Anda di halaman 1dari 19

TUGAS TERSTRUKTUR

Mata Kuliah Etikolegal dalam Praktik Kebidanan (Bd. 5. 010)

Peranan Etika dan Moral dalam Pelayanan Kebidanan

Dosen Pengampu : Rohuna. BSc., SKM, M. Pd

Disusun Oleh Kelompok 1:

1. A’assalehah (191081001)
2. Adetia Indarti (191081002)
3. Alya Syafiqoh Azhari (191081003)
4. Amalia (191081004)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN PONTIANAK

JURUSAN KEBIDANAN

PRODI D-III

TAHUN 2019/2020
Kata pengantar

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat dan hidayah-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan lancar. Makalah kami yang
berjudul “Peranan Etika dan Moral dalam Pelayanan Kebidanan”

Makalah ini disusun dari bebagai sumber. Tak lupa pula kami mengucapkan terimah
kasih banyak kepada seluruuh pihak yang terlibat, khususnya atas bimbingan dan arahan
dalam pembuatan makalah kami.

Kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam pembuatan makalah ini.
Oleh karena itu, diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi
perbaikan selanjutnya menuju arah yang lebih baik. Akhir kata kami berharap tugas ini dapat
member manfaat bagi kita semua.

Pontianak, 10 Maret 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar......................................................................................................... i

Daftar Isi................................................................................................................... ii

Bab I Pendahuluan.................................................................................................. 1

A. Latar Belakang........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan..................................................................................... 1
D. Manfaat Penulisan................................................................................... 2

Bab II Pembahasan.................................................................................................. 3

A. Pengertian Etika....................................................................................... 3
B. Pengertian Moral...................................................................................... 4
C. Sistematika Etika...................................................................................... 7
D. Fungsi Etika dan Moralitas...................................................................... 21

Bab III Penutup........................................................................................................ 28

A. Kesimpulan........................................................................................ 28
B. Saran.................................................................................................. 28

Daftar pustaka.......................................................................................................... 29
Bab I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Tuntutan terhadap kualitas pelayanan kebidanan semakin meningkat seiring dengan


kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan era globalisasi. Pemahaman yang baik
mengenai etika profesi merupakan landasan yang kuat bagi profesi bidan agar mampu
menerapkan dan memberikan pelayanan kebidanan yang profesional dalam melakukan
profesi kebidanan, dan dalam berkarya di pelayanan kebidanan, baik kepada individu ,
keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, para bidan maupun calon bidan, harus mampu
memahami kondisi masyarakat yang semakin kritis dalam memandang kualitas pelayanan
kebidanan, termasuk pula ketidakpuasan dalam pelayanan.

Etika dalam pelayanan kebidanan merupakan isu utama diberbagai tempat , dimana
sering terjadi karena kurang pemahaman para praktisi pelayanan kebidanan terhadap
etika. Pelayanan kebidanan adalah proses dari berbagai dimensi.

Etika atau teori moral untuk memformulasikan prosedur atau mekanisme untuk
memecahkan masalah etika. Etika praktik merupakan penerapan etika dalam praktik
sehari-hari, dimana dalam situasi praktik ketika kecelakaan terjadi keputusan harus segera
dibuat.

Guna etika adalah memberi arah bagi perilaku manusia tentang apa yang baik atau
buruk, apa yang benar atau salah, hak dan kewajiban moral (akhlak), apa yang boleh atau
tidak boleh dilakukan. Kode etik suatu profesi adalah norma-norma yang harus
diindahkan oleh setiap anggota didalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam
hidupnya di masyarakat.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan etika?
2. Apa yang dimaksud dengan moral?
3. Bagaimana sistematika etika?
4. Apa fungsi etika dan moral dalam pelayanan kebidanan?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian etika
2. Mengetahui pengertian moral
3. Mengetahui sistematika etika
4. Mengetahui fungsi etika dan moralitas dalam pelayanan kebidanan
D. Manfaat Penulisan
Makalah ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang etika, moral,
fungsi moral dalam praktik kebidanan, dan cara menyelesaikan kasus yang berkaitan
dengan etika dan moral dalam praktik kebidanan.
Bab II

Pembahasan

A. Pengertian Etika

Istilah etik yang digunakan sehari-hari pada hakikatnya berkaitan dengan falsafah
moral yaitu mengenai apa yang dianggap baik atau buruk di masyarakat pada waktu
tertentu, sesuai dengan perubahan dan perkembangan norma atau nilai, sebab nilai atau
norma berlaku sangat dipengaruhi oleh berjalannya waktu.

Etika, nilai dan norma keberadaannya tetap diperlukan manusia sebagai alat
perlengkapan hidup bermasyarakat, banyak segi kehidupan yg penilaiannya dibebankan
pada nilai, norma yang berlaku dilingungan masyarakat itu sendiri sedangkan hukum
tidak mampu untuk menjangkaunya.Banyak perilaku manusia yang tidak dapat dijangkau
hukum tetapi penilaiannya hanya dapat diakukan oleh penilaian baik buruk, sehingga
keberadaan etika, nilai maupun norma sangat diperlukan.

1. Pengertian Dari Bahasa

Untuk penjelasan pengertian etika dari segi bahasa kata, yaitu dari bahasa Yunani
kuno, dari bahasa Inggris dan bahasa Latin. Bahasa Yunani kuno, kata etika berasal
dari kata ethos, berarti karakter, watak kesusilaan atau adat atau kebiasaan. Jika
bahasa Inggris, etika berasal dari kata Ethics, artinya ukuran tingkah laku atau
perilaku yang baik, yaitu sebuah perilaku atau tindakan manusia yang baik.
Sedangkan kata etika dari Bahasa Latin berasal dari kata mos atau mores (jamak),
artinya moral, adat, kebiasaan.

Disamping dari ketiga asal kata tersebut, kata etika dari bahasa sendiri Bahasa
Indonesia, yaitu dari kamus Bahasa Indonesia oleh Poerwadarminta, tahun 1953 kata
“etika’ memiliki pengertian ilmu pengetahuan tentang azaz-azas, akhlak (moral).
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan
(Depdikbud, 1988), etika memiliki beberapa penger- tian, yaitu: pertama, ilmu
tentang baik buruk tentang hak dan kewajiban moral; kedua, kumpulan asas atau nilai
yang berkenaan dengan akhlak; ketiga, nilai mengenai benar dan salah yang dianut
suatu golongan atau masyarakat.

Dari pengertian yang bersumber dari bahasa tersebut, etika dapat diartikan
sebagai karakter, watak kesusilaan atau adat atau kebiasaan, ukuran tingkah laku atau
perilaku yang baik, moral, adat, kebiasaan. Etika juga diartikan ilmu tentang baik
buruk tentang hak dan kewajiban moral; kumpulan asas atau nilai yang berkenaan
dengan akhlak; nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau
masyarakat.

2. Pengertian dari Ahli

Menurut Martin (1993) etika di definisikan “the discpline which can act as the
performance index or reference for our control system”. Dalam pengertian ini etika
diartikan memberikan batasan maupun standar yang mengatur tingkah laku manusia
di dalam kelompok. [ CITATION Pur15 \l 1057 ]

Menurut James J. Spillane SJ Etika ialah mempertimbangkan atau memperhatikan


tingkah laku manusia dalam mengambi suatu keputusan yang berkaitan dengan
moral. Etika lebih mengarah pada penggunaan akal budi manusia dengan objektivitas
untuk menentukan benar atau salahnya serta tingkah laku seseorang kepada orang
lain.

Menurut Prof. DR. Franz Magnis Suseno Etika merupakan suatu ilmu yang
memberikan arahan, acuan dan pijakan kepada tindakan manusia.

Aristoteles mengemukakan etika kedalam dua pengertian yakni: Terminius


Technicus & Manner and Custom. Terminius Technicus ialah etika dipelajari sebagai
ilmu pengetahuan yang mempelajari suatu problema tindakan atau perbuatan
manusia. Sedangkan yang kedua yaitu,  manner and custom ialah suatu pembahasan
etika yang terkait dengan tata cara & adat kebiasaan yang melekat dalam kodrat
manusia (in herent in human nature) yang sangat terikat dengan arti “baik & buruk”
suatu perilaku, tingkah laku atau perbuatan manusia.
Dari penjelasan tentang etika dari beberapa ahli menunjukan bahwa etika
memiliki pengertian sebagai konsep yang menunjukan arah dan tingkah laku manusia
sebagai individu maupun sebagai kelompok, juga menjelaskan bahwa etika sebagai
sebuah ilmu. Artinya etika memiliki kaidah pengetahuan yg dapat dipelajari,
memiliki metode pemecahan masalah, dapat dikembangkan dapat diteliti, sehingga
etika akan senantiasa berkembang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

Etika sebagai sebuah sistem mengatur pergaulan untuk saling menghormati,


menghargai dalam berinteraksi menjaga martabat manusia, adat kebiasaan yang
berlaku dan tidak bertentangan dengan hak asasi. Etika adalah aturan prilaku, adat
kebiasaan dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan
mana yang buruk. Untuk menentukan baik buruknya perilaku, mekanismenya diatur
oleh kelompoknya sendiri dengan membentuk sebuah badan yang ditugasi oleh
kelompok sendiri.

B. Pengertian Moral

Kata “moral” berasal dari bahasa latin mos (jamak:mores), yang berarti kebiasaan
atau adat. Kata mores dipakai oleh banyak bahasa masih arti yang sama termasuk bahasa
indonesia. Dalam kamus besar bahasa indonesia moral dijelskan dengan membedakan
tiga ari:

1. Ajaran tentang baik buruk yang diterima umum, mengenai perbuatan, sikap, akhlak,
budi pekerti, susila dan kewajiban.
2. Kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah,
berdisiplin, isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap di perbuatan.
3. Ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu cerita.”

Moral adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan
yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya
dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga
moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah
hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak
bisa melakukan proses sosialisasi.
Moral dalam zaman sekarang memiliki nilai implisit karena banyak orang yang
memiliki moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat
dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus memiliki moral jika ia ingin
dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan
bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat
setempat . Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi
dengan manusia apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang
berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan
masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya.
Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Setiap budaya memiliki standar moral yang
berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun sejak lama.

Menurut Ensiklopedi Pendidikan Soeganda Poerbacaraka, moral merupakan suatu


istilah untuk menentuhkan batas-batas dari sifat-sifat, corak-corak, maksud-maksud,
pertimbangan-pertimbangan atau perbuatan-perbuatan yang layak dapat dinyatakan
baik/buruk, benar/salah.

C. Sistematika Etika

Sistematika mengartikan secara deskriptif tentang hal-hal secara berurutan dari awal
hingga akhir dari sebuah susunan yang akan ditulis, yang secara garis besar terdiri dari
bagian awal, bagian isi dan bagian akhir. Perilaku manusia demikian komplek.
Keberadaan etika dalam kehidupan sangat penting, karena merupakan pedoman perilaku
bagi kelompoknya dalam hidup bermasyarakat dalam rangka menciptakan keteraturan
dan ketertiban.

Etika menjadi pedoman perilaku bagi kelompoknya, karena diyakini dengan


kesadaran dan tanggung jawab, disusun menjadi sekelompok aturan perilaku dalam
kelompoknya, dan ditulis menjadi sebuah rangkaian aturan yang mengatur, membatasi,
melarang dalam perilaku anggotanya. Demikian pentingnya etika dalam kehidupan
bermasyarakat, Lembaga MPR, melalui ketetapan MPR RI No: VI/MPR/2001
Menetapkan tentang Etika Kehidupan Bangsa yang bersumber Pancasila. Etika
berkehidupan berbangsa dan bernegara antara lain, Etika Sosial Budaya, Etika Politik
dan Pemerintajan, Etika Ekonomi dan Bisnis, Etika Penegakan Hukum yang berkeadilan
dan Etika lingkungan, Etika Kesehatan, Etika Kesehatan serta Etika Kebidanan.

Dalam membahas etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan


kesusialaan atau etis, yaitu sama halnya dengan berbicara moral. Manusia disebut etis,
ialah manusia secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat hidupnya dalam
rangka asas keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan pihak yang lainnya, antara
rohani dengan jasmaninya. Termasuk di dalamnya membahas nilai-nilai atau norma-
norma yang dikaitkan dengan etika. Etika dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Etika Deskriptif

Etika deskriptif ialah etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap
dan pola perilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai
sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif ini termasuk bidang ilmu pengetahuan empiris dan
berhubungan erat dengan kajian sosiologi. Terkait dengan bidang sosiologi, etika
deskriptif berusaha menemukan dan menjelaskan kesadaran, keyakinan, dan pengalaman
moral dalam suatu kultur tertentu. Etika deskriptif mungkin merupakan suatu cabang
sosiologi, tetapi ilmu tersebut penting bila kita mempelajari etika untuk mengetahui apa
yang dianggap baik dan apa yang dianggap tidak baik.

Kaidah etika yang biasa dimunculkan dalam etika deskriptif adalah adat kebiasaan,
anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan atau
tidak diperbolehkan.

Etika deskriptif dapat dibagi menjadi dua bagian, sejarah moral dan fenomenologi
moral. Sejarah moral adalah bagian etika deskriptif yang bertugas untuk meneliti cita-cita,
aturan-aturan dan norma-norma moral yang pernah diberlakukan dalam kehidupan
manusia pada kurun waktu dan suatu tempat tertentu atau dalam suatu lingkungan besar
mencakup bangsa-bangsa. Sedangkan fenomenologi moraladalah etika deskriptif yang
berupaya menemukan arti dan makna moralitas dari berbagai fenomena moral yang ada.
Fenomenologi moral tidak berkomponen menyediakan petunjuk-petunjuk atau batasan-
batasan moral yang perlu dipegang oleh manusia. Fenomenologi moral tidak membahas
apa yang dimaksud dengan yang benar dan apa yang dimaksud dengan yang salah.

2. Etika Normatif
Etika normatif merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang di mana
berlangsung diskusi-diskusi yang paling menarik tentang masalah-masalah moral. Etika
normatif adalah etika yang mengacu pada norma-norma atau standar moral yang
diharapkan untuk mempengaruhi perilaku, kebijakan, keputusan, karakter individu, dan
struktur sosial.
Etika normatif inilah yang sering disebut dengan filsafat moral atau biasa juga disebut
etika filsafat. Etika normatif dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama,etika normatif
yang terkait dengan teori-teori nilai yang mempersoalkan sifat kebaikan. Kedua, etika
normatif yang berkenaan dengan teori-teori keharusan yang membahas masalah tingkah
laku. Etika normatif, membahas dan mengkasi ukuran baik buruk tindakan manusia, yang
bisa dikelompokan menjadi :
a. Etika umum: yang membahas berbagi hal yeng berhubungan dengan kondisi
manusia untuk bertindak etis dalam mengambil kebijakan berdasarkan teori
dan prinsip moral.
b. Etika khusus: terdiri dari etika sosial, individu, terapan.
1) Etika sosial menerapkan tanggung jawab sosial dan hubungan antar
sesama manusia dalam aktivitasnya.
2) Etika individu lebih menerapkan pada kewajiban manusia sebagai
pribadi.
3) Etika terapan adalah etika yang diterapkan pada profesi.
Secara singkat dapat dikatakan, etika normatif bertujuan merumuskan prinsip-prinsip
etis yang dapat dipertanggungjawabkan dengan cara rasional dan dapat digunakan dalam
praktik. Kaidah yang sering muncul dalam etika normatif, yaitu hati nurani, kebebasan
dantanggung jawab, nilai dan norma, serta hak dan kewajiban.
D. Fungsi etika dan moralitas

Etika dan moralitas dalam praktek kebidanan memiliki beberapa fungsi sebagai
berikut:

1. Menjaga otonomi dari setiap individu khususnya Bidan dan Klien.

Otonomi sebagai fungsi kemandirian Bidan dalam memberikan pelayanan bagi


pasien / klien, hal ini mendatangkan konsekuensi untuk menjaga dan mengawal agar
bidang-bidang kegiatan yang memiliki fungsi otonomi dapat menjadi salah satu dari
sifat / ciri kemandirian, yaitu kegiatan pelayanan yang hanya dapat dikerjakan oleh
orang-orang yang memiliki profesi bidang itu, dalam pengertian ini memiliki
ketrampilam bidang pelayanan yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang memang
menjadi angota profesi Bidan.

Dari pihak pasien otonomi menunjuk pada pemilik hak terhadap diri pasien
sendiri. Artinya pasien memiliki kekuasaan terhadap diri sendiri dan tidak ada orang
lain memiliki untuk mencampuri urusan pribadi, termasuk didalamnya urusan
menentukan tentang pelayanan yang musti dilaksanakan bagi diri pasien, hanyalah
pasien sendiri yang dapat memutuskannya.
2. Menjaga melakukan tindakan kebaikan dan mencegah tindakan yang
merugikan.

Sifat baik merupakan sifat dasar manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan
dibandingkan dengan makhluk lain ciptaanNya. Untuk itu sudah menjadi kewajiban
manusia untuk berperilaku kebaikan dan menjauhkan tindakan yang merugikan bagi
makhluk lain.

Tindakan kebaikan bagi profesi mengacu pada norma-norma yang telah


disepakati oleh profesi sendiri dan menjatuhkan sangsi bagi pelanggar norma sendiri.
Norma dan nilai yang diikuti bagi anggota adalah norma dan nilai yang menjadi
kesepakatan angota dam organisasi. Wujud norma dan nilai yang disepakati dapat
berupa, ketepatan mematuhan waktu kegiatan, ketepatan mentaati protap yang telah
disahkan dan ketaatan perilaku yang telah diatur dalam norma dan etika progesi.

3. Menjaga privacy.

Menjaga privasi juga menjadi bagian fungsi bidan, khususnya terhadap pasien.
Artinya keamanan pasien menjadi tanggung jawab bidan, terutama privasi pasien
dalam pelayanan, misalnya melindungi pasien dari hak pasien yang terabaikan dari
tindakan penelitian kesehatan, melindungi pasien dari cedera / jatuh dari tempat tidur
dan sebagainya.

4. Mengatur manusia berbuat adil.

Fungsi berbuat adil menjadi fungsi lain sebagai manusia. Adil merupakan
konsep kata yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit penerapannya. Adil menjadi
konsep perbuatan yang direncanakan, dijanjikan dan menjadi jargon janji yang
menyenang- kan bagi komunitas.

Berbuat adil akan membawa ketenangan dan kenyamanan. Namun kita


menyadari bahwa adil sebagai konsep fungsi dalam pelayanan kebidanan yang harus
menjadi bagian praktik pelayanan kebidanan sangat sulit untuk membuat alat
ukurnya. Walaupun demikian untuk konsep adil paling tidak dalam setiap tindakan
kepada pasien berpedoman pada norma, etika protap, sumber peraturan perun- dangan
dari tingkat yang paling rendah sampai pada tingkat peraturan paling tinggi, paling
tidaak sudah berusaha menghindari dari perbuatan yang jauh dari rasa keadilan.

5. Mengetahui suatu tindakan itu dapat diterima dan apa alasannya.

Perbuatan dan atau tindakan yang dilaksanakan oleh bidan harus senantiasa
berpedoman dasar pada ilmu pengatahuan dan dasar pemikiran yang rasional. Dengan
demikian segala tindakan akan memiliki dasar bertindak yang jika ditarik kebelakang
akan ketemu pada ilmu yang mendasarinya. Dan dasar pemikiran rasional memiliki
argumen bahwa semua tindakan yang dilakukan secara rasional dapat dipertanggung
jawabkan.

Dengan dasar yang demikian semua tindakan / perlakuan oleh bidan kepada
pasien memberikan pengertian bahwa bidan tidak dpat melakukan tindakan yang
tanpa dasar dan yang harus dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

6. Mengarahkan pola pikir dalam bertindak atau dalam menganalisis suatu


masalah.

Bidan juga memiliki fungsi pengarahan, salah satu dari fungsi kepemimpinan
dalam suatu menejemen. Fungsi ini memberikan makna bagi bidan untuk dapat
memberikan upaya pemecahan masalah bagi pasien asuhannya.

Dengan fungsi ini bidan memiliki fungsi untuk mengarahkan pasien pada upaya
pemecahan masalah sesuai dengan berbagai alternatif. Namun demikian keputusan
pemilhan tindakan atas arahan tetap pada pasien dan atau keluarganya.

7. Menghasilkan tindakan yang benar.

Benarnya suatu tindakan, ukurannya tidak hanya berdasarkan penilaian dari diri
sendiri, namun juga harus dipadukan dari berbagai aspek tentang kebenaran. Ukuran
kebenaran harus dipadukan berdasarkan kebenaran menurut keimanan yang
bersumber dari wahyu Tuhan juga kebenaran berdasarkan aturan yang dibuat oleh
lembaga yang sah yang ditugasi untuk membuat peraturan.
Lembaga yang memiliki kewenangan untuk membuat peraturan tentu memiliki
legalitas termasuk dari organisasi profesi yang secara sah memiliki kewenangan untuk
membuat aturan main sebagai pedoman tindakan melaksanakan pekerjaan profefi,
misalnya tentang Etika Profesi Kebidanan, Prosedur tetap pelayanan Kebidanan,
Prosedur Kerja, semua aturan tersebut akan membatasi perilaku sebagai anggota
profesi yang pada akhirnya akan mengahasilkan tindakan profesi yang benar.

8. Mendapatkan informasi tentang hal yang sebenarnya.

Dengan pedoman etika dan moral yang dimiliki profesi, akan diperoleh
keuntungan baik bagi anggota profesi maupun klien atau pasien sebagai pelanggan.
Bagi anggota merupakan acuan atau pedoman dalam bertindak secara etik dan moral
sehingga menjadi rambu-rambu yang akan membatasi tindakan anggota dari
penyimpangan dan sekaligus menguntungkan bagi klien atau pasien atas tindakan
yang dikenakan pananya.

9. Memberikan petunjuk terhadap tingkah laku/perilaku manusia antara baik,


buruk, benar atau salah sesuai dengan moral yang berlaku pada umumnya.

Sejalan dengan keterangan poin 8, dengan adanya kode etik yang merupakan
rumusan tertulis dari adanya norma moral organisasi profesi, akan menjadi rambu
atau tanda peringatan dan perhatian dari kemungkinkan penyalahgunaan anggota
profesi dari penyelewengan.

10. Pengaturan hal-hal yang bersifat abstrak.

Rumusan etika dan moral dalam kode etik, digunakan untuk memberi tempat
berpijak dari jenis kegiatan yang belum diatur dalam rumusan peraturan perun- dang-
undangan.

11. Memfasilitasi proses pemecahan masalah etik.

Dalam memberikan pelayanan kepada pasien, kepuasan pasien adalah tujuannya


dan walau sudah dibuat dengan berbagai aturan, standart pelayanan, sifat kurang pas,
sifat kurang puas senantiasa menjadi bagian dari reaksi dan atau efek pelayanan.
Keinginan dari setiap individu beraneka ragam dan berkeinginan untuk dituruti. Hal
ini yang memungkinkan munculnya problematika pelayanan.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, masalah-masalah yang muncul dan yang


berada diluar jangkauan hukum maka pendekatan etik menjadi jawabannya.

12. Mengatur hal-hal yang bersifat praktik.


13. Mengatur tata cara pergaulan baik di dalam tata tertib masyarakat maupun tata
cara di dalam organisasi profesi.
14. Mengatur sikap, tindak tanduk orang dalam menjalankan tugas profesinya yang
biasa disebut kode etik profesi.
a. Kode etik profesi bidan

Kode etik adalah norma yang harus diindahkan oleh setiap pofesi dalam
melaksanakan tugas profesinya dan hidupnya di masyarakat. Norma tersebut berisi
petunjuk bagi anggota profesi tentang bagaimana mereka menjalankan profesinya dan
larangan yaitu tentang ketentuan apa yang boleh dilaksanakan dan yang tidak boleh
dilaksanakan sebagi anggota profesi. Kode etik kebidanan merupakan suatu
pernyataan komperhensif profesi yang menuntut bidan melaksanakan praktek
kebidanan baik yang berhubungan dengan kesejakteraan keluarga, masyarakat, teman
sejawat, profesi dan dirinya.

Penetapan kode etik Kebidanan dilakukan dalam Kongres (IBI) Ikatan Bidan
Indonesia. Dasar Pembentukan disusun tahun 1986 dan di syahkan dalam kongres
Nasional IBI X tahun 1988. Selanjutnya Petun- juk Pelaksanaan Kode EtikBidan
disyahkan dalam rapat Kerja Nasional ( RAKERNAS) IBI tahun 1991), Teori etika
mencoba memberi kan atu- ran yg mengandung prinsip serta aturan untuk
menyelesaikan dilema etik.

Dilema etik merupakan situasi yang memerlukan keputusan dari dua alternatif
yang sama-sama tidak menyenangkan atau berselisihan. Banyak keputusan-keputusan
di bidang pelayanan kesehatan yang mengandung dilema etik, Teori etika
mengandung keyakinan dasar tentang benar tidaknya secara moral serta memberikan
alasan-alasan guna mendukung keyakinan tersebut. Teori etika memberikan dasar-
dasar bagi penyusunan kode etik profesi.

b. Fungsi kode etik

Kode etik berfungsi sebagai berikut:

1) Memberikan panduan dalam membuat keputusan tentang masalah etik.


2) Menghubungkan nilai atau norma yang dapat diterapkan dan
dipertimbangkan dalam memberikan pelayanan.
3) Merupakan cara untuk mengevaluasi diri.
4) Menjadi landasan untuk memberi umpan balikbagi rekan sejawat.
5) Menginformasikan kepada calon perawat dan bidan tentang nilai strandar
profesi.
6) Menginformasikan kepada profesi lain dan masyarakat tentang nilai moral.
c. Tujuan kode etik
1) Untuk menjunjung tinggi martabat dan citra profesi
2) Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3) Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4) Untuk meningkatkan mutu profesi.
d. Dimensi kode etik
1) Anggota profesi dan klien.
2) Anggota profesi dan sistem kesehatan.
3) Anggota profesi dan profesi kesehatan.
4) Anggota profesi dan semua anggota profesi.
e. Prinsip kode etik
1) Menghargai otonom
2) Melakukan tindakan yang benar
3) Mencegah tindakan yang dapat merugikan
4) Memberlakukan manusia dengan adil
5) Menjelaskan dengan benar
6) Menepati janji yang telah disepakati
7) Menjaga kerahasiaan
Bab III

Penutup

A. Kesimpulan

Etika adalah aturan perilaku, adat kebiasaan dalam pergaulan antara sesamanya dan
menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Untuk menentukan baik buruknya
perilaku, mekanismenya diatur oleh kelompoknya sendiri dengan membentuk sebuah
badan yang ditugasi oleh kelompok sendiri.

Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan


manusia apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di
masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya,
maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya.

B. Saran

Dalam melaksanakan praktik bidan sebaiknya sesuai dengan wewenang yang diatur
dalam perundang-undngan yang berlaku sehingga bisa tercipta keselarasan atara moral
dan etika dalam pelayanan kebidanan.
Daftar Pustaka

Mochtar, Masrudi. (2016). Etika Profesi dan Hukum Kesehatan. Banjarmasin: Pustaka Baru
Press.

Puwoastuti, Th. Endang, Walyani, Elisabeth Siwi. (2015). Etikolegal Dalam Praktik
Kebidanan. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.