Anda di halaman 1dari 24

PENERAPAN AUDIT DANA – DANA KHUSUS

OLEH

NAMA KELOMPOK :
1. Lenci Raga 1723754678
2. Margaritha Rame 1723754679
3. Martini I. Malihing 1723754683
4. Miryami E. Saetban 1723754687
5. Osrianti S. Nafi 1723754693
KELAS : 5 B
MATA KULIAH : AUDIT KEUANGAN PEMERINTAH
DOSEN PENGAJAR : Tiffani N. P Gah, SE., MSA

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


POLITEKNIK NEGERI KUPANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmatNya kami dapat menyelesaikan makalah Sistem Akuntansi
Keuangan Daerah ini dengan baik.

Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih kepada ibu


Tiffani N. P Gah, SE., MSA dan teman-teman sekalian atas dukungan dan
bimbingan sehingga makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik.

Kami mengetahui bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, maka dari itu
kami sangat membutuhkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak
demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga dengan penyusunan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan


pemahaman diri kami dan para pembaca tentang mata kuliah ini.

Kupang, 13 Desember 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
Daftar Isi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii
BAB I PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
1.1. Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
1.2. Rumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
1.3. Tujuan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2

BAB II PEMBAHASAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
2.1. Dana Alokasi Khusus . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
2.2. Bantuan Sosial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
2.3. Audit dana-dana khusus . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9
2.4. Kasus audit . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 15
2.5. Hasil analisis . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16

BAB III PENUTUP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 21


3.1. Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 21
3.2. Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 21
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Alinea ke empat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
tahun 1945 telah memberikan landasan konstitusional mengenai perwujudan
tujuan dalam pelaksanaan pemerintahan di Indonesia. Salah satunya yakni
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Untuk mewujudkan tujan negara ini salah satu caranya dengan adan dana-
dan khusus yang digunakan dalam pengeloaan keuangan negara. Salah satu
bentuk pengunaan dana khusus adalah Dana Alokasi Khusus (DAK), dimana
dana yang bersumber dari pendapatan APBN, dialokasikan/ditransfer
kepada daerah untuk membiayai kegiatan khusus yang merupakan urusan
daerah dan merupakan prioritas nasional, sehingga dapat membantu
mengurangi beban biaya kegiatan khusus yang harus ditanggung oleh
pemerintah daerah. Terdapat juga Bantuan sosial adalah pemberian bantuan
berupa uang/barang dari pemerintah daerah kepada individu, keluarga,
kelompok dan/atau masyarakat yang sifatnya tidak secara terus menerus
dan selektif yang bertujuan untuk melindungi dari kemungkinan terjadinya
resiko sosial.

Dalam Penyaluran pelaksanan dan penggunaan dana khusus sering kali


penyimpangan yang dilakukan oleh beberapa oknum untuk memenuhi
kepentingan diri sendiri. Seperti kasus yang terjadi di Kementrian
Pendidikan Nasional. Audit dibutuhkan untuk menilai kewajaran dalam
prosedur maupun laporan keuangan yang di sajikan oleh Pemerintah Pusat &
Daerah maupun Kementrian/Lembaga. Dalam mengaudit dana penyaluran
kepada masyarakat ini, proses audit dapat dilakukan terhadap 4 hal yaitu:
audit terhadap pendapatan dana, alokasi dana,belanja dana, dan manajemen
dana. Dibutuhkan adanya perhatian kuhus dalam pengendalian dan
pertanggungjawaban pengeloaan dana khusus, serta adanya pegawai yang
mempunyai nilai kejujuran dan tanggung jawab melaksanakan tugas dan
wewenangnya dalam pengeloaan dana-dan khusus ini, sehingga setiap
program dan tujuan yang dijalan dapat tercapi dengan baik & benar sesuai
dengan prosedur dan aruran yang berlaku.
1.2. Rumusan Masalah
1. Jelaskan pemahaman mengenai Dana Alokasi Khusus & Bantuan Sosial ?
2. Bagaimana prosedur audit dana-dana khusus?
3. Bagaimana mengaplikasikan dan menganalisis sebuah kasus audit dana
dana khusus sesuai dengan prosedur audit ?
1.3. Tujuan
1. Mengetahui dan memahami tentang Dana Alokasi Khusus & Bantuan
Sosial.
2. Memahami bagaimana prosedur audit dana-dana khusus.
3. Mampu menganalisis sebuah kasus audit terkhususnya audit dana-dana
khusus.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. DANA ALOKASI KHUSUS

Dana Alokasi Khusus (DAK), adalah alokasi dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara kepada provinsi/kabupaten/kota tertentu dengan tujuan untuk
mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Pemerintahan Daerah dan sesuai
dengan prioritas nasional. DAK termasuk di dalam Dana Perimbangan, di samping
Dana Alokasi Umum (DAU)

Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan
APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu
mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan
prioritas nasional. Program yang menjadi prioritas nasional dimuat dalam Rencana
Kerja Pemerintah dalam tahun anggaran bersangkutan. Kemudian, Menteri teknis
mengusulkan kegiatan khusus yang akan didanai dari DAK dan ditetapkan setelah
berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri
Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, sesuai dengan Rencana Kerja
Pemerintah. Menteri teknis menyampaikan ketetapan tentang kegiatan khusus
kepadaMenteri Keuangan.

Dasar Hukum
1) UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah; dan
2) PP Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.

Mekanisme Pengalokasian DAK

Program yang menjadi prioritas nasional dimuat dalam Rencana Kerja


Pemerintah tahun anggaran bersangkutan. Menteri teknis mengusulkan kegiatan
khusus yang akan didanai dari DAK dan ditetapkan setelah berkoordinasi dengan
Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional, sesuai dengan Rencana Kerja Pemerintah dimaksud. Menteri
teknis kemudian menyampaikan ketetapan tentang kegiatan khusus dimaksud
kepada Menteri Keuangan.

Kriteria Pengalokasian DAK, yaitu:


1) Kriteria Umum, dirumuskan berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang
tercermin dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja PNSD;
2) Kriteria Khusus, dirumuskan berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang mengatur penyelenggaraan otonomi khusus dan karakteristik daerah;
dan
3) Kriteria Teknis, yang disusun berdasarkan indikator-indikator yang dapat
menggambarkan kondisi sarana dan prasarana, serta pencapaian teknis
pelaksanaan kegiatan DAK di daerah.

Penghitungan DAK

Setelah menerima usulan kegiatan khusus dimaksud, Menteri Keuangan


melakukan penghitungan alokasi DAK. Penghitungan alokasi DAK dimaksud dilakukan
melalui 2 tahapan, yaitu:

1) Penentuan daerah tertentu yang menerima DAK; dan


2) Penentuan besaran alokasi DAK masing-masing daerah.

Penentuan daerah tertentu yang menerima DAK harus memenuhi kriteria


umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis. Sedangkan besaran alokasi DAK masing-
masing daerah ditentukan dengan perhitungan indeks berdasarkan kriteria umum,
kriteria khusus, dan kriteria teknis.

Kriteria umum dirumuskan berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang


dicerminkan dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja Pegawai Negeri
Sipil Daerah. Kemampuan keuangan daerah dihitung melalui indeks fiskal netto.
Daerah yang memenuhi krietria umum merupakan daerah dengan indeks fiskal
netto tertentu yang ditetapkan setiap tahun.

Kriteria khusus dirumuskan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang


mengatur penyelenggaraan otonomi khusus dan karakteristik daerah. Kriteria
khusus dirumuskan melalui indeks kewilayahan oleh Menteri Keuangan dengan
mempertimbangkan masukan dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional danmenteri/pimpinan lembaga terkait.

Kriteria teknis disusun berdasarkan indikator-indikator kegiatan khusus yang akan


didanai dari DAK. Kriteria teknis dirumuskan melalui indeks teknis oleh menteri
teknis terkait. Menteri teknis menyampaikan kriteria teknis dimaksud kepada
Menteri Keuangan.
Besaran Dana Alokasi Khusus (DAK) ditetapkan setiap tahun dalam APBN.
DAK dialokasikan dalam APBN sesuai dengan program yang menjadi prioritas
nasional. DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus
yang merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional yang menjadi
urusan daerah. Daerah Tertentu dimaksud adalah daerah yang dapat memperoleh
alokasi DAK berdasarkan kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis.

Penetapan Alokasi dan Penggunaan DAK

Alokasi DAK per daerah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan.


Berdasarkan penetapan alokasi DAK dimaksud, menteri teknis menyusun Petunjuk
Teknis Penggunaan DAK. Petunjuk Teknis Penggunaan DAK dikoordinasikan oleh
Menteri Dalam Negeri.

Penganggaran di Daerah

Daerah penerima DAK wajib mencantumkan alokasi dan penggunaan DAK di


dalam APBD. Penggunaan DAK dimaksud dilakukan sesuai dengan Petunjuk Teknis
Penggunaan DAK. DAK tidak dapat digunakan untuk mendanai administrasi kegiatan,
penyiapan kegiatan fisik, penelitian, pelatihan, dan perjalanan dinas.

Daerah penerima DAK wajib menganggarkan Dana Pendamping dalam APBD


sekurang-kurangnya 10% dari besaran alokasi DAK yang diterimanya. Dana
Pendamping dimaksud digunakan untuk mendanai kegiatan yang bersifat kegiatan
fisik. Daerah dengan kemampuan keuangan tertentu tidak diwajibkan
menganggarkan Dana Pendamping.

Penyaluran DAK

DAK disalurkan dengan cara pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke
Rekening Kas Umum Daerah.

Pelaporan

Kepala daerah menyampaikan laporan triwulan yang memuat laporan


pelaksanaan kegiatan dan penggunaan DAK kepada Menteri Keuangan, menteri
teknis, dan Menteri Dalam Negeri. Penyampaian laporan triwulan dimaksud
dilakukan selambat-lambatnya 14 hari setelah triwulan yang bersangkutan berakhir.
Penyaluran DAK dapat ditunda apabila daerah tidak menyampaikan laporan
dimaksud. Menteri teknis menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan DAK setiap
akhir tahun anggaran kepada Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan dan
Pembangunan Nasional, dan Menteri Dalam Negeri.

Pemantauan dan Evaluasi

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional bersama-sama dengan Menteri


Teknis melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pemanfaatan dan teknis
pelaksanaan kegiatan yang didanai dari DAK. Menteri Keuangan melakukan
pemantauan dan evaluasi pengelolaan keuangan DAK. Ketentuan lebih lanjut
mengenai tata cara penetapan program dan kegiatan, penyaluran, dan pelaporan
diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.

2.2 BANTUAN SOSIAL

Bantuan sosial adalah pemberian bantuan berupa uang/barang dari


pemerintah daerah kepada individu, keluarga,kelompok dan masyarakat yang
sifatnya tidak secara terus menerus dan selektif yang bertujuan untuk melindungi
dari kemungkinan terjadinya risiko sosial.

Bantuan sosial tersebut memiliki ketentuan sebagai berikut :

1. Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat


dan/atau lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk
lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan.
2. Bantuan sosial bersifat sementara atau berkelanjutan.
3. Bantuan sosial ditujukan untuk mendanai kegiatan rehabilitasi sosial,
perlindungan sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, penanggulangan
kemiskinan dan penanggulangan bencana.
4. Bantuan sosial bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas,
kelangsungan hidup, dan memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai
kemandirian sehingga terlepas dari risiko sosial.
5. Bantuan sosial diberikan dalam bentuk:

Bantuan langsung;

1. Penyediaan aksesibilitas; dan/atau


2. Penguatan kelembagaan.
Tujuan Penggunaan Bansos

Pengeluaran bantuan sosial hanya dapat dilakukan untuk kegiatan yang ditujukan
untuk:

1. Rehabilitasi sosial dimaksudkan untuk memulihkan dan mengembangkan


kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat
melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar.
2. Perlindungan sosial dimaksudkan untuk mencegah dan menangani risiko dari
guncangan dan kerentanan sosial seseorang, keluarga, kelompok, dan/atau
masyarakat agar kelangsungan hidupnya dapat dipenuhi sesuai dengan
kebutuhan dasar minimal.
3. Pemberdayaan Sosial adalah semua upaya yang diarahkan untuk menjadikan
warga negara yang mengalami masalah sosial mempunyai daya, sehingga
mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.
4. Jaminan Sosial adalah skema yang melembaga untuk menjamin seluruh
rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak.
5. Penanggulangan kemiskinan merupakan kebijakan, program, dan kegiatan
yang dilakukan terhadap orang, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat
yang tidak mempunyai atau mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak
dapat memenuhi kebutuhan yang layak bagi kemanusiaan.
6. Penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan
kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan
pencegahan bencana, tanggap darurat dan rehabilitasi.

Contoh bentuk pemberian bantuan sosial:

1. Bantuan berbentuk uang tunjangan kesehatan putra-putri pahlawan yang


tidak mampu;
2. Bantuan berbentuk uang beasiswa (tunjangan pendidikan) masyarakat
miskin.
3. Bantuan makanan pokok/pakaian kepada yatim piatu/tuna sosial/bencana
alam di tempat penampungan sementara atau tempat tinggal sementara
4. Bantuan berbentuk perawatan kesehatan/obat-obatan kepada masyarakat
kurang mampu
5. Bantuan barang berupa penyediaan pemakaman sekelompok masyakat tidak
mampu
6. Bantuan dana yang diberikan kepada sebuah LSM untuk mendanai kegiatan
penyuluhan penanggulangan HIV/AIDS bagi masyarakat tidak mampu.
7. Bantuan dana yang dibayarkan kepada dokter swasta untuk kegiatan
penanggulangan bencana.
Bantuan sosial tidak dapat diberikan kepada pegawai negeri terkait dengan
pelaksanaan tugas dan fungsinya sebagai pegawai negeri.

Contoh : beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Daerah kepada pegawainya untuk
mengikuti pendidikan di sebuah universitas atau beasiswa yang diberikan kepada
pegawai instansi pemerintah lainnya untuk mengikuti pendidikan atau pelatihan.

Bantuan sosial hanya dapat diberikan kepada pegawai negeri dalam kedudukannya
sebagai anggota masyarakat yang terkena risiko sosial.

Contoh : pemberian bantuan kebutuhan dasar kepada korban bencana, termasuk di


dalamnya pegawai negeri yang menjadi korban bencana.

Bantuan sosial dalam bentuk barang yang pada saat pembelian tidak ditujukan
untuk diserahkan kepada pihak penerima bantuan sosial tetapi sebagai aset instansi
tidak dapat diklasifikasikan sebagai belanja bantuan sosial. Demikian juga belanja
barang untuk kepentingan kegiatan Pemerintah daerah tidak dapat diklasifikasikan
sebagai belanja bantuan sosial.

Contoh : pembelian kendaraan operasional yang digunakan oleh tenaga penyuluh


kesehatan di daerah terpencil dan biaya perjalanan dinas tim penyuluh kesehatan
ke daerah pedalaman.

Risiko sosial adalah:

kejadian atau peristiwa yang dapat mempengaruhi kesejahteraan rumah tangga


(masyarakat) yang disebabkan oleh pembebanan tambahan permintaan atas sumber
daya.
Pengertian lain disebutkan bahwa risiko sosial terkait dengan kerentanan, yaitu
kemungkinankejadian atau peristiwa yang membuat rumah tangga (masyarakat)
yang saat ini tidak termasuk miskin akan jatuh di bawah garis kemiskinan, atau jika
saat ini berada di bawahgaris kemiskinan, akan tetap berada di bawah garis
kemiskinan atau semakin jauh terperosok di bawah garis kemiskinan.
Risiko sosial merupakan potensi atau kemungkinan terjadinya guncangan dan
kerentanansosial yang akan ditanggung oleh seseorang, keluarga, kelompok,
dan/atau masyarakat,sebagai dampak dari penyakit sosial berupa ketakpedulian,
ketakacuhan, indisipliner, fatalitas, selfishness, egoism dan immoralitas yang jika
tidak dilakukan pemberian belanja bantuansosial oleh pemerintah maka seseorang,
keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat tersebut akan semakin terpuruk dan
tidak dapat hidup dalam kondisi wajar.
Guncangan dan kerentanan sosial adalah keadaan tidak stabil yang terjadi secara
tiba-tiba sebagai akibat dari situasi krisis sosial, ekonomi, politik, bencana, dan
fenomena alam.Kemampuan seseorang, kelompok, dan/atau masyarakat untuk
menangani risiko danpenanganan yang layak diterapkan untuk menangani risiko
tergantung kepada sumber risiko,frekuensi dan intensitas kejadian.
Dengan demikian Risiko sosial adalah kejadian atau peristiwa yang dapat
menimbulkan potensi terjadinya kerentanan sosial yang ditanggung oleh individu,
keluarga,kelompok dan/atau masyarakat sebagai dampak krisis sosial, krisis
ekonomi, krisis politik, fenomena alam dan bencana alam yang jika tidak diberikan
belanja bantuan sosial akan semakin terpuruk dan tidak dapat hidup dalam kondisi
wajar.
Keadaan yang memungkinkan adanya risiko sosial antara lain, namun tidak terbatas
pada:
 Wabah penyakit yang apabila tidak ditanggulangi maka akan meluas dan
memberikan dampak yang memburuk kepada masyarakat.
 Wabah kekeringan atau paceklik yang bila tidak ditanggulangi akan membuat
petani/nelayanmenjadi kehilangan penghasilan utamanya.
 Cacat fisik dan/atau mental yang bila tidak dibantu tidak akan bisa hidup
secara mandiri.
 Penyakit kronis yang bila tidak dibantu tidak akan bisa hidup secara mandiri.
 Usia lanjut yang bila tidak dibantu tidak akan bisa hidup secara mandiri.
 Putus sekolah yang bila tidak dibantu akan semakin terpuruk dan tidak dapat
hidup secaramandiri,
 Kemiskinan yang bila tidak dibantu akan semakin terpuruk dan tidak dapat
hidup secara wajar.
 Keterisolasian tempat tinggal karena kurangnya akses penghubung yang
mempersulitperkembangan masyarakat di suatu daerah.
 Bencana yang bila tidak ditanggulangi akan mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat.

2.3. AUDIT DANA- DANA KHUSUS.

Dalam mengaudit dana penyaluran kepada masyarakat ini, proses audit


dapat dilakukan terhadap 4 hal yaitu:

1. Audit Terhadap Pendapatan Dana


Audit pendapatan dana harus berfokus terhadap masalah-masalah berikut:
a. Kesalahn dalam pencatatan penerimaan dana dari pemerintah atau
menerima dana tanpa ada dokumen formal yang membatasi penerimaan
dana dari pemerintah.
b. Kesalahan dalam penyetoran dana penyaluran dalam bank serta
menetapkan bendahara lain yang tidak terotorisasi
2. Audit Terhadap Alokasi Dana
Audit terhadap alokasi dana harus berfokus pada masalah-masalah berikut:
a. Apakah program alokasi telah ditelaah dan dipisahkan oleh departemen
yang berkaitan
b. Apakah dana telah dialoksikan dengan meminta penerima untuk
memenuhi syarat kelayakan terlebih dahulu
c. Apakah dana telah dialokasikan dan telah ditutup, apakah institusi
administraasi mengenakan biaya administrasi, mendapatkan pendapatan
lain-lain dari dana penyaluran tersebut
d. Apakah ada dana alokasi yang tidak terbayarkan karna terlalu banyak
pihak perantara atau ada dana yang ditahan di tingkat-tingkat tertentu
sehingga masyarakat yang berhak tidak menerima dana penyaluran
tersebut.
3. Audit Terhadap Belanja Dana
Audit terhadap belanja dari dana penyaluran harus berfokus pada masalah-
masalah berikut:
a. penyalahgunaan dana penyaluran oleh institusi administrasi yaitu dengan
membebankan beban institusi administrasi sebagai beban administrasi
dana penyaluran.
b. Pengalokasian kembali barang-barang yang diperoleh melalui dana
penyaluran untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan memindahkan
otorisasi penggunaa kepada pihak atau orang lain.
4. Audit Terhadap Manajemen Dana
Audit terhadap manajemen berfokus pada hal berikut:
a. Apakah sistem pengendalian intern dapat diandalkan dan efektif
b. Apakah terdapat pemeriksaan yang tegas dan formalitas dalam
pemberian persetujuan atas penjadwalan, pengalokasian dan aplikasi
dana.
c. Apakah terdapat manajemen terhadap barang-barang fisik
d. Apakah harga barang-barang penjualan fisik ditelaah oleh administrasi
harga
e. Apakah pembukuan rekening sesuai dengan peraturan yang ditetapkan.

Esensi Audit Dana

Inti dari audit terhadap hibah dan kontribusi adalah menentukan apakah
manajemen keuangan dan pengendalian telah didukung dengan bukti yang jelas.
Harus terdapat bukti yang jelas mengenai hal-hal berikut:

a. Integritas dalam perancangan program sesuai dengan kepentingan


masyarakat
b. Dukungan dalam pengambilan keputusan pada semua tingkat manajemen
c. Ketersediaan informasi manajemen yang tepat waktu, relefan dan dapat
diandalkan baik informasi keuangan maupun non keuangan
d. Manajemen risiko
e. Penggunaan sumber daya yang efektif,efisien dan ekonomis
f. Akuntabilitas penggunaan sumber daya
g. Lingkungan pengendalian yang mendukung
h. Ketaatan terhadap otoritas dan memlihara aktiva
i. Memonitor dan melaporkan hasil aktual

Manajemen keuangan adalah bagian penting dari program penyaluran


dana serta mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan melalui
sumber daya yang diberikan kesetiap manajer program. Terdapat 3 bagian
penting dari manajemeb keuangan yaitu:

a. Manajemen risiko dan pengendalian


Pada bagian ini organisasi mengidentifikasi risiko-risiko yang di hadapi,
menetapkan rencana untuk mengendalikan dan mengelola risiko tersebut.
b. Informasi
Pada bagian ini organisasi menetapkan prosedur untuk mengatur dan
melindungi integritas data mereka serta menghasilkan informasi yang
diperlukan manajer untuk melakukan kegiatan dan pertanggungjawaban
kegiatan.
c. Manajemen sumber daya
Bagian ini berfokus pada mengatur dan mengarahkan sumber daya organisasi
secara ekonomis dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi

Risiko didefinisikan sebagai keadaan dimana tidak ada perlindungan


terhadap kegagalan dan kerugian . pendekatan atribut dapat digunakan
untuk mengidentifikasi risiko dalam program hibah dan kontribusi yang
dikelola secara baik. Dengan atribut ini auditor dapat memperkirakan apa
yang salah dengan program .

Atribut dari program hibah dan kontribusi yang dikelola secara baik
terdiri dari:

a. Memilih pendanaan program yang tepat. Apakah hibah dan kontribusi dengan
mencapai keseimbangan antara prinsip-prinsip akuntanbilitas kepada dewan,
analisa biaya/ keuntungan yang baik, manajemen risiko dan perlakuan yang
baik terhadap penerima dana program
b. Manajemen program pada semua tingkat dapat menjelaskan bagaimana
penerima dana diharapkan mendapatkan keuntungan dari pemberian dana
dan untuk apa pemberian dana tersebut
c. Petugas program mengerti siapa yang menjadi tujuan penyaluran dana, atau
kondisi-kondisi apa, untuk tujuan apa dan dalam jumlah berapa.
d. Pihak-pihak yang mungkin dapat menerima dana mengetahui program yang
ada
e. Dana digunakan untuk tujuan yang telah disetujui
f. Masalah dengan proyek dan program dengan cepat diselesaikan
g. Pelaporan manajemen menunjukan pengetahuan yang baik atas kinerja
program
h. Uang yang harus diserahkan kepada pemerintah harus dikumpulkan

Tujuan Audit

Audit atas program penyaluran dana tunai kepada masyarakat tergolong


audit ketaatan dan audit kinerja. Karena itu dalam menyusun prosedur audit
dalam rangka mengumpulkan bukti audit perlu ditetapkan tujuan audit ketaatan
dan audit kinerja yang berkaitan dengan program tersebut.

Tujun audit ketaatan atas penyaluran dana kepada masyarakat


dijabarkan dalam 3 jenis yaitu:

a. Tepat sasaran. Bahwa program yang diluncurkan oleh pemerintah benar-


benar diterima oleh keluarga miskin yang ditetapkan
b. Tepat jumlah. Bahwa besarnya bantuan yang diberikan oleh pemerintah
melaui program ini diterima keluarga miskin dengan jumlah sesuai yang
ditetapkan
c. Tepat waktu. Bahwa dana atau manfaat yang di salurkan melalui
penanggungjawab, pelaksa kegiatan program di terima oleh keluarga miskin
pada bulan yang ditetapkan dengan jumlah per keluarga miskin sesuai dengan
yang telah ditetapkan.

Tujuan audit kinerja penyaluran dana tunai adalah untuk menilai kinerja dari
program penyaluran dana dengan membandingkan pencapain program dengan
kriteria evaluasi yang telah ditetapkan. Tujuan audit kinerja berkaitan dengan
ditemukannya masalah-masalah yang teridentifikasi menghambat kelancaran
penyalurandana tunai kepada keluarga miskin. Masalah-masalah tersebut antara
lain:
a. Tidak maksimalnya kegiatan sosialisasi karena singkatnya rentang waktu
yang tersedia
b. Faktor keamanaan, geografis dan administrasi, pada daerag-daerah yang
terpencil yang tidak kondusif dan faktor-faktor kependudukan lainnya
yang berpengaruh seperti adanya pengungsi yang berpindah dari satu
daerah ke daerah yang lain.
c. Tidak adanya dukungan dana bantuan operasional dan pengendalian (BOP)
dusemua tingkatan.

Metodologi Audit

Metodologi audit atas dana penyaluran kepada masyarakat terdiri dari 4 tahap
yaitu:

A. Tahap Perencanaan
Dalam tahap ini auditor harus memahami dasar penugasan audit dan
memahami program secara menyeluruh. Pemahaman ini selanjutnta menjadi
bahan pertimbangan dalam metentukan tujuan audit. Tujuan audit inilah
yang menjadi dasar dalam merencanakan prosedur-prosedur audit yang akan
dilakukan. Dalam bagian dasar penugasan audit, auditor harus memahami
hal-hal sebagai berikut:
a. Latar belakang audit
b. Dasar audit
c. Ruang lingkup audit
d. Tujuan audit
e. Sasaran audit
f. Periode audit dan
g. Waktu pelaksana audit

Dalam bagian pemahaman atas program, auditor harus memahami dengan


baik hal-hal berikut ini:

a. Dasar hukum program


b. Tujuan dan sasaran program
c. Target penerima dana penyaluran
d. Mekanisme penyaluran termasuk prinsip-prinsip pengelolaan,
organisasi pengelola baik dipusat sampai ditingkat kelurahan/desa
(struktur organisasi pengelola) dokumen yang digunakan dalam
pengelolaan, persyaratan penerima bantuan, ketentuan penyaluran,
pengendalian dan pelaporan serta pengukuran keberhasilan program.
Pemahaman atas dasar penugasan audit dan program yang diaudit
dilakukan untuk:

a. Memahami pengendalian manajemen yang ada dalam program


b. Mengidentifikasi risiko bawaan dan pengendalian program dan serta
memperkirakan tingkat risiko tersebut.
c. Mengidentifikasi kriteria evaluasi kinerja program
d. Mengidentifikasi pembatasan khusus dalam peraturan dan
perundangan yang harus ditaati dalam pelaksanaan program.

Setelah memahami dasar penugasan dan program yang diaudit, auditor


harus menetapkan tujuan audit sebagai dasar dalam merancang prosedur
audit selanjutnya . tahap perencanaan selesai apabila telah disusun
program audit yang berisi faktor kunci keberhasilan, masalah, tujuan
audit dan prosedur audit.

B. Tahap Pengujian
Dalam tahap ini auditor melakukan prosedur audit yang ada dalam rencana
program audit untuk mengumpulkan bukti dalam menilai kinerja program dan
memastikan apakah program telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan
perundangan yang telah ditetapkan.
C. Tahap Pelaporan
Dalam tahap ini auditor melaporkan temuan audit dan rekomendasi.
KASUS AUDIT : BPK Ungkap Penggunaan Dana Rp 1,56 Triliun di Kementrian
Pendidikan Nasional

JAKARTA, KOMPAS - Badan Pemeriksa Keuangan melakukan audit pada


Kementrian Pendidikan Basional soal dana bantuan operasional sekolah dan dana
pendidikan lainnya senilai Rp 1,56 triliun yang dinilai bermasalah. Salah satu yang
dipermasalahkan adalah 2.592 sekolah penerima tidak melaporkan dana itu.

Bantuan operasional sekolah (BOS) dan dana pendidikan lainnya (DPL) yang diterima
2.592 sekolah itu tahun 2008 sebesar Rp 624,192 miliar, tetapi tidak dilaporkan
sekolah sebagai bagian dari penerimaan dalam Rencana Anggaran dan Pendapatan
Belanja Sekolah (RAPBS).

"Hal itu mengakibatkan akuntabilitas penerimaan sekolah atas berbagai sumber


pembiayaan tidak transparan dan berpotensi disalahgunakan," ujar Ketua BPK
Anwar Nasution seusai Rapat Paripurna DPR yang mengagendakan Penyerahan
Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester II Tahun Anggaran 2008 di Jakarta, Selasa
(21/4).

BPK menemukan dana BOS digunakan untuk membeli buku di luar jenis buku dalam
petunjuk teknis senilai Rp 1,219 miliar. Akibatnya, sebagian buku tidak bisa
dimanfaatkan. Pada saat yang sama, BPK juga menemukan ada sisa dana BOS dan
pendapatan jasa giro senilai Rp 23,393 miliar yang tidak disetor kembali ke kas
negara. Dana BOS juga digunakan untuk keperluan yang tidak sesuai dengan
petunjuk teknis senilai Rp 28,4 miliar.

Temuan di lapangan lainnya juga menunjukkan ada 47 sekolah dasar (SD) dan 123
sekolah menengah pertama (SMP) di I5 kabupaten atau kota yang belum
membebaskan biaya pendidikan bagi siswa yang tidak mampu. "Ini mengakibatkan
tujuan program BOS untuk membebaskan biaya pendidikan bagi siswa yang tidak
mampu menjadi tidak sepenuhnya tercapai," kata Anwar.

Terlambat disalurkan BPK juga melaporkan, penyaluran BOS mengalami


keterlambatan sehingga dana operasional sekolah tidak tersedia tepat waktu.
Akibatnya, beberapa sekolah terpaksa meminjam uang dari pihak lain untuk
keperluan operasional sekolah sehingga memengaruhi proses belajar-mengajar.

Adapun di sisi DPL, BPK menemukan bahwa aset tetap di sekolah yang berasal dari
sumber dana bantuan pemerintah pusat dan daerah senilai Rp 744,8 miliar tidak
jelas status kepemilikan dan pengurusannya. Akibatnya, pemerintah daerah tidak
bisa menganggarkan biaya pemeliharaan atas aset yang dikuasainya karena belum
menjadi aset milik pemerintah daerah. Risikonya adalah bisa terjadi
penyalahgunaan aset, seperti hilang atau dikuasai pihak lain.
Temuan menonjol lainnya yang dilaporkan terkait dengan dana alokasi khusus (DAK)
bidang pendidikan. BPK melaporkan ada pelaksanaan pekerjaan yang dibiayai DAK
tidak dilakukan secara swakelola dan malah diarahkan kepada rekanan tertentu
senilai Rp 96.718 miliar. Selain itu, ada penitipan uang pajak DAK Rp 1,635 miliar
tidak disetor ke kas negara dan digunakan untuk keperluan lain.

"BPK menyimpulkan bahwa secara umum pengendalian terhadap pengelolaan dan


pertanggungjawaban dana BOS dan DPL telah memadai, tetapi masih perlu
mendapat perhatian dari pemerintah khususnya terkait desain pengendalian dan
pelaksanaannya," kata Anwar.

HASIL ANALISIS

A. Objek Pemeriksaan

Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia

B. Temuan audit

Temuan audit atas kegiatan penggunaan ,pelaksaan dan pengendalian dana BOS
serta pelaksanaan pekerjaan yang dibiayai DAK di Kementrian Pendidikan
Nasional

C. Jenis Audit yang digunakan


 Audit Kinerja ( Operasional )
BPK melakukan pemeriksaan terhadap kementrian pendidikan dan
menemukan adanya temuan audit berupa pegawai yang tidak melaksanakan
prosedur dan petunjuk teknis dana bos dan dana alokasi khusus ssuai dengan
peraturan yang berlaku.
 Audit Keuangan
BPK melakukan audit atas laporan keuangan kementrian pendidikan dan
menyatakan bahwa :
1. Laporan keuangan kementrian pendidikan belum menyajikan informasi
secara wajar sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan
2. Sistem pengendalian dan pengeloaan serta pertanggungjawaban dana
BOS dan DPL telah memadai, tetapi masih perlu mendapat perhatian
dari pemerintah khususnya
D. Tujuan Audit

Tujuan dilaksanakannya audit pada kementrian pendidikan adalah untuk menilai


kewajaran apakah :
1. Dana yang disalurkan tepat sasaran, tepat jumlah, dan tepat waktu
sesuai petunjuk teknis dan aturan yang berlaku
2. Pengendalian terhadap pengelolaan dan pertanggungjawaban dana bos
dilaksanakan secara memadai
3. pelaksanaan pekerjaan yang dibiayai DAK di Kementrian Pendidikan
Nasional sesuai dengan prosedur yang berlaku.
E. Tahapan Pemeriksaan Atas Dana Bantuan Sosial (Dana Bos) Dan Dana
Alokasi Khusus
1. Pemeriksaan terhadap penyaluran, penggunaan dana bos dan
pelaksanaan dana alokasi khusus

Penggunaan dana bos di nilai bermasalah , mengalami


keterlambatan dalam penyalurannya dan dana BOS tidak dilaksanakan
sesuai prosedur serta pelaksanaan Dak juga tidak sesuai dengan
prosedur yang belaku serta tidak disetorkan ke kas Negara

2. Pemeriksaan atas pencatatan atau pelaporan


 Dalam pencatatan, semestinya kementrian pendidikan mencatat
dan menyetor sisa dana bos ke kas negara, dan aset tetap yang
berasal dari sumber dana bantuan pemerintah dan daerah tidak
memiliki status kepemilikan dan kepengurusannya
 Dalam hal pelaporan , laporan keuangan kementrian pendidikan
tidak/belum di laporkan secara secara wajar , terkhusus nya
dalam hal jumlah saldo Dana bantuan sosial (dana bos) dan DAK
yang dinilai masih bermasalah.
3. Hasil pemeriksaan
 Badan Pemeriksa Keuangan melaporkan kepada DPR soal dana
bantuan operasional sekolah dan dana pendidikan lainnya senilai
Rp 1,56 triliun yang dinilai bermasalah. Salah satu yang
dipermasalahkan adalah 2.592 sekolah penerima tidak
melaporkan dana itu.
 Bantuan operasional sekolah (BOS) dan dana pendidikan lainnya
(DPL) yang diterima 2.592 sekolah itu tahun 2008 sebesar Rp
624,192 miliar, tetapi tidak dilaporkan sekolah sebagai bagian
dari penerimaan dalam Rencana Anggaran dan Pendapatan Belanja
Sekolah (RAPBS).
 BPK menemukan dana BOS digunakan untuk membeli buku di luar
jenis buku dalam petunjuk teknis senilai Rp 1,219 miliar.
Akibatnya, sebagian buku tidak bisa dimanfaatkan.
 BPK juga menemukan ada sisa dana BOS dan pendapatan jasa giro
senilai Rp 23,393 miliar yang tidak disetor kembali ke kas
negara. Dana BOS juga digunakan untuk keperluan yang tidak
sesuai dengan petunjuk teknis senilai Rp 28,4 miliar.
 Temuan di daerah menunjukkan ada 47 sekolah dasar (SD) dan
123 sekolah menengah pertama (SMP) belum membebaskan biaya
pendidikan bagi siswa yang tidak mampu. Hal ini mengakibatkan
tujuan program BOS untuk membebaskan biaya pendidikan bagi
siswa yang tidak mampu menjadi tidak sepenuhnya tercapai.
 BPK juga melaporkan, penyaluran BOS mengalami keterlambatan
sehingga dana operasional sekolah tidak tersedia tepat waktu.
Akibatnya, beberapa sekolah terpaksa meminjam uang dari pihak
lain untuk keperluan operasional sekolah sehingga memengaruhi
proses belajar-mengajar.
 BPK menemukan bahwa aset tetap di sekolah yang berasal dari
sumber dana bantuan pemerintah pusat dan daerah senilai Rp
744,8 miliar tidak jelas status kepemilikan dan pengurusannya.
 Temuan menonjol lainnya yang dilaporkan terkait dengan dana
alokasi khusus (DAK) bidang pendidikan. BPK melaporkan ada
pelaksanaan pekerjaan yang dibiayai DAK tidak dilakukan secara
swakelola dan malah diarahkan kepada rekanan tertentu senilai
Rp 96.718 miliar. Selain itu, ada penitipan uang pajak DAK Rp
1,635 miliar tidak disetor ke kas negara dan digunakan untuk
keperluan lain.

Sehingga berdasarkan temuan/hasil pemeriksaan yang


dilakukan BPK di lapangan, maka BPK RI memberikan opini atas
Laporan Keuangan Kementrian/Lembaga (LKKL) Kememtrian
Pendidikan Nasional pada periode 2009 dengan Wajar Dengan
Pengecualian (WDP) yang ditulis dalam Laporan Hasil
Pemeriksaan (LHP) BPK RI tahun 2009.

F. Penyajian Temuan Audit

(a) Kondisi

Temuan yang ditemukan di lapangan : (*Hasil Pemeriksaan*)

(b) Kriteria

Standar yang digunakan umtuk mengevaluasi kondisi :

 UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan


Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan
Daerah;
 PP Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan;

 PMK Nomor 81/PMK/05/2012 tentang belanja bantuan


sosial pada Kementrian/Lembaga,

(c) Akibat

Resiko yang muncul akibat kondisi dan penyimpangan:

(i) Tujuan program BOS untuk tidak sepenuhnya tercapai.

(ii) Adanya risiko sosial yang di akibatkan penyalagunaan


bantuan sosial (dana bos).

(iii) Terjadinya kerugian negara akibat adanya korupsi/


penyalahgunaan wewenang dengan cara ada penitipan uang
pajak DAK Rp 1,635 miliar tidak disetor ke kas negara dan
digunakan untuk keperluan lain.

(iv) Bisa terjadi penyalahgunaan aset, seperti hilang atau


dikuasai pihak Iain, yang disebabkan oleh ada aset yang di
biayai dari dana bantuan tidak jelas status kepemilikan dan
pengurusannya

(d) Sebab

Hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan :

(i) Tidak memadainya kompetensi pegawai dalam penyaluran dan


dana sehingga terjadinya keterlambat penyaluran dananya;
(ii) Penyalahgunaannya wewenang sehingga dapat menyebabkan
indikasi adanya korupsi.

(e) Rekomendasi

Saran untuk memperbaiki penyimpangan yang terjadi yaitu :

(i) BPK memberi rekomendasi yaitu mengenai pengendalian


terhadap pengelolaan dan pertanggungjawaban dana BOS dan
DPL telah memadai, tetapi masih perlu mendapat perhatian
dari pemerintah khususnya terkait desain pengendalian dan
pelaksanaannya.
(ii) Perlunya pegawai memperhatikan prosedur dan petunjuk
teknis dan aturan yang berlaku dalam menggunakan dana bos
maupun dana alokasi khusus agar tujuan program yang di
rancangkan dapat tepat sasaran , tepat jumlah dan tepat
waktu.
(iii) Adanya nilai kejujurandan tanggungjawab dalam melaksanakan
tugas dan wewenang yang telah diberikan/diamanahkan.
(iv) Diperlukannya sosialisasi di sekolah- penerima dana bantuan
agar mereka memahami prosedur dan petunjuk teknisnya.
G. Kesimpulan

Dari tahapan pemeriksaan, hasil pemeriksaan sampai dengan


penyajian temuan audit atas dana bantuan sosial (dana bos ) dan dana
alokasi khusus pada Kementrian Pendidikan Nasional , maka dapat
disimpulkan bahwa tujuan audit untuk enilai kewajaran telah tercapai
dengan hasil :

1. Dana yang disalurkan Belum tepat sasaran, Tidak tepat jumlah,


dan Tidak tepat waktu sesuai petunjuk teknis dan aturan yang
berlaku
2. Pengendalian terhadap pengelolaan dan pertanggungjawaban
dana bos telah dilaksanakan secara memadai, namun masih perlu
mendapat perhatian dari pemerintah khususnya terkait desain
pengendalian dan pelaksanaannya
3. pelaksanaan pekerjaan yang dibiayai DAK di Kementrian
Pendidikan Nasional belum/tidak sesuai dengan prosedur yang
berlaku.
BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Dana-dana khusus terdiri dari Dana Alokasi Khusus (DAK), Hibah dan
Bantuan sosia. Semua dana ini di gunakan dalam kegiatan atau program
khusus pemerintahan dengan tujuan mencapai kesejahteraan masyarakat
umum, Dalam mengaudit dana penyaluran kepada masyarakat ini, proses
audit dapat dilakukan terhadap 4 hal yaitu: audit terhadap pendapatan dana,
alokasi dana,belanja dana, dan manajemen dana. Untuk mengaplikasikan dan
menganalisis sebuah kasus audit harus sesuai dengan prosedur audit mulai
dari penentuan objek audit, temuan audit, tujuan audit, jenis audit, tahapan
audit, penyajian auditdan juga kesimpulan dari kasus audit yang dianalisis.

3.2. SARAN.
1. Materi yang di sajikan/dibahas harus sesuai dengan latar belakang,
rumusan masalah dan tujuan pembelajarannya.
2. Menganalisis sebuah kasus audit, terlebih dahulu memahami prosedur
auditnya , dan memaparkan/ menyajikan secara jelas dan mudah
dipamami.

Anda mungkin juga menyukai