Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KEWIRAUSAHAAN

KIMIA FARMA

Oleh : Kelompok 3
Burhanudin Robbani M0617010
Dhiana Mintariasih M0617013
Firdausi Zainatuf Faradiva M0617017
Isna Khoirum Muthiah M0617024
Nurul Izzah M0617029
Putri Wahyu Wijayanti M0617031
Rachel Anneros Dianny M0617032
Rani Nurindah Saputri M0617034
Sakinah M0617040

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayahnya penulis
dapat menyelesaikan makalah tentang “Bisnis Farmasi Kimia Farma”. Makalah ini disusun sebagai salah
satu tugas mata kuliah Kewirausahaan. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
dosen pengampu Bekti Utomo yang telah memberikan masukan serta arahan dalam penulisan makalah
ini.

Penulis berharap makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan
pemikiran kepada pembaca khususnya para akademika Universitas Sebelas Maret. Penulis menyadari
bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun
penulisannya. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun,
khususnya dari dosen mata kuliah guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman untuk lebih baik di masa
yang akan datang.

Surakarta, 9 April 2018

2
Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………2
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………...3
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………….…………….4
1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………………………………..4
1.2 Landasan Teori…………………………………………………………………………….4
1.3 Rumusan Masalah…………………………………………………………………………6
1.4 Tujuan………………………………………………………………………………………7
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………………8
2.1 Strategi Bisnis Kimia Farma……………………………………………………………...8
2.2 Analisis S.W.O.T………………………………………………………………………….11
BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………14
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………..………………….14
3.2 Saran…………………………………………………………………………………..……14
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………..…...15

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Wirausaha merupakan suatu proses atau cara untuk melakukan suatu usaha yang bertujuan untuk
mendapatkan hasil atau keuntungan yang diharapkan dengan cara memproduksi, menjual atau
menyewakan suatu produk barang atau jasa. Perusahaan farmasi rnerupakan suatu industri dengan tingkat
kompetisi sangat tinggi, hal ini dapat dimengerti karena produk obat-obatan yang dihasilkannya sudah
merupakan suatu kebutuhan manusia dalam menjaga kesehatan. Perlunya menjaga kesehatan dan
rnenyernbuhkan penyakit, telah mendorong berdirinya banyak perusahaan-perusahaan farrnasi baik yang
bersifat PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) rnaupun PMA (Penanaman Modal Asing).
Penggunaan modal oleh para investor antara lain untuk mendirikan pabrik obat, rnenjadi pedagang besar
farmasi (PBF) atau penyalur langsung ke konsumen seperti apotik dan toko-toko obat. Perusahaan
farmasi di Indonesia saat ini juga tidak ketinggalan dengan kemajuan teknologi informasi, sejumlah
perusahaan bahkan sangat intensif dan bersemangat dalam menerapkan teknologi informasi untuk salah
satunya untuk sistem monitoring, informasi penjualan sistem distribusi dan manajemen databasenya pun
semua menggunakan teknologi mutakhir.

1.2. Landasan Teori


1.2.1 Pengertian Perusahaan Farmasi
Perusahaan farmasi atau perusahaan obat-obatan adalah perusahaan bisnis komersial
yang fokus dalam meneliti, mengembangkan dan mendistribusikan obat. Mereka dapat
membuat obat generik atau obat bermerek. Untuk dapat bertahan perusahaan farmasi harus
memasarkan dan menjual produk kepada pelanggan untuk mendapatkan keuntungan
(Jaconelli, 2008).
Sebanyak 10 besar perusahaan Farmasi di tahun 2010 umumnya didominasi oleh 9
perusahaan lokal yaitu Sanbe Farma, Kalbe Farma, Dexa Medica, Bintang Toedjoe, Tempo
Scan Pacific, Kimia Farma, Konimex, Phapros, Indofarma dan 1 perusahaan PMA yaitu
Pfizer. Market share dari 10 perusahaan terbesar ini kurang lebih 40%. Kompleksifitas dan
banyaknya kompetitor di dalam negeri menambah sulitnya penjualan obat kepada customer.
Salah satu penunjang keberhasilan penjualan obat bagi perusahaan farmasi adalah dengan
adanya management supply chain yang baik sehingga menjadi keunggulan kompetitif
perusahaan tersebut (Angell, 2004).

4
Tindakan mengarah pada perkembangan suatu strategis atau strategic. Strategi yang
efektif untuk membantu mencapai sasaran. Menurut (Kotler dan Kevin), Perencanaan
strategis adalah proses manajerial untuk mengembangkan dan menjaga keserasian antara
tujuan perusahaan, sumber daya perusahaan dan peluang pasar yang terus berubah, tujuan
perencanaan strategis adalah untuk membentuk dan mneyesuaikan usaha perusahaan dan
produk yang dihasilkannya sehingga bisa mencapai keuntungan dan tingkat pertumbuhan
yang memuaskan.
1.2.2 Proses Manajemen Strategis antara lain :
Analisa dan diagnosis : adalah dengan menentukan masalah serta peluang
lingkungan dan kekuatan serta kelemahan intern, yang menyangkut pengenalan masalah
dan/atau peluang menilai informasi yang dibutuhkan, meyelesaikan masalah dan pemikiran
logis bertahap (heuristic) untuk menilai informasi tersebut. Pemilihan hal ini mendorong
penyelesaian alternatif terhadap masalah, menilai penyelesaiannya dan memilih yang
terbaik. Pelaksanaan (Implementasi) yaitu dengan membuat agar strategi itu berjalan dengan
baik dengan membangun struktur untuk mendukung strategi itu dan mengembangkan
rencana serta kebijaksanaan yang tepat. Evaluasi : Melalui umpan balik menentukan apakah
strategi itu berjalan dan mengambil langkah agar strategi tetap berjalan.
1.2.3 Pengertian pemasaran
Menurut Kotler (2000) pemasaraan adalah suatu poses sosial dimana individu dan
kelompok mendapatkan apa yan mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan,
menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai secara bebas dengan pihak lain.
Pemasaran lebih menitik beratkan pada pengetahuan akan kebutuhan pelangan dan upaya
untuk memuaskannya melalui atribut produk yang ditawarkan, karena kepuasan konsumen
dipandang sebagai pusat pertumbuhan, laba dan keamanaan eksistensi keamanaan.
Menurut Swastha dan Irawan (2000) pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari
kegiatan bisnis yang ditunjukkan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan
dan mendistribusikan barang atau jasa yang memuaskan kebutuhan baik pada pembeli yang
ada maupun pembeli potensial
Manajemen pamasaan adalah pertukaran produk yang dilakukan melalui aktifitas
dari bauran pemasaran, yaitu Product, Price, Pomotion, dan Place.
Dalam bauran pemasaran terdapat seperangkat alat pemasaran yang dikenal dengan
marketing mix 4P yaitu, product, price, place dan promotion. Sedangkan dalam pemasaran
jasa memeiliki beberapa alat pemasaran tambahan sperti people, physical evidence dan
process sehingga dikenal dengan marketing mix 7P. Bauran pemasaran jasa mencakup 7P
yakni, product, price, place, promotion, people, process, physical evidence.

5
Ketujuh unsur bauran pemasaran tersebut saling berhubungan dan berpengaruh satu
sama lain,sehingga harus diupayakan untu menghasilkan suatu kebijakan pemasaran yang
mengrah kepada layanan efektif dan kepuasan konsumen.
1.2.4 Perusahaan Kimia Farma
Kimia Farma merupakan pioner dalam industri farmasi Indonesia. Cikal bakal
perusahaan dapat dirunut balik ke tahun 1917, ketika NV Chemicalien Handle Rathkamp &
Co., perusahaan farmasi pertama di Hindia Timur, didirikan. Sejalan dengan kebijakan
nasionalisasi eks perusahaan-perusahaan Belanda, pada tahun 1958 pemerintah melebur
sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF Bhinneka Kimia Farma. Selanjutnya pada
tanggal 16 Agustus 1971 bentuk hukumnya diubah menjadi Perseroan Terbatas, menjadi PT
Kimia Farma (Persero). Sejak tanggal 4 Juli 2001 Kimia Farma tercatat sebagai perusahaan
publik di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Berbekal tradisi industri yang
panjang selama lebih dari 187 tahun dan nama yang identik dengan mutu, hari ini Kimia
Farma telah berkembang menjadi sebuah perusahaan pelayanan kesehatan utama di
Indonesia yang kian memainkan peranan penting dalam pengembangan dan pembangunan
bangsa dan masyarakat. PT. Kimia Farma Trading & Distribution (KFTD), adalah anak
perusahaan yang dibentuk oleh Kimia Farma yang berperan penting dalam upaya
peningkatan penjualan produk-produk Perseroan. PT Kimia Farma Trading & Distribution
memiliki jaringan sebanyak 46 cabang dan tenaga salesman sejumlah 611 orang untuk
melayani 45.173 outlet terdaftar di seluruh wilayah Indonesia. Disamping mendistribusikan
produk-produk Kimia Farma, KFTD juga bertindak sebagai distributor untuk produk-produk
principal dari dalam dan luar negeri. Perusahaan 8 yang dikenal dengan nama KFTD ini,
meliliki wilayah layanan dan jalur distribusi yang luas, mencakup 33 Propinsi, 466
Kabupaten atau Kota.Saat ini jumlah karyawan yang tergabung dengan KFTD mencapai 986
orang, dan pada tahun 2010 sales force yang dimiliki KFTD mencapai lebih dari 446 orang,
yang terdiri dari salesman dan petugas ekspedisi. Jumlah ini akan terus ditingkatkan sesuai
dengan tuntutan pekerjaan dilapangan.PT. Kimia Farma juga telah melakukan ekspansi
bisnisnya tidak hanya di tingkat nasional tapi juga mulai memasuki tingkat perdagangan
internasional. Produk-produk Kimia Farma yang mencakup produk obat jadi dan sediaan
farmasi serta bahan baku obat seperti Iodine dan Quinine telah memasuki pasar dinegara :
Erope, India, Jepang, Taiwan and New Zealand. Produk Jadi dan Kosmetik telah dipasarkan
ke Yemen, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Vietnam, Sudan, and Papua New Guinea.
Demikian juga untuk produk-produk herbal yang berasal dari bahan alami juga telah
dipersiapkan proses registrasinya untuk memasuki pasar baru seperti : Filipina, Myanmar,
Pakistan, Uni Emirat Arab, Oman, Bahrain and Bangladesh. Produk Herbal merupakan
target utama korporasi untuk periode mendatang mengingat banyaknya peminat dan pembeli

6
potensial yang telah menunjukkan minat untuk melakukan hubungan bisnis dengan
perusahaan.
1.3 Rumusan Masalah

1. Bagaimana perusahan farmasi memasarkan hasil produksi hingga ke tangan konsumen?

2. Apa saja kelebiham dan kekurangan dari sistem menejemen perusahaan farmasi kimia farma?

1.4 Tujuan

1. Dapat mengetahui mengenai sistem pemasaran perusahaan farmasi khususnya Kimia Farma

2. Dapat mengetahui sistem menejemen perusahaan farmasi

3. Dapat mempelajari sistem pemasaran dan menejemen yang diterapkan dari perusahaan Kimia
Farma

7
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Strategi Bisnis Kimia Farma

2.1.1 Strategi Vertical Integration

Menurut Collis and Montgomery (2005), strategi integrasi vertikal (vertical integration


strategies) merupakan strategi yang menghendaki perusahaanmelakukan penguasaan yang lebih
atas distributor (integrasi ke depan), pemasok (integrasi ke belakang) dan atau para pesaing
(integrasi horizontal) baik melaluimerjer, akuisisi, atau membuat perusahaan sendiri di saat
industry dalam kondisi bagus. Strategi integrasi vertikal merupakan suatu usaha perusahaan untuk 
memperoleh kendali terhadap inputnya (backward), terhadap outputnya (forward),atau keduanya.
Strategi integrasi vertikal dianggap strategi pertumbuhan karenastrategi ini memperluas operasi
perusahaan. Strategi integrasi vertikal terdiri atas strategi integrasi kedepan ( forward integration)
dan strategi integrasi kebelakang(backward integration).

Strategi integrasi kedepan menghendaki agar perusahaan mempunyaikemampuan yang


besar terhadap pengendalian para distributor atau pengecer mereka, bila perlu dengan memiliki.
Hal ini dapat dilakukan jika perusahaanmendapatkan banyak masalah dengan pendistribusian
barang/jasa sehinggamenganggu produksi yang stabil. Padahal perusahaan mampu untuk
mengelola pendistribusian dimaksud dengan sumber daya yang dimiliki, alasan lain, bisnis
disektor distribusi yang dimaksud ternyata memiliki prospek yang baik untuk dimasuki.

Strategi integrasi kebelakang merupakan suatu strategi perusahaan dengan meningkatkan


pengawasan terhadap bahan baku apalagi pemasok dinilai tidak lagi menguntungkan perusahaan,
seperti terlambat pengadaan bahan, kualitas bahan yang menurun, biaya meningkat sehingga tak d
apat lagi dihandalkan.Konsumen kini mulai lebih menghargai produk yang ramah lingkungan,
sehinggamereka menyukai produk yang dapat didaur ulang.Beberapa perusahaan menggunakan
backward integration untuk memperoleh pengawasan terhadap para pemasok barang agar produk-
produk yangdapat didaur ulang itu bahan bakunya aman dipasok. Tujuan strategi ini
8
untuk mendapatkan kepemilikan atau meningkatkan pengendalian bagi para pemasok.Hal ini
dapat dilakukan jika jumlah pemasok sedikit padahal pesaing
banyak, pasokan selama ini berjalan lancar, harga produk stabil dan pemasok memilikimargin
keuntungan yang tinggi serta perusahaan mempunyai modal dan sumber daya yang berkualitas.

2.1.2 Strategi Bisnis Hulu-hilir Kimia Farma

Kimia Farma memilih strategi bisnis hulu-hilir, dimana perusahaan ini bergerak dalam
bidang pelayanan kesehatan yang terintegrasi, yaitu: industri, marketing,distribusi, ritel,
laboratorium klinik, dan klinik kesehatan. Kimia Farma terusmelakukan transformasi bisnis
dengan mengembangkan berbagai layanan sektor kesehatan untuk memberikan kemudahan bagi
masyarakat mendapatkan akseslayanan pemeriksanaan kesehatannya. Perluasan jaringan layanan
merupakan bagian untuk memenangkan persaingan dalam merebut pasar farmasi nasioanalseiring
dengan berlakunya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) melalui BadanPenyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) pada tahun 2014 nanti.

Salah satu cara perluasan jaringan yang dilakukan oleh PT Kimia Farma(Persero) Tbk
adalah melalui PT Kimia Farma Apotek (KFA) yang mendekatkandan memberikan layanan
terbaik kepada masyarakat. Sepanjang 2012 sebanyak 30 apotek dan 100 klinik baru telah dibuka
di berbagai kota di Indonesia. Langkahini, sebagai bagian dari upaya Kimia Farma untuk
memenuhi kebutuhanmasyarakat Indonesia yang menginginkan pelayanan yang praktis, efisien,
danefektif dalam berbagai aktivitasnya, termasuk dalam mendapatkan pelayanankesehatan.
KonsepOne Stop Healthcare Solution(OSHS) merupakan salah satulayanan dengan konsep
modern yang diberikan oleh Kimia Farma.

Dengan konsep OSHcS masyarakat mendapatkan layanan kesehatan yangtidak perlu repot


harus bolak balik ke dokter, laboratorium, dan menebus apotek di lain tempat. Karena di dalam
konsep Apotek Kimia Farma OSHS, seluruhlayanan kesehatan secara terpadu dalam satu atap,
mulai dari pemeriksaan dokter di klinik kesehatan, pemeriksaan laboratorium klinik, konsultasi
obat olehApoteker, layanan optik, pelayanan resep dokter dan juga swalayan farmasi yang berada
dalam satu tempat di Apotek Kimia Farma.Bisnis apotek dapat dibandingkan dengan skala ritel
umum atau franchisemart yang marak mengepung masyarakat. Secara teknis bisnis, apotek
membutuhkan manajemen khusus karena diferensiasi serta spesifikasi produk yang kuat pada
produknya, produk kesehatan, khususnya obat. 

Dengan konsep ini, Kimia Farma akan melirik kerja sama dengan BPJSmenjadi klinik
BPJS. Klinik BPJS merupakan cara dari pemerintah untuk menjalankan SJSN. Dengan adanya
klinik BPJS itu, masyarakat bisa berobatsecara cuma-cuma, sebab mereka sudah ditanggung
asuransi yang preminyadibayar pemerintah. Setiap klinik BPJS akan memperoleh uang
9
pertanggungandengan nilai sesuai jumlah masyarakat yang mereka jangkau. Dengan
berlakunyaBPJS di 2014 nanti, Kimia Farma akan cukup menguasai pelayanan kesehatandan akan
bersaing ketat dengan klinik franchise yang saat ini banyak berkembangdi Indonesia.

Selain strategi di atas, Kimia Farma juga melakukan beberapa pergerakan laindalam
mengantisipasi era SJSN-BPJS, antara lain:

1. Akusisi Saham IndofarmaAkusisi Kimia Farma terhadap Indofarma akan diarahkan untuk
sinergisdan karena itu, pasca akuisisi tersebut tidak akan mengubah rencana bisnisKimia
Farma dan sebaliknya akan memperkuat penjualan Kimia Farma.Kimia Farma telah
memasukkan dokumen rencana “right issue” danakuisisi saham publik milik Indofarma
kepada DPR. 

Nantinya, Kimia Farma akan menerbitkan saham baru sekitar 20%dengan dana yang


diperoleh sekitar Rp 700 miliar. Pengambilalihan saham publik milik Indofarma ini dilakukan
menyusul rencana penggabungan kedua perusahaan farmasi tersebut. Saat ini, pemegang saham
publik Indofarma sebanyak 19,32%, sedangkan pemerintah menguasai 80,66%.

2. Membangun Kimia Farma Tianjin King Yonk Untuk mendongkrak penjualan, Kimia Farma
giat melakukan ekspansi bisnis dan termasuk kerjasama dengan BUMN farmasi asal Cina yait
u
Tianjin Pharmaceutical Group Co Ltd untuk membentuk perusahaan baru bernama Kimia Far
ma Tianjin King Yonk. Kerja sama ini untuk meningkatkan kapasitas produksi Kimia Farma
dan untuk menjadikanKimia Farma sebagai leader market perusahaan farmasi di Indonesia.

Dalam kerjasama tersebut akan memproduksi alat-alat kesehatanrumah sakit berupa


ampul dengan kapasitas produksi diawal sebanyak 30 juta pertahun, vial sebanyak
10 juta pertahun dan infus 20 juta pertahun.Rencananya pabrik ini akan beroperasi sebelum
akhir tahun 2014 dan pembangunan pabrik perusahaan kerjasama ini akan dibangun
di kawasanLippo Cikarang dengan luas lahan 3 hektar dan menelan investasi sebesar Rp 250
miliar. Kemudian sebagai pemegang saham, Kimia Farmasebanyak 49%, PT Tigaka Distrindo
Perkasa 5% dan TianjinPharmaceutical Group co. Ltd sebanyak 46%.

3. Membangun Rumah Sakit Liver Kimia Farma akan membangun sebuah rumah sakit untuk


penanganan penyakit liver dengan investasi Rp 280 miliar dan menggandeng PTPrakarsa
Transforma Indonesia. Pendirian rumah sakit ini seiring dengan berkembangnya pasar
kesehatan, selain juga ditunjang fakta bahwa hampir 20 juta masyarakat Indonesia menderita
penyakit hepatitis.

10
Rumah sakit liver dengan 14 tingkat ini akan berlokasi di JalanDR. Sahardjo, Jakarta
Selatan,dan didirikan di lahan seluas
14.000 meter  persegi. Setelah pembangunan RS liver di Jakarta Selatan ini, KimiaFarma akan me
mbangun lima rumah sakit lainnya, antara lain di Medan,Bandung, Makassar serta Semarang. Pem
bangunan rumah sakit ini nantinya dapat memanfaatkan lahan yang dimiliki perseroan di
beberapakota tersebut. Setelah berhasil membangun lima rumah sakit, diharapkankontribusi dari
rumah sakit tersebut sepuluh persen ke perusahaan.

2.2 Analisis S.W.O.T ( Strenght Weakness Opportunity Treath )

Analisa SWOT adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi
gambaran)

1. Analisis Strenght dan Weakness

No Faktor-faktor internal a. Kekuatan b. Kelemahan


perusahaan (Strenght) (Weakness)
1 Sumber daya manusia Apotek Kimia Farma
dipimpin oleh tenaga
Apoteker yang bekerja full
timer sehingga dapat
melayani informasi obat
dengan baik
2 Fasilitas Menyediakan pelayanan
lain, misalnya praktek
dokter, optik, dan
pelayanan OTC
(swalayan) serta pusat
pelayanan informasi obat
3 Produk 1. Banyak produk Variasi Kemasan obat
kimia farma generik memiliki penilaian
menjadi inovator yang negatif, sehingga
dengan managemen perusahaan
mengembangkan harus melakukan tindakan
obat-obatan serta untuk menarik perhatian
rumusan baru konsumen untuk memakai
kimia baik dengan obat generik

11
kemampuan sendiri
 
maupun melalui
aliansi strategis
dengan mitra
internasional
2. Obat generik
adalah salah satu
produk farmasi
yang kompetitif
karena memiliki
keunggulan yaitu
harga lebih murah
dan memiliki
kualitas yang sama
harga obat
paten/merek
dagang pertamanya
4 Pemasaran Kebijakan
memasyarakatkan dan
memasarkan obat generik
yang dilakukan oleh
perusahaan juga sejalan
dengan meningkatnya
jumlah permintaan
konsumen akan obat
secara keseluruhan yang
mencapai 9,93% per
kapita, serta 92% potensi
pasar bisnis industri
farmasi di Indonesia masih
belum terpenuhi.
5 Citra perusahaan 340 apotek yang tersebar
diseluruh tanah air yang
memimpin pasar dibidang
perapotikan dengan
penguasaan pasar

12
2. Analisis Opportunity dan Threat

Faktor-faktor a. Peluang (Opportunity) b. Ancaman (Threat)


No eksternal
perusahaan
1 Kondisi krisis ekonomi
perekonomian mengancam kelangsungan
hidup industri farmasi
nasional terutama untuk
pasar lokal
2 Persaingan 1. Sistem Legal
belum dapat
menanggulangi
obat palsu
sehingga harga
obat menjadi lebih
sulit dikontrol
2. Semakin luasnya
pasar yang
meningkat pula
pesaing-pesaing
bisnis farmasi
3 Kebijakan Kebijakan memasarkan obat
pemerintah generik yang dilakukan oleh
perusahaan dan meningkatnya
jumlah permintaan konsumen
4 Selera konsumen Besarnya penduduk Indonesia
dan masih rendahnya konsumsi
obat perkapita menyebabkan
pasar potensial yang bisa
dikembangkan.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. System pemasaran perusahaan Kimia Farma dilakukan dengan strategi bisnis hulu-hilir, dimana
perusahaan ini bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan yang terintegrasi, yaitu: industri,
marketing,distribusi, ritel, laboratorium klinik, dan klinik kesehatan. Kimia Farma terusmelakukan
transformasi bisnis dengan mengembangkan berbagai layanan sektor kesehatan untuk memberikan
kemudahan bagi masyarakat mendapatkan akseslayanan pemeriksanaan kesehatannya. Perluasan
jaringan layanan
merupakan bagian untuk memenangkan persaingan dalam merebut pasar farmasi nasioanalseiring
dengan berlakunya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) melalui BadanPenyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) pada tahun 2014 nanti.
2. Kebanyakan perusahaan farmasi memenejemen perusahaannya dengan strategi integrasi vertikal
(vertical integration strategies) yang merupakan strategi yang menghendaki perusahaanmelakukan
penguasaan yang lebih atas distributor (integrasi ke depan), pemasok (integrasi ke belakang) dan
atau para pesaing (integrasi horizontal) baik melaluimerjer, akuisisi, atau membuat perusahaan
sendiri di saat
industry dalam kondisi bagus. Strategi integrasi vertikal merupakan suatu usaha perusahaan untuk 
memperoleh kendali terhadap inputnya (backward), terhadap outputnya (forward),atau keduanya.
3. System pemasaran yang dilakukan perusahaan Kimia Farma adalah dengan memperluas jaringan layanan
untuk memenagkan persaingan dalam merebut pasar farmasi nasional seiring dengan berlakunya SJSN
melalui BPJS. Sedangkan system menejemen yang diterapkan oleh perusahaan Kimia Farma adalah
dengan strategi integrase vertical yang direalisasikan dengan membangun relasi dengan berbagai pihak,
sehingga Kimia Farma dapat melakukan penguasaan lebih atas berbagai pihak yang bersangkutan dalam
bsinis ini.

3.2 Saran
14
Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membandingkan strategi – strategi yang diterapkan di berbagai Pabrik
Industri, sehingga dapat diketahui strategi mana yang paling efisien atau paling menguntungkan.

DAFTAR PUSTAKA

Angell, M. 2004. Strategi Keunggulan Kompetitif Perusahaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Janocelli, T. 2008. The Pharmaceutical Industry and its Influence on Doctors and Medical Students.
Lancet.
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller.2009. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Erlangga.
Kotler. 2000. Marketing Management Edisis Milenium. Jakarta : Prenhallindo.
Swastha, Basu., D.H & Irawan. 2000. Manajemen Pemasaran Modern. Edisi Kedua Cetakan Keempat.
Yogyakarta: Liberty.

15