Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN PRAKTIKUM

METODE FISIKOKIMIA
IDENTIFIKASI SENYAWA KUARSETIN PADA SIMPLISIA DAUN
SIRSAK (ANNONA MURICATA L.) DENGAN MENGGUNAKAN METODE
HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAFY
(HPLC)

Tanggal praktikum : 19 November 2019


Tanggal Penyerahan : 3 Desember 2019
Penyusun : Andrea Palleva Widjaya
Kelompok dan Npm : 2 C / 066117118
Dosen Pembimbing : Zaldy Rusli.M,Farm
Angkatan : 2017

LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang sudah
memberikan karuniaNya pada kelompok kami dalam melaksanakan tugas praktikum kimia ini.
Sehingga akhirnya tersusunlah materi laporan praktikum yang sistematis. Hal ini kami lakukan
untuk memenuhi tugas praktikum Metode fisikokimia. Walaupun waktunya cukup singkat, tapi
kegiatan ini menghasilkan sesuatu yang berharga dalam mengaplikasikan ilmu kimia dari
perkuliahan yang sedang kami jalani melalui praktik dalam dunia kerja yang nyata. Dengan
selesainya laporan praktikum ini secara resmi ini, maka tidak lupa kami ucapkan terima kasih
kepada semua orang yang sudah membantu kelompok kami. dan terima kasih juga untuk para
pihak yang sudah terlibat langsung. khususnya kami ucapkan kepada :
1. Bpk. Zaldy Rusli.M,Farm selaku dosen mata kuliah Metfiskim

2. Kepada seluruh petugas laboratorium yang sudah membantu berjalan dengan baik nya
praktikum ini.

3. Orang Tua kami atas doa dan dukungannya sehingga tugas praktikum ini berjalan lancar.

4. . Seluruh anggota kelompok yang sudah saling bahu membahu demi terlaksananya tugas
praktikum yang kami kerjakan ini.

Kami mohonkan saran dan kritiknya apabila terdapat banyak kekurangan pada hasil laporan
praktikum Metfiskim yang sudah kami buat. Semoga laporan ini memberi banyak kegunaan pada
semua pihak termasuk kelompok kami. Terima kasih.

Bogor, 16 November 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR GAMBAR iii
DAFTAR TABEL iv
DAFTAR LAMPIRAN v
Bab 1 Pendahuluan 1
1.1 Latar belakang 1
1.2 Tujuan percobaan 2
Bab 2 Tinjauan Pustaka 3
2.1 Deskripsi Tanaman 3
2.2 Klarifikasi Taksonomi 4
2.3 Kandungan Kimia 4
2.4 Manfaat 5
2.5 Deskripsi HPLC 5
2.6 Komponen HPLC6
2.7 Keuntungan HPLC 7
Bab 3 Metode Kerja 9
3.1 Alat dan bahan 9
3.1.1 Alat 9
3.1.2 Bahan 9
3.2 Cara kerja 10
3.2.1 Pengolahan sampel 10
3.2.2 Pengekstraksian sampel 10
3.2.3 Pembuatan sampel10
3.2.4 Pembuatan deret standar 10
3.2.5 Pembuatan eluen 11
Bab IV Hasil dan Pembahasan 12
4.1 Data pengamatan 12
4.2 Kromatogram 13
4.2.1 Kromatogram Standar 1 13
4.2.2 Kromatogram Standar 2 13
4.2.3 Kromatogram Standar 3 14

ii
4.2.4 Kromatogram Standar 4 14
4.2.5 Kromatogram Standar 5 15
4.2.6 Kromatogram Standar 6 16
4.2.7 Kromatogram Sampel 1 16
4.2.8 Kromatogram Sampel 2 17
4.2.9 Kromatogram Sampel 3 18
4.2.10 Kromatogram Sampel 4 18
4.2.11 Kromatogram Sampel 5 19
4.2.11 Kromatogram Sampel 6 20
4.3. Penentuan Linieritas 20
4.4 Pembahasan 21
Bab V Kesimpulan 24
DAFTAR PUSTAKA 25

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Daun dan buah sirsak 3


Gambar 2.2 Struktur kuarsetin 5
Gambar 2.3 Komponen HPLC 6
Gambar 4.1 Kromatogram std 1 13
Gambar 4.2 Kromatogram std 2 13
Gambar 4.3 Kromatogram std 3 14
Gambar 4.4 Kromatogram std 4 14
Gambar 4.5 Kromatogram std 5 15
Gambar 4.6 Kromatogram std 6 16
Gambar 4.7 Kromatogram sampel 1 16
Gambar 4.8 Kromatogram sampel 2 17
Gambar 4.9 Kromatogram sampel 3 18
Gambar 4.10 Kromatogram sampel 4 18
Gambar 4.11 Kromatogram sampel 5 19
Gambar 4.12 Kromatogram sampel 6 20
Gambar 4.13 Kurva Baku kuarsetin 21

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 4.0 Data pengamatan 12


Tabel 4.1 Kromatogram std 1 13
Tabel 4.2 Kromatogram std 2 14
Tabel 4.3 Kromatogram std 3 14
Tabel 4.4 Kromatogram std 4 15
Tabel 4.5 Kromatogram std 5 15
Tabel 4.6 Kromatogram std 6 16
Tabel 4.7 Kromatogram sampel 1 17
Tabel 4.8 Kromatogram sampel 2 17
Tabel 4.9 Kromatogram sampel 3 18
Tabel 4.10 Kromatogram sampel 4 19
Tabel 4.11 Kromatogram sampel 5 19
Tabel 4.12 Kromatogram sampel 6 20
Tabel 4.13 Data Linieritas Baku kuarsetin 20

v
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Perhitungan Deret Standar 26


Lampiran 2 Perhitungan Sampel 27
Lampiran 3 Alat yang di gunakan 29

vi
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Kromatografi merupakan suatu cara pemisahan unsur-unsur yang akan dipisahkan
terdistribusikan antara dua fasa, satu dari fasa-fasa ini membentuk suatu lapisan stasioner
dengan luas permukaan yang besar dan yang lainnya merupakan cairan yang merembes
lewat atau melalui fase yang stasioner. Fasa stasioner mugkin suatu zat padat atau suatu
cairan, dan fasa yang bergerak mungkin suatu cairan atau suatu gas. Maka semua jenis
kromatografi yang dikenal, terbagi menjadi empat golongan: cair-padat, gas-padat, cair-cair,
dan gas-cair.

KCKT sangat cocok untuk memisahkan minyak atsiri dan kadang-kadang menunjukkan
keuntungan yang berarti kesetimbangan metode kolom terbuka (kapiler) dan KG yang
sekarang dipakai, pendadahan keudara minimum, hasil urai karena suhu tinggi dicegah,
senyawa yang tidak atsiri dapat dipisahkan, dan laju perolehan kembali cuplikan tinggi.
Akan tetapi, minyak atsiri sering terdiri atas campuran yang sangat rumit menjadi golongan-
golongan senyawa atau memisahkan golongan senyawa menjadi komponennya.

Prinsip dasar HPLC adalah fase gerak air dialirkan dengan pompa melalui kolom ke
detektor. Cuplikan dimasukkanke dari gum aliran fase gerak dengan cara penyuntikan.
Didalam kolom terjadi pemisahan komponen-komponen cairan karena perbedaan kekuatan
interaksi antara salut-salut terhadap fase diam akan keluar dari kolom lebih dahulu dan
sebaliknya. Setiap komponen campuran yang keluar dari kolom dideteksi oleh detektor
kemudian direkam dalam bentuk kromatogram. Senyawa yang keluar dari dari kolom atas
dasar kepolaran yang berbeda akan mempengaruhi kekuatan.

KCKT termasuk metode analisis terbaru yaitu suatu teknik kromatografi dengan fasa
gerak cairan dan fasa diam cairan atau padat. Banyak kelebihan metode ini jika
dibandingkan dengan metode lainnya yaitu mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu
campuran, mudah melaksanakannya, kecepatan analisis dan kepekaan yang tinggi, dapat
dihindari terjadinya dekomposisi / kerusakan bahan yang dianalisis. Analisis kualitatif

1
bertujuan untuk mengetahui keberadaan suatu unsur atau senyawa kimia, baik organik
maupun inorganik, sedangkan analisis kuantitatif bertujuan untuk mengetahui jumlah suatu
unsur atau senyawa dalam suatu cuplikan. Analisis kualitatif bertujuan untuk mengetahui
keberadaan suatu unsur atau senyawa kimia, baik organik maupun inorganik, sedangkan
analisis kuantitatif bertujuan untuk mengetahui jumlah suatu unsur atau senyawa dalam
suatu cuplikan.

1.2Tujuan Percobaan
 Agar mahasiswa dapat mengetahui cara kerja alat HPLC
 Agar mahasiswa dapat mengetahui Prinsip kerja alat HPLC
 Agar mahasiswa dapat mengidentifikasi senyawa kuarsetin yang terdapat di dalam
sampel

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Tanaman

Sirsak (Annona muricata L.) merupakan tanaman tropis dan dikenal sebagai tanaman
buah. Namun seiring berjalannya waktu banyak penilitan terhadap tanaman ini yang kini
populer sebagai tanaman obat berbagai penyakit. Adapun bagian tanaman sirsak yang
digunakan sebagai obat 12 yaitu mulai dari daun, bunga, buah, biji, akar, kulit batang dan
akarnya dapat dimanfaatkan sebagai obat. Tanaman ini berasal dari Karibia, Amerika Tengah
dan Amerika Selatan.Tanaman ini ditanam secara komersial untuk diambil daging buahnya.
Tumbuhan ini dapat tumbuh disembarang tempat, paling banyak ditanam di daerah yang
cukup berair. Di Indonesia sirsak dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 1000 m dia atas
permukaan laut. Nama sirsak sendiei berasal dari bahasa Belanda Zuurzak yang berarti
kantung yang asam.Pohon sirsak bisa mencapai tinggi m9 meter. Daun sirsak berbentuk bulat
telur agak tebal dan permukaan pada bagian atas yang halus berwarna hijau tua sedangkan
pada bagian bawahnya mempunyai warna yang lebih muda.

Gambar 2.1 Daun dan buah sirsak

3
Akar buah sirsak berupa akar tunggang.mempunyai batang berkayu dan dapat hidup
menahun.bunga tunggal dalam berkas 1-2 berhadapan / disamping daun mahkota daun
mahkota segitiga Berbentuk majemuk agregat bertekstur empuk daging buahnya berwarna
putih berbiji banyak dan mempunyai duri yang pendek mempunyai cita rasa yang manis.biji
dalam satu buah agregat berjumlah banyak berwarna hitam mengkilat.
Buah sirsak yang normal dan sudah cukup tua / matang mempunyai berat ± 500 gr, warna
kulit agak terang, hijau agak kekuningan dan mengkilap. Bentuk buah bagian ujung agak
membulat dengan diameter ± 5 cm, diameter bagian tengah ± 7 cm, serta panjang buah ± 17
cm. Kerapatan duri maksimal 2- 3 buah per 4 cm (diukur pada bagian buah yang durinya
paling jarang), kekerasan daging buah empuk merata, rasa manis atau manis asam segar dan
beraroma khas (Uneputty dkk., 2013).

2.2 Klasifkasi taksonomi

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisio : Angiospermae

Ordo : Dicotyldonae

Kelas : Ranunculales

Familia : Annonaceae

Genus : Annona Species : Annona muricata Linn. (BPOM, 2009; Sunarjono, 2005)

2.3 Kandungan Kimia

Daun sirsak (Annona muricata L.) adalah tanaman yang mengandung senyawa
flavonoid(Terutama Quarsetin), tanin, fitosterol, kalsium oksalat, dan alkaloid. Hasil riset
menyatakan, sirsak mengandung acetogenin yang mampu melawan berbagai jenis sel kanker

4
(Adjie, 2011). Selain senyawa tersebut juga terdapat senyawa lain seperti triterpenoid dan
polifenol (Retnani, 2011).

Gambar 2.2 Struktur Kuarsetin

2.4 Manfaat
Daun sirsak (Anonna muricata L.) memiliki efek yang bermanfaat dalam meningkatkan
aktifitas enzim antioksidan dan hormon insulin pada jaringan pankreas, serta melindungi dan
menjaga sel-sel pancreas. Selain itu, daun sirsak juga bisa digunakan untuk pengobatan demam,
diare, anti kejang, anti jamur, anti parasit, flu, asam urat, gatal-gatal, kolesterol dan lain-lain.
Daun sirsak diketahui mengandung zat annonaceous acetogenins yang mampu 10.000 kali lebih
kuat membunuh sel-sel kanker daripada zat Adriamycin yang biasa dipakai dalam pengobatan
kemoterapi. Zat acetogenins dapat membunuh berbagai jenis kanker, seperti kanker usus,tiroid,
prostat, paru-paru, payudara, pancreas, dan lain-lain bahkan penyakit ambeien tanpa merusak
atau mengganggu sel-sel tubuh yang sehat (Mardiana, 2011; Wullur dkk., 2012).

2.5 Deskripsi HPLC (high performance liquid Chromatografy)


HPLC (High Performance Liquid Chromatography) merupakan tipe kromatografi elusi
yang paling serbaguna dan digunakan secara luas. Teknih ini digunakan oleh para kimiawan
untuk memisahkan dan menentukan spesi-spesi dalam berbagai bahan atau senyawa seperti
senyawa organik, anorganik, maupun material biologis. Pada kromatografi cair, fasa gerak
merupakan pelarut cair berisi sampel yang berupa campuran dari bahan-bahan terlarut. Jenis-
jenis kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) biasanya dikelompokkan oleh mekanisme
pemisahannya ataupun jenis
fasa diamnya. Pengelompokkan tersebut diantaranya:
a) Partisi atau Kromatografi Cair-Cair
b) Adsorpsi atau kromatografi Padat-Cair
c) Penukar Ion atau Kromatografi Ion

5
d) Size-Exclusion Chromatography (Kromatografi Eksklusi Ukuran)
e) Kromatografi Afinitas
f) Kromatografi Kiral

Ada dua cara pengelusian dalam kromatografi cair kinerja tinggi, yaitu elusi isokratis dan
elusi gradien. Elusi yang menggunakan pelarut tunggal dengan komposisi tetap atau campuran
beberapa pelarut ynag komposisinya dibuat tetap disebut elusi isokratik. Sedangkan pada elusi
gradien, digunakan dua (atau kadang lebih) pelarut dalam suatu sistem yang memiliki perbedaan
kepolaran yang besar / signifikan. Perbandingan dari kedua atau lebih pelarut ini divariasikan
melalui cara yang telah ditentukan dengan program saat pemisahan berlangsung. Pengubahan
perbandingan ini kadang dilakukan secara terus-menerus dan kadang secara bertahap. Elusi
gradien seringkali meningkatkan efisiensi pemisahan, seperti halnya pemrograman suhu pada
GC. Instrumen HPLC modern biasanya dilengkapi dengan katup yan berpotongan sehingga
dapat memasukkan cairan dari dua atau lebih reservoir dengan perbandingan yang dapat
divariasikan secara terus menerus. (Skoog, 2004: 973-977)

2.6 Komponen HPLC


Komponen-komponen alat dalam HPLC diantaranya ialah:
• Reservoir (wadah pelarut / cairan)
• Pompa
• Sistem injeksi sampel
• Kolom, terdiri dari
1. Kolom Analitik / Kolom Utama
2. Kolom Guard
3. Termostat
• Detektor
• Komputer (Pengolah data)

6
Gambar 2.3 Komponen HPLC
Reservoir merupakan wadah yang menampung cairan-cairan yang akan digunakan dalam
pemisahan. Cairan-cairan tersebut berupa pelarut. Masing-masing reservoir dihubungkan kepada
katup berpotongan, dimana katup ini berfungsi untuk mengatur cairan-cairan yang masuk /
dipompa kedalam kolom.
Pelarut dimasukkan ke kolom melalui pipa atau selang menggunakan pompa. Pelarut
dipompa dari reservoir sehingga dapat membawa sampel menuju kolom. Pompa yang digunkan
dalam HPLC hatus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1) Harus memiliki aliran terkontrol yang ‘reproducible’
2) Harus menghasilkan aliran yang ‘pulse-free’ (bebas pulsa, tidak menghasilkan
gelembung)
3) Hold-up volume (volume tampungan) kecil
(R.P. Budhiraja, 2004: 172)

2.7 Keuntungan HPLC


KCKT dapat dipandang sebagai pelengkap Kromatografi Gas (KG). Dalam banyak hal kedua
teknik ini dapat digunakan untuk memperoleh efek pemisahan yang sama membaiknya. Bila
derivatisasi diperlukan pada KG, namun pada KCKT zat-zat yang tidak diderivatisasi dapat
dianalisis. Untuk zat-zat yang labil pada pemanasan atau tidak menguap, KCKT adalah pilihan
utama. Namun demikian bukan berarti KCKT menggantikan KG, tetapi akan memainkan
peranan yang lebih besar bagi para analis laboratorium. Derivatisasi juga menjadi populer pada
KCKT karena teknik ini dapat digunakan untuk menambah sensitivitas detektor UV Visibel yang
umumnya digunakan.
KCKT menawarkan beberapa keuntungan dibanding dengan kromatografi cair klasik, antara
lain:
Cepat: Waktu analisis umumnya kurang dari1 jam. Banyak analisis yang dapat diselesaikan
sekitar 15-30 menit. Untuk analisis yang tidak rumit (uncomplicated), waktu analisis kurang dari
5 menit bisa dicapai
Resolusi : Berbeda dengan KG, Kromatografi Cair mempunyai dua rasa dimana interaksi
selektif dapat terjadi. Pada KG, gas yang mengalir sedikit berinteraksi dengan zat padat;
pemisahan terutama dicapai hanya dengan rasa diam.

7
Kemampuan zat padat berinteraksi secara selektif dengan fasa diam dan fasa gerak pada KCKT
memberikan parameter tambahan untuk mencapai pemisahan yang diinginkan

Sensitivitas detektor: Detektor absorbsi UV yang biasa digunakan dalam KCKT dapat
mendeteksi kadar dalam jumlah nanogram (10-9 gram) dari bermacam- macam zat. Detektor-
detektor Fluoresensi dan Elektrokimia dapat mendeteksi jumlah sampai picogram(10-12 gram).
Detektor-detektor seperti Spektrofotometer Massa, Indeks Refraksi, Radiometri, dll dapat juga
digunakan dalam KCKT
Kolom yang dapat digunakan kembali: Berbeda dengan kolom kromatografi klasik, kolom
KCKT dapat digunakan kembali (reusable) . Banyak analisis yang bisa dilakukan dengan kolom
yang sma sebelum darijenis sampel yang diinjeksi, kebersihan dari solven dan jenis solven yang
digunakan Ideal untuk zat bermolekul besar dan berionik :zat – zat yang tidak bisa dianalisis
dengan KG karena volatilitas rendah , biasanya diderivatisasi untuk menganalisi spsesies ionik.
KCKT dengan tipe eksklusi dan penukar ion ideal sekali untuk mengalissis zat –zat tersebut.
Mudah rekoveri sampel: Umumnya setektor yang digunakan dalam KCKT tidak menyebabkan
destruktif(kerusakan) pada komponen sampel yang diperiksa, oleh karena itu komponen sampel
tersebut dapat dengan mudah dikumpulkan setelah melewati detector.Solvennya dapat
dihilangkan dengan menguapkan ksecuali untuk kromatografi penukarion memerlukan prosedur
khusus. (Effendy De Lux Putra, 2004: 8)

8
BAB III
METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
a) Alat degassing
b) Alat sonikasi
c) Alumunium foil
d) Corong
e) Dispossible syringe
f) Beaker glass 1000ml; 250ml
g) Erelemeyer bertutup
h) Kapas
i) Kertas saring
j) Labu ukur 100 ml ; 50 ml ; 10 ml
k) Mikropipet
l) Milipore
m) Pipet ukur
n) Syring filter

3.1.2 Bahan

a) Asam Orthofosfat
b) Ekstrak daun sirsak

9
c) Kuersetin
d) Methanol

3.2 Cara kerja

3.2.1 Pengolahan Sampel

Sampel daun sirsak (Annona Muricata L) yang telah di petik dari pohon nya. Di
masukan ke dalam wadah plastic lalu di bersihkan terlebih dahulu dari debu atau kotoran
dengan menggunakan air yang mengalir. Lalu daun di masukan kedalam oven untuk di
keringkan. Setelah daun kering, daun di blend hingga menjadi serbuk dan sampel siap
untuk di gunakan.

3.2.2 Pengekstraksian Sampel

Sampel Daun sirsak yang sudah siap di gunakan , di timbang seberat 25 gram lalu
di ekstraksi dengan menggunakan metode maserasi mengguanakan pelarut 96% pada suhu
ruang selama 3 x 24 jam. Lalu di masukan ke dalam wadah tertutup rapat dan hindarkan
dengan terpapar matahari langsung.

3.2.3 Pembuatan Sampel

1. Diambil hasil filtrate daun sirsak sebanyak 15 ml dan dilarutkan menggunakan


methanol ad 100 ml
2. Kemudian di spE, jika sampel kurang bagus.
3. Kemudian di saring oleh syringe filter lalu didegas (untuk menghilangkan gasnya)

10
3.2.4 Pembuatan Deret Standar

1. Ditimbang quersetin sebanyak 50 mg (dalam kaca arloji) dan dilarutkan sedikit demi
sedikit menggunakan methanol didalam beaker glass kemudian dimasukkan kedalam
labu ukur ad 100 ml ( 500 ppm )
2. Kemudian diencerkan menjadi 100 ppm dengan mengambil 10ml larutan 500ppm dan
di ad dengan metanol hingga 50ml
3. Disaring menggunakan syring filter
4. Dibuat pengenceran dengan deret 15,20,25,30,35,40 [ V1.N1 = V2.N2 ] dan disaring
menggunakan syring filter.
5. Kemudian masing-masing larutan didegas.

3.2.5 Pembuatan Eluen (methanol : asam orthofosfat / 75 : 25)

a. Eluen Methanol
Disaring methanol sebanyak 250 ml menggunakan syring filter dan masukkan ke
dalam Erlenmeyer kemudian di Degas (dihilangkan gelembung gas) dan diletakan di
reservoir.
b. Eluen Asam Orthophospat
Disaring asam orthofosfat 0,1% sebanyak 250 ml menggunakan syring filter dan
masukkan ke dalam Erlenmeyer kemudian di Degas (dihilangkan gelembung gas) dan
diletakan di reservoir.

11

BAB IV
Keterangan Tr [Min] Luas Area Konsentrasi

Standar 1 0,958 10521 15 ppm


Standar 2 0,958 30112 20 ppm

Standar 3 0,950 14729 25 ppm

Standar 4 0,958 9892 30 ppm

Standar 5 0,950 23487 35 ppm


Standar 6 0,958 18504 40 ppm

Sampel 1 0,958 17581 30 ppm

Sampel 2 0,950 9683 30 ppm

Sampel 3 3,158 18994 30 ppm

Sampel 4 3,142 19744 20 ppm

Sampel 5 3,108 10542 30 ppm

Sampel 6 3,208 11518 30 ppm

Kadar Sampel

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data pengamatan

12
Tabel 4.0 Data Pengamatan

4.2 Kromatogram

4.2.1 Kromatogram Standar 1

13
Gambar 4.1 Kromatogram Std 1

Tabel 4.1 Standar 1

4.2.2 Kromatogram Standar 2

Gambar 4.2 Kromatogram Std 2

Tabel 4.2 Standar 2

4.2.3 Kromatogram Standar 3

14
Gambar 4.3 Kromatogram Std 3

Tabel 4.3 Standar 3

4.2.4 Kromatogram Standar 4

Gambar 4.4 Kromatogram Std 4

Tabel 4.4 Standar 4

4.2.5 Kromatogram Standar 5

15
Gambar 4.5 Kromatogram Std 5

Tabel 4.5 Standar 5

4.2.6 Kromatogram Standar 6

16
Gambar 4.6 Kromatogram Std 6

Tabel 4..6 Standa 6

4.2.7 Kromatogram Sampel 1

Gambar 4.7 Kromatogram Sampel 1


Tabel 4.7 Sampel 1

4.2.8 Kromatogram Sampel 2

17
Gambar 4.8 Kromatogram Sampel 2

Tabel 4.8 Sampel 2

4.2.9 Kromatogram Sampel 3

18
Gambar 4.9 Kromatogram Sampel 3

Tabel 4.9 Sampel 3

4.2.10 Kromatogram Sampel 4

Gambar 4.10 Kromatogram Sampel 4

Tabel 4.10 Sampel 4

4.2.11 Kromatogram Sampel 5

19
Gambar 4.11 Kromatogram Sampel 5

Tabel 4.11 Sampel

4.2.12 Kromatogram Sampel 6

20
Gambar 4.11 Kromatogram Sampel 6

Tabel 4.11 Sampel 6

4.3 Penentuan Linieritas


Konsentrasi Luas area Konsentrasi Luas
15 10521 area
20 30112 20 30112
25 14729 (A)
25 14729
30 9892
35 23487 30 9892
40 18504

(B)
Tabel 4.13 Data Linieritas Baku kuarsetin (A) Sebelum di eliminasi (B) Sudah Di eliminasi

21
Luas Area Standar Quersetin
20000
18000 f(x) = 313.98 x + 6211.89
16000 R² = 0.98
14000
12000
Luas Area

Luas Area Standar Quersetin


10000 Linear (Luas Area Standar
8000 Quersetin)
6000
4000
2000
0
10 15 20 25 30 35 40 45
Konsentrasi

Gambar 4.12 Kurva Baku Kuarsetin

4.4 Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu identifikasi senyawa kuarsetin pada simplisia daun sirsak
(annona muricata L) Dengan menggunakan metode hplc. Praktikum ini bertujuan agar
mahasiswa dapat mahasiswa dapat mengetrahui cara kerja alat Hplc, agar mahasiswa dapat
mengetahui prinsip kerja alat Hplc, dan agar mahasiswa dapat mengidentifikasi senyawa
kuarsetin yang terdapta di dalam sampel yang di ujikan. Hplc merupakan salah satu teknik
kromatografi untuk zat cair yang biasanya disertai dengan tekanan tinggi. Seperti teknik
kromatografi pada umumnya, HPLC berupaya untuk memisahkan molekul berdasarkan
perbedaan afinitasnya terhadap zat padat tertentu. Cairan yang akan dipisahkan merupakan fase
cair dan zat padatnya merupakan fase diam (stasioner). Teknik ini sangat berguna untuk
memisahkan beberapa senyawa sekaligus karena setiap senyawa mempunyai afinitas selektif
antara fase diam tertentu dan fase gerak tertentu. Dengan bantuan detektor serta integrator kita
akan mendapatkan kromatogram. Kromatorgram memuat waktu tambat serta tinggi puncak suatu
senyawa. Maka demikian di gunakan lah alat ini untuk memisahkan senyawa kuarsetin dengan
senyawa yang lain nya yang terdapat di dalam suatu sampel yang di ujikan.Kuarsetin Merupakan
salah satu zat aktif kelas flavonoid yang secara biologis amat sangat kuat. Bila vitamin C
mempunyai aktivitas antioksidan 1, Maka kuarsetin memiliki antioksidan 4,7. Flavonoid
merupakan sekelompok besar antioksidan bernama polifenol yang terdiri atas antosianidin,
biflavon, katekin, flavonon, flavon, dan flavonol. Kuarsetin termasuk ke dalm kelompok
flavonol. Kuarsetin dipercaya dapat melindungi tubuh dari beberapa jenis penyakit degenerative
dengan cara mencegah terjadinya proses peroksidasi lemak. Kuarsetin memperlihatkan

22
kemampuan mencegah proses oksidasi dari Low Density Lipoproteins (LDL) dengan cara
menangkap radikal bebas dan menghelat ion logam transisi.
HPLC menggunakan zat cair sebagai fase geraknya. Sampel yang telah dilarutkan dapat
dipisahkan dan dihitung konsentrasi zat spesifik yang terkandung di dalamnya. Sebagai contoh,
kandungan kafein dalam sampel minuman dapat diukur dengan HPLC berdasarkan afinitas
kafein terhadap fase diam pada kolom yang digunakan. Fase diam yang digunakan dalam HPLC
dapat terdiri dari partikel dengan pori berukuran mikron sehingga tekanan tinggi diperlukan agar
fase gerak dan sampel dapat bergerak melewati pori tersebut. Penggunaan tekanan tinggi inilah
menyebabkan metode ini dinamakan High Performance Liquid Chromatography atau yang dulu
disebut juga sebagai High Pressure Liquid Chromatography.Prinsip HPLC menggunakan prinsip
kromatografi adsorbsi dan banyak digunakan dalam industi farmasi dan pestisida. Zat dengan
kepolaran berbeda dapat dipisahkan dengan HPLC berdasarkan partisi cair-cair. Komponen
utama HPLC adalah : reservoir pelarut, pompa, injektor, kolom kromatografi, detektor. Dalam
HPLC, Fasa diam adalah fasa yang secara tetap tidak bergerak, biasanya berbentuk partikel dan
terletak di dalam tabung kolom. Fasa gerak adalah fasa yang bergerak dengan arah yang telah
ditentukan. Pada percobaan yang digunakan sebagai fasa gerak adalah metanol dan sampel
adalah Eksrak Daun sirsak.
HPLC menggunakan fasa gerak untuk memisahkan komponen dari sebuah campuran
komponen (analit). Prinsip keja HPLC adalah pemisahan setiaap komponen dalam sampel
berdasarkan kepolarannya. Yang paling membedakan HPLC dengan kromatografi lainnya adalah
pada HPLC digunakan tekanan tinggi untuk mendorong fasa gerak. Fasa diam yang biasa
digunakan (pada kolom) HPLC jenis fasa terbalik adalah RMe2SiCl, dimana R adalah rantai
alkana C-18 atau C8. Sementara fasa geraknya berupa larutan yang diatur komposisinya (gradien
elusi), misalnya : Asam orthofosfat (75:25), hal ini bergantung pada kepolaran analit yang akan
dipisahkan. Campuran analit akan terpisah berdasarkan kepolarannya, dan waktu retensinya akan
berbeda, hal ini akan teramati pada spektrum yang punsak-puncaknya terpisah.
Pada Praktikum kali ini di buat terlebih dahulu ekstrak nya dengan menggunakan metode
maserasi dengan sampel Daun sirsak. Lalu di lanjut dengan pengambilan filtrat daun sirsak
sebanyak 15 ml dan dilarutkan dengan methanol dengan menggunakan membrane filter dan
selanjut nya di degas. Di lakukan nya degas untuk menghilangkan gelembung yang terdapat di
dalam sample yang dapat mempengaruhi konsentrasi dari sample tersebut. Lalu di lanjut dengan
Pembuatan deret standar. Kuarsetin Murni di timbang sebanyak 52,2 Mg dalam kaca arloji guna
meminimalisir terjadi nya kontaminan ketika ingin melakukan penimbangan. Lalu di larutkan
diki demi sedikit dengan menggunakan methanol agak dapat larut. Di dalam beaker glass lalu di
masukan labu dan di add hingga add 100 ml (500 ppm). Kemudian di encerkan kembali menjadi
100 ppm dengan mengambil 10 ml larutan 500 pm dan di tambahkan methanol ad 50 ml. Di
saring menggunakan membrane filter. Agar dapat menyaring kotoran yang dapat menyumbat
kolom dan akan mengganggu proses analisis kadar kuarsetin. Lalu di lanjutkan dengan
pengenceran dengan deret dengan ppm 15,20,25,30,35, dan 40 ppm. Ketika Sudah di add kan
tidak lupa untuk mengsyringe agar dapat menyaring kotoran yang masih terdapat di dalam
kuarsetin murni. Dilakukan nya degas penting bagi analisis ini agar dapat menghilangkan

23
gelembong yang dapat menggangu pemisahan pada metode hplc tersebut. Pengamatan waktu
retensi (tR) merupakan parameter analisis kualitatif dalam HPLC. Waktu retensi adalah waktu
yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detektor disebut sebagai
waktu retensi. Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai
sampel menunjukkan ketinggian puncak maksimum pada grafik dari senyawa itu.
Pada Kurva di atas di dapat kan waktu retensi sebesar 0,9788 yang dimana. R tersebut
sedekat mendekati dengan literature yang di dapatkan. Literature nya merupakan syarat baik
Waktu retensi merupakan (0,999). Hal ini bisa terjadi di karenakan kurang ketelitian nya penguji
Sehingga di dapat kan nya hasil yang tidak sesuai literature. Linearitas adalah sifat hubungan
yang linear antar variabel, artinya setiap perubahan yang terjadi pada satu variabel akan diikuti
perubahan dengan besaran yang sejajar pada variabel lainnya.

24
BAB V
KESIMPULAN

Dari praktikum di atas dapat di simpulkan bahwa :


 Degas di gunakan untuk menghilangkan gelembung agar tidak menggangu ketika di
lakukan nya pemisahn
 Di lakukan dengan menggunakan pengenceran standar dengan 15,20,25,30,35, dan 40
ppm
 Kuarsetin di percaya dapat melindungi tubuh dari beberapa penyakit Degenerative

25
DAFTAR PUSTAKA

Uneputty PY, Yamlean PV, Kojong NS. 2013. Potensi infusa daun sirsak (annona muricata l.) Terhadap
kadar kolesterol darah tikus putih jantan (rattus novergicus). Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi – Unsrat .
2(2):56-60

BPOM RI. (2005). Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor
HK 00.05.41.1384 tentang Kriteria dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal
Terstandar dan Fitofarmaka. Jakarta : Kepala BPOM.

Mardiana, Lina.2011.Ramuan dan Khasiat Kulit Manggis. Jakarta : Penebar Swadaya.

Skoog, D.A., West, D.M., Holler, F.J., Crouch, S.R., 2006,  Principles of Instrumental
Analysis, Boston: Cengage Learning

Putra, Effendy De Lux. (2004). Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Dalam Bidang Farmasi, 8.

26
LAMPIRAN

Lampiran 1 Perhitungan deret standar

Standard = induk 500 ppm diencerkan ke 100 ppm


Menggunakan deret 15, 20, 25, 30, 35, 40
V1.N1 =V2.N2
Ditimbang kuarsetin sebanyak 50 mg

50 mg 50 mg
100 ml = 0,1 Liter = 500 ppm

Di encerkan menjadi 100 ppm

V1.N1 = V2.N2
V1.500 = 50.10
V1 = 50.100/500
= 10 mL

Dibuat deret standar 15, 20, 25, 30, 35, 40 ppm

1. 15 ppm
V1. N1 = V2. N2
V1. 100 ppm = 10 ml. 15 ppm
150
V1 = = 1,5 ml = 1500 mikro liter
100

2. 20 ppm
V1. N1 = V2.N2
V1. 100 ppm = 10 ml. 20 ppm
200
V1 = =2 ml=2000mikro liter
100

3. 25 ppm
V1. N1 = V2. N2
V1. 100 ppm = 10 ml. 25 ppm
250
V1 = =2,5 ml=2500 mikroliter
100

27
4. 30 ppm
V1. N1 = V2. N2
V1. 100 ppm = 10 ml. 30 ppm
300
V1 = =3 ml=3000 mikroliter
100

5. 35 ppm
V1. N1 = V2. N2
V1. 100 ppm = 10 ml. 35 ppm
350
V1 = =3,5 ml=3500 mikroliter
100

6. 40 ppm
V1. N1 = V2. N2
V1. 100 ppm = 10 ml. 40 ppm
400
V1 = =4 ml=4000 mikro liter
100

Lampiran 2 Perhitungan sampel

Dalam jurnal kadar flavonoid total didapatkan sebesar 28,27mg/gram

maka serbuk daun sirsak yang kita timbang sebesar 25 gram dihitung dengan cara:

28,27 mg x 28,27 mg x 25000


= x = = 706,75 mg kadar flavonoid total dalam 25 gram
1000 mg 25000 mg 1000
yang telah dibuat ekstrak.

706,75 mikrogram
ppm = 0,70675 gram x 10⁶ = = 2827 ppm
250 ml(etanol ekstrak )

maka hasil ppm 2827 ini milik 250 ml sampel

diturunkan pada 200 ppm :

v1.n1 = v2.n2

28
v1. 2827 = 100. 200

v1 = 7,07 ml atau 7070 mikrogram (dilarutkan dalam 100ml methanol)

dibuat dalam 30 ppm

v1.n1 = v2.n2

v1.200 = 100.30

v1 = 15 ml -> dimasukkan ke dalam 6 vial

29
Lampiran 3 Alat yang di gunakan

ALAT – ALAT HPLC DAN ALAT DEGAS

Alat Mikropipet dan Membran Filter

Timbangan Analitik

30

Anda mungkin juga menyukai