Anda di halaman 1dari 25

KEBIJAKAN PENGELOLAAN LIMBAH B3

DARI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN

Direktur Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah nonB3


Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN


Tangerang, 13 Februari 2019

1
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Nomor:P. 56/Menlhk-Setjen/2015 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Dari Fasilitas
Pelayanan Kesehatan (PerMenlhk P.56/2015)

Mengatur Pengelolaan Limbah B3 Fasyankes dengan tahapan sebagai berikut:

a. Pengurangan dan Pemilahan Limbah B3


b. Penyimpanan Limbah B3:
b. Pengangkutan Limbah B3:
c. Pengolahan Limbah B3:
d. Penguburan Limbah B3;
e. Penimbunan Limbah B3
Penerapan Kebijakan PerMenLHK P.56 Tahun 2015

Berdasarkan substansi Permenlhk P.56/2015, banyak memberi kemudahan bagi Fasilitas


Pelayanan Kesehatan dalam Pengolahan Limbah B3 medis, yaitu:
a. Penyimpanan Limbah B3 medis:
1) memperbolehkan TPS berada dalam bangunan utama rumah sakit, dan harus memenuhi
persyaratan;
2) Penyimpanan Limbah B3 sebagai depo pemindahan

b. Pengangkutan Limbah B3 medis:


1) menggunakan alat angkut roda 3 bagi penghasil Limbah B3
2) persetujuan Pengangkutan Limbah B3 dengan alat angkut roda 3 diterbitkan instansi
Lingkungan Hidup Provinsi dan Kabupaten/Kota

c. Pengolahan Limbah B3 medis:


1) pengaturan Pengolahan Limbah B3 dengan berbagai peralatan: autoklaf, gelombang mikro,
iradiasi ferkuensi raido, insinerator
2) efisiensi pembakaran sekurang – kurangnya 99,95%
lanjutan …

d. Penguburan Limbah B3 medis:


1) Limbah B3 patologis dan benda tajam dapat dilakukan Penguburan Limbah B3
2) Persetujuan Penguburan Limbah B3 diterbitkan oleh instansi lingkungan hidup Kabupaten/Kota

e. Penimbunan Limbah B3 medis:


1) Penimbunan Limbah B3 berupa Abu terbang insinerator dan Abu dasar insinerator pada fasilitas Penimbunan
Saniter, Penimbunan Terkendali, Penimbusan Akhir
2) Persetujuan Penimbunan Limbah B3 diterbitkan Instansi Lingkungan Hidup Provinsi dan Kabupaten/Kota

f. Pasal 37
1) Fasyankes dapat melakukan Pengolahan Limbah B3 diluar Limbah B3 yang dihasilkan sendiri, dengan
melakukan pembaruan izin lingkungan berdasarkan dokumen kajian lingkungan
2) dimaknai RSUP atau RSUD dapat melakukan Pengolahan Limbah B3 dari Pusat Kesehatan Masyarakat
yang berlokasi di derahnya

g. Pasal 38
1) pengecualian bagi penghasil Limbah B3 untuk melakukan sendiri Pengolahan Limbah B3 berupa: kemasan
bekas B3, spuit bekas, botol infus bekas, bekas kemasan cairan hemodialisis
2) hasil Pengolahan Limbah B3 sebagaimana dimaksud di atas berupa Limbah Non B3
Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan PerMenlhk P.56/2015

1. Belum ada Rumah Sakit yang memiliki Tempat Penyimpan Sementara Limbah B3 medis pada
bangunan utama rumah sakit,
2. Belum ada yang menerapkan Tempat Penyimpanan Sementara Limbah B3 sebagai Depo
Pemindahan
3. Dinas Lingkungan Hidup Provinsi dan Kabupaten/Kota belum semua menerbitkan Persetujuan
Pengangkutan Limbah B3 menggunakan alat angkut Roda 3.

Berdasarkan data: Dinas LH Kota Tegal yang telah menerbitkan Persetujuan Alat Angkut Roda 3

4. Terbatasnya rumah sakit yang mengajukan permohonan Pengolahan Limbah B3 dengan


menggunakan peralatan autoklaf, gelombang mikro, iradiasi ferkuensi radio .
Berdasarkan data:
a. RSUP Kandou Manado yang telah memiliki izin Pengolahan Limbah B3 dengan menggunakan
Autoklaf
b. RS Keluarga Sehat Pati; sedang proses izin Pengolahan Limbah B3 menggunakan Autoklaf
c. RS Santa Maria Pekanbaru; sedang proses izin Pengolahan Limbah B3 menggunakan Autoklaf
d. RSUP Fatmawati; sedang proses izin Pengolahan Limbah B3 menggunakan Autoklaf
e. RS Hexa Daya Medika; sedang proses izin Pengolahan Limbah B3 menggunakan Autoklaf
Lanjutan…

5. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota belum ada yang menerbitkan Persetujuan Penguburan
Limbah B3

5. Dinas Lingkungan Hidup Provinsi, Kabupaten/Kota belum ada yang menerbitkan Persetujuan
Penimbunan Limbah B3 berupa Abu terbang insinerator dan Abu dasar insinerator

5. Penerapan pasal 37; hanya 2 (dua) rumah sakit yang mendapatkan izin pengolahan Limbah B3 dan
mengolah Limbah B3 dari Pusat Kesehatan Masyarakat.
→ Penerapan pasal 37, terkendala dengan Peraturan Menteri LH tentang Kegiatan Wajib Amdal
→ telah dilakukan koordinasi untuk sinkronisasi kebijakan tersebut

8. Penerapan pasal 38 masih ada instansi Lingkungan Hidup Provinsi yang belum sepakat untuk hasil
akhir dari roses Pengolahan Limbah B3 tersebut
Permasalahan Pengolahan Limbah B3 Terkait dengan Perizinan
Pengolahan Limbah B3

a. Dokumen Lingkungan dan Izin Lingkungan:


1) Amdal dan UKL/UPL Rumah Sakit tidak mengkaji terkait kegiatan Pengolahan Limbah
B3 menggunakan insinerator atau alat pengolah Limbah B3 lainnya.
2) Memiliki dokumen Amdal dan UKL/UPL tetapi tidak memiliki izin lingkungan
3) Persepsi kewenangan penilaian AMDAL antara Provinsi dan Kabuapten/Kota
4) Ada beberapa Kabupaten/Kota yang tidak mengeluarkan izin lingkungan
5) Perbedaan nama Rumah sakit di dokumen lingkungan dengan persuratan lainnya
6) Perbedaan nama Rumah sakit di dokumen lingkungan (judul dan isi kajian berbeda)

b. Persyaratan lainnya:
1) Rumah sakit tidak memiliki Akte pendirian rumah sakit
2) Posisi rumah sakit berdekatan dengan fasilitas pendidikan
3) Rumah sakit tidak memiliki lahan untuk lokasi insinerator, insinerator dipasang di lokasi
TPA
4) Lokasi rumah sakit berada didaeah lembah
c. Alat Insinerator
1) Insinerator hanya 1 ruang bakar
2) Insinerator sudah rusak karena sudah lama tidak dioperasikan
3) Tidak memiliki alat pengendali pencemaran udara

d. Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik


Rumah sakit kesulitan untuk mengakses permohonan izin melalui OSS:
1) Jaringan di lokasi rumah sakit tidak tersedia
2) Kurang memahami mengakses di oss.go.id
3) Kurang memahami mengakses di ptsp.menlhk.go.id
Upaya yang telah dilakukan
1. Revisi Peraturan Menteri LHK No.P.56 Tahun 2015, dengan menambahkan pengaturan terkait:
a. masa waktu Penyimpanan Limbah B3
b. Pengangkutan Limbah B3
c. persyaratan teknis Pengolahan Limbah B3
d. RSUD dapat melakukan Pengolahan Limbah B3 yang bersumber dari Puskemas berdasarkan
wilayah Kabupaten/Kota
e. Peranan Pemerintah Daerah dalam Pengelolaan Limbah B3 (mendirikan fasiltas Pengolahan
Limbah B3)

2. Bantuan Fasilitas Pengolahan Limbah B3 menggunakan alat insinerator pada Pemerintah Daerah
Sulawesi Selatan melalui Dinas Lingkungan Hidup Provinsi

3. Pelaksanaan Bimbingan Teknis Pengolahan Limbah B3 kepada Rumah Sakit dan Dinas Lingkungan
Hidup

4. Konsultasi perizinan Pengolahan Limbah B3 bagi Rumah Sakit


Tindak lanjut yang harus dilakukan:
Pelaksanaan bimbingan teknis terkait dengan materi:

1. PP No.24/2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara


elektronik;
2. Permen LHK No. P.95/Menlhk/Setjen/Kum.1/11/2018 tentang Perizinan
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Terintegrasi dengan Izin
Lingkungan melalui Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi secara
elektronik; dan
3. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.56/Menlhk-
Setjen/2015 Tentang Tata Cara Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
PERUSAHAAN JASA PENGOLAHAN LIMBAH MEDIS
NO NAMA ALAMAT PERUSAHAAN ALAMAT KEGIATAN
PERUSAHAAN
1. PT. Jasa Medivest Jl. Tubagus Ismail Depan No. 1A Jl. Inter Change Desa Dawuan
Lantai 3 Sekeloa Coblong Kota Bandung Provinsi Jawa Barat Tengah, Kecamatan Cikampek
Kabupaten Karawang
Jawa Barat
Telp/Fax: (0264) 8387712 8387714
2. PT. Tenang Jaya Jalan Raya Badami Desa Margakaya, Teluk Jambe Jalan Raya Badami Desa Margakaya, Teluk
Sejahtera Karawang Jambe Karawang

3. PT. Putra Restu Jl. Kedungsari, Dusun Kemiri RT 01/01 Desa Lakardowo, Mojokerto, Provinsi Jawa Timur
Ibu Abadi Kecamatan Jetis, Kabupaten Telp: 0321-362427
Fax : 0321-362163
4. PT. Pengelola Jalan Jend. Sudirman No. 15 Kelurahan Gunung Bahagia, Gunung Pasir RT. 001, Kuala Samboja, Samboja
Limbah Kutai Kecamatan Balikpapan Selatan, Balikpapan Kalimantan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Kartanegara Timur, Telp/Fax (0542) 733336 / 735283

5. PT. Arah Menara Rajawali Lt. 7-1, Jl. DR Ide Anak Agung Gde Agung Dusun Menjing RT. 002 RW. 005, Desa Kayu
Environmental Lot. #5.1, Kawasan Mega Kuningan, Kuningan Timur, Apak, Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah
Indonesia Setiabudi, Jakarta Selatan 12950 Telp. 021-
29287150 Fax. 021-29557228

6. PT. Wastec Komplek Majapahit Permai Blok C, No. 109, Jakarta Jl. Australia II Kawasan Industri Barat Cilegon,
Desa Kotasari, Kecamatan pulo merak, Ckota
Cilegon
DAFTAR RUMAH SAKIT YANG TELAH MEMILIKI IZIN
No. Provinsi Jumlah Rumah Sakit

1 DKI Jakarta 5 RS UPN Dr. Cipto Mangunkusumo, RS St. Carolus, RS. Pusat Infeksi, RS Angkatan Laut, RSPAD Gatot
Subroto,

2 Jambi 2 RS UD KH. Daud Arif, RSUD H. Hanafie Muaro Bungo

3 Jawa Barat 5 RSUD Cibinong, RS. Azra Bogor, RSUD Waled, RS Sumber Waras Cirebon, RSUD Jampang Kulon

4 Jawa Tengah 5 RSUD dr. Soehadi Prijonegoro, RSUD Kota Semarang, RSUD Loekmonohadi, RS Keluarga Sehat, RSUD
Brebes

5 Jawa Timur 23 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang (2), Rs. Katolik St. Vincentius,, RSUD Dr. Iskak, RSUD dr. Soetomo,
RSUD Sidoarjo, RS Hardjono (2), RSUD Lawang (2), RSUD dr. Soedono, RS. Sosodoro Djatikoesoemo
(2), RSUD Padangan, RSUD Ibnusina, RSUD Mohamad Saleh, RSUD Wahidin, RS Lavalette, RS Kusta,
Kediri, RSI Jombang Amal Soleh, RS HVA Toeloengredjo, RS dr. R Soedarsono Kota Pasuruan , RSD dr.
Soebandi Jember

6 Kalimantan Selatan 4 RSUD Ulin, RS. Anshari Saleh, RSUD Balangan, RS Ciputra Mitra Medika

7 Kalimantan Timur 4 RSUD Sangatta, RSUD Dr. Kanujoso Jati Wibowo, RS AM. Parikesit, RS Pupuk Kaltim
DAFTAR RUMAH SAKIT YANG TELAH MEMILIKI IZIN
No. Provinsi Jumlah Rumah Sakit
8 Sulawesi Selatan 4 RS Tenriawaru, RS Inco PT . Vale, RS UNHAS, RS Tonasa
9 Sulawesi Tengah 2 RSU Anutapura, RS Anuntaloko
10 Sulawesi Utara 1 RSUP Kandou
11 Sumatera Selatan 3 RSUP Dr. M Hoesin, RS Palembang Bari, RS Kota Prabumulih

12 Sumatera Utara 4 RS Adam Malik, RSUD Deli Serdang, RS Imelda, RS Grandmed

13 Nusa Tenggara Barat 1 RSUD Patut Patuh Patju,


14 Banten 1 RSUD Malingping
15 Riau 1 RS Chevron
16 DI Aceh 2 RS Kasih Ibu, RSU Zainoel Abidin
17 NTT 1 RS. St. Carolus Borromeus
18 Kalimantan Tengah 1 RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun
Jumlah 69
Permasalahan Kerjasama Antara Penghasil Limbah B3 dan Pengolah Limbah B3
Penghasil Limbah B3

1. Penghasill Limbah B3 bekerja sama dengan Pengolah Limbah B3 yang tidak memiliki Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk Kegiatan Pengolahan
Limbah B3 --- disebabkan Penghasil Limbah B3 tidak memiliki akses data Pengelolaan Limbah B3
2. Penghasil Limbah B3 bekerjasama hanya dengan Transporter Limbah B3
3. Penghasil Limbah B3 tidak mengetahui secara jelas “Status” Pengolah Limbah B3 (permasalahan Izin, Kapasitas Insinerator, dll)
4. Masih ada penghasil Limbah B3 yang belum mengetahui secara jelas administrasi prosedur kerja sama dengan pihak ke tiga (terkait dengan
Manifest)

Transporter (Pengangkut Limbah B3)

1. Pengangkut Limbah B3 tidak melakukan Pengangkutan secara “Rutin” sesuai dengan Jenis Limbah B3 (khusus Limbah Fasyankes)
2. Jumlah Limbah B3 yang diangkut dibatasi (tidak semua Limbah B3 di TPS diangkutt), sehingga Limbah B3 di TPS menumpuk , melebihi
waktu masa simpan (2 x 24 Jam)
3. Jadwal pengangkutan tidak teratur (tidak sesuai dengan jadwal yang disepakati antara Penghasil dan Transporter)
4. Transporter kurang berkenan mengangkut Limbah B3 dari Penghasil Limbah B3 yang jumlahnya sedikit
lanjutan…

Pengolah Limbah B3 (Jasa Pengolah Limbah B3)

1. Ada beberapa Jasa Pengolah Limbah B3 yang tidak melakukan Pengangkutan dan Pengolahan Limbah B3 dari Fasyankes berdasarkan
Kontrak kerjasama
2. Pengolah Limbah B3 tidak memiliki Izin Pengelolaan Lilmbah B3 untuk Kegiatan Pengolahan Limbah B3 dari Menteri
Strategi yang dapat dilakukan

1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus paham Prinsip Pengelolaan Limbah B3


2. Petugas Fasyankes (Kesling Rumah Sakit) paham kebijakan – kebijakan yang berlaku dalam Pengelolaan Limbah B3 dan up date data
3. Sebelum melakukan Kerjasama, Penghasil Limbah B3 agar mengakses data terkait Perizinan Transporter Limbah B3 dan Jasa Pengolah
Limbah B3 untuk mengetahui Status Perizinan
4. Melakukan evaluasi terhadap kinerja Jasa Pengolah Limbah B3, antara lain melakukan evaluasi terhadap Neraca Limbah B3
5. Melakukan koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, cq . Direktorat Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah
Non B3, untuk mendapatkan Informasi lebih lanjut terkait ;
a. Transporter Limbah B3
• Memiliki Izin Pengangkutan Limbah B3
• Jenis Limbah B3 yang diangkut berdasarkan izin yang dimiiliki
b. Jasa Pengolah Limbah B3
• Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan Pengolahan Limbah B3
• Jenis Limbah B3 yang dapat dilakukan Pengolahan Limbah B3 menggunakan alat Insinerator
• Kapasitas Insinerator
6. Penghasil, Pengangkut dan Pengolah harus terkoordinasi dalam manifest elektronik (festronik)
INSINERATOR
[PERSYARATAN TEKNIS]
◆ Efisiensi pembakaran > 99,95%;
◆ Temperatur pada ruang bakar utama (primary chamber) minimum
800oC (temperatur operasional);
◆ Temperatur pada ruang bakar kedua (secondary chamber)
minimum 1000oC (temperatur operasional), dengan waktu tinggal
minimum 2 (dua) detik;
◆ Memiliki alat pengendali pencemaran udara (misal: wet scrubber);
◆ Ketinggian cerobong minimum 14 meter dari permukaan tanah; dan
◆ Memenuhi baku mutu emisi.
 Pengolahan limbah sitotoksik (genotoksik) pada temperatur > 1200oC.

17
Contoh Insinerator Rumah Sakit
BAKU MUTU EMISI UDARA UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA
DAN BERACUN - RUMAH SAKIT

NO. PARAMETER KADAR MAKSIMUM SATUAN


1. Partikulat 50 mg/Nm3
2. Sulfur Dioksida (SO2) 250 mg/Nm3
3. Nitrogen Dioksida(NO2) 300 mg/Nm3
4. Hidrogen Fluorida (HF) 10 mg/Nm3
5. Hidrogen Klorida (HCl) 70 mg/Nm3
6. Karbon Monoksida (CO) 100 mg/Nm3
7. Total Hidrokarbon (sebagai CH4) 35 mg/Nm3
8. Arsen (As) 1 mg/Nm3
9. Kadmium (Cd) 0,2 mg/Nm3
10. Kromium (Cr) 1 mg/Nm3

11. Timbal (Pb) 5 mg/Nm3

12. Merkuri (Hg) 0,2 mg/Nm3

13. Talium (Tl) 0,2 mg/Nm3

14. Opasitas 10 %

15. Efisiensi Pembakaran (EP) 99,95 %


Pengolahan Limbah B3 medis dengan Autoklaf dan
Gelombang Mikro
Pengoperasian Autoclaf tipe alir gravitasi dilakukan dengan:
a. temperatur lebih besar atau sama dengan 1210C, Tekanan 15 psi atau 1,02 atm, waktu tinggal
didalam autoclaf sekurang – kurangnya 60 menit.
b. temperatur lebih besar atau sama dengan 1350C, Tekanan 31 psi atau 2,11 atm, waktu tinggal
didalam autoclaf sekurang – kurangnya 45 menit.
c. temperatur lebih besar atau sama dengan 1490C, Tekanan 52 psi atau 3,54 atm, waktu tinggal
didalam autoclaf sekurang – kurangnya 30 menit.

Pengoperasian Autoclaf tipe vakum dilakukan dengan:


a. temperatur lebih besar atau sama dengan 1210C, Tekanan 15 psi atau 1,02 atm, waktu tinggal
didalam autoclaf sekurang – kurangnya 45 menit.
b. temperatur lebih besar atau sama dengan 1350C, Tekanan 31 psi atau 2,11 atm, waktu tinggal
didalam autoclaf sekurang – kurangnya 30 menit.

Pengoperasian Gelombang Mikro dilakukan dengan:


temperatur 1000C, waktu tinggal paling singkat 30 menit.

Uji validasi: harus mampu membunuh spora Bacillus stearothermophilus


Alat Autoklaf Hasil Olahan Autoklaf
Alat Steril wave Hasil olahanSteril wave
TERIMA KASIH

25