Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FARMASETIKA DASAR


PERTEMUAN SEDIAAN III
“SEMI SOLID”

Disusun oleh :
Nama :
Fadilla mubakkira s.nao
NIM :
1911102415020
Tgl. Praktikum :
21 Desember 2019
Kel. Praktikum : F
Dosen Pengampu : Muthia Dewi M A S.farm.,M.farm Apt

LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR
SAMARINDA
2019/2020

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 JUDUL
Perhitungan pembuatan semi solid (salep dan pasta)
1.2 TUJUAN
a. Mampu membaca dan memahami resep.
b. Mampu menghitung dosis dalam resep dengan benar.
c. Mampu membuat sediaan salep dan pasta dengan baik dan benar
sesuai dengan resep yang diberikan.
d. Mampu menulis etiket (pemakaian dalam / luar), salinan resep dan
memberikan informasi obat dengan benar.

1. BAB II
DASAR TEORI
Semi solid : adalah sediaan setengah padat yang dibuat untuk tujuan
pengobatan molekul kulit. Untuk mengembangkan bentuk sediaan semisolid
yang baik harus diperhatikan beberapa faktor antara lain : struktur, berat
molekul, dan konsenstrasi obat yang melalui kulit, jumlah obat yang dilepaskan
dari pembawa pada permukaan kulit, jumlah obat yang terdifusi melalui stratum
korneum, stabilitas fisika kimia sediaan selama penyimpanan dan penerimaan
pasien terhadap formula yang dibuat.
1. Salep
A. Definisi Salep
Salep (Unguenta) adalah sediaan setengah padat yang mudah
dioleskan dan digunakan sebagai obat luar, bahan obatnya harus larut
atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok (F.I. ed.III ).
Menurut Farmakope edisi IV sediaan setengah padat ditujukan untuk
pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Menurut Formularium
Nasional salep adalah sediaan berupa masa lembek, mudah dioleskan,
umumnya lembek dan mengandung obat, digunakan sebagai obat luar
untuk melindungi atau melemaskan kulit, tidak berbau tengik. Salep tidak
boleh berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam

2
salep yang mengandung obat keras atau narkotik adalah 10%
(Anief,2005)

B. Jenis jenis dan contoh Salep


Penggolongan Salep :
a. Menurut Konsistensinya salep dapat dibagi:
1) Unguenta adalah salep yang mempunyai konsistensinya seperti
mentega, tidak mencair pada suhu biasa, tetapi mudah dioleskan
tanpa memakai tenaga.
2) Cream (krim) adalah salep yang banyak mengandung air, mudah
diserap kulit, suatu tipe yang dapat dicuci dengan air.
3) Pasta adalah salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat
(serbuk), suatu salep tebal karena merupakan penutup atau
pelindung bagian kulit yang diberi.
4) Cerata adalah salep lemak yang mengandung presentase lilin (wax)
yang tinggi sehingga konsistensinya lebih keras (ceratum labiale).
5) Gelones Spumae (Jelly) adalah salep yang lebih halus, umumnya
cair dan sedikit mengandung sedikit atau tanpa lilin digunakan
terutama pada membran mukosa sebagai pelicin atau basis.
Biasanya terdiri atas campuran sederhana dari minyak dan lemak
dengan titik lebur rendah. Contoh: starch jellies (10% amilum
dengan air mendidih).
b. Menurut sifat farmakologi/terapeutik dan penetrasinya, salep dapat
dibagi:
1) Salep Epidermis (Salep Penutup)
Digunakan untuk melindungi kulit dan menghasilkan efek lokal,
tidak diabsorpsi, kadang-kadang ditambahkan antiseptik
anstrigensia untuk meredakan rangsangan atau anasteti lokal. Dasar
salep yang baik adalah dasar salep senyawa hidrokarbon (vaselin)
2) Salep Endodermis
Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam kulit, tetapi tidak
melalui kulit, terabsorpsi sebagian, digunakan untuk melunakkan

3
kulit atau selaput lendir. Dasar salep yang terbaik adalah minyak
lemak.
3) Salep Diadermis (Salep Serap)
Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam tubuh melalui
kulit dan mencapai efek yang diinginkan, misalnya pada salep yang
mengandung senyawa Merkuri Iodida, Belladonnae. Dasar salep
yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao.
c. Menurut dasar salepnya :
Salep dapat dibagi:
1) Salep hydrophobic yaitu salep-salep dengan bahan dasar berlemak,
misalnya: campuran dari lemak-lemak, minyak lemak, malam yang
tak tercuci dengan air.
2) Salep hydrophilic yaitu salep yang kuat menarik air, biasanya dasar
salep tipe o/w atau seperti dasar hydrophobic tetapi konsistensinya
lebih lembek, kemungkinan juga tipe w/o antara lain campuran
sterol dan petrolatum.

C. Persyaratan Salep
1. Pemerian : Tidak boleh berbau tengik
2. Kadar : Kecuali dinyatakan lain, sebagai bahan dasar salep
(basis salep) yang digunakan vaselin putih (vaselin
album) tergantung dari sifat bahan obat, dapat dipilih
beberapa bahan dasar salep sebagai berikut :
 Dasar salep Hidrokarbon : Vaselin putih, vaselin kuning,
malam putih atau malam kuning atau campurannya.
 Dasar salep serap : lemak bulu domba campuran 3
bagian kolestrol dan 3 bagian staeril alcohol, campuran 8
bagian malam putih dan 8 bagian vaselin putih.
 Dasar salep yang dapat larut dalam air.
 Dasar salep yang dapat dicuci dengan air.
3. Homogenitas : Jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan
transparan lain yang cocok harus menunjukkan susunan

4
yang homogen.
4. Penandaan : etiket harus tertera “Obat Luar “

D. Keuntungan dan Kekurangan Salep


 Keuntungan
Adapun keuntungan menggunakan sediaan salep adalah :
1) Sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit.
2) Sebagai bahan pelumas pada kulit.
3) Sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak
permukaankulit dengan larutan berair dan rangsang kulit.
4) Sebagai obat luar
 Kekurangan
Di samping kelebihan tersebut, ada kekurangan berdasarkan basis
diantaranya yaitu :
1) Kekurangan basis hidrokarbon sifatnya yang berminyak dapat
meninggalkan noda pada pakaianserta sulit tercuci hingga sulit di
bersihkan dari permukaan kulit.
2) Kekurangan basis absorpsi :Kurang tepat bila di pakai sebagai
pendukung bahan bahanantibiotik dan bahan bahan kurang stabil
dengan adanya air Mempunyai sifat hidrofil atau dapat mengikat
air.

2. Pasta
A. Definisi Pasta
Pasta adalah salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat serbuk.
Karena merupakan Salep yang tebal, keras dan tidak meleleh pada suhu
badan maka digunakan sebagai salep penutup atau pelindung. (buku
farmasetika, prof Drs. Moh Anief, Apt.) Menurut Farmakope edisi ke- 3
adalah sediaan berupa masa lembek yang dimaksudkan untuk
pemakaian luar. Biasanya di buat dengan mencampurkan bahan obat
yang terbentuk serbuk dalam jumlah besar dengan vaselin atau paravin
cair atau dengan bahan dasar tidak berlemak yang dibuat dengan

5
Gliserol, Musiago atau sabun. Digunakan sebagai antiseptik, atau
pelindung. Sedangan menurut Farmakope Indonesia edisi ke 4 adalah
sediaan semi pedat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang
digunakan untuk pemakaian Topical.

B. Jenis jenis dan contoh pasta


1. Pasta Berlemak
Pasta Berlemak merupakan suatu salep yang mengandung lebih
dari 50% zat padat (serbuk). Pasta ini cenderung untuk menyerap
sekresi seperti serum dan mempunyai daya penetrasi dan daya
maserasi lebih rendah dari salep. Contoh pasta berlemak adalah
Acidi Salicylici Zinci Oxydi Pasta (F.N. 1978), Zinci Pasta (F.N.
1978) dan Resorcinoli Sulfurici Pasta (F.N. 1978).
2. Pasta Kering
Pasta Kering merupakan suatu salep yang mengandung kurang
lebih 60% zat padat (serbuk). Dalam pembuatan akan terjadi
kesukaran bila dalam resep tertulis ichthanolum atau Tumenol
Ammonim, zat ini akan menjadikan pasta menjadi encer.
3. Pasta Pendingin.
Mengandung campuran serbuk minyak lemak dan cairan berair
yang dikenal dengan salep 3 dara.
Contoh nya :
R/       Zinci Oxydi
            Olei Olivae
            Calcii Hidroxydi Solutio aa 10
4. Pasta Detifriciae
Merupakan campuran kental yang terdiri dari serbuk dan
Glycerinum yang digunakan untuk pembersih gigi. Pasta gigi
digunakan untuk pelekatan pada selaput lendir untuk memperoleh
efek lokal.
Contoh : pasta gigi Triamsinolon Asetonida.

6
C. Persyaratan Pasta
Umumnya pasta dibuat dengan cara yang sama dengan salep. Tetapi,
bahan untuk menggerus dan menghaluskan digunakan untuk membuat
komponen serbuk menjadi lembut, bagian dari dasar ini sering
digunakan lebih banyak dari pada minyak mineral sebagai cairan untuk
melembutkan pasta.
Untuk bahan dasar yang berbentuk setengah padat, dicairkan terlebih
dahulu, setelah itu baru kemudian dicampur dengan bahan padat dalam
keadaan panas agar lebih tercampur dan homogen.
Pembuatan pasta dilakukan dengan dua metode :
1. Metode fusion
Dalam metode ini zat pembawa dan zat berkhasiat dilelehkan
bersama dan diaduk sampai membentuk fase yang homogen.
Dalam hal ini perlu diperhatikan stabilitas zat berkhasiat
terhadap suhu yang tinggi pada saat pelelehan.

2. Metode Triturasi
Zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit basis akan dipakai
atau dengan salah satu zat pembantu, kemudian dilanjutkan
dengan penambahan sisa basis. Dapat juga digunakan pelarut
organik untuk melarutkan terlebih dahulu zat aktifnya,
kemudian baru dicampur dengan basis yang digunakan.

D. Keuntungan dan Kekurangan Pasta


a. Kelebihan pasta
1. Pasta mengikta cairan secret, pasta lebih baik dari unguentum
untuk luka akut dengan tendensi mengeluarkan cairan
2. Bahan obat dalam pasta lebih melekat pada kulit sehingga
meningkatkan daya kerja lokal Konsentrasi lebih kental dari
salep
3. Daya Adsorpsi sediaan pasta lebih besar dan kurang berlemak
dibandingkan dengan sediaan salep.

7
b. Kekurangan Pasta
1. Karena sifat pasta yang kaku dan tidak dapat di tembus, pasta
pada umumnya tidak sesuai untuk pemakaian tubuh yang
berbulu
2. Dapat mengeringkan kulit dan merusak lapisan kulit epidermis
3. Dapat menyebabkan iritasi kulit

8
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1 RESEP I

SIP : 899 / DKK / V / 2014


Jln. Kahoi 01 samarinda
Samarinda, 21 feb 2019

R / Chloramphenicole 1,5
Ungt. Linien Rosatum 10

M. f . La . Ungt.
S b dd.

Pro : Adam

3.2 RESEP STANDAR


Ungt. Linien Rosatum (FMS Th.1996 hal 100)
UNGUENTUM LINIENS ROSATUM
(COLD CREAM)
R/ Cerae Flav 2.500
Cetacei5
Ad.Lanae 5
Ol. Sesami 2,5
Aq.Rosae 12,500
m.f ung
SUE

9
3.3 KELENGKAPAN RESEP
1. Nama Dokter : tidak ada
2. Tempat dan tanggal penulisan resep (inscriptio) : tidak ada
3. Nama pasien : tidak ada
4. Umur pasien : tidak ada
5. Alamat pasien : tidak ada
6. Paraf dokter penulis resep (subcriptio) : tidak ada

3.4 KETERANGAN RESEP


R/ : Recipe : ambillah
mf : misce fac : campur dan buatlah
La : lage atis : menurut aturan
Ungt : unguentum : salep
S b dd : signa bis de die : tandai dua kali sehari
Pro : Pronum : untuk

3.5 PENGGOLONGAN OBAT

Choloramphenicol Obat Keras


Cera flav Obat Bebas
Cetacium Obat Bebas
Adeps lanae Obat Bebas
Ol.sesami Obat Bebas
Aq. Rosae Obat Bebas

3.6 URAIAN BAHAN


1) Cholramphenicole ( FI Ed III Th 1979 hal.143)
a. Sinonim : Kloramfenikol, Chloramphenicolum
b. Khasiat : Antibiotikum
c. Pemerian : Hablur halus berbentuk jarum atau
lempeng memanjang, putih sampai putih kelabu
atau putih kekuningan , tidak berbau, rasa
sangat pahit. Dalam larutan asam lemah,mantap.

10
d. Kelarutan : larut dalam lebih kurang 400 bagian air,
dalam 2,5 bagian etanol (95%) p dan dalam 7 bagian
propilenglikol p, sukar larut dalam klorofm p dan dalam
eter p.
2) Cera Flav ( FI Ed III Th 1979 hal. 140)
a. Sinonim : Cera Flava, Malam Kuning
b. Khasiat : Zat tambahan
c. Pemerian : Zat padat, coklat kekuningan, bau lemak
seperti madu, agak rapuh jika dingin, menjadi elastik
jika hangat dan bekas perlahan buram dan berbutir-
butir.
d. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, sukar
larutdalam etanol (95%) p, larut dalam kloroform p,
dalam eter p hangat, dalam minyak lemak dan dalam
minyak atsiri.
3) Cetacei ( FI Ed III Th.1979 hal.61)
a. Sinonim : Setaseum, Spermaceti, Cetaceum.
b. Khasiat : Zat tambahan
c. Pemerian : Masa hablur, bening, licin, putih mutiara,
bau dan rasa lemah.
d. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, dan dalam
etanol (95%) p dingin, larut dalam 20 bagian
etanol (95%) p mendidih, dalam kloroform p, dalam
eter p, dalam karbondisulfida p, dalam minyak
lemak dan dalam minyak atsiri.
4) Adeps Lanae ( FI Ed III Th 1979 hal.61 )
a. Sinonim : Lemak Bulu Domba
b. Khasiat : Zat tambahan
c. Pemerian : Zat serupa leamk, liat, lekat, kuning muda
atau kuning pucat, agak tembus cahaya, bau
lemah darn khas.
d. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, agak sukar

11
larut dalam etanol (95%) p, mudah larut dalam
kloroform p dan dalam eter p.
5) Ol.sesami ( FI Ed III Th 1979 hal. 459)
a. Sinonim : Minyak Wijen, Oleum Sesami.
b. Khasiat : Zat tambahan
c. Pemerian : Cairan kuning pucat, bau lemah, rasa
tawar, tidak membeku pada suhu 0 derajat celcius.
d. Kelarutan : Sukar larut dalam etanol (95%) p, mudah
larut dalam kloroform p, dalam eter p dan dalam
eter minyak tanah p.
6) Aq.rosae ( FI Ed IV hal.718)
a. Sinonim : Aqua Rosae, Air ,mawar
b. Khasiat : Zat tambahan
c. Pemerian : Cairan jernih atau agak keruh
d. Kelarutan : Larut hampir semua di dalam air, praktis
tidak larut dalam eter dan etanol.
3.7 PERHITUNGAN DOSIS : -
3.8 PENIMBANGAN BAHAN
1. Chloramphenicole : 1,5 gram
2. Cera Flava : 10/50 gr x 2,5 gr = 0,5 gr + 10 % = 0,55 gr
3. Cetacei : 10/50 gr x 5 gr = 1 gr + 0,1 gr = 1,1 gr
4. Adeps lanae : 10/50 gr x 5 gr = 1 gr + 0,1 gr = 1,1 gr
5. Ol. Sesami : 10/50 gr x 25 gr = 5 gr + 0,5 gr = 5,5 gr
6. Aq. Rosae : 10/50 gr x 12,5 gr = 2,5 gr

3.9 CARA KERJA


1. Siapkan alat dan bahan. Menyetarakan timbangan.
2. Timbang bahan obat
3. Masukan cera flava, cetacei, Adeps Lanae dan Ol.sesami kedalam
cawan porselen, lalu leburkan diatas penangas.
4. Masukan hasil leburan kedalam mortir gerus sampai dingin
5. Masukan chloramphenicole kemudian gerus sampai homogen.

12
6. Masukan Aq.rosae, kemudian gerus sampai homogen.
7. Keluarkan campuran bahan tersebut kemudian masukan kedalam pot
salep, lalu hitung % kesalahan ( BT- BA / BT x 100 % )
8. Masukan kedalam plastik klip dan beri etiket biru dan label NI
9. Serahkan kepada pasien beserta KIE.

3.10 PENANDAAN

APOTEK UMKT
Apoteker: fadilla mubakkira S,Farm Apt TIDAK BOLEH
DIULANG TANPA
SIA : 1681/II/DINKES/2019 RESEP DOKTER
Jl. Juanda No. 15 SAMARINDA
No : 01 Tgl: 21/12/2019
Nama: Adam

2 x sehari setelah mandi


Dioleskan tipis tipis pada kulit yang memerlukan

. 3.11 KIE
Nama Pasien : Adam
Indikasi : Salep Antibiotik pada luka bakar
Aturan Pemakaian : 2x sehari pada bagian kulit yang
memerlukan, gunakan setelah mandi
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik terlindung dari
cahaya

 % KESALAHAN
( pot isi – pot kosong )
( 10,25 gr – 4,5 gr )
(5,75 gr )

13
= Berat pada Resep - Berat pada Praktikum
X 100 %
Berat pada Resep
= 5,75 gr - 5,75 gr
5,75 gr X 100 % = 0 %

3.1 RESEP II
dr. ishak

Jln. Kahoi 01 samarinda


Samarinda 21 feb 2015

R / Pasta Zinci Salicylata 20

m d.s s u e

14

Pro : Indah
3.2 RESEP STANDAR
Pasta Zinci Salicylata ( Formularium Indonesia hal. 120 )
PASTA ZINCI SALICYLATA
( Pasta zinci salicylata )
R/ Acid. Salicyl 2
Zinci oxyd 25
Amyl Manihot 25
Vas.Flav 45
m. f. Pasta
SUE

3.3 KELENGKAPAN RESEP


1. SIP ( Surat Izin Praktek ) dokter : tidak ada
2. Alamat dokter : tidak ada
3. Tempat dan tanggal penulisan resep ( Inscriptio ) : tidak ada
4. Paraf dokter penulis resep ( Subcriptio ) : tidak ada
5. Umur Pasien : tidak ada
6. Alamat Pasien : tidak ada

3.4 KETERANGAN RESEP


1. R/ : Recipe : Ambillah
2. M d.s : Misce da signa : Campur dan berikan tanda
3. S : Signa : Tandai

15
4. U : Usus : Pemakaian
5. E : Eksternus : Luar
6. Pro : Pronum : Untuk

3.5 PENGGOLONGAN OBAT


Acid salicyl Obat Bebas
Zinc Oxyd Obat Bebas
Amylum Manihot Zat tambahan
Vaselin Flav Zat tambahan

3.6 URAIAN BAHAN


1) Acid Salicyl ( FI Ed III Th.1979 hal.56 )
a. Sinonim : Asam Salisilat
b. Khasiat : Keratolitikum, Antifungi
c. Pemerian : hablur ringan tidak berwarna atau serbuk
putih, hampir tidak berbau, rasa aagaak manis
dan tajam.
d. Kelarutan : larut dalam 550 bagian air dan dalam 4
bagian etanol (95%) P , mudah larut dalam
kloroform P dan dalam eter P, larut dalam larutan
ammonium asetat P, dinatrium hydrogenfosfat P ,
kalium sitrat P dan natrium sitrat P.
2) Zinc Oxyd ( FI Ed III Th. 1979 hal. 636 )
a. Sinonim : Sengoksida, Zinci Oxydum
b. Khasiat : Antiseptikum local.
c. Pemerian : Serbuk amorf, sangat halus, putih atau

16
putih kekuningan, tidak berbau, tidak berasa,
lambat laun menyerap karbondioksida dari
udara.
d. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam
etanol (95%) P, larut dalam asama mineral
encer dan dalam larutan alkali hidroksida.
3) Amylum Manihot ( FI Ed III Th. 1979 hal. 93 )
a. Sinonim : Pati singkong, Amylum Manihot
b. Khasiat : Zat Tambahan
c. Pemerian : Serbuk halus kadang-kadang berupa
gumpalan kecil, putih, tidak berbau, tidak berasa.
d. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dingin dan
dalam etanol (95%) P
4) Vaselin Flav ( FI Ed III Th. 1979 hal. 633 )
a. Sinonim : Vaselin Kuning
b. Khasiat : Zat Tambahan
c. Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda
sampai kuning, sifat ini tetap setelah zat
dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa
diaduk, Berflourensi lemah, juga jika dicairkan tidak
berbau, hampir tidak berasa.
d. Kelarutan : Memenuhi syarat yang tertera pada vaselin
album

3.7 PERHITUNGAN DOSIS : -


3.8 PERHITUNGAN BAHAN
1. As.Salicyl : 2/97 gr x 20 gr = 0,4 gr + 0,04 gr = 0,44 gr
2. Zno : 25/97 gr x 20 gr = 5,2 gr + 0,52 gr = 5,72
gr
3. Am. Manihot : 25/97 gr x 20 gr = 5,2 gr + 0,52 gr = 5,72
gr
4. Vas. Flav : 45/97 gr x 20 gr = 9,3 gr + 0,93 gr = 10,23

17
gr
5. Spiritus fortiori : 1 – 3 tetes ( Secukupnya )

3.9 CARA KERJA


1. Siapkan alat dan bahan. Menyetarakan Timbangan
2. Timbang Bahan Obat
3. Masukan Vaselin Flav kedalam cawan porselin, kemudian leburkan
diatas penangas.
4. Ayak Zno, kemudian timbang sebanyak 5.720 mg
5. Kemudian masukan Acid Salicylke dalam mortir, tetesi spiritus fortior
secukupnya, kemudian gerus sampai larut.
6. Masukan Am.Manihot gerus sampai homogen.
7. Masukan Zno, kemudian gerus sampai homogen.
8. Tambahkan hasil leburan kedalam mortir kemudian gerus sampai
homogen dan dingin.
9. Lalu masukan sediaan kedalam pot salep, kemudian hitung %
kesalahan ( BT- BA / BT x 100 % )
10. Masukan sediaan kedalam plastic klip, beserta etiket biru yang telah
ditandai.
11. Serahkan kepada pasien beserta KIE.

3.10 PENANDAAN

APOTEK UMKT
Apoteker: Fadilla mubakkira S,Farm Apt
SIA : 1681/II/DINKES/2019
Jl. Juanda No. 15 SAMARINDA
No : 02 Tgl: 21/12/2019

Nama: Indah
2 x sehari setelah mandi
Dioleskan tipis tipis pada kulit yang berjamur

18
3.11 KIE
Nama Pasien : Indah
Indikasi : Keratolitikum/Antifungi
Aturan Pemakaian : Dioleskan tipis-tipis pada kulit yang
terinfeksi jamur, 2x sehari setelah mandi.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik dan terlindung
dari cahaya.

 % KESALAHAN
( pot isi – pot kosong )
( 14,5 gr – 4 gr )
(10,5 gr )
= Berat pada Resep - Berat pada Praktikum
X 100 %
Berat pada Resep
= 10 gr - 10,5 gr
10 gr X 100 % = - 5 %
dr. Hadi S
SIP 123/DU-01/VII/2005

Samarinda 21 feb 2018

3.1 RESEP III


R/ Salep 2 – 4 10
Adde
Champhora 0,5

M f ungt
SUE

19

Pro : Indah
Alamat :Jl Markisa 12 samarinda
3.2 RESEP STANDAR
Salep 2 – 4 ( FMS Th.1966 hal.85 )
UNGUENTUM 2 – 4
R/ Acid.Salicyl 2
Sulfur Praeciptatum 4
Vaselin Flav ad 100
SUE

3.3 KELENGKAPAN RESEP


1. Alamat Dokter : tidak ada
2. Tempat dan tanggal penulisan resep ( inscriptio ) : tidak ada
3. Umur pasien : tidak ada
4. Tanda tangan dokter penulis resep ( Subcriptio ) : tidak ada

3.4 KETERANGAN RESEP


R/ : Recipe : Ambillah
Mf : Misce Fac : Campur dan Buatlah

20
Ungt : Unguentum : Salep
S : Signa : Tandai
U : Usus : Pemakaian
E : Ekstrenus : Luar
Pro : Pronum : Untuk
Adde : Adde : Sampai

3.5 PENGGOLONGAN OBAT


Acid salycil Bebas
Sulf praecipt Bebas
Campora Bebas
Vaselin flavum Zat tambahan

3.6 URAIAN BAHAN


1. Acid Salicyl ( FI Ed III Th.1979 hal.56 )
a. Sinonim : Asam Salisilat
b. Khasiat : Keratolitikum , Antifungi
c. Pemerian : Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk
berwarna putih, hampir tidak berbau, rasa agak
manis dan tajam.
d. Kelarutan : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4
bagian etanol (95%) P, mudah larut dalam
kloroform P dan dalam eter P, larut dalam larutan
Amonium Asetat Natrium Hidrogenfosfat P,
Kalium Sitrat P dan Natrium Sitrat P.
2. Sulfur Praeciptatum ( FI Ed III Th. 1979 hal. 591 )
a. Sinonim : Belerang Endap
b. Khasiat : Antiskabies
c. Pemerian : tidak berbau, tidak berasa.
d. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, sangat mudah
larut dalam karbondisulfida P, sukar larut
dalam minyak Zaitun P, sangat sukar larut dalam
Etanol (95%) P.
3. Champora ( FI Ed III Th. 1979 hal. 130 )

21
a. Sinonim : Kamper
b. Khasiat : Antiritan
c. Pemerian : Hablur butir atau massa hablur, tidak
berwarna atau putih, bau khas, tajam, rasa pedas
dan aromatik.
d. Kelarutan : Larut dalam 700 bagian air, dalam 1 bagian
etanol (95%) P , sangat mudah larut dalam Eter
P, mudah larut dalam minyak lemak.
4. Vaselin Flavum ( FI Ed III Th.1979 hal.633 )
a. Sinonim : Vaselin Kuning
b. Khasiat : Zat Tambahan
c. Pemerian : Massa Lunak, Lengket, Bening, Kuning
muda sampai kuning, sifat ini tetap setelah zat
dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa
diaduk, Berflouresensi lemah, juga jika dicairkan
tidak berbau, hampir tidak berasa.
d. Kelarutan : Memenuhi syarat yang tertera pada
vaselinum album

3.7 PERHITUNGAN DOSIS : -


3.8 PERHITUNGAN BAHAN
1. Sulfur Praecipt : 4/100 gr x 10 gr = 0,4 gr
0,4 gr + 0,04 gr = 0,44 gr
2. Asam salisilat : 2/100 gr x 10 gr = 0,2 g
0,2 gr + 0,02 gr = 0,22 gr
3. Champhora : 0,5 gr + 0,05 gr = 0,55 gr
4. Vaselin flav : 10 gr - (0,2 gr + 0,4 gr)
10 gr – 0,6 gr = 0,94 gr + 9,4 gr
= 10,34 gr
5. Spiritus fortiori : 1-3 tetes ( secukupnya )

22
3.9 CARA KERJA
1. Siapkan Alat dan Bahan. Menyetarakan Timbangan
2. Timbang bahan obat
3. Masukan Asam salisilat dan champhora yang sudah dipanaskan.
4. Tetesi sediaan dengan spiritus fortior 1-3 tetes, kemudian gerus
sampai larut.
5. Masukan Vaselin Flav sebagian, kemudian gerus sampai homogen.
6. Masukan Sulfur Praeciptatum sedikit demi sedikit dan gerus hingga
homogen.
7. Tambahkan sisa Vaselin Flav kemudian gerus sampai homogen.
8. Keluarkan sediaan dari mortir dan masukkan kedalam pot salep.
Hitung % kesalahan. ( BT- BA / BT x 100 % )
9. Masukan kedalam plastik klip dan beri etiket biru.
10. Serahkan kepada pasien beserta KIE.

3.10 PENANDAAN
APOTEK UMKT
Apoteker: Fadilla mubakkira S,Farm Apt
SIA : 1681/II/DINKES/2019
Jl. Juanda No. 15 SAMARINDA
No : 03 Tgl: 21/12/2019

Nama: Ny.Nania
2 x sehari setelah mandi
Dioleskan tipis tipis pada kulit yang memerlukan

23
3.11 KIE
Nama Pasien : Ny.Nania
Alamat Pasien : Jl. Markisa 10
Indikasi : Antiritan, Antifungi,Antiskabies
Aturan Pemakaian : Dioleskan tipis-tpis pada kulit yang
memerlukan setelah mandi (tunggu keadan
kulit kering atau tidak lembab agar dapat mengurangi
jamur untuk terus berkembang)

 % KESALAHAN
( pot isi – pot kosong )
( 12,84 gr – 3,64 gr )
(9,2 gr )
= Berat pada Resep - Berat pada Praktikum
X 100 %
Berat pada Resep
= 10,05 gr - 9,2 gr
10,05 gr X 100 % = 8,45 %
3.1 RESEP VI

SIP / V / 05 / 1995
Jln. Kahoi 01 samarinda
Samarinda, 21 feb 2018

R/ Sulfur Praeciptat 1
Asam Benzoat 2%
Champhora 1%
Vaselin Flavum 10

M f la Ungt
SUE

24

Pro : Susi (21 th)


3.2 RESEP STANDAR :-
3.3 KETERANGAN RESEP :
1. R/ : Recipe : Ambilah
2. M f : Misce fac : Campur dan Buatlah
3. La : lage atis : Menurut Aturan
4. Ungt : Unguentum : Salep
5. S : Signa : Tandai
6. U : Usus : Pemakaian
7. E : Eksternus : Luar

3.4 KELENGKAPAN RESEP


1. Nama Dokter : Tidak ada
2. Tempat dan tanggal penulisan resep (Inscriptio) : Tidak ada
3. Tanda tangan dokter penulis resep ( Subcriptio ) : Tidak ada
4. Alamat Pasien : Tidak ada

3.5 PENGGOLONGAN OBAT

Sulf praecipt Bebas


Asam benzoate Bebas
Champora Bebas
Vaselin flavum Zat tambahan

25
3.6 URAIAN BAHAN
1) Sulfur Praeciptat ( FI Ed III Th.1979 hal 59)
a. Sinonim : Belerang Endap
b. Khasiat : Antiskabies
c. Pemerian : Tidak berbau, tidak berasa
d. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, sangat mudah
larut dalam karbondisulfida P, sukar larut dalam
minyak zaitun P, sangat sukar larut dalam etanol
(95%) P.
2) Asam Benzoat ( FI Ed III Th.1979 hal. 49)
a. Sinonim : Asam benzoat, Acidum Benzoicum
b. Khasiat : Antiseptikum Ekstern, Antifungi
c. Pemerian : Hablur halus dan ringan, tidak
berwarna, tidak berbau
d. Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 350
bagian air, dalam lebih kurang 3 bagian etanol
(95%) P, dalam 8 bagian kloroform P, dan
dalam 3 bagian eter P.
3) Champhora ( FI Ed III Th.1979 hal. 130 )
a. Sinonim : Kamfer
b. Khasiat : Antiritan
c. Pemerian : Hablur butir atau massa hablur, tidak
berwarna atau putih, bau khas tajam, rasa pedas
dan aromatic.
d. Kelarutan : Larut dalam 700 bagian air, dalam 1 bagian
etanol (95%) P, dalam 0,25 bagian kloroform P,
sangat mudah larut dalam eter P, mudah larut dalam
minyak lemak.
4) Vaselin Flavum ( FI Ed III Th.1979 hal 633)

26
a. Sinonim : Vaselin Kuning
b. Khasiat : Zat Tambahan
c. Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda
sampai kuning, sifat ini tetap setelah zat dileburkan
dan dibiarkan hingga dingin tanpa di aduk.
Berflouresensi lemah, juga jika dicairkan tidak
berbau, hampir tidak berasa.
d. Kelarutan : memenuhi syarat yang tertera pada
vaselinum album.

3.7 PERHITUNGAN DOSIS : -


3.8 PERHITUNGAN BAHAN
1. Sulfur Praeciptat : 1 gr = 1.000 mg
2. Asam Benzoat : 1%/97% x 11 gram = 110 mg
3. Champhora : 2%/97% x 11 gram = 220 mg
4. Vaselin Flavum : 10 gr = 10.000 mg
5. Spiritus Fortior : 1 – 3 tetes ( secukupnya )
 Jumlah gram : 10 gram + 1 gram = 11 gram
 Jumlah persen : 1% + 2% = 3%= 100% - 3% = 97%

3.9 CARA KERJA


1. Siapkan alat dan bahan . Menyetarakan Timbangan
2. Timbang bahan obat
3. Masukan Champhora kedalam mortir, tetesi spiritus fortior 1-3
tetes, kemudian gerus sampai larut.
4. Masukkan Asam Benzoat kemudian gerus sampai homogen.
5. Masukan Vaselin flav sebagian, kemudian gerus sampai homogen.
6. Masukan Sulfur Praeciptat dan gerus sampai homogen
7. Tambahkan sisa vaselin flav kemudian gerus sampai homogen.
8. Keluarkan sediaan dari dalam mortir dan masukan kedalam pot
salep. Kemudian hitung % kesalahan ( BT- BA / BT x 100 % )
9. Masukan kedalam plastic klip dan beri etiket biru

27
10. Serahkan kepada pasien beserta KIE

3.10 PENDANDAAN
APOTEK UMKT
Apoteker: Fadilla mubakkira S,Farm Apt
SIA : 1681/II/DINKES/2019
Jl. Juanda No. 15 SAMARINDA
No : 04 Tgl: 21/12/2019

Nama: Susi (21th)


digunakan setelah mandi
Dioleskan tipis tipis pada kulit yang memerlukan

3.11 KIE
Nama Pasien : Susi
Umur Pasien : 21 tahun
Indikasi : Antiseptikum Ekstern dan Antifungi
Aturan Pemakaian : Dioleskan Tipis tipis pada bagian kulit yang gatal
akibat jamur secara merata setelah mandi
Penyimpanan : Dalam wadah sediaan tertutup baik, dan terhindar
dari cahaya.

 % KESALAHAN
( pot isi – pot kosong )
( 9,5 gr – 4 gr )
(5,5 gr )
= Berat pada Resep - Berat pada Praktikum

28
X 100 %
Berat pada Resep
= 5,5 gr - 5,5 gr
5,5 gr X 100 % = 0 %

BAB IV
PEMBAHASAN
1. RESEP 1
 Khasiat masing masing bahan
a) Chloramphenicole : Antibiotikum
b) Cera Flava : Zat Tambahan
c) Cetaceum : Zat Tambahan
d) Adeps Lanae : Zat Tambahan
e) Oleum Sesami : Zat Tambahan
f) Aqua Rosae : Zat Tambahan
 Fungsi masing-masing bahan
a) Chloramphenicole adalah salah satu obat golongan antibiotik
yang digunakan untuk mengobati infeksi serius yang sering

29
disebapkan oleh bakteri. Chloramphenicole umumnya
digunakan untuk infeksi bakteri yang berat, khususnya jika
kondisi tersebut tidak mereda denga pengobatan lainnya. Obat
ini bekerja dengan cara membunuh bakteri yang menjangkit di
dalam tubuh dan mencegahnya tumbuh kembali.
b) Cera Flava atau lilin kuning yang kegunaan utamanya adalah
dalam formulasi farmasi topical, dimana itu adalah digunakan
pada konsenstrasi 5-20 % sebagai agen kaku disalep dan krim.
Cera flava juga digunakan dalam emulsi karena
memungkinkan air yang akan dimasukan kedalam minyak
emulsi.
c) Cetaceum adalah bahan yang bertujuan untuk stabilisasi
jangka panjang, bulking up formulasi padat yang mengandung
bahan aktif ampuh dalam jumlah kecil, sehingga sering disebut
sebagai agen bulking(pengisi/pengencer).
d) Adeps lanae berfungsi meningkatkkan sifat serap air.
e) Oleum sesame berfungsi meningkatkan sifat serap air
f) Aqua Rosae berfungsi sebagai bahan pembawa, karena
memiliki bau yang menarik / enak untuk pemakaian kulit
2. RESEP II
 Khasiat masing masing bahan
a. Acid salicyl : keratolitikum, anti fungi
b. Zinci oxide : anti septikum local
c. Amylum triciti : zat tambahan
d. Vaselin flavum : zat tambahan

 Fungsi masing-masing bahan


a. Acid salicyl adalah obat yang digunakan untuk mengatasi
masalah kulit yang disebapkan oleh penebalan dan
pengerasan kulit, asam salisilat juga bisa digunakan untuk
membantu mengatasi dan munculnya jerawat.
b. Zinci Oxyde adalah obat yang digunakan untuk mengobati

30
dan mencegah ruam dikulit, dan iritasi kulit ringan, bekerja
dengan cara membentuk perlindungan pada kulit untuk
melindungi dari iritasi/ kelembapan.
c. Amylum Triciti merupakan salah satu eksipien yang paling
banyak digunakan dalam bahan dasar farmasi karena
memilki sifat bahan pengikat dan bahan penghancur.
d. Vaselin Flavum adalah bahan dasar salep yang baik atau
basis salep yang digunakan dalam pembuatan salep, dan
mempunyai dasar salep senyawa hidrokarbon.
3. RESEP III
 Khasiat masing masing bahan
a. Acidum Salicylicum : Keratolitikum, antifungi
b. Sulfur : Antiskabies
c. Vaselinum Album : Zat Tambahan
d. Champhora : Antiritan
 Fungsi masing masing bahan
a. Acidum Salicylicum adalah obat yang digunakan untuk
mengatasi masalah kulit yang disebapkan oleh penebalan
dan pengerasan kulit, asam salisilat juga bisa digunakan
untuk membantu mengatasi dan munculnya jerawat.
b. Sullfur bersifat keratolitik yang mengelupaskan kulit mati,
dan dapat juga sebagai pembunuh bakteri, jamur dan
parasit.
c. Vaselinum Album disini berguna sebagai dasar salep yang
terbaik (senyawa hidrokarbon) karena dia dapat melindungi
kulit dan menghasilkan efek lokal, penambahan Vaselin
disini haarus sedikit sedikit dan idak boleh sekaligus, karena
bertujuan agar semua bahan dapat tercampur dengan
homogen dan vaselin disini juga berguna berfungsi untuk
melarutkan sulfur, karena sulfur praktis tidak dapat larut
dalam air, tapi dapat larut dalam lemak.
d. Champhora membantu mengelupas jamur pada permukaan

31
kulit dan berguna sebagai pencegahan perangsangan
perangsangan untuk mendisenteksi dengan zat zat kimiawi
yang mematikan pertumbuhan hama atau pathogen yang
terdapat padanya.
4. RESEP IV
 Khasiat masing masing bahan
a. Sulfur Praeciptat : Antiskabies
b. Asam Benzoat : Antiseptikum ekstern
c. Champhora : Antiritan
d. Vaselin flav : Zat Tambahan
 Fungsi masing masing bahan
a. Sulfur Praeciptat bersifat keratolitik yang mengelupaskan
kulit mati, dan dapat juga sebagai pembunuh bakteri, jamur
dan parasit
b. Asam benzoat sebagai bahan aktif bersifat fungistatif
digunakan secara topikal dan merupakan zat aktif yang
digunakan sebagai antijamur, absorpsi obat melalui kulit,
untuk memperoleh efek lokal (setempat) sehingga sangat
tergantung dalam kelarutan obat dalam lemak, biasanya
digunakan bersama dengan asam salisilat.
c. Champhora membantu mengelupas jamur pada permukaan
kulit dan berguna sebagai pencegahan perangsangan
perangsangan untuk mendisenteksi dengan zat zat kimiawi
yang mematikan pertumbuhan hama atau pathogen yang
terdapat padanya.
d. Vaselin Flavum adalah bahan dasar salep yang baik atau
basis salep yang digunakan dalam pembuatan salep, dan
mempunyai dasar salep senyawa hidrokarbon

32
BAB V
PENUTUP
a) KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan maka dapat
disimpulkan bahwa :
 Praktikan mampu memberikan resep dengan benar sesuai dengan
resep.
 Praktikan mampu menggolongkan obat yang terdapat dalam resep
yang diberikan
 Praktikan dapat memahami bentuk bahan, khasiat, efek dari bahan
obat.
b) SARAN
Diharapkan kepada mahasiswa sebelum memasuki laboratorium harus
sudah menggunakan APD yang telah diperintahkan dan selama kegiatan
praktikum sedang berlangsung diharapkan mahasiswa dapat membuat
kondisi dengan tenang dan tanpa kegaduhan, dan mahasiswa dapat
menggunakan alat sesuai dengan prosedurnya dan pembuatan obat sesuai
dengan resep yang telah diberikan dan pada saat pengambilan bahan
tidak berdesak-desakan agar mahasiswa dapat bergantian mengambil
bahan yang akan digunakan dan pada saat penimbangan bahan telah
selesai diharapkan kepada seluruh mahasiswa agar tidak membuang-
buang bahan yang tidak terpakai dan mengembalikannya ketempat
sediaan semula dan diakhir kegiatan praktikum selalu bersama-sama
membershikan laboratorium agar tetap dalam keadaan bersih dan
nyaman untuk digunakan kembali.

33
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI 1979, Farmakope Indonesia Edisi III , Jakarta
Dirjen POM Departemen Kesehatan RI 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV ,
Jakarta
Ansel, H.C., Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi keempat, Universitas
Indonesia Press, Jakarta, Hal 399-405
Anief, M.,1997, Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press Jogjakarta, Hal
210-216
Anief. Moh,2002, Ilmu Meracik Obat , Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta,53.

34