Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan bagi Tuhan Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat dan
karuniaNya, penulisan critical jurnal review ini dapat terselesaikan. Adapun Critical Jurnal
review ini yaitu mengenai “Pengaruh Model Project Based Learningterhadap Keterampilan
Proses Sains Dan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Fisika di SMA ”.

Critical Journal Review (CJR) ini saya susun dengan maksud sebagai tugas mata
kuliah Fisika SMA dan menjadikan penambahan wawasan sekaligus pemahaman terhadap
materi tersebut. Harapan saya, semoga setelah penyelesaian penulisan Crtical Journal Review
ini saya semakin memahami tentang bagaimana penulisan Crtical Journal Review yang baik
dan benar.

Di lain sisi, saya mendapatkan pengalaman dan ilmu yang berharga dalam
penyusunan penulisan Critacal Journal Review ini. Saya sangat berterima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian CJR ini, khususnya kepada dosen
pengampu mata kuliah ini. dan kawan sekelas saya mahasiswa/i kelas Fisika dik c 2018.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan CJR ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran serta bimbingan
dari para dosen demi penyempurnaan di masa-masa yang akan datang, semoga karya tulis
CJR ini bermanfaat bagi semuanya.

Medan, 17 Oktober 2019

Penyusun

Debora Uli Sidabutar

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………...…..…………...1

DAFTAR ISI ………………………...…………………..……………..….2

I. PENDAHULUAN/PENGANTAR ……….…………………………………………….. 3

1.1 Rasionalisasi Pentingnya CJR ….………………………………………….. 3

1.2 Tujuan Penulisan CJR ……………………….…………………………….. 3

1.3 Manfaat CJR …………………………….……………………………….. 3

1.4 Identitas Jurnal …………………………….……………………………….. 4

II. RINGKASAN ISI JURNAL …………………………………………………….. 6

III. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN…………………………………..……………...14

3.1 Kelemahan dan kelebihan jurnal..………….………….……….……..…….. 14

3.2 Kemutakhiran Jurnal…………………………….……………………..…….. 16

IV. IMPLIKASI ……………………………………...…………………………….. 17

4.1 Teori ……………………………………..………………………….….. 17

4.2 Program Pembangunan di Indonesia………………………………….…..….. 17

V. KESIMPULAN ………………………………………………………………...….. 19

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………...….. 20

2
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya Critical Journal Review (CJR)


Critical Journal Review (CJR) sangat penting buat kalangan pendidikan
terutama buat mahasiswa maupun mahasiswi karena dengan mengkritik suatu jurnal
maka mahasiswa/i ataupun si pengkritik dapat membandingkan dua jurnal dengan
tema yang sama, dapat melihat mana jurnal yang perlu diperbaiki dan mana jurnal
yang sudah baik untuk digunakan berdasarkan dari penelitian yang telah dilakukan
oleh penulis jurnal tersebut, setelah dapat mengkritik jurnal maka diharapkan
mahasiswa/i dapat membuat suatu jurnal karena sudah mengetahui bagaimana kriteria
jurnal yang baik dan benar untuk digunakan dan sudah mengerti bagaimana cara
menulis atau langkah-langkah apa saja yang diperlukan dalam penulisan jurnal
tersebut.

B. Tujuan Penulisan Critical Journal Review (CJR)


Critical journal Review ini dibuat bertujuan untuk belajar melalui pemenuhan
tugas mata kuliah Profesi Pendidikan Jurusan Fisika Universitas Negeri Medan untuk
membuat Critical Journal Review (CJR) sehingga dapat menambah pengetahuan
untuk melihat atau membandingkan dua atau beberapa jurnal yang baik dan yang
benar. Setelah dapat membandingkan maka akan dapat membuat suatu jurnal karena
sudah dapat membandingkan mana jurnal yang sudah baik dan mana jurnal yang
masih perlu diperbaiki dan juga karena sudah mengerti langkah-langkah dari
pembuatan suatu jurnal.

C. Manfaat Critical Journal Review (CJR)


Manfaat penulisan Critical Journal Review ( CJR), yaitu :
1. Dapat membandingkan dua atau lebih jurnal yang direview.
2. Dapat meningkatkan analisis kita terhadap suatu jurnal.
3. Supaya kita dapat mengetahui teknik-teknik penulisan CJR yang benar.
4. Dan dapat menulis bagaimana jurnal yang baik dan benar.
5. Menambah pengetahuan kita tentang isi-isi dari jurnal-jurnal penelitian
.

3
D. Identitas Journal yang direview
1. Jurnal utama
1. JudulArtikel : Pengaruh Model Project Based Learning terhadap
Keterampilan Proses Sains Dan Hasil Belajar Siswa
Dalam Pembelajaran Fisika di SMA.
2. NamaJournal :jurnal pembelajaran fisika
3. Edisi terbit :september 2016
4. Pengarang artikel :1)Utari Oktadifani,

2)Albert usdjoko Lesmono,


3).Subiki
5. Penerbit : universitas jember
6. Kota terbit : jember
7. Vol :5
8. Hal : 109–114
9. Alamat Situs :file:///C:/Users/axio/Downloads/16043-41727-
1-PB.pdf
2. jurnal pembanding 1
1. JudulArtikel :Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem
based Learning) Disertai Media Foto Kejadian Fisika
Dalam Pembelajaran Fisika Di Sman 2 Jember
2. NamaJournal :jurnal pembelajaran fisika
3. Edisi terbit :Desember 2015
4. Pengarang artikel : 1)Dewi Nur Arofah,
2)Indrawati,
3)Alex Harijanto
5. Penerbit : universitas jember
6. Kota terbit : jember
7. Vol :4
8. Hal : 187 -191
9. Alamat Situs : dewinurarofah@yahoo.co.id
3. jurnal pembanding 2
1. Judul Artikel : Penerapan Model Problem Based Learning (Pbl)

4
Berbantuanmedia Kartu Bergambar Terhadap
Kemampuan Berpikir Kritisdan Hasil Belajarsiswa
Dalam Pembelajaran Fisikasmknegeri Di Kabupaten
Jember
2. NamaJournal :Jurnal Pembelajaran Fisika
3. Edisi Terbit : Desember 2015
4. Pengarang Artikel : 1) Ika Permata Sari ,
2) Yushardi ,
3)Subiki
5. Penerbit : Universitas Jember
6. Kota Terbit : Jember
7. Vol :4
8. Hal : 268-273
9. Alamat Situs : ika_permata14@yahoo.com

5
BAB II
RINGKASAN ISI JURNAL
Jurnal utama
PENDAHULUAN
Indonesia sebagai Negara berkembang harus terus meningkatkan kualitas pendidikannya
(Triani, 2015: 2). Sejak tahun 2006, pendidikan di Indonesia menggunakan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menerapkan penilaian Keterampilan Proses Sains
(KPS) dalam proses pembelajaran. Kurikulum 2013 yang saat ini diterapkan juga
memperhatikan beberapa aspek keterampilan dalam pembelajaran disekolah (Kemendikbud,
2013). Funk (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006: 140) mengutarakan bahwa ada berbagai
keterampilan dalam keterampilan proses, keterampilan-keterampilan tersebut terdiri dari
keterampilan dasar (basic/generic skill) dan keterampilan terintegrasi (integarted skill).
Berdasarkan hasil wawancara secara terbatas dengan guru bidang studi fisika di beberapa
SMA Negeri Kota Probolinggo, yaitu SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 4 Probolinggo
didapati bahwa keterampilan proses sains siswa kurang meski sudah menerapkan model
pembelajaran yang dianjurkan dalam kurikulum 2013. Pada saat pembelajaran fisika 70%
siswa SMA Negeri 1 Probolinggo dan 73% siswa SMA Negeri 4 Probolinggo sulit membuat
hubungan antara apa yang mereka pelajari dan bagaimana mengaplikasikan pengetahuan
tersebut. Kemudian saat melakukan praktikum, 60% dan 70% siswa kesulitan membuat
laporan, serta 80% dan 70% siswa hanya mengisi LKS dari guru. Dalam menggambarkan
hubungan antar variabel, 80% dan 75% siswa masih dibimbing oleh guru. Akibatnya hasil
belajar siswa juga kurang maksimal. Hal ini ditunjukkan dari nilai ulangan rata-rata kelas X
SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 4 Probolinggo, yaitu 70 dan 65 sedangkan Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan untuk mata pelajaran fisika adalah 75.
Rendahnya hasil belajar fisika tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain: siswa
terlalu sering dipandu guru dalam melakukan kegiatan praktikum, kurangnya variasi model
dan metode serta media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran.

METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian true experimental design dengan menggunakan post-test
only control-group design. Tempat penelitian ditentukan melalui metode purposive sampling
area.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X di SMA Negeri 1 Probolinggo.
Penentuan sampel dilakukan dengan uji homogenitas terhadap populasi dari kelas X. Sampel
dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MIA E sebagai kelas eksperimen dan kelas X MIA
F sebagai kelas kontrol.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan hasil analisis keterampilan proses sains selama pembelajaran fisika
menggunakan model project based learning menunjukkan bahwa keterampilan proses sains
siswa selama mengikuti pembelajaran dikategorikan sangat baik. Persentase ratarata
keterampilan proses sains siswa mengalami peningkatan dari KBM I ke KBM II, yaitu
79.56% pada KBM pertama dan 90.78% pada KBM kedua. Persentase rata-rata keterampilan
proses sains siswa dari KBM I dan II diperoleh sebesar 85.09% (lihat tabel 2.).

6
Apabila persentase rata-rata keterampilan proses sains siswa tersebut disesuaikan dengan
kriteriaketerampilan proses sains siswa seperti pada tabel 1, maka keterampilan proses sains
tersebut termasuk pada kriteria sangat baik. Hal ini karena rangkaian kegiatan pembelajaran
dengan model project based learning sangat mendorong siswa untuk aktif dan terampil dalam
kegiatan pembelajaran dengan siswa memahami sendiri pengetahuannya melalui kegiatan
mendesain rancangan proyek dan dalam pelaksanaannya siswa dapat membangun
pengetahuan melaluipengalaman bereksperimen secara nyata dengan kelompok masing-
masing Sehingga keterampilan proses sains siswa dapat meningkat. Hasil ini didukung oleh
penelitian Siwa (2013) dengan menerapkan model Project Based Learning pada
pembelajaran kimia mendapati hasil keterampilan proses sains lebih baik daripada
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional ditunjukkan oleh nilai
ratarata keterampilan proses sains pada kelas eksperimen sebesar 86,8235 dibanding kelas
kontrol yang hanya bernilai rata-rata 78,2941. Selanjutnya untuk hasil belajar siswa setelah
pembelajaran fisika dengan
menggunakan model project based learning dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan
model yang biasa digunakan di SMA ditentukan dari nilai kognitif produk yang diwujudkan
dalam bentuk nilai post-test kemudian dilakukan pengujian dengan menggunakan uji
Independent Sample T-Test dengan bantuan software SPSS. Sebelum nilai post-test
dimasukkan pada uji Independent Sample T-Test, harus dilakukan uji normalitas dengan
menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Berdasarkan hasil analisis Independent Sample T-Test
diperoleh F hitung levene test sebesar 0.846 dengan signifikansi 0.362 ≥ 0.05. Hal ini
menunjukkan bahwa variasi skor hasil belajar fisika siswa sama atau tidak beragam.
Selanjutnya diperoleh ttes > ttabel (3.558 > 2.0017) dan nilai sig (1-tailed) ≤ 0.05 yaitu 0.001
≤ 0.05, sehingga nilai rata-rata hasil belajar fisika kelas eksperimen lebih baik daripada kelas
kontrol.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas X pada mata
pelajaran fisika di SMA Negeri 1 Probolinggo setelah pembelajaran menggunakan model
Project Based Learning lebih baik daripada siswa yang diajar dengan model yang biasa
digunakan di SMA.

Jurnal Pembanding Pertama (Jurnal Kedua)

PENDAHULUAN
Fisika merupakan salah satu cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tersebut yang lahir
dan berkembang lewat langkah-langkah observasi, perumusan masalah, penyusunan
hipotesis, pengujian hipotesis melalui eksperimen, penarikan kesimpulan, serta penemuan
teori dan konsep. Dalam pembelajarannya fisika tidak hanya menekankan pada nilai
keilmuan tetapi nilai aplikasi dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bahan pertimbangan.
Sehingga hakikat fisika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala melalui

7
serangkaian proses yang dikenal dengan proses ilmiah yang dibangun atas dasar sikap ilmiah
dan hasilnya terwujud sebagai produk ilmiah yang tersusun atas tiga komponen terpenting
berupa konsep, prinsip, dan teori yang berlaku secara universal (Trianto, 2011:137-138). Hal
ini membantu para guru untuk dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran yang lebih
terarah pada penguasaan konsep fisika, dan dapat bermanfaat dalam kegiatan sehari-hari di
masyarakat. Proses pembelajaran siswa dengan menggunakan model pembelajaran
berdasarkan masalah (problem based learning) tersebut diharapkan dapat berlangsung
optimal apabila dilengkapi dengan media yang dapat menunjang model pembelajaran
tersebut. Oleh karena proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung
dalam suatu sistem maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai
salah satu komponen system pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan
proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara
optimal (Daryanto, 2012:6). Melalui media pembelajaran guru dapat menyalurkan informasi
agar tingkat kesalahan dalam penyampaian materi dapat diperkecil.Sehingga salah satu media
pembelajaran yang dapat digunakan adalah media foto kejadian fisika. Model pembelajaran
berdasarkan masalah disertai media foto kejadian fisika adalah suatu model pembelajaran
yang menggunakan masalah dunia nyata berupa foto kejadian fisika yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-hari siswa sesuai dengan materi yang diberikan oleh guru sehingga
siswa dapat menyelasaikan masalah tersebut. Berdasarkan latar belakang diatas adapun
rumusan masalah penelitian ini adalah Apakah model pembelajaran model pembelajaran
berdasarkan masalah (Problem Based Learning) disertai media foto kejadian fisika
berpengaruh signifikan terhadap aktivitas belajar fisika siswa diSMAN 2 Jember dan Apakah
model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem Based Learning) disertai media foto
kejadian fisika berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar fisika siswa di SMAN 2 Jember.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk Mengkaji pengaruh aktivitas belajar fisika siswa selama
menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning) disertai
media foto kejadian fisika dalam pembelajaran fisika di SMAN 2 Jember dan Mengkaji
pengaruh model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning) disertai media
foto kejadian fisika terhadap hasil belajar fisika siswa di SMAN 2 Jember.

METODE
Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan tempat penelitian ditentukan
dengan menggunakan purposive sampling area.Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 2
Jember.Responden penelitian ditentukan setelah dilakukan uji homogenitas. Penentuan
sampel penelitian dengan cluster random sampling. Desain penelitian menggunakan post-test
only control group design. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi,
dokumentasi, tes, dan wawancara.
Teknik analisis data untuk mendiskripsikan aktivitas belajar fisika siswa yang akan diamati
dengan menggunakan persamaan (1).

..............pers (1)
Kriteria aktivitas belajar dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria Aktivitas Siswa

8
HASIL DAN PEMBAHASAN
Aktivitas Belajar
Aktivitas belajar siswa diperoleh dari skor lembar observasi selama kegiatan pembelajaran
menggunakan model pembelajaran pembelajaran berdasarkan masalah (Problem Based
Learning) disertai media foto kejadian fisikadalam pembelajaran fisika pada kelas
eksperimen dan model yang biasa digunakan guru pada kelas kontrol. Aktivitas belajar siswa
yang diamati meliputi mengamati foto kejadian fisika, menyampaikan pendapat, mengajukan
pertanyaan, memberi saran, menarik kesimpulan, memperhatikan penjelasan, menulis hasil
analisis foto kejadian fisika, menggambar grafik, bekerjasama, bersemangat, teliti, tanggung
jawab.
Hasil penelitian dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem
Based Learning) disertai media foto kejadian fisika dalam pembelajaran fisika terintegrasi ini
sesuai dengan hasil penelitian Setiawan (2013) bahwa model pembelajaran berdasarkan
masalah (Problem Based Learning) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil wawancara
guru dan siswa menunjukkan tanggapan guru terhadap penerapan model pembelajaran
berdasarkan masalah (Problem Based Learning) disertai media foto kejadian fisikadalam
pembelajaran fisika terintegrasi bersifat positif karena dapat menimbulkan kerja sama yang
baik antarsiswa, siswa dituntut untuk terlibat aktif dalam pembelajaran sehingga lebih mudah
memahami konsep fisika yang diajarkan.Selain itu untuk siswa, mereka mengaku senang
karena dengan adanya investigasi, diskusi kelompok dan presentasi membuat mereka tidak
merasajenuh dalam mengikuti pembelajaran fisika.

SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan data hasil dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat diambil kesimpulan
Model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) disertai media foto kejadian
berpengaruh signifikan terhadap aktivitas belajar fisika siswa kelas X MIPA di SMAN 2
Jember.Hal ini dikarenakan pada saat pembelajaran disertai media foto kejadian fisika yang
terdapat pada lembar kerja siswa (LKS) sehingga siswa semangat dan tertarik untuk
mengikuti setiap langkah pembelajaran akibatnya aktivitas siswa dalam katagori aktif.Model
pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) disertai media foto kejadian fisika
berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar fisika siswa kelas X MIPA di SMAN 2 Jember.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang dapat diajukan adalah
model pembelajaran pembelajaran berdasarkan masalah (Problem Based Learning) disertai
media foto kejadian fisika ini diharapkan dapat dijadikan landasan untuk penelitian lebih
lanjut mencoba mengkombinasi model pmebelajaran berdasarkan masalah (Problem Based
Learning) dengan media pembelajaran lain yang lebih inovatif.

Ringkasan Jurnal Pembanding 2 (Jurnal Ketiga)

PENDAHULUAN
Fisika adalah ilmu yang mempelajari tentang alam dan segala fenomenanya. Bagian
terpenting dari semua ilmu, termasuk ilmu fisika adalah konsep. Trianto (2009:89)
menyatakan bahwa Pentingnya pemahaman konsep dalam proses belajar mengajar sangat
mempengaruhi sikap, keputusan, dan cara-cara memecahkan masalah. Setelah konsep fisika
dipahami oleh siswa, maka siswa akan mudah mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-
hari, sehingga ilmu fisika dapat bermanfaat bagi kehidupan.

9
Ilmu fisika diberikan pada jenjang pendidikan menengah, yaitu SMP (terintegrasi dalam
pelajaran IPA) dan SMU termasuk di SMK. Bagi siswa SMK, mata pelajaran fisika
digunakan untuk membekali dasar pengetahuan siswa tentang hukum-hukum kealaman dan
menjadi syarat kemampuan guna mencapai kompetensi program keahliannya (Saolika et al.,
2012). Namun kenyataannya, ilmu fisika di SMK tidak seluruhnya dapat dimengerti dengan
mudah oleh siswa. Berdasarkan hasil wawancara terbatas dengan beberapa guru fisika di
SMK Negeri Kabupaten Jember, didapatkanbahwa hasil belajar fisika siswa tidak selalu
100% tuntas atau di atas KKM yang telah ditetapkan yaitu 75. Persentase ketuntasan hasil
belajar fisika siswa yang sering didapat di SMK Negeri 1 Jember adalah 25% tuntas, di SMK
Negeri 2 Jember 70% tuntas, di SMK Negeri 3 Jember 90% tuntas, serta di SMK Negeri 5
Jember 80% tuntas. Berdasarkan hasil wawancara terbatas dengan guru fisika pada beberapa
SMK Negeri di Kabupaten Jember, didapatkan bahwa fakta tersebut muncul disebabkan oleh
kurangnya minat siswa akan mata pelajaran fisika, serta model pembelajaran yang digunakan
oleh guru fisika kurang bervariatif. Selain itu, guru juga jarang menggunakan eksperimen
yang berfungsi untuk menfasilitasi siswa dalam menggali konsep fisikanya sendiri. Hal
tersebut berdampak pada hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa SMK dalam
pembelajaran fisika, terutama dalam pemahaman konsep dan pengaplikasian konsep fisika
dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kegiatan produktif. Salah satu cara untuk dapat
memberikan pemahaman konsep fisika pada siswa adalah dengan menerapkan model dan
media yang bervariasi dalam pembelajaran fisika, serta harus sesuai dengan scientific
approach yang diterapkan dalam kurikulum 2013. Salah satu model pembelajaran yang
sesuai adalah model Problem Based Learning (PBL). Model Problem Based Learning adalah
model pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari yang membutuhkan penyelidikan autentik
sehingga siswa dapat aktif dalam mencari jawaban masalah tersebut serta menemukan suatu
konsep. Beberapa kelebihan dari model Problem Based Learning adalah dapat
mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah
(Dwijananti dan Yulianti, 2010). Model Problem Based Learning juga memiliki potensi yang
baik untuk meningkatkan prestasi belajar siswa (Puspita et al., 2014)

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen ini berbentuk True
Experiment dengan Pretest-Posttest Control Group Design. Tempat penelitian ditentukan
dengan menggunakan metode Purposive Sampling Area. Penelitian ini dilaksanakan di SMK
Negeri 5 Jember. Penentuan sampel penelitian dilakukan dengan uji homogenitas nilai
pretest siswa kelas X dan metode Cluster Random Sampling. Teknik pengumpulan data
dalam penelitian ini adalah dokumentasi, tes, angket, dan observasi. Data kemampuan
berpikir kritis dianalisis secara deskriptif dengan presentase untuk menggambarkan
ketercapaian tiap indikatornya (Subiantoro dan Fatkurrohman. 2009). Kriteria kemampuan
berpikir kritis tiap skor akan dijelaskan pada Tabel 1. berikut:
Tabel 1. Kriteria skor dalam menghitung kemampuan berpikir kritis siswa

Rumus yang digunakan untuk menghitung presentase kemampuan berpikir kritis adalah
sebagai berikut :

Keterangan :
nm =Jumlah item yang dicek dari tiap aspek daftar cek

10
N =Jumlah seluruh item dari setiap aspek daftar cek

Dimana :
A = proporsi siswa yang memilih
B = jumlah siswa atau responden

HASIL DAN PEMBAHASAN


Data kemampuan berpikir kritis diperoleh dari nilai jawaban LKS dan observasi pada saat
diskusi kelas berlangsung. Indikator kemampuan berpikir kritis yang diukur dalam penelitian
ini adalah interpretasi, analisis, inferensi, evaluasi, eksplanasi, dan pengaturan diri. Presentase
kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel
2. dan Tabel 3. berikut:
Tabel 2. Data rata-rata kemampuan berpikir kritis kelas eksperimen

Tabel 3. Data rata-rata kemampuan berpikir kritis kelas control

Kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol umumnya berada pada
kategori acceptabledan unaccepable karena kemampuan berpikir kritis tidak hanya
dipengaruhi oleh pengalaman belajar, namun juga dipengaruhi oleh karakter pribadi siswa .

11
Karakter siswa kelas X SMK yang berusian 15-16 tahun, termasuk dalam tingkat
perkembangan kognitif pada tahap operasional formal, yaitu remaja dengan cara berfikir yang
lebih abstrak, logis, dan realistik.
Data hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol hanya berasal dari penilaian
aspek kognitif siswa. Hasil belajar kognitif didapatkan dari nilai post-test. Data rata-rata hasil
belajar fisika siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 4.
berikut:
Tabel 4. Data rata-rata hasil belajar fisika siswa

Hasil belajar diuji menggunakan Independent Sample T-test dengan bantuan SPSS 22, dan
dapat dilihat pada Tabel 5. berikut:
Tabel 5. Ringkasan analisis hasil uji Independent Sample T-test

Berdasarkan analisa data hasil belajar fisika siswa diperoleh nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,047
atau < 0,05. Jika hasil tersebut disesuaikan dengan pedoman pengambilan keputusan, maka
ada perbedaan hasil belajar fisika yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol
(Ha diterima, H0 ditolak). Data respon siswa kelas eksperimen terhadap pembelajaran fisika
dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan media Kartu
Bergambar diperoleh dari hasil pengisian angket. Pengisian angket dilakukan oleh siswa
kelas eksperimen setelah pembelajaran berakhir. Jumlah pemilih dan persentase respon siswa
terhadap pembelajaran fisika menggunakan model Problem Based Learning (PBL)
berbantuan media Kartu Bergambar dapat dilihat pada Tabel 6. berikut :

Tabel 6. Data respon siswa kelas eksperimen

12
Berdasarkan Tabel 6., dapat diketahui bahwa respon siswa tertinggi adalah pada kategori
setuju, yaitu dengan persentase pemilih sebesar 54,0%. Respon terendah siswa adalah pada
kategori sangat tidak setuju, yaitu dengan persentase pemilih sebesar 3,3%. Setelah respon
siswa dianalisis berdasarkan langkah pembelajaran dan media yang digunakan, didapatkan
bahwa model Problem Based Learning berbantuan media Kartu Bergambar dapat diterima
dengan baik oleh siswa, sehingga dapat dikatakan bahwa model Problem Based learning
berbantuan media Kartu Bergambar lebih baik dibandingkan model Direct Instruction.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir
kritis siswa yang diberi model Problem Based Learning (PBL) berbantuan media Kartu
Bergambar pada umumnya lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak diberi model
Problem Based Learning (PBL) berbantuan media Kartu Bergambar. Selain itu, terdapat
perbedaan yang signifikan tentang hasil belajar siswa yang diberi model Problem Based
Learning (PBL) berbantuan media Kartu Bergambar dan yang tidak diberi model Problem
Based Learning (PBL) berbantuan media Kartu Bergambar. Model Problem Based Learning
(PBL) berbantuan media Kartu Bergambar juga mendapat respon yang baik dari siswa.

13
BAB 3

PEMBAHASAN

A. Kelemahan dan Kelebihan Jurnal

ASPEK YANG DI NILAI Journal I Journal II Journal III


STRUKTUR JURNAL
Nama pengarang   
Tahun terbit   
Kota penerbitan   
Volume   
Nomor   
Nama Journal   
ISSN   
pengantar/Pendahuluan   
Tinjauan teoritis   
Metode penelitian   
Hasil   
Pembahasan   
Kesimpulan   
Daftar Pustaka   
BAHASA DAN TULISAN
Bahasa Journal ini menggunakan Journal ini menggunakan Journal ini
bahasa Indonesia bahasa Indonesia menggunakan bahasa
Indonesia
Font Calibri (Body) Calibri (Body) Calibri (Body)
Bahasa yang efektif Bahasa dalam jurnal ini Jurnal pembanding Bahasa dalam jurnal ini
formal. Penggunaan kata- kedua ini setiap mudah dipahami dan
katanya juga baku. penggunaan kalimat di cukup Efektif dalam
Walau begitu masih dalam nya sudah cukup setiap penggunaan kata-
sangat mudah dipahami efektif dan mudah katanya. Tidak ada kata
karna tidak terlalu ada dipahami. Namun ada yang salah pengetikan
kata istilah yang jarang. beberapa pengetikan kata yangdi temukan.
Dengan kata lain istilah- yang salah. Misalnya
istilah yang digunakan harusnya real tetapi
adalah istilah yang ditulis riil.
familiar/atau umum
digunakan.
Kerapian tulisan Jurnal ini tidak begitu Jurnal ini cukup rapi Jurnal ini cukup rapi
rapi karna jurnal ini tidak karna jurnal ini karna jurnal ini

14
menggunkan Justyfi menggunkan Justyfi menggunkan Justyfi
segingga penulisannya segingga penulisannya segingga penulisannya
terkesan kurang rapi dan terkesan rapi dan enak terkesan rapi dan enak
kurang enak dilihat untuk dilihat dan dibaca. dilihat ataupun untuk
ataupun dibaca. dibaca.
Tabel Jurnal ini memuat tabel Jurnal ini memuat tabel Jurnal ini memuat table
TAMPILAN
Kerapian jurnal ini kurang Jurnal ini cukup rapi Jurnal ini sudah rapi
rapi. Terlihat dari karna peletakan tabel karna peletakan dari
peletakan tabelnya nya sudah sangat tepat setiap tabel sudah
yang tidak sesuai searah dengan kalimat sejajar dengan
dengan kalimat penjelas dari tabel itu. paragraf.karna bentuk
penjelas dari tabel Jadi posisi dari tabelnya dari paragraf dibuat
itu. Seharusnya sudah tepat. berbentuk dua colom
tabel itu harus jadi dia sangat terlihat
searah dengan rapi.
kalimat dalam
jurnal.
KONTEN ATAU ISI
Kelengkapan materi Jurnal ini berisi J Jurnal ini berisi tentang
tentang penerapan
Jurnal ini berisi tentang penerapan model
model Problem
penerapan model
Based Learning Problem Based
Problem Based
(Pbl) dalam materi
Learning (Pbl) dalam Learning (Pbl) dalam
fisika di SMA.
materi fisika di SMA.
Dalam jurnal materi fisika di SMA.
Dalam jurnal
inimenerangkan apa
inimenerangkan apa itu Dalam jurnal
itu pengertian PBL,
pengertian PBL,
kelebihan dan inimenerangkan apa itu
kelebihan dan kekurang
kekurang PBL.
PBL untuk seluruh pengertian PBL,
materi fisika.
kelebihan dan kekurang
PBL. Untuk seluruh
materi fisika mulai kelas
X-XII

B. Kemutakhiran Jurnal

Buku ini yang diterbitkan pada tahun 2018sehingga masih sangat terbaru sekali.
Sehingga informasi yang ada dalam jurnal masih sangat terbaru atau berdasarkan penelitian-

15
penelitian terbaru dan desain nya juga yang cukup bagus dan menarik. Sehingga menarik
minat pembaca untuk membaca jurnal ini dan di dalam jurnal ini juga terdapat aplikasi dan
juga sumber lokasi sehingga jelas.

16
BAB IV

IMPLIKASI
5.1 Implikasi Terhadap Teori
Pembelajaran Fisika merupakan pembelajaran yang sering sekali menemui banyak
kendala dan permasalahan dalam kegiatan pembelajaran serta hasil akhirnya. Bukan hanya
dikarenakan materi yang rumit karna konsep dan rumusnya, tetapi juga karna cara dan
metode pendidik yang dianggap kurang mendukung keberhasilan peserta didik dalam
memahai proses pembelajaran Fisika di sekolah maupun universitas. Untuk itu, maka
diperlukan model atau system pembelajaran yang dapat memaksimalkan kemampuan siswa,
baik kemampuan kognitif maupun psikomotorik peserta didik.
Salah satu model yang ditawarkan adalah model pembelajaran berdasarkan masalah.
Model ini menjadi salah satu factor pendukung yang diyakini mampu meningkatkan kualitas
pembelajaran dikarenakan pembelajaran dengan model ini akan membawa siswa ke dalam
fenomena-fenomena dan permasalahan yang berhubungan dengan materi fisika ke dalam
kehidupan sehari-hari peserta didik. Yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan minat
siswa dalam mendalami materi fisika. Selain itu model pembelajaran berdasarka masalah
juga akan melatih peserta didik untuk mengembangkan keterampilannya. Jadi model ini tidak
hanya terfokus pada kemampuan kognisi saja.
Dalam praktik pendidikan saat ini, pembelajaran berdasarkan masalah dinilai dapat
meningkatkan hasil belajar peserta didik baik dari segi kognitif, psikomotorik aupun afektif
sisiwa. Sehingga akan memaksimalkan pencapaian tujuan pembelajaran sesuai denga harapan
pendidikan.

5.2 Implikasi Terhadap Program Pembangunan Di Indonesia

Pembangunan adalah suatu bentuk akhir dari keselarasan antara kehidupan


masyarakat, termasuk aspek social, ekonomi, politik, pendidikan dan cultural. Dapat
dikatakan apabila salah satu bagian tersebut tidak berjalan secara maksimal maka
pembangunan di suatu negara tidak akan berjalan dengan maksimal.
Pendidikan merupakan suatu wadah yang bertujuan meningkatkan sumber daya
manusia (SDM). Apabila SDM di suatu negara terbilang kategori bagus, maka dapat
dipastikan pembagunan di negara tersebut akan berjalan mulus, karna ada SDM yang
berkualitas yang mengiring dan menunjang setiap aspek pembangunannya. SDM yang

17
berkualitas bukanlah SDM yang hanya memiliki kemampuan kognitif yang bagus, tetapi juga
didampingi dengan kemampuan psikomotorik dan afektif siswa yang berjaaln selaras dan
seimbang. Salah satu cara memaksimalkan ketiga kemampuan tersebut adalah pendidikan
yang juga berfokus pada ketiga hal tersebut, contohnya model pembelajaran yang
berdasarkan pada masalah.
Model pembelajaran berdasarkan masalah adalah model pembelajaran yang
mengaktifkan dan melatih siswa untuk menghadapi berbagai masalah dan dapat mencari
pemecahan masalah atau solusi dari permasalahan itu. Dengan menggunakan model
pembelajaran ini terdapat beberapa manfaat yang sangat penting, yaitu:
1. Mengembangkan kemampuan berpikir para siswa, anggapan yang menyatakan bahwa
kemampuan berpikir akan lahir bila pengetahuan makin bertambah
2. Mengembangkan sikap dan keterampilan siswa dalam memecahkan permasalahan,
serta dalam mengambil kepuutusan secara objektif dan mandiri
3. Melalui inkuiri atau problem solving kemampuan berpikir tadi diproses dalam situasi
atau keadaan yang benar–benar dihayati, diminati siswa serta dalam berbagai macam
ragam altenatif
4. Membina pengembangan sikap perasaan (ingin tahu lebih jauh) dan cara berpikir
objektif- mandiri, krisis – analisis baik secara individual maupun kelompok.
Dari manfaat serta praktik model pembelajaran problem solving, dinilai, bahwa pembelajaran
tersebut dapat membentuk Sumber daya manusia yang berkualitas. Bukan hanya SDM yang
cerdas dalam sudut kognitifnya, tetapi juga cerdas keterampilannya serta baik ahlak atau
sikapnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari jurnal yang telah dianalisis tersebut dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran berdasarkan masalah berpengaruh besar terhadap peningkatan hasil belajar dan
aktivitas belajar peserta didik. Hal ini dikarenakan model pembelajaran berdasarkan masalah
yang mengawali pembelajaran dengan permasalahan-permasalahan yang ada di dalam
kehidupan peserta didik sehingga menarik minat dan perhatian siswa untuk mendalami materi
tersebut. dari jurnal tersebut dapat dilihat bahwa model pembelajaran fisika sangat cocok
diterapkan dalam pembelajaran fisika yang selama ini hanya erat kaitannya dengan rumus
dan hitungan, padahal sebenarnya fisika adalah fenomena yang ada di sekitar kita.

18
5.2 Saran
Aktivitas dan hasil belajar peserta didik merupakan suatu penentu tercapainya tujuan
pendidikan yang diinginkan. Model pendidikan berbasis masalah merupakan suatu solusi
yang cukup baik, namun diharapkan model pembelajaran ini dapat dikembangkan lagi agar
tujuan yang hendak dicapai lebih maksimal lagi.

5.3 Rekomendasi
Untuk kedepannya atau selanjutnya kelemahan-kelemahan atau pun kekurangan
setiap jurnal ini perlu diperbaiki supaya lebih baik lagi dimanfaatkan ataupun digunakan
pembaca sebagai refrensi dalam penelitian-penelitian ataupun untuk kegunaan lainnya.

19
Daftar Pustaka

Arofah, D N; dkk.2015. Pengaruh Model Project Based Learning terhadap Keterampilan


Proses Sains Dan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Fisika di SMA.Jurnal
Pembelajaran Fisika.vol 4.187-191.

Oktadifani, U;dkk.2016.Pengaruh Model Project Based Learning terhadap Keterampilan


Proses Sains Dan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Fisika di SMA. jurnal
pembelajaran fisika.Vol.5.109–114.

Sari, I P;dkk.2015.Penerapan Model Problem Based Learning (Pbl) Berbantuanmedia Kartu


Bergambar Terhadap Kemampuan Berpikir Kritisdan Hasil Belajarsiswa Dalam
Pembelajaran Fisikasmknegeri Di Kabupaten Jember.Jurnal Pembelajaran
Fisika.Vol.4.268-273.

20