Anda di halaman 1dari 11

Ibu M, usia 33 tahun mempunyai seorang suami yang bekerja di suatu perusahaan

sebagai tulang punggung keluarga. Seminggu yang lalu, suami Ibu M meninggal
karena kecelakaan. Sejak kejadian tersebut, Ibu M sering melamun dan selalu
mengatakan jika suaminya belum meninggal. Selain itu, Ibu M juga tidak mau
berinteraksi dengan orang lain dan merasa gelisah sehingga susah tidur.

A. Analisa data
1. Data subjektif:
a. Merasa sedih
b. Merasa putus asa dan kesepian
c. Kesulitan mengekspresikan perasaan
d. Konsentrasi menurun
2. Data objektif:
a. Menangis
b. Mengingkari kehilangan
c. Tidak berminat dalam berinteraksi dengan orang lain
d. Merenungkan perasaan bersalah secara berlebihan
e. Adanya perubahan dalam kebiasaan makan, pola tidur dan tingkat
aktivitas.

B. Diagnosa
Diagnosa yang dapat ditegakkan dalam kasus ini adalah:
1. Isolasi sosial berhubungan dengan koping individu tidak efektif terhadap
respon kehilangan pasangan.
2. Ansietas berhubungan dengan keadaan di masa yang akan datang setelah
kehilangan pasangan
3. Ketidakberdayaan dalam melakukan peran berhubungan dengan kehilangan
dan berduka
4. Harga diri rendah berhubungan dengan kehilangan dan berduka

C. Intervensi dan Rasional

No Intervensi Rasional
1. Bina hubungan saling percaya Hubungan saling percaya antara
dengan klien, perlihatkan sikap perawat dan klien merupakan dasar
empati dan perhatian kepada klien terbinanya hubungan terapeutik
2. Berikan motivasi pada klien untuk Motivasi akan membuat klien lebih
mendiskusikan pikiran dan terbuka mengenai pikiran dan
perasaannya perasaannya
3. Dengarkan klien dengan penuh Hal ini menunjukkan rasa peduli
empati, berikan respon dan tidak terhadap perawatan klien, tetapi tidak
menghakimi terlibat secara emosi, klien akan
merasa aman dan nyaman saat
bercerita kepada perawat
4. Libatkan klien dalam aktivitas Aktivitas fisik memberikan suatu
kelompok sesuai dengan aktivitas metode yang aman dan efektif untuk
yang disenanginya mengeluarkan emosi dan kemarahan
yang terpendam
5. Ajarkan klien mengenai cara Dengan meminum obat sesuai
meminum obat yang benar anjuran, klien akan merasa lebih
tenang dan nyaman untuk tidur

D. Implementasi
1. Sapa klien dengan nama yang disenanginya. Memberikan sentuhan akan
menunjukkan rasa empati klien dan pertahankan kontak mata
2. Dorong klien untuk mendiskusikan pikiran dan perasaannya
3. Dengarkan segala keluhan klien. Berikan respon dan jangan menghakimi
4. Ajak klien jika ada kegiatan kelompok, terutama kegiatan yang disenanginya
5. Bimbing klien untuk meminum obat sesuai cara yang dianjurkan

E. Evaluasi
1. Klien mampu mengungkapkan perasaannya secara spontan.
2. Klien menunjukkan tanda – tanda penerimaan terhadap kehilangan
3. Klien dapat membina hubungan yang baik dengan orang lain
4. Klien mempunyai koping yang efektif dalam menghadapi masalah akibat
kehilangan
5. Klien mampu minum obat dengan cara yang bena

Strategi Pelaksanaan Keperawatan pada Klien Kehilangan dan Berduka

(SP 1)
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi klien
Ibu M, usia 33 tahun mempunyai seorang suami yang bekerja di suatu
perusahaan sebagai tulang punggung keluarga. Seminggu yang lalu, suami
Ibu M meninggal karena kecelakaan. Sejak kejadian tersebut, Ibu M sering
melamun dan selalu mengatakan jika suaminya belum meninggal. Selain itu,
Ibu M juga tidak mau berinteraksi dengan orang lain dan merasa gelisah
sehingga susah tidur.
2. Diagnosa keperawatan
Ansietas berhubungan dengan koping individu tidak efektif terhadap respon
kehilangan pasangan
3. Tujuan khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat dan klien
dapat merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan perawat
b. Klien mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya
c. Klien merasa lebih tenang
4. Tindakan keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan cara mengucapkan
salam terapeutik, memperkenalkan diri perawat sambil berjabat tangan
dengan klien
b. Dorong klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Dengarkan
setiap perkataan klien. Beri respon, tetapi tidak bersifat menghakimi
c. Ajarkan klien teknik relaksasi

B. Strategi pelaksanaan
1. Tahap orientasi
a. Salam terapeutik: “Assalamualaikum, selamat pagi Ibu M. Saya
Dermawan, Ibu bisa memanggil saya perawat Mawan. Saya perawat yang
dinas pagi ini dari pukul 07.00 sampai 14.00 nanti dan saya yang akan
merawat Ibu. Nama Ibu siapa? Ibu senangnya dipanggil apa?”
b. Evaluasi validasi: “Baiklah, bagaimana keadaan Ibu M hari ini?”
c. Kontrak: “Kalau begitu, bagaimana jika kita berbincang – bincang
sebentar? Saya rasa 30 menit cukup Bu. Ibu bersedia?”. Ibu mau kita
berbincang – bincang dimana? Di sini saja? Baiklah.”
2. Tahap kerja
a. “Baiklah Ibu M, bisa Ibu jelaskan kepada saya bagaimana perasaan Ibu M
saat ini?”
b. “Saya mengerti Ibu sangat sulit menerima kenyataan ini. Tapi kondisi
sebenarnya memang suami Ibu telah meninggal. Sabar ya, Bu”
c. “Saya tidak bermaksud untuk tidak mendukung Ibu. Tapi coba Ibu pikir,
jika Ibu pulang kerumah nanti, Ibu tidak akan bertemu dengan suami Ibu
karena beliau memang sudah meninggal. Itu sudah menjadi kehendak
Tuhan, Bu. Ibu harus berusaha menerima kenyataan ini.”
d. “Ibu, hidup matinya seseorang semua sudah diatur oleh Tuhan.
Meninggalnya suami Ibu juga merupakan kehendak-Nya sebagai Maha
Pemilik Hidup. Tidak ada satu orang pun yang dapat mencegahnya,
termasuk saya ataupun Ibu sendiri.”
e. “Ibu sudah bisa memahaminya?”
f. “Ibu tidak perlu cemas. Umur Ibu masih muda, Ibu bisa mencoba mencari
pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga Ibu. Saya percaya Ibu
mempunyai keahlian yang bisa digunakan. Ibu juga tidak akan hidup
sendiri. Ibu masih punya saudara – saudara, anak – anak dan orang lain
yang sayang dan peduli sama Ibu.”
g. “Untuk mengurangi rasa cemas Ibu, sekarang Ibu ikuti teknik relaksasi
yang saya lakukan. Coba sekarang Ibu tarik napas yang dalam, tahan
sebentar, kemudian hembuskan perlahan – lahan.”
h. “Ya, bagus sekali Bu, seperti itu.”

3. Tahap terminasi
a. Evaluasi: (subjektif): “Bagaimana perasaan Ibu sekarang? Apa Ibu sudah
mulai memahami kondisi yang sebenarnya terjadi?”
(objektif): “Kalau begitu, coba Ibu jelaskan lagi, hal – hal yang Ibu
dapatkan dari perbincangan kita tadi dan coba Ibu ulangi teknik relaksasi
yang telah kita lakukan.”
b. RTL: “Ya, bagus sekali Bu. Nah, setiap kali Ibu merasa cemas, Ibu dapat
melakukan teknik tersebut. Dan setiap kali Ibu merasa Ibu tidak terima
dengan kenyataan ini, Ibu dapat mengingat kembali perbincangan kita
hari ini.
c. Kontrak yang akan datang: ”Sudah 30 menit ya, Bu. Saya rasa
perbincangan kita kali ini sudah cukup. Besok sekitar jam 09.00 saya akan
datang kembali untuk membicarakan tentang hobi Ibu. Mungkin besok
kita bisa berbincang – bincang di taman depan ya Bu. “Apa ada yang ingin
Ibu tanyakan? Baiklah, kalau tidak ada, saya permisi dulu ya Bu.
Assalamualaikum.”
Strategi Pelaksanaan Keperawatan pada Klien Kehilangan dan Berduka
(SP 2)

A. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Pada pertemuan kedua, Ibu M sudah mulai menunjukkan rasa penerimaan
terhadap kehilangan. Namun, ia masih menarik diri dari lingkungan dan orang
– orang sekitarnya. Ia juga masih melamun dan merasa gelisah sehingga
tidurnya tidak nyenyak.
2. Diagnosa keperawatan
Isolasi sosial berhubungan dengan koping individu tidak efektif terhadap
respon kehilangan pasangan.
3. Tujuan khusus
Klien tidak menarik diri lagi daan dapat membina hubungan baik kembali
dengan lingkungannya maupun dengan orang – orang di sekitarnya.
4. Tindakan keperawatan
a. Libatkan klien dalam setiap aktivitas kelompok, terutama aktivitas yang ia
sukai
b. Berikan klien pujian setiap kali klien melakukan kegiatan dengan benar

B. Strategi Pelaksanaan
1. Tahap orientasi
a. Salam terapeutik: “Assalamualaikum, selamat pagi Ibu M. Masih ingat
dengan saya Bu? Ya, betul sekali. Saya perawat Mawan, Bu. Seperti
kemarin, pagi ini dari pukul 07.00 sampai 14.00 nanti dan saya yang akan
merawat Ibu.”
b. Evaluasi validasi: “Bagaimana keadaan Ibu hari ini? Apa sudah lebih baik
dari kemarin? Bagus kalau begitu”
c. Kontrak: “Sesuai janji yang kita sepakati kemarin ya, Bu. Hari ini kita
bertemu untuk membicarakan hobi Ibu di taman depan. Saya rasa 30
menit seperti kemarin cukup ya, Bu.”
2. Tahap kerja
a. “Nah, Bu. Apakah Ibu sudah memikirkan hobi yang Ibu senangi?”
b. “Ternyata Ibu hobi bermain voli ya? Tidak semua orang bisa bermain voli
lho, Bu.”
c. “Selain bermain voli, apa Ibu mempunyai hobi yang lain lagi?”
d. “Wah, ternyata Ibu juga hobi menyanyi, pasti suara Ibu bagus. Bisa Ibu
menunjukkan sedikit bakat menyanyi Ibu pada saya?”
e. “Wah ternyata Ibu memang berbakat menyanyi, suara Ibu juga cukup
bagus.”
f. “Ngomong – ngomong tentang hobi Ibu bermain voli, berapa sering Ibu
biasanya bermain voli dalam seminggu?”
g. “Cukup sering juga ya Bu. Pasti kemampuan Ibu dalam bermain voli sudah
terlatih.”
h. “Apa Ibu pernah mengikuti lomba voli? Wah, ternyata Ibu hebat juga ya
dalam bermain voli. Buktinya, Ibu pernah memenangi lomba voli
antarwarga di daerah rumah Ibu.”
i. “Nah, bagaimana kalau sekarang Ibu saya ajak bergabung dengan yang
lain untuk bermain voli? Tampaknya di sana banyak orang yang juga ingin
bermain voli. Ibu bisa melakukan hobi Ibu ini bersama – sama dengan
yang lain.”
j. “Ibu – ibu, kenalkan, ini Ibu M. Ibu M juga akan bermain voli bersama –
sama. Ibu M ini jago bermain voli juga.”
k. “Nah, sekarang bisa Ibu tunjukkan teknik – teknik yang baik dalam
bermain bola voli?”
l. “Wah, bagus sekali Bu. Ibu hebat.”
m. “Ibu M, saat Ibu sedang merasa emosi tapi tidak mampu meluapkannya,
Ibu bisa melakukan kegiatan ini bersama – sama yang lain. Selain itu,
kegiatan ini juga dapat membuat Ibu berhubungan lebih baik dengan
yang lainnya dan Ibu tidak merasa kesepian lagi.”
3. Tahap terminasi
a. Evaluasi: (subjektif): “Bagaimana perasaan Ibu sekarang? Apa sudah lebih
baik dibandingkan kemarin?”
(objektif): “Sekarang coba Ibu ulangi lagi apa saja manfaat yang dapat
Ibu dapatkan dengan melakukan kegiatan yang Ibu senangi.”
b. RTL: “Baiklah Bu, kalau begitu Ibu dapat bermain voli saat Ibu sedang
merasa emosi. Atau Ibu dapat melakukan kegiatan ini paling tidak dua kali
dalam seminggu.”
c. Kontrak yang akan datang: “Nah, waktu kita sudah hampir habis ya Bu.
Besok jam 08.00 setelah makan pagi, saya akan kembali lagi untuk
mengajarkan Ibu cara meminum obat dengan benar. Kita ketemu di
ruangan Ibu saja, ya? Apa ada yang ingin Ibu tanyakan? Baiklah, kalau
tidak, saya permisi dulu ya, Bu. Assalamualaikum.”

Strategi Pelaksanaan Keperawatan pada Klien Kehilangan dan Berduka

(SP 3)

A. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Pada pertemuan ketiga, Ibu M sudah mulai tidak banyak melamun dan mulai
membuka dirinya kepada orang – orang sekitarnya. Ibu M juga mau
membalas sapaan ataupun senyuman jika ada perawat ataupun orang lain
yang menyapanya ataupun tersenyum padanya. Namun, Ibu M mengaku ia
masih terbayang akan suaminya saat ia akan tidur. Hal tersebut membuat Ibu
M merasa gelisah, tidur tidak nyenyak, bahkan sulit tidur.
2. Diagnosa keperawatan
Ansietas berhubungan dengan keadaan di masa yang akan datang setelah
kehilangan pasangan.
3. Tujuan khusus
a. Klien dapat mengetahui aturan yang benar dalam meminum obat.
b. Ansietas klien berkurang sehingga klien dapat tidur dengan nyenyak
4. Tindakan keperawatan
a. Ajarkan klien cara meminum obat dengan benar
b. Awasi klien saat minum obat

B. Strategi Pelaksanaan
1. Tahap orientasi
a. Salam terapeutik: “Assalamualaikum, selamat pagi Ibu M.”
b. Evaluasi validasi: “Bagaimana keadaan Ibu hari ini? Apa semalam Ibu bisa
tidur dengan nyenyak?”
c. Kontrak: “Ibu tidak bisa tidur dengan nyenyak ya? Baiklah, sesuai dengan
janji kita yang kemarin, saya akan memberitahu Ibu obat yang harus Ibu
minum untuk mengurangi kecemasan Ibu dan agar Ibu dapat tidur
dengan nyenyak. Saya rasa 15 menit saja cukup ya Bu, di kamar ini saja.”
2. Tahap kerja
a. “Nah, kita langsung mulai saja ya Bu. Ini ada beberapa macam obat –
obatan yang harus Ibu minum.”
b. “Ini obatnya ada dua macam ya Bu. Yang warna putih ini namanya BDZ.
Fungsi dari obat ini agar pikiran Ibu bisa lebih menjadi tenang. Kalau
pikiran Ibu tenang, Ibu bisa tidur dengan nyenyak.”
c. “Kemudian, yang warna kuning ini adalah HLP. Ini juga harus Ibu minum
agar perasaan Ibu bisa rileks dan Ibu tidak lagi merasakan cemas yang
berlebihan.”
d. “Nah Bu, semua obat ini diminum tiga kali sehari ya Bu, jam 7 pagi, jam 1
siang, dan jam 7 malam. Masing – masing obat satu butir saja. Obat –
obatan ini juga harus diminum setelah Ibu makan.”
e. “Apa Ibu mempunyai keluhan dalam meminum obat?”
f. “Ooh, jadi Ibu tidak tahan dengan rasa pahitnya ya? Kalau begitu, setelah
Ibu minum obat Ibu bisa memakan permen agar rasa pahitnya dapat
berkurang.”
g. “Jika setelah minum obat ini mulut Ibu menjadi terasa kering sekali, Ibu
bisa minum banyak air untuk mengatasinya agar mulut Ibu tidak kering.”
h. “Tapi jika ada efek samping yang berlebihan seperti gatal – gatal, pusing,
atau mual, Ibu bisa panggil saya atau perawat lain yang sedang
bertugas.”
i. “Nah, sebelum ibu meminum obatnya, pastikan dulu ya Bu, obatnya
sesuai atau tidak. Ibu juga jangan lupa perhatikan waktunya agar obat
tersebut dapat diminum tepat waktu.”
3. Tahap terminasi
a. Evaluasi: (subjektif): “Apa Ibu sudah mengerti apa saja obat yang harus
Ibu minum dan bagaimana prosedur sebelum meminumnya?”
(objektif): “Bagus. Kalau Ibu sudah mengerti, coba ulangi lagi apa saja
obat yang harus Ibu minum dan apa saja prosedur meminum obatnya.”
b. RTL: “Seperti yang sudah saya katakan tadi ya Bu, jika setelah minum
obat mulut Ibu terasa kering, Ibu dapat meminum air yang banyak. Dan
kalau Ibu merasa gatal – gatal, pusing, atau bahkan muntah, Ibu dapat
menghubungi saya atau perawat lain yang sedang bertugas.”
c. Kontrak yang akan datang: “Baiklah Bu, nanti jam 14.00 setelah makan
siang, saya akan datang kembali untuk memantau perkembangan Ibu.
Kita bertemu di ruangan ini saja ya Bu.” Sebelum saya pergi apa ada yang
ingin Ibu tanyakan? Baiklah Bu, kalau tidak ada, saya permisi dulu.
Assalamualaikum.”