Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA DASAR

ACARA I
KARBOHIDRAT

Disusun oleh :

Kelompok XIV
Devi Hasna Fitria PT/07597
Fitria Nur Khasanah PT/07609
Katon Enggar Pranandhiko PT/07624
Khalifia Alifia Dhiya Rahmadhanisya PT/07627
Wisnu Oka Purwantoro PT/07683
Asisten : Dosi Nur Wigati

LABORATORIUM BIOKIMIA NUTRISI


DEPARTEMEN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2019
ACARA 1
KARBOHIDRAT

Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui gugus reduksi pada
karbohidrat, pengaruh asam pada karbohidrat, identifikasi karbohidrat
berdasarkan bentuk fisik, hasil hidrolisis karbohidrat, dan polisakarida
pada karbohidrat.

Tinjauan Pustaka
Karbohidrat merupakan senyawa organik yang tersusun atas unsur
carbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Senyawa ini mempunyai rumus
Cx(H20)y dengan perbandingan hidrogen dan oksigennya 2:1. Karbohidrat
sebenarnya adalah polihidroksi aldehida atau polihdroksi keton atau
turunan dari keduanya. Karbohidrat sering dikenal dengan istilah zat gula
atau sakarida (Sumardjo, 2009).
Karbohidarat dibagi menjadi 3 sub golongan. Pembagaian tersebut
berdasarkan jumlah satuan dasar penyusunnya. Tiga golongan
karbohidrat yaitu monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida.
Monosakarida adalah jenis karbohidrat yang paling sederhana dan tidak
dapat dihidrolis menjadi karbohidrat yang lebih kecil lagi. Contoh dari
monosakarida yaitu glukosa dan galaktosa. Oligosakarida adalah
karbohidrat yang terdiri dari 2 sampai 10 satuan dasar. Contoh dari
oligosakarida yaitu disakarida dan trisakarida. Polisakarida adalah
gabungan lebih dari 10 unit monosakarida. Contoh dari monosakarida
yaitu amilum dan glikogen (Firani, 2017).
Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa
karena mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi ke arah
kanan. Glukosa terdapat dalam buah-buahan dan madu lebah. Darah
manusia normal mengandung glukosa dalam jumlah atau konsentrasi
yang tetap, yaitu antara 70-100 mg tiap 100 ml darah. Glukosa di alam
dihasilkan dari reaksi antara karbondioksida dan air dengan bantuan sinar
matahari dan klorofil dalam daun. Proses ini disebut dengan fotosintesis
dan glukosa yang terbentuk dapat digunakan untuk pembentukan amilum
dan selulosa (Poedjiadi dan Supriyanti, 2006).
Fruktosa adalah suatu ketohektosa yang mempunyai sifat memutar
cahaya terpolarisasi ke kiri karenanya disebut juga levulosa. Fruktosa
mempunyai rasa lebih manis daripada glukosa, juga lebih manis daripada
gula tebu atau sukrosa. Fruktosa dapat dibedakan dari glukosa dengan
pereaksi Seliwanoff, yaitu larutal resorsinol (1,3 dihidroksi-benzena) dalam
HCl. Reaksi ini mula-mula fruktosa diubah menjadi hidroksimetlfurfural
yang selanjutnya bereaksi dengan resorsinol membentuk senyawa yang
berwarna merah. Fruktosa berkaitan dengan glukosa membentuk sukrosa,
yaitu gula yang biasa digunakan di kehidupan sehari-hari dan berasal dari
tebu atau bit (Poedjiati dan Supriyanti, 2006).
Galaktosa adalah gula yang terdapat dalam susu. Galaktosa
Umumnya berikatan dengan glukosa dalam bentuk laktosa. Galaktosa
mempunyai rasa kurang manis daripada glukosa dan kurang larut dalam
air. Proses oksidasi asam nitrat dalam keadaan panas galaktosa
dihasilkan asam musat yang kurang larut dalam air. Pembentukan asama
musat ini dapat dijadikan cara indentifikasi galaktosa.
Pentosa merupakan salah satu contoh dari monosakarida.
Beberapa pentosa yang penting antara lain arabinosa, xilosa, ribosa, 2-
deoksiribosa. Pentosa ini tidak terdapat dalam keadaan bebas dialam.
Arabinosa diperoleh dari gom arab dengan jalan hidrolisi, sedangkan
xilosa diproleh dengan cara hidrolisis terhadap jerami atau kayu.
Sukurah adalah gula yang terdapat dalam buah atau bit. Selain itu,
sukrosa juga terdpat dalam tumbuhan lain misalnya buah nanas dan buah
wortel. Dengan hirdrolisis sukrosa akan terpecah menjadi glukosa dan
fruktosa. Hasil hidrolisi sukrosa yaitu campuran glokosa dan fruktosa
disebut gula invert.
Laktosa merupakan salah satu contoh dari oligosakarida. Hidrolisis
laktosa akan menghasilkan glukosa dan galaktosa. Laktosa mempunyai
sifat mereduksi dan mutarotasi. Dalam susu laktosa sering disebut
sebagai gula susu. Dibandingkan dengan glukosa laktosa mempunyai rsa
yang kurang manis .
Maltosa adalah disakarida yang terbentuk dari dua molekul
glukosa. Maltosa merupakan hasil antara proses hidrolisis amilum dengan
asam maupun enzim. Maltosa mempunyai rasa lebih manis daripada
laktosa, tetapi kurang manis daripada sukrosa.
Amilum merupakan polisaskarida yang banyak terdapat di alam.
Amilum biasanya disebut dengan pati yang terdapat dalam umbi, batang,
daun, dan biji-bijian. Butir-butir pati apabila diamati dengan mikroskop
ternyata berbeda-beda bentuknya, tergantung dari tumbuhan apa pati
tersebut diperoleh. Amilum dapat dihidrolis dengan menggunakan asam
sehingga menghasilkan glukosa.
Karbohidrat mempunyai beberapa sifat antar lain sifat mereduksi,
pengaruh asam, pengaruh basa, dan pembentukan osazon. Sifat
mereduksi disebabkan adanya gugus aldehida atau keton bebas dalam
molekul karbohidrat. Sifat ini tampak pada reduksi ion-ion logam misalnya
in Cu++ dan ion Ag++ yang terdapat pada pereaksi tertentu (Poedjiati dan
Supriyanti, 2006). Contoh pereaksinya adalah reagen Benedict. Pengaruh
asam yaitu karbohidrat apabila dipanaskan dengan asam kuat pekat akan
menghasilkan furufural atau derivatnya. Untuk mengatahui pengaruh
asam pada karbohidrat maka dapat dilakukan dengan uji Molish.
Pembentukan osazon juga berpengaruh terhadap karbohidrat. Semua
karbohidrat akan membentuk osazon apabila dalam keadaan asam
dipanaskan dan diberi fenilhidrazin berlebih. Pembentukan osazon dapat
mengidentifikasi karbohidrat berdasarkan bentuk fisik.
Sumber utama karbohidrat adalah tumbuhan (Noriko dan Pambudi,
2014). Zat tersebut terbentuk melalui proses fotosintesis yang melibatkan
hijauan daun dan cahaya matahari. Tanaman terdapat zat warna hijau
(klorofil) yang dapat menyerap energi dari sinar matahari dan
menyebabkan tanaman dapat membentuk karbohidrat dari CO 2 di udara
dan H2O atau air di tanah. Proses pembentukan karbohidrat dapat
dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
CO2(g)+H2O(l)+klorofil+ sinar matahari Guklosa+O2

Prosesnya yaitu gas CO2 bereaksi dengan H2O yang dibantu dengan
cahaya matahari dan klorofil sehingga menghasilkan glukosa dan oksigen.
Selanjutnya glukosa diubah menjadi amilum dan biasanya disimpan dalam
bentuk buah dan ubi.
Berdasarkan sifat-sifat karbohidrat dan reaksi-reaksi kima yang
spesifik, karbohidrat dapat dianalisis dengan uji kualitatif dan uji kuantitatif.
Analis kualitatif pada karbohidrat dapat dilakukan dengan zat tertentu
sehingga akan mengahasilkan warna tertentu. Contohnya karbohidrat
ditambah atau direaksikan dengan larutan naftol dalam alkohol, kemudian
ditambah H2SO4(aq) pekat secara hati-hati melewati dinding tabung maka
pada batas cairan akan berwarna ungu. Analisis kuantitatif oligosakrida
dan polisakarida memerlukan reaksi hidrolis menjadi monosakarida dan
kemudian ditentukan dengan regen CuSO 4 atau kupri-sulfat (Lestari et al,
2014).
Karbohirdrat merupakan sumber gizi energi paling penting didalam
tubuh (Mukti et al, 2018). Karbohidrat merupakan sumber daya utama
bagi manusia selalin protein dan lemak. Karbo hidrat juga mempunyai
peranan penting dalam menentukan karakteteristik bahan misal warna,
rasa, tekstur, dan lain-lain. Sedangkan didalam tubuh karbohidrat berguna
untuk mencegah timbulnya pemecahan protein tubuh yang berlebihan,
kehilangan mineral, dan berguna untuk membabantu metabolisme lemak
dan protein (Risnayatiingsih, 2011).
Materi dan Metode

Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain tabung
reaksi, penangas air, pipet tetes, pipet pump, kertas saring, mikroskop,
pengaduk, penjepit tabung reaksi, cawan petri, stopwatch, bunsen, dan
gelas ukur.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain
glukosa (0,01M; 0,02M; 0,04M), maltosa, fruktosa ( 0,02M dan 0,03m),
reagen Benedic, larutan pati 0,7%, reagen Luff, selulosa 0,1M, fultular
0,01M, naftol 5%, alkohol, H 2SO4(aq) pekat, HCl(aq) pekat, larutan resorsinol
0,05%, arabinosa 0,1M, Na2CO3 asam asetat, Na asetat pada timol merah,
2% NaCO3(aq) dekstrin, larutan iod, larutan amilum 1%, larutan amilum
jenuh, fenilhidrazina, dan larutan HCl 3M.

Metode
Daya Mereduksi.
Uji Benedict. Tiga tabung reaksi ditambahkan glukosa dengan
konsentrasi masing-masing 0,01M; 0,02M; dan 0,04M. Selanjutnya ketiga
tabung diisi reagen Benedict dan dipanaskan di bunsen selama 10 menit.
Perubahan diamati dan bandingkan kecepatan sampai terbentuk
endapan.
Uji Luff. Langkah pertama yang dilakukan yaitu 5 buah tabung
masing-masing diisi dengan larutan fruktosa, glukosa, laktosa, sakarosa,
dan larutan pati dengan volume dan konsentrasi sama yaitu 2 ml dan
0,02M. Masing-masing ditambahkan reagen luff encer dan dicelupkan di
pengangas ai mendidih selama 15 menit. Endapan yang terbentuk diamati
dan dibandigkan kecepatan perubahannya.
Pengaruh Asam (Dehidrasi)
Uji Molish. Langkah pertam yaitu 4 buah tabung reaksi masing-
masing disi dengan larutan 0,02M glukos, 0,1M selulosa, 0,7% larutan
pati, 0,01M furtural dengan volume sama yaitu 1 ml. Masing-masing
tabung ditambahkan 2 tetes larutan naftol 5% dalam alkohol dan dicampur
dengan hati-hati. Selanjutnya ditambah 3 ml larutan H 2SO4 pekat melalui
dinding tabung sehingga terjadi dua lapisan. Warna yang timbul diantara
perbatasan kedua lapisan diamati.
Uji Seliwanoff. Cara kerjanya yaitu dua tabung reaksi diisi dengan
2ml glukosa 0,01M dan 2ml fruktosa 0,02M. Masin-masing tabung
ditambahkan 2ml HCl(aq) pekat dan dididihkan pada penangas air selama
30 menit. Setelah itu ditambahkan reagen Seliwanoff 0,05% dan diamati
perubahan warna yang terjadi.
Pembentukan Osazon
Uji Fenilhidrazina. Tabung reaksi disiapkan sebanyak 6 buah.
Tiga tabung pertama masing-masing diisi dengan 0,01M glukosa, 0,02M
fruktosa, 0,03M arabinosa dengan volumenya sama yaitu 5ml. Setelah itu,
ketiga tabung tersebut ditambah 10 tetes asam asetat anhidrida, sedikit
fenil hidrazina padat, dan Na asetat padat (dua kali jumlah fenil hidrazin).
Ketiga tabung tersebut dipanaskan sehingga semua padatan larut.
Hasilnya disaring kedalam 3 tabung yang masih kosong dan dipanaskan
di penangas air selama 30 menit. Kristal yang terbentuk dilihat di bawah
mikroskop dan digambar.
Hasil Hidrolisis
Uji Benedict. Lima mililiter larutan sukrosa dimasukan kedalam
tabung reaksi dan ditambahkan satu tetes timol merah serta HCL (aq) encer
dua sampai tiga tetes sampai warna biru berubah sampai merah muda.
Larutan tersebut dibagi menjadi dua tabung. Tabung satu dididihkan
selama 30 menit dan segera didinginkan. Kedua tabung dinertralkan
dengan larutan NaCO3 (warna kembali biru) dan diuji menggunakan
reagen benedict. Percobaan untuk maltosa dan laktosa dilakukan dengan
cara yang sama.
Uji Seliwanoff. Cara kerjanya yaitu tabung reaksi diisi 2ml larutan
sakarosa lalu ditambahkan 2ml HCl (aq) pekat. Tabung tersebut dididihkan
selama 30 menit di penangas air setelah itu didinginkan segera dan
ditambahkan 0,5ml resorsinol 5%. Perubahan warna diamati. Percobaan
untuk maltosa dan laktosa dilakukan dengan cara yang sama.
Polisakarida
Uji Hidrolisis Amilum. Tabung reaksi diisi 10ml larutan amilum
dan 3ml larutan HCl 3M. Larutan tersebut dipanaskan diatas penangas air
mendidih. Tiap 1 menit larutan diambil setetes untuk diuji dengan iod.
Pengambilan dihentikan jika uji iod sudah negatif atau warnanya
mendekati kontrol. Waktu dan perubahan warna dicatat. Netralkan larutan
diatas dengan Na2CO3 dan dilakukan uji Benedict.
Hasil dan Pembahasan

Daya Mereduksi
Uji Benedict. Tujuan dari uji Benedict adalah untuk membuktikan
adannya gugus reduksi pada karbohidrat. Prinsip kerja uji Benedict yaitu
Cu2+ yang terdapat dalam reagen Benedict dapat direduksi oleh gugus
reduksi monosakarida menjadi Cu + yang terlihat dengan terbentuknya
endapan merah bata (Cu2O). Bahan yang digunakan dalam uji Benedict
meliputi reagen Benedict dan glukosa 0,01 M; 0,02 M; 0,04 M. Reagen
Benedict digunakan untuk mengetahui adanya gula pereduksi dalam
suatu larutan.
Perlakuan yang diberikan pada uji Benedict berupa konsentrasi
glukosa dibuat berbeda. Semua konsentrasi menunjukan adanya endapan
merah bata. Hasil uji Benedict secara lengkap disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil uji Benedict
No Tabung Konsentrasi Glukosa Hasil

1 0,01 M Endapan merah bata


sedikit
2 0,02 M Endapan merah bata
banyak
3 0,04 M Endapan merah bata
sangat banyak

Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi


maka endapan merah batanya semakin banyak. Banyaknya endapan
merah yang terbentuk dipengaruhi oleh kadar gula yang diuji. Hasil yang
diperoleh sesuai dengan Kusbandari (2015) yang menyatakan bahwa uji
benedict akan terbentuk endapan merah bata jika sampel mengandung
gula pereduksi. Faktor yang mempengaruhi uji Benedict yaitu molaritas.
Semakin banyak molaritas maka kecepatan mereduksi semakin cepat dan
semakin banyak molaritas maka endapan merah batanya semakin
banyak.
Uji Luff. Tujuan dari uji Luff adalah mengetahui gugus reduksi
bebas pada karbohidrat. Prinsip kerja uji Luff yaitu Cu 2+ yang terdapat
dalam reagen Luff direduksi oleh gugus reduksi monosakarida menjadi
Cu+ dan akan membentuk endapan merah bata. Reagen Luff berfungsi
untuk menguji daya mereduksi suatu karbohidrat. Larutan yang
ditambahkan dalam tabung berbeda dimaksudkan untuk mengetahui
larutan yang memiliki gugus reduksi bebas. Berdasarkan uji yang telah
dilakukan, diperoleh hasil uji Luff yang disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil uji Luff
Tabung Perlakuan Hasil

Tabung 1 Fruktosa 0,02 M + endapan merah bata


reagen Luff dididihkan
15 menit
Tabung 2 Glukosa 0,02 M + endapan merah bata
reagen Luff dididihkan
15 menit
Tabung 3 Laktosa 0,02 M + endapan merah bata
reagen Luff dididihkan
15 menit
Tabung 4 Sukrosa 0,02 M + endapan merah bata
reagen Luff dididihkan
15 menit
Tabung 5 Amilum 1% + reagen Tidak ada endapan
Luff dididihkan 15 merah bata
menit

Berdasarkan tabel hasil uji Luff di atas, dapat dilihat bahwa glukosa
dan sukrosa banyak menghasilkan endapan merah bata. ). Tabung 1
berisi fruktosa dan reagen Luff seharusnya menghasilkan endapan merah
bata karena fruktosa mempunyai gugus keton (ketosa) yang mempunyai
gugus reduksi bebas yang dapat mereduksi Cu 2+ menjadi Cu+ dan akan
mengendap membentuk Cu2O. Tabung 2 yang berisi glukosa dan reagen
Luff, terdapat endapan merah bata yang dihasilkan banyak karena
glukosa mempunyai gugus aldehid (aldosa) yang mempunyai gugus
reduksi bebas yang prinsip kerjanya juga sama dengan gugus keton,
dimana Cu2+ direduksi menjadi Cu+ kemudian akan membentuk Cu 2O
(endapan merah bata). Tabung 3 berisi laktosa dan reagen Luff,
menghasilkan endapan merah bata. Hal ini terjadi karena laktosa
merupakan gabungan dari monosakarida galaktosa dan glukosa dengan
ikatan (1-4)-α-glikosidik. Laktosa masih memiliki gugus reduksi bebas dari
aldehid sehingga dapat mereduksi Cu2+ direduksi menjadi Cu+ kemudian
akan membentuk Cu2O meskipun hasilnya lebih sedikit daripada
monosakarida fruktosa dan glukosa. Tabung 4 seharusnya tidak terbentuk
endapan merah bata karena sukrosa berasal dari glukosa ditambah
fruktosa dengan ikatan 1-2 glikosidik sehingga sukrosa tidak memiliki
gugus reduksi bebas, oleh karena itu dalam percobaan ini hasilnya tidak
terdapat endapan merah bata. Hal ini dapat terjadi karena sukrosa yang
diambil terkontaminasi dengan glukosa atau sukrosa, karena sukrosa
tidak memiliki gugus reduksi bebas. Tabung 5 tidak terdapat endapan
merah bata karena pati merupakan polisakarida yang harus direduksi
menjadi disakarida dan monosakarida terlebih dahulu baru menjadi
furfural. Percobaan ini sesaui dengan Astuti dan Rustanti (2014) bahwa
reagen Luff akan direduksi oleh gula pereduksi bahan yang dianalisis.
Gula reduksi mempunyai kemampuan mereduksi karena mempunyai
gugus aldehid dan keton bebas.
Pengaruh Asam (Dehidrasi)
Uji Molisch. Tujuan dari uji Molisch adalah untuk mengetahui
pengaruh asam pada karbohidrat (identifikasi umum karbohidrat). Prinsip
kerja dari uji Molisch yaitu monosakarida apabila dipanaskan dengan
asam kuat akan menghasilkan furfural yang merupakan reaksi dehidrasi
dan membentuk senyawa berwarna apabila bereaksi dengan alfa-naftol
atau timol dalam alkohol. Pereaksi Molisch digunakan untuk pembentukan
senyawa kompleks karbohidrat karena pereaksi terdapat α-naftol atau
timol dalam alkohol yang akan bereaksi dengan furfural pada karbohidrat
yang telah terdehidrasi oleh asam sulfat sehingga hasil reaksi akan
berwarna ungu. Asam sulfat pekat digunakan untuk mendehidrasi
karbohidrat. Hasil percobaan didapatkan bahwa semua larutan yang diuji
Molisch menghasilkan cincin berwarna ungu yang berbeda-beda
ketebalannya. Berdasarkan uji Molisch yang telah dilakukan,
diperoleh hasil pada Tabel 3.

Tabel 3.Hasil uji Molisch


Tabung Perlakuan Hasil

Tabung 1 1 ml Glukosa 0,02 M + Timbul cincin ungu


2 tetes reagan molisch yang banyak (tidak
5% + 3 ml H2SO4 pekat sebanyak tabung 4)
lewat dinding tabung
Tabung 2 1 ml Selulosa 0,02 M + Terdapat cincin ungu
2 tetes reagan molisch yang sedikit
5% + 3 ml H2SO4 pekat
lewat dinding tabung
Tabung 3 1 ml Amilum 1% + 2 Terdapat cincin ungu
tetes reagan molisch yang sangat sedikit
5% + 3 ml H2SO4 pekat
lewat dinding tabung
Tabung 4 1 ml Furfural 0,01 M + Terdapat cincin ungu
2 tetes reagan molisch yang lebih banyak dari
5% + 3 ml H2SO4 pekat tabung 1
lewat dinding tabung

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa hasil uji Molisch


terhadap karbohidrat yaitu terbentuk senyawa berwarna. Berdasarkan
tabel hasil uji Molisch di atas, dapat diketahui bahwa furfural
menghasilkan cincin ungu yang paling tebal. Hal tersebut terjadi karena
bentuknya sudah furfural induk. Tabung pertama yang berisi glukosa,
ketika direaksikan dengan reagen Molisch dan H 2SO4 pekat membentuk
cincin ungu yang lebih sedikit dar ipada tabung 4 karena glukosa
merupakan monosakarida yang akan langsung menjadi furfural harus
mengalami dehidrasi sebelum berubah menjadi furfural. Tabung 2 dan 3
menghasilkan cincin ungu yang sangat tipis. Hal ini terjadi karena amilum
dan selulosa merupakan polisakarida yang apabila dipanaskan dengan
asam pekat akan berubah lebih dahulu menjadi disakarida dan
monosakarida sebelum menjadi furfural. Hasil uji Molisch yang dilakukan
sesuai dengan Sumardjo (2009) yang menjelaskan bahwa larutan
karbohidrat yang telah dicampur dengan pereagan Molisch kemudian
ditambah asam sulfat pekat akan menghasilkan warna violet yang
menunjukkan adanya karbohidrat dan terdapat tiga tahapan untuk
mencapai furfural pada polisakarida yaitu polisakarida dihidrolisis, diikuti
dehirasi kemudian kondensasi. Heksosa atau pentosa mengalami
dehidrasi oleh pengaruh asam sulfat pekat menjadi hidroksimetilfurfural
atau furfural.
Uji Selliwanof. Tujuan dari uji Selliwanof ini adalah untuk
mengetahui adanya gugus keton pada karbohidrat, sehingga dapat
digunakan untuk membedakan glukosa dan fruktosa. Prinsip kerja dari uji
Selliwanof yaitu fruktosa akan diubah menjadi hidroksimetilfurfural yang
selanjutnya bereaksi dengan resorsinol membentuk senyawa berwarna
merah. Reagen Seliwanoff berfungsi sebagai pembeda antara gugus
keton dan aldehid. Reagen Seliwanoff yaitu larutan resorsinol dalam
alcohol.
Berdasarkan uji Selliwanof yang telah dilakukan, dapat dilihat dari
Tabel 4.

Tabel 4. Hasil uji Selliwanoff


Tabung Perlakuan Hasil

Tabung 1 2 ml Glukosa 0,01 M + Pada glukosa sebelum


2 ml HCl ditambahkan reagan
pekat,didihkan 30 berwarna bening, pada
menit, menggunakan glukosa setelah
penangas, tunggu ditambahkan Reagan
sampai dingin, berwarna bening agak
tambahkan 0,5 ml kekuningan
Reagan Seliwanoff
Tabung 2 2 ml Fruktosa 0,02 M + Pada fruktosa sebelum
2 ml HCl pekat ditambahkan reagen
didihkan 30 menit, berwarna bening, pada
menggunakan fruktosa setelah
penangas, tunggu ditetesi reagan
sampai dingin, berwarna kuning
tambahkan 0,5 ml
reagen Selliwanof

Berdasarkan tabel uji Selliwanof di atas dapat diketahui bahwa


fruktosa menghasilkan warna larutan yang lebih pekat. Fruktosa memiliki
gugus keton. Tabung 1 yang berisi glukosa tidak terjadi perubahan warna
menjadi kuning karena dalam glukosa tidak mengandung gugus keton,
namun gugus aldehid. Terbentuknya warna disebabkan karena
pemanasan yang terlalu lama sehingga ikatan antara gugus aldehid dan
polimernya menjadi lepas. Sumardjo (2009) menjelaskan bahwa
pendidihan fruktosa dengan reaksi Selliwanof menghasilkan larutan
berwarna merah, sesuai dengan uji yang telah dilakukan.
Pembentukan Osazon
Uji Fenilhidrazin. Uji Fenilhdrazin bertujuan untuk
menentukan karbohidrat brdasarkan bentuk fisik. Prinsip kerja dari uji
Fenilhidrazin yaitu monosakarida dalam keadaan asam dengan
pemanasan 100oC dan penambahan fenilhidrazina berlebih akan
bereaksi membentuk fenil-osazon. Larutan fenilhidrazina yang diberikan
secara berlebih akan bereaksi dengan larutan sehingga membentuk fenil-
osazon yang tidak larut dalam air dan mudah membentuk kristal berwarna
kuning. Na asetat padat adalah sebagai penyangga dari asam asetat,
sehingga dapat menyeimbangkan pH larutan dari asam menjadi sedikit
asam. Pemanasan dalam percobaan ini bertujuan untuk melarutkan
padatan. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan
Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar 3.
gambar 1. glukosazon gambar 2. fruktosazon gambar 3. arabinosazon

Berdasarkan percobaan diperoleh hasil seperti gambar di atas,


dapat diketahui bahwa tabung 1 terdapat endapan kuning berada di
bawah permukaan dan menghasilkan glukosazon yang berbentuk seperti
jarum-jarum yang menumpuk, tabung 2 terdapat endapan kuning diatas
dan dibawah permukaan dan menghasilkan fruktosazon yang berbentuk
runcing, dan tabung 3 terjadi endapan kuning dan menghasilkan
arabinosazon yang berbentuk seperti bercak-bercak lumut. Larutan
fruktosa dan glukosa terdapat bentuk fisik yang hampir sama karena
kedua gugus reduksi fruktosa dan glukosa yang berbeda bereaksi dengan
fenilhidrazina, sedangkan rantai karbon setelah gugus reduksi dari
fruktosa dan glukosa tersebut adalah sama.

Gambar 4.Glukosazon Gambar 5.Fruktosazon Gambar 6. Arabinosazon


(Mohanty dan Basu, 2006)
Berdasarkan gambar literatur tersebut menunjukan bahwa hasil
yang diperoleh hampir sama. Strukutur glukosa dan fruktosa terlihat
seperti jarum sedangkan arabanosa seperti lumut. Percobaan kali ini
karbohidrat dapat dibedakan dan sesuai dengan Sumardjo (2009) bahwa
tiap jenis karbohidrat memilik bentuk kristal osazon yang spesifik, juga titik
cair, dan kecepatan pembentukannya serta osazon dapat dipakai untuk
membedakan beberapa jenis karbohidrat.
Hasil Hidrolisis
Uji Benedict. Uji Benedict bertujuan untuk mengetahui hasil
hidrolisis dengan melihat adanya gugus reduksi pada karbohidrat. Prinsip
kerja uji benedict yaitu Cu 2+ yang terdapat dalam reagen Benedict, dapat
direduksi oleh gugus reduksi pada monosakarida menjadi Cu + yang
terlihat dengan terbentuknya endapan merah bata (Cu 2O).Terbentuknya
endapan merah karena larutan didihkan terlebih dahulu sehingga terjadi
proses hirdolisi. Penambahan Na2CO3 berfungsi sebagai pencipta
suasana basa dan HCl berfungsi sebagai suana asam. Hal ini
menunjukkan bahwa proses pendidihan dapat menambah jumlah gugus
reduksi bebas (ikatan 1–4 glikosidik).
Berdasarkan uji Benedict yang telah dilakukan, diperoleh hasil
berupa Tabel 5.
Tabel 5. Hasil uji Benedict
Tabung Perlakuan Hasil

Tabung 1a Maltosa 0,02 M+2 Terdapat endapan


tetes timol biru+ 1-2 merah bata banyak
tetes HCl(didihkan)+5
tetes Na2CO3
Tabung 1b Maltosa 0,02 M+2 Terdapat endapan
tetes timol biru+ 1-2 merah bata sedikit
tetes HCl+5 tetes
Na2CO3
Tabung 2a Laktosa 0,02 M 2 tetes Terdapat endapat
timol biru+ 1-2 tetes merah bata banyak
HCl(didihkan)+5 tetes
Na2CO3
Tabung 2b Laktosa 0,02 M+2 Terdapat endapan
tetes timol biru+ 1-2 merah bata sedikit
tetes HCl(didihkan)+5
tetes Na2CO3
Berdasarkan hasil yang diperoleh, pada tabung 1a (maltosa)
terdapat endapan merah bata yang cukup banyak daripada tabung 1b
karena tabung 1a ditambahkan HCl dan dipanaskan sehingga terjadi
proses hidrolisis sehingga menyebabkan gugus reduksi yang bebas
sedangkan tabung 1b timbul sedikit endapan karena tidak dipanaskan
sehingga proses hidrolisis tidak sempurna menyebabkan endapan merah
yang timbul sedikit. Tabung 2a terdapat endapan merah bata banyak dan
pada tabung 2b endapan merah batanya sedikit karena pada tabung 2a
ditambahkan HCl 10% dan dipanaskan segingga terhidrolisis membentuk
endapan merah bata sedangkan pada tabung 2b tidak dipanaskan
sehingga tidak terhidrolisis sempurna menyebabkan endapan merah yang
timbul sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa proses pendidihan dapat
menambah jumlah gugus reduksi bebas (ikatan 1-4glikosidik). Ketika
selesai pendidihan dan dilakukan uji benedict, maltosa dan lakstosa
sebagai gugus reduksi akan menghasilkan warna merah bata.
Sedangkan, yang tidak termasuk dalam gugus reduksi, tidak akan
menunjukkan perubahan warna. Hidrolisis akan dilakukan jika terjadi
pendidihan. Menurut Fosbery (2005), ketika dilakukan uji benedict yang
disertai proses pendidihan, maltosa dan laktosa sebagai gugus mereduksi
akan menghasilkan warna merah bata. sedangkan yang bukan gugus
reduksi, tidak akan menunjukkan perubahan warna. Hidrolisis akan terjadi
apabila dilakukan pendidihan.
Uji Seliwanoff. Tujuan dari uji Selliwanof untuk mengetahui adanya
gugus keton pada hasil hidrolisis karbohidrat. Prinsip kerja dari uji
Selliwanof yaitu pada reaksi Selliwanof, fruktosa akan diubah menjadi
hidroksimetilfurfural yang selanjutnya bereaksi dengan resorsinol
membentuk senyawa berwarna merah. Reagen Seliwanoff berfungsi
sebagai pembeda antara gugus aldehid dan keton.
Berdasarkan uji Selliwanof yang telah dilakukan diperoleh hasil
berupa data pada Tabel 6.
Tabel 6. Hasil uji Selliwanof
Tabung Perlakuan Hasil

Tabung 1 2 ml Sukrosa 0,02 M+2 Positif


ml HCl pekat (didihkan) (+)
+ 0,5 ml reagen
Seliwanoff
Tabung 2 2 ml Maltosa 0,02 M+2 Negatif
ml HCl pekat (didihkan) (-)
+ 0,5 ml reagen
Seliwanoff
Tabung 3 2 ml Laktosa 0,02 M + Negatif
+2 ml HCl pekat (-)
(didihkan)+ 0,5 ml
reagen Seliwanoff

Tabung 1 timbul hasilnya positif artinya saat diuji dengan reagen


Seliwanoff akan terbentuk warna merah karena sukrosa dididihkan dan
terhidrolisis menjadi fruktosa dan glukosa.Tabung 2 dan 3 tidak timbul
warna kemerahan karena saat terhidrolisis baik maltosa maupun laktosa
tidak terdapat gugus keton. Hal tersebut sesuai dengan Kusbandri (2015)
bahwa dehidrasi fruktosa oleh HCl pekat menghasilkan
hidroksimetilfurfural dengan penambahan resorsinol akan mengalami
kondensasi membentuk kompleks berwarna merah.
Polisakarida
Uji Hidrolisis Amilum. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui
uji hasil hidrolisis amilum dan mengetahui tahap-tahap hidrolisis amilum.
Prinsip uji hidrolisis amilum untuk mengetahui tahap-tahapan hidrolisis
dengan pengujian uji hidrolisis amilum yang diketahui dengan perubahan
warnanya setelah ditambah dengan iod. Pada polisakarida pertama-tama
membuat kontrol dari iod ditambah aquades. Kemudian melakukan uji
hasil hidrolisis amilum menggunakan 10 ml amilum 1% ditambah 3 ml HCl
3%, lalu dididihkan dan setiap 1 menit sekali diuji iod. Berdasarkan uji iod
yang telah dilakukan diperoleh hasil pada tabel 7.
Tabel 7. Hasil uji hidrolisis amilum
Menit ke- Warna Tahapan Hidrolisis
1 Merah Eritrodekstrin
2 Merah Eritrodekstrin
3 Merah Eritrodekstrin
4 Merah Eritrodekstrin
5 Tidak berwarna Akrodeksin/maltosa/glukosa

Percobaan hasil uji hidrolisis amilum didapat hasil setelah tabung


yang berisi amilum 1% direaksikan dengan HCl 3 M di uji Iod warna yang
dihasilkan setelah menit pertama yaitu langsung warna merah. Hal
tersebut terjadi karena pada saat penambahan HCl tidak langsung
dipanaskan sehingga gugus-gugus amilum langsung terhidrolis. Menit ke
5 warna dari larutan sama dengan kontrol. Hasil tersebut berbeda dengan
Sumardjo (2009) menyatakan bahwa hidrolisis amilum oleh pengaruh
enzim amilase menjadi molekul-molekul maltosa tidak berjalan spontan,
tetapi bertahap dengan hasil antara berupa dekstrin. Tiga buah dekstrin
yang penting sebagai hasil antara hidrolisis amilum adalah amilodekstrin,
yang apabila diuji dengan Iod memberikan warna ungu, eritrodekstrin,
yang apabila diuji dengan Iod memberikan warna merah, dan
akrodekstrin, yang apabila diuji dengan Iod tidak memberikan warna.
Tidak semua amilum dapat diubah menjadi maltosa oleh pengaruh enzim
amilase. Setelah dilakukan uji iod maka larutan ditambahkan Na 2CO3
sebanyak 1 ml dan diuji dengan reagen Benedict. Hasil yang didapatkan
yaitu terdapat endapan merah bata yang menandakan larutan tersebut
masih terdapat amilum.
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa karbohidrat mengandung gugus reduksi, pati tidak memiliki gugus
reduksi, terdapat pengaruh asam pada karbohidrat, karbohidrat
mengandung gugus keton (fruktosa) dan glukosa tidak memiliki gugus
keton, bentuk glukosa berkelompok, fruktosa yang bentuknya lebih
runcing daripada glukosa, dan arabinosa berbentuk gumpalan yang tidak
runcing, maltosa dan laktosa memiliki gugus reduksi bebas pada sukrosa
terdapat gugus keton, serta pada uji polisakarida diperoleh hasil akhir
sampai tahap akrodekstrin.
Daftar Pustaka

Firani, Novi Khila. 2017. Metabolisme Karbohidrat. UB Press. Malang.


Fosbery, R., J. Gregory and I. Stevens. 2005. Revise As Biology.
Heinmann. USA.
Kusbandri, Aprilia. 2015. Analisis Kualitatif Kandungan Sakarida Dalam
Tepung dan Pati Umbi Gayong. Jurnal Farmasi. Vol 5 (1) 35-42.
Lestari, Lily Arsanti., Fasty Arum Utami, dan Puspita Mahardika Lestari.
2014. Kandungan Zat Gizi Makanan Khas Yogyakarta. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.
Mukti, Kana Satria Arif., Ninna Rahmawati, dan Sulistiyani. 2018. Analisis
Kandungan Karbohidrat, Glukosa, dan Uji Daya Terima Pada Nasi
Bakar, Nasi Panggang, dan Nasi Biasa. Jurnal Agroteknologi.
Vol 12 (1) 248-252.
Mohanty, Biswajit., and Sharbari Basu. 2006. Practical Clinical
Biochemistry. BI Publication Pvt Ltd. India.
Noriko, Nita., dan Arief Pambudi. 2014. Diversifikasi Pangan Sumber
Karbohidrat Camaedulis Kerr. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Sains
dan Teknologi. Vol 2 (4) 248-252.
Poedjiadi, Anna., dan Titin Supriyanti. 2006. Dasar-Dasar Biokimia.
Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Risnayatiningsih, Sri. 2011. Hidrolisis Pati Ubi Jalar Kuning Menjadi
Glukosa Secara Enzimatis. Jurnal Teknik Kimia. Vol 5 (2 ) 417-424.
Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah
Mahasiswa Kedokteran. EGC. Jakarta.
Lampiran 1.

Gambar 1. Hasil Uji Benedict Gambar 2. Hasil Uji Luff

Gambar 3. Hasil Uji Molish Tab. 1 Gambar 4. Hasil Uji Molish Tab. 2
Gambar 5. Hasil Uji Molish Tab. 3 Gambar 6. Hasil Uji Molish Tab.4

Gambar 7. Hasil Uji Seliwanoff Gambar 8 Hasil Uji Fenilhidrazin

Gambar 8. Glukosazon Gambar 9. Arabinazon


Gambar 10. Fruktosazon Gambar 11. Hasil Hidrolisis Uji
Benedict Tab. 1a dan 2a

Gambar 12. Hasil Hidrolisis Uji Gambar 13. Hasil Hidrolisis Uji
Benedict Tab. 1b dan 2b Seliwannof

Gambar 14. Lar. HCL+Amilum Gambar 15. Polisakarida Hasil


Hidrolisis Amilum
Gambar 16. Hasil Polisaka
rida di Uji Benedict