Anda di halaman 1dari 17

MODUL ORGAN TINDAKAN MEDIK DAN KEPERAWATAN

OTITIS MEDIA AKUT

KELOMPOK 4

030 06 058 Dennys Bercia


030 06 149 M. Ardiyansyah Rakun
030 07 204 Primanda Andyastuty
030 07 205 Putri Balqis
030 08 034 Anrico Muhammad
030 08 035 Aqsha Tiara Viazelda
030 08 097 Fani Safitri
030 08 102 Ferdy
030 08 173 Naskaya Suriadinata
030 08 174 Neysa Glenda Preciosa
030 08 251 Vilma Swari
030 08 252 Vithia Ghozalla
030 08 303 Siti Nasirah BT Ahmad S

JAKARTA, 18 November 2010


Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
BAB I

PENDAHULUAN

Telinga tengah adalah daerah yang dibatasi dengan dunia luar oleh gendang telinga.
Daerah ini menghubungkan suara dengan alat pendengaran di telinga dalam. Selain itu di
daerah ini terdapat saluran Eustachius yang menghubungkan telinga tengah dengan rongga
hidung belakang dan tenggorokan bagian atas.

Penyebab otitis media akut (OMA) dapat merupakan virus maupun bakteri. 4,5 Pada
25% pasien, tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Virus ditemukan pada 25%
kasus dan kadang menginfeksi telinga tengah bersama bakteri. Bakteri penyebab otitis media
tersering adalah Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh Haemophilus influenzae dan
Moraxella cattarhalis. Yang perlu diingat pada OMA, walaupun sebagian besar kasus
disebabkan oleh bakteri, hanya sedikit kasus yang membutuhkan antibiotik.

Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena kekebalan
tubuh yang masih dalam perkembangan, dan posisi saluran eustachius pada anak lebih lurus
secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah.

Di Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami setidaknya satu episode otitis media
sebelum usia tiga tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih.
Di Inggris, setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh
tahun.4 Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun.
BAB II

LAPORAN KASUS

Saudara sebagai seorang dokter baru sedang mengobati seorang anak Adi, umur 3

tahun dengan keluhan batuk dan pilek sudah selama 1 minggu. Walaupun sudah ditambah

antibiotik tetapi penyakitnya belum berkurang. Tiba-tiba anak tersebut terbangun saat tidur

siang dan menjerit telinga kirinya sakit sekali. Pada alloanamnese dikatakan tidak ada riwayat

trauma kepala, korek-korek telinga, kemasukan serangga ataupun sakit telinga sebelumnya.

Pada pemeriksaan fisik anak tampak sakit berat, gelisah, rewel, tangannya memegang

telinga kirinya, tidak ada nyeri tekan tragus dan nyeri tarik aurikula. Tidak ada nyeri tekan

mastoid. Pada pemeriksaan dengan otoskop tampak liang telinga lapang, tenang, Membran

Timpani telinga kiri bulging warna sedikit kekuningan. Telinga kanan dalam batas normal.

Hidung ada gambaran rhinitis akut dalam penyembuhan. Tenggorok tenang.

Suhu tubuh : 40 º C

Nadi : meningkat

Hemoglobin : 13 gr%

Leukosit : 19.500/µl
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

Otitis media akut (OMA) adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah,
tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid1.

Telinga tengah adalah daerah yang dibatasi dengan dunia luar oleh gendang telinga. Daerah
ini menghubungkan suara dengan alat pendengaran di telinga dalam. Selain itu di daerah ini
terdapat saluran Eustachius yang menghubungkan telinga tengah dengan rongga hidung
belakang dan tenggorokan bagian atas. Guna saluran ini adalah:

• Menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam telinga dan menyesuaikannya dengan


tekanan udara di dunia luar.
• Mengalirkan sedikit lendir yang dihasilkan sel-sel yang melapisi telinga tengah ke
bagian belakang hidung.

ETIOLOGI

Penyebab otitis media akut (OMA) dapat merupakan virus maupun bakteri.4,5 Pada 25%
pasien, tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Virus ditemukan pada 25% kasus da
da dan n kadang menginfeksi telinga tengah bersama bakteri. Bakteri penyebab otitis media
tersering adalah Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh Haemophilus influenzae dan
Moraxella cattarhalis. Yang perlu diingat pada OMA, walaupun sebagian besar kasus
disebabkan oleh bakteri, hanya sedikit kasus yang membutuhkan antibiotik. Hal ini
dimungkinkan karena tanpa antibiotik pun saluran Eustachius akan terbuka kembali sehingga
bakteri akan tersingkir bersama aliran lendir.

Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena beberapa hal.1

- Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan.

- Saluran Eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA
lebih mudah menyebar ke telinga tengah.
- Adenoid (adenoid: salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam
kekebalan tubuh) pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid
berdekatan dengan muara saluran Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu
terbukanya saluran Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi di mana infeksi
tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.

PATOFISIOLOGI

Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan
telinga tengah.

Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan
atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.1 Saat bakteri melalui
saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi
pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi, dan
datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh
bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah
dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius
menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang
telinga.

Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang
telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di
telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya
sekitar 24 desibel (bisikan halus).2 Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan
gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga
juga akan terasa nyeri.1 Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya
dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.

MANIFESTASI KLINIS

Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien.
Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah :
1. Stadium oklusi tuba Eustachius

Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah.
Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat dideteksi. Sukar dibedakan
dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi.

2. Stadium hiperemis (presupurasi)

Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani
tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat
serosa sehingga sukar terlihat.

3. Stadium supurasi

Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa
telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di
kavum timpani. Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta nyeri di telinga
bertambah hebat. Apabila tekanan tidak berkurang, akan terjadi iskemia, tromboflebitis dan
nekrosis mukosa serta submukosa. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan
kekuningan pada membran timpani. Di tempat ini akan terjadi ruptur.

4. Stadium perforasi

Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi, dapat terjadi
ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. Pasien
yang semula gelisah menjadi tenang, suhu badan turun, dan dapat tidur nyenyak.

5. Stadium resolusi

Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali. Bila terjadi
perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Bila daya tahan tubuh baik dan
virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. Otitis media akut
(OMA) berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret
yang keluar terus-menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu. Disebut otitis media
supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1,5 atau 2 bulan. Dapat meninggalkan gejala
sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi.
Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi.
Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.

Pada orang dewasa, didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang
dengar.

Pada bayi dan anak kecil gejala khas otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39,5
derajat celsius), gelisah, sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur, diare, kejang, dan kadang-
kadang memegang telinga yang sakit. Setelah terjadi ruptur membran tinmpani, suhu tubuh
akan turun dan anak tertidur.

DIAGNOSA

Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut.6

1. Penyakitnya muncul mendadak (akut)

2. Ditemukannya tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan di suatu rongga tubuh) di telinga
tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut:

a. menggembungnya gendang telinga c. adanya bayangan cairan di belakang


gendang telinga
b. terbatas/tidak adanya gerakan gendang
telinga d. cairan yang keluar dari telinga

3. Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya salah satu
di antara tanda berikut:

a. kemerahan pada gendang telinga

b. nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal

Anak dengan OMA dapat mengalami nyeri telinga atau riwayat menarik-narik daun telinga
pada bayi, keluarnya cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran, demam, sulit makan,
mual dan muntah, serta rewel.4,6,7 Namun gejala-gejala ini (kecuali keluarnya cairan dari
telinga) tidak spesifik untuk OMA sehingga diagnosis OMA tidak dapat didasarkan pada
riwayat semata.6
Efusi telinga tengah diperiksa dengan otoskop (alat untuk memeriksa liang dan gendang
telinga dengan jelas).4 Dengan otoskop dapat dilihat adanya gendang telinga yang
menggembung, perubahan warna gendang telinga menjadi kemerahan atau agak kuning dan
suram, serta cairan di liang telinga.

Jika konfirmasi diperlukan, umumnya dilakukan dengan otoskopi pneumatik (pemeriksaan


telinga dengan otoskop untuk melihat gendang telinga yang dilengkapi dengan pompa udara
kecil untuk menilai respon gendang telinga terhadap perubahan tekanan udara).6 Gerakan
gendang telinga yang berkurang atau tidak ada sama sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan
ini. Pemeriksaan ini meningkatkan sensitivitas diagnosis OMA. Namun umumnya diagnosis
OMA dapat ditegakkan dengan otoskop biasa.4 Efusi telinga tengah juga dapat dibuktikan
dengan timpanosentesis (penusukan terhadap gendang telinga).6 Namun timpanosentesis
tidak dilakukan pada sembarang anak. Indikasi perlunya timpanosentesis antara lain adalah
OMA pada bayi di bawah usia enam minggu dengan riwayat perawatan intensif di rumah
sakit, anak dengan gangguan kekebalan tubuh, anak yang tidak memberi respon pada
beberapa pemberian antibiotik, atau dengan gejala sangat berat dan komplikasi.8

OMA harus dibedakan dari otitis media dengan efusi yang dapat menyerupai OMA. Untuk
membedakannya dapat diperhatikan hal-hal berikut.4

Gejala dan tanda OMA Otitis media dengan efusi


Nyeri telinga, demam, rewel + -
Efusi telinga tengah + +
Gendang telinga suram + +/-
Gendang yang menggembung +/- -
Gerakan gendang berkurang + +
Berkurangnya pendengaran + +

- Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki
bukti yang cukup.4

PENCEGAHAN
Beberapa hal yang tampaknya dapat mengurangi risiko OMA adalah pencegahan ISPA pada
bayi dan anak-anak dan penghindaran pajanan terhadap asap rokok.4,6. Berenang
kemungkinan besar tidak meningkatkan risiko OMA.4

KOMPLIKASI

Sebelum adanya antibiotik, otitis media akut (OMA) dapat menimbulkan komplikasi, mulai
dari abses subperiosteal sampai abses otak dan meningitis. Otitis media yang tidak diobati
dapat menyebar ke jaringan sekitar telinga tengah, termasuk otak.3 Namun komplikasi ini
umumnya jarang terjadi.4 Salah satunya adalah mastoiditis pada 1 dari 1000 anak dengan
OMA yangtidak diobati.

Otitis media yang tidak diatasi juga dapat menyebabkan kehilangan pendengaran permanen.3
Cairan di telinga tengah dan otitis media kronik dapat mengurangi pendengaran anak serta
menyebabkan masalah dalam kemampuan bicara dan bahasa. Otitis media dengan efusi
didiagnosis jika cairan bertahan dalam telinga tengah selama 3 bulan atau lebih.4

Rujukan

Beberapa keadaan yang memerlukan rujukan pada ahli THT adalah;

1. Anak dengan episode OMA yang sering (lebih dari 4 episode dalam 6 bulan.)4 Sumber lain
menyatakan lebih dari 3 kali dalam 6 bulan atau lebih dari 4 kali dalam satu tahun7.

2. Anak dengan efusi selama 3 bulan atau lebih, keluarnya cairan dari telinga, atau
berlubangnya gendang telinga4,7 .

3. Anak dengan kemungkinan komplikasi serius seperti kelumpuhan saraf wajah atau
mastoiditis (mastoiditis: peradangan bagian tulang tengkorak, kurang lebih terletak pada
tonjolan tulang di belakang telinga)7 .

4. Anak dengan kelainan kraniofasial (kraniofasial: kepala dan wajah), sindrom Down,
sumbing, atau dengan keterlambatan bicara7.

5. OMA dengan gejala sedang-berat yang tidak memberi respon terhadap 2 antibiotik7

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS

IDENTITAS

• Nama : Tn. A

• Usia : 3 tahun

• Jenis Kelamin : laki-laki

ANAMNESIS

Keluhan utama :

• Sakit telinga kiri

Keluhan tambahan :

• Batuk dan pilek sudah satu minggu

Anamnesis tambahan (alloanamnese)

• Bagaimana sifat demamnya? Apakah demam muncul mendadak atau perlahan?


(perlahan disebabkan karena bakteri dan jika munculnya mendadak disebabkan
karena virus)

• Apakah pada telinga keluar cairan (sekret) atau tidak ada? Jika ada bagaimana warna
dan konsistensi cairannya?

• Apakah ada riwayat alergi? (mungkin rhinitis akut oleh karena alergen)

PEMERIKSAAN FISIK

• Keadaan umum:

• Tampak sakit berat, gelisah, rewel


• Tangannya memegang telinga kirinya

• Nadi meningkat  tidak normal

• Suhu 40 oC  febris (karena adanya infeksi)

• Status THT :

• Telinga kiri: tidak ada nyeri tekan tragus dan nyeri tarik aurikula. Tidak ada
nyeri tekan mastoid, liang telinga lapang, tenang -> telinga luar kiri tenang.

• Membran Timpani telinga kiri bulging warna sedikit kekuningan -> tidak
normal. Ada sesuatu yang mendorong keluar membran timpani, mungkin
dikarenakan adanya cairan (sekret) dan pus serta sumbatan akibat inflamasi
jaringan sehingga pus dan cairan ini menekan membran timpani keluar.

• Telinga kanan dalam batas normal

• Pemeriksaan Lab :

• Hemoglobin : 13 gr% -> normal

• Leukosit : 19.500/µl -> leukositosis (biasa karena infeksi bakteri)

DIAGNOSIS KERJA

OTITIS MEDIA AKUT STADIUM SUPURASI AURIS SINISTRA

PENATALAKSANAAN

Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk
mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau
sistemik, dan antipiretik.

Stadium Supurasi
Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani
masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur4.

Penanganan

Antibiotik

OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya4. Sekitar 80% OMA
sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Penggunaan antibiotik tidak mengurangi komplikasi
yang dapat terjadi, termasuk berkurangnya pendengaran.4,9 Observasi dapat dilakukan pada
sebagian besar kasus. Jika gejala tidak membaik dalam 48-72 jam atau ada perburukan gejala,
antibiotik diberikan.4,6

Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam <39°C dalam 24
jam terakhir. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang – berat atau demam 39°C.

Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan – dua
tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan, atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua
tahun. Untuk dapat memilih observasi, follow-up harus dipastikan dapat terlaksana.
Analgesia tetap diberikan pada masa observasi.

Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik, pilihan pertama untuk sebagian besar anak
adalah amoxicillin.4,6,7

Buku ajar THT UI menganjurkan pemberian pada anak, ampisilin diberikan dengan dosis 50-
100 mg/BB per hari, dibagi dalam 4 dosis, atau amoksisilin 40 mg/BB/hari dibagi dalam 3
dosis, atau eritromisin 40 mg/BB/hari14.

Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam.6 Dalam 24 jam
pertama terjadi stabilisasi, sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan. Jika pasien
tidak membaik dalam 48-72 jam, kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang
diberikan tidak memadai. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini
kedua. Misalnya:

1. Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus
influenzae dan Moraxella catarrhalis, antibiotik yang kemudian dipilih adalah amoxicillin-
clavulanate.6 Sumber lain menyatakan pemberian amoxicillin-clavulanate dilakukan jika
gejala tidak membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari.4

2. Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin, dapat diberikan cephalosporin seperti
cefdinir, cefpodoxime, atau cefuroxime.

3. Pada alergi berat terhadap amoxicillin, yang diberikan adalah azithromycin atau
clarithromycin.4,6

4. Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-trimethoprim.5,6


Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik dengan
amoxicillin.4,6

Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil, pilihan yang diambil
adalah ceftriaxone selama tiga hari.6

Analgesia/pereda nyeri

Selain antibiotik, penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia).4,6


Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau
ibuprofen. Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen, harus dipastikan
bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena
ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna.

Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak


memberikan manfaat bagi anak.4

- Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan.7

- Miringotomi (miringotomi: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang


menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi
gejala yang sangat berat atau ada komplikasi.4 Cairan yang keluar harus dikultur.

Miringotomi
Miringotomi adalah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani agar terjadi drainase
sekret dari telinga tengah ke telinga luar. Tindakan bedah kecil ini harus dilakukan a vue
(lihat langsung), pasien harus tenang dan dikuasai. Lokasi insisi di kuadran posterior inferior.
Operator harus memakai lampu kepala dengan sinar yang cukup terang, corng telinga yang
sesuai,_serta_pisau_parasentesis_yang_kecil_dan_steril.
Dianjurkan untuk melakukannya dengan narkosis umum dan memakai mikroskop.
Bila pasien mendapat terapi yang adekuat, miringotomi tidak perlu dilakukan, kecuali bila
jelas_tampak_adanya_nanah_di_telinga_tengah.
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah perdarahan akibat trauma liang telinga luar,
dislokasi tulang pendengaran, trauma pada fenestra rotundum, trauma nervus fasialis, dan
trauma_pada_bulbus_jugular.

Indikasi Miringotomi

- Persisten pain dan recurrent otalgia


- Efusi telinga tengah dengan hiperemia dan bulging dan anak tampak sakit berat
- Severe earache
- Bila hasil pengobatan antibiotik kurang memuaskan
- Anak tiba-tiba menderita OMA selagi mendapat terapi AB untuk penyakit lain
- Bila OMA terjadi pada anak yang immunologically compromised
- OMA pada neonatus

Parasentesis
Parasentesis adalah pungsi pada membran timpani dengan semprit dan jarum khusus untuk
mendapatkan sekret guna pemeriksaan mikrobiologik. Komplikasinya kurang lebih sama
dengan miringotomi.
BAB V

KESIMPULAN

Telinga tengah terdiri dari Membran timpani, Kavum timpani, Prosesus mastoideus,
dan Tuba eustachius. Otitis media akut (OMA) adalah peradangan sebagian atau seluruh
mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Penyebab otitis
media akut (OMA) dapat merupakan virus maupun bakteri. Bakteri penyebab otitis media
tersering adalah Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh Haemophilus influenzae dan
Moraxella cattarhalis. Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa.

Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur
pasien serta terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Pada pasien pada kasus di atas,
pasien menderita otitis media akut stadium supurasi auris sinistra. Selain antibiotik, pasien
harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga
gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur4. Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik,
pilihan pertama untuk sebagian besar anak adalah amoksisilin dan pemberian antibiotik
adalah 3-7 hari atau lima hari.

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi Keenam. Jakarta : FKUI ; 2007. p.
102-103

2. Sutedjo A.Y. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan


Laboratorium. Yogyakarta: Amara Books ; 2007.

3. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed 6.


Jakarta : EGC ; 2005.

4. Otitis_Media_(Ear_Infection).Available_from
http://www.nidcd.nih.gov/health/hearing/otitism.asp
5. Chronic Otitis Media (Middle Ear Infection) and Hearing Loss. Available from
http://www.entnet.org/KidsENT/hearing_loss.cfm

6. Diagnosis and Management of Acute Otitis Media. PEDIATRICS Vol. 113 No. 5
May_2004,pp._1451-1465._available_from
http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/full/pediatrics ;113/5/1451

7. Diagnosis and treatment of otitis media in children. Institute for Clinical Systems
Improvement (ICSI). Diagnosis and treatment of otitis media in children.
Bloomington (MN): Institute for Clinical Systems Improvement (ICSI); 2004 May.
Available from http://www.guideline.gov/summary/summary.aspx?doc_id=5450

8. Glasziou PP, Del Mar CB, Sanders SL, Hayem M. Antibiotics for acute otitis media
in children (Cochrane Review) The Cochrane Library, Issue 2, 2005. Available from
http://www.cochrane.org/cochrane/revabstr/AB000219.htm

9. Little P, et al. Predictors of poor outcome and benefits from antibiotics in children
with acute otitis media: pragmatic randomised trial. BMJ 2002;325:22 Available from
http://bmj.bmjjournals.com/cgi/content/full/325/7354/22?
ijkey=742c411e86bbfb31b1a51105ff9bfc95d8a31433

10.Wellbery C. Standard-Dose Amoxicillin for Acute Otitis Media. Available from

http://www.aafp.org/afp/20050501/tips/18.html