Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

“KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM”


Di susun untuk memenuhi Tugas Individu
Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Islam

Dosen Pengampu :
Hj. Mu’minah, M. Pd. I

Disusun oleh :
Mutiara Dwinda Kharisma (18.01.3405)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) BREBES
JL. YOS SUDARSO 36 TELP.(0283)672294 BREBES
KATA PENGANTAR

1
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur  kami panjatkan  atas kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya lah sehingga penulisan makalah Ilmu Pendididkan Islam ini  dapat terselesaikan
dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah dengan judul “KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM” ini kami susun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam yang diberikan oleh Ibu Hj. Mu’minah.
M, Pd.I Untuk itu kami menyusun makalah ini dengan harapan dapat membantu pembaca
untuk memperlancar proses pembelajaran.
Namun tentu saja dalam penyusunan makalah ini masih terdapat penulisan dan
pemilihan kata yang kurang tepat, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Brebes, 12 Oktober 2019

Mutiara Dwinda .K

2
DAFTAR ISI

I. HALAMAN JUDUL.................................................................................................... 1
II. KATA PENGANTAR................................................................................................. 2
III. DAFTAR ISI................................................................................................................ 3
IV. BAB I PENDAHULUAN............................................................................................ 4
1. Latar Belakang......................................................................................................... 4
2. Rumusan Masalah.................................................................................................... 5
3. Tujuan Pembahasan................................................................................................. 5
V. BAB II PEMBAHASAN............................................................................................ 6
1. Pengertian Kurikulum Pendidikan Islam................................................................. 6
2. Ciri-ciri Kurikulum Pendidikan Islam..................................................................... 7
3. Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam.......................................................... 8
4. Isi Kurikulum Pendidikan Islam........................................................................... 9
5. Langkah-langkah Mendesain Kurikulum Pendidikan Islam................................... 10
VI. BAB III PENUTUP................................................................................................. 12
1. Kesimpulan.............................................................................................................. 12
2. Saran..................................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................... 14

3
BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Kata “Kurikulum” mulai dikenal sebagai istilah dalam dunia pendidikan lebih
kurang sejak satu abad yang lalu. Istilah kurikulum muncul untuk pertama kalinya
dalam kamus Webster tahun 1856. Pada tahun itu kata kurikulum digunakan dalam
bidang olahraga, yakni suatu alat yang membawa orang dari star sampai ke finish.
Barulah pada tahun 1955 istilah kurikulum dipakai dalam bidang pendidikan dengan
arti sejumlah mata pelajaran disuatu perguruan.
Pengertian kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan
praktik pendidikan. Dalam pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan
sejumlah mata pelajaran yang harus disampaikan oleh guru dan dipelajari oleh siswa.
Pandangan ini menekankan pengertian kurikulum pada segi isi. Dalam pandangan
yang muncul kemudian, penekanan terletak pada pengalaman belajar. Dengan titik
tekan tersebut, kurikulum diartikan sebagai segala pengalaman yang disajikan kepada
para siswa dibawah pengawasan atau pengarahan sekolah.
Ada sejumlah ahli teori kurikulum yang berpendapat bahwa kurikulum bukan
hanya meliputi semua kegiatan yang direncanakan melainkan juga peristiwa-peristiwa
yang terjadi dibawah pengawasan sekolah, jadi selain kegiatan kurikuler yang formal
juga kegiatan kurikuler yang tidak formal. Kegiatan kurikuler yang tidak formal ini
sering disebut ko-kurikuler dan ekstra-kurikuler.
Untuk sekolah yang bersangkutan, kurikulum sekurang-kurangnya memiliki
dua fungsi:
1) Sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan; dan
2) Sebagai pedoman dalam mengatur kegiatan pendidikan sehari-hari.
Keutamaan mempelajari kurikulum bagi seseorang yang menekuni dunia
pendidikan adalah suatu kegiatan yang tidak boleh terlewatkan, karena berbicara
pendidikan berarti berbicara kurikulum yang ada didalamnya. Demikian halnya
dengan pendidikan Islam, tentunya terdapat kurikulum didalamnya. Maka, karena
keperluan yang utama tersebutlah dalam Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Islam di
Perguruan Tinggi Agama Islam, salah satu materi yang harus dikuasai dan dipahami
adalah tentang Kurikulum dalam Pendidikan Islam.

4
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, diambil rumusan
masalah yang akan menjadi pembahasan makalah ini, yaitu:
1) Apa yang dimaksud dengan kurikulum pendidikan Islam?
2) Apa saja ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam?
3) Apa saja prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam?
4) Apa isi kurikulum pendidikan Islam?
5) Bagaimana langkah-langkah dalam mendesain kurikulum pendidikan Islam?
3. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan penulisan makalah adalah:
1) Untuk mengetahui pengertian kurikulum pendidikan Islam
2) Untuk mengetahui ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam
3) Untuk mengetahui prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam
4) Untuk mengetahui isi kurikulum pendidikan Islam
5) Untuk memahami langkah-langkah dalam mendesain kurikulum pendidikan
Islam.

5
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Kurikulum Pendidikan Islam

Kurikulum secara etimologis adalah tempat berlari dengan kata yang berasal
dari bahasa latin curir yaitu pelari dan curere yang artinya tempat berlari. Selain itu,
juga berasal dari kata curriculae artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang
pelari. Maka, pada waktu itu pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan
yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah.
Dalam pandangan tradisional disebutkan bahwa kurikulum memang hanya
rencana pelajaran. Sedangkan dalam pandangan modern kurikulum lebih dari sekedar
rencana pelajaran atau bidang studi. Kurikulum dalam pandangan modern adalah
semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah. Dalam kalimat
lain disebut sebagai semua pengalaman belajar.
Adanya pandangan bahwa kurikulum hanya berisi rencana pelajaran di
sekolah disebabkan adanya pandangan tradisional yang mengatakan bahwa kurikulum
memang hanya rencana pelajaran. Pandangan tradisional ini sebenarnya tidak terlalu
salah, mereka membedakan kegiatan belajar kulikuler dan kegiatan belajar
ekstrakulikuler dan kokulikuler. Kegiatan kulikuler ialah kegiatan belajar untuk
mempelajari pelajaran wajib, sedangkan kegiatan kokulikuler dan ekstrakulikuler
disebut mereka sebagai kegiatan penyerta. Praktik kimia, fisika atau biologi,
kunjungan ke museum untuk pelajaran sejarah misalnya, dipandang mereka sebagai
kakulikuler (penyerta kegiatan belajar bidang studi). Apabila kegiatan itu tidak
berfungsi sebagai penyerta, seperti pramuka dan olahraga, maka yang ini disebut
kegiatan di luar kurikulum (kegiatan ekstrakulikuler).
Menurut pandangan modern, kurikulum lebih dari sekedar rencana pelajaran
atau bidang studi. Kurikulum dalam pandangan modern ialah semua yang secara
nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah. Pandangan ini bertolak dari sesuatu
yang actual dan nyata, yaitu yang actual terjadi disekolah dalam proses belajar. Dalam
pendidikan, kegiatan yang dilakukan siswa dapat memberikan pengalaman belajar,
seperti berkebun, olahraga, pramuka dan pergaulan serta beberapa kegiatan lainnya di
luar bidang studi yang dipelajari. Semuanya merupakan pengalaman belajar yang

6
bermanfaat. Pandangan modern berpendapat bahwa semua pengalaman belajar itulah
kurikulum.
Atas dasar ini, maka inti kurikulum adalah pengalaman belajar. Ternyata
pengalamn belajar yang banyak berpengaruh dalam pendewasaan anak, tidak hanya
mempelajari mata pelajaran interaksi sosial di lingkungan sekolah, kerja sama dalam
kelompok, interaksi dalam lingkungan fisik, dan lain-lain, juga merupakan
pengalaman belajar.
Adapun pengertian kurikulum sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 1 butir
19 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Dari pengertian kurikulum tersebut dapat dipahami bahwa kurikulum bukan
hanya bahan pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik, melainkan juga
terdapat seperangkat aturan lain dan kegiatan lain yang ikut membentuk dan
membangun kedewasaan peserta didik di sekolah. Adapun semua perangkat yang
dimaksud bertujuan satu, yaitu mencapai tujuan pendidikan. Dalam pendidikan Islam
juga memiliki kurikulum yang menjadi bahan untuk mencapai tujuan pendidikannya.
Berdasarkan pengertian yang sudah diketahui bahwa kurikulum merupakan
landasan yang digunakan pendidikan untuk membimbing peserta didiknya kearah
tujuan pendidikan yang diinginkan melalui akumulasi sejumlah pengetahuan,
keterampilan dan sikap mental. Ini berarti bahwa proses pendidikan Islam bukanlah
proses yang dilakukan secara serampangan, tetapi hendaknya mengacu pada
konseptualisasi manusia, transformasi sejumlah pengetahuan keterampilan dan sikap
mental yang harus terususun. Dari penjelasan tersebut maksud kurikulum pendidikan
Islam adalah kurikulum pendidikan yang berasaskan ajaran Islam, yang bersumber
dari Al-Qur’an, Al-Hadist, Ijma` dan lainnya.

2. Ciri-ciri Kurikulum Pendidikan Islam


Kurikulum Pendidikan Islam tidak akan terlepas dari asas Islam itu sendiri
yakni Al-Qur`an dan Al-Hadist, maka ciri utama yang bisa diketahui adalah
mencantumkan Al-Qur`an dan Al-Hadist sebagai sumber utama. Adapun ciri-ciri
khusus kurikulum pendidikan Islam, yaitu:

7
1) Semua sumber berasal dari ajaran Islam.
2) Kurikulum yang disajikan merupakan hasil pengujian materi dengan landasan Al-
Qur`an dan Al-Hadits
3) Pembinaan akhlak peserta didik
4) Tidak ada kadaluarsa kurikulum karena ciri khas kurikulum Islam senantiasa
relevan dengan perkembangan zaman.
Beberapa ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam yang telah disebutkan diatas,
dapat dipahami bahwa kurikulum pendidikan Islam menekankan aspek spiritual tinggi
dan akhlak yang mulia.

3. Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam


Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam, yaitu:
1) Prinsip yang berorientasi pada tujuan. Menerapkan kurikulum atas dasar lebih
mengutamakan pada sebuah hasil yang dicapai.
2) Prinsip relevansi. Dapat disebut juga prinsip kesesuaian, yang artinya bahwa
setiap kurikulum harus memiliki keserasian antara komponen-komponennya.
3) Prinsip efisiensi dan efektifitas. Prinsip efisiensi artinya dapat mendayagunakan
waktu, tenaga dan biaya sebaik mungkin. Dan prinsip efektifitas berarti kurikulum
selalu berorientasi pada tujuan tertentu yang ingin dicapai.
4) Prinsip fleksibilitas adalah kurikulum yang mampu menyesuaikan waktu, situasi
dan kondisi.
5) Prinsip integritas. Kurikulum harus dilakukan dengan memadukan semua
komponen yang ada.
6) Prinsip sinkronisme. Mampu menyatukan beberapa kegiatan kurikulum menjadi
seirama, searah dan setujuan, serta tidak sampai menghambat, berlawanan, atau
mematikan kegiatan lain.
7) Prinsip objektivitas. Kurikulum tersebut dilakukan melalui tuntutan kebenaran
ilmiah yang objektif.
8) Prinsip demokrasi. Pengembangan kurikulum lebih mementingkan kemaslahatan
bersama.

8
4. Isi Kurikulum Pendidikan Islam
Sebagaimana yang dikutip oleh Al-Abrasyi (1969: 285-287), Ibnu Khaldun
membagi isi kurikulum pendidikan Islam dengan dua tingkatan, yaitu sebagai berikut:
1) Tingkat Pemula (manhaj ibtida’i)
Materi kurikulum pemula difokuskan pada pembelajaran Al-Qur’an dan
As-Sunnah. Ibnu Khaldun memandang bahwa Al-Qur’an merupakan asal agama,
sumber berbagai ilmu pengetahuan, dan asas pelaksanaan pendidikan Islam.
Disamping itu, mengingat isi Al-Qur’an mencakup materi penanaman akidah dan
keimanan pada jiwa peserta didik, serta memuat akhlak mulia, dan pembinaan
pribadi menuju perilaku yang positif.
2) Tingkat atas (manhaj ‘ali)  
Kurikulum ini mempunyai dua kualifikasi; pertama, ilmu-ilmu yang
berkaitan dengan dzatnya sendiri, seperti ilmu syariah yang mencakup fiqih, tafsir,
hadis, ilmu kalam, ilmu bumi, dan ilmu filsafat. Kedua, ilmu-ilmu yang
ditunjukan untuk ilmu-ilmu lain, dan bukan ilmu yang berkaitan dengan dzatnya
sendiri. Misalnya ilmu bahasa (linguistik), ilmu matematika, dan
ilmu mantiq (logika).
Ibnu Khaldun kemudian membagi ilmu dengan tiga kategori, yaitu sebagai
berikut:
1) Ilmu-ilmu naqliyah, yaitu ilmu yang diambil dari Al-qur’an dan ilmu-ilmu agama
lain. Seperti ilmu fiqih untuk mengetahui kewajiban-kewajiban beribadah; ilmu
tafsir untuk mengetahui maksud-maksud Al-Qur’an; ilmu usul fiqhi untuk meng-
istibath-kan hukum berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta ilmu-ilmu
lainnya.;
2) Ilmu-ilmu aqliyah, yaitu ilmu yang diambil dari daya pikiran manusia, seperti
ilmu mantiq (logika), ilmu kalam, ilmu fisika dan ilmu matematika.
3) Ilmu-ilmu lisan (linguistik), seperti ilmu nahwu, ilmu bayan, ilmu adab (sastra).
Al-Ghazali membagi isi kurikulum pendidikan Islam dengan empat kelompok
dengan mempertimbangkan jenis, dan kebutuhan ilmu itu sendiri, yaitu:
1) Ilmu-ilmu Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama, misalnya ilmu fiqih, As-Sunnah, tafsir
dan sebagainya
2) Ilmu-ilmu bahasa sebagai alat untuk mempelajari ilmu Al-qur’an dan ilmu agama
3) Ilmu-ilmu yang  fardhu kifayah, seperti ilmu kedokteran, matematika, industri,
pertanian, teknologi dan sebagainya

9
4) Ilmu-ilmu beberapa cabang ilmu filsafat.
Klasifikasi isi kurikulum tersebut berpijak pada klasifikasi ilmu pengetahuan
dengan dua kelompok, yaitu sebagai berikut.
1) Ilmu pengetahuan menurut kuantitas yang mempelajari, terbagi:
a. Ilmu fardhu’ain,  yaitu ilmu yang harus diketahui oleh setiap muslim yang
bersumber dari Kitab Allah.
b. Ilmu fardhu kifayah, yaitu ilmu yang cukup dipelajari oleh sebagai orang
muslim, seperti ilmu yang berkaitan dengan masalah duniawi, misalnya ilmu
hitung, kedokteran, teknik pertanian, industry, dan sebagainya.
2) Ilmu pengetahuan menurut fungsinya, terbagi:
a. Ilmu tercela (madzmumah), yaitu ilmu yang tidak berguna untuk masalah
dunia dan masalah akherat serta mendatangkan kerusakan, misalnya ilmu
sihir, nujum, dan perdukunan.
b. Ilmu terpuji (mahmudah), yaitu ilmu-ilmu agama yang dapat menyucikan jiwa
dan menghindarkan hal-hal yang buruk, serta ilmu yang dapat mendekatkan
diri manusia kepada Allah swt.
c. Ilmu terpuji dalam batas-batas tertentu, dan tidak boleh dipelajari secara
mendalam, karena akan mendatangkan atheis (ilhad) seperti ilmu filsafat.

5. Langkah-langkah Mendesain Kurikulum Pendidikan Islam


Dalam kurikulum terdapat komponen-komponen yang tidak boleh diabaikan
keberadaannya, komponen-komponen yang dimaksud adalah:
1) Tujuan;
2) Isi atau program;
3) Metode atau proses pembelajaran; dan
4) Evaluasi.
Adapun dalam mendesain kurikulum pendidikan Islam berdasarkan
komponen-komponen kurikulum diatas, yaitu harus dimulai dari penyusunan atau
perumusan tujuan menurut Islam. Dan tujuan pendidikan Islam tidak lain sebagai
berikut:
1) Jasmaninya sehat dan kuat
2) Akalnya cerdas dan pandai
3) Hatinya dipenuhi iman kepada Allah.

10
Untuk mewujudkan muslim seperti itu, pendesainan kurikulum dapat
dilakukan dengan kerangka sebagai berikut:
1) Untuk jasmani yang sehat dan kuat disediakan mata pelajaran dan kegiatan
olahraga dan kesehatan.
2) Untuk otak yang cerdas dan pandai disediakan mata pelajaran dan kegiatan yang
dapat mencerdaskan otak dan menambah pengetahuan seperti logika dan berbagai
sains.
3) Untuk hati yang penuh iman disediakan mata pelajaran dan kegiatan agama.
Sementara itu, mata pelajaran dapat didesain sesuai dengan:
1) Perkembangan kemampuan siswa yang bersangkutan;
2) Kebutuhan individu dan masyarakatnya menurut tempat dan waktu.
Jika kita menerapkan teori itu dalam mendesain kurikulum, maka langkah-
langkahnya sebagai berikut:
1) Kita hendak melaksanakan suatu pendidikan, sekolah, anak dirumah, atau kursus
computer. Langkah pertama: rumuskanlah tujuannya sejelas mungkin. Tujuan
yang biasanya masih umum itu perlu dijabarkan atau di-break-down  menjadi
tujuan yang kecil-kecil. Akhirnya kita memperoleh rumusan tujuan yang banyak,
mungkin ratusan item.
2) Bila tujuan sudah dirumuskan sampai kepada rumusan operasional (yang kecil-
kecil itu), maka langkah kedua ialah menentukan isi kurikulum isinya ialah materi
pengetahuan atau mata pelajaran dan berbagai kegiatan (kokurikuler dan ekstra
kulikuler). Dari sini kita dapat mebuat daftar mata pelajaran dan kegiatan
serta syllabus-nya masing-masing.
3) Langkah selanjutnya ialah menentukan cara mencapai tujuan itu. Disini banyak
sekali teori yang harus dipertimbangkan, sebab metode belajar-mengajar itu
merupakan racikan teori-teori dari disiplin psikologi, metodologi, pengajaran,
teknik evaluasi, didaktik pada umumnya, pengetahuan tentang alat-alat
pengajaran, pertimbangan, tentang waktu, tempat, suasana dan lain-lain. Dalam
bentuknya yang operasional, proses belajar-mengajar itu ditulis dalam persiapan
mengajar atau lesson plan. Agar dapat membuat lesson plan  dengan benar,
hendaklah dikuasai lebih dahulu teori-teorinya dalam disiplin metodik khusus.
4) Langkah terakhir ialah menentukkan teknik dan alat evaluasi. Langkah ini tidak
bersangkutan langsung dengan isi dan proses belajar mengajar.  

11
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Berdasarkan pengertian yang sudah diketahui bahwa kurikulum merupakan
landasan yang digunakan pendidikan untuk membimbing peserta didiknya kearah tujuan
pendidikan yang diinginkan melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan
sikap mental. Ini berarti bahwa proses pendidikan Islam bukanlah proses yang dilakukan
secara serampangan, tetapi hendaknya mengacu pada konseptualisasi manusia,
transformasi sejumlah pengetahuan keterampilan dan sikap mental yang harus terususun.
Dari penjelasan tersebut maksud kurikulum pendidikan Islam adalah kurikulum
pendidikan yang berasaskan ajaran Islam, yang bersumber dari Al-Qur’an, Al-Hadits,
Ijma` dan lainnya.
Ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam, yaitu:
1) Kurikulum pendidikan Islam harus menonjolkan mata pelajaran agama dan akhlak.
2) Kurikulum pendidikan Islam memperhatikan keseimbangan antara pribadi dan
masyarakat, dunia dan akhirat, jasmani, akal dan rohani manusia.
3) Kurikulum pendidikan Islam memperhatikan juga seni halus dan pendidikan jasmani.
4) Kurikulum pendidikan Islam mempertimbangkan perbedaan kebudayaan yang sering
terdapat di tengah manusia karena perbedaan tempat dan juga perbedaan zaman.
Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam, yaitu:
1) Prinsip yang berorientasi pada tujuan.
2) Prinsip relevansi.
3) Prinsip efisiensi dan efektifitas.
4) Prinsip fleksibilitas program.
5) Prinsip integritas.
6) Prinsip sinkronisme.
7) Prinsip objektivitas.
8) Prinsip demokrasi.
Al-Ghazali membagi isi kurikulum pendidikan Islam dengan empat kelompok
dengan mempertimbangkan jenis, dan kebutuhan ilmu itu sendiri, yaitu:
1) Ilmu-ilmu Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama, misalnya ilmu fiqih, As-Sunnah, tafsir
dan sebagainya

12
2) Ilmu-ilmu bahasa sebagai alat untuk mempelajari ilmu Al-qur’an dan ilmu agama
3) Ilmu-ilmu yang fardhu kifayah, seperti ilmu kedokteran, matematika, industri,
pertanian, teknologi dan sebagainya
4) Ilmu-ilmu beberapa cabang ilmu filsafat.
Dalam pendidikan kurikulum dapat didesain sesuai dengan keperluannya, maka
langkah-langkah dalam mendesain kurikulum pendidikan Islam, yaitu:
1) Rumuskanlah tujuannya sejelas mungkin.
2) Menentukkan isi kurikulum pendidikan Islam.
3) Menentukkan cara mencapai tujuan.
4) Menentukkan teknik dan alat evaluasi.
2. Saran
Alhamdulillah kami telah dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan
lancar. Namun kami sadari masih banyak kekurangan pada penulisan dan penyusunan
makalah ini, baik itu dari segi penulisan sistematika penyusunan yang merupakan hal
yang wajar karena kami masih dalam tahap belajar.
Kami tidak menutup diri untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca
terutama Dosen pengampu Ibu Hj. Mu’minah, M.Pd.I dari mata kuliah Ilmu Pendidikan
Islam, kami pun mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu.

13
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012

Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Amzah, 2010

Nasution, Kurikulum dan Pengajaran, Jakarta: Logos, 1999

http://harunnilah.blogspot.com/2014/makalah-kurikulumpendidikan-islam.html

14