Anda di halaman 1dari 17

Makalah hiperemesis

gravidarum PADA
BUMIL
PENDIDIKAN DAN KONSULTASI GIZI LANJUT
DOSEN PEMBIMBING : JAYANTI DIAN EKA SARI, S.KM., M.Kes

DISUSUN OLEH :

AHMAD RIHUL FADLI


G42121147

PROGRAM STUDI GIZI KLINIK


JURUSAN KESEHATAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil melahirkan atau dalam 42 hari
sesudah berakhirnya kehamilan tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan disebabkan oleh
apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya tetapi tidak secara kebetulan
atau oleh penyebab lainnya(Sarwono, 2006: 22).
Berdasarkan definisi ini kematian maternal dapat digolongkan pada kematian obstetrik
langsung (direct obstetric death), kematian obstetrik tidak langsung (inderect obstetric death),
kematian yang terjadi bersamaan tetapi tidak berhubungan dengan kehamilan dan persalinan
misalnya kecelakaan. Kematian obstetrik langsung disebabkan oleh komplikasi kehamilan,
persalinan, nifas atau penanganannya. Di negara-negara sedang berkembang sebagian besar
penyebab ini adalah pendarahan, infeksi dan abortus. Kematian tidak langsung disebabkan oleh
penyakit atau komplikasi lain yang sudah ada sebelum kehamilan atau persalinan, misalnya
hipertensi, penyakit jantung, diabetes, hepatitis, anemia, malaria, dan lain-lain termasuk
hiperemesis gravidarum. (Sarwono, 2006: 22)
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti, perubahan-perubahan
anatomik pada anak, jantung, hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin.
Beberapa faktor predisposisi yang sering terjadi pada primigravida, mola hidatidosa, diabetes
dan kehamilan ganda akibat peningkatan kadar HCG, faktor organik karena masuknya villi
khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik, faktor psikologis keretakan rumah
tangga, kehilangan pekerjaan, rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut memikul
tanggung jawab dan faktor endoktrin lainnya. Gejala yang sering terjadi pada 60% - 80%
primigravida dan 40% - 60% multigravida. Mual biasanya terjadi pagi hari. Rasa mual biasanya
dimulai pada minggu-minggu pertama kehamilan dan berakhir pada bulan keempat, namun
sekitar 12% ibu hamil masih mengalaminya hingga 9 bulan. (Khaidirmuhaj, 2009)
Bidan adalah salah satu tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan obstetri, salah
satunya dengan melakukan pelayanan pemeriksaan ibu hamil untuk mengetahui keadaan ibu dan
janin secara berkala yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap kelainan yang ditemukan
dengan tujuan agar ibu hamil dapat melewati masa kehamilan, persalinan dan nifas dengan baik
dan selamat serta melahirkan bayi yang sehat. Dalam melakukan pelayanan Ante Natal Care
(ANC) hendaknya selalu memberikan penjelasan dan motivasi mengenai yang dirasakan ibu
hamil termasuk didalamnya hiperemesis gravidarum, karena masih banyak ibu hamil yang tidak
mengetahui cara mengatasi mual dan muntah yang dialaminya, maka dengan ini Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) akan mengalami penurunan karena
derajat kesehatan suatu bangsa ditentukan oleh derajat kesehatan ibu dan anak.
Saya tertarik untuk membahas makalah ini karena banyak sekali penderita hiperemesis
gravidarum hasil penelitian menunjukkan bahwa anoreksia memiliki persentase sebesar 55% dari
seluruh pasien yang mengalami hiperemesis gravidarum
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Kehamilan


A. Pengertian Hiperemesis Gravidarum
Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan pada ibu hamil yang ditandai dengan
muntah-muntah yang berlebihan (muntah berat), mengganggu asupan cairan dan nutrisi,
biasanya terjadi selama 20 minggu kehamilan cukup berat hingga menurunkan berat badan dan
ketidakseimbangan elektrolit dan terus menerus pada minggu kelima sampai dengan minggu
kedua belas, jadi mual-muntah yang berlebihan disaat kehamilan yang mengganggu aktivitas
sehari-hari.

B. Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa
penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik, juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Perubahan-
perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan
vitamin serta zat-zat lain akibat inanisasi. Beberapa faktor predesposisi dan faktor lain yang telah
ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut:
1.      Faktor predesposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan
kehamilan ganda. Frekuansi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda
menimbulkan dugaan bahwa faktor hormonal memegang peranan, karena pada kedua keadaan
tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.
2.      Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta
resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik.
3.      Alergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah satu
faktor organik.
4.      Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, rumah tangga yang retak,
kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab
sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah
sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran
hidup.

Hubungan psikologik dengan hiperemesis gravidarum belum diketahui pasti. Tidak


jarang dengan memberikan suasana baru, sudah dapat membantu mengurangi frekuensi muntah.
(Wiknjosastro, 2005)
Diduga terdapat faktor yang menyebabkan hiperemesis gravidarum :
1. Psikologis, bergantung pada: apakah si ibu menerima kehamilannya. Atau kehamilannya di
terima atau tidak.
2.    Fisik
 Terjadi peningkatan yang mencolok atau belum beradaptasi dengan kenaikan human chorionic
gonadothropin
 Factor konsentrasi human chorionic gonadothropin yang tinggi :
 Primigravida lebih sering dari multigravida.
 semakin meningkat pada pola hidatidosa, hamil ganda dan hidramnion
 Faktor gizi / anemia meningkatkan terjadinya hiperemesis gravidarum.

Gejala Umum Hiperemesis Gravidarum antara lain:


 Mual dan muntah berat terutama pada trimester I kehamilan
 Muntah setelah makan atau minum
 Kehilangan berat badan > 5% dari BB ibu hamil sebelum hamil, ( rata-rata kehilangan BB 10% )
 Dehidrasi
 Penurunan jumlah urine
 Sakit kepala
 Bingung
 Pingsan
 Jaundisen (warna kuning pada kulit, mata dan membrane mukosa )
C.  Patofisiologi
Diawali dengan mual muntah yang berlebihan sehingga dapat menimbulkan dehidrasi,
tekanan darah turun, dan diuresis menurun.  Hal ini menimbulkan perfusi ke jaringan menurun
untuk memberikan nutrisi dan mengonsumsi O2.
Oleh karena itu, dapat terjadi perubahan metabolisme menuju ke arah anaerobik yang
menimbulkan benda keton dan asam laktat. Muntah yang berlebih dapat menimbulkan perubahan
elektrolit sehingga pH darah menjadi lebih tinggi.
Dampak dari semua masalah tersebut menimbulkan gangguan fungsi alat vital berikut ini
1.      Liver
  Dehidrasi yang menimbulkan konsumsi O2 menurun.
  Gangguan fungsi sel liver dan terjadi ikterus.
  Terjadi perdarahan pada parenkim liver sehingga mmenyebabkan gangguan fungsi umum.
2.      Ginjal
  Dehidrasi penurunan diuresis sehingga sisa metabolisme tertimbun seperti asam laktat dan benda
keton
  Terjadi perdarahan dan nekrosis sel ginjal
  Diuresis berkurang bahkan dapat anuria
  Mungkin terjadi albuminuria
3.      Sistem saraf pusat
 Terjadi nekrosis dan perdarahan otak diantaranya perdarahan ventrikel
 Dehidrasi sistem jaringan otak dan adanya benda keton dapat merusak fungsi saraf pusat yang
menimbulkan kelainan ensefalopati Wernicke dengan gejala: nistagmus, gangguan kesadaran
dan mental serta diplopia
 Perdarahan pada retina dapat mengaburkan penglihatan. (Manuaba, 2007)

D. Tanda dan Gejala


Batas jelas antara mual yang masih fisiologik dalam kehamilan dengan hiperemesis
gravidarum tidak ada, tetapi bila keadaan umum penderita terpengaruh, sebaiknya ini dianggap
sebagai hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat
dibagi ke dalam 3 tingkatan
1.          Tingkatan I
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah,
nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pada epigastrum. Nadi meningkat
ssekitar 100 per menit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang, lidah mengering
dan mata cekung.
2.          Tingkatan II
Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih mengurang, lidah mengering
dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris. Berat
badan turun dan mata menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oligouria dan konstipasi.
Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat
pula ditemukan dalam kencing.

3.          Tingkatan III


Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari somnolen sampai
koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal terjadi pada
susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopatiwernicke, dengan gejala: nistagmus diplopia dan
perubahan mental. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin
B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati. (Wiknjosastro, 2005)

E. Diagnosis
Diagnosis hiperemis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya
kehamilan muda dan muntah yang terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum.
Namun demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit pielonefritis, hepatitis,
ulkus venntrikuli dan tumor serebri yang dapat pula memberikan gejala muntah. Hiperemesis
gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan kekurangan makanan yang dapat
memepngaruhi perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera diberikan. (Wiknjosastro,
2005)

F. Komplikasi
  Bagi wanita hamil
Jika tidak diobati, HG dapat menyebabkan gagal ginjal, mielinolisis pontine pusat,
koagulopati, atrofi, Mallory-Weiss sindrom, hipoglikemia, sakit kuning, kekurangan gizi,
ensefalopati Wernicke, pneumomediastinum, rhabdomyolysis, deconditioning, avulsion limpa,
dan vasospasms arteri serebral. Depresi merupakan komplikasi sekunder umum HG. Pada
kesempatan langka seorang wanita dapat meninggal karena hiperemesis; Charlotte Bronte adalah
korban diduga penyakit ini.
  Bagi janin
Bayi dari wanita dengan hiperemesis berat yang mendapatkan kurang dari 7 kg (15,4 lb)
selama kehamilan cenderung berat lahir rendah, kecil untuk usia kehamilan, dan lahir sebelum
usia kehamilan 37 minggu. Sebaliknya, bayi dari wanita dengan hiperemesis yang memiliki
keuntungan kehamilan berat lebih dari 7 kg muncul mirip sebagai bayi dari kehamilan tanpa
komplikasi. Tidak ada jangka panjang tindak lanjut penelitian telah dilakukan pada anak dari ibu
hiperemesis.

G. Penanganan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jelas
memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologis,
memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang
fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan
mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Waktu
bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau
biskuit denagn teh hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan.
Makanan dan minuman seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. Defekasi
yang teratur hendaknya dapat dijamin, menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan faktor
yang penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.

1.         Obat-obatan
Apabila dengan cara tersebut di atas keluhan dan gejala tidak mengurang maka
diperlukan pengobatan. Tetapi perlu diingat untuk tidak memberikan obat yang teratogen.
Sedativa yang sering diberikan adalah phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan adalah B1 dan
B6. Anti histaminika juga dianjurkan, seperti dramamin, avomin. Pada keadaan lebih berat
diberikan antiemetik, seperti disiklominhidrokhlorid atau khlorpromasin. Penanganan
hiperemesis gravidarum yang lebih berat perlu dikelola di rumah sakit.

2.         Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, terapi cerah dan peredaran udara yang
baik. Catat cairan yang keluar dan masuk. Hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam
kamar penderita, sanpai muntah berhenti dan penderita mau makan. Tidak diberikan
makanan/minum dan selama 24 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan
berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
3.         Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa
takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang
kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.

4.         Cairan parenteral


Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukose
5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambah kalium,
dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C dan bila ada kekurangan protein,
dapat diberikan pula asam amino secara intravena.
Dibuat daftar kontrol cairan yang masuk dan yang dikeluarkan. Air kencing perlu
diperiksa sehari-hari terhadap protein, aseton, khlorida dan bilirubin. Suhu dan nadi diperiksa
setiap 4 jam dan tekanan darah 3 kali sehari. Dilakukan pemeriksaan hematokrit pada permulaan
dan seterusnya menurut keperluan. Bila selama 24  jam penderita tidak muntah dan keadaan
umum bertambah baik dapat dicoba untuk memberikan minum dan dapat ditambah dengan
makanan yang tidak cair. Dengan penanganan di atas, pada umumnya gejala-gejala akan
berkurang dan keadaan akan bertambah baik.

5.         Penghentian kehamilan


Pada sebagian kecil kasus keadan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan
mengadakan pemeriksaan medik dan psikistrik bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan,
takhikardi, ikterus, anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam
keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk
melakukan abortus teraupetik sering sulit diambil, oleh karana itu di satu pihak tidak boleh
dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala
ireversibel pada organ vital. (Wiknjosastro, 2005)

2.2 Filosofi Kebidanan


Pengertian filisofi secara umum adalah ilmu yang mengkaji tentang akal budi mengenai
hakikat yang ada.Filosofi Kebidanan adalah keyakinan atau pandangan hidup bidan yang
digunakan sebagai kerangka piker dalam memberikan asuhan kebidanan.

Filosofi Kebidanan menyatakan :

1. Profesi kebidanan secara nasional diakui Undang – undang maupun Peraturan pemerintah
yang merupakan salah satu tenaga pelayanan kesehatan professional dan secara
internasional diakui dalam International Confederation Of Modwiferea (ICM),
International Federation of Gynaecologist and Obstetritian (FIGO) dan WHO.
2. Tugas, tanggung jawab, dan kewenangan profesi bidan diatur dalam Keputusan Menteri
Kesehatan ditujukan dalam rangka program penurunan Angka Kematian Ibu (AKI),
Angka Kematian Perinatal (AKP), Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Pelayanan
Ibu hamil, melahirkan, nifas, Pelayanan Keluarga Berencana (KB), Pelayanan kesehatan
masyarakat, dan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya.
3. Bidan berkeyakinan bahwa setiap individu memperoleh pelayanan kesehatan aman dan
memuaskan dan kebutuhan serta perbedaan budaya.
4. Bidan meyakini bahwa menstruasi, kehamilan, menopause adalah proses fisiologis dan
sebagian kecil membutuhkan intervensi medik.
5. Persalinan merupakan proses alami, normal namun bila tidak dikelola dengan tepat
menjadi abnormal.
6. Setiap individu berhak dilahirkan secara sehat, untuk itu setiap WUS, bumil, melahirkan,
dan bayinya mendapat pelayanan berkualitas.
7. Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga membutuhkan
persiapan mulai anak menginjak dewasa.
8. Kesehatan ibu periode reproduksi dipengaruhi perilaku ibu, lingkungan dan pelayanan
kshtan.
9. Intervensi Kebidanan bersifat komprehensif yaitu upaya promotif preventif, kuratif dan
rehabilitatif ditunjukkan kepada individu keluarga dan masyarakat
10. Manajemen Kebidanan diselenggarakan atas dasar pemecahan masalah dalam rangka
meningkatkan cakupan pelayanan bidan yang professional dan interaksi social serta asas
penelitian dan pengembangan yang dapat malendasi manajemen secara terpadu
11. Proses kependidikan kebidanan sbg upaya pengembangan kepribadian berlangsung
sepanjang hidup manusia perlu di kembangkan dan diupayakan berbagai strata alam.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Normal and natural chilbird


Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering
kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula
timbul setiap saat dan malam hari. Gejala – gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari
pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi
pada 60 – 80% primi gravida dan 40 – 60% multi gravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala
– gejala ini menjadi lebih berat.
Perasaan mual ini desebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan
HCG (Human Chorionic Gonadrotropin) dalam serum. Pengaruh Fisiologik kenaikan hormon ini
belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung lambung yang
berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian
gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari – hari
menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang disebut hiperemesis
gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis menentukan berat ringannya penyakit.
(Prawirohardjo, 2002)
Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering kita jumpai pada kehamilan
muda dan dikemukakan oleh 50 – 70% wanita hamil dalam 16 minggu pertama. Kurang lebih
66% wanita hamil trimester pertama mengalami mual- mual dan 44% mengalami muntah –
muntah. Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum hingga berat
badannya sangat turun, turgor kulit berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuri, keadaan
ini disebut hiperemesis gravidarum dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Perbandingan
insidensi hiperemesis gravidarum 4 : 1000 kehamilan. (Sastrawinata, 2004)
Diduga 50% sampai 80% ibu hamil mengalami mual dan muntah dan kira – kira 5% dari
ibu hamil membutuhkan penanganan untuk penggantian cairan dan koreksi ketidakseimbangan
elektrolit. Mual dan muntah khas kehamilan terjadi selama trimester pertama dan paling mudah
disebabkan oleh peningkatan jumlah HCG. Mual juga dihubungkan dengan perubahan dalam
indra penciuman dan perasaan pada awal kehamilan. (Walsh, 2007)
Hiperemesis gravidarum didefinisikan sebagai vomitus yang berlebihan atau tidak
terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atu
defisiensi nutrisi, dan kehilangan berat badan. Insiden kondisi ini sekitar 3,5 per 1000 kelahiran.
Walaupun kebanyakan kasus hilang dan hilang seiring perjalanan waktu, satu dari setiap 1000
wanita hamil akanmenjalani rawat inap. Hiperemesis gravidarum umumnya hilang dengan
sendirinya (self-limiting), tetapi penyembuhan berjalan lambat dan relaps sering umum terjadi.
Kondisi sering terjadi diantara wanita primigravida dan cenderung terjadi lagi pada kehamilan
berikutnya. (Lowdermilk, 2004)

3.2. Contuinity Of Care


Setiap wanita hamil memiliki akses perawatan yang berkesinambungan oleh bidan
dikenal mulai kehamilan, persalinan dan periode pasca kelahiran awal. Dalam hal ini bidan harus
mampu untuk menjalin kerjasama dengan ibu untuk melakukan perawatan akibat Hiperemesis
Gravidarum.
Perawatan Hiperemisis Gravidarum seperti sebagai berikut :
  Menganjurkan mengubah pola makan sehari-hari dengan makanan dalam porsi kecil tetapi sering.
  Waktu bangun dari tempat tidur pagi jangan segera turun dari tempat tidur tapi sebaiknya makan
roti atau biskuit dengan teh hangat manis.
  Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan.
  Makanan dan minuman sebaiknya dihidangkan dalam keadaan panas atau dingin sekali.
  Usahakan agar dapat BAB setiap hari karena dapat menjamin menghindarkan kekurangan
karbohidrat.
  Menganjurkan banyak makan makanan yang mengandung gula.
  Menganjurkan kepada ibu untuk dapat menerima kehamilannya dengan baik, menghilangkan
perasaan kuatir / takut terhadap kehamilan.
  Kurangi pekerjaan yang dapat menggangu kehamilan.
  Hilangakan / hindari masalah dan konfilik yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
  Menganjurkan kepada ibu agar istirahat yang cukup.
  Hubungan seksual boleh dilakukan asal tidak menggangu kehamilan dan ibu merasa nyaman
melakukannya.
  Berikan dukungan  / support dari orang sekitarnya.
  Pencegahan terhadap hypremisis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan
penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan
keyakinan bahwa mual dan muntah merupakan gejala fisiologik pada kehamilan muda dan akan
hilang setelah umur kehamilan 4 bulan.

3.3  Empowering Women


Sebagai seorang bidan harus memberikan kekuatan kepada seorang ibu terutama ibu yang
menderita hiperemesis gravidarum sebab seorang ibu dapat lebih tenang ketika ada yang
memotivasinya perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan,
hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan
konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.

3.4  Informed Choice


Pada sebagian kecil kasus keadan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan
mengadakan pemeriksaan medik dan psikistrik bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan,
takhikardi, ikterus, anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam
keadaan demikian seorang bidan harus mampu memberikan pertimbangkan apakah ibu tersebut
harus mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus teraupetik sering sulit
diambil, oleh karena itu disatu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat harus ada pemikiran
yang matang, tetapi dilain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada
organ vital. (Wiknjosastro, 2005)
Pada beberapa kasus, pengobatan hyperemesis gravidarum tidak berhasil malah terjadi
kemunduran dan keadaan semakin menurun sehingga diperlukan pertimbangan untuk melakukan
gugur kandung. Keadaan yang memerlukan pertimbangan gugur kandung yaitu :
1)      Gangguan kejiwaan
2)      Gangguan penglihatan
Bidan harus mapu membimbing ibu tersebut dalam mengambil keputusannya, seorang
bidan harus dapat memberikan informasi baik kepada ibu maupun keluarganya agar tidak ada
kata penyesalan dikemudian harinya.

3.5  Woman and Family Patnership


Bidan dan keluarga harus bekerjasama dengan baik demi menjaga kesehatan ibu,
contohnya bidan dapat memberikan saran pada ibu yang menderita Hiperemesis Gravidarum
bahwa berdasarkan data yang telah didapat dan informasi dari pihak rumah sakit bahwa
hiperemesis gravidarum sering terjadi pada ibu hamil yang tidak bekerja karena adanya
kesukaran hidup yang hanya mengandalkan pendapatan suami atau karena rutinitas ibu di rumah
yang membosankan berkaitan dengan faktor psikologis sebagai faktor pemicu terjadinya
hiperemesis gravidarum. Untuk itu bidan dan keluarga harus memberikan perhatian yang lebih
bagaimana semestinya hal yang harus dilakukan ketika hamil.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan pada ibu hamil
yang ditandai dengan muntah-muntah yang berlebihan (muntah berat) dan terus menerus pada
minggu kelima sampai dengan minggu kedua belas, jadi mual-muntah yang berlebihan disaat
kehamilan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jelas
memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik,
memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang
fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan
mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering.

4.2 Saran
Saran untuk ibu yang menderita Hiperemesis Gravidarum agar lebih memperhatikan pola
makan dan keadaan fisik ibu, dan saran untuk bidan agar dapat meberikan asuhan dan pandangan
tentang Hiperemesis gravidarum dengan cara menginformasikannya kepada seorang ibu dengan
baik, agar kedepannya seorang ibu dapat menjadi ibu yang tidap lagi menjadi penderita
hiperemesis gravidarum.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA

http://bayuajuzt.blogspot.com/2012/05/materi-tentang-hemostatis.html
Llwellyn Jones, Derek.(2011). Dasar-Dasar Obstetri & Ginekologi. Jakarta. EGC

Bayu. 2012. Materi Tentang Homoestasi (Onlie)

http://gayahidup.inilah.com/read/detail/1933896/hiperemesis-gravidarum-bahayakan-ibu-janin
Prawirohardjo,Sarwono.Ilmu Kebidanan. Edisi 4. Jakarta.EGC.2008

Leveno,Kenneth J.dkk. Obstetri Williams.Edisi 21. Jakarta.EGC.2009

Manuaba.Pengantar kuliah obstetric. Jakarta. EGC.2007