Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN ANAK DENGAN RETINOBLASTOMA

Disusun Oleh :

1. Aqda Putra Mahardika Fisabillilah


(20171660093)
2. Emillia Ayu Anggraini
(20171660099)

Dosen Pembimbing :

Eva Yulianti, S.Kep., Ns., M.Kep

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN

i
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2019

ii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT,


yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul Asuhan Keperawatan
Pada Pasien Anak Dengan Retinoblastoma untuk memenuhi tugas mata
kuliah Keperawatan Anak II.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai salah satu
metode pembelajaran bagi mahasiswa-mahasiswi program studi
keperawatan. Ucapan terima kasih tidak lupa penulis sampaikan kepada
semua pihak yang telah membantu sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas laporan makalah ini, diantaranya :
1. Eva Yulianti, S.Kep., Ns., M.Kep selaku dosen pembimbing.
2. Teman-teman yang telah membantu dan bekerjasama sehingga
tersusun makalah ini.
Penulis menyadari atas kekurangan kemampuan penulis dalam
pembuatan makaah ini, sehingga akan menjadi suatu kehormatan besar
bagi penulis apabila mendapatkan kritikan dan saran yang membangun
agar makalah ini selanjutnya akan lebih baik dan sempurna serta
komprehensif.
Demikian akhir kata dari penulis, semoga makalah ini bermanfaat
bagi semua pihak dan pembelajaran budaya khususnya dalam segi
teoritis sehingga dapat membuka wawasan ilmu budaya serta akan
menghasilkan yang lebih baik di masa yang akan datang.             

Surabaya, 25 Oktober 2019

Penyusun 

3
ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................................................... ii

Daftar Isi .................................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1

1.2 Tujuan ....................................................................................................................... 1

1.3 Manfaat ..................................................................................................................... 2

BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN RETINOBLASTOMA

2.1 Definisi Penyakit....................................................................................................... 3

2.2 Etologi Penyakit ....................................................................................................... 3

2.3 Patofisiologi .............................................................................................................. 4

2.4 Klasifikasi Penyakit................................................................................................... 5

2.5 Manifestasi Klinis Penyakit ...................................................................................... 6

2.6 Pemeriksaan Diagnostik ........................................................................................... 7

2.7 Penatalaksanaan Medis.............................................................................................. 7

2.8 Prognosis ..................................................................................................................


.....................................................................................................................................10

2.9 Discharge Planning ...................................................................................................


.....................................................................................................................................10

4
2.10 Pengkajian Teori......................................................................................................
.....................................................................................................................................10

2.11 Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul .....................................................


.....................................................................................................................................14

2.12 Intervensi Keperawatan ..........................................................................................


.....................................................................................................................................15

BAB III WEB OF CAUTION ...............................................................................................


...............................................................................................................................................19

iii

BAB IV PENUTUP

4.1 Simpulan ...................................................................................................................


.....................................................................................................................................23

4.2 Saran .........................................................................................................................


.....................................................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................
...............................................................................................................................................24

5
iv

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Retinoblastoma adalah salah satu penyakit kanker primer pada mata yang paling sering
dijumpai pada bayi dan anak. Penyakit ini tidak hanya dapat mengakibatkan kebutaan,
melainkan juga kematian. Di negara berkembang, upaya pencegahan dan deteksi dini belum
banyak dilakukan oleh para orang tua. Salah satu penyebabnya adalah pengetahuan yang
masih minim mengenai penyakit kanker tersebut.

Dalam penelitian, disebutkan bahwa sebanyak 5 – 10% anak usia prasekolah dan 10%
usia anak sekolah memiliki masalah penglihatan. Namun seringkali anak-anak sulit
menceritakan masalah penglihatan yang mereka alami. Karena itu, skrining mata pada anak
sangat diperlukan untuk mendeteksi masalah penglihatan sedini mungkin. Skrining dan
pemeriksaan mata anak sebaiknya dilakukan pada saat baru lahir, usia 6 bulan, usia 3 – 4
tahun, dan dilanjutkan pemeriksaan rutin pada usia 5 tahun ke atas. Setidaknya anak
diperiksakan ke dokter mata stiap 2 tahun dan harus lebih sering apabila telah ditemukan
masalah spesifik atau terdapat faktor resiko.

6
Untuk itu kami menyusun makalah ini dengan tujuan berbagi pengetahuan tentang
penyakit retinoblastoma ke masyarakat luas yang mana di negara Indonesia masih kurang
diperhatikan. Dan kami sebagai perawat perlu memahami dan mengetahui mengenai asuhan
keperawatan pada pasien anak dengan retinoblastoma.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dasar retinoblastoma
2. Untuk mengetahui pengkajian retinoblastoma
3. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan retinoblastoma
4. Untuk mengetahui intervensi keperawatan retinoblastoma

1.3 Manfaat
1. Pembaca dapat mengetahui dan mempelajari lebih dalam mengenai konsep dasar
retinoblastoma
2. Pembaca dapat mengetahui dan mempelajari lebih dalam mengenai pengkajian
retinoblastoma
3. Pembaca dapat mengetahui dan mempelajari lebih dalam mengenai diagnosa
keperawatan retinoblastoma
4. Pembaca dapat mengetahui dan mempelajari lebih dalam mengenai intervensi
keperawatan retinoblastoma

7
2

BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN


RETINOBLASTOMA

2.1 Definisi Penyakit

Retinoblastoma adalah tumor endo-okular pada anak yang mengenai saraf embrionik
retina. Kasus ini jarang terjadi, sehingga sulit untuk dideteksi secara awal. Rata rata usia klien
saat diagnosis adalah 24 bulan pada kasus unilateral, 13 bulan pada kasus kasus bilateral.
Beberapa kasus bilateral tampak sebagai kasus unilateral, dan tumor pada bagian mata yang
lain terdeteksi pada saat pemeriksaan evaluasi. ini menunjukkan pentingnya untuk memeriksa
klien dengan dengan anestesi pada anak anak dengan retinoblastoma unilateral, khususnya
pada usia dibawah 1 tahun (Pudjo Hagung Sutaryo, 2006).

2.2 Etiologi Penyakit

Terjadi karena kehilangan kedua kromosom dari satu pasang alel dominan protektif
yang berada dalam pita kromosom 13q14. Bisa karena mutasi atau diturunkan (herediter)

8
(Mansjoer, 2000). Mutasi genetik yang biasa disebut retinoblastoma-1 (RB1). Mutasi ini
dapat diwariskan dari orang tua ke anak-anak dan menghasilkan retinoblastoma turunan pada
keluarga. Diturunkan secara dominan autosom (bila mengenai kedua mata), dan bersifat
mutasi somatic (bila mengenai satu mata).
Retinoblastoma terjadi secara familiar atau sporadik. Namun dapat juga diklasifikasikan
menjadi dua subkelompok yag berbeda, yaitu bilateral atau unilateral dan diturunkan atau
tidak diturunkan. Kasus yang tidak diturunkan selalu unilateral, sedangkan 90 % kasus yang
diturunkan adalah bilateral, dan unilateral sebanyak 10%. Gen retinoblastoma (RBI) diisolasi
dari kromosom 13q14, yang berperan sebagai pengatur pertumbuhan sel pada sel normal.
Penyebabnya adalah tidak terdapatnya gen penekan tumor, yang sifatnya cenderung
diturunkan. Kanker bisa menyerang salah satu mata yang bersifat somatic maupun kedua
mata yang merupakan kelainan yang diturunkan secara autosom dominant. Kanker bisa
menyebar ke kantung mata dan ke otak (melalu saraf penglihatan/nervus optikus).

3
Sejak kita lahir, sel-sel yang terdapat di mata bereplikasi dan berkembang menjadi
sel-sel baru yang mengisi retina. Pada satu waktu, sel-sel tersebut akan berhenti berkembang
dan menjadi sel-sel retina dewasa.
Akan tetapi pada beberapa kasus, sel-sel tersebut terus tumbuh dan berkembang
secara tidak terkendali, sehingga menyebabkan munculnya jaringan tumor dan sel-sel kanker.
Perubahan sel-sel pada retina ini disebabkan oleh mutasi gen. beberapa jenis gen yang
berperan dalam pertumbuhan dan replikasi sel adalah onkogen. Sementara itu, gen yang
bertugas mengontrol sel-sel dan mengatur kapan sel harus mati adalah gen penekan tumor
atau antionkogen.
Pada kasus penyakit ini, kesalahan terjadi pada gen penekan tumor RB1 atau
retinoblastoma-1. Mutasi dapat terjadi karena dua hal, yaitu diwariskan dari orang tua ke
anak atau didapatkan beberapa tahun setelah anak lahir.
1. Retinoblastoma turunan atau bilateral
Jenis ini terjadi pada 1 dari 3 anak yang menderita penyakit ini. Kondisi ini diakibatkan
oleh adanya mutasi germline pada salah satu gen RB1.
Mutasi tersebut muncul pada masa awal perkembangan anak, bahkan saat masih berupa
janin didalam kandungan. Sebanyak 9 dari 10 anak yang lahir dengan mutasi germline RB1
akan menderita penyakit ini, dan umumnya terjadi pada kedua matanya.
2. Retinoblastoma non turunan atau sporadic
9
Pada jenis non turunan atau sporadis, kanker berkembang pada 2 dari 3 penderita. Mutasi
gen RB1 tidak terjadi sejak anak lahir, namun muncul pada satu waktu tertentu dalam
hidupnya (acquired).
Penderita kanker jenis ini tidak berpotensi mewariskan mutasi gen pada anak-anaknya
kelak. Namun, baik mutasi RB1 jenis turunan maupun non turunan, keduanya masih belum
diketahui apa penyebab pastinya.

2.3 Patofisiologi
Retinoblastoma terjadi karena adanya mutasi pada gen RB1 yang terletak pada
kromosom 13q14 (kromosom nomor 13 sequence 14) baik terajdi karena faktor hereditas
(keturunan) maupun karena faktor lingkungan seperti virus, zat kimia, dan radiasi. Gen RB1
ini merupakan suppressor tumor, bersifat alel dominan protektif dan merupakan pengkode
protein RB1 (P-RB) yang merupakan protein yang berperan dalam regulasi suatu
pertumbuhan sel.
4
Apabila terjadi mutasi seperti kesalahan transkripsi translokan, maupun delesi informasi
genetic maka gen RB1 menjadi inactive sehingga protein RB1 (P-RB) juga inactive atau
tidak diproduksi sehingga memicu pertumbuhan sel kanker. Retinoblastoma biasa terjadi
dibagian posterior retina. Dalam perkembangannya massa tumor dalam tumbuh baik secara
internal dengan memenuhi vitrous body (endofilik). Maupun bisa tumbuh kearah luar
menembus koroid, saraf optikus, dan sclera (Sjamsu Budiono, 2013).

2.4 Klasifikasi Penyakit


Menurut Reese-Ellsworth, retino balastoma digolongkan menjadi
1. Golongan I
a. Tumor soliter/multiple kurang dari 4 diameter pupil.
b. Tumor multiple tidak lebih dari 4dd,dan terdapat pada atau dibelakang ekuator
2. Golongan II
a. Tumor solid dengan diameter 4-10 dd pada atau belakang ekuator
b. Tumor multiple dengan diameter 4-10 dd pada atau belakang ekuator
3. Golongan III
a. Beberapa lesi di depan ekuator
b. Tumor ada didepan ekuator atau tumor soliter berukuran >10 diameter pupil
4. Golongan IV
10
a. Tumor multiple sebagian besar > 10 dd
b. Beberapa lesi menyebar ke anterior ke ora serrata
5. Golongan V
a. Tumor masif mengenai lebih dari setengah retina
b. Penyebaran ke vitreous

Tumor menjadi lebih besar, bola mata membesar menyebabakan eksoftalmus


kemudian dapat pecah kedepan sampai keluar dari rongga orbita disertai nekrose
diatasnya. Menurut Grabowski dan Abrahamson, membagi penderajatan berdasarkan
tempat utama dimana retinoblastoma menyebar sebagai berikut:
1. Derajat I Intraokular
a. Tumor retina
b. Penyebaran ke lamina fibrosa
c. Penyebaran ke ueva
5
2. Derajat II orbita
a. Tumor orbita : sel sel episklera yang tersebar, tumor terbukti dengan    biopsi.
b. Nervous optikus.

2.5 Manifestasi Klinis Penyakit

Gejala retinoblastoma dapat menyerupai penyakit lain dimata. Bila letak tumor
dimakula, dapat terlihat gejala awal strabismus. Massa tumor yang semakin membesar akan
memperlihatkan gejala leukokoria, tanda-tanda peradangan di vitreus (vitreous seeding) yang
menyerupai endoftalmitis. Bila sel-sel tumor terlepas dan masuk ke segmen anterior mata,
akan menyebabkan glaucoma atau tanda-tanda peradangan berupa hipopion atau hifema.
Pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan metastasis dengan invasi tumor melalui nervus
optikus ke otak, melalui sclera ke jaringan orbita dan sinus paranasal, dan metastasis jauh ke
sumsum tulang melalui pembuluh darah. Pada fundus terlihat bercak kuning mengkilat, dapat
menonjol kebadan kaca. Di permukaan terdapat neovaskularisasi dan perdarahan. Warna iris
tidak normal. Penyebaran secara limfogen, ke kelenjar limfe preaurikular dan submandibula
dan, hematogen, ke sumsum tulang dan visera, terutama hati. Proptosis, tanda kenaikan
tekanan intrakranial, atau nyeri tulang mungkin timbul pada penyakit amat lanjut atau
metastasis.

11
Kanker retina ini pemicunya adalah faktor genetik atau pengaruh lingkungan dan
infeksi virus. Gejala yang ditimbulkan retinoblastoma adalah timbulnya bercak putih di
bagian tengah mata atau retina, membuat mata seolah-olah bersinar bila terkena cahaya.
Kemudian kelopak mata menurun dan pupil melebar, penglihatan terganggu atau mata
kelihatan juling. Tapi apabila stadium berlanjut mata tampak menonjol. Jadi apabila terihat
tanda-tanda berupa mata merah, berair, bengkak, walaupun sudah diberikan obat mata dan
pada kondisi gelap terlihat seolah bersinar seperti kucing jadi anak tersebut bisa terindikasi
penyakit retinoblastoma.
a. Leukokoria (refleksi putih)
b. Mata terlihat seperti sedang melihat kearah yang berlainan (lazy eye)
c. Mata kucing (amaurotic cat’s eye)
d. Penurunan bahkan dapat kehilang penglihatan
e. Irregular pupil
f. Hifema
6
g. Nyeri
h. Proptosis (penonjolan bola mata)
i. Mata juling (strabismus)
j. Mata merah
k. Bola mata terlihat lebih besar dari normal

2.6 Pemeriksaan Diagnostik

Evaluasi metastatik harus mencakup pemeriksaan sitologi cairan serebrospinal serta


aspirasi dan biopsi sumsum tulang. Namun retinoblastoma sangat jarang menyebar ke cairan
spinal atau sumsum tulang tanpa penyebaran ekstraokular. Evaluasi metastatik harus meliputi
CT Scan orbita untuk menentukan perluasan ekstraokular dan keterlibatan nervus optikus. CT
Scan atau MRI kepala harus dikerjakan pada kasus-kasus bilateral untuk mencari
retinoblastoma yang mengenai kelenjar epifisi retinoblastoma trilateral.

2.7 Penatalaksanaan Medis

Dua aspek pengobatan retinoblastoma harus diperhatikan, pertama adalah pengobatan


local untuk jenis intraocular, dan kedua adalah pengobatan sistemik untuk jenis ekstraokular,
regional, dan metastatic.

12
Hanya 17% pasien dengan retinoblastoma bilateral kedua matanya masih terlindungi.
Gambaran seperti ini lebih banyak pada keluarga yang memiliki riwayat keluarga, karena
diagnosis biasanya lebih awal. Sementara 13% pasien dengan retinoblastoma bilateral kedua
matanya terambil atau keluar karena penyakit intraocular yang sudah lanjut, baik pada waktu
masuk atau setelah gagal pengobatan lokal.

Jenis Terapi:

1. Pembedahan
Enukleasi adalah terapi yang paling sederhana dan aman untuk retinoblastoma.
Pemasangan bola mata palsu dilakukan beberapa minggu setelah prosedur ini, untuk
meminimalkan efek kosmetik. Bagaimanapun, apabila enukleasi dilakukan pada dua tahun
pertama kehidupan, asimetri wajah akan terjadi karena hambatan pertumbuhan orbita.

7
Bagaimanapun, jika mata kontralateral juga terlibat cukup parah, pendekatan konservatif
mungkin bisa diambil.
Enukleasi dianjurkan apabila terjadi glaukoma, invasi ke rongga anterior, atau terjadi
rubeosis iridis, dan apabila terapi local tidak dapat dievaluasi karena katarak atau gagal untuk
mengikuti pasien secara lengkap atau teratur. Enukleasi dapat ditunda atau ditangguhkan
pada saat diagnosis tumor sudah menyebar ke ekstraokular. Massa orbita harus dihindari.
Pembedahan intraocular seperti vitrektomi, adalah kontraindikasi pada pasien retinoblastoma,
karena akan menaikkan relaps orbita.

2. External Beam Radiotherapy (EBRT)


Retinoblastroma merupakan tumor yang radiosensitif dan radioterapi merupakan terapi
efektif lokal untuk khasus ini. EBRT mengunakan eksalator linjar dengan dosis 40-45 Gy
dengan pemecahan konvensional yang meliputi seluruh retina. Pada bayi mudah harus
dibawah anestesi dan imobilisasi selama prosedur ini, dan harus ada kerjasama yang erat
antara dokter ahli mata dan dokter radioterapi untuk membuat perencanaan. Keberhasilan
EBRT tidak hanya ukuran tumor, tetapi tergantung teknik dan lokasi. Gambaran regresi
setelah radiasi akan terlihat dengan fotokoagulasi. Efek samping jangka panjang dari
radioterapi harus diperhatikan. Seperti enuklease, dapat terjadi komplikasi hambatan
pertumbuhan tulang orbita, yang akhirnya akan meyebabkan gangguan kosmetik. Hal yang
lebih penting adalah terjadi malignasi sekunder.
13
3. Radioterapi Plaque
Radioaktif episkeral plaque menggunakan 60 Co, 106 Ro, 125 I sekarang makin sering
digunakan untuk mengobati retinoblastoma. Cara itu biasanya digunakan untuk tumor yang
ukurannya kecil sampai sedang yang tidak setuju dengan kryo atau fotokoagulasi, pada kasus
yang residif setelah EBRT, tetapi akhir-akhir ini juga digunakan pada terapi awal, khusunya
setelah kemoterapi. Belum ada bukti bahwa cara ini menimbulkan malignansi sekunder.

4. Kryo atau Fotokoagulasi


Cara ini digunakan untuk mengobati tumor kecil (kurang dari 5 mm) dan dapat diambil.
Cara ini sudah secara luas digunakan dan dapat diulang beberapa kali sampai kontrol lokal
terapi.  Kryoterapi biasanya ditujukan untuk tumor bagian depan dan dilakukan dengan
petanda kecil yang diletakkan di konjungtiva. Sementara fotokoagulasi secara umum
digunakan untuk tumor bagian belakang baik menggunakan laser argon atau xenon.
8
Fotokoagulasi tidak boleh diberikan pada tumor dekat makula atau diskus optikus, karena
bisa meninggalkan jaringan parut yang nantinya akan menyebabkan ambliopi. Kedua cara ini
tidak akan atau sedikit menyebabkan komplikasi jangka panjang.

5. Modalitas yang lebih baru


Pada beberapa tahun terakhir, banyak kelompok yang menggunakan kemoterapi sebagai
terapi awal untuk kasus intraokular, dengan tujuan untuk mengurangi ukuran tumor dan
membuat tumor bisa diterapi secara lokal. Kemoterapi sudah dibuktikan tidak berguna untuk
kasus intraocular, tetapi dengan menggunakan obat yang lebih baru dan lebih bisa penetrasi
ke mata, obat ini muncul lagi. Pendekatan ini digunakan pada kasus-kasus yang tidak
dilakukan EBICT atau enukleasi, khususnya kasus yang telah lanjut. Carboplatin baik sendiri
atau dikombinasi dengan vincristine dan VP16 atau VM26 setelah digunakan. Sekarang
kemoreduksi dilakukan sebagai terapi awal kasus retinoblastoma bilateral dan mengancam
fungsi mata.

6. Kemoterapi
Protocol adjuvant kemoterapi masih kontroversial. Belum ada penelitian yang luas,
prospektif dan random. Sebagian besar penelitian didasarkan pada sejumlah kecil pasien
dengan perbedaan resiko relaps. Selain itu juga karena kurang diterimanya secra luas sistem
stadium yang dibandingkan dengan berbagai macam variasi. Sebagian besar penelitian
didasarkan pada gambaran factor risiko secara histopatologi.
14
Penentuan stadium secara histopatologi setelah enukleasi sangat penting untuk
menentukan risiko relaps. Banyak peneliti memberikan kemoterapi adjuvant untuk pasien-
pasien retinoblastoma intraokular dan memiliki faktor risiko potensial seperti nervus optikus
yang pendek (< 5 mm), tumor undifferentiated, atau invasi ke nervus optikus prelaminar.
Kemoterapi ingtratekal dan radiasi intracranial untuk mencegah penyebaran ke otak tidak
dianjurkan.
Apabila penyakitnya sudah menyebar ke ekstraokuler, kemoterapi awal dianjurkan. Obat
yang digunakan adalah carboplatin, cisplatin, etoposid, teniposid, sikofosfamid, ifosfamid,
vinkristin, adriamisin, dan akhir-akhir ini adalah dikombinasi dengan idarubisin. Meskipun
laporan terakhir menemukan bahwa invasi keluar orbita dan limfonoid preauricular
dihubungkan dengan keluaran yang buruk, sebagian besar pasien ini akan mencapai harapan
hidup yang panjang dengan pendekatan kombinasi kemoterapi, pembedahan, dan radiasi.
9
Meskipun remisi bisa dicapai oleh pasien dengan metastasis, biasanya mempunyai kehidupan
pendek. Hal ini biasanya dikaitkan dengan ekspresi yang belebihan p 170 glikoprotein pada
retinoblastoma, yang dihubungkan dengan multidrug resistance terhadap kemoterapi.

2.8 Prognosis
Angka bertahan hidup untuk retinoblastoma lebih besar dari 90%. Pasien-pasien dengan
bentuk yang diturunkan mempunyai risiko tinggi menderita kanker kedua selama hidupnya,
yang paling sering adalah sarcoma osteogenik. Konseling genetik penting untuk keluarga
pasien penderita retinoblastoma. Risiko saudara pasien menderita retinoblastoma bervariasi
dari 1-50% tergantung pada adanya anggota keluarga lainnya yang terkena. Saudara-saudara
pasien harus diperiksa dengan cermat dan diikuti oleh seorang oftalmologi.

2.9 Discharge Planning

Perubahan gaya hidup dan pengobatan rumahan berikut dapat membantu anda untuk
mengatasi penyakit ini:

a. Ingat bahwa kasus tertinggi kejadian penyakit ini tergolong dalam penyakit turunan.
Anggota keluarga harus diperiksakan untuk mencari tahu adanya risiko mengidap
retinoblastoma.
b. Lakukan pemeriksaan rutin untuk mengetahui perkembangan penyakit dan kondisi
kesehatan anda.

15
c. Ikuti instruksi dari dokter.

2.10 Pengkajian Teori

1. Biodata
a. Identitas klien meliputi nama, umur (sering terjadi pada anak-anak dibawah 2
tahun), agama, jenis kelamin, alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal
pengkajian, No register, dan diagnose medis.
b. Identitas orang tua yang terdiri dari: Nama Ayah dan Ibu, usia, pendidikan,
pekerjaan/sumber penghasilan, agama, dan alamat.
c. Identitas saudara kandung meliputi nama, usia, jenis kelamin, hubungan dengan
klien, dan status kesehatan.
10
2.     Keluhan utama
Keluhan dapat berupa perubahan persepsi penglihatan, demam, kurang nafsu makan,
gelisah, cengeng, nyeri pada luka operasi, terjadi infeksi pada luka post op, serta perawatan
dan pengobatan lanjutan dan tindakan operasi. Keluhan juga dapar berupa yang dirasakan
saat ini oleh klien juga, alasan kenapa masuk rumah sakit.
3.     Riwayat kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Gejala awal yang muncul pada anak. Bisa berupa bintik putih pada mata tepatnya
pada retina, terjadi pembesaran, mata merah dan besar.
b. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Riwayat kesehatan masa lalu berkaitan dengan kemungkinan memakan
makanan/minuman yang terkontaminasi, infeksi ditempat lain misal: pernapasan.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Berkaitan erat dengan penyakit keturunan dalam keluarga, misalnya ada anggota
keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama.
4. Pemeriksaan Fisik
Leukoria, proptosis, pertumbuhan massa tumor pada mata, strabismus, ataupun dapat
ditemukan uveitis, endoftalmitis, glaukoma, panoftalmitis, selulitis orbita, dan hifema. Pada
oftalmoskopi, lesi tumor tampak berwarna putih/putih kekuningan.
A. Pemeriksaan Fisik Umum

16
Diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya keadaan umum yang dapat
merupakan penyebab penyakit mata yang sedang diderita.
Status lokalis:
1. Glaukoma, strabismus, dan leukokoria
2. Tampak adanya suatu massa yang menonjol di dalam badan kaca
3. Massa tumor dapat menonjol di atas retina ke dalam badan kaca pada retinoblastoma
tipe endofitik atau terletak di bawah retina terdorong ke dalam badan kaca seperti
pada tipe eksofitik.
4. Massa tumor tampak sebagai lesi yang menonjol berbentuk bulat, berwarna merah
jambu, dapat ditemukan satu atau banyak pada satu mata atau kedua mata.
5. Sering terdapat neovaskularisasi di permukaan tumor.
6. Mungkin juga ditemukan adanya mikroneurisma atau teleangiektasi

11
7. Pada pemeriksaan funduskopi pada lesi ini tidak ditemukan tanda peradangan seperti
edema retina, kekeruhan badan kaca, dan lain-lain.
B. Pemeriksaan Khusus Mata
1. Pemeriksaan tajam penglihatan
Pada retinoblastoma, tumor dapat menyebar luas di dalam bola mata sehingga dapat
merusak semua organ mata yang menyebabkan ketajaman penglihatan menurun.
2. Pemeriksaan gerakan bola mata
Pembesaran tumor dalam rongga mata akan menekan saraf dan bahkan dapat merusak
saraf tersebut dan apabila mengenai saraf III, IV, dan VI maka akan menyebabkan
mata juling.
3. Pemeriksaan susunan mata luar dan lakrima
Pemeriksaan dimulai dari kelopak mata, sistem lakrimal, konjungtiva, kornea, bilik
mata depan, iris, lensa dan pupil. Pada retinoblastoma didapatkan:
1) Leukokoria yaitu refleks pupil yang berwarna putih
2) Hipopion yaitu terdapatnya nanah di bilik mata depan
3) Hifema yaitu terdapatnya darah di bilik mata depan\
4) Uveitis
4. Pemeriksaan pupil
5. Leukokoria (refleks pupil yang berwarna putih) merupakan keluhan dan gejala yang
paling sering ditemukan pada penderita dengan retinoblastoma.
17
6. Pemeriksaan funduskopi
Menggunakan oftalmoskopi untuk pemeriksaan media, papil saraf optik, dan retina.
Refleksi tak ada atau gelap akibat perdarahan yang banyak dalam badan kaca.
7. Pemeriksaan tekanan bola mata
Pertumbuhan tumor ke dalam bola mata menyebabkan tekanan bola mata meningkat.
5. Pemeriksaan Sistem
a. Aktivitas
Gejala: kelelahan, malaise, kelemahan, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas
biasanya.
Tanda: kelelahan otot, peningkatan kebutuhan tidur, somnolen.
b. Sirkulasi
Gejala: palpitasi.

12
Tanda: takikardi, mur-mur jantung, kulit, membran mukosa pucat, defisit saraf
kranial dan/atau tanda perdarahan cerebral.
c. Eliminasi
Gejala: diare; nyeri tekan perianal, nyeri, darah merah terang pada tisu, feses hitam,
darah pada urine, penurunan haluaran urine.
d. Integritas ego
Gejala: perasaan tak berdaya/tak ada harapan.
Tanda: depresi, menarik diri, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan
alam perasaan, kacau.
e. Makanan/cairan
Gejala: kehilangan nafsu makan, anoreksia, muntah, perubahan rasa/penyimpangan
rasa, penurunan berat badan.
f. Neurosensori
Gejala: kurang/penurunan koordinasi, perubahan alam perasaan, kacau, disorientasi,
ukuran konsisten, pusing, kebas, kesemutan parastesi.
Tanda: otot mudah terangsang, aktivitas kejang.
g. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala: nyeri orbital, sakit kepala, nyeri tulang/sendi, nyeri tekan sternal, kram otot.
Tanda: perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah, fokus, pada diri sendiri.
h. Pernapasan
18
Gejala: napas pendek dengan kerja minimal.
Tanda: dispnea, takipnea, batuk, gemericik, ronki, penurunan napas bayi.
i. Keamanan
Gejala: riwayat infeksi saat ini/dahulu, jatuh, gangguan penglihatan/kerusakan,
perdarahan spontan tak terkontrol dengan trauma minimal.
Tanda: demam, infeksi, kemerahan, purpura, perdarahan retinal, perdarahan gusi,
atau epistaksis, pembesaran nodus limfe, limpa, atau hati (sehubungan dengan
invasi jaringan), pupil edema dan eksoftalmus.
j. Seksualitas
Gejala: perubahan libido, perubahan aliran menstruasi, menoragia.

13
k. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: riwayat terpajan pada kimiawi, mis; benzene, fenilbutazon, dan
kloramfenikol (kadar ionisasi radiasi berlebihan, pengobatan kemoterapi
sebelumnya, khususnya agen pengkilat, gangguan kromosom, contoh sindrom down
atau anemia fanconi aplastik.

2.11 Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul

Pra Operasi

1. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan penglihatan.


2. Risiko cedera berhubungan dengan perubahan fungsi psikomotor.

Post Operasi

1. Nyeri berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.


2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan efek tindakan/pengobatan operasi.

19
14

2.12 Intervensi Keperawatan

Diagnosa
NO Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan
Keperawatan
1. Gangguan persepsi Persepsi sensori meningkat Minimalisasi Rangsangan
sensori Observasi:
1. Periksa status mental, status
sensori, dan tingkat kenyamanan
(mis. nyeri, kelelahan)
Terapeutik:
1. Diskusikan tingkat toleransi
terhadap beban sensori (mis.
bising, terlalu terang)
2. Natasi stimulus lingkunagn (mis.
cahaya, suara, aktivitas)
3. Jadwalkan aktivitas harian dan
waktu istirahat
4. Kombinasikan prosedur/tindakan
dalam satu waktu, sesuai
kebutuhan
Edukasi:

20
1. Ajarkan cara meminimalisasi
stimulus (mis. mengatur
pencahayaan ruangan,
mengurangi kebisingan,
membatasi kunjungan)
Kolaborasi:
1. Kolaborasi dalam meminimalkan
prosedur/tindakan
2. Kolaborasi pemberian obat yang
mempengaruhi persepsi stimulus

15
2. Risiko cedera Tingkat cedera menurun Pencegahan Cedera
Observasi:
1. Identifikasi area lingkungan
yang berpotensi menyebabkan
cedera
2. Identifikasi obat yang
berpotensi menyebabkan cedera
Terapeutik:
1. Sediakan pencahayaan yang
memadai
2. Gunakan lampu tidur selama jam
tidur
3. Pastikan roda tempat tidur atau
kursi roda dalam kondisi terkunci
4. Gunakan pengaman tempat tidur
sesuai dengan kebijakan fasilitas
pelayanan kesehatan
5. Diskusikan bersama anggota
keluarga yang dapat
mendampingi pasien
Edukasi:

21
1. Jelaskan alasan intervensi
pencegahan jatuh ke pasien dan
keluarga
2. Anjurkan berganti posisi secara
perlahan dan duduk selama
beberapa menit sebelum berdiri

16
3. Nyeri Tingkat nyeri menurun Manajemen Nyeri
Observasi:
1. Identifikasi lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas nyeri
2. Identifikasi skala nyeri
3. Identifikasi respons nyeri non
verbal
4. Identifikasi faktor yang
memperberat dan memperingan
nyeri
Terapeutik:
1. Berikan teknik nonfarmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri
(mis. hypnosis, akupresur, terapi
musik, terapi pijat, aromaterapi,
teknik imajinasi terbimbing,
kompres hangat/dingin, terapi
bermain)
2. Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis.
suhu ruangan, pencahayaan,

22
kebisingan)
Edukasi:
1. Jelaskan penyebab, periode, dan
pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan
nyeri
Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian analgetik,
jika perlu

17
4. Gangguan citra Citra tubuh meningkat Teknik Distraksi
tubuh Observasi:
1. Identifikasi pilihan teknik
distraksi yang diinginkan
Terapeutik:
1. Gunakan teknik distraksi (mis.
membaca buku, menonton
televisi, bermain, aktivitas terapi,
membaca cerita, bernyanyi)
Edukasi:
1. Jelaskan manfaat dan jenis
distraksi bagi panca indera (mis.
musik, perhitungan, televise,
baca, video/permainan genggam)
2. Anjurkan menggunakan teknik
sesuai dengan tingkat energy,
kemampuan, usia tingkat
perkembangan
3. Anjurkan membuat daftar
aktivitas yang menyenangkan
4. Anjurkan teknik berlatih distraksi

23
18

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Retinoblastoma adalah suatu neoplasma yang berasal dari neuroretina (sel kerucut sel
batang) atau sel glia yang bersifat ganas. Merupakan tumor ganas intraokuler yang ditemukan
pada anak-anak, terutama pada usia dibawah lima tahun. Tumor berasal dari jaringan retina
embrional. Dapat terjadi unilateral (70%) dan bilateral (30%). Sebagian besar kasus bilateral
bersifat herediter yang diwariskan melalui kromosom.
Pasien dengan retinoblastoma harus diberikan perawatan secara intensif dan perlunya
pengetahuan dari pihak keluarga agar penyakit tersebut tidak mengalami komplikasi. Dan
kita sebagai perawat harus mampu memberikan edukasi tentang gejala dini retinoblastoma
agar dapat segera diobati.

4.2 Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan dalam belajar
mahasiswa keperawatan dan dapat tau cara memberikan asuhan kepada pasien anak dengan
retinoblastoma.

24
23

DAFTAR PUSTAKA

www.retinoblastoma.com/retinoblastoma/frameset1.html Diakses pada 28 Oktober 2019


Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana asuhan keperawatan. Jakarta: EGC.
Voughan, Dale. 2000. Oftalmologi Umum. Jakarta: Widya Medika.
Permono, Bambang, dkk. 2006. Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI.
Apriany, Dyna. 2016. Asuhan Keperawatan Anak dengan Keganasan. Bandung: Refika
Aditama.

25
24

26