Anda di halaman 1dari 10

Tugas Ilmu Keperawatan Gawat Darurat

“ Etik dan Legal Dalam Keperawatan Gawat Darurat“

Kelompok 4

1. Melinda Ayu Permatasari ( SK117021 )


2. Nadya Yulistiana ( SK117022 )
3. Nur Afifah ( SK117023 )
4. Putri Nur Kholifah ( SK117024 )
5. Putri Rahma Dani ( SK117025 )
6. Ratih puspita Dewi ( SK117026 )

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDAL
TAHUN AJARAN 2019/2020
ETIK DAN LEGAL DALAM KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

A. Etik legal Keperawatan Gawat Darurat


Etik ditujukan untuk mengukur perilaku yang diharapkan dari manusia
atau kelompok tertentu/ profesi tertentu seperti profesi keperawatan, maka
aturannya merupakan suatu kesepakatan dari kelompok tersebut yang disebut
kode etik. Hukum dapat diartikan sebagai aturan yang disahkan
pemerintah yang bertujuan memberikan perlindungan kepada masyarakat.
B. Prinsip etik dan legal keperawatan gawat darurat :
1. Autonomy
Berkaitan dngan hak seseorang untuk membuat keputusan bagi dirinya misalnya
seorang pasien yang akan mengalami suatu tindakan seperti pembedahan,
keputusan harus diputuskan oleh pasien itu sendiri, tetapi tenaga kesehatan
berkewajiban memberikan informasi yang rinci sehingga pasien membuat
keputusan secara benar.
2. Beneficence (kemurahan hati/pemanfaatan)
Kewajiban melakukan yang terbaik meningkatkan mutu pelayanan
keperawatan.
3. Non maleficence (tidak merugikan orang lain)
Kewajiban untuk tidak menimbulkan kerugian atau cedera bagi orang lain
apalagi membunuh. Perawat akan bersikap hati-hati, teliti dan cermat.
4. Veracity (jujur).
Kewajiban menyampaikan atau mengatakan sesuatu dengan benar, tidak
berbohong apalagi menipu. Perawat berbicara benar, terbuka sehingga dapat
dipercaya.
5. Justice (adil).
Kewajiban berlaku adil kepada semua orang. Perawat berlaku adil, tdk
membeda-bedakan pasien tentang dirawat baik aspek sosial, agama, suku dll.
6. Fidelity (komitmen).
Kewajiban untuk setia dengan kesepakatan atau tanggung jawab secara
bersungguh-sungguh terhadap tugas bebannya.
C. Unsur-unsur yang penting diperhatikan dalam kode etik:

1. Perawat memberikan pelayanan dengan memperhatikan dan menghargai


kemuliaan seseorang sebagai manusia.
2. Perawat melindungi hak azasi manusia.
3. Perawat bertindak untuk melindungi pasien dan masyarakat.
4. Perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap setiap
tindakan dan pengambilan keputusan keperawatan.
5. Perawat mempertahankan kompetensinya dalam melaksanakan
pelayanan kesehatan.
6. Perawat melatih diri dalam menetapkan informasi dan menggunakan
kompetensi individunya.
7. Perawat berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang terkait dengan
pengembangan keilmuan dari profesi keperawatan.
8. Perawat berpartisipasi dalam upaya profesi untuk melaksanakan dan
meningkatkan standar profesi serta meningkatkan mutu pelayanan.
9. Perawat berpartisipasi dalam upaya profesi untuk melindungi masyarakat
terhadap kurang informasi serta mempertahankan integritas keperawatan.
10. Perawat berkolaborasi dengan anggota & profesi kesehatan lainnya &
masyarakat.

D. HUKUM PELAYANAN GAWAT DARURAT

ASPEK HUKUM PELAYANAN


KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

OLEH : ADZANRI,.AMK.,SS.,MH

Sekretaris Komite Etik dan Hukum RSUP Dr M Djamil Padang


Alumni Magister Ilmu Hukum Universitas Bung Hatta Padang

Undang undang penanggulangan bencana nomor 24 tahun 2007  dalam


Bab I Tentang ketentuan umum Pasal 1 Ayat (10),”Tanggap darurat bencana
adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian
bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan  yang meliputi
kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan
dasar, perlindungan pengurusan pengungsi, serta pemulihan sarana dan pra
sarana”.   
Undang undang Kesehatan nomor 36 tahun 2009 Pasal 32 Ayat (1) Dalam
keadaan darurat fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta
wajib memberikan pelayanan kesehatan  bagi penyelamatan nyawa pasien dan
pencegahan kecacatan terlebih dahulu. Ayat (2) Dalam keadaan darurat Fasilitas
pelayanan kesehatan baik pemerintah dan swasta dilarang  menolak pasien
dan/atau meminta uang muka.
Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dalam Bab II
Pasal 4, setiap orang berhak atas kesehatan, dalam penjelasannya hak untuk
memperoleh kesehatan dari fasilitas pelayanan kesehatan, agar dapat mewujudkan
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pasal ini mengatakan setiap individu
dan masyarakat berhak atas nilai nilai kesehatan serta mendapatkan pelayanan
kesehatan yang optimal dan paripurna.
Dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pada
pembukaan poin (b) bahwa “setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi tingginya dilaksanakan
berdasarkan prinsip prinsip non diskriminatif,partisipatif, dan berkelanjutan dalam
rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia serta peningkatan ketahanan
dan daya saing bangsa bagi pembangunan nasional”.
Profesi kesehatan (tenaga kesehatan) seperti perawat dan dokter dan
profesi kesehatan lainnya mempunyai tanggung jawab moral untuk memberikan
pertolongan pada kasus kasus kegawatan darurat dan bencana. Yang disebut
Tenaga Kesehatan dalam Undang-undang Kesehatan Nomor  36 Tahun 2009 Bab
I Ketentuan Umum Pasal 1 Ayat  (6) : “Setiap orang yang mengabdikan diri
dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan
melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan”. Pasal ini mempertegas bahwa
petugas kesehatan wajib melakukan upaya kesehatan termasuk dalam pelayanan
gawat darurat yang terjadi baik dalam keadaan sehari hari maupun dalam kedaaan
bencana.
Orang yang tiba tiba menjadi gawat baik akibat penyakit atau trauma
kecelakaan tentu saja memerlukan tindakan darurat agar terhindar dari kematian
dan kecacatan serta dapat dirujuk untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan
secara definitif, apabila tidak atau terlambat mendapatkan tindakan darurat atau
pertolongan akan dapat menimbulkan kematian dan kecacatan, oleh sebab itu
peran tenaga kesehatan khusus perawat dan dokter mempunyai peran penting
dalam memberikan pelayanan gawat darurat secara holistik.
Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia , Nomor 36 Tahun
1996  tentang TENAGA KESEHATAN dalam Bab II Pasal  2 :
1. Tenaga medis (dokter, dokter gigi)
2. Tenaga keperawatan (Perawat, Bidan)
3. Tenaga kefarmasian ( Apoteker, analis farmasi)
4. Tenaga kesehatan masyarakat ( Epidomologi, Entomolog Kesehatan,
Mikrobilogi Kesehatan, Penyuluh kesehatan, administrasi kesehatan,
sanitarian.
5. Tenaga gizi (nutrisionist)
6. Tenaga kesehatan keterapian fisik ( fisio terapis )
7. Tekhnisi elektromedis.

Dalam pelayanan gawat darurat dikenal prinsip cepat dan tepat, khususnya
dalam kasus gawat darurat dalam proses tindakan ini aspek hukum bagi tenaga
kesehatan dan penderita sangat penting untuk dipahami, untuk menghindari
konflik dan kesalah pahaman yang dapat berakibat terjadinya tuntutan hukum bagi
pihak yang dirugikan. 
Landasan Hukum Pelayanan Gawat Darurat :
1) UU NO 9 Tahun 1960 Pokok Kesehatan
2)  UU NO 6 Tahun 1963 Tenaga Kesehatan
3) UU NO 29 Tahun 2004 Praktik Kedokteran
4) UU NO 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana
5) UU NO 36 Tahun  2009 Kesehatan
6) UU NO 44 TAHUN 2009 Rumah sakit
7) PP NO 32 TAHUN 1996 Tenaga Kesehatan
8) PP NO 51 Tahun  2009 Pekerjaan Kefarmasian
9) Berbagai Peraturan Menteri Kesehatan

E. Aspek aspek Hukum dan perlindungan hukum Pelayanan Gawat Darurat oleh
profesi keperawatan.
1. Dalam Undang undang Rumah Sakit Nomor 44 tahun 2009 Bab I
Ketentuan Umum Pasal 1 Ayat (1) Rumah Sakit adalah institusi
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna  yang menyediakan
pelayanan rawat Inap, Rawat Jalan dan Rawat Darurat.  Ini
membuktikan bahwa rumah sakit wajib memberikan pelayanan gawat
darurat kepada pasien atau penderita dengan arti kata setiap rumah sakit
wajib memiliki sarana, pra sarana dan SDM dalam pengelolaan
pelayanan gawat darurat, ini membuktikan adanya kepastian hukum
dalam pelayanan gawat darurat di rumah sakit”.
2. Kepmenkes RI Nomor  1239/Menkes/SK/XI/2001 Tentang  Registrasi
dan Praktik Keperawatan, Pasal 20, Dalam darurat yang mengancam jiwa
seseorang/pasien, perawat berwenang untuk melakukan pelayanan
kesehatan diluar kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam pasal 15,
Pelayanan dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat 1
ditujukan untuk penyelamatan jiwa. 
3. Permenkes Nomor RI HK.02.02.MENKES/148/2010, tentang regitrasi
dn izin praktik keperawatan Pasal 10 Ayat (1), Dalam darurat yang
mengancam jiwa seseorang/pasien, perawat berwenang untuk melakukan
pelayanan kesehatan diluar kewenangannya sebagaimana dimaksud
dalam pasal  8, Pasal 11 poin (a) Perawat berhak Memperoleh
perlindungan hukum.
4. Permenkes Nomor  152/Menkes/Per/IV/2007  Tentang Izin dan
penyelenggaran Praktik Kedokteraan dan kedokteran Gigi, BAB III
Pasal  15 Ayat  (I), Dokter dan dokter Gigi dapat memberilan pelimpahan
suatu tindakan kedokteran  dan tindakan  kedokteran gigi  , kepada
perawat, bidan atau tenaga kesehatn lainnya secara tertulis.  
5. Dalam undang undang Kesehatan Nomor 36 tahun 2009 Pasal 27 :
1) Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan
dan pelindungan hukum dalam melaksanakan tugas
sesuai dengan profesinya.
2) Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban
mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki.
3) Ketentuan mengenai hak dan kewajiban tenaga kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam
Peraturan Pemerintah.
Disamping wajib dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi
profesi kesehatan juga mendapatkan perlindungan hukum dalam
melaksanakan profesinya, dan diwajibkan juga untuk mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan dalam meningkatkan profesionalisme
dalam melaksanakan pelayanan kesehatan secara maksimal, bagi perawat
tanggap darurat tentu saja diharuskan memiliki keterampilan kegawat-
daruratan, semisalnya pelatihan bantuan hidup dasar (BHD), pelatihan
Penanggulangan Penderita Gawat Darurat, Nursing Emergency, General
Emergency Life Support dan lain sebagainya, sebagai bagian dari
kompetensi perawat tanggap darurat.
Di sisi lain dari aspek hukum pelayanan gawat darurat seperti
standar operasi prosedur, petunjuk pelaksanaaan,  kebijakan dan aturan
aturan dalam sistem pelayanan gawat darurat harus dijadikan pedoman,
sertifikat atau kompetensi petugas sangat penting dimiliki dan dipahami
oleh tim tanggap darurat agar pelayanan gawat darurat mempunyai
kepastian hukum, sehingga sinkronisasi dan koordinasi yang bersifat
holistik dalam pelayanan gawat darurat akan mampu melahirkan sikap
profesional dan bertanggung jawab sebagai bentuk kepedulian terhadap
keselamatan umat manusia.
Bagi profesi keperawatan pelatihan kegawat daruratan, dapat juga
dijadikan sebagai aspek legalitas dan kompetensi dalam melaksanakan
pelayanan keperawatan gawat daruratan yang tujuannya antara lain :
1. Memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap
pelayanan keperawatan gawat darurat yang diberikan
2. Menginformasikan kepada masyarakat tentang pelayanan
keperawatan gawat daruratyang diberikan dan tanggung
jawab secara professional
3. Memelihara kualitas / mutu pelayanan keperawatan yang
diberikan
4. Menjamin adanya perlindungan hukum bagi perawat
5. Memotivasi pengembangan profesi
6. Meningkatkan profesionalisme tenaga keperawatan.
Undang undang nomor  36 tahun 2009  tentang kesehatan,
pelayanan kesehatan,Pelayanan Kesehatan Pada Bencana :
Pasal 82
1. Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat bertanggung
jawab atas ketersediaan sumber daya, fasilitas, dan
pelaksanaan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan
berkesinambungan pada bencana.
2. Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi pelayanan kesehatan pada tanggap darurat dan
pascabencana.
3. Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
mencakup pelayanan kegawatdaruratan yang bertujuan untuk
menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan lebih lanjut.
4. Pemerintah menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
5. Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) bersumber
dari anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN),
anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), atau
bantuan masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
Pasal 83
1) Setiap orang yang memberikan pelayanan kesehatan pada
bencana harus ditujukan untuk penyelamatan nyawa, pencegahan
kecacatan lebih lanjut, dan kepentingan terbaik bagi pasien.
2) Pemerintah menjamin perlindungan hukum bagi setiap orang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan kemampuan
yang dimiliki
F. Fungsi aspek hukum dan legalitas pelayanan gawat darurat bagi perawat :
1. Hukum Menyediakan kerangka kerja untuk menetapkan tindakan
asuhan keperawatan gawat darurat agar diterima oleh etik dan
hukum, sehingga menimbulkan adanya kepastian hukum.
2. Hukum juga memberikan penjelasan tentang tanggung jawab
perawat gawat darurat yang berbeda dari tanggung jawab tenaga
kesehatan lainnya
3. Hukum dapat membantu perawat gawat darurat menetapkan batas
batas tindakan keperawatan mandiri (otonomi profesi) 
4. Hukum membantu keperawatan dalam menjaga standar asuhan
keperawatan yang dibuat oleh profesi keperawatan.
Aspek etika dan hukum dalam pelayanan gawat darurat sangat
penting dilaksanakan sebagai pedoman agar pelayanan yang diberikan
tidak melanggar norma atau hukum yang dapat merugikan profesi
keperawatan atau masyarakat yang berakibat pada konflik.
Sekilas tentang Penulis :
Adzanri, AMK., SS., MH, bertugas di Komite Etik dan Hukum RSUP Dr
M Djamil. Sebelumnya Kepala Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan RSUP Dr
M Djamil Padang dan lama bertugas di Instalasi Gawat Darurat, Sekretaris PPNI
Sumatera Barat, pernah menjadi pengurus KNPI Sumatera Barat, Ketua
Himpunan Perawat Kamar Bedah Indonesia Sumatera Barat, sering mengikuti
seminar dan pelatihan tentang kesehatan, hukum dan tanggap darurat, pemberi
materi tentang hukum kesehatan dan tanggap darurat dibeberapa rumah sakit baik
pemerintah maupun maupun swasta, juga menulis di harian Singgalang, Haluan,
Media Indonesia dan juga Jurnal Ilmiah Law Reform UBH.

Undang undang nomor  36 tahun 2009  tentang kesehatan, pelayanan


kesehatan :
Pelayanan Kesehatan Pada Bencana
Pasal 82
6. Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat bertanggung jawab atas
ketersediaan sumber daya, fasilitas, dan pelaksanaan pelayanan kesehatan secara
menyeluruh dan berkesinambungan pada bencana.
7. Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
pelayanan
8. kesehatan pada tanggap darurat dan pascabencana.
9. Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup
pelayanan kegawatdaruratan yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa dan
mencegah kecacatan lebih lanjut.
10. Pemerintah menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1).
11. Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) bersumber dari
anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN), anggaran pendapatan dan
belanja daerah (APBD), atau bantuan masyarakat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 83
(3)   Setiap orang yang memberikan pelayanan kesehatan pada bencana harus
ditujukan untuk penyelamatan nyawa, pencegahan kecacatan lebih lanjut, dan
kepentingan terbaik bagi pasien.
(4)   Pemerintah menjamin perlindungan hukum bagi setiap orang sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan kemampuan yang dimiliki