Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stroke masih merupakan masalah medis yang menjadi penyebab kesakitan dan
kematian nomor 2 di Eropa serta nomor 3 di Amerika Serikat. Sebanyak 10% penderita
stroke mengalami kelemahan yang memerlukan perawatan. Stroke merupakan masalah
bagi negara-negara berkembang. Di dunia penyakit stroke meningkat seiring dengan
modernisasi. Di Amerika Serikat, stroke menjadi penyebab kematian yang ketiga setelah
penyakit jantung dan kanker. Diperkirakan ada 700.000 kasus stroke di Amerika Serikat
setiap tahunnya, dan 200.000 diantaranya dengan serangan berulang. Menurut WHO, ada
15 juta populasi terserang stroke setiap tahun di seluruh dunia dan terbanyak adalah usia
tua dengan kematian rata-rata setiap 10 tahun antara 55 dan 85 tahun. (Goldstein,dkk
2006; Kollen,dkk 2006; Lyoyd-Jones dkk,2009).

Rendahnya kesadaran akan faktor risiko stroke, kurang dikenalinya gejala stroke,
belum optimalnya pelayanan stroke dan ketaatan terhadap program terapi untuk
pencegahan stroke ulang yang rendah merupakan permasalahan yang muncul pada
pelayanan stroke di Indonesia. Keempat hal tersebut berkontribusi terhadap peningkatan
kejadian stroke baru, tingginya angka kematian akibat stroke, dan tingginya kejadian
stroke ulang di Indonesia (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2008).

Penyebab stroke adalah pecahnya (ruptur) pembuluh darah di otak dan /


terjadinya trombosis dan emboli. Gumpalan darah akan masuk ke aliran darah sebagai
akibat dari penyakit lain atau karena adanya bagian otak yang cedera dan menutup /
menyumbat artei otak. Akibatnya fungsi otak berhenti dan terjadi penurunan fungsi otak.

Stroke dibagi menjadi dua jenis, yaitu stroke iskemik (ischemic stroke) dan stroke
hemoragik (hemorrahagic stroke). Stroke iskemik sebagian besar merupakan komplikasi
dari penyakit vaskuler, yang ditandai dengan gejala penurunan tekanan darah yang
mendadak, takikardia, pucat, dan pernafasan yang tidak teratur. Sementara stroke
hemoragik umumnya disebabkan oleh adanya perdarahan intrakranial dengan gejala

1
peningkatan tekanan darah sistole >200 mmHg pada hipertonik dan 180 mmHg pada
normotonik, bradikardia, wajah keunguan, sianosis, dan pernafasn mengorok.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan stroke ?

2. Apa saja etiologi dari stroke?

3. Bagaimana manifestasi dari stroke?

4. Apa saja klasifikasi stroke?

5. Apa saja faktor resiko dari stroke?

6. Bagaiman patofisiologi stroke?

7. Apa saja dan bagaimana pemeriksaan penunjang dari stroke?

8. Apa saja komplikasi stroke?

9. Bagaimana penatalaksanaan stroke?

10. Bagaimana konsep asuhan keperawatan stroke?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi stroke

2. Untuk mengetahui etiologi dari stroke

3. Untuk mengetahui menifestasi stroke

4. Untuk mengetahui klasifikasi stroke

5. Untuk mengetahui faktor resiko stroke

6. Untuk memahami bagaimana patofisiologi stroke

7. Untuk mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang stroke

2
8. Untuk lebih mengetahui komplikasi stroke

9. Untuk memahami bagaimana penatalaksanaan stroke

10.Untuk memahami konsep asuhan keperawatan stroke (pengkajian,diagnose


keperawatan dan intervensi keperawatan)

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Anatomi Fisiologi Otak

Berat otak manusia sekitar 1400 gram dan tersusun oleh kurang lebih 100 triliun
neuron. Otak terdiri dari empat bagian besar yaitu serebrum (otak besar), serebelum (otak
kecil), brainstem (batang otak), dan diensefalon. (Satyanegara, 1998)

Serebrum terdiri dari dua hemisfer serebri, korpus kolosum dan korteks serebri.
Masing masing hemisfer serebri terdiri dari lobus frontalis yang merupakan area motorik
primer yang bertanggung jawab untuk gerakan-gerakan voluntar, lobur parietalis yang
berperanan pada kegiatan memproses dan mengintegrasi informasi sensorik yang lebih
tinggi tingkatnya, lobus temporalis yang merupakan area sensorik untuk impuls
pendengaran dan lobus oksipitalis yang mengandung korteks penglihatan primer,
menerima informasi penglihatan dan menyadari sensasi warna.

Serebelum terletak di dalam fosa kranial posterior dan ditutupi oleh duramater
yang menyerupai atap tenda yaitu tentorium, yang memisahkannya dari bagian posterior
serebrum. Fungsi utamanya adalah sebagai pusat refleks yang mengkoordinasi dan

4
memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk
mempertahankan keseimbangan sikap tubuh.

Bagian-bagian batang otak dari bawah ke atas adalah medula oblongata, pons dan
mesensefalon (otak tengah). Medula oblongata merupakan pusat refleks yang penting
untuk jantung, vasokonstriktor, pernafasan, bersin, batuk, menelan, pengeluaran air liur
dan muntah. Pons merupakan mata rantai penghubung yang penting pada jaras
kortikosereberalis yang menyatukan hemisfer serebri dan serebelum. Mesensefalon
merupakan bagian pendek dari batang otak yang berisi aquedikus sylvius, beberapa
traktus serabut saraf asenden dan desenden dan pusat stimulus saraf pendengaran dan
penglihatan.

Diensefalon di bagi empat wilayah yaitu talamus, subtalamus, epitalamus dan


hipotalamus. Talamus merupakan stasiun penerima dan pengintegrasi subkortikal yang
penting. Subtalamus fungsinya belum dapat dimengerti sepenuhnya, tetapi lesi pada
subtalamus akan menimbulkan hemibalismus yang ditandai dengan gerakan kaki atau
tangan yang terhempas kuat pada satu sisi tubuh. Epitalamus berperanan pada beberapa
dorongan emosi dasar seseorang. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan
dari sistem susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah dan emosi.
(Sylvia A. Price, 1995)

2.1.1 Sirkulasi Darah Otak

5
Otak menerima 17 % curah jantung dan menggunakan 20 % konsumsi oksigen
total tubuh manusia untuk metabolisme aerobiknya. Otak diperdarahi oleh dua pasang
arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis. Dan dalam rongga kranium,
keempat arteri ini saling berhubungan dan membentuk sistem anastomosis, yaitu sirkulus
Willisi.(Satyanegara, 1998)

Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria karotis komunis kira-kira
setinggi rawan tiroidea. Arteri karotis interna masuk ke dalam tengkorak dan bercabang
kira-kira setinggi kiasma optikum, menjadi arteri serebri anterior dan media. Arteri
serebri anterior memberi suplai darah pada struktur-struktur seperti nukleus kaudatus dan
putamen basal ganglia, kapsula interna, korpus kolosum dan bagian-bagian (terutama
medial) lobus frontalis dan parietalis serebri, termasuk korteks somestetik dan korteks
motorik. Arteri serebri media mensuplai darah untuk lobus temporalis, parietalis dan
frontalis korteks serebri.

Arteria vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria subklavia sisi yang sama.
Arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen magnum, setinggi perbatasan
pons dan medula oblongata. Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri basilaris, arteri
basilaris terus berjalan sampai setinggi otak tengah, dan di sini bercabang menjadi dua
membentuk sepasang arteri serebri posterior. Cabang-cabang sistem vertebrobasilaris ini
memperdarahi medula oblongata, pons, serebelum, otak tengah dan sebagian diensefalon.
Arteri serebri posterior dan cabang-cabangnya memperdarahi sebagian diensefalon,
sebagian lobus oksipitalis dan temporalis, aparatus koklearis dan organ-organ vestibular.
(Sylvia A. Price, 1995)

Darah di dalam jaringan kapiler otak akan dialirkan melalui venula-venula (yang
tidak mempunyai nama) ke vena serta di drainase ke sinus duramatris. Dari sinus,
melalui vena emisaria akan dialirkan ke vena-vena ekstrakranial. (Satyanegara, 1998)

6
2.2 Konsep Stroke

2.2.1 Definisi Stroke

Stroke adalah suatu keadaan yang timbul karena terjadi gangguan peredaran darah
di otak yang menyebabkan terjadinya kematian jaringan otak sehingga mengakibatkan
seorang menderita kelumpuhan atau kematian. Sedangkan menurut Hudak (1996), stroke
adalah defisit neurologis yang mempunyai serangan mendadak dan berlangsung 24jam
sebagai akibat dari cardiovascular desease (CVD).

Stroke adalah kehilangan fungsi otak diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke
bagian otak, biasanya merupakan akumulasi penyakit serebrosvaskular selama beberapa
tahun (Smeltzer,2001)

2.2.2 Etiologi Stroke

Menurut Smeltzer (2001) stroke biasanya diakibatkan dari salah satu dari empat
kejadian yaitu sebagai berikut.

1. Trombosis serebral

Arteriosklerosis serebral dan perlambatan sirkulasi serebral adalah penyebab


utama trombosis serebral yang merupakan penyebab paling umum dari stroke. tanda-
tanda trombosis serebral bervariasi. Sakit kepala adalah onset yang tidak umum, beberapa
pasien dapat mengalami pusing, perubahan kognitif, kejang, dan beberapa mengalami
onset yang tidak dapat dibedakan dari hemoragi intraserebral atau embolisme serebral.
Secara umum trombosis serebral tidak terjadi dengan tiba-tiba, dan kehilngan bicara
sementara,hemiplegia, atau parastesia pada setengah tubuh dapat mendahului onset
paralisis berat pada beberapa jam atau hari.

2. Embolisme serebral

Embolisme biasanya menyumbat arteri serebral tengah atau cabang-cabangnya


sehingga merusak sirkulasi serebral. Onset hemiparesis atau hemiplegia tiba-tiba dengan

7
afasia, atau kehilangan kesadaran pada pasien dengan penyakit jantung atau pulmobal
adalah karakteristik dari embolisme serebral

3. Iskemia serebral

Iskemia serebral (insufisiensi suplai darah ke otak) terutama karena konstriksi


ateroma pada arteri yang menyuplai darah ke otak.

4. Hemoragi serebral

a. Hemoragi ekstradural (hemoragi epidular ) adalah kedaruratan bedah neuro yang


memerlukan perawatan segera. Keadaan ini biasanya mengikuti fraktur tengkorak dengan
robekan arteri tengah dan arteri meninges lain, dan pasien harus diatasi dalam beberapa
jam cedera untuk mempertahankan hidup.

b. Hemoragi subdural pada dasarnya sama dengan hemoragi epidural, kecuali bahwa
hematoma subdural biasanya jembatan vena robek. Oleh karena itu, periode pembentukan
hematoma lebih lama dan menyebabkan tekananan pada otak. Beberapa pasien mungkin
mengalami hemorogi subdural kronik tanpa menunjukkan tanda atau gejala.

c. Hemoragi subaraknoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau hipertensi, tetapi
penyebab yang paling sering adalah kebocoran aneurisme pada area sirkulus Willisi dan
malformasi arteri vena kongenital pada otak.

d. Hemoragi Intraserebral adalah perdarahan di substansi dalam otak, paling umum


terjadi pada pasien denga hipertensi dan aterosklerosis serebral disebabkan oleh
perubahan degeneratif karena penyakit ini biasanya menyebabkan ruptur pembuluh
darah. Biasanya onset tiba-tiba, dengan sakit kepala berat. bila hemoragi membesar,
makin jelas defisit neurologik yang terjadi dalam bentuk penurunan kesadaran dan
abnormalitas pada tanda vital

8
2.2.3 Manifestasi Klinik

Menurut Smeltzer (2001) manifestasi stroke adalah sebagai berikut

1. Defisit lapang penglihatan

a. Humonimus hemianopsia (kehilangan setengah lapang penglihatan). Tidak menyadari


orang atau objek ditempat kehilangan, penglihatan, mengabaikan salah satu sisi tubuh,
kesulitan menilai jarak.

b. Kehilangan penglihatan perifer, kesulitan melihat pada malam hari tidak menyadari
objek atau batas objek

c. Diplopia, penglihatan ganda

2. Defisit Motorik

a. Hemiparesis, kelemahan wajah, lengan, dan kaki pada sisi yang sama. Paralisis wajah
(karena lesi pada hemisfer yang berlawanan)

b. Ataksia, berjalan tidak mantap, tegak. Tidak mampu menyatukan kaki, perlu dasar
berdiri yang luas

c. Disartria, Kesulitan dalam membentuk kata

d. Disfagia, kesulitan dalam menelan

3. Defisit Verbal,

a. Afasia ekspresif, tidak dapat membentuk kata yang dapat dipahami, mungkin mampu
berbicara dalam rerspon kata tunggal

b. Afasia reseptif, tidak mampu memahami kata yang dibicarakan, mampu bicara tetapi
tidak masuk akal

c. Afasia Global, kombinasi baik afasia reseptif dan ekspresif.

9
4. Defisit Kognitif, penderita stroke akan kehilangan memori jangka pendek dan panjang,
penurunan lapang perhatian, kerusakan kemampuan untuk berkonsentrasi, alasan abstrak
buruk, dan perubahan penilaian

5. Defisit emosional, penderita akan mengalami kehilangan kontrol diri, labilitas,


emosional, penurunan toleransi, pada situasi yang menimbulkan stress, depresi, menarik
diri, rasa takut, bermusuhan dan marah, serta perasaan isolasi

2.2.4 Klasifikasi Stroke

Menurut Satyanengara (1998) gangguan peredaran darah otak atau stroke dapat
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : non-hemoragi/iskemik/infark dan stroke hemoragi

1. Non-Hemoragi/Iskemik/Infark

a. Serangan iskemik sepintas (Transient Ischemic Attack-Tia). TIA merupakan tampilan


peristiwa berupa episode-episode serangan sesaat dari suatu disfungsi serebral fokal
akibat gangguan vaskular, dengan lama serangan sekitar 2-15 menit sampai paling lama
24 jam.

b.Defisit Neurologis Iskemik Sepintas (Reversible Ischemic Neurology Deficit-RIND.


Gejala dan tanda gangguan neurologis yang berlangsung lebih lama dari 24 jam dan
kemudian pulih kembali (dalam jangka waktu kurang dari tiga minggu).

c. In Evolutional atau Progressing Stroke. Gejala gangguan neurologis yang progresif


dalam waktu enam jam atau lebih.

d. Stroke komplet (Completed Stroke/Permanent Stroke). Gejala gangguan neurologis


dengan lesi-lesi yang stebil selama periode waktu 18-24 jam, tanpa adanya progresivitas
lanjut.

2. Stroke Hemoragi

Perdarahan intrakranial dibedakan berdasarkan tempat perdrahannya, yakni di


rongga subraknoid atau di dalam parenkim otak (intraserebral). Ada juga perdarahan

10
yang terjadi bersamaan pada kedua tempat di atas seperti: perdarahan subraknoid yang
bocor ke dalam otak atau sebaliknya. Selanjutnya gangguan-gangguan arteri yang
menimbulkan perdarahan otak spontan dibedakan lagi berdasarkan ukuran dan lokasi
regional otak.

2.2.5 Faktor Resiko Terjadinya Stroke

Menurut Baugham (2000) yang menentukan timbulnya manifestasi stroke di


kenal sebagai faktor risiko stroke. Adapun faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.

1. Hipertensi merupakan faktor risiko stroke yang potensional

2. Diabetse melitus merupakan faktor risiko terjadi stroke yaitu dengan peningkatan
aterogenesis

3. Penyakit jantung / kardiovaskuler berpotensi untuk menimbulkan stroke. Faktor risiko


ini akan menimbulkan embolisme serebral yang berasal dari jantung

4. Kadar Hematokrit normal tinggi yang berhubungan dengan infark serebral

5. Kontrasepsi oral, peningkatan oleh hipertensi yang menyertai, usia di atas 35 tahun,
perokok da kadar estrogen tinggi.

6. Penurunan tekanandarah yang berlebihan atau dalam jangka panjang dapat


menyebabkan iskemia serebral umum

7. Penyalahgunaan obat, terutama pada remaja dan dewasa muda

8. Konsumsi alkohol

9. Riwayat keluarga

Sememtara menurut Harsono (1996), semua faktor yang menentukan timbulnya


manifestasi stroke dikenal sebagai faktor risiko stroke. Adapun faktor-faktor tersebut
antara lain :

11
a. Hipertensi, merupakan faktor risiko stroke yang potensial, Hipertensi dapat
mengakibatkan pecahnya maupun menyempitnya pembuluh darah otak. Apabila
pembulug darah otak pecah, maka timbulah perdarahan otak dan apabila pembuluh darah
otak menyempit, maka aliran darah ke otak akan terganggu dan sel-sel otak akan
mengalami kematian

b. Diabetes Melitus, mampu menebalkan dinding pembuluh darah otak yang berukuran
besar. Menebalnya dinding pembuluh darah otak akan menyempitkan diameter pembuluh
darah tadi dan penyempitan tersebut kemudian akan mengganggu kelancaran aliran ke
otak, yang pada akhirnya akan menyebabkan infark sel-sel otak

c. Penyakit jantung, berbagai penyakit jantung berpotensi untuk menimbulkan stroke.


Faktor risiko ini akan menimbulkan hambatan/sumbatan aliran darah ke otak karena
jantung melepas gumpalan darah atau sel-sel/ jaringan yang telah mati ke dalam aliran
darah

d. Gangguan aliran darah otak sepintas, Pada umumnya bentuk-bentuk gejalanya adalah
hemiparesis, disartria, kelumpuhan otot-otot mulut atau pipi, kebutaan mendadak,
hemiparestesi, dan afasia

e. Hiperkolesterolemi, meningginya angka kolesterol dalam darah, terutama low density


lipoprotein (LDL), merupakan faktor risiko penting terjadinya arteriosklerosis
(menebalnya dinding pembuluh darah yang kemudian diikuti penurunan elastisitas
pembuluh darah). Peningkatan kadar LDL dan penurunan kadar High Density
Lipoprotein (HDL) merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit jantung koroner

f. Infeksi, penyakit infeksi yang mampu berperan sebagai faktor risiko stroke adalah
tuberkulosis, malaria, lues (sifilis), leptospirosis, dan infeksi cacing

g. Obesitas, merupakan faktor risiko penyakit jantung

h. Merokok, merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya infark jantung

i. Kelainan pembuluh darah otak, pembuluh darah otak yang tidak normal, dimana suatu
saat akan pecah dan akan menimbulkan perdarahan.
12
j. lain-lain, lanjut usia, penyakit paru-;paru menahun, penyakit darah, asam urat yang
berlebihan, kombinasi berbagai faktor risiko secara teori.

2.2.6 Patofisiologi Stroke Non Hemoragi dan Hemoragik

Menurut Long (1996) otak sangat bergantung pada oksigen dan tidak mempunyai
cadangan oksigen. Bila terjadi anoksia seperti halnya yang terjadi pada CVA,
metabolisme di otak segera mengalami perubahan, kematian sel, dan kerusakan permanen
dapat terjadi dalam 3 sampai 10 menit. Tiap kondisi yang menyebabkan perubahan
perfusi otak akan menimbulkan hipoksia atau anoksia. Hipoksia menyebabkan iskemik
otak.Iskemik otak dalam waktu lama menyebabkan sel mati permanen dan berakibat
terjadi infark otak yang disertai dengan edema otak karena pada daerah yang dialiri darah
terjadi penurunan perfusi dan oksigen, serta peningkatan karbondioksida dan asam laktat.

Menurut Satyanegara (1998), adanya gangguan peredaran darah otak dapat


menimbulkan jejas atau cedera pada otak melalui empat mekanisme, yaitu :

a. Penebalan dinding arteri serebral yang menimbulkan penyempitan atau penymbatan


lumen sehingga aliran darah dan suplainya ke sebagian otak tidak adekuat, serta
selanjutnya akan mengakibatkan perubahan-perubahan iskemik otak. Bila hal ini terjadi
sedemikian hebatnya, dapat menimbulkan nekrosis (infark)

b. Pecahnya dinding arteri serebral akan menyebabkan bocornya darah ke jaringan


( hemoragi)

13
c. Pembesaran sebuah atau sekelompok pembuluh darah yang menekan jaringan otak
(miaslnya malformasi angiomatosa, aneurisma)

d. Edema serebri yang merupakan pengumpulan cairan di ruang intersisial jaringan otak.

1. Stroke Non Hemoragik

Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus
atau embolus. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada
dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area
thrombus menjadi berkurang, menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks
iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak.

Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri
karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba
berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal. Perdarahan otak dapat
ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli.

2.Stroke Hemoragik

Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau
ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang
seharusnya konstan. Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat
dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan
menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian.

Di samping itu, darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid
dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada daerah
tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis
jaringan otak.

2.2.7 Pemeriksaan Penunjang

Menurut Harsono (1996) pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada


penderita stroke adalah sebagai berikut:

14
1. CT scan bagian kepala, pada stroke non hemoragi terlihat adnya infark sedangkan pada
stroke hemoragi terlihat perdarahan

2. Pemeriksaan lumbal Fungsi, untuk pemeriksaan diagnostik diperiksa kimia sitologi,


mikrobiologi, dan virologi. Disamping itu dilihat pula tetesan cairan serebrospinal saat
keluar baik kecepatannya, kejernihannya,warna dan tekanan yang menggambarkan proses
terjadi di intraspinal. Pada stroke non hemoragi akan ditemukan tekanan noraml dari
cairan cerebrospinal jernih. Pemeriksaan pungsi sisternal dilakukan bila tidak mungkin
dilakukan dengan supervisi neurolog yang telah berpengalaman

3. Elektrokardiografi (EKG), untuk mmengetahui keadaan jantung dimana jantung


berperan dalam supai darah otak

4. Elektro Encephalo Grafi, mengidentifikasi masalah berdasarkan gelombang otak,


menunjukan area lokasi secara spesifik

5. Pemeriksaan darah, untuk mengetahui keadaan darah, kekentalan darah, jumlah sel
darah, penggumpalan trombosit yang abnormal, dan mekanisme pembekuan darah

6. Angiografi serebral, membantu secara spesifik penyebab stroke seperti perdarahan,


atau obstruksi arteri, memperlihatkan secara tepat letak oklusi atau ruptur

7. Magnetik Resonasi Imagine (MRI), menunjukan darah yang mengalami infark,


hemoragi. Malformasi Arterior Vena (MAV), pemeriksaan ini lebih canggih dari pada CT
scan

8. Ultrasonografi Dopler, untuk mengidentifikasi penyakit MAV (Harsono,1996).


Menurut Wibowo (1991), pemeriksaan sinar x kepala dapat menunjukan perubahan pada
glandula pineal pada sisi yang berlawanan dari masa yang meluas, klasifikasi karotis
internal yang dapat dilihat pada trombosis serebral, klasifikasi parsial pada dinding
anerurisme pada perdarahan subraknoid.

2.2.8 Komplikasi

Komplikasi menurut Satyanegara (1998) adalah sebagai berikut :

15
1. Komplikasi dini (0-48 jam pertama)

a. edema serebri : defisit neurologis, cenderunng memberat, dapat mangakibatkan


peningkatan tekanan intrakranial, herniasi dan akhirnya menimbulkan kematian.

b. Infark Miokard : penyebeb kematian mendadak pada stroke stadium awal

2. Komplikasi jangka pendek (1-14 tahun)

a. Pneumonia : akibat imobilisasi lama

b. Infark miokard

c. Emboli paru : cenderung terjadi 7-14 hari pasca stroke, seringkali pada saat
penderita mulai mobilitas

d. Stroke rekuren : dapat terjadi pada setiap saat

3. Komplikasi jangka panjang, stroke rekuren, infark miokard, gangguan vaskuler lain :
Penyakit vaskular veriver.

Menurut Smeltzer (2001), komplikasi yang terjadi pada pasien stroke yaitu:

a. Hipoksia serebral diminimalkan dengan memberi oksigenasi

b. Penurunan darah serebral

c. Embolisme serebral

2.2.9 Penatalaksanaan

Menurut Harsono (1996), kematian dan deteriosasi neurologis minggu pertama


stroke iskemia terjadi karena adanya edema otak. Edema otak timbul dalam beberapa jam
setelah stroke iskemik dan mencapai puncaknya 24-96 jam. Edema otak mula-mula
cytofosic karema terjadi gangguan pada metabolisme seluler kemudian terdapat edema
vasogenik karena rusaknya sawar darah otak setempat. Untuk menurunkan edema otak,
dilakukan hal-hal berikut ini :

1. Naikkan posisi kepala dan badan bagian atas setinggi 20-300

16
2. Hindarkan pemberian cairan intravena yang berisi glukosa atau cairan hipotonik

3. Pemberian osmoterapi seperti :

a. Bolus marital 1 gr/kg BB dalam 20-30 menit kemudian dilanjutkan dengan dosis
0,25 gr/kgBB setiap 6jam sampai maksimal 48 jam. Target osmolaritas 300-320
mmol/liter

b. Gliserol 50% oral 0,25-1 gr/kgBB setiap 4 atau 6 jam atau gliserol 10% intravena
10 ml/kgBB dalam 3-4jam (untuk edema serebri ringan, sedang).

c. Furosemide 1 ml/kg BB intravena

4. Intubasi dan hiperventilasi terkontrol dengan oksigen hiperbarik sampai PCO 2 = 29-35
mmHg

5. Tindakan bedah dikompresif perlu dikerjakan apabila terdapat supra tentoral 8, dengan
pergeseran linea mediarea atau serebal infark disertai efek rasa.

6. Steroid dianggap kurang menguntungkan untuk terapi udara serebral karena disamping
menyebabkan hiperglikemia juga naiknya risiko infeksi.

17
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN STROKE

3.1 Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan untuk mengenal
masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan.
a. Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi tentang status kesehatan klien
menyeluruh mengenai fisik, psikologis, sosial budaya, spritual, kognitif, tingkat
perkembangan , status ekonomi , kemampuan fungsi dan gaya hidup klien .
1. Identitas Klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis
kelamin,pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam
MRS ,no register, diagnose medis.
2. Keluhan Utama
Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan
tidak dapat berkomunikasi.
3. Riwayat penyakit sekarang
Serangan stroke gemoragik seringkali berlanggsung sangat mendadak , pada saat
klien sedang melakukan sktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala,mual,muntah
bahkan kejang sampai tidak sadar , disamping gejala kelumpuhan separoh badan
atau gangguan fungsi otak yang lain.
4. Riwayat penyakit dahulu
Adanya hipertensi , diabetes melitus , penyakit jantung, anemia , riwayat trauma
kepala, kontrasepsi oral yang lama , penggunaan obat-obatan antikoagulan ,
aspirin vasodilatir,obat-obatan adiktif, kegemukan.
5. Riwaya penyakit keluarga

18
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes
melitus
6. Riwayat psikososial
Stroke memang suatu penyakit yang sangat mahal biaya pemeriksaan,
pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga
faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi pikiran klien dan keluarga.
7. Pola-pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol, penggunaan obat
kontrsepsi oral
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Adanya kesulitan menelan , nafsu makan menrun , mual muntah pada fase
akut.
c. Pola eliminasi
Biasanya terjadi inkontensia urine dan pada pola defekasiya biasanya terjadi
kontipasi akibat penurunan peristaltik usus
d. Pola aktivitas dan latihan
Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan , kehilangan sensori
atau paralise hemiplegi, mudah lelah
e. Pola tidur dan istrirahat
Biasanya klien mengalammi kesukaran untuk beristirahat karena kejang
otot/neri otot
f. Pola hubungan dan peran
Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran
untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara
g. Pola persepsi dan konsep diri
Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan ,mudah marah dan kooperatif
h. Pola sensori kognitif
i. Klien mengalami gangguan pengllihatan kekaburan pandangan,
perbaan/sentuan menurun pada muka dan ektremitas yang sakit , pada pola
kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berpikir

19
j. Pola reproduksi seksual
Biasanya terjadi penurunan gairah sesksual akibat dari beberapa pengobatan
stroke , seperti obat anti kejang ,anti hipertensi ,antagonis histamin
k. Pola penanggulangan stress
Klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena
gangguan proses berpikir dan esulitan berkomunikasi
l. Pola tata nilai dan keercayaan
Klen biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak
stabil,kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh
8. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
1. Kesadaran : umumnya mengalami penurunan kesadaran
2. Suara bicara : kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti ,
kadang tidak biasa bicara
3. Tanda-tanda vital : tekanan darah meningkat , denyut naadi bervariasi.
b. Pemeriksaan Integumen
1. Kulit : Jika klien ekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika
kekurangan cairan maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga
dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena
klien stroke hemogarik harus bed rest 2-3 minggu.
2. Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis
3. Rambut : umumnya tidak mengalami kelainan
c. Pemeriksaan kepala dan leher
1. Kepala : bentuk normocephalik
2. Muka : umumnya tidak simetris yaitu moncong kesalah satu sisi
3. Leher : Kaku kuduk jarnag terjadi (Satya negara)
d. Pmeriksaan Dada
Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing
ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan
refleks bentuk dan menelan.
e. Pemeriksaan abdomen

20
Didapatkan penuruna peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan kadang
terdapat kembung
f. Pemeriksaan Inguinal, genetalia, anus
Kadang terdapat retensio urine
g. Pemeriksaan ekstremitas
Sering didapatkan kelumpuhan salah satu sisi tubuh
h. Pemriksaan neurologi
1. Pemeriksaa nervus cranialis
Umumnya dapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central
2. Pemeriksaan motorik
Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi tubuh
3. Pemeriksaan sensorik
Dapat terjadi hemipestasi
4. Pemeriksaan refleks
Pada fase reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang, setelah
beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahului dengan
refleks patologis
9. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan radiologi
1. CT scan : didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang ventrikel, atau
menyebar kepermukaan otak
2. MRI : untuk menunjukan areea yang mengalami hemogarik
3. Angiografi serebal : untuk mencari pendarahan seperti aneurisma atau
malfomasi vaskuler
4. Pemeriksaan fhoto thorak : dapat memperlihatkan keadaan jantung,
apakah dapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda
hipertensi kronis pada penderita stroke.
b. Pemeriksaan Laboratorium
1. Pungsi lumbal : pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai pada
pendarahan yang masif sedangkan pendrahan yang kecil biasanya likuor
masih normal (xantokhrom) sewaktu hari pertama

21
2. Pemeriksaan darah rutin
3. Pemeriksaan kimia darah : pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia .
gula darah dapat mencapai 250 mg dalam serum dan kemungkinan
berngsur rangsur turun
4. Pemeriksaan drah lengkap : untuk mencari kelainan pada darah itu sendiri

3.2 Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan perfusi jaringan otak B.d pendarahan intra celebral


2. Gangguan mobilitas fisik B.d hemiparase/ hemiplegia
3. Gangguan peraepsi sensori : perabaan yang berhubungan dengan
penekanan pada saraf sensori
4. Gangguan komunikasi verbal B.d penurunan sirkulasi darah otak
5. Kurangnya perawatan diri B.d hemiparese/hemiplegi
6. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuham tubuh B.d kelemahan otot
mengunyah menelan
7. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) B.d imobilisasi, intake cairan yang
tidak adekuat
8. Resiko gangguan integritas kulit B.d tirah baring lama
9. Resiko terjadinya ketidakefektifan kebersihan jalan nafas B.d menurunya
refleks batuk dan menelan ,imobilisasi
10. Gangguan eliminasi uri (incotinensia urin) B.d penurunan sensai disfungsi
kognitif,ketidak mampuan berkomunikasi

3.3 Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan kriteria Intervensi Rasional


hasil
1. Gangguan perfusi a. Tujuan a. Berikan penjelasan a. Keluarga lebih
jaringan otak B.d Perpusi jaringan ke kepada keluarga kien berpartisipasi dalam proses
pendarahan intra celebral otak dapat terapai tentang sebab-sebab penyembuhan
b. Kriteria hasil gangguan perpusi

22
-Klien tidak gelisah jaringan ke otak dan
-Tidak ada keluhan akibatnya. b. Untuk mencegah
nyeri kepala b.Anjurkan kepada pendarahan ulang
-GCS 456 klienn untuk bed res
-Tanda-tanda vital total
normal (nadi : 60-1 c. Mengetahui setiap
—x/mnt , suhu : c.observasi dan catat peurbahan yang yerjadi
36-376,7C . tanda-tanda vital dan pada klien sendari dini dan
pernapasan 16-2- kelainan intrakranial untuk penetapan tindakan
x/mnt) tiap dua jam yang tepat

d. Berikan posisi d. Mengurangi tekanan


kepala lebih tinggi arteri dengan meningkatkan
150-30 dengan letak draimage vena dan
jantung (beri bantal memperbaiki sirkulasi
tipis) selebral
e. anjurkan klien e. Batuk dan mengejan
untuk menghindari dapat meningkatkan tekanan
batuk dan menejan intra kranial dan potensial
berlebihan pendarahan ulang

f. Ciptakan f. Rangsangan aktifitas


lingkungan yang yang meningkat dan
tenang dan batasi meningkatkan kenaikan TIK
pengunjung . istirahat total dan
ketenangan mungkin
diperlukan untuk mencegah
terhadap pendarahan dalan
kasus stroke hemoragik/
pendarahan lainnya

23
g..Kolaborasi dengan g. Obat neuroprotektor
tim dokter pemberian memperbaiki sel yang masih
obat neuroprotektor viabel

2. Gangguan mobilitas fisik a. Tujuan : klien a. Ubah posisi klien a. Menurunkan resiko
B.d hemiparase/ mampu tiap 2 jam terjadinya iskemia jaringan
hemiplegia melaksanakan akibat sirjulasi darah yang
aktifitas sesuai jelek pada daerah yang
dengan tertekan
kemampuanya
b. Kriteria hasil : b. Ajarkan klien untuk b Gerakan aktif memberikan
-tidak terjadi melakukan latihan massa, tonus dan kekuatan
kontraktur sendi gerak aktif pasif otot serta memperbaiki
-bertambahnya ektremitas yang tidak fungsi jantung dan
kekuatan otot sakit pernapasan
-klien menunjukan
tindakan untuk
meningkatkan
mobilitas

c. Lakukan gerak pasif c. Otot volunter akan


pada ektermitas yang kehilangan tonus dan
sakit kekuatannya bila tidak
dilatih untuk di gerakan
d. Kolaborasi dengan
ahli fisioterapo untuk d. Fisioterapi berguna untuk
latihan fisik klien mengembalikan fungsi
tubuh
3. Gangguan persepsi A. Tujuan : a.Tentukan kondisi a.Untuk mengetahui tipe
sensori : perabaan yang meningkatnya patologis klien dan lokasi yang mengalami

24
berhubungan dengan persepsi sensori : gangguan , sebagai
penekanan pada saraf perabaan secara penetapan rencana tindakan
sensori optimal
B. kriteria hasil : b. Kaji kesadaran b.Penurunan kesadaran
-klien dapat sensori , seperti terhadap sensorik dan
mempertahankan membedakan perasaan kinetik
tingkat kesadaran panas/dingin berpengaruh terhadap
dan fungsi persepsi ,tajam/tumpul ,posisi keseimbangan/posisi dan
- klien mengakui bagian tubuh/otot, rasa kesesuaian dari gerakan
perubahan dalam persendian yang menggangguambulansi
kemampuan untuk meningkatkannresiko
meraba dan merasa terjadinya trauma
- klien dapat
menunjukan
perilaku untuk
mengkompensasi
terhadap perubahan c.Berikan stimuasi c. Melatih kembali jaras
sensori terhadap rasa sentuhan sensorik untuk
, seperti memberikan mengintegrasikan persepsi
klien suatu benda dan intepretasi
untuk menyentuh, diri.membantu klien untuk
meraba. Biarkan klien mengorientasikan bagian
menyentuh dinding dirinya dan kekuatan dari
atau batasbatas lainya daerah yang terpengaruh

d. Lindungi klien dari


suhu yang berlebihan, d. Meningkatkan keamanan
kaji adanya lindungan klien dan menurunkan
yang berbahaya. resiko terjadinya trauma
anjurkan pada klien
dan kluarga untuk

25
melakukan
pemeriksaan terhadap
suhu ait dengan
tangan yang normal
e. Penurunan stimulasi
e. Anjurkan klien penglihatan dan sentuhan
untuk mengamati kaki membantu dalam
dan tangannya bila mengintegrasikan sisi yang
perlu dan menyandari sakit
posisi bagian tubuh
yang sakit. Buatlah
klien sadar akan
semua bagian tubuh
yang terabaikan
seperti stimulasi
sensorik pada daerah
yang sakit , latihan
yang membawa area
yang sakit melewati
garis tengah, ingatkan
individu untuk f. Menurunkan ansietas dan
merawat sisi yang reapons emosi yang
sakit berlebihan/kebingungan
yang berhubungan dengan
f. Hilagkan kebisingan sensori berlebiha
/ stimulasi ekternal
yang berlebihan g. Membantu klien untuk
mengidentifikasi
ketidakkonsistenan dari
persepsi dan integrasi
g. Lakukan validasi stimulus

26
terhadap persepsi
klien

4. Gangguan komunikasi A. Tujuan : a.Berikan metode a. Memenuhui kebutuhan


verbal B.d penurunan Prosees alternatif komunikasi , komunikasi sesuai dengan
sirkulasi darah otak komunikasi klien misal dengan bahasa kemampuan klien
dapat berfungsi isyarat
secara optimal
B. Kriteria hasil b. Antisipaai setiap b. Mencegah rasa putus asa
-terciptanya suatu kebutuhan klien saat dan ketergantungan pada
komunikasi dimana berkomunikasi orang lain
kebutuhan klien
dapat dipenuhi c. Bicaralah dengan c. mengurangi kecemasan
- klien mampu klien secara pelan dan dan kebingungan pada saat
merespon setiap gunakan pertanyaan berkomunikasi
berkomunikasi yang jawabanya "ya"
secara verbal atau "tidak"
maupun isyarat d. Mengurangi isolasi sosial
d. Anjurkan kepada dan meningkatkan
keluarga untuk tetap komunikasi yang efektif
komunikasi dengan
klien
e. Memberi semangat pada
e. Hargai kemampua klien agar lebih sering
klien dalam melakukan komunikasi
berkomunikasi
f. Melatih klien belajar
f. Kolaborasi dengan bicata secada mandiri
fisioterapi untuk dengan baik dan benar
latihan wicara

5. Kurangnya perawatan A. Tujuan : a. Tentukan a. Membantu dalam

27
diri B.d Kebutuhan kemampuan dan mengantisipasi/merencanak
hemiparese/hemiplegi perawatan diri tingkat kekurangan an pemenuhan kebutuhan
terpenuhi dalam melakukan secara individual
B. Kriteria hasil : perawatan diri
- klien dapat
melakukan aktifitas b. Beri motivasi b. Meningjatkan harga diri
perawatan diri kepada klien untuk dan semangat untuk
sesuai dengan tetap melakukan berusaha terus menerus
kemampuan klien aktifitas dan beri
- klien dapat bantuan dengan sikap
mengidentifikasi sunguh
sumber
pribadi/komunikasi c. Hindari melakukan c. Klien mungkin nmenjadi
untuk memberikan sesuatu untuk klien sangat ketakutan dan sangat
bantuan sesuai yang dapat dilakukan tergantung dan meskipun
kebutuhan klien sendiri , tetapi bantuan yang di berikan
berikan bantuan sesuai bermanfaat dalam mencegah
kebutuhan frustasi , adalah penying
bagi klien untuk melakukan
sebanyak mungkin untuk
diri sendiri untuk
mempertahankan herga diri
dan meningkatkan
d. Berikan umpan pemulihan
balik yang posisif
untuk setiap usaha d. Meningkatkan perasaan
yang dilakukannya makna diri dan kemandirian
atau keberhasilanya serta mendorong klien untuk
berusaha secara kontinyu
e. Kolaborasi dengan
ahli fisioterapi

28
okupasi e. Memberikan bantuan
yang mantap untuk
mengembangkan rencaba
terapi dan mengidentifikasi
kebutuhan alat penyokong
khusus.

6. Resiko gangguan nutrisi a. Tujuan. a. Tentuan a.Untuk menetapkan jenis


kurang dari kebutuham Tidak terjadi kemampuan klien makanan yang akan
tubuh B.d kelemahan gangguan nutrisi dalam mengunyah , diberikan pada klien
otot mengunyah menelan b. Kriteria hasil menelan dan refleks
-berat badan dapat batuk
di b.Untuk klien lebih mudah
pertahankan/diting b. Letakan posisi untuk menelan karena gaya
katkan kepala lebih tinggi grafitasi
- Hb dan albumin pada waktu, selama
dalam batas normal dan sesudah makan
c.Stimulasi bibir c.Membantu dalam melatih
untuk menutup dan kembali sensori dan
membuka mulut meningkatkan kontrol
secara manual dengan muskuler
menekan ringan diatas
bibir/dibawah dagu
jika dibutuhkan
d. Memberikan stimulasi
d. Letakan makanan sensori ( termasuk rasa
pada daerah mulut kecap)yang dapat
yang tidak terganggu mencetuskan usaha untuk
menelan dan meningkatkan

29
masukan

e. Klien dapat
e. Berikan makan nerkonsentrasi pada
dengan perlahan pada mekanisme makan tanpa
lingkungan yang adanya distrkasi/gangguan
tenang dari ouar

f. Makan lunak /cairan


f. Mulailah untuk kental mudah untuk
memberikan makan mengendalikannya didalam
per/oral mulut, menurunkan
Setengah cair, makan terjadinya aspirasi
lunak ketika klien
dapat menelan air

g. Anjurkan klien g. Menguatkan otot facial


menggunakan sedotan dan otot menelan dan
meminum cairan menurunkan resiko
terjadinya tersedak
h. Dapat meningktkan
h. Anjurkan klien pelepasan endofrin dalam
untuk berpartisipasi otak yang meningkatkan
dalam program latihan nafsu makan
atau kegiatan i. Mungkin di perlukan
i. Kolaborasi dengan untuk memberikan cairan
tim dokter untuk penganti makanan jika klien
memberikan cairan tdak mampu untuk
melalui Iv atau memasukan segala sesuatu
makanan melalui melalui mulut

30
selang

7. Gangguan eliminasi alvi a.tujuan a.Berikan penjelasan a.Klien dan keluarga akan
(konstipasi) B.d Klien tidak pada kkien dan mengerti tentang penyebab
imobilisasi , intake cairan mengalami kekuarga tentang konstipasi
yang tidak adekuat konstipasi penyebab konstipasi
b.kriteria hasil:
- klien dapat b.auskultasi bising b.Bising usus menandakan
defekasi secara usus sifat aktifitas peristaltik
sepontan dan lancar
tanpa penggunaan c.Diit seimbang tinggi
obat c.Anjurkan klien kandungan serat
- konsistensi feces untuk makan makanan merangsang peristaltik dan
kunak yang nengandung eliminasi reguler
- tidak teraba masa serat
pada kolon(scibala) d.Masukan cairan adekuat
- bising usus d.Berikan intake membantu
normal (7- cairan yang cukup(2 memperrtahankan
12kali/mnt) liter perhari) jika tidak konsistensi feces yang
ada kontraindikasi sesuai pada usus dan
membantu ekiminasi reguler
e. Lakukan mivilisasi e.Aktifitas fisik reguler
sesuai dengan keadaan membantu eliminasi sengan
kkien memperbaiki tonus otot
abdomen dan merangsang
nafsu makan dan peristaltik
f. Kolaborasi dengan f. Pelunak feces
tim dojter dalam meningkatkan efisiensi
pemberian pelunak pembasahan air usus yang
feces (laxatif, melunakan massa feces dan
suppositoria , enema) membantu eliminasi .

31
8. Resiko gangguan a.tujuan a. Anjurkan untuk a. Meningkatkanbaliran
integritas kulit Klien mampu melakukan latihan darah ke semua daerah
berhubungan dengan mempertahankan rom (range of motion)
tirah baring lama keutuhan kulit dan mobilisasi jika
b. Kriteria hasil mungkin b.Menghindari tekanan dan
- klien mampu meningkatkan aliran darah
berpartisipasi b. Rubah posisi tiap 2
terhadap jam c.Menghindaru tekanan
pencegahan luka yang berlebih pada daerah
- klien mengetahui c. Gunakan bantal air yang menonjol
penyebab dan cara atau penganjal yang
pencegahan luka lunak di bawah
- tidak ada tanda- daerah- daerah yang
tanda kemerahan menonjol
atau luka d. Hangat dan pelunakan
adalah tanda kerusakan
d. Observasi terhadap jaringan
eritema dan kepicatan
dan palpasi area
sekitat terhadap
kehangatan dan
pelunakan jaringan e. Mempertahankan kutuhan
tiap merubah posisi kulit

e. Jaga kebersihan
kulit dan seminimal
mungkin hindari
trauna , pabas ,
terhadap kulit

Resiki terjadinya a tujuan a. Berikan penjelasan a. Klien dan kekuarga mau

32
9. ketidakedektifan bersihan Jalan napas tetap kepada klien dan berpartisipasi dalam
jalan napas B.d efektif kekuarga tentang mencegah terjadinya
menurunya refleks batuk b.kriteria hasil sebab dan akibat ketidakefetifan bersihan
dan menelan - klien tidak sesak ketidakefektifan jalan jalan napas
napas napas
-tidak terdapat
ronchi , weezing b. Rubah posisi tiapb2 b.Perubahan posisi dapat
ataupun suara nafas jam sekali melepaskan sekret dari
tambahan saluran pernapasan
- tidak retraksi otot c. Berikan intake yang
bantu pernafasan adekuat (200cc per c. Air yang cukup dapat
- pernapasan teratur hari) mengencerkan sekret
, RR 16-20x per
menit d. Observasi pola dan d. Untuk mengetahui ada
frekuensi napas tidaknya ketidakefektifan
jalan napas
e. Auskultasi suara
napas e. Untuk mengetahui adanya
kelainan suara napas
f. lakukan fisioterapi
napas sesuai dengan f. Agar dapat melepaskan
keadaan umum klien sekret dan mengembangkan
paru-paru

10. Gangguan eliminasi a. Tujuan a. Identifikasi pola a. Berkemih yang sering


uri(incontenensia uri) B d Klien mampu berkemih dan dapat mengurangi dorongan
penurunan sensasi, mengontrol berkembang jadwal dari distensi kandung kemih
disfungsi kognitif , eliminasi urinya berkemih sering yang berlebih
ketidakmampuan untuk Kriteria hasil
berkomunikasi - klien akan b. Ajarkan untuk b.Pembatasan cairan pada
melaporkan membatasi masukan malam hari dapat membantu

33
penurunan atau cairan selang malam mencegah uneresis
hilangnya hari
inkontinensia
- tidak ada distensi c. Ajarkan teknik c. Untuk melatih dan
bladder untuk mencetus membantu pengosongan
refleks kandung kemih
berkemih(rangsangan
kutaneus dengan
penepukan
suprapubik, manuver
regangab anal) d . kapasitas kandung kemih
mungkin tidak cukup untuk
d. Bila masih menampung volume urine
inkontinensia, kurangi sehingga memerlukan untuk
waktu anatara lebih sering berkemih
berkemih pada jadwal
yang telah di e. Hidrari optimal
rencanakan diperlukan untuk mencegah
infeksi saluran perkemihan
e berikan penjelasan dan batu ginjal
tentang peting nya
hidrasi optimal
(sedikitnya
2000cc/hari bila tidak
ada kontraindikasi)

34
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Stroke adalah suatu keadaan yang timbul karena terjadi gangguan peredaran darah
di otak yang menyebabkan terjadinya kematian jaringan otak sehingga mengakibatkan
seorang menderita kelumpuhan atau kematian. Etiologi stroke bisa karena trombosis
serebrla, embolisme serebral, iskemia serebral, hemoragi serebral, hemoragi subarachnoid,
hemoragi intraserebral. Stroke dibagi menjadi dua jenis, yaitu stroke iskemik (ischemic
stroke) dan stroke hemoragik (hemorrahagic stroke). Stroke iskemik sebagian besar
merupakan komplikasi dari penyakit vaskuler, yang ditandai dengan gejala penurunan
tekanan darah yang mendadak, takikardia, pucat, dan pernafasan yang tidak teratur.
Sementara stroke hemoragik umumnya disebabkan oleh adanya perdarahan intrakranial
dengan gejala peningkatan tekanan darah sistole >200 mmHg pada hipertonik dan 180
mmHg pada normotonik, bradikardia, wajah keunguan, sianosis, dan pernafasn mengorok.

4.2 Saran

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu untuk mencegah
terjadinya stroke maka yang harus kita ubah mulai sekarang adalah pola hidup dan pola
makan yang sehat dan teratur. Jika kita membiasakan hidup sehat, maka kita tidak akan
mudah terserang penyakit. Makalah ini bisa menjadi sumber untuk membaca, karena telah
menjelaskan konsep stroke dari penyebab sampai pencegahan. Tetapi Kami mengharapkan
saran membangun dari pembaca agar dapat memberi kritik dan saran untuk kesempurnaan
makalah stroke.

35
36