Anda di halaman 1dari 10

LI LBM 5

1. Apa saja fx resiko dari scenario ?


Etiologi emfisema paru adalah kerusakan parenkim paru yang berkaitan erat dengan
berbagai macam faktor risiko. [1,3]

Faktor Risiko
Faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya emfisema paru antara lain
riwayat merokok, paparan polutan, dan faktor genetik.
Merokok
80-90% penderita emfisema adalah perokok. Pada perokok aktif yang menghabiskan 1 bungkus
berisi 20 batang rokok perhari, risiko emfisema adalah 15-20%. Sedangkan perokok aktif yang
menghabiskan 2 bungkus rokok per hari, risiko emfisema adalah 25%.
Paparan Polutan
Riwayat terpapar polusi udara di lingkungan sekitar tempat tinggal dan tempat kerja juga
meningkatkan risiko terkena emfisema. Contoh dari polutan yang berbahaya adalah asap
pembakaran rumah tangga untuk memasak dengan menggunakan kayu, arang atau bahkan
kotoran hewan, serta isosianat, fosgen, debu organik, dan debu anorganik.
Genetik
Faktor genetik seperti defisiensi antitripsin alfa-1, umumnya jarang terjadi di Indonesia.
Defisiensi antitripsin alfa-1 adalah kondisi keturunan autosomal dominan. Gen ini terletak pada
kromosom 14 dan diekspresikan sebagai fenotip yang berbeda-beda. Tipe genotip yang paling
sering menyebabkan simptom adalah defek pada Z allele homozygous (Pi ZZ). Seseorang
dengan Pi ZZ namun tidak merokok jarang menderita emfisema, namun apabila seseorang
dengan Pi ZZ dan perokok maka kemungkinan besar akan menderita emfisema. [6]

Referensi
1. Medscape. Emphysema. Diunduh dari: https://emedicine.medscape.com/article/298283-
overview
3. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. PPOK. 2003. Diunduh dari :
https://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-ppok/ppok.pdf
6. American Thoracic Society/ European Respiratory Society Statement : standards for
the diagnosis and management of individuals with alpha-1 antitrypsin deficiency. Am J
Respir Crit Care Med. 2003; 168(7): 818-900.

2. Apa pemeriksaan penunjang dari scenario


Sumber : Hidayat Amee, Asuhan Keperawatn EMFISEMA. 2013. Surakarta.
https://www.slideshare.net/ameeraffanya/asuhan-keperawatan-emfisema-
27850916

1. Faal Paru
 Spirometri (FEV1, FEV1 prediksi, FVC, FEV1/FVC) Obstruksi
ditentukan oleh nilai FEV1 prediksi (%) dan atau FEV1/FVC (%). FEV1
merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya
PPOK dan memantau perjalanan penyakit. Apabila spirometri tidak
tersedia atau tidak mungkin dilakukan, APE meter walaupun kurang tepat,
dapat dipakai sebagai alternatif dengan memantau variabilitas harian pagi
dan sore, tidak lebih dari 20%.
 Peak Flow Meter
2. Radiologi (foto toraks)
Hasil pemeriksaan radiologis dapat ditemukan kelainan paru berupa
hiperinflasi atau hiperlusen, diafragma mendatar, corakan bronkovaskuler
meningkat, jantung pendulum, dan ruang retrosternal melebar. Meskipun kadang-
kadang hasil pemeriksaan radiologis masih normal pada PPOK ringan tetapi
pemeriksaan radiologis ini berfungsi juga untuk menyingkirkan diagnosis
penyakit paru lainnya atau menyingkirkan diagnosis banding dari keluhan pasien.
3. Analisa gas darah harus dilakukan bila ad kecurigaan gagal nafas. Pada
hipoksemia kronis kadar hemiglobin dapat meningkat.
4. Mikrobiologi sputum
5. Computed temography Dapat memastikan adanya bula emfimatosa.
Sumber : http://eprints.undip.ac.id/43734/3/BAB_2.pdf

 Terapi
1. Breating Exercise
Deep breating exercise bertujuan untuk meningkatkan volume paru,
meningkatkan dan redistribusi ventilasi, mempertahankan alveolus agar tetap
mengembang, meningkatkan ogsigenasi, membantu membersihkan sekresi mukosa,
mobilisasi sangkar thorak, dan meningkatkan kekuatan otot – otot pernafasan,
meningkatkan daya tahan serta efisiensi dari otot – otot pernafasan (Levenson,
1992). 8 Pelaksanaannnya yaitu posisi pasien tidur terlentang dengan kepala berada
di bantal. Terpais berada disamping pasien dan memberikan aba – aba kepada
pasien. Pasien diminta untuk menarik nafas sedalam mungkin melalui hidung
dimulai dari akhir ekspirasi kemudian mengeluarkannya secara rileks melalui mulut.
Setiap latihan dapat dilakukan 5 kali pengulangan.
2. Coughing exercise
Pasien diposisikan duduk dengan badan sedikit membungkuk kedepan dengan
posisi terapis di samping pasien. Penatalaksanaan siapkan tempat untuk membuang
spuntum dan pasien diminta untuk menarik nafas panjang dan dalam secara pelan
dengan pernafasan diafragma, kemudian ditahan 2 detik dan dihentakkan atau
dibatukkan keras sebanyak 2 kali. Pasien kemudian diminta untuk istirahat sambil
menarik nafas pelan dan dalam. Dilakukan sampai jalan nafas terasa longgar dan
dapat diulang 2 kali dalam sehari.

3. Edukasi
Edukasi adalah hal – hal yang harus dilakukan oleh pasien yaitu pengaturan posisi
yang bertujuan untuk memperoleh rileksasi dari seluruh tubuh terutama pada thorak
juga mengontrol pernafasan diafragma pasien agar dapat mencapai gerakan respirasi
penuh, yaitu :
- Pasien diminta untuk menghindari asap rokok dan polusi udara dengan
menggunakan masker
- Pasien diminta untuk banyak minum air putih
Sumber : Adhitya Kusuma Bakti. PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA PENYAKIT
PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK) EKSASERBASI AKUT DI BALAI BESAR
KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA. 2014. Surakarta
http://eprints.ums.ac.id/32410/16/NASKAH%20PUBLIKASI.pd
 BARREL CHEST
Barel Chest adalah kelainan bentuk dada berupa peningkatan diameter
antroposterior dinding dada sehingga dada tampak bulat seperti tabung. Pada
barrel chest diagfargama ke bawah, tulang sternum terdorong ke depan, dan
tulang iga terlihat mendatar sehingga dada selalu tampak seperti kondisi inspirasi.
Barrel chest umumnya merupakam tanda pada fase akhir penyakit paru obstruktif
kronik (PPOK) akibat penambahan volume paru karena adanya hambatan aliran
udara yang beralngsung kronik.
3. Bagimana peran perawat dalam mengajarkan pursed lips breathing?
Mengajarkan pasien latihan nafas dalam kepada pasien dengan memberikan contoh
pasien diminta mengikuti :
 Mengatur posisi yang nyaman dengan posisi setengah duduk di tempat tidur atau
dikursi atau lying position(posisi berbaring) ditempat tidur dengan satu bantal.
 Minta pasien memfleksikan lutut pasien untuk merileksasikan otot abdomen
 Minta pasien menempatkan satu tangan didada dan satu tangan pada abdomen.
 Melatih pasien melakukan nafas perut. Tarik nafas dalam melalui hidung selama 3
hitungan, jaga mulut tetap tertutup.
 Meminta pasien untuk kosentrasi dan merasakan gerakan naiknya abdomen
sejauh mungkin, tetap dalam kondisi relaks dan cegah lengkung pada punggung.
Jika ada kesulitan menaikkan abdomen, ambil nafas secara cepat, nafas kuat lewat
hidung.
 Kamudian minta pasien menghembuskan nafas lewat mulut dengan bibir seperti
meniup dan ekspirasi secara perlahan dan kuat, sehingga terbentuk suara
hembusan tanpa menggembungkan pipi. Lakukan ekspirasi selama 3 hitungan.
 Minta pasien untuk kosentrasi dan rasakan turunya abdomen dan konsentrasi dari
otot abdomen ketika ekspirasi.
 Meminta pasien untuk mengulangi latihan nafas dalam. Perhatikan tindakan yang
dilakukan, evaluasi dan benarkan jika tindakan masih kurang tepat. Berikan
reinforcement positif jika tindakan sudah tepat.
(buku skill of laboratory keperawatan medical bedah 1)

4. Apa tujuan dan manfaat dari teknik pursed lips breathing ?


 Tujuan untuk meningkatkan kemampuan otot-otot pernafasan berguna
meningkatkan ventilasi fungsi paru dan memperbaiki oksigenasi. Dan mencegah
distress pernafasan.
 Untuk mencapai ventilasi yang lebih terkontrol dan efisien serta mengurangi kerja
pernafasan.
 Meningkatkan inflasi alveolar maksimal, relaksasi otot dan menghilangkan
ansietas.
 Mencegah pola aktivitas otot pernafasan yang tidak berguna, melambatkan
frekuensi pernafasan, mengurangi udara yang terperangkap, serta mengurangi
kerja bernafas.
 (buku skill of laboratory keperawatan medical bedah 1)
5. Bagaimana monitoring terhadap intervensi keperawatan thd pasien ?
Diangnosa 1
Ketidakefektifan pola napas b.d hipoventilasi
Ds : pasien mengatakan napas terasa berat jika melakukan aktivitas berat
Do: auskultasi : ekspansi tidak memanjang
RR : 22x/menit

NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24jam diharapkan pasien dengan
kriteria hasil
- Mampu bernafas dengan mudah tidak ada purshed lips
- Menunjukkan jalan napas yang paten ( klien tidak merasa tercekik, irama dan
frekuensi napas dalam batas normal , tidak ada bunyi suara napas tambahan)
- Mampu mengidentifikasi dan mencegah faktor yang dapat menghambat jalan napas

NIC
Manajemen pola napas
- Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha, napas)
- Monitor bunyi napas tambahan
- Atur posisi pasien semi fowler
- Monitor tanda dan gejala hipoksia
- Monitor ttv

Diagnosa 2
Intoleransi aktivitas b.d kelemahan akibat retraksi otot bantu napas
Ds : pasien mengatakan napas terasa berat jika melakukan aktivitas berat
Do: auskultasi : ekspansi tidak memanjang
RR : 22x/menit

NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawata selama 3x24 jam diharapkan pasien dapat
beraktivitas seperti semula dengan kriteria hasil
- Mampu memonotir kelelahan fisik dan emosiaonal
- Mampu melakukan aktivitas secara mandiri
- Mampu melakukan strategi koping untuk mengurangi kelelahan

NIC
Manajemen energi
- Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
- Monitor kelelahan fisik dan emosional
- Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan
- Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
Terapi aktivitas
- Fasilitasi fokus pada kemampuan bukan defisit yang dialami
- Libatkan keluarga dalam aktivitas
- Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih

6.