Anda di halaman 1dari 36

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

I
DENGAN LPB DI RUANG BAITUL IZZAH 2
RSI SULTAN AGUNG SEMARANG

Di susun oleh:

RIZKI PUJIASIH (30901800152)

ROSA MILENIA (30901800154)

SAIDAH QODTAMALLA (30901800155)

SALSA NABILA (30901800156)

SENJA CANDRA ERFIANA (30901800157)

SEVA IKHSAN PAMBUDI (30901800158)

SHOBAHATUL KHIYAROH (30901800160)

SHOFIYANA INDAH UTAMI (30901800161)

SIGIT SETIAWAN (30901800162)

SILVIANA RISKA ANGGITASARI (30901800163)

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
(UNISSULA) SEMARANG
2018/2019
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan
yang diberikan kepada pasien dalam berbagai tatanan pelayanan kesehatan dengan proses
keperawatan yang berpedoman pada standar asuhan keperawatan dengan lingkup wewenang,
serta tanggung jawab keperawatan. Pasien yang mengalami gangguan kesehatan pasti akan
terganggu kehidupannya (Tarwoto, 2006).
Kebutuhan dasar manusia yaitu merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi bagi manusia
dimana kebutuhan itu meliputi kebutuhan oksigenasi, kebutuhan nutrisi, kebutuhan cairan dan
elektrolit, kebutuhan eliminasi, personal hygiene, aktivitas, istirahat, tidur, keselamatan,
keamanan dan kebutuhan psikososial terutama pada kebutuhan dasar manusia yang harus
terus diperhatikan yaitu aktivitas. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perubahan
kemampuan gerak aktivitas manusia seperti usia, kecelakaan (insiden), penyakit yang menyertai
yang dapat menyebabkan gangguan intoleransi aktivitas. Ketidakcukupan energi secara fisiologis
untuk meneruskan atau menyelesaikan aktivitas yang diminta atau aktifitas sehari-hari.
Nyeri adalah sensasi yang sangat tidak menyenangkan dan sangat individual yang tidak dapat
dibagi dengan orang lain. Nyeri dapat memenuhi seluruh pikiran seseorang, mengubah
kehidupan orang tersebut. Akan tetapi, nyeri adalah konsep yang sulit dikomunikasikan oleh
klien (Berman, 2009). Menurut International Association for the Studi of Pain (IASP), penyebab
nyeri pada anak tidak hanya dari penyakit yang mengancam jiwa seperti kanker,
tetapi juga cidera, operasi, luka bakar, infeksi, dan efek kekerasan. Anak-anak juga mengalami
nyeri dari banyak prosedur dan penyelidikan yang digunakan oleh dokter dan perawat untuk
menyelidiki dan mengobati penyakit. Respon perilaku anak toddler terhadap
rasa nyeri sama seperti sewaktu masih bayi yaitu mimik wajah, perubahan nada suara dan
aktivitas, serta menangis, menunjukan sikap menjauh dari stimulus nyeri dan aneka vokalisasi.
Namun macam perilakunya bertambah, termasuk menggosok nyeri dan prilaku agresif
(menggigit, memukul, dan menendang). Sejumlah toddler sanggup mengutarakan bila sakit,
namun tidak dapat menggambarkan intensitas nyeri tersebut (Betz, 2009). Peran pemberi
perawatan primer pada penanganan nyeri yaitu untuk mengidentifikasi, mengobati penyebab
nyeri dan memberikan obat-obatan untuk menghilangkan nyeri. Perawat tidak hanya
berkolaborasi dengan tenaga professional kesehatan lain tetapi juga memberikan intervensi
pereda nyeri, mengevaluasi efektivitas intervensi dan bertindak sebagai advokat pasien saat
intervensi tidak efektif. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang. Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan (Wawan, 2010). Pengetahuan perawat tentang penilaian nyeri dan intervensi sangat
penting untuk management nyeri yang efektif dan berkualitas dalam perawatan pasien (Patricia
2010). Pada pengkajian nyeri anak berbeda dengan pengkajian nyeri pada orang
dewasa, pada pengkajian nyeri anak perawat harus mengkaji dari respon verbal dan non verbal.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah QUESTT: Question the child (Bertanya pada anak
mengenai rasa nyeri yang dialamI), Use pain rating scale (menggunakan skala peringkat rasa
nyeri yang sesuai dengan umur dan kemampuan anak, misal dengan menggunakan skala wajah),
Evaluate behavior and physiologic changes (mengevaluasi perubahan tingkah laku dan fisiologis
seperti: menangis keras atau menjerit, memukul dengan tangan atau kaki), Secure parent`s
involvement (melibatkan orang tua untuk mengamati reaksi anak dalam menghadapi nyeri), Take
cause of pain into account (menentukan dan mencatat penyebab rasa nyeri), Take action and
evaluate results (mengambil tindakan dan mengevaluasi hasilnya, mengambil tindakan yaitu
dengan menggunakan obat/ tanpa obat, sedangkan untuk mengevaluasi dapat dilakukan secara
verbal dan non verbal).

B. Tujuan

- Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan perawat tentang nyeri dengan prilaku


pengkajian nyeri pada orang dewasa di ruang Baitul izzah 2 Rumah Sakit Islam Sultan
Agung Semarang.
- Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan perawat tentang nyeri di ruang Baitui izzah 2
Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.
- Mengetahui gambaran tindakan perawat dalam melakukan pengkajian nyeri pada orang
dewasa di ruang Baitul izzah 2 Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.
- Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tindakan keperawatan dalam
pengkajian nyeri pada orang dewasa di ruang Baitul izzah 2 Rumah Sakit Islam Sultan
Agung Semarang.
- Mengetahui perkembangan kesehatan pasien dengan mengevaluasi dalam tindakan
keperawatan nyeri pada orang dewasa di ruang Baitul izzah 2 Rumah Sakit Islam Sultan
Agung Semarang.
BAB II

KONSEP DASAR
A. Pengertian

Definisi nyeri berdasarkan International Association for the Study of Pain (IASP, 1979)
adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan dimana berhubungan dengan
kerusakan jaringan atau potensial terjadi kerusakan jaringan. Sebagai mana diketahui bahwa
nyeri tidaklah selalu berhubungan dengan derajat kerusakan jaringan yang dijumpai. Namun
nyeri bersifat individual yang dipengaruhi oleh genetik, latar belakang kultural, umur dan jenis
kelamin. Kegagalan dalam menilai faktor kompleks nyeri dan hanya bergantung pada
pemeriksaan fisik sepenuhnya serta tes laboratorium mengarahkan kita pada kesalahpahaman
dan terapi yang tidak adekuat terhadap nyeri, terutama pada pasien-pasien dengan resiko tinggi
seperti orang tua, anak-anak dan pasien dengan gangguan komunikasi.
Setiap pasien yang mengalami trauma berat (tekanan, suhu, kimia) atau pasca pembedahan harus
dilakukan penanganan nyeri yang sempurna, karena dampak dari nyeri itu sendiri akan
menimbulkan metabolic stress response (MSR) yang akan mempengaruhi semua sistem tubuh
dan memperberat kondisi pasiennya. Hal ini akan merugikan pasien akibat timbulnya perubahan
fisiologi dan psikologi pasien itu sendiri, seperti :
- Perubahan kognitif (sentral): kecemasan, ketakutan, gangguan tidur dan putus asa.
- Perubahan neurohumoral: hiperalgesia perifer, peningkatan kepekaan luka.
- Plastisitas neural (kornu dorsalis), transmisi nosiseptif yang difasilitasi sehingga
meningkatkan kepekaan nyeri.
- Aktivasi simpatoadrenal: pelepasan renin, angiotensin, hipertensi, takikardi.
- Perubahan neuroendokrin: peningkatan kortisol, hiperglikemi, katabolisme.
Tipe nyeri ada beberapa jenis, pertama yaitu nyeri nosiseptif yang disebabkan oleh aktivitas
nosiseptor (reseptor nyeri) sebagai respon terhadap stimuli yang berbahaya. Nosiseptif
sebenarnya merupakan alur nyeri yang dimulai dari transduksi, transmisi, modulasi sampai
persepsi; kedua adalah nyeri neuropatik yang disebabkan oleh sinyal yang diproses di sistem
saraf perifer atau pusat yang menggambarkan kerusakan sistem saraf perifer atau pusat yang
menggambarkan kerusakan sistem saraf. Nosiseptor adalah aferen-aferen primer yang berespon
terhadap stimulus yang berbahaya dan intens. Pertama, stimulus mencetuskan aktivitas pada grup
aferen primer di neuron-neuron ganglion sensorik (nosiseptor). Melalui sistem spinal dan
berbagai sistem intersegmental, informasi tersebut mengakses pusat supraspinal di batang otak
dan talamus. Sistem proyeksi ini mewakili dasar rangsangan somatik dan visera yang
memberikan hasil berupa usaha menarik diri atau keluhan verbal. Nosisepsi merupakan istilah
yang menunjukkan proses penerimaan yang menunjukkan proses penerimaan informasi nyeri
yang dibawa dari reseptor perifer di kulit dan visera ke korteks serebri melalui penyiaran neuron-
neuron. Neuron-neuron sensorik pada akar dorsal ganglia mempunyai ujung tunggal yang
bercabang ke akson perifer dan sentral. Akson perifer mengumpulkan input sensorik dari
reseptor jaringan, sementara akson sentral menyampaikan input sensorik tersebut ke medula
spinalis dan batang otak. Akson sensorik (aferen nosiseptif) tersebar luas di seluruh tubuh (kulit,
persendian, visera dan meningen).
Nyeri merupakan suatu bentuk peringatan akan adanya bahaya kerusakan jaringan.
Pengalaman sensoris pada nyeri akut disebabkan oleh stimulus noksius yang diperantarai oleh
sistem sensorik nosiseptif. Sistem ini berjalan mulai dari perifer melalui medulla spinalis, batang
otak, thalamus dan korteks serebri. Apabila telah terjadi kerusakan jaringan, maka sistem
nosiseptif akan bergeser fungsinya dari fungsi protektif menjadi fungsi yang membantu
perbaikan jaringan yang rusak. Perjalanan nyeri termasuk suatu rangkaian proses neurofisiologis
kompleks yang disebut sebagai nosiseptif (nociception) yang merefleksikan empat proses
komponen yang nyata yaitu transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi, dimana terjadinya
stimuli yang kuat diperifer sampai dirasakannya nyeri di susunan saraf pusat (cortex cerebri).
B. Klasifikasi/ jenis/ macam

- Nyeri akut : pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan berkaitan dengan
kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau yang digambarkan sebagai kerusakan
(International Association for the study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat
dengan intensitas ringan hingga berat, dengan berakhirnya dapat diantisipasi atau
diprediksi, dan dengan durasi kurang dari 3 bulan.
- Nyeri kronis : pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan berkaitan dengan
kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau yang digambarkan sebagai kerusakan
(International Association for the study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat
dengan intensitas ringan hingga berat, terjadi konstan atau berulang yang berakhirnya
tidak dapat diantisipasi atau diprediksi, dan berlangsung lebih dari 3 bulan. Yang
termasuk nyeri kronis adalah nyeri terminal, sindrom nyeri kronis dan nyeri psikomatis.

Berdasarkan lokasinya Sulistyo (2013) dibedakan nyeri menjadi,


1. Nyeri Ferifer
Nyeri ini ada tiga macam, yaitu :
a. Nyeri superfisial, yaitu nyeri yang muncul akibat rangsangan pada kulit dan
mukosa
b. Nyeri viseral, yaitu rasa nyeri yang muncul akibat stimulasi dari reseptor nyeri
di rongga abdomen, cranium dan toraks.
c. Nyeri alih, yaitu nyeri yang dirasakan pada daerah lain yang jauh dari penyebab
nyeri.
2. Nyeri Sentral
Nyeri yang muncul akibat stimulasi pada medulla spinalis, batang otak dan
talamus.
3. Nyeri Psikogenik
Nyeri yang tidak diketahui penyebab fisiknya. Dengan kata lain nyeri ini
timbul akibat pikiran si penderita itu sendiri.
C. Fisiologi
Nyeri adalah fenomena kopleks yang mencakup baik komponen sensoris diskriminatif dan
motivasional afektif. Komponen sensoris diskriminatif nyeri bergantung pada proyeksi traktus ke
atas (termasuk traktus spinotalamikus dan trigeminotalamikus) menuju korteks serebral.
Pemrosesan sensoris pada tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi ini menghasilkan persepsi
kualitas nyeri (tusukan, terbakar, sakit), lokasi rangsangan nyeri, dan intensitas nyeri. Respon
motivasional afektif terhadap rangsangan nyeri mencakup perhatian dan bangkitan, refleks
somatik dan otonom, respon endokrin, dan perubahan emosional. Hal ini menjelaskan secara
kolektif untuk sifat tidak menyenangkan dari rangsangan yang menyakitkan. Definisi nyeri
seperti yang diajukan oleh Perhimpunan Internasional dalam mempelajari nyeri menekankan
sifat kompleks nyeri sebagai suatu keadaan fisik, emosional, dan psikologis. Hal ini dikenali
bahwa nyeri tidak harus berkorelasi dengan derajat kerusakan jaringan yang hadir. Kegagalan
untuk menghargai fakto-faktor kompleks yang mempengaruhi pengalaman nyeri maupun
ketergantungan sepenuhnya pada temuan pemeriksaan fisik dan uji laboratorium mungkin
mengarahkan pada kesalahpahaman maupun pengobatan yang tidak adekuat terhadap nyeri.
Konsep anatomis yang terlalu disederhanakan merupakan predisposisi terhadap intervensi
terapeutik sederhana, seperti neurektomi atau rhizotomi, yang mungkin mengintensifkan nyeri
atau membuat nyeri baru dan kerap kali sangat mengganggu. Sistem nosiseptif sangatlah
kompleks dan mudah beradaptasi. Sensitivitas sebagian besar komponennya dapat diatur ulang
oleh sejumlah keadaan fisiologis dan patologis. Berbagai pengobatan inovatif sedang
dikembangkan yang menargetkan penyebab nyeri melalui aksi pada transduksi, transmisi,
interpretasi, dan modulasi nyeri baik pada sistem saraf perifer (PNS) maupun sistem saraf pusat
(CNS).
D. Gangguan/ masalah

1. NYERI NEUROPATIK : nyeri yg didahului atau disebabkan oleh lesi atau disfungsi
primer pd sistem saraf.
2. NYERI NEUROGENIK : nyeri yg didahului atau disebabkan oleh lesi disfungsi atau
gangguan sementara primer pada sistem saraf pusat atau tepi.
3. NEURALGIA : nyeri pada daerah distribusi saraf.
4. NEURITIS : inflamasi pada saraf.
5. NEUROPATI : gangguan fungsi atau perubahan patologis pada saraf, pada 1 saraf :
mononeuropati, beberapa saraf : mononeuropati / multipleks, bila bersifat diffus &
bilateral polineuropati.
6. ALODINIA : nyeri yg disebabkan oleh stimulus yang secara normal tidak menimbulkan
nyeri.
7. HYPERALGESIA : respons yang berlebihan terhadap stimulus yang secara normal
menimbulkan nyeri.
8. HYPERESTESIA : meningkatkan sensitifitas terhadap stimulasi.
9. HYPERPATIA : sindroma dengan nyeri bercirikan reaksi nyeri abnormal terhadap
stimulus, khususnya terhadap stimulus berulang, seperti pada peninggian nilai ambang.
10. DISESTESIA : sensasi abnormal yang tidak menyenangkan baik bersifat spontan atau
dengan pencetus.
11. PARAESTESIA : sensasi abnormal, baik bersifat spontan maupun dengan pencetus.

BAB III

KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian keperawatan terhadap masalah kebutuhan aman nyaman dapat meliputi
pengkajian khusus masalah aman nyaman dan pengkajian fisik secara umum yang
berhubungan dengan kebutuhan rasa nyaman :
PENGKAJIAN KHUSUS
a.Identitas
Melakukan pengkajian yang meliputi nama pasien, jenis kelamin, umur, status
perkawinan, pekerjaan, alamat, pendidikan terakhir, tanggal masuk, nomer register,
diagnosa medis, dan lain-lain.
b.Riwayat Kesehatan
 Keluhan Utama
Keluhan yang paling dirasakan oleh pasien saat dilakukan pengkajian
P : Paliatif = faktor yang mempengaruhi gawat atau ringannya nyeri
Q : Qualitatif = seperti apa, tajam, tumpul atau tersayat
R : Regio = daerah penjalaran nyeri
S : Severe = keparahan atau intensitas nyeri
T : Time = lama waktu serangan atau frekuensi nyeri
 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien bercerita tentang riwayat penyakit, perjalanan dari rumah ke rumah sakit
dan penyakit apa yang sedang diderita pada masa sekarang
 Riwayat Penyakit Dahulu
Data yang diperoleh dari pasien, apakah pasien mempunyai penyakit di masa lalu
maupun sekarang
 Riwayat Penyakit Keluarga
Data yang diperoleh dari pasien maupun keluarga pasien, apakah keluarga ada
yang memiliki riwayat penyakit menurun maupun menular.
c.Tingkat Aktifitas sehari-hari Pola Istirahat /Tidur
 Waktu tidur
Waktu tidur yang dialami pasien pada saat sebelum sakit dan dilakukan di rumah,
waktu tidur yang diperlukan oleh pasien untuk dapat tidur selama di rumah sakit
 Waktu bangun
Waktu yang diperlukan untuk mencapai dari suatu proses NERM ke posisi yang
rileks, waktu bangun dapat dikaji pada saat pasien sebelum sakit dan  pada saat
pasien sudah di rumah sakit
 Masalah tidur
Apa saja masalah-masalah tidur yang dialami oleh pasien pada saat sebelum sakit
dan pada saat sudah masuk di rumah sakit
 Hal-hal yang mempermudah tidur
Hal-hal yang dapat membuat pasien mudah untuk dapat tidur secara nyenyak
 Hal-hal yang mempermudah pasien terbangun
Hal-hal yang menyangkut masalah tidur yang menyebabkan pasien secara mudah
terbangun
d. Pola Eliminasi
 Buang Air Kecil
Berapa kali dalam sehari, adakah kelainan, berapa banyak, dibantu atau secara
mandiri
 Buang Air Besar
Kerutinan dalam eliminasi alvi setiap harinya, bagaimanakah bentuk dari BAB
pasien (encer, keras, atau lunak)
 Kesulitan BAK / BAB
Kesulitan-kesulitan yang biasanya terjadi pada pasien yang kebutuhan nutrisinya
kurang, diet nutrisi yang tidak adekuat
 Upaya mengatasi BAK / BAB
Pasien untuk mengatasi masalah yang terjadi pada pola eliminasi
 Pola Makan dan Minum
 Jumlah dan jenis makanan
Seberapa besar pasien mengkonsumsi makanan dan apa saja makanan yang di
konsumsi
 Waktu pemberian makanan
Rentang waktu yang diperlukan pasien untuk dapat mengkonsumsi makanan yang
di berikan
 Jumlah dan jenis cairan
 Berapakah jumlah dan apasajakah cairan yang bisa dikonsumsi oleh pasien yang
setiap harinya di rumah maupun dirumah sakit
 Waktu pemberian cairan
Waktu yang di butuhkan pasien untuk mendapatkan asupan cairan
 Masalah makan dan minum
Masalah-masalah yang dialami pasien saat akan ataupun setelah mengkonsumsi
makanan maupun minuman
a. Kebersihan Diri / Personal Hygiene
 Pemeliharaan badan
Kebiasaan pasien dalam pemeliharaan badan setiap harinya mulai dari mandi,
keramas, membersihkan kuku dan lain-lain  
 Pemeliharaan gigi dan mulut
Rutinitas membersihkan gigi, berapa kali pasien menggosok gigi dalam sehari
 Pola kegiatan lain
Kegiatan yang biasa dilakukan oleh pasien dalam pemeliharaan badan
b. Data Psikososial  
 Pola komunikasi
 Pola komunikasi pasien dengan keluarga atau orang lain, orang yang paling dekat
dengan pasien
 Dampak di rawat di Rumah Sakit
Dampak yang ditimbulkan dari perawatan di Rumah Sakit
c. Data Spiritual
 Ketaatan dalam beribadah
 Keyakinan terhadap sehat dan sakit
 Keyakinan terhadap penyembuhan
 
PENGKAJIAN UMUM
a. Pemeriksaan umum
a) Keadaan Umum
Composmentis, somnolen, koma, delirum
b) Kesadaran
c) Tanda-tanda vital
Ukuran dari beberapa criteria mulai dari tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu
d) Pemeriksaan Kepala
Pada kepala yang dapat kita lihatadalah bentuk kepala, kesimetrisan,  penyebaran
rambut, adakah lesi, warna, keadaan rambut
e) Pemeriksaan Wajah Inspeksi :
  sianosis, bentuk dan struktur wajah
f) Pemeriksaan Mata
Pada pemeriksaan mata yang dapat dikaji adalah kelengkapan dan kesimetrisan
g) Pemeriksaan Hidung
Bagaimana kebersihan hidung, apakah ada pernafasan cuping hidung, keadaan
membrane mukosa dari hidung
h) Pemeriksaan Telinga Inspeksi :
  Keadaan telinga, adakah serumen, adakah lesi infeksi yang akut atau kronis
i) Pemeriksaan Leher
Inspeksi :
  adakah kelainan pada kulit leher
Palpasi :
palapasi trachea, posisi trachea (miring, lurus, atau bengkok), adakah pembesaran
kelenjar tiroid, adakah pembendungan vena  jugularis
j) Pemeriksaan Integumen
Bagaimanakah keadaan turgor kulit, adakah lesi, kelainan pada kulit, tekstur, warna
kulit
k) Pemeriksaan Thorax
Inspeksi dada, bagaimana bentuk dada, bunyi normal
l) Pemeriksaan Jantung
Inspeksi dan Palpasi: mendeteksi letak jantung, apakah ada pembesaran  jantung
Perkusi :mendiagnosa batas-batas diafragma dan abdomen
Auskultasi :bunyi jantung I dan II
m) Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi:bagaimana bentuk abdomen (simetris, adakah luka, apakah ada  pembesaran
abdomen)
Auskultasi:mendengarkan suara peristaltic usus 5-35 dalam 1 menit
Perkusi:apakah ada kelainan pada suara abdomen, hati (pekak), lambung (timpani)
Palpasi:adanya nyeri tekanan atau nyeri lepas saat dilakukan palpasi
n) Pemeriksaan Genetalia
Inspeksi:keadaan rambut pubis, kebersihan vagina atau penis, warna dari kulit
disekitar genetalia
Palpasi:adakah benjolan, adakah nyeri saat di palpasi
o) Pemeriksaan Anus
Lubang anus, peripelium, dan kelainan pada anus
p) Pemeriksaan Muskuloskeletal
Kesimetrisan otot, pemeriksaan abdomen, kekuatan otot, kelainan pada anus
q) Pemeriksaan Neurologi
Tingkat kesadaran atau meninggal ringan, syaraf otak, fungsi motorik, fungsi
sensorik
r) Pemeriksaan Status Mental
Tingkat kesadaran emosi, orientasi, proses berfikir, persepsi dan bahasa, dan
motivasi
s) Pemeriksaan Tubuh Secara Umum
Kebersihan, normal, postur

b. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang langsung berhubungan dengan pemenuhan
kebutuhan nutrisi adalah pemeriksaan albumin serum, Hemoglobin, glukosa, elektrolit,
dan lain-lain.

B. Diagnosa keperawatan

a. Nyeri akut b.d agen cedera fisik


b. Intoleransi aktifitas b.d mobilitas
c. Resiko konstipasi b.d kelemahan otot abdomen
C. Rencana tindakan

1. Dx 1
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.
Tujuan :
 Tingkat nyeri
 Kontrol nyeri
 Tingkat kenyamanan

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam,


diharapkan nyeri pada pasien menghilang, dengan
Kriteria hasil :
 Pasien menunjukkan ekspresi wajah rilexs
 Dilatih dengan distraksi relaksasi
 Nyeri hilang
 Pasien dapat hilang nyeri secepatnya
Intervensi :
 Lakukan pengkajian nyeri secara komperehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
 Beri posisi nyaman
 Beri pengetahuan tentang nyeri
 Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
dukungan dan bantuan
 Ajarkan tentang teknik non farmakologi : nafas dalam, relaksasi,
distraksi, kompres hangat dan dingin
 Kolaborasi dengan memberikan terapi obat analgesik

2. Dx II
Intoleransi aktifitas b.d mobilitas
Tujuan :
 Aktifitas mandiri
 Pertahanan kekuatan otot

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam,


pasien tidak mengalami intoleransi aktifitas, dengan
Kriteria hasil :
 Dapat kekamar mandi dengan mandiri
 Dengan dilatih
 Pasien segera pulih
 Pasien dapat pulih selama 3 hari

Intervensi :
 Kaji lokasi ketidaknyamanan / nyeri selama aktifitas
 Pertahankan tirah baring
 Batasi aktifitas selama fase akut seuai dengan kebutuhan
 Bantu pasien untuk gerak aktif / pasif
 Kolaborasi dengan fisioterapi untuk melatih kekuatan otot

3. Dx III
Resiko konstipasi b.d kelemahan otot abdomen
Tujuan :
 Resiko konstipasi tidak terjadi / teratasi
 Mengidentifkasi indicator untuk mencegah konstipasi
 Bebas dari ketidaknyamanan konstipasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan
resiko konstipasi pasien teratasi, dengan
Kriteria hasil :
 Pasien mampu BAB dengan lancar
 Tanpa bantuan obat pencahar / lainnya
 Dengan diberikannya nutrisi yang berserat
 Diharapkan pasien pulih / keluhan berkurang
 Diharapkan pasien sembuh secepatnya
Intervensi :
 Deteksi penyebab konstipasi
 Kaji warna, konstipasi, jumlah dan waktu BAB
 Berikan cukupan nutrisi berserat
 Berikan cairan adekuat
 Atur waktu yang tepat untuk defekasi
 Konsultasi dengan dokter tentang penurunan / peningkatan bising
usus
 Kolaborasi pemberian laksatif
BAB IV

PEMBAHASAN KELOMPOK

A. Pengkajian
1. DATA UMUM
1. IDENTITAS
a. Identitas Pasien
Nama : Tn. I
Umur :52 Tahun
Jenis Kelamin :laki-laki
Agama :Islam
Pendidikan :SMA
Pekerjaan :wiraswasta
Suku/Bangsa :Jawa/Indonesia
Alamat :jln Genuksari rt 10 / rw 03
Diagnosa Medis : LPB
Tanggal Dan Jam Masuk : 19 Mei 2019
b. Identitas Penanggung jawab
Nama : Ny. T
Umur :49 Tahun
Jenis Kelamin :Perempuan
Agama :Islam
Suku/Bangsa :Jawa/Indonesia
Pendidikan Terakhir :SMA
Pekerjaan :Ibu Rumah Tangga
Alamat : jln Genuksari rt 10 / rw 03
Hubungan Dengan Pasien :istri

2. Status Kesehatan Saat Ini


a. Keluhan utama : Klien mengatakan nyeri pada bagian pinggang
b. Alasan Masuk Rumah Sakit : Klien mengatakan nyeri pinggang dan sakit pada
saat BAB
c. Factor Pencetus : Klien mengatakan
d. Lamanya Keluhan : Klien mengatakan sudah 1 minggu yang lalu
e. Timbulnya Keluhan : Klien mengatakan nyeri muncul secara mendadak
f. Upaya Yang Dilakukan Untuk Mengatasi : Klien mengatakan dengan cara
rileksasi / mencari posisi yg nyaman
g. Factor Yang Memperberat : ekonomi

3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu


a. Penyakit Yang Pernah Dialami : Klien mengatakan bahwa sebelumnya memiliki
riwayat penyakit hipertensi & stroke
b. Kecelakaan : Klien mengatakan bahwa tidak pernah
mengalami kecelakaan
c. Pernah Dirawat : Klien mengatakan sebelumnya pernah di rawat

d. Alergi : Klien mengatakan tidak mempunyai alergi


e. Imunisasi : Klien mengatakan pernah melakukan imunisasi

4. Riwayat Kesehatan Keluarga


a. Susunan Kesehatan Keluarga (genogram : 3 generasi)

Keterangan :
: tinggal satu rumah
: Pasien
: Laki laki
: Perempuan
b. Penyakit yang pernah di derita anggota keluarga (DX Medis yang berhubungan
dengan penyakit klien) = klien mengatakan keluarganya tidak memiliki keluhan
riwayat penyakit
c. Penyakit yang sedang diderita keluarga (DX Medis yang berhubungan dengan
penyakit pasien): Klien mengatakan bahwa saat ini keluarga tidak mengalami
sakit

5. Riwayat Kesehatan Lingkungan


a. Kebersihan Rumah Dan Lingkungan : Kklien mengatakan bahwa kebersihan
rumah cukup bersih & lingkungannya pun juga
b. Kemungkinan Terjadinya Bahaya : Klien mengatakan tidak ada kemungkinan
terjadi bahaya.
II. POLA KESEHATAN FUNGSIONAL (DATA FOKUS)
1. Pola Persepsi Dan Penghargaan Kesehatan
a. Persepsi pasien tentang kesehatan diri
- Sebelum sakit : klien mengatakan bahwa ia kurang memperhatikan kesehatannya
- Setelah dirawat : klien mengatakan jadi lebih paham cara menjaga kesehatan diri
b. Pengetahuan dan persepsi pasien tentang penyakit dan perawatannya
- Sebelum sakit : kien mengatakan bahwa belum paham betul tentang penyakit dan
perawatannya
- Setelah dirawat : klien mengatakan paham tentang bahaya dari penyakit dan cara
pencegahannya
c. Upaya yang biasa dilakukan dalam mempertahankan kesehatan (gizi/makanan yang kuat,
pemeriksaan kesehatan berkala, perawatan kebersihan diri. Imunisasi dll)
- sebelum sakit : klien mengatakan kurang mempertahankan kualitas gizi pada
makanan yang dimasak setiap harinya
-setelah dirawat : klien mengatakan berusaha mempertahankan kesehatan gizi dan
dirinya dengan memilih makanan yang sehat, mencuci sayur sebelum dimasak,
memilih sayur yang segar, memasak hingga matang

d. kemampuan pasien untuk mengontrol kesehatan (apa yang dilakukan pasien bila sakit, kemana
pasien biasa berobat bila sakit)
-sebelum sakit : klien mengatakan sering mengabaikan penyakitnya
-setelah dirawat : klien mengatakan lebih tau apabila sakit harus segera diperiksa
bukan malah dibiarkan agar tidak semakin parah
e. kebiasaan hidup (konsumsi obat-obatan/jamu, konsumsi alcohol, konsumsi rokok, konsumsi
kopi, kebiasaan berolahraga)
-sebelum sakit : klien mengatakan tidak mengkonsumsi obat-obatan
-setelah dirawat : klien mnegatakan lebih paham jika sakit harus berobat ke tempat
pelayanan kesehatan terpadu

f.
2. Pola Eliminasi
a. Eliminasi Feses
1. Pola BAB
Sebelum sakit Sesudah sakit
frekuensi 2x sehari Sulit BAB
Waktu Pagi & malam Tak tentu
Konsistensi Kuning kecoklatan Kuning
Warna Padat Padat kecil
Penggunaan pencahar Tidak memakai Tidak memakai
Ada keluhan diare Tidak ada Nyeri saat BAB
konstipasi Ada Ada

b. Pola BAK
Sebelum sakit Sesudah sakit
Frekuensi >7x sehari >6x sehari
Waktu Saat ingin berkemih Saat ingin berkemih
Jumlah 2.200 cc 2.100 cc
Warna Jernih Kuning agak keruh

3. Pola Aktivitas Dan Latihan


a. kegiatan dalam pekerjaan
- sebelum sakit : klien mengatakan dapat mngerjakan pekerjaannya
- setelah dirawat : klien mengatakan hanya berbaring ditempat tidur
b. olahraga yang dilakukan
- sebelum dan sesudah sakit : klien mengatakan tidak pernah olahraga
c. kesulitan/keluhan dalam aktivitas
1. pergerakkan tubuh
- sebelum sakit : pasien mengatakan bisa menggereakkan anggota tubuh dengan baik, dan
tidak ada hambatan untuk aktivitas
- setelah dirawat : pasien mengatakan dapat bergerak tetapi terbatas
2. perawatan diri
Sebelum sakit Sesudah sakit
Mandi Mandiri Dibantu keluarga
Memakai pakaian Mandiri Dibantu keluarga
Berseolek Mandiri Tidak bersolek
Makan Mandiri Mandiri

3. berhajat
-sebelum sakit : pasien mengatakan BAK dan BAB lancar
-setelah dirawat : pasien mengatakan untuk BAK kurang lancar, tetapi tidak bisa BAB
4. keluhan sesak nafas setelah melakukan aktivitas
-sebelum sakit : pasien mengatakan tidak ada keluhan sesak nafas saat beraktivitas
-setelah dirawat : pasien mengatakan tidak ada keluhan sesat nafas saat beraktivitas
5. mudah merasa lelah
Pasien mengatakan mudah merasa kelelahan
4. Pola istirahat Tidur
Sebelum sakit Sesudah sakit
Waktu tidur siang 3 jam 3 jam
Waktu tidur malam 6 jam 4 – 5 jam
Keluhan Tidak ada Tidak ada

5. Pola Nutrisi – Metabolik


Sebelum sakit Sesudah sakit
Pola makan 3x sehari 1porsi 3x sehari setengah porsi
Pola minum 7 gelas/hari Kurang lebih 4 gelas
Diet - -
Nafsu makan Baik Kurang Baik
Mual Tidak Tidak mual
Mutah Tidak Tidak
Stomatitis Tidak ada Tidak ada
Kesulitan menelan Tidak Tidak

Pola kognitif perseptual sensori


Sebelum sakit Sesudah sakit
Penglihatan / pendengaran Baik baik
Kemampuan bicara Baik baik
Kesulitan yang dialami Tidak ada Tidak ada

Persepsi terhadap nyeri dengan menggunakan pendekatan PQRST


P : nyeri terasa karena penyakit yang dialami
Q : seperti ditusuk – tusuk
R : pada bagian pinggang
S : 6 dari 1-10 (sedang)
T : hilang timbul
6. Pola persepsi diri dan konsep diri
a. Persepsi diri
-sebelum sakit : pasien mengatakan tidak ingin sakit
-setelah dirawat : pasien mengatakan ingin sembuh total
b. Status emosi
-sebelum sakit : pasien mengatakan status emosinya stabil
-setelah dirawat : pasien mengatakan status emosinya naik turun
c. Konsep diri
1. citra diri/body image
Selama sakit pasien tidak terlalu mudah berinterkasi akibat nyeri yang dirasa

2. identitas
Pasien berstatus sebagai kepala rumah tangga & selama dirawat di rumah sakit
kesehatan pasien membaik namun nyerinya terkadang masih muncul, pasien merasa
cukup puas atas status dan posisi pasien

3. Peran
Pasien dirumah berperan sebagai ayah, sebelum sakit pasien dalam melakukan
segala tanggung jawab mencari nafkah cukup baik, dan setelah sakit pasien tidak
dapat melakukan pekerjaannya dengan baik
4. ideal diri
Pasien maupun keluarga berharap agar cepat diberi kesembuhan oleh ALLAH SWT agar
dapat beraktifitas seperti dulu lagi & lebih bisa menjaga kesehatannya.

5. harga diri
Pasien tidak pemalu, keluarga maupun kerabat tetap menghargai & mensuport.

8. pola mekanisme kopping


-sebelum sakit : pasien mengatakan selalu melibatkan keluarga dalam mengambilan
keputusan sendiri
-setelah dirawat : pasien mengatakan melibatkan keluarga dalam pengambilan keputusan

9. pola seksual reproduksi


-sebelum sakit : pasien mengatakan paha mengenai seksual dan reproduksi
-setelah dirawat : pasien mengatakan tetap paham tentang seksual dan reproduksi

10. pola peran hubungan dengan orang lain


-sebelum sakit : pasien mengatakan tidak ada kesulitan dalam berkomunikasi dengan
orang lain
-setelah dirawat : pasien mengatakan sedikit mengalami kesulitan pada saat
berkomunikasi dengan orang lain

11. pola nilai dan kepercayaan


-sebelum sakit : pasien mengatakan tidak ada kesulitan dalam beribadah
-setelah dirawat : pasien mengatakan tetap beribadah

III. PEMERIKSAAN FISIK HEAD TO TOE


1. Kesadaran : compos mentis
Pengkajian GCS
- EYE = spontan (4)
- Verbal = orientasi baik (5)
- Motoric = sesuai perintah (6)
Total GCS Tn . I adalah 15 (composmentis)
2. Penampilan : lemas dan pucat
3. Vital sign :
TD : 140/80 mmHg,
suhu 36,5 C,
RR : 24x/menit,
Nadi : 88x/menit
4. Kepala : bentuk simetris, warna hitam, kebersihan cukup baik
5. Mata : kemampuan melihat baik, ada respon cahaya
6. Hidung : bentuk simetris, tidak mimisan, penciuman normal dan napas cuping
hidung normal
7. Telinga : bentuk simetris, pendengaran berkurang, tidak memakai alat bantu
8. Mulut dan tenggorokan : mudah mengunyah dan menelan
9. Dada : -Jantung:
 inspeksi:ictus cordis tampak
 Palpasi: ichtus cordis tidak teraba
 Perkusi : terdengar bunyi pekak
 Auskultasi : terdengar bunyi regular, tidak ada murmur
-Paru-paru:
 inspeksi : pengembangan dada simetris
 Palpasi : tidak ada krepitasi
 Perkusi : terdengar bunyi sonor
 Auskultasi : terdengar suara vesicular

10. Abdomen :
- auskultasi: bising usus terdengar jelas 15x/menit, tidak ada bruit arteri
-inspeksi : warna sama, tidak ada luka, bundar, terlihat tidak ada
pembesaran hati dan limpa
-perkusi : terdengar bunyi timpani
-Palpasi : terdapat nyeri tekan pada abdome bagian bawah
11. Genetalia : bersih, tidak ada luka maupun infeksi dan tidak terpasang kateter
12. Ekstremitas atas dan bawah
Ekstremitas atas
Kanan Kiri
-pasien tidak mengalami edema Tidak mengalami edema
-pasien tidak mengalami nyeri -tidak ada nyeri
-tidak ada luka -tidak ada luka dan terpasang infus

Ekstremitas bawah
Kanan Kiri
-tidak mengalami edema -tidak mengalami edema
-tidak mengalami nyeri -tidak ada nyeri

13. Kulit : lumayan bersih, sawo matang, kulit lembab, tidak ada edema, tidak terdapat
luka

14. Data penunjang


Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan satuan
HEMATOLOGY
Hemoglobin 14,5 13,2-17,3 g/dl
Hematokrit 39,2 33-45 %
Leukosit 9,35 3,6-11,0 Ribu/uL
Trombosit 274 150-440 Ribu/uL
Golongan darah:Rh A/positif
Gula darah puasa 115 75-110 Mg/dl
Cholesterol 206 <200 Mg/dl
Trigliserid 274 150-440 Mg/dl
Uric acid 4,6 3,5-7,2 Mg/dl
Ureum 37 10-50 Mg/dl
Na.k.cl
Natrium 139,2 132-147 Mmol/L
Creatinin darah 1,03 0,7-1,3 Mg/dl
Chloride

b. Diet yang diperoleh


Tanggal Jenis diet Keterangan
18 mei 2019 Makanan Bentuk makanan lunak
c. Therapy :
-infus RL 20 tpm
-arpiet 1x1 (oral)
-citicholin 1x500
-diazepam 2x1

B. Analisa data

Tgl / Data fokus Problem Etiologi TTD


jam
18 mei DS: Nyeri akut Agen cedera
2019 Pasien mengatakan nyeri pinggang fisik
15.00 DO :
WIB Pasien tampas meremas remas
pinggangnya

-TD : 140/80 mmHg


-Suhu : 36,5
-RR : 24x/menit
-Nadi : 88x/menit
- P : pasien mengatakan
nyeri pada bagian
pinggang
- Q : pasien mengatakan
nyeri seperti ditusuk-
tusuk
- R : pasien mengatakan
nyeri pada bagian
pinggang
- S : 6 dari 0-10
- T : hilang timbul
18 mei DS : Intoleransi Mobilitas
2019 - Pasien mengatakan aktifitas
17.00 kurang bisa mandiri
WIB dalam beraktifitas
DO :
- Pasien nampak dibantu
keluarga
- Indeks kats :
Mandi : dibantu
Toileting : dibantu
Makan : dibantu
Berpakaian : dibantu
Berpindah : dibantu
Nilai : F
18 mei DS : Resiko Kelemahan otot
2019 - Pasien mengatakan sulit konstipasi abdomen
19.00 BAB
WIB DO :
- Pasien nampak
kesulitan BAB
- Pasien nampak lemas
- Pasien nampak nyeri
saat BAB

C. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut b.d agen cedera fisik
b. Intoleransi aktifitas b.d mobilitas
c. Resiko konstipasi b.d kelemahan otot abdomen
D. Rencana keperawatan (NCP)

a. INTERVENSI
Tgl/jam Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil planning Ttd
keperawatan
18 mei Nyeri akut b.d Setelah dilakukan tindakan  Lakukan
2019 agen cedera keperawatan 3x24 jam pengkajian
15.00 fisik diharapkan gangguan rasa nyeri secara
WIB nyeri yang dialami pasien komperehens
akan teratasi dengan kriteria if termasuk
hasil : lokasi,
karakteristik,
 Pasien menunjukkan durasi,
ekspresi wajah rilexs frekuensi,
 Dilatih dengan kualitas dan
distraksi relaksasi faktor
 Nyeri hilang presipitasi
 Pasien dapat hilang  Beri posisi
nyeri secepatnya nyaman
 Beri
pengetahuan
tentang nyeri
 Bantu pasien
dan keluarga
untuk
mencari dan
menemukan
dukungan
dan bantuan
 Ajarkan
tentang
teknik non
farmakologi :
nafas dalam,
relaksasi,
distraksi,
kompres
hangat dan
dingin
 Kolaborasi
dengan
memberikan
terapi obat
analgesik
18 mei Intoleransi Setelah dilakukan tindakan  Kaji lokasi
2019 aktifitas b.d keperawatan 3x24 jam ketidaknyam
17.00 mobilitas diharapkan rasa nyaman akan anan / nyeri
WIB bertambah dengan kriteria selama
hasil : aktifitas
 Dapat kekamar mandi  Pertahankan
dengan mandiri tirah baring
 Dengan dilatih  Batasi
 Pasien segera pulih aktifitas
 Pasien dapat pulih selama fase
selama 3 hari akut seuai
dengan
kebutuhan
 Bantu pasien
untuk gerak
aktif / pasif
 Kolaborasi
dengan
fisioterapi
untuk
melatih
kekuatan otot

18 mei Resiko Setelah dilakukan tindakan


2019 konstipasi b.d keperawatan 3x24 jam  Deteksi
19.00 kelemahan diharapkan resiko konstipasi penyebab
WIB otot abdomen tidak terjadi dengan kriteria konstipasi
hasil :  Kaji warna,
 Pasien mampu BAB konstipasi,
dengan lancar jumlah dan
 Tanpa bantuan obat waktu BAB
pencahar / lainnya  Berikan
 Dengan diberikannya cukupan
nutrisi yang berserat nutrisi
 Diharapkan pasien berserat
pulih / keluhan  Berikan
berkurang cairan
 Diharapkan pasien adekuat
sembuh secepatnya  Atur waktu
yang tepat
untuk
defekasi
 Konsultasi
dengan
dokter
tentang
penurunan /
peningkatan
bising usus
 Kolaborasi
pemberian
laksatif

b. IMPLEMENTASI
Tgl/jam Diagnosa IMPLEMENTASI Respon Ttd
keperawatan
18 mei Nyeri akut  Melakukan pengkajian nyeri -S : pasien
2019 b.d agen secara komperehensif mengatakan
cedera fisik termasuk lokasi, nyeri seperti
karakteristik, durasi, ditusuk tusuk
frekuensi, kualitas dan faktor O : pasien
15.00 presipitasi tampak lemah
WIB
 Memberikan posisi nyaman -S : pasien
mengatakan
nyeri seiring
hilang timbul
O : pasien
tampak masih
menaham
nyeri

 Mengajarkan tentang teknik -S : pasien


non farmakologi : nafas mengatakan
dalam, relaksasi, distraksi, nyaman
kompres hangat dan dingin dengan
posisinya
O : pasien
tampak
tenang

 Mengkolaborasikan dengan -S : pasien


memberikan terapi obat mengatakan
analgesik paham akan
penyakit
O : pasien
ada respon
saat di
edukasi

18 mei Intoleransi  Mengkaji lokasi -S : pasien


2019 aktifitas b.d ketidaknyamanan / nyeri mengatakan
mobilitas selama aktifitas sulit aktifitas
O : pasien
17.00 masih tampak
WIB di bantu
keluarga
 Membatasi aktifitas selama -S : pasien
fase akut seuai dengan mengatakan
kebutuhan aktifitasnya
terbantu
O : pasien
tampak tidak
terlalu lemas
 Membantu pasien untuk
gerak aktif / pasif -S : pasien
mengatakan
belum bisa
bergerak
dengan aktif
O:
pergerakan
pasien
tampak di
bantu dengan
alat
 Mengkolaborasi dengan
fisioterapi untuk melatih -S : pasien
kekuatan otot mengatakan
masih sakit
apabila
pinggangnya
digerak
gerakkan
O : pasien
tampak
menegeluh
kesakitan
18 Mei Resiko
2019 kostipasi b.d  Mendektesi penyebab konstipasi -S : pasien
kelemahan mengatakan
otot abdomen sakit saat
BAB
O : nyeri
pinggang
masih terasa

 Mengkaji warna, konstipasi, jumlah -S : -


dan waktu BAB O : warna
BAB kuning,
konsistensint
a padat,
waktu BAB
tak tentu,
karena
adanya
keluhan
pinggang
 Memberikan cukupan nutrisi
berserat -S : pasien
mengatakan
masih sulit
BAB
O : pasien
tampak lesu
 Mengkolaborasikan pemberian
laktasif -S : pasien
mengatakan
BAB belum
lancar
O : pasien
tampak
meringis
kesakitan
19 Nyeri akut b.d  Melakukan -S : pasien mengatakan
Mei agen cedera pengkajian nyeri nyeri belum hilang
2019 fisik secara O : pasien tampak
komperehensif meringis kesakitan
termasuk lokasi, >P : adanya nyeri
karakteristik, pinggang
durasi, frekuensi, >Q :seperti ditusuk
kualitas dan faktor >R : pada bagian
presipitasi pinggang
>S : 6 dari 0-10
>T: hilang timbul

-S : pasien mengatakan
mampu mengatur posisi
O : pasien tampak bisa
melakukan teknik tanpa
diajarkan ulang perawat
 Memberikan posisi
nyaman -S : pasien merasa nyaman
O : pasien tampak tenang
dengan posisi yang
diedukasi

-S : pasien mengatakan
setuju diberikan obat
O : pasien meminum obat
 Mengajarkan sesuai anjuran
tentang teknik non
farmakologi : nafas
dalam, relaksasi,
distraksi, kompres
hangat dan dingin

 Mengkolaborasikan
dengan
memberikan terapi
obat analgesik

19 Intoleransi  Mengkaji lokasi -S : pasien mengatakan


Mei aktifitas b.d ketidaknyamanan / pinggang masih terasa
2019 mobilitas nyeri selama sakit
aktifitas O : adanya cedera tapi
tidak ada luka
-S : pasien mengatakan
kaki masih nyeri ketika
 Mempertahankan digunakan untuk bergerak
tirah baring O : tidak ada lesi/edema

-S : pasien setuju dengan


tindakan
O : pasien tampak paham
paham atas anjuran yang
diberikan

-S : pasien mengatakan
 Membantu pasien diberikan fisioterapi
untuk gerak aktif / O : pasien tmapak
pasif mengikuti anjuran dengan
baik

 Mengkolaborasi
dengan fisioterapi
untuk melatih
kekuatan otot

19 Resiko
Mei kostipasi b.d  Mendektesi penyebab -S : pasien mengatakan
2019 kelemahan konstipasi masih sedikit sakit saat
otot abdomen BAB
O : nyeri pinggang belum
hilang

-S : -
O : warna BAB kuning,
 Mengkaji warna, konsistensinya padat,
konstipasi, jumlah dan waktu BAB tak tentu,
waktu BAB karena adanya keluhan
pinggang

-S : pasien mengatakan
mampu mencerna
makanan
O : pasien tampak
 Memberikan cukupan menerima pemberian
nutrisi berserat nutrisi
-S : pasien mengatakan
menerima pemberian obat
laktasif
O : pasien tampak
minumo obat sesuai
 Mengkolaborasikan anjuran
pemberian laksatif
20 Nyeri akut b.d  Melakukan -S : pasien mengatakan
Mei agen cedera pengkajian nyeri nyeri sudah sedikit hilang
2019 fisik secara -O :
komperehensif P = adanya cidera
termasuk lokasi, Q= seperti ditusuk
karakteristik, R=pada bagian pinggang
durasi, frekuensi, S= 4 dari 0-10
kualitas dan faktor T=tak tentu
presipitasi
-S :pasien mengatakan
lebih rileks
O : pasien terlihat mampu
mengatasi nyerinya

-S : pasien mengatakan
 Memberikan posisi lebih membaik
nyaman O:pasien sudah bisa
mengatur posisinya agar
nyeri berkurang

-S : pasien mengatakan
lebih membaik setelah
minum obat
 Mengajarkan O : pasien tampak rileks
tentang teknik non
farmakologi : nafas
dalam, relaksasi,
distraksi, kompres
hangat dan dingin

 Mengkolaborasikan
dengan
memberikan terapi
obat analgesik

20 Intoleransi  Mengkaji lokasi -S : pasien mengatakan


Mei aktifitas b.d ketidaknyamanan / sakitnya menurun
2019 mobilitas nyeri selama O : pasien tampak tenang
aktifitas

-S :pasien mengatakan
sudah bisa melakukan
aktifitas sendiri
O :pasien tampak
membaik

-S : pasien setuju dengan


tindakan
O : pasien tampak mampu
 Membantu pasien bergerak dengan aktif
untuk gerak aktif /
pasif
-S : pasien menerima
anjuran dengan baik
O : pasien lebih bia
bergerak dengan bebas
 Mengkolaborasi
dengan fisioterapi
untuk melatih
kekuatan otot

20 Resiko
Mei kostipasi b.d  Mendektesi penyebab -S : pasien mengatakan
2019 kelemahan konstipasi sudah tidak terlalu sakit
otot abdomen saat BAB
O : nyeri pinggang
berkurang

-S : -
O:
 Mengkaji warna, Warna BAB kuning pekat,
konstipasi, jumlah dan konsistensi nya padat,
waktu BAB waktu BAB 2x sehari

-S : pasien mampu
mencerna makanan yg
diberikan
O : kondisi pasien
 Memberikan cukupan membaik
nutrisi berserat
-S : pasien rutin minum
obat
O : K.U membaik

 Mengkolaborasikan
pemberian laksatif

C. EVALUASI KEPERAWATAN
TGL/JAM DIAGNOSA CATATAN PERKEMBANGAN TTD
KEPERAWATAN
18 Mei Nyeri akut b.d agen S : pasien mengatakan nyeri pada pinggang
2019 cedera fisik O : pasien tampak lemah
Ttv : TD = 140/80 mmHg
N = 88x/menit
RR = 24x/menit
Suhu = 36.5
>P : adanya nyeri pinggang
>Q :seperti ditusuk
>R : pada bagian pinggang
>S : 6 dari 0-10
>T: hilang timbu
A : masalh belum teratasi
P : lanjut intervensi
- Kaji nyeri
- Ajarkan relaksasi dan dikstrasi
- Kolaborasi dengan pemberin obat
anal gesik
18 Mei Intoleransi aktifitas S : pasien mengatakan sulit beraktifitas
2019 b.d mobilitas O : aktifitas pasien dibantu keluarga
A: masalah belum teratasi
P :lanjut intervensi
- Kaji lokasi ketidaknyaman
- Membatasi aktifitas pasien
- Bantu pasien dalam gerak aktif &
pasif
- Kolaborasi dengan fisioterapi
18 Mei Resiko konstipasi b.d S : pasien mengatakan sakit saat BAB
2019 kelemahan otot O : pasien tampak memegang pinggang
abdomen A : masalah belum teratasi
P : lanjut intervensi
- Deteksi penyebab konstipasi
- Kaji warna, jumlah dan waktu BAB
- Berikan cukupan nutrisi berserat
- Kolaborasi dengan pemberian
laktafis
19 Mei Nyeri akut b.d agen S : pasien mengatakan nyeri pinggang belum
2019 cedera fisik hilang
O :pasien tampak lemah
Ttv : TD = 140/80 mmHg
N = 88x/menit
RR = 24x/menit
Suhu = 36.5
>P : adanya nyeri pinggang
>Q :seperti ditusuk
>R : pada bagian pinggang
>S : 6 dari 0-10
>T: hilang timbul
A : masalah belum teratasi
P : lanjut intervensi
- Kaji nyeri
- Ajarkan distraksi & relaksasi
- Kolaborasi dengan pemberian obat
analgesic
19 Mei Intoleransi aktifitas S : pasien mengatakan masih sulit untuk
2019 b.d mobilitas melakukan aktifitas
O : aktifitas pasien masih dibantu keluarga
A : masalah belum teratasi
P : lanutkan intervensi
- Kaji lokasi ketidaknyamanan
- Batasi aktifitas pasien
- Bantu pasien dalam gerak aktif
maupun pasif
- Kolaborasi dengan fisioterapi
19 Mei Resiko konstipasi b.d S : pasien mengatakan BAB membaik
2019 kelemahan otot O : pasien tampak tenang
abdomen A : masalah teratasi sebagian
P : lanjut intervensi no 3&4
- Berikan cukupan nutrisi berserat
- Kolaborasi pemberian laktasif

20 Mei Nyeri akut b.d agen S : pasien mengatakan nyeri berkurang


2019 cedera fisik O : pasien tampak tenang
Ttv : TD = 120/80 mmHg
N = 81x/menit
RR = 22x/menit
Suhu = 36.5
>P : adanya nyeri pinggang
>Q :seperti ditusuk
>R : pada bagian pinggang
>S : 4 dari 0-10
>T: hilang timbul

A :masalah teratasi sebagian


P : pertahankan intervensi
- Kaji nyeri
- Ajarkan distraksi & relaksasi
- Kolaborasi dengan pemberian obat
analgesic

20 Mei Intoleransi aktifitas S : pasien mengatakan keadaan membaik


2019 b.d mobilitas O : pasien tampak lebi aktif
A : masalah teratasi
P : intervensi diberhentikan
20 Mei Resiko konstipasi b.d S : pasien mengatakan BAB semakin membaik
2019 kelemahan otot dan nyeri saat BAB berkurang
abdomen O :pasien tampak lebih relaks
A : masalah teratasi
P : intervensi diberhentikan
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Keamanan adalah kondisi bebas dari cedera fisik dan psikologis. Keselamatan adalah suatu
keadaan seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya/kecelakaan. Pemenuhan
kebutuhan keamanan dan keselamatan dilakukan untuk menjaga tubuh bebas dari kecelakaan
baik pada pasien, perawat, atau petugas lainnya yang bekerja untuk pemenuhan kebutuhan
tersebut.
Kenyamanan/rasa nyaman adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia
yaitu kebutuhan akan ketentraman (suatu kepuasan yang meningkatkan penampilan sehari-hari).
Nyeri merupakan suatu gejala yang bersifat ojektif. Hanya orang yang merasakan yang bisa
mengungkapkan. Kebutuhan dasar manusia untuk memenuhi rasa yang tidak nyaman atau nyeri
ini, perawat perlu memperhatiakn, mengkaji konsep dasar nyeri pada klien yang mengalami
gngguan keamaman.
B. Saran
Semoga dengan memahami konsep dasar nyeri ini. Kita bisa menerapkan dan membagi ilmu
dalam menyelesaikan masalah gangguan rasa aman dan nyaman ini dalan dunia kesehatan.