Anda di halaman 1dari 24

“SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN”

Disusun Oleh :

Nama : Meli Al Adawia

Nim : 164201019013

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (IST) BUTON

TAHUN 2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari kelompok yang telah bekerja
sama dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Baubau, November 2019

Penulis

2
DAFTAR PUSTAKA

HALAMAN JUDUL............................................................................................. i
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI.............................................................................................. ..........iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................... ..........1
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................2
C. Tujuan Penulisan........................................................................................ .3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................... 4
A. Sistem informasi kesehatan.......................................................................4
B. Sistem teknologi informasi.........................................................................4
C. Sejarah Sistem Informasi Keperawatan..................................................5
D. Fungsi Sistem Informasi Keperawatan....................................................6
E. Keuntungan Menggunakan Sistem Informasi Keperawatan................7
F. Penerapan Sistem Informasi Dalam Dokumentasi Asuhan
Keperawatan...........................................................................................7-8
G. Telenursing...............................................................................................9-10
H. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan..............................................11
I. Sistem Informasi Manajemen Keperawatan..........................................12
J. Program-Program Yang Dirancang Dalam STK Keperawatan.....13-19
BAB III PENUTUP..............................................................................................20
A. Kesimpulan..................................................................................................20
B. Saran.............................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam era globalisasi dewasa ini, perkembangan ilmu pengetahuan


dan teknologi terasa sangat pesat, sehingga menawarkan banyak sekali
kemudahan-kemudahan dakam menjalankan aktivitasnya, baik berupa
pekerjaan ringan di dalam rumah tangga maupun pekerjaan rumit dalam
dunia industry/perusahaan, sehingga pada akhirnya seolah-olah kita
dimanjakan oleh teknologi tersebut

Sistem informasi berbasis komputer kini menjadi suatu hal yang


primer bagi kebutuhan pemenuhan kebutuhan informasi. Banyak bidang
yang telah memanfaatkan sistem informasi berbasis komputer sebagai
sarana untuk mempermudah pekerjaan. Mulai dari kalangan pebisnis sampai
dari kalangan akademisi memanfaatkan komputer sebagai alat bantu untuk
mempermudah pekerjaan.

Setiap sistem informasi akan mempunyai masalah, tanpa


memperdulikan seberapa baiknya sistem tersebut di desain. Beberapa hal
yang menyebabkan sistem informasi mempunyai masalah adalah waktu
(overtime), lingkungan yang berubah, serta perubahan prosedur operasional.
Dalam melakukan langkah mengantisipasi dan mengurangi serta menangani
permasalahan-permasalahan mengenai sistem informasi, ada baiknya kita
mengenal kembali tentang konsep-konsep dasar dalam sistem informasi.
Oleh karena itulah, saya berusaha memaparkan dalam makalah ini tentang
konsep-konsep dasar sistem informasi.

Di Indonesia pada era keterbukaan ini, masyarakat mempunyai


kebebasan untuk mengemukakan pendapatnya, sehingga apabila masyarakat
mendapatkan pelayanan kesehatan yang tidak bermutu maka masyarakat
berhak menuntut pada pemberi pelayanan kesehatan. Namun kondisi

4
keterbukaan pada masyarakat saat ini sepertinya belum didukung dengan
kesiapan pelayanan kesehatan, salah satunya dalam memenuhi ketersediaan
dokumentasi yang lengkap di pelayanan kesehatan, khususnya rumah sakit.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini di Indonesia
belum secara luas dimanfaatkan dengan baik khususnya di pelayanan
rumah sakit, terutama pelayanan keperawatan.

Tenaga perawat sebagai salah satu tenaga yang mempunyai


kontribusi besar bagi pelayanan kesehatan, mempunyai peranan penting
untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dalam upaya
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, seorang perawat harus mampu
melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar, yaitu dari mulai
pengkajian sampai dengan evaluasi dan yang sangat penting adalah disertai
dengan sistem pendokumentasian yang baik. Namun pada realitanya di
lapangan, asuhan keperawatan yang dilakukan belum disertai dengan sistem
pendokumentasian yang baik, sehingga perawat mempunyai potensi yang
besar terhadap proses terjadinya kelalaian dalam praktek. Dengan adanya
kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, maka sangat dimungkinkan
bagi perawat untuk memiliki sistem pendokumentasian asuhan keperawatan
yang lebih baik dengan menggunakan Sistem Informasi Manajemen.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini sebagai berikut :
a. Mengetahui Sistem informasi kesehatan
b. Mengetahui Sistem teknologi informasi
c. Mengetahui Sejarah Sistem Informasi Keperawatan
d. Mengetahui Fungsi Sistem Informasi Keperawatan
e. Mengetahui Keuntungan Menggunakan Sistem Informasi
Keperawatan
f. Mengetahui Penerapan Sistem Informasi Dalam Dokumentasi
Asuhan Keperawatan

5
g. Mengetahui Telenursing
h. Mengetahui Pendokumentasian Asuhan Keperawatan
i. Mengetahui Sistem Informasi Manajemen Keperawatan
j. Mengetahui Program-Program Yang Dirancang Dalam STK
Keperawatan

C. Tujuan Penulis
a. Untuk mengetahui Sistem informasi kesehatan
b. Untuk mengetahui sistem teknologi informasi
c. Unutk mengartahui Sejarah Sistem Informasi Keperawatan
d. Untuk mengetahui Fungsi Sistem Informasi Keperawatan
e. Untuk mengetahui Keuntungan Menggunakan Sistem Informasi
Keperawatan
f. Untuk mengetahui Penerapan Sistem Informasi Dalam Dokumentasi
Asuhan Keperawatan
g. Untuk mengetahui Telenursing
h. Untuk mengetahui Pendokumentasian Asuhan Keperawatan
i. Untuk mengetahui Sistem Informasi Manajemen Keperawatan
j. Untuk mengetahui Program-Program Yang Dirancang Dalam STK
Keperawatan

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistem Informasi Kesehatan

Sistem informasi kesehatan merupakan suatu pengelolaan informasi di


seluruh tingkat pemerintah secara sistematis dalam rangka penyelengggaraan
pelayanan kepada masyarakat. Peraturan perundang-undangan yang
menyebutkan sistem informasi kesehatan adalah Kepmenkes Nomor
004/Menkes/SK/I/2003 tentang kebijakan dan strategi desentralisasi bidang
kesehatan dan Kepmenkes Nomor 932/Menkes/SK/VIII/2002 tentang
petunjuk pelaksanaan pengembangan sistem laporan informasi kesehatan
kabupaten/kota. Hanya saja dari isi kedua Kepmenkes mengandung
kelemahan dimana keduanya hanya memandang sistem informasi kesehatan
dari sudut padang manejemen kesehatan, tidak memanfaatkan state of the art
teknologi informasi serta tidak berkaitan dengan sistem informasi nasional.
(Sanjoyo). Perkembangan Sistem Informasi Rumah Sakit yang berbasis
computer (Computer Based Hospital Information System) di Indonesia telah
dimulai pada akhir dekade 80’an. Rumah sakit di Indonesia sudah ada yang
memanfaatkan komputer untuk mendukung operasionalnya. Namun,
tampaknya komputerisasi dalam di instansi rumah sakit, kurang mendapatkan
hasil yang cukup memuaskan semua pihak.

B. Sistem Teknologi informasi

Sistem informasi keperawatan merupakan kombinasi dari ilmu


komputer, informasi dan keperawatan yang disusun untuk mempermudah
manajemen ,proses pengambilan keputusan, dan pelaksanaan asuhan
keperawatan. Salah satu penggunaan sistem informasi keperawatan di
kembangkan pada tahun 1960-1970 -an adalah dengan pendokumentasian
keperawatan terkomputerisasi. Pendokumentasian terkomputerisasi

7
memfasilitasi pembakuan klasifikasi asuhan keperawatan sehingga
menghilangkan ambiguitas dalam pendokumentasian keperawatan.
Sedangkan menurut ANA (Vestal, Khaterine, 1995) sistem informasi
keperawatan berkaitan dengan legalitas untuk memperoleh dan menggunakan
data, informasi dan pengetahuan tentang standar dokumentasi, komunikasi,
mendukung proses pengambilan keputusan, mengembangkan dan
mendesiminasikan pengetahuan baru, meningkatkan kualitas, efektifitas dan
efisiensi asuhan keperawaratan dan memberdayakan pasien untuk memilih
asuhan kesehatan yang diiinginkan. Kehandalan suatu sistem informasi pada
suatu organisasi terletak pada keterkaitan antar komponen yang ada sehingga
dapat dihasilkan dan dialirkan menjadi suatu informasi yang berguna, akurat,
terpercaya, detail, cepat, relevan untuk suatu organisasi.

C. Sejarah Sistem Informasi Keperawatan

Komputer telah dikenal berpuluh – puluh tahun lalu, tetapi rumah


sakit lambat dalam menangkap revolusi komputer. Perawat terlambat
mendapatkan manfaat dari komputer, usaha pertama dalam menggunakan
komputer oleh perawat terjadi pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun
1970-an, penggunaannya mencakup automatisasi catatan perawat untuk
menjelaskan status dan perawatan pasien dan penyimpanan hasil sensus dan
gambaran staf keperawatan untuk analisa kecenderungan masa depan staf.

Pada pertengahan tahun 1970-an ide dari sistem informasi rumah sakit
diterapkan dan perawat mulai menerapkan sistem informasi manajemen
keperawatan. Pada akhir tahun 1980-an munculah sistem mikro komputer
yang semakin mendukung pengembangan sistem informasi keperawatan. Di
Indonesia sistem informasi manajemen keperawatan masih minim
penerapannya, pendokumentasian keperawatan umumnya masih
menggunakan pendokumentasian tertulis. Pemerintah Indonesia sudah
memiliki visi tentang sistem informasi kesehatan nasional, yaitu Reliable
Health Information 2010 (Depkes,2001). Pada perencanaannya sistem

8
informasi kesehatan akan di bangun di Rumah Sakit kemudian di masyarakat,
tetapi pelaksanaanya belum optimal.

D. Fungsi Sistem Informasi Keperawatan

Konseptual model dalam sistem informasi keperawatan berdasarkan 4


fungsi utama dalam praktik keperawatan klinik dan administratif:

Proses perawatan pasien

Proses perawatan pasien adalah apa yang telah dilakukan oleh


perawat kepada pasien yaitu: pengkajian, diagnosa keperawatan, jadwal
perawatan dan pengobatan, catatan keperawatan, pola makan, prospektif,
beban kerja , administrasi pasien.

Proses managemen bangsal

Aktivitas yang berhubungan dengan fungsi bangsal untuk secara


efektif menggunakan menggunakan sumber dalam merencanakan objek
secara spesifik. Mentransformasikan informasi pada manajemen yang
berorientasi informasi dalam pengambilan keputusan: jaminan kualitas,
sudut pandang aktivitas di bangsal keperawatan, jadwal dinas karyawan,
manajemen perseorangan, perencanaan keperawatan, manajemen
inventarisasi dan penyediaan sarana dan prasarana, manajemen finansial,
kontroling terhadap infeksi.

Proses Komunikasi

Seluruh aktivitas dikonsentrasikan pada komunikasi pada pasien


dan subjek lain yang memiliki hubungan dengan subjek pengobatan,
perjanjian dan penjadwalan, review data, transformasi data, dan segala
bentuk pesan.

Proses Pendidikan dan Penelitian

9
Pendokumentasian fungsi dan prosedural.

E. Keuntungan Menggunakan Sistem Informasi Keperawatan

Penghematan biaya dari penggunaan kertas untuk pencatatan


Penghematan ruangan karena tidak dibutuhkan tempat yang besar dalam
penyimpanan arsip.
Penyimpanan data pasien menjadi lebih lama.
Pendokumentasian keperawatan berbasis komputer yang dirancang
dengan baik akan mendukung otonomi yang dapat dipertanggung
jawabkan.
Membantu dalam mencari informasi yang cepat sehingga dapat
membantu pengambilan keputusan secara cepat
Meningkatkan produktivitas kerja.
Mengurangi kesalahan dalam menginterppretasikan pencatatan (Gurley
L, Advantages and Disadvantages of Electronic Medical Record, diakses
dari http://www.aameda.org/member )

Sedangkan menurut Holmes (2003,dalam Sitorus 2006), terdapat


keuntungan utama dari dokumentasi berbasis komputer yaitu:

Standarisisasi: terdapat pelaporan data klinik yang standar, mudah dan


cepat diketahui.
Kualitas: meningkatkan kualitas informasi klinik dan sekaligus
meningkatkan waktu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.
Accessebility, legibility, mudah membaca dan mendapat informasi klinik
dari pasien dalam satu lokasi.

F. Penerapan Sistem Informasi Dalam Dokumentasi Asuhan Keperawatan

Dokumentasi perawatan merupakan bagian penting dari dokumentasi


klinis. Namun, dokumentasi proses keperawatan sering kurang berkualitas.
Untuk meningkatkan dokumentasi asuhan keperawatan yang dilakukan oleh

10
perawat maka perlu diterapkan sistem infomasi keperawatan dalam
pendokumentasian asuhan keperawatan. Ada harapan tinggi bahwa komputer
dapat mendukung dalam dokumentasi keperawatan akan membantu
meningkatkan kualitas dokumentasi. Namun dengan diterapkannya
komputerisasi di rumah sakit juga perlu diimbangi oleh kemampuan perawat
dalam mengoperasionalkan komputer.

Untuk meningkatkan kemampuan perawat dalam penggunaan komputer maka


perawat telah menyoroti kebutuhan untuk pelatihan dalam penggunaan
teknologi informasi, dan penilaian kritis penting untuk profesional perawat.
(Docker, et all.,2003)

Dokumentasi keperawatan yang ada sekarang ini adalah dokumentasi


keperawtan yang berbasis kertas. Namun pada kenyataannya sering
ditemukan bahwa proses tersebut tidak terintegrasi ke dalam dokumentasi
keperawatan.Sering kita menemukan dokumentasi yang kurang lengkap,
alasannya antara lain perlu waktu yang banyak, kualitas catatan berbasis
kertas masih rendah dan pemanfaatan dokumentasi masih terbatas dari proses
keperawatan. Masalah-masalah ini menyebabkan upaya untuk mendukung
proses keperawatan dengan sistem berbasis komputer untuk mengurangi
beban perawat dalam dokumentasi.Penerapan sistem informasi keperawatan
dalam dokumentasi asuhan keperawatan bertujuan untuk meningkatkan
kuantitas dan kualitas dokumentasi asuhan keperawatan. Dokumentasi yang
berbasis komputer selain meningkatkan kualitas juga memungkinkan
penggunaan kembali data keperawatan untuk manajemen keperawatan dan
penelitian keperawatan. Hal ini seperti yang terdapat dalam hasil penelitian
dari Mueller, et all.2006 yang menyatakan bahwa kualitas dokumentasi
keperawatan semakin meningkat dengan diterapkannya Quality of Nursing
Diagnoses, Interventions, and Outcomes (Q-DIO).Penelitian ini mendukung
penggunaan Q-DIO dalam mengevaluasi dokumentasi keperawatan
diagnosis, intervensi, dan hasil asuhan keperawatan. Berdasarkan hal tersebut
maka untuk meningkatkan kualitas dokumentasi, perawat membutuhkan

11
dukungan melalui pendidikan agar mengetahui langkah-langkah untuk
menghubungkan diagnosa dengan intervensi, spesifik ke etiologi
diidentifikasi,dan untuk mengidentifikasi hasil asuhan keperawatan. Adanya
peningkatan dokumentasi tersebut membuktikan bahwa dengan
diterapkannya Q-DIO dapat berguna sebagai alat audit dokumentasi
keperawatan dan harus dikembangkan sebagai fitur terintegrasi secara
elektronik. (Mueller, et all.2006).

G. Telenursing

1. Definisi

Telenursing adalah upaya penggunaan teknologi informasi dalam


memberikan pelayanan keperawatan dalam bagian pelayanan kesehatan
dimana ada jarak secara fisik yang jauh antara perawat dan pasien, atau
antara beberapa perawat. Sebagai bagian dari telehealth dan beberapa
bagian terkait dengan aplikasi bidang medis dan non medis seperti
telediagnosis, telekonsultasi dan telemonitoring (http://en.wikipedia.org
/wiki/telenursing, diperoleh tanggal 15 Maret 2008).

Telenursing menunjukkan penggunaan tehnologi komunikasi oleh


perawat untuk meningkatkan perawatan pasien. Telenursing
menggunakan channel elektromagnetik (wire, radio, optical) untuk
mengirim suara, data dan sinyal video komunikasi. Dapat juga
didefinisikan sebagai komunikasi jarak jauh menggunakan transmisi
elektrik atau optic antara manusia dan atau computer
(http://www.icn.ch/matters_telenursing.htm, diperoleh tanggal 15 Maret
2008).

Telenursing diartikan sebagai pemakaian telekomunikasi untuk


memberikan informasi dan pelayanan keperawatan jarak-jauh.
Aplikasinya saat ini, menggunakan teknologi satelit untuk menyiarkan
konsultasi antara fasilitas-fasilitas kesehatan di dua negara dan
memakai peralatan video conference. Telenursing bagian integral dari

12
telemedicine atau telehealth (http://www.inna-ppni.or.id/
index.php?name =News &file=article&sid=71, diperoleh tanggal 15
Maret 2008)

Menurut Britton et all (1999), ada beberapa keuntungan telenursing


yaitu :

1. Efektif dan efisien dari sisi biaya kesehatan, pasien dan keluarga
dapat mengurangi kunjungan ke pelayanan kesehatan ( dokter
praktek,ruang gawat darurat, rumah sakit dan nursing home)
2. Dengan sumber daya yang minimal dapat meningkatkan cakupan
dan jangkauan pelayanan keperawatan tanpa batas geografis
3. Telenursing dapat menurunkan kebutuhan atau menurunkan waktu
tinggal di rumah sakit
4. Pasien dewasa dengan kondisi penyakit kronis memerlukan
pengkajian dan monitoring yang sering sehingga membutuhkan
biaya yang banyak. Telenursing dapat meningkatkan pelayanan
untuk pasien kronis tanpa memerlukan biaya dan meningkatkan
pemanfaatan teknologi
5. berhasil dalam menurunkan total biaya perawatan kesehatan dan
meningkatkan akses untuk perawatan kesehatan tanpa banyak
memerlukan sumber.

Selain manfaat di atas telenursing dapat dimanfaatkan dalam bidang


pendidikan keperawatan( model distance learning) dan perkembangan
riset keperawatan berbasis informatika kesehatan. Telenursing dapat
juga digunakan dikampus dengan video conference, pembelajaran on
line dan Multimedia Distance Learning.

2. Aplikasi elenursing

Aplikasi telenursing dapat diterapkan di rumah, rumah sakit


melalui pusat telenursing dan melalui unit mobil. Telepon triase dan

13
home care berkembang sangat pesat dalam aplikasi telenursing. Di
dalam home care perawat menggunakan system memonitor parameter
fisiologi seperti tekanan darah, glukosa darah, respirasi dan berat badan
melalui internet. Melalui system interaktif video, pasien contact on-call
perawat setiap waktu untuk menyusun video konsultasi ke alamat sesuai
dengan masalah, sebagai contoh bagaimana mengganti baju,
memberikan injeksi insulin atau diskusi tentang sesak nafas. Secara
khusus sangat membantu untuk anak kecil dan dewasa dengan penyakit
kronik dan kelemahan khususnya dengan penyakit kardiopulmoner.
Telenursing membantu pasien dan keluarga untuk berpartisipasi aktif di
dalam perawatan, khususnya dalam management penyakit kronis. Hal
ini juga mendorong perawat menyiapkan informasi yang akurat dan
memberikan dukungan secara online. Kontinuitas perawatan dapat
ditingkatkan dengan menganjurkan sering kontak antara pemberi
pelayanan kesehatan maupun keperawatan dengan individu pasien dan
keluarganya.

H. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan

Pendokumentasian Keperawatan merupakan hal penting yang


dapat menunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan. (Kozier,E.
1990). Selain itu dokumentasi keperawatan merupakan bukti akontabilitas
tentang apa yang telah dilakukan oleh seorang perawat kepada pasiennya.
Dengan adanya pendokumentasian yang benar maka bukti secara
profesional dan legal dapat dipertanggung jawabkan.

Pendokumentasian pada pemberian asuhan keperawatan dapat


dilakukan secara manual atau berbasis komputer. Menurut Holmas (2003)
terdapat beberapa keuntungan utama dari dokumentasi berbasis komputer
yaitu:

1. Standarisasi, terdapat pelaporan data klinik yang standar yang mudah


dan cepat diketahui

14
2. Kualitas, meningkatkan kualitas informasi klinik dan sekaligus
meningkatkan waktu perawat berfokus pada pemberian asuhan
3. Accessibility & legibility, mudah membaca dan mendapat informasi
klinik tentang semua pasien dan suatu lokasi (Ratna Sitorus, 2006)

I. Sistem Informasi Manajemen Keperawatan


Sistem informasi keperawatan adalah kombinasi ilmu komputer,
ilmu informasi dan ilmu keperawatan yang disusun untuk memudahkan
manajemen dan proses pengambilan informasi dan pengetahuan yang
digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan (Gravea &
Cococran,1989 dikutip oleh Hariyati, RT., 1999)

Sedangkan menurut ANA (Vestal, Khaterine, 1995 dikutip oleh


Hariyati, RT., 1999) system informasi keperawatan berkaitan dengan
legalitas untuk memperoleh dan menggunakan data, informasi dan
pengetahuan tentang standar dokumentasi , komunikasi, mendukung
proses pengambilan keputusan, mengembangkan dan mendesiminasikan
pengetahuan baru, meningkatkan kualitas, efektifitas dan efisiensi asuhan
keperawaratan dan memberdayakan pasien untuk memilih asuhan
kesehatan yang diiinginkan. Kehandalan suatu sistem informasi pada suatu
organisasi terletak pada keterkaitan antar komponen yang ada sehingga
dapat dihasilkan dan dialirkan menjadi suatu informasi yang berguna,
akurat, terpercaya, detail, cepat, relevan untuk suatu organisasi.

Selanjutnya pendokumentasian keperawatan yang menggunakan


Sistem Informasi Manajemen Keperawatan, dimana fasilitas yang dibuat
menjadi lebih lengkap, bahkan menurut Jasun (2006) Sistem Informasi
Manajemen Keperawatan merupakan “papper less” untuk seluruh
dokumen keperawatan.

15
J. Program-Program Yang Dirancang Dalam STK Keperawatan

Menurut Jasun (2006) beberapa program yang dirancang dalam STK


Keperawatan antara lain :

1. Standar Asuhan Keperawatan

Standar Asuhan Keperawatan menggunakan standar Internasional


dengan mengacu pada Diagnosa Keperawatan yang dikeluarkan oleh
North American Nursing Diagnosis Association, standar outcome
keperawatan mengacu pada Nursing Outcome Clasification dan
standar intervensi keperawatan mengacu pada Nursing Intervention
Clasification (NIC) yang dikeluarkan oleh Iowa Outcomes Project.
Standar Asuhan Keperawatn ini juga telah dilengkapi dengan standar
pengkajian perawatan dengan mengacu pada 13 Divisi Diagnosa
Keperawatan yang disusun oleh Doenges dan Moorhouse dan standar
evaluasi keperawatan dengan mengacu pada kriteria yang ada dalam
Nursing Outcome Clasification (NOC) dengan model skoring.

2. Standart Operating Procedure (SOP)

Standart Operating Procedure (SOP) adalah uraian standar


tindakan perawatan yang terdapat dalam standar asuhan keperawatan.
SOP merupakan aktifitas detail dari NIC.

3. Discharge Planning

Discharge Planning adalah uraian tentang perencanaan dan


nasihat perawatan setelah pasien dirawat dari rumah sakit. Dalam
sistem, discharge planning sudah tersedia uraian dimaksud, perawat
tinggal print out yang selanjutnya hasil print out tersebut dibawakan
pasien pulang.

16
4. Jadwal dinas perawat

Jadwal dinas perawat dibuat secara otomatis oleh program


komputer, sehingga penanggung jawab ruang tinggal melakukan print.

5. Penghitungan angka kredit perawat.

Masalah yang banyak dikeluhkan oleh perawat adalah pembuatan


angka kredit, dikarenakan persepsi yang berbeda antara Urusan
Kepegawaian dengan tenaga perawat. Disamping itu, kesempatan
perawat untuk menghitung angka kredit sangat sedikit. Sehingga
penghitungan angka kredit banyak yang tertunda dan tidak valid.
Sistem yang dibuat dalam SIM Keperawatan, angka kredit merupakan
rekapan dari aktifitas perawat sehari-hari, yang secara otomatis akan
dapat diakses harian, mingguan atau bulanan.

6. Daftar diagnosa keperawatan terbanyak.

Daftar diagnosa keperawatan direkapitulasi oleh sistem berdasar


input perawat sehari-hari. Penghitungan diagnosa keperawatan
bermanfaat untuk pembuatan standar asuhan keperawatan.

7. Daftar NIC terbanyak

Adalah rekap tindakan keperawatan terbanyak berdasarkan pada


masing-masing diagnosa keperawatan yang ada.

8. Laporan Implementasi

Laporan implementasi adalah rekap tindakan-tindakan perawatan


pada satu periode, yang dapat difilter berdasar ruang, pelaksana dan
pasien. Laporan ini dapat menjadi alat monitoring yang efektif tentang
kebutuhan pembelajaran bagi perawat. Laporan implementasi juga
dapat dijadikan alat bantu operan shift.

17
9. Laporan statistik

Laporan statistik yang di munculkan dalam sistem informasi


manajaman keperawatan adalah laporan berupa BOR, LOS, TOI dan
BTO di ruang tersebut.

10. Resume Perawatan

Dalam masa akhir perawatan pasien rawat inap, resume


keperawatan harus dicantumkan dalam rekam medik. Resume
perawatan bermanfaat untuk melihat secara global pengelolaan pasien
saat dirawat sebelumnya, jika pasien pernah dirawat di rumah sakit.
Dalam sistem, resume perawatan dicetak saat pasien akan keluar dari
perawatan. Komputer telah merekam data-data yang dibutuhkan untuk
pembuatan resume perawatan.

11. Daftar SAK

Standar Asuhan Keperawatan yang ideal adalah berdasarkan


evidance based nursing, yang merupakan hasil penelitian dari
penerapan standar asuhan keperawatan yang ada. Namun karena
dokumen yang tidak lengkap, SAK banyak diadopsi hanya dari
literatur yang tersedia. Dalam sistem informasi manajemen
keperawatan, SAK berdasarkan rekapan dari sistem yang telah dibuat.

12. Presentasi Kasus On Line

Sistem dengan jaringan WiFi memungkinkan data pasien dapat


diakses dalam ruang converence. Maka presentasi kasus kelolaan di
ruang rawat dapat dilakukan on line ketika pasien masih di rawat

13. Mengetahui Jasa Perawat

Dengan system integrasi dengan SIM RS, memugkinkan perawat


mengetahui jasa tindakan yang dilakukannya.

18
14. Monitoring Tindakan Perawat & Monitoring Aktifitas Perawat

Manajemen perawatan dapat mengakses langsung tindakan-


tindakan yang dilakukan oleh perawat, dan mengetahui pula masing-
masing perawat telah melakukan aktifitas keperawatan apa

15. Laporan Shift

Laporan shift merupakan rekapan dari aktifitas yang telah


dilakukan dan yang akan dilakukan oleh perawat, tergantung item
mana yang akan dilaporkan pada masing-masing pasien.

16. Monitoring Pasien oleh PN atau Kepala Ruang saat sedang


Rapat

Monitoring pasien oleh PN atau Kepala Ruang dapat dilakukan


ketika PN atau Kepala Ruang sedang rapat di ruang converence. Akan
diketahui apakah seorang pasien telah dilakukan pegkajian, diagnosa,
perencanaan, implementasi dan evaluasi atau belum

17. Hal Hal Yang Disiapkan Dalam Penerapan STK Keperawatan

Menurut Jasun (2006) hal-hal yang harus dipersiapkan dalam


penerapan STK (Sistem Teknologi Komputer ) dalam Keperawatan
ialah :

a. Hard Ware

1. Perangkat keras berupa PC / CPU pada masing-masing ruang


implementasi, yang terhubung dengan jaringan.
2. Printer digunakan untuk mencetak dokumen yang telah dibuat..
3. Note Book atau Laptop digunakan untuk memasukan data-data
saat penglkajian di samping pasien. Dengan menggunakan Note
Book diharapkan pengkajian menjadi valid.

19
4. WiFi adalah perangkat keras untuk menghubungkan Note Book
dengan jaringan, sehingga tidak mengunakan kabe, tapi dengan
wireless.

b. Soft Ware

Program yang dibuat sesuai dengan kebutuhan perawat.

c. Brain Ware

Pembentukan Mind Set bukan sesuatu yang mudah bagi


perawat. Istilah gagap teknologi, tidak percaya diri dengan
membawa Note Book ke hadapan pasien, merasa repot dan lain-
lain akan menjadi faktor penentu yang cukup signifikan bagi
keberhasilan penerapan STK Keperawatan.

d. Skill

Ketrampilan perawat juga merupakan factor penting yang


tidak bisa diabaikan, mengingat standar yang dipakai adalah
standar internasional. Bahasa label dalam NIC adalah sesuatu
yang baru, belum popular disamping membutuhkan pemahaman
yang cukup mendalam.
Pendokumentasian keperawatan sudah saatnya untuk
dikembangkan dengan berbasis komputer, walaupun perawat
umumnya masih menggunakan pendokumentasian tertulis.
Padahal pendokumentasian tertulis ini sering membebani
perawat karena perawat harus menuliskan dokumentasi pada
form yang telah tersedia dan membutuhkan waktu banyak untuk
mengisinya. Permasalahan lain yang sering muncul adalah
biaya pencetakan form mahal sehingga sering form
pendokumentasian tidak tersedia. Pendokumentasian secara
tertulis dan manual juga mempunyai kelemahan yaitu sering

20
hilang. Selain itu pendokumentasian secara tertulis juga
memerlukan tempat penyimpanan dan akan menyulitkan untuk
pencarian kembali jika sewaktu-waktu pendokumentasian
tersebut diperlukan.

Oleh karena itu pendokumentasian keperawatan yang


menggunakan Sistem Informasi Manajemen Keperawatan perlu
diterapkan, dimana fasilitas yang dibuat menjadi lebih lengkap,
karena memuat berbagai aspek pendokumentasian yaitu standart
operating procedure (SOP), discharge planning, jadwal dinas
perawat, penghitungan angka kredit perawat, daftar diagnosa
keperawatan terbanyak, daftar NIC terbanyak, laporan
implementasi, laporan statistik, resume perawatan, daftar SAK,
presentasi kasus on line, mengetahui jasa perawat, monitoring
tindakan perawat & monitoring aktifitas perawat laporan shift
dan monitoring pasien oleh PN atau kepala ruang saat sedang
rapat

Namun dalam penerapan sistem pendokumentasian


manajemen keperawatan ini perlu mempertimbangkan kendala
yang ada. Menurut Jasun (2006) kendala yang dapat muncul
antara lain : Pengadaan hardware membutuhkan dana yang
cukup banyak. Dengan seperangkat hardware untuk satu ruang
(PC, Notebook, WiFi, Printerdan PDA) minimal membutuhkan
dana sebesar Rp. 21.000.000,- Maka solusi yang dapat diambil
adalah dengan pengadaan secara bertahap. Kemudian masalah
system baru dimana softare yang dibuat relative baru dan sangat
teoritis. Dengan demikian membutuhkan sosialisasi yang terus
menerus dan komunikasi yang berkesinambungan. Disamping
itu, dorongan secara psikologis juga diperlukan, agar perawat
percaya diri menggunakan notebook di hadapan pasien.

21
Dengan memperhatikan hal-hal yang terkait dengan
penerapan STK Keperawatan, maka “Komunitas Perawatan”
menjadi kelompok yang sangat berperan, yang merupakan
motor penggerak profesi keperawatan di rumah sakit.

22
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Teknologi dalam kesehatan mempunyai peran yang sangat


penting,terutama dalam memberikan kualitas atau mutu pelayanan kesehatan di
Rumah Sakit. Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi seakan telah
membuat standar baru yang harus di penuhi. Hal tersebut membuat keperawatan
di Indonesia menjadi tertantang untuk terus mengembangkan kualitas
pelayanan keperawatan yang berbasis teknologi informasi.

Teknologi dalam kesehatan mempunyai peran yang sangat


penting,terutama dalam memberikan kualitas atau mutu pelayanan kesehatan di
Rumah Sakit. Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi seakan telah
membuat standar baru yang harus di penuhi. Hal tersebut membuat keperawatan
di Indonesia menjadi tertantang untuk terus mengembangkan kualitas pelayanan
keperawatan yang berbasis teknologi informasi. Namun demikian, tidak
dipungkiri bahwa masih banyak kendala dalam penerapan teknologi informasi
untuk manajemen kesehatan di rumah sakit. Jika masih dalam taraf
pengembangan sistem informasi transaksi (misalnya data administratif, keuangan
dan demografis) problem sosiokltural tidak terlalu kentara. Namun demikian, jika
sudah sampai aspek klinis, tantangan akan semakin besar.

B. Saran

Pemerintah atau lembaga kesehatan hendaknya segera meningkatkan


standar dan mutu sistem kesehtan di Indonesia, terutama yang berhubungan
dengan teknologi karena bila di bandingkan dengan negara lain ini masih
sangat tertinggal. Untuk membenahi hal tersebut maka harus di butuhkan solusi
cerdas.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Wikipedia,“Peran Teknologi Dalam Bidang Kesehatan”

2. Choirun Nisa, Yunita “Peran Teknologi Dalam Bidang Kesehatan”


http://ebintara.blogspot.com/2012/06/makalah-peran-teknologi-
dalambidang.html

3. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/medicine-history/2065852-
manfaatkomputer-bagi-bidang-kedokteran/

4. Mulyanto, Agus.2009. Sistem Informasi Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar

5. Susanto Gunawan, & Sukadi.2012. Sistem Informasi rekam Medik pada


Rumah sakit umum daerah (RSUD) Pacitan Berbasis Web Base.indonesia
jurnal on computer science speed-FTI UNSA,9 (3): 44

6. Triyono, Joko Wandyatmono.2012. Sistem Informasi Rekam Medis


Puskesmas Jayengan Surakarta, Jurnal Speed. ISSN : 1979-9330

7. http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-14549-5105109603-
Chapter1.pdf (diakses 21 Maret 2015)

24

Anda mungkin juga menyukai