
c) Pemeriksaan fisik pasca kelahiran

d) Penurunan bidang usus

e) Masalah dalam pemberian makanan

f) Muntah bercampur empedu. [ CITATION Jam17 \l 1033 ]

III.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN

Pre op:

1. Resiko infeksi berhubungan dengan Pertahanan tubuh primer tidak adekuat

2. Kenaikan suhu berhubungan dengan Kekurangan cairan dari kebutuhan

tubuh

3. Defisiensi pengetahuan orang tua tentang penyakit berhubungan dengan

keterbatasan kognitif

Post op:

1. Nyeri akut berhungan dengan agen cidera fisik. [ CITATION THe15 \l

1033 ]

III.3 INTERVENSI

[ CITATION Ami151 \l 1033 ]

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


.
1 Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan NIC
berhubungan dengan
keperawatan control infeksi Infection Control
Pertahanan tubuh
primer tidak adekuat selama 3x 24 jam, dharapkan 1. Bersihkan lingkungan setelah
infeksi tidak terjadi dengan dipakai
status control infeksi 2. Pertahankan teknik isolasi
NOC : 3. Batasi pengunjung bila perlu
a. Immune Status 4. Intruksikan pada pengunjung

23
b. Knowledge : Infection untuk mencuci tangan saat
control berkunjung dan setelah
c. Risk control berkunjung meninggalkan
Kriteria hasil : pasien
1. Klien bebas tanda gejala 5. Gunakan sabun antimikrobia
infeksi unuk cuci tangan
2. Mendeskripsikan proses 6. Cuci tangan setiap sebelum dan
penularan penyakit factor sesudah melakukan tindakan
yang mempengaruhi 7. Gunakan APD lengkap
penularan serta 8. Tingkatkan intake nutrisi
penatalaksanaannya 9. Dorong masukan cairan
3. Menunjukkan 10. Dorong istirahat
kemampuan untuk 11. Berikan terapi antibiotic bila
mencegah timbulnya perlu infection protection
infeksi 12. Monitor tanda dan gejala
4. Jumlah leukosit dalam infeksi
batas normal 13. Monitor hasil granulosit, dan
WBC
14. Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
15. Ajarkan cara menghindari
infeksi

2 Kenaikan suhu Setelah dilakukan tindakan NIC


berhubungan dengan
keperawatan 3x 24 jam Fever Treatment
Kekurangan cairan
dari kebutuhan tubuh kebutuhan cairan klien terpenuhi 1. monitor suhu sesering mungkin
NOC : Thermoregulation 2. monitor IWL
Kriteria hasil : 3. monitor suhu kulit, warna,
1. Suhu tubuh dalam batas 4. monitor WBC, Hb, dan Hct
normal 5. berikan antiseptik
2. Nadi dan RR dalam 6. selimuti pasien

24
rentang normal 7. lakukan tapid sponge
3. Tidak ada perubahan 8. kolaborasi pemberian cairan IV
warna kulit dan tidak ada 9. kompres pasien pada lipatan paha
pusing dan aksila
10. tingkatkan sirkulasi udara
temperature regulation
1. monitor suhu minimal 2 jam
2. monitor vital sign
3. tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
4. catat adanya fluktuasi TD
3 Defisiensi Setelah dilakukan tindakan NIC
pengetahuan orang
keperawatan Pengajaran proses Teaching : disease process
tua tentang penyakit
berhubungan dengan penyakit selama 3x24 jam 1. Berikan penilaian singkat
keterbatasan kognitif
diharapkan keluarga dapat tentang pengetahuan keluarga
mengerti atau lebih paham pasien mengenai penyakitnya
mengenai penyakit anaknya dan 2. Jelaskan patofisiologi dari
pengobatannya penyakit dan bagaimana hal ini
NOC berhubungan dengan anatomi
1. Knowledge : disease dengan cara yang tepat :
prosess 3. Gambarkan tanda dan gejala,
2. Knowledge : health proses penyakit secara tepat
behavior 4. Beri informasi pada keluarga
Kriteria hasil : pasien
1. Mengidentifikasi 5. Hindari jaminan yang kosong
keperluan untuk 6. Diskusikan perubahan gaya
penambahan informasi hidup yang mungkin diperlukan
perawatan anak untuk mencegah komplikasi
2. Menjelaskan sebab atau dimasa yang akan datang atau
factor yang pengontrolan luka jahitannya
mempengaruhi 7. Diskusikan pilihan terapi atau

25
penanganan
8. Rujuk pasien
4 Nyeri akut Dx Post Op : NIC
berhubungan dengan
Tujuan : setelah dilakukan Pain Management
agen cidera fisik
ditandai dengan tindakan keperawatan nyeri 1. Observasi reaksi non verbal
mengekspresikan
selama 3x 24 jam diharapkan atau ketidaknyamanan
perilaku, sikap
melindungi nyeri pasien tidan mengalami nyeri 2. Gunakan komunikasi terapeutik
NOC : untuk mengetahui pengalaman
a. Pain level nyeri pasien
b. Pain control 3. Periksa kultur yang
c. Comfort level mempengaruhi respon nyeri
Kriteria hasil : 4. Control lingkungan uang dapat
a. Mampu mengontrol nyeri mempengaruhi nyeri seperti
(penyebab) suhu, ruangan,, dan
b. Menyatakan bahwa nyeri pencahayaan serta kebisingan
berkurang dengan 5. Kurangi factor presipitasi nyeri
menggunakan manajemen 6. Pilih dan lakukan penanganan
nyeri nyeri (farmakologis) dan
interpersonal
Analgesic administration
1. Tentukan lokasi/ karakteristik
2. Cek riwayat alergi
3. Pilih analgesik tergantung tipe
dan beratnya nyeri
4. Berikan analgesik dilakukan
tepat waktu dan saat nyeri hebat

III.4 IMPLEMENTASI

Disesuaikan dengan intervensi yang ada.

26
III.5 EVALUASI

Disesuaikan dengan kondisi pasien yang sebenarnya setelah diberi

tindakan.

27
DAFTAR PUSTAKA

Amin Huda Nurarif, S. K., & Hardhi Kusuma, S. K. (2015). Aplikasi Asuhan

Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC NOC.

Jogjakarta: Mediaction Publishing Jogjakarta.

Haws, P. S., & ahli bahasa, H. K. (2014). Asuhan Neonatus (Rujukan Cepat).

Jakarta: EGC.

Herdman, T. H., & Keliat, a. b. (2015). Diagnosis Keperawatan (Definisi dan

Klasifikasi) 2015-2018 Ed. 10. Jakarta: EGC.

Nagtalon, J., & ramos. (2017). Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir (Pedoman

untuk Perawat dan Bidan). Jakarta: Erlangga.

Naomy Marie Tando, S. S. (2016). Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Anak

Balita. Jakarta: EGC.

28
29