Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH POLA BENTUK PERSEBARAN PEMUKIMAN

GEOGRAFI SOSIAL

(Dosen Pengampu Dra.Rosni,M.Pd )

DISUSUN OLEH :KELOMPOK 1

-BAYHAQI AHMAD

-DINA DEBORA SIBARANI

-NURUL FADILAH

-M.DYIA ULHAQ

KELAS: GEOGRAFI D 2018

PROGRAM STUDI : PENIDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan rahmatnya penulis bisa menyelesaikan Makalah Geografi sosial

Penyusunan Makalah ini penulis menyadari bahwa kelancaran penulisan Makalah adalah
berkat bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan
terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam kelancaran penulisan Makalah ini.

Dalam penulisan Makalah ini, penulis telah berusaha menyajikan yang terbaik. Penulis
berharap semoga Makalah ini dapat memberikan informasi serta mempunyai nilai manfaat bagi
semua pihak.

Medan, April 2019


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i

DAFTAR ISI ................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1

1. Latar Belakang ................................................................................. 1


2. Rumusan Masalah ............................................................................ 2
3. Tujuan Penulisan............................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................... 3
1. Pengertian Pola Permukiman.......................................................... 3
2. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi ............................................. 6
3. Pola Pemukiman Penduduk............................................................. 9
4. Analisis Pola Pemukiman................................................................. 11
5. Variasi Pola Permukiman................................................................. 12
BAB III PENUTUP....................................................................................... 14
1. Kesimpulan........................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 15

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pemukiman adalah suatu tempat dimana penduduk atau masyarakat bertempat tinggal dan melakukan
kegiatan/aktivitas sehari – hari, dimana tempat tinggal tersebut terkonsentrasi sehingga membentuk
sebuah pola pemukiman. Sedangkan pengertian pola pemukiman penduduk adalah bentuk dari persebaran
tempat tinggal atau bermukimnya penduduk yang dipengaruhi oleh faktor – faktor geografis.

Permukiman merupakan suatu kebutuhan pokok yang sangat penting dalam kehidupan
manusia. Dari deretan lima kebutuhan hidup manusia pangan, sandang, permukiman, pendidikan
dan kesehatan, nampak bahwa permukiman menempati posisi yang sentral, dengan demikian
peningkatan permukiman akan meningkatkan pula kualitas hidup.
Saat ini manusia bermukim bukan sekedar sebagai tempat berteduh, namun lebih dari itu
mencakup rumah dan segala fasilitasnya seperti persediaan air minum, penerangan, transportasi,
pendidikan, kesehatan dan lainnya

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Apa Pengertian Pola Permukiman …
2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan masalah kependudukan tersebut?

3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan dari makalah ini adalah:
1. Pengertian Dari Pola Permukiman
2. Mengetahui Analisis Pola Pemukiman
3. Mengetahui Pola Pemukiman Penduduk
4. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan masalah kependudukan tersebut.ui

BAB II
PEMBAHASAN

1.Pengertian Pola Permukiman

Pengertian pola permukiman dan persebaran (dispersion) permukiman mempunyai


hubungan yang erat. Persebaran permukiman membicarakan hal dimana terdapat permukiman
dan dimana tidak terdapat permukiman di suatu daerah permukiman. Dengan kata lain
persebaran permukiman berbicara tentang lokasi permukiman. Disamping itu juga membahas
cara terjadinya persebaran permukiman, serta fakto-faktor yang berpengaruh terhadap persebaran
tersebut- Pola permukiman membicarakan sifat dari persebaran permukiman tersebut. Dengan
kata lain pola permukiman secara umum merupakan susunan sifat persebaran permukiman dan
sifat hubungan antara faktor-fektor yang menentukan terjadinya sifat persebaran permukiman
tersebut.
Pengertian pola, permukiman di atas berbeda dengan pengertian pola pemukiman yang banyak
menyangkut tentang berbagai tipe atau corak cara memindahkan penduduk dari daerah satu ke
daerah lain. Sebagai contoh nyata adalah program transmigrasi, yang kegiatannya mencakup
proses pemindahan dari permukiman asal ke permukiman baru. Dalam cara memindahkan
penduduk tersebut menggunakan berbagai cara yang akan membentuk pola-pola tertentu.
Beberapa buku acuan hasil penulisan mengenai pokok-pokok pemukiman membahas tentang
pola-pola pemukiman di negara-negara Asia Tenggara, yang membicarakan cara-cara pemin-
dahan penduduk, tipe-tipe pelaksanaan, kebijakan pemerintah dalam kaitannya dengan kebijakan
cara tersebut (McAndrews, 1984).

Pembicaraan pola pemukiman mempunyai pokok pembahasan yang berbeda dari pokok
pembahasan pola permukiman.

Namun demikian, terdapat kesamaan, yakni obyeknya tempat tinggal dan penduduk. Sesuai dengan
tujuan pembahasan uraian selanjutnya ditekankan pada pola persebaran permukiman, dengan
beberapa variasinya, serta beberapa faktor yang menentukan. Pola persebaran permukiman
membahas sifat persebaran kelompok permukiman sebagai satu satuan (unit) permukiman, juga
dapat dibedakan menjadi dua kategori.  

Tinjauan pola persebaran permukiman dari aspek bentuk persebaran kelompok permukiman,
sehingga dapat dibedakan pola persebaran kelompok permukiman memanjang pola persebaran
kelompok permukiman melingkar, pola persebaran kelompok permukiman sejajar, pola persebaran
kelompok permukiman bujur sangkar, pola persebaran kelompok permukiman kubus. Setiap
kategori pola, persebaran kelompok permukiman masih dapat diturunkan lagi ke sub kategori Iebih
rinci. Tinjauan pola persebaran kelompok permukiman dari aspek sifat persebaran dari kelompok-
kelompok permukiman, sehingga dapat dibedakan pola persebaran kelompok permukiman
menyebar, dan pola persebaran kelompok permukiman memusat atau mengelompok. Setiap
kategori pola persebaran kelompok permukiman tersebut juga masih dapat diturunkan lagi ke sub
kategori lebih rinci.
2. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pola Pemukiman Penduduk

Seperti yang telah dikatakan bahwa faktor yang mempengaruhi pola pemukiman penduduk
adalah berupa faktor geografis dari pemukiman tersebut, dimana secara umum faktor – faktor
tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sumber daya air Air adalah penunjang kehidupan yang paling utama untuk memenuhi
kebutuhan hidup manusia. Sehingga, orang – orang pasti lebih memilih untuk bermukim di
daerah yang terdapat banyak sumber daya air seperti mata air, sungai, danau dan atau pun laut
dibandingkan daerah yang sulit sumber daya air.

2. Relief Relief adalah tinggi rendahnya bentuk permukaan bumi. Mengapa relief
mempengaruhi pola pemukiman penduduk? Dikarenakan hal ini mempengaruhi keinginan
penduduk untuk bermukim. Semakin tinggi suatu daerah, semakin curam lereng, dataran tinggi
atau daerah pegunungan biasanya semakin sedikit orang – orang yang akan bermukim disana,
dikarenakan sulit air, susahnya aksesibilitas baik transportasi dan jaringan listrik dsb.

Orang – orang lebih cenderung tinggal di daerah dataran rendah, karena cenderung relatif aman,
morfologinya datar dibandingkan di daerah yang memiliki lereng curam.

3. Keadaan iklim Suhu udara, curah hujan, intensitas penyinaran matahari, kelembaban dsb di
setiap daerah akan berbeda – beda. Bersamaan dengan faktor relief, hal ini juga akan
mempengaruhi tingkat kesuburan tanah dan kondisi alam daerah tersebut.

4. Keadaan ekonomi Keadaan ekonomi berhubungan dengan berbagai fasilitas, sarana dan
prasarana yang tersedia, aksesibilitas, jaringan listrik, dsb. Sehingga, semakin baik keadaan
ekonomi suatu daerah cenderung semakin banyak orang – orang yang ingin bermukim di daerah
tersebut. Karena ini berhubungan dengan kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan hidup.
5. Kultur penduduk Menurut Ari Sudewa (2010) Pola permukiman penduduk sangat bergantung
pada kemajuan dan kebutuhan penduduk itu sendiri. Jika penduduk itu masih tradisional, pola
permukimannya akan cenderung terisolir dari permukiman lain. Permukiman di daerah tersebut
hanya diperuntukkan bagi mereka yang masih anggota suku atau yang masih berhubungan darah.
Contohnya adalah suku Baduy dalam yang terisolir dan belum dipengaruhi oleh budaya luar dan
teguh dalam memegang tradisinya, berbeda dengan suku Baduy luar yang sudah mulai berbaur
dengan masyarakat sekitar “non Baduy” dan sudah mulai mengenal teknologi seperti televisi dan
telepon genggam.

3. POLA PEMUKIMAN PENDUDUK

Secara umum, pola pemukiman penduduk terbagi menjadi tiga, yakni :

A.Pola Pemukiman Memanjang (linear)

Pola pemukiman ini memeiliki ciri – ciri yakni deret memanjang mengikuti suatu jalur
seperti jalan, sungai, rel kereta api, atau pantai.

Pola pemukiman memanjang memiliki ciri pemukiman berupa deretan memanjang karena
mengikuti jalan, sungai, rel kereta api atau pantai.

1. Mengikuti Jalan

Pada daerah ini pemukiman berada di sebelah kanan kiri jalan. Umumnya pola pemukiman
seperti ini banyak terdapat di dataran rendah yang morfologinya landai sehingga memudahkan
pembangunan jalan-jalan di pemukiman. Namun pola ini sebenarnya terbentuk secara alami
untuk mendekati sarana transportasi

2. Mengikuti rel kereta api

Pada daerah ini pemukiman berada di sebelah kanan kiri rel kereta api. Umumnya pola
pemukiman seperti ini banyak terdapat di daerah perkotaan terutama di DKI Jakarta dan atau
daerah padat penduduknya yang dilalui rel kereta api.

3. Mengikuti Alur Sungai

Pada daerah ini pemukiman terbentuk memanjang mengikuti aliran sungai. Biasanya pola
pemukiman ini terdapat di daerah pedalaman yang memiliki sungai-sungai besar. Sungai-sungai
tersebut memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan penduduk.
4. Mengikuti Garis Pantai

Daerah pantai pada umumnya merupakan pemukiman penduduk yang bermata pencaharian
nelayan. Pada daerah ini pemukiman terbentuk memanjang mengikuti garis pantai. Hal itu untuk
memudahkan penduduk dalam melakukan kegiatan ekonomi yaitu mencari ikan ke laut.

B. Pola Pemukiman Terpusat

Pola pemukiman ini mengelompok membentuk unit-unit yang kecil dan menyebar, umumnya
terdapat di daerah pegunungan atau daerah dataran tinggi yang berelief kasar, dan terkadang
daerahnya terisolir. Di daerah pegunungan pola pemukiman memusat mengitari mata air dan
tanah yang subur. Sedangkan daerah pertambangan di pedalaman pemukiman memusat
mendekati lokasi pertambangan. Penduduk yang tinggal di pemukiman terpusat biasanya masih
memiliki hubungan kekerabatan dan hubungan dalam pekerjaan. Pola pemukiman ini sengaja
dibuat untuk mempermudah komunikasi antarkeluarga atau antarteman bekerja.
C. Pola Pemukiman Tersebar

Pola pemukiman tersebar terdapat di daerah dataran tinggi atau daerah gunung api dan daerah-
daerah yang kurang subur. Pada daerah dataran tinggi atau daerah gunung api penduduk akan
mendirikan pemukiman secara tersebar karena mencari daerah yang tidak terjal, morfologinya
rata dan relatif aman. Sedangkan pada daerah kapur pemukiman penduduk akan tersebar mencari
daerah yang memiliki kondisi air yang baik. Mata pencaharian penduduk pada pola pemukiman
ini sebagian besar dalam bidang pertanian, ladang, perkebunan dan peternakan

4. ANALISIS POLA PEMUKIMAN

1. Pola Pemukiman Memanjang

a. Memanjang sepanjang jalan Pola pemukiman sepanjang jalan biasanya cenderung


dikarenakan oleh aksesibilitas dalam kemudahan transportasi. Morfologi daerahnya landai dan
atau datar. Selain itu kemudahan untuk menjangkau akses sarana dan prasarana seperti
pertokoan, sekolah, terminal dan lain – lain.
b. Memanjang sepanjang alur sungai Pola pemukiman sepanjang alur sungai biasanya
dikarenakan kebutuhan manusia akan sumber daya air. Karena fungsi sungai itu sendiri adalah
pemenuhan kebutuhan manusia seperti masak, mencuci, bahkan sebagai sarana transportasi.
Contohnya saja pemukiman di sepanjang Sungai Musi, Palembang dan Sungai Barito di
Banjarmasin. Sungai berfungsi sebagai sarana transportasi dan kegiatan ekonomi penduduk.
Sungai Barito berfungsi sebagai pasar terapung, dan untuk menyebrang dari tepi sungai ke tepi
sungai yang lain. Sedangkan Sungai Musi di Palembang, sungai difungsikan sebagai tempat
pariwisata seperti tempat perlombaan mendayung, restoran terapung, dan pada saat jaman
Kerajaan Sriwijaya dulu Sungai Musi dijadikan pelabuhan untuk kapal – kapal saudagar.
Sehingga menarik orang – orang untuk bermukim di sepanjang alur sungai.

3. Pola Pemukiman Memusat

Pola pemukiman memusat dikarenakan penduduk bermukim di daerah dataran tinggi,


pegunungan atau daerah pertambangan dan cenderung memusat itu dikarenakan terdapat
sumber daya air seperti mata air atau danau. Sedangkan daerah pertambangan itu memusat
karena mereka mereka bermukim atas dasar kepentingan pekerjaan. Sehingga pola yang
terjadi adalah berbentuk konsentris. Contohnya yakni pemukiman yang berada di Dataran
Tinggi Dieng, Wonosobo.

4. Pola Pemukiman Menyebar


Pola pemukiman ini hampir sama dengan memusat, yakni berada di daerah datarann
tinggi, pegunungan atau daerah yang kurang subur seperti di pegunungan kapur. Pada
daerah dataran tinggi dan atau pegunungan, penduduk akan mencari daerah yang
cenderung agak lebih landai daripada yang berlereng curam dan menghindari tebing –
tebing karena takut longsor dan tempat yang lebih landai dianggap lebih aman. Sedangkan
untuk pegunungan kapur, mereka bermukim secara menyebar karena mencari sumber –
sumber air. Karena seperti yang kita ketahu bahwa pegunungan kapur itu merupakan
daerah susah air. Karena air tersimpan di gua – gua kapur di dala tanah atau sungai –
sungai dalam tanah.
5.Variasi Pola Permukiman
Persebaran permukiman bersifat menentukan terhadap keanekaan pola permukiman.
Persebaran dari aspek kepadatan bervariasi (jumlah luas permukiman dibagi jumlah luas wilayah
dimana permukiman itu berada) dari sangat jarang hingga satu dilihat dari segi dispersi, padat.
Tinjauan lain dapat dilihat dari segi keteraturan persebaran, yakni teratur, dan tidak teratur.
Beberapa pendapat tentang variasi pola permukiman dari pelbagai penulis dapat ditunjukkan
sebagai berikut.
Hudson (1970) membedakan secara garis besar antara  pola permukiman mengelompok,
dengan pola permukiman menyebar. Pola persebaran permukiman mengelompok tersusun dari
dusun-dusun atau bangunan-bangunan rumah yang lebih kompak dengan jarak tertentu,
sedangkan pola persebaran permukiman menyebar terdiri dari dusun-dusun dan atau bangunan-
bangunan rumah yang tersebar dengan jarak tidaktertentu. Thorpe (1964) mengemukakan bahwa
konsep dasar pola permukiman hanya terdapat dua tipe yang berbeda yang mendasarkan pada
kenampakan yang bervariasi dari sangat tegas, yakni tipe pola memusat dengan tipe pola
menyebar. Namun, dalam penjelasannya, bahwa perbedaan pola permukiman tersebut hanya
dapat dipergunakan untuk pengelompokkan bangunan rumah sebagai permukiman atau tempat
tinggal.
Pembagian pola permukiman menjadi dua seperti itu juga dikemukakan oleh Van der Zee
(1979) yang membedakan antara pola permukiman tersebar, dengan pola permukiman
mengelompok. Namun, dibedakan pula antar pola permukiman tunggal, dengan pola
permukiman ganda yang mengelompok Dijelaskan bahwa pembahasan pola permukiman itu
tidak dapat dilepaskan dari pembahasan persebaran permukiman serta letak dan situasinya.
Pembagian pola tersebut, ternyata sedikit berbeda dari pembedaan pola permukiman yang
dikemukakan Singh (1969) menggunakan istilah tipe permukiman. Atas dasar persebarannya
permukiman dibedakan menjadi tiga tipe atau pola, yaitu 1) pola permukiman mengelompok, 2)
permukiman semi mengelompok, dan pola permukiman menyebar.
Sebenarnya, variasi pola permukiman tersebut di etas, pada dasarnya sama dalam
memberikan klasifikasi, hanya saja mereka belum memberikan kelas-kelas pola permukiman
secara konkrit batas-batasnya Pembedaan pola tersebut oleh Bunce (1982) dianggap tidak kuat
atau kurang meyakinkan, karena pada jarak bangunan rumah seberapa untuk pola permukiman
yang mengelompok, dan jarak antar bangunan seberapa untuk pola menyebar. Hal ini sangat
beralasan, mengingat hingga seat itu belum ada kesepakatan tentang jarak minimum antar
bangunan rumah untuk pola permukiman menyebar ataupun mengelompok, sehingga tidak dapat
digunakan untukanalisis.
Hal di atas menimbulkan ketidakpuasan bagi pakar-pakar yang akan mengaplikasikan.
Haggett (1970) mengemukakan "ketidakpuasan orang membincangkan pola permukiman secara
deskriptip, menimbulkan gagasan untuk membincangkannya secara. kualitatif".
Dengan pertimbangan untuk tujuan pembahasan pola permukiman secara kuantitatif
tersebut Haggett membedakan pola permukiman menjadi tiga:
a.    uniform (seragam)
b.    random (acak)
c.    clustered (mengelompok).
KESIMPULAN

Pengertian pola permukiman dan persebaran (dispersion) permukiman mempunyai


hubungan yang erat. Persebaran permukiman membicarakan hal dimana terdapat permukiman
dan dimana tidak terdapat permukiman di suatu daerah permukiman. Dengan kata lain
persebaran permukiman berbicara tentang lokasi permukiman. Disamping itu juga membahas
cara terjadinya persebaran permukiman, serta fakto-faktor yang berpengaruh terhadap persebaran
tersebut- Pola permukiman membicarakan sifat dari persebaran permukiman tersebut. Dengan
kata lain pola permukiman secara umum merupakan susunan sifat persebaran permukiman dan
sifat hubungan antara faktor-fektor yang menentukan terjadinya sifat persebaran permukiman
tersebut.
Pengertian pola, permukiman di atas berbeda dengan pengertian pola pemukiman yang
banyak menyangkut tentang berbagai tipe atau corak cara memindahkan penduduk dari daerah
satu ke daerah lain. Sebagai contoh nyata adalah program transmigrasi, yang kegiatannya
mencakup proses pemindahan dari permukiman asal ke permukiman baru. Dalam cara
memindahkan penduduk tersebut menggunakan berbagai cara yang akan membentuk pola-pola
tertentu. Beberapa buku acuan hasil penulisan mengenai pokok-pokok pemukiman membahas
tentang pola-pola pemukiman di negara-negara Asia Tenggara, yang membicarakan cara-cara
pemindahan penduduk, tipe-tipe pelaksanaan, kebijakan pemerintah dalam kaitannya dengan
kebijakan cara tersebut (McAndrews, 1984). Pembicaraan pola pemukiman mempunyai pokok
pembahasan yang berbeda dari pokok pembahasan pola permukiman. Namun demikian, terdapat
kesamaan, yakni obyeknya tempat tinggal dan penduduk. Sesuai dengan tujuan pembahasan
uraian selanjutnya ditekankan pada pola persebaran permukiman, dengan beberapa
variasinya, serta beberapa faktor yang menentukan.
DAFTAR PUSTAKA

http://jembatan4.blogspot.com/2013/08/pola-permukiman.html
file:///C:/Users/HP/Downloads/Aulia_Nofrianti_1202483_Pola_Pemukiman_P.pdf

Anda mungkin juga menyukai