Anda di halaman 1dari 13

LECTURE NOTES

ACCT6173-Managerial Accounting

Week 2
Cost Concepts

ACCT6173 – Managerial Accounting


LEARNING OUTCOME

1. Peserta diharapkan mampu menjelaskan peranan akuntan management/controller


didalam perusahaan (C1).

2. Peserta diharapkan mengerti konsep biaya (C1).

OUTLINE MATERI (Sub-Topic):

1. General Cost Classification


2. Cost Classification for Manufacturing Companies
3. Cost Classification for Preparing Financial Statements
4. Cost Classification on Financial Statements
5. Product Cost Flow
6. Cost Classifications for Predicting Cost Behavior
7. Cost Classifications for Assigning Cost to Cost Objects
8. Cost Classifications for Decision Making

ACCT6173 – Managerial Accounting


ISI MATERI

1. General Cost Classification

Kata cost digunakan dalam banyak cara. Cost diklasifikasikan menurut keinginan
management. Misalnya apakah manager ingin data biaya digunakan untuk membuat laporan
external, membuat anggaran perencanaan atau membuat keputusan

Pada lecture notes ini,pembahasan kita fokuskan pada pabrikan, karena dipabrikan banyak
aktifitas yang terjadi.

2. Cost Classification for Manufacturing Companies

Pabrikan biasanya membagi costnya menjadi manufacturing costs dan non—manufacturing


costs.

Yang masuk dalam manufactuting cost adalah

1. Direct Material
2. Direct Labor
3. Manufacturing Overhead

Direct Material adalah bahan utama dari suatu produk akhir dimana penggunaannya bisa
dilihat dan dihitung(traceable). Misalnya Direct Material dari kemeja adalah kain,dan kita
bisa menghitung panjangnya kain yang digunakan untuk mendapatkan 1 kemeja, atau tepung
didalam produk roti, kita bisa menimbang beratnya terigu yang digunakan untuk membuat 1
roti. Terkadang cukup menyita waktu untuk menghitung indirect material yang digunakan
dalam proses produksi. Misalnya sangat susah menghitung panjangnya benang yang
digunakan untuk menjahit kancing, atau sangat susah untuk menghitung cost dari garam yang
digunakan untuk membuat 1 roti. Indirect material adalah bahan baku yang digunakan
untuk membuat bahan jadi tetapi tidak terlihat kasat mata dan untraceable.

ACCT6173 – Managerial Accounting


Direct Labor adalah upah yang dikeluarkan/dibayarkan ke pekerja karena telah merubah
Direct Material menjadi Finish Goods. Upah yang dibayarkan tentunya adalah upah yang
dapat di traceable. Misalnya dalam membuat 1 kemeja dibutuhkan 3 jam tenaga kerja
langsung dengan tarif upah Rp 10.000/jam, sehingga 1 kemeja memerlukan Direct labor Rp
30.000. atau 1 roti membutuhkan 1 jam tenaga kerja langsung maka Upah Langsung yang
bisa ditrace ke 1 roti adalah Rp 10.000.

Manufacturing Overhead, yang masuk ke dalam manufacturing overhead adalah semua


biaya produksi yang bukan direct material atau direct labor. Manufacturing Overhead sendiri
ada 3 katagori yaitu:

1. Indirect Material contohnya lem, perasa kue


2. Indirect Labor contohnya gaji supervisor produksi atau upah melipat baju
3. Others contohnya semua biaya depresiasi, asuransi mesin,bangunan, pajak PBB

Nonmanufacturing cost
Non manufacturing cost terbagi menjadi 2 yaitu selling cost dan administrative cost.

Selling cost adalah semua cost yang terjadi untuk memproses order pelanggan, yang
termasuk selling cost adalah advertising,shipping,sales travel,sales commission,sales salaries
dan cost untuk memelihara finish goods digudang.
Administrative costs adalah semua cost yang terjadi dimanagement/dikantor, bukan yang
terjadi dipabrik/produksi. Contoh dari administrative costs adalah executive
compensation,general accounting,secretarial,public relation.
Nama lain dari Non manufacturing cost adalah biaya SGA Selling General Administrative.

3. Cost Classifications For Preparing Financial Statements


Cost juga bisa diklasifikasi menjadi product cost dan period cost. Untuk mengerti per
bedaaan antara product cost dan period cost kita harus mengerti prinsip matching dari
financial accounting. Biasa nya cost dianggap sebagai expense di Laporan Laba Rugi bila
cost tersebut mempunyai manfaat ditahun terjadinya pelaporan Laba Rugi.

ACCT6173 – Managerial Accounting


Misalnya perusahaan membayar premi asuransi dengan masa coverage 2 tahun sebesar Rp
20.000.00 pada tahun 2015. Maka ditahun 2015 di Laporan Laba rugi akan tercantum
insurance expense Rp 10.000.000 dan tahun 2016 akan terjadi insurance expense Rp
10.000.000. Insurance Expense Rp 10.000.000 adalah period cost. Prinsip mactching dari
financial accounting ini adalah accrual concept. Sedangkan product cost adalah semua cost
yang dikeluarkan untuk membuat Finish Goods yang nantinya akan dijual ke customers.

Product Cost
Yang termasuk dalam product cost adalah cost yang dikeluarkan untuk memproduksi barang
dagangan.sehingga cost yang termasuk dalam katagori ini adalah Direct Material,Direct
Labor dan Manufacturing Overhead. Product cost tetap melekat pada barang dagangan
sampai barang tersebut berpindah tangan ke customer. Pada saat produk tersebut terjual maka
timbullah Cost of Goods Sold. Cost of Goods Sold merupakan biaya bagi perusahaan dan
Cost of Goods Sold akan dimatchingkan dengan Revenue.

Period Cost
Yang termasuk dalam period cost adalah cost yang yang tidak melekat diproduk. Period cost
diexpense-kan pada saat terjadinya expense tersebut,diexpensekan pada saat perusahaan
mendapat manfaat, tapi harus berhati-hati karena jumlah yang diexpensekan mungkin tidak
sama jumlahnya dengan cash yang keluar seperti contoh diatas mengenai insurance expense.

Prime Cost dan Conversion Cost


Didalam manufacturing cost ada 2 katagori cost yaitu Prime Cost dan Conversion Cost.
Prime Cost = Direct material + Direct Labor
Conversion Cost = Direct Labor + Manufacturing Overhead Cost

Prime Cost adalah cost yang harus ADA didalam setiap produk karena ditiap produk
memerlukan bahan baku dan tenaga yang merubah bahan mentah menjadi produk jadi.
Conversion Cost adalah biaya yang digunakan untuk merubah bahan mentah menjadi
produk jadi dimana perusahaan tentukan membayar upah tenaga kerja untuk merubah status
bahan dan bantuan dari Overhead Cost untuk menyempurnakan produk tersebut.

ACCT6173 – Managerial Accounting


4.Cost Classification on Financial Statements
Laporan yang masuk dalam Financial Statements adalah Statement of Financial Position(or
Balance Sheets atau Neraca), Income Statements ( Laporan Laba Rugi), Statement of Retain
Earning (Laporan Perubahan Modal) dan Statement of Cash Flow (Laporan Arus Kas).
Tetapi di managerial accounting ini lebih ditekankan ke Laporan Laba Rugi dan
Neraca.Karena struktur Laporan Laba Rugi diperusahaan manufacture lebih komplek
ketimbang perusahaan dagang ataupun jasa. Format dari Laporan Laba Rugi adalah Revenue
minus Expenses. Dimana expenses di manufacture akan terbagi menjadi product cost dan
period cost. Dan Product cost tersebut tercermin dalam Cost of Good Sold (Harga Pokok
Penjualan).

Statement of Financial Position (or Balance Sheets atau Neraca)


Untuk perusahaan manufaktur inventorynya terbagi menjadi 3 item yaitu:
1. Raw material/Direct material yaitu semua bahan mentah
2. Work In Process yaitu bahan setengah jadi, bahan mentah yang telahg dikonversi
tetapi belum siap untuk dikirim ke pelanggan
3. Finish Goods yaitu barang mentah yang telah selesai dikonversi dan siap untuk
dikirim ke pelanggan.

Income Statement
Dalam Income Statement ini garis besarnya adalah :
Sales - Expenses = Profit
Sales – Cost of Goods Sold – Period Cost = Profit

Dimana Alur Cost of Goods Sold adalah sebagai berikut :


Beginning Direct Material + Purchases – Ending Direct Material = Direct Material
Used in production.

ACCT6173 – Managerial Accounting


Kemudian,
Direct Material Used in production +Direct Labor yang terjadi di periode tersebut +
Manufacturing Overhead Cost + Work in Process awal - Work in Process akhir = Cost
of Good Manufacturing.
Kemudian,
Cost of Good Manufacturing + Finish Goods awal - Finish Goods akhir = Cost of Goods
Sold.
Memang terlihat sedikit susah dengan formula untuk menghitung Cost of Goods Sold karena
melibatkan beberapa langkah, tetapi dengan latihan beberapa kali maka format tersebut dapat
dihapal diluar kepala.
Setelah kita mendapat angka Cost of Goods Sold maka tinggal dikurangkan dengan Period
Cost (SGA expenses).

5.Product Cost Flows


Product Cost flow tercermin dalam Exhibit 2-6 diatas. Nama lain dari Product Cost adalah
Inventoriable Costs. Karena semua cost tersimpan dalam Work In Process dan Finish Goods,
dan terus ada sampai barang tersebut terjual/keluar dari gudang. Sehingga product cost ini
stays di neraca.

6.Cost Classifications for Predicting Cost Behavior


Cost Behavior adalah bagaimana jumlah cost berubah karena perubahan aktifitas. Cost
behavior ini terbagi atas variable cost dan fixed cost.

Variable Cost adalah cost yang bertambah seiring penambahan aktifitas. Aktifitas ini dapat
diekspresikan dalam unit produksi, unit terjual, miles yang dijalani,kamar tidur yang
terjual,jumlah jam yang digunakan dsb.

ACCT6173 – Managerial Accounting


Misalnya 1 unit kue memerlukan 1kg tepung dengan harga Rp 10.000/kg, maka variable cost
untuk 1 kue adalah Rp 10.000, maka bila perusahaan memproduksi 50 kue maka total
variabel costnya menjadi Rp 500.000. variable cost per unit selalu tetap dan dalam total selalu
berubah ubah sesuai tingkat aktifitasnya.

Fixed Cost adalah cost yang selalu tetap dalam rentang yang relevan, penambahan aktifitas
dalam rentang yang relevan tidak akan menambah fixed cost. Fixed cost per unit berubah-
ubah dan secara total selalu tetap.Misalnya biaya sewa mesin fotokopi Rp 10.000.000/bulan
tidak memandang berapa lembar yang digunakan untuk membuat fotokopi, tentunya bila
jumlah yang difotokopi semakin banyak maka fixed cost per unitnya akan makin murah.
Misalnya kembali ke contoh diatas bila selama sebulan kios tersebut dapat memfotokopi
100.000.000 lembar kertas maka fixed cost per lembarnya menjadi Rp 0.1 dan bila hanya
memfotokopi 1.000.000 lembar maka fixed cost per lembar menjadi Rp 10.

7.Cost Classifications for Assigning Cost to Cost Objects


Cost dibebankan ke cost object untuk berbagai macam tujuan termasuk pricing,menghitung
profit dan menkontrol pengeluaran. Untuk tujuan ini cost terbagi atas Direct Cost dan
Indirect Cost.

Direct Cost adalah cost yang gampang ditelusuri ke obyek barangnya dan gampang dihitung
penggunaannya misalnya 1 kemeja membutuhkan 1m kain maka 20 kemeja mempunyai
direct cost yang berupa material sebanyak 20m dan 20 meter ini gampang dihitung biayanya.

Indirect Cost adalah cost yang tidak gampang ditelusuri ke obyek barangnya dan tidak
gampang dihitung penggunaannya misalnya Gaji manager pabrik di perusahaan makanan
yang memproduksi beberapa jenis makanan. Sangat sulit untuk menghitung gaji yang harus
dibebankan ke tiap jenis makanan. Nama lain dari indirect cost adalah common cost.
Bila kita menghadapi ketidak pastian katagori biaya apakah akan digolongkan menjadi direct
cost atau indirect cost maka gunakan materialitas.

ACCT6173 – Managerial Accounting


Materialitas adalah apakah jumlah tersebut signifikan atau tidak. Misalnya jumlah total biaya
adalah Rp 1.000 maka Rp 1 dianggap tidak material tetapi jumlah Rp 100 dianggap material.
Ada beberapa panduan yang bisa digunakan untuk memastikan apakah cost ini masuk ke
direct cost atau indirect cost adalah:
1. Identifikasi cost object
2. Apakah point no 1 tersebut gampang ditelusuri secara langsung atau susah
ditelusurinya
3. Analisa cost dan benefitnya, gunakan konsep materialitas

8.Cost Classifications for Decision Making


Dalam membuat keputusan, sangat penting mengerti cost yang masuk dalam katagori
differential cost, opportunity cost dan sunk cost.

Differential Cost dan Revenue


Dari beberapa alternative yang tersedia harus menentukan keputusan. Cost dan benefit dari
tiap alternative harus dibandingkan tetapi yang diambil harus yang menguntungkan
perusahaan. Differential cost bisa variable cost ataupun fixed cost. Cost yang berbeda dari
berbagai alternative disebut differential cost. Revenue yang berbeda dari berbagai alternative
disebut differential revenue.

Opportunity Cost adalah pilihan yang diambil dan kehilangan kesempatan atas pilihan yang
tidak diambil. Misalnya pilihan adalah A atau B. maka bila memilih A maka tidak bisa
mengambil B demikian juga sebaliknya, bila mengambil B maka tidak bisa mengambil A.
contoh yang lazim adalah bila perusahaan menghentikan produk A maka luas lantai yang
dipakai untuk memproduksi A dapat digunakan untuk memperluas produksi barang B atau
menyewakan lantai tersebut ke orang lain dan mendapat biaya sewa. Maka opportunity cost
adalah menggunakan sendiri atau menyewakan ke orang lain.

ACCT6173 – Managerial Accounting


Sunk Cost adalah biaya yang sudah terjadi dan tidak dapat diubah lagi dan tidak relevan
dalam membuat keputusan. Misalnya 4 tahun yang lalu PT CDE membeli mesin seharga Rp
100juta, maka uang yang dikeluarkan untuk membeli mesin 4 tahun yang lalu tidak relevan
lagi dalam membuat keputusan.

ACCT6173 – Managerial Accounting


SIMPULAN

Manager menggunakan managerial accounting untuk melaporkan perencanaan dan


pengawasan. Tidak seperti laporan yang digunakan financial accounting, managerial
accountant tidak perlu mengikuti peraturan IFRS, GAAP ataupun PSAK. Secara umum
managerial accounting lebih menekankan ke masa depan dan relevansi, tidak perlu terlalu
presisi dan focus ke segmen/departemen yang ada diperusahaan. Presisi disini dimaksudkan
adalah tidak harus tepat 100% karena managerial accounting banyak menggunakan forecast
dan asumsi dalam menghitung datanya misalnya dalam merencanakan anggaran tahun depan.
Manager harus dapat mengklasifikasikan cost berdasarkan penggunaannya-menyiapkan
laporan external, memprediksi cost behavior, membebankan cost ke cost object atau
membuat keputusan-akan menentukan bagaimana cost diklasifikasikan.

Untuk tujuan menghitung inventory dan menentukan expense di Neraca dan Laporan Laba
Rugi, cost diklasifikasikan perdasarkan product cost atau period cost.
Untuk memprediksi bagaimana cost akan berubah seiring perubahan aktifitas,cost terbagi atas
variable cost dan fixed cost.
Untuk tujuan membebankan cost ke cost object maka digunakan direct cost atau indirect cost
Untuk tujuan membuat keputusan, cost terbagi atas differential cost and revenue, opportunity
cost dan sunk cost

Administrative cost = semua cost yang berhubungan dengan top management yang terjadi di
struktur organisasi,semua clerical cost yang terjadi dikantor administrasi.
Common cost = cost yang tidak dapat ditelusuri ke cost objectnya misalnya gaji pilot yang
menerbangkan pesawat selama 1 hari,misalnya si pilot tersebut menerbangkan 5 penerbangan
dalam sehari, sangat susah menghitung alokasi gaji pilot per penumpang selama 1 hari
tersebut.

ACCT6173 – Managerial Accounting


Cost of Goods Manufacture = biaya produksi yang terjadi selama periode tersebut atas barang
jadi.
Finish Goods = barang jadi, barang yang sudah selesai diproduksi dan siap diantar ke
pemesan atau pembeli.

Inventoriable Cost = Product Cost


Relevant Range = rentang yang relevan, batas atas,batas maximum. Misalnya rentang relevan
dari 100.000 KWH adalah Rp 50.000.000 maka 100.000 KWH adalah maximal KWH yang
dimiliki perusahaan. Bila perusahaan menginginkan lebih 150.000 KWH maka rentang
relevant Rp 50juta tersebut akan berubah.

ACCT6173 – Managerial Accounting


DAFTAR PUSTAKA

1. Garrison, Ray, Eric Noreen,Peter Brewer,Nam Sang Chrng,Katherine


C.K.Yuen,(2015), Managerial Accounting Asia Global Edition, 2th edition,McGraw
Hill Education, New York, chapter 2

ACCT6173 – Managerial Accounting