Anda di halaman 1dari 9

ASKEP FLU BURUNG

A. Pengertian
Influenza A (H5N1) adalah bagian dari jenis virus influenza tipe A.
Burung-burung liar adalah tempat tinggal alami dari virus ini, maka
dinamakan flu burung atau “avian influenza”. Virus ini beredar diantara
burung-burung di seluruh dunia. Kelompok yang rentan terhadap virus ini
adalah:
 Unggas : ayam, bebek, angsa, burung puyuh, burung unta, dll.
 Mamalia : babi, anjing, kucing, kuda, kambing.
 Manusia
Virus ini disebarkan oleh unggas liar, karena itulah dinamakan flu avian
atau flu burung. Virus tersebut menyebar pada unggas hampir diseluruh dunia,
sangat menular terhadap sesama unggas dan mematikan, terutama jenis
unggas seperti ayam (www.dyatmika.com)

B. Definisi Kasus
1. Kasus Suspek
Kasus suspek adalah seseorang yang menderita ISPA
dengan gejala demam (temp > 38°C), batuk dan atau sakit
tenggorokan dan atau ber-ingus serta dengan salah satu keadaan;
 Seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang sedang
berjangkit klb flu burung
 Kontak dengan kasus konfirmasi flu burung dalam masa
penularan
 Bekerja pada suatu laboratorium yang sedang memproses
spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita
flu burung
2. Kasus "Probable"
Kasus "probable" adalah kasus suspek disertai salah satu
keadaan;
 Bukti laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus
influenza A (H5N1), misal : Test HI yang menggunakan
antigen H5N1
 Dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonial gagal
pernafasan/ meninggal apabila terbukti tidak terdapat
penyebab lain
3. Kasus Kompermasi
Kasus kompermasi adalah kasus suspek atau "probale"
didukung oleh salah satu hasil pemeriksaan laboratorium;
 Kultur virus influenza H5N1 positif
 PCR influenza (H5) positif
 Peningkatan titer antibody H5 sebesar 4 kali

C. Etiologi Dan Sifat


Etiologi penyakit ini adalah virus influenza. Adapun sifat virus
ini, yaitu; dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22°C
dan lebih dari 30 hari pada 0°C.
Di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit dapat
bertahan lebih lama, tetapi mati pada pemanasan 60°C selama 30
menit. Dikenal beberapa tipe Virus influenza, yaitu; tipe A, tipe B
dan tipe C. Virus Inluenza tipe A terdiri dari beberapa strain, yaitu;
H1N 1, H3N2, H5N1, H7N7, H9N2 dan lain-lain.
Saat ini, penyebab flu burung adalah Highly Pothogenic Avian
Influenza Virus, strain H5N1 (H=hemagglutinin; N= neuraminidase).
Hal ini terlihat dari basil studi yang ada menunjukkan bahwa unggas
yang sakit mengeluarkan virus Influenza A (H5N1) dengan jumlah
besar dalam kotorannya. Virus Inluenza A (H5N1) merupakan
penyebab wabah flu burung pada unggas. Secara umum, virus Flu
Burung tidak menyerang manusia, namun beberapa tipe tertentu
dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia.

D. Manifestasi klinis
 Demam (suhu badan diatas 38°C)
 Batuk dan nyeri tenggorokkan
 Radang saluran pernapasan atas
 Pneumonia
 Infeksi mata
 Nyeri otot

E. Masa Inkubasi
Masa inkubasi 1-3 hari dan masa infeksi pada manusia 1 hari
sebelum sampai 3-5 hari sesudah timbul gejala. Pada anak bisa
sampai 21 hari.

F. Sumber Dan Cara Penularan


Penularan Flu burung (H5N1) pada unggas terjadi secara
cepat dengan kematian tinggi. Penyebaran penyakit ini terjadi
diantara populasi unggas satu peternakan, bahkan dapat menyebar
dari satu pertenakan ke peternakan daerah lain. Sedangkan penularan
penyakit ini kepada manusia dapat melalui udara yang tercemar virus
tersebut, baik yang berasal dari tinja atau sekreta unggas terserang
Flu Burung. Adapun orang yang mempunyai resiko besar untuk
terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan unggas,
penjual dan penjamah unggas.
Hal lain, belum ada bukti terjadi penularan dari manusia ke
manusia. Disamping itu, belum bukti adanya penularan pada
manusia melalui daging unggas yang dikonsumsi.
G. WOC

Flu burung

Virus H5N1

Sistem imun

Penurunan imun tubuh Hipotalamus Demam

Sal.pernapasan Sal.pencernaan

Invasi H5N1 Peningkatan mucosa usus

Iritasi pleura Berkurang penyerapan

Infeksi Tinja bercampur air

Sesak napas Diare

Ketidakefektifan Gangguan keseimbangan


bersihan jalan nafas cairan & elektrolit

Dehidrasi

Hipertermi

Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh

H. Penatalaksanaan
Penanganan medis maupun pemberian obat dilakukan oleh
petugas medis yang berwenang. Obat-obatan yang biasa diberikan
adalah penurun panas dan anti virus. Di antara antivirus yang dapat
digunakan adalah jenis yang menghambat replikasi dari neuramidase
(neuramidase inhibitor), antara lain Oseltamivir (Tamiflu) dan
Zanamivir. Masing-masing dari antivirus tersebut memiliki efek
samping dan perlu diberikan dalam waktu tertentu sehingga
diperlukan opini dokter.
Penatalaksanaan klien flu burung yang dirawat di ruang isolasi
dan ruang rawat biasa :
1. Penderita dirawat di RUANG ISOLASI
Kewaspadaan terhadap penularan melalui udara (transmisi
airbone). Selama masa penularan yaitu 7 hari sejak timbulnya
gejala demam (> 38 derajat celcius). Kriteriannya :
 Kamar individual
 Pengaturan ventilasi dengan tekanan negatif, yang
menjamin minimal enam kali pertukaran udara setiap jam
 Muara pembuangan udara ke luar harus ditempat yang jauh
aliran udara masuk
 Jangan menggunakan AC central, Namur sebaiknya
menggunakan AC+HEPA
2. Penderita yang di RUANG RAWAT BIASA
 Setelah hasil usap nasopharing
negatif berulang kali dengan PCR atau biarkan
 Setelah hari ke 7 akan terjadi demam
 Demam berlanjut sampai dengan 7
hari

Perawatan Kasus Flu Burung di Rumah Sakit :


Seseorang yang terkena flu burung istirahat, tidur yang cukup,
dan banyak minum. Obat demam dan sirup obat batuk berguna untuk
meringankan gejala. Apabila tidak ada infeksi karena bakteri, jangan
mengkonsumsi obat antibiotik. Penderita juga perlu menjaga
kebersihan diri dan sering mencuci tangan untuk menghindari
penyebaran virus dari tangan yang kena virus sewaktu menyentuh
hidung atau mulut. Aspirin tidak boleh digunakan untuk anak-anak,
karena dapat mengakibatkan sindrom Reye. Penderita yang memiliki
kekebalan rendah untuk melawan penyakit atau apabila terjadi tanda-
tanda memburuknya kondisi badan, perlu segera meminta nasita
dokter.
Flu burung H5N1 pada umumnya lebih parah daripada flu
biasa dan sering kali memerlukan perawatan di rumah sakit.
Penderita harus berkonsultasi ke dokter sesegera mungkin. Beberapa
obat antivirus mungkin efektif untuk pengobatan penyakit itu. Obat-
obatan harus digunakan secara hati-hati sesuai petunjuk dokter,
karena obat-obatan itu kemungkinan dapat menimbulkan efek
camping yang kurang baik (Tamher dan Noorkasiani).

I. Pengobatan
1. Oksigenasi bila sesak napas
2. Hidrasi dengan pemberian cairan parenteral (infus)
3. Pemberian obat antivirus oseltamivir 75 mg dosis tunggal selama
7 hari
4. Amatidin diberikan pada awal infeksi sedapat mungkin dalam
waktu 48 jam pertama selama 3-5 hari dengan dosis 5 mg per kg
BB per hari dibagi dalam 2 dosis. Bila BB lebih dari 45 kg
diberikan lebih dari 100 mg 2x sehari

J. Kelompok resiko tinggi


- Pekerja peternakan / pemprosesan unggas (termasuk Dokter
hewan)
- Pekerja laboratorium yang memproses sample pasien / unggas
yang terjangkit.
- Pengunjung peternakan / pemproses unggas (dalam 1 minggu
terakhir)
- Kontak dengan penderita flu burung.

K. Upaya Pencegahan
Upaya pencegahan penularan dilakukan dengan cara
menghindari bahan yang terkontaminasi tinja dan sekret unggas,
dengan tindakan sebagai berikut :
1. Setiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari
saluran cerna unggas harus menggunakan pelindung (masker,
kacamata renang)
2. Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas seperti tinja
harus ditatalaksana dengan baik ( ditanam / dibakar) agar tidak
menjadi sumber penularan bagi orang disekitarnya.
3. Alat-alat yang dipergunakan dalam peternakan harus dicuci
dengan desinfektan
4. Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi
peternakan
5. Mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak pada suhu
80°C selama 1 menit, sedangkan telur unggas perlu dipanaskan
pada suhu 64°C selama 5 menit.
6. Melaksanakan kebersihan lingkungan.
7. Melakukan kebersihan diri.

L. Tindakan pada saat wabah


 Pendidikan kesehatan pada masyarakat, program imunisasi
untuk mereka yang beresiko tinggi tertular, surveilens dan
hasilnya dilaporkan kepada masyarakat.
 Rumah sakit harus mengantisipasi peningkatan pasien selama
periode wabah. Sediaan obat-obatan yang antiviral apabila
mungkin harus ditambah. Selain itu sebaiknya petugas
kesehatan harus diimunisasi.
M. Pengkajian
Pengkajian fisik
- Aktivitas : kelelahan umum
- Sirkulasi : perubahan tekanan darah, nadi mungkin tidak teratur,
defisit nadi, kulit warna dari kelembapan berubah (misal pucat,
berkeringat)
- Intergritas ego : cemas, takut, marah, gelisah, perasaan gugup,
perasaan terancam
- Makanan atau cairan : hilang nafsu makan, perubahan berat badan,
mual muntah, perubahan kelembapan kulit
- Neurosensori : pusing, sakit kepala, konjungtivitis
- Pernapasan : napas pendek, batuk, perubahan kecepatan atau
kedalaman pernapasan, bunyi napas tambahan (krekles, ronkhi,
mengi)
- Keamanan : demam, kehilangan tonus otot-otot kekuatan

N. Diagnosa Keperawatan
Daftar Pustaka

Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I
Made Kariasa. Ed. 3 : Jakarta EGC : 1999
Nanda. Panduan diagnosa keperawatan. Alih bahasa Budi Santosa. Jakarta Prima
Medika : 2005
Tamher dan Noorkasiani. Flu burung : aspek klinis dan epidemiologis. Jakarta
Salemba Medika : 2008
http://www.depkes.go.id
http:// www.dyatmika.org/id/fluburung.htm
http:// www.litbang.depkes.go.id/maskes/072005/flu_burung.pdf